Amir Syafrudin Profile picture
Praktisi Agile. Perintis Rinkas. Penggemar Bahasa Arab dan Bahasa Jepang.

Dec 8, 2021, 33 tweets

Belajar #BahasaArab autodidak itu lebih enak sambil mengaji. Sambil mempelajari tata bahasa dan memperkaya kosakata, kita juga dapat menemukan hal-hal yang biasanya tidak kita temukan saat membaca terjemahan Al-Qur'an. Ibaratnya sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui.

Kemarin saya menemukan hal yang menarik dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 286, yaitu:

لها ما كسبتْ وعليها ما اكتسبتْ

Yang diterjemahkan menjadi: "Dia mendapat (pahala) dari kebajikan yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya."

Dalam terjemahan resmi Kementerian Agama RI, kata-kata di dalam kurung adalah tambahan yang digunakan untuk memperjelas terjemahan itu sendiri. Kalau kita kupas per bagian, arti harfiahnya hanya, "Baginya apa yang diusahakannya dan kepadanya apa yang diperbuatnya." Bingung, kan?

Saya iseng cari terjemahan #BahasaInggris-nya pakai Google Translate. Ternyata "maa kasabat" berarti "what you earned", sementara "maktasabat" berarti "what you gained". "Earned" itu sesuatu yang didapatkan secara aktif, sementara "gained" cenderung pasif.

Cek gambar ya.

Sementara itu, "lahaa" artinya "untuknya" dan "'alaihaa" arti "atasnya". Kenapa "lahaa" dipadankan dengan "maa kasabat", sementara "'alaihaa" menjadi pasangan "maktasabat"? Rupanya dari situ muncul konteksnya, yaitu kata-kata di dalam kurung dalam terjemahan Kementerian Agama RI.

Saat kita bicara hasil "usaha" yang diberikan "untuk" seseorang, konteksnya adalah kebaikan. Kebaikan itu harus diusahakan. Kebaikan itu butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan sumber daya lainnya (Udah kayak transformasi organisasi). Itulah makna "lahaa maa kasabat".

Sebaliknya saat kita bicara hasil "perbuatan" yang "menimpa atas" seseorang, konteksnya adalah keburukan. Melakukan keburukan itu umumnya tidak perlu usaha. Akibat buruknya tidak diberikan (siapa yang mau terima?), tapi pasti menimpa. Itulah makna "'alaihaa maktasabat".

Jadi ...

لها ما كسبتْ وعليها ما اكتسبتْ

Lahaa maa kasabat wa 'alaihaa maktasabat.

Bagi setiap orang, kebaikan yang diusahakannya. Atas setiap orang, keburukan yang diperbuatnya.

Dari 1 kalimat itu saja kita bisa temukan makna yang begitu dalam. Indah, bukan?

Lanjut bahas #BahasaArab ah.

Tadi pagi saya sempat membahas soal pembunuhan pertama yang diceritakan di dalam Al-Qur`an, yaitu pembunuhan Habil oleh Qabil. Qabil iri karena kurban Habil diterima, sementara kurban dia ditolak. Alih-alih bertaubat, dia malah membunuh saudaranya.

Dari kisah pembunuhan Habil, diskusinya merembet ke bahaya iri. Kita mungkin sering menganggap enteng iri, tapi pada kenyataannya, iri itu menjadi motivasi Qabil untuk membunuh Habil. Iri juga yang secara tidak langsung menjadi motivasi Iblis untuk menghasut Adam a.s. Ngeri, kan?

Dari bahaya iri, diskusinya merembet ke surat Al-Falaq. Kenapa ke surat itu? Karena di surat itulah Allah Swt. mengajarkan manusia untuk berdoa memohon perlindungan dari orang-orang yang hasad/dengki. Alasannya? Dengki itu merusak.

FYI, menurut KBBI, dengki = amat sangat iri.

Dari doa itu, diskusinya merembet ke makna قل (qul). Dalam #BahasaArab, qul adalah salah satu kata perintah atau أمر (`amr) yang berarti "katakanlah". Itu doa atau ikrar?

FYI, kata kerja dari qul adalah قال (qaala) dan يقول (yaquulu), tapi tidak akan saya bahas di sini.

Sejauh pengamatan saya, saat ada kata qul dalam Al-Qur`an, kadang isinya doa, kadang isinya ikrar (pengakuan). Kita sama-sama kenal kuartet surat Qul di juz 30, kan? Dua di antaranya berisi ikrar, yaitu Al-Kaafiruun dan Al-Ikhlash. Dua sisanya, Al-Falaq dan An-Naas, berisi doa.

Dalam Al-Kaafiruun dan Al-Ikhlash, ada ikrar. Ikrar dalam Al-Kaafiruun berisi sikap kita terhadap orang yang mengingkari Allah Swt. dalam konteks agama. Di situ, Allah Swt. mengajarkan kita tentang toleransi yang tidak merusak akidah. Ikrar dalam Al-Ikhlash mengajarkan kita ...

... tentang inti akidah itu sendiri, yaitu bahwa hanya 1 entitas yang kita sembah sebagai tuhan dan kita andalkan untuk menggantungkan kebutuhan kita.

Isi kedua surat itu singkat, padat, jelas.

Dalam Al-Falaq dan An-Naas, ada doa. Doa itu sebenarnya tidak jauh dari ikrar akidah karena doa itu menunjukkan ketergantungan kita kepada Allah Swt. untuk mendapatkan perlindungan yang hakiki. Perlindungan dari apa? Dari berbagai hal buruk yang ...

... mungkin muncul dari ciptaan Allah Swt seperti gangguan jin, perilaku orang hasad, bahaya yang mengintai di balik pekatnya malam, dll. Sepertinya isi kedua surat itu, Al-Falaq dan An-Naas, sudah masuk kategori doa sapu jagat. 😁

Makna di balik kuartet surat Qul itu sangat dahsyat dan pada hakikatnya mampu mengarahkan akidah kita ke arah yang benar. Kita tidak akan salah sembah, tidak akan kebingungan soal toleransi, tidak akan kebingungan soal tempat berserah diri, dll. Dahsyat, bukan?

Cara mengingatnya juga sederhana. Kuncinya adalah memahami makna perintah قل dalam #BahasaArab. Saat membaca atau mendengar potongan ayat yang berarti "katakanlah", saat itu juga kita mengingatkan diri kita tentang ikrar yang selayaknya kita ucapkan atau doa yang kita panjatkan.

Tambahan ilmu baru dalam upaya saya mempelajari #BahasaArab dalam rangka memahami isi Al Qur`an, yaitu dalam surat Huud ayat 122. Bunyinya:

وانتظروا إنا منتظرون

Artinya: "Dan tunggulah. Sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu."

Dalam ayat itu, Allah Swt. memerintahkan Rasulullah saw. untuk mengajak orang-orang yang tidak beriman untuk menunggu. Sikap itu adalah sikap saat orang-orang yang tidak beriman sudah tidak mau lagi mendengar. Daripada gontok-gontokan, serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.

Paparan lebih lanjut sudah saya tuangkan dalam utas berbeda. Silakan cek di sini:

Barusan belajar #BahasaArab bareng anak-anak. Saat ini kami lagi ikuti pelajaran tata bahasa di kanal YouTube Arabic 101. Dari 11 pelajaran, kami sudah pelajari 8. Dari 8 itu, 7 pelajaran pertama sudah di luar kepala alias lupa. Frekuensi belajarnya kurang, sih. 😁

Tapi, topik tadi pagi menarik, yaitu soal فعل ماضى (fi'l maadhii) atau kata kerja lampau. Intinya adalah bagaimana sebuah kata kerja berubah bentuk saat disandingkan dengan berbagai jenis kata ganti. Contohnya di bawah ini:

Setelah selesai belajar, saya dan anak-anak mencoba sendiri membuat variannya dengan kata جلس (jalasa) yang berarti dia (telah) duduk. Ternyata masih banyak yang salah. Harus memperbanyak latihan menulis. 😅

Lanjut lagi mempelajari #BahasaArab.

Sudah lama ingin bahas soal مع (ma'a). Kata ma'a itu sering muncul di dalam Al-Qur`an. Saya yakin setiap muslim pasti pernah mendengarnya.

فإنّ مع العسر يسرا. إنَّ مع العسر يسرا.

Fainnama'al'usri yusraa. Innama'al'usri yusraa.

Pernah, kan?

Kata مع (ma'a) itu sering diartikan "setelah". Innama'al'usri yusraa itu sering diterjemahkan menjadi "Sesungguhnya setelah kesulitan itu, kemudahan", padahal seharusnya "Sesungguhnya bersama kesulitan itu, kemudahan". Kenapa? Karena arti sebenarnya dari ma'a adalah "bersama".

Kenapa penting menekankan bahwa ma'a itu berarti "bersama", bukan "setelah"? Karena "bersama" itu menunjukkan janji Allah Swt. bahwa saat seseorang mengalami kesulitan, Allah Swt. sudah menyiapkan kemudahan. Mulai dari kesulitan yang dihadapi Rasulullah saw. saat berdakwah, ...

... sampai kesulitan hidup yang kita hadapi sehari-hari, Allah Swt. menjanjikan adanya kemudahan, jalan keluar, atau solusi dari kesulitan itu. Datangnya solusi memang setelah ada masalah, tapi kedatangannya pasti. Waktunya saja yang sulit diprediksi.

Dengan meyakini bahwa Allah Swt. tidak pernah menyalahi janji-Nya, cara kita menyikapi kesulitan akan berbeda. Kita tidak akan pernah putus asa karena kita yakin, jalan keluar itu ada. Kita hanya perlu bersabar dan berusaha sampai jalan keluar itu datang dengan izin-Nya.

Omong-omong soal bersabar, sabar itu juga menjadi salah satu kemudahan yang Allah Swt. berikan kepada orang yang mengalami kesulitan. Kok begitu? Tentu saja. Tidak semua orang bisa bersabar, kan? Itu artinya saat diberikan kemampuan untuk bersabar, kita sudah diberikan kemudahan.

Semakin relevan arti "bersama" itu, kan? Jalan keluar biasanya butuh waktu untuk datang sehingga kita cenderung melihatnya datang "setelah" masalah. Tapi, datangnya sabar tidak butuh waktu lama. Bagi orang-orang tertentu, datangnya sabar kadang instan, yaitu "bersama" masalah. 😁

Jadi, memahami arti ma'a yang sebenarnya, yaitu "bersama", berdampak positif. Kita paham bahwa pada hakikatnya tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan (kecuali masalah yang dibuat-buat). Dengan begitu, kita akan lebih bersabar dan bersikap positif menghadapi masalah.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling