Tegar kembali lagi ke Pulau Dewata demi janjinya pada Bli Waja. Namun memulihkan Bli Waja tak semudah itu. Para pemakan ROH, mengincar wujud sukma Bli Waja..
Aroma dupa langsung menyambut Tegar begitu ia menjejakkan kaki dari bus yang membawanya menyeberang pulau.
Ia berhenti sejenak.
Di sisi jalan, sebuah pura berdiri tak jauh dari rumah-rumah warga. Payung hitam-putih berkibar pelan tertiup angin. Di beberapa sudut persimpangan, tersaji anyaman daun kecil berisi bunga dan dupa yang masih mengepulkan asap tipis, canang sari, sesuatu yang jarang ia lihat di kampung halamannya.
Pulau Dewata terasa berbeda.
Lebih tenang… namun sekaligus menyimpan sesuatu yang tak terucap.
“Makan dulu?” tanya Wiru yang baru saja menurunkan barang-barang dari bagasi.
Tegar mengangguk pelan, lalu merogoh kantong celananya, menghitung recehan yang tersisa.
“Cari yang murah pokoknya. Katanya makan di sini mahal-mahal.”
Wiru mendesah kecil. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyelipkannya begitu saja ke saku Tegar.
“Nggak usah ngirit. Pak Lukman sudah pesan, semua kebutuhanmu di sini ditanggung. Aku cuma disuruh memastikan kamu aman.”
“Yo ndak bisa gitu, Wir. Sudah dibeliin tiket pulang-pergi aja itu sudah banyak.”
Wiru tertawa ringan. Ia merangkul bahu Tegar dan menunjuk sebuah rumah makan yang cukup ramai. Di atasnya terpampang tulisan besar: Nasi Pedas.
“Sudah, Gar. Ngiritnya nanti kalau sudah pulang ke Jawa. Di sini waktunya menikmati hidup.”
Etalase warung itu penuh lauk berwarna merah menyala. Uap panas bercampur aroma cabai membuat perut Tegar langsung bereaksi.
“Cukup duitnya?” tanyanya masih ragu.
“Mau beli warungnya juga cukup,” jawab Wiru santai. Memang, Pak Lukman menitipkan uang yang tak sedikit padanya.
Tegar tersenyum tipis.
“Asal ada sambal, aku aman.”
Kali ini ia yang berjalan lebih dulu menuju warung.
Sesuai janji, Pak Lukman memfasilitasi perjalanan Tegar ke Bali. Awalnya ia ingin datang sendiri. Namun tak lama kemudian, Wiru mendapat kabar bahwa beberapa petinggi keluarga Wagiatma juga berada di pulau ini.
Kerabat Wiru di Bali menemukan sebuah lokasi keramat berdasarkan berkas tua peninggalan keluarga Adikhara—sebuah tempat yang selama ini disembunyikan dari pengetahuan umum.
Di tengah hutan, terdapat patung tua yang dijaga ratusan ular.
Temuan itu, tanpa mengetahui bahwa hubungan keluarga Wiru dan Wagiatma telah lama terputus, justru disampaikan kepada pihak Wagiatma.
Karena itulah Wiru datang.
Ia harus memastikan sendiri tempat yang tertulis dalam warisan leluhurnya itu.
Tempat yang seharusnya tetap tersembunyi.
“Urusanmu di sini apa, Gar?” tanya Wiru setelah menghabiskan makanannya dan menyeruput teh panas.
Tegar masih mengunyah perlahan. Ia menelan, lalu menatap meja beberapa detik sebelum bicara.
“Kamu percaya ada manusia bisa jadi batu?”
Wiru mengangkat alis.
“Setelah semua kejadian kemarin? Aku rasa… mungkin saja.”
Tegar menarik napas dalam.
“Temanku melanggar aturan semesta. Sekarang tubuhnya… jadi batu.”
Wiru terdiam.
“Kamu bercanda?”
“Bercanda atau tidak, nanti kamu akan lihat sendiri.”
Nada suara Tegar tidak mengandung gurauan sedikit pun.
Untuk pertama kalinya, Wiru menyadari—mungkin selama ini ia belum benar-benar tahu apa saja yang sudah dihadapi sahabatnya itu.
Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah khas Bali dengan gapura terbelah di pintu masuknya. Beberapa pria menyambut dengan pakaian adat, kain dan udeng terikat rapi di kepala.
Begitu turun dari kendaraan, Tegar langsung menunduk hormat.
“Maaf, Bli… saya baru bisa datang lagi.”
Salah satu pria yang terikat dengan Bli Waja tersenyum lembut.
“Kami paham, Tegar. Jangan pernah merasa bersalah. Ini bukan tanggung jawabmu.”
Tegar menahan napas.
“Kalau saja aku lebih kuat… mungkin aku bisa menyelamatkan Bli Waja.”
Pandangan matanya beralih ke sebuah bangunan kecil di sudut pekarangan. Ukurannya tak lebih besar dari kamar. Beberapa orang berjaga di depannya.
Sunyi.
Terasa berat.
“Masuklah,” ucap pria itu pelan. “Kau sudah dinanti.”
Tegar mengangguk.
Ia melangkah pelan bersama Wiru, berpamitan sebelum memasuki bangunan khusus itu.Di sanalah tubuh batu Bli Waja disimpan dan dijaga.
Menunggu sesuatu… atau seseorang… untuk mematahkan hukum yang telah mengubahnya menjadi abadi dalam diam.
***
RAGA API
Begitu pintu kayu itu terbuka, hawa dingin langsung menyambut mereka.
Di tengah ruangan berdiri sebuah ranjang batu. Di atasnya terbaring tubuh Bli Waja kaku, membatu sepenuhnya. Di sisi kepalanya menjulang patung Dewi Durga, berdiri tegak seolah menjadi penjaga abadi.
“Jadi… beliau yang kau maksud?” tanya Wiru pelan.
Tegar mengangguk.
Raut wajahnya berubah serius. Ada rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang setiap kali ia melihat tubuh itu.
“Kalau kau bilang ini patung, mungkin aku akan percaya,” gumam Wiru. “Tapi… ada sesuatu yang berbeda. Seolah ada kehidupan yang tersembunyi di dalamnya.”
Tegar tak menjawab. Ia mengambil sebuah kuas kecil dan mulai meracik campuran rempah berwarna pekat dalam mangkuk tanah liat. Aroma getir langsung memenuhi ruangan.
Dengan hati-hati, ia mulai merajah tubuh batu itu dengan aksara-aksara tua.
“Dulu,” ucapnya perlahan sambil tetap bekerja,
“pernah terjadi bencana besar di salah satu desa di pulau ini. Bencana yang menjadi akar dari tragedi mematikan.”
Wiru mendengarkan.
“Ada makhluk bernama Triyamuka Kala. Raksasa berkepala tiga. Kekuatannya tak bisa dihentikan.”
Kuas terus bergerak, membentuk pola rumit di dada dan lengan Bli Waja.
“Untuk menyelamatkan banyak nyawa, Bli Waja melanggar hal tabu. Ia menggunakan ilmu terlarang—mengirim beberapa orang melintasi waktu untuk menemukan kelemahan makhluk itu.”
Wiru terdiam.
“Kami berhasil,” lanjut Tegar pelan. “Tapi semesta menagih harganya. Tubuhnya membatu. Sebelum daya hidupnya benar-benar lenyap, aku menahan jiwanya dengan ilmu yang kuingat dari leluhurku.”
Wiru mengerutkan kening.
“Melintasi waktu? Ilmu seperti itu benar-benar ada?”
Tegar tersenyum tipis.
“Aku pun tak menyangka. Tapi semakin luas dunia yang kulihat… semakin kusadari, di atas langit masih ada semesta yang tak terbatas. Ada makhluk yang tak bisa kita bayangkan. Dan ada manusia dengan kesaktian yang tak masuk akal.”
“Seperti Raden Argoyo?” tebak Wiru.
“Benar.”
Tegar berhenti berbicara. Ia menutup matanya dan mulai membaca mantra.
Aksara yang ia rajah perlahan berpendar. Cahaya tipis mengalir dari ujung kaki, tangan, dan kepala menuju jantung batu Bli Waja.
Sejenak ruangan terasa hidup.
Lalu…Sunyi.
Tak terjadi apa-apa.
Tegar membuka mata, sedikit kecewa, namun tak terkejut. Ia tahu ini tidak akan mudah.
“Gar… itu?” bisik Wiru.
Di tengah patung Dewi Durga, tiba-tiba muncul api kecil—sebesar genggaman tangan. Api itu melayang tenang, berwarna keemasan pucat. Bukan api biasa. Ia tak memancarkan panas, namun terasa hidup.
“Lama tak berjumpa, Tegar.”
Suara itu datang dari dalam api.
“Bli Waja?” Tegar mendekat.
Api itu melayang turun, berhenti di hadapan mereka.
“Mantra yang hebat. Kau sudah berusaha keras,” ucap roh itu lembut.
“Tetap saja aku belum bisa memulihkanmu…”
“Kita sama-sama tahu ini tidak akan mudah.”
Tegar memperkenalkan Wiru. Api itu bergerak pelan mendekati wajah Wiru.
“Kau memiliki darah keluarga yang tak biasa,” ucapnya.
Wiru tersenyum tipis. “Rupanya Bli juga tahu. Tapi itu tak berarti apa-apa.”
“Setiap garis keturunan memikul takdirnya sendiri. Tapi—”
Tiba-tiba hawa ruangan berubah.
Tanah di sudut ruangan bergetar pelan.
Sosok mengerikan muncul dari bawah lantai—wajahnya hancur, tubuhnya hanya setengah, melayang dengan gerakan patah-patah. Ia melesat langsung menuju api roh Bli Waja.
Tegar bergerak cepat. Ia melempar segenggam abu berwarna kelabu ke arah makhluk itu.
Makhluk itu menjerit.
“Apa itu?!” Wiru tersentak, namun ia juga sigap. Ia menarik kain hitam dari tasnya—kain dengan simbol Adikhara dan mantra terukir di atasnya.
Ia mengibaskan kain itu, menutup tubuh makhluk tersebut.
Dalam sekejap, api menyala.
Jeritan panjang menggema sebelum sosok itu hangus tak bersisa.
Sunyi kembali turun.
“Pemakan roh…” ucap Bli Waja pelan.
Wiru dan Tegar saling berpandangan.
“Mereka mengincar roh yang lemah. Karena itu aku menyembunyikan wujudku. Api ini… hanya bentuk sementara.”
“Mereka makhluk apa, Bli?” tanya Tegar.
“Aku belum tahu. Kekuatan mereka asing. Tapi sebelum mereka muncul, ada pergolakan di arah utara pulau. Sebuah tempat keramat ditemukan… dijaga oleh orang-orang tertentu.”
“Utara…” gumam Wiru pelan. Wajahnya mulai cemas.
Bli Waja melanjutkan, “Sumber kekuatan pemakan roh itu berasal dari sana. Inangnya berada di tempat itu.”
Wiru menelan ludah.
“Kerabatku menemukan tempat seperti itu… Patung yang dijaga ratusan ular di tengah hutan.”
“Lagi-lagi dosa masa lalu yang belum tuntas,” gumam Bli Waja.
Ia menoleh pada Tegar.
“Pergilah ke sana. Jika ada yang bisa menyegel tempat itu kembali… mungkin hanya kau.”
“Tujuanku ke sini untuk memulihkanmu, Bli.”
“Aku masih bisa menunggu. Dan mungkin di sana kau menemukan sesuatu yang bisa menolongku.”
Tegar menatap Wiru. Sahabatnya itu tersenyum kecil, antara gugup dan bersemangat.
“Kalau ada yang bisa membantumu, apa itu?” tanya Wiru. “Pusaka? Ilmu?”
“Kutukan dewata hanya bisa dipulihkan oleh kekuatan dewata. Aku pernah mendengar tentang Sotyarakta… perwujudan darah para dewa.”
“Seperti dongeng?” gumam Wiru.
“Aku tak tahu wujudnya. Benda, pusaka, atau ilmu. Bahkan bisa mendapatkan petunjuknya saja sudah cukup.”
Tegar menarik napas panjang.
“Wiru. Aku ikut denganmu.”
Wiru mengangguk.
Tiba-tiba api roh Bli Waja bergetar. Percikan kecil terlepas dan melesat, mendarat tepat di dahi Tegar dan Wiru.
Sesaat nyala api menyala di kening mereka—lalu meresap masuk.
“Aku tak cukup kuat membantu kalian,” ujar Bli Waja. “Tapi tanda itu akan membuat mereka yang mengenalku membantu kalian.”
Tegar dan Wiru menyentuh dahi mereka. Tak terasa apa pun. Namun mereka tahu, sesuatu kini terukir di sana.
Api itu perlahan melayang kembali ke tengah patung Dewi Durga.
“Jangan memaksakan diri…” suara Bli Waja memudar.
Nyala api mengecil.
Semakin kecil.
Hingga akhirnya menghilang.
Bli Waja kembali bersembunyi, menahan keberadaannya dari makhluk-makhluk yang berkeliaran di antara batas hidup dan mati...
Para Pemakan Roh.
***
TAK DISANA…
Perjalanan Tegar dan Wiru membawa mereka menembus jalur perbukitan yang berkelok, menuju sebuah desa adat yang tersembunyi di balik lipatan tanah Bali bagian utara. Jalanan sempit itu hanya diterangi sisa cahaya senja yang menggantung malu-malu di cakrawala.
“Benar ini tempatnya?” tanya Tegar untuk kesekian kali, matanya menyapu hamparan bukit yang serupa satu sama lain.
“Benar, Gar. Sesuai peta yang kubawa,” jawab Wiru mantap, meski tangannya sendiri mulai ragu saat membuka kembali gulungan peta tua itu.
“Dari tadi kamu bilang benar. Tapi kita malah sudah salah masuk lima desa.”
Wiru berdeham kecil. “Salah itu wajar, Gar. Yang penting kita terus mencoba.” Ucapannya terdengar bijak, meski senyumnya terlalu dipaksakan.
Tegar menghela napas panjang. “Kalau terus mencoba berarti terus tersesat, kamu jalan sendiri saja. Sudah malam. Aku ngantuk.”
“Eh! Nggak! Kali ini bener. Aku yakin.”
Yakin yang lahir dari keputusasaan, bukan kepastian.
Mereka melanjutkan langkah.
Desa itu akhirnya muncul di hadapan mereka, rumah-rumah tradisional berdinding bata merah dan kayu tua berdiri berjauhan satu sama lain. Di antara halaman-halaman itu terbentang sawah yang hampir menguning, batang padi mengangguk pelan diterpa angin sore yang mulai dingin.
Langit perlahan berubah warna. Jingga pudar menjadi keunguan, lalu merambat menjadi biru tua yang sunyi.
Dan saat kaki mereka benar-benar memasuki gerbang desa, sesuatu terasa ganjil.
Tidak ada suara.
Tidak ada gong dari pura keluarga.
Tidak ada anjing menggonggong. Tidak ada asap dapur yang mengepul.
Hanya suara angin yang menyentuh dedaunan bambu.
Wiru memperlambat langkahnya. “Harusnya… jam segini masih ada orang.”
