Netrakala Profile picture
Jun 13 125 tweets 16 min read Twitter logo Read on Twitter
Halo teman-teman, malam ini kita up Labuh Mayit part 11 ya. Tapi sebelum lanjut minta tolong untuk RT/QRT sebanyak-banyaknya dulu ya. Buat yang belum follow bisa follow dulu biar tidak ketinggalan cerita-cerita lainnya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Untuk Part 1 sampai 7 link saya drop di bawah ya...

Part 1 - Pembawa Petaka ………
Part 2 - Sebuah Peringatan ………
Part 3 - Keputusan
Bagi teman-teman yang mau membaca versi ebook juga bisa mampir di @KaryaKarsa ya.

karyakarsa.com/netrakala
Part 11 - Hilang Arah

“Apa yang terjadi dengan Ki Ganang?” tanya Bima, saat mendapati Nakula tengah muncul membawa Ki Ganang dengan kondisi yang mengenaskan.
Dilihatnya kondisi Ki Ganang benar-benar memprihatinkan. Tubuhnya benar-benar seperti remahan rempeyek yang ditumbuk berkali-kali dengan ulekan batu.

“Tidak bisakah kau menyembuhkannya?” tanya Bima.
“Dengan luka seperti ini, dia harus segera disembuhkan dengan air sendang pitu. Tidak ada cara lain” ucap Nakula.
Bima mengerti, lantas dia mendekatkan tubuhnya kearah Ki Ganang.

“Ki, bisa kau mendengarku?” tanya Bima lirih.
Ki Ganang mengerjap, kelopak matanya terbuka perlahan.

“Heh bocah gendeng, ngomong koyo aku wes arep mati wae” (Heh bocah gila, bicara seperti aku sudah akan mati saja) kata Ki Ganang tersenggal.
Bima tersenyum, setidaknya demit satu ini masih bisa memakinya.

“Malah mesem-mesem, tulungi po pie ngono” (Malah senyam senyum, tolongin apa gimana gitu) bentak Ki Ganang.
Senyum di bibir Bima lenyap seketika, dipandanginya sosok demit tua yang sudah sekarat itu. Tanpa diminta dua kali, Bima langsung duduk bersila dan menyalurkan energinya.
Namun semua seketika berubah, seakan dunia terbalik. Gelegagar suara mematikan meledak disekitar mereka.
Bima terlempar, kebelakang. Pandangannya tiba-tiba saja menjadi gelap. Suara teriakan kesakitan muncul berbarengan dengan tubuhnya yang menghantam tanah.
Terbatuk-batuk, Bima segera berdiri dengan menopangkan kedua tangannya pada tanah. Dari kejauhan dia melihat Sembojo tengah berdiri tepat didepan Maya.
Sedang Ki Ganang, masih dalam posisi terlentang. Dengan kaki Sembojo yang berada tepat dikepanya.
Amarah Bima muncul, kekhawatiran menyelimuti dirinya. Takut jika Sembojo melukai mereka berdua.
Tanpa pikir panjang, Bima langsung berdiri dan berlari menerjang kearah Sembojo. Dilemparnya mata tombak Cempoko Kuning menuju tepat kearah sosok demit wanita itu.
Mengetahui Bima sudah dekat dengan dirinya, Sembojo tersenyum dan mengibaskan selendangnya. Dalam sekali kedipan mata. Bima kehilangan sosok Ki Ganang dan Maya, mereka berdua dibawa pergi oleh Sembojo.
“Siaaall” ucap Bima panik, terus saja dia mengedarkan padangannya kesegala arah. Mencari keberadaan Sembojo.
“Golek opo cah?” (Nyari apa nak?) terdengar suara Sembojo ditelinga Bima.
“Keluar” teriak Bima membahana, terus saja dia mengedarkan pandangannya kesegala arah. Sejenak matanya terpaku pada Dewi dan yang lainnya. Mereka tergeletak tak bergerak diatas tanah.
Kini hanya tinggal dia dan dua sosok yang tengah bertarung tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kromosengkono masih terus saja menghajar Buto Ireng sedang Pak Arif masih mencoba untuk melukai Jegrik dengan serangan jarak jauh.
“Rak weruh to?” (Tidak melihat to) terdengar suara tepat dibelakangnya. Sontak Bima langsung melemparka bola energi kearah suara berasal, namun tidak ada siapapun di sana.
“Ilmu mu jeh cetek, arep main-main karo aku haha” (Ilmu mu masih dangkal, mau main-main dengan ku haha) ucap Sembojo, menggaung disekeliling Bima.
Amarah Bima memuncak, dia langsung membuat energi dan mengalirkan di kedua telapak tangannya. Dengan membabi buta Bima melemparkan energinya kesegala arah.
Duaarrrr... ada sesuatu yang terkena serangannya. Suara itu dentuman itu berasal dari pendopo Sanggar Pati. Bima menajamkan matanya, menoleh mencari sosok Sembojo yang mungkin saja sedang menggerung kesakitan.
Deg... Seakan Dunia Bima runtuh seketika saat melihat sosok yang terkena serangannya... Tubuhnya melemas, tatapannya menjadi kosong. Dengan langkah lemah, dia menuju kearah sosok yang tertelungkup tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Jantung Bima bedebar keras, matanya mulai memanas, saat sudah melihat dengan jelas siapa yang terkena serangannya.

“Mbak...” ucap Bima parau.
Bima menggoyang-goyangkan tubuh Maya,

“Mbak, bangun Mbak...” ucap Bima. Terus saja dia menggoyang-goyangkan tubuh sepupunya yang hampir terbakar separohnya.
“Bim” ucap Maya lirih.

Bima tidak menjawab, dia langsung duduk bersila dan menyalurkan energinya kepada Maya. Tidak ada perubahan sama sekali. Tubuh Maya tetap menghitam.
“Sudah Bim, tidak akan berguna” ucap Maya tersenggal.

“Maafkan aku Mbak... Maaf” ucap Bima parau, air matanya mulai keluar deras dari matanya yang indah.
Maya tidak menjawab, tubuhnya tersenggal dan memuntahkan darah banyak sekali.

“Terimakasih Bim” ucapnya tersenyum lemas. Seketika tubuh Maya tidak bergerak.
“Mbaaak... bangun mbak...” isak Bima

“Kan aku wes ngomong, ojo main-main karo aku. Sak iki kui kabeh ganjaran e ge koe” (kan aku sudah bilang, jangan main-main dengan ku. Sekarang itu semua ganjaranya untumu)
Amarah Bima memuncak, matanya menjadi gelap seketika. Didalam batinnya hanya satu, BUNUH SEMBOJO.
Bima beranjak, matanya mengedar kesegala sisi. Dilihatnya tidak jauh darinya Kromosengkono sudah mulai kuwalahan mewalan Buto Ireng.
Bima bergerak kearah mereka, ia melangkah dengan perlahan membawa nafsu membunuh yang luar biasa.
“Bunuh, bunuh mahkluk itu” ucap suara yang menggaung di telinga Bima.
Bima terus berjalan kearah Kromosengkono, hingga saat tiba didekat mereka. Bima langsung melempar bola energi yang benar-benar padat kearah Buto Ireng.
Duaaarrrr.... Terdengar suara dentuman keras saat bola energi Bima menghantam punggung Buto Ireng.
“Bim apa yang kau lakukan, dimana yang lain?” ujar Kromosengkono, saat melihat kehadiran Bima didekatnya.
Bima tidak menjawab, matanya terus menatap nyalang sosok Buto Ireng yang tersungkur tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Kromosengkono tersentak, dia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

