Dimar Profile picture
Jul 10 35 tweets 21 min read Read on X
Lo pikir Sultan Agung cuma soal "nyerang Batavia terus kalah"?

Sebelum Batavia, ada perang 11 tahun yang jauh lebih kejam, lebih cerdik, dan lebih sukses , yang bikin dia PD nyerang Batavia

Perang ini dia MENANG, tapi caranya menang bakal bikin lo mikir ulang soal apa itu "strategi jenius."

Ini thread paling lengkap yang bisa gue susun soal hidup dia.

Siapin waktu.Image
14 November 1593, Kotagede.

Lahir bocah bernama Raden Mas Jatmika , juga dikenal Raden Mas Rangsang.

"Jatmika" artinya sopan, rendah hati.

Bapaknya Prabu Hanyakrawati, raja kedua Mataram.

Ibunya Ratu Mas Adi Dyah Banawati, putri Pangeran Benawa raja Pajang.

Kakeknya: Panembahan Senopati, pendiri Mataram.

Sejak lahir, beban sejarah udah nempel: cucu pendiri kerajaan.Image
1613, bapaknya wafat.

Yang naik takhta duluan bukan dia , tapi Pangeran Martapura, saudara tirinya, yang disebut tunagrahita.

Cuma sehari, buat nunaikan janji ke ibunya, Ratu Tulungayu.

Abis itu baru Raden Mas Rangsang naik takhta.

Umur 20 tahun.Image
Bayangin tekanannya: umur 20, ada drama suksesi sehari, dan dia harus langsung ngadepin musuh yang jauh lebih established , Kadipaten Surabaya.

Surabaya bukan lawan enteng.

Ini negara dagang dengan reputasi kuat, kapal-kapalnya wara-wiri dari Malaka sampai Maluku.

Sekutunya: Tuban, Malang, Kediri, Lasem, Madura.

Bahkan penguasa Sukadana di Kalimantan ikut ngaku tunduk ke Surabaya.Image
1614, tahun pertama dia perang.

Sultan Agung kirim Tumenggung Suratani mimpin ekspedisi ke Jawa Timur, nyerang Lumajang , sekutu Surabaya.

Pesan yang dititipin ke pasukannya: siapa pun yang mundur harus dibunuh.

Suratani tewas di Sungai Andaka, ditangan Panji Pulangjiwa (menantu Bupati Malang).

Pangeran Mangkubumi ambil alih komando.

Besoknya, serangan balasan Mataram sukses ,semua bupati koalisi Surabaya kabur, cuma Panji Pulangjiwa yang bertahan, dan dia tewas kena jebakan Tumenggung Alap-Alap.Image
Image
Image
Image
1615, Sultan Agung sendiri turun mimpin penaklukan Wirasaba.

Surabaya coba lawan.

Adipati Pajang sempet mau berkhianat bantu Surabaya, tapi ragu-ragu kelamaan.

Januari 1616, pasukan Surabaya dihancurkan di Desa Siwalan.Image
1616-1617, ekspansi lanjut: Lasem, Pasuruan.
1619: Tuban jatuh.
1622: Sukadana (di Kalimantan, sekutu Surabaya) direbut.
1624: Madura ditaklukan.

Setiap wilayah yang jatuh ini bukan cuma nambah peta kekuasaan , ini satu per satu motong jalur suplai pangan dan dukungan sekutu ke Surabaya.Image
1620, target utama akhirnya bergeser: kota Surabaya sendiri.

Tapi ini bukan kota yang gampang digempur.

Bagian penting kota, termasuk istana kadipaten, ada di antara cabang-cabang Sungai Brantas, dikelilingi rawa , benteng alami sekaligus risiko kesehatan buat penyerang.

Kotanya bertembok, diperkuat meriam.

Serangan pertama tahun 1620: 70.000 pasukan Mataram lawan 30.000 pasukan Surabaya.

Tapi pengepungan gagal , logistik nggak cukup buat nahan pengepungan lama.Image
Musim hujan tahunan bikin Mataram nggak bisa ngepung terus-menerus.

Jadi mereka ubah pola: nyerang pas musim kemarau, hancurin tanaman, jarah hasil panen di sekitar Surabaya.

Ini penting: bukan strategi tempur head-to-head.

Ini strategi ekonomi perang , bikin musuh nggak punya apa-apa buat dimakan, pelan-pelan, bertahun-tahun.Image
1624, pasukan Mataram di bawah Tumenggung Ketawangan dan Tumenggung Alap-alap gempur lagi.

Sawah dan ladang penduduk diporak-porandakan.

Tapi pertahanan Surabaya masih belum jebol.

Sambil dirikan perkemahan di sekitar Mojokerto, Sultan Agung dan panglimanya mikirin taktik baru:

menyumbat aliran Sungai Brantas , sumber air utama penduduk Surabaya.Image
1625, pengepungan kelima dan terakhir.

Dipimpin Tumenggung Mangun Oneng, dibantu Tumenggung Yuda Prasena dan Tumenggung Ketawangan.

Mereka bendung Kali Mas (cabang Sungai Brantas) pakai batang kelapa dan bambu, dari dasar sungai sampai permukaan.

Cuma sebagian kecil air yang lolos.

Dan di air yang sedikit itu, mereka masukin bangkai binatang dan buah aren yang diikat di tonggak-tonggak dalam kali.Image
Ini yang bikin gue harus stop dan garisbawahi: ini senjata biologis, bukan metafora.

Buah aren bikin air nyebabin gatal-gatal ke siapa aja yang kena.

Bangkai binatang bikin air busuk dan penuh penyakit.

Sejarawan H.J. de Graaf nulis: penduduk Surabaya dihinggapi macam-macam penyakit . batuk-batuk, gatal-gatal, demam, sakit perut.Image
Efeknya mengerikan.

Laporan resmi VOC ke Belanda, 27 Oktober 1625, nyatet:

Surabaya menyerah "tanpa perlawanan, hanya karena berkurangnya rakyat dan karena kelaparan, sehingga dari 50-60 ribu jiwa tinggal tidak lebih dari seribu."

Bahkan catatan Daghregister 1 Mei 1624 nyebut cuma tersisa 500 jiwa, sisanya meninggal atau hilang.Image
Angka ini perlu diperlakukan hati-hati , sumber kolonial kadang berlebihan atau nggak presisi.

Tapi arahnya jelas dan konsisten di banyak sumber: ini bukan sekadar "kota menyerah."

Ini keruntuhan demografis skala besar akibat kombinasi blokade, kelaparan, dan wabah yang sengaja direkayasa.

Kota jatuh dalam keadaan fisik utuh , nggak diserang langsung, tapi dibiarkan mati kelaparan dan sakit dari dalam.Image
Adipati Jayalengkara, penguasa Surabaya, panggil rapat darurat dewan bangsawan.

Ada faksi (termasuk Adipati Pajang yang diasingkan) yang masih dorong lanjut lawan.

Tapi bangsawan lain yakinin dia buat menyerah.

Jayalengkara jadi taklukan Sultan Agung.

Nggak lama setelah itu, dia meninggal , usia yang udah tua plus tekanan perang panjang.

Putranya, Pangeran Pekik, diasingkan ke Ampel.Image
Total waktu perang ini: 11 tahun, dari 1614 sampai 1625.

Salah satu perang terpanjang dan terkejam di era itu.

Dan ini penting buat dicatat jujur: kemenangan Mataram di Surabaya nggak gratis.

Sejarawan Heuken nulis, kurang lebih 50% angkatan perang Sultan Agung sendiri mati karena kelaparan, penyakit, kecapaian, hukuman, dan peluru musuh , bahkan sebelum era Batavia.Image
Madilog check di titik ini: kenapa Surabaya BERHASIL ditaklukan sementara Batavia GAGAL, padahal sama-sama pakai strategi blokade-logistik?

Jawabannya materialis, bukan soal siapa lebih hebat: Surabaya kota pedalaman-pesisir yang suplainya bisa diputus darat+laut sekaligus lewat penaklukan sekutu satu-satu. Batavia adalah node jaringan maritim global VOC yang suplainya nyambung ke Ambon, Eropa, dan lautan lepas yang nggak bisa diblokade Mataram.

Skala musuhnya beda kelas.

Surabaya bisa diisolasi.
VOC nggak bisa.Image
1625-1627, setelah menang di Surabaya, Mataram malah dilanda wabah penyakit yang menewaskan dua per tiga penduduk di berbagai daerah.

Rakyat menderita akibat perang berkepanjangan , ini konsekuensi yang harus dibayar rakyat, bukan cuma prajurit.

Tapi kemenangan Surabaya ini yang bikin Sultan Agung PD abis.

Sumber nyebut dia "merasa percaya diri setelah Surabaya berhasil dikuasai" , dan langsung nyusun rencana ke Batavia.Image
1627, 14 tahun sejak naik takhta, Mataram nyampe puncak kejayaan.

Wilayahnya: Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Jawa Barat, plus pengaruh ke Palembang, Jambi, Banjarmasin.

Jadi pengekspor beras terbesar di Nusantara.

Yang tersisa cuma dua: Banten dan Batavia.Image
April 1628, jalur damai dulu , Kyai Rangga, Bupati Tegal, dikirim nego ke VOC. Ditolak. Perang declare.

25 Agustus 1628, serangan pertama Batavia.
Armada bawa 150 sapi, 5.900 karung gula, 26.600 kelapa, 12.000 karung beras , modus dagang buat infiltrasi. VOC curiga.

Dipimpin Tumenggung Bahureksa, 10.000 prajurit.

Perang besar di Benteng Holandia.

Pasukan Mataram hancur , bukan kalah tempur, tapi kurang perbekalan.Image
Desember 1628, Sultan Agung kirim algojo, hukum mati Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja atas kegagalan ini.

VOC nemuin 744 mayat orang Jawa berserakan, sebagian tanpa kepala.

Ini standar akuntabilitas paling keras di masanya ,tapi juga nunjukin dia nggak nerima kegagalan gitu aja tanpa evaluasi.Image
Dan di sinilah karakternya yang paling menarik keliatan lagi.

Sama kayak di Surabaya, dia ANALISIS akar masalah: rintangan utamanya logistik, jarak sekitar 300 mil dari pedalaman Jawa Tengah ke Batavia.

Solusi: bikin desa-desa pertanian padi yang dikelola petani Jawa di sepanjang pantai utara Jawa Barat, dari Cirebon sampai Karawang.

Infrastruktur pangan permanen buat jalur invasi.Image
Mei-Juni 1629, gelombang kedua.

Adipati Ukur duluan Mei, Adipati Juminah Purbaya dan Puger nyusul Juni bawa infanteri.

Total sekitar 14.000-20.000 prajurit tergantung sumber.

Persenjataan lebih lengkap, panglima lebih berpengalaman.

Sebelum berangkat, utusan Mataram bernama Warga sempet ditawarin "minta maaf" ke VOC soal 1628 , tapi setelah maksud sebenarnya ketauan, dia dihukum mati.Image
Di titik ini, kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah militer Nusantara terjadi , dan itu BUKAN di medan perang.

Warga ketangkep VOC dan buka semua rencana di bawah interogasi.

VOC langsung bakar semua lumbung beras Mataram di Tegal dan Cirebon.

Satu bocoran.

Satu pengakuan di bawah tekanan.

Runtuh semua strategi yang udah dipersiapkan bertahun-tahun , strategi yang justru versi lebih matang dari yang berhasil dipakai di Surabaya.Image
Pasukan yang udah nempuh jarak jauh jadi kekurangan makanan, kena penyakit, moral dan fisik ambruk.

Ada usaha ekstrem membendung Sungai Ciliwung buat banjirin Batavia , teknik yang mirip sama yang dipake di Brantas, tapi kali ini nggak sempet efektif karena logistik keburu ambruk duluan.

VOC bahkan musnahin 200 kapal, 400 rumah, dan satu gunungan padi milik Mataram.

Rasa takut yang timbul bikin nggak ada satu pun kapal Mataram yang berani muncul lagi.Image
21 September 1629 (ada juga catatan 20 September), Jan Pieterszoon Coen , pemimpin VOC paling brutal, arsitek genosida Banda, meninggal mendadak karena kolera.

Tapi kematiannya nggak nyelametin Mataram.

Masalahnya udah bukan soal siapa mimpin VOC.

Rantai pasokan udah putus duluan.Image
Madilog time : bedah dua perang ini bareng, materialis-dialektis-logis, bukan mistis.

Surabaya menang karena: musuh bisa diisolasi total (darat + laut + sekutu dipotong satu-satu), jarak logistik Mataram-Surabaya jauh lebih pendek, dan sungai yang jadi urat nadi Surabaya bisa dikuasai fisik.

Batavia gagal karena: VOC adalah node jaringan global yang suplainya nggak bisa diputus dari darat doang, jarak logistik 300 mil terlalu jauh buat dipertahankan, dan yang paling fatal , titik lemah manusia (satu mata-mata yang bocor) menghancurkan persiapan bertahun-tahun dalam hitungan minggu.Image
Pelajaran struktural paling penting dari dua perang ini: strategi yang identik bisa punya hasil yang berlawanan total, tergantung struktur ekonomi-geografis musuh yang lo hadapin.

Sultan Agung nggak salah strategi di Batavia.

Dia pakai pelajaran yang sama persis yang bikin dia menang di Surabaya.

Tapi Batavia punya struktur pertahanan yang secara fundamental beda , maritim global vs pedalaman-sungai.Image
Dampak setelah Batavia: VOC memperluas pengaruhnya, akuisisi dataran tinggi Priangan serta pelabuhan pantai utara Mataram . Tegal, Kendal, Semarang.

Ada sisi manusiawi juga: karena kedisiplinan Sultan Agung yang keras terhadap kegagalan, banyak pasukan Jawa menolak pulang, memilih menikah dengan wanita lokal dan menetap di Jawa Barat.

Salah satu alasan kenapa jejak budaya Jawa masih ada di sana sampai sekarang.Image
Ambisinya nggak berhenti di situ.

Setelah Batavia, dia alihin fokus ke timur:
Giri (1635-1636), Blambangan (1636-1640).

Hampir seluruh Jawa akhirnya jadi wilayah kekuasaan Mataram , kecuali Banten dan Batavia sampai akhir hayatnya.Image
Di luar medan perang, dia arsitek budaya.

Mataram di masanya dorong perkembangan seni patung, ukir, tari, bangunan, lukis .

keliatan dari ukiran gapura, istana, tempat ibadah.

Tari Bedoyo Ketawang dan perayaan Sekaten (perpaduan budaya Hindu-Jawa-Islam) juga warisan era dia.

Dia disebut juga budayawan dan filsuf peletak fondasi Kajawen , bentuk kerangka budaya Jawa yang masih kepake sampai sekarang.Image
Image
Sultan Agung wafat 1645 di Karta (sekarang Plered, Bantul) , istana yang dia bangun sendiri di awal masa pemerintahannya.

Wafat setelah 32 tahun memerintah, dari umur 20 sampai 52 tahun.

Takhta dilanjutin putranya, Raden Mas Sayidin ,kelak dikenal sebagai Amangkurat I.

1975, pemerintah RI resmi anugerahkan gelar Pahlawan Nasional ke Sultan Agung Hanyokrokusumo.Image
Kenapa dua perang ini , Surabaya dan Batavia , layak diinget bareng, bukan cuma salah satunya:

Surabaya nunjukin dia bisa mikir strategis, sabar 11 tahun, dan menang lewat kesabaran struktural ,bukan cuma keberanian nekat.

Batavia nunjukin bahwa kesabaran dan strategi yang sama, sekalipun udah dievaluasi dan diperbaiki dua kali, tetep bisa kalah kalau lawannya punya keunggulan struktural yang fundamental beda.Image
Itu yang bikin ceritanya lengkap, bukan cerita "raja hebat yang selalu menang" atau "raja gagal yang kasian."

Ini cerita orang yang mikir jangka panjang, mau bayar harga mahal (termasuk hukum mati bawahannya sendiri), dan tetep jalan meskipun target akhir nggak pernah kesampaian.Image
Sumber :

Kelahiran, Suksesi, dan Biografi Umum
Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta — "Sultan Agung" — kebudayaan.jogjakota.go.id/page/index/sul…
IDN Times Jogja — "Biografi Sultan Agung, Raja Terbesar Mataram yang Disegani" — jogja.idntimes.com/life/education…
Kumparan — "Biografi Sultan Agung, Raja Mataram dan Masa Pemerintahannya" — kumparan.com/profil-tokoh/b…
SINDOnews — "Biografi Sultan Agung: Kelahiran, Kesaktian, dan Kematiannya" — daerah.sindonews.com/read/1183083/2…
Tribunnewswiki — "Sultan Agung" — tribunnewswiki.com/2021/08/23/sul…
Detik Jateng — "Biografi Sultan Agung, Penguasa Mataram dan Masa Pemerintahannya" — detik.com/jateng/berita/…
The Indonesian — "Sultan Agung, Peletak Dasar Modernisasi Mataram" — theindonesian.id/2024/02/21/sul…
Penmad Kemenag Asahan — "Sultan Agung Hanyokrokusumo: Sang Raja Penakluk dan Pejuang Tangguh Melawan VOC" — penmad.kemenagasahan.com/2025/07/10/sul…
Wikipedia ID — "Sultan Agung dari Mataram" — id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Ag…
Blogspot "Biografi Tokoh Ternama" — "Biografi Sultan Agung Hanyokrokusumo" — biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/biogra…

Perang Mataram–Surabaya (1614–1625)
Historia.id — "Taktik Penyakit Sultan Agung" (mengutip H.J. de Graaf, Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, dan M.C. Ricklefs) — historia.id/kuno/articles/… (versi cermin: historia.id/article/taktik…)
Wikipedia ID — "Penaklukan Surabaya oleh Mataram" — id.wikipedia.org/wiki/Penakluka…
Wikipedia EN — "Mataram conquest of Surabaya" — en.wikipedia.org/wiki/Mataram_c…
Jatim Times — "Racun Bangkai Binatang, Strategi Raja Mataram Sultan Agung Taklukkan Kerajaan Surabaya" — jatimtimes.com/baca/296286/20…
Jatim Times — "Menelusuri Jejak Kerajaan Surabaya, Kerajaan Besar Pesaing Mataram dan Sultan Agung" — jatimtimes.com/baca/292629/20…
Intisari Grid — "Surabaya Tumbang di Tangan Mataram Islam, Kisah Perang dan Racun di Sungai Brantas" — intisari.grid.id/read/033791552…
SINDOnews — "Strategi Licik Sultan Agung, Racuni Sungai Brantas untuk Taklukan Surabaya" (mengutip tesis Akhmad Saiful Ali, IAIN Sunan Ampel Surabaya: "Ekspansi Mataram terhadap Surabaya Abad ke-17") — daerah.sindonews.com/read/946901/29…
Timetoast Timelines — "Sultan Agung Melawan VOC timeline" — timetoast.com/timelines/sult…

Serangan ke Batavia (1628–1629)
Kompas.com — "Pertempuran Batavia: Penyebab, Kronologi, dan Dampak"
Kompas.com — "Latar Belakang Kegagalan Serangan Mataram ke Batavia pada 1629"
ABHISEVA.ID — "Perlawanan Sultan Agung Terhadap VOC (1628–1629)" — abhiseva.id/perlawanan-sul…
Liputan6.com — "Penyebab Utama Serangan Mataram yang Kedua Gagal"Image

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Dimar

Dimar Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @dimarsasongko98

Jul 11
Muka di uang 20 ribu itu bukan orang biasa.

Cucu Paku Alam III.

Jalur Putra Mahkota . bangsawan kelas atas, bukan priayi kelas dua.

Tapi dia pilih dipenjara tanpa pengadilan, diasingkan ke luar negeri, dan di akhir hidupnya BUANG gelar bangsawannya sendiri.

Ini kronologi lengkapnya, dari lahir sampai matiImage
Lahir 2 Mei 1889 di Yogyakarta, nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.

Ayahnya GPH Soerjaningrat, anak sulung Paku Alam III. Ibunya RA Sandiah.

Darah birunya nggak diragukan , ini keluarga inti Kadipaten Pakualaman.

Karena darah biru ini, dia dapet akses ke ELS: sekolah dasar tempat anak kulit putih dan priayi bersekolah di Yogyakarta , sesuatu yang mustahil buat rakyat jelata jajahan.Image
Tamat ELS 1904, lanjut ke Kweekschool (sekolah guru) di Yogyakarta.

Belum tamat, datang dr. Wahidin Soedirohoesodo ke Pura Paku Alam, nawarin beasiswa buat putra-putra Paku Alam masuk STOVIA , sekolah dokter Jawa di Batavia.

Soewardi ambil kesempatan ini. Masuk STOVIA 1905.Image
Image
Read 28 tweets
Jul 1
Lo semua pasti udah denger: 30 Juni 2026, Nadiem Makarim divonis 10 tahun penjara sama Pengadilan Tipikor Jakpus, kasus korupsi pengadaan Chromebook, kerugian negara Rp1,56 triliun.

Tapi sebelum lo simpulin apa-apa, gue ajak bedah utuh 5 tahun kepemimpinannya di Kemendikbudristek.

Data dulu, opini belakanganImage
Landasan hukumnya jelas: UU No. 20/2003 Sisdiknas, UU No. 12/2012 Dikti, dan puluhan Permendikbudristek yang dia terbitkan sendiri selama menjabat (2019-2024).

Nadiem masuk kabinet Jokowi 23 Oktober 2019, awalnya Mendikbud, lalu 2021 jadi Mendikbudristek setelah Kemenristek dilebur masuk.Image
Konteks awal jabatannya: hasil PISA 2019 nunjukin Indonesia di posisi ke-74 dari 79 negara buat literasi dan matematika.

Ini yang jadi dalih dia luncurin program "Merdeka Belajar" , katanya butuh langkah revolusioner, bukan tambal sulam.Image
Read 56 tweets
Jun 27
THREAD 1 — FONDASI RUNTUH
Seri REFORMASI '98: Bagaimana Negara Ini Hampir Mati dan Siapa yang Harus Bayar Tagihannya

Negara ini pernah hampir mati.

Bukan diserang musuh luar.
Bukan kena bencana alam.

Tapi karena akumulasi tiga kesalahan sekaligus: tata kelola dalam negeri yang busuk dari dalam, guncangan eksternal yang tidak diantisipasi, dan respons kebijakan yang salah di saat paling kritis.

Ketika semuanya meledak , rekeningnya diserahkan ke lu dan gue.

Ini bukan dongeng.
Ini data.

Bikin dulu kopi lo. Thread ini panjang.Image
Sebelum 1997, Orde Baru bangga:

Pertumbuhan ekonomi 7–8% selama bertahun-tahun.

"Macan Asia."
Indonesia disebut success story oleh Bank Dunia.

Yang tidak disebutkan:
Fondasi pertumbuhan itu berdiri di atas utang dolar swasta yang tidak diawasi, tidak dicatat, dan tidak di-hedge , alias tidak diasuransikan terhadap fluktuasi kurs.

Gedung megah di atas lumpur tetap gedung.

Sampai gempa datang.Image
ANATOMI BOM WAKTU: Devisa Bebas = Bebas Ngutang, Bebas Kabur

Ini adalah kebijakan yang secara harfiah bernama "rezim devisa bebas."

Artinya: siapapun boleh buka rekening valas. Siapapun boleh pinjam dolar ke luar negeri.
Tidak perlu lapor ke siapapun.
Tidak ada yang mencatat.

Hasilnya: konglomerat-konglomerat besar Indonesia pinjam miliaran dolar , dalam dolar, karena bunganya lebih murah , tapi pendapatan mereka dalam rupiah.

Selama kurs stabil, untung besar.

Selama kurs stabil.Image
Read 18 tweets
Jun 23
lo pernah bayangin bangun pagi, trus nemuin mayat tergeletak di depan rumah?

tangan terikat.
kepala ditembak.
ada uang Rp10.000 ditaruh di saku , buat ongkos penguburan.

itu bukan adegan film.
itu Indonesia.
1982–1985.

dan pelakunya? negara.

PETRUS : Penembakan MisteriusImage
"Petrus" = akronim dari Penembak Misterius.

tapi ini sama sekali nggak misterius.

itu adalah operasi rahasia pemerintah Soeharto: pembunuhan massal terhadap ribuan orang yang dicap preman .

tanpa proses hukum, tanpa pengadilan, tanpa pembuktian.

dar. der. dor.

selesai.Image
supaya lo ngerti kenapa ini bisa terjadi, harus balik ke akarnya dulu.

awal 1980an, harga minyak dunia anjlok: dari $35/barel → $10/barel.

80% pemasukan negara waktu itu dari minyak.

begitu harganya jeblok, Indonesia nyaris bangkrut.

subsidi dipotong
rupiah didevaluasi 27,6%.
pengangguran naik.Image
Read 34 tweets
Jun 22
ada orang yang hidupnya sederhana banget.

naik sepeda onthel ke kampus.

nggak punya mobil. nggak punya rumah sendiri.

waktu dia mati pun, nggak ada harta yang ditinggal.

tapi organisasi yang dia bikin
melahirkan wakil presiden, menteri, ketua MK, dan puluhan elite republik.

namanya Lafran Pane.

dan lo mungkin belum pernah dengar namanya.Image
Lafran lahir 5 Februari 1922 di Sipirok, Tapanuli Selatan.

kakak-kakaknya, Sanusi Pane dan Armijn Pane, adalah sastrawan besar Indonesia.

ayahnya jurnalis, aktivis, dan salah satu pendiri Muhammadiyah di Sipirok.

tapi Lafran kecil?

nakal. berantem. sering pindah sekolah.

nggak ada yang nyangka dia bakal jadi siapa.Image
ibunya meninggal waktu Lafran baru umur 2 tahun.

untuk menyambung hidup, dia jual karcis bioskop.
jual es lilin.
kerja serabutan.

di Jakarta dia bergaul di kawasan Senen.

teman seperjuangan di GERINDO, organisasi pemuda pra-kemerdekaan , waktu itu?

seorang anak muda bernama DN Aidit.

ya. Aidit. orang yang kelak jadi Ketua PKI.Image
Read 22 tweets
Jun 21
Bayangin lo baru aja berhasil nyatuin negara yang nyaris pecah jadi belasan negara kecil.

Gara-gara lo, negara itu utuh lagi.

Presiden percaya, lo diangkat jadi perdana menteri.

Eh, 6 bulan kemudian kabinet lo kalah voting di parlemen.

Apa yang lo lakuin?

Kalo politisi jaman sekarang: nyari celah hukum, reshuffle internal, lobi sana-sini, atau diem-diem dikasih kursi baru biar tetep di lingkaran kekuasaan.

Mohammad Natsir?

Dia langsung balikin mandat ke presiden.

Pulang. Ga ada drama, ga ada manuver.

Ini ceritanya.Image
Tahun 1949, Indonesia abis menang diplomasi lewat Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Tapi ada harga yang dibayar: Belanda maksa Indonesia jadi negara federal (RIS), dipecah jadi belasan "negara bagian" : Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, Negara Sumatera Timur, dll.

Ini taktik lama: devide et impera.

Negara yang kepecah-pecah lebih gampang dikontrol lagi pelan-pelan.Image
Yang ironis: wilayah Republik Indonesia yang asli , yang diproklamasiin 17 Agustus 1945 , sekarang cuma kebagian sebagian Jawa, Madura, sama Sumatera doang di dalam RIS itu.

Negara yang lo proklamasiin sendiri, jadi cuma salah satu dari belasan "negara bagian".Image
Read 25 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(