Tahta itu tidak diwariskan, ia dipanggil oleh keberanian yang berlumur kutukan. Dan setiap panggilan selalu dibuka oleh darah satu trah yang tumpah di tanah leluhur.
#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht
TRAGEDI MASA LALU
Malam tak selalu dingin. Terutama ketika tragedi biadab menimpa sebuah desa yang bahkan tak diberi izin untuk meninggalkan jejak keberadaannya.
Api melahap rumah-rumah kayu. Di dalamnya, para pemilik terkunci, meronta menahan panas yang membakar kulit dan asap pekat yang menikam paru-paru. Jeritan bercampur doa, lalu tenggelam dalam gemeretak kayu yang runtuh.
“Kita harus keluar! Kita harus hidup!” Seorang bapak meraih kapak yang tergantung di dinding, tangannya gemetar namun tekadnya bulat.
“Percuma, Pak!” sang istri menjerit. “Gerombolan bromocorah itu berjaga di luar! Prajurit kerajaan yang kita panggil… semuanya sudah mati di tangan mereka!”
“Itu bukan alasan untuk menyerah dan mati terpanggang di sini!”
Brakk!
Dinding rumah jebol setelah beberapa ayunan kapak menghujam. Lubang sempit tercipta—cukup untuk satu tubuh merangkak keluar. Pemuda itu tak menoleh. Ia memanfaatkan celah itu, melompat ke dalam gelap, menjauh dari api yang hampir melahapnya.
Orang-orang yang tertinggal menelan ludah. Kerabat-kerabat saling berpandangan, dilanda ragu. Keluar berarti menghadapi bromocorah. Bertahan berarti mati oleh api.
Hingga adik pria itu memberanikan diri.
“Aku juga per—”
Pluk.
Sesuatu dilempar dari luar, jatuh menggelinding di lantai yang mulai terbakar.
“I—itu… itu kepala bapak!” sang istri menjerit histeris.
Dari balik lubang, berdiri tubuh tanpa kepala. Sebuah tombak menancap, menyangga jasad itu seperti pajangan. Darah menetes perlahan, bercampur dengan bara api.
Tawa para bromocorah menggema, begitu dekat, menyahut tangisan orang-orang di dalam rumah.
Malam itu, takdir desa telah ditetapkan. Ia akan diratakan. Rumah-rumah menjadi abu. Dan semua itu adalah kehendak satu sosok.
Patiwongso.
Nama itu saja cukup membuat siapa pun kehilangan ketenangan. Di mana ia muncul, darah selalu mengikutinya.
Patiwongso mewarisi ilmu kuno dari leluhurnya, ilmu yang membuat tubuhnya sukar dilukai, kekuatannya melampaui nalar manusia. Namun ilmu itu menuntut harga yang keji.
Markasnya dipenuhi perempuan-perempuan yang telah dihamili oleh anak buahnya. Mereka dikurung di kamar-kamar sempit seperti kandang, diberi makan sekadar agar tetap hidup.
“Keluar!” Seorang anak buah menyeret perempuan yang hamil muda ke hadapan sang pemimpin.
“A—ampun… tolong… hentikan…” perempuan itu menangis tersedu. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia telah melihat nasib perempuan-perempuan sebelumnya.
Trang!
Pisau berkarat ditarik dari pinggang Patiwongso. Wajahnya dingin, tanpa emosi. Ia menarik tubuh perempuan itu, menyayat perutnya, lalu di hadapan anak buahnya, ia memakan janin itu hidup-hidup.
Sorakan menggema. Kekejian disambut kegembiraan.
Perempuan itu belum mati. Dengan mata basah dan napas tersengal, ia menyaksikan darahnya sendiri mengalir, menyaksikan anaknya dilahap dengan brutal.
“Setan… kau itu setan…” Itulah kata terakhirnya, sebelum nyawanya habis dan matanya membeku dalam keterkejutan abadi.
Semakin banyak janin yang dimakan, semakin banyak nyawa yang direnggut, kekuatan Patiwongso kian melampaui batas. Tak ada yang mampu menyentuhnya, bahkan kekuatan istana sekalipun.
Malam setelah ritual itu, markas Patiwongso dipenuhi tubuh-tubuh yang tergeletak. Ia dan anak buahnya terkapar berserakan, mabuk oleh pesta, darah, dan kepuasan yang memuakkan.
Ketika tengah malam berlalu, Patiwongso tiba-tiba terjaga.
Ada sesuatu yang salah.
Ia membuka mata, diikuti beberapa anak buah yang mengerang bangun. Di antara tubuh-tubuh mabuk yang terbaring, berdiri satu sosok asing. Diam. Tegak. Seolah malam itu sendiri berhenti bergerak di sekelilingnya.
Patiwongso tahu, itu bukan manusia biasa.
Namun kesadaran itu sama sekali tak menumbuhkan rasa cemas.
“Anak buahku!” teriaknya lantang. “Kita dapat satu mangsa lagi!”
Sorak-sorai langsung membahana. Mereka yang masih terhuyung memaksakan diri berdiri, tertawa, mengangkat pedang dan senjata seadanya. Mabuk dan haus darah, mereka berlari ke arah sosok itu.
Namun saat tubuh-tubuh itu melangkah maju, kepala mereka tidak ikut bergerak.
Brugh!
Dalam sekejap, kepala-kepala itu terpisah dari badan. Ada yang jatuh tegak ke tanah, ada pula yang menggelinding—beberapa berhenti tepat di kaki Patiwongso.
Tubuh-tubuh tanpa kepala ambruk serentak.
Seketika markas itu berubah sunyi.
Patiwongso membeku. Di hadapannya, orang-orang kuat yang ia kumpulkan dengan susah payah mati begitu saja, tanpa perlawanan, tanpa kesempatan berteriak.
“Berani-beraninya…!” geramnya. Amarah menggantikan keterkejutannya.
Sosok itu akhirnya bersuara.
“Kau sudah keterlaluan, Patiwongso,” ucapnya datar. “Kau harus dihentikan.”
“Siapa kau?!” bentak Patiwongso. “Tak seharusnya makhluk sepertimu ada di sini! Apa urusanmu denganku?!”
Untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang mengganggu—selama hidupnya, ia tak pernah berhadapan dengan kekuatan seperti ini.
Sosok itu menatapnya tanpa kebencian, tanpa emosi.
“Aku Resi Jenaya,” katanya tenang. “Pelindung kerajaan ini.”
Ia melangkah maju, melewati tubuh-tubuh tanpa kepala.
“Hanya karena satu manusia sepertimu, sang raja melakukan lelaku berat. Ia mengorbankan setengah dari sisa umurnya…” Resi Jenaya berhenti tepat di hadapan Patiwongso. “…untuk memintaku datang dan menghukummu.”
“Cih!” Patiwongso meludah menghina.
“Katakan pada rajamu,” katanya jumawa, “bahwa ia telah mengorbankan setengah sisa umurnya untuk sesuatu yang sia-sia.”
Ia menarik keris dari pinggangnya. Bilah pusaka itu berkilat ketika ia melangkah mendekati Resi Jenaya.
Dengan satu kibasan tangan, nyala api raksasa menerjang.
Pundak Patiwongso terbakar, dagingnya melepuh, bau hangus memenuhi udara. Namun hanya dalam sekejap, luka itu menutup kembali, kulitnya pulih seolah tak pernah tersentuh api.
“Aku adalah puncak kesempurnaan manusia, Jenaya!” teriaknya. “Aku mungkin tak suci sepertimu, tapi aku abadi!”
Kerisnya menghujam.
Namun tubuh Resi Jenaya memudar seperti kabut, lenyap sebelum bilah itu menyentuh daging. Dalam satu tarikan napas, sang resi telah berdiri di belakangnya.
“Kesempurnaan,” bisik Resi Jenaya tepat di telinga Patiwongso, “bukan terletak pada tubuh yang fana.”
“Sombong!”
Keris Patiwongso menyala membara, api mengamuk di sekeliling bilahnya. Ia menebas berulang kali, namun setiap kali, tubuh Resi Jenaya hanya memudar, muncul kembali di tempat lain.
“Hadapi aku!” bentaknya frustasi. “Jangan seperti pengecut!”
“Aku tidak datang untuk bertarung, Patiwongso.”
Kalimat itu belum selesai ketika tangan Resi Jenaya telah menembus dada Patiwongso dan menggenggam jantungnya.
Crattt!
“Aku datang untuk menghukummu.”
Jantung itu hancur dalam genggaman. Patiwongso menjerit. Dunia seakan runtuh. Namun belum sempat ia mati, dagingnya bergerak, darah berhenti mengalir, jantungnya tumbuh kembali.
Belum utuh sepenuhnya— Crattt!
Jantung itu dihancurkan lagi.
“Aaarrrgghhh!!”
Resi Jenaya tak memberi waktu. Setiap kali jantung itu pulih, ia meremukkannya kembali. Rasa sakit yang sama. Lebih dalam. Lebih kejam.
“Percuma!” teriak Patiwongso sambil terhuyung. “Aku abadi! Kau tak bisa membunuhku!”
Crattt!
“Mati hanyalah hukuman ringan bagimu,” ucap Resi Jenaya tenang. “Raja memintaku menjatuhkan hukuman paling kejam yang pernah ada.”
Crattt! Crattt!
Patiwongso mencoba lari. Tubuhnya terseret. Namun tangan Resi Jenaya selalu lebih cepat, selalu kembali menggenggam jantungnya.
“AKAN KUBALAS!” jerit Patiwongso putus asa. “Aku akan terus bangkit, terus hidup hingga kau menyerah!”
Crattt!
“Ini baru permulaan,” jawab Resi Jenaya. “Hukumanmu adalah menikmati keabadianmu… dengan rasa sakit terburuk yang ada di alam ini.”
Srassh! Srassh! Srassh!
Sebuah cakram melayang, berkilat dingin. Dalam sekejap, tubuh Patiwongso terpotong menjadi enam bagian.
“AAARRRGGH!! KAU PENGECUT!!” Kepalanya masih berteriak, memaki, meski tak lagi menyatu dengan tubuh.
“Tubuhmu akan membusuk,” kata Resi Jenaya.
“Serangga dan hewan tanah akan memakannya hingga hanya tersisa tulang. Namun rasa sakit saat dagingmu terkoyak, saat tubuhmu terurai, semua itu takkan pernah lenyap.”
“Hentikan… hentikan… lepaskan aku…” Suara Patiwongso berubah. Ia Gentar. Rasa takutnya semakin menjalar.
Resi Jenaya kembali meraih jantungnya, kali ini menyimpannya ke dalam sebuah kendi.
“Ampun! Ampuni aku!” Patiwongso memohon. “Aku bisa menjadi bawahanmu! Aku taklukkan kerajaan untukmu!”
Tak ada jawaban.
Resi Jenaya mulai menggambar simbol pada keenam bagian tubuh itu. Setiap simbol selesai, satu bagian melesat jauh, terlempar ke pulau yang berbeda, terpencar agar tak pernah bersatu kembali.
Sebelum simbol terakhir digoreskan di dahi Patiwongso, Resi Jenaya menyampaikan mimpi terburuknya.
“Rasa sakit ini akan kau rasakan hingga akhir zaman. Dan ketahuilah…api neraka jauh lebih menyakitkan dari ini.”
“TIDAAAK!! AMPUN!! HENTIKANNN!!”
Jeritannya berubah menjadi ratapan. Matanya pecah oleh darah. Penyesalan datang terlambat.
Saat simbol terakhir selesai, kepala itu melayang menuju pulau terakhir, tempat ia akan terkubur, membusuk, dan menjadi tulang yang tetap merasakan sakit hingga akhir zaman.
Namun… Trappp!
Sebuah tangan menangkap kepala itu di udara.
Sosok misterius. Tak dikenal. Ia membungkus kepala Patiwongso dengan kain yang terbuat dari kulit manusia, lalu menghilang.
Patiwongso tak sempat melihat siapa dia. Yang ia tahu, kepalanya tak pernah sampai ke pulau tujuan.
Sosok itu memantrai, menyembunyikan, dan menutup keberadaan kepala itu agar tak tercium oleh Resi Jenaya.
Beratus-ratus tahun berlalu.
Tubuh-tubuh Patiwongso telah menjadi tulang belulang di tanah asing. Kepalanya pun membusuk, menjadi tengkorak dalam persembunyian.
Tak ada yang tahu siapa yang menyelamatkan kepala itu. Tak ada yang tahu tujuannya.
Namun satu hal pasti…
Apa pun yang ia rencanakan, akan melahirkan tragedi yang jauh lebih mengerikan di masa depan.
***
SANG PENAGIH JANJI
Suara gerimis membasahi atap-atap rumah yang sudah lama ditinggalkan penghuninya. Di sebuah bangunan Belanda tua, sepasang suami istri renta menunggu dalam temaram sentir.
Perempuan tua itu berkali-kali mengecek nyala api kecil di ujung sumbu. Di sampingnya, sang suami membersihkan topeng-topeng kayu yang tampak sangat tua—retak, kusam, dan berdebu.
Dari kejauhan, suara knalpot Vespa tua mendekat.
Keduanya saling pandang. Mereka mengenali suara itu.
Krieeett...
Pintu terbuka. Dua pemuda berlari kecil memasuki halaman.
“Mas Danan dan Mas Cahyo?” tanya pria tua itu.
“Nggih, Pak... Pak Ijal dan Bu Pasmi?”
Pak Ijal mengangguk singkat. Tanpa banyak kata, ia berbalik dan berjalan masuk ke dalam bangunan.
Danan dan Cahyo saling melirik. Ada perasaan ganjil yang menyelimuti tempat itu sejak langkah pertama.
“Jadi... rumah-rumah di sekitar sini sudah benar-benar ditinggalkan?” tanya Danan hati-hati.
“Yang terlalu bodoh untuk tinggal sudah jadi mayat,” jawab Bu Pasmi ketus.
Ia mengangkat sentir dan membawa mereka masuk lebih dalam.
Bangunan itu ternyata bekas pabrik rumahan—pengolahan kain, atau sejenisnya. Bak-bak permanen terlihat di luar jendela, namun mereka tidak menuju ke sana.
Lorong demi lorong dilalui.
Terlalu dalam.
Terlalu jauh untuk ukuran bangunan yang terlihat kecil dari luar.
Cahyo berjalan paling belakang. Instingnya terus waspada, mengawasi punggung Pak Ijal dan Bu Pasmi.
Hingga akhirnya mereka melewati jalur tersembunyi yang menurun ke rubanah.
Belum sempat Pak Ijal berbicara, Cahyo terhenti.
Di ujung ruangan, sesosok jasad perempuan tergantung terbalik.
Tubuhnya mengenaskan. Sebagian daging terkoyak. Mata terlepas dari rongga. Darahnya telah mengering menjadi kerak hitam.
Cahyo langsung berlari maju.
“Kalian! Kalian biadab!!”
“Pilihannya dia mati... atau kami semua mati,” jawab Bu Pasmi dingin.
“Kecuali menurutmu kami semua yang seharusnya mati?” tambah Pak Ijal, menatap tajam.
Danan menepuk pundak Cahyo, menahannya.
Baru saat itu ia menyadari—tempat jasad itu tergantung sebenarnya sebuah kurungan.
Ia mengamati setiap sudut.
Yang dikurung di sana bukan makhluk halus.
Namun juga bukan sepenuhnya manusia.
“Brangtalung memakan manusia. Meminum darahnya,” jelas Pak Ijal.
“Di alam manusia dia buas. Di alam gaib dia penguasa.”
Ia menatap Cahyo dengan kesal.
“Dan karena kalian, sekarang Brangtalung melarikan diri. Jika ada kematian karenanya, itu tanggung jawab kalian.”
Deg. Cahyo terdiam.
Beberapa waktu sebelumnya, seorang perempuan datang memohon pertolongan. Ia mengaku kakaknya akan dijadikan tumbal.
Saat Cahyo tiba di lokasi, seorang pria memang sedang dipasung—tubuhnya diikat tali yang sudah berlumuran darah.
Cahyo menghentikan warga.
Mereka menolak, bersikeras bahwa pria itu setan yang terus memakan korban.
Cahyo memeriksa.
Ia merasakan kekuatan mengerikan dari tubuh pria itu. Namun masih terkendali.
Tak tega melihatnya, Cahyo menawarkan ruwatan. Jika berhasil, pria itu harus dilepaskan.
Doa demi doa dibacakan. Perlahan, pria itu tenang. Wujudnya yang semula menyeramkan kembali normal.
Makhluk itu ternyata benar-benar manusia.
Warga terdiam. Tak pernah mereka melihat sosok itu setenang itu.
Cahyo pun akhirnya melepaskan pasungannya. Namun saat ia menoleh, Pria itu tiba-tiba saja berlari tanpa aba-aba.
Tubuhnya sebagian kembali menghitam. Bau menyengat menyusul mengikuti langkahnya.
Melihat kejadian itu, seluruh Warga pun marah. Mereka menyalahkan Cahyo dan memintanya bertanggung jawab.
Walau begitu Cahyo tahu benar bahwa pria itu adalah manusia, dan sang adik bersikeras mengatakan bahwa kakaknya bukan setan.
Cahyo pun menerima tanggung jawab itu dan menjanjikan akan menghentikan pria itu, dan takkan membiarkan warga desa menjadi korban.
…
“Jadi pria itu Brangtalung?” gumam Danan. “Sosok yang meminta manusia jadi makanannya?”
“Tapi aku yakin yang aku ruwat itu manusia,” jawab Cahyo pelan.
Brak!
Pak Ijal membanting pintu di dekatnya.
“Terserah dia manusia atau bukan, dia membunuh orang-orang kami!”
Cahyo menghela napas. Kali ini ia memahami ketakutan mereka.
“Kalian bilang Brangtalung akan kembali, kan?”
“Pasti. Darah kami terikat dengannya.”
“Kalau begitu biar kami yang menghadapi dia. Suruh warga memukul kentongan jika melihatnya.”
Pak Ijal tak punya pilihan. Sebagian warga sudah pergi. Yang tersisa hanya mereka yang tak punya tempat lain.
Malam pun semakin larut. Tak ada lampu. Tak ada suara. Seluruh desa bersembunyi dalam gelap.
Saat itu, Cahyo masih saja menggerutu.
“Nggak usah kesel, Jul,” kata Danan.
“Mbuh, Nan... pokoknya malam ini kita harus nangkep Brangtalung itu.”
Saat itu malam semakin larut, Danan dan Cahyo menunggu dan mengawasi dengan sigap, namun sosok Brangtalung itu tak muncul di sekitar mereka. Mereka menunggu begitu lama… terlalu lama.
“Nan...” panggil Cahyo.
Danan baru sadar matanya hampir terpejam.
“Ada yang aneh,” lanjut Cahyo.
Mereka saling pandang.
“Harusnya malam nggak selama ini,” gumam Danan.
Mereka memeriksa sekitar. Segalanya tampak normal. Namun rasa ganjil semakin kuat.
“Keluar! Keluar kau!” teriak Cahyo.
Ia memanjat pohon tertinggi namun bagaimanapun mereka mencari keganjilan, mereka tak menemukan apapun.
Walaupun begitu, Insting Wanasura tak bisa dikelabuhi. Ia memberi isyarat pada Cahyo untuk mengincar sesuatu di arah Utara. Dengan cepat Cahyo berlari mengikuti insting Wanasura dan mendapati sesosok perempuan dengan seluruh badan dan pakaiannya bertuliskan mantra dengan aksara kuno.
Ia tak bergerak, hanya menyeringai dengan wajah yang pucat.
“Sial!” Danan melesat mendekati sosok itu, berusaha meraihnya, namun saat Danan menyentuhnya tangannya tersambar kobaran api.
Blarrr!!
“Danan!” Cahyo mencoba hal serupa, namun perempuan itu tak tersentuh.
Ia justru tertawa-tawa melihat danan dan Cahyo yang tak berkutik.
“Siapa? Siapa kau!” teriak Danan dengan nada menantang, meski ada keganjilan yang merayap di dadanya.
Perempuan itu tidak menjawab segera. Ia hanya menatap Danan lama, lalu perlahan memiringkan kepalanya. Gerakannya kaku, seperti sendi lehernya tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Rambutnya yang kusut menutup sebagian wajah pucatnya.
“Aku…” suaranya lirih, serak, seolah keluar dari tenggorokan yang sudah lama tak digunakan.
“Teman matimu.”
Senyumnya merekah tipis.
Danan dan Cahyo serentak maju. Mereka mencoba meraih tubuh perempuan itu, namun tangan mereka terhenti beberapa jengkal sebelum menyentuhnya. Ada batas tak kasat mata yang menahan mereka—seperti dinding tipis yang memisahkan dua alam.
Cahyo segera membaca doa-doa perlindungan, suaranya tegas walau napasnya masih berat. Danan ikut melantunkan mantra, berharap reaksi sekecil apa pun.
Namun perempuan itu tidak bergerak. Tidak mundur. Tidak menunjukkan tanda terganggu. Ia hanya menatap mereka, seolah semua usaha itu hanyalah hiburan.
Tiba-tiba Cahyo meringis.
Sebuah sayatan tipis muncul begitu saja di pipinya. Darah hangat mengalir pelan tanpa sebab.
Di saat bersamaan, tubuh Danan tersentak. Lehernya seperti dicekik sesuatu yang tak terlihat. Napasnya tertahan, dadanya terasa sesak.
Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi, rasa sakit lain menghantam.
Tubuh mereka terpukul dari berbagai arah, seolah puluhan tangan tak kasat mata menghajar tanpa henti. Punggung, bahu, dan perut mereka menerima pukulan bertubi-tubi.
Di udara malam yang sepi, tiba-tiba terdengar suara keramaian.
Teriakan. Tangisan.
Suara orang-orang yang marah.
Namun tak ada siapa pun di sana.
Suara itu muncul sesaat, lalu lenyap. Muncul lagi, lebih dekat, lalu menghilang kembali.
Danan dan Cahyo seperti menjadi sasaran amukan sesuatu yang tak bisa mereka lihat.
Sementara itu perempuan di hadapan mereka tertawa pelan.
Tawa yang terdengar puas.
“WANASURA!” teriak Cahyo, berusaha bertahan dari rasa sakit yang terus menghantam tubuhnya.
Ia mencoba mundur, tetapi kakinya seperti ditarik sesuatu. Setiap langkah yang ia paksa justru membuat tubuhnya tersentak kembali ke tempat semula.
“Yang sudah menatapku…” suara perempuan itu terdengar semakin dekat, padahal tubuhnya tidak bergerak.
“…takkan bisa kembali.”
Danan, dengan sisa kesadarannya, mencoba memisahkan rohnya dari raganya. Untuk sesaat ia merasa ringan—seolah terlepas dari siksaan itu.
Namun kekuatan lain segera menariknya kembali dengan paksa.
Rohnya kembali menyatu dengan tubuhnya, dan rasa sakit itu menghantam lebih keras.
“Sial!” Cahyo mengamuk.
Ia menyerang membabi buta, menebas udara kosong dengan penuh amarah. Namun perempuan itu tetap berdiri di tempatnya, tak bergeming sedikit pun, hanya menatap mereka seperti penonton yang menikmati pertunjukan.
Sampai ketika tenaga mereka hampir habis—
Tiba-tiba kepala perempuan itu terlepas.
Jatuh begitu saja.
Tubuhnya masih berdiri.
Kepalanya menggelinding pelan di tanah basah.
“Eh?”
Wajahnya terlihat bingung ketika pandangannya kini berada lebih rendah dari sebelumnya.
Pada saat itulah segalanya berubah.
Kabut, pepohonan, dan desa sunyi yang sejak tadi mengelilingi mereka seolah runtuh seperti bayangan yang tersapu angin.
Danan dan Cahyo mendapati diri mereka terbaring di tanah berlumpur, di bawah rintik hujan yang dingin.
Di sekeliling mereka berdiri puluhan warga desa.
Tubuh mereka dipenuhi tulisan mantra berwarna merah tua yang menutupi kulit dari leher hingga kaki. Sebagian masih tampak basah, seperti baru saja ditorehkan.
“I–ini…?” suara Cahyo bergetar, belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Danan memandang sekeliling dengan napas berat.
“Kita sudah dikelabuhi,” katanya pelan.
Baru saat itu mereka melihat Pak Ijal dan Bu Pasmi berdiri di antara kerumunan, tubuh mereka pun dipenuhi rajah yang sama.
Lingkaran manusia itu mengelilingi mereka.
Bukan untuk melindungi.
Melainkan untuk memanggil sesuatu.
Pak Ijal menengadah dengan wajah penuh amarah dan putus asa.
“BRANGTALUNG!” teriaknya.
“TERKUTUK KAU!!!”
Mendengar teriakan itu, Cahyo dan Danan serentak menoleh.
Di bawah hujan yang turun semakin deras, berdiri sesosok makhluk bungkuk dengan rambut panjang menjuntai menutupi wajahnya. Kuku-kukunya panjang dan melengkung seperti cakar binatang, sementara dari sela bibirnya tampak deretan gigi yang terlalu tajam untuk manusia.
Makhluk itu menginjak sesuatu di bawah kakinya.
Kepala perempuan tadi.
Cahyo langsung mengenalinya.
Itu sosok yang sebelumnya ia coba selamatkan—pria yang dianggap warga sebagai makhluk terkutuk. Sosok yang setengah manusia, setengah sesuatu yang lebih buas.
Brangtalung.
Makhluk itu menggeram pelan. Napasnya menderu berat, seperti binatang yang kelelahan setelah perburuan panjang. Dari mulutnya menetes darah yang tercampur air hujan.
Matanya bergerak gelisah, seolah tidak benar-benar memahami apa yang terjadi di sekelilingnya.
“Pergi…” suaranya parau.
Ia menatap Danan dan Cahyo dengan kebingungan yang aneh.
“Mereka… mati…”
Ucapan itu tidak mereka mengerti.
Namun firasat buruk langsung merayap di punggung Danan.
Sosok-sosok warga desa yang sejak tadi berdiri melingkar mulai bergerak.
Gerakan mereka kaku.
Tidak wajar.
Beberapa menyeret kaki. Beberapa merayap di tanah seperti hewan. Leher mereka menoleh dengan sudut yang mustahil, wajah mereka berubah—rahang memanjang, mata menghitam, kulit menegang seperti bangkai yang baru bangkit.
Desisan pelan terdengar di antara mereka.
Danan belum sempat bereaksi ketika sesuatu tiba-tiba menggigit lehernya.
Ia tersentak keras.
Saat menoleh, ia melihat wajah hitam besar tepat di samping kepalanya—mata merah menyala dengan tubuh panjang seperti ular raksasa yang melilit dadanya.
“Sial!”
Danan meraih keris Ragasukma dan menebas sisik makhluk itu sekuat tenaga.
Bilah pusaka itu beradu dengan sisik hitamnya—
Namun tidak melukai sedikit pun.
Makhluk itu justru melilit lebih kuat.
Giginya menancap semakin dalam.
“Danan!” Cahyo berusaha menarik tubuh makhluk itu, mengerahkan kekuatan Wanasura.
Namun bahkan tenaga gaib itu tak mampu melonggarkan lilitannya.
Pada saat yang sama, sesuatu lain mengincar Cahyo.
Ia sempat menghindar—
Namun sebuah kaki besar penuh bulu hitam tiba-tiba menghantam tubuhnya dari samping.
Bruaghh!
Tubuh Cahyo terpental dan membentur tanah keras. Darah menyembur dari mulutnya.
Baru saat itu keduanya sadar—
Warga desa itu bukan manusia.
Mereka adalah siluman.
Namun bukan siluman biasa.
Aura mereka jauh lebih tua.
Lebih kejam.
“Cahyo! Lari!” teriak Danan, masih terjerat lilitan.
Cahyo mencoba bangkit, hendak kembali menolong Danan, namun kaki hitam itu kembali menghantamnya.
Bruaghh!
Kali ini tubuhnya hampir tak sanggup bergerak. Kekuatan Wanasura dalam dirinya terasa tertahan, seperti tercekik oleh energi yang lebih tua dan lebih liar.
Namun sebelum kesadarannya memudar—
Tiba-tiba lilitan di tubuh Danan terputus.
Ular hitam itu terkoyak.
Tubuhnya tercabik-cabik dengan kekerasan yang brutal.
Jeritan makhluk itu melengking memekakkan telinga.
Brangtalung.
Makhluk itu mengamuk, mencabik dan merobek sisa tubuh ular tersebut seperti binatang yang kelaparan.
Setelah membebaskan Danan, ia langsung bergerak menuju Cahyo. Dengan satu tangan, ia menahan kaki hitam yang hendak menginjak Cahyo, lalu membanting pemiliknya menjauh.
“Danan! Lari!” teriak Cahyo.
Mereka tahu—melawan sekarang hanya berarti mati.
Danan menarik Cahyo berdiri. Mereka berlari secepat mungkin.
Di belakang mereka, makhluk-makhluk yang menyerupai warga desa itu mengejar. Gerakan mereka tidak serempak—ada yang merayap, ada yang melompat, ada yang berlari dengan empat kaki.
Hutan di depan menjadi satu-satunya arah.
Saat mereka menoleh sekilas, Danan merasakan jantungnya berdegup lebih keras.
Pak Ijal.
Bu Pasmi.
Keduanya ikut mengejar.
Wajah mereka telah berubah.
Wujud manusia yang selama ini mereka kenal hanyalah kulit luar.
Brangtalung tiba-tiba menyusul dari samping, berlari dengan kecepatan yang tak wajar. Ia menoleh sejenak, memberi isyarat singkat—mengajak mereka mengikuti arah yang ia tuju.
Tanpa banyak pilihan, Danan dan Cahyo mengikutinya.
Mereka menerobos hutan, melewati ilalang tinggi yang mencambuk kaki, hingga akhirnya Brangtalung berhenti di hadapan celah batu yang nyaris tak terlihat.
Sebuah gua tersembunyi.
Mereka masuk.
Danan dan Cahyo segera menutup jalur masuk dengan batu besar, lalu bersembunyi dalam kegelapan.
Napas mereka terengah-engah.
Di belakang mereka, Brangtalung hanya diam. Sosoknya hampir tak terlihat di dalam gelap.
Tak ada yang berani bergerak selama suara langkah dan desisan makhluk-makhluk itu masih terdengar di luar.
Beberapa saat kemudian, suara itu menjauh.
Brangtalung memberi isyarat.
Ia berjalan masuk lebih dalam.
Lorong gua yang sempit memaksa mereka merunduk, bahkan merayap di beberapa bagian. Mereka harus melewati celah-celah batu, memanjat permukaan licin, dan menahan napas di ruang yang hampir tak memiliki udara.
“Danan…” Cahyo melemparkan ujung sarungnya.
Danan mengikatkannya di pergelangan tangan.
Dalam gelap total, hanya insting Wanasura dalam diri Cahyo yang mampu mengikuti langkah Brangtalung. Danan beberapa kali hampir tersandung.
Udara terasa semakin tipis.
Dada mereka sesak.
Namun rasa penasaran memaksa mereka terus maju.
Hingga akhirnya, di kejauhan, terlihat cahaya redup.
Mereka mengikutinya.
Brangtalung membawa mereka keluar dari sisi lain gua.
Hujan sudah mereda.
Danan menatap sekeliling.
Tanah di hadapan mereka dipenuhi batu nisan tua yang berserakan, tertutup semak dan akar pohon.
“Ini…”
“Pemakaman tua,” gumam Cahyo.
Ia menyibak lumut dari salah satu nisan. dan menemukan bahwa nisan itu masih ditulis dengan aksara jawa kuno.
Brangtalung terus berjalan menembus semak dan akar pohon sampai akhirnya berhenti di depan salah satu makam yang tampak jauh lebih bersih dibandingkan nisan lain di sekitarnya. Lumut yang menutupi batu-batu tua di area itu seolah tidak berani menyentuh makam tersebut.
Ia mendekat perlahan, lalu duduk di samping batu nisan itu.
Tanpa berkata apa pun, Brangtalung mengetuk permukaannya.
Tok… tok… tok…
Setelah itu ia memeluk lututnya, meringkuk di samping makam seperti anak kecil yang menunggu seseorang keluar dari dalam rumah.
Sosok yang sebelumnya tampak buas dan penuh amarah itu mendadak tenang.
Sunyi.
Hanya suara air hujan yang menetes dari dedaunan.
Lalu tanah di atas makam itu bergerak.
Lapisan tanah tipis terangkat perlahan, diikuti bunyi papan yang bergeser dari dalam.
Srakkk.
Sebuah celah terbuka.
Dari dalamnya, muncul sesosok pria tua.
Ia mengenakan kain kafan putih yang membungkus tubuhnya. Rambutnya panjang, putih, menjuntai menutupi sebagian tubuh bungkuknya.
“Se—setan lagi!” teriak Cahyo refleks.
Plakk!
Tongkat kayu langsung mendarat di kepala Cahyo.
“Setan gundulmu!” bentak pria tua itu. “Nggak sopan sama orang tua!”
Cahyo meringis sambil memegangi kepalanya.
Danan memutari pria tua itu, menatapnya dengan hati-hati, mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka hadapi.
Namun tiba-tiba—
Plak!
Danan ikut memukul kepala Cahyo.
“Duh! Opo to, Nan!?” protes Cahyo.
“Lha kamu ngawur! Orang kok langsung dibilang setan,” jawab Danan cepat, berusaha terlihat sopan di hadapan pria tua itu.
“Lha nggak usah ikut mukul juga!”
Danan sedikit mendekat dan berbisik, “Daripada aku ikut dipukul, tuh tongkatnya udah mau diangkat lagi.”
Cahyo hanya bisa mencibir kesal, menerima nasib sebagai kambing hitam.
Pria tua itu memandang mereka dengan mata tajam.
“Ngapain kalian di sini?” bentaknya.
“Lha, kakek ngapain di kuburan?” sahut Cahyo spontan.
Plak!
Tongkat itu kembali mendarat di kepalanya.
“Ini rumahku! Terserah aku mau ngapain!”
“Lha piye to kamu, Jul…” Danan pura-pura menenangkan. “Ini rumah kakeknya.”
“Lihat temenmu itu!” bentak sang kakek lagi. “Sopan!”
Cahyo melirik Danan tajam. “Awas kamu, Nan…”
Danan segera mengalihkan perhatian, menunjuk ke arah Brangtalung dengan jempol.
“Itu, Kek… dia yang ngajak kami ke sini.”
Pria tua itu menoleh.
Begitu matanya bertemu Brangtalung, makhluk itu langsung mendekat dan berlutut di hadapannya.
Raut wajah sang kakek berubah.
“Astaga, Le… akhirnya kamu kembali…”
Ia meraih Brangtalung, memeluknya erat sejenak.
Tangannya kemudian menyusuri tubuh Brangtalung, memeriksa luka-luka yang memenuhi kulitnya.
Ia menggeleng pelan.
“Apa yang sudah mereka perbuat padamu?”
Brangtalung memperlihatkan tubuhnya.
Luka-luka di sana bukan sekadar goresan biasa—melainkan torehan yang membentuk aksara kuno.
“Mereka mencoba memantraimu…” gumam sang kakek dengan nada getir.
Tiba-tiba ia menoleh kembali ke arah Danan dan Cahyo.
“Apa mau kalian? Ngapain di sini?”
“Lah… kami juga nggak tahu, Kek,” jawab Cahyo jujur. “Dia yang bawa kami.”
Kakek itu kembali memandang Brangtalung.
“Apa maksudmu?”
Brangtalung berdiri, lalu menatap Danan.
Ia melangkah mendekat.
Srakkk—
Tiba-tiba keris Ragasukma sudah berada di tangannya.
“Heh! Kau—” Danan terkejut.
Namun Brangtalung tidak berniat menyerang. Ia justru berjalan ke arah sang kakek dan menyerahkan keris itu dengan kedua tangan.
“I–ini?” Pria tua itu menatap keris tersebut lama, seolah mengenali sesuatu.
“Kakek tahu tentang kerisku?”
Pria tua itu menggeleng pelan, lalu mengembalikan keris itu.
“Tidak semua pusaka harus dikenal untuk dihormati.”
Danan menerima kerisnya kembali, namun rasa penasarannya semakin besar.
“Kek… sebenarnya ini semua apa? Kalian siapa? Dan ini kuburan apa?”
Pria tua itu menarik napas panjang.
“Saya Prawita,” ujarnya. “Dan dia anak saya… Prawitno.”
“Prawitno? Bukan Brangtalung?” celetuk Cahyo.
Plak!
Tongkat kembali mendarat.
“Brangtalung itu sebutan makhluk terkutuk itu untuk anakku!”
Cahyo memegangi kepalanya lagi. Benjolan di sana entah sudah berapa jumlahnya.
“Sesuatu yang tak boleh didekati… apa karena itu mereka mengincar—” Danan berhenti sejenak. “Maaf… Prawitno?”
Kakek Prawita mengangguk.
Ia berjalan beberapa langkah, lalu duduk di atas batu yang permukaannya datar.
“Sebenarnya mereka makhluk apa, Kek?” tanya Cahyo, kali ini lebih hati-hati.
“Bukan manusia?”
Kakek Prawita memandang deretan nisan tua di sekeliling mereka.
“Dulunya… mereka manusia.”
Suaranya pelan.
“Ratusan tahun yang lalu.”
Danan dan Cahyo saling berpandangan.
Rasa dingin yang berbeda dari udara malam merayap di tengkuk mereka.
Namun sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh, Kakek Prawita sudah mulai membuka kisah yang selama ini terkubur bersama tanah tua di tempat itu.
“Tak ada seorang pun yang melihat dengan jelas benda apa yang jatuh dari langit itu. Tiba-tiba saja tanah tempat ia menghantam bumi bergemuruh, seakan isi perut dunia terbelah, dan dari sana memancar kekuatan yang meluap-luap.”
Peristiwa itu terjadi jauh sebelum masa hidup leluhur Kakek Prawita.
Saat benda asing itu jatuh dan terkubur begitu dalam, bencana mulai merambat ke desa-desa di sekitarnya seperti penyakit yang menyebar tanpa suara. Wabah datang silih berganti. Ladang-ladang gagal panen.
Hujan turun di musim kemarau, sementara kemarau panjang membakar sawah di saat musim hujan seharusnya tiba.
Orang-orang mulai sadar bahwa apa pun yang terpendam di dalam tanah itu bukan sesuatu yang seharusnya berada di dunia manusia.
Benda itu… terkutuk.
Beberapa dukun dan guru spiritual dari berbagai penjuru datang mencoba meruwat tanah tersebut. Mereka membawa sesaji, mantra, hingga pusaka warisan leluhur. Namun tak ada satu pun yang mampu memurnikannya.
Alih-alih menjauh, justru kekuatan itu memanggil orang-orang yang haus kekuasaan.
Para pendekar berdatangan. Prajurit dari kerajaan lain menyusup tanpa izin. Bahkan pertapa yang telah bertahun-tahun menyingkir dari dunia ikut turun gunung.
“Mereka datang membawa pusaka,” ujar Kakek Prawita lirih. “Dan mengisinya dengan kekuatan terkutuk dari tanah itu.”
Wilayah tersebut perlahan berubah menjadi tempat yang tak lagi layak dihuni manusia.
Yang membunuh penduduk bukan lagi bencana alam.
Melainkan manusia-manusia yang telah berubah.
Orang-orang yang menyerap kekuatan itu membutuhkan tumbal darah untuk mempertahankan daya mereka. Mereka tak segan mengorbankan siapa pun yang berada di sekitar.
Pertempuran antar pengguna pusaka pun tak terhindarkan.
Tanah itu dipenuhi jerit kesakitan, bau besi dari darah, dan dendam yang tak pernah sempat dikuburkan.
Baru ketika kekacauan mencapai puncaknya, leluhur Kakek Prawita datang atas perintah sang raja.
Mereka membawa pusaka kerajaan , pusaka yang tidak digunakan untuk menyerang, tetapi untuk mengunci.
Dengan ritual yang memakan korban dan waktu yang panjang, leluhur mereka berhasil meredam pancaran kekuatan misterius itu. Pusaka kerajaan dikuburkan di tempat yang sama dengan benda asing tersebut.
Sejak saat itu, gejolak kekuatan terkutuk tak lagi meluap ke permukaan.
Peperangan berhenti.
Namun dampaknya… tidak pernah benar-benar hilang.
Semua pendekar, prajurit, dan pertapa yang pernah menyerap kekuatan itu tak lagi sepenuhnya manusia.
Ketika tubuh mereka mati, jiwa mereka tak pernah benar-benar pergi.
Mereka kembali ke tanah ini, bukan sebagai manusia, tapi sebagai makhluk jadi-jadian.
Makhluk yang tanpa sadar memberi “wadah” bagi kekuatan gelap yang dahulu mereka buru.
“Maksud Kakek… warga desa tadi?” tanya Cahyo pelan.
Kakek Prawita mengangguk.
“Mereka hanya mengambil wujud manusia. Mereka menghabisi warga desa yang mereka tempati. Sejatinya… mereka hanyalah sisa kesadaran yang terikat pada kekuatan itu.”
Danan menelan ludah.
“Pantas saja mereka sekuat itu…” gumamnya. “Mereka sudah hidup ratusan tahun.”
Kakek Prawita kembali mengangguk pelan.
“Sulit mengalahkan mereka. Selama masih berada di tanah ini, mereka selalu mendapatkan kekuatan.”
Kecemasan menyelinap di antara Danan dan Cahyo.
Sepanjang perjalanan mereka, belum pernah keduanya merasa seketeter itu menghadapi makhluk gaib.
Danan memutar otak, mencoba membayangkan jika mereka harus berhadapan lagi.
“Watara sadar waktuku dan dirinya tidak akan panjang,” lanjut Kakek Prawita. “Ia memilih keluar dari pekuburan ini… untuk memburu mereka satu per satu.”
Kini Cahyo mengerti.
Mengapa Brangtalung memakan jasad-jasad warga desa itu.
Bukan kebiadaban. Melainkan pernyataan perang. Satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan untuk memusnahkan makhluk itu agar tidak kembali bangkit.
Penjelasan itu tidak serta-merta membuat hati mereka tenang.
Walau berada di tempat yang relatif aman, firasat buruk tetap menggantung di udara seperti kabut yang tak kunjung sirna.
Danan memandang tubuh Prawita dan Watara lebih saksama.
“Wujud kalian…” katanya pelan. “Kekuatan terkutuk itu yang mengubahnya?”
Kakek Prawita mengangguk.
“Tugas ini… mengorbankan kami. Tubuh kami berubah, tapi hati kami tidak.”
Ia terdiam sejenak.
“Hanya saja… kami tak lagi bisa memiliki keturunan.”
Angin berdesir pelan di antara nisan-nisan.
“Entah apa yang akan terjadi setelah kami tiada.”
Danan menatap Watara dengan perasaan berat.
Ia tak pernah membayangkan ada seseorang yang terjebak dalam tanggung jawab sekejam itu — menjaga sesuatu yang tak boleh disentuh, sambil perlahan kehilangan kemanusiaannya sendiri.
Belum sempat mereka menggali penjelasan lebih jauh, Watara tiba-tiba berdiri.
Wajahnya yang semula tenang kini dipenuhi kecemasan. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari.
“Heh! Mau ke mana?!” teriak Cahyo.
Watara tidak menjawab.
Refleks, Danan dan Cahyo langsung mengejarnya.
“Itu! Ke arah tanah keramat!” seru Kakek Prawita dari belakang.
Mereka menembus semak, menerobos hutan yang semakin rapat, hingga akhirnya tiba di sebuah tanah lapang yang ganjil.
Tak ada satu pun tumbuhan yang hidup di sana.
Tanahnya hitam legam. Tanah yang selalu basah seolah selalu menyimpan sesuatu yang kelam di bawahnya.
Danan merasakan getaran aneh menjalar dari telapak kakinya. Bukan sekadar firasat, ada sesuatu yang benar-benar terpendam di tempat itu.
Watara berhenti. Ia berdiri terpaku.. dan di hadapannya tergeletak sesuatu.
Sebuah kepala.
“I–itu…” suara Cahyo bergetar. “Itu perempuan yang memintaku menolong Watara… Dia mengaku adiknya…”
Ia mengenalinya tanpa ragu. Seketika air mata Watara jatuh.
Perlahan, dengan tangan gemetar, ia mengangkat kepala itu dan memeluknya erat.
Tetesan darah masih mengalir dari leher yang terputus.
“ARRRRRRGGHHHH!”
Jeritannya menggema di antara pepohonan.
Jeritan yang bukan sekadar duka. Melainkan amarah yang tertahan terlalu lama.
Di tengah tragedi itu, perhatian Danan tertarik pada sesuatu di tanah hitam.
Sebuah keris yang indah, terlalu indah untuk berada di tempat seperti ini.
Keris itu menancap di tengah tanah, dan dari bilahnya memancar energi yang terasa asing — berat, menekan.
Danan melangkah hendak mendekat.
Namun gerakan di kejauhan membuatnya membeku.
Dari balik pepohonan, sosok-sosok warga desa yang sebelumnya menyerang mereka kini telah berkumpul.
Mengepung.
“Sial… bagaimana mereka bisa sampai ke sini?!” Cahyo menoleh panik.
“Tidak mungkin…” gumam Kakek Prawita. “Tanah ini dilindungi pagar gaib. Seharusnya mereka tidak bisa mendekat…”
“Terima kasih sudah menjaganya untukku, Kek.”
Suara itu muncul dari balik bayangan.
Seorang pemuda berblangkon melangkah keluar.
Wajahnya ramah. Namun setiap langkahnya membawa tekanan yang membuat dada terasa sesak.
“Siapa kau?!” bentak Cahyo.
Pemuda itu tersenyum tipis.
“Aku tidak perlu menjawab orang yang sebentar lagi mati.”
Srat! Ia mencabut keris itu dari tanah.
Pada detik bilah logam itu terlepas, tanah bergetar. Kekuatan besar meledak.
Kabut hitam pekat berkumpul, menggulung, lalu membentuk sosok raksasa bermata merah menyala.
Tekanannya membuat napas Danan tercekat.
“A–apa itu?” bisiknya.
“Tidak mungkin!” seru Kakek Prawita. “Dia menarik kekuatan terkutuk itu!”
Watara meraung.
Ia berlari menerjang pemuda tersebut.
Namun hanya dengan satu tebasan—
Sosok hitam itu menyambar.
Tubuh Watara tersayat kekuatan gelap dan terpental jauh, jatuh tak berdaya.
“WANASURAAA!” Cahyo hendak maju.
Danan langsung menahan tubuhnya.
“Panjul! Tahan! Jangan gegabah!” bentaknya.
Ia tahu, satu langkah salah berarti mati sia-sia.
“Kita bawa mereka pergi dulu!”
Cahyo menatap Watara yang masih memeluk kepala perempuan itu bahkan dalam keadaan terjatuh.
Amarahnya mendidih. Namun ia tahu Danan benar.
“Sial…!”
Mereka bersiap mundur.
Namun sebelum benar-benar pergi, suara pemuda itu kembali terdengar.
“RADEN ARGOYO!” Ia mengangkat kerisnya tinggi.
“Akhirnya kudapatkan kekuatan untuk menghabisimu!!”
Kabut hitam bergolak lebih kuat.
“Sangkaratuh bukan lagi lawan Trah Brotoguno!!”
Danan dan Cahyo tidak menunggu lebih lama.
Mereka mengangkat tubuh Kakek Prawita dan Watara, lalu bergegas menjauh kembali ke arah gua.
“Enam kekuatan tanpa tanding… tersebar di berbagai tempat.”
“Ketika mereka menemukan tuannya… mereka akan mendapatkan wujudnya.”
Ia menutup mata sejenak.
“Dan saat semuanya terwujud… perang gaib akan pecah.”
“Bencana lama akan terulang.”
Langkah Danan melambat, Dadanya terasa berat. Di belakang mereka, getaran kekuatan masih terasa.
“Raden Argoyo.. Trah Brotoguno..” Gumam Cahyo. “Itu seperti nama-nama besar. Ini tidak akan mudah, Nan..”
Danan mengerti, namun ia sama sekali tidak bisa memikirkan jalan keluar apapun. Namun jika ucapan kakek Prawita benar, maka perseteruan antar trah-trah besar akan terjadi. Dan Geger trah, akan memakan korban yang tak terhitung.
***
(Bersambung Part 2)
terima kasih sudah membaca part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.
Buat temen-temen yang mau baca lanjutannya duluan bisa mampir ke @karyakarsa_id ya :
DOSA TAK TERBAYAR
Awan-awan hitam berkumpul tepat di atas pohon raksasa itu, besarnya melampaui apa yang bisa bayangkan manusia. Petir menyambar berulang kali, tetapi tak setetes pun hujan jatuh ke tanah di sekitarnya, seolah langit sendiri menolak menyentuh tempat itu.
“Dirga! Lepaskan kerismu!” teriak Abah, memaksa dirinya mendekat.
Namun ledakan kekuatan hitam yang memancar dari Keris Dasasukma menghantamnya. Abah terpental mundur, dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasatmata.
“Aku…” suara Dirga terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri. “Aku harus mendapatkan kekuatan ini!”
Tanah bergetar lebih keras.
Retakan menjalar dari batang pohon, menyebar ke tanah seperti urat-urat luka yang terbuka. Akar-akar kering bergeliat pelan, seakan hidup kembali.
Abah tak mau menyerah. Ia melangkah maju lagi, memaksakan diri menembus tekanan itu. Bibirnya tak henti melafalkan doa, satu-satunya senjata yang ia miliki.
Namun tepat saat kekacauan mencapai puncaknya, cahaya putih muncul di hadapannya.
Sosok itu samar, menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya bersinar lembut. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Abah berhenti.
“Tenang… segel itu mengenalinya.”
Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan.
Entah mengapa, Abah mempercayainya. Meski hatinya masih bergejolak melihat Dirga berdiri di pusat badai kekuatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Beberapa saat kemudian, kekuatan hitam itu mulai meredup.
Awan-awan hitam tercerai. Petir berhenti. Getaran tanah perlahan mereda.
“Sudah selesai,” ucap sosok cahaya itu pelan, lalu lenyap, seolah tak pernah ada.
Abah segera berlari menghampiri Dirga.
Anaknya berdiri gemetar, tangannya masih menggenggam Keris Dasasukma. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang baru.
“Aku mendapatkannya…” bisiknya.
“Apa maksudmu? Apa yang kau dapatkan? Jangan gegabah, Nak…” suara Abah dipenuhi kecemasan.
Dirga menelan napas.
“Kaki…”
Abah terdiam, tak mengerti.
“Itulah wujud asli kekuatan ini,” lanjut Dirga lirih.
“Bagian tubuh dari makhluk terkutuk… yang selama ini disegel di bawah pohon ini.”
Ia memandang keris di tangannya.
“Segel itu mengenaliku. Ia mengenali Keris Dasasukma. Ia tahu tempat ini sudah tidak aman… ada sesuatu yang mencarinya.”
Dirga mengangkat keris itu perlahan.
“Jadi segel itu berpindah. Ia menjadikan keris ini… kurungan barunya.”
Angin malam berembus dingin melewati mereka.
“Abah… kita harus pergi. Sekarang. Tempat ini sudah tidak aman.”
Abah mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga mengangkat jasad pria misterius itu ke pundaknya. Mereka meninggalkan pohon Caruluk, meninggalkan tempat yang kini terasa seperti jantung dari kegelapan itu sendiri.
Namun belum jauh mereka berjalan, Dirga berhenti.
Di kejauhan, bayangan-bayangan samar tampak melayang menuju pohon itu. Bentuknya tak utuh.
Seperti kabut yang hidup. Roh-roh pengintai, tertarik pada sesuatu yang kini sudah tak lagi berada di sana.
Dirga mempercepat langkahnya.
Mereka harus pergi sebelum sesuatu menyadari ke mana segel itu berpindah.
…
Tegar dan Wiru tahu, sejak tatapan pertama mereka bertemu dengan perempuan itu, bahwa ia bukan sekadar penunggu sunyi atau arwah penasaran yang tersesat.
Ada sesuatu yang jauh lebih tuabersemayam di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, lebih lembap, seolah hutan itu sendiri menahan napas.
Ular-ular yang mengerubungi bangunan misterius itu tidak bergerak liar. Mereka patuh. Terkendali. Setiap desisnya seperti aba-aba tak terdengar yang hanya dimengerti oleh satu sosok perempuan berambut panjang yang berdiri tanpa goyah di hadapan mereka.
“Tegar,” bisik Wiru, suaranya tak lagi setegas biasanya.
“Aku akan menahan ular-ular ini. Kau pergi cari pertolongan.”
Kalimat itu terdengar gagah, tetapi jemari Wiru gemetar di gagang kerisnya. Ia tahu betul, ia tak sedang menghadapi sekadar makhluk jadi-jadian.
“Jangan gegabah,” Tegar membalas, matanya tak lepas dari perempuan itu. “Kita tak tahu apa maksudnya.”
Rasa cemas merambat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah perlahan, tapi pasti. Tekanan tak kasatmata menekan dada mereka. Lutut terasa berat. Bahkan untuk menarik napas pun butuh upaya.
Perempuan itu melangkah setapak. Tanah tak berderak. Ular-ular di sekelilingnya justru merunduk, seolah memberi jalan bagi ratunya.
“Sekali lagi kutanya,” suaranya lirih, tetapi menggema di kepala mereka. “Siapa yang mengirim kalian?”
Tegar menelan ludah. Ia tak bisa sembarang menyebut Ajik Wayan. Tak bisa menyebut Bli Waja. Nama adalah pintu, dan ia tak ingin membuka pintu yang salah di hadapan makhluk seperti ini.
“Pemakan roh,” jawabnya akhirnya, spontan namun terukur. “Makhluk itu membuat kekacauan di tempat kami. Petunjuk yang kami dapat mengarah ke sini. Kami mencari inangnya. Kami harus menghentikannya.”
Hening.
Lalu… Srakk!
Tekanan yang membelenggu tubuh mereka mendadak lenyap. Lutut Tegar hampir tertekuk karena perubahan mendadak itu. Wiru terengah, seperti baru saja dilepaskan dari cekikan tak terlihat.
Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit, seolah mendengarkan sesuatu dari dalam tanah.
“Dia memang di sini,” katanya pelan. “Tersegel di bawah tanah ini. Tapi…”
Kalimat itu tak pernah selesai.
Bayangan raksasa menjulang di belakang mereka. Tanah bergetar halus. Bau amis menyengat. Ketika Tegar dan Wiru menoleh, yang mereka lihat hanyalah rahang menganga, sisik hitam berkilau diterpa cahaya bulan, dan dua mata kuning yang memantulkan bayangan mereka dengan jelas.
“Kalian tidak boleh ada di sini.”
Slaaaabbbbb!
Gelap.
Tubuh mereka terhantam sesuatu yang basah dan hangat. Ruang menyempit. Dinding lunak berdenyut di sekeliling mereka. Bau anyir menusuk hidung. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Tegar tak bisa membedakan atas dan bawah.
“Kita… dimakan?” suara Wiru terdengar serak di kegelapan.
Tegar mencoba menggerakkan tangan, ia bisa. Ia masih bisa bernapas. Udara terasa tipis, tapi ada. Perlahan, mata mereka menyesuaikan diri. Dinding yang semula tampak pekat kini seperti membran tipis tembus cahaya.
Mereka bisa melihat siluet luar, pepohonan, tanah, dan sosok perempuan itu yang masih berdiri tak bergerak.
Ular besar itu bergerak cepat, melesat ke balik pohon beringin tua. Tubuh raksasanya melingkar, menyamarkan diri di antara akar dan bayangan.
Dari balik tubuh makhluk itu, Tegar dan Wiru menyaksikan perempuan penjaga itu tetap menanti.
Dan tak lama kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan hutan.
Seorang pria dan wanita berjalan berdampingan. Busana mereka seperti keluar dari halaman sejarah, pakaian keraton dengan lipatan rapi, keris terselip di pinggang, pusaka menggantung di dada.
Langkah mereka mantap, tanpa ragu, seolah tempat itu bukan ancaman melainkan wilayah yang telah lama mereka kenal.
Namun yang membuat darah Tegar terasa membeku adalah sosok yang melayang di belakang mereka.
Roh perempuan berkebaya pengantin Jawa berwarna hitam. Wajahnya pucat, matanya kosong namun tajam. Sosok yang pernah dipanggil Wiru di kediaman Mbah Wage. Ingon.
Trah Wagiatma.
Tegar refleks menoleh ke arah Wiru—lalu membeku. Di sampingnya bukan lagi sosok sahabatnya, melainkan tubuh ular besar yang sama, meringkuk dan mengawasi. Kesadaran itu menghantamnya, mereka tak lagi berada di tubuh sendiri. Mereka tengah “dititipkan”.
“Jadi,” ucap pria itu tenang, “kau sudah menanti kedatangan kami?”
“Bukan aku,” jawab sang penjaga, matanya menyala redup. “Tapi ular-ularku.”
Desisan memenuhi udara.
Dari segala penjuru, ratusan ular berbisa meluncur keluar. Hitam. Hijau. Cokelat tanah. Mereka bergerak serempak, seperti ombak hidup yang menerjang pantai.
Dalam sekejap, tubuh pria dan wanita itu tertutup sepenuhnya. Tak terlihat lagi kain, wajah, atau pusaka. Hanya gumpalan sisik dan lilitan yang bergerak liar. Suara gigitan terdengar beruntun—cepat, rakus, mematikan.
Tegar memejamkan mata. Tak ada manusia yang bisa bertahan dari itu.
Tegar kembali lagi ke Pulau Dewata demi janjinya pada Bli Waja. Namun memulihkan Bli Waja tak semudah itu. Para pemakan ROH, mengincar wujud sukma Bli Waja..
Aroma dupa langsung menyambut Tegar begitu ia menjejakkan kaki dari bus yang membawanya menyeberang pulau.
Ia berhenti sejenak.
Di sisi jalan, sebuah pura berdiri tak jauh dari rumah-rumah warga. Payung hitam-putih berkibar pelan tertiup angin. Di beberapa sudut persimpangan, tersaji anyaman daun kecil berisi bunga dan dupa yang masih mengepulkan asap tipis, canang sari, sesuatu yang jarang ia lihat di kampung halamannya.
Pulau Dewata terasa berbeda.
Lebih tenang… namun sekaligus menyimpan sesuatu yang tak terucap.
“Makan dulu?” tanya Wiru yang baru saja menurunkan barang-barang dari bagasi.
Tegar mengangguk pelan, lalu merogoh kantong celananya, menghitung recehan yang tersisa.
“Cari yang murah pokoknya. Katanya makan di sini mahal-mahal.”
Wiru mendesah kecil. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyelipkannya begitu saja ke saku Tegar.
“Nggak usah ngirit. Pak Lukman sudah pesan, semua kebutuhanmu di sini ditanggung. Aku cuma disuruh memastikan kamu aman.”
“Yo ndak bisa gitu, Wir. Sudah dibeliin tiket pulang-pergi aja itu sudah banyak.”
Wiru tertawa ringan. Ia merangkul bahu Tegar dan menunjuk sebuah rumah makan yang cukup ramai. Di atasnya terpampang tulisan besar: Nasi Pedas.
“Sudah, Gar. Ngiritnya nanti kalau sudah pulang ke Jawa. Di sini waktunya menikmati hidup.”
Etalase warung itu penuh lauk berwarna merah menyala. Uap panas bercampur aroma cabai membuat perut Tegar langsung bereaksi.
“Cukup duitnya?” tanyanya masih ragu.
“Mau beli warungnya juga cukup,” jawab Wiru santai. Memang, Pak Lukman menitipkan uang yang tak sedikit padanya.
Tegar tersenyum tipis.
“Asal ada sambal, aku aman.”
Kali ini ia yang berjalan lebih dulu menuju warung.
Sesuai janji, Pak Lukman memfasilitasi perjalanan Tegar ke Bali. Awalnya ia ingin datang sendiri. Namun tak lama kemudian, Wiru mendapat kabar bahwa beberapa petinggi keluarga Wagiatma juga berada di pulau ini.
Kerabat Wiru di Bali menemukan sebuah lokasi keramat berdasarkan berkas tua peninggalan keluarga Adikhara—sebuah tempat yang selama ini disembunyikan dari pengetahuan umum.
Di tengah hutan, terdapat patung tua yang dijaga ratusan ular.
Temuan itu, tanpa mengetahui bahwa hubungan keluarga Wiru dan Wagiatma telah lama terputus, justru disampaikan kepada pihak Wagiatma.
Karena itulah Wiru datang.
Ia harus memastikan sendiri tempat yang tertulis dalam warisan leluhurnya itu.
Tempat yang seharusnya tetap tersembunyi.
“Urusanmu di sini apa, Gar?” tanya Wiru setelah menghabiskan makanannya dan menyeruput teh panas.
Tegar masih mengunyah perlahan. Ia menelan, lalu menatap meja beberapa detik sebelum bicara.
“Kamu percaya ada manusia bisa jadi batu?”
Wiru mengangkat alis.
“Setelah semua kejadian kemarin? Aku rasa… mungkin saja.”
Tegar menarik napas dalam.
“Temanku melanggar aturan semesta. Sekarang tubuhnya… jadi batu.”
Wiru terdiam.
“Kamu bercanda?”
“Bercanda atau tidak, nanti kamu akan lihat sendiri.”
Nada suara Tegar tidak mengandung gurauan sedikit pun.
Untuk pertama kalinya, Wiru menyadari—mungkin selama ini ia belum benar-benar tahu apa saja yang sudah dihadapi sahabatnya itu.
Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah khas Bali dengan gapura terbelah di pintu masuknya. Beberapa pria menyambut dengan pakaian adat, kain dan udeng terikat rapi di kepala.
Begitu turun dari kendaraan, Tegar langsung menunduk hormat.
“Maaf, Bli… saya baru bisa datang lagi.”
Salah satu pria yang terikat dengan Bli Waja tersenyum lembut.
“Kami paham, Tegar. Jangan pernah merasa bersalah. Ini bukan tanggung jawabmu.”
Tegar menahan napas.
“Kalau saja aku lebih kuat… mungkin aku bisa menyelamatkan Bli Waja.”
Pandangan matanya beralih ke sebuah bangunan kecil di sudut pekarangan. Ukurannya tak lebih besar dari kamar. Beberapa orang berjaga di depannya.
Sunyi.
Terasa berat.
“Masuklah,” ucap pria itu pelan. “Kau sudah dinanti.”
Tegar mengangguk.
Ia melangkah pelan bersama Wiru, berpamitan sebelum memasuki bangunan khusus itu.Di sanalah tubuh batu Bli Waja disimpan dan dijaga.
Menunggu sesuatu… atau seseorang… untuk mematahkan hukum yang telah mengubahnya menjadi abadi dalam diam.
Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.
Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.
“Tak kusangka kalian bisa sampai secepat ini, Hahahaha..” Suara tawa Dewi Mretya menggema di tempat itu.
Sosok itu hanya duduk di sebuah tahta singgasana di sebuah batu yang tidak jauh dari pohon Jagatsukma itu.
Sementara itu Guntur dan yang lain masih bingung bagaimana tempat yang tak dimasuki cahaya matahari itu terasa seperti di siang hari.
Danan dan Cahyo maju mendekat. Simbol Mretya di matanya pun menyala. Jagad, Panji, dan Dirga menyusulnya. Merekalah pengemban simbol bencana itu.
“Kita tuntaskan urusan kita..” Ucap Danan.
Belum sempat mereka melangkah, sosok hitam legam itu tiba-tiba sudah berada diantara mereka.
“Tunjukkan bahwa kalian pantas…”
Brughh! Brugh! Brugh!!
Mereka bertiga berjatuhan. Keberadaan Sosok Dewi Mretya seolah melipatgandakan gravitasi di sekitar mereka hingga mereka kesulitan untuk berdiri.
“Ayo.. Wanasura!” Bisik Cahyo yang menggunakan kekuatan Wanasura untuk melawan tekanan itu. Ia melompat bersiap menghantam Wajah hitam Dewi Mretya itu, namun sosok itu melesat begitu saja bagai angin yang tak tersentuh.
Walau begitu, Roh danan sudah memisahkan dirinya dari raganya yang terkapar, ia menghadang Dewi Mretya dan menghujamkan keris Ragasukma tepat di hadapan wajahnya.
“Tidak buruk..” Lagi-lagi serangan itu tidak mengenai Dewi Mretya. Sosoknya bagai angin yang berhembus diantara mereka.
“Belum!” Kali ini Kabut putih jagad muncul di hadapan dewi mretya, Ajian watugeni menyala dan melesat dari kabut itu ke arah Dewi mretya.
Saat itu Dewi Mretya hanya menertawakan kekuatan yang meledak di telapak tangannya itu. “Hanya ini?”. Tapi Jagad tersenyum kecil.
Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa.
Ingatan masa lalu yang kembali kepada Jagad membuatnya tak mampu berkata-kata. Ia tak pernah menyangka bahwa ayahnya melakukan sebuah ritual yang bahkan menjerumuskan warga desa. Orang-orang yang dulu ia sayangi, harus mati karena perbuatan orang tuanya.
”Mas Jagad, bukan aku yang seharusnya menghentikan mereka. Kalau bukan Mas Jagad sendiri yang menghadapi mereka, semua takkan benar-benar selesai,” Ucap Dirga berdiri membelakangi Jagad.
”Aku akan menghapi mereka, Sampai Mas Jagad kembali siap..”
Dirga mengencangkan perban yang menutupi luka-luka sisa pertarungan sebelumnya. Ia memecah keris Dasasukma, meletakkan salah satunya di hadapan Jagad. dua keris melayang, dan satu keris di tangannya.
”Pusaka Darmawijaya…” Geram Putri Lindri.
”Khekehe… takkan ada artinya di tangan anak kecil bodoh sepertinya!” Tambah Mbah Dugo.
Sraat!Keris itu melayang menyerang Mbah Dugo yang segera menghindari keris yang melayang tepat di sebelah wajahnya.
”Bocah Kurang ajar!!” Makhluk dua tubuh itu melangkah dengan aneh dengan suara komat-kamit dari mulut Mbah Dugo. Tak berapa lama, bau busuk semakin menyengat dan tangan-tangan hitam muncul dari ketiadaan mengincar Dirga.
Dirga tidak diam, ia membaca sebuah ajian hingga kerisnya menyala dan menebas satu persatu tangan gaib yang muncul dari mantra Mbah Dugo.
”Ternyata kau bisa bertarung,” ucap Dewi Kunir yang tiba-tiba muncul di dekat Dirga.
Deg!Seketika dirga merasa cemas. Tubuhnya kaku saat menyadari makhluk dengan dua wajah itu ada di dekatnya. Dirga Melompat menjauh tanpa tahu apa yang akan diperbuat sosok itu, namun jelas ia sadar Makhluk itu berbahaya.
”Kenapa kamu takut, nak? Aku belum melakukan apapun..” ucap Dewi Kunir.
Dirga menggerakkan tangannya hingga satu keris dasasukma yang melayang mengincar Dewi Kunir, namun sosok itu menghindarinya dengan tenang.
”Kau tak berpikir bisa mengalahkanku dengan ilmu seperti lalat ini, Kan?” Ucap Dewi Kunir.
Putri Lindri tak bergerak sama sekali. Ia tetap mengawasi Jagad, menikmati rasa putus asanya seolah menanti saatnya yang tepat untuk bergerak.
Di tengah mertarungan sengit itu, Dewi Kunir menggerakkan tangannya, dan…
Dug!Suara Lesung terdengar.. Saat itu tiba-tiba Dirga memuntahkan darah. Sesuatu yang menyakitkan seperti menghantam tubuhnya dari dalam.
”Sial!” Dirga menyadari waktunya tak banyak. Ia melesat ke Arah Dewi Kunir dan menghujamkan kerisnya.
Srat! Srat!!
Serangan Dirga mengenai tubuh Dewi kunir, sialnya wujud itu segera menghilang dan muncul di hadapannya.
“Hihi.. anak kecil bukan waktunya bermain-ma…” Jleb!!
Dua buah keris melayang menghujam punggung Dewi Kunir. Kali ini ia tidak menghilang, dua pecahan keris dasasukma itu dilapisi bilah cahaya merah.
”Bocah kurang ajar!” Dewi Kunir geram, namun tusukkan keris itu tidak cukup dalam untuk melumpuhkannya. Ia pun mengangkat tangannya sekali lagi, dan suara lesung kembali terdengar.
Dug!Dirga kembali terjatuh. Darah kembali keluar dari tubuhnya. Mbah Dugo memanfaatkan momen itu dengan membanting tubuhnya ke Dirga. Tangan-tangan hitam bermunculan mencengkeram tubuh Dirga.
”Khekhekeh! Waktu main sudah selesai!”
Dug! Dug!Suara lesung kembali terdengar, Dewi Kunir mengangkat tangannya sambil menari nari mengikuti irama lesung itu.
Rasa sakit menghantam tubuh Dirga, ia membaca ayat-ayat suci untuk melindungi dirinya dari serangan-serangan gaib yang menghantamnya.
“Habisi!” Satu kata dari Nyai Lindri jatuh layaknya sebuah penghakiman.
Begitu perintah itu meluncur, Mbah Dugo langsung menangkupkan kedua telapak tangannya. Bibirnya bergerak cepat melafalkan mantra tua, mantra yang sudah lama tak diperdengarkan pada dunia manusia.
DUG… DUG… DUG…
Suara lesung terdengar, berat dan berirama, seolah ada sesuatu yang ditumbuk di perut bumi.
Semakin lama, semakin cepat.
Dari tanah, dari udara, dari bayangan
tangan-tangan hitam muncul dan merayap ke tubuh Dirga.
Mereka mencengkeram lengan, dada, leher, dan kaki. Kekuatan itu menekan dari segala arah.
“Sa… sa—sakit…” Dirga memuntahkan darah. Dadanya terasa seperti diremas dari dalam.
Bukan sekadar rasa sakit, melainkan tekanan yang menunggu detik terakhir untuk meledak.
Setiap tumbukan lesung terasa seperti hitungan mundur menuju kematian.
Dirga tahu… tubuhnya tak akan sanggup menerima pukulan terakhir itu.
Dengan sisa tenaga, ia menoleh ke arah Jagad.
“Mas Jagad…” Suaranya serak, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh.
“Apa pun yang terjadi setelah ini… bangkitlah.”
Jagad mengangkat kepala. Yang ia lihat bukan lagi sahabatnya yang ceroboh dan selalu bercanda, melainkan tubuh penuh luka, darah menetes dari mulut Dirga, matanya mulai kehilangan pandangan.
“Aku tahu Mas Jagad mampu menghadapi mereka…”
Dirga tersenyum tipis…senyum paling berat yang pernah ia berikan. “Pastikan… kematianku… bukan kekalahan.”