How to get URL link on X (Twitter) App
“Paling-paling tadi di depan rumah ada binatang yang kejar-kejaran sampai depan pintu, makanya tanah di kakinya keselip masuk ke dalam,” kilah Dina yang tak ingin keluarga, terutama anaknya menjadi takut seperti sebelumnya.
“Rendy Kurniawan Drajat!”
“Pak, ulun sudah bepadah sama kenalan, kéna sidin ulun antar ke rumah Pian, – Pak, saya sudah bilang sama kenalan, nanti beliau saya antar ke rumah Anda,” sapa Amrul yang menyapa Seno sambil berbisik ketika bertemu atasannya di depan kantor.
Seno terkejut melihat tubuh istrinya yang tergeletak di lantai yang dingin. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, pintu kamarnya sedikit terbuka. Segera ia mengangkat tubuh istrinya ke atas ranjang dengan cemas.
Rinda baru saja selesai mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Sebagai siswa pindahan, ia masih harus melakukan penyesuaian dan mengejar ketertinggalan. Ditambah ia juga harus berusaha lebih ekstra untuk beradaptasi dengan lingkungan, bahasa dan cara bercanda teman-teman barunya.
Dina bangun pukul lima lebih sedikit, matanya masih terasa perih karena semalam ia harus beberapa kali terbangun. Suara berisik membuatnya tak dapat tidur dengan nyenyak. Beruntung, ia bisa menafikan semuanya dan tetap memaksa menutup kedua matanya sambil merapal doa.
Beberapa hari berlalu tanpa ada hal yang berarti, semua berjalan normal. Seno sudah mulai masuk kantor dan melakukan tugasnya untuk memimpin kantor cabang.
Deretan gumpalan awan menghiasi pemandangan langit biru yang mengelilingi pesawat. Ditambah nuansa biru gelap di arah bawah sebagai tanda bahwa mereka sedang terbang melintasi perairan yang dalam.
Malam ini, kisah keluarga Suseno Drajat akan dikisahkan. Tentang bagaimana peliknya tinggal di sebuah rumah yang menyimpan banyak rahasia. Sila ditandai, sila diramaikan. Cerita akan dimulai tengah malam.
Malam ini terasa sangat hening, langit terlihat cerah dengan taburan bintang. Sedangkan sang bulan sedang bersembunyi di balik pepohonan rindang. Rotasi bulan membuatnya tak kunjung naik ke atas, hanya berdiam dengan malu di batas tipis cakrawala dengan cahaya yang temaram.
Hari ini seharusnya menjadi hari terakhir bagi Kemal dan Akbar. Hari ini seharusnya ditutup dengan suka cita dan kalimat perpisahan yang manis.
Helikopter terbang di atas hamparan hijau area hutan di pedalaman Kalimantan. Besi terbang itu ditumpangi oleh empat orang yang salah dua penumpangnya adalah surveyor dan konsultan. Mereka berempat sedang mengamati area yang akan dibuka untuk lahan tambang batu bara.
Poniran yang tadinya berada di kediaman Pak Soleh kini sudah pulang. Tanpa permisi dan tanpa pamit. Kedatangannya sebenarnya tidak untuk berbela sungkawa namun memastikan bahwa sang bayan sudah benar-benar dijemput ajalnya oleh sang pesuruh.
“Mreneo, Buk. Aku arep ngomong karo kowe, – Kemarilah, Bu. Aku mau bicara sama kamu.” ajak Pak Sum pada istrinya ketika siang hari sepulang dari sawah untuk beristirahat.
Sore mulai menyongsong mengganti hari, langit mulai menunjukkan pendar kemerahan. Burung-burung walet beterbangan menuju goa-goa di sebelah selatan.
Sore menguning dengan siluet sang mentari tengah menuju peraduan di ujung cakrawala. Awan-awan putih yang tipis memerah dan berpendar indah menyambut keremangan malam yang akan menggantikan terang.
Beberapa warga bergerombol berjalan menuju rumah masing-masing, beberapa diantaranya pulang dengan kaki gemetar dan keringat dingin. Doa dirapalkan tanpa henti sambil melirik kiri dan kanan.
Desa yang tadinya hening menjadi riuh rendah, kegelapan dan hawa yang dingin tak menjadi penghalang bagi para warga yang ingin menjenguk jenazah Pak Soleh yang tewas dengan mengenaskan.
Malam terasa masih sangat panjang bagi Akbar, Kemal dan Pak Soleh. Mereka bertiga harus bisa bertahan melewati malam dengan terus berdoa.
Yono tertatih menghadapi yang tak kasat, mata batinnya terbuka lebar dan bisa memandang apa yang terjadi di sekilingnya. Laras beserta sosok khodam serupa orang tuanya kini menghadapi sosok Buto Ijo yang berniat mencabut nyawa dari tubuhnya.