ENSUN BURUNG Profile picture
May 28, 2021 325 tweets >60 min read Read on X
RITUAL KASUGIHAN (DI PERINTAH UNTUK MENYET*BUHI 41 GADIS PERAWAN UNTUK RITUAL PESUGIHAN)

#bacahoror
#bacahoror
#threadhorror

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Mendengar kata pesugihan, tentu nya kita sudah tak asing lagi bukan?
Ada berbagai macam jenis dan ritual yang harus di penuhi sebagai syarat agar bisa menjadi kaya raya dengan Instan.
Ada pesugihan putih yang di antara syarat2nya di haruskan membaca surah2 tertentu, puasa
Dan sholat tak lepas waktu.
Adapun pesugihan hitam adalah pesugihan yang meminta tumbal, tumbal sendiri ada yang berasal dari anak ataupun istrinya dan ada pula yang berupa musuh juga orang lain/orang yang tidak dikenal.
Biasanya tergantung jenis pesugihan dan dukun nya.
Jadi yang om akan ceritakan kali ini adalah pesugihan yang menumbalkan orang lain (bukan untuk di bunuh, tetapi untuk di set*buhi) dan syarat utamanya perempuan yang di set*buhi itu harus yang masih perawan.
Dan sebanyak 41 gadis perawan.

Oke kita mulai ceritanya.

Di suatu malam. Di parkiran depan tempat karaoke terlihat 2 orang pemuda sedang berkelahi adu pukulan.
Masing2 mereka tak ada satupun yang kalau, meski wajah dan mulut sudah berdarah2.
Orang2 yang berada di parkiran tersebut tak ada yang berani memisahkan keduanya, dan tak jauh dari kedua pemuda itu ada seorang wanita yang menangis histeris berteriak memohon agar keduanya menghentikan perkelahian fisik tersebut.
Namun teriakan si wanita nampaknya tak terdengar sedikitpun oleh dua pemuda yang tengah berkelahi itu.

Hingga beberapa saat kemudian, datanglah tukang jaga parkir dan menyiram keduanya dengan seember air.
Lalu setelah itu, ia menarik salah satu pemuda dan membawanya menjauh dari kerumunan orang2 (cerita ini jauh sebelum covid ya☺)

"Bikin malu! Berkelahi dan berkelahi terus! Mau jadi apa kau hah?!" Bentak tukang parkir itu sembari membuka topi hitam yang sedari tadi
Bertengger di kepalanya

Wajahnya tampan dan memiliki alis yang tebal, bulu mata yang lentik, bibir yang bagus serta hidung yang mancung.

Tatapan nya tajam dan sinis.

"Dia yang duluan bang." Jawab pemuda yang ternyata adalah adik dari si tukang parkir berwajah tampan itu
"Apapun alasan nya aku tidak mau tau. Yang pasti kau sudah melanggar perjanjian kita! Kau di hukum!"

"Lalu kau lebih suka jika mati di bunuh orang itu tanpa perlawanan hah?!!"

"Kau itu masih kecil! Kau tidak tau apa yang sudah ku lewati selama ini untuk membuat kita berdua
Tetap hidup! Dan kau harusnya jangan selalu membuat masalah untukku.!"

Dengan wajah yang masih berdarah2 pemuda tersebut langsung pergi meninggalkan sang kakak sendirian.
Tak berapa lama ia lalu kembali ke tempat parkir untuk melanjutkan tugasnya.

Menjelang pukul 2 malam, barulah ia pulang dengan berjalan kaki. Dan saat ia tiba di sebuah gang sempit dan gelap ada beberapa orang yang menghadang nya.
Rupa2nya orang2 itu adalah teman2 si pemuda yang sempat terlibat baku hantam dengan adiknya.

"Saya minta maaf atas kesalahan adik saya tadi. Sekali lagi mohon maaf. Tolong jangan di perpanjang lagi masalah ini. Saya akan berjanji atas nama adik saya tidak akan pernah
Mencari masalah lagi pada kalian."

"Cuiihhh.. Kau kira, dengan minta maaf luka2 di wajah teman kami ini akan langsung sembuh begitu saja.?! Kami tidak akan memaafkan." Ujar salah satu pemuda yang membawa tongkat kayu cukup panjang ditangan nya
Lalu setelah itu pemuda2 tersebut langsung menyerang si tukang parkir tampan, dan mau tak mau ia pun terpaksa melawan.

Dan yang namanya juga anak perantauan pastilah ada pegangan dan kebisaan. Satu persatu pemuda2 itu berhasil di tumbangkan.
Setelah semua nya lengah, barulah ia berlari terbirit2 untuk kabur. Karena badan nya sudah berdarah2 akibat sayatan benda tajam ataupun terkena paku yang masih menancap
Pada salah satu tongkat kayu yang digunakan pemuda2 tadi untuk menyerang nya.

Saat sudah tiba di depan kantor polisi, barulah ia bisa bernafas lega. Ia duduk di salah sagu jembatan kecil yang ada di depan kantor polisi dan mulai membasuh lukanya meski terasa sangat perih.
Ia juga minum dari air yang mengalir di bawah jembatan tersebut.

Ngilu ia rasakan di bagian rahang nya.

Dan dengan perlahan beranjak untuk pulang kerumah kos nya.
-------

Disebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota kecil tempat kedua kakak beradik tersebut, ada sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Ayah, ibu dan anak mereka yang keterbelakangan mental.
Keluarga itu merupakan orang2 pendatang dari berpuluh tahun yang lalu. Dan tak pernah kembali ke tempat asal mereka selama itu.

Mereka hidup dengan mengandalkan uang dari kerjaan sang ayah yang hanya sebagai kuli angkut di sebuah pasar tradisional yang cuma buka 2 kali seminggu.
Tapi walau begitu, mereka masih mempunyai tetangga2 penghuni kontrakan lain yang sangat peduli dengan keluarga mereka.

Tak jarang tetangga2 nya memberikan beras dll untuk mereka bertiga.
Pak RT di sana pun kadang2 seminggu sekali memberikan sumbangan berupa 5-10 kg beras
Dan makanan2 kecil lain nya untuk mereka.

Akan tetapi, sang suami nampaknya tak enak hati jika terus2an merepotkan tetangga2nya.
Dan ia pun memilih untuk mengajak anak istrinya untuk pindah kesebuah desa lain.
Karena ternyata di luar alasan tak mau merepotkan tetangganya, sang suami rupanya sudah mendapatkan pekerjaan baru di sebuah kebun karet milik seorang yang kaya raya di desanya.
Mereka juga di perbolehkan untuk tinggal di rumah yang di bangun pada perkebunan karet nya tanpa harus membayar sepeserpun.

Tentu saja itu menjadi sebuah kesempatan yang tak boleh mereka sia2kan.

Singkatnya, saat sudah sampai di rumah yang akan mereka tempati
Anak mereka tiba2 menangis sambil berteriak2 tak jelas. Meski di tenangkan pun ia tetap saja menangis.

"Ada apa ya.? Kok perasaanku tiba2 jadi gak enak gini. aku jadi takut." Ucap si istri
Yang kita sebut saja dengan nama Sari. Dan suaminya bernama Ateng.

"Ah, maklumlah anakmu itu kan memang begitu." Jawab Ateng singkat
Rumah itu masih cukup bagus dan halaman nya lumayan luas meski dikelilingi pepohonan karet yang tinggi2.

Karena rumah tersebut memiliki 2 buah kamar, jadi si anak di tempatkan di dalam kamarnya sendirian.
Singkatnya, berhari2 telah berlalu. Mereka tinggal di rumah tersebut dengan sangat nyaman dan selama itu tak ada kejadian2 aneh yang terjadi di sana. Hanya saja anak mereka yang bernama Silpa masih sering histeris dan berteriak2 tanpa sebab yang jelas.
Dan ia juga selalu ketakutan saat melihat ayahnya.

--------

"Elaang.." Panggil seorang wanita mendekati seorang pria yang tengah merapikan susuna motor di parkiran yang berada didepan tempat karaoke'an.
Lelaki berwajah tampan tersebut hanya menoleh sekilas, lalu dengan acuh ia kembali melanjutkan pekerjaan nya.

"Lang, aku minta maaf. Aku butuh uang untuk adik2ku lang. Ku terpaksa melakukan itu." Isaknya berdiri di dekat si lelaki yang merupakan adalah abang dari pemuda
Yang terlibat perkelahian beberapa hari lalu.

"Buat apa minta maaf. Itu kan sudah menjadi pilihanmu. Dan sekarang kita jalani saja seperti yang sudah kita perjanjikan." Jawab Elang dengan suara yang sedikit serak
"Aku tidak mau seperti itu. Aku masih ingin bersama kamu lang. Karena untuk melupakanmu terlalu sulit bagiku. Ku mohon kau mengerti." Isak perempuan yang rupanya adalah kekasih Elang
Elang menghela nafas panjang, ia bimbang dengan keputusan nya. Apakah ia harus mempertahankan wanita itu ataukah memutuskan hubungan dengan nya. Karena seperti yang Elang tau, wanita itu kembali
Terjun kedunia hitam nya yang dulu sempat ia tinggalkan saat mulai berpacaran dengan Elang, hanya demi pundi2 rupiah.
Elang kecewa dengan keputusan kekasihnya dan memutuskan untuk pergi, namun ia tak tega jika sudah melihat butiran2 air mata mengalir di wajah perempuan cantik
Tersebut.

Elang mengusap air mata yang jatuh ke pipi kekasihnya, sambil berkata

"Jangan di ulangi lagi ya. Apapun alasan nya." Ucapnya Lembut
"Jadi kamu memaafkan aku.?"

Elang mengangguk sambil tersenyum.

Wanita cantik itu lalu mengecup pipi Elang, dan saat beberapa kendaraan masuk ke halaman parkir si wanita ikut membantu Elang untuk mengatur barisan motor tersebut.
Hari itu Elang pulang sekitar pukul 5 sore, karena rupanya teman seprofesi Elang datang lumayan cepat.

Wanita yang bernama Herni tersebut menyerahkan kunci kendaraan nya pada Elang lalu mereka berdua pun pulang menuju ke rumah kontrakan Herni.
Tidak lupa mereka singgah di salah satu warung sate dan membungkus dua porsi untuk di bawa pulang.

(Om mau ngiklan bentar, kali aja ada ponakan2 om disini Yang minat sama akar bajakah untuk mengobati kanker, stroke dll. Bisa hubungi om rasth, om juga punya akar2an untuk
Memperkuat kejantanan pria dan mengurangi sakit pinggang.
Dan kalau ada yang berminat sama minyak2 asli kalimantan, om punya beberapa : ada perkasih, Saluang mudik, minyak rejeki, raja pemikat, raja penunduk, 7 bidadari dan 3khasiat. Kalau berminat bisa langsung hubungi om
Melalui DM ataupun WA : 0856 5403 7262

Dan buat yang mau curhat berbayar dan butuh saran dari om chat aja..
Terima kasih🙏)

Sesampainya mereka di rumah kontrakan Herni, terlihat beberapa perempuan yang berada di teras rumah tersebut tersenyum2 kearah Elang.
Saat Elang membalas senyum mereka, Herni langsung menarik tangan Elang untuk masuk kedalam kamar nya.

Braaakk... Suara pintu tertutup dengan keras
"Kan aku sudah bilang, kalau jangan balas senyum2 mereka. Aku takut nanti kamu malah tergoda sama mereka." Kata Herni sedikit manja
Elang tersenyum, sifat manja Herni inilah yang sudah ia rindukan seminggu terakhir ini.

Herni lalu menyiapkan piring dan air es untuk mereka makan,
Mereka bercanda, dan tertawa penuh rasa bahagia.
Karena rasanya sudah cukup lama mereka tak melakukan hal itu lagi.

Selesai makan, Elang membersihkan dirinya di dalam kamar mandi milik Herni.
Karena Elang sering berkunjung kesana, jadi ada beberapa lembar baju dan celananya
Yang berada di dalam lemari baju Herni.

Setelah mengenakan baju bersih, Elang duduk sambil menonton televisi di atas kasur sembari menunggu Herni yang sedang mandi.
Pacaran di antara keduanya bisa terbilang sehat. Karena mereka tak pernah sekalipun melakukan hubungan dewasa. Meski Elang tau siapa Herni dan bagaimana kehidupan masa lalu Herni, prinsip nya cuma satu. Jika mencintai, maka jangan pernah merusaknya.
Herni merebahkan kepalanya di paha Elang sambil memainkan jari jemari milik lelaki tampan itu.

"Kamu dapat salam dari Ines." Ucap Herni

Elang tersenyum, lalu mencubit gemas pipi kekasihnya.
"Tidak ada yang lain selain kamu di hatiku, sayang." Bisik Elang lembut

"Lang, apa kamu serius padaku?" Tanya Herni

"Ya, bila tabunganku sudah cukup untuk melamarmu, aku akan segera melamarmu."

"Pasti?" Tanya Herni lagi

"Iya pasti."

Tiba2 obrolan keduanya terpotong
Oleh suara ketukan pintu kamar.

Herni beranjak dan pergi kearah pintu. Saat ia membuka pintu ternyata seorang laki2 yang sedang mabuk langsung menyelonong masuk kedalam tanpa permisi.
Elang mengerutkan kening nya. Sementara wajah Herni terlihat gugup.

"Siapa dia her?" Tanya Elang

"Aku, aku tidak tau"

"Bagaimana mungkin kau tak tau, sementara laki2 itu tau persis dimana letak kamarmu.! Aku kecewa padamu her. Aku kira kau tulus padaku. Tapi nyatanya. Sampah!"
Setelah berkata seperti itu, Elang langsung pergi meninggalkan Herni bersama laki2 yang berada di dalam kamarnya.

Elang tak menyangka, jika kisah percintaan nya harus berakhir karena pengkhianatan.
Air matanya jatuh di sepanjang perjalanan pulang.

Namun kejadian Nahas menimpanya, ia tertabrak mobil saat akan menyeberang jalan.
Untung nya pengemudi mobil tersebut adalah orang yang bertanggung jawab dan segera melarikan pria itu kerumah sakit terdekat.
Elang tak sadarkan diri selama seminggu dan hanya terbaring lemah di kasur rumah sakit.

Ega, sang Adik terpaksa harus menggantikan kakaknya bekerja di tempat parkir dan berhenti menjadi pengamen jalanan.
Minggu2 berlalu, setelah melewati proses pengobatan yang cukup panjang, akhirnya Elang perlahan2 mulai membaik, meski ia berjalan masih harus menggunakan tongkat penyangga.
Hari itu ia sudah bisa keluar dari rumah sakit, dan di jemput okeh bapak2 yang membawanya kerumah sakit sekaligus adalah orang yang telah menabraknya.
Kedua kakak beradik tersebut, juga di ajak untuk ikut bekerja di peternakan sapi dan kambing miliknya yang berada di sebuah desa.
Tentu saja kedua kakak beradik itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Karena akan mendapatkan penghasilan yang tetap setiap bulan/minggunya.
Di perjalanan, mereka melihat pepohonan karet berjejer di sisi kanan dan kiri jalan. Sangat asri dan indah di siang hari, namun akan terasa menyeramkan bila di malam hari.
Seorang bapak yang tengah menyadap karet di dekat jalan, nampak menatap lekat ke arah mobil. Dan ternyata itu adalah Ateng.

Beberapa saat kemudian, mereka tiba di peternakan yang lokasinya lumayan jauh dari perkampungan.
"Di dalam rumah itu, semuanya sudah saya siapkan. Mulai dari tempat tidur, selimut, makanan, kompor dan selengkapnya. Rumput untuk makanan ternak akan datang sehari sekali di sekitar jam 8 atau 9 pagi. Dan kalian harus memberi makan mereka sebanyak 3 kali sehari."
"Baik pak. Kami mengerti."

"Oh iya pak, sepertinya disini cukup terawat. Apakah sebelum kami juga ada penjaga lain yang tinggal disini.?"

"Ya, kakek darsim dan nenek liyah juga seorang anak gadis mereka yaitu almarhumah Zainab."

"Almarhumah?" Tanya Ega

"Iya, anak mereka
Sudah meninggal setelah beberapa hari sebelumnya mengaku di perkosa oleh sosok mahluk aneh dengan tubuh tinggi dan berwarna hijau. Tapi entahlah, saya pun tidak percaya dan tidak mengerti dengan hal2 gaib seperti itu."
"Meninggalnya di mana pak.?"

"Oh iya, saya harus segera pulang. Karena sudah ada janji dengan salah satu teman. Semua yang kalian butuhkan juga sudah siap dan lengkap. Jadi saya permisi dulu ya." Katanya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Elang dan Ega.
Setelah bapak itu pergi, keduanya pun masuk kedalam melihat2 setiap ruangan di rumah tersebut.

Namun saat pintu dapur yang mengarah langsung ke kandang kambing di buka tiba2 tercium bau busuk menyengat hidung.
Ega hampir muntah di buatnya.
Ia segera menutup kembali pintu itu.

"Bang, di situ bau banget. Apa mungkin ada kambing yang mati kali ya.?" Tanya Ega pada abang nya
"Ah masa.? Coba kamu periksa dulu ke sana ga." Suruh Elang

Setelah beberapa saat, Ega kembali.

"Gak ada apa2. Kambing nya sehat2 semua bang."

Elang mengangkat bahunya.
Karena kondisi Elang yang baru saja pulih, jadi malam itu Ega lah yang memasak makanan untuk mereka berdua. Sementara Elang masih tiduran di dalam kamar.
Dua butir telur ayam ia pecahkan kedalam piring lalu di kocok dengan campuran bawang serta garam. di goreng dengan minyak yang sudah di panaskan. Ega juga memasak mie instan untuk dijadikan sayur makan mereka malam itu.
Saat sedang asyik memasak, terdengar suara kretekan lantai yang memang terbuat dari kayu tersebut.
Dan sesaat kemudian sebuah tangan menyentuh pundak nya.

Namun Ega biasa saja, karena mengira tangan itu milik Elang, abangnya.
"Kenapa bang?" Tanya Ega seraya menoleh kebelakang, dan anehnya di situ tak ada siapa2 selain dirinya sendiri

"Loh." Ega sedikit kebingungan

---

Tidak jauh dari tempat mereka tinggal. Di rumah yang di tempati oleh Ateng dan keluarganya, anak nya Ateng mengalami
Penyakit aneh di daerah organ intim nya, dan baru di ketahui saat sang ibu menggantikan pembalut kain milik anaknya tersebut.

Pasutri itu bertengkar begitu hebat, apalagi ketika mengetahui anak gadisnya itu sudah di gauli oleh seseorang yang entah siapa.
"Rupanya ini firasatku tempo hari. Siapa lagi yang memperkosa anak kita kalau bukan kamu!!" Teriak istri Ateng

"Aku benar2 tidak tau bu. Bukan aku pelakunya. Mana mungkin aku melakukan hal sekeji itu pada anakku sendiri.!" Jawab Ateng
"Lalu siapa??!! Cuma kamu laki2 yang ada disini.!!"

Pertengkaran keduanya terhenti ketika Ateng memilih untuk pergi dari hadapan istrinya. Dalam kegelapan malam, ia berjalan tak tentu arah.
Selesai makan, Ega dan Elang mengobrol cukup lama. Dan rasanya masa2 seperti itu sudah lama tak pernah mereka rasakan lagi di karenakan kedua nya selalu sibuk bekerja hingga tengah malam.
Dan sekarang mereka berdua merasa cukup beruntung karena tak lagi harus panas2an dan pulang malam serta tak perlu lagi berkelahi dengan anak2 jalanan lain nya.
"Ternyata musibah itu tidak selamanya mendatangkan kesialan, tapi juga bisa mendatangkan keberuntungan seperti yang kita rasakan sekarang ya bang." Ucap Ega tersenyum
Elang cuma bisa geleng2 kepala mendengar ucapan adiknya.
Dan tiba2 terdengar suara teriakan melengking dari arah luar yang mengagetkan kedua kakak beradik tersebut.
Ega mengedarkan pandangan nya kesana kemari, dan lagi2 suara teriakan itu kembali terdengar.

Mbeeekkk... Mbeeekkk.. Kokokok...kokok... Suara kambing, ayam dan sapi saling bersahut2an menimbulkan suara gaduh yang teramat sangat.
Mau tak mau Ega harus keluar untuk memeriksa hewan2 ternak tersebut. Ia mengambil parang dan obor untuk menuju ke peternakan yang tidak begitu jauh dari rumah itu.
"Abang tunggu disini saja." Katanya sebelum pergi

Setelah adiknya pergi, Ega bergegas berjalan perlahan dengan kaki terpincang2 kearah pintu dapur untuk melihat adiknya dari pintu yang mengarah langsung ke kandang kambing tersebut.
"Amaaann Gaa??" Tanya Elang

"Aman bang."

Ega mengecek satu persatu kandang. Dan saat Elang menatap ke suatu sudut gelap di dekat kandang kambing, ia melihat sesosok putih dengan rambut yang menjuntai panjang hingga menutupi punggung.

(Gambar hanya ilustrasi) Image
Namun saat mata Elang berkedip, sosok itu sudah menghilang.

Sementara Ega masih sibuk mengecek di sekitar kandang, terdengar suara ketukan dari arah pintu utama. Yang memaksa Elang harus pergi membukakan pintu, padahal waktu itu keadaan pintu tidaklah terkunci.
Tok. Tok. Tok. Ketukan lambat
(Jeda beberapa saat lalu..)
Tok tok tok.. Ketukan seperti sedang di kejar sesuatu.

Kriiiieeeeettttt.... (Pintu terbuka)

Seorang laki2 berdiri sembari menatap Elang dari atas sampai ke bawah.
"Mau cari siapa ya pak?" Tanya Elang yang agak risih di tatap oleh si lelaki tersebut

"Perkenalkan nama saya Ateng. Maaf sebelumnya jika saya mengganggu malam2 begini, tapi saya ada keperluan dengan orang yang tinggal disini."

"Yang tinggal disini sekarang cuma saya dan adik
Saya pak. Apakah bapak ingin bertemu kami berdua?"

"Saya kesini mencari kakek Darsim. Kalau tidak ada, ya sudah lah. Terima kasih."

Elang mengangkat bahunya, lalu menutup pintu dan berjalan pelan
Ke arah dapur.

"Egaaaa...." Panggil Elang

Tak ada jawaban sama sekali, bahkan cahaya obor yang di bawa Ega tadi pun sudah tak ada.

Elang mulai merasakan detak jantung berdegup2 rasa khawatir pada adiknya membuat Elang terpaksa harus turun ke tanah.
"Egaaaa.... Egaaaa.." Panggil Elang seraya berusaha berjalan lebih cepat lagi, namun ujung tongkat penyangga nya tersandung oleh rerumputan. Yang membuat Elang hampir saja terjatuh.

"Egaaaaaaaa...."
Hanya suara jangkrik yang beradu vocal satu sama lain.

Elang terus berjalan, memasuki rimbun nya pepohonan dengan terus memanggil nama Ega.

Namun semakin jauh ia masuk, semakin gelap jalanan yang ia lewati. Banyak akar2an yang bisa saja membuat nya jatuh atau bahkan
Tergelincir masuk ke jurang, jika ia tak berhati2.

Kakinya terasa sangat nyeri, di tambah lagi banyak duri2 yang menusuk di telapak kakinya.
"Egaaaaaaa...." Teriak Elang setengah putus asa

Elang terduduk di bawah sebuah pohon, ia menangis sejadi2nya.
Ia merasa gagal menjaga adik yang merupakan satu2 nya keluarga yang dia punyai saat itu.
Elang tak tau apa yang sudah terjadi pada adiknya, kenapa Ega menghilang begitu saja. Ada apa ini.? Apakah ini ada hubungan nya dengan sosok putih yang ia lihat sebelumnya?
Tak terasa malam semakin larut, Elang pun diserang rasa kantuk yang perlahan2 membuatnya mulai tertidur.

"Bang, bangun bang." Panggil seseorang

Elang membuka matanya dan betapa kagetnya dia ketika melihat sang adik berada di hadapan nya.
"Ega." Ucapnya berkali2 seraya memeluk erat sang adik

"Kenapa abang ninggalin rumah? Semalaman aku mencari abang berjalan mutar2in hutan. Untung sekarang ketemu. Abang bikin khawatir tau gak." Sungut Ega
Elang terlihat seperti orang linglung ia menatap ke sekeliling tempat ia berada saat itu.

"Aku mencari kamu ga. Kau tak menyahut saat ku panggil. Aku khawatir terjadi sesuatu makanya aku langsung pergi mencarimu."
"Ah yang benar bang, aku sama sekali gak mendengar kau memanggilku. Aku kira kau tidur, eh taunya pas aku masuk, kau sudah tidak ada di dalam rumah." Kata Ega

"Ya sudah bang, kita kembali kepeternakan. Sebentar lagi rumput akan datang." Lanjutnya seraya membantu
Elang untuk berdiri

Singkatnya ketika sampai di rumah, Ega langsung mengobati kaki Elang dengan obat2an seadanya.
Sekitar pukul 9, sebuah mobil pick up putih yang di penuhi dengan rumput2 segar datang.
Seorang bapak dan seorang gadis tomboy keluar dari dalam.

"Selamat pagi pak." Sapa Ega ramah

"Pagi." Jawab si bapak

Gadis yang mengenakan celana jeans panjang dengan jaket hitam lusuh
Serta ikat rambut yang acak2an itu sangat cantik dan manis sekali. Tetapi lumayan cuek dan pelit senyum.

Ega yang membantunya menurunkan semua rumput2 tersebut sama sekali tak di sapa nya.
"Ris, abah ke sungai sebentar ya. Kau lanjutkan saja bantu2 mereka dulu." Ujar si bapak sebelum pergi

Setelah si bapak pergi, Ega mulai melancarkan serangan awal yang merupakan pertanyaan2 seputar rumput dan hewan ternak. Berharap si gadis mau menjawab nya.
"Aku ragu pemuda seperti kau ini akan betah disini. Tingkah laku mu layaknya pemuda2 berandalan yang haus akan belaian gadis2." Kata si gadis sembari tersenyum sinis

"Hey, kau tak tau siapa aku. Mana boleh kau menyimpulkan secepat itu tentang diriku." Potong Ega
"Ga.. Kau letakkan dimana korek ku?" Ujar Elang yang tengah berdiri di ambang pintu

Si gadis terlihat mengarahkan pandangan nya pada Elang, lama sekali ia tertegun menatap Elang yang sedang memarahi Adiknya tersebut.
Ada senyum kecil di bibir gadis tersebut. Nampaknya ia sudah jatuh hati pada pandangan pertama dengan sosok Elang.

Saat Ega kembali, gadis itu segera melanjutkan pekerjaan nya.

"Dia kakakmu?"

"Ya." Jawab Ega singkat
Setelah selesai menurunkan semua rumput2 dari pick up, si gadis mengulurkan tangan nya kearah Ega.

"Risna." Ucapnya memperkenalkan diri

Dengan bibir tersenyum, Ega langsung menyambut uluran tangan si gadis lalu balas memperkenalkan diri.
"Duduk di sana yuk." Ajak Ega menunjuk ke rumah

"Oh iya Risna, apa ku sudah lama jadi pemasok rumput untuk peternakan ini?" Tanya Ega

"Sekitar 2 tahunan lebih." Jawab Risna sembari membersihkan rumput2 yang menempel di jaketnya
"Berarti kamu pernah melihat anak perempuan penjaga ternak sebelum kami disini?"

"Iya. Dia ramah, baik, juga sangat cantik. Sayang dia hidup hanya sebentar."

"Ooo.." Ega membulatkan bibirnya
"Kau juga cantik. Sudah berapa usiamu?"

"Sepenting itukah usiaku untuk mu?"

"Ah gak. Cuma bertanya. kalau rasanya pertanyaan ku membuatmu tak nyaman, tidak usah di jawab."

"Bang, kenalin nih bang." Ujar Ega memanggil Elang
"Iya.." Jawab Elang dari dalam rumah, namun tak juga kunjung keluar

"Maaf ya, abangku itu memang seperti itu. Orang nya cuek apalagi kalau sama cewek."

Risna hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Ega. Dan setelah beberapa saat mengobrol kesana kemari,
Bapak2 tadi datang lalu mengajak Risna untuk pulang.

------
Setelah selesai memberi makan semua hewan ternak, Ega langsung membersihkan dirinya sebelum masuk kedalam rumah.
Sementara Elang sedang memasak nasi di dapur, sesekali ia terlihat melamun menatap buih2 gurakan (mendidih) di dalam panci nasinya.
"Bang, tolong ambilkan handuk." Panggil Ega seketika membuyarkan lamunan nya

----
Hening suasana malam itu membuat Ega mengantuk, apalagi setelah semalaman ia tak tidur ditambah lagi siang harinya seharian di sibukkan mengurus hewan ternak.
Perlahan2 Ega mulai terlelap, sementara Elang masih duduk di teras rumah dengan di temani secangkir kopi dan musik alami yang tercipta dari suara2 binatang malam dikejauhan.
Anehnya udara yang awalnya dingin, malah perlahan2 mulai memanas. Elang mengipas2 kan tangan nya di sekitar wajah, ia melihat kesekeliling, banyak sekali kelap kelip kunang2 mengitari pepohonan.
Dan suasana bertambah aneh ketika tak satupun lagi terdengar suara binatang2 malam, seperti jangkrik ataupun gonggongan anjing liar di kejauhan.
Hembusan angin dingin dari arah depan membawa aroma2 tak sedap, beberapa kali Elang menghembuskan nafasnya berharap agar bau yang mengganggu pernafasan nya itu sedikit berkurang.
"Bau ini, seperti bangkai." Gumam Elang sembari menutup hidungnya

Karena di rasa bau busuk tersebut tak juga hilang, akhirnya Elang memutuskan untuk masuk kedalam rumah.
Ia merebahkan dirinya sambil mengipas2 tubuhnya dengan tutup toples.

Perlahan2 tapi pasti, matanya mulai terpejam2. Di antara sadar dan tidak, Elang merasa seperti sedang di endus oleh sesuatu di bagian wajahnya.
Namun saat ia membuka matanya, tak ada siapapun di sekitarnya.
Merasa itu hanyalah mimpi, akhirnya Elang kembali melanjutkan tidurnya.

Dan kali ini, saat ia mulai tertidur lagi. Elang mulai mendengar suara seorang wanita yang tengah
Bernyanyi di dekatnya.

Dengan agak kesal, Elang pun membuka matanya sembari bangun.

Di sudut ruangan, ia melihat seorang wanita mengenakan gaun berwarna putih yang sedang duduk menghadap dinding.
"Kau siapa?" Tanya Elang

"Na na na na...." Perempuan itu terus saja bernyanyi dengan lirik dan nada yang sama berulang2
Karena merasa kesal pertanyaan nya tak di jawab, akhirnya Elang langsung beranjak mendekati si perempuan.

Dan saat tangan nya hampir menyentuh bahu si perempuan, akhirnya perempuan tersebut memalingkan wajahnya pada Elang dan...

"Hernii.."
Perempuan itu tersenyum dan beranjak berdiri, ia mendekati Elang yang terus berjalan mundur.

Dan saat tubuh Elang terpojok ke dinding, perempuan tersebut meneriaki Elang.

"KENAPA KAU TINGGALKAN AKU??!!!!!" teriaknya dengan suara lantang
Kulit wajahnya perlahan2 terkelupas dan berdarah, kedua bola matanya pun pecah dan cairan nya mengenai wajah Elang. Wajah Herni benar2 menjadi tak berbentuk, hanya menyisakan tengkorak yang memiliki sedikit rambut.

Dan tiba2..

"Aaaa.." Jerit Elang terbangun dari
Tidur nya

Saat tau yang ia alami hanya sebuah mimpi, Elang menghela nafas lega.

Ia mencoba mengatur nafasnya.
Lalu bersamaan dengan itu, kepalanya menjadi pening. Elang melihat Ega sang adik masuk dan mengutak atik tas miliknya.
Lalu mengambil pisau yang entah sejak kapan berada di dalam tas nya.

"Egaaa..!! Kau mau apa hah??!!" Bentak Elang
Namun bentakan dari sang kakak tak membuat Ega menghentikan langkahnya, ia tetap keluar sambil memegang pisau.

Elang yang khawatir dengan adiknya itupun langsung beranjak dari tempat tidur, dan berusaha mengejar adiknya.
Anehnya disini adalah kaki Elang yang harusnya masih sakit, tiba2 sembuh. Ia bisa berlari mengejar Ega. Akan tetapi Saat akan keluar dari pintu, tubuh Elang seperti terhalang oleh dinding transparan hingga membuatnya tak bisa untuk keluar.
Rasa pening di kepalanya semakin menjadi, saat ia memejamkan matanya, terdengar jelas suara dari Ega tengah memanggil2 nama Elang.

Cerita beralih dari sudut pandang Ega.

Setelah berhasil mengikat tubuh Elang dan menyiramnya dengan air. Ega berusaha menyadarkan sang kakak
Yang seperti sedang kerasukan tersebut.
Segala cara yang ia ketahui sudah ia terapkan untuk menyadarkan si kakak. Tapi nampaknya sama sekali tak membuahkan hasil.
Saat Elang kembali mengamuk dan hampir berhasil melepaskan ikatan ditubuhnya, Ega terpaksa harus menampar sang kakak dengan sangat keras.
Plaaaaaakkkkk....

Darah segar mengalir dari bibir Elang.

Sesaat kemudian, Elang merasa seperti tubuhnya di tarik oleh sesuatu dengan sangat kencang. Dan....

"Huft..

"Syukurlah kau sadar bang." Ujar Ega
Beberapa kali Elang mengerjab2kan matanya berharap kalau semuanya sudah kembali normal.

"Ega."

"Iya bang, Aku Ega."

Setelah merasa itu benar2 abangnya, Ega pun langsung melepaskan ikatan nya
"Ada apa.? Kenapa aku diikat?" Beberapa pertanyaan keluar dari mulut Elang, ia nampak bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi
"Abang mengamuk, bahkan hampir saja membunuhku. Lihat abang dengan sengaja melukaiku." Jawab Ega sembari memperlihatkan lukanya

Elang menggeleng, mana mungkin ia melakukan kekerasan lada adik kesayangan nya itu.
Beberapa kali Elang memukul2 kepalanya dengan tangan
Berharap akan mengingat apa yang sudah terjadi.

Namun tak satupun yang ia ingat selain Kejadian yang ia alami di mimpinya tadi.

"Aku tidak ingat, aku gila. Aku benar2 sudah gila!!"
Ujar Elang semakin kuat memukul2 kepalanya

"Bang, sudah bang. Ku tidak menyalahkan abang!!" Bentak Ega sembari menahan kedua tangan Elang
"Aku merasakan hal2 aneh setelah tinggal disini. Bahkan rasanya, aku hampir gila." Ucap Elang dengan suara serak

"Bukan kau saja bang, jujur aku juga merasakan keanehan2 itu. Apa mungkin sesuatu yang mengganggu kita itu ingin menyampaikan sesuatu pada kita?"
"Perempuan itu, mirip Herni. Dia juga ada ketika malam itu kau sedang memeriksa kandang ternak. Tapi entahlah apakah itu adalah sosok yang sama atau bukan, aku tidak tau." Ucap Elang
"Herni? Herni pacar abang itu? Tapi yang aku lihat bukan dia bang."

"Jangan2 yang mengganggu abang bukan sosok yang ku lihat itu." Lanjut ega

--------

1 minggu telah berlalu, Keadaan mulai sedikit membaik ketika Ega dan Elang memutuskan untuk tidur sekamar. Namun kadang2
Elang masih mendengar suara2 perempuan yang sedang bernyanyi atau melihat penampakan2 sepintas yang berwujud sosok perempuan.

Hari itu Rumput datang sangat terlambat, sekitar pukul 4 sore. Dan terpaksa Ega dan Elang mencari rumput sendiri di sekitar hutan agar
Hewan2 ternak yang mereka jaga tidak mati kelaparan.

"Maaf ya aku terlambat. Karena ada tetanggaku yang meninggal. Akhir2 ini di desa memang banyak sekali kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh mahluk tak kasat mata. Entahlah aku tak tau mahluk jenis apa itu.
Yang pasti hampir 7 orang anak gadis yang meninggal setelah mengaku di perkosa oleh sosok berwarna hijau. Orang2 di desaku setiap malam berjaga, namun tetap selalu saja ada korban." Cerita Risna

"Mahluk bertubuh hijau?" Sahut Elang seraya mendekati Risna dan Ega
"Kau sendirian kesini Ris? Apa tidak takut?" Tanya Ega

"Aku takut. Tapi mau bagaimana lagi. Kami bertahan hidup dari sini. Sementara ayahku sakit." Jawab Risna sembari memalingkan wajahnya, ia tak mau air matanya yang jatuh terlihat oleh Ega dan Elang
"Risna, kau tadi mengatakan mahluk hijau. Apa jangan2 itu adalah sebuah pesugihan. Aku punya teman, orang luar pulau, kata dia di tempatnya ada pesugihan yang namanya kolorijo, dan syaratnya itu korban memang harus di perkosa. Tapi tidak ada syarat korban itu harus perawan.
Sementara yang kau katakan tadi hanya anak gadis yang menjadi korban." Kata Elang

"Ah, kau mengada2 bang. Kalau pun memang ada jenis pesugihan seperti itu, mana ada di kalimantan." Sahut Ega

"Kau lupa kasus babi ngepet di desa B?
Tuyul? Pocong? Kuntilanak.? Gak ada yang gak
Mungkin ga."

Ega menghela nafas panjang.

"Lalu kalau benar yang kamu katakan, apa ada cara untuk menghentikan semua ini ?" Tanya Risna
Elang menggeleng pelan.

"Aku tidak tau Ris." Jawabnya

Risna menghela nafas, lalu tanpa berkata2 ia segera memulai pekerjaan nya untuk menurunkan semua rumput yang ia bawa ketanah.

Saat akan pulang, Ega disuruh abangnya untuk ikut bersama Risna guna menemani gadis tersebut.
"Tidak usah Ga. Aku berani. Lagi pula masih sore. Nanti kau tidak bisa pulang." Ucap Risna

"Ega akan mengantarmu sampai keluar kejalanan, dari situ ega akan pulang dengan berjalan kaki." Potong Elang
Risna mengangguk dan keduanya pun naik kedalam mobil pick up yang perlahan mulai meninggalkan halaman.

Elang segera membereskan rumput2 untuk hewan ternak. dari kejauhan terlihat ada sepasang yang tengah memperhatikan nya.
Hingga akhirnya, pemilik mata tersebut langsung berlari kearah Elang.

Elang yang kaget refleks menjatuhkan rumput2 yang ia bawa dan segera memasang kuda2.
Namun setelah melihat seorang ibu2 yang datang, akhirnya Elang menarik nafas lega.

"Mau cari siapa ya bu?" Tanya Elang pelan

"Tolong. Tolong anakku." Isaknya
"Memangnya anak ibu kenapa?"

"Di per, di perkosa."

Mendengar kata di perkosa, Elang terlihat panik.

"Dimana anak ibu sekarang??"

"Di rumah."

"Sekarang Ibu tunjukan rumahnya dimana."
Ibu2 yang ternyata adalah Sari istrinya Ateng itu pun langsung bergegas berlari menuju ke rumah perkebunan karet yang ia tempati bersama anak dan suaminya.
Diikuti oleh Elang yang juga ikut berlari, meski kakinya belum sembuh total. Rasa sakit dan nyeri di kakinya tak lagi ia hiraukan.

Singkatnya mereka sampai di rumah yang ditempati oleh Keluarga Ateng.
Saat Elang masuk kedalam rumah, matanya tertuju pada seorang laki2 yang tempo hari pernah datang ke rumah peternakan.

Dan terlihat anak dari Ateng dan Sari sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Ibunya menangis sejadi2nya. Sedih, sakit, sesak. Semua yang ia rasakan saat itu berubah menjadi satu dalam tangisan.

Nafas Elang turun naik, ia tak bisa berkata2.
Dan hal yang paling memilukan adalah ketika jenazah anak mereka diangkat, kasur nya sudah di penuhi dengan darah dan nanah.

Membuat sesak Elang yang menyaksikan nya.
Pasangan suami istri tersebut lalu saling menyalahkan satu sama lain, mereka berkelahi saling bentak tanpa mempedulikan Elang yang ada disitu.

"DIAAAAMMM.!!!" teriak Elang
"Orang tua macam apa kalian ini hah.?!! Hanya bisa saling menyalahkan! Anak kalian tak akan bisa hidup kembali walau kalian berdua bertengkar sampai saling bunuh sekalipun." Bentak Elang
Keduanya terdiam,

"Malam itu, mau apa sebenarnya bapak datang mencari kakek Darsim?" Tanya Elang
"Karena anak gadis mereka juga di perkosa. Aku ingin tau apakah yang terjadi pada anakku sama dengan yang terjadi pada anak mereka. Hanya itu." Jawab Ateng

"Kau lah yang memperkosa anakku!!" Teriak Sari tak terkontrol
"Aku ayahnya. Mana mungkin aku berbuat seperti itu pada anak kandungku sendiri..!!" Balas Ateng

"Sudah!!! Sekarang aku tanya, apa alasan ibu menuduh kalau ayahnya sendirilah yang telah memperkosa anak kalian?"
"Karena setiap melihat ayahnya, anakku selalu ketakutan. Histeris."

Elang berpikir sejenak, lalu beberapa saat kemudian ia berkata.
"Apa kalian tau, kalau di desa banyak sekali kasus pemerkosaan terhadap anak gadis. Yang kemungkinan pelaku nya sama. Saya menaruh curiga, kalau sebenarnya ada yang melakukan pesugihan kolorijo di kampung ini."

"Pesugihan?" Gumam Ateng dengan nafas yang turun naik tak beraturan
------
Keesokan harinya, saat Risna datang ke peternakan mengantar rumput. Elang langsung menghampirinya.

"Bisa kau antar aku ke kota?" Tanya Elang

"Mak maksudmu?" Tanya Risna masih tak mengerti
"Bisa atau tidak?" Ujar Elang balik bertanya

Risna terlihat bingung, tak tau harus menjawab apa.

"Tapi, jelaskan dulu untuk apa ke kota."ucapnya kemudian

"Aku ingin menemui temanku, ada yang perlu ku bicarakan. Penting sekali."

"Iya tapi masalah apa dulu? Aku tidak
Bisa menjawab ya atau tidak kalau kau sendiri tidak mengatakan alasan nya secara jelas."

"Bang, biar aku yang jelaskan padanya." Potong Ega
Sementara Elang masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan beberapa peralatan yang mungkin ia butuhkan saat di perjalanan.
Beberapa saat kemudian, ia keluar lagi.

"Bang," Panggil Ega, Elang mendekat

"Baiklah aku akan mengantarmu, tapi sebelum malam kita sudah harus pulang. Karena kalau tidak orang tuaku pasti akan mencariku." Kata Risna
"Kita ijin dulu ke rumahmu. Karena aku tidak bisa menjanjikan kita pulang sebelum malam atau malah lewat tengah malam." Ucap Elang

"Aku pasti tidak akan diijinkan." Potong Risna
"Kau adalah orang asing bagi kami, kami mengenalmu hanya dari peternakan ini. Bagaimana mungkin orang tuaku akan mengijinkan aku pergi bersama dengan mu. Apalagi dengan maraknya kasus pemerkosaan di sini, sudah dapat ku pastikan aku takkan diijinkan." Lanjut Risna
Elang menghela nafas panjang, jarak dari desa ke kota terbilang sangat jauh. Apa mungkin mereka akan kembali sebelum malam.

"Pergilah bang, aku bisa mengatasi masalah disini."

Elang memeluk adiknya,

"Hati2 ga. Jangan lupakan parangmu. Tetaplah waspada.
Jangan lengah." Kata Elang sebelum pergi

"Risna, kau saja yang menyetir. Nanti ku tunjukan jalan nya." Ujar Elang pada Risna yang tengah menatapnya
Mobil pick up tersebut pun perlahan2 mulai meninggalkan halaman, dimana Ega masih berdiri mematung menatap pick up itu sampai benar2 hilang dari pandangan nya.
Saat sampai di jalanan besar, Risna mengemudikan pick up tersebut dengan sangat lincah, mendahului mobil2 lain yang satu arah dengan mereka.
"Risna, apakah pemilik peternakan yang kami jaga itu orang nya kaya raya.?" Tanya Elang saat di jalanan sunyi

"Di bilang kaya, ya memang kaya. Tapi ada satu lagi pengusaha karet yang sangat kaya melebihi bos kalian itu. Nama nya pak Warto. Rumahnya paling besar di desa
Sawah yang ia miliki saat ini berhektar2 luasnya. Bahkan semua orang yang bekerja di tempatnya di buatkan rumah masing2. Dulu Aku pernah ingin ikut bekerja pada pak Warto namun aku takut saat berada di rumahnya. Besar, tapi terkesan menyeramkan." Cerita Risna sembari bergidik
"Apa jangan2 pak warto itu yang melakukan pesugihan kolorijo ris."

Risna mengerutkan keningnya, sementara matanya tetap fokus dengan jalanan di depan.

"Aku rasa tidak mungkin, karena dia yang sangat berambisi untuk menangkap pelaku pemerkosaan. Dan dia juga yang membayar orang2
Di desa untuk berjaga2 setiap malam."jawab Risna

"Bisa saja kan itu hanya kedok."

"Jangan berburuk sangka ah. Gak baik." Potong Risna
Saat di persimpangan ada sebuah truk besar melaju kencang dan hampir menabrak pick up yang di kemudikan Risna tapi untungnya Risna dengan cepat menghindar. Hingga tidak terjadi apa2 oada keduanya.
"Ya tuhan. Hampir saja kita mati." Ucap Risna, wajahnya terlihat pucat sekali

"Yakinlah Ris, bahwa kita akan baik2 saja. Dan selamat sampai ketujuan." Kata Elang, meski jauh dalam hatinya, Elang juga merasakan takut dengan apa yang baru saja terjadi itu
Singkat cerita, akhirnya pick up yang di bawa oleh Risna dan Elang tersebut sampai di sebuah rumah kos2an.

Elang turun, kakinya melangkah pelan menuju kamar paling ujung yang bernomor 12 tersebut.

Lama sekali Elang mengetuk pintunya, namun tak ada siapapun yang membuka kan
Pintu.

"Mau cari siapa?" Tanya seorang pemuda pada elang

"Orang yang tinggal disini adakah?"

"Sudah pindah. Sekitar 2 hari yang lalu." Jawab pemuda tersebut
"Astaga. Kamu tau kemana pindahnya?"

"Tidak tau. Dia tidak bilang apa2."

Wajah Elang nampak sangat kesal, pencarian nya dari jauh ternyata tak membuahkan hasil.
Dengan langkah gontai ia menghampiri Risna.

"Temanku sudah pindah."

"Lalu bagaimana?" Tanya Risna

"Kita coba ke rumah mang sidik, semoga beliau bisa bantu."
"Ya sudah." Jawab Risna pelan

Mobil pick up pun kembali meninggalkan halaman kos2an, dan melaju di jalanan yang mengarah jauh dari kota.

Sekitar hampir satu jam perjalanan lebih, mereka mulai memasuki kawasan jalan yang di kiri dan kanan nya terdapat hamparan padi2
Yang masih hijau.

"Stop ris. Rumahnya di sana. Kita hanya bisa berjalan kaki kesana."

Tak banyak bicara, Risna langsung menepikan mobi tersebut lalu turun.

Risna tersenyum melihat hamparan padi2 yang masih hijau.
Lalu keduanya berjalan di galangan sambil sesekali mengobrol serius.

Sekitar beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah yang berada di tengah sawah milik mang sidik tersebut.
Keduanya disambut dengan hangat dan ramah oleh mang sidik dan istrinya.
Lalu tanpa basa basi, Elang langsung mengutarakan maksud kedatangan nya ketempat itu.

"Aku juga pernah mendengar ritual pesugihan itu Lang." Ucap mang sidik

"Masalahnya mang, di desa yang saya ceritakan
Tadi, sudah banyak sekali gadis2 perawan yang jadi korban. Apakah amang tau bagaimana cara menangkal atau menyudahi semua teror itu?"tanya Elang
"Cari dan tangkap pelaku ritual tersebut lang, dengan begitu teror akan berakhir dan tak akan ada lagi korban yang berjatuhan."

"Caranya mang?" Tanya Risna memberanikan diri

"Konon kolorijo sangat takut dengan bambu kuning, dan kita bisa membuat penangkal nya dari bambu kuning
Tersebut. Kalian pasti tau bambu kuning kan?" Kata mang sidik

"Iya mang, saya tau." Jawab Elang

Sementara Risna menggeleng pelan.

"Di desaku tak tak ada bambu seperti itu lang."ucap Risna
"3 km dari rumahku ini ada banyak sekali bambu kuning. Kalau kalian mau, ambilah sebanyak yang kalian butuhkan. Nanti bambu2 itu di taruh di depan rumah ataupun pintu, agar mahluk tersebut tidak berani masuk."

Elang mengangguk,

"Kalau begitu kami berdua minta bambu kuning
Yang tadi amang katakan saja. Kebetulan teman saya ini membawa pick up jadi kami bisa digunakan untuk memuat cukup bambu2 itu."kata Elang

"Baiklah kalau begitu, jangan buang waktu lagi. Lebih baik kita segera berangkat, sebelum malam." Ujar mang sidik
Singkat ceritanya, Elang, Risna dan di bantu mang sidik sudah berkali2 mengangkut bambu2 kuning yang mereka tebang kedalam pick up. Meski jarak yang mereka tempuh cukup jauh namun kedua anak muda itu nampaknya begitu semangat sehingga mampu melawan rasa lelahnya.
Menjelang isya, barulah pekerjaan mereka selesai.
Saat akan pamit pulang, mang sidik malah memukul punggung Elang dengan bambu tamiyang.

Sontak Elang menjerit kesakitan, yang tentu menarik perhatian Risna.
"buka bajumu." Suruh mang sidik yang mau tak mau terpaksa harus di turuti oleh Elang

Masih dalam kebingungan nya, Elang merasakan mang sidik menempelkan tangan nya di punggung Elang. lalu seperti sedang mengambil sesuatu, kemudian melemparnya.
"Sudah. Kalian boleh pergi." Ucap mang sidik kemudian

Elang menatap Risna yang juga terlihat kebingungan.

"Kami pamit pulang mang, nanti kapan2 kami akan kemari lagi. Terima kasih ya mang sudah membantu kami." Ucap Elang dan Risna bersamaan
"Sama2. Semoga kalian berhasil menangkap pelakunya ya lang." Mang sidik tersenyum seraya melambaikan tangan nya

Perlahan2 pick up yang di kemudikan Risna itu pun membelok dan meninggalkan tempat tersebut.
Jalanan malam itu begitu lengang, tak banyak percakapan antara keduanya.

"Kau lapar Ris.?" Tanya Elang saat mereka melewati warung tenda di pinggir jalan

"Rasa takut akan di marahi ayahku lebih kuat ketimbang rasa lapar ku lang," Jawab Risna sambil tersenyum
"Maaf ya ris, aku melibatkan mu dalam masalah ini. Tapi aku berjanji akan membela kamu jika nanti orang tuamu marah. Aku siap memasang tubuhku jika ayahmu ingin memukulmu." Ucap Elang lembut
Raut wajah Risna seketika berubah malu2. Sikap tomboy nya mendadak hilang. Ia begitu salah tingkah mendengar ucapan Elang, laki2 yang sudah dari awal pertama telah mengambil hatinya.

"Stop sebentar Ris. Tolong, ada sesuatu yang menggigit punggungku." Ujar Elang
Seraya memperlihatkan punggungnya pada Risna

"Ya tuhan. Punggungmu memar Lang. Membiru. Kenapa bisa begini." Kata Risna bergetar

"Mungkin kena rotan mang sidik tadi Ris." Jawab Elang seraya menutup kembali punggungnya

"Tapi tadi pukulan mang sidik pelan sekali lang,
Mana mungkin bisa membekas seperti ini."bantah Risna yang memang melihat kejadian tadi

Elang tak bisa berkata2, apa yang di lihat Risna sangat jauh berbeda dengan yang Elang rasakan saat mang sidik memukul nya tadi.
Rasanya seperti di pukul dengan kekuatan penuh, bisa bayangkan sendiri betapa sakit dan pedih nya terkena pukulan rotan yang di pukul kan dengan sekuat tenaga.

"Kau tak apa lang? Masih sakit kah punggungmu?" Tanya Risna nampak Khawatir
"Sudah tidak." Jawab Elang singkat, sengaja ia berbohong agar Risna tetap fokus mengemudi

Saat sampai di daerah perkebunan karet, terlihat Kabut tebal memenuhi jalan. Lampu mobil seakan tak mampu menembus kabut tersebut. Dan tiba2 bruuuuukkk.

Risna menatap Elang dengan
Tatapan ketakutan.

"Mungkin itu hanya binatang Ris. Teruskan saja." Ujar Elang

Sembari menghela nafas panjang, Risna terus melajukan mobilnya hingga keluar dari kabut.
Saat akan berbelok kearah peternakan secara kebetulan cahaya lampu mobilnya mengarah kepinggir jalan, dan Di sana berdiri sesosok laki2 misterius mengenakan celana pendek berwarna hijau tanpa mengenakan baju.
Dada Risna bergerak turun naik dengan cepat, ia sangat ketakutan melihat sosok tersebut.

"Lang." Ucapnya

"Iya, aku juga melihatnya. Jangan berhenti ris. Aku ada di sampingmu."
Elang terus mengelus2 tangan Risna untuk menenangkan gadis itu.

Saat sampai di peternakan, terlihat dua buah sepeda motor terparkir di halaman rumah.
"Itu ayahku lang." Ucap Risna bergetar

"Tenang, jangan gugup. aku akan bicara pada ayahmu."

Deru mesin mobil, membuat orang2 yang berada di rumah tersebut keluar.

Mereka berdiri menatap dengan tatapan tajam. Sementara Ega berdiri di pojokan dengan wajah yang menunduk.
"Ckckck.. Aku kira kau pemuda baik2, tidak menyangka kau akan membawa anak gadis orang sampai selarut ini. Tanpa izin pula." Ujar bapak2 yang merupakan bos dari Elang dan Ega
"Maafkan saya pak, bu. Bos. Saya melakukan ini terpaksa, karena keadaan mendesak. Saya ingin menyudahi teror yang ada di desa ini." Jawab Elang
"Heh. Bagaimana caranya kau menyudahi teror itu? Apa dengan cara membawa kabur anak gadisku?!!" Ujar ibunya Risna

"Kami ke kota menemui orang yang bisa dan mengerti dengan hal2 gaib. Dia menyarankan untuk menancapkan bambu kuning di halaman rumah atau depan pintu rumah2 warga.
Agar mahluk itu tidak bisa masuk dan untuk para gadis2 jika ingin keluar rumah di haruskan untuk membawa bawang putih dan serpihan bambu kuning agar mahluk tersebut tidak berani mendekat."kata Elang
"Elang, Elang. Bagaimana mungkin pemuda sepertimu ini percaya akan hal2 tabu seperti itu. Pemerkosaan yang terjadi di desa kita ini tidak ada hubungan nya dengan hal2 gaib. Dan aku yakin semua ini pasti di lakukan oleh penjahat2 kelamin yang sudah ahlinya. Kemungkinan saja
Yang melakukan perbuatan biadap itu dilakukan secara berkelompok. Makanya walau kita sudah berjaga2 setiap malam tapi tetap saja bisa kecolongan. Dan satu lagi lang, yang kita hadapi ini kelompok orang2 jahat, yang tentu tidak akan takut dengan sebuah bambu yang di tancapkan
Di halaman rumah. Kau seharusnya berpikir sehat sebelum bertindak.!"ujar laki2 yang merupakan bos nya itu

"Maaf pak, tapi menurut saya. Tidak ada salah nya kita menghargai usaha mereka. Dan yang tidak kita lihat, belum tentu itu tidak ada.
Lagi pula kalau memang usaha mereka ini berhasil, maka desa kita juga yang akan kembali aman. Dan jika tidak, kita tak rugi. Jadi tidak ada salahnya membiarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan, selagi itu niat nya baik, silahkan."ujar ayahnya Risna
Risna menatap Elang, ia tak menyangka jika ayahnya yang ia kenal sebagai sosok ayah yang keras dalam mendidik anak2nya bisa berkata sebijak itu.
"Ya sudah. Saya ikut kalian saja. Tapi jika tidak berhasil. Siap2 kalian berdua pergi dari peternakan ku." Ujar bosnya seraya mengeluarkan kunci motornya dari saku celana
Ibunya Risna menatap suaminya, seolah mempertanyakan keputusan suaminya tersebut.

"Biarkan saja. Lagi pula niat mereka baik." Kata Ayahnya Risna

"Ga. Kita berangkat." Panggil Elang

"Kau di depan, temani Risna Biar aku yang di belakang." Ujar Elang saat Ega sudah berada di
Dekatnya

Perlahan2 pick up yang di kemudikan Risna berjalan menuju ke desa.

Elang duduk di atas tumpukan bambu sembari berpegangan.
Singkatnya mereka pun tiba di desa, di depan pos Kamling pick up tersebut berhenti. Ega dan Risna turun tak terkecuali dengan Elang.

"Di belah2 kecil kah lang?" Tanya Risna

"Iya. Biar bisa di taruh di depan pintu dan sebagian di halaman." Jawab Elang
Ketiganya mulai membelah bambu2 tersebut hingga menjadi potongan2 kecil panjang.

"Ris, ajak teman2 mu makan dulu. Ini sudah abah bikinkan nasi goreng untuk kalian." Ujar Ayahnya Risna saat mereka masih asyik membagi2kan bambu2 tersebut
Perut mereka yang lapar tentu tak menolak dengan nasi goreng tersebut, apalagi rasanya juga tak kalah enak di bandingkan buatan penjual2 nasi goreng di kota.
Ketiganya makan dengan sangat lahap.
Sekitar pukul 3 subuh, barulah pekerjaan mereka selesai. Hanya tinggal satu rumah, yaitu milik bosnya Pak Ateng yang belum di bagikan.

"Sepertinya, mahluk itu bukan berasal dari kampung sini Lang. Tapi tak apalah, yang penting kita sudah mempunyai penangkalnya."
Ucap Risna

Risna nampak sangat akrab dengan Elang, sementara Ega tak sedikitpun ia ajak bicara.

Tentu sikap risna yang begitu malah membuat Ega jadi cemburu dan marah pada abangnya.
"Menurutmu mahluk itu dari mana ga?" Tanya elang

"Gak tau." Jawab Ega singkat

Beberapa saat kemudian mereka sudah memasuki halaman rumah tersebut, dan menggantungkan Bambu di gagang pintu lalu menancapkan sebagian di halaman rumah.
Karena seperti yang Risna ketahui, pemilik perkebunan karet tersebut juga mempunyai anak dan keponakan yang masih gadis.
Setelah selesai, mereka bertiga pun pulang, Risna pulang kerumahnya, sementara Elang dan Ega terpaksa harus menunggu sampai pagi di pos kamling.
"Kau suka sama Risna kan??" Tanya Ega

"Tentu saja. Orang nya baik gitu." Jawab Elang

"Sukanya lebih dari sekedar teman kan?" Tanya Ega lagi
"Maksudmu?"

"Apa abang ada niatan untuk memacarinya?"

"Ah, yang benar saja kau ini Ga. Mana mungkin. Sudah ah. Aku capek. Mau tidur dulu barang sebentar." Ujar Elang seraya merebahkan tubuh nya di atas tikar anyaman yang ada di pos kamling tersebut
"Ku lihat dari sikap Risna padamu tadi, sepertinya kalian berdua sudah ada hubungan tertentu. Apa benar begitu??"

"Apa kau ini tak bisa diam hah?? Aku capek. Pingin tidur sebentar pun di ganggu. Kalau mau bahas masalah perempuan nanti saja." Bentak Elang yang sudah mulai
Memejamkan matanya

Ega yang masih labil itu pun akhirnya Emosi dan malah mengajak duel abangnya.

"Jangan kekanak2an seperti itu ga! Aku ini abangmu! Kalau kau menganggap aku ada apa2 dengan Risna itu sama sekali tidak benar!!
Aku sudah menganggap dia seperti teman sekaligus adikku.! Tidak ada hubungan apa2 antara aku dan dia!! Lagi pula aku sudah tak kepingin lagi pacaran2 seperti itu, yang ujungnya hanya hanya saling menyakiti." Ujar Elang sembari mendorong Ega
Ega termenung, ia mengingat kilas balik kehidupan mereka berdua dulu. Elang lah yang menjadi sosok Ayah juga sekaligus Ibu bagi Ega. Ia rela di pukuli teman2 seprofesinya demi sesuap nasi yang ia bawa pulang untuk Ega.
Dan tak seharusnya hanya gara2 perempuan Ega malah menantang berkelahi dengan kakaknya itu.

Tapi untuk meminta maaf Ega merasa sedikit gengsi. Akhirnya kedua nya pun tertidur dengan tubuh saling memunggungi satu sama lain.
Sekitar pukul 8 pagi. Risna dan juga Ayahnya datang.
Risna memberikan Rantang berisi makanan untuk keduanya.

Elang yang awalnya ramah pada Risna, malah menjadi cuek dan pelit senyum pada gadis itu.
"Lang." Panggil Risna

"Ya." Jawab nya tanpa menoleh dan tetap asyik mengunyah makanan nya

"Kau marah padaku?"

"Marah? Tidak."

Ega yang duduk tak jauh dari abang nya itu pun mendehem,
"Abangku gak marah sama kamu Ris. Dia marah padaku.
Bang, masalah tadi malam. Aku minta maaf ya." Kata Ega

"Mm." Sahut Elang sembari mengangguk

Beberapa saat setelah selesai makan, Elang di ajak ayahnya Risna untuk berbicara secara 4 mata dengan nya sambil berjalan2.
"Betulkah yang Risna ceritakan tentang mahluk itu lang?" Tanya ayahnya Risna memulai percakapan

"Iya pak. Kata mang sidik memang begitu."

"Saat aku lewat di jalan depan rumahnya, bambu yang kalian
Taruh di rumah besar pemilik perkebunan karet itu sudah mereka cabut dan dibuang ke sisi jalan."

"Di buang?" Gumam Elang

"Tapi bisa jadi mereka mengira bambu2 yang kami taruh di rumah mereka itu hanya ulah dari orang2 iseng.
Lagi pula mereka kan tidak tau, dan juga kami tidak meminta izin sebelumnya tadi malam pada pemilik rumah tersebut." Ujarnya

"Ya, ku rasa juga begitu. Karena tidak mungkin rasanya keluarga itu melakukan pesugihan."
Matahari semakin meninggi ketika mereka sampai di peternakan.
Saat Risna dan Ayahnya pulang, kedua kakak beradik tersebut langsung membersihkan diri ke sungai lalu tidur.
Elang masih tertidur ketika Ega sudah bangun untuk memberi makan hewan ternak dengan rumput.

Elang nampaknya tertidur dengan sangat lelap, sampai2 ia mendengkur di siang bolong begitu.
Karena itu Ega enggan untuk membangunkan kakaknya
Yang akhir2 ini sudah jarang tidur dengan sangat lelap begitu.

Kira2 sekitar pukul 8 malam, Elang bangun dari tidurnya.
Di sampingnya sudah tersedia telur goreng campur mie dan sepiring nasi yang sudah mulai dingin.
Dan Terlihat Ega sudah tidur dengan begitu pulas.

Setelah mencuci muka, Elang langsung menyantap makanan yang sudah di siapkan oleh adiknya itu.

Walau menu nya sangat sederhana, tapi Elang sangat lahap memakan nya.
Setelah makan, Elang membuat segelas kopi dan duduk di teras rumah, menikmati pemandangan malam di peternakan.

Sekitar setengah jam duduk, Elang mulai merasa kehidupan nya kembali normal, karena ia sudah tak lagi merasakan hal2 aneh yang berada di sekitarnya.
Bahkan mimpi buruk pun tak lagi ia rasakan.

Suara jangkrik bersahut2an menciptakan sebuah irama yang membangkitkan hasrat Elang untuk menyanyi.

🎶"Aku bukanlah rembulan
Seindah yang kau bayangkan
Tetapi
Redup dan tiada bersinar"

Sebuah lagu dari Imam S Arifin ia nyanyikan
Dengan sangat baik, lagu yang dulu pernah ia nyanyikan sewaktu sedang mengamen dari satu tempat ketempat2 lain nya.

Suara nya begitu merdu terdengar, tak kalah dengan penyanyi2 yang sering muncul di televisi hanya saja nasib Elang tidak seberuntung mereka.
Mbeeeekkkk.... Suara hewan ternak riuh terdengar.

Elang langsung beranjak dari duduknya dan tanpa menunggu lama lagi, Elang langsung berjalan mengendap2 ke arah kandang2 ternak.

"Heh!! Siapa itu!!" Teriak Elang seraya menerobos masuk kedalam kandang
Seorang laki2 misterius dengan hanya mengenakan celana dalam terlihat sedang memakan salah satu kambing di kandang tersebut.

Namun karena banyaknya kambing2 yang panik berlarian di dalam kandang tersebut akhirnya Laki2 misterius itu berhasil kabur.
Elang yang tak mau kehilangan jejak langsung menerobos keluar lewat celah kandang yang lumayan lebar.

Aksi kejar2an terjadi, hingga sampai di mana saat Elang berhasil memotong jalan si laki2 misterius daann... Bruuuukkkk... Sebuah tendangan dari Elang mendarat di dada
Laki2 itu hingga terjatuh..
Nyeri seketika Elang rasakan di kakinya.

Namun karena sudah terbiasa dengan kehidupan yang keras, Elang sama sekali tak menunjukan rasa sakitnya.

"Siapa kau sebenarnya hah???!!!" Bentak Elang seraya berusaha membuka tangan si laki2 misterius yang
Menutupi wajahnya

Plaaakkk..
Elang menampar tangan orang itu sampai terdengar erangan nya.

"Perlihatkan wajahmu setan.!!!!" Bentak Elang yang sudah sangat emosi
Namun meski wajahnya sudah terbuka, Elang masih kesulitan untuk mengenalinya. Karena wajahnya di penuhi darah dan juga bulu2.

Elang menyeret laki2 yang telah ia buat pingsan itu menuju kearah rumah peternakan.
Sesampainya di rumah peternakan, Elang langsung berteriak memanggil Ega, Adiknya.

"Ada apa bang?" Tanya Ega yang masih mengucek2 matanya itu
"Lihat, orang ini membunuh satu kambing di kandang. Untung aku dapat menangkap nya. Coba kalau tidak. Habis kita di marahi bos." Ujar Elang seraya mengikat laki2 misterius di tiang teras
"Motif nya apa bang? Kok bisa?" Tanya Ega

"Ambil air dulu ga. Aku penasaran dengan orang ini." Suruh Elang

Ega langsung bergegas masuk lagi kedalam rumah untuk mengambil air di dapur. Dan setelahnya ia berikan seember air tersebut pada Elang.
Byuuuurrr.. Elang menyiramkan air itu tepat di wajah orang itu hingga ia tersedak.

"Abang kenal dengan orang ini?" Tanya Ega

Elang menggeleng,

"Gak kenal. Kita tunggu sampai pagi. Siapa tau Risna mengenali orang ini." Ujar Elang
Kambing yang sudah mati dengan bagian perut sudah lenyap itu di letakkan oleh Ega di dekat laki2 misterius. Sementara Elang terus menanyai orang itu dengan sedikit memaksa dan ancaman.
Namun meski begitu orang tersebut tak juga mau buka suara.
"Kau bisu atau apa hah??!! JAWAB PERTANYAANKU!!" bentak Elang

"Sudah bang, jangan di paksa. Kita biarkan saja sampai besok pagi. Siapa tau Risna kenal." Kata Ega seraya menggandeng Elang untuk masuk kedalam rumah
"Jangan ditinggal ga. Nanti dia kabur."

Keesokan Harinya. Risna dan Ayahnya datang untuk mengantar rumput.

Ayah Risna nampak kaget ketika melihat seseorang terikat di teras rumah peternakan yang di tinggali oleh Elang dan Ega tersebut.
"Ada apa ini lang, Ga?"

"Ini kambing, di bunuh dan dimakan hidup2 oleh orang ini pak. Saya berusaha sekuat tenaga tadi malam untuk menangkap setan ini. Sampai2 kaki saya pun kambuh lagi sakitnya." Jawab Elang
Ayahnya Risna mengangkat wajah si lelaki misterius yang tengah menunduk tersebut.

"Wanto?!" Kata ayah Risna nampak terkejut setelah tau siapa orang itu
"Bapak kenal?"

"Bukan kenal lagi lang. Orang ini sering berbuat ulah di desa ini." Sahut Risna

"Heh wanto. Kenapa kau memakan kambing ini hidup2 hah?!" Tanya Ayah Risna
"Aku di suruh pak." Jawab orang yang terikat itu

"Siapa yang menyuruh?! Bodohnya kau mau disuruh memakan hewan yang masih hidup begitu." Ujar ayah Risna seraya memukul kaki laki2 bernama wanto tersebut
"Ampun pak, saya di bayar mahal untuk melakukan ini semua pak."

"Kalau begitu katakan siapa yang menyuruhmu!!" Bentak Elang

"Pak. Pak (....)" Jawabnya gugup

"Hah? Kau jangan mengada2 wanto! Mana mungkin orang terpandang seperti beliau itu menyuruhmu melakukan hal
Seperti ini."bentak ayah Risna

"Sumpah pak, sumpah demi apapun. Saya memang disuruh oleh beliau. Saya tidak bohong." Isak Wanto

"Kalau begitu ayo kita buktikan sendiri, kita berangkat kerumahnya." Ujar ayah Risna
"Siapa itu pak (....) ris?" Tanya Elang

"Itu yang rumahnya paling besar di desa ku. Rumah paling terkhir yang kita berikan bambu kuning." Jawab Risna
"Ayo lang, kita bawa dia ke rumah pemilik perkebunan karet itu."

Setelah semua rumput di turunkan dari pick up. Mereka pun berangkat dengan membawa laki2 misterius yang masih terikat untuk kedesa.
Sesampainya di depan rumah megah tersebut, mereka semua turun. Dan untuk sekedar mengetes, kebenaran dari dugaan nya, Elang membawa potongan bambu kuning dan berjalan kearah pintu rumah.
Saat pintu terbuka, lelaki yang membukakan pintu itu seperti berusaha mundur dan menjauh dari elang.

"Ada apa ini ramai2 dirumahku?" Tanya nya

Dengan tegas Ayah Risna menceritakan semuanya, dan seperti yang sudah di duga.
Lelaki itu mengelak semua tuduhan dari Wanto dan malah balik menuduh wanto adalah biang kerok kejahatan2 yang ada di desa mereka tersebut.
"Aku tidak tau pasti maksud tuduhan ini. Tapi cobalah kalian pikir, untuk apa aku melakukan pesugihan lagi, sementara hartaku sudah cukup banyak. Dan lagi bukankah kalian tahu sendiri bagaimana sikap dan kelakuan wanto ?"

"Lalu kenapa bambu yang kami taruh di rumah
Bapak malah di buang.?"tanya Elang

"Oh. Jadi kalian yang menaruhnya. Aku tidak tau fungsi dan gunanya bambu kuning itu. Makanya aku buang saja. Andai serumpun sudah pasti ku tanam untuk menambah tanaman hiasku." Jawab nya

"Kalau begitu simpan bambu ini pak.
Untuk di taruh di rumah ataupun di depan pintu. Biar mahluk yang sedang meneror desa ini tidak berani masuk."ucap Elang seraya menyerahkan bambu tersebut dan anehnya langsung diterima
Oleh laki2 tersebut. Ia menimang2 bambu itu ditangan nya.

"Aku kira kau akan melakukan kekerasan di rumahku. Maaf jika aku sudah berpikiran yang tidak2 terhadapmu."

Elang tersenyum, lalu setelah berpamitan. Mereka pun pergi ke rumah pak RT untuk mengadukan apa yang sudah
Di lakukan oleh wanto.

Namun saat di tanya, Wanto tetap mengatakan kalau pemilik perkebunan karet itulah yang membayarnya untuk melakukan hal tersebut.
Pak RT dan semua orang yang berada di sana saling bertatapan satu sama lain.

"Yang kita hadapi ini masalah gaib, sama sekali tak memiliki bukti atas kejahatan2 nya. Setelah aku pikir2, apa tidak sebaiknya kita satu desa ini kumpulan uang saja untuk mendatangkan
Orang pintar ataupun orang yang paham dengan hal gaib seperti ini." Kata pak RT

"Bagus juga itu pak. Biar kita tidak terus2an saling curiga satu sama lain." Sahut ayah Risna

"Paman aku punya usul, bagaimana kalau mang sidik saja yang di undang kemari. Orang yang kami
Datangi kemarin dengan Elang." Ujar Risna

"Boleh, apa kalian mau menjemput orang itu kemari?" Tanya pak RT

"Saya mau," Jawab Risna cepat

Sementara Elang menatap Ega seolah meminta persetujuan.
"Berangkatlah bang. Aku disini saja." Kata Ega sembari tersenyum tipis

"Kau yakin tak mau ikut?"

"Iya bang."

------------

Singkatnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sudah berada di rumah mang sidik.
"Baiklah, kalau memang aku di percaya untuk kesana." Kata Mang Sidik

Setelah mereka makan, mang sidik pun berpamitan dengan istrinya untuk pergi bersama dengan Elang dan Risna.
Perjalanan menjadi sedikit menegangkan apalagi ketika mang sidik menceritakan alasan tentang apa yang ia lakukan terhadap Elang kemarin.

"Kau mendapatkan kiriman lang, dari seorang prempuan. Sosok itu berwujud perempuan dengan gaun putih dan wajah yang tak memiliki
Kulit Rupa/bentuk. Hanya tengkorak yang sedikit memiliki rambut.
Mahluk itu dikirim untuk membuatmu gila."cerita mang sidik

Risna bergidik, namun begitu, ia tetap fokus untuk menyetir.
"Saya pernah mengalami mimpi yang berada di dalam mimpi mang. Semuanya terasa aneh. bahkan adik saya bilang, kalau saya mengamuk dan hendak melukainya. Padahal saya sungguh tidak merasa melakukan hal2 itu." Kata Elang

Mang sidik tersenyum.
"Kau dikendalikan mahluk itu lang. Untung nya kau cepat kemari, jadi aku bisa membantumu, dengan ijin tuhan tentunya." Kata Mang sidik
Tak terasa mereka akhirnya sampai di desa, tepat di jalan depan rumah pak RT mereka turun.

Mang sidik di sambut hangat oleh orang2 disana.

"Malam ini aku akan ikut berkeliling di desa ini. Ku rasa malam ini mahluk itu akan kembali mengincar salah satu gadis di desa ini."
Ujar mang sidik membuat para ibu2 nampak khawatir
"Aduh, yang benar saja. Kalau begitu lebih baik kita pulang saja bu ibu." Ujar salah satu ibu2 yang berada di situ

"Suruh anak2 gadis kalian, memegang bawang putih jangan di lepas sampai esok pagi." Ujar mang Sidik
Setelahnya, satu persatu orang2 yang berada di sana pun pulang.
Tinggallah Mang sidik, Pak RT, Elang, Ega dan Ayahnya Risna.

Malam itu, saat akan bersiap2 berangkat ke pos kamling. Mang sidik mengeluarkan sesuatu dari dalam tas purun nya.
Benda berbentuk botol berisi minyak berwarna hitam itu ia oleskan ke tangan dan alisnya.

Setelah semua orang yang akan ikut ronda itu sudah kumpul, mang sidik membagi menjadi 3 kelompok yang di dalam nya berjumlah masing2 3 orang.
Sementara pak RT dan satu orang warga lain nya disuruh untuk berjaga2 di pos kamling.

"Kalau kalian melihat sesuatu yang mencurigakan, kejar dan tangkap. Pukul dia dengan daun kelor ini." Ujar mang sidik seraya membagi2kan daun kelor yang ia bawa
Lalu ketiga kelompok itu pun berangkat kearah yang saling berlawanan.

Kelompok satu ada mang sidik, dan 2 warga.

Kelompok kedua ada Ega, ayah Risna dan warga lain nya.

Sementara kelompok ketiga ada elang dan dua warga.
Setelah sekitar sepersekian menit berjalan, Salah satu orang kelompok Elang mengaku melihat sesuatu di rimbunan kebun singkong.

Lalu dengan penuh keberanian, Elang masuk ke kebun singkong tersebut diikuti 2 orang warga yang juga satu kelompok dengan nya.
Namun setelah di cari2 tak ada apapun disana. Hanya ada jejak kaki yang memiliki jari2 yang sangat besar dan panjang. Dan entah milik siapakah jejak kaki tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaa..." Teriakan salah seorang warga dari dalam rumah yang di lewati oleh Ega dan yang lain nya

Membuat mereka bertiga segera berlari kearah rumah.

"Toloooong.." Teriakan semakin menjadi dari dalam rumah yang membuat Ayah Risna menyuruh Ega untuk segera mendobrak
Pintu

Braaaakkkkk.... Entah karena kuat di hadapan calon mertua atau karena memang pintunya yang sudah rusak, Dengan sekali dobrakan saja, pintu kayu itu berhasil terbuka.
Di dalam sebuah kamar, terlihat seorang ibu2 dan anak gadisnya yang sudah setengah telanjang berada disana.

Tanpa aba2, Ega langsung melompat turun dari jendela dan berlari mengejar sesuatu yang ia sendiri pun tak tau seperti apa wujudnya.
"Woyyy.... Siapapun itu berhentiii jadi pengecut.!!! Kalau kau berani hadapi aku bangsaatttt..!!!" Teriak Ega dengan nafas yang ngos2an
"Keluaaarrr!!! Hadapi akuuu!!! Akan kupotong kelamin sialanmu itu setaaannn..!!!"

Dan tiba2 dari balik pohon besar di belakang Ega, terlihat sesosok tinggi besar dengan kulit berwarna hijau.
Matanya tajam menatap kearah Ega. Taring mahluk itu begitu jelas terlihat.
Suaranya membuat Ega menoleh. Dan beberapa saat kemudian, Ega berjalan mundur. Ia menelan ludahnya yang tiba2 terasa getir.

Ega teringat dengan apa yang di katakan mang sidik tadi sebelum berangkat. Ia pun memegang kuat2 bambu serta daun kelor yang ada di tangan nya.
"Ayo kemari kau setan hijau menjijikan!!" Tantang Ega seraya memperlihatkan apa yang ia pegang

Sosok itu tetap tak bergeming, ia diam saja di tempatnya berdiri.

Kretek2 suara terdengar, yang entah berasal dari mana.
Namun tiba2 Tubuh Ega terhempas beberapa meter kebelakang. Dan secara bersamaan, sebuah pukulan telak mengenai kakinya. Yang membuat Ega menjerit kesakitan.

Seorang laki2 merebut bambu dan daun kelor yang berada di tangan Ega lalu melemparnya jauh2.
Uhuuukkk... Ega terbatuk. Darah segar keluar banyak sekali dari mulutnya.

"YA TUHAN. Tolong saya.." Ucap Ega bergetar, itu adalah doa pertama baginya setelah bertahun2 terakhir tak pernah lagi melakukan hal itu
Dan entah bagaimana, Ega bangkit. Ia berusaha menghindari serangan2 dari lelaki yang memukulnya tadi.

Namun beberapa kali, Ega terkena pukulan di bagian punggung dan perutnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Elang dan juga beberapa warga lain nya datang kesana.

Melihat adiknya berdarah2 dan terluka2 seperti itu, Ia langsung menghajar orang tersebut.
Dan warga pun juga tak tinggal diam.

Mereka ikut memukuli lelaki itu dan menyeretnya ke desa.

Serta yang lebih mengejutkan lelaki itu ialah orang terpandang di desa mereka, yang memiliki berhektar2 luasnya perkebunan sawit dan persawahan.
Elang memapah Ega dengan di bantu oleh seorang warga.

"Bang, ka, kalau ak aku mat mati. To tolong jaga Riss na." Ucap ega terbata2
"Sssttt.. Kau jangan bicara seperti itu bodoh.! Kau pasti bisa bertahan hidup. Kau itu kuat ga. Aku yakin itu." Jawab Elang tak mampu membendung air matanya
Sesampainya di pos kamling, ega langsung di bawa kerumah Risna untuk di obati. Sementara Pak RT dan beberapa warga lain nya terus mengorek pengakuan dari si pemilik perkebunan karet tersebut.
Setelah sekitar setengah jam menunggu, mang Sidik kembali ke pos kamling.

"Coba bapak periksa pak, apa benar ini orang yang jadi penyebab teror di desa kami ini?

"Kau katakan saja yang sebenarnya. Karena aku sudah tau siapa kamu." Ujar mang sidik seraya mengatakan
Hal2 yang merupakan rahasia dari orang tersebut.
Merasa tak ada lagi yang bisa ia sembunyikan.
Akhirnya dia pun buka suara.

"Ya. Memang benar saya bersekutu dengan jin itu untuk menjadi kaya raya." Ujarnya

"Sudah sejak kapan itu?" Tanya Pak RT

"Sudah cukup lama, hanya saja
Saya melakukan nya di desa lain."

"Terungkap sudah, berarti dia ini yang memperkosa anak2 gadis disini.!"

"Jangan di beri ampun pak, bunuh saja dia.!!" Teriak salah satu warga yang anaknya sudah meninggal setelah di perkosa oleh sosok hijau tersebut
"Tapi kita tidak boleh main hakim begini. Besok kita ke kota untuk menyerahkan orang ini kepada polisi." Ujar pak RT

"Bapak sehat pak?? Coba bapak pikir. Apakah polisi akan percaya dengan hal2 seperti ini yang dianggap tabu oleh sebagian orang."
"Iya pak. Dan coba bapak pikir, apakah saat dia melakukan pemerkosaan itu, dia juga merasa kasian ada korban2nya?!
Tidak kan pak. Jadi dia tidak pantas di kasih hidup.!"

Pak RT garuk2 kepala, bingung.
"Kita biarkan dia hidup, namun hati dan pikiran nya akan mati. Biarkan dia menderita dan menikmati setiap karma kejahatan nya." Ujar mang sidik menengahi
Keesokan harinya orang2 beramai2 pergi kerumah megah lelaki itu.

Mereka menghancurkan setiap sudut rumah. Hingga tak bersisa.

Sementara keluarga lelaki tersebut menangis melihat orang2 desa yang secara beramai2 merusak rumahnya sampai tak bersisa.
Tak ada lagi rumah megah disana, hanya ada puing2 kosong yang berserakan.
Surat2 tanah dan perkebunannya di bakar habis hingga tak bersisa.
Setelah itu mereka sekeluarga diusir dari desa.

Dan selepas itu tak ada lagi yang tau bagaimana kabar nya keluarga tersebut.

Sementara Ega sudah mulai perlahan2 sembuh, ia selalu di temani oleh gadis cantik nan imut sepupu dari Risna.
Nampak nya Ega juga sudah mulai tertarik dengan gadis tersebut.

"Bang, boleh aku pinjam uang tabunganmu?" Bisik Ega di suatu malam

"Buat apa?" Tanya Ega

"Untuk melamar Yati."

"Hah? Bukan nya kau suka sama Ris.."

"Ssstttt.. Sekarang sudah tidak bang. Aku cuma ingin Yati."
Elang terlihat menggaruk2 kepalanya yang tiba2 terasa gatal.

"Boleh bang.?"

"Bagaimana ya, masalahnya uang itu untuk..."

"Untuk Herni?? Mang sidik cerita loh. Kalau Herni yang buat abang hampir gila waktu itu." Potong Ega
"Untuk kamu ga. Makanya kalau orang tua bicara jangan selalu di potong2." Ujar Elang

"Serius bang? Boleh?"

"Iya."

"Kalau bisa, akadnya barengan aja bang. Siapa tau nanti kita berdua bisa jadi besan."
Elang hanya geleng2 kepala menanggapi perkataan adiknya itu.

Setelah Ega benar2 sembuh, Ia pun melamar Yati. Sementara Elang dan Risna masih seperti itu2 saja.

----SELESAI----

Donasi pulsa : 0856 5403 7262
Link donasi : saweria.co/donate/Omrasth…
Terima kasih🙏🙏💝

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with ENSUN BURUNG

ENSUN BURUNG Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @rasth140217

Apr 12, 2025
PENDATANG BARU

Sebelumnya dia selalu tersenyum dan itu membuatku tidak menyadari kalau dia tidak memiliki garis di atas bibir.

@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar ilustrasi) Image
“Kiri kanan.. Kiri kanan..” ujarku seraya menghentakkan kaki bergantian.

Di depanku berjejer anak2 kecil yang mengikuti gerakanku.

Ya, aku adalah guru olahraga di sekolah dasar yang ada di desaku. Aku hanya seorang guru honorer, dan usiaku saat ini 29 tahun.
“Pak Imran, habis ini kita kemana lagi?” tanya salah satu anak muridku yang berdiri paling depan.

“Kita kembali ke sekolah, Lalu bersama2 membersihkan sekeliling sekolah dari sampah yaa..”

“Baik pak..” jawab anak2 serentak.
Read 40 tweets
Mar 3, 2025
SANTET KANDIH

(Santet kuno kalimantan yang bisa berpindah kepada orang yang mencoba mengobatinya.)

Kiriman santet dari gayung lope pink.

@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar ilustrasi) Image
Teriakan dan rintihan kesakitan terdengar dari rumah bu Lisda. Wanita paruh baya itu memang sedang sakit. Tapi sakitnya itu bukan seperti sakit pada umumnya, semacam demam atau yang lain2.
Sakit yang diderita bu Lisda ini malah seperti gangguan kejiwaan, ia selalu berteriak dan merintih kesakitan, padahal orang lain tidak melihat penyebab yang bisa membuatnya merasa kesakitan.
Read 33 tweets
Jan 21, 2025
PESUGIHAN KUCING HITAM
(Lokasi dalam cerita, Kalimantan Selatan.)

Lagi2 Lina merasakan sakit yang luar biasa. Dan rasa sakit itu terus berulang

@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar Hanya Ilustasi) Image
“Ikam suah lah makan bakso yang di sana tu? nah disitu nyaman banar kam baksonya. Kuahnya nyaman pada kuah bakso yang lain. Pentolnya gin, berasa banar dagingnya.
(Kamu pernah gak makan bakso yang di sana itu? Nah disitu baksonya enak banget. Kuahnya lebih enak dari kuah2 bakso yang lain. Pentolnya juga, berasa banget dagingnya.)” ujar perempuan bernama Evi pada kedua temannya.
Read 32 tweets
Dec 25, 2024
Si Tulang Punggung

(NIAT MENCARI KERJA UNTUK BANTU KELUARGA, MALAH DIJADIKAN TUMBAL OLEH MAJIKAN.)
@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Arfin merupakan seorang pemuda berusia 16 tahun yang duduk di bangku kelas 1 SMA.
Ia merupakan anak pertama dari 3 bersaudara, Anak nomor dua masih berusia 14 tahun, sementara anak yang bungsu baru berusia 9 tahun.
Meski bukan dari keluarga berada, tapi ayah dan ibunya selalu berusaha untuk menyekolahkan ketiga anak laki-laki mereka tersebut hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Read 35 tweets
Dec 14, 2024
NASI KUNING CU IPAU

“Sebenarnya sudah lama Ipau sakit, sakitnya pun bukan sakit biasa. Dia terkena santet dari mantan suaminya."

@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar hanya ilustrasi) Image
Cu Ipau, adalah seorang janda yang tidak punya anak. Beberapa tahun lalu ia diceraikan oleh suaminya dengan alasan karena selama 8 tahun pernikahan, Cu Ipau tak juga kunjung hamil. Sementara mertua dan keluarga besar suaminya terus menerus mendesak
supaya Cu Ipau hamil dan punya anak. Begitulah, sekilas kisah hidup Cu Ipau yang Iwan ketahui.

Iwan, seorang pemuda berusia 25 tahun, ia bekerja di sebuah toko hp yang lumayan besar dengan 10 karyawan yang tugasnya berbeda-beda.
Read 33 tweets
Nov 28, 2024
PELET DARAH HAID ( KISAH BARU )

@IDN_Horor
@ceritaht
@bacahorror
#ceritaseram
#basedontruestory
#threadhorror
#bacahorror
#omrasth

Pernikahan baru seumur jagung, tapi sudah dihadapkan dengan ujian yang sangat banyak. Itulah yang dirasakan Eni, perempuan berusia 16 tahun Image
yang terpaksa harus menikah dikarenakan hamil duluan.

Saat itu, Eni masih sekolah kelas 2 SMA. Dan Roby kelas 3 SMA. Mereka berpacaran kurang lebih selama satu tahun. Eni berasal dari sebuah keluarga sederhana, ayahnya seorang buruh angkut di pasar, sedangkan ibunya berjualan
sayur keliling.

Sementara Roby dari keluarga yang bisa di bilang berkecukupan. Ayahnya seorang juragan karet, ia mempunyai beberapa hektar kebun karet yang masih aktif dan ia juga membeli karet-karet dari petani karet di daerahnya, untuk kemudian dijual lagi.
Read 31 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(