NuugroAgung Profile picture
madep, marep, mantep

Dec 16, 2022, 85 tweets

Dendam yang sudah terpupuk lama seperti harus dilampiaskan hingga tuntas. Peristiwa tersebut menjadi sejarah kelam, jembatan itu kini menjadi saksi peristiwa tragis yg merenggut banyak nyawa.

-A Thread-
BRUG ABANG

@IDN_Horor @bacahorror_id @ceritaht #bacahorror

Hai semua, semoga selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam menjalani hidup. Berbeda dari biasanya, kali ini saya akan membahas sebuah peistiwa kelam yang pernah terjadi di tempat saya lahir. Banyak hal dari beberapa sumber saya rangkum dan coba hadirkan kali ini.

Sebelumnya terima kasih sudah trs mendukung saya, terima kasih sudah membaca tulisan yg saya buat. Semoga apa yg saya sebarkan bisa menjadi pembelajaran baik yg bisa diambil.

Bismillah kita mulai ceritanya

Peristiwa yang saya alami sudah sangat lama, saat itu saya baru menginjak masa remaja, malam itu, saya yang berniat untuk datang ke salah satu rumah teman, mengalami peristiwa ganjil, saat melewati jembatan yang membentang panjang.

Rintik gerimis masih terus membasahi saat saya mulai melewati jembatan itu, suasana sepi dan sunyi benar-benar saya rasakan, klakson saya bunyikan tiga kali sebagai tanda peringatan dan juga isyarat permisi, karena akan melintasi jembatan tersebut.

Tanpa sengaja mata saya menangkap sosok yang asing, dia berdiri terdiam di pinggir jembatan itu, saat laju motor saya mulai mendekati sosok tersebut,

nafas saya langsung terasa sesak, saya mencoba tenang dan terus berusaha mengendalikan motor dengan baik, terkejut, panik, takut saya rasakan saat itu, sosok yang barusan saya lewati tadi, berdiri diam tanpa kepala.

Dengan serabutan saya membaca apa yang bisa saya baca, doa pendek, ayat kursi, istighfar berkali-kali, ketakutan itu merasuk, tapi pikiran saya masih mencoba fokus, agar semuanya bisa terus terkendali.

Sesampainya di rumah teman saya, tubuh saya bergetar hebat, teman saya menduga karena kedinginan, tapi tidak, tubuh saya bergetar karena masih terbayang sosok tersebut, karena jelas tertangkap oleh mata saya.

Setelah di rasa tenang dan sesekali meminum teh poci hangat, barulah saya ceritakan kejadian yang baru saja saya alami.

Setelah mendengar semuanya, teman saya hanya bisa tersenyum tipis, lalu berkata
“Ndul, malam ini Kliwon...” mendengar ucapannya saya hanya bisa terdiam, mencoba mencari apa hubungannya cerita itu tadi.

Lalu teman saya melanjutkan ucapannya, “Jembatan itu punya sejarah kelam, orang-orang menyebutnya Brug Abang, dulu banyak orang meregang nyawa, mungkin yang kamu lihat, adalah jin yang menyerupai korban pembantaian kala itu...”

mendengar itu semua akhirnya saya memutuskan untuk menginap di rumahnya, sambil terus menggali informasi tentang jembatan itu. Ternyata, ada peristiwa kelam terjadi di tempat kelahiran saya, peritiwa yang memang harus terus diingat, sejarah yang tidak boleh dilupakan.

Saksi Bisu Gerakan Pemberontakan, Pasca Kemerdekaan

Mereka yang merasa sakit hati dan termakan hasutan kabar fana, bergerak, bergerombol dan mengeksekusi puluhan hingga ratusan orang yang dianggap sebagai sisa-sisa pendukung pemerintahan Jepang maupun Belanda.

Tanpa ampun, darah mereka tumpah, terbawa aliran Sungai Gung, inilah kisah kelam dari wilayah Tegal, daerah yang warungnya banyak ditemui di Kota-Kota besar.

Brug yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Jembatan, sedangkan Abang merujuk pada arti warna Merah. Brug Abang adalah jembatan lama yang sampai saat ini masih berdiri kokoh, melintasi Sungai Gung, sungai yang mengalirkan air dari Gunung Slamet hingga bermuara di laut utara.

Jembatan ini tidak berwarna merah, asal jembatan ini mendapat sebutan Brug Abang karena tempat ini menjadi saksi bisu kekejaman Kutil, pemimpin pemberontakan di daerah Tegal.

Berbagai sumber menyebutkan, telah terjadi sebuah gerakan yang dikenal dengan Peristiwa Tiga Daerah atau juga disebut Peristiwa Geger Kutil. Peristiwa berdarah itu terjadi tiga bulan pasca-proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, atau November 1945,

situasi yang penuh ketidakpastian, ketika pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri belum mampu merombak sistem pemerintahan di daerah-daerah termasuk di Tegal dan sekitarnya.

Bupati, Camat, hingga Lurah masih banyak yang dipegang oleh pejabat lama dari kalangan bangsawan yang hampir semuanya diangkat dan disetujui oleh pihak VOC hingga pemerintahan Kolonial Belanda.

Mereka menjadi pejabat yang bekerja untuk Belanda dan ketika Jepang datang, perilaku para pejabat tersebut tidak berubah, berganti mengabdi pada tuan baru mereka.

Pemberontakan ini dipelopori oleh Partosuktino yang menghasut Sakhayani yang berprofesi sebagai tukur cukur di seberang pasar Talang, namun nama Kutil lebih dikenal pada sosok tersebut.

Kutil mungkin bukan seorang politisi yang cerdik serta memiliki perhitungan yang matang dalam setiap langkah dan gerak politiknya. Ia lahir dari kalangan rakyat kecil biasa.

Memang di daerah Tegal kondisi saat itu banyak pergerakan politik dari aktivis-aktivis yang muncul dari berbagai latar belakang ideologi, baik Islam, sosialis dan komunis.

Kutil sendiri tidak terindikasi sebaga anggota organisasi apapun yang saat itu banyak dibentuk oleh kelompok-kelompok pergerakan kebangsaan. Gerakan ini sendiri dilatari rasa dendam kepada para pamong praja dan kepolisian negara bekas pemerintahan era penjajahan.

Perilaku yang menghamba pada penjajah baik Belanda maupun Jepang dengan menindas rakyat, menjadikan mereka sasaran empuk dan pelampiasan kemarahan rakyat yang sudah terjajah bertahun- tahun lamanya.

Kutil sendiri merupakan ketua dari Persatuan Tukang Gunting Republik Indonesia (PERTUGRI) pada saat itu. Kutil tampil memimpin rakyat yang marah menggeruduk kantor-kantor pemerintahan dan menahan para pejabat tersebut. Gerakan spontanitas berubah menjadi liar dan tak terkendali.

Para Bupati, Camat dan Lurah yang punya jejak rekam sebagai penindas diseret dan diarak di jalanan. Pakaian kehormatan mereka dilucuti dan diganti dengan karung goni.

Kutil melakukan operasi gerakannya mulai dari sekitar kecamatan Talang kemudian meluas hingga ke daerah Tegal dan sekitarnya.

Dengan tetabuhan khas “dombreng-dombreng” istilah dombreng-domberng sendiri dikenal dari perilaku mengarak para pejabat tersebut di jalan umum dengan diiringi tetabuhan dari berbagai macam benda yang berbunyi dengan diteriaki “dombreng-dombreng-dombreng”,

para korban diarak oleh warga yang terkena hasutan menuju ke arah Brug Abang, setelah sampai di lokasi, para pamong praja dan orang-orang yang dianggap menetang akhirnya dieksekusi,

darah tumpah kala itu, membuat warna air aliran Sungai Gung menjadi merah, dari peristiwa tersebut jembatan itu dikenal sampai saat ini dengan nama Brug Abang.

Rakyat yang eforia atas diproklamasikan kemerdekaan, membuat emosi beberapa rakyat juga terbakar, karena telah mengalami penindasan dalam kurun waktu yang cukup lama, dengan cepat gerakan tersebut meluas yang akhirnya disebut Gerakan Tiga Daerah, Tegal, Brebes, dan Pekalongan.

Situasi saat itu membuat bingung petinggi militer, gerakan ini seperti terjadi dalam waktu yang singkat, membuat aparat tidak bisa berbuat banyak karena emosi masa sudah tidak bisa dibendung lagi.

Dendam kesumat akan sisa-sisa bekas pemerintahan era Penjajahan, membuat Kutil dan pengikutnya lepas kendali, mengakibatkan nyawa saudara sebangsa melayang begitu saja.

Gerakan rakyat yang tiba-tiba dalam rangka menuntut keadilan dan otonomi kehidupan yang lebih baik akhirnya dianggap Presiden Soekarno sebagai gerakan pemberontakan melawan pemerintah yang sah.

Presiden Soekarno sempat menyatakan bahwa tiga daerah tersebut ingin menjadi negara sendiri. Maka operasi militer menjadi pilihan yang terpaksa diambil. Nyawa sudah melayang begitu banyak, sedangkan setelah Proklamasi di kumandangkan,

ancaman agresi militer dari sekutu akan datang menyambut, tindakan cepat dan terukur dibutuhkan pada saat itu. Pada akhirnya para pemimpinnya ditangkap termasuk Kutil.

Kutil sendiri sempat lolos dan melarikan diri ke Jakarta (masih diduduki Belanda saat itu), namun berhasil ditangkap dan akhirnya berhadapan dengan regu tembak.

sumber: inibaru.id

Eksekusi hukuman mati terhadap Kutil dilaksanakan di pinggir pantai Pekalongan, tanggal 5 Mei 1951. Menolak ditutup matanya Kutil menyongsong peluru yang menjemput kematiannya.

Pintu air Pesayangan dan jembatan merah atau yang lebih di kenal dengan Brug Abang Talang masih kokoh berdiri, membisu, saksi dari segala kekejaman dan nafsu membunuh antar manusia.

Riak air Sungai Gung terus mengalir membawa segala macam aroma sisa kehidupan manusia hingga bermuara di Laut Jawa yang tenang.

Hal yang tak kalah menarik kala itu adalah sosok R.A Kardinah yang juga ikut menjadi target sasaran oelh kelompok Kutil. R.A Kardinah mendapat perlakuan kasar, dan sempat ikut diarak, sampai akhirnya ia bisa meloloskan diri dari peristiwa tersebut.

Mungkin di luar masyarakat Tegal nama Kardinah masih asing, namun bagaimana dengan Kartini?

Ia, R.A Kardinah adalah adik kandung dari R.A Kartini.
Sosok penggerak wanita di daerah Tegal, yang harus lari dari tempatnya menyebarkan manfaat untuk para wanita dan karya nyata.

Kelompok Kutil dengan sengaja melempar isu-isu yang isinya menghasut rakyat yang membuat rakyat menaruh dendam terhadap para pejabat pamong praja dan Kepolisian Negara bekas peninggalan pemerintahan Jepang.

Pamong praja dan kepolisian bekas pemerintahan Jepang bertugas mendampingi Komite Nasional Indonesia (KNI) menjalankan pemerintahan di daerah. KNI Tegal, oleh para petualang politik, dianggap belum cukup dan tidak mampu,

maka muncullah hasutan dan suara-suara nyinyir menghendaki digantinya para pejabat pemerintah daerah yang semasa pemerintahan Jepang memegang puncuk pimpinan. Rakyat Tegal protes dan menghujat serta melakukan aksi kekerasan terhadap Residen Pekalongan,

Wali Kota Tegal R Soengeb Reksoatmodjo, Bupati Brebes Sarimin Reksodihardjo, Bupati Tegal RS Soenaryo, Bupati Pemalang R Rahardjo.

Mereka dianggap sebagai antek-antek NICA (Netherlands Indies Civil Administration)-Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang dipersiapkan untuk memerintah kembali setelah Jepang kalah.

Bupati Tegal Soenaryo, merupakan anak angkat dari R.A Kardinah , menjadi salah satu target gerakan Kutil. Akan tetapi, sebelum aksi Kutil untuk menculik dan membunuh Bupati Tegal tercapai, Soenaryo diselamatkan oleh Mansyur dari Pemuda API (Angkatan Pemuda Indonesia).

Penyelamatan Soenaryo berdampak pada R.A Kardinah yang saat itu ada di lingkungan kabupaten Tegal. R.A Kardinah akhirnya menjadi sasaran kemarahan rakyat, didombreng dipermalukan di depan umum lalu diarak keliling kota dengan pakaian goni dan diancam akan dibunuh.

Peristiwa ini menjadi hal gelap yang tidak akan pernah R.A Kardinah lupakan. Sejak peristiwa itu, masyarakat Tegal tidak tahu di mana R.A Kardinah berada.

Salah satu tokoh emansipasi wanita dari "Tiga Serangkai", pejuang kemanusiaan, adik RA Kartini ini hilang seperti ditelan bumi, sosoknya tidak bisa ditemukan lagi.

Sumber foto: tempo.co

Sebagai istri Bupati Tegal Reksonegoro X yang menjabat pada 1908-1930, R.A Kardinah telah mewujudkan cita-cita Kartini. Di Tegal, R.A Kardinah bukan saja membangun rumah sakit, melainkan juga sekolah kepandaian putri untuk gadis pribumi,

membuat buku-buku pelajaran tentang membatik dan memasak serta membangun rumah jompo, R.A Kartini menekankan bahwa pendidikan itu penting, karena akan membentuk karakter manusianya itu sendiri.

Karena jasa-jasanya yang besar, hilangnya R.A Kartini membuat masyarakat Tegal merasa tokoh panutan yang telah menyumbangkan karya nyata dan bermanfaat bagi masyakarat luas.

Pencarian R.A Kardinah

Bu Sardjoe (Sumiati Sardjoe), istri Wali Kota Tegal Sardjoe yang saat itu menjabat pada 1967-1979, seorang ibu yang tiada henti mencari tahu keberadaan R.A Kardinah,

orang yang pada 1927 mendirikan rumah sakit di Tegal dan cukup dikenal di Karsidenan Pekalongan. Pertanyan itu muncul karena sejak Pertistiwa Tiga Daerah, R.A Kardinah tidak diketahui di mana rimbanya. Jejak R.A Kardinah semenjak peristiwa itu seperti tenggelam ditelan bumi.

Orang Tegal tidak ada yang tahu keberadaan R.A Kardinah. R.A Kardinah cuma tinggal cerita dari mulut ke mulut.

Dari sini kemudian Sumiati Sardjoe sebagai wanita yang paling bertanggung jawab terhadap perkumpulan wanita Tegal (GOW= Gabungan Organisasi Wanita) mencari keberadaan R.A Kardinah.

Pada 1970, ketika acara pertemuan GOW di Semarang, secara tidak sengaja Sumiati Sardjoe duduk bersebelahan dengan Soemiani Sosrohadikoesoemo. Sumiati Sardjoe bercerita tentang usahanya mencari keberadaan dari R.A Kardinah.

Mendengar keluhan itu, Soemiani merasa iba, lalu akirnya ia mengaku, mengatakan bahwa dirinya adalah keponakan R.A Kardinah , putri RA Soematri, adik R.A Kardinah.

R.A Kardinah saat itu berada di Salatiga, rumah mereka saling berhadapan. Saat itu pula Sumiati Sardjoe meminta untuk dipertemukan dengan R.A Kardina,

tetapi Soemiani melarangnya karena R.A Kardinah setiap kali mendengar kata Tegal ingatannya kembali ke peristiwa kelam yang terjadi di kala itu, teringat saat Kutil menganiayanya.

Usahan Sumiati untuk bertemu R.A Kardinah di Salatiga akhirnya menemukan sebuah harapan. Namun saat Soemiani menyampaikan kabar dari Sumiati pada R.A Kardinah, ia tidak langsung mengiyakan hal tersebut.

R.A Kardinah masih menunjukkan kecurigaan kepada orang Tegal, luka pada ingatannya belum pulih, bayang-bayang kekelaman kala itu membuatnya bersikap lebih berhati-hati.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Sumiati Sardjoe tentang maksud keinginannya mengangkat jejak perjuangan R.A Kardinah yang disampaikan oleh keponakannya, baru R.A Kardinah mau menemui Sumiati Sardjoe.

Tahun 1971, atas undangan Sumiati Sardjoe, R.A Kardinah akhirnya mau berkunjung ke Tegal. Kedatangannya di Tegal disambut haru warga. Di Tegal, R.A Kardinah menginap di rumah dinas Wali Kota, Jalan Proklamasi (sekarang Kantor Dinas Kesehatan).

Sehari semalam R.A Kardinah datang ke Tegal, kedatangannya juga dimanfaatkan untuk berziarah ke makam suaminya di kompleks makam Amangkurat I Tegal Arum.

Saat pertemuannya dengan Sumiat akhirnya R.A Kardinah menceritakan apa yang ia alami saat tragedi Brug Abang terjadi. Berdasarkan pengakuan R.A Kardinah , saat terjadinya Peristiwa Tiga Daerah, Beliau diarak dengan berpakaian karung goni keliling kota.

Akan tetapi, ketika sampai di depan Rumah Sakit, R.A Kardinah pura-pura sakit dan dirawat. Pada malam harinya ada usaha penyelamatan oleh orang-orang dekatnya sehingga R.A Kardinah selamat dari amukan orang-orang Kutil dan tidak sempat dibawa ke Brug Abang.

Sayangnya, kunjungan singkat tersebut merupakan yang pertama sekaligus terakhir bagi R.A Kardinah . "Si Kecil" R.A Kardinah , adik Kartini yang paling disayangi itu, wafat pada 5 Juli 1971 dalam usia 90 tahun lebih.

R.A Kardinah disemayamkan di pemakaman Tegal Arum Tegal, kompleks makam raja Mataram Amangkurat I, di sebelah makam suaminya yang telah lama mendahului.

R.A Kardinah tidak pernah berharap untuk dimakamkan di Tegal. Tetapi, Wali Kota Tegal saat itu, Sardjoe beserta istrinya Sumaiti Sardjoe,

memutuskan untuk menyemayamkan perempuan tak kenal lelah berjuang untuk kemanusiaan ini di kota di mana dia mewujudkan cita-cita Kartini, Roekmini, dan R.A Kardinah.

Peristiwa Brug Abang tidak akan bisa terlupakan, khususnya untuk warga Tegal. Puisi karya Ery Dwi Santoso yang berjudul Brug Abang, menggambarkan secara jelas persitiwa kejam tersebut. Dalam potongan baitnya, kekejaman itu bisa tervisualisasi oleh orang yang membacanya.

Brug Abang - Ery Dwi Santoso

Nang brug abang
rayat Talang jasadé pating plagrang
nang tengah dalan
kebek gembungan awak semampir nang
pangé witwitan

akéh getih pada nglicir saka potolan gulu
nyeprol getihé kocor-kocor

glontor mili nggegirisi sadawané kali

Nang brug abang
ana riwayat ora gampang dipegat
awit jaman landa nganti merdéka
wong tani penasaran, égin disiksa nang alam
sing jaréné merdèka, akéh pejabat nggawé musakat...

Bahasa Indonesia:

Di Brug Abang
Rakyat Talang (nama daerah) jasatnya dibiarkan berserakan
Di tengah jalan
Penuh dengan luka, badan tersampir pada batang pepohonan
Banyak drh mengucur dari poto...ngan leher
Darah menetes deras
Mengalir mengisi sepanjang aliran sungai

Di Brug Abang, ada riwayat yang tidak bisa dipisahkan
Dari jaman landa sampai merdeka
Orang kecil penasaran, masih disiksa di alam
Yang katanya merdeka, ternyata banyak pejabat membuat sengsara....

kurang lebih begitu artinya, saya mengartikan semampunya.

Secara pribadi, saya sudah lama ingin menceritakan cerita ini. Mengangkat persitiwa yang pernah terjadi dari tempat saya berasal,

terima kasih pd orang2 yg sudah mengijinkan sy membaca tulisan yang berkaitan dengan peristiwa Brug Abang, akhirnya bisa saya jadikan rujukan untuk menyampaikan cerita ini
Sumber reverensi:
Yono Daryono - Kutil, Kardinah, Dan Bu Sardjoe
Ery Dwi Santoso puisi berjudul Brug Abang

Brug Abang kini masih berdiri kokoh, besi penyangganya di cat warna-warni, menambah menarik daerah tersebut, saat malam tiba lapangan disebelahnya digunakan untuk pasar malam yang di dalamnya terdapat banyak hal yang bisa di beli,

dari makanan hingga pakaian. Kadang-kadang kelompok komedi putar juga datang, menambah ramai suasana di sekitaran Brug Abang, tempat itu difungsikan untuk pasar rakyat, sampai saat ini, menjadi hiburan untuk masyarakat sekitar.

Rahayu untuk semuanya, kita yang saat ini hidup, hanya bisa terus menjaga agar tidak ada lagi peristiwa kelam yang terjadi. Kita yang saat ini hidup, mengingat sejarah untuk diambil nilai-nilainya, guna digunakan untuk kehidupan yang masih terus berjalan.

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling