Mari kita bahas!
Loh, kenapa?
Ada empat:
1. Pemakaian huruf
2. Penulisan kata
3. Pemakaian tanda baca
4. Penulisan serapan asing
Pemakaian huruf? Penulisan kata? Pemakaian tanda baca? Penulisan serapan asing?
Jawabannya: tidak keempatnya.
Jelas ... karena simbol % BUKAN tanda baca.
Tidak, karena simbol-simbol itu bukan tanda baca, melainkan simbol matematis.
Sampai sini, kita sepakati dulu bahwa % bukan tanda baca.
Karena itu, tidak ada aturan penggunaan atau penulisannya dalam PUEBI.
Mari kita pikirkan, teman-teman ...
Pernahkah kita menulis:
Empat + dua = enam?
atau ...
Nilainya > daripada nilaiku.
Kenapa?
Tentu kita tahu karena simbol + digunakan dalam Matematika.
Dalam Matematika, kita akan menulis:
4 + 2 = 6
Empat tambah dua sama dengan enam.
Sampai sini, bisa mengikuti alur berpikirnya, ya?
Artinya, hal serupa pun berlaku pada simbol %.
Jika mengacu pada “logika” penulisan pada twit sebelumnya, berarti kita harus menuliskan persen alih-alih menggunakan simbolnya.
Survei menunjukkan, 63,7 persen warga mendukung program pemerintah.
Antara 30 – 40 persen konsumen produk X adalah orang dewasa.
dsb.
Lagi-lagi, karena tidak ada aturan khusus mengenai penulisan persen (sesuai argumen saya tadi), setiap penulis, editor, dan bahkan media mengembangkan “kebijakan” penulisan masing-masing.
Orang lain, penulis lain, editor lain, bisa jadi enggak setuju — saya enggak ambil pusing karena toh memang tidak ada aturannya.
alih-alih %.
Saya tidak bicara soal perbankan, akuntansi, matematika, perpajakan, dsb.
Simbol % sama dengan ÷, +, =, <, >, x, dsb. Ini adalah simbol matematis. Karena itu, dalam tulisan, simbol % juga harus diperlakukan sama seperti teman-temannya.
Semoga bermanfaat!


