BUKAN karena seat makin dikit dan orang udah pada beli, tapi ini algoritma.
Gue cek tiket Jakarta-Bali kemarin. Rp850rb.
Cek lagi 2 jam kemudian. Rp1.1jt.
Pake HP temen? Balik ke Rp870rb.
Mereka pake dynamic pricing buat maksimalin revenue.
Kita bisa lawan algoritma mereka.
Ini cara yang gue lakuin buat hemat tiket pesawat yang Traveloka gak mau lo tau:
Mereka naikin harga karena tau lo lagi "desperate". Gimana mereka tau?
1. Lo cek berkali-kali = butuh banget = harga naik 2. Cookies track behavior lo 3. Mendekati tanggal = harga naik 4. Rute populer + lo udah cek = naik lagi 5. HP mahal / lokasi premium = harga beda
Mereka literally adjust harga based on SEBERAPA MAU lo beli.
TRICK #1: Browsing mode INCOGNITO.
Kalo bisa beli tiket Traveloka dari browser laptop, jangan pake HP. Dan make sure lo pake incognito.
Chrome: titik tiga → New Incognito Tab
Safari: tab icon → Private
Cookies gak ke-track. History gak kesimpen.
Harga yang muncul = harga "fresh" tanpa markup based on behavior lo.
TRICK #2: Clear cookies sebelum cek harga.
Kalo lo terpaksa pake HP, lakukan ini:
- iPhone: Settings → Safari → Clear History and Website Data
- Android: Settings → Privacy → Clear Browsing Data → Cookies
Setiap mau cek tiket, clear dulu. Fresh start.
TRICK #3: JANGAN cek berkali-kali.
Setiap lo refresh / cek ulang = signal "gue butuh banget".
Cek SEKALI. Screenshot. Compare di app lain.
Jangan balik ke app/web yang sama berkali-kali di hari yang sama.
Paling aman lo bisa pinjem HP keluarga/teman lo buat ngecek harga, jangan pake HP lo sendiri.
TRICK #4: Bandingin SEMUA platform.
Jangan loyal sama satu app.
Cek semuanya:
- Traveloka
- Tiket
- PegiPegi
- Booking langsung di airline (Garuda, Lion, AirAsia)
Beda platform = beda harga. Kadang selisih Rp200-500rb.
TRICK #5: Booking langsung di airline.
Traveloka, Tiket = MIDDLEMAN. Mereka ambil margin.
Jack Ma bikin "universitas" di China yang masuknya lebih susah dari Harvard.
Acceptance rate: 2.2%.
Syarat daftar: lo harus CEO, revenue minimal 67 miliar rupiah per tahun, punya tim minimal 30 orang. Itu pun harus lolos tes interview.
Di kuliah perdananya, dia ngejelasin satu hal yang menurut dia GABOLEH diajarkan di universitas biasa. Karena kalau semua orang tau, gak ada yang mau jadi karyawan.
Pemerintah China sampai menutup kampus ini karena terlalu powerful.
Ini isi kelasnya:
"Universitas" ini namanya Hupan. Artinya "Lakeside." Diambil dari nama apartemen kecil di Hangzhou tempat Jack Ma pertama kali bikin Alibaba.
Didirikan tahun 2015 oleh 9 orang taipan China termasuk founder Lenovo. Kampusnya gabungan Apple Store dan taman kekaisaran China, lengkap dengan dinding kaca, ruang meditasi, dan paviliun antik. 5 menit jalan kaki dari West Lake.
Dan hal pertama yang Jack Ma bilang ke murid angkatan pertamanya: "Kami jujur gak tau mau ngajarin apa di hari pertama."
Yang akhirnya dia ajarkan: framework yang dia sebut alasan Alibaba bisa bertahan 17 tahun.
Tiga kata: Mission, Vision, Values.
Kedengeran basic? Itu yg semua orang pikir. Sampe dia ngejelasin bedanya.
Mission lo itu BUKAN kalimat di dinding kantor. Mission lo itu yang keluar dari mulut lo waktu company lo hampir mati. Waktu investor cabut, waktu tim mau nyerah, waktu semuanya hancur.
Kalimat yang lo ulang di momen itu, itu mission lo yang sebenarnya.
Waktu interview ditanya: "Gaji kamu kemarin di company lama 5 juta, kok sekarang minta 8 juta?"
Ini pertanyaan jebakan. Kalo salah jawab, lo kelihatan mata duitan atau gak reasonable.
Gini cara jawab yang bener:
"Saya minta 8 juta karena 3 alasan:
Pertama, skill [X] yang dibutuhin posisi ini, saya udah buktikan di [company sebelumnya]. Saya confident bisa deliver dari hari pertama.
Kedua, market rate untuk role ini range 8 - 15 juta. Request saya masih masuk ke range bawah.
Ketiga, saya cari long-term commitment. Kalo saya dapat gaji yang fair, saya gak perlu pindah2 tempat kerja lagi, dan perusahaan juga ga perlu buang2 duit untuk hiring."
Kenapa jawaban ini works?
1. Lo kasih data 2. Show value, bukan kebutuhan pribadi 3. Framing-nya win-win buat company juga (stability)
Kalo budget mereka beneran mepet, mereka bakal negotiate balik. Tapi kalo lo gak minta, lo gak bakal dapet.
Make sure lo selalu minta gaji berdasarkan ekspektasi lo. Kemungkinan terburuk? Mereka nolak karena ga ada budgetnya. Tapi ada chance buat lo dibayar berdasarkan market rate yang sesuai dengan skill dan kapabilitas lo.
Laptop lo lemot dan kalo booting butuh 5 menit buat bisa dipake?
Bukan karena rusak, tapi Windows lo kebanyakan "penumpang gelap" (apps dan services yang jalan otomatis tanpa izin).
Ga perlu service. Lo bisa bersihin biar booting jadi 30 detik.
Gini caranya:
Pertama, cek dulu siapa aja yang nebeng.
Ctrl + Shift + Esc → Task Manager → Startup apps
Kaget gak? Ada berapa item yang "Enabled"?
Laptop gue kemarin ada 23. Padahal gue cuma butuh 3.
Matiin yang gak perlu.
Klik kanan → Disable.
Yang aman dimatiin:
- Adobe Creative Cloud
- Spotify
- Discord
- OneDrive (kalau gak butuh sync otomatis)
- Steam
- Epic Games Launcher
- Zoom
- Microsoft Teams (kalau bukan buat kerja)
Mereka bisa lo buka manual kapan aja. Gak perlu jalan dari awal.
HR kasih dokumen "Perjanjian Bersama Pengakhiran Hubungan Kerja."
Suruh tanda tangan hari itu juga. "Ini formalitas aja, Pak."
Dia sign. Di dokumen tertulis pesangon Rp 25 juta.
Seminggu kemudian dia ngobrol sama temen yang pernah di-PHK. Masa kerja hampir sama, gaji hampir sama. Temennya dapat Rp 73 juta.
Bedanya Rp 48 juta. Hilang karena dia sign tanpa ngitung.
Lo kena PHK? Jangan sign sebelum cek 3 hal ini:
Pertama, lo harus tau: Perjanjian Bersama itu mengikat kayak undang-undang.
Setelah lo tanda tangan, lo gak bisa tuntut apa-apa lagi. Ada putusan Mahkamah Agung yang confirm ini. Pekerja yang udah sign PB terus mau nuntut hak tambahan ke pengadilan? Ditolak.
Makanya penting banget lo paham isi dokumen SEBELUM sign.
Yang pertama harus dicek: alasan PHK.
"Efisiensi karena perusahaan RUGI" dan "efisiensi untuk MENCEGAH rugi" itu beda.