Kegelapan melingkupi malam, dengan hanya sekelumit cahaya yang berpijar dari lampu berbahan bakar minyak. Lampu itu dipasang di sebuah cagak kayu. Apinya menjilat-jilat serta mengeluarkan asap hitam. Walaupun bercahaya alakadarnya, itu sudah lumayan untuk menerangi pemandangan di sekelilingnya ketimbang gelap gulita.
Jembatan Panus terlihat ramping dan lurus. Kadang-kadang tampak menggelombang diterpa sinar lampu minyak. Supri mematung sesaat di antara kesadaran yang sukar ia terima. Dia mengenali tempat itu, tetapi pemandangan yang seharusnya tidaklah begitu.
Segala macam yang ditemuinya beberapa saat lalu sirna entah ke mana. Warung yang menjadi langganannya bertahun-tahun lenyap tak berbekas, bahkan seolah-olah tidak pernah ada.
Begitu juga pemiliknya, Mpok Onen, perempuan rewel yang selalu bicara apa adanya, seperti bukan manusia yang pernah lahir ke dunia. Supri tidak bisa menerima kenyataan yang menampang di depan mata, karena ia yakin seutuhnya bahwa ini bukan kenyataan. Namun ia lekas menanyakan pikirannya sendiri, kalau bukan kenyataan lantas apa.
Pemuda itu menggaplok pipinya sekali dengan keras. Rupanya terasa. Lantaran masih kurang percaya, sekali lagi ia gaplok wajahnya dengan dua tangan. Dan rasanya sama-sama pedas. Namun ia masih perlu diyakinkan lagi, sehingga tinjunya mendarat pada sebuah batang kayu. “Auww, sakit,” kesalnya. Baru setelah itu hatinya percaya kalau keadaan sekarang adalah nyata.
Tentu lelaki itu amat bingung, kenapa tiba-tiba berpindah situasi. Ia menoleh ke kiri. Warung Mpok Onen tidak muncul dengan tiba-tiba. Hanya tanah kosong ditumbuhi tanaman-tanaman liar, entah pohon jarak atau apa. Pandangannya ditahan beberapa saat. Biasanya ia melihat jembatan dan lalu lalang kendaraan. Sekarang semua itu lenyap.
“Kenapa jadi begini,” desisnya dengan jantung berdebar.
Belum selesai soal penglihatan, selanjutnya Supri menyadari suara-suara aneh yang tidak pernah didengar sebelumnya. Binatang-binatang malam. Kawanan beruk bersorak sorai dari tempatnya bertengger.
Supri tidak bisa melacak di mana mereka. Mungkin di pohon-pohon dan hutan bambu. Memang banyak sekali pohon rindang. Dan pohon-pohon itu ikut bersuara dengan dedaunannya yang berdesir. Telinganya juga menangkap irama Sungai Ciliwung yang mengalir deras. Kemudian burung hantu yang agaknya tidak cuma seekor. Serangga-serangga pun ada.
Kecuali itu tentu masih ada binatang lain yang enggan bersuara namun pandai bercokol, seperti ular dan biawak. Semua itu asing. Jembatan Panus dan Sungai Ciliwung tidak pernah seaneh ini. Beberapa saat lalu Mpok Onen mengatakan sungai itu adalah tempat sampah bagi orang-orang yang terlalu pelit mengeluarkan iuran sampah. Supri juga tahu Ciliwung adalah jalurnya sampah. Makin ke hilir semakin padatlah limbah. Ke mana orang-orang yang membuang sampah itu?
Selintas suara yang lain baru saja melesap ke telinga. Bagai lolongan namun putus-putus dan tipis. Pria itu bergidik seketika. Dikiranya hantu wanita atau kuntilanak sedang usil padanya. Namun ia segera ingat, ada sejenis burung yang mampu bersuara demikian, hanya saja ia lupa namanya.
Apa yang dilihat juga didengar sejatinya hanya gejala daripada pertanyaan yang paling utama, yaitu di manakah ia berada kini?
Memori Supri memutar sejemang untuk menelusuri informasi-informasi di masa lalu, tentang sejarah, serba-serbi hinga mitos-mitos yang dilekatkan pada Jembatan Panus. Dia mengingatnya dengan hati-hati hingga berhenti pada sebuah informasi yang menyebutkan bahwa situs ini merupakan salah satu gerbang alam gaib yang ada di wilayah Depok.
