Diosetta Profile picture
Dec 11 15 tweets 20 min read Read on X
PURI JAGATSUKMA
Part 10 - Dosa

Ada zaman dimana batas antara manusia dan gaib belum tercipta...

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
SEBELUM ZAMAN

Sebelum manusia berkuasa di tanah Jawa,
Sebelum batas antara alam manusia dan makhluk gaib tercipta, Sebelum perjanjian pertama dengan penguasa gaib terjadi…

Dua manusia berjalan menembus hutan terdalam. Nafas mereka terengah, namun langkah mereka terus maju, seolah ada panggilan tak kasat mata yang menuntun mereka masuk ke wilayah terlarang itu.

“Aku tidak yakin kita harus meneruskan perjalanan ini, Kurna,” bisik salah satunya, Purwa, dengan suara bergetar.

“Aku juga merasakan hal yang sama, Purwa,” jawab Kurna lirih. “Tapi ada yang mendorong jantung ini… Sebuah kehendak yang memaksa kita untuk sampai ke sana. Kita harus mengetahui apa yang menunggu.”

Sudah lama mereka meninggalkan suku mereka, mengejar sebuah tempat yang hanya hadir dalam mimpi, tempat yang sebelumnya tak pernah mereka ketahui namanya, atau wujudnya. Namun panggilan itu terlalu kuat untuk diabaikan.

Dan akhirnya, mereka tiba.

Di tengah hutan berdiri sebuah pohon beringin raksasa, menjulang angkuh seperti penjaga. Dari dahan-dahannya tergantung kepala-kepala manusia… ada yang telah mengering, ada yang membusuk, dan ada pula yang masih meneteskan darah segar ke tanah.

Di bawahnya, sosok hitam setinggi tiga meter tengah bersila, bermeditasi dalam kekhusyukan yang mengerikan. Rambutnya panjang tak terurus menutupi sebagian wajahnya yang bengis. Tetesan darah dari kepala-kepala itu terus membasahi tubuhnya.

“I—ini… tempat apa?” Purwa terhuyung, seluruh tubuhnya gemetar.

Tanpa menjawab, Kurna mengambil tali hitam dari tas kulitnya. Ia melantunkan mantra kuno, lalu melilitkan tali itu pada tubuh mereka berdua.

“Dengan ini, mereka tidak akan merasakan keberadaan kita,” bisiknya tajam.

Saat mereka semakin mendekat, keduanya tersentak. Makhluk itu tidak sendiri.

Di sekelilingnya berdiri makhluk-makhluk hutan yang bentuknya tidak lagi menyerupai manusia, para setan penguasa belantara, siap memburu manusia kapan saja.

Namun yang lebih memuakkan…
Di antara mereka berdiri manusia-manusia sakti yang telah bersekutu dengan kegelapan. Mata mereka kosong, jiwa telah ditukar dengan kekuasaan.
Degup jantung Kurna dan Purwa semakin menggila. Tapi kini mereka memahami satu ha..
Inilah jawaban dari panggilan mimpi mereka.

Tanpa suara, mereka segera pergi, namun membawa semua kengerian itu dalam ingatan yang tak akan pernah terhapus.

Semakin jauh berjalan, semakin banyak tempat terkutuk yang mereka temukan.

Danau tempat manusia dan jin melampiaskan nafsu, Gunung yang masih menyimpan gema dari pertumpahan darah ribuan jiwa, Rawa yang penuh jeritan manusia yang disiksa roh-roh liar.

Seolah seluruh tanah Jawa dipenuhi kekuatan kelam yang menanti saat untuk menguasai segalanya.

“Tak peduli puluhan tahun… ratusan… bahkan ribuan tahun pun,” kata Purwa dengan mata membara, “aku akan menemukan cara menghentikan mereka.”

Kurna mengangguk tegas. “Harus ada tempat yang mereka takuti. Tempat yang mengikat mereka. Tempat yang menjadi belenggu bagi setiap makhluk yang hidup hanya untuk menyakiti.”

Maka mereka mulai mendatangi berbagai suku. Mereka menyebarkan kebenaran tentang keberadaan tempat-tempat terlaknat itu. Sebagian orang percaya. Mereka menyerahkan ilmu, pusaka, bahkan roh leluhur untuk memperkuat misi Kurna dan Purwa.
Seratus tahun berlalu...

Kurna dan Purwa mengumpulkan para raja muda yang mulai tumbuh kekuatannya. Mereka menunjukkan bukti tempat-tempat terkutuk itu dan memperingatkan bahwa ancaman tidak bisa lagi diacuhkan.

Pada saat itulah para raja memberikan kuasa penuh bagi mereka.

Untuk membangun sebuah puri. Bukan puri biasa, tapi neraka bagi para makhluk kegelapan. Tempat di mana kematian bukanlah akhir… melainkan awal dari siksaan tanpa batas.

Sebuah puri yang keberadaannya membuat para penguasa gaib gemetar…

Mereka menyebutnya Puri Jagatsukma. Simbol perlawanan manusia, dan penjara bagi segala kegelapan di tanah Jawa.

Tanah bergetar menyambut kedatangannya. Langit bergemuruh seolah merayakan kelahirannya.

Setiap makhluk yang mencoba menantang, entah itu manusia, roh, hingga siluman, akan terbelenggu di dalamnya dan dijadikan sumber kekuatan bagi puri itu.

Hanya dengan satu bukti dosa dan disebutkannya sebuah nama, Puri Jagatsukma mampu menghisap sosok itu ke dalam perutnya, di manapun makhluk itu berada, tanpa mampu melawan takdirnya.

Namun segalanya berubah ketika salah satu raja manusia mencapai kesempurnaan ilmunya. Ia merasa tak akan ada lagi kekuatan yang sanggup menandingi dirinya. Dan baginya, Puri Jagatsukma bukanlah pelindung… melainkan ancaman bagi kekuasaannya.

Sebelum melaksanakan niatnya menaklukkan kerajaan lainnya, Dengan siasat keji penuh pengkhianatan, ia menjebak Kurna dan Purwa, dua pendiri puri itu lalu menghabisi mereka tanpa belas kasih.

Namun sang raja lupa satu hal, Puri Jagatsukma menelan dosa. Pengkhianatan adalah dosa terbesar.

Saat napas terakhir Kurna dan Purwa terputus, hukum puri aktif dengan sendirinya. Kekuatan penghakiman itu bangkit… dan menarik sang raja ke dalam jeruji kelamnya.

Sang raja tidak tinggal diam. Di antara jeritan dan belenggu yang meremukkan jiwanya, ia melakukan ritual terakhir…

Ia menumbalkan seluruh rakyatnya sendiri. Satu kerajaan lenyap dalam sekejap. jiwa-jiwa menjadi bahan bakar terakhir bagi hawa kejinya.

Namun itu pun belum cukup untuk menyelamatkan dirinya. Dengan sisa kekuatan yang dimiliki, ia mengikatkan sebuah janji terlarang…

Siapa saja yang mampu menghancurkan Jantung Puri Jagatsukma, akan dikabulkan keinginan terdalamnya, dan sebagai imbalan… akan membebaskannya dari penjara abadi.

Kematian Kurna dan Purwa menjadi celah. Mulai saat itu, Puri Jagatsukma kehilangan fungsi penghakimannya.

Ia tak lagi menyeleksi dosa… melainkan hanya menjadi sangkar besar tempat segala kegelapan dibelenggu tanpa aturan.

Beberapa keturunan raja memiliki sisa-sisa kekuatan untuk mengaktifkan penghakiman Puri Jagatsukma, namun saat semuanya habis mereka memutuskan untuk menyegel puri Jagatsukma.

Mereka mempersiapkan segalanya dan mengorbankan banyak hal agar tak ada manusia yang mencoba untuk membebaskan makhluk-makhluk terkutuk yang sudah terkurung di sana.

Tidak boleh ada manusia yang mengetahui jalannya, apalagi membebaskan mereka yang telah terkutuk di dalamnya.

Namun… niat baik selalu memiliki musuhnya.
Selalu ada keserakahan yang haus kekuasaan. Selalu ada manusia yang tergiur oleh janji kekuatan tanpa batas. Selalu ada tangan yang mencoba mencabut segel… dan membangunkan apa yang seharusnya tidak pernah bangkit lagi.

***
Pundra menceritakan tentang asal-usul Puri Jagatsukma pada Danan dan yang lain. Mereka sadar bahwa Tanah Jawa tak serta merta menjadi tempat yang bisa ditinggali manusia dengan aman begitu saja.

“Berarti Puri Jagatsukma dibangun dengan tujuan yang benar?” Tanya Panji.

“Iya, hanya saja tempat ini menyimpan terlalu banyak kekuatan kelam. Tak ada yang bertahan lama ketika kedua sisi hitam dan putih tak berdampingan,” Balas Pundra.

Dug… Dug.. Dug…

Saat tengah mengikuti petunjuk Pundra, Jagad tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sebuah suara mengganggu pikirannya.

“Kenapa, Mas?” Tanya Danan.
Dirga menghampiri Jagad dan memastikan bahwa ia mendengar suara yang sama.

“Mas.. itu, suara lesung?” Dirga memastikan apa yang ia dengar.

“Sudah, tidak apa.. kita lanjutkan..” Jagad Memberi isyarat pada Cahyo untuk kembali memimpin jalan. Ia mengenali suara lesung itu, dan ia tahu bahwa ia tak bisa lari dari takdirnya.

“Berhenti!” Suara Pundra terdengar tiba-tiba. Ia kembali ke wujud aslinya dan memimpin jalan dengan hati-hati.

“GRRRR!!!”

Wanasura tiba-tiba menggeram. Jarang sekali Cahyo merasakan Wanasura merasa waspada seperti ini.
Pundra menoleh ke arah salah satu celah menuju sebuah jurang, di sana mereka melihat pemandangan mengerikan.

“Pertarungan?” Jagad mendengar suara teriakan dan raungan.

“Bukan..” Cahyo mengepalkan tangannya erat, “Pembantaian.”

Danan mengenali beberapa sosok yang berada di sana. Diantaranya adalah pendekar-pendekar yang lebih masuk lebih dulu darinya. Pendekar yang membunuh temannya sendiri yang gagal mendapatkgan Simbol Jagatsukma.

“Aku tahu, mereka tidak lemah, Jul..” ucap Danan.
“Benar, hanya saja makhluk itu terlalu kuat..”

Cahyo menyadari betapa mengerikannya makhluk yang mereka hadapi. Sosok kera hitam raksasa dengan luka di seluruh tubuhnya, ia tak kekar seperti wanasura. Melainkan tinggi jangkung dengan lengan yang panjang.

Makhluk itu menikmati serangan-serangan yang mengarah kepadanya sambil membantai satu-persatu makhluk yang berhadapan dengannya.

“Jadi makhluk itu juga berasal dari Alas Wanamarta?” Tanya Cahyo pada Wanasura.

“Hrrrr…” Wanasura mengiyakan. Ia memberi tanda bahwa betapa berbahayanya makhluk itu.
Pundra berpaling, ia menunjukkan jalur yang lebih sempit. “Belum waktunya kita menghadapinya,” ucapnya.

Danan dan Cahyo setuju, mereka pun meninggalkan tempat itu dengan berhati-hati. Suara-suara rintihan dari manusia yang dicabik-cabik oleh makhluk itu terdengar lirih.

Dan saat mereka yakin semakin jauh…

Deg! Perasaan bahaya menghinggapi Cahyo.
Seketika Wanasura merasuki tubuh Cahyo menyalurkan segala kekuatannya.

Tapi saat Cahyo menoleh menuju tanda bahaya itu, ia tak melihat siapapun.

“A—apa ini?” Cahyo bingung.

Danan dan yang lain tak merasakan hal yang sama, namun Pundra menghampiri Cahyo.

“Jadi begitu.. Garasmurda telah menyadari keberadaanmu,” Jelas Pundra. “Tenang saja, ia masih bersenang-senang dan tak ada niat mengincarmu.”
Cahyo menelan ludah.

Kera Garasmurda tak berbuat apapun, ia hanya merasakan kehadiran Cahyo dan Wanasura. Dan Itu saja sudah membuat Wanasura dan Cahyo terasa terancam.

“Cepat! Sebelum makhluk itu selesai dengan kesibukannya!” Perintah Danan.

Mereka mempercepat langkah, Firasat aneh menghantui mereka. Pundra yang sebelumnya menuntun dengan tegas mulai terlihat ragu.

“Puri ini bergerak..” Nyai Runtak merasakan perubahan di sekitarnya.

“Benar..” Kang Jawir melompat dari tempatnya berpijak dari satu batu ke batu lainnya. “Pijakan Kang Jawir teh tidak sama, tanah tempat kita berpijak bergerak..”

Srasshh!!Jagad tiba-tiba merasakan sesuatu.
“Semuanya berkumpul! Berpegangan!!”

Saat itu ujung dan celah jalur yang ada di sekitar mereka bergerak dan berubah. Tempat yang mereka tuju tak lagi sama. Tanah di sekitar mereka pun terpisah dan bergeser.

“Jangan sampai lepas!” Teriak Jagad. Ia membaca ajian lintas alam yang menciptakan kabut menyelimuti mereka.

Dengan ilmu Jagad pergerakan Puri itu tak memisahkan mereka, namun mereka harus mencari keseimbangan dari pijakan mereka yang mulai runtuh.
Dinding-dinding mulai berlubang, ruangan di sekitar mereka pun berubah.

Dug.. Dug… Dug… Suara lesung terdengar.

Suara mantra-mantra ritual terdengar di sisi lain bersama suara mayat-mayat hidup yang haus darah.
Kang Jawir menoleh dan mendapati sosok yang tidak asing sedang memandangnya dari kejauhan.

“Rupanya banyak yang sudah mati… hanya tersisa sedikit yang bertahan hingga Puri Jagatsukma sendirilah yang akan mempertemukan kalian!” Ucap Pundra.

“Jadi begitu..” Ucap Danan waspada.
Mereka terus berlari, menjauhi segala sosok yang mampu mengancam nyawa mereka. Tapi, beberapa sosok terus terlihat di sekitar mereka walau Puri Jagatsukma terus bergerak.

“Makhluk besar itu, dan sosok perempuan di pundaknya…” Nyai Runtak merasakan keberadaan itu.

“Mereka teh Nyai Putri dan Buto Lunggung,” Kang Jawir mengenalinya, walau ia melihat sosok lain yang memimpin dua makhluk mengerikan itu.

“Mereka sengaja mengikuti kita,” Ucap Nyai Runtak.
Kang Jawir berpikir sejenak sebelum akhirnya menghentikan langkahnya.


“Tokecang.. tokecang…”
“Kang Jawir! Ini bukan waktunya nyanyi!” Tegur Dirga.

“Balagendir tosblong..” Kang Jawir melepaskan tangannya dari yang lain.

“Kang Jawir!” Cahyo menghentikan langkahnya.

“Setan lancang, nurut urang.. sirahna kagolong..” (Setan lancang, mengikuti kita… kepalanya akan terpenggal..)

Jagad bergegas menarik tangan Kang Jawir kembali, namun ia menolak.

“Kang Jawir biar disini!” Ucapnya.

“Kang Jawir! Jangan bercanda!” Panji meyakinkan.

“Danan..” Nyai Runtak mencoba menyampaikan pada Danan yang masih berkepala dingin. “Mereka mengincar kita..”

Danan melihat kearah sosok Nyai Putri dan Buto Lunggung yang memang sedari tadi terus terlihat di sekitar mereka walau ruangan di sekitar mereka terus berubah.

“Biar Kang Jawir yang menghadapi mereka! Kalian pergilah!” Ucap Kang Jawir.

“Tidak bisa! Tak ada yang akan ditinggalkan!” Teriak Danan, namun Kang Jawir menghentakkan kaki ke tanah, dan sebuah retakkan menjalar memisahkan mereka.

“Kang! Mereka bukan lawan biasa!” Teriak Danan.
“Makannya kalian teh cepat pergi! Entah kami bisa mengalahkan mereka atau tidak, tapi setidaknya kalian punya waktu!” Ucap Kang Jawir.

“Tarik saja, Nan! Jangan biarkan Kang Jawir!” Cahyo tetap tak bersedia meninggalkan Kang Jawir, namun kali ini Danan berpikir dengan matang. Ia menahan Cahyo.

“Kang, Nyai! Kalian tak harus menang! Menang kalah dalam pertarungan ini tak ada artinya! Yang terpenting kalian tetap hidup! Kalian harus menjanjikan itu!” Ucap Danan.

Kak Jawir tak menoleh. Ia berjalan dengan langkah ringannya sambil mengangkat tangannya dan dua jarinya. “Janji!” Teriaknya.

Danan pun mengangguk dan melanjutkan pernjalanannya. Mereka terus berlari sementara ruangan, bangunan, bebatuan di sekitar mereka terus berubah arah.

Puri Jagatsukma tak memberi celah pada mereka untuk berjalan dengan tenang menuju Jantungnya.

“Pundra! Apa tak ada cara menghentikan pergerakan puri ini?” Tanya Danan.

“Puri ini memiliki kehendaknya sendiri, kalaupun ada yang bisa menghentikannya, hanya pusaka purba yang sudah hilang begitu lama,” Ucap Pundra.

“Pusaka apa? Apa ada di dalam Puri ini?” Tanya Cahyo.

“Tidak, pusaka itu adalah kesadaran sejati dari Puri Jagatsukma. Pusaka itu meninggalkan puri ketika kedua pendiri Puri ini mati..”Jelas Pundra.

“Kalau begitu tidak ada harapan.. Kita hanya harus bertarung dengan keadaan seperti ini,” Ucap Dirga.

Krakk!! Krakk!!

Alam di sekitar mereka seperti terbagi, bebatuan beterbangan, roh-roh saling bertabrakan. Dan mereka yang terkuatlah yang masih bertahan untuk saling menghancurkan.

“Tolong..” Suara tangis seorang anak kecil terdengar.
Danan segera menyadari suara itu dan mendapati anak perempuan sedang ketakutan di salah satu kamar dengan banyak peti mati.

“Anak kecil?!” Danan memberi Isyarat.

Panji melihat hal yang sama. Sosok anak kecil yang ketakutan yang tak sadar bahwa ada dua sosok roh mengerikan yang bersiap memangsanya.

Panji bergegas menghampiri anak kecil itu dengan menggenggam tombaknya, tapi belum sempat ia bergerak lebih jauh. Jagad mendengar suara yang membuatnya merasakan perasaan aneh.

Dug…Suara lesung terdengar.

Jagad buru-buru menarik Panji dan melemparkannya ke belakang.

“Mas?! Apa-apaan?!” Teriak Panji.

Dirga melihat anak perempuan itu dan menyadari maksud Jagad.

Sayangnya sosok anak perempuan itu sudah bergerak. Ia menganga dengan mulut yang lebar dan sosok roh ular raksasa melesat dari mulutnya mengincar Panji.

“Sial!” Panji bersiap menahan serangan itu, namun ular itu terlalu besar dan Panji hanya akan ditelannya bulat-bulat.

Namun sebelum itu terjadi, tabir kabut muncul dari ajian mas jagad. Ular itu menembus ke arah lain saat melintasi kabut Jagad.

“Danan! Pergi! Dia Putri Lindri! Lawanku!” perintah Jagad.

“Mas?!” Danan tak menyangka apa yang dilakukan Kang Jawir dilakukan juga oleh Jagad.
“Tenang, Mas Danan! Mas Jagad tak sendiri!” Ucap Dirga yang tiba-tiba sudah berada di sisi Jagad. Ia melesat tepat sebelum kabut itu memisahkan mereka.

“Hihihihi!” Putri Lindri tertawa. Kedua sosok di belakangnya menunjukkan wujudnya. Sosok perempuan dengan dua wajah, dan sosok nenek dengan dua tubuh.

“Syarat sudah terpenuhi, sekarang ilmu keramat ini bisa diperebutkan,” Senyum Putri Lindri.

Wujud itu sama sekali tak mengerikan, seperti anak perempuan polos tanpa dosa, namun Jagad dan Dirga sangat sadar bahwa di dalamnya adalah roh terkutuk yang membawa bencana.

“Urusan puluhan tahun lalu, kita selesaikan di sini!” Ucap Jagad.

Saat melihat sosok itu Dirga sadar, Keris Dasasukma tak cukup untuk menghadapi mereka. Ia membuka Serat Darmawijaya, benda yang sempat memberi peluang untuk mengalahkan mereka.

“Danan, kita tak bisa berbuat apa-apa disini,” ucap Cahyo.

“Hanya tersisa kita bertiga,” ucap Panji.

“Kalau begitu kita tidak boleh membiarkan pengorbanan mereka sia-sia,” ucap Danan. “Pundra! Kita pergi!”

Pundra menerima niat mereka dan memimpin ke jalur yang perlahan mulai tenang. Pertarungan terjadi di berbagai tempat, namun sisi terkelam sudah menciptakan nerakanya sendiri.

Mereka pun tiba di jurang dengan kubangan darah, tempat dimana Ki Weru dan Jolangpati melakukan ritual.

Jantung Danan berdegup kencang, sesuatu yang terikat dengan dirinya terasa disana.

“Aku merasa aneh, ada sesuatu yang terasa begitu dekat, tapi menyakitkan,” ucap Danan.

Cahyo menepuk bahu Danan. Panji membuka jalan.
“Apapun itu, kita hadapi bersama..”

***
“Ternyata mereka sudah sampai di sini…” gumam Danan cemas melihat sesepuh keluarga Sasena dan sekumpulan mayat hidup berkerumun di depan mereka.

“Mas… mayat-mayat itu aneh. Tidak seperti saat di Alas Kedaton,” Panji memperhatikan dengan seksama.

Di hadapan mereka, mayat-mayat hidup itu bergerak lincah. Aliran darah hitam tampak mengalir di tubuhnya, bahkan sebagian mengeluarkan api pekat dari dalam tubuh seperti bara neraka.

BRUAAKK!!

Sebuah benda jatuh tepat di depan Danan menggelinding dengan basah dan berat.

“Ke—kepala?” Panji melangkah mundur, wajahnya pucat.

Yang terjatuh bukan kepala manusia. Ukurannya hampir setengah tubuh mereka. Kepala makhluk yang jelas telah hidup ratusan tahun dalam puri terkutuk ini.

“Danan! Mundur!” Cahyo menariknya. “Yang mampu membunuh makhluk ini… bukan makhluk biasa!”
Danan mengangguk. Ia menyadari hal yang sama.

Benar saja, dua sosok lain mendarat keras di hadapan mereka, sosok mayat hidup dengan wujud lebih mengerikan, namun dengan gerakan secepat pendekar di masa jayanya.

“Mereka… mayat keluarga Sasena!” Panji langsung menghadang dengan Tombak Lembu Warok. Meski begitu, dorongan serangan kedua makhluk itu membuatnya terpental mundur.

Cahyo menyusul, mendaratkan pukulan dengan kekuatan Wanasura, namun makhluk itu menghindar begitu gesit dan membalas dengan serangan terarah.

“Tidak mungkin! Mereka bisa bertarung layaknya manusia hidup!” seru Panji terkejut.

“Mereka mengingat ilmu bela diri mereka saat masih hidup…” ujar Danan memperingatkan.

Cahyo menajamkan mata. Api hitam itu semakin berkobar dari tubuh mayat-mayat itu. “Mereka bahkan lebih kuat dari sebelumnya...”
Mereka bertiga segera bersiap. Tak ada lagi alasan menahan kekuatan.

“Aku tak percaya ilmu bela diriku tak mampu mengimbangi mayat-mayat ini!” Ucap Panji yang berinisiatif menghadang kedua mayat itu.

Ia melontarkan Tombak Lembu Warok. Danan mengangkat Keris Ragasukma yang kini menyala dengan kilatan jagat.

“Carikan aku celah, Panji!” Cahyo bersiap memusatkan energi di kepalannya.

Danan memperhatikan kerisnya dan terus mengulang mantranya. “Belum cukup…” gumamnya merasakan pusaka itu bergetar di tangannya.

Pertarungan sengit terjadi. Panji sendirian menahan dua mayat petarung yang bergerak cepat, namun gerakannya tetap mampu mengimbangi.

“Makhluk tanpa indra tidak akan mengalahkanku!” Panji menggeram, tombaknya melesat dan kembali seperti sahabat bertempur bersamanya.

Ketika percikan Keris Ragasukma menyala lebih terang dan suara Wanasura bergema, Panji melompat mundur.

“Sekarang!” teriak Danan.

Dalam satu serangan bersamaan, Keris Ragasukma menebas leher salah satu makhluk bagaikan kilat, sementara kepalan Cahyo menghancurkan kepala makhluk lainnya.

Darah hitam muncrat liar. Sisa tubuh mereka masih berusaha bangkit, namun Panji menebas kaki mereka hingga lumpuh.

“Bahkan tanpa kepala… mereka masih bergerak,” Panji menghela napas.

“Tapi setidaknya tak lagi bisa mengejar,” tambah Danan.

Cahyo menatap ke bawah jurang yang diselimuti asap pekat dan kabut merah darah.

“Sial… jumlah mereka jauh lebih banyak dari yang kita kira. Pertarungan apa yang terjadi di bawah sana? Apa yang mereka perebutkan?”

“Kita cari tahu,” Danan menggenggam Keris Ragasukma. Suaranya mantap, meski matanya menyimpan kecemasan. Ia melangkah turun memimpin.

Di dasar jurang, neraka seolah tengah membuka pintunya.

Seekor ular raksasa melayang mengitari lautan mayat, mulutnya merenggut satu demi satu tubuh yang bergerak.

Namun, tak lama kemudian, sesosok mayat raksasa bangkit—matanya merah menyala, tangannya sebesar pohon kelapa, langsung mencengkeram tubuh ular itu dan membantingnya ke kubangan darah.

Dua makhluk tersebut saling menerkam, bertarung seperti dua dewa kematian yang berebut takhta.

Di antara kawanan itu, para pemimpin mereka saling beradu ilmu: pusaka bertemu mantra, api bertemu darah.

“Balung Geni… Tulang Api!”
Suara Pundra bergetar. “Mereka memperebutkan Tulang Api!!”

“Tulang apa itu?” Cahyo menoleh, napasnya memburu. “Kenapa mereka rela membantai satu sama lain demi benda itu?”

Pundra menampakkan wujudnya dengan lebih jelas. Matanya menatap jauh ke balik pertempuran seperti melihat masa lalu yang menghantui.

“Beberapa tahun lalu… sebelum puri ini terbangun kembali, ada sekumpulan manusia yang masuk dengan cara terlarang. Mereka membawa sepasang manusia berdarah terpilih ke sini—dijebak untuk dijadikan persembahan…”

“Untuk apa?” Danan menahan napas. Ada sesuatu dari cerita itu yang membuat dadanya nyeri, seolah tubuhnya mengenal kebenaran sebelum pikirannya sempat memahaminya.

“Untuk menukar kebangkitan roh leluhur yang tersegel di tempat ini.”

Nada suara Pundra mengeras. “Namun pasangan itu selamat… dengan harga mengerikan.”

Cahyo memicingkan mata. “Harga seperti apa?”
Pundra menatap mereka satu per satu sebelum berbisik:

“Mereka mengorbankan dua janin kembar yang dikandung perempuan itu.”
Seketika mereka hening. Suara disekitar mereka seakan berhenti barang sekejap.

“Roh leluhur itu bebas… Dan sebagai gantinya, sepasang janin itu… kini berdiam di puri ini, menjadi kekuatan yang diperebutkan.”

Danan merasakan dadanya seolah diremas. Napasnya terputus. Sementara Cahyo memegangi jantung seakan ada bara panas menusuk dari dalam.

“Nan… kamu juga merasakannya?” Cahyo nyaris berbisik.

“Ya…” Danan menggertakkan gigi. “Tapi entah… apa artinya.”

Panji meletakkan tangannya di bahu Danan, memberi kekuatan tanpa kata. “Apa pun itu… jawabannya pasti kita temukan disini, Mas.”

Mereka semakin dekat. Suara pertarungan kini seperti berada tepat di belakang telinga. Mayat-mayat itu menyatu dengan darah, gerakan mereka seperti dihidupkan oleh kubangan neraka itu sendiri.

Ketiganya bersembunyi di balik celah batu yang menyatu dengan reruntuhan candi. Dari sana, mereka dapat melihat jelas..

“Itu Jolangpati!” Cahyo meludah penuh benci, mengenali musuh lamanya.

“Dan di sana… Ki Weru, serta Kanjeng Sukmoayu,” Panji menunjuk dua sosok yang berdiri di antara badai darah, memimpin para mayat hidup seperti raja dan ratunya.

“Kita harus menemukan cara menembus pertahanan ini…” Danan mengamati dari celah sempit.

Namun Pundra tetap duduk di belakang, bersedekap, dingin.

“Kalian… terlalu lemah untuk menghadapi mereka.”

Cahyo mendelik. “Maksudmu apa lagi sekarang?”
Pundra mengarahkan tangannya ke dua sisi pertempuran.

Sosok dukun tua yang melayang, sebagian tubuhnya terbakar api merah darah, dan Sosok Kanjeng Sukmoayu, memancarkan api hitam pekat dari seluruh tubuhnya.

“Jasad Gaib… dan Balung Geni…” Pundra menyebut keduanya bagai kutukan. “Dua kekuatan itu masing-masing menguasai satu dari jasad janin kembar tersebut.”

Danan mendesah berat. “Jadi… jasad gaib itulah yang memperkuat Kanjeng Sukmoayu?”

“Bukan hanya dia.” Pundra menatap seluruh arena pertempuran. “Seluruh mayat hidup di sini mendapat daya dari tulang-tulang terkutuk itu.”

Setetes darah menetes dari mata Pundra, entah air mata atau sisa kutukan.

“Pertarungan dua kekuatan sebesar ini…” ia bergumam, “…bisa berlangsung seratus hari tanpa henti.”

Danan dan Cahyo saling menatap—nalar mereka terpukul kenyataan.

“Mereka tidak bisa menunggu…” batin mereka serempak.

Jagad, Kang Jawir, Nyawa mereka berpacu dengan waktu di jantung Jagatsukma. Jika Danan dan Cahyo gagal sampai tepat waktu…
Mereka mati.

“Sial…” Danan memandang para makhluk besar itu bertarung. Pendekar abadi, Jasad yang terus bangkit, Api hitam melawan api neraka.

Musuh mereka bukan lagi sesuatu yang wajar di alam manusia.

“Pundra…” Cahyo bersuara lirih tapi tegas. “Tidak ada cara lain?”

Pundra menutup mata. Duduk bersila. Seolah mengunci dirinya dari kenyataan.

Ia menggeleng pelan. “Tidak ada cara… yang akan membuat kalian tetap hidup jika melawan mereka.”

***
DOSA

Seperti ucapan Pundra sejak awal, pertarungan itu tak mudah menemukan pemenang.

Dua kekuatan besar itu saling menghancurkan, namun tak ada yang mampu menaklukkan lawan. Danan memutar otak, mencari celah, memikirkan ratusancara…

…dan tak satu pun memberi harapan.
“Pundra! Kita harus cari jalur lain!” seru Danan akhirnya.

Namun Pundra tak menjawab. Ia masih semedi, tubuhnya kaku, kesadarannya seolah tertarik ke dunia lain.

Cahyo menepuk pundak Danan pelan. “Tenang, Nan… Pundra pasti sedang mencarikan jalan untuk kita.”

“Bodoh.” Pundra akhirnya membuka mata, wajahnya dingin. “Kenapa aku harus repot-repot mencarikan cara untuk kalian?”

Kata-katanya tajam, namun tangannya tak berhenti menyusun simpul tangan. Bibirnya terus melafalkan mantra samar. Ia jelas sedang berusaha meskipun suaranya menolak untuk mengakuinya.

Hingga.. BRAKK!

Tubuh Pundra terhempas. Wajahnya pucat seperti mayat baru bangkit.

“Pundra?!” Panji langsung menopangnya.

Danan menekan kedua telapak tangannya ke punggung Pundra, menyalurkan kekuatan batinnya. Ia tahu, setiap detik semedi itu menguras Pundra hingga ke tulang.

“Sedikit lagi… Bantu Aku” bisik Pundra lirih, memaksa tubuhnya kembali duduk tegak.

“Baiklah.” Danan mengangguk, kembali mengalirkan kekuatan tanpa ragu.

Meski ia tahu: Pundra sedang menyedot sebagian besar energi batinnya.

Sementara itu, Cahyo memanggil Wanasura dari dalam sukma. “Wanasura… Apa kau merasakan sesuatu?”

Namun sosok kera perkasa itu hanya memperlihatkan rasa gelisah naluri terancam, bukan petunjuk.

BRRUUGH!

Pundra jatuh lagi, lebih keras. Danan kembali menolongnya. Kali ini, Pundra terengah… tapi ia tersenyum.

“Aku menemukannya!”

“Tenangkan dirimu dulu,” pinta Danan, cemas melihat tubuhnya bergetar. “Pulihkan dulu kekuatanmu.”

“Aku tahu jalan menuju Jantung Puri Jagatsukma.”

Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan..

“Tapi… gerbangnya terlalu kuat. Untuk menghancurkannya, dibutuhkan kekuatan terbesar yang dimiliki tempat ini.”

Danan, Cahyo, Panji saling berpandangan.
Nama-nama pusaka dan kekuatan besar memenuhi benak mereka… Wanasura, Keris Ragasukma.
Tombak Lembu Warok.

Tapi Pundra menggeleng… tegas.
“Itu masih jauh dari cukup.”
Darah Danan berdesir.

“Kalian harus merebut Balung Geni… dan Jasad Janin Gaib itu.” Pundra menunduk, suaranya seperti mantra kutukan. “Dan bahkan itu… belum cukup.”

Panji membeku. “Kita harus bertarung melawan dua kubu itu? Dan merebut tubuh janin kembar itu? Dan itu pun… belum cukup?!”

Kebingungan, rasa takut, dan keputusasaan mulai menggumpal. Mereka tertegun sesaat.
Tapi di tengah kebingunan mereka, tiba-tiba muncul beberapa kobaran api kecil yang melayang mendekat. Samar-samar terdengar suara pertarungan dari api-api itu.

“Pundra, Kalau Kang Jawir teh bisa mendapatkan Sukma Samudra, apa itu akan membantu kalian?” Tiba-tiba suara Kang Jawir yang tengah bertarung terdengar dari salah satu api itu.

“Kang Jawir?!” Danan bersyukur mendengar suara itu.

“Sukma Samudra?” Pundra merenung sejenak. “Bisa! Jadi pertarungan kalian memperebutkan Sukma Samudra?" Tanya Pundra.

"Benar, sayangnya.. ini teh nggak akan gampang!” Balas Kang Jawir dengan nafas tersengal-sengal.

“Kang! Jangan nekad! Utamakan nyawa kalian!” Ucap Danan cemas. Ia sangat tahu bahwa Makhluk yang mengincar Kang Jawir bukan lawan yang mudah.

Bruakk!! Terdengar suara serangan yang menghantam dengan keras.

“Tenang saja, Danan! Kubantu Jawir melawan makhluk-makhluk sialan ini!" Tiba-tiba terdengar suara Nyai Jambrong dari tempat yang sama dengan Kang Jawir.

“Nyai? Itu suara Nyai Jambrong? Bagaimana dia bisa selamat?” Cahyo tak mampu menahan senyumnya.

Belum sempat mendapat jawaban, satu api lagi mendekat dan kali ini suara keris yang beradu terdengar.

“Nyai Putri mengincar Aji Dahda Pati dari pertarungan ini, apa itu juga akan berguna untuk kalian?” Kali ini suara Jagad terdengar.

“Mas Jagad? Jangan macam-macam! Nyai Lindri bukan lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah!” Teriak Cahyo.

“Tenang saja, Mas Cahyo! Bantuan kuat sudah datang!” Sekali lagi Danan mengenal suara itu, Kali ini terdengar suara Guntur di dekat Jagad.

“Guntur? Bagaimana kalian?” Cahyo bingung.

“Mas Danan tenang saja! Bantuan yang sangat bisa diandalkan sudah tiba, mungkin sebentar lagi ia sampai ke tempat kalian.

Jangan khawatirkan kami! Kami akan membawa benda-benda itu pada kalian!” Ucap Dirga dari api yang sama dengan suara Jagad.

Danan dan Cahyo bingung dengan apa yang terjadi. Ia tak mengerti bagai mana Nyai Jambrong yang sudah sekarat bisa kembali bertarung bersama Kang Jawir.

“Tidak mungkin.. tidak ada yang bisa memulihkan luka separah itu selain…” Cahyo mencoba menebak, namun sebelum ia berkata terlihat tiga manusia menuruni jurang.

SRAKKKK!!!

Api-api kecil yang mendatangi mereka tadi bergerak menuju orang-orang itu. Sosok pemilik ilmu yang menghubungkan mereka semua.

“Panjul! Itu!!” Danan tersenyum.

Panji bersemangat saat melihat mereka.

“Bapak!” Panji mendapati Mbah Widjan, ayahnya tiba di sana.

Di belakangnya, Mbah Praja menyusul bersama api-api kecil yang kembali mengelilingi tubuhnya. Rupanya, api yang menghubungkan mereka adalah ilmu yang dimiliki Mbah Praja.

“Kenapa Bapak bisa ada di sini?” Tanya Panji.

“Bapak cuma mengantar, memastikan mereka selamat memasuki puri ini,” Jelas Mbah Widjan. Panji pun melihat simbol jagatsukma di tangan Mbah Widjan, ia yakin Mbah Praja lah yang memberi simbol itu seperti yang ia dapatkan.

“Sudah kuduga, Mbah Praja menanti seseorang untuk masuk ke tempat ini,” ucap Danan.
Cahyo dan danan segera berlari menghampiri seorang lainnya yang menyusul dari belakang. Seseorang yang sangat mereka nantikan.

“Paklek!” Teriak Cahyo.

Paklek menyambut Danan dan Cahyo dengan senyuman saat mengetahui mereka berdua baik-baik saja, namun Danan dan Cahyo merasakan ada yang berbeda dari raut wajah Paklek.

“Apa Mbah Praja nyuruh Paklek bawa potongan tangan juga buat bisa masuk sini?” Cahyo mencoba bercanda, memecah suasana seperti biasanya.

Namun Mbah Praja hanya menggeleng pelan.
Paklek mengangkat tangan kanannya. Di sana,simbol Jagatsukma terpahat jelas di kulitnya.

“Simbol ini…”
Paklek berbisik lirih,
“…muncul dengan sendirinya.”

Danan sadar… Pundra tidak ikut bergabung bersama mereka.

Ia berdiri beberapa langkah jauhnya, wajah menegang seperti wilah keris yang baru ditempa.

“Pundra? Ada apa?” Danan memanggil hati-hati.
Namun Pundra hanya menatap Paklek tanpa berkedip. Sorot matanya bukan lagi ragu… melainkan amarah yang ditahan selama bertahun-tahun.

Cahyo mencoba mendekat, “Pundra, mereka ini keluarga kami. Teman kami. Mereka datang untuk—”
Mata Pundra berkaca-kaca, membalas Cahyo tanpa memalingkan wajahnya dari Paklek berada jauh di depannya.

“Kau tahu apa arti simbol Jagatsukma?”
Suara Pundra menggema seperti petiryang tertahan di dada.

“Simbol itu bukan tanda pilihan…” Ia menggeram pelan. “…melainkan tanda dosa.”

Cahyo terdiam. “M—maksudmu?”
Pundra menatap Paklek dengan pandangan yang menusuk hingga tulang.

“Pria itu…”

Tangannya terangkat, menunjuk Paklek dengan gemetar penuh kebencian yang sulit dibendung.

“Dia adalah salah satu dari pasangan yang kuceritakan!” Suaranya pecah. “Ayah dari dua janin yang sekarang diperebutkan di kubangan darah ini!”
Seluruh dunia seakan berhenti. Tidak ada suara selain detak jantung yang saling bersahutan.

Danan dan Cahyo melihat Paklek. Mereka menunggu…

berharap… Paklek akan menyangkalnya.
Namun Paklek hanya menunduk. Bahunya bergetar. Ia tak bisa… tak sanggup membela dirinya sendiri.

Pundra menatapnya dengan air mata yang muncul karena amarah. Danan merasa bahwa Pundra ada di saat itu, saat dimana kedua jasad janin itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya.

“DIALAH MANUSIA PENDOSA YANG MEMBUNUH ANAK-ANAKNYA!!”

Suaranya pecah menghantam udara, suara yang membuat yang lainnya hening..

“Dia yang mengorbankan dua darah dagingnya demi menyelamatkan nyawanya sendiri!!!”

***
(Bersambung Part 11)
Terima kasih sudah membaca Part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.

Buat temen-temen yang mau baca part 11 nya duluan bisa mampir ke @karyakarsa_id ya :

karyakarsa.com/diosetta69/pur…
Buat temen-temen yang mau baca komik Rel Pengantin, e-booknya bisa di download di sini ya..
Fisiknya juga bisa diorder di shopee..

lynk.id/diosetta/gzn36…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Diosetta

Diosetta Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @diosetta

Dec 4
PURI JAGATSUKMA
Part 9 - Alam Tanpa Batas

Setiap wilayah di Puri Jagatsukma memiliki penguasanya sendiri. Sosok yang takkan membiarkan siapapun lolos dari cengkeramannya..

@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor
#bacahorror Image
“Kenapa?” Wajah Panji terlihat panik. “Kenapa Dirga dan Guntur? Ki Gutayar bukan lawan yang bisa mereka kalahkan!”

Cahyo mengepalkan tangannya, Ia pun merasa seharusnya dirinya atau Danan yang menolong Nyai Jambrong.

”Pundra? Apa kau bisa memindahkanku juga?” Teriak Danan.

Pundra mendekat ke pertarungan dengan sebagian tubuhnya berubah menjadi asap hitam.

”Di Puri ini setiap penguasa memiliki wilayah kekuasaannya sendiri, saat ini aku tak sekuat saat berada di wilayahku. Sedangkan dia…” Pundra menunjuk pada sosok patung setan bertaring yang begitu besar di tengah ruangan itu.

”Ini adalah wilayahnya, tempat terkuatnya..”
Cahyo memperhatikan sosok patung setan yang membawa berbagai pusaka itu di tangannya yang banyak. “Berarti pelataran ini adalah wilayah kekuasaan patung itu?”

”Benar..”

Cahyo mendekat ke sisi pertarungan. Lebih dekat. Ia pun hanya duduk dan melipat kedua tangannya sambil memperhatikan pertarungan itu.

”Mas Danan, harusnya ada yang bisa kita lakukan, kan?” Tanya Panji,

Danan hanya menoleh ke arah Cahyo. “Untuk saat ini kita hanya bisa percaya pada Guntur dan Dirga.

***
Read 14 tweets
Nov 27
PURI JAGATSUKMA
Part 8 - Danyang Purwakala

Dan mereka pun menampakkan dirinya, para Danyang yang terbuang dan menguasai Puri terkutuk itu..

#Bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
MAKHLUK DARI MASA LALU

Danan, Cahyo, dan Panji berdiri berhadapan dengan sosok mengerikan yang kini mengincar Jagad dan Dirga. Udara di dalam puri begitu padat, seolah setiap napas membawa aroma besi dan darah.

“Wanasura!” teriak Cahyo. Jantung makhluk itu berdentum, terdengar jelas di antara dinding batu puri Jagatsukma yang bergetar pelan.

Cahyo memejamkan mata. Kekuatan Wanasura merasuk ke tubuhnya. Dalam sekejap ia melesat, meninggalkan bayangan, dan tiba tepat di belakang roh perempuan itu. Sebuah tendangan maut siap menghantam.

Namun makhluk itu malah tersenyum.
Tatapannya dingin. Terlalu tenang.

“Cahyo!” teriak Danan, tapi terlambat.
Cahyo spontan menarik diri, mundur dua langkah. Dan hanya sedetik kemudian, dari langit-langit puri, duri hitam raksasa menghantam posisi tempatnya berdiri tadi.

SRAAAT!

Suara retakan dan debu beterbangan.

“Grrrhhh…” Wanasura di dalam diri Cahyo meraung marah, tapi Cahyo merasakan sesuatu yang aneh. Naluri Wanasura gemetar… seolah ia tahu mereka sedang menghadapi kekuatan yang jauh lebih tinggi darinya.

“Panji!” seru Danan memberi isyarat.
Keris Ragasukma langsung melayang dari genggamannya, berputar di udara dan menukik ke arah roh itu.

Makhluk itu menghindar dengan mudah, namun dari sisi lain, Tombak Lembu Warok yang dikuasai Panji sudah menanti, terbakar api ajian merah menyala.

JLEBBB!!

Tombak itu menembus tubuh sang roh, menghantam dinding puri hingga batu-batu raksasa runtuh.
BRRAKK!! “Berhasil?!” Danan menatap penuh harap. Ia menjemput kembali kerisnya.

“DANAN! JANGAN LENGAH!” Jagad berteriak.
Terlambat. Tawa menggema memenuhi ruangan.

“HAHAHAHAHA!!!”

Roh perempuan itu bangkit perlahan. Tubuhnya tertembus, namun tombak itu bergetar hebat lalu terlepas begitu saja, jatuh ke lantai. Luka di dadanya menutup dalam sekejap, seperti tak pernah ada.

“Aku suka kalian…” suaranya melengking tinggi. “Hahahaha!”

Danan menatap Panji. “Kita tak bisa menahan ini lebih lama. Siapkan semuanya!”

Mereka berkumpul. Jagad menyiapkan ajian Watugeninya, Cahyo memusatkan tenaga bersama Wanasura, Danan menggenggam Keris Ragasukma, Panji mengangkat tombaknya lagi, dan Dirga menyiapkan Keris Dasasukma yang bergetar di udara.

Tapi belum sempat mereka menyerang…
“AAARRRGHHH!!!” Panji berteriak keras.

Tubuhnya melengkung, darah keluar dari hidung dan telinganya. Danan menoleh, namun tiba-tiba matanya juga terbakar panas di sisi kiri.

“Arrghh!! Apa ini?!” Ia mencoba membacakan ajian pemulih, tapi tak berguna.

BRUUGHH!!

Mereka berlima jatuh bersamaan.

Tanah di bawah kaki mereka bergetar. Aura hitam menelan cahaya. Dan saat mereka mendongak, roh itu sudah berubah.

Tubuhnya kini hitam legam, mengerikan. Rambutnya panjang menjuntai seperti asap, di tubuhnya tergantung ratusan perhiasan dan pusaka kuno yang berputar mengelilinginya. Dari matanya menyala api keemasan.

“Aku…” suaranya menggema berat.

“…Dewi Mretya. Penguasa jagat malam. Penghisap napas dari segala makhluk yang berani menantangku.”
Read 16 tweets
Nov 20
PURI JAGATSUKMA
Part 7 - Satria Pinilih

Mereka telah tiba di sana. Di hadapan sebuah puri keramat dimana kekuatan gelap tertidur menanti siapa yang berhak menjadi tuannya...

#Bacahorror
@bacahorror @ceritaht @IDN_Horor Image
PURI JAGATSUKMA
Danan berdiri terpaku di atas bukit kecil di ujung Alas Kedaton. Nafasnya tertahan.

Di bawah sana, di tengah hutan tua yang seharusnya tak mungkin dihuni makhluk bernyawa, terlihat puri raksasa yang hampir sepenuhnya tertutup tanaman merambat. Seolah puri itu sudah lama dikubur waktu, tapi masih bernafas.

Hanya cahaya bulan purnama yang mengungkap bentuknya, dinding puri itu seakan terbuat dari batu yang jauh lebih tua dari sejarah Majapahit sendiri.

Dan dari dalamnya… muncul suara-suara yang tidak wajar. Teriakan.. Rintihan… Tawa yang terlalu panjang, terlalu patah, hingga terdengar seperti seseorang yang tertawa dalam kematian.

“Puri itu hanya akan menjadi kuburan kalian,” ucap Nyai Kunti.

“Apa maksud Nyai?” Tanya Linggar.

Tapi raut wajah Nyai Kunti berubah marah, ia tetap tak mampu menahan emosinya saat melihat wajah Linggar yang membawa darah sasena. Ia pun kembali menghilang dalam kegelapan..

“Nyai…” Guman Linggar.

Linus merangkul Linggar dan berusaha menenangkannya dari kebingungan yang ia alami.

“Aku… gak pernah tahu ada istana sebesar ini di tanah Jawa,” bisik Danan, suaranya hampir hilang ditelan udara dingin.

Cahyo maju pelan, berdiri di sampingnya.
“Justru…” bisik Cahyo tanpa menoleh. “Istana ini memang seharusnya gak pernah ada, Nan.”

Di saat mereka belum selesai menenangkan kebingungan itu, cahaya-cahaya kecil mulai muncul dari ranting-ranting hutan di bawah. Sejumlah obor bergerak dalam barisan panjang. Suara kidung aneh terdengar, semakin lama semakin jelas, sampai akhirnya arak-arakan yang menggotong sebuah keranda bambu itu terlihat.

“Mereka siapa…?” Panji hampir tidak percaya matanya. “Apa ada desa di sini…?”
Tidak ada yang menjawab.

Karena semakin dekat, semakin jelas bahwa rombongan itu bukan rombongan manusia biasa.

Mereka menari. Menggerak-gerakkan obor seperti sedang menyusun mantra. Suara kidung mereka tak memiliki tangga nada yang pernah didengar telinga manusia. Terasa begitu mengganggu saat terdengar.

Dan tubuh yang dibawa dalam keranda bambu itu… bukan mayat. Itu manusia hidup.

Tubuhnya penuh luka robek, kulitnya menghitam seperti direndam lumpur pekat. Kain yang dipakainya terbuat dari lembaran kulit dan potongan organ binatang.. kuku, tanduk, tulang kaki hewan, semua dirangkaikan di tubuhnya seperti ornamen upacara penyembelihan.
Read 16 tweets
Nov 13
PURI JAGATSUKMA
Part 6 - Alas Kedaton

Pusaka pisau batu Linus ditemukan membuka celah Pagar Sembagi Wana. Kekacauan itu membawa mereka memasuki hutan yang menjadi pelataran Puri Jagatsukma... Alas Kedaton.

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kemewahan untuk beristirahat.

Begitu keadaan desa sedikit terkendali, Panji segera membawa Danan, Cahyo, Rengga, dan Mbah Warsono menuju perbatasan hutan dalam, tempat di mana Mbah Widjan terakhir kali menutup diri bersama murid-muridnya.

Cahyo menatap kabut gaib yang berdiri seperti dinding tak kasatmata.

“Kalau hutan ini sudah disegel pakai Pagar Sembagi Wana… kenapa mayat-mayat hidup masih bisa keluar dan menyerang desa?”

Danan maju, meraba kabut itu dengan telapak tangan seolah menyentuh tirai yang sedang bernafas.

“Dua kemungkinan,” jawabnya pelan.

“Pertama, sebagian mayat itu lolos sebelum segel selesai terbentuk.”

“Dan kedua,” napasnya memendek, “ada seseorang di luar pagar ini yang sudah menguasai mereka… dan memerintahkan mereka keluar mencari mangsanya sendiri..”

Panji mengangguk. “Melihat kasus Pak Kasnu, kemungkinan kedua jauh lebih masuk akal. Mereka sedang menambah pasukan.”

“Dan sekarang sedang marah,” timpal Rengga, “karena sebagian pasukan mereka kita habisi.”

Mbah Warsono mendekat ke dinding kabut itu, membaca mantra halus sambil meneliti bentuk pola gaibnya. Sesekali cahaya samar bergerak seperti urat cahaya yang hidup.

“Ritualnya kuat sekali…” gumamnya. “Widjan mengajarkan pagar ini pada murid-muridnya dengan sempurna.”

“Bisa kita buka?” tanya Rengga.

“Bisa,” jawabnya, “tapi butuh waktu. Dan bila terbuka… kita tidak tahu apa yang menunggu kita di dalam.”

Saat itu suasana sunyi sesaat. Hanya desau angin yang terdengar seperti bisikan dari arah hutan terdalam.

Tiba-tiba Danan memicingkan mata, merasakan sesuatu. Ia berjalan menyusuri batas kabut, mencari sumber gangguan spiritual halus itu.

“Kemari! Aku menemukan celah!” serunya.
Mereka segera menyusul Danan ke sela dua pohon beringin tua.

Di sana, seperti belahan tipis pada tirai cahaya, sebuah celah terbentuk. Kecil, namun cukup untuk menembus pagar gaib itu.

Cahyo mendekat, lalu melihat sebuah pisau batu tertancap di tanah, pusaka tua yang memutus garis pagar gaib, menjadi kunci celah itu.

“Ini… pusaka Linus.” Cahyo menelan ludah.
Tanpa berpikir panjang, ia menyentuhnya.

Tubuhnya seketika menegang dan matanya berubah sayu hening… seperti sedang ditempati oleh kesadaran lain.

“Cepat masuk… susul mereka… Linggar dan Linus sudah berada di dalam!!”

suara yang keluar dari mulut Cahyo bukan lagi suaranya sendiri.

Rengga tercengang. “Itu… suara siapa?”

“Pusaka itu memiliki kesadaran, ia bisa meminjam kesadaran siapapun yang menyentuhnya. Pusaka itu memiliki pengetahuan puluhan ribu tahun yang lalu,” Jelas Danan

Danan mendekat dan bertanya,
“Kenapa Linggar dan Linus sampai masuk ke hutan dalam?”

Cahyo, atau lebih tepatnya, Pusaka Linus menjawab lirih, “Karena masih ada keturunan Sasena yang menekuni ilmu terkutuk ini. Mereka membangkitkan mayat-mayat leluhur sebagai pasukan. Dan hanya Linggar… yang tahu bagaimana menghentikannya.”

Panji mengepalkan tangan. “Mas Linggar… dia benar-benar nekat.”
Read 18 tweets
Nov 6
PURI JAGATSUKMA
Part 5 - Nyai Kunti

Saat Rizal memberi tahu keadaan ayahnya dan adiknya. Danan dan Cahyo segera bergegas menuju padepokan Mbah Widjan. dan yang menanti mereka adalah pasukan mayat yang kembali hidup...

@IDN_Horor @bacahorror
#bacahorror Image
“Di hadapan puri sakral, manusia bukan pengemis keajaiban,melainkan cermin dari dirinya sendiri.

Apa yang kau dapatkan di dalamnya
adalah pantulan dari apa yang kau bawa ke dalam hati.”
Read 17 tweets
Oct 30
PURI JAGATSUKMA
Part 4 - Klan Mayat Hidup

Makhluk tanpa nyawa itu bergerak dengan sendirinya, ia melintasi desa di malam hari saat semua orang sudah terlelap. Ia tak sendiri, di balik tanah hutan yg selalu basah terbaring ratusan mayat dari ratusan tahun yang lalu.
#bacahorror Image
Part Sebelumnya :

Part 1 : x.com/diosetta/statu…
Part 2 : x.com/diosetta/statu…
Part 3 : x.com/diosetta/statu…
Suara langkah kaki terdengar terburu-buru melintasi jalan hutan yang tergenang air. Gerimis terus mengguyur, sebuah obor menyala menantang tetesan air yang tersaring dedaunan.

Srakkk!
Langkahnya terseret saat ia memaksa untuk berhenti. Firasatnya memaksanya untuk berhenti.

“Panji! Pergi!” Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pohon dan menahannya. Panji mengenali orang itu, ia adalah salah satu murid padepokan Mbah Widjan ayahnya.

“Mas Yudan?? Nggak! Firasatku buruk, belum pernah seburuk ini!”

“Firasatmu benar, Panji! Tapi kamu harus selamat! Kalau kami gagal setidaknya masih ada harapan..”

“Memangnya apa yang kita ha…”
Kata-kata panji terhenti dengan bau bangkai yang menyengat. Suara-suara aneh terdengar dari dalam hutan.

“PERGI!!” Pria itu memaksa Panji untuk pergi. “Demi kami.. demi ayahmu!”

Panji mengepalkan tangan. Ia tahu Yudan tak akan berbicara seperti itu jika bukan dalam keadaan genting.

“Mas Yudan… tolong jaga Bapak,” katanya dengan suara serak.

Yudan tersenyum samar. “Pasti.”

Panji berbalik dan mulai berlari. Hujan makin deras, tanah semakin licin. Namun sebelum menghilang di balik kabut, ia sempat menoleh—dan melihat pemandangan ganjil.

Mas Yudan menancapkan sebuah benda ritual berbentuk payung kain dengan batang tinggi. Ia membukanya perlahan. Seketika, bau bangkai lenyap. Suara-suara aneh pun teredam, seolah tersedot ke dalam tanah.

Namun bersamaan dengan itu, Panji melihat sesuatu bergerak di antara pepohonan. Sosok manusia membusuk, kulitnya menggantung, pakaiannya koyak, matanya kosong. Makhluk itu berjalan terseok, lalu menatap ke arahnya.

Panji menahan napas, siap berlari. Tapi begitu makhluk itu melintasi garis payung yang terbuka, ia berhenti, berbalik arah, dan menghilang ke kedalaman hutan.

“Pagar Sembagi Wana…” gumam Panji. Ia mengenali ritual itu. Salah satu ajian sakral untuk menyegel kekuatan gaib di dalam wilayah tertentu. Namun konsekuensinya, para perapal ikut terperangkap di dalamnya.

Petir menyambar. Panji berlari menuruni bukit, menyusuri jalan menuju desa. Dari kejauhan, langit terlihat merah menyala. Api besar berkobar di arah padepokan.

“Tidak… jangan bilang…” Ia mempercepat langkah.
Begitu mencapai perbatasan desa, panas api menyentuh wajahnya. Padepokan Mbah Widjan terbakar. Asap hitam membubung tinggi, bercampur dengan suara jeritan yang samar-samar terdengar dari dalam.

Namun yang membuat darahnya membeku adalah sosok kepala raksasa yang melayang di atas kobaran api. Rambutnya menjuntai seperti asap, matanya merah menyala, dan mulutnya terbuka lebar menganga ke langit, memuntahkan nyala api yang melahap segala sesuatu di bawahnya.

Panji terpaku. Air hujan tak lagi terasa. Hanya satu kesadaran yang tertinggal..
Ayahnya masih di sana.

Tak ada jalan kembali, tak ada teman yang tersisa. Tapi Panji tahu satu hal. Ia harus menemukan cara untuk menembus pagar gaib itu… dan menebus semua yang dikorbankan.

***
Read 13 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(