LINGKAR TUMBAL KELUARGA GUNTORO (3)

"Bagaimanakah jadinya, jika keluarga yang kita kenal adalah para pelaku dari macam-macam pesugihan yang sedang dijalankan? Lalu bagaimana jadinya jika kita adalah incaran dari keluarga kita sendiri?"

@bacahorror_id #malamjumat #ceritaserem Image
PESUGIHAN MONYET

Mitha masih belum menyadari akan Perkataan Pak Hendro kepadanya. Dari wajah Pak Hendo sendiri muncul kecurigaan yang mendalam bagi Mitha. Ia masih belum paham, mengapa kematian dari saudaranya sendiri seperti tidak menampakkan wajah kesedihan atau sebagainya.
Kematian dari Pak Anto dan Ibu Anti yang dinilai sangat aneh ini membuat Mitha semakin hati-hati terkait apapun yang memang belum diketahui di desa tempat dirinya berada.
Sudah 4 hari dirinya berada di desa tersebut. berarti, waktu liburannya hanya tersisa 3 hari saja. Ini sangat aneh. Waktu berjalan dengan sangat cepat. Sudah dua kematian yang bersifat sangat janggal di Desa Ampiri.
Para warga yang biasanya sering keluar ketika di sore hari, sekarang, tidak ada satu pun warga yang berani untuk keluar ketika waktu gelap akan tiba.
Mereka lebih memilih untuk mengaji di rumahnya masing-masing agar terhindar dari gangguan yang sama seperti yang sudah-sudah terjadi di desa ini.
Hari itu, rumah Pak Hendro kedatangan seorang wanita tua yang menggunakan pakaian serba hitam. Mitha pikir, wanita tersebut baru saja pulang melayat (Mengunjungi orang yang sudah meninggal dunia).
‘’Mana Hendro?’’ Tanya wanita tua itu dengan nada yang kencang dan tegas
Mitha yang mendapatkan gertakan semacam itu langsung masuk ