RAHASIA KELAM RUMAH SANG JURAGAN

#bacahorror
#bacahoror
#diambildarikisahnyata

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
1999, pulau kalimantan.

"Sebut saja namanya pak Karna, dulu usia beliau itu kira2 sekitar 40-50 tahunan, tapi yang namanya juga juragan. Orang kaya. Jadi kerjaan nya tidak seberat kita2 yang tiap hari kerja banting tulang di pahumaan (sawah). Dan meski pun sudah berumur
Tapi tetap kelihatan awet muda. Gak seperti saya ini. Usia 50 tahun kelihatan nya sudah seperti 70 tahun lebih." Ujar pak Rahmat memulai ceritanya di sebuah warung kopi yang terletak tidak begitu jauh dari area persawahan tersebut
Sembari mencelupkan roti isi coklat kedalam kopinya pak Rahmat kemudian melanjutkan ceritanya.

"Pak Karna dan keluarganya itu sangat baik pada warga desa, semua pemuda2 desa ini termasuk saya dulu, di kasih pekerjaan dengan upah yang lumayan tinggi.
10.000 rupiah perhari kerja. Di tahun itu kalau di tempat orang lain upah sehari paling banyak cuma 5.000an." Lanjutnya seraya menghela nafas panjang, mata pak Rahmat menatap lurus ke depan, hamparan padi yang sudah mulai meninggi terlihat sedang di permainkan oleh semilir
Angin membuat daun2 nya saling bergesekan satu dan yang lain nya, pemandangan persawahan yang cukup menyejukkan hati.

Sepiring goreng2an di sajikan di atas meja oleh ibu2 pemilik warung. Aroma nya sungguh menggiurkan, Om pun mengambil satu pisang goreng yang masih panas tersebut
Lalu mulai melahapnya sambil mendengarkan cerita dari pak Rahmat.

----------

"Pak, besok kerumahnya pak Karna ya. Ada acara selamatan." Kata Rahmat muda yang memang di tugaskan untuk 'basaruan/bakiawan urang' (datang dari rumah ke rumah untuk mengundang orang2)
"Iya, mat. Saya pasti datang."

Rahmat pun kemudian melanjutkan langkahnya untuk mendatangi rumah selanjutnya.
Rumah di sana dulu itu jarak satu sama lain nya tidak sedekat sekarang. Tapi lumayan berjarak beberapa meter dulu baru rumah lain. Biasanya jarak tanah nya
Diisi dengan tumbuhan singkong ataupun pisang dan pepaya.

Tangan nya terus memegangi uang 20.000 di kantong celana kain nya, senyum di bibirnya pun tak sedikitpun memudar. Rupa2nya uang tersebut adalah upah yang di berikan pak Karna untuk basaruan. Jumlah yang sangat besar bagi
Rahmat tempo dulu.

Setelah menyelesaikan tugasnya Rahmat pun berjalan pulang, di tengah jalan ia mulai kelelahan. Dan akhirnya duduk di bawah pohon pepaya.
Saat Rahmat menoleh ke atas nampak buah2 pepaya itu sangat ranum dan sudah mulai menguning. Ada beberapa diantaranya
Yang sudah berlubang akibat di makan hewan.
Di depan nya terdapat juga pohon2 jeruk yang berbuah lebat.
Rahmat berdiri dan mengambil sebiji jeruk, ia cukup mengenal dengan pemilik jeruk tersebut, sehingga berani untuk meminta sebiji dua guna penghilang dahaga nya.
Aroma khas jeruk tercium saat kulitnya mulai di buka.

"Oey.. Maling buah kau ya." Ujar seseorang dari arah belakang

"Eh, paman. Maaf paman aku haus." Ucap Rahmat

"Haha. Makan lah. Disini jeruk2 itu hanya jadi makanan monyet saja. Lihat pepaya ku ini sudah keduluan mereka."
Kata Paman Husin sembari duduk di samping Rahmat

"Enak kau sekarang mat, bisa kerja dengan juragan itu. Berapa upahnya basaruan.?"

"Cukuplah buat beli beras dan gula paman." Jawab Rahmat malu2
"Petiklah jeruk2 itu mat, untuk di bawa pulang." Ujar paman Husin sembari menepuk bahu Rahmat

Tanpa ragu2 ia pun memetik beberapa buah jeruk dan mengantongi nya dengan baju.
Sementara paman Husin terlihat sedang marincah kumpai.

"Paman, aku pamit pulang duluan ya.
Terima kasih jeruknya." Kata Rahmat yang di tanggapi dengan anggukan oleh pama Husin

Di rumah nya, kepulangan Rahmat ternyata sudah di tunggu oleh keponakan2 nya yang masih kecil2.

Ada senyum kecil di setiap wajah2 polos ponakan nya. Ia pun memberikan sebiji jeruk
Untuk masing2 anak itu.

"Ma, ini uang upah ku basaruan tadi ma." Kata Rahmat seraya memberikan semua uang yang ia dapat hari itu pada ibunya
"Alhamdulillah. Kamu simpan saja mat. Tabunglah sedikit2 buat modalmu menikah." Ujar ibunya sembari memberikan kembali uang itu pada Rahmat
Malam itu semua keluarga nya berkumpul, kedua orang tuanya, Kakak2 dan ipar2nya juga ponakan2 Rahmat.
Mereka mengelilingi sepanci nasi hangat yang masih mengepulkan asap, dan beberapa macam sayur, ada tumis kangkung, genjer rebus, daun singkong rebus, ikan sepat dan papuyu
Goreng, serta sambal acan yang tak pernah ketinggalan di menu keluarganya.
Setelah membaca doa, mereka pun makan dengan sangat lahap.
Setelah mengobrol2 dengan ayah dan saudara2 serta ipar2nya. Rahmat pergi tidur. Di dalam kamarnya ia tersenyum2 membayangkan besok bakal makan daging sapi di acara selamatan nya pak Karna. Dan pastinya selain makan enak, ia juga akan kecipratan rejeki lagi dari sang juragan.
---
Pagi2 sekali, Rahmat sudah berjalan menuju kerumah pak Karna. Dengan langkah tergesa ia berjalan di jalanan berbatu tersebut.
Angin dingin terasa menyengat sampai ketulang.

Konon kata sebagian orang, Angin yang dingin nya menusuk seperti itu di namakan angin kematian
Yang artinya akan ada yang meninggal di desa tersebut.
Saat tiba di rumah pak Karna, Juragan itu rupanya sedang berolahraga di halaman rumahnya.

"Wah, ternyata kau ini pemuda yang rajin sekali. pagi kau sudah datang kerumahku mat." Katanya membuat Rahmat tersenyum
"Hehe. Iya pak, barangkali ada yang bisa saya bantu kerjakan, makanya pagi2 sekali saya kesini." Jawab Rahmat

"Ya sudah, nanti bantu aku membersihkan tempat sapi2 yang akan di sembelih itu ya." Kata pak Karna dengan bibir yang masih tersenyum
"Tentu pak, tentu. Dimana tempat menyembelihnya pak, biar saya bersihkan sekarang."

"Ahh. Nanti saja. Lebih baik kita sarapan dulu. Ayo masuk kedalam." Ujar pak Karna seraya berjalan kearah pintu rumahnya
Dengan langkah malu2 Rahmat pun ikut membuntut masuk di belakang sang juragan.

Rahmat terperangah melihat rumah mewah milik pak Karna. Perabotan di rumahnya benar2 hanya dimiliki oleh orang2 kaya pada jaman itu.

Tatapan nya menatap kearah tv yang berada di ruangan tengah itu
"Waw." Ucapnya kagum, seketika hayalan nya membayangkan dia duduk sambil menonton televisi di rumah itu bersama keluarganya, betapa bahagianya hidup berkecukupan, punya tv dan rumah yang mewah. Namun sesaat kemudian hayalan terhenti ketika pak Karna memanggilnya.
Dengan langkah tergesa Rahmat pun berjalan kearah ruang makan. Dan sekali lagi, ia dibuat terperangah dengan menu2 yang tersaji di atas meja ulin tersebut.

Ada ayam goreng, ikan haruan (gabus kalau om gak salah), wadi sepat siam, beberapa lalap dan sambal.

"Ayo mat. Kita
Makan dulu." Ujar pak Karna sembari tersenyum

Rahmat nampak ragu2 untuk duduk sejajar dengan sang juragan tersebut.

"Duduklah. Tak usah malu2. Ini piringnya." Lanjut pak Karna
Rahmat mengambil sesendok nasi, dan ayam goreng. Lalu ia makan dengan sangat lahap.

"Senang.? Mau tiap hari makan di rumahku?" Tanya pak Karna tersenyum

Mendengar pertanyaan itu, Rahmat sedikit gugup. Ia mengira akan di marahi atau Entahlah. Membayang kan nya saja ia tak
Sanggup.

"Teruskan makan nya mat. Aku hanya bertanya padamu. Apa kau ingin bekerja dirumahku? Dengan upah 150 ribu perbulan. Makan dan minum ikut apapun yang aku makan dan minum disini. Kerjamu hanya membantu memotong rumput, membantu membersihkan rumah. Bagaimana?"
"Uhukkk.. Mau pak saya mau." Jawab Rahmat tersedak

"Haha. Baguslah kalau begitu. Ayo makan yang banyak biar semangat nanti kerjanya." Kata pak Karna
Saat matahari mulai menyengat, beberapa warga yang laki2 datang kerumah pak Karna untuk membantu menyembelih sapi2 yang akan di masak hari itu.
Setelah sapi2 sudah di sembelih mereka pun beramai2 memotong dagingnya dan memisahkan antara kulit serta daging.

Sementara para ibu2 sedang menyiapkan bumbu2 untuk memasak daging2 sapi tersebut.
Singkatnya sehabis isya, acara selamatan pun di mulai, orang2 mulai berdatangan kerumah pak Karna. Tak terkecuali keluarga Rahmat.

Sebelum membaca doa, pak karna mengatakan sesuatu pada tamu2nya.

"Seminggu lagi saya akan pergi ke luar pulau
Perjalanan bisnis. Dan rumah ini saya percayakan pada Dua ART saya dan juga Rahmat. Mereka akan menjaga rumah saya selagi saya tidak ada disini. Jadi malam ini, saya menggelar acara selamatan guna untuk meminta doa pada kalian semua semoga perjalanan saya kali ini
Selamat sampai ketujuan dan cepat bisa kembali kesini lagi."kata pak Karna

Para tamu2 pun mengaminkan apa yang di ucapkan oleh pak Karna.
Lalu selanjutnya doa selamat pun mulai di bacakan oleh seorang ustadz.

Hidangan demi hidangan di sajikan untuk para tamu2, dan sebagian di bungkus untuk di berikan nanti ketika tamu2 nya akan pulang.

Berbagai macam kue, dan buah2an mahal juga ikut di hidangkan.
Rahmat yang sedari tadi sibuk basasurungan (mengantar makanan) pun baru sempat kebagian makan. Ia mengambil beberapa macam masakan daging dan sepiring penuh nasi.

Ia makan di pojokan dengan sangat lahap, karena pada masa itu orang2 biasa sangat jarang sekali bisa makan daging
Kecuali saat hari raya idul adha ataupun ada orang kaya yang mengadakan acara2 tertentu, seperti pernikahan atau pun bahaul (memperingati hari dan tahun meninggalnya salah satu anggota keluarga mereka, maaf kalau salah. Om kurang tau bahasa indonesianya apa untuk bahaul itu).
Sekitar pukul 10 malam, setelah menyelesaikan tugas2nya. Rahmat pun menemui pak Karna untuk berpamitan.

"Rusdah.. Bungkuskan daging dan nasi nya untuk Rahmat ya." Ujar pak Karna seraya mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku baju nya
Sesuatu yang sangat ditunggu2 oleh Rahmat.

"Terima kasih ya Mat. Oh iya. Ini upahmu sekalian untuk 3 bulan ke depan." Kata Pak Karna

Amplop itu lumayan tebal, Rahmat dengan tangan gemetar menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.
Dari arah dapur Acil Rusdah keluar membawa beberapa bungkusan plastik yang berisi nasi dan daging.

"Terima kasih banyak ya pak. Saya berjanji akan kerja dengan sungguh di rumah bapak. Sekali lagi terima kasih banyak pak." Ucap Rahmat
Pak Karna mengangguk dengan bibir tersenyum

Rahmat berjalan pulang dengan langkah tergesa. Ia sudah tak sabar untuk membuka amplop yang di berikan oleh pak Karna tadi.
Angin dingin berhembus, menerbangkan debu2 yang ada di jalan.
Membuat mata Rahmat sedikit terasa perih karena kemasukan debu.
Saat ia berjalan melewati jalanan di dekat kebun pisang. Rahmat melihat seseorang tengah berdiri mematung di pinggir jalan.

Karena gelap ia pun tak bisa mengenali orang tersebut. Sehingga membuatnya harus mendekati orang itu yang ternyata adalah paman Husin.
"Paman mau kemana?" Tanya Rahmat

Namun paman Husin sama sekali tak menjawab, ia tetap berdiri mematung.

"Saya baru pulang dari rumah pak Karna paman. Kenapa paman tadi tidak datang kesana?" Ujar Rahmat kembali bertanya
Akan tetapi sama sekali tak ada jawaban dari paman Husin, yang membuat Rahmat merasa aneh.

"Saya permisi dulu ya paman." Ucap Rahmat akhirnya lalu meneruskan langkah nya untuk menuju kerumahnya
"Aneh, tidak biasanya orang tua itu tak menjawab pertanyaan ku. apa paman Husin sedang ada masalah ya." Gumam Rahmat
Sesampainya di rumah, ternyata keponakan2 nya sudah pada tertidur, sedangkan kakak2 dan ipar2nya sedang mengobrol di tengah ruangan.

Melihat Rahmat yang datang membawa banyak sekali makanan, kakak perempuannya pun langsung ke dapur untuk mengambil piring.
"Wah tidak rugi dari subuh sampai malam kau di sana mat," Canda iparnya

"Ma, bah. Tuh Rahmat mambarakat, banyak sekali dia bawa makanan ma, bah. Yuk kita makan dulu. Takutnya nanti basi kalau tidak di makan." Ujar kakak perempuan nya Rahmat
Sementara Rahmat, setelah meletakkan bawaan nya, ia langsung masuk kedalam kamar.

Perlahan2 di bukanya amplop yang nampak tebal tersebut. Dan ternyata amplop itu berisi 9 lembar uang 50.000 an bergambar WR.Soepratman.

Rahmat segera membacakan sholawat pada uang tersebut
Dengan suara bergetar. Ia menciumi uang2 tersebut dengan air mata yang menetes. Tak percaya rasanya ia bisa memegang uang sebanyak itu.

"Mat.. Kau tak ikut makan nak.?" Tanya ibunya

"Masuk ma." Panggil Rahmat sembari mengusap air matanya
Setelah ibunya masuk, Rahmat menceritakan dengan antusias akan tawaran kerja dari pak Karna, dan upah yang baru saja ia terima untuk 3 bulan kedepan.

"MasyaAllah, baik sekali pak Karna ya Mat. Upah juga malah di bayar lebih dulu. Memang juragan itu orang yang baik
Dan sepertinya beliau itu tak mau mengambil hak milik orang lain. Kau harus bersungguh2 kerja di situ mat. Jangan buat juragan kecewa."kata ibunya
"Pasti ma. Aku akan memberikan yang terbaik untuk juragan. Aku juga sudah berjanji untuk kerja sungguh2 di sana. Kalau bisa untuk selamanya." Ucap Rahmat

"Oh iya ma, mumpung aku ada uang. Ini ambilah untuk uma dan abah, belikan baju ma, juga sarung abah
Yang sudah sobek."kata Rahmat memberikan 2 lembar uang 50.000 an tersebut

Ibunya tersenyum dan menatap bangga pada putranya itu.

"Terima kasih ya mat. Uang ini akan uma pergunakan sebaik2nya." Kata ibunya seraya beranjak dari duduknya dan memasukkan uang tersebut
Kedalam salipi (sebutan untuk dompet kecil di beberapa daerah yang ada di kalimantan) lalu memasukkan salipi tersebut kedalam bajunya dan menusukkan dengan cuk baju di tali Kutang agar tak jatuh ataupun hilang.
------
Keesokan harinya, Rahmat pagi2 sekali selepas sholat subuh langsung pergi kerumah pak Karna. Ia membawa parang dan dan seceret air putih.

Sesampainya di rumah tersebut, Rahmat langsung memotong rumput2 di sekeliling rumah tersebut.

Hingga saat pak Karna keluar rumah
Ia kaget ketika melihat Rahmat sedang memotong rumput2 yang mulai panjang di halaman rumahnya.

"Benar2 pemuda yang rajin kau ini mat. Bahkan Sebelum matahari muncul, kau sudah bertempur dengan rumput2 liar itu." Puji pak Karna
Rahmat tersenyum malu2 mendengar perkataan sang Juragan.

"Hehe. Iya pak. Biar selesai ini bisa bantu2 acil Rusdah di dapur." Jawab Rahmat
"Ya sudah, aku mau keliling2 dulu, olah raga." Kata pak Karna setelah anak dan istrinya keluar dari dalam rumah lalu mereka pun mulai berjalan kecil meninggalkan halaman rumah
Sekitar pukul 8 pagi, Rahmat sudah menyelesaikan pekerjaan nya memotong rumput. Dan di lanjutkan dengan membantu acil Rusdah meletakkan piring2, bekas selamatan kemarin kedalam ruangan penyimpanan.
"Rahmat, kau sudah sarapan?" Tanya pak karna

"Sudah pak, baru saja." Jawab Rahmat pelan

"Oh iya mat, nanti malam kemungkinan pohon2 bunga yang ku beli akan datang. Jadi besok tolong tanam pohon2 itu ya mat." Kata pak Karna

"Siap pak. Nanti setelah ini saya gali tanahnya dulu
Jadi biar besok tinggal tanam."

"Tidak usah terburu mat. Nanti kau kelelahan."

Selepas maghrib Rahmat pulang, baju nya yang tadi basah oleh peluh, mulai mengering karena angin segar yang berhembus tanpa henti.
Malam itu tidak seperti biasanya, jalanan sangat sepi, tak ada orang2 yang pulang dari kebun atau pun sawah.

Sesampainya di rumah, Rahmat di kagetkan dengan kabar duka dari Paman Husin yang ternyata sudah meninggal tadi malam sekitar pukul 9 malam.
Dan orang tua Rahmat baru saja mengetahui nya tadi pagi.

Rahmat tertegun, nafas nya mulai terasa sesak.

"Kalau paman Husin meninggal jam 9 malam, lalu siapa yang aku lihat tadi malam.?" Batin Rahmat, itu adalah kali pertama dalam seumur hidupnya mengalami kejadian
Seaneh itu.

"Mat, kenapa kau bengong begitu.?" Tegur ibunya

Rahmat menggeleng, ia enggan menceritakan apa yang sudah ia alami pada ibunya.

"Berarti jenazahnya sudah di makamkan ma?"

"Iya, abah mu baru saja berangkat ke sana untuk manurun tanah." Jawab ibunya
Rahmat kembali termenung, ia begitu sangat tidak menyangka. Padahal baru kemarin ia bertemu dengan paman Husin.

-----
Seperti biasa, Rahmat berangkat pagi2 sekali sudah berada di rumah pak Karna. Pohon2 bunga yang datang cukup banyak sehingga lubang2 yang di buat
Rahmat kemarin masih kurang jumlahnya.

Hari itu pak Karna dan istrinya kembali berolahraga.

"Aku senang dengan semangat pemuda mu itu mat. InsyaAllah kau akan menjadi orang yang sukses nantinya." Kata pak Karna
"Aamiin. Semoga saja pak." Ucap Rahmat tersenyum

Tidak berapa lama setelah kepergian pak Karna dan istrinya, datang seorang perempuan yang sepertinya berusia tak jauh beda dari sang juragan.
"Dimana karna?!" Tanya perempuan itu dengan nada yang sedikit membentak

Senyum di bibir Rahmat perlahan2 hilang,

"Juragan sedang jalan2 pagi." Jawab Rahmat pelan
"Cepat susul dia, dan suruh untuk segera pulang!"

"Tapi, tapi bu saya.."

"Jangan membantah! Lakukan saja apa yang kusuruh.!" Bentaknya
Rahmat menghela nafas panjang, lalu sesaat kemudian ia berlari pergi untuk mencari pak Karna dan Istrinya.

"Siapa sih ibu2 itu. Wajahnya jutek dan cara ngomongnya juga kasar sekali." Rahmat membatin
"Loh. Rahmatt.. Kau mau kemana?" Panggil seseorang dari arah kebun tebu, yang rupanya adalah pak Karna dan istrinya

"Saya disuruh mencari bapak dan ibu." Jawab Rahmat seraya berlari mendekat kearah pak Karna
"Disuruh siapa? Anakku?" Tanya Istri pak Karna

"Bukan bu, tapi, seorang ibu2. Dia datang kerumah dan mencari bapak." Jawab Rahmat

Pak Karna mengerutkan keningnya, mereka berdua saling bertatapan.

"Siapa ya?" Tanya pak Karna

Istrinya menggeleng.

"Ya sudah,
Kamu tunggu disini ya mat, tadi aku beli tebu. Sekalian nanti kalau kamu pulang kerumah, bawakan tebunya ya."ujar pak Karna

"Oh ya, tebu nya sudah ku bayar." Lanjut pak Karna

"Baik pak." Jawab Rahmat
Setelah itu pak Karna dan istrinya pun berjalan pulang.

Sementara Rahmat duduk di atas dedaunan tebu yang sudah mengering. Ia menunggu pemilik tebu yang sedang mencarikan tebu2 manis untuk sang juragan.
Tidak berapa lama kemudian, Rahmat pun kembali kerumah pak Karna sambil memanggul Tebu2 berkulit merah tersebut.

(Yang minat sama bajakah untuk obat kanker dll, atau akar2an untuk mengobati sakit pinggang dan untuk memperkuat kejantanan, ada di om ya. Om juga punya
Beberapa minyak asli kalimantan, yang khasiatnya beragam. Ada penglaris usaha / penarik rejeki. Penunduk lawan bicara (bagus buat yang sering bermasalah sama bos atau pun untuk urusan2 bisnis). Pemikat lawan jenis. Dan membuat kita disukai banyak orang. Kalau berminat
Dan kalau ada yang mau curhat dan minta saran berbayar. Hubungi om lewat DM atau WA di : 0856 5403 7262.
Terima kasih)

Saat ia memasuki halaman rumah, ia berpapasan dengan perempuan tadi. Buru2 Rahmat menunduk dan meneruskan langkahnya.
Saat Rahmat masuk melalui pintu dapur, terdengar suara benda pecah dan teriakan dari istrinya pak Karna.

"Ada apa cil?" Tanya Rahmat pada Acil Rusdah
"Tidak tau mat. Sepertinya sedang berkelahi." Bisik acil Rusdah

"Semoga semuanya baik2 saja ya cil." Kata Rahmat sembari menyeka keringat nya dengan punggung tangan
"Aamiin.."

Siang itu makanan di meja yang di hidangkan Acil Rusdah sama sekali tak tersentuh. Pak Karna terlihat duduk di ruang tengah sambil memijit2 kepalanya.
Wajahnya terlihat sangat dingin, tidak seperti biasanya.

Rahmat sendiri pun tak tau apa penyebab majikan nya tersebut begitu.
Beberapa saat kemudian, terlihat istrinya menuruni anak tangga dengan membawa sebuah tas besar.
Rahmat yang sedang menyapu lantai, dibuat deg2an melihat hal itu.

"Ya Allah, apapun permasalahan pak Karna dan istrinya, semoga hubungan mereka baik2 saja. Jangan sampai terjadi perpisahan Ya Allah." Batin Rahmat
Pak Karna yang melihat istrinya akan segera pergi, bergegas menahan sang istri.

"Rahmaatt. Kunci pintunya.!!" Teriak pak Karna membuat Rahmat gemetar dan bergegas lari kearah pintu
Disambung nanti ya, baterai hp om mau di charger dulu. Maaf ya Image
Walau agak sedikit kesusahan Rahmat akhirnya berhasil mengunci pintu rumah tersebut.

Sementara pak Karna nampak sedang memelas2 pada istrinya agar tidak pergi kemana2.

"Buka pintunya matt!!" Teriak sang istri juraga dengan air mata deras mengalir
Meski gugup dan takut, Rahmat menunduk dan tetap berdiri di depan pintu.
Ia tau apa yang harus di lakukan nya, yaitu jangan sampai istri pak Karna tersebut berhasil keluar rumah.
Saking kesalnya, istri pak Karna membanting tas yang ia bawa. Lalu berlari menaiki tangga.

Pak Karna ikut menyusul dengan langkah tergesa. Takut jika istrinya berbuat sesuatu hal yang membahayakan.
Rahmat masih berdiri mematung sambil menggigit2 bibirnya ketika Acil Rusdah memanggil.

"Mat."

"Iya cil."

"Juragan kenapa?" Tanya Acil Rusdah

Rahmat menggeleng, ia sendiri pun tak tau penyebabnya, tapi kuat dugaan kalau perkelahian pak karna dan istrinya itu ada kaitan
Dengan perempuan berwajah jutek yang datang tadi. Entahlah, masalah orang kaya, terlalu rumit untuk di mengerti.

Menjelang jam pulang, Rahmat lama sekali menunggu pak Karna untuk pamit. Namun sang juragan itu sama sekali tak terlihat sejak tadi.
"Cil, aku pulang dulu ya. Sudah larut." Kata Rahmat akhirnya berpamitan pada acil Rusdah

"Iya mat." Jawabnya singkat

------
Keesokan harinya, seperti biasa. Selepas sholat subuh Rahmat sudah berada di rumah pak Karna.
Ia menyiram tanaman2 yang ada di halaman rumah tersebut.

Namun hari ini, sama sekali tak terlihat pak Karna dan istrinya yang akan berolahraga seperti hari hari biasanya.
Pikiran Rahmat cuma satu, yaitu 'mungkin mereka masih bertengkar.' Dan ia juga terus berdoa untuk kebaikan kedua majikan nya itu.
Sekitar pukul 10 pagi. Pak Karna turun dari lantai atas. Dan duduk di depan meja makan makan dengan raut wajah sedih.

"Mau kopi pak?" Tanya Rahmat

Pak Karna menggeleng, lalu mengajak Rahmat untuk duduk di dekatnya.
"Istri ku pergi meninggalkan kami mat. Dia pergi." Ucap Pak Karna Lirih terdengar

Rahmat tertegun, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Ia tak menyangka jika majikan perempuan nya akan benar2 pergi.

"Sabar ya pak, mungkin ibu cuma mau menenangkan pikiran nya saja. Nanti setelah keadaan nya tenang, ibu pasti kembali lagi ke rumah ini untuk bapak dan anak2." Kata Rahmat
"Aamiin."

"Oh iya besok atau lusa sayadan anak2 akan berangkat. Kalau sewaktu2 saya tidak ada di rumah dan istriku pulang, tolong beritahu dia untuk menunggu kami." Ujar pak Karna
"Iya pak pasti."

--------
Saat Rahmat baru sampai di rumah pak karna, ia melihat sebuah mobil sedan terparkir di halaman. Rahmat nampak terkagum2 melihat mobil tersebut.

"Mat. Tolong bantu saya angkatkan tas2 ini ke dalam mobil." Panggil pak Karna
Dengan cekatan, Rahmat langsung mengambil alih tas2 bawaan pak Karna dan anaknya lalu memasukkan nya kedalam mobil.

Pak karna rupanya tak menyetir sendiri, ia diantar oleh seorang laki2 yang baru pertama kali itu Rahmat Lihat.
"Saya pergi dulu ya mat, kalian baik2 disini ya. Kerjanya jangan terlalu capek, pikirkan kesehatan." Ujar pak Karna pada Art2 nya termasuk Rahmat
"Iya pak, semoga bapak dan anak bapak selalu sehat dan selamat sampai ketujuan. Selama bapak tidak ada, saya akan tidur disini buat jaga2 pak." Kata Rahmat

Pak Karna tersenyum lalu menepuk pelan bahu Rahmat sebelum ia masuk kedalam mobil.
Setelah mobil yang di naiki pak Rahmat itu pergi, suasana sepi dan hening mulai terasa. Acil Rusdah bergegas masuk kedalam rumah untuk melanjutkan pekerjaan nya.
Sementara Rahmat mulai menyapu seluruh ruangan yang ada di dalam rumah. Namun tidak seperti biasa, ruangan gudang yang berada di bawah tangga terkunci sangat rapat. Padahal peralatan kebun dan cangkul berada di ruangan tersebut.
"Cil, ruangan di bawah tangga itu di kunci ya?" Tanya Rahmat setelah berada di dekat acil Rusdah yang sedang mencuci pakaian
"Tidak. Aku tidak mengunci nya mat." Jawab acil Rusdah

Rahmat mengerutkan kening nya, apa mungkin pak Karna yang mengunci pintu gudang tersebut. Ah, kalau pun iya, untuk apa? Bukankah selama ia kerja disitu ruangan tersebut tak pernah terkunci. Rahmat membatin
"Aku mau ambil cangkul cil, untuk memindahkan pohon bunga kenanga ke halaman belakang."

"Coba cari kunci nya di gantungan dekat foto keluarga juragan di ruang depan." Ujar Acil Rusdah
Rahmat menurut, lalu pergi ke ruang depan guna mencari kunci ruangan yang ia butuhkan.

Di gantungan itu memang terdapat beberapa kunci, namun ketika satu persatu di cocokkan ke lubang kunci gudang, tak ada satupun yang cocok.
Akhirnya Rahmat menyerah dan memutuskan untuk memindahkan pohon kenanga yang masih kecil itu besok saja.

"Cil, aku mau pulang sebentar ya, nanti aku kemari lagi kalau sudah izin sama orang tuaku." Kata Rahmat
"Ya sudah. Tapi jangan lama2 ya mat. Takutnya aku ketiduran."

Rahmat pun berjalan pulang dengan langkah perlahan. Gerimis mulai turun malam itu. Cahaya kilat beberapa kali terlihat di langit.
Saat ia sampai di rumah, ternyata Ayahnya sedang sakit demam.

"Abah kenapa ma?" Tanya Rahmat

"Di gigit ular piyahe, untung cuma piyahe. Kalau mura (kobra) pasti sudah tak selamat." Jawab ibunya
"Piyahe bisa bikin sakit juga ya ma?"

"Bukan gigitan piyahenya yang bikin abahmu sakit. Tapi dia terjengkang di sawah saat melihat tangan nya di gigit ular. Kaget abahmu. Dan mungkin terjengkang nya itu yang bikin abahmu kapidaraan."
Rahmat hampir saja tergelak mendengar penjelasan ibunya.

"Ma, pak Karna dan anaknya sudah berangkat tadi pagi. Malam ini rencananya aku akan tidur di sana untuk jaga rumah. Apa boleh ma?" Tanya Rahmat
"Iya boleh mat. Tapi kamu mandi dulu gih. Habis itu makan. Jangan lupa sholatnya ya." Jawab ibunya

Rahmat mengangguk, lalu pergi dari situ untuk mandi.

Selesai memakai baju, ia berjalan kearah dapur dan membuka panci serta tudung saji.
Ternyata hari itu lauk makan nya sayur keladi, dan papuyu bakar juga sedikit sambal acan.

Rahmat mengambil sepiring nasi yang sudah mulai dingin lalu memberi sedikit kuah air panas kedalam piring nasinya.
Ia nampak makan dengan sangat lahap.

Selesai makan, dan akan bersiap berangkat ke rumah sang juragan, tiba2 turun hujan lebat di sertai angin yang sangat kencang.
"Hujan mat, tunggu teduh dulu baru pergi." Tegur ibunya, yang membuat Rahmat mau tak mau harus menunggu hujan reda terlebih dulu
Ia membuat segelas kopi panas, lalu duduk di dekat ipar2 nya.
Mereka mengobrol dengan sangat Akrab.
Hingga tak terasa, hujan pun mulai mereda.
Rahmat bergegas keluar rumah dan berjalan dengan sangat hati2 melewati jalanan becek di malam hari bekas hujan tersebut.

Sesampainya di halaman rumah pak Karna, Rahmat melihat sekelebat bayangan berjalan di teras atas/lantai dua.
"Cil.. Acil..." Teriak Rahmat memanggil sosok tersebut yang ia kira adalah Acil Rusdah itu

Dan saat matanya fokus ke atas, tiba2 pintu terbuka. Dan disana berdiri acil Rusdah yang memakai sarung di seluruh tubuhnya.
"Ada apa kau teriak2 mat.? Aku belum tidur dan juga tidak tuli." Ujar Acil Rusdah

Rahmat kembali menatap keatas, dan tak ada siapa2 disana.

"Kau mau masuk tidak?" Suara acil Rusdah mengalihkan kebingungan nya
"Tadi aku lihat ada orang di atas, aku kira itu acil." Kata Rahmat

"Ah, matamu itu mat, salah lihat. Orang acil sedari tadi duduk disitu tuh. Gak kemana2."
Deg.. Perasaan takutnya mulai terasa. Namun cepat2 ia tepis.

"Oh. Apa jangan2 ibu juragan sudah pulang cil?"

Acil Rusdah menggeleng, sambil menguap ia mengunci pintu rumah. Lalu pergi kedalam kamarnya yang terletak di dekat dapur.
Lalu beberapa saat kemudian ia keluar lagi sembari membawa kasur kapuk tipis untuk Rahmat.

"Nih tilam, sama bantal dan selimutnya. Aku tidur duluan ya mat, ngantuk." Ujar Acil Rusdah sebelum pergi
Rahmat tidur di dekat bangku rotan, ia menggelar kasur dan mulai membaringkan tubuhnya.

Dalam suasana remang2 seperti itu rasa kantuk mulai menyerangnya.
Dan untuk beberapa saat kemudian, ia pun terlelap.

Dini hari, Rahmat terbangun karena tubuhnya di goyang2 oleh Acil Rusdah.
"Ada apa cil?" Tanya Rahmat

"Ada orang di rumah mat. Tadi pas aku ke dapur aku melihat ada orang berdiri di depan gudang itu."

"Orang? Rumah dikunci kan?"

"Iya dikunci. Aku tidak tau kenapa bisa sampai ada orang masuk. Mungkin saja itu maling mat."
Mendengar kata maling, Rahmat sedikit khawatir.

Ia mengucek2 matanya dan berjalan pelan ke arah gudang yang di maksudkan acil Rusdah.
"Kita periksa dulu ke sekeliling rumah mat biar gak was2."

Semua ruangan serta pintu dan jendela yang ada di rumah itu aman2 saja. Tak ada tanda2 orang masuk.
"Aman cil. Tidak ada tanda2 maling." Kata Rahmat yang membuat acil rusdah bisa bernafas lega

-------
Tak terasa hari demi hari sudah berlalu, 4 hari sudah semenjak kejadian aneh di malam itu.
Acil Rusdah dan Rahmat terlihat sedang berada di depan pintu gudang yang terkunci.
Ada aroma2 tak sedap dari dalam ruangan tersebut yang mengganggu kedua nya.
"Aku tidak berani cil membuka paksa pintu itu." Ujar Rahmat

"Tapi aku penasaran dengan bau busuk ini mat,"

"Ah, paling juga bangkai tikus cil, maklumlah sudah 4 harian tak terbuka."

"Iya ya mat, mungkin tikus."
Malam harinya, mereka berdua duduk di atas meja makan sembari bercerita tentang kehidupan mereka masing2.
Tiba2 terdengar suara benda jatuh dari arah tangga.

Rahmat dan acil Rusdah bergegas berlari ke arah tangga.

Dan ternyata sebuah kursi yang harusnya berada di depan pintu kamar pak karna malah terjatuh ke lantai bawah.
Keduanya saling berpandangan, lalu Rahmat langsung berlari menaiki tangga karena mengira itu adalah ulah dari maling yang ingin menjarah barang2 yang ada di rumah itu.
Namun seperti yang sudah2, setelah di cek tidak ada tanda2 orang lain di dalam rumah itu.
"Aman mat?" Tanya Acil Rusdah yang menyusul nya keatas

"Aman cil. Pintu dan jendela masih terkunci."

"Semakin hari rumah ini rasanya makin aneh ya mat? Padahal semenjak pertama aku masuk kerja jadi pembantu disini, sama sekali tak pernah ada kejadian2 seperti ini sebelumnya."
Rahmat menggeleng pelan, sembari berkata "Entahlah, saya bahkan sudah berkali2 mengalami hal2 aneh semenjak mulai kerja disini."
Setelah merasa aman dan tenang, mereka pun memutuskan untuk tidur. Karena mata keduanya sudah mulai terasa berat.

Setelah menggelar kasur nya, Rahmat mulai memejamkan mata, dari arah luar terdengar suara hujan yang diiringi dengan suara petir dan kilat yang menyambar2.
(Suara ilustrasi)
Tepat tengah malam, Rahmat terbangun setelah sebelumnya bermimpi bertemu dengan pak Karna dan anak istrinya yang sedang berolahraga di sebuah tempat yang sangat aneh.
Keringat dingin membasahi tubuh dan wajah Rahmat.
Dan tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan dari arah kamar Acil Rusdah yang membuat Rahmat terkejut.
Meski kepalanya masih agak pusing, Rahmat langsung berlari kearah kamar acil Rusdah.

Beberapa kali ia mendobrak2 pintu kamar tersebut namun tak jiga di buka, sementara acil Rusdah masih berteriak2 histeris.
"Cil, cil.. Kenapa cil?? Cil. Buka pintunya.!"

Saat akan mendobrak pintu kamar tersebut tiba2 terdengar suara gedoran pintu dan jendela secara bersamaan dari segala arah.
"Siapa itu??!!!" Teriak Rahmat, meski ia tau suaranya tak akan tembus sampai keluar rumah

Braakkk...
Pintu kamar acil Rusdah terbuka.

Wanita itu nampak gemetar,

"Acil kenapa?"
"Ada perempuan mat. Dia masuk kesini. Dia mau menyakitiku. Dia membawa pisau." Ujar acil Rusdah dengan sangat gugup dan ketakutan
Rahmat masuk kedalam kamar tersebut, namun ia sama sekali tak menemukan siapa2 ada disitu. Bahkan jendela saja masih dalam keadaan terkunci dari dalam.

"Mungkin acil bermimpi. Soalnya tidak ada siapa2 di dalam." Kata Rahmat menenangkan
Acil Rusdah menggeleng, membantah semua perkataan Rahmat.

"Tidak mungkin aku bermimpi mat."

Alhasil, malam itu sampai adzan subuh berkumandang. Acil Rusdah ikut tidur di luar bersama Rahmat.
Selesai sholat Rahmat pun memulai pekerjaan nya membersihkan halaman dan menyapu rumah. Sementara Acil Rusdah masih duduk di teras sambil melamun.
---
Saat Rahmat akan pulang kerumahnya mengambil baju. Pasti acil Rusdah selalu berpesan untuk jangan lama2. Selalu begitu setiap harinya.

Mereka merasa keanehan2 yang terjadi di rumah sang juragan itu semakin lama semakin bertambah parah. Bahkan hampir setiap malamnya
Pintu rumah selalu di gedor2 dari luar oleh seseorang yang tidak mereka ketahui.
Dan ketika sudah hampir 1 bulan berlalu, beberapa warga mulai mengisukan bahwa sering melihat ibu juragan mondar mandir di luar rumah dengan wajah yang menunduk.
Namun ketika di dekati sosok yang mirip istri pak Karna itu langsung lenyap.

Bahkan parahnya lagi, ada yang secara terang2an mengatakan kalau dirumah itu ada hantunya. Yang tentu membuat Rahmat dan Acil Rusdah yang merupakan penjaga di sana menjadi ciut nyalinya.
-----
"Cil, sudah hampir sebulan aku tidur disini. Rasanya aku sudah rindu dengan kasurku dirumah. Kira2 kapan ya pak Karna pulang." Ujar Rahmat disuatu malam
Saat keduanya sedang menyantap makanan bersama

"Entahlah Mat, biasanya juragan itu kalau sudah pergi untuk urusan bisnis, bakal 2 sampai 3 bulan lamanya. Aku juga sering ditinggal berdua
Sama temanku yang berhenti itu. Tapi rumah ini masih dalam keadaan yang aman, tidak ada kejadian aneh2 seperti ini."

"Ya Allah. Mana ibu belum pulang juga. Aku mau pulang kerumah mesti khawatir, kaganangan, sama ini rumah dan isinya. Takut nya ada maling."
Gebraaaakkk.. Braaakk brakkk..

Mendengar suara itu, Rahmat otomatis menghentikan makan nya. Ia berlari kearah sumber suara. Sementara acil Rusdah yang sudah terbiasa dengan suara2 tanpa wujud tersebut cuma diam duduk di kursinya.
Beberapa saat kemudian, Rahmat kembali lagi seraya membawa sebuah kaki meja yang patah.

"Ada lagi?" Tanya Acil Rusdah

"Iya. Meja di atas." Jawab Rahmat
Setelah selesai makan, Acil. Rusdah lebih dulu menggelar kasurnya dan berbaring.
Sementara Rahmat mencuci piring2 kotor di dapur.
Baru saja selesai, Rahmat di kagetkan dengan suara gelas pecah dari arah belakang nya.

Dan ternyata Acil Rusdah sudah berdiri disana dengan tatapan tajam menakutkan menatapnya.
"A, acil."

Sreeeeetttt.. Bekas gelas kaca itu melukai leher Rahmat, darah mulai merembes keluar membasahi bajunya.

Rahmat seketika panik dan ketakutan melihat banyak nya darah yang keluar.
Kakinya seketika langsung terasa lemas, lalu tubuh Rahmat ambruk jatuh kelantai dengan posisi tertelungkup.

Saat ia terbangun, Rahmat melihat sudah banyak sekali orang2 berada di sekitarnya. Termasuk orang tuanya
"Syukurlah kau tak apa2 mat. Uma khawatir sekali dengan keadaanmu." Ucap sang ibu

"Rusdah menemukan mu sudah dalam keadaan tak sadarkan diri di dapur. Dia berteriak dari rumah ke rumah meminta tolong. Sampai akhirnya mereka membawamu kemari mat."
Rahmat menelan ludahnya yang terasa pahit, entah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri.

"Acil, acil rusdah dimana?" Tanya Rahmat

"Terakhir kemarin dia bilang ingin berhenti kerja di rumah juragan. Dia cuma bilang begitu. Dan karena abahmu takut rumah juragan tak
Ada yang jaga, akhirnya ia dan iparmu yang jaga di sana."

Rahmat menghela nafas lega.
Luka di lehernya masih terasa sakit, untung saja luka nya tidak terlalu parah.
----
Keesokan Harinya, Rahmat menyusul sang ayah dan ipar nya ke rumah Pak Karna.

Setelah sampai di sana rupanya sang ayah sedang menyapu halaman rumah tersebut.
Melihat kedatangan Rahmat, ayahnya terlihat langsung mengembangkan senyum.

Malam harinya, mereka bertiga duduk di tengah rumah tepat di atas susunan kasur.
"Mat, di dalam gudang itu ada apa sih? Aku pernah melihat perempuan masuk kesitu. Jleeb gitu aja nembus pintu." Ujar iparnya
"Iya mat, abah juga beberapa kali melihat perempuan di lantai atas. Beberapa barang juga sering jatuh dari atas. Apa kamu juga pernah mengalami yang seperti itu?"

Rahmat menghela nafas panjang, lalu kemudian ia menceritakan apa yang sudah pernah ia alami di rumah itu dari awal.
"Tapi gudang itu isinya cuma sebagian barang2 yang masih baru atau yang jarang dipakai. Disimpan disitu. Tidak ada yang aneh. Aku sering masuk kesana sebelumnya." Kata Rahmat
"Lalu kenapa di kunci?" Tanya iparnya

Rahmat menggeleng, ia sendiri pun tak tau alasan kenapa gudang itu di kunci saat pak Karna pergi.
"Kira2 kapan pak Karna pulang kesini lagi?"

"Aku tidak tau, beliau cuma bilang mau pergi. Tidak bilang kapan akan kembali." Jawab Rahmat
-----
Hari2 terus berganti. 2 bulan sudah pak Karna tak pulang. Bahkan kabar dari istrinya pun tak pernah ada.

Dan selama itu pula lah, Rahmat dan keluarganya bergantian berjaga di rumah tersebut.
Namun suatu hari, iparnya jatuh sakit setelah pulang dari rumah pak Karna.
Dan malam itu ayahnya tak bisa menemani Rahmat berjaga karena harus berjaga di ladang.
Jadilah malam itu Rahmat sendirian di rumah besar tersebut.
Beberapa kali ia mencoba memejamkan matanya, namun tak sedikitpun ia terlelap. Rasa was2 dan takut sangat kuat ia rasakan.

Di tambah lagi suara2 tanpa wujud seperti berlarian di sekitarnya.
Krek krek.. Suara gagang pintu di otak atik oleh seseorang.

Rahmat berjalan dengan perlahan ke sumber suara yang ternyata berasal dari dalam gudang.
Jantung Rahmat mulai berpacu dengan sangat cepat. Deg deg deg.

Ia berdiri mematung menatap kearah pintu untuk beberapa saat, hingga terdengar suara tawa cekikikan dari lantai atas.
Suara itu mirip sekali dengan suara tawa anaknya pak Karna.

Bulu kuduknya langsung meremang, sekujur tubuhnya terasa dingin dan gemetar.

Tanpa pikir panjang, Rahmat lari terbirit2 kearah pintu utama. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu tersebut.
Dan setelah berhasil, ia lari meninggalkan rumah itu. saat ia kembali menoleh kearah teras lantai dua, terlihat 2 sosok yang tengah berdiri sambil menatapnya yang sepintas sangat mirip dengan sang juragan.
Setelah kejadian malam itu, Rahmat jatuh sakit selama seminggu. Dan selama seminggu itu pula ayahnya lah yang menggantikan Rahmat bekerja di rumah besar milik sang juragan tersebut. Namun hanya disiang hari.
Karena saat malam, ayahnya Rahmat akan berjaga di ladang.

"Aku tidak berani tidur di rumah itu lagi ma. Aku takut." Ujar Rahmat pelan
"Uma dan abah tak pernah memaksamu untuk tidur di sana mat. Yang terpenting sebelum kau pulang. Pastikan pintu dan jendela terkunci dengan rapat, karena menjaga milik orang itu tanggung jawabnya sangat besar."

"Iya ma."
Dan semenjak hari itu, Rahmat sudah tak berani lagi untuk tidur di rumah pak Karna.
Isu2 mulai beredar luas tentang rumah pak Karna. Juga tentang ketidak pulangan sang juragan.
Ada yang mengatakan kalau
Pak karna sudah resmi pindah, atau sudah beristri lagi. Bahkan isu yang paling parah adalah yang mengatakan kalau pak Karna kecelakaan dan meninggal bersama anak istrinya.
Padahal tanpa mereka ketahui cerita sebenarnya adalah pak Karna hanya berangkat berdua dengan anaknya. Sementara istrinya sudah pergi lebih dulu meninggalkan sang juragan dan anaknya dengan sebab dan alasan yang sampai sekarang tidak diketahui.
Lalu tentang rumah pak Karna yang mulai di rasa angker, orang2 berpendapat kalau itu ulah dari jin pesugihan yang di pelihara oleh keluarga pak karna, dan karena pak karna beserta keluarganya tak pernah kembali, makanya jin itu mulai keluar untuk mencari
Makanan nya.
Entahlah, Rahmat sendiri tak yakin kalau pak Karna melakukan pesugihan. Karena seperti yang ia tau jika orang melakukan pesugihan biasanya mereka akan menjadi sangat pelit sekali.
Berbanding terbalik dengan pak Karna yang Royal.

1 tahun sudah berlalu. Kini Rahmat sudah mempunyai pekerjaan lain. Sehingga membuatnya hanya sekali2 saja menjenguk atau membersihkan rumah sang juragan yang mulai terbengkalai.
Ia sama sekali tak berani memindah barang2 berharga di rumah tersebut ke ruangan yang lebih aman. Sehingga ia hanya menutupi barang2 di sana dengan kain2 bekas agar tak berdebu.
Halaman rumah yang dulu nya masih terawat, kini pohon2 bunga nya serta rumput2 sudah mulai meninggi.

Rahmat terpaksa mencari pekerjaan karena ia juga butuh uang untuk bertahan hidup.
Sementara pak Karna tak pernah lagi terdengar kabarnya semenjak ia pergi, begitu juga dengan istrinya yang entah dimana keberadaan mereka sekarang.
Hari itu, adalah hari dimana Rahmat muda, akan pergi merantau ke sebuah tempat pertambangam emas milik warga lokal yang ada di kalimantan.
Sebelum pergi, ia pergi ke rumah sang juragan, seharian ia bekerja membersihkan halaman rumah dan menyapu seluruh lantai di dalam rumah.
Ia juga menambah beberapa kunci tambahan di sekitar pintu dan jendela agar jika nanti ia pergi, rumah juragan itu tak di bobol maling.
Saat hari sudah mulai gelap, Rahmat menuruni tangga rumah tersebut, dan saat menoleh kearah pintu gudang, terlihat sekelebat bayangan seseorang.

Rahmat berjalan pelan kearah pintu gudang, ada suara2 aneh yang ia dengar dari dalam. Perlahan2 menempelkan telinganya di daun pintu
Gudang yang masih tertutup. Terdengar suara seperti ada yang memukul2 / membongkar lantai gudang di dalam.

Brak brakk.. Rahmat memukul2 pintu tersebut. Lalu kembali menempelkan telinganya di pintu.
Dan suara yang tadi ia dengar, mendadak lenyap.

Rahmat menghela nafas lega, dan ia berpikir kemungkinan itu hanyalah ulah dari tikus2 yang sudah membuat markas di dalam gudang tersebut.
Saat akan berjalan keluar. Rahmat mendengar suara isak tangis seseorang dari dalam gudang, saat itu keadaan di rumah tersebut sudah lumayan gelap karena hanya ada satu penerangan yaitu lampu yang di bawa oleh Rahmat.
"Aku kemari hanya untuk merapikan rumah ini. Dan menambah kunci2 pengaman. Karena besok aku sudah harus berangkat kerja ketempat yang jauh. Tak ada niatku mengganggu atau mengusik kalian. Tolong jangan ganggu aku." Ujar Rahmat
Suara tangisan itu menghilang, tapi berganti dengan suara barang2 terpelanting. Beberapa lampu terjatuh dari atas dan mengenai kepala Rahmat.

Merasa keadaan sudah tak aman baginya, Rahmat langsung berlari kearah pintu, namun pintu itu rupanya terkunci. Dan kuncinya entah
Berada di mana.

Saking takutnya, Rahmat sampai menangis sambil terus berusaha membuka pintu dengan paksa.

"Allahuakbar."
Tak henti2nya takbir, sholawat dan doa2 keluar dari mulut Rahmat.

Sampai2 ia tak sadar ada sesosok laki2 yang berdiri di atas tangga tengah memperhatikan nya dengan dua mata merah menyala.
Dan untung nya saat itu dari arah luar rumah terdengar suara orang tuanya.

Saat pintu rumah terbuka, tubuh Rahmat langsung ambruk.
Tubuhnya terasa lemas, namun begitu iaasih bisa mendengar perkataan2 orang tuanya yang sangat khawatir dengan dirinya.

-------
Rahmat di perantauan, seringkali bermimpi tentang pak Karna yang berdiri menatapnya dengan wajah pucat.
Dan ketika ia terbangun, ada perasaan aneh merasuk dalam dirinya.
Ia sedikit kepikiran dengan rumah itu. Apakah masih aman2 saja dari para maling.
Ataukah barang2 berharganya sudah dijarah, mengingat pada masa itu hanya orang2 kaya yang memiliki televisi dan barang2 berharga lain nya.
------
2 tahun kemudian, Rahmat sudah memiliki istri. Ia masih bekerja di tambang emas lokal.

di tahun ke 7, ia serta anak dan istrinya pun pulang ke kampung halaman Rahmat.
Ayahnya sudah meninggal, dan ibunya juga sakit2an.
Rahmat di berikan kepercayaan untuk mengelola
Sawah serta ladang milik almarhum ayahnya.

Dan selama hampir 10 tahun lebih itu pula lah, pak Karna dan keluarganya tak pernah kembali lagi kerumah mereka. Dan sekarang rumah itu benar2 sudah terbengkalai, beberapa jendela sudah di bobol maling, dan barang2
Yang sebelumnya tersusun rapi, kini sudah berantakan di mana2.
Rahmat pun sudah tak berani lagi untuk masuk kedalam rumah, karena beberapa kejadian dulu membuatnya cukup ketakutan jika harus seorang diri masuk kedalam.
Dan sampai sekarang tak ada satu pun keluarga pak Karna yang datang untuk merenovasi rumah ataupun menempati rumah tersebut.
Selama bertahun2 terbengkalai tak terurus, bangunan megah itu kini mulai rusak perlahan2. Keindahan nya sedikit demi sedikit terkikis oleh waktu.
Pak karna, Entah dimana dan kemanakah beliau pergi? Apakah yang di katakan orang2 kalau beliau sudah meninggal karena kecelakaan itu benar? Waallahualam, tak siapapun ada yang tau.
Dan menurut orang2 yang pernah masuk kesana dengan maksud jahat, pasti akan diganggu oleh mereka yang tak kasat mata, lalu pulang dari sana mereka akan jatuh sakit. Ada yang bilang pernah melihat bapak2 mirip pak Karna, dan ada juga yang mirip istri serta anak2nya.
-----
"Sampai sekarang, saya tidak berani masuk seorang diri kedalam rumah itu. Meski di halaman nya saja. Hawanya sudah terasa sangat berbeda." Kata Pak Rahmat mengakhiri ceritanya

Ia menyeruput kembali kopinya yang sudah mulai dingin,
Di hari kedua ini, om juga membawakan sedikit bingkisan untuk beliau yang sudah berbaik hati mau menceritakan pengalaman menyeramkan yang pernah beliau alami dan mengijinkan om rasth menuliskan nya menjadi sebuah thread disini.
------
Besar rasa terima kasih om untuk semua ponakan2 yang sudah menyawer / berdonasi untuk om. Buat semuanya yang sudah mendukung om, om ucapkan Terima Kasih yang Sebesar2nya.🙏
Donasi melalui pulsa : 0856 5403 7262
Donasi melalui rekening, Ini nomor rek-450301013682538
Bank BRI-
Atas nama- Rudisugara

Donasi saweria : saweria.co/donate/Omrasth…
Sekali lagi om ucapkan Terima Kasih Banyak😇🙏
Dan sampai sekarang pintu gudang itu tak pernah di buka ya. Dan isinya pun tak pernah diketahui apa hingga sekarang. Jujur om juga penasaran, cuma sayang tidak diijinkan untuk membuka pintu tersebut.
Karena pak Rahmat masih memegang teguh janjinya
Untuk menjaga bangunan itu dan berharap jika Suatu saat nanti anak keturunan pak Karna akan kembali lagi kesana.
---SELESAI---

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with OM RASTH

OM RASTH Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @rasth140217

28 May
RITUAL KASUGIHAN (DI PERINTAH UNTUK MENYET*BUHI 41 GADIS PERAWAN UNTUK RITUAL PESUGIHAN)

#bacahoror
#bacahoror
#threadhorror

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Mendengar kata pesugihan, tentu nya kita sudah tak asing lagi bukan?
Ada berbagai macam jenis dan ritual yang harus di penuhi sebagai syarat agar bisa menjadi kaya raya dengan Instan.
Ada pesugihan putih yang di antara syarat2nya di haruskan membaca surah2 tertentu, puasa
Dan sholat tak lepas waktu.
Adapun pesugihan hitam adalah pesugihan yang meminta tumbal, tumbal sendiri ada yang berasal dari anak ataupun istrinya dan ada pula yang berupa musuh juga orang lain/orang yang tidak dikenal.
Biasanya tergantung jenis pesugihan dan dukun nya.
Read 325 tweets
21 May
DENDAM ORANG KETIGA
ዕቿክዕልጠ ዐዪልክኗ ጕቿፕጎኗል

#bacahorror
#bacahoror
#omrasththread

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Cerita ini sudah mendapatkan izin dari pemilik sebenarnya (narasumber) untuk di tuliskan menjadi sebuah thread. Hanya saja, seperti hal nya yang sudah2 nama dan tempat dalam cerita harus di sensor demi keamanan dan kenyamanan si narasumber.
"Indung.." Panggil seseorang dari arah belakang

Seorang wanita berusia 23 tahun itu menengok ke arah suara orang yang memanggilnya tadi, ternyata ada seorang laki2 yang kira2 berusia 24/25 tahunan tengah menatapnya sambil tersenyum.
Read 393 tweets
14 May
𝐅𝐀𝐍𝐀𝐓𝐈𝐊

#bcahorror
#bacahoror
#threadhorror

(Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat dalam cerita ini)

Gambar hanya ilustrasi Image
Bermula pada kematian seorang pemuda pemabuk yang kerap kali meresahkan warga.
Kedua orang tuanya adalah petani yang hidup dalam kesederhanaan di desa tersebut.
Pemuda itu bernama Ali (nama samaran), dia meninggal pada saat mengendarai sepeda motor pulang dari tempat nongkrong mabuk2an bersama teman2 nya.
Read 123 tweets
9 May
PAMALI ( Larangan Menjelang Pernikahan )

#bacahoror
#bacahorror
#omrasth

(Gambar hanya ilustrasi) Image
Kalimantan Tengah.

Ini cerita dari salah satu tetangga Paman sepupunya Om rasth.
Kita sebut saja namanya Tomi, usianya sudah menginjak 25 tahun kala itu. Dia merupakan seorang pekerja di taksi air, mesin motor.
Yang berminat sama akar bajakah untuk obat. juga akar untuk kejantanan pria Dan minyak2 asli kalimantan, bisa Langsung DM atau WA om Rasth- 0856 5403 7262

Om punya beberapa minyak, buat pagar diri, membersihkan tempat usaha dll. Pelaris usaha, dan untuk memikat lawan jenis. Juga
Read 89 tweets
4 May
𝙳 𝙾 𝚂 𝙰

#bacahorror
#bacahoror
#threadhorror

( Cerita ini di tuliskan, bukan untuk menyindir atau menyinggung pihak manapun, bila ada kesamaan nama tokoh dalam cerita, Om ucapkan maaf yang sebesar2nya🙏 )
(Gambar hanya ilustrasi) Image
Kisah yang akan om ceritakan ini, sudah mendapat izin dari narasumber. cerita2 seperti ini sudah banyak terjadi di kalangan masyarakat. Tapi yang om tulis kali ini merupakan pengalaman dari salah satu orang, yang tidak mau di sebut kan nama nya.
Oke, kita mulai ya.

---------------

Beberapa ibu2 yang sedang memilih2 ikan dari pedagang ikan keliling rupanya sedang asyik menggunjing dengan raut wajah serta tatapan yang sepertinya sangat tidak suka pada keluarga yang sedang mereka bicarakan.
Read 164 tweets
1 May
𝘔𝘌𝘔𝘉𝘜𝘒𝘈 𝘔𝘈𝘛𝘈 𝘉𝘈𝘛𝘐𝘕 ( INGIN MENJADI INDIGO )

#bacahorror
#bacahoror
#threadhorror

Kisah Nyata 4 Orang Remaja yang ingin sekali menjadi Indigo. Namun semuanya berakhir dengan kematian.
( Gambar Hanya Ilustrasi )
Sebelum memulai ceritanya, Marilah luangkan waktu sebentar untuk mendoakan 3 remaja yang menjadi korban. Semoga mereka tenang di alam sana, dan semoga mereka di berikan Rahmat oleg Allah SWT. Aamiin🤲

--------
Cerita ini om tuliskan setelah mendapat izin dari Narasumber.
Kisah ini bermula pada keempat Remaja, 3 perempuan dan satu laki2. Mereka adalah sahabat sejak kecil sampai usia mereka sudah menginjak 14 tahun.
Read 69 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(