Dimar Profile picture
Politik, Sejarah dan Olahraga

Jul 10, 35 tweets

Lo pikir Sultan Agung cuma soal "nyerang Batavia terus kalah"?

Sebelum Batavia, ada perang 11 tahun yang jauh lebih kejam, lebih cerdik, dan lebih sukses , yang bikin dia PD nyerang Batavia

Perang ini dia MENANG, tapi caranya menang bakal bikin lo mikir ulang soal apa itu "strategi jenius."

Ini thread paling lengkap yang bisa gue susun soal hidup dia.

Siapin waktu.

14 November 1593, Kotagede.

Lahir bocah bernama Raden Mas Jatmika , juga dikenal Raden Mas Rangsang.

"Jatmika" artinya sopan, rendah hati.

Bapaknya Prabu Hanyakrawati, raja kedua Mataram.

Ibunya Ratu Mas Adi Dyah Banawati, putri Pangeran Benawa raja Pajang.

Kakeknya: Panembahan Senopati, pendiri Mataram.

Sejak lahir, beban sejarah udah nempel: cucu pendiri kerajaan.

1613, bapaknya wafat.

Yang naik takhta duluan bukan dia , tapi Pangeran Martapura, saudara tirinya, yang disebut tunagrahita.

Cuma sehari, buat nunaikan janji ke ibunya, Ratu Tulungayu.

Abis itu baru Raden Mas Rangsang naik takhta.

Umur 20 tahun.

Bayangin tekanannya: umur 20, ada drama suksesi sehari, dan dia harus langsung ngadepin musuh yang jauh lebih established , Kadipaten Surabaya.

Surabaya bukan lawan enteng.

Ini negara dagang dengan reputasi kuat, kapal-kapalnya wara-wiri dari Malaka sampai Maluku.

Sekutunya: Tuban, Malang, Kediri, Lasem, Madura.

Bahkan penguasa Sukadana di Kalimantan ikut ngaku tunduk ke Surabaya.

1614, tahun pertama dia perang.

Sultan Agung kirim Tumenggung Suratani mimpin ekspedisi ke Jawa Timur, nyerang Lumajang , sekutu Surabaya.

Pesan yang dititipin ke pasukannya: siapa pun yang mundur harus dibunuh.

Suratani tewas di Sungai Andaka, ditangan Panji Pulangjiwa (menantu Bupati Malang).

Pangeran Mangkubumi ambil alih komando.

Besoknya, serangan balasan Mataram sukses ,semua bupati koalisi Surabaya kabur, cuma Panji Pulangjiwa yang bertahan, dan dia tewas kena jebakan Tumenggung Alap-Alap.

1615, Sultan Agung sendiri turun mimpin penaklukan Wirasaba.

Surabaya coba lawan.

Adipati Pajang sempet mau berkhianat bantu Surabaya, tapi ragu-ragu kelamaan.

Januari 1616, pasukan Surabaya dihancurkan di Desa Siwalan.

1616-1617, ekspansi lanjut: Lasem, Pasuruan.
1619: Tuban jatuh.
1622: Sukadana (di Kalimantan, sekutu Surabaya) direbut.
1624: Madura ditaklukan.

Setiap wilayah yang jatuh ini bukan cuma nambah peta kekuasaan , ini satu per satu motong jalur suplai pangan dan dukungan sekutu ke Surabaya.

1620, target utama akhirnya bergeser: kota Surabaya sendiri.

Tapi ini bukan kota yang gampang digempur.

Bagian penting kota, termasuk istana kadipaten, ada di antara cabang-cabang Sungai Brantas, dikelilingi rawa , benteng alami sekaligus risiko kesehatan buat penyerang.

Kotanya bertembok, diperkuat meriam.

Serangan pertama tahun 1620: 70.000 pasukan Mataram lawan 30.000 pasukan Surabaya.

Tapi pengepungan gagal , logistik nggak cukup buat nahan pengepungan lama.

Musim hujan tahunan bikin Mataram nggak bisa ngepung terus-menerus.

Jadi mereka ubah pola: nyerang pas musim kemarau, hancurin tanaman, jarah hasil panen di sekitar Surabaya.

Ini penting: bukan strategi tempur head-to-head.

Ini strategi ekonomi perang , bikin musuh nggak punya apa-apa buat dimakan, pelan-pelan, bertahun-tahun.

1624, pasukan Mataram di bawah Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-alap gempur lagi.

Sawah dan ladang penduduk diporak-porandakan.

Tapi pertahanan Surabaya masih belum jebol.

Sambil dirikan perkemahan di sekitar Mojokerto, Sultan Agung dan panglimanya mikirin taktik baru:

menyumbat aliran Sungai Brantas , sumber air utama penduduk Surabaya.

1625, pengepungan kelima dan terakhir.

Dipimpin Tumenggung Mangun Oneng, dibantu Tumenggung Yuda Prasena dan Tumenggung Ketawangan.

Mereka bendung Kali Mas (cabang Sungai Brantas) pakai batang kelapa dan bambu, dari dasar sungai sampai permukaan.

Cuma sebagian kecil air yang lolos.

Dan di air yang sedikit itu, mereka masukin bangkai binatang dan buah aren yang diikat di tonggak-tonggak dalam kali.

Ini yang bikin gue harus stop dan garisbawahi: ini senjata biologis, bukan metafora.

Buah aren bikin air nyebabin gatal-gatal ke siapa aja yang kena.

Bangkai binatang bikin air busuk dan penuh penyakit.

Sejarawan H.J. de Graaf nulis: penduduk Surabaya dihinggapi macam-macam penyakit . batuk-batuk, gatal-gatal, demam, sakit perut.

Efeknya mengerikan.

Laporan resmi VOC ke Belanda, 27 Oktober 1625, nyatet:

Surabaya menyerah "tanpa perlawanan, hanya karena berkurangnya rakyat dan karena kelaparan, sehingga dari 50-60 ribu jiwa tinggal tidak lebih dari seribu."

Bahkan catatan Daghregister 1 Mei 1624 nyebut cuma tersisa 500 jiwa, sisanya meninggal atau hilang.

Angka ini perlu diperlakukan hati-hati , sumber kolonial kadang berlebihan atau nggak presisi.

Tapi arahnya jelas dan konsisten di banyak sumber: ini bukan sekadar "kota menyerah."

Ini keruntuhan demografis skala besar akibat kombinasi blokade, kelaparan, dan wabah yang sengaja direkayasa.

Kota jatuh dalam keadaan fisik utuh , nggak diserang langsung, tapi dibiarkan mati kelaparan dan sakit dari dalam.

Adipati Jayalengkara, penguasa Surabaya, panggil rapat darurat dewan bangsawan.

Ada faksi (termasuk Adipati Pajang yang diasingkan) yang masih dorong lanjut lawan.

Tapi bangsawan lain yakinin dia buat menyerah.

Jayalengkara jadi taklukan Sultan Agung.

Nggak lama setelah itu, dia meninggal , usia yang udah tua plus tekanan perang panjang.

Putranya, Pangeran Pekik, diasingkan ke Ampel.

Total waktu perang ini: 11 tahun, dari 1614 sampai 1625.

Salah satu perang terpanjang dan terkejam di era itu.

Dan ini penting buat dicatat jujur: kemenangan Mataram di Surabaya nggak gratis.

Sejarawan Heuken nulis, kurang lebih 50% angkatan perang Sultan Agung sendiri mati karena kelaparan, penyakit, kecapaian, hukuman, dan peluru musuh , bahkan sebelum era Batavia.

Madilog check di titik ini: kenapa Surabaya BERHASIL ditaklukan sementara Batavia GAGAL, padahal sama-sama pakai strategi blokade-logistik?

Jawabannya materialis, bukan soal siapa lebih hebat: Surabaya kota pedalaman-pesisir yang suplainya bisa diputus darat+laut sekaligus lewat penaklukan sekutu satu-satu. Batavia adalah node jaringan maritim global VOC yang suplainya nyambung ke Ambon, Eropa, dan lautan lepas yang nggak bisa diblokade Mataram.

Skala musuhnya beda kelas.

Surabaya bisa diisolasi.
VOC nggak bisa.

1625-1627, setelah menang di Surabaya, Mataram malah dilanda wabah penyakit yang menewaskan dua per tiga penduduk di berbagai daerah.

Rakyat menderita akibat perang berkepanjangan , ini konsekuensi yang harus dibayar rakyat, bukan cuma prajurit.

Tapi kemenangan Surabaya ini yang bikin Sultan Agung PD abis.

Sumber nyebut dia "merasa percaya diri setelah Surabaya berhasil dikuasai" , dan langsung nyusun rencana ke Batavia.

1627, 14 tahun sejak naik takhta, Mataram nyampe puncak kejayaan.

Wilayahnya: Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Jawa Barat, plus pengaruh ke Palembang, Jambi, Banjarmasin.

Jadi pengekspor beras terbesar di Nusantara.

Yang tersisa cuma dua: Banten dan Batavia.

April 1628, jalur damai dulu , Kyai Rangga, Bupati Tegal, dikirim nego ke VOC. Ditolak. Perang declare.

25 Agustus 1628, serangan pertama Batavia.
Armada bawa 150 sapi, 5.900 karung gula, 26.600 kelapa, 12.000 karung beras , modus dagang buat infiltrasi. VOC curiga.

Dipimpin Tumenggung Bahureksa, 10.000 prajurit.

Perang besar di Benteng Holandia.

Pasukan Mataram hancur , bukan kalah tempur, tapi kurang perbekalan.

Desember 1628, Sultan Agung kirim algojo, hukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja atas kegagalan ini.

VOC nemuin 744 mayat orang Jawa berserakan, sebagian tanpa kepala.

Ini standar akuntabilitas paling keras di masanya ,tapi juga nunjukin dia nggak nerima kegagalan gitu aja tanpa evaluasi.

Dan di sinilah karakternya yang paling menarik keliatan lagi.

Sama kayak di Surabaya, dia ANALISIS akar masalah: rintangan utamanya logistik, jarak sekitar 300 mil dari pedalaman Jawa Tengah ke Batavia.

Solusi: bikin desa-desa pertanian padi yang dikelola petani Jawa di sepanjang pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai Karawang.

Infrastruktur pangan permanen buat jalur invasi.

Mei-Juni 1629, gelombang kedua.

Adipati Ukur duluan Mei, Adipati Juminah Purbaya dan Puger nyusul Juni bawa infanteri.

Total sekitar 14.000-20.000 prajurit tergantung sumber.

Persenjataan lebih lengkap, panglima lebih berpengalaman.

Sebelum berangkat, utusan Mataram bernama Warga sempet ditawarin "minta maaf" ke VOC soal 1628 , tapi setelah maksud sebenarnya ketauan, dia dihukum mati.

Di titik ini, kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah militer Nusantara terjadi , dan itu BUKAN di medan perang.

Warga ketangkep VOC dan buka semua rencana di bawah interogasi.

VOC langsung bakar semua lumbung beras Mataram di Tegal dan Cirebon.

Satu bocoran.

Satu pengakuan di bawah tekanan.

Runtuh semua strategi yang udah dipersiapkan bertahun-tahun , strategi yang justru versi lebih matang dari yang berhasil dipakai di Surabaya.

Pasukan yang udah nempuh jarak jauh jadi kekurangan makanan, kena penyakit, moral dan fisik ambruk.

Ada usaha ekstrem membendung Sungai Ciliwung buat banjirin Batavia , teknik yang mirip sama yang dipake di Brantas, tapi kali ini nggak sempet efektif karena logistik keburu ambruk duluan.

VOC bahkan musnahin 200 kapal, 400 rumah, dan satu gunungan padi milik Mataram.

Rasa takut yang timbul bikin nggak ada satu pun kapal Mataram yang berani muncul lagi.

21 September 1629 (ada juga catatan 20 September), Jan Pieterszoon Coen , pemimpin VOC paling brutal, arsitek genosida Banda, meninggal mendadak karena kolera.

Tapi kematiannya nggak nyelametin Mataram.

Masalahnya udah bukan soal siapa mimpin VOC.

Rantai pasokan udah putus duluan.

Madilog time : bedah dua perang ini bareng, materialis-dialektis-logis, bukan mistis.

Surabaya menang karena: musuh bisa diisolasi total (darat + laut + sekutu dipotong satu-satu), jarak logistik Mataram-Surabaya jauh lebih pendek, dan sungai yang jadi urat nadi Surabaya bisa dikuasai fisik.

Batavia gagal karena: VOC adalah node jaringan global yang suplainya nggak bisa diputus dari darat doang, jarak logistik 300 mil terlalu jauh buat dipertahankan, dan yang paling fatal , titik lemah manusia (satu mata-mata yang bocor) menghancurkan persiapan bertahun-tahun dalam hitungan minggu.

Pelajaran struktural paling penting dari dua perang ini: strategi yang identik bisa punya hasil yang berlawanan total, tergantung struktur ekonomi-geografis musuh yang lo hadapin.

Sultan Agung nggak salah strategi di Batavia.

Dia pakai pelajaran yang sama persis yang bikin dia menang di Surabaya.

Tapi Batavia punya struktur pertahanan yang secara fundamental beda , maritim global vs pedalaman-sungai.

Dampak setelah Batavia: VOC memperluas pengaruhnya, akuisisi dataran tinggi Priangan serta pelabuhan pantai utara Mataram . Tegal, Kendal, Semarang.

Ada sisi manusiawi juga: karena kedisiplinan Sultan Agung yang keras terhadap kegagalan, banyak pasukan Jawa menolak pulang, memilih menikah dengan wanita lokal dan menetap di Jawa Barat.

Salah satu alasan kenapa jejak budaya Jawa masih ada di sana sampai sekarang.

Ambisinya nggak berhenti di situ.

Setelah Batavia, dia alihin fokus ke timur:
Giri (1635-1636), Blambangan (1636-1640).

Hampir seluruh Jawa akhirnya jadi wilayah kekuasaan Mataram , kecuali Banten dan Batavia sampai akhir hayatnya.

Di luar medan perang, dia arsitek budaya.

Mataram di masanya dorong perkembangan seni patung, ukir, tari, bangunan, lukis .

keliatan dari ukiran gapura, istana, tempat ibadah.

Tari Bedoyo Ketawang dan perayaan Sekaten (perpaduan budaya Hindu-Jawa-Islam) juga warisan era dia.

Dia disebut juga budayawan dan filsuf peletak fondasi Kajawen , bentuk kerangka budaya Jawa yang masih kepake sampai sekarang.

Sultan Agung wafat 1645 di Karta (sekarang Plered, Bantul) , istana yang dia bangun sendiri di awal masa pemerintahannya.

Wafat setelah 32 tahun memerintah, dari umur 20 sampai 52 tahun.

Takhta dilanjutin putranya, Raden Mas Sayidin ,kelak dikenal sebagai Amangkurat I.

1975, pemerintah RI resmi anugerahkan gelar Pahlawan Nasional ke Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Kenapa dua perang ini , Surabaya dan Batavia , layak diinget bareng, bukan cuma salah satunya:

Surabaya nunjukin dia bisa mikir strategis, sabar 11 tahun, dan menang lewat kesabaran struktural ,bukan cuma keberanian nekat.

Batavia nunjukin bahwa kesabaran dan strategi yang sama, sekalipun udah dievaluasi dan diperbaiki dua kali, tetep bisa kalah kalau lawannya punya keunggulan struktural yang fundamental beda.

Itu yang bikin ceritanya lengkap, bukan cerita "raja hebat yang selalu menang" atau "raja gagal yang kasian."

Ini cerita orang yang mikir jangka panjang, mau bayar harga mahal (termasuk hukum mati bawahannya sendiri), dan tetep jalan meskipun target akhir nggak pernah kesampaian.

Sumber :

Kelahiran, Suksesi, dan Biografi Umum
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta — "Sultan Agung" — kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/sul…
IDN Times Jogja — "Biografi Sultan Agung, Raja Terbesar Mataram yang Disegani" — jogja.idntimes.com/life/education…
Kumparan — "Biografi Sultan Agung, Raja Mataram dan Masa Pemerintahannya" — kumparan.com/profil-tokoh/b…
SINDOnews — "Biografi Sultan Agung: Kelahiran, Kesaktian, dan Kematiannya" — daerah.sindonews.com/read/1183083/2…
Tribunnewswiki — "Sultan Agung" — tribunnewswiki.com/2021/08/23/sul…
Detik Jateng — "Biografi Sultan Agung, Penguasa Mataram dan Masa Pemerintahannya" — detik.com/jateng/berita/…
The Indonesian — "Sultan Agung, Peletak Dasar Modernisasi Mataram" — theindonesian.id/2024/02/21/sul…
Penmad Kemenag Asahan — "Sultan Agung Hanyokrokusumo: Sang Raja Penakluk dan Pejuang Tangguh Melawan VOC" — penmad.kemenagasahan.com/2025/07/10/sul…
Wikipedia ID — "Sultan Agung dari Mataram" — id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Ag…
Blogspot "Biografi Tokoh Ternama" — "Biografi Sultan Agung Hanyokrokusumo" — biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/biogra…

Perang Mataram–Surabaya (1614–1625)
Historia.id — "Taktik Penyakit Sultan Agung" (mengutip H.J. de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, dan M.C. Ricklefs) — historia.id/kuno/articles/… (versi cermin: historia.id/article/taktik…)
Wikipedia ID — "Penaklukan Surabaya oleh Mataram" — id.wikipedia.org/wiki/Penakluka…
Wikipedia EN — "Mataram conquest of Surabaya" — en.wikipedia.org/wiki/Mataram_c…
Jatim Times — "Racun Bangkai Binatang, Strategi Raja Mataram Sultan Agung Taklukkan Kerajaan Surabaya" — jatimtimes.com/baca/296286/20…
Jatim Times — "Menelusuri Jejak Kerajaan Surabaya, Kerajaan Besar Pesaing Mataram dan Sultan Agung" — jatimtimes.com/baca/292629/20…
Intisari Grid — "Surabaya Tumbang di Tangan Mataram Islam, Kisah Perang dan Racun di Sungai Brantas" — intisari.grid.id/read/033791552…
SINDOnews — "Strategi Licik Sultan Agung, Racuni Sungai Brantas untuk Taklukan Surabaya" (mengutip tesis Akhmad Saiful Ali, IAIN Sunan Ampel Surabaya: "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke-17") — daerah.sindonews.com/read/946901/29…
Timetoast Timelines — "Sultan Agung Melawan VOC timeline" — timetoast.com/timelines/sult…

Serangan ke Batavia (1628–1629)
Kompas.com — "Pertempuran Batavia: Penyebab, Kronologi, dan Dampak"
Kompas.com — "Latar Belakang Kegagalan Serangan Mataram ke Batavia pada 1629"
ABHISEVA.ID — "Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC (1628–1629)" — abhiseva.id/perlawanan-sul…
Liputan6.com — "Penyebab Utama Serangan Mataram yang Kedua Gagal"

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling