Avelino Guido Profile picture
Saya cinta sains, politik, dan ekonomi
May 4 12 tweets 8 min read
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.

Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.

Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵 Dulu, langit Indonesia pernah ramai. Tahun 2004, ada 27 maskapai yang terbang di Indonesia. Dua puluh tujuh. Artinya ada persaingan, ada pilihan, dan harga bisa ditekan karena masing-masing maskapai harus rebutan penumpang.

Tapi kemudian satu per satu mereka rontok. Batavia bangkrut. Adam Air jatuh. Mandala tutup. Merpati almarhum. Yang survive tinggal dua grup besar: Garuda Group dan Lion Group.

Lalu November 2018, sesuatu yang sangat krusial terjadi. Citilink yang merupakan anak usaha Garuda bikin kerja sama operasi alias KSO dengan Sriwijaya Air. Artinya secara praktis, Garuda Group sekarang juga ikut mengatur jadwal dan rute Sriwijaya.

Hasilnya? Garuda Group plus Sriwijaya menguasai 45,7% pasar. Lion Group menguasai 50,74% pasar. Total dua grup ini: 96% dari seluruh penerbangan domestik Indonesia. Sisanya yang 4% diperebutkan oleh semua maskapai lain yang masih hidup dan masih berusaha nafas.