Aydinlatici Profile picture
Dia akan mendekatimu lebih cepat dari kecepatanmu mendekatiNya ... Tidak ada yang tidak mungkin ketika kedekatanmu denganNya nyaris tanpa pembatas.

Aug 21, 2020, 32 tweets

** Peristiwa Pada Pelantikan Penerimaan Anggota Baru (PAB) Himpunan Jurusan **

#bacahorror #horrorthread #PerselisihanAntarAngkatan #StrategiKonflik #CeritaPendek #BukanSekedarHoror @bacahorror @ceritaht

Kejadian ini berlangsung sekitar 20 tahun yang lalu (persekitaran 2 tahun). Pada saat itu aku menginjak tahun kedua kuliah sehingga angkatanku mendapatkan tugas sebagai panitia pelantikan anggota baru himpunan jurusan.

Pada tahun itu terjadi beberapa konflik yaitu:

1. Adanya dualisme himpunan antara mahasiswa pendidikan dan non pendidikan sehingga berdiri himpunan baru yang anggotanya beberapa mahasiswa non pendidikan.

2. Perang dingin antara senior satu angkatan di atasku dgn senior angkatan di atas mereka.

3. Tak sedikit teman satu angkatanku yg tak peduli pd aktivitas himpunan.

Permasalahan 1 & 3 cukup membuat angkatan kami mengalami kesulitan untuk menyelenggarakan kegiatan PAB.

Mengapa? Karena jumlah panitia yang akan menyelenggarakan sangat tidak ideal yaitu hanya sekitar 20 orang. Mungkin untuk kegiatan seminar jumlah 20 orang panitia bisa dibilang cukup, tapi untuk PAB yang penyelenggaraannya di luar kampus, hmm ... mungkinkah bisa?

Mari kita mulai ceritanya.

Hari ini kami panitia penyelenggaraan kegiatan PAB akan mempresentasikan konsep acara kepada perwakilan dari himpunan jurusan serta para senior yang setiap tahunnya selalu menghadiri acara ini, terutama di malam terakhir.

Konsep kegiatan beserta nama-nama sekaligus tugas masing-masing panitia dibuat oleh Rahmat yang merupakan ketua panitia kegiatan.

Kami pun sudah selesai menyiapkan ruangan untuk presentasi dan hanya tinggal menunggu kedatangan para senior. Sambil menunggu aku mendekati Rahmat.

"Boleh minta presentasinya?" pintaku sambil berdiri di sebrang meja pada Rahmat yang sedang duduk di kursi tempatnya nanti mempresentasikan data.

"Boleh lah, masa nggak." jawab Rahmat lalu mengambil sebuah makalah dan memberikannya padaku.

"Ok, thanks. Aku ke kursi belakang sana ya Mat." ucapku setelah menerima makalah.

"Tunggu dulu Ay. O ya Ay, maaf saya belum meminta persetujuanmu terlebih dahulu sebelum mencantumkan namamu serta tugasmu nanti." Rahmat berdiri lalu keluar dari kursi menghampiriku.

Aku: "Memangnya aku kebagian tugas apa nanti?"

Rahmat: "Kamu jadi koordinator mentor merangkap menjadi koordinator keamanan Ay."

Aku: "Fungsi mentor sama keamanan kan bertolak belakang. Ente mah aya-aya wae Mat."

Rahmat: "Ana yakin antum bisa Ay. Bersedia ya?"

Apa boleh buat, mengingat jumlah panitia yg berangkat ke lokasi hanya sedikit.

Aku: "Ya sudah saya terima tugasnya. Saya baca ini dulu di belakang ya."

Rahmat: "Ok. Syukron ya Ay."

Aku tersenyum lalu berjalan ke kursi paling belakang, sedangkan Rahmat kembali ke kursinya.

"Hmm ... kemungkinan banyak yg protes dari senior kalau konsep acaranya seperti ini." gumamku setelah selesai membaca.

Tak lama satu persatu senior, termasuk pengurus inti himpunan mulai berdatangan & akhirnya acara pun di mulai setelah mereka menerima lembaran konsep kegiatan.

Rahmat pun mulai melakukan presentasi dan senior-senior yang hadir mendengarkan sambil membaca berkas yang ada di tangan mereka.

Di pertengahan presentasi, seorang senior berceloteh "ini pelantikan atau seminar yang dibungkus tadabbur alam?"

"Kang, bisa gak ketua panitia menyelesaikan presentasinya dulu baru setelah selesai akang bertanya?" timpal ketua umum himpunan.

"Oke, sorry Tum. Silahkan dilanjut." jawab senior yang tadi bertanya.

Rahmat pun memulai kembali presentasinya sampai selesai.

Sesi tanya jawab pun dibuka dan senior yg tadi (bernama Raka) kembali menanyakan hal yg sama.

Rahmat: "Konsep pelantikan sekarang memang berbeda dgn konsep-konsep sebelumnya. Kami menginginkan para peserta tdk mengalami tekanan pada saat kegiatan sehingga mereka merasa nyaman."

Kang Drajat: "Anda tahu mengapa kami memberikan tekanan kepada para peserta?"

Rahmat & Herman yg duduk di depan terdiam.

Kang Drajat: "Diamnya kalian menandakan kalian tdk tahu tujuan kami memberikan tekanan. Kalau kalian tdk tahu kenapa tdk konsultasi lebih dulu kepada kami?"

Rahmat: "Maaf kang, tapi intinya kami tidak mau kegiatan ini dijadikan ajang perploncoan terhadap para peserta."

Kang Drajat: "Tujuan kami memberikan tekanan kepada para peserta saja kamu tidak tahu tapi kamu berani menyimpulkan kalau kami telah melakukan tindakan perploncoan.

Saya mau tanya, apa tahun kemarin di antara kalian ada yg kami hajar sampai babak belur?"

Rahmat: "Gak ada kang."

"Angkatan kami ada yang kena pukul kang. Apa itu bukan perploncoan?” celetuk Reza (senior satu tingkat di atasku) dengan nada yang berapi-api.

"Itu karena temanmu kurang ajar berani menantang para senior berkelahi!" timpal Deni (satu angkatan di atas Reza) sambil memukul meja.

Suasana pun memanas dengan adanya perang omongan di antara para senior.

"DIAM!" teriak Herman sambil berdiri dengan matanya yang mulai memerah.

"Kalau mau berkelahi di luar. Tolong hargai kami sebagai panitia acara saat ini." lanjut Herman dengan menyingsingkan lengan bajunya lalu melompati meja dan berjalan menghampiri para senior yg tadi perang mulut.

"Masih saja kelakuanmu seperti preman. Ayo kita berkelahi di luar!"

tantang Kang Drajad yang memang waktu kami mengikuti kegiatan LDKM terkena pukulan Herman.

Aku yang melihat kondisi yang sudah ricuh segera berlari menghadang Herman dan menampar pipi kanannya.

"Istighfar, khadam itu harus dikendalikan bukannya kamu yg dikendalikannya!" ucapku.

Setelah itu kutarik lengannya & membawa paksa keluar ruangan lewat pintu depan. Herman yg mulai sadar akhirnya mengikuti langkahku tanpa perlawanan.

Herman: "Nuhun Ay sudah disadarkan."

Aku: "Kamu duduk di sini, aku masuk dulu."

Aku kembali masuk & menghampiri kang Drajat.

"Kang, bisa ngobrol sebentar di luar." pintaku kepada kang Drajat.

"Ayo." jawab kang Drajat singkat lalu kami keluar ruangan lewat pintu belakang.

Setelah di luar aku mulai menjelaskan mengapa Herman sampai seperti itu & Alhamdulillah kang Drajat mengerti & memahami kondisinya.

Kang Drajat pun keluar ruangan yang kemudian diikuti oleh beberapa senior yang lain. Setelah mereka keluar, kami melanjutkan acara sampai akhirnya konsep pelaksanaan kegiatan beserta kepanitiaan disahkan oleh ketua umum.

Reza dan senior-senior yang satu angkatan dengannya mendekatiku.

"Tenang Ay, kalau mereka nanti mengacaukan kegiatan, kami siap membantu kalian perang dengan mereka." ucap Reza sambil menepuk bahuku.

"Siap, nuhun kang." jawabku sambil tersenyum.

Walau aku tersenyum, tapi hatiku menolak & berharap tidak sampai terjadi peperangan di lokasi kegiatan nanti. Aku berpikir keras mencari solusi supaya hal itu tidak terjadi. Setelah mencermati berkas yg Rahmat berikan tadi, aku memiliki ide dan semoga saja menjadi solusi terbaik.

Tibalah pada waktu dimana kegiatan PAB dilaksanakan, tepatnya pada hari Jum'at setelah kami melakukan shalat Isya berjamaah. Sebelum memulai perjalanan kaki sampai ke lokasi, para peserta dibagi menjadi beberapa grup dan setiap grup dibarengi oleh satu mentor dari panitia.

Seperti yg kalian ketahui bahwa aku merangkap jabatan sebagai koordinator mentor sekaligus koordinator keamanan. Karena jumlah panitia yang tidak lebih dari 25 orang dan seluruh anggota di bawah koordinasiku bertugas sebagai mentor, maka otomatis hanya aku di bagian keamanan.

Situasi inilah yg kujadikan celah sekaligus ide yg mudah-mudahan menjadi solusi tuk mencegah pertikaian yg mungkin akan terjadi. Aku pun meminta kepada Rahmat tuk bersedia memasukkan para senior yg sudah kupilih sebagai anggota seksi keamanan dgn alasan yg tak mungkin dia tolak.

Setelah Rahmat menyetujuinya, aku pun meminta para senior yang merupakan gabungan dari angkatan satu tahun di atasku dengan senior-senior dari angkatan di atasnya (yg kemarin bertikai) untuk bersedia membantuku sebagai anggota seksi keamanan dan alhamdulillah mereka bersedia.

Namun sebelum kami berangkat, aku meminta kepada para senior yang menjadi anggota seksi keamanan untuk bersedia mematuhi komandoku. Setelah mereka menyetujuinya, barulah aku bernapas lega walaupun kekhawatiran itu masih ada.

FYI, aku sangat dekat dengan kedua belah pihak yg bertikai, sehingga aku tahu apa saja rencana mereka.

Aku yakin bahwa ada dampak yg harus kuterima atas keputusanku mengangkat mereka dan rencanaku nanti pada saat kegiatan, namun demi kebaikan bersama, aku siap menjadi 'tumbal'.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling