Netrakala Profile picture
May 13 152 tweets 18 min read Twitter logo Read on Twitter
-A Thread-
Lebur Sukma - Ikatan Terkutuk ( Part 4 )
Ijin Taq
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR @Long77785509
@karyakarsa_id

#bacahorror #penumbalan #ceritaserem
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya.
Danke... Image
Halo semua,
Kita lanjutin part 4 lebur sukma ya...
Bagi teman-teman yang belum baca part sebelumnya bisa baca terlebih dahulu biar bisa mengikuti alur ceritanya. Buat yang belum follow bisa follow dulu, biar gak ketinggalan update ceritanya ya.
Bantu buat RT/QRT, Like dan Comment ya, biar yang lainnya juga bisa membaca cerita ini...

Part 1 - Peninggalan

Part 2 - Kepingan Misteri


Part 3 - Sosok Dari Masa Lalu
Bagi teman-teman yang uda penasaran dan pengen baca versi ebook bisa langsung klik link. Di Karyakarsa sudah sampai part 5 ya, silahkan bagi yang mau beberikan suport berupa dukungan atau tips karya. Terima kasih

karyakarsa.com/netrakala/lebu…
Kita mulai update setelah Magrib, sembari nunggu teman-teman lainnya. Yang mau nitip-nitip dulu silahkan.
Ikatan Terkutuk - Part 4

Setelah masuk kedalam kamar, Dinda langsung saja duduk dikursi. Jendela kamarnya ia buka lebar-lebar.
Pandangannya menerawang jauh, pikirannya berkelana, mencerna segala sesuatu yang sudah dia alami dirumah ini. Belum lagi cerita yang ia dengar dari Bapaknya. Semua serba membingungkan.
Bisa saja Dinda tidak menggubris itu semua dan segera kembali ke Kota, namun ada dorongan dihatinya untuk memecahkan misteri yang masih menyelubungi masalalunya... Tentang keadaan Bapaknya.
“Siapa wanita itu sebenarnya? Dan Siapa yang sudah menaruh sesajen di kamar Kakek?” ucap Dinda lirih.
“Kalau memang benar wanita itu berkaitan dengan alasan kenapa Ibu membuangku ke panti, berarti memang ada orang di rumah ini yang berniat buruk dengan kami” lanjut Dinda.
Sesekali dia menghela nafas dalam-dalam, mencoba mempertimbangkan semua resiko yang ada. Dinda bukan orang yang sembrono, dia selalu penuh dengan perhitungan. Tidak mau salah salah, apalagi ini menyangkut keamanan dirinya dan Bapaknya.
“Semoga ini yang terbaik” ucap Dinda, setelah semua ia pertimbangkan matang-matang.
Dinda memutuskan untuk mencari satu persatu, dimulai dari menggeledah kamar digunakan oleh Kakek dan Neneknya selama ini. Jika memang tidak ada sesuatu yang aneh disana, tidak mungkin Pak Kusno atau Mbok Marni menaruh sesajen dibelakang cermin besar itu.
“Ya... aku akan mencoba untuk mencari tahu dari sana dulu” batin Dinda. Ditengoknya jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Ada kemungkinan semua orang sudah tidur, yang berarti dia bisa melakukan rencananya saat ini juga. Dinda tidak ingin ada yang tahu, bahkan Ahmad sekalipun.
Beranjak, Dinda menuju kearah kamar Kakek Neneknya, sempat dia berhenti didepan pintu. Entah kenapa suasana rumah ini terlihat begitu menakutkan.
Mungkin siang masih ada banyak aktivitas, tapi ketika makan malam selesai dan semua orang masuk ke kamar masing-masing, seolah rumah ini menjadi sesuatu yang berbeda.
Jantung Dinda berbedar keras, dia sebenarnya merasa khawatir jika sosok hantu wanita itu muncul kembali. Memang benar tidak ada darah sama sekali yang terlihat, tapi kulitnya yang pucat, serta matanya yang benar-benar putih membuat dirinya bergidik ngeri.
Memantapkan hatinya, Dinda mulai melangkah, sesekali dia menoleh kearah dapur. Takut kalau Mbok Marni atau Pak Kusno sedang berada didalam rumah.
Sesampainya didepan kamar, Dinda membuka pintu kayu dengan perlahan dan melakangkah masuk, tubuhnya langsung berhenti. Hindungnya mengendus-endus udara disekitarnya.
“Bau dupa” ucap Dinda. Bau dupa yang ia cium jauh lebih pekat dari pada tadi siang. Ia menolehkan kepalanya, memandangi dengan seksama ruang gelap itu.
Tidak ada siapapun... Dinda buru-buru menutup pintu dibelakangnya, meski beresiko tapi dia berfikir jika nanti saat sedang mencari-cari petunjuk ada pergerakan aneh bisa langsung bersembunyi.
Tidak menghidupkan lampu, dan hanya mengandalkan penerangan dari senter hp miliknya. Dinda melangkah menuju cermin besar yang ada disudut ruangan.
Kini dia sudah jongkok, badannya sedikit membungkuk. Benar dugaannya, ada yang sudah menghidupkan dupa disini. Buru-buru Dinda menggigit hpnya, tangan kirinya ia letakan dilantai, sedang tangan kanannya mencoba menarik tampah yang ada dibelakang cermin.
“Golek i opo ndug” (nyari apa, nak) terdengar suara serak lirih perempuan dari arah belakang Dinda. Kaget, sontak Dinda langsung saja berputar, hpnya terlepas dari gigitannya, dan jatuh ke lantai.
Dinda gentar, jantungnya berdebar keras sekali. Bibirnya kelu, ketakutannya benar-benar terjadi. Sosok setan wanita itu tengah duduk dipinggiran kasur milik Kakek Neneknya.
“S—sopo koe?” tanya Dinda gemetaran. wanita itu tidak menjawab. Kepalanya menunduk, pandangannya terus saja kearah lantai.
Dinda mencoba memejamkan matanya, berharap kalau semua hanya halusinasinya saja. Namun saat membuka mata justru malah sekarang dia melihat kalau wanita itu tengah berdiri, spontan Dinda langsung meringsut mundur dengan keadaan duduk.
Wanita itu mulai bergerak, bukan berjalan menggunakan kedua kakinya selayaknya manusia, namun ia melayang. Walau tidak menembus benda padat yang ada disekitarnya tetap saja Dinda merasa shock berat.
Waktu terasa begitu lama, wanita itu terus saja bergerak. Hingga dia tiba didepan pintu kamar, Bruaaakk...
Sekali lagi Dinda terlonjak, tidak ada angin dan bahkan wanita itu tidak menyentuh handle pintu. Tetapi daun pintu kamar Kakek Neneknya tiba-tiba saja terbuka dengan keras. Lalu sosok itu pergi dan kembali pintu kayu itu menutup dengan keras.
“Astaghfirulloh” ucap Dinda kaget, tubuhnya gemetaran. Tidak menyangka kalau setan bisa melakukan hal seperti itu. Selama ini dia hanya mendengar kalau hantu hanya menakut-nakuti dengan bentuk rupa mereka yang mengerikan.
Sesaat Dinda terdiam, sesekali dia menutup matanya. Mencoba mengatur nafas dan menenangkan dirinya. Saat setelah kakinya bisa kembali bergerak, segera dia beranjak.
Dinda memutuskan untuk segera pergi dari kamar itu. Batinnya masih terguncang, jauh lebih baik saat ini berada didalam kamarnya. Memikirkan kembali bagaimana caranya agar bisa mendapatkan petunjuk tanpa harus berinteraksi dengan wanita itu.
Namun baru saja Dinda membuka pintu kamar, keterkejutannya tidak berhenti sampai disitu saja. Dinda berpikir kalau dia sudah pergi dan ternyata itu salah.
Wanita itu masih berdiri tidak jauh dari pintu kamar Kakek Neneknya, seolah sedang menunggu Dinda untuk mengikutinya.
Dinda tidak berani mendekat, padahal itu satu-satu jalan agar dia bisa kembali ke kamarnya. Tubuhnya kembali mematung, pilihannya cuma dua kembali ke dalam kamar Kakek Neneknya atau berjalan keluar rumah.
Baru saja Dinda berniat berjalan kearah luar, sosok itu tiba-tiba saja berpaling. Dalam keremangan, Dinda dengan jelas melihat wajah wanita itu, matanya berwarna putih, kulitnya begitu pucat dan expresinya terlihat datar.
Mereka kini saling tatap, tubuh Dinda sudah lemas bahkan dia sama sekali tidak bisa menggerakan kakinya. Hingga wanita itu tersenyum, senyum yang sangat mengerikan. Bibirnya tertarik hingga sampai keujung tulang pipinya mendekati telinga.
“Astaghfirulloh... Astaghfirulloh...” ucap Dinda, kembali sosok itu berjalan, kini dia melangkah menuju kamar Bapaknya.
Tanpa tahu apa yang terjadi Dinda segera berjalan mengikuti wanita itu, seolah ada dorongan yang tidak bisa ia kendalikan untuk mengikuti wanita itu.
Pintu kamar Ahmad dari jarak beberapa meter sudah terlihat terbuka, berjalan cepat Dinda segera menghambur kedalam.
Sosok wanita itu tengah berdiri menatap Ahmad, “Wong lanang iki wes gawe perkoro, yen koe ora pengen dadi koyo dek ne. Ndang rampung no opo sek uwes di mulai”-
- (laki-laki ini sudah membuat perkara, jika kamu tidak mau jadi seperti dia. Segera selesaikan apa yang sudah dimulai) ucap wanita itu sambil menunjuk kearah Ahmad.
“Opo maksudmu?” (apa maksudmu) ucap Dinda panik.
Tidak ada jawaban, sepersekian detik wanita itu itu kembali menoleh kearah Dinda, dengan senyum yang mengerikan. Dinda berkedip, mencoba menjernihkan pikirannya. Dan saat matanya terbuka. Sosok wanita itu sudah lenyap, hanya tersisa bau bunga mawar yang begitu kuat.
“Ojo anakku, wes aku wae... jupuk o aku, lungo ndug... lungo...” (jangan anakku, sudah aku saja... ambil saja aku, pergi nak... pergi)
Mendengar suara Ahmad, Dinda buru-buru mendekat. Dia pandangi wajah Bapaknya itu, terlihat sekali dia sedang tersiksa walau dalam tidurnya. Air mata Dinda kembali menggenang dimatanya.
Dinda mematung, kelopak matanya berkedip beberapa kali dengan cepat. Bukan untuk memulihkan kesadaran tapi karena sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul didalam hatinya.
“Lakukan sekarang, dia tidak akan bangun” ucap seseorang dalam benak Dinda. Batinnya berkecamuk, ada dorongan kuat untuk mengecek kedalam brankas milik Bapaknya.
“Sekarang lakukan” ucap suara itu lagi. Tanpa pikir panjang. Dinda langsung berpaling menghadap kearah almari dan langsung menuju kearahanya. Sesekali dia menengok kearah Ahmad, memastikan kalau Bapaknya masih tertidur pulas.
Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, Dinda pelan-pelan menggeser almari besar dihadapannya. Kini dia sudah sudah jongkok, kata sandi sudah dia masukan. Segera Dinda mencari-cari barang yang bisa membawanya memecahkan misteri masalalunya.
Awalnya tidak ada sesuatu yang aneh didalam brankas itu, hanya ada berkas-berkas dan sertifikat kepemilikan serta tumpukan uang. Hingga diarea paling belakang, tertutup tumpukan uang. Dia mendapati ada satu buku, buku usang bersampul kulit.
Tidak menunggu lama, Dinda langsung mengambilnya dan segera menutup brankas. Kepalanya kembali menoleh kearah Ahmad, namun alangkah kagetnya dia. Sosok wanita itu muncul lagi.... dia sudah berada disisi Ahmad dan terus saja membela kepala laki-laki itu.
Dinda benar-benar menguatkan mentalnya, tidak mungkin meninggalkan kamar Bapaknya dengan kondisi brankas terbuka seperti ini. Dengan tangan gemetar, Dinda menutup brankas dan menggeser almari.
Bagi teman-teman yang uda penasaran dan pengen baca versi ebook bisa langsung klik link. Di Karyakarsa sudah sampai part 5 ya, silahkan bagi yang mau beberikan suport berupa dukungan atau tips karya. Terima kasih

karyakarsa.com/netrakala/lebu…
Sebelum melangkah keluar, sekali lagi Dinda menolehkan kepalanya kearah Bapaknya. Tapi sial, wanita itu masih terus memandangi Dinda dengan senyum mengerikannya. Ketakutan Dinda buru-buru beranjak dan berjalan menujuk kamarnya.
*****
Saat ini Dinda berada disalah satu cafe tidak jauh dari rumah Kakek Neneknya. Dia sengaja pergi, tidak ingin membaca buku itu dirumah.
Semalam dia sudah melihat sekilas, benar apa yang dia duga. Buku bersampul kulit ini merupakan sebuah catatan. Tidak ada nama, hanya sebuah petunjuk tanda tangan di bagian bawah pada setiap tulisan. Dinda meyakini buku ini milik ibunya.
Buku tulisan tangan itu tidak banyak menceritakan sebuah kejadian. Hanya kutipan-kutipan yang hampir semuanya kalimatnya penuh dengan makna dan misteri didalamnya.
Image
Disudut cafe, Dinda termenung, kepalanya menatap buku yang ada sudah tergeletak dimeja. Dahinya berkerut, mencoba memahami apa maksud dari kalimat yang dituliskan oleh Ibunya dilembar pertama.
“ikatan menjadi rantai kematian?” kutip Dinda, dia tidak mengerti. Ikatan seperti apa yang bisa menjadi sebuah rantai kematian. Kembali dia membuka lembar kedua.
Image
“Lemah mambu wangi... Srengenge tibo ing wayahe surup... Kembang mawar sing dadi tondo” (tanah bau wangi... matahari jatuh diwaktu senja... bunga mawar yang jadi pertanda) Ucap Dinda lirih.
“lemah? Surup? Kembang mawar? Apa maksudnya...” masih saja Dinda berfikir. Dibalik balik pun sampai beberapa halaman tulisan-tulisan dalam buku itu hampir semuanya mirip. Tidak ada yang secara pasti bisa dicerna dengan kepala.
Hingga pada lembar terakhir ada sesuatu yang benar-benar mengganggu pikirannya. Jantungnya berdegup dengan keras, nafasnya tiba-tiba saja menjadi berat. Seolah dia memahami, mengerti apa yang menjadi inti dari semua tulisan-tulisan sebelumnya.
Image
“Ayah...” ucap Dinda yang langsung saja memberesi barang-barang yang ada dimeja. Secepat kilat dia buru-buru pulang kerumah. Teringat dengan kejadian yang telah menimpanya....
*****
“Ayah dimana Mbok, saya cek kekamar kok kosong?” tanya Dinda kepada Mbok Marni yang saat itu tengah berada didapur.
“Itu Din, lagi sama Pak Hamdan dan Pak Kusno disaung belakang, ini simbok mau mengantarkan minum” ucap Mbok Marni.
“Tunggu mbok, setelah ini Simbok langsung ke kamar Dinda ya. Bilang aja mau ngerokin Dinda” ucap Dinda yang langsung saja menghambur pergi.
Keputusannya sudah bulat, Ayahnya tahu sesuatu. Dia hanya ingin memastikan, jika memang benar semua yang terjadi bukan karena kehendak orang lain. Maka selamanya tidak akan pernah selesai. Lingkaran setan akan terus berputar.
Tok...tok..tok.. “masuk mbok, tutup aja pintunya” ucap Dinda saat mengetahui Mbok Marni yang mengetuk pintu kamarnya.
“Sini mbok duduk, ada yang ingin Dinda tanyain ke Simbok” ujar Dinda sambil menepuk-nepuk kasur dengan tangan kanannya.
“Kenapa Din, ada yang bisa Mbok bantu?, kok sepertinya ada yang serius” ujar Mbok Marni yang kelihatan cemas.
Dinda terdiam, dia sedang memperhitungkan sesuatu. Setelah menutup matanya dan menghela nafas dalam-dalam barulah Dinda berujar

“Sekarang, Simbok jujur sama saya, apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini?”
Mbok Marni kaget dengan pertanyaan Dinda, bahkan sekarang wanita tua itu telihat ketakutan.

“Kenapa Mbok? Dinda gak akan bilang sama Ayah, sekarang ceritakan saja apa yang Mbok Marni tahu” desak Dinda.
“Simbok tidak berani menjawab meski saya tahu sesuatu, tapi...” ucap Mbok Marni.
“Tapi apa Mbok? Sudah mbok bilang saja. Saya juga sudah tahu soal sesajen yang ada dikamar Kakek” kata Dinda tidak sabar, dia benar-benar bingung ada apa sebenarnya dengan Mbok Marni.
Mbok Marni terlihat kaget dengan ucapan Dinda, “Kalau memang Dinda mau tahu sesuatu mengenai rumah ini. Biar Pak Kusno saja yang menjelaskan. Tapi saya mohon sama Dinda untuk tidak memberitahu Bapak setelah tahu semuanya” ujar Mbok Marni.
“Sudah saya bilang kan Mbok, kalau saya gak akan bilang sama Ayah” ujar Dinda serius. Dia memang tidak berniat memberi tahu Bapaknya, terlebih tentang catatan yang ia curi dari brankas miliknya.
“Kapan saya bisa bicara dengan Pak Kusno?” tanya Dinda saat mendapati Mbok Marni masih terus saja diam.
“Sebentar Din...” ucap Mbok Marni yang beranjak dari kasur dan langsung saja keluar kamar.
Entah apa yang sedang dilakukan Mbok Marni ia tidak tahu. Saat Dinda menunggu terus saja dia memikirkan berbagai kejadian aneh yang sudah ia terima. Hingga ia mendengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya...
Berdua kini Mbok Marni dan Pak Kusno sudah berdiri didepan pintu kamar Dinda. Mengangguk Dinda memberikan gesture agar mereka berdua masuk kedalam kamar.
“Pak Kusno...” ucap Dinda.

“Iya Din, saya sudah tahu. Simbok tadi sudah memberitahu saya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan dengan sesajen di kamar Pak Sukmaadji” kata Pak Kusno memotong kalimat Dinda.
“Bukan sajen itu yang saya khawatirkan, tapi wanita yang selama ini mengikuti Ayah. Tolong sekarang ceritakan apa yang Pak Kusno ketahui” ujar Dinda yang sudah mulai tidak sabar.
Pak Kusno seperti mempertimbangkan sesuatu, tatapannya terlihat berbeda. Tatapan tajam yang selama ini belum pernah Dinda lihat sebelumnya.
“Baik, kalau kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini, nanti malam akan saya jelaskan... Maaf tidak sekarang Din, diluar sedang ada Pak Hamdan, dia tidak boleh ada yang tahu apapun soal masalah ini” ujar Pak Kusno.
“Tapi Pak” protes Mbok marni kepada suaminya, “Sudah bu, mungkin sudah saatnya anaknya Ajeng tahu semua ini” ucap Pak Kusno yang langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
“Mbok?” tanya Dinda mendekati Mbok Marni, kini ia melihat ada genangan air yang sudah hampir meleleh di mata tuanya.
“Maaf Din, harusnya Simbok tidak seperti ini. Nanti malam biar Simbok dan Pak Kusno yang menjemputmu kesini. Jangan keluar malam-malam lagi. -
- Meski berada didalam rumah, tapi ada sesuatu yang berbahaya disini. Terlebih untuk dirimu” ucap Mbok Marni tersenyum dan langsung beranjak pergi meninggalkan Dinda.
*****
Malam kembali menjelang, Dinda menunggu dengan harap-harap cemas. Segala rasa penasaran yang sudah menumpuk didalam hatinnya sudah ingin dia ledakan.
Ditengoknya jam sudah menunjukan pukul 10 malam lebih, seharusnya Mbok Marni dan Pak Kusno sebentar lagi akan mengetuk pintu kamarnya.
Benar saja tidak butuh waktu lama, suara ketukan muncul dari arah pintu kamar. Buru-buru Dinda beranjak, segera membuka pintu kamar.
“Masuk Mbok, Pak Kusno kemana?” ucap Dinda yang menggeser tubuhnya mepet kepintu. “Tidak jangan disini, bawa jaketmu. Kita keluar sebentar” Ucap Mbok Marni.
“Kemana Mbok?” ucap Dinda penasaran, dia tidak menyangka akan diajak keluar dari rumah.

“sudah cepat, Pak Kusno sudah menunggu, cepat.” ujar Mbok Marni seolah sedang terburu waktu.
Buru-buru Dinda menyambar jaket yang tergantung didekat almari. Keduanya berjalan, tidak ada obrolan sama sekali. Terus saja mereka melangkah, dari arah pintu belakang. Dinda melihat Pak Kusno sedang duduk bersila di sisi pohon tempat pertama kali Dinda melihat sosok wanita itu.
“Apa yang sedang dilakukan Pak Kusno mbok?” ujar Dinda.

“Sudah kita tunggu saja” jawab Mbok Marni yang terus saja memandang suaminya dari beberapa meter. Dinda hanya mengangguk dan terus saja lihat kearah pak Kusno.
Sudah beberapa menit berlalu, angin mulai berhembus kencang. Sesekali dia mencium bau dupa yang bertawa angin masuk dan kedalam indera penciumannya. Menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Pak Kusno, kewaspadaan Dinda bertambah.
Dilihatnya Pak Kusno sudah beranjak, tapi ada sesuatu yang membuat Dinda tersentak. Sosok wanita itu tengah berdiri menatapnya dengan tatapan yang datar dan mengerikan. Tubuhnya ia rapatkan kearah Mbok Marni, merasa terancam dengan kemunculan hantu wanita itu.
“Sudah tidak perlu kau pedulikan dia, biar dia disana” ujar Pak Kusno saat melihat Dinda masih terus saja memandangi wanita itu.

“Mbok, tolong buatkan minum ya, kita bicara diluar saja” lanjutnya sambil duduk di bangku taman belakang.
Dinda menurut, dia lantas duduk didepan Pak Kusno, menghadap kearah pohon mangga.

“Rokok Din” tawar Pak Kusno yang sudah membakar sebatang rokok.
Dinda menggeleng, “Dinda bukan perokok Pak” ujar Dinda menjauhkan sebungkus rokok dan korek dari hadapannya. Pak Kusno mengangguk dan tersenyum.
“Jadi apa yang ingin kamu ketahui” tanya pak Kusno saat Mbok Marni sudah duduk bersama mereka. Dinda tidak langsung menjawab, matanya kini mengarah ke Pak Kusno.
Laki-laki dihadapannya, jauh berbeda sekali saat pertama kali Dinda bertemu, kini tatapan ramahnya sudah hilang. Tergantikan dengan tatapan tegas dan keras.
“Apa yang sebenarnya terjadi dirumah ini” kata Dinda.

“Banyak, bahkan mungkin jauh lebih banyak dari pada yang bisa kamu bayangkan” jawab Pak Kusno, sedang Mbok Marni masih terus terdiam dan memandang Dinda.
“Sejak pertama saya datang ketempat ini, semua terasa dingin. Bahkan mungkin panti asuhan jauh lebih hangat. Saya tidak merasakan adanya keluarga ditempat ini” ucap Dinda.
“Memang itu salah satu cara Ajeng agar kamu merasakan hidup... punya keluarga yang tidak mungkin akan kamu dapatkan disini” ucap Pak Kusno.
Dalam hati Dinda tersenyum, dia sudah bisa memancing Pak Kusno untuk berbicara.

“Tapi kenapa? apa alasan utamanya, bahkan Ayah sendiri tidak tahu kenapa Ibu sampai tega membuangku” ucap Dinda.
“Ajeng tidak membuangmu” koreksi Mbok Marni “Dia sangat sayang sama Dinda, tapi dengan cara yang berbeda” lanjut Mbok Marni, terlihat kini bola matanya sudah mulai memerah menahan tangis.
“Bapak ingat, ketika semua kejadian ini dimulai. Saat kelahiranmu semua orang nampak bahagia. Akhirnya setelah beberapa tahun Ahmad bisa memiliki keturunan. -
- Tapi itu tidak berlangsung lama, kutukan yang mengikat keluarga kalian sudah turun temurun dan sulit untuk dihilangkan” kata Pak Kusno.
“Kutukan? Apa maksudnya dengan kutukan” tanya Dinda kebingungan.

Sejenak Pak Kusno menghela nafas, “Semua kejadian itu masih terasa segar diingatan kami. Pada suatu malam Pak Sukmaadji mengetuk pintu pavilun. Wajahnya terlihat gusar...”
Flashback,
Pak Kusno
Tok...Tok...Tok...“No,Kusno...” ucap Sukmaadji sambil terus menerus mengetuk pintu dengan sedikit keras, agar bisa menyaingi suara gemuruh guntur dan air hujan yang turun dengan lebat.
“Pak, ada apa?” ucap Kusno panik saat mengetahui bahwa orang yang mengetuk pintu rumahnya adalah majikan tempat dimana dia bekerja.
“Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap Sumaadji buru-buru.

Kusno hanya mengangguk, dia mengikuti Sukmaadji yang sudah duduk di teras depan rumahnya. Keduanya menatap kearah hujan yang semakin lama semakin deras.
“Semua sudah kupikirkan matang-matang, aku membutuhkan mu untuk mengatasi masalah yang sudah turun temurun terjadi di keluargaku” ujar Sukmaadji.
“Saya masih belum paham” ujar Kusno yang kini sudah menatap kearah Sukmaadji.

“Ikutlah dengan ku, besok malam ke Lembah Pati. Dilereng dua gunung yang berdekatan” kata Sukmaadji.
Kusno terdiam, dia tahu tempat itu. Tempat diamana orang-orang ingin mencari kekuatan, kejayaan, kekayaan dalam hidupnya. Ajakan yang dilakukan oleh majikannya begitu berat.
“Maaf, bukan saya lancang. Tapi saya masih belum mengerti dengan maksud Bapak” ucap Kusno
“Sudah puluhan tahun keluargaku memiliki sebuah ikatan. Ikatan yang mengalir disetiap darah dari keturunan Sukmaadji. -
- Aku ingin memutuskan ikatan itu, aku tidak mau terjerumus seperti apa yang sudah dilakukan oleh semua leluhurku. Aku tidak butuh semua harta dan kejayaan ini. Aku hanya ingin hidup tanpa ada kewajiban untuk memenuhi keinginan mahkluk itu” jelas Sukmaadji.
Kusno diam, berfikir dia masih belum paham dengan arah dan maksud dari majikannya itu.

“Bagaimana saya bisa membantu, saya hanya seorang pesuruh yang bekerja di keluarga Sukmaadji” ucap Kusno.
“Aku tahu kamu punya kemampuan Kus, jangan bohong kepadaku. Sebulan ini aku melakukan tirakat. Dan selalu wajahmu yang muncul dihadapanku” ujar Sumaadji.
“Bantulah aku, dengan menikahkan anakmu dan anaku. Bantu aku memutuskan ikatan yang ada dikeluargaku. -
- Aku akan menjamin semua kehidupanmu dan anakmu. Nyawaku dan Istriku yang akan menjadi taruhannya” ujar Kusno sambil beranjak “Pikirkan, tolong” lanjutnya dan langsung berjalan pergi.
*****
Dinda terdiam, “J-jaadi?” ucap Dinda gagap,

“Ya, Ibumu adalah anak ku, Ajeng anak perempuanku. Sukmaadji meminta hal yang besar dari keluargaku” lanjut Kusno.
“Dinda masih belum paham, ikatan seperti apa yang dimaksudkan?” tanya Dinda,
“Ikatan darah... Ikatan yang dilakukan oleh keluarga Sukmaadji dengan memberikan tumbal dari anak laki-laki mereka. Yang jauh lebih mengerikan tubuh mereka tidak akan mati. Hanya sukmanya saja yang diambil dan tubuhnya akan dikendalikan oleh lelembut itu” jelas Pak Kusno.
“Jadi ikatan itu sudah terputus?” tanya Dinda shock. Dia benar-benar tidak menyangka kalau masalahnya serumit ini.
“Tidak” ucap Pak Kusno “Ternyata dengan menikahkan Ahmad dan Ajeng hanya menunda kehadiran mahkluk itu” lanjut Pak Kusno. Sedang Mbok Marni sudah terlihat menangis.
Dinda terhenyak, kepalanya benar-benar sakit. Apa yang harus dia lakukan sekarang...

“Bagaimana Pak Kusno tahu, kalau ikatan itu tidak terputus?” tanya Dinda,
“Karena kelahiranmu. Seharusnya setelah ikatan darah dengan Sengkolo terputus, maka terputus pula jalur keturunan keluarga Sukmaadji. Yang berarti Ahmad akan mengalami kemandulan. Tapi sepertinya takdir berkata lain. -
Kami semua senang mendengar Ajeng hamil, tapi hanya aku dan Sukmaadji yang tahu kalau nyawa keluarga kalian sedang terancam. Apalagi pertanda itu muncul kembali setelah sekian lama tidak terlihat” jelas Pak Kusno.
“Pertanda? Pertanda seperti apa?” tanya Dinda yang kini sudah merasa tidak nyaman dengan semua ini.

“Pertanda dengan munculnya kelopak bunga mawar pada malam-malam tertentu”
Dinda terdiam, dia ingat waktu kejadian dimana dia melihat banyak kelopak bunga mawar yang berserakan di kamar tidur Bapaknya.
“Lalu apa yang selanjutnya terjadi?” kembali Dinda bertanya. Tatapannya bergantian kearah Pak Kusno dan Mbok Marni.
“Aku dan Sukmaadji kembali melakukan tirakat. Kami mendapatkan petunjuk. Awalnya Sukmaadji tidak setuju, karena harus memisahkan mu dengan orang tuamu. Tapi tidak ada cara lain. Teror dari Sengkolo semakin menjadi-jadi... -
Yang awalnya hanya sebuah suara wayangan, berubah menjadi penampakan. Puncakanya dirimu selalu sakit-sakitan dan menangis sepanjang malam, dan yang paling parah beberapa kali nafas dan detak jantungmu terhenti” jelas Kusno.
Dinda mengusap wajah dengan kedua tangannya. Semua yang diceritakan Pak Kusno baginya sama sekali tidak bisa dicerna oleh akal sehat. Awalnya dia berfikir kalau kedua orang tua dihadapannya sedang mengincar nyawa Ahmad.
“Tunggu, Dinda masih belum sepenuhnya paham. Dan ibu dengan mudah menuruti keinginan kalian?” tanya Dinda.
“Bagaimana mungkin seorang ibu tega dan mau dipisahkan dengan bayinya yang baru berumur beberapa bulan. Aku tidak mendidik anakku menjadi seorang yang tidak punya hati nurani” tukas Pak Kusno.
“Ajeng terpaksa. Dia menanggung rasa sakit dihatinya sendirian, bahkan suaminya Ahmad sama sekali tidak tahu dengan rencana yang sudah disiapkan oleh Sukmaadji. Semua demi kehidupanmu” ujar Mbok Marni setelah sekian lama diam dan mendengarkan.
Dinda mencerna apa yang diucapkan oleh Pak Kusno dan Mbok Marni, tapi ada satu hal yang mengganjal dihatinya.
“Dan setelah Dinda ditaruh dipanti asuhan semua selesai?” tanya Dinda.
“Setelah aku dan Sukmaadji memberitahu ibumu. Ajeng sangat cemas, pikirannya terbagi antara keselamatanmu dan suaminya. Tiap malam kami selalu melakukan tirakat... -
- Saat itu Ahmad masih bekerja diluar kota, jadi dia sama sekali tidak tahu. Akhirnya pada suatu malam, datanglah petunjuk. Kami mengatur semuanya, Aku yang membawamu ke panti. Sedang Sukmaadji menahan agar Sengkolo tidak tahu keberadaanmu” terang Pak Kusno.
“Bagaimana caranya?” sambar Dinda.

“Lebur Sukma” jawab Mbok Marni singkat.

-TBC-
Bagi teman-teman yang uda penasaran dan pengen baca versi ebook bisa langsung klik link. Di Karyakarsa sudah sampai part 5 ya, silahkan bagi yang mau beberikan suport berupa dukungan atau tips karya. Terima kasih

karyakarsa.com/netrakala/lebu…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Netrakala

Netrakala Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @netrasandekala

May 10
-A Thread-
Labuh Mayit - Wanita berkebaya Kuning (Part4)
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR @Long77785509
@karyakarsa_id @ceritaht

#bacahorror
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Halo teman-teman uda kangen Bima dkk belum? malam ini kita lanjut part 4 ya... Bagi yang belum baca chapter 1 Bisa mampir ke Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Bantu tinggalkan RT/Like Coment agar yang lain ikut baca cerita ini yah...

Part 1 - Pembawa Petaka


Part 2 - Sebuah Peringatan


Part 3 - Keputusan
Read 165 tweets
May 4
-A Thread-
Labuh Mayit - Keputusan ( Part 3 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR @Long77785509
@karyakarsa_id @ceritaht

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya.
Danke... Image
Bagi yang belum baca chapter 1 bisa langsung mampir ke index klik thread dengan judul "cerita tentang mereka" biar bisa mengikuti alurnya ya.

Bantu tinggalkan RT/Like Coment agar yang lain ikut baca cerita ini yah...

Part 1 - Pembawa Petaka



Part 2 - Sebuah Peringatan

Read 157 tweets
Apr 23
-A Thread-
Tumbal Tali Pewaran
Part 9 - Si Dalang ( END )
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR

#bacahorror #penumbalan
Akhir yang lain lagi... Semoga ga kangen sama Adit ya...

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya.
Danke... Image
Ini kan yang kalian inginkan Tuan dan Nyonya...
Apa daya upik abu cuma bisa menuruti kalean semua...
Kita selesaikan Tumbal Tali Perawan Malam ini...
Bagi yang belum membaca Part sebelumnya bisa langsung ke Index ya 😁

Read 191 tweets
Apr 23
-A Thread-
Labuh Mayit - Sebuah Peringatan ( Part 2 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR @karyakarsa_id
@ceritaht

#bacahorror
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Sebelumnya Netra mau mengucapkan Minal Aidzin walfaidzin... Mohon maaf lahir batin.
Yuk kita nanti update kelanjutan kisah Bima dkk...
Bagi yang belum baca chapter 1 bisa langsung mampir ke index klik thread dengan judul "cerita tentang mereka" biar bisa mengikuti alurnya ya.

Read 117 tweets
Apr 20
-A Thread-
Tumbal Tali Pewaran
Part 8 - Malapetaka
Ijin Taq
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr
@menghorror @P_C_HORROR @karyakarsa_id
#bacahorror #penumbalan
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya.
Danke... Image
Bagi yang belum baca part sebelumnya bisa mampir ke index netrakala

Kita up pelan-pelan ya... Buat kalian yang mau nitip-nitip dulu silahkan... 😁
siapin kopi dan cemilan.... kalau puasa bisa di bookmark dulu untuk bacaan nanti sore.
Read 141 tweets
Apr 18
-A Thread-
Tumbal Tali Pewaran
Part 7 - Wanita Misterius
Ijin Taq
@IDN_Horor @bacahorror_id @threadhororr @menghorror @P_C_HORROR @karyakarsa_id

#bacahorror #penumbalan
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya.
Danke... Image
Bagi yang belum baca part sebelumnya bisa mampir ke index netrakala

Kita up pelan-pelan ya... Buat kalian yang mau nitip-nitip dulu silahkan... 😅 siapin kopi dan cemilan kalau puasa bisa di bookmark dulu untuk bacaan nanti sore.
Read 151 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(