Netrakala Profile picture
Jun 16 128 tweets 16 min read Twitter logo Read on Twitter
Akhirnya kita sampai di part akhir ya, terima kasih sudah mengikuti cerita ini dari awal hingga akhir.
Sebelum up minta tolong untuk bantu RT/QRT ya... untuk yang belum follow bisa follow terlebih dahulu biar ga ketinggalan cerita lainnya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Untuk Part 1 sampai 7 link saya drop di bawah ya...

Part 1 - Pembawa Petaka …………
Part 2 - Sebuah Peringatan …………
Part 3 - Keputusan ……
Part 12 - Belenggu Kematian

“Uwes rampung sek cangkeman?” (Sudah selesai yang bicara?) ucap Sembojo saat mendapati Bima muncul didepannya.

“Suwun wes nunggu” (Terimakasih sudah menunggu) kata Bima.
“Pie rasanya dadi begundal? Wes eruh to aku iso gawe awakmu mateni konco-koncomu?” (Bagaimana rasanya jadi begundal? Sudah lihat kan, aku bisa membuat mu membunuh teman-temanmu) ujar Sembojo.
Bima diam, tangannya terkepal menahan amarah. Jadi... tadi dia mengamuk karena ulah Sembojo?. Kromosengkono yang menyadari Bima menahan emosi langsung mendekat.
"Tenangno pikirmu, ojo kegowo nafsu” (Tenangkan dirimu, jangan terbawa nafsu) kata Kromosengkono menenangkan Bima.
“Nengdi Cempoko Kuning?” (Dimana Cempoko Kuning?) tanya Sembojo. Bima diam, dia tidak menjawab pertanyaan Sembojo.
“Bocah tengik” ucap Sembojo, yang mulai emosi saat pertanyaannya tidak dijawab oleh Bima. “Ojo sombong sak mergo koe gowo keris karo demit sek neng burimu. --
-- Ra bakal iso koe nglumat awakku” (Jangan sombong, karena kamu membawa keris dan dua demit yang ada dibelakangmu. Tidak akan bisa kamu melumat ku) kata Sembojo.
“Uwes rampung sek cangkeman?” (Sudah selesai yang bicara?) ujar Bima mengikuti ucapan Sembojo.
Demit wanita itu menggeram, wajahnya berubah menyeramkan. Taringnya mulai memanjang, kulitnya berubah warna menjadi kehijauan, serta lidahnya menjulur mengerikan.
“Sekarang” ucap Bima melemparkan mata tombak miliknya kearah Sembojo.

Banaspati langsung berubah menjadi api dan menyerang kearah Sembojo. Sedang Kromosengkono memegangi Bima dan menghilang dari pandangan.
Sembojo menoleh kesegala arah, sekali dia mengibaskan selendangnya mengarah ke banaspati. Namun itu semua tidak membuat Banaspati mundur, dia tetap bergerak kearah Sembojo.
Dari arah belakang Bima menerjang, keris Gondolrogo sedari tadi sudah dia pegang. Tinggal sejengkal Bima bisa mengenai tubuh Sembojo.
Tiba-tiba saja Sembojo berputar dengan anggun, sepersekian detik Bima tidak menyadari apa yang tengah terjadi, tubuhnya terpental jauh kebelakang.
Sosok Kromosengkono yang muncul disamping Sembojo juga ikut terpental. Bahkan Banaspati yang bentuk bola api melesat menjauh dari Sembojo.
Suara ledakan keras memekakan telinga, separo Pendopo Sanggar Pati hancur tidak bersisa. Bima mengerjap, kepalanya terasa ngilu, sesekali tangannya bergerak memegangi kepalanya. Bima merasakan darah segar mengucur deras dari belakang kepalanya.
“Siaaal” erang Bima. Dia kebingungan, bagaimana dia masih bisa bertahan dengan serangan mematikan seperti itu.
Belum sempat Bima mencari keberadaan Kromosengkono. Tiba-tiba saja terdengar suara dengung mengerikan, berbeda dengan suara gamelan yang ditimbulkan saat Maya menari.
Suara gamelan yang Bima dengar saat ini sungguh membuat bulu kuduknya meremang, hawa kematian datang dari berbagai arah.
Sontak Bima melihat kearah Sembojo. Sosok Demit itu sedang melakukan sebuah tarian yang mirip sekali dengan Maya.
Pelahan Bima bangkit, kepalanya terasa sakit sekali. Beberapa meter didekatnya, sosok Kromosengkono juga mencoba untuk berdiri.
“Kau tidak apa-apa Bim?” tanya Kromosengkono yang berjalan tertatih kearah Bima.
Bima mengangguk, “Apa yang sedang terjadi?” ujar Bima bingung, saat mendengar suara yang benar-benar menyayat hatinya.
“Lihatlah” ucap Kromosengkono menunjuk kearah pepohonan.

Jantung Bima berdebar lebih keras. Sangat perlahan, bagai sebuah memori yang datang kembali dalam ingatannya.
Sosok-sosok penghuni Alas Lali Jiwo mulai muncul dari balik pepohonan. Bentuk mereka beraneka ragam, mulai dari pocong, wanita dengan mata yang hampir keluar, sampai sosok tinggi besar berbulu mirip sekali dengan Buto Ireng.
“Ayo...” ucap Kromosengkono yang langsung memegangi bahu Bima. Dalam sekali tarikan nafas, Bima sudah berdiri diantara teman-temannya.
“Bagaimana Sembojo bisa memanggil mereka?” tanya Bima kepada Dewi.
“Dia dulu memang bertugas untuk memanggil mereka. Tapi setelah Cempoko Kuning mengetahui kalau Sembojo memiliki niat untuk membuka pagar gaib Alas Lali Jiwo. Cempoko Kuning dibantu Sangaraja mengusir Sembojo” jelas Dewi.
Sekarang semua terlihat jelas, selama ini Bima bertanya-tanya kenapa Sembojo begitu ingin bertemu dengan Cempoko Kuning.
“Jadi dia datang kemari untuk membalaskan dendam?” tanya Bima penasaran.

Dewi mengangguk, “Bukan hanya itu saja, dia berniat untuk melakukan ritual Labuh Mayit ditempat ini”
“Labuh Mayit?” tanya Bima tidak mengerti.

“Benar, Labuh Mayit. Ritual yang digunakan untuk mengambil sukma dari seseorang. Bagi manusia itu untuk kejayaan, kekayaan. Namun bagi para demit berarti itu budak. --
-- Lebih buruk lagi, jika ritual itu menggunakan orang-orang yang memiliki kemampuan seperti dirimu atau Maya. Kemampuan Sembojo akan meningkat secara drastis” jelas Dewi.
“Jadi dia kesini untuk menghancurkan Alas Lali Jiwo?” tanya Maya penasaran.
Dewi menggeleng, lebih dari itu. “Dia ingin membuka pagar gaib yang ada di Alas Lali Jiwo, dengan begitu para demit yang ada di alas ini bisa leluasa masuk dan keluar kedunia manusia. Kalian tahu kan apa artinya itu?” ucap Dewi.
Bima menghela nafas, dia paham. Jika itu semua terjadi, Sembojo hanya salinan dari Gendiswari. Namun dengan kekuatan yang jauh lebih besar dan mematikan.
“Ayo kita selesaikan” ucap Bima.

“Mustahil menghabisinya tanpa Cempoko Kuning. Sedang aku juga tidak tahu kemana dia pergi.” Ucap Dewi.
“Dia hanya bilang akan menghilangkan hawa keberadaannya, setelah itu dia memintaku untuk menggunakan keris ini untuk menolong kalian” ucap Bima.
Dewi nampak berfikir, jika memang Cempoko Kuning memberikan arahan pada Bima, pasti dia sedang melakukan sesuatu.
Suara alunan gamelan mulai terdengar lebih cepat. Para demit penunggu Alas Lali Jiwo semakin banyak terlihat.
“Nakula dan Sadewa jaga Maya dan Ki Ganang. Bima dan Aku akan melawan Sembojo. Sisanya kalian urus demit-demit itu” ucap Dewi memberikan arahan. Mereka semua menangguk dan langsung menyebar.
“Bim, ada sesuatu yang harus kamu ketahui” ucap Dewi.

“Maksudnya?” tanya Bima penasaran.
“Jaga saudarimu, dialah yang memanggil kami semua ke tempat ini. Didalam tubuhnya sekarang ada air sendang pitu dan darah Sangaraja. Setelah ini aku yakin masih banyak demit atau orang sakti yang akan mengincarnya” jawab Dewi.
Bima hanya berkedip, memandang wajah Dewi dengan tatapan serius. “Baik, sekarang bisa kita selesaikan semua ini? Aku tidak tahu berapa lama lagi tubuh ku bisa bertahan didunia manusia. Semakin kita menunda semakin nyawa kami dalam bahaya” ucap Bima cepat.
“Mari kita lakukan” ucap Dewi.

Sejurus kemudian, Dewi langsung menyentuh pundak Bima. Perasaan terhimpit dan menyesakkan kembali melanda Bima, dalam satu kedipan mata, mereka berdua sudah ada didepan Sembojo.
“Gunakan semua kemampuanmu. Kita lakukan dalam sekali serangan” ucap Dewi. Bima hanya mengangguk, dia langsung memfokuskan energinya kearah telapak tangannya.
Sementara Dewi juga melakukan hal yang sama. Seolah tidak menyadari kehadiran Bima dan Dewi, Sembojo terus saja menari. Meliuk-liukan tubuhnya mengikuti irama gamelan yang terdengar disekitar mereka.
Bersamaan, Dewi dan Bima melompat kearah Sembojo. Kedua tangan mereka masing-masing memegangi pusaka yang mereka miliki.
Duaaarrrr.... terdengar suara dentuman yang diakibatkan oleh serangan Dewi dan Bima kearah Sembojo.
Dewi dan Bima terlempar, namun keduanya langsung berdiri dan kembali menyerang Sembojo. Tidak ada yang berubah, Sembojo masih terus menari. Bahkan saat ini penduduk Alas Lali Jiwo terus saja bermunculan dari segala arah.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Bima, sambi mengedarkan pandangannya mengitari Sanggar Pati. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, sosok Kromosengkono, Pak Arif dan Banaspati tengah bertempur habis-habisan dengan para demit liar itu.
“Tidak bisa, dia sudah terlalu dalam masuk ke lembah kematian. Saat ini tubuhnya sudah dikuasai oleh nafsu dan dendam” terdengar suara lembut dari arah belakang mereka.
Sontak Bima dan Dewi memalingkan kepala mereka. Bibir Bima tersungging penuh kebahagiaan. Sosok Cempoko Kuning tengah berjalan anggun menuju kearah mereka.
“Aku tahu, kamu merasa bertanggung jawab atas semua ini. Tapi aku meminta ijin mu, untuk menghentikan orang yang sudah merawatmu dan Gendiswari. Semua masalah ini ada karena kecerobohanku” ucap Cempoko Kuning menatap kearah Dewi.
Dewi hanya mengangguk, sama sekali tidak membantah apa yang dikatakan oleh Cempoko Kuning. Kemudian wanita cantik itu berpaling kearah Bima.
“Saat setelah aku menghentikan Sembojo, gunakan keris itu untuk menyelamatkan mereka semua. Setelah semua ini selesai, aku akan mengembalikan apa yang semestinya tidak berada disini” ucap Cempoko Kuning
Jantung Bima berdegup kecang, dia paham apa yang dimaksudkan oleh Cempoko Kuning. “Mungkinkah?” ucap Bima tidak percaya.
Cempoko Kuning mengangguk, dan berpaling kearah Sembojo. Ada rasa sesal didalam hatinya saat melihat Sembojo terbelenggu oleh nafsu didalam hatinya.
“Nyai, tolong hentikan” ucap Cempoko Kuning berjalan mendekat kearah Sembojo.
Dewi nyentuh tangan Bima dan segera menyeretnya kebelakang, karena Dewi yakin setelah ini Sembojo akan menghentikan tariannya. Benar saja, tarian Sembojo mulai melemah, suara gamelan sayup-sayup mulai menghilang dari tempat itu.
“Kita bisa menyerangnya bersama-sama” ucap Bima saat menuruti Dewi menjauh dari Sembojo dan Cempoko Kuning.
Dewi menggeleng, “Tidak, hanya Cempoko Kuning yang mampu menghentikan Sembojo saat ini. Lebih baik diam dan perhatikan”
Bima menurut, mereka mundur agak jauh dari dua sosok demit perempuan itu. Kepala Bima mulai pusing. Dia tahu tubuhnya dialam sana sudah hampir mencapai batasnya.
“Sak iki opo pengenmu?” (Sekarang apa keinginanmu) tanya Cempoko Kuning kepada Sembojo.

“Sukmamu” balas Sembojo singkat.
Cempoko Kuning tersenyum, tidak ada ketakutan sama sekali didalam dirinya. “Ritual Labuh Mayitmu wes ra kanggo gawe. --
-- Sukma-sukma sek di kumpulke wes tak bebaske. Pilihanmu siji, mati opo lungo” (Ritual Labuh Mayit mu sudah tidak berguna. Sukma-sukma yang dikumpulkan sudah kubebaskan. Pilihanmu satu, mati apa pergi) kata Cempoko Kuning lembut.
Meskipun Cempoko Kuning mengatakan semua itu dengan nada yang lunak, akan tetapi Bima merasa setiap kata yang diucapkan oleh demit wanita itu adalah sebuah titah.
Sembojo menggeram, wanita itu langsung menerjang Cempoko kuning dengan menyabetkan selendangnya berkali-kali.
Sejenak Bima berfikir kalau kemampuan Cempoko Kuning masih jauh dibawah Sembojo. Namun perkiraannya salah.
Bagi teman-teman yang mau membaca versi e book bisa langsung ke akun netrakala di Karyakarsa ya. Jika berkenan bisa memberikan dukungan atau sekedar tips karya. Terimakasih

karyakarsa.com/netrakala
Bak seorang srikandi yang sedang bertempur melawan musuhnya. Cempoko Kuning menghindar dan melancarkan serangan bertubi-tubi kearah Sembojo.
“Ojo Sombong” (Jangan Sombong) ujar Sembojo saat dirinya jatuh terpuruk kelantai.

Saat Sembojo sudah hampir berdiri... Craattt... sebuah tombak menancap tepat di jantungnya... Cempoko Kuning menoleh, Bima dengan cengiran khasnya menatap Sembojo dengan pandangan kesumat.
“Awalnya aku ingin mencukur rambut yang ada dikepalanya. Tapi Aku berubah pikiran. Jauh lebih baik kalau sukma demit ini tersegel didalam keris Gondol Rogo” ucap Bima
Dewi yang ada disebelah Bima seolah seperti menelan air liurnya. “Bocah ini...” batin Dewi takjub.
Bima melangkah, menuju ke arah Cempoko Kuning dan Sembojo. “Aku tahu kau bisa mengalahkannya. Tapi aku sudah benar-benar lelah dengan semua hal yang dia lakukan. Maafkan aku sudah lancang” ucap Bima,
“Tidak akan ada yang bisa menghalangi niatanmu. Lakukan jika menurutmu itu benar” jawab Cempoko Kuning.
Bima mengangguk, dia langsung duduk bersila dihadapan Sembojo. Mengerahkan energinya untuk menyegel Sembojo di dalam keris Gondol Rogo.
Tepat saat energi Bima menyentuh keris Gondolrogo. Tiba-tiba saja Maya muncul di belakang Sembojo bersama Nakula dan Sadewa.
Seketika dia meletakan tangannya di kepala Sembojo. Energinya terus mengalir bercampur dengan milik Bima.
“Arrrggggg” erang sembojo saat tumbukan energi Bima dan Maya mengenai tubuhnya. Keris Gondolrogo mengeluarkan pendar cahaya putih. Berbeda dengan cahaya saat benda itu dikeluarkan dari tubuh Ki Ganang.
Perlahan tubuh Sembojo dilingkupi cahaya putih dan terus masuk kedalam keris yang tertancap didadanya.
“Aku akan ingat perlakuaan kalian” ucap Sembojo dan langsung menghilang dari pandangan. Sejurus kemudian keris Gondolrogo terjatuh ke lantai.
“Akhirnya” erang Maya

“Belum selesai, lihatlah” ucap Cempoko Kuning.
Bima dan Maya langsung melihat kearah yang ditunjukan oleh Cempoko Kuning. Benar saja, para penghuni Alas Lali Jiwo masih terus muncul dan menyerang Kromosengkono, Pak Arif dan Banaspati.
“Pulangkan mereka, lakukan seperti saat kalian memanggil para punggowo pitu” ucap Cempoko Kuning tersenyum kepada Maya.
Bima dan Maya mengangguk. Bima langsung duduk bersila dan mengucapkan mantra sedang Maya memejamkan matanya dan mulai menari.
Sekali lagi terdengar suara gamelan yang memecah keheningan Sanggar Pati. Perlahan para demit liar yang sengaja di kurung di Alas Lali Jiwo berhenti dan kembali masuk kedalam hutan.
*****
“Kalian semua berendamlah di sendang pitu. Pulihkan sukma kalian. Setelah itu barulah kembali ke raga kalian yang ada di dunia manusia” ucap Sembojo.
Bersama-sama mereka pergi ke sendang Pitu. Setibanya disana Bima langsung melepaskan pakaiannya dan bermeditasi didalam sendang. Sedang Maya hanya mengambil air sendang lalu meminumnya banyak-banyak.
“Mbak ayo lepaskan pakaianmu dan masuk kesendang” kata Bima polos.
“Maumu” jawab Maya ketus dan berjalan kearah Cempoko Kuning dan Dewi yang tengah duduk diatas batu tidak jauh dari sendang.
“Apa ada yang salah?” tanya Bima menatap Pak Arif yang sudah duduk bersila didalam air.
“Tidak Bim, semua ucapanmu benar. Tidak ada yang salah” ucap Pak Arif singkat.
“Demit we ngerti nek manungso iki akal e ra kanggo gawe” (demit saja tau, kalau manusia ini akalnya tidak berguna) ucap Banaspati.
Bima cemberut, tidak menjawab ucapan Banaspati yang memang sedari dulu selalu menyebalkan. Sedang Kromosengkono dan Ki Ganang hanya diam dan terus memusatkan perhatiannya untuk menyembuhkan tubuh mereka.
Beberapa saat mereka bersemedi didalam sendang. Saat Bima membuka mata mereka semua sudah duduk berkumpul diatas batu tidak jauh dari sendang.
Perlahan Bima bangkit, mengenakan pakaiannya. “Bim sini...” panggil Maya saat mendapati Bima tengah berjalan kearah mereka.
“Bagaimana keadaanmu Mbak?” tanya Bima
“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan” jawab Maya tersenyum.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan” ucap Bima, pandangannya lurus mengarah ke Cempoko Kuning yang duduk anggun diatas batu.
Tidak menjawab pertanyaan Bima, Cempoko Kuning hanya mengangguk. “Kenapa Maya bisa memiliki energi Gendiswari?” tanya Bima serius.
“Sama halnya dengan dirimu dan aku... Saat Gendiswari menguasai Maya dia akan masuk kedalam tubuhnya. Dengan begitu energi mereka akan bercampur.” Jawab Cempoko Kuning.
“Jadi energi Sembojo sekarang juga ada didalam tubuhku?” tanya Bima tidak nyaman.
“Ya, dan tugasmu adalah mengendalikan nafsumu agar dia tetap berada ditempatnya. Aku sudah bicara dengan Ki Ganang. Dia sudah setuju untuk memberikan keris miliknya untukmu” ucap Cempoko Kuning.
Bima menghela nafas, “Tenang cah, bocah gendeng. Aku bakal ketemu koe terus. Janji tetap Janji... ahhah” (Tenang cah, bocah gila. Aku akan terus bertemu dengan mu. Janji tetap janji. Ahaha) kata Ki Ganang senang.
Bima tahu, Maya sudah membuat perjanjian dengan Ki Ganang. Mau tidak mau dia akan terus berinteraksi dengan demit menyebalkan itu.
Bima mengedarkan pandangannya mencari sosok laki-laki yang sudah lama ingin ia temui. Saat mata mereka saling bertemu. Bima tersenyum dan memalingkan wajahnya kembali kearah Cempoko Kuning.
“Jika sendang pitu sudah hidup, apa berarti mereka semua... bisa lepas dari tugas mereka?” tanya Bima. Jantungnya berdebar keras, berharap apa yang dia pikirkan sesuai dengan kenyataan.
Cempoko Kuning diam, lama dia memperhatikan Bima. Sedang dedemit yang ada di sekitar mereka menatap bingung Cempoko Kuning dan Bima, kecuali Maya yang tersenyum. Dia paham apa yang dimaksudkan oleh Bima.
“Jika mereka ingin pergi aku tidak melarang. Seperti dugaanmu, Sendang Pitu sudah hidup didalam diri seseorang. Tugas kami sudah selesai disini” ucap Cempoko Kuning tersenyum lembut.
Buru-buru Bima menatap Pak Arif, “Sekarang setelah semua selesai. Bisakah kita pulang ke alam manusia?” kata Bima.
Laki-laki itu tersenyum mengangguk.
Seketika kabut tebal muncul disekitar Bima. Pandangannya menjadi kabur dan sebuah tarikan kuat menghantam bagian belakang kepalanya. Tiba-tiba saja semua menjadi gelap.
Tamat
*****
EPILOG
Bima mengerjapkan matanya, kepalanya terasa begitu berat. Entah kenapa dia merasa tidurnya begitu pulas. Seolah dia sedang bermimpi berkelana menuju alam yang dulu pernah dimasukinya.
“Sudah bangun?” ucap suara yang Bima kenali.
“P—pak Arif?” kata Bima kaget dan langsung mencoba untuk berdiri.
“Berbaringlah, tubuhmu masih belum kuat untuk bergerak” ucap Pak Arif bahagia.
“Apa yang terjadi?” tanya Bima penasaran. Tapi Laki-laki itu menggeleng. “Nanti setelah kamu sembuh baru kita bicara” ucap Pak Arif yang langsung keluar dari kamar inap Bima.
Bima menghela nafas, “Lama banget bangunnya” ucap Maya yang tengah memandang Bima dari brankar yang ia tempati.
Bima tersenyum menyeringai, sepertinya mereka terlalu lama masuk kealam lain. Sampai tubuh mereka harus mendapatkan perawatan seperti ini.
*****
Sudah beberapa hari semenjak kepulangan Bima dan Maya dirumah sakit. Menurut cerita dari orang tua mereka, keduanya ditemukan dengan tubuh tergeletak dilantai dengan darah yang sudah mengering.
“Jadi Ki Ganang benar-benar mengikutimu?” ucap Bima saat mereka sedang duduk ditaman belakang rumahnya.
“Entah lah, aku belum mencoba untuk memanggilnya” ucap Maya yang kemudian memejamkan matanya.
Suasana tiba-tiba saja berubah, udara disekitar mereka menjadi dingin. Tubuh Bima tersentak, saat mendapati ada sosok demit tua mirip monyet tengah jongkok diatas meja dekat dengan mereka.
“Ana apa cah Ayu?” (Ada apa anak cantik) tanya Ki Ganang tersenyum kepada Maya.

Maya menggeleng, “Tidak Ki, tadi Bima bilang kalau dia kangen sama Ki Ganang” ucap Maya tanpa dosa.
Seketika senyum lenyap dari bibir Ki Ganang. Keduanya menatap penuh dengan kebencian. Baik Bima maupun Ki Ganang tidak pernah menyukai satu sama lain.
“Gilani” (Menjijikan) ucap Ki Ganang yang lansung lenyap dari pandangan.

Sedang beberapa meter dari tempat Bima dan Maya duduk. Pak Arif mengawasi mereka berdua dengan senyum bahagia.
“Bersabarlah, sepertinya kita akan sering-sering melihat Bima dan Ki Ganang bertengkar” ucap Kromosengkono yang juga langsung menghilang dari pandangan.

*Selesai*

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Netrakala

Netrakala Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @netrasandekala

Jun 13
Halo teman-teman, malam ini kita up Labuh Mayit part 11 ya. Tapi sebelum lanjut minta tolong untuk RT/QRT sebanyak-banyaknya dulu ya. Buat yang belum follow bisa follow dulu biar tidak ketinggalan cerita-cerita lainnya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Read 125 tweets
Jun 9
A Thread-
Labuh Mayit - Palung Kematian ( Part10 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra
#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Kita upload nanti aga siangan ya, bantu dulu untuk RT/QRT like dan coment. Biar teman-teman yang lain juga bisa ikut membaca ya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Read 88 tweets
Jun 7
A Thread-
Labuh Mayit - Sebuah Tujuan ( Part 9 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101
@benbela @P_C_HORROR
@RestuPa71830152 @Long77785509
@karyakarsa_id @AgilRSapoetra

#bacahorror
Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Kita lanjut part 9 ya. Bagi teman-teman bisa bantu untuk RT QRT like dan coment biar yang lain juga bisa ikut membaca ya.
Untuk chapter 1 bisa di baca di Index dengan judul "Cerita Tentang Mereka"

Read 124 tweets
Jun 5
A Thread-
Lebur Sukma - Ratmi ( Part 5 )
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101 @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Halo teman-teman. Maaf sudah menunggu cerita ini lama ya. Nanti jam 19.00 kita mulai update ya. Sebelumnya bantu untuk RT/QRT like dan coment ya. Biar teman-teman yang lain juga bisa ikut membaca. Bagi yang mau nitip-nitip dulu juga boleh...
Bagi teman-teman yang belum baca part sebelumnya bisa klik link di bawah ya...

Part 1 - Peninggalan ……
Part 2 - Kepingan Misteri
Read 179 tweets
May 30
A Thread-
Labuh Mayit - Punggowo Pitu (Part 8)
@IDN_Horor @bacahorror_id @bacahorror
@menghorror @nasura2101 @benbela
@P_C_HORROR @RestuPa71830152
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Mau dilanjut gak nih ceritanya? kalau iya minta tolong untuk RT / QRT... nanti kalau sudah banyak respon kita lanjutkan lebih cepet 😁 bagi yang mau nitip-nitip dulu boleh.
Bagi teman-teman yang mau baca versi full tidak terpotong-potong bisa langsung mampir di karyakarya ya. Disana sudah sampai part 12 ya. Part terakhir dari chapter ini.

karyakarsa.com/netrakala/labu…
Read 140 tweets
May 26
-A Thread-
Labuh Mayit - Kembali Ke Alas Lali Jiwo (Part 7)
@IDN_Horor @bacahorror_id @menghorror
@nasura2101 @benbela @P_C_HORROR
@Long77785509 @karyakarsa_id
@AgilRSapoetra

#bacahorror

Jangan lupa untuk RT, like dan coment ya. Danke... Image
Sebelum lanjut ke cerita, minta tolong buat teman-teman untuk RT / QRT, like dan coment ya. Nanti kalau sudah banyak langsung kita gass.
Bagi teman-teman yang mau nitip-nitip dulu juga boleh... Biar nanti pas update langsung bisa mengikuti ceritanya.

Untuk Part 1 sampai 6 link saya drop di bawah ya...
Read 132 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(