“Bim...” ucap Kromosengkono lebih keras. Namun Bima tetap bergeming, dia terus menatap kearah Buto Ireng.
Kini mata tombak cempoko kuning sudah muncul ditangan Bima. Dengan seringai mengerikan, Bima berjalan menuju ke arah Buto Ireng.
Saat sudah berada didepan sosok demit itu, Bima langsung menarik tangan Buto Ireng dan menebasnya satu persatu.
“Aarrrrggg” teriak Buto Ireng, ketika Bima mencabuti satu persatu tangannya dengan mudah. Bima melakukannya selayaknya mencabuti bulu ayam yang masih hidup-hidup.
“Metu, opo tak pateni babumu” (Keluar, apa aku bunuh pembantumu) teriak Bima lantang.
“huauahaha, Nyowone cah wedok kae ora sebanding karo Buto Ireng. Pateni, yen koe pengen mateni” (huauahaha, Nyawa anak perempuan itu tidak sebanding dengan Buto IReng. Bunuh, kalau kamu mau membunuhnya)
Bima terpancing, dia benar-benar muak dengan Sembojo. Tangannya mengepal keras, dengan keras Bima menarik kepala Buto Ireng sampai kebawah kakinya.
Crattt... Crattt... Crattt...

Bima terus saja menghujamkan mata tombak Cempoko Kuning ketubuh Buto Ireng tanpa belas kasihan. Saat ini dia tidak peduli. Bagaimana pun caranya, dia harus membuat Sembojo keluar.
“Bim, apa yang kau lakukan” teriak Kromosengkono.

Bima berhenti, kepalanya menoleh kearah Kromosengkono.

“Mundur, opo koe sek tak pateni” (Mundur, apa kamu yang kubunuh) ucap Bima tajam.
Kromosengkono terkesiap, ketakutannya benar-benar terjadi. Sudah sedari lama dia diberi wejangan oleh Simbah. Dia berpesan, jangan sampai Bima lepas kendali.
Kromosengkono mengendarkan pandangannya, mencari penyebab kenapa Bima bisa sampai seperti itu.
“Metu apa tak lumat demit iki” (Keluar apa aku lumat demit ini) teriak Bima.
“Pateni, demit kui sek wes gawe koncomu ciloko” (Bunuh, demit itu yang sudah membuat temanmu cilaka) ucap Sembojo.
Bima terdiam tidak menjawab, muncul dalam kepalanya bagaimana sosok yang ada didepannya merasuki tubuh Panji. Membuat penyakit yang ada ditubuh Panji. Membunuh Ki Suratno.
Seketika tangan Bima bergerak, memegani kedua ujung mulut Buto Ireng. Tidak ada belas kasihan didalam hatinya. Dengan sekali sentakan keras, Bima menarik kedua tangannya berlawanan arah.
Kkeeeekkk... Terdengar tulang yang patah, dan cairan hitam yang memercik ketubuh Bima. Kelapa Buto Ireng terbelah menjadi dua. Seketika Bima melemparkan kepala itu kearah samping kanan kirinya.
Sekarang dipandanginya satu sosok yang tengah bertarung dengan Pak Arif. Senyum Bima mengembang, langsung saja dia berlari dengan cepat kearah Pak Arif dan Jegrik.
Saat sudah berada dalam jangkauan, Bima langsung melompat, dengan gerakan yang mantap. Kakinya mendarat sempurna diatas pundak Jegrik.
Kali ini Bima tidak membuang-buang waktu untuk berbicara dengan Sembojo. Didalam hatinya hanya satu, musnahkan mahkluk yang ada didepannya.
Kedua tangan Bima terangkat keatas, mata Tombak Cempoko Kuning ia genggam erat-erat. Kemudian dengan ayunan keras Bima menghujamkan mata Tombak itu, menuju tepat kearah kepala Jegrik.
Jleb... Jegrik mematung, matanya membulat. Darah mengucur dari kepalanya, tanpa sempat menguncapkan sesuatu, demit itu tumbang.
Melihat Bima menjadi bringas, Pak Arif mencoba mendekat kearah Bima. Namun langkahnya ditahan oleh Kromosengkono.
“Apa yang terjadi?” ucap Pak Arif saat melihat Bima tengah menunduk mencabut mata tombaknya yang tertancap di kepala Jegrik.
“Dia sedang dipermainkan oleh Sembojo, nafsu sudah menguasai sukmanya” ucap Kromosengkono.

Pak Arif memandang Bima, menajamkan batinnya. Benar saja, dia melihat asap hitam menguar dari tubuh Bima.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Pak Arif waspada, dia tahu jika Bima sedang diluar kendali kekuatannya bisa bertambah berkali-kali lipat.
“Tidak ada, hanya dirinya sendiri yang bisa menghentikan itu semua. Kita hanya bisa menahannya agar tidak menghancurkan tempat ini” geram Kromosengkono.
Pak Arif mengangguk, ia berfikir mungkin bisa menghentikan Bima saat ini. "Aku akan mencoba untuk menyadarkannya. Kau selamatakan yang lainnya” ucap Pak Arif yang mulai mendekat kearah Bima.
Sementara Kromosengkono menggangguk dan langsung menghilang dari pandangan, melakukan apa yang diminta oleh Pak Arif.
“Bim...” panggil Pak Arif lembut, Bima yang mendengar namanya disebut menghentikan tangannya menikam tubuh Jegrik. Pandangannya datar menatap kearah Pak Arif.
“NENGDI SEMBOJO?” (dimana Sembojo?) geram Bima.

“Aku tidak tahu... tenangkan hatimu, sadarlah” ucap Pak Arif, maju selangkah mendekat kearah Bima. Tubuh Pak Arif tersentak, bahkan dalam jarak sejauh ini energi Bima benar-benar menekan batinnya.
“Pisan meneh, nengdi Sembojo?” (Sekali lagi, dimana Sembojo?) geram Bima. Matanya memandang lurus ke arah Pak Arif.
Bima yang masih dikuasai oleh nafsu amarah sama sekali tidak mengenali Arif. Didalam pikiran dan hatinya hanya ingin menemukan Sembojo dan membalas semua yang sudah diperbuatnya.
Arif tidak menjawab pertanyaan Bima, namun dia harus bersiap-siap jika tiba-tiba bocah itu menyerangnya.
Belum sempat Arif selesai berfikir, dalam sekedipan mata, Bima sudah muncul didepannya. Tanpa melihat siapa Arif, dia langsung memberikan serangan mematikan kearah tubuh laki-laki itu.
Brrrrukkkk... Tubuh Pak Arif terpental beberapa meter kebelakang. Belum sempat dia berdiri, Bima sudah muncul diatas tubuhnya.
“Nengdi Sembojo?” (Dimana Sembojo?) ucap Bima sambil melancarkan pukulannya kearah kepala Pak Arif. Tidak ada jawaban, Arif tetap diam membisu dan terus memandang Bima.
“NENGDI SEMBOJO... NENGDI... BAJINGAN... JAWAB... NENGDI SEMBOJO” (Dimana Sembojo... Dimana... Bajingan... Jawab... Dimana Sembojo) teriak Bima jengkel saat melihat lawannya hanya diam membisu. Terus saja memukulkan kepalan tangannya kearah Pak Arif.
“Kendali kan dirimu Bim” ucap Pak Rif lemah, dia hanya berdiam diri tidak membalas serangan Bima.
Bayangan anak laki-laki yang tersenyum tulus yang dulu pernah dia lihat sungguh membuatnya tidak tega untuk membalas perlakuan bocah ini.
“NENGDI... JAWAB NENGDI SEMBOJO” (Dimana... Jawab, Diamana Sembojo) ucap Bima yang masih terus saja memukul tubuh Arif.
Didalam amarah yang Bima lampiaskan kepada Arif. Setetes air mata keluar dan membasahi pipi pemuda itu.
Pak Arif yang melihat air mata Bima terenyuh, anak laki-laki ini hanya ingin melindungi orang-orang disekitarnya.
Bima berdiri, dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Mata Tombak Cempoko Kuning berkilat terkena cahaya matahari yang meredup.
Arif tahu, mungkin dia akan berakhir disini. Sekali lagi dia menatap kearah Bima. Senyumnya muncul dengan tulus. “Kau benar-benar mirip dengan anakku Bim”
Bima menggeram, dia muak dengan laki-laki yang ada didepannya. Saat ini dia hanya ingin tahu diamana Sembojo.

“MATI” ucap Bima,
Pak Arif memejamkan matanya, dia sudah siap menjemput kematiannya. Setidaknya dia sudah menepati janjinya untuk menjaga bocah laki-laki yang ada didepannya.
Lama Arif menunggu, tapi tidak terjadi sesuatu. Bahkan kini ia mendengar suara isak tangis wanita.
Perlahan dia membuka matanya. Nampak Bima masih berdiri diatas tubuhnya dengan tangan masih terangkat, tapi ada sesuatu yang aneh...
“Sudah Bim, hentikan” ucap Maya lembut sambil terus memeluk Bima dari belakang.

Nafas Bima memburu, matanya masih menatap Pak Arif dengan pandangan kesumat. Entah kenapa dia merasa benci sekali dengan laki-laki yang ada didepannya.
“Bim... tenangkan dirimu. Ingat Sembojo tidak diamana-mana. Dia ada dikepalamu” ucap Maya lirih.
Bima melunak, dia menurunkan tangannya perlahan.

“Mbak... “ panggil Bima saat mendapati orang yang tengah memeluknya adalah Maya.
“Iya Bim, bangun... jangan biarkan dia menguasaimu” ucap Maya lembut.

Bima tersenyum, air matanya mengalir deras. Lambat laun energinya melemah. “Benar, jangan kau turuti nafsumu. Ingat dia hanya ingin memanfaatkanmu” ucap Maya.
Tubuh Bima tersentak hebat, ada sesuatu yang keluar dari tubuhnya. “Mbak, kamu kenapa?” ucap Bima saat mendapati Maya sudah memeluknya dengan erat.
Maya menggelengkan kepalanya dan melepaskan Bima. “Sudah kita tolong Pak Arif dulu” ucap Maya.

Bima menoleh kesamping. Dia terperanjat hebat, kaget melihat keadaan Pak Arif yang hampir mirip dengan Ki Ganang.
“Pak...” ucap Bima yang langsung jongkok disamping Pak Arif.
“Siapa yang melakukan ini?” ucap Bima bingung, “Pak Arif gapapa kan? mari kita sembuhkan lukamu dulu Pak. Kalau sudah tua jangan memaksakan diri seperti ini” ucap Bima polos.
Maya dan Pak Arif hanya menghela nafas. Untungnya mereka sudah terbiasa dengan sifat Bima yang ajaib. Pantas saja Kromosengkono sangat cocok dengan Bima. Keduanya sama-sama makhluk ajaib.
Kromosengkono dan Banaspati tiba-tiba saja muncul, keduanya memegangi pundak ke tiga manusia itu dan menghilang.
Kini mereka semua sudah berkumpul lagi. Keadaan Ki Ganang masih mengenaskan. Nakula masih mencoba untuk menyembuhkannya.
“Apa yang sudah terjadi, bukannya kalian tadi terkena serangan? Tanya Bima.

Semua yang ada disana menatap Bima heran. “Bukan Sembojo yang menyerang kami” ucap Banaspati.
“Maksudnya?” ucap Bima kebingungan.

Dibelakang Bima, nampak semua dedemit melotot kearah Banaspati. Meminta untuk berhenti bicara. Tapi seolah tidak paham dengan situasi, dia tetap menjawab pertanyaan Bima.
“Yo koe to, ra eleng? Jagong silo bar kui teko ngamuk-ngamuk. Bocah pek...” (ya kamu to, tidak ingat? Duduk bersila setelah itu ngamuk-ngamuk. Bocah pek...) ucap Banaspati terhenti. Tiba-tiba saja Kromosengkono menjitak kepalanya dengan keras.
“Kenapa?” tanya Bima penasaran, menatap kearah Kromosengkono. Ditengoknya kearah sekitar, tempat itu benar-benar porak poranda.
“Nanti akan kujelaskan, sekarang kita selesaikan urusan kita dengan Sembojo” ucap Kromosengkono tegas.
Bima menengok kearah pendopo. Benar saja, disana Sembojo tengah berdiri tersenyum memandang mereka semua. Senyuman bahagia yang benar-benar memuakan untuk Bima.
Bima mendekati Ki Ganang. “Ki, aku butuh bantuanmu...” kata Bima. Mendengar suara didekatnya, pelan... Ki Ganang membuka matanya. Ditatapnya Bima lekat-lekat.
“Opo?” ucap Ki Ganang tersenggal.
“Tolong berikan keris Gondolrogo yang kau simpan” jawab Bima lugas.
“Gah” ucap Ki Ganang singkat lalu kembali memejamkan matanya. Bima kaget, tidak menyangka kalau permintaan ditolak mentah-mentah. Dia awalnya mengira kalau Ki Ganang sudah berubah dan mau membantu mereka.
“Ki, tolong... Ini semua permintaan Cempoko Kuning. Hanya dengan keris itu kita bisa keluar dari tempat ini” ucap Bima memohon.
“Rak urus” (tidak peduli) ucap Ki Ganang yang masih dalam posisi menutup mata. Semua mata tertuju kearah Ki Ganang. Bahkan Dewi yang sedang menyembuhkan Pak Arif ikut terdiam.
“Kenapa mereka masih sempat bertengkar?” ucapnya kepada Arif. Sedang Arif hanya menggelengkan kepalanya tidak mau berkomentar. Dia tahu sudah ada dendam diantara Bima dan Ki Ganang.
Maya yang takut jika Bima kembali mengamuk, berjalan kearah Ki Ganang. Terlebih Bima saat ini masih memegangi Mata Tombak Cempoko Kuning. Khawatir jika tiba-tiba saja bocah gila itu nekat menusuk Ki Ganang yang masih tidak berdaya.
Maya memagangi pundak Bima, memintanya untuk mundur. “Ki, sepurane. Aku jaluk tulung. Sedelot wae aku jilih pusakane” (Ki, mohon maaf. Aku minta tolong. Sebentar saja aku pinjam pusakanya) ucap Maya lembut.
Ki Ganang kembali membuka matanya, bibirnya tersungging, tersenyum senang. “Ndug, cah ayu... Oleh koe tak jilihi pusoko iki. Tapi bar kui aku melu awakmu yo?” (Ndug, anak cantik... boleh kamu aku pinjami pusaka ini. Tapi setelah itu aku ikut kamu ya?) ucapnya lirih.
Maya tersenyum, “Melu o Ki, tapi rampungke disik urusan e neng kene” (Ikut lah ki, tapi selesaikan dulu urusan yang ada disini) ucap Maya.
“Mbaaakkk” ucap Bima tidak terima, tidak mungkin Maya menyetujui permintaan Ki Ganang. Mendengar Bima meneriakan namanya. Maya berpaling, melotot kearah Bima.
Bima bergidik, tatapan sepupunya benar-benar mengerikan. Seolah Maya sedang mengatakan “Diam atau Mati”
Kembali Maya berpaling kearah Ki Ganang. “Tulung ya Ki...” (Tolong ya Ki...) ucap Maya. Sejurus kemudian Ki Ganang mengangkat tangan kanannya. Pendar cahaya kemerahan menyelimuti tangannya.
Kini nampak Keris Gondolrogo sudah dipegangi oleh Ki Ganang. “HEh bocah demit” (Heh anak Demit) panggil Ki Ganang menatap kearah Bima.
Bima memberengut, dia sama sekali tidak menyukai makhluk yang bernama ki Ganang. Bima mendekat kearah Ki Ganang.
“Aku titip puskono iki” (Aku titip pusaka ini) ucapnya sambil menyerahkan pusaka itu kearah Bima.
Bima menerima keris Ki Ganang. Seketika dia merasakan sebuah aliran listrik yang mengalir keadalam tangannya.
“Terimakasih” ucap Bima.

Bima tersenyum, “Nakula & Sadewa jaga Maya disini. Dewi tolong sembuhkan Pak Arif. Kromosengkono dan Banaspati. Bantu aku botaki rambut wanita itu” ucap Bima sambil berdiri.
“Halah sok-sok an” ucap Kromosengkono yang langsung menyentuh pundak Bima dan menghilang dari pandangan. Sedang Banaspati berubah menjadi bola api dan terbang kearah pendopo Sanggar Pati.
Seketika semua yang ada disana menghela nafas. Bahkan Dewi berfikir, tidak menyangka kalau Bima yang memiliki takdir untuk menyelamatkan mereka semua. Bocah itu terlalu ajaib.

-TBC-
Bagi teman-teman yang mau baca versi ebook bisa langsung ke akun netrakala di Karyakarsa ya, bisa juga untuk memberikan dukungan atau tips karya. Terimakasih

karyakarsa.com/netrakala/labu…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Netrakala

Netrakala Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @netrasandekala

Jun 9
A Thread-
Labuh Mayit - Palung Kematian ( Part10 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra
#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Kita upload nanti aga siangan ya, bantu dulu untuk RT/QRT like dan coment. Biar teman-teman yang lain juga bisa ikut membaca ya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Read 88 tweets
Jun 7
A Thread-
Labuh Mayit - Sebuah Tujuan ( Part 9 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101
@benbela @P_C_HORROR
@RestuPa71830152 @Long77785509
@karyakarsa_id @AgilRSapoetra

#bacahorror
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Kita lanjut part 9 ya. Bagi teman-teman bisa bantu untuk RT QRT like dan coment biar yang lain juga bisa ikut membaca ya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Read 124 tweets
Jun 5
A Thread-
Lebur Sukma - Ratmi ( Part 5 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101 @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Halo teman-teman. Maaf sudah menunggu cerita ini lama ya. Nanti jam 19.00 kita mulai update ya. Sebelumnya bantu untuk RT/QRT like dan coment ya. Biar teman-teman yang lain juga bisa ikut membaca. Bagi yang mau nitip-nitip dulu juga boleh...
Bagi teman-teman yang belum baca part sebelumnya bisa klik link di bawah ya...

Part 1 - Peninggalan ……
Part 2 - Kepingan Misteri
Read 179 tweets
May 30
A Thread-
Labuh Mayit - Punggowo Pitu (Part 8)
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101 @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Mau dilanjut gak nih ceritanya? kalau iya minta tolong untuk RT / QRT... nanti kalau sudah banyak respon kita lanjutkan lebih cepet 😁 bagi yang mau nitip-nitip dulu boleh.
Bagi teman-teman yang mau baca versi full tidak terpotong-potong bisa langsung mampir di karyakarya ya. Disana sudah sampai part 12 ya. Part terakhir dari chapter ini.

karyakarsa.com/netrakala/labu…
Read 140 tweets
May 26
-A Thread-
Labuh Mayit - Kembali Ke Alas Lali Jiwo (Part 7)
@IDN_Horor @bacahorror_id @menghorror
@nasura2101 @benbela @P_C_HORROR
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Sebelum lanjut ke cerita, minta tolong buat teman-teman untuk RT / QRT, like dan coment ya. Nanti kalau sudah banyak langsung kita gass.
Bagi teman-teman yang mau nitip-nitip dulu juga boleh... Biar nanti pas update langsung bisa mengikuti ceritanya.

Untuk Part 1 sampai 6 link saya drop di bawah ya...
Read 132 tweets
May 21
-A Thread-
Labuh Mayit - Persimpangan ( Part 6 )
@IDN_Horor @bacahorror_id
@menghorror @nasura2101 @benbela
@P_C_HORROR @Long77785509
@karyakarsa_id @AgilRSapoetra

#bacahorror
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Mau dilanjut gak nih ceritanya? kalau iya minta tolong untuk RT / QRT... nanti kalau sudah banyak respon kita lanjutkan lebih cepet 😁
oh iya. yang mau nitip-nitip dulu boleh. biar gak ketinggalan ceritanya. 😁
Read 170 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(