Memang, di antara mitos-mitos lain yang berkembang, gerbang alam gaib tidak terlalu mendapat perhatian. Barangkali hal itu dipandang teramat muluk seperti dunia eskatologis atau setidaknya seperti legenda pemanis cerita saja. Bisa jadi pula karena sangat sedikit orang yang punya pengalaman empiris soal itu.
Berbeda halnya dengan mitos-mitos lain yang dikaitkan dengan oknum-oknum tertentu dari kalangan makhluk halus, semisal Nyai si kuntilanak merah, Eti kuntilanak baik hati, siluman-siluman, sosok-sosok bertumbuh pendek, sejauh ingatan Supri, kisah-kisah itu lebih banyak mendapatkan klaim.
Setiap orang bisa percaya atau menolaknya, sebab keduanya tergantung pada pengetahuan dan empirisme yang bersifat individual. Dan malam ini Supri terseret di luar kemauannya sendiri, menuju suatu pengalaman, yang, tidak hanya terasa secara batin, namun juga zahir.
“Jangan-jangan gue masuk alam lain,” gumam Supri menjurus percaya.
Dia juga ingat cerita-cerita orang lain dari berbagai tempat mengenai keberadaan sesuatu dimensi ruang yang disebut alam gaib. Kota gaib Saranjana, pasar setan di Gunung Lawu, merupakan dua tempat yang boleh dikatakan sangat tersohor sebagai rujukan fenomena ini. Dan yang mengklaim kisah-kisah di tempat itu bukan cuma seorang dua orang, melainkan cukup banyak.
Supri lantas merenung singkat, jangan-jangan yang dialaminya saat ini adalah seperti mereka, tiba-tiba saja berpindah dari keadaan yang satu menuju keadaan lain yang sungguh terbalik. Kota gaib saranjana. Bagaimana bisa menjelaskan rimba belukar seketika menyulap dirinya menjadi sebuah kota peradaban yang tampak mentereng dan berkemajuan.
Juga pasar setan, bagaimana mungkin belantara pegunungan berkabut tiba-tiba tersulap menjadi sebuah pasar yang ramai oleh jual beli dan tawar menawar. Para penyintas yang mengisahkan fenomena itu menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi secepat kedipan mata. Bahkan lebih jauh lagi, ada juga segelintir di antara mereka yang terjebak di dunia aneh itu sampai kurun waktu lama. Di dunia yang nyata mungkin saja ia dianggap sudah meninggal atau hilang.
Hanya saja, Supri mendapati alur yang tidak begitu selaras dengan kisah alam gaib pada umumnya. Bagaimana pun, ia masih mengenali tempatnya berpijak sekarang. Jembatan Panus di wilayah Depok. Bentuknya tidak berubah, lebar dan panjangnya pun segitu saja. Namun ia kehilangan begitu banyak identitas masa kini yang melekat pada tempat itu,
rumah-rumah dan gereja di seberang jembatan, warung Mpok Onen, jembatan baru yang dibangun sebelum pergantian abad, bahkan kampung pemukiman si cewek pabrik yang mencuranginya, semuanya lenyap atau malah seperti belum pernah ada. Sebaliknya, orang-orang yang mengaku terseret ke dimensi lain menyaksikan perubahan ruang dari yang satu dengan yang lain.
Maka dari itu Supri kemudian mengira, jangan-jangan ini tentang waktu. Dimensi waktu juga punya ceritanya sendiri, dan kebanyakan dari cerita itu ialah tentang menuju masa silam. Baginya yang ini lebih masuk akal, meski ia segera menyadari kalau semuanya adalah tidak masuk akal.
Sekarang pemuda putus cinta itu dituntut menemukan jalan keluar dari dimensi yang tidak dipahaminya. Dia belum tahu akan berbuat apa. Pikirannya semata-mata melamun. Hingga setelah itu ia dengar perutnya mengkerut-kerut dari dalam.
“Di mana cari makanan?”
***
Belum jauh Supri meninggalkan jembatan. Masih di ujung jalan yang mengarah ke barat. Lalu tampak sebuah kelokan kecil yang menyambungkannya dengan jalanan lain. Sejatinya itu masih satu jalan. Pada saat yang seharusnya jalan itu bernama Jalan Siliwangi, yang menjadi salah satu jalur penghubung terpenting di Kota Depok.
Padat dan ramai, sudah tentu. Ada rumah sakit, pertokoan, dealer kendaraan, restoran dan tempat berkumpul anak muda, hingga kantor pelayanan pajak yang berada di pojok dekat lampu merah. Namun, pada malam ini Supri tidak dapat menjumpai seluruh bangunan serta keramaian yang biasanya.
Yang tergambar di depan matanya semata-mata hanya seruas jalan berpasir, sejumlah bangunan beratap prisma yang letaknya jarang, dan ia hampir tidak bisa mengenali lebih pasti pemandangan tersebut andai saja tidak pernah mengamati catatan-catatan sejarah. Karena itu sekarang ia tahu sedang berada kapan dan di mana, yaitu di sekitar tahun 1930-1945 di sebuah wilayah seluas desa yang bernama Gemeente Depok.
Lelaki itu kemudian mengingat mulai dari bagaimana cara orang Belanda berbisnis.
Sekarang adalah satu hal, dahulu adalah hal lain. Sampai dengan kira-kira 300 tahun silam, daerah ini bukanlah bagian dari wilayah Kota Depok yang dipahami sebagai daerah tingkat II di bawah Provinsi Jawa Barat. Melainkan sebetulnya cuma sebidang lahan yang dikuasai perkongsian dagang Belanda, Verenigde Oostindische Compagnie atau disingkat VOC.
VOC tentu saja tidak pernah membayar lahan dari penduduk asal untuk bisa menguasainya. Pada awalnya mereka berlabuh di Sunda Kelapa, lalu membangun benteng di hilir Sungai Ciliwung yang dinamai Kastil Batavia, kemudian dengan itu mereka mematahkan perlawanan demi perlawanan atas kedatangan mereka yang semena-mena.
Setelah perlawanan paling hebat dari armada Sultan Agung behasil dimentahkan, VOC segera memperluas pengaruhnya, yang pasti dengan senjata dan pasukan yang lebih modern. Singkat cerita, tidak sampai setengah abad sesudah itu, mereka berhasil merampas jutaan hektar tanah milik penduduk asal dengan suka-suka serta memperluas pengaruhnya di wilayah nusantara.
Tanah-tanah yang dirampas dan dikuasasi oleh VOC itu kemudian dipetak-petak dan diberi nama land. Peruntukannya adalah untuk pertanian atau hasil bumi saja. Satu land terdiri ribuan hektar. Mereka mempekerjakan sejumlah budak yang didatangkan dari berbagai daerah, dan, jika belum cukup, masih ada penduduk asal yang bisa dipaksa bekerja.
Memang tidak semua cara bisnis ini buruk, sebab masih ada secuil kebaikan yang dapat dirasakan hingga sekarang. Misalnya kopi. Pada abad 18 di Land Tjimanggis hingga Land Tjitajam ditanam belasan ribu tanaman kopi untuk mencukupi pasokan kopi di Eropa. Dan ini terhitung masih sedikit ketimbang kopi yang kemudian ditanam di wilayah lain, misalnya Padang Sidempuan.
Cara berbisnis orang Belanda yang efektif namun ganas ini kemudian kena batunya. Pada akhir abad 17 VOC mulai ditimpa masalah keuangan karena macam-macam persoalan terutama korupsi. Akibatnya mereka menjual sebagian land kepada pihak perorangan atau swasta dengan suatu hak istimewa mengelolah tanah tersebut untuk kepentingannya. Maka di kemudian hari muncullah suatu istilah tanah partikelir atau tanah otonom, yaitu tanah milik swasta yang terlepas dari aturan Belanda.
Satu di antara land yang dilepas itu bernama Land Depok seluas 1244 hektar yang dibeli oleh seorang petinggi VOC, Cornelis Chastelein pada 1696. Chastelein sendiri sudah mundur dari perusahaan itu sebelum memiliki land yang bisa ia kelola dengan kewenangan penuh. Selain Land Depok, ia juga sudah punya beberapa lahan di daerah Gambir, Mampang, hingga Karanganyar. Secara keseluruhan ia memiliki 45 ribu hektar.
Untuk menghasilkan uang dari Land Depok, Chastelein mendatangkan 150 budak dari Bali sampai Ambon. Merekalah yang bekerja menanam dan memproduksi kopi, teh, dan komoditas lain-lain.
Di samping sebagai tuan tanah, Chastelein adalah seorang Protestan yang taat. Budak-budak yang ia miliki tidak luput ia dakwahi dan kemudian ia nasranikan hingga mereka dibaptis dengan namanya sendiri.
Maka setelah menjadi Kristen, para budak perlu ke gereja tiap Minggu untuk beribadat. Mulanya mereka harus pergi jauh ke Batavia lantaran belum punya gereja, sampai dengan tahun 1713, ketika Chastelein membangunkan gereja dari bambu dan kayu di kawasan Kerkstraat atau pada masa selanjutnya bernama Jalan Pemuda.
Chastelein meninggal dunia setelah satu tahun gereja protestan itu berdiri. Kematiannya turut disertai sepucuk surat wasiat yang sangat fenomenal, yang segera diumumkan kepada budak-budaknya, antara lain berisi pernyataan bahwa Cornelis Chastelein mewariskan Land Depok kepada para budak beragama Protestan yang dimilikinya.
Melalui testamen itu jugalah para budak mendapatkan kemerdekaannya. Selanjutnya perkumpulan itu terdiri dari 12 marga, yakni Soedira, Leander, Jonathan, Jacob, Joseph, Bacas, Loen, Isakh, Laurens, Samuel, Tholense, dan Zadokh.
Anggota-anggota dari 12 marga tersebut mengelola wilayah Land Depok dan terus begitu secara turun temurun. Mereka disebut Depokkers. Fasih berbahasa Belanda, diajari pendidikan serta akal pikiran Eropa, berpakaian pun senang ala Eropa, meskipun berkulit tetap sawo matang dan perawakannya tetap sama dengan penduduk asal.
VOC di kemudian hari bangkrut dan digantikan oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kekuasaan yang baru ini memandang landerien atau lahan-lahan yang dulu dijual kepada swasta sebaiknya dibeli kembali. Land Depok juga tak luput ditawar. Akan tetapi para pewaris Cornelis Chastelein berhasil mempertahankannya dengan baik. Dari pada itu, Land Depok kemudian menjadi daerah otonom dengan nama Gemeente Depok yang memiliki pemerintahan sipil bernama Gemeente Bestuur.
Dalam perkembangannya, wilayah yang luasnya hanya seuprit ini jelas keterlaluan maju dan mewah jika disandingkan dengan wilayah lain yang bahkan jauh lebih luas. Sebagai contoh, Distrik Parung yang hamparannya meliputi Sawangan, Parung Belimbing, Limo, Mampang Ilir, Grogol, hingga Tanah Baru, itu semua hanya merupakan desa-desa dan dusun-dusun yang masyarakatnya miskin serta terbelakang.
Sementara Gemeente Depok punya segala kemajuan. Pada abad 20, di daerah ini sudah didirikan sekolah dasar berbahasa Belanda atau ELS (Europeesche Lagere School), menyusul wilayah lain yang lebih besar, setingkat residen maupun afdeling seperti Batavia (Jakarta), Buitenzorg (Bogor), dan Padang Sidempuan yang kemudian dipindahkan ke Sibolga. Bioskop pun Gemeente Depok punya, demikian pula kemajuan-kemajuan lainnya, seperti auto (mobil) hingga arloji dari Swiss.
Ingatan sejarah lampau Gemeente Depok membikin Supri memahami situasi aneh yang tengah mengungkungnya. Alih-alih ingin mencari tempat untuk islam alias isi lambung, sekarang ia ragu bisa menemukan makanan di tempat ini.
“Mbak Rohaya yang sabar, ya,” ucap Isti berusaha menghibur. “Walaupun Mas Wahyu sudah nggak ada, tapi masih ada bayinya. Mudah-mudahan itu bisa nggantiin kesedihan Mbak Rohaya.”
Rohaya tersenyum getir diselingi tatapan aneh. Lalu dia berkata, “Aku sebenarnya nggak mau melahirkan anak ini, Isti.”
Di rumah ini semua bermula. Orang-orang mati karena kegelapan yang tidak seharusnya ada. Buyut, kakek, orang tua, dan kemudian anak.
Thread
Nulis horor lagi ah yang setannya serem kaya b*h**l. Mulai abis maghrib. Silakan tandain dulu.
Nara memasuki ruangan itu. Langkahnya kecil dan ragu. Pada sejurus pandang, seorang perempuan, Elma, duduk di belakang meja persegi panjang berselimut taplak beludru, sedang memutar gelendong benang wol.
Perempuan itu merapikan kedua tangannya tatkala Nara semakin dekat. Nara berhenti. Matanya memindai kursi, meminta duduk.
Gak begitu jauh dari rumah saya dulu, ada rumah angkere poolllll. Silih berganti orang ngontrak atau beli untuk dihuni, tapi gak ada yang betah. Yang terparah, ada yang cuma tiga hari kuat tinggal di situ, padahal mereka keluarga besar.
Gambar di atas itu memang prompt, tapi akurasinya hampir mendekati asli, mungkin 80 persen. Di sebelah kanan rumah itu ada rumah lain milik dokter (suami & istri). Keluarga dokter itulah yang sekarang memiliki rumah itu.
Mereka membeli rumah angker itu mungkin supaya bisa dibobok dan nyatu dengan rumahnya. Kebetulan, harganya dilepas miring, sudah lebih dari 10 tahun gak dihuni. Tapi sampai sekarang, semenjak dibeli, rumah angker itu nggak pernah mereka sentuh.
Di Jawa Barat ada hotel seperti ini. Kumuh, pengap, stigmatized as haunted place. Kolom review dipenuhi ulasan horor. Banyak selentingan kabar; ada orang bunuh diri dari lantai 3, pernah jadi sarang imigran gelap, ada wanita dibunuh dsb. Penasaran, saya datang ke situ.
Foto penampakan di bawah.
Sebut saja Hotel R. Terletak di sebuah daerah wisata yang sejuk. Saya datang ke situ beberapa bulan lalu, pesan kamar di platform, rate-nya waktu cuma 60-an ribu, room only, tidak bisa pilih kamar.
Cashier hotel perempuan. Pembawaannya dingin, tidak seperti yang terlihat di tiktok, suka joget. Dia bilang, kamar yang tersedia cuma ada di lantai satu penjuru kanan. Saya lihat ke arah kiri, tampaknya ada kamar. Di atas pun semestinya ada kamar, karena ini hotel tiga lantai (4 termasuk basement).
Masih Ramadhan, tiga hari sebelum lebaran Idul Fitri 2008, Sri Rumiyati naik angkot sambil memangku potongan kepala Hendra, suaminya yang dia potong-potong semalam sebelumnya. Kasus ini dikenal sebagai mutilasi tato macan.
TW
Senin, 29 September 2008. Seorang kondektur bus Mayasari Bhakti P-64 yang sedang melintasi daerah Cakung, kaget sekagetnya menemukan kantong plastik berisi sejumlah potongan tubuh manusia, tergeletak di bawah kursi penumpang. Segera temuan itu dilaporkan dan menjadi awal penyelidikan atas dugaan pembunuhan.
Tidak berselang lama, hal serupa juga terjadi di dalam dua bus Primajasa tujuan Bandung dan Cirebon. Potongan-potongan mayat di dalam kardus dan plastik. Tidak ada yang tahu siapa korban yang dibunuh dengan keji itu.
Jumat dini hari (28/10/2011). Saat mabuk miras, Briptu Eko Ristanto mengejar mobil yang dikendarai Riyadus Shalihin (38) lalu menembaknya sampai tewas. Motif pembunuhan ini sebenarnya absurd. Namun esoknya Shalihin dinyatakan tewas ditembak karena menabrak polisi, dan ia merupakan pelaku curanmor.
Akrab dengan template ini?
Malam itu enam personel polisi Polres Sidoarjo berpesta di sebuah kafe, ditemani LC serta tentunya miras. Mereka adalah Briptu Eko Ristanto, Bripka Dominggus Dacosta, Briptu Iwan Setiawan, Briptu Widianto, Briptu Sis Sudarwanto, dan Aiptu Agus Sukwan handoyo.
Widianto pamit pergi sekitar pukul 02.00. Baru saja meninggalkan kafe, dia bertabrakan dengan mobil Carry hingga terluka. Dia lantas mengadu kepada koleganya yang masih asoy berpesta.