“Dulu, ada warga di sini meninggal, tapi hidup lagi. Orang-orang taunya dia mati suri, padahal yang hidup lagi itu pocongnya! Awalnya nggak ada yang tau, termasuk keluarganya yang tinggal serumah"--Narasumber
Akhirnya, hadiah dari berkunjung ke rumah seorang budayawan sepuh ini sudah bisa saya bagikan.
Kali ini tentang pocong, tapi bisa dipastikan 'bukan pocong biasa'.
Silahkan tandai, markah, atau RT judul thread di atas agar tidak hilang, sebentar lagi kita mulai.
Desclaimer:
Segala nama tokoh, bentuk dan detial dalam cerita telah disamarkan untuk menjaga privasi narasumber dan pihak-pihak yang terlibat dalam cerita.
Bagi kalian yang menyadari segala bentuk 'clue' dalam cerita ini, harap menyimpannya untuk diri sendiri saja.
Kita mulai pelan-pelan ya
-----
Rumah Pocong Sura - Chapter 1!
"Musnahkan saya, atau kalian mati"
Perjalanan menyusuri ketinggian Bandung Selatan kala itu berbeda dari biasanya. Memasuki jalan menanjak, keelokan kebun teh di sekeliling tebing dangkal disembunyikan oleh kegelapan langit.
Bias cahaya bulan sebagai satu-satunya sumber penerangan bahkan tak mampu menembus lebatnya daun-daun pohon rimbun berakar besar nan menjalar.
Aku dan Tim hendak berkunjung ke rumah seorang budayawan sepuh untuk tujuan riset, ini kali pertama kami mengunjungi rumah beliau yang letaknya berada di sebuah desa di ketinggian Bandung Selatan.
Tentu tak bisa kusebutkan secara spesifik lokasinya, namun kalian yang tinggal di sekitar Bandung, pasti tak asing dengan tempat yang terletak di antara hamparan kebun teh dan hutan-hutan yang terbilang masih perawan—
tempat ini juga dikenal memiliki histori sejarah yang berkaitan dengan era Kolonial Belanda di tanah pasundan.
Selain karena budaya penghormatan leluhur yang masih dipertahankan, lokasi desa yang berada di tengah-tengah alas yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota menjadikan tempat ini begitu eksotis kala siang, namun diselimuti misteri ketika malam menjemput.
Sensasinya berbeda—kala malam, tempat ini tetap eksis dengan ‘kehidupan lain’ yang bahkan bisa dibilang lebih ramai dari kehidupan manusia bernyawa kala matahari bersinar.
Tak ada bunyi selain suara serangga yang terdengar nyaring. Senyap pun semakin terasa ketika hawa dingin seketika membekap bersama kabut yang turun menghalangi jarak pandang. Kami berhenti di batas masuk gapura desa.
Walaupun sudah dekat dengan tempat yang dituju, namun kami tidak ingin mengambil resiko, tebalnya kabut cukup membahayakan apabila tetap melanjutkan perjalanan, terlebih tak satu pun dari kami mengetahui medan jalan.
Mobil terparkir menepi, aku dan eza turun untuk membakar sebatang rokok. Sepanjang mata memandang terlihat hamparan kebun teh menurun namun diantara kabut samar-samar tertangkap satu objek yang menarik mata—
sebuah rumah tua yang menjadi satu-satunya bangunan berdiri di tengah-tengah kebun. Aku menduga itu adalah rumah kosong karena tak ada satu pun lampu yang menyala.
Namun dari balik jendela-jendela besarnya aku seperti melihat satu sosok tengah berdiri menatap ke arah kami. Rasa penasaran tanpa sadar memaksa mata untuk fokus memperhatikan lebih tajam—
--kabut seketika bias, bersama dengan itu aku melihat sosok besar berbalut kain putih berkuncup (Pocong) yang menatap ke arah kami dari balik jendela.
semakin diperhatikan, rupanya kian jelas--pocong berkulit hitam legam sedang menyorot tajam pada kami
Mereka sudah bisa menebak apa maksud dari raut wajahku yang seketika berubah. Kami pun segera memacu mobil menuju tempat yang kami tuju. Sosok budayawan sepuh yang dipanggil Aki itu sudah berdiri menanti di teras rumah
Kami bersalaman, kemudian dipersilahkan masuk. Aku merasa gusar, ingatan mengenai sosok pocong yang baru saja kulihat begitu menggangguku,
“Kamu kenapa?” tanya Aki.
“Tadi, saya melihat pocong ki.”
Semua orang terkejut mendengarnya, tapi aki malah tersenyum,
“Pasti di rumah pocong, ya? orang-orang di sini udah pada tau” ucap aki
“dulu orangnya ngilmu, pesugihan juga. Terus dia meninggal tapi hidup lagi. Orang-orang taunya dia mati suri, padahal yang hidup lagi itu pocongnya. Awalnya nggak ada yang tau, termasuk keluarganya yang tinggal serumah--”
Aki membuka cerita yang entah mengapa membuatku tertarik, malam itu kami mendengar kisah “Rumah Pocong Hitam” yang ternyata telah melegenda di wilayah ini dan tak hanya dari Aki,
Besok harinya, kami mendapat kesaksian dari narasumber yang mana merupakan tukang kebun dan bekas penjaga rumah tersebut.
Sebut saja, namanya, Pak Sarno--
-- Bersambung--
Versi thread dilanjut lusa ya,
Buat kalian yang mau baca duluan, bisa download versi E-book + sudah dilengkapi dengan ilustrasi berdasarkan kejadian yg terekam, tentunya dgn cerita yg lebih rinci.
Cek Spoiler di bawah,
Sebut saja namanya Sarno, pria tua asli pribumi parahyangan yang mengisi hari-hari tuanya dengan berkebun. Namun jauh sebelum itu, dia bekerja mengabdi kepada salah satu keluarga konglomerat desa—pemilik sebagian besar kebun teh di wilayah ini pada masa jayanya,
sebelum akhirnya, satu peristiwa di luar nalar membuat keluarga tersebut merosot bangkrut dan berakhir tragis.
Dituding sebagai pelaku pesugihan ilmu hitam, mantan majikan Pak Sarno tak lain merupakan pemilik dari bangunan tua ditengah hamparan kebun teh yang kini dijuluki sebagai--
“Rumah Pocong”.
“Dulu saya kerja jadi pengawas kebun sekaligus tengkulak. Sampai pas bangkrut dan keluarganya pindah ke Jakarta, saya satu-satunya orang di desa ini yang masih dipekerjakan untuk jaga sisa kebun dan rumahnya.” Buka Pak Sarno.
Menurut keterangan Pak Sarno, pemilik rumah tersebut dahulu ialah orang yang amat baik, bukan hanya pada dirinya dan keluarganya saja, melainkan dia juga dikenal sebagai orang yang dermawan
Hampir sebagian besar kepala keluarga di desa ini dirangkul untuk bekerja di perkebunan dan pabrik pengolahan teh miliknya dengan bayaran diatas rata-rata upah—kemurahan hati membuat sosoknya begitu disegani di desa.
Namun semua berubah ketika suatu peristiwa membuat bisnisnya terjun bebas. Tak satu pun mengetahui penyebab pastinya—seolah musibah datang bertubi-tubi secara sengaja menimpa keluarga mereka.
Pemecatan masal terjadi, akan tetapi bukan itu yang membuat warga menjadi resah, melainkan peristiwa tragis beruntun dimulai dari hilangnya beberapa pekerja,
disusul oleh tewasnya mantan pekerja yang menurut mereka “tak wajar”.
Berdasarkan cerita dari keluarga mantan pekerja yang tewas, rata-rata dari mereka menunjukan tanda ganjil yang serupa sebelum akhirnya sakit dan meregang nyawa, yaitu--
--Keluar rumah tanpa sadar kala tengah malam ke arah kebun teh, dan kerap kali histeris karena mengaku dikejar-kejar pocong!
“Namanya Pak Sura,”
Pria tua berambut putih itu tampak gemetar usai menyebut satu nama tersebut. Dia menelan liurnya sendiri seraya menyembunyikan perasaan getir—Pak Sarno seperti memiliki kisah kelam nan dalam yang berkaitan dengan sang pemilik nama.
Bola mata senjanya mengawang jauh menemui ingatan beberapa dekade silam yang menjadi awal mula rumah tua yang tadinya bak oase di tanah gurun, kini menjelma menjadi muasal penebar terror satu desa hingga dijuluki sebagai,
RUMAH POCONG SURA
“Banyak warga di sini yang melihat langsung, Pocong itu sering menampakan dirinya di teras rumah. Wajahnya hitam, kulitnya banyak luka bakar yang masih basah dan dipenuhi belatung.”
Pak Sarno membuka ceritanya, kami yang mendengar seketika mual menahan muntah.
---- Lanjut Besok---
Buat yang mau baca duluan atau sekedar mau mendukung penulis, bisa langsung download versi e-book ya, berikut linknya : karyakarsa.com/jeropoint/ruma…
Selamat istirahat, awas gulingmu jadi punya muka kayak gini👇
---Lanjut---
Tahun 2014, sebuah mobil offroad keluaran edisi terbaru berwarna hitam berhenti sempurna menepi di halaman rumah tua yang sudah puluhan tahun dibiarkan kosong sejak ditinggalkan oleh pemiliknya.
Pak Sarno berjalan pelan menghampiri mobil tersebut untuk menyambut kedatangan satu keluarga yang mana merupakan sanak keluarga dari Pak Sura, almarhum majikannya—
--keluarga adik kandung Pak Sura datang kembali ke rumah tersebut bersama dengan suami dan anak sulung perempuan mereka.
Sudah lama, sejak terakhir kali pada tahun 90-an mereka menginjakan kaki di tempat ini—itu pun dalam rangka menjual aset-aset tanah milik Pak Sura dan kali ini, mereka datang dengan tujuan serupa,
“Saya heran kenapa rumah dan tanah sisa di sekitarnya ini susah banget dijual, padahal letaknya paling strategis di akses jalan desa.” Ucap seorang perempuan berusia sekitar kepala empat namun masih tampak energik dengan dandanan glamor khas ibu-ibu perkotaan.
“Bu, baru sampai loh ini kita.” celetuk sinis Mira, anak perempuan berusia sekitar delapan belas tahun yang tampak takjub dengan pemandangan hamparan kebun teh di sekelilingnya.
“Pak Sarno apa kabar? Ini kenalin anak saya, mira. Dulu waktu ke sini dia masih diperut, hehe” sapa hangat Pak Iwan. Pria berambut klimis itu tampak lebih ramah dari Bu Rita, adik kandung Pak Sura yang sejatinya lebih mengenal Pak Sarno.
“Mira, kenalin ini Pak Sarno, yang menjaga sekaligus merawat rumah sama sisa kebun di sini.” Jelas Pak Iwan.
Gadis periang itu tersenyum kemudian menyalami tangan Pak Sarno. Mereka menaiki empat anak tangga kayu menuju ke pintu utama rumah.
Pak Sarno merogoh dalam saku celana meraih kunci pintu yang sudah setengah berkarat.
Walaupun sempat kesulitan membuka kunci, pintu utama rumah tersebut pun berhasil dibuka menyaringkan bunyi engsel dari pintu yang sudah memuai.
“Silahkan, pagi tadi sudah saya ber—“ kalimat Pak Sarno terhenti ketika melihat penampakan bagian dalam rumah yang berantakan—lantainya penuh noda tanah, debu, dan daun-daun kering berserakan. Kedua mata Pak Sarno terbelalak, dirinya seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Ya Ampun, kotor banget!” Protes Rita, satu tangannya menepuk-nepuk udara mengusir debu yang hendak menelisik masuk ke hidungnya.
“Tadi pagi padahal sudah saya bersihkan, pak, bu.” Ujar datar Pak Sarno.
“Bapak, ibu, boleh tunggu sebentar, biar saya bersihkan lagi.” Gagap, Pak Sarno melanjutkan cepat ucapannya.
Dia menyadari sekeras apa pun membela diri memberikan alasan bahwa pagi tadi rumah itu telah benar-benar dia bersihkan bersama istrinya, namun keluarga Bu Rita sudah pasti tidak akan percaya.
“Pak, rumah ini dirawat gak sih?! Dulu waktu saya datang ke sini juga kotor begini! Kan bapak kita gaji buat jaga dan rawat rumah ini.” Cerocos Rita yang tampak geram.
Benar apa yang disampaikan oleh Rita, peristiwa seperti ini bukan kali pertama terjadi—Rumah ini selalu kotor lagi meski sudah sering dibersihkan rutin dua kali seminggu oleh Pak Sarno.
Pak Sarno dengan sigap masuk ke dalam membersihkan ulang seluruh bagian rumah, sementara keluarga Bu Rita menunggu di halaman.
Mereka tiba di waktu sore hari menjelang magrib, Mira tampak asik ber-swafoto mengabadikan potret merah merona senja di antara hamparan hijau kebun teh—mereka tenggelam dalam pesona alam di ketinggian Jawa Barat.
Langit mulai berganti gelap dan hawa dingin seketika membekap. Syukurnya, rumah telah selesai dibersihkan. Mereka pun masuk ke dalam menjinjing dua buah koper berukuran sedang. Rita dan Iwan langsung membawa barang menuju kamar utama yang ada di lantai bawah,
sedangkan Mira tak langsung ke kamar atas yang telah disediakan untunya, dia mengitari ruang tamu melihat foto-foto lama dan benda-benda antik milik om-nya yang masih terpajang utuh ditempatnya, termasuk pemutar piringan hitam yang menarik perhatian Mira,
entah apa yang dipikirkan olehnya, seketika Mira memutar musik dari piringan hitam tersebut—terputar rekaman musik klasik yang dinyanyikan oleh almarhum Pak Sura
Dirinya memejamkan mata menikmati alunan nada mendayu yang dinyanyikan oleh seorang amatir namun tetap mampu memanjakan telinga,
Pak Sarno yang semula terkejut dengan apa yang dilakukan Mira, akhirnya memilih untuk membiarkan. Musik itu memang bagus bagi siapa pun yang baru mendengar.
Namun bagi Pak Sarno yang mengetahui sejarahnya, lagu yang diputar Mira berikut piringan hitam tersebut menyimpan magis yang membuat bulu kuduk bergidik tiap kali mendengarnya.
(Sound on : Musik Ilustrasi)
"Aku berserah pasrah, peluklah daku, menyatu bersama setiap irama yang memanggil, diriku sepenuhnya milikmu wahai jiwa yang abadi"
Putaran lagu itu seketika tersendat dan terus memutar-mutar ulang di bait lirik yang sama.
Mira dan Pak Sarno saling menatap bingung. Namun derap langkah cepat mendekat kemudian mematikan putaran piringan hitam tersebut.
“Rusak kok disetel.” Celetuk Rita. Disusul oleh Pak Iwan di belakangnya.
Mereka mengajak Pak Sarno untuk duduk di meja makan lalu menjelaskan maksud tujuan mereka secara rinci bahwasannya, maksud kedatangan mereka ke sini ialah untuk mencari surat-surat rumah dan surat sebidang kebun di sekitar halaman yang mana rencananya hendak mereka jual.
“sudah tidak ada alasan lagi untuk mempertahankan rumah tua ini, keluarga Mas Sura semuanya sudah tinggal di Jakarta, anaknya juga sudah berkeluarga, dulu dia saya yang urus. Jadi kami mau jual saja.” Jelas Rita.
“Baik bu” jawab Pak Sarno.
“Iya tapi masalahnya surat-suratnya nggak ada, sudah dicari dirumah itu nggak ada, saya yakin pasti ketinggal di sini, waktu pindahan dulu nggak kebawa.” Ujar Rita.
Suasana menjadi hening, tak sepatah kata pun dirasa pantas dikeluarkan oleh Pak Sarno yang menyadari bahwa dirinya tak memiliki hak apapun untuk bersuara,
meskipun dulu telah diamanatkan oleh Pak Sura kepada anaknya dan didengar juga oleh Pak Sarno bahwa rumah ini tidak boleh dijual sampai kapan pun—amanat itu juga sudah disampaikan ke pihak keluarga, diluar itu, selebihnya bukan lagi menjadi urusan Pak Sarno.
“Maaf bu, apa anaknya bapak juga sudah tau juga kalau mau dijual?” Tanya Pak Sarno.
“Sudah berkali-kali dikasih tau, anaknya ngeyel, nggak apa-apa, toh keluarga lain sudah setuju dan hasilnya nanti juga dia dapat.” Jawab Bu Rita.
Pak Sarno hanya mengangguk, tak berani menimpali lagi. Dirnya hendak berpamitan pulang namun ditahan oleh Rita.
Mereka meminta Pak Sarno untuk menginap di rumah tersebut untuk membantu mencari surat-surat sekaligus melayani kebutuhan mereka selama berada di sana. Maklum saja, desa mereka cenderung berada di plosok, tidak ada warung, apalagi mini market
untuk membeli kebutuhan pokok harus menuruni jalan curam berliuk-liuk yang minim lampu penerangan menuju ke jalan utama yang jaraknya sekitar 30 kilometer dari desa, bagi masyarakat perkotaan tentu akan kesulitan beradaptasi dari kehidupan kota yang serba mudah.
Karena saat itu masih berstatus sebagai pekerja mereka, maka Pak Sarno tak bisa menolak permintaan majikannya yang hanya datang sesekali.
“Baik bu, saya tidur di kamar belakang.” Pak Sarno memilih untuk menempati kamar yang terpisah dari rumah utama tersebut.
Usai melakukan makan malam dengan bekal makanan dari restoran cepat saji yang mereka bawa dari kota—Rita, Iwan, dan Rita masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
Malam itu angin berhembus lebih kencang dari biasanya, guntur juga beberapa kali menunjukan kerlap kilatnya.
Hawa dingin yang menyelisik masuk melalui sela-sela ventilasi membuat dinding terasa lembab Gorden jendela seketika tersingkap cepat,
detik berikutnya suara engsel jendela terbuka dengan sendirinya yang mana kemudian bergerak memantul membentur kusen karena bertabrakan dengan angin kencang.
Pak Sarno menghela napas panjang, nampak jelas getir terlukis di wajahnya. Perlahan dia melangkah ke arah jendela. Dirinya melongok ke luar jendela,
kedua bola matanya menyapu sekitar namun dia tak mendapati apa pun selain daun-daun pohon yang melambai-lambai diterpa angin. Sigap, Pak Sarno menutup rapat jendela lalu menguncinya.
baru empat langkah dia berbalik arah, kaki-kaki Pak Sarno terhenti mematung ketika ekor matanya menangkap satu sosok berbobot badan besar berbalut kain putih berdiri dua langkah di belakangnya, tubuhnya seketika gemetar ketakutan,
“Ampun tuan, saya hanya menjalankan tugas.” Spontan Pak Sarno dengan suara bergetar tanpa berani memalingkan badan.
Beberapa saat terpaku, Pak Sarno mengumpulkan sisa-sisa keberanian, dirinya menarik napas panjang mencoba mengambil alih tenang, lalu perlahan membalikan badannya.
Terhembus napas kasar petanda lega ketika sosok yang ditangkap ekor matanya sudah tak lagi terlihat. Hanya gorden jendela yang lagi-lagi tersingkap dengan sedirinya sampai menggantung ke paku yang tertancap di sisi kanan jendela.
Pak Sarno menutup kembali gorden tersebut. Ada yang berbeda dari raut wajah Pak Sarno, tentunya bukan karena udara dingin yang sudah terbiasa merayap dikulitnya.
Melainkan perasaan cemas yang bersumber dari kekhawatiran mendalam tentang hal buruk yang akan terjadi berikutnya.
Siapa sangka, firasat Pak Sarno menjadi awal mula dari teror mengerikan secara beruntun sampai membuat satu dari mereka kerasukan, belatung-belatung menggeliat di kasur—
--Mereka mengaku diteror oleh sosok Pocong Pak Sura dan jiwa-jiwa lain yang telah berpulang menjelma menjadi pocong-pocong!
Menurut Pak Sarno, malam itu, ‘dia’ marah.
----Chapter 1 END----
Thread chapter 1 sudah tamat, kita akan ketemu lagi di versi thread chapter 2 yang akan mulai di up berkala hari rabu/kamis.
Sejatinya chapter 1 hanyalah sebuah permulaan, dichapter berikutnya siap-siap tahan napas ketika imajinasi kalian menemui teror mengerikan yang terjadi secara beruntun tanpa jeda.
Kalian bisa langsung baca duluan Chapter 2 versi E-book (mini novel) lengkap dengan ilustrasi berdasarkan kejadian yang terekam! Versi E-book ini lebih detail dibanding versi thread ya.
Di rawa besar yang menjadi hilir dari tempat ditemukannya mayat-mayat hanyut yg hilang.
Seorang pengemudi perahu (nelayan) mengatakan bahwa ia ketemu seorang bapak yg mau pesugihan menumbalkan anaknya sendiri.
"Bapak itu minta di antar ketemu kuncen desa."
Waktu itu gak sengaja singgah ke sebuah rawa besar yang tersohor di Jawa Tengah. Sejatinya tempat itu sangat indah, saya memutuskan naik perahu mengelilingi rawa yang lebih pantas disebut danau.
Saya gak sebut nama rawanya yah, karena kalian orang sekitar pasti tau betul sama rawa ini.
Sudah bisa tebak dimana? ..
Pas di dermaga sebelum naik perahu, ngobrol sama pemancing, dia bilang--
“Mereka me-ruqyahku, tapi aku tidak melihat mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam diriku, tapi justru malah memasukan ‘jin’ lain ke dalam tubuhku.”
Utas singkat dari balik ‘Pondok’
- A Thread-
#CeritaSerem
Mungkin judul utas di atas menyisakan pertanyaan “Loh, kok bisa? Bukannya ruqyah membersihkan diri? kenapa jadi sebaliknya?” ...
Betul, sejatinya Ruqyah ialah salah satu bentuk ruwatan diri yang memiliki segudang manfaat--
Namun sayangnya, banyak ‘oknum’ yang memanfaatkan label ruqyah tersebut untuk kepentingan pribadi. Kisah singkat ini menjadi satu dari sekian banyak contoh kasusnya.
Silahkan tandai, RT, tinggalkan jejak atau markah judul thread teratas agar tidak terlewat update-nya.
“Aku yakin betul naik kereta malam itu, tapi orang-orang melihat aku jalan kaki di atas rel.”
KERETA MALAM
-PEMBERANGKATAN TERAKHIR-
A THREAD
#CeritaSerem
Kisah ini terjadi pada 2006 silam, kala itu santer rumor beredar mengenai 'pemberangkatan terakhir ialah kereta gaib'.
Sila tinggalkan jejak, RT, like atau tandai dulu judul utas di atas agar thread tidak hilang atau ketinggalan update.
Maleman kita mulai.
Ini sepenggal kisah yang sampai sekarang membuatku parno naik kereta di jam malam. Peristiwa itu amat melekat diingatan bagaimana aku menempuh perjalanan tanpa sadar JKT-YK dalam waktu hampir 5 hari tapi rasanya waktu berhenti di satu malam pertama--
Satu dari ke-lima pendaki ini seketika kejang-kejang. Saat mereka berupaya turun, mereka malah terjebak masuk ke pasar yg sebelumnya tak pernah mereka lihat.
"KAMI DITERIAKI SURUH PULANG.”
A Thread
#ceritaserem
Tinggalkan jejak atau tandai judul utas di atas agar tidak hilang.
Kalian yang suka mendaki ada pengalaman ganjil selama nanjak?
Sambil nunggu cerita ini up, boleh cerita di reply ya.
Maleman kita mulai …
-- Mari Kita Mulai--
2012,
Waktu itu, aku baru lulus SMA. Lagi masa tenang setelah UN. Salah satu juniorku minta diantar untuk 'nanjak' ke gunung salak.
Rombongan mereka tak banyak, hanya 4 orang : 2 perempuan, 2 laki-laki.
Dalang ditemukan tewas saat mencoba memp*rkosa sindennya.
“SINDEN BUKANLAH PELACUR YANG BISA KALIAN ‘PAKAI’ SEENAKNYA!”, ucap Rinjani sebelum pingsan di samping jasad si dalang yang kepalanya sudah melintir dengan tusuk konde yang menancap di telinga.
#SindenGaib #KisahNyata
Di pedalaman Trenggalek, ada sebuah urban legend tentang sosok arwah sinden yg gemar mendatangi dan merasuki sinden-sinden cantik dgn suara yg indah.
Namun, dalam satu pagelaran, akan ada korban yg hilang.
Mengapa?
Sila tandai, Like atau tinggalkan jejak, nnti malam kita mulai
Cerita tentang sinden ini bukanlah rahasia umum lagi, terutama di dunia kesenian tradisional
tanah Jawa, yaitu pewayangan. Sinden merupakan kunci utama untuk menampilkan eloknya
iringan lagu dengan nyanyian yang terdengar menyayat meski merdu.
Foto di atas dikirim oleh narasumber yg menemukan gumpalan rambut tertamam di halaman rumahnya.
Silahkan tandai, RT atau like judul utas di atas agar tidak hilang. Nanti malam kita lanjut.
--Mari kita mulai--
Panggil saja aku Yuli, Sudah tiga tahun ini, keluargaku satu per satu meninggal secara tidak wajar. Anggota keluarga kami terdiri dari 5 orang, dan sekarang hanya tersisa 2 (Aku dan Ibu).