Tegar mengangguk pelan. Instingnya mulai waspada. Ia memperhatikan jejak di tanah, bekas roda gerobak yang masih relatif baru, namun tak terlihat aktivitas lain.
Mereka menyusuri jalan tanah itu dengan hati-hati. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Beberapa bahkan diganjal dari luar, seolah ditinggalkan tergesa.
“Ini bukan desa yang sedang tidur,” gumam Tegar pelan. “Ini desa yang ditinggalkan.”
Ucapan itu membuat dada Wiru terasa berat. Ia sadar, tidak ada yang aneh dengan rumah-rumah di situ. Jika memang ditinggalkan warga, maka sudah pasti belum lama.
Lalu, di kejauhan, sebuah cahaya terlihat. Satu-satunya rumah yang menyala di seluruh desa.
Rumah itu berdiri sedikit lebih tinggi dari yang lain, menghadap ke lereng sawah. Sebuah pohon kamboja tua tumbuh di halaman depannya, rantingnya berliku seperti tangan renta yang berdoa.
Wiru menelan ludah. “Itu rumah Ajik Wayan.”
Langkahnya tanpa sadar menjadi lebih cepat.
Tegar menahannya. “Tunggu, Wiru. Ada yang aneh.”
Saat Wiru ingat keadaan desa itu, Ia pun menahan langkahnya dan memilih untuk lebih berhati-hati. Mereka pun mendekat tanpa suara. Lampu minyak di dalam rumah memantulkan bayangan pada jendela kayu yang sedikit terbuka. Bayangan itu bergerak. Lebih dari satu orang.
Wiru hendak memanggil, namun Tegar menarik lengannya.
“Dengar dulu.”
Mereka merunduk di balik tembok bata rendah. Dari celah jendela, suara percakapan terdengar samar, bercampur dengan suara kayu terbakar di perapian.
“…Aku bilang, orang tua itu sudah tahu kita datang,” suara seorang pria terdengar berat dan dalam.
“Bagaimana bisa? Kita menyeberang tanpa jejak,” sahut yang lain.
“Kalian lupa siapa Ajik Wayan. Dia bukan orang sembarangan.”
Wiru membeku. Itu bukan suara Ajik Wayan. Tegar memberi isyarat agar ia tetap diam.
Suara pertama kembali terdengar, kali ini lebih jelas. “Ingon-ingon kita sudah kita pindahkan ke kuburantua di utara. Tidak ada yang boleh tahu. Terutama kerabat Ajik Wayan.”
“Yang dari garis AdIkhara?” tanya seseorang pelan.
“Benar, Mereka pasti pasti sudah mempersiapkan sesuatu. Kalau perkataan mereka benar, maka ini satu-satunya cara kita mendapatkan kekuatan untuk mengimbangi Raden Argoyo..”
Jantung Wiru berdentum keras.
Ingon.
Kata itu bukan kata biasa. Dalam keluarga tertentu, ingon bukan sekadar roh. Ia adalah sosok yang telah dipersiapkan untuk membawa kematian bagi lawannya.
Tegar memperhatikan wajah Wiru yang mulai pucat.
Di dalam rumah, percakapan berlanjut.
“Ajik Wayan sudah mencium kedatangan kita bahkan sebelum kita menepi di pesisir. Entah bagaimana caranya.”
“Tapi dia tidak melawan.”
“Dia memilih mengosongkan desa. Pintar. Dia tahu membawa warga pergi lebih penting daripada menghadapi kita.”
Wiru meremas tanah di bawah jemarinya.
Ajik Wayan… sudah pergi.
“Kalau begitu kita aman?” tanya suara lain.
“Tidak sepenuhnya. Keluarga Wagiatmo tidak menyeberangi samudra untuk bermain-main. Ingon itu harus dijaga sampai waktunya tiba.”
Suasana sunyi sejenak. Lalu terdengar tawa kecil yang membuat bulu kuduk berdiri.
Tegar perlahan menjauh dari jendela. Tatapannya berubah tajam.
“Itu bukan pasti bukan kerabatmu kan, Wiru?” bisiknya.
Wiru mengangguk pelan. “Itu keluarga Wagiatmo, aku pernah melihat mereka.”
Angin perbukitan bertiup lebih kencang. Lampu minyak di dalam rumah bergetar, bayangan di dinding menari seperti makhluk yang tidak memiliki bentuk pasti.
Desa itu kosong bukan karena ketakutan.
Desa itu kosong karena sudah diperingatkan.
Wiru menatap rumah yang seharusnya menjadi tempat pulangnya, kini berubah menjadi sarang musuh.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyanya pelan.
Tegar tidak langsung menjawab.
Ia memperhatikan arah utara, tempat yang disebut-sebut dalam percakapan tadi. Pura tua. Ingon. Samudra. Dan keluarga Wagiatmo.
“Ajikmu sudah memilih menghindar,” ucap Tegar akhirnya. “Artinya, ini bukan urusan yang bisa diselesaikan dengan cara biasa.”
Wiru setuju, namun di tengah kebingungannya ia membuka catatan yang dibawakan oleh ayahnya. Tentang keberadaan tempat keramat yang dimaksud oleh Ajik Wayan.
“Itu, tempat yang dimaksud?” Tanya Tegar.
Wiru mengangguk, wajahnya kali ini terlihat lebih serius.
“Aku harus ke tempat itu lebih dulu sebelum keluarga Wagiatma menemukannya,” Ucap Wiru.
“Itu benar.. Mungkin saja Ajikmu ada disana,” Balas Tegar.
Mereka pun meninggalkan rumah itu dengan hati-hati. Saat meninggalkan desa, Wiru memimpin jalan menuju tempat di kertas catatan itu.
Mereka sempat menoleh ke belakang, dan saat itulah samar-samar mereka merasakan keberadaan sosok perempuan besar berdiri di tengah desa, kepalanya menjulang hingga terlihat dari kejauhan. Sosok yang mengenakan pakaian kebaya jawa dengan selendang hitam.
Dari situ mereka tahu, makhluk itu adalah bawaan keluarga Wagiatmo dari pulau Jawa.
Srat!! Tiba-tiba Tegar mengambil catatan yang ada di tangan Wiru.
“Apa-apaan kamu, Tegar?!”
“Aku aja yang mimpin jalan! Sudah malam, kalau tersesat lagi bisa tidur di jalan kita!” Balasnya.
***
Perjalanan menuju utara membawa mereka ke jalur yang semakin menanjak. Tanah berubah menjadi batuan keras, akar-akar pohon besar menyembul seperti ular yang membeku.
Udara pegunungan terasa lebih dingin. Kabut tipis mulai turun, mengambang rendah di antara batang-batang pohon.
Tak lama kemudian, mereka sampai di mulut hutan.
Di hadapan mereka berdiri sebuah kuil kecil dari batu tua, tak lebih besar dari bale banjar kecil, dengan lumut hijau menutupi sebagian dindingnya.
Di depannya tergantung kain poleng yang sudah kusam.
Suasana sepi. Namun samar-samar Terdengar suara...
Seperti gumaman doa. Seperti orang-orang sedang sembahyang dalam jumlah banyak.
Suara itu datang dari dalam hutan. Bukan keras, tapi cukup jelas untuk membuat bulu kuduk berdiri.
Mereka melangkah mendekat.
Suara itu tak berubah. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Seolah berasal dari ruang yang tak memiliki arah.
Tapi… Tak ada satu pun wujud yang tampak, bahkan dengan mata batin mereka berdua.
Namun perasaannya mengatakan sesuatu yang berbeda.
“Kita diperhatikan,” bisik wiru.
Wiru mengangguk pelan. Ia pun mencoba merasakan keberadaan lain di sekitar mereka.
Banyak.
Terlalu banyak.
Seperti ratusan pasang mata yang berdiri di antara pepohonan, namun tak memiliki tubuh.
Saat mereka hendak memasuki jalur sempit yang sesuai dengan catatan, angin tiba-tiba berhenti.
Dan dalam sekejap, beberapa tangan muncul dari kegelapan.
Kasar. Cepat. Terlatih.
Mulut Tegar dan Wiru dibekap bersamaan. Lengan mereka dikunci dari belakang. Sebelum sempat merespons dengan ilmu apa pun, kepala mereka ditutup kain tebal beraroma kayu dan tanah.
Dunia menjadi gelap.
…
Saat kain itu dilepas, mereka sudah berada di dalam sebuah rumah kayu tua yang besar.
Lampu minyak menggantung di tengah ruangan. Bau kayu tua dan asap dupa bercampur di udara.
Beberapa pria berdiri mengelilingi mereka.
Dan di hadapan mereka, sesosok pria yang sudah berumur mengenakan udeng di kepalanya menanti mereka. Rambutnya yang memutih terikat rapi. Sorot matanya tajam namun tidak bermusuhan.
Wiru tertegun. “Ajik…”
Ia segera mengenali sosok itu, Ajik Wayan kerabat jauh dari keluarga Wiru.
Ajik Wayan tersenyum tipis. “Kau akhirnya datang juga.”
“Apa ini? Kenapa kami diculik?” tanya Tegar, masih waspada.
“Karena kalian menuju tempat yang salah,” jawab Ajik tenang. “Jangan sampai kalian benar-benar sampai di sana.”
Wiru mengerutkan dahi. “Tapi, tempat itu ada di catatan Bapak?”
“Sengaja kuubah arahnya,” potong Ajik. “Untuk berjaga-jaga informasi ini sampai ke tangan yang salah.”
Tegar dan Wiru saling pandang. Saat tahu keluarga wagiatmo sudah ada di desa, mereka tahu perbuatan Ajik Wayan adalah keputusan yang bijak.
Ajik Wayan duduk perlahan. “Keluarga Wagiatmo sudah lebih dulu mencium keberadaan tempat itu. Mereka membawa ingon yang tidak seharusnya menjejak tanah Bali.”
“Makhluk perempuan itu?” tanya Tegar.
Ajik mengangguk pelan. “Salah satunya..”
Dari jawaban itu, mereka sadar bahwa yang dibawa oleh keluarga Wagiatmo lebih dari sosok itu. Perbincangan mereka pun berlangsung lama.
Ajik menjelaskan bagaimana ia telah mengetahui kedatangan Wagiatmo bahkan sebelum kapal mereka merapat. Tanda-tanda alam berubah. Burung-burung meninggalkan arah utara. Air di pancuran pura terasa pahit.
Ia memilih mengosongkan desa. Bukan karena takut. Melainkan untuk menghindari perseteruan.
“Kami tidak lari,” ucap Ajik pelan. “Kami hanya memindahkan diri.”
“Ke mana?” tanya Wiru.
Ajik tersenyum samar. “Ke tempat yang tak bisa dilihat oleh mata biasa.”
…
Tegar menatap Wiru.
Wiru memahami tanpa perlu penjelasan panjang. Keduanya melangkah melewati lingkaran ular yang perlahan membuka jalan, sisik-sisik mereka bergesekan pelan seperti bisikan rahasia yang tak ingin didengar manusia.
Ajik Wayan tidak ikut mendekat. Ia tetap berdiri di luar lingkaran itu, wajahnya tegang namun pasrah.
“Jika sebelum fajar kalian belum kembali,” ucapnya pelan, “aku akan menutup tempat ini lagi. Apa pun yang terjadi.”
Tegar hanya mengangguk. Ia tahu Ajik tidak berbicara sembarangan.
Begitu mereka melewati ambang candi, dunia seperti berubah lapisan.
Udara menjadi berat. Bukan sekadar dingin, melainkan padat, seolah setiap tarikan napas harus direbut paksa dari sesuatu yang tak terlihat. Tekanan tak kasat mata menindih bahu mereka seperti tangan raksasa yang menahan tubuh agar berlutut.
Wiru terhuyung. Dadanya terasa sesak, seperti paru-parunya dipenuhi air.
“Gar… ini…” suaranya gemetar, dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai, ia benar-benar merasa kecil.
Tegar mencoba berdiri tegak, namun lututnya bergetar. Ia pernah berdiri di hadapan Raden Argoyo dan merasakan kedahsyatan kesaktiannya. Ia pernah menatap Triyamuka Kala dan selamat dari amukan makhluk itu. Namun kekuatan yang memenuhi ruangan ini berbeda. Ia tidak menyerang. Ia tidak bergerak.
Ia menekan.
Dan tekanan itu menggerus keyakinan dari dalam.
Di tengah ruangan berdiri patung besar menyerupai ogoh-ogoh tua. Sosoknya menyeramkan, mata melotot, taring menyembul, dada membusung dengan pahatan urat yang terasa hidup. Relief ular melilit di sekeliling tubuhnya, seakan menjadi bagian dari pahatan itu sendiri.
Namun yang membuat bulu kuduk Tegar berdiri bukanlah bentuknya.
Melainkan getaran halus dari dalam patung itu.
Seolah ada sesuatu yang dikunci di baliknya.
“Kekuatan ini… disegel,” bisik Tegar, lebih kepada dirinya sendiri.
Wiru menelan ludah. “Dan keluarga Wagiatmo mengincar segel itu…”
Ucapan itu menggantung di udara.
Desis panjang terdengar, bukan dari luar, melainkan dari balik patung tersebut.
Bayangan di belakangnya bergerak perlahan, seperti cairan gelap yang sedang mencari bentuk. Dari kegelapan itu, sesosok perempuan melangkah maju.
Tubuhnya tinggi dan ramping, kulitnya pucat kebiruan seperti mayat yang terlalu lama terendam air.
Rambutnya menjuntai panjang hingga menyapu lantai bata. Namun yang membuat darah membeku bukanlah wajahnya, melainkan tubuhnya.
Ular.
Puluhan ular hidup melilit di lengan, di leher, di pinggangnya. Beberapa keluar dari sela kulitnya seolah tubuh itu bukan daging, melainkan tanah lembap tempat makhluk melata bersarang. Lidah-lidah bercabang itu keluar-masuk dari pori-porinya dengan gerakan yang tak wajar.
Wiru mundur satu langkah tanpa sadar. Tenggorokannya terasa kering.
“Gar…” suaranya nyaris tak terdengar, dan untuk pertama kalinya ia merasa ingin lari.
Perempuan itu tersenyum perlahan. Senyum yang terlalu tenang untuk sesuatu yang begitu mengerikan.
“Kalian membawa tanda yang mengganggu,” suaranya tidak keras, tetapi langsung terdengar di dalam kepala mereka, menyusup tanpa izin.
Cahaya kecil di dahi Tegar dan Wiru menyala lebih terang. Ular-ular di lantai sedikit menyingkir, tubuh mereka merunduk seperti tunduk pada sesuatu yang lebih tua.
Namun perempuan itu tidak.
Ia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya membuat lantai bata menghitam seperti terbakar bayangan.
“Aku tidak tunduk pada tanda itu,” katanya pelan. “Mereka tunduk pada darah yang lebih tua. Tapi aku adalah asal mereka.”
Tegar bisa merasakan hawa dingin menjalar dari ujung tulang belakangnya hingga ke tengkuk. Tangannya gemetar, bukan karena ragu, tetapi karena tubuhnya secara naluriah menolak berada terlalu dekat dengan makhluk itu.
“Dia berbahaya.. Dia mengendalikan ular-ular itu. Hati-hati..” Bisik Tegar.
“Semua ular ini?” bisik Wiru, matanya menatap makhluk-makhluk melata yang bergerak serempak mengikuti detak jantung perempuan itu.
“Mereka lahir dariku,” jawabnya lembut.
Tekanan di ruangan itu meningkat. Tegar merasa seperti berdiri di dasar samudra yang gelap, dengan air yang terus menekan dari segala arah. Ia mencoba mengingat mantera, mencoba mengatur napas, tetapi pikirannya terasa lambat, seperti tertutup kabut hitam.
Wiru mencoba meraih pisau hitam dari balik pakaiannya. Namun sebelum ia sempat membuka lipatannya, seekor ular besar melesat dari lantai dan melilit pergelangan tangannya dengan kecepatan yang membuatnya terkejut.
Rasa dingin sisik itu menempel di kulitnya, dan ketakutan yang selama ini ia tahan akhirnya muncul nyata di wajahnya.
“Tegar…” suaranya pecah.
Tegar melemparkan abu mantra dari kantongnya. Abu itu menyala di udara dan membakar beberapa ular kecil, tetapi perempuan itu hanya memiringkan kepala, menatap mereka dengan rasa ingin tahu yang mengerikan.
Seolah mereka bukan ancaman. Melainkan hiburan.
Ular-ular lain mulai bergerak. Mereka melilit kaki Tegar, naik perlahan ke pahanya, ke pinggangnya. Sensasi dingin dan licin itu membuat napasnya tersengal. Ia mencoba menahan rasa panik yang mulai merayap di dadanya.
Ini bukan lawan yang bisa dipukul atau dihadapi begitu saja.
Perempuan itu kini berdiri sangat dekat. Bau tanah basah dan sesuatu yang busuk tercium samar dari tubuhnya.
“Kalian tidak seharusnya datang,” bisiknya.
Lilitan ular di leher Wiru semakin erat. Wajahnya mulai pucat. Matanya menatap Tegar dengan ketakutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Tegar mencoba bergerak, tetapi tekanan itu memaksanya berlutut. Lututnya menyentuh lantai bata yang dingin. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Bali, keyakinannya retak.
Perempuan itu mengangkat tangannya perlahan.
Ular-ular di tubuhnya mendesis serempak.
“Beritahu aku,” ucapnya lembut, hampir seperti seorang ibu yang menenangkan anak, “siapa yang mengirim kalian?”
***
(Di Ujung Timur Pulau Jawa…)
Di pinggir sungai yang alirannya pelan dan keruh oleh cahaya bulan, Watara masih terduduk memeluk kepala satu-satunya teman manusia yang pernah ia miliki. Tangisnya tidak lagi keras—hanya isak yang tertahan, seperti suara ranting patah di dalam dada.
Seharusnya lelaki itu sudah meninggalkan desa sejak lama. Desa itu bukan lagi milik manusia sepenuhnya. Sosok-sosok gaib telah lebih dulu menguasainya. Namun ia tetap kembali, berulang kali, karena tak pernah tega meninggalkan Watara sendirian.
Kini yang tersisa hanyalah kepala yang dipeluknya erat.
“Watara… kita kuburkan dengan layak, ya,” ujar Danan perlahan.
Ia berlutut, mencoba meraih kepala itu dengan hati-hati. Namun baru saja tangannya menyentuh, Watara mengamuk. Matanya merah, tubuhnya gemetar.
“Pergi!!!”
Teriakannya menggema di tepi sungai. Setelah itu ia kembali menangis, memeluk kepala itu seperti anak kecil yang kehilangan segalanya.
Cahyo menepuk bahu Danan pelan. “Beri dia waktu.”
Danan mengangguk. Ia mundur beberapa langkah, membiarkan pemandangan ganjil dan menyayat itu berlangsung sedikit lebih lama.
Mereka kemudian menghampiri Mbah Prawita yang berdiri tak jauh dari sana. Wajah lelaki tua itu tampak lebih renta dari biasanya, seperti satu malam telah merenggut bertahun-tahun dari usianya.
“Aku gagal…” ucapnya lirih. “Aku gagal melindungi tanah itu.”
Danan menepuk punggungnya perlahan. “Tidak, Mbah. Mbah sudah menjalankan tugas Mbah. Mungkin memang sudah waktunya kutukan itu menemukan tuannya.”
Ucapan itu tidak sepenuhnya menghapus rasa bersalah Mbah Prawita. Ia, istrinya, ayahnya, kakeknya—bahkan leluhur yang namanya telah dilupakan waktu—telah menjaga tanah itu ratusan tahun lamanya. Kini yang tersisa hanya dirinya dan Watara.
Cahyo memandang Watara yang masih menangis di tepi sungai. Hatinya terasa sesak. Watara tak pernah benar-benar hidup sebagai manusia. Ia menjaga tanah itu dengan setia, menerima segala konsekuensi, bahkan melindungi nyawa orang-orang yang tak pernah mengenalnya.
“Mungkin…” Cahyo terdiam sejenak, menimbang kata-katanya. “Mungkin ini saatnya Mbah dan Watara bebas. Serahkan sisanya pada kami yang lebih muda.”
Mbah Prawita menoleh pada Watara. Sebagai orang tua, ia tak pernah benar-benar memikirkan kebahagiaan anaknya. Watara lahir untuk menjaga, bukan untuk memilih.
“Apa itu… boleh?” tanya Mbah Prawita polos, seperti anak kecil yang baru pertama kali diberi pilihan.
Danan dan Cahyo saling pandang. Mereka sadar, pertanyaan itu bukan hanya tentang tanah keramat. Itu tentang hidup yang tak pernah diberi kesempatan untuk dijalani.
“Tentu saja, Mbah,” jawab Cahyo mantap. “Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri.”
“Tidak semua masalah bisa kita selesaikan sendirian,” tambah Danan. “Kadang kita hanya perlu menerima bahwa kita tidak mampu lagi, dan itu bukan dosa.”
Mbah Prawita terdiam lama. Ia mengingat bagaimana Watara tidur di atas tanah kuburan, makan seperti hewan hutan, hidup berdampingan dengan bayangan yang tak kasat mata.
“Sepertinya… kalian benar,” gumamnya. “Aku dan Watara akan pergi. Tapi…”
Ia berdiri, membersihkan tanah di lututnya.
“…setelah kita menuntaskan ini.”
Danan dan Cahyo mengangguk. Meski mereka mendorong Mbah Prawita untuk melepas beban, jauh di dalam hati mereka sendiri belum tahu bagaimana cara mengalahkan kekuatan terkutuk itu.
Tiba-tiba, langit malam yang tenang tampak bergetar.
Bukan petir. Bukan awan.
Seperti retakan halus pada kaca hitam.
Danan merasakan bulu kuduknya berdiri. Cahyo pun merasakan hal yang sama.
“Dia sudah melepaskannya,” ucap Mbah Prawita dengan suara berat.
Di langit, sesuatu terbentuk dari pancaran energi yang berasal dari tanah hitam terkutuk itu. Cahaya gelap berpilin, naik seperti asap yang memiliki kehendak.
“Dia memanggil buto?” tanya Cahyo.
“Bukan, Jul… ini lebih gila dari itu.”
Danan duduk bersila, Keris Ragasukma menempel di dadanya. Dalam satu tarikan napas panjang, rohnya terlepas dari tubuh dan melesat ke langit.
Dari ketinggian, ia melihat tanah hitam itu. Seorang manusia diritualkan di tengahnya. Tubuhnya tak lagi sepenuhnya manusia. Energi kutukan menyatu dengan rohnya, membungkus kesadarannya.
Makhluk itu bukan buto.
Ia manusia, yang diberi kekuatan yang tak seharusnya dimiliki manusia. Merelakan raganya, dan membiarkan kesadarannya menyatu dengan kekuatan keramat itu.
Danan kembali ke tubuhnya dengan napas tersengal.
“Mereka menciptakan makhluk itu,” katanya pelan, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. “Kekuatan keramat itu menyatu dengan kesadaran manusia. Itu bukan lagi sekadar kekuatan tak bertuan…”
Mbah Prawita mengepalkan tangan. “Jadi itu cara mereka mengendalikannya.”
Untuk pertama kalinya, Danan merasa ragu. Kekuatan itu bukan sesuatu yang bisa ditebas atau dimantrai begitu saja.
“Apa Mbah tahu cara menghadapinya?” tanyanya.
Mbah Prawita merogoh pakaiannya, lalu mengeluarkan selembar kulit tua yang digulung rapi. Di atasnya terukir simbol-simbol dan peta yang telah pudar dimakan waktu.
“Ratusan tahun lalu, Eyangku menemukan bahwa tanah keramat ini bukan satu-satunya,” jelasnya. “Semua kutukan yang terkubur di tanah, berasal dari sumber yang sama.”
Di peta itu tampak enam simbol tersebar. Ujung timur Jawa. Pulau Dewata. Sebuah pulau di selatan Jawa. Beberapa titik di tengah lautan.
Danan dan Cahyo saling pandang.
Kekuatan itu bukan hanya masalah desa ini, Ia tersebar.
Dan mungkin… terhubung.
“Apa ada cara melawannya, Mbah?” tanya Danan.
Mbah Prawita mendekat, duduk lebih dekat pada mereka. Wajahnya kini serius.
“Kalian pernah mendengar tentang pulung? Tentang wahyu yang turun pada seorang raja?”
Danan mengerutkan kening. “Maksud Mbah?”
“Di zaman dahulu,” ujar Mbah Prawita perlahan, “raja bukan sekadar manusia bermahkota. Ia menerima berkah dari semesta. Titahnya membawa restu. Sabdanya menjadi nyata. Itu bukan dongeng, itu warisan energi yang menitis dari generasi ke generasi.”
Cahyo mulai mengerti arah pembicaraan itu.
“Jika ada yang mampu menahan kekuatan keramat ini,” lanjut Mbah Prawita, “maka ia haruslah keturunan raja yang menerima berkah itu. Namun darah bisa diwariskan… sedangkan berkah raja hanya menitis pada satu orang di setiap generasi.”
Danan dan Cahyo terdiam.
Dalam benak mereka muncul satu nama yang sama.
“Sepertinya aku tahu… siapa yang harus kita temui,” ucap Danan pelan.
Cahyo mengangguk. “Perjalanan kita sepertinya akan lebih jauh dari yang kita kira.”
“Kalian mengenalnya?” tanya Mbah Prawita.
Danan menatap langit yang masih menyisakan retakan gelap itu.
“Semoga dugaan kami benar, Mbah. Teman kami mewarisi pusaka dan tekad dari seorang raja masa lalu… Prabu Arya Darmawijaya.”
Ia menarik napas panjang.
“Anak muda sederhana yang menjaga Tanah Pasundan.”
“Namanya… Dirga.”
***
(Bersambung Part 3)
Terima kasih sudah membaca part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.
Buat teman-teman yang mau baca kelanjutannya duluan atau sekedar support bisa mampir ke @karyakarsa_id ya.. :
Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar.
Diam... Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam....
Suara pedagang memecah riuh sore di Desa Kandimaya. Ia menurunkan pikulan dagangannya di pinggir lapangan—tepat di hadapan kelir wayang yang sudah berdiri, menunggu malam turun sepenuhnya.
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Bayangan tokoh wayang samar-samar menari di atas layar.
Naya dan Nyai Kirana membuka pertunjukan dengan tembang pembuka. Suara mereka mengalun pelan, mengikat perhatian warga yang terus berdatangan. Tak lama, dalang Ki Arsa mengambil alih, memulai kisah yang sudah dinanti.
Kemeriahan semacam ini sudah menjadi napas Desa Kandimaya. Jadwal pementasan mereka bahkan dikenal hingga desa-desa lain. Malam seperti ini, penonton membludak... datang dari jauh, duduk berdesakan, larut dalam cerita.
Naya menatap satu per satu wajah yang hadir. Ada rasa hangat yang mengembang di dadanya. Semua kerja kerasnya seolah terbayar malam itu.
Namun yang paling membuatnya bahagia… ia kini berdiri di satu panggung dengan Nyai Kirana, panutannya. Sekaligus ibu dari seseorang yang begitu ia sayangi.
Tapi di tengah pementasan, tiba-tiba Naya menyadari sesuatu yang tidak biasa.
Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar. Diam. Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam.
Wujudnya tak jelas.
Namun anehnya, rasa yang muncul bukanlah takut, melainkan kebingungan.
“Gik… gik… gik…”
Suara tawa berat, ganjil, menyusup di sela jeda pementasan.
Naya menarik napas lega. Ia mengenali suara itu. Hanya satu makhluk yang memiliki tawa seaneh itu.
“Buto Kendil… dia ikut menonton juga,” bisik Nyai Kirana pelan.
Naya mengangguk. Ia mengangkat tangannya sedikit, sebuah salam kecil ke arah sosok raksasa penjaga Bukit Batu itu.
Namun malam itu… ada yang berbeda.
Buto Kendil tidak sekadar datang untuk menonton. Dari kejauhan, meski samar, sosoknya tampak gelisah. Seolah ada sesuatu yang mengusiknya.
…
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau kematian. Ombak menghantam pantai tanpa henti, seolah ikut mengamuk bersama malam yang mencekam itu.
Di tepi desa, warga berlarian meninggalkan rumah mereka. Tak ada yang berani menoleh ke belakang. Mereka hanya tahu satu hal, jika berhenti, mereka akan mati.
Satu-satunya tempat yang bisa mereka tuju hanyalah hutan di pinggir pantai.
“Sial… dari mana Trah Brotoguno mendapatkan kekuatan semengerikan itu?!” teriak seseorang dengan napas terengah.
“Kita sudah membunuh anak pertama mereka saat menyantet warga kita… mereka pasti tidak akan melepaskan kita!” balas yang lain, suaranya gemetar.
Ketakutan merayap di antara mereka.
Dalam satu malam, sepuluh nyawa telah melayang.
Bukan sekadar mati—mereka meregang nyawa dengan cara yang tak masuk akal. Mata mereka pecah, pembuluh darah di tubuh mereka meletus satu per satu, sementara jeritan kesakitan menggema sebelum akhirnya lenyap dalam sunyi.
Beberapa warga yang sempat menoleh ke arah desa melihat pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.
Di gapura desa, seorang pemuda berdiri santai. Blangkon menutupi kepalanya, sementara tangannya mengusap bilah keris dengan tenang—seolah apa yang terjadi di sekelilingnya bukanlah apa-apa.
Warga mengenali pemuda itu, adik dari anggota Trah Brotoguno yang mati di desa itu dalam pertarungan santet. Namun mereka tak menyangka, ia membalas dendam dengan cara sebrutal itu.
“I—itu? Buto?!” Warga desa gemetar, mereka tahu, kematian orang-orang itu adalah kutukan dari makhluk keramat itu.
“Aku bukan pendendam…” ucap pemuda itu. “Tapi dengan sedikit bantuan dari darah kalian, makhlukku akan jauh lebih kuat dari Sangkaratuh..”
Pemuda itu berkata, dan menancapkan kerisnya di tanah.
Ia pun pergi, dan menghilang dalam gelap. Saat itu sang buto bergerak, dan satu-persatu warga mati dengan mengerikan.
Menyadari hal itu, warga yang tersisa semakin dalam memasuki hutan, berharap kegelapan bisa menyembunyikan mereka dari maut.
Dari kejauhan, mereka masih bisa melihat sosok raksasa itu berjalan di antara rumah-rumah, memburu siapa pun yang tersisa.
“Sampai kapan kita di sini, Pak…?” tanya seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat.
“Dia akan pergi saat pagi datang,” jawab suaminya, meski suaranya sendiri dipenuhi keraguan. “Kalau kita bisa bertahan sampai subuh… kita cari pertolongan.”
Namun harapan itu terlalu rapuh. Karena makhluk itu tidak berniat menyisakan satu pun dari mereka.
Langit tertutup awan hitam. Bulan lenyap tanpa jejak. Pepohonan bergoyang tak wajar, seolah ikut hidup dalam teror yang sama.
Dan ketika salah satu dari mereka menoleh ke atas, napasnya tercekat.
Sosok raksasa itu sudah berdiri di antara pepohonan.
Saang pemuda dari Trah Brotoguno itu menari-nari sambil memainkan kerisnya. Sementara itu suara teriakkan ketakutan, jeritan kesakitan, dan raungan kematian terdengar dari hutan.
Seolah menjadi musik latar, pemuda itu tertawa dan menari tanpa merasa terusik dengan kematian seluruh warga desa di hutan itu.
Ia melihat kerisnya bergetar, menandakan setiap nyawa yang ditumbalkan menjadi kekuatan bagi dirinya.
“Dengarkan aku Raden Argoyo.. Aku Elang Brotoguno! Akulah yang akan menghabisimu dan sangkaratuh!” ucapnya geram.
“Aku dan Buto Bhayak yang akan menduduki singgasana Rojomayit dan menguasai seluruh jagat dedemit!”
“Grrrraarroooorrr!!” Boto Bhayak seolah merasakan amarah Elang Brotoguno, tuannya. Ia menghabisi warga desa yang telah membunuh kakak dari elang dan pengikutnya.
Niat penumbalan, dan dendam akan kematian kakaknya membuatnya tak memikirkan belas kasihan pada mereka.
Saat matahari akhirnya menyembul dari ufuk timur, suasana berubah menjadi sunyi senyap.
Deburan ombak terdengar tenang, mencuci sisa-sisa jejak darah di pesisir pantai. Namun, tidak ada lagi suara manusia. Desa itu telah menjadi desa mati, dan hutan di perbatasan pantai itu kini hanya berisi keheningan yang abadi.
Suara desing peluru memecah keheningan desa. Tajam dan tanpa ampun.
Dalam sekejap suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Warga yang masih berada di luar rumah segera berlari masuk, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Beberapa hanya berani mengintip dari celah jendela, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun yang mereka lihat hanyalah kekacauan.
Teriakan yang bercampur dengan suara tembakan.
Bayangan tubuh yang terjatuh.
Dan darah yang menyiprat hingga mengenai kaca jendela rumah mereka.
Tak seorang pun benar-benar berani keluar. Mereka hanya bisa bersembunyi, berdoa dalam diam agar kengerian di luar tidak merambat masuk ke rumah mereka.
Beberapa saat kemudian suara tembakan itu berhenti dan digantikan oleh derap sepatu yang berat dan teratur. Lalu suara mesin kendaraan yang menjauh perlahan dari desa.
Keheningan kembali turun. Namun keheningan itu terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Setelah cukup lama menunggu, beberapa warga akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Satu per satu mereka keluar dari rumah, berjalan perlahan menuju jalan desa.
Dan saat itulah mereka melihatnya.
Beberapa orang langsung menutup mulut mereka menahan teriakan.
Di sepanjang pagar desa, kepala-kepala manusia tertancap seperti peringatan yang kejam. Tubuh mereka tergeletak tak beraturan di jalan tanah yang kini berubah merah oleh darah.
“Biadab…!” teriak seorang warga dengan suara gemetar.
“Mereka benar-benar biadab!”
Semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Orang-orang kulit putih itu.
Para penjajah yang datang bukan hanya untuk berkuasa, tetapi juga untuk menebar ketakutan.
“Mereka… siapa sebenarnya?” tanya seorang warga lain dengan suara lirih, hampir tak berani melihat lebih dekat.
Kepala desa bersama beberapa orang pria memberanikan diri memeriksa jasad-jasad itu. Mereka berjongkok di dekat tubuh yang berserakan, mencoba mengenali wajah-wajah yang kini hampir tak lagi utuh.
Salah satu dari mereka menemukan sesuatu.
Sebuah gelang.
Di pergelangan tangan korban.
Bukan hanya satu. Beberapa jasad lain juga mengenakan gelang yang sama dengan simbol aneh yang tak dikenal warga desa.
Seorang pria tua menatap gelang itu lama, lalu wajahnya memucat.
“Itu kelompok yang sering merampok gudang milik penjajah,” lanjutnya. “Mereka mengambil harta dari orang kulit putih itu… lalu membagikannya ke desa-desa yang kekurangan.”
Beberapa warga langsung saling berpandangan.
“Mereka pernah membantu desa kita,” kata seseorang. “Waktu gagal panen tahun lalu…”
Rasa ngeri perlahan berubah menjadi duka.
Orang-orang yang kini tergeletak sebagai mayat itu… pernah menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Namun balasan dari penjajah jauh lebih kejam.
“Orang kulit putih itu memang tidak punya hati…” gumam seseorang dengan suara pahit.
Sementara warga masih terpaku pada pemandangan mengerikan itu, dua pemuda berdiri agak jauh dari kerumunan.
Mereka tidak mendekat.
Hanya memperhatikan dari kejauhan.
Krama menyipitkan matanya, memandangi barisan kepala yang ditancapkan di pagar.
“Ini tidak sesederhana peringatan,” katanya pelan.
Di sampingnya, Dasa mengangguk.
“Tumbal,” jawabnya singkat.
Krama menoleh.
“Tumbal?”
“Pembantaian seperti ini terlalu rapi untuk sekadar ancaman,” kata Dasa. “Ada sesuatu yang mereka inginkan.”
Krama tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih pada jejak di tanah—bekas roda kendaraan yang masih jelas di jalan desa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mulai berjalan mengikuti jejak itu keluar dari desa.
Dasa menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut berjalan di belakangnya. Krama mengencangkan kain di pinggangnya.
DOSA TAK TERBAYAR
Awan-awan hitam berkumpul tepat di atas pohon raksasa itu, besarnya melampaui apa yang bisa bayangkan manusia. Petir menyambar berulang kali, tetapi tak setetes pun hujan jatuh ke tanah di sekitarnya, seolah langit sendiri menolak menyentuh tempat itu.
“Dirga! Lepaskan kerismu!” teriak Abah, memaksa dirinya mendekat.
Namun ledakan kekuatan hitam yang memancar dari Keris Dasasukma menghantamnya. Abah terpental mundur, dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasatmata.
“Aku…” suara Dirga terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri. “Aku harus mendapatkan kekuatan ini!”
Tanah bergetar lebih keras.
Retakan menjalar dari batang pohon, menyebar ke tanah seperti urat-urat luka yang terbuka. Akar-akar kering bergeliat pelan, seakan hidup kembali.
Abah tak mau menyerah. Ia melangkah maju lagi, memaksakan diri menembus tekanan itu. Bibirnya tak henti melafalkan doa, satu-satunya senjata yang ia miliki.
Namun tepat saat kekacauan mencapai puncaknya, cahaya putih muncul di hadapannya.
Sosok itu samar, menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya bersinar lembut. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Abah berhenti.
“Tenang… segel itu mengenalinya.”
Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan.
Entah mengapa, Abah mempercayainya. Meski hatinya masih bergejolak melihat Dirga berdiri di pusat badai kekuatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Beberapa saat kemudian, kekuatan hitam itu mulai meredup.
Awan-awan hitam tercerai. Petir berhenti. Getaran tanah perlahan mereda.
“Sudah selesai,” ucap sosok cahaya itu pelan, lalu lenyap, seolah tak pernah ada.
Abah segera berlari menghampiri Dirga.
Anaknya berdiri gemetar, tangannya masih menggenggam Keris Dasasukma. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang baru.
“Aku mendapatkannya…” bisiknya.
“Apa maksudmu? Apa yang kau dapatkan? Jangan gegabah, Nak…” suara Abah dipenuhi kecemasan.
Dirga menelan napas.
“Kaki…”
Abah terdiam, tak mengerti.
“Itulah wujud asli kekuatan ini,” lanjut Dirga lirih.
“Bagian tubuh dari makhluk terkutuk… yang selama ini disegel di bawah pohon ini.”
Ia memandang keris di tangannya.
“Segel itu mengenaliku. Ia mengenali Keris Dasasukma. Ia tahu tempat ini sudah tidak aman… ada sesuatu yang mencarinya.”
Dirga mengangkat keris itu perlahan.
“Jadi segel itu berpindah. Ia menjadikan keris ini… kurungan barunya.”
Angin malam berembus dingin melewati mereka.
“Abah… kita harus pergi. Sekarang. Tempat ini sudah tidak aman.”
Abah mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga mengangkat jasad pria misterius itu ke pundaknya. Mereka meninggalkan pohon Caruluk, meninggalkan tempat yang kini terasa seperti jantung dari kegelapan itu sendiri.
Namun belum jauh mereka berjalan, Dirga berhenti.
Di kejauhan, bayangan-bayangan samar tampak melayang menuju pohon itu. Bentuknya tak utuh.
Seperti kabut yang hidup. Roh-roh pengintai, tertarik pada sesuatu yang kini sudah tak lagi berada di sana.
Dirga mempercepat langkahnya.
Mereka harus pergi sebelum sesuatu menyadari ke mana segel itu berpindah.
…
Tegar dan Wiru tahu, sejak tatapan pertama mereka bertemu dengan perempuan itu, bahwa ia bukan sekadar penunggu sunyi atau arwah penasaran yang tersesat.
Ada sesuatu yang jauh lebih tuabersemayam di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, lebih lembap, seolah hutan itu sendiri menahan napas.
Ular-ular yang mengerubungi bangunan misterius itu tidak bergerak liar. Mereka patuh. Terkendali. Setiap desisnya seperti aba-aba tak terdengar yang hanya dimengerti oleh satu sosok perempuan berambut panjang yang berdiri tanpa goyah di hadapan mereka.
“Tegar,” bisik Wiru, suaranya tak lagi setegas biasanya.
“Aku akan menahan ular-ular ini. Kau pergi cari pertolongan.”
Kalimat itu terdengar gagah, tetapi jemari Wiru gemetar di gagang kerisnya. Ia tahu betul, ia tak sedang menghadapi sekadar makhluk jadi-jadian.
“Jangan gegabah,” Tegar membalas, matanya tak lepas dari perempuan itu. “Kita tak tahu apa maksudnya.”
Rasa cemas merambat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah perlahan, tapi pasti. Tekanan tak kasatmata menekan dada mereka. Lutut terasa berat. Bahkan untuk menarik napas pun butuh upaya.
Perempuan itu melangkah setapak. Tanah tak berderak. Ular-ular di sekelilingnya justru merunduk, seolah memberi jalan bagi ratunya.
“Sekali lagi kutanya,” suaranya lirih, tetapi menggema di kepala mereka. “Siapa yang mengirim kalian?”
Tegar menelan ludah. Ia tak bisa sembarang menyebut Ajik Wayan. Tak bisa menyebut Bli Waja. Nama adalah pintu, dan ia tak ingin membuka pintu yang salah di hadapan makhluk seperti ini.
“Pemakan roh,” jawabnya akhirnya, spontan namun terukur. “Makhluk itu membuat kekacauan di tempat kami. Petunjuk yang kami dapat mengarah ke sini. Kami mencari inangnya. Kami harus menghentikannya.”
Hening.
Lalu… Srakk!
Tekanan yang membelenggu tubuh mereka mendadak lenyap. Lutut Tegar hampir tertekuk karena perubahan mendadak itu. Wiru terengah, seperti baru saja dilepaskan dari cekikan tak terlihat.
Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit, seolah mendengarkan sesuatu dari dalam tanah.
“Dia memang di sini,” katanya pelan. “Tersegel di bawah tanah ini. Tapi…”
Kalimat itu tak pernah selesai.
Bayangan raksasa menjulang di belakang mereka. Tanah bergetar halus. Bau amis menyengat. Ketika Tegar dan Wiru menoleh, yang mereka lihat hanyalah rahang menganga, sisik hitam berkilau diterpa cahaya bulan, dan dua mata kuning yang memantulkan bayangan mereka dengan jelas.
“Kalian tidak boleh ada di sini.”
Slaaaabbbbb!
Gelap.
Tubuh mereka terhantam sesuatu yang basah dan hangat. Ruang menyempit. Dinding lunak berdenyut di sekeliling mereka. Bau anyir menusuk hidung. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Tegar tak bisa membedakan atas dan bawah.
“Kita… dimakan?” suara Wiru terdengar serak di kegelapan.
Tegar mencoba menggerakkan tangan, ia bisa. Ia masih bisa bernapas. Udara terasa tipis, tapi ada. Perlahan, mata mereka menyesuaikan diri. Dinding yang semula tampak pekat kini seperti membran tipis tembus cahaya.
Mereka bisa melihat siluet luar, pepohonan, tanah, dan sosok perempuan itu yang masih berdiri tak bergerak.
Ular besar itu bergerak cepat, melesat ke balik pohon beringin tua. Tubuh raksasanya melingkar, menyamarkan diri di antara akar dan bayangan.
Dari balik tubuh makhluk itu, Tegar dan Wiru menyaksikan perempuan penjaga itu tetap menanti.
Dan tak lama kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan hutan.
Seorang pria dan wanita berjalan berdampingan. Busana mereka seperti keluar dari halaman sejarah, pakaian keraton dengan lipatan rapi, keris terselip di pinggang, pusaka menggantung di dada.
Langkah mereka mantap, tanpa ragu, seolah tempat itu bukan ancaman melainkan wilayah yang telah lama mereka kenal.
Namun yang membuat darah Tegar terasa membeku adalah sosok yang melayang di belakang mereka.
Roh perempuan berkebaya pengantin Jawa berwarna hitam. Wajahnya pucat, matanya kosong namun tajam. Sosok yang pernah dipanggil Wiru di kediaman Mbah Wage. Ingon.
Trah Wagiatma.
Tegar refleks menoleh ke arah Wiru—lalu membeku. Di sampingnya bukan lagi sosok sahabatnya, melainkan tubuh ular besar yang sama, meringkuk dan mengawasi. Kesadaran itu menghantamnya, mereka tak lagi berada di tubuh sendiri. Mereka tengah “dititipkan”.
“Jadi,” ucap pria itu tenang, “kau sudah menanti kedatangan kami?”
“Bukan aku,” jawab sang penjaga, matanya menyala redup. “Tapi ular-ularku.”
Desisan memenuhi udara.
Dari segala penjuru, ratusan ular berbisa meluncur keluar. Hitam. Hijau. Cokelat tanah. Mereka bergerak serempak, seperti ombak hidup yang menerjang pantai.
Dalam sekejap, tubuh pria dan wanita itu tertutup sepenuhnya. Tak terlihat lagi kain, wajah, atau pusaka. Hanya gumpalan sisik dan lilitan yang bergerak liar. Suara gigitan terdengar beruntun—cepat, rakus, mematikan.
Tegar memejamkan mata. Tak ada manusia yang bisa bertahan dari itu.