Diosetta Profile picture
Apr 9 12 tweets 20 min read Read on X
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 6 - Garis Darah Terkutuk

Satu persatu kekuatan Patiwongso mulai menemukan tuannya, banjir getih tak bisa dihindarkan...

#bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror Image
Part Sebelumnya

Singgasana Rojomayit:

Part 1 - Sang Penagih Janji
x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh
x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Part 5 - Dosa Sambara
x.com/diosetta/statu…
GARIS DARAH TERKUTUK

Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau kematian. Ombak menghantam pantai tanpa henti, seolah ikut mengamuk bersama malam yang mencekam itu.

Di tepi desa, warga berlarian meninggalkan rumah mereka. Tak ada yang berani menoleh ke belakang. Mereka hanya tahu satu hal, jika berhenti, mereka akan mati.

Satu-satunya tempat yang bisa mereka tuju hanyalah hutan di pinggir pantai.

“Sial… dari mana Trah Brotoguno mendapatkan kekuatan semengerikan itu?!” teriak seseorang dengan napas terengah.

“Kita sudah membunuh anak pertama mereka saat menyantet warga kita… mereka pasti tidak akan melepaskan kita!” balas yang lain, suaranya gemetar.
Ketakutan merayap di antara mereka.

Dalam satu malam, sepuluh nyawa telah melayang.

Bukan sekadar mati—mereka meregang nyawa dengan cara yang tak masuk akal. Mata mereka pecah, pembuluh darah di tubuh mereka meletus satu per satu, sementara jeritan kesakitan menggema sebelum akhirnya lenyap dalam sunyi.

Beberapa warga yang sempat menoleh ke arah desa melihat pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.

Di gapura desa, seorang pemuda berdiri santai. Blangkon menutupi kepalanya, sementara tangannya mengusap bilah keris dengan tenang—seolah apa yang terjadi di sekelilingnya bukanlah apa-apa.

Warga mengenali pemuda itu, adik dari anggota Trah Brotoguno yang mati di desa itu dalam pertarungan santet. Namun mereka tak menyangka, ia membalas dendam dengan cara sebrutal itu.

“I—itu? Buto?!” Warga desa gemetar, mereka tahu, kematian orang-orang itu adalah kutukan dari makhluk keramat itu.

“Aku bukan pendendam…” ucap pemuda itu. “Tapi dengan sedikit bantuan dari darah kalian, makhlukku akan jauh lebih kuat dari Sangkaratuh..”

Pemuda itu berkata, dan menancapkan kerisnya di tanah.

Ia pun pergi, dan menghilang dalam gelap. Saat itu sang buto bergerak, dan satu-persatu warga mati dengan mengerikan.

Menyadari hal itu, warga yang tersisa semakin dalam memasuki hutan, berharap kegelapan bisa menyembunyikan mereka dari maut.

Dari kejauhan, mereka masih bisa melihat sosok raksasa itu berjalan di antara rumah-rumah, memburu siapa pun yang tersisa.

“Sampai kapan kita di sini, Pak…?” tanya seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat.

“Dia akan pergi saat pagi datang,” jawab suaminya, meski suaranya sendiri dipenuhi keraguan. “Kalau kita bisa bertahan sampai subuh… kita cari pertolongan.”
Namun harapan itu terlalu rapuh. Karena makhluk itu tidak berniat menyisakan satu pun dari mereka.

Langit tertutup awan hitam. Bulan lenyap tanpa jejak. Pepohonan bergoyang tak wajar, seolah ikut hidup dalam teror yang sama.

Dan ketika salah satu dari mereka menoleh ke atas, napasnya tercekat.

Sosok raksasa itu sudah berdiri di antara pepohonan.
Saang pemuda dari Trah Brotoguno itu menari-nari sambil memainkan kerisnya. Sementara itu suara teriakkan ketakutan, jeritan kesakitan, dan raungan kematian terdengar dari hutan.

Seolah menjadi musik latar, pemuda itu tertawa dan menari tanpa merasa terusik dengan kematian seluruh warga desa di hutan itu.

“Hahaha! Mati.. Mati!” Teriaknya sambil melompat kegirangan.

Ia melihat kerisnya bergetar, menandakan setiap nyawa yang ditumbalkan menjadi kekuatan bagi dirinya.

“Dengarkan aku Raden Argoyo.. Aku Elang Brotoguno! Akulah yang akan menghabisimu dan sangkaratuh!” ucapnya geram.

“Aku dan Buto Bhayak yang akan menduduki singgasana Rojomayit dan menguasai seluruh jagat dedemit!”

“Grrrraarroooorrr!!” Boto Bhayak seolah merasakan amarah Elang Brotoguno, tuannya. Ia menghabisi warga desa yang telah membunuh kakak dari elang dan pengikutnya.

Niat penumbalan, dan dendam akan kematian kakaknya membuatnya tak memikirkan belas kasihan pada mereka.

Saat matahari akhirnya menyembul dari ufuk timur, suasana berubah menjadi sunyi senyap.

Deburan ombak terdengar tenang, mencuci sisa-sisa jejak darah di pesisir pantai. Namun, tidak ada lagi suara manusia. Desa itu telah menjadi desa mati, dan hutan di perbatasan pantai itu kini hanya berisi keheningan yang abadi.

***
Di sebuah sudut sunyi di Timur Pulau Jawa, sebuah pemakaman tua mendadak berubah menjadi panggung perayaan yang ganjil. Alunan gending bertalu-talu, memecah kesunyian malam. Janur kuning melengkung indah, terikat pada batang-batang pohon kamboja yang meranggas. Hidangan tersaji lengkap, penari bergerak gemulai, seolah-olah kematian bukan lagi hal yang tabu di sana.

Di tengah pelaminan yang megah namun dingin, duduklah Kanjeng Sarwaji. Keadaannya memprihatinkan; tubuhnya yang kurus kering seolah hanya tinggal kulit yang membungkus tulang, duduk membisu di kursi roda. Entah ilmu hitam apa yang ia gunakan hingga mampu bertahan hidup setelah ritual maut Raden Argoyo yang lalu.

“Restuku untuk kalian berdua... setelah tengah malam nanti, nyawa dan sukmamu takkan lagi terpisahkan,” bisik Kanjeng Sarwaji. Suaranya serak, nyaris tenggelam oleh suara saron yang melengking.

Mempelai di hadapannya bukanlah manusia. Mereka adalah perwujudan dari ambisi gelap. Nyi Wagitayub, roh ingon (peliharaan) dari Trah Wagiatmo, bersanding dengan Ki Krobong, entitas terkutuk yang dipanggil jauh dari tanah Dewata.

“Nyi Wagitayub... Ki Krobong... dengan selesainya perjamuan ini, Trah Wagiatmo sah menjadi pewaris tunggal kekuatan keramat Patiwongso,” ucap pemimpin ritual sambil mengangkat sebuah cawan kuningan.

Cawan itu berisi cairan kental berwarna merah pekat—darah murni dari keturunan Wagiatmo yang dikorbankan sebagai rogo manten (raga pengantin).

Korbannya adalah Nyai Sakmo, istri dari pria yang raganya kini telah dirasuki sepenuhnya oleh Ki Krobong. Darah yang mengucur dari tubuh Nyai Sakmo tidak dibuang, melainkan menjadi hidangan utama bagi para tamu tak kasat mata yang hadir malam itu.

Tepat saat darah itu tandas diminum, suasana berubah drastis. Seluruh pengikut manusia yang membantu ritual itu mundur perlahan, lalu menghilang ke balik kegelapan hutan makam. Tak ada lagi manusia yang tersisa, kecuali sepasang mempelai iblis itu dan Nyai Sakmo yang berdiri mematung di samping mereka dengan tatapan kosong.

Saat malam mencapai puncaknya, dari kejauhan, pemain gamelan mulai memainkan gending siren. Seketika, desa di bawah kaki bukit menjadi senyap secara tak wajar. Seluruh penduduk jatuh ke dalam tidur lelap yang dipaksakan. Roh-roh mereka seolah ditarik paksa dari raga, berjalan limbung mengikuti suara gamelan menuju ke arah pemakaman.

Ki Krobong menyeringai lebar. Ia bangkit dan menyambut kedatangan sukma-sukma warga desa yang datang memenuhi "undangan" pernikahan mereka.

Bagi mata manusia biasa, pemakaman itu tetaplah gelap dan sunyi, hanya menyisakan suara gamelan yang sayup-sayup terbawa angin.

Namun bagi mereka yang memiliki mata batin, pemandangan itu adalah neraka. Mereka akan melihat bagaimana Ki Krobong dan Nyi Wagitayub berpesta pora, mengoyak dan melahap sukma warga desa yang terjebak dalam perayaan maut tersebut.

Jeritan tanpa suara bergema di alam gaib. Warga desa tidak mati secara fisik, namun mereka kini hanyalah cangkang kosong tanpa nyawa.

Kanjeng Sarwaji memperhatikan perubahan pada diri Nyai Sakmo. Wujud wanita itu semakin memikat, kecantikannya melampaui akal sehat manusia, namun aura mengerikan memancar kuat dari tubuhnya. Senyumnya kini hanya menyisakan kekejian yang murni.

“Raden Argoyo...” Kanjeng Sarwaji berbisik dengan bibir yang kaku dan gemetar karena dendam yang membara. “Saatnya kami membalas setiap tetes penderitaan yang kau berikan.”

***
PETUNJUK MASA LALU
(Di Jawa Barat…)

Malam sudah lama melewati puncaknya, namun Desa Dirga masih terpaut jarak beberapa jam lagi. Deru knalpot Vespa tua milik Cahyo membelah keheningan jalur antarkota yang membelah perbukitan. Angin malam yang menusuk tulang membuat perjalanan terasa kian berat.

"Kalau kita paksakan terus sampai rumah Dirga, kita sampai dini hari nanti," teriak Danan dari kursi penumpang, suaranya bersaing dengan deru mesin.

“Istirahat dulu, Jul. Kakiku udah keram ini..” Balas Danan sambil meringis memegangi pahanya setelah perjalanan berjam-jam menaikki Vespa tua Cahyo.

“Masih hutan-hutan, di depan harusnya ada perkampungan,” ucap Cahyo sedikit melambatkan motornya.

Beberapa menit kemudian, mereka menemukan pemukiman di jalur perbukitan. Bukan desa yang padat, rumah-rumahnya saling berjauhan, dipisahkan oleh rimbunnya pepohonan.

Di sana, mereka menemukan sebuah pom bensin kecil yang sudah tutup, lengkap dengan sebuah mushola di sampingnya. Mereka memutuskan untuk berhenti, berniat memejamkan mata sejenak agar tiba di tujuan menjelang subuh dengan kondisi segar.

"Biasanya banyak truk yang berhenti istirahat di sini. Kok tumben kosong melompong begini?" tanya Danan curiga setelah selesai membasuh wajahnya di tempat wudhu.

Cahyo teringat sesuatu. "Tadi ada perbaikan jembatan di bawah, Jul. Mungkin kendaraan besar disuruh memutar lewat jalur utama," jawab Cahyo.

Danan mengangguk paham. Mereka pun mengambil posisi nyaman menggunakan tasnya sebagai bantal untuk tiduran dan menutup mata sejenak.

Di tengah lelapnya, Danan samar-samar terganggu oleh suara langkah kaki.

Suara itu datang dari arah jalan raya.

Awalnya ia mengira hanya seseorang yang kebetulan melintas, hal yang wajar di tempat seperti itu. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa tidak biasa. Rasa ganjil itu memaksanya membuka mata.

Danan bangkit perlahan, lalu duduk sambil menajamkan pendengaran.

Langkah itu semakin mendekat.

Namun saat suara itu tepat berada di depan pom bensin tempat mereka beristirahat, napas Danan seketika tertahan.

Itu… bukan langkah kaki manusia.

Di hadapannya, melintas sosok makhluk setinggi hampir tiga meter. Wajahnya panjang tak wajar, tubuhnya dibalut pakaian lusuh yang berkibar pelan tertiup angin malam.

Makhluk itu berjalan… seolah dunia ini memang miliknya.

Danan sudah cukup terbiasa melihat hal-hal tak kasat mata. Namun kali ini berbeda.

Ada sesuatu yang jauh lebih tua… dan lebih berbahaya dari sekadar setan gentayangan.

“Kenapa, Nan…?”

Suara Cahyo terdengar pelan di belakangnya. Ia ikut terbangun, merasakan keganjilan yang sama.
Danan tak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah jalan.

“Itu…”

Cahyo mengikuti arah tunjukannya. Ia segera mengikat sarungnya dan melangkah mendekat ke tepi jalan, matanya menyipit mencoba memahami apa yang ia lihat.

“Apa itu…?” gumamnya. “Nggak terasa seperti makhluk buas… tapi perasaanku nggak enak.”
Danan menoleh.

“Jadi kamu juga ngerasain?”
Cahyo mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara, Danan segera meraih tasnya.
“Heh! Mau ke mana? Tungguin!” seru Cahyo, bergegas menyusul saat melihat Danan mulai berjalan mengikuti makhluk itu.

“Nggak ada truk besar atau kendaraan yang berhenti di sini…” ujar Danan pelan, matanya tetap terpaku ke depan. “Mungkin bukan cuma soal jembatan rusak.”
Ia menarik napas dalam.

“Ada yang nggak beres di tempat ini, Jul.”

Cahyo menoleh ke sekeliling. Jalanan tampak biasa saja. Sepi, tapi tidak janggal—kecuali sosok yang mereka ikuti itu.

“Tapi selain itu… aku nggak lihat apa-apa,” balasnya ragu.

Mereka terus berjalan, menjaga jarak.
Perlahan, makhluk itu mulai memudar… lalu menghilang begitu saja.

Beberapa kendaraan melintas dari arah berlawanan, seolah tak terjadi apa-apa.

Danan dan Cahyo saling berpandangan.
Namun tak lama kemudian, Danan melihat sesuatu. Sosok itu muncul lagi, kali ini berbelok ke sebuah jalan sempit.

Mereka segera mengikutinya.

Semakin jauh mereka melangkah, suara-suara aneh mulai terdengar dari kejauhan.

Pelan… berdesing… seperti sesuatu yang berderit.
Dan di sanalah mereka melihatnya. Sebuah kubangan besar. Airnya hitam pekat.

Makhluk itu masuk ke dalamnya, perlahan tenggelam hingga hanya kepalanya yang tersisa di permukaan.
Namun ia tidak sendiri. Di antara permukaan air yang gelap itu, satu per satu kepala lain ikut menyembul. Tak bergera, Mengambang.

Menatap kosong…

Makhluk itu bersuara aneh, dan diantaranya terdengar suara besi. Saat itulah danan dan cahyo menyadari bahwa sebagian leher makhluk itu berkalungkan rantai yang terikat ke pohon-pohon di sekitarnya. Mereka pun sadar, makhluk itu memiliki tuan.

“Jangan biarkan mereka mengambil alih alam manusia…”

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Danan dan Cahyo. Suara yang tenang bersama kehadiran sosok yang mereka rasakan di belakang.

Tapi saat mereka menengok ke belakang.
Deg.

Danan dan Cahyo terbangun bersamaan. Mereka masih berada di teras mushola tempat mereka beristirahat.

“Nan? Tadi?” Cahyo memastikan apa yang ia lihat.
“I—iya? Apa itu?” Danan pun tak mengerti, namun ia memastikan bahwa mereka mendapati penglihatan yang sama.

Mereka buru-buru berlari menuju arah di mimpi itu, namun mereka tak menemukan jalan menuju ke kubangan itu.

“Itu peringatan…” ucap Danan. Ia mencoba membaca maksud dari penglihatan itu.

“Makhluk di kubangan, rantai, seolah mereka dipersiapkan untuk sesuatu.” Tambah Cahyo.

Tanpa aba-aba, Danan menarik kerisnya, membaca sebuah mantra, dan memisahkan sukmanya dari raganya.

“Tolong jaga ragaku!” Perintah Danan.
Roh Danan nekat masuk mengikuti arah di penglihatan itu, namun semua berbeda. Hanya hutan dan tak membawanya pada kubangan dimana makhluk itu berada.

Namun saat ia ingin kembali ke raganya, ada sosok yang bercahaya menanti di belakangnya.

“Sosok yang telah kusegel akan dibangkitkan kembali. Dan bila itu terjadi, makhluk itu akan mengganggu keseimbangan dua alam..” ucap sosok yang tak dapat Danan lihat dengan jelas itu.

“Siapa kau? Ceritakan dengan lebih jelas..”
Makhluk itu menggeleng, wujudnya memudar.

“Aku hanya makhluk yang telah di telan masa, namun setiap petunjuk yang kutinggalkan akan menuntun kalian menghadapi bencana yang tak bisa kuselesaikan…”

Sratt!!!

Sosok itu pun menghilang dari pandangan danan, benar-benar tanpa jejak.

Ia pun kembali ke tubuhnya dan menceritakan apa yang ia temukan pada Cahyo.

“Apa yang ia maksud ada hubungannya dengan tanah-tanah terkutuk itu?” Tanya Cahyo.

“Mungkin saja.. yang aku tahu, sosok itu tidak hidup di zaman yang sama dengan kita..” Balas Cahyo.

Danan dan Cahyo pun tak membuang waktu, mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju desa Dirga. Mereka melewati pabrik tahu, menyebrangi sungai, dan sampai di kediaman Dirga beberapa saat setelah Adzan subuh berkumandang.

***
Suara knalpot motor Cahyo mudah dikenali. Baru saja mereka turun dari motor, Abah dan Dirga segera keluar menyambut.

“Sini, Mas… Dirga bantu,” ucap Dirga sambil membantu Danan dan Cahyo membawa bungkusan.

“Ayo masuk. Istirahat dulu. Pasti kalian capek,” sambut Abah.

Danan dan Cahyo mencium tangan Abah sebelum mengikuti arahannya untuk masuk.

“Biarpun udah berkali-kali naik ‘si Mbah’ ke mana-mana, tetap aja paha nggak selamat, Bah,” keluh Danan.

“Hehe, kan darurat,” balas Cahyo.

“Haha… tapi hebat, Vespa setua itu masih bisa jalan sejauh ini,” ujar Abah, yang paham betul bagaimana Cahyo merawat motor itu dengan sangat apik.

Setelah beristirahat dan bersih-bersih, mereka menikmati suguhan yang dibuatkan Emak di teras rumah.

“Mas…” Dirga keluar sambil membawa sebuah benda yang dibungkus kain. Ia membukanya dan menunjukkannya pada Danan.

“Ini… keris Dasasukma?” tanya Danan, mengenali keris milik Dirga. “Kenapa terasa ada sesuatu yang berbeda?”

Cahyo mendekat. Saat itu, Wanasura yang bersemayam di dalam tubuhnya pun ikut waspada.

“Bahkan Wanasura pun tidak tenang,” ucap Cahyo.

Abah ikut bergabung, lalu menceritakan bagaimana mereka menemukan kekuatan keramat itu—jauh terpendam di bawah pohon ceruluk—dan bagaimana kehadiran Dirga justru melepaskan segelnya.

“Tanah keramat? Kaki?” Danan berpikir. Ia teringat firasatnya saat berada di tanah yang dijaga Mbah Prawita.

“Nan, Mbah Prawita pernah bilang ada beberapa kekuatan serupa dengan tanah keramat itu, dan semuanya berasal dari sumber yang sama…” lanjutnya.

Danan mengangkat keris Dasasukma, memastikan.

“Benar… ini kekuatan yang sama persis dengan yang direbut oleh pemuda dari trah keramat itu.”

Ia lalu mengeluarkan lembaran pemberian Mbah Prawita yang menunjukkan enam simbol tersebar: ujung timur dan barat Jawa, Pulau Dewata, sebuah pulau di selatan Jawa, serta beberapa titik di tengah lautan.

Danan memberi tanda pada simbol di timur Jawa dan barat. Yang di timur sudah direbut, dan kekuatan di barat ada pada keris Dasasukma. Jika sosok yang disebut Raden Argoyo itu memiliki satu, berarti masih ada tiga kekuatan lagi yang belum diketahui keberadaannya.

“Mas Danan tahu ini kekuatan apa?” tanya Dirga.
Danan menggeleng. “Mas cuma tahu kalau kekuatan ini berbahaya… dan ada sosok yang memperingatkan bahwa kekuatan ini terkait dengan sesuatu yang disegel.” Ia teringat sosok misterius yang menemuinya malam sebelumnya.

“Cara menghentikannya?” tanya Dirga lagi.

“Kita belum tahu. Satu-satunya hal yang kami ketahui—sekaligus tujuan kami ke sini—berhubungan dengan kamu, Dirga,” ucap Cahyo.

“Aku?”

Cahyo lalu menceritakan perkataan Mbah Prawita: bahwa kekuatan itu dulunya disegel dengan ‘berkah’ yang dimiliki raja pada zamannya. Dan jika harus menyegelnya kembali, maka dibutuhkan seseorang yang mewarisi ‘berkah’ tersebut.

“Ta—tapi aku bukan…” Dirga ragu.

“Kami tahu, Dirga. Prabu Arya Darmawijaya bahkan mengenalimu—keturunannya yang diberkahi. Dan kau yang menyegel kekuatan ini dalam keris Dasasukma… itu seperti memastikan perkataan Mbah Prawita,” jelas Danan.

Dirga masih belum sepenuhnya yakin, namun ucapan Danan terasa masuk akal. Mungkin itu sebabnya segel kekuatan tersebut terlepas saat ia datang, dan kini justru tersegel di pusakanya.

“Yang kami khawatirkan…” Wajah Abah tampak cemas. “Kami belum mendengar kabar dari Jagad. Sudah seminggu dia pergi tanpa kabar.”

Danan dan Cahyo saling bertatapan.

“Apa telepon genggamnya masih aktif?” tanya Danan.

“Iya, sempat membalas. Katanya Mas Jagad baik-baik saja, tapi tetap tidak memberi tahu apa yang sedang ia lakukan,” jawab Dirga.

“Itu berarti dia sedang berurusan dengan sesuatu yang berisiko besar dan tidak ingin melibatkan kita,” ujar Danan.

“Itu juga yang kami khawatirkan,” tambah Abah.

“Untuk sementara… sepertinya kita hanya bisa percaya dulu pada Jagad,” ucap Danan.

“Lantas, apa yang sebaiknya kita lakukan, Mas?” tanya Dirga.

Danan kembali membuka lembaran peta. Ia menunjuk ke arah selatan Pulau Jawa—sebuah pulau yang ditandai simbol keramat.

“Aku ingat tempat ini. Tidak jauh dari lokasi saat sukma kami dan Paklek dulu sempat disembunyikan,” ucap Danan.
Cahyo langsung memahami maksudnya. Ia teringat kejadian ketika Bara seolah ingin membunuh mereka, padahal sebenarnya hanya menyembunyikan sukma mereka.

“Kalau memungkinkan, kita segel dulu kekuatan di pulau itu sebelum jatuh ke tangan orang-orang itu,” lanjut Danan.

“Tanpa Mas Jagad?” tanya Dirga, masih ragu.

“Kita beri tahu tujuan kita. Kalau memungkinkan, dia pasti akan menyusul,” jawab Cahyo.

Dirga mengangguk setuju, namun wajah Abah masih dipenuhi kecemasan. Ia menghela napas panjang.

“Abah tidak akan melarang…” ucapnya pelan. “Tapi Abah juga tahu, yang kalian hadapi ini menyangkut hidup dan mati.”

Dirga sedikit menunduk, memahami kekhawatiran ayahnya.

“Kami mengerti, Bah… kami janji tidak akan gegabah,” ucap Danan.

“Abah percaya pada kalian… tolong jaga Dirga baik-baik,” ujar Abah.

“Pasti, Bah…” Cahyo merangkul Dirga yang kini sudah tumbuh semakin tinggi.

Danan sadar, perjalanan ini tidak akan mudah. Ia mulai mempersiapkan segalanya—hatinya, keris Ragasukma, serta kembali mempelajari ajian-ajian yang dulu ia latih bersama ayahnya.

Namun di tengah ketegangan itu, sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya.

“Mas… ada rencana pulang ke desa?”

Pesan singkat dari Naya memecah fokusnya. Seketika, ia teringat Desa Kandimaya, tempat ibu dan kekasihnya berada.

“Iya, Dek. Bulan ini rencananya pulang,” balas Danan.

Ia berharap masih memiliki waktu, walau sebentar, untuk menemui Naya dan ibunya. Namun, ia harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu.

“Kalau begitu hati-hati ya, Mas. Semoga semua urusannya lancar, jadi Mas Danan bisa cepat ke sini. Nanti Naya masakin yang enak…”

Balasan itu seketika mengukir senyum kecil di wajah Danan. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan harapan itu.

“Iya, Dek. Titip Ibu ya…” balasnya.

Keesokan harinya, Danan, Cahyo, dan Dirga berpamitan kepada Abah dan Emak. Mereka meninggalkan ‘si Mbah’ di rumah Abah, lalu menaiki bus menuju salah satu kota di selatan Pulau Jawa.

Dari sana, mereka akan melanjutkan perjalanan dengan kapal nelayan menuju pulau yang menyembunyikan kekuatan misterius itu.

***
PARA PEMUJA IBLIS

Malam itu, awan hitam menutupi langit di sebuah pulau kecil, pulau berbukit yang dulu pernah menjadi persinggahan tokoh-tokoh besar pembangun Nusantara.

Angin menderu, ombak berdebur tanpa henti. Alam sama sekali tidak tenang.

Dua kapal sempat tertambat, namun segera meninggalkan pulau itu saat menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.

Raden Argoyo berdiri di pusat pulau, ditandai sebuah batu yang dikelilingi patung-patung kayu tua yang nyaris hancur dimakan waktu.

Baru saja ia menaburkan kembang di sekitar batu itu, tiba-tiba sebuah tangan hitam mencengkeram kakinya.

Raden Argoyo tak gentar. Ia meludah ke arah tangan itu, dan seketika api menyala membakarnya. Namun alih-alih lenyap, semakin banyak tangan hitam bermunculan dari dalam tanah.

“Tunjukkan wujudmu…” ucap Raden Argoyo, menyadari ada seseorang di balik semua ini.

“Hahahaha… payah! Padahal aku masih ingin bermain!”

Seorang pemuda muncul dari balik kegelapan. Ia memainkan keris kebanggaannya, dan tangan-tangan hitam itu seketika berubah menjadi asap, lalu merasuk ke dalam keris tersebut.

“Keris itu… Brotoguno?” tebak Raden Argoyo.

“Ya! Ingat namaku—Elang Brotoguno! Adik dari Jelma Brotoguno yang kau habisi dengan bengis!” balas Elang, wajahnya berubah penuh amarah.

Raden Argoyo hanya tertawa kecil. Ia memalingkan wajah, lalu kembali menabur bunga, melanjutkan ritualnya seolah tak peduli.

“Meremehkanku?” Elang tersenyum tipis, menikmati keadaan itu.

Srrabb!!

Dalam sekejap, Elang sudah berada di belakang Raden Argoyo, mencengkeram kepalanya.

“Memegang kepala orang tua itu tidak sopan!”
Suara itu kini justru terdengar di belakang Elang. Dalam sekejap, posisi mereka berbalik—Raden Argoyo kini mencengkeram kepala Elang.

Namun Elang tidak lengah. Kerisnya berputar dan langsung menghujam perut Raden Argoyo.

“Bodoh!” ucap Elang tanpa menoleh.

Ia merasakan kerisnya menancap, namun tak ada jeritan. Wujud Raden Argoyo tiba-tiba menguap.

Elang menoleh. Serangannya tak berarti apa-apa.

Menyadari ada yang janggal, ia menebaskan kerisnya. Gelombang kekuatan yang dilepaskannya memperlihatkan wujud asli sosok di hadapannya.

“Sangkaratuh…” desis Elang geram.

Sejak tadi, yang ia hadapi bukanlah Raden Argoyo, melainkan tangan kanan setianya—Sangkaratuh.

“Khehehe… ternyata kau butuh waktu lama untuk menyadarinya,” ejek Sangkaratuh.

“Kau yakin?”

“Aku bisa membaca niatmu, Elang Brotoguno! Apa pun yang kau lakukan, kau takkan bisa mengalahkan Raden Argoyo!” ucapnya.

Elang tersenyum sinis.

“Tujuanku memang kau, Sangkaratuh.”
“Hoo…” Sangkaratuh berpura-pura terkejut.

“Kau pikir aku tak tahu bahwa Raden Argoyo berada di titik ritual yang sebenarnya?”

Senyum Sangkaratuh seketika memudar.
“Apapun rencanamu, kau takkan bisa mengalahkan tuanku.”

“Dulu tidak… tapi sekarang…”

Tiba-tiba, raungan menggema dari sisi lain hutan. Suara itu membawa rasa ngeri, menyelimuti seluruh pulau.

“Aku sudah mendapatkannya… bagian yang lebih kuat darimu!” ucap Elang.

Menyadari ancaman yang jauh lebih besar, Sangkaratuh seketika menghilang... meluncur menembus kegelapan, kembali menuju tuannya.

Dharr! Dharr!!

Banaspati berterbangan liar, menghantam tumpukan batu peninggalan masa silam. Namun semuanya terhenti sebelum mencapai pusatnya seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan, melindungi sesuatu yang jauh lebih besar.

Di pusat pulau, Raden Argoyo berdiri. Wajahnya murka. Satu matanya meneteskan darah, sementara pertempuran tak kasat mata berlangsung dahsyat di sekelilingnya.

“Siapa kau!? Apa urusanmu denganku!?” teriaknya, suaranya menggema melawan badai.

Tak ada jawaban.

Hanya raungan… panjang, berat, dan menekan jiwa.
Berkali-kali Raden Argoyo melepaskan ilmunya, ilmu yang mampu menghabisi setengah desa dalam semalam. Namun malam itu, semua kekuatannya seolah lenyap tak berarti.

Saat ia menarik kerisnya, tekanan di udara berubah.
Sosok itu… mulai terlihat.

Sebuah senyum mengerikan terukir di wajahnya.
“Buto…” desis Raden Argoyo. Ia tahu, ini bukan lawan biasa.

Namun Buto Bhayak justru menyambutnya.

Raden Argoyo merapalkan mantra. Saat kerisnya terhunus, gelombang kekuatan hitam meledak dari tubuhnya.

Buto Bhayak membalas. Matanya menghitam pekat, memancarkan kekuatan yang setara.

Tanah bergetar. Langit bergetar. Dua kekuatan gelap saling menghantam, mengguncang pulau hingga ke akarnya.

Namun Buto Bhayak tetap tersenyum.
Perlahan, ia membuka mulutnya, dan dari dalamnya, api berbentuk ular melesat, membelah hujan, mengincar Raden Argoyo.

DHARR!!!

Ledakan mengguncang langit.

Namun api itu tak pernah mencapai targetnya.
Sangkaratuh telah tiba.

Ia berdiri di hadapan tuannya, menahan serangan itu tanpa bergeming.

“Buto… makhluk itu lahir dari sumber yang sama denganku,” ucapnya tenang.

“Aku sudah tahu,” balas Raden Argoyo dingin.

Tak lama kemudian, Elang muncul. Ia menepuk tangannya perlahan, menikmati kekacauan yang terbentang di hadapannya.

“Kalian terlalu sombong…” ucapnya sambil tertawa.

“Buto Bhayak adalah yang terkuat. Sosok peniru seperti Sangkaratuh takkan bisa mengalahkannya!”

Raden Argoyo melangkah maju, tenang, dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Di hadapannya, Sangkaratuh melayang, setia menjaga.

“Bodoh…” Raden Argoyo tertawa rendah.
“Jika kau mengira Sangkaratuh hanyalah roh peniru… maka kau benar-benar tak mengerti apa yang kau hadapi.”

“Cuih!” Elang meludah ke tanah.

“Aku tahu kekuatan Sangkaratuh! Semuanya! Kemampuannya, kutukannya, dan sumber kekuatannya! Dan semua itu… tetap bukan tandingan Buto Bhayak!”
Raden Argoyo hanya tersenyum tipis, jemarinya memainkan janggutnya.

“Oh ya?” ucapnya pelan. “Kalau begitu… apa kau tahu ini?”

Dalam satu isyarat... Sangkaratuh berubah.

Tubuhnya membesar. Matanya menghitam. Wujudnya merekah, berubah menjadi sosok raksasa mengerikan.
Buto. Itu wujud yang sama dengan sosok di hadapannya. Wujud Buto Bhayak.

“Meniru?” Elang tertawa sinis.
“Sangkaratuh tidak meniru…” suara Raden Argoyo merendah. “Dia… menjadi.”

Sekejap kemudian, Sangkaratuh dalam wujud Buto Bhayak membuka mulutnya. Api berbentuk ular menyembur keluar, mengarah langsung ke Buto Bhayak yang asli.

“Apa?!” Elang tertegun.

Buto Bhayak membalas. Dua ular api saling bertabrakan di udara, menciptakan ledakan yang mengguncang langit.

“Tiruan tetaplah tiruan! Takkan pernah bisa melampaui yang asli!” teriak Elang.

Ia menggerakkan tangannya.

Dalam sekejap, Buto Bhayak menerjang Sangkaratuh.
Benturan kekuatan terjadi—begitu dahsyat hingga tanah pulau itu retak, pecah, dan bergetar seperti akan runtuh.

“Memang tidak sama…” ucap Raden Argoyo dingin.

“Dengan wujud dan kemampuan yang sama… kekuatan Sangkaratuh jauh melampaui boneka bodohmu itu.”

Ia menarik keris hitamnya. Kekuatan pekat mengalir darinya, menghujam ke tubuh Sangkaratuh.

Dalam sekejap, aura Sangkaratuh melonjak tajam. Gelombang kekuatannya memaksa Buto Bhayak mundur.

“Hahaha!! Jangan remehkan Buto Bhayak!” Elang melesat maju.

Kerisnya menari, menebas berkali-kali tubuh Sangkaratuh. Dari setiap luka, energi hitam mengalir masuk memperkuat Buto Bhayak.

Dharr! Dharr!!

Petir menggelegar. Hujan turun semakin deras.
Dua kekuatan besar bertabrakan tanpa henti, tak memberi celah, tak memberi jeda.

Pulau itu berubah menjadi medan kehancuran.
Raungan makhluk-makhluk tak kasat mata menggema, menembus malam, terdengar hingga pulau-pulau terdekat.

Sebuah kejadian yang tak lagi bisa dijelaskan dengan akal manusia.

Dan di tengah kekacauan itu…

sebuah kapal nelayan akhirnya berhasil merapat.
Lambung kayunya berderit keras dihantam ombak. Angin meraung seperti ingin menelan mereka hidup-hidup.

Kilat menyambar tanpa henti, memperlihatkan siluet pulau itu menjadi gelap, dingin, dan terasa… hidup.
Dengan susah payah, mereka menembus badai dan akhirnya menginjakkan kaki di pulau terkutuk itu.

Tanpa mereka sadari… mereka baru saja memasuki pusat bencana yang sesungguhnya.

“Edan, Mas! Kalau bukan demi nganterin Mas Danan, kami nggak bakal nekat ngelewatin badai begini!” teriak seorang nelayan, suaranya hampir tenggelam oleh angin.

“Maaf, Mas… tapi kalau sudah seperti ini, berarti sesuatu sudah terjadi!” balas Danan cepat, matanya menatap tajam ke arah pulau.

“Kami paham! Urusan beginian kami percayakan ke Mas Danan… tapi kami nggak akan tinggal di sini!” ujar nelayan lain, wajahnya pucat melihat keadaan sekitar.

“Iya, Mas! Kami pilih lawan badai di laut daripada nunggu mati di sini. Nanti kami jemput kalau keadaan sudah tenang!”

Danan mengangguk. Ia mengerti.

Tanpa membuang waktu, ia, Cahyo, dan Dirga turun dari kapal. Mereka memastikan tak ada barang yang tertinggal.

“Hati-hati! Bilang ke yang lain—jangan ada yang mendekati pulau ini untuk sementara!” teriak Cahyo.

Para nelayan hanya sempat melambaikan tangan sebelum buru-buru memutar kapal, meninggalkan pulau itu secepat mungkin.

“Ayo!” ujar Danan singkat.
Mereka langsung bergerak.

Menembus hutan kecil yang gelap, menerjang semak-semak basah, memanjat jalur licin menuju bukit. Angin terus menghantam tubuh mereka, seolah ingin memaksa mereka mundur.

Namun sebelum mencapai puncak, Dirga tiba-tiba berhenti.

Trrrrr… trr…

Ia merogoh tasnya, lalu mengeluarkan keris.

“Keris Dasasukma… bergetar…” ucapnya pelan, namun jelas dipenuhi kecemasan.

“Nan…” suara Cahyo menegang.
Ia menunjuk ke kejauhan.

Dua sosok raksasa… saling beradu kekuatan.

“Gila…” napas Danan tertahan. Ia berlari menuntun mereka menuju arah itu, ia menemukan satu bukit batu kecil tempat dimana mereka bisa melihat apa yang terjadi di sana dengan jelas.

“Siapa mereka?” Tanya Dirga.

“Pemuda itu… dia yang mengambil kekuatan dari tanah yang dijaga Mbah Prawita. Sosok buto di sampingnya adalah perwujudan kekuatan itu,” jelas Danan.

“Kalau dia sedendam itu, berarti yang dilawannya adalah Raden Argoyo,” tebak Cahyo.

Setelah itu, mereka terdiam. Tak ada yang bergerak. Mereka hanya menyaksikan pertarungan mengerikan yang terasa mampu memusnahkan pulau itu dalam satu malam.

Danan menggenggam kerisnya. Dalam hati, ia berpikir... bagaimana cara menghadapi kekuatan seperti itu?
Ajian Lebur Saketi? Tidak… Memanggil Nyai Sendang Rangu? Wujud manunggal?

Semua terasa tidak cukup.

Di sisi lain, Cahyo mengepalkan tangannya erat-erat. Ia tahu, bahkan dengan Wanasura, ia belum tentu mampu menghadapi salah satu dari mereka.

“Nan…”

“Iya, aku paham… kita tidak boleh gegabah.”

Dirga menatap keduanya. Jarang sekali ia melihat Danan dan Cahyo gentar seperti ini.

Entah sudah berapa kali angin kencang menghantam mereka. Entah sudah berapa kali petir menyambar pulau itu. Namun semua itu tak membuat Elang dan Raden Argoyo menghentikan pertarungan mereka.

“Trah Argoyo akan mati di tanganku!!”
Srrattt!!

Keris Elang menancap lebih dalam ke tubuh Buto Bhayak, membuat kekuatannya semakin meledak.

Makhluk itu mengeluarkan darah dari mata dan telinganya. Namun bukannya melemah, kekuatannya justru semakin mengerikan.

Sayangnya, hal yang sama terjadi pada Elang. Darah mulai mengalir dari mata dan telinganya.

Raden Argoyo menyadari hal itu. Ia melukai jarinya sendiri, lalu menorehkan mantra di tubuh Sangkaratuh.

Kekuatan mereka kembali meningkat.
Tak ada satu pun yang tumbang.

“Khehehe… setelah malam ini, makhlukmu akan menjadi milikku!” ucap Raden Argoyo.

Nada suaranya sombong, namun jari-jarinya mulai menghitam, tanda ada harga yang harus ia bayar.

Danan semakin bingung. Ia yakin, kedua pemimpin trah keramat itu masih menyimpan kekuatan lain yang belum mereka keluarkan.

“Tidak bisa… kita tidak bisa menghadapi ini hanya dengan kita,” ucap Danan.

“Benar. Dan waktu kita tidak banyak. Apalagi kalau membayangkan ada enam makhluk seperti mereka…” tambah Cahyo.
Beberapa nama sempat terlintas di benak mereka—orang-orang yang mungkin bisa menandingi kekuatan itu.

Namun bahkan itu pun terasa belum cukup.
“Mau sepuluh, seratus, bahkan seribu tumbal akan kulakukan! Akan kutumbalkan apa pun untuk memusnahkan kalian, Trah Argoyo!” teriak Elang sambil menancapkan kerisnya ke tanah.

Sekali lagi, tanah meledak.

Namun kali ini bukan menuju Sangkaratuh, melainkan ke arah Raden Argoyo.

“Khehe… sia-sia,” balas Raden Argoyo dingin. “Tumbal seperti itu lebih baik untuk menambah umurku.”
Matanya menghitam.

Ia memuntahkan cairan hitam ke tanah. Ledakan itu pun terhenti.

Kini, asap hitam muncul dari dalam tanah, berbalik mengincar Elang.Namun saat pertarungan semakin memuncak…

tiba-tiba bayangan besar menutupi mereka.

Sebuah batu sebesar rumah jatuh dari langit.

Dhuarrr!!

Raden Argoyo dan Elang terpaksa melompat menjauh, menghindari hantaman itu. Tubuh mereka terpental dari posisi semula.

“Ada hal seseru ini… kenapa aku tidak diajak?”

Sebuah suara terdengar dari atas batu itu. Seorang sosok berdiri di sana.

“Siapa kau!? Beraninya mengganggu kami!” teriak Elang, hendak menyerang.

Namun langkahnya terhenti.
Di belakang sosok itu… berdiri sesuatu.

Sesosok mayat.

Tubuhnya hitam, rambutnya panjang, pakaiannya seperti bangsawan dari masa lampau.

Dan auranya… bukan milik makhluk biasa.

Raden Argoyo yang baru bangkit langsung menatap tajam.

“Wangsapati…” desisnya geram.

“Hahaha! Sekutu lama kami ternyata masih mengingat!” tawa sosok itu menggema.

Di kejauhan, Danan, Cahyo, dan Dirga berusaha bangkit setelah terpental oleh hempasan batu.
“Mas Danan!” seru Dirga.

Ia menatap sosok mayat itu dengan wajah tegang.

“Mayat itu… serupa dengan makhluk-makhluk itu. Mereka wujud dari kekuatan dengan sumber yang sama…”

Danan mengangguk setuju. Ia merasakan kekuatan dari mayat itu. kekuatan yang sama dengan yang tersegel di keris Dasasukma.

Grrrrr…
Tiba-tiba, Wanasura di dalam tubuh Cahyo menggeram.

Deg.

Cahyo langsung merasakan sesuatu yang tidak beres. Wanasura memberi peringatan. Aura yang muncul… jauh lebih berbahaya dari sebelumnya.

“Danan! Kita harus pergi dari sini!” ucap Cahyo, nadanya berubah tegang.

“Tidak!” Danan menggeleng. “Kita belum bisa keluar dari pulau ini!”

“Setidaknya kita harus bersembunyi! Kita bisa mati di sini!” suara Cahyo mulai panik.

Di tengah kebingunan itu, danan mendengar sesuatu. Sesuatu yang kadang membuat mereka cemas, namun kadang membuat mereka tenang.

Entah bagaimana sulitnya mereka menggambarkannya, namun di tengah gelombang laut yang besar itu, suara kereta kencana terdengar menyatu dengan suara debut ombak.

“Cahyo… suara itu….”

***
(Bersambung Part 7)
Terima kasih sudah membaca Part ini hingga selesai. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung.

Buat temen-temen yang mau baca kelanjutannya duluan bisa mampir ke @karyakarsa_id ya :

karyakarsa.com/diosetta69/sin…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Diosetta

Diosetta Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @diosetta

Apr 2
Singgasana Rojomayit
Part 5 - Dosa Sambara

"Darah yang diturunkan tak menentukan jiwa yang ditumbuhkan. Hasrat dan dendam menodai kesucian darah yang disucikan.."

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritahtImage
Part Sebelumnya :

Singgasana Rojomayit:
Part 1 - Sang Penagih Janji x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
KETURUNAN SAMBARA

Suara desing peluru memecah keheningan desa. Tajam dan tanpa ampun.

Dalam sekejap suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Warga yang masih berada di luar rumah segera berlari masuk, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Beberapa hanya berani mengintip dari celah jendela, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Namun yang mereka lihat hanyalah kekacauan.
Teriakan yang bercampur dengan suara tembakan.
Bayangan tubuh yang terjatuh.

Dan darah yang menyiprat hingga mengenai kaca jendela rumah mereka.

Tak seorang pun benar-benar berani keluar. Mereka hanya bisa bersembunyi, berdoa dalam diam agar kengerian di luar tidak merambat masuk ke rumah mereka.

Beberapa saat kemudian suara tembakan itu berhenti dan digantikan oleh derap sepatu yang berat dan teratur. Lalu suara mesin kendaraan yang menjauh perlahan dari desa.

Keheningan kembali turun. Namun keheningan itu terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya.

Setelah cukup lama menunggu, beberapa warga akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Satu per satu mereka keluar dari rumah, berjalan perlahan menuju jalan desa.

Dan saat itulah mereka melihatnya.
Beberapa orang langsung menutup mulut mereka menahan teriakan.

Di sepanjang pagar desa, kepala-kepala manusia tertancap seperti peringatan yang kejam. Tubuh mereka tergeletak tak beraturan di jalan tanah yang kini berubah merah oleh darah.

“Biadab…!” teriak seorang warga dengan suara gemetar.

“Mereka benar-benar biadab!”
Semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Orang-orang kulit putih itu.
Para penjajah yang datang bukan hanya untuk berkuasa, tetapi juga untuk menebar ketakutan.

“Mereka… siapa sebenarnya?” tanya seorang warga lain dengan suara lirih, hampir tak berani melihat lebih dekat.

Kepala desa bersama beberapa orang pria memberanikan diri memeriksa jasad-jasad itu. Mereka berjongkok di dekat tubuh yang berserakan, mencoba mengenali wajah-wajah yang kini hampir tak lagi utuh.
Salah satu dari mereka menemukan sesuatu.

Sebuah gelang.
Di pergelangan tangan korban.
Bukan hanya satu. Beberapa jasad lain juga mengenakan gelang yang sama dengan simbol aneh yang tak dikenal warga desa.

Seorang pria tua menatap gelang itu lama, lalu wajahnya memucat.

“Mereka…” suaranya nyaris berbisik. “…perompak bayangan.”

Warga lain menoleh.

“Itu kelompok yang sering merampok gudang milik penjajah,” lanjutnya. “Mereka mengambil harta dari orang kulit putih itu… lalu membagikannya ke desa-desa yang kekurangan.”

Beberapa warga langsung saling berpandangan.
“Mereka pernah membantu desa kita,” kata seseorang. “Waktu gagal panen tahun lalu…”
Rasa ngeri perlahan berubah menjadi duka.

Orang-orang yang kini tergeletak sebagai mayat itu… pernah menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Namun balasan dari penjajah jauh lebih kejam.

“Orang kulit putih itu memang tidak punya hati…” gumam seseorang dengan suara pahit.
Sementara warga masih terpaku pada pemandangan mengerikan itu, dua pemuda berdiri agak jauh dari kerumunan.

Mereka tidak mendekat.
Hanya memperhatikan dari kejauhan.
Krama menyipitkan matanya, memandangi barisan kepala yang ditancapkan di pagar.

“Ini tidak sesederhana peringatan,” katanya pelan.
Di sampingnya, Dasa mengangguk.

“Tumbal,” jawabnya singkat.
Krama menoleh.

“Tumbal?”

“Pembantaian seperti ini terlalu rapi untuk sekadar ancaman,” kata Dasa. “Ada sesuatu yang mereka inginkan.”

Krama tidak menjawab.

Tatapannya justru beralih pada jejak di tanah—bekas roda kendaraan yang masih jelas di jalan desa.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mulai berjalan mengikuti jejak itu keluar dari desa.

Dasa menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut berjalan di belakangnya. Krama mengencangkan kain di pinggangnya.
Read 14 tweets
Mar 26
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 4 - Tahta Kosong

Kekuatan terkutuk yang terkubur selama ratusan tahun itu merasuk ke dalam keris Dasasukma, dan Abah menyadari perubahan pada diri Dirga..

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
Part sebelumnya :

Part 1 - x.com/diosetta/statu…
Part 2 - x.com/diosetta/statu…
Part 3 -
x.com/diosetta/statu…
DOSA TAK TERBAYAR
Awan-awan hitam berkumpul tepat di atas pohon raksasa itu, besarnya melampaui apa yang bisa bayangkan manusia. Petir menyambar berulang kali, tetapi tak setetes pun hujan jatuh ke tanah di sekitarnya, seolah langit sendiri menolak menyentuh tempat itu.

“Dirga! Lepaskan kerismu!” teriak Abah, memaksa dirinya mendekat.

Namun ledakan kekuatan hitam yang memancar dari Keris Dasasukma menghantamnya. Abah terpental mundur, dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasatmata.

“Aku…” suara Dirga terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri. “Aku harus mendapatkan kekuatan ini!”

Tanah bergetar lebih keras.

Retakan menjalar dari batang pohon, menyebar ke tanah seperti urat-urat luka yang terbuka. Akar-akar kering bergeliat pelan, seakan hidup kembali.

Abah tak mau menyerah. Ia melangkah maju lagi, memaksakan diri menembus tekanan itu. Bibirnya tak henti melafalkan doa, satu-satunya senjata yang ia miliki.

Namun tepat saat kekacauan mencapai puncaknya, cahaya putih muncul di hadapannya.

Sosok itu samar, menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya bersinar lembut. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Abah berhenti.

“Tenang… segel itu mengenalinya.”
Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan.

Entah mengapa, Abah mempercayainya. Meski hatinya masih bergejolak melihat Dirga berdiri di pusat badai kekuatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Beberapa saat kemudian, kekuatan hitam itu mulai meredup.

Awan-awan hitam tercerai. Petir berhenti. Getaran tanah perlahan mereda.

“Sudah selesai,” ucap sosok cahaya itu pelan, lalu lenyap, seolah tak pernah ada.

Abah segera berlari menghampiri Dirga.

Anaknya berdiri gemetar, tangannya masih menggenggam Keris Dasasukma. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang baru.

“Aku mendapatkannya…” bisiknya.

“Apa maksudmu? Apa yang kau dapatkan? Jangan gegabah, Nak…” suara Abah dipenuhi kecemasan.
Dirga menelan napas.

“Kaki…”

Abah terdiam, tak mengerti.

“Itulah wujud asli kekuatan ini,” lanjut Dirga lirih.

“Bagian tubuh dari makhluk terkutuk… yang selama ini disegel di bawah pohon ini.”
Ia memandang keris di tangannya.

“Segel itu mengenaliku. Ia mengenali Keris Dasasukma. Ia tahu tempat ini sudah tidak aman… ada sesuatu yang mencarinya.”

Dirga mengangkat keris itu perlahan.
“Jadi segel itu berpindah. Ia menjadikan keris ini… kurungan barunya.”

Angin malam berembus dingin melewati mereka.
“Abah… kita harus pergi. Sekarang. Tempat ini sudah tidak aman.”

Abah mengangguk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga mengangkat jasad pria misterius itu ke pundaknya. Mereka meninggalkan pohon Caruluk, meninggalkan tempat yang kini terasa seperti jantung dari kegelapan itu sendiri.

Namun belum jauh mereka berjalan, Dirga berhenti.
Di kejauhan, bayangan-bayangan samar tampak melayang menuju pohon itu. Bentuknya tak utuh.

Seperti kabut yang hidup. Roh-roh pengintai, tertarik pada sesuatu yang kini sudah tak lagi berada di sana.
Dirga mempercepat langkahnya.

Mereka harus pergi sebelum sesuatu menyadari ke mana segel itu berpindah.
Read 15 tweets
Mar 19
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 3 - Pemakan Roh

Satu-persatu kekuatan terkutuk itu memilih tuannya. Mereka yang duduk di tahta-tahta dunia, masih menuntut tahta dari alam gaib...

#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror Image
PEMBUNUH JIWA

Tegar dan Wiru tahu, sejak tatapan pertama mereka bertemu dengan perempuan itu, bahwa ia bukan sekadar penunggu sunyi atau arwah penasaran yang tersesat.

Ada sesuatu yang jauh lebih tuabersemayam di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, lebih lembap, seolah hutan itu sendiri menahan napas.

Ular-ular yang mengerubungi bangunan misterius itu tidak bergerak liar. Mereka patuh. Terkendali. Setiap desisnya seperti aba-aba tak terdengar yang hanya dimengerti oleh satu sosok perempuan berambut panjang yang berdiri tanpa goyah di hadapan mereka.

“Tegar,” bisik Wiru, suaranya tak lagi setegas biasanya.

“Aku akan menahan ular-ular ini. Kau pergi cari pertolongan.”

Kalimat itu terdengar gagah, tetapi jemari Wiru gemetar di gagang kerisnya. Ia tahu betul, ia tak sedang menghadapi sekadar makhluk jadi-jadian.

“Jangan gegabah,” Tegar membalas, matanya tak lepas dari perempuan itu. “Kita tak tahu apa maksudnya.”

Rasa cemas merambat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah perlahan, tapi pasti. Tekanan tak kasatmata menekan dada mereka. Lutut terasa berat. Bahkan untuk menarik napas pun butuh upaya.

Perempuan itu melangkah setapak. Tanah tak berderak. Ular-ular di sekelilingnya justru merunduk, seolah memberi jalan bagi ratunya.

“Sekali lagi kutanya,” suaranya lirih, tetapi menggema di kepala mereka. “Siapa yang mengirim kalian?”

Tegar menelan ludah. Ia tak bisa sembarang menyebut Ajik Wayan. Tak bisa menyebut Bli Waja. Nama adalah pintu, dan ia tak ingin membuka pintu yang salah di hadapan makhluk seperti ini.

“Pemakan roh,” jawabnya akhirnya, spontan namun terukur. “Makhluk itu membuat kekacauan di tempat kami. Petunjuk yang kami dapat mengarah ke sini. Kami mencari inangnya. Kami harus menghentikannya.”

Hening.

Lalu… Srakk!

Tekanan yang membelenggu tubuh mereka mendadak lenyap. Lutut Tegar hampir tertekuk karena perubahan mendadak itu. Wiru terengah, seperti baru saja dilepaskan dari cekikan tak terlihat.

Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit, seolah mendengarkan sesuatu dari dalam tanah.

“Dia memang di sini,” katanya pelan. “Tersegel di bawah tanah ini. Tapi…”

Kalimat itu tak pernah selesai.

Bayangan raksasa menjulang di belakang mereka. Tanah bergetar halus. Bau amis menyengat. Ketika Tegar dan Wiru menoleh, yang mereka lihat hanyalah rahang menganga, sisik hitam berkilau diterpa cahaya bulan, dan dua mata kuning yang memantulkan bayangan mereka dengan jelas.

“Kalian tidak boleh ada di sini.”

Slaaaabbbbb!

Gelap.

Tubuh mereka terhantam sesuatu yang basah dan hangat. Ruang menyempit. Dinding lunak berdenyut di sekeliling mereka. Bau anyir menusuk hidung. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Tegar tak bisa membedakan atas dan bawah.

“Kita… dimakan?” suara Wiru terdengar serak di kegelapan.

Tegar mencoba menggerakkan tangan, ia bisa. Ia masih bisa bernapas. Udara terasa tipis, tapi ada. Perlahan, mata mereka menyesuaikan diri. Dinding yang semula tampak pekat kini seperti membran tipis tembus cahaya.

Mereka bisa melihat siluet luar, pepohonan, tanah, dan sosok perempuan itu yang masih berdiri tak bergerak.

Ular besar itu bergerak cepat, melesat ke balik pohon beringin tua. Tubuh raksasanya melingkar, menyamarkan diri di antara akar dan bayangan.

Dari balik tubuh makhluk itu, Tegar dan Wiru menyaksikan perempuan penjaga itu tetap menanti.
Dan tak lama kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan hutan.

Seorang pria dan wanita berjalan berdampingan. Busana mereka seperti keluar dari halaman sejarah, pakaian keraton dengan lipatan rapi, keris terselip di pinggang, pusaka menggantung di dada.

Langkah mereka mantap, tanpa ragu, seolah tempat itu bukan ancaman melainkan wilayah yang telah lama mereka kenal.

Namun yang membuat darah Tegar terasa membeku adalah sosok yang melayang di belakang mereka.

Roh perempuan berkebaya pengantin Jawa berwarna hitam. Wajahnya pucat, matanya kosong namun tajam. Sosok yang pernah dipanggil Wiru di kediaman Mbah Wage. Ingon.

Trah Wagiatma.

Tegar refleks menoleh ke arah Wiru—lalu membeku. Di sampingnya bukan lagi sosok sahabatnya, melainkan tubuh ular besar yang sama, meringkuk dan mengawasi. Kesadaran itu menghantamnya, mereka tak lagi berada di tubuh sendiri. Mereka tengah “dititipkan”.

“Jadi,” ucap pria itu tenang, “kau sudah menanti kedatangan kami?”

“Bukan aku,” jawab sang penjaga, matanya menyala redup. “Tapi ular-ularku.”

Desisan memenuhi udara.

Dari segala penjuru, ratusan ular berbisa meluncur keluar. Hitam. Hijau. Cokelat tanah. Mereka bergerak serempak, seperti ombak hidup yang menerjang pantai.

Dalam sekejap, tubuh pria dan wanita itu tertutup sepenuhnya. Tak terlihat lagi kain, wajah, atau pusaka. Hanya gumpalan sisik dan lilitan yang bergerak liar. Suara gigitan terdengar beruntun—cepat, rakus, mematikan.

Tegar memejamkan mata. Tak ada manusia yang bisa bertahan dari itu.
Read 15 tweets
Mar 12
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 2 - Abdi Dedemit

Tegar kembali lagi ke Pulau Dewata demi janjinya pada Bli Waja. Namun memulihkan Bli Waja tak semudah itu. Para pemakan ROH, mengincar wujud sukma Bli Waja..

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
TANAH PARA DEWATA

Aroma dupa langsung menyambut Tegar begitu ia menjejakkan kaki dari bus yang membawanya menyeberang pulau.

Ia berhenti sejenak.

Di sisi jalan, sebuah pura berdiri tak jauh dari rumah-rumah warga. Payung hitam-putih berkibar pelan tertiup angin. Di beberapa sudut persimpangan, tersaji anyaman daun kecil berisi bunga dan dupa yang masih mengepulkan asap tipis, canang sari, sesuatu yang jarang ia lihat di kampung halamannya.

Pulau Dewata terasa berbeda.
Lebih tenang… namun sekaligus menyimpan sesuatu yang tak terucap.

“Makan dulu?” tanya Wiru yang baru saja menurunkan barang-barang dari bagasi.

Tegar mengangguk pelan, lalu merogoh kantong celananya, menghitung recehan yang tersisa.

“Cari yang murah pokoknya. Katanya makan di sini mahal-mahal.”

Wiru mendesah kecil. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan menyelipkannya begitu saja ke saku Tegar.

“Nggak usah ngirit. Pak Lukman sudah pesan, semua kebutuhanmu di sini ditanggung. Aku cuma disuruh memastikan kamu aman.”

“Yo ndak bisa gitu, Wir. Sudah dibeliin tiket pulang-pergi aja itu sudah banyak.”

Wiru tertawa ringan. Ia merangkul bahu Tegar dan menunjuk sebuah rumah makan yang cukup ramai. Di atasnya terpampang tulisan besar: Nasi Pedas.

“Sudah, Gar. Ngiritnya nanti kalau sudah pulang ke Jawa. Di sini waktunya menikmati hidup.”

Etalase warung itu penuh lauk berwarna merah menyala. Uap panas bercampur aroma cabai membuat perut Tegar langsung bereaksi.

“Cukup duitnya?” tanyanya masih ragu.

“Mau beli warungnya juga cukup,” jawab Wiru santai. Memang, Pak Lukman menitipkan uang yang tak sedikit padanya.

Tegar tersenyum tipis.
“Asal ada sambal, aku aman.”

Kali ini ia yang berjalan lebih dulu menuju warung.
Sesuai janji, Pak Lukman memfasilitasi perjalanan Tegar ke Bali. Awalnya ia ingin datang sendiri. Namun tak lama kemudian, Wiru mendapat kabar bahwa beberapa petinggi keluarga Wagiatma juga berada di pulau ini.

Kerabat Wiru di Bali menemukan sebuah lokasi keramat berdasarkan berkas tua peninggalan keluarga Adikhara—sebuah tempat yang selama ini disembunyikan dari pengetahuan umum.

Di tengah hutan, terdapat patung tua yang dijaga ratusan ular.

Temuan itu, tanpa mengetahui bahwa hubungan keluarga Wiru dan Wagiatma telah lama terputus, justru disampaikan kepada pihak Wagiatma.
Karena itulah Wiru datang.

Ia harus memastikan sendiri tempat yang tertulis dalam warisan leluhurnya itu.
Tempat yang seharusnya tetap tersembunyi.

“Urusanmu di sini apa, Gar?” tanya Wiru setelah menghabiskan makanannya dan menyeruput teh panas.

Tegar masih mengunyah perlahan. Ia menelan, lalu menatap meja beberapa detik sebelum bicara.
“Kamu percaya ada manusia bisa jadi batu?”
Wiru mengangkat alis.

“Setelah semua kejadian kemarin? Aku rasa… mungkin saja.”

Tegar menarik napas dalam.
“Temanku melanggar aturan semesta. Sekarang tubuhnya… jadi batu.”

Wiru terdiam.

“Kamu bercanda?”

“Bercanda atau tidak, nanti kamu akan lihat sendiri.”
Nada suara Tegar tidak mengandung gurauan sedikit pun.

Untuk pertama kalinya, Wiru menyadari—mungkin selama ini ia belum benar-benar tahu apa saja yang sudah dihadapi sahabatnya itu.

Perjalanan mereka berakhir di sebuah rumah khas Bali dengan gapura terbelah di pintu masuknya. Beberapa pria menyambut dengan pakaian adat, kain dan udeng terikat rapi di kepala.

Begitu turun dari kendaraan, Tegar langsung menunduk hormat.

“Maaf, Bli… saya baru bisa datang lagi.”
Salah satu pria yang terikat dengan Bli Waja tersenyum lembut.

“Kami paham, Tegar. Jangan pernah merasa bersalah. Ini bukan tanggung jawabmu.”

Tegar menahan napas.

“Kalau saja aku lebih kuat… mungkin aku bisa menyelamatkan Bli Waja.”

Pandangan matanya beralih ke sebuah bangunan kecil di sudut pekarangan. Ukurannya tak lebih besar dari kamar. Beberapa orang berjaga di depannya.
Sunyi.

Terasa berat.

“Masuklah,” ucap pria itu pelan. “Kau sudah dinanti.”
Tegar mengangguk.

Ia melangkah pelan bersama Wiru, berpamitan sebelum memasuki bangunan khusus itu.Di sanalah tubuh batu Bli Waja disimpan dan dijaga.

Menunggu sesuatu… atau seseorang… untuk mematahkan hukum yang telah mengubahnya menjadi abadi dalam diam.

***
Read 13 tweets
Mar 4
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 1 - Sang Penagih Janji

Tahta itu tidak diwariskan, ia dipanggil oleh keberanian yang berlumur kutukan. Dan setiap panggilan selalu dibuka oleh darah satu trah yang tumpah di tanah leluhur.

#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
TRAGEDI MASA LALU

Malam tak selalu dingin. Terutama ketika tragedi biadab menimpa sebuah desa yang bahkan tak diberi izin untuk meninggalkan jejak keberadaannya.

Api melahap rumah-rumah kayu. Di dalamnya, para pemilik terkunci, meronta menahan panas yang membakar kulit dan asap pekat yang menikam paru-paru. Jeritan bercampur doa, lalu tenggelam dalam gemeretak kayu yang runtuh.

“Kita harus keluar! Kita harus hidup!” Seorang bapak meraih kapak yang tergantung di dinding, tangannya gemetar namun tekadnya bulat.

“Percuma, Pak!” sang istri menjerit. “Gerombolan bromocorah itu berjaga di luar! Prajurit kerajaan yang kita panggil… semuanya sudah mati di tangan mereka!”

“Itu bukan alasan untuk menyerah dan mati terpanggang di sini!”

Brakk!

Dinding rumah jebol setelah beberapa ayunan kapak menghujam. Lubang sempit tercipta—cukup untuk satu tubuh merangkak keluar. Pemuda itu tak menoleh. Ia memanfaatkan celah itu, melompat ke dalam gelap, menjauh dari api yang hampir melahapnya.

Orang-orang yang tertinggal menelan ludah. Kerabat-kerabat saling berpandangan, dilanda ragu. Keluar berarti menghadapi bromocorah. Bertahan berarti mati oleh api.

Hingga adik pria itu memberanikan diri.
“Aku juga per—”
Pluk.

Sesuatu dilempar dari luar, jatuh menggelinding di lantai yang mulai terbakar.

“I—itu… itu kepala bapak!” sang istri menjerit histeris.
Dari balik lubang, berdiri tubuh tanpa kepala. Sebuah tombak menancap, menyangga jasad itu seperti pajangan. Darah menetes perlahan, bercampur dengan bara api.

Tawa para bromocorah menggema, begitu dekat, menyahut tangisan orang-orang di dalam rumah.
Malam itu, takdir desa telah ditetapkan. Ia akan diratakan. Rumah-rumah menjadi abu. Dan semua itu adalah kehendak satu sosok.

Patiwongso.

Nama itu saja cukup membuat siapa pun kehilangan ketenangan. Di mana ia muncul, darah selalu mengikutinya.

Patiwongso mewarisi ilmu kuno dari leluhurnya, ilmu yang membuat tubuhnya sukar dilukai, kekuatannya melampaui nalar manusia. Namun ilmu itu menuntut harga yang keji.

Markasnya dipenuhi perempuan-perempuan yang telah dihamili oleh anak buahnya. Mereka dikurung di kamar-kamar sempit seperti kandang, diberi makan sekadar agar tetap hidup.

“Keluar!” Seorang anak buah menyeret perempuan yang hamil muda ke hadapan sang pemimpin.

“A—ampun… tolong… hentikan…” perempuan itu menangis tersedu. Ia tahu apa yang akan terjadi. Ia telah melihat nasib perempuan-perempuan sebelumnya.
Trang!
Pisau berkarat ditarik dari pinggang Patiwongso. Wajahnya dingin, tanpa emosi. Ia menarik tubuh perempuan itu, menyayat perutnya, lalu di hadapan anak buahnya, ia memakan janin itu hidup-hidup.

Sorakan menggema. Kekejian disambut kegembiraan.
Perempuan itu belum mati. Dengan mata basah dan napas tersengal, ia menyaksikan darahnya sendiri mengalir, menyaksikan anaknya dilahap dengan brutal.

“Setan… kau itu setan…” Itulah kata terakhirnya, sebelum nyawanya habis dan matanya membeku dalam keterkejutan abadi.

Semakin banyak janin yang dimakan, semakin banyak nyawa yang direnggut, kekuatan Patiwongso kian melampaui batas. Tak ada yang mampu menyentuhnya, bahkan kekuatan istana sekalipun.

Malam setelah ritual itu, markas Patiwongso dipenuhi tubuh-tubuh yang tergeletak. Ia dan anak buahnya terkapar berserakan, mabuk oleh pesta, darah, dan kepuasan yang memuakkan.

Ketika tengah malam berlalu, Patiwongso tiba-tiba terjaga.

Ada sesuatu yang salah.

Ia membuka mata, diikuti beberapa anak buah yang mengerang bangun. Di antara tubuh-tubuh mabuk yang terbaring, berdiri satu sosok asing. Diam. Tegak. Seolah malam itu sendiri berhenti bergerak di sekelilingnya.

Patiwongso tahu, itu bukan manusia biasa.
Namun kesadaran itu sama sekali tak menumbuhkan rasa cemas.

“Anak buahku!” teriaknya lantang. “Kita dapat satu mangsa lagi!”

Sorak-sorai langsung membahana. Mereka yang masih terhuyung memaksakan diri berdiri, tertawa, mengangkat pedang dan senjata seadanya. Mabuk dan haus darah, mereka berlari ke arah sosok itu.

Namun saat tubuh-tubuh itu melangkah maju, kepala mereka tidak ikut bergerak.

Brugh!

Dalam sekejap, kepala-kepala itu terpisah dari badan. Ada yang jatuh tegak ke tanah, ada pula yang menggelinding—beberapa berhenti tepat di kaki Patiwongso.

Tubuh-tubuh tanpa kepala ambruk serentak.
Seketika markas itu berubah sunyi.

Patiwongso membeku. Di hadapannya, orang-orang kuat yang ia kumpulkan dengan susah payah mati begitu saja, tanpa perlawanan, tanpa kesempatan berteriak.

“Berani-beraninya…!” geramnya. Amarah menggantikan keterkejutannya.

Sosok itu akhirnya bersuara.

“Kau sudah keterlaluan, Patiwongso,” ucapnya datar. “Kau harus dihentikan.”
Read 14 tweets
Jan 8
PURI JAGATSUKMA
Part Akhir bag. 2 - Tamat

Danan dan yang lain melangkah masuk tanpa ragu. Di Kejauhan mereka melihat sebuah batang pohon yang begitu besar yang sebagian dedaunanya menembus langit Puri yang terang itu.

Sebuah pohon yang merupakan sumber kekuatan dari Puri Jagatsukma.

#bacahorror @bacahorror @bagihorror @IDN_Horor @ceritahtImage
“Tak kusangka kalian bisa sampai secepat ini, Hahahaha..” Suara tawa Dewi Mretya menggema di tempat itu.

Sosok itu hanya duduk di sebuah tahta singgasana di sebuah batu yang tidak jauh dari pohon Jagatsukma itu.

Sementara itu Guntur dan yang lain masih bingung bagaimana tempat yang tak dimasuki cahaya matahari itu terasa seperti di siang hari.

Danan dan Cahyo maju mendekat. Simbol Mretya di matanya pun menyala. Jagad, Panji, dan Dirga menyusulnya. Merekalah pengemban simbol bencana itu.

“Kita tuntaskan urusan kita..” Ucap Danan.
Belum sempat mereka melangkah, sosok hitam legam itu tiba-tiba sudah berada diantara mereka.

“Tunjukkan bahwa kalian pantas…”

Brughh! Brugh! Brugh!!

Mereka bertiga berjatuhan. Keberadaan Sosok Dewi Mretya seolah melipatgandakan gravitasi di sekitar mereka hingga mereka kesulitan untuk berdiri.

“Ayo.. Wanasura!” Bisik Cahyo yang menggunakan kekuatan Wanasura untuk melawan tekanan itu. Ia melompat bersiap menghantam Wajah hitam Dewi Mretya itu, namun sosok itu melesat begitu saja bagai angin yang tak tersentuh.

Walau begitu, Roh danan sudah memisahkan dirinya dari raganya yang terkapar, ia menghadang Dewi Mretya dan menghujamkan keris Ragasukma tepat di hadapan wajahnya.

“Tidak buruk..” Lagi-lagi serangan itu tidak mengenai Dewi Mretya. Sosoknya bagai angin yang berhembus diantara mereka.

“Belum!” Kali ini Kabut putih jagad muncul di hadapan dewi mretya, Ajian watugeni menyala dan melesat dari kabut itu ke arah Dewi mretya.

Saat itu Dewi Mretya hanya menertawakan kekuatan yang meledak di telapak tangannya itu. “Hanya ini?”. Tapi Jagad tersenyum kecil.Image
Read 20 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(