Young Buddhist Association Profile picture
Nov 16 17 tweets 9 min read Read on X
Sejarah Penelitian Kompleks Candi Batujaya dan Prospek Sebagai Geopark UNESCO

Candi Batujaya sedikit dari candi yang ditemukan berada di Provinsi Jawa Barat. Candi Batujaya adalah salah satu kompleks candi tertua yang masih bertahan hingga saat ini. Yang menarik Kompleks Candi Batujaya bercorak agama Buddha namun kompleks Candi Batujaya dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara yang bercorak agama Hindu. Mari kita jelajahi sejarah penelitian lebih dalam candi yang unik ini.Candi Batujaya Sumber: Astuti, Erika Yuni., Pratomo Aji Krisnugrahanto, Leyna Ayushitarum. 2022. A Sustainable Approach to Endangered Heritage: The Batujaya Temples, Indonesia. The Historic Environment: Policy & Practice 2022, Vol. 13, No. 4, 509–525.
Rute Ke Candi Batujaya Sumber: Googlemaps
Lokasi Administratif
Situs Kompleks Candi Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Talagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Untuk berkunjung ke situs ini tidak sulit.

Dengan bantuan Googlemaps Kompleks Situs Batujaya dapat ditempuh dari Pasar Rengas Dengklok dengan kendaraan umum kurang lebih 30 menit melalui satu-satunya jalan yang menghubungkan kota ini sampai ke Pantai Pakis.

Sesampai di Desa Segaran perjalanan masih harus dilanjutkan dengan menggunakan ojek yang biasa mangkal di ujung jalan, untuk mencapai situs ini juga dapat dengan kendaraan pribadi.Situs Batujaya Sumber: Googlemaps
Situs Batujaya Sumber: Googlemaps
Situs ini terletak di tengah-tengah persawahan dan sebagian berada di dekat permukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat. Batujaya kurang lebih terletak enam kilometer dari pesisir utara dan sekitar 500 meter di utara Sungai Citarum.

Situs Batujaya terletak di lokasi yang relatif berdekatan dengan Situs Cibuaya (sekitar 15 km di arah timur laut) yang merupakan peninggalan agama Hindu dan situs protosejarah kebudayaan Buni yang diperkirakan berasal dari awal abad masehi.Situs Batujaya Sumber: Astuti, Erika Yuni., Pratomo Aji Krisnugrahanto, Leyna Ayushitarum. 2022. A Sustainable Approach to Endangered Heritage: The Batujaya Temples, Indonesia. The Historic Environment: Policy & Practice 2022, Vol. 13, No. 4, 509–525.
Sejarah Penelitian
Berawal dari penelitian di daerah Cibuaya tahun 1984, tim penelitian arkeologi di Situs Cibuaya dari Universitas Indonesia mendapat informasi bahwa di daerah Batujaya banyak sekali bukit-bukit kecil yang berada di tengah-tengah persawahan masyarakat yang kemudian dilakukan pendataan dan ekskavasi arkeologis. Situs Batujaya merupakan gundukan tanah berisi sisa bangunan bata, yang oleh penduduk setempat disebut unur.Puing Bata Sumber: Mansur, Mustafa. 2015. Situs Percandian Batujaya di Karawang Jawa Barat: Analisis Manajemen Sumber Daya Arkeologi. Jurnal Etnohistori, Vol. II, No. 2, Sept. 2015
Segaran IIA Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Tahun 1995, penelitian arkeologi dilakukan oleh Soeroso di wilayah Batujaya untuk meneliti lingkungan pesisir di utara Karawang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs Batujaya menempati lahan yang mempunyai sumberdaya alam baik.

Sumberdaya yang menjadi pertimbangan bagi orang-orang masa lalu dalam menempatkan kedua situs itu adalah bentuklahan, jenis tanah, dan sumber air. Dalam hal bentuklahan dan jenis tanah, situs Batujaya yang menempati satuan bentuklahan dataran aluvial.Image
Candi Blandongan  Sumber : www.instagram.com/jawabaratbeautiful
Penelitian lanjutan dilakukan oleh Anwar Falah tahun 1995 di situs Unur Blandongan memberikan tambahan data baru. Ekskavasi yang dilakukan oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional itu berhasil menampakkan bagian kaki sisi baratlaut candi.

Unsur-unsur hias yang terdapat pada bagian kaki bangunan yang menyerupai stupa, dan pecahan tanah liat bakar yang menyerupai tablet dengan hiasan relief panteon Buddha. Penelitian ini cenderung memberi kemungkinan berkembangnya agama Buddha di wilayah tersebut
Pada tahun 1997 sudah terdapat 24 unur yang ditemukan, tahun 1999 tercatat sebanyak 26 unur yang berindikasi ke arah bangunan candi. Sampai 2014, empat candi di Situs Batujaya (Batujaya I atau Candi Jiwa, Batujaya V atau Candi Blandongan, Talagajaya I atau atau Batujaya VII atau Candi Serut, dan Talagajaya IV atau Batujaya VIII atau Segaran IX atau Candi Sumur) telah atau sedang dipugar.

Laporan Balai Penelitian Cagar Budaya (BPCB) Serang pada tahun 2014 menyebutkan ada 40 situs sisa bangunan (candi) yang ada di kawasan Batujaya. Sampai tahun 2016 diketahui terdapat 62 unur dan 51 di antaranya terkonfirmasi memiliki sisa-sisa bangunan.Candi Jiwa Sumber: https://disparbud.jabarprov.go.id
Sebuah program kerja sama antara Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional dan Ecole Française d'Extrême-Orient (EFEO) dirancang pada tahun 2002-2006 untuk melakukan penelitian sistematis di situs Batujaya, untuk mendokumentasikan kronologinya dengan lebih baik.
Ekskavasi tahun 2005 dan 2006 membawa secara tepat mendokumentasikan perjalanan dari budaya asli dengan akses ke beberapa artefak India dan budaya Agama Buddha. Dalam ekskavasi yang dilakukan antara EFEO dan Puslitarkenas menemukan di Situs Batujaya telah dihuni budaya Buni sekitar awal abad masehi, dalam bentuk pemakaman.

Kemudian, setelah abad ke-4 atau 5 dan sebelum akhir abad-8, sebuah fase pendudukan yang padat mengungkapkan indikasi yang jelas corak agama Buddha, selama periode itu candi-candi pertama dibangun di sekitar sektor ini.Temuan rangka di Candi Batujaya Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Temuan artefak emas di Candi Batujaya Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Temuan artefak emas di Candi Batujaya Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Harus diingat bahwa referensi tekstual pertama tentang agama Buddha di Jawa oleh Fa Xian dan Gunavarma menunjukkan bahwa agama Buddha secara praktis tidak dikenal pada tahun 413 M tetapi menyebar dengan cepat beberapa tahun kemudian, sebelum tahun 424 M.

Sayangnya sulit untuk diketahui apakah para musafir ini mendarat ditempat yang sama yaitu Situs Batujaya atau ditempat lain di wilayah Jawa Barat atau di Pulau Jawa. Fa Xian menyatakan ”Di Ye-po-ti (transliterasi dari Jawa Dwipa, kemungkinan besar yang dimaksud adalah Kerajaan Tarumanagara) jarang ditemukan penganut Agama Buddha, tetapi banyak dijumpai brahmana dan orang-orang beragama kotor (penganut kepercayaan lokal, animisme)".
Dalam penelitiannya, EFEO dan Puslitarkenas tidak menemukan arca yang dapat dihubungkan dengan candi-candi ini. Namun, jelas bahwa candi-candi utama yang ditemukan sejauh ini adalah candi Buddha: dibangun dalam bentuk stupa, tablet dan semua prasasti yang ditemukan sejauh ini dapat dikaitkan dengan agama Buddha.

Banyak candi dan bangunan bata terkait mengungkapkan dua fase yang berbeda konstruksi: fase pertama berasal dari abad ke-5 sampai ke-8. Bukti-bukti yang ada menunjuk pada abad keenam atau ketujuh abad ke-6 dan ke-7 sebagai masa aktivitas dan kemungkinan besar masa pembangunan candi.Gerabah India di situs Candi Batujaya Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Gerabah India di situs Candi Batujaya Sumber: Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
Meskipun tidak ada arca Buddha di Candi Batujaya, semua bukti yang ada menunjukkan bahwa Batujaya adalah sebuah kompleks agama Buddha. Bangunan candi pertama mungkin mungkin dibangun paling lambat pada akhir abad ke-7, dan oleh karena itu, ada kemungkinan hubungan dengan perluasan awal agama Buddha di Sriwijaya pada tahun 680-an, Batujaya tampaknya telah aktif pada masa sebelum Kerajaan Sriwijaya.
Jika tahun 932 M dianggap sebagai awal mula Kerajaan Sunda, berdasarkan prasasti Rakyan Juru Pangambat (Prasasti Kebonkopi II atau Prasasti Pasir Muara), maka sekali lagi hubungan dengan Kerajaan Tarumanagara juga lemah, karena rekonstruksi candi-candi dan penggunaannya tidak dapat dipastikan lebih dari tahun 800 Masehi dan oleh karena itu, kita memiliki jeda waktu lebih dari satu abad untuk diperhitungkan.Prasasti Kebon Kopi II Sumber: Wikipedia
Batujaya Sebagai Geopark UNESCO?
Batujaya dapat dipromosikan sebagai Geopark oleh UNESCO. Menurut UNESCO, geopark adalah sebuah area yang memiliki elemen geologi yang luar biasa yang mencakup arkeologi, ekologi dan budaya di mana masyarakat setempat diundang untuk berpartisipasi dalam melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam.

Tujuan dari sebuah geopark adalah mengeksplorasi, mengembangkan, dan merayakan hubungan antara warisan geologi tersebut dengan semua aspek warisan alam, budaya, dan warisan takbenda di kawasan tersebut.
Geopark tidak hanya melindungi warisan geologi tetapi juga mengupayakan kesejahteraan masyarakat. Situs Batujaya memberikan manfaat ideologis, akademis, dan ekonomi. Pertama, kawasan ini merupakan bagian dari identitas nasional Indonesia.

Kedua, beberapa aspek belum dieksplorasi, seperti potensi geopark, yang seharusnya menonjol karena keberadaan candi. Kawasan ini memiliki potensi nilai arsitektur sebagai Candi Buddha, dan potensi nilai historisnya sebagai indikator pengaruh, dampak, dan perkembangan budaya Hindu-Buddha di kepulauan Indonesia.Candi Batujaya Sumber: https://www.genpi.co/berita/9346/candi-batujaya-situs-warisan-budaya-nasional-terbaru
Selain itu, kawasan Batujaya juga memiliki potensi yang signifikan untuk penelitian ilmiah, seni kreatif, pendidikan, rekreasi dan pariwisata, representasi simbolik, legitimasi tindakan, solidaritas sosial, dan integrasi. Dalam hal potensi ekonomi, situs ini dapat digunakan sebagai tujuan wisata dalam pengembangan yang dapat memberikan mata pencaharian bagi masyarakat sekitar.

Astuti dalam artikelnya mengusulkan pembentukan geopark Batujaya sebagai geopark lokal. Manfaat dari geopark lokal adalah bahwa nantinya pemerintah daerah akan menyusun data dasar mengenai geoheritage, keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman budaya di wilayah tersebut, untuk mencegah kehilangan lebih lanjut.

Utas oleh : @harrysofian – arkeolog
Referensi:
1. Djafar, Hasan. 2010. Kompleks percandian Batujaya; Rekonstruksi sejarah kebudayaan Daerah Pantai Utara Jawa Barat. École française d’Extrême-Orient, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, KITLV Jakarta. Kiblat Buku Utama. Bandung.
2. Manguin, Pierre-Yves, Agustijanto Indradjaja. 2015. The Batujaya Site: New Evidence of Early Indian Influence in West Java in Early Interactions between South and Southeast Asia. ISEAS–Yusof Ishak Institute. Singapura
3. Mansur, Mustafa. 2015. Situs Percandian Batujaya di Karawang Jawa Barat: Analisis Manajemen Sumber Daya Arkeologi. Jurnal Etnohistori, Vol. II, No. 2, Sept. 2015
4. Astuti, Erika Yuni., Pratomo Aji Krisnugrahanto, Leyna Ayushitarum. 2022. A Sustainable Approach to Endangered Heritage: The Batujaya Temples, Indonesia. The Historic Environment: Policy & Practice 2022, Vol. 13, No. 4, 509–525.
5. Saefulloh, Dede Irfan., Eka Noviana. 2023. Potensi Candi Batujaya Karawang Sebagai Objek Wisata Sejarah. E-Proceeding Institut Teknologi Nasional, Bandung.
6. Saringendyanti, Etty. 2008. Percandian Batujaya Dan Cibuaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Makalah Penelitian. Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Bandung.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Young Buddhist Association

Young Buddhist Association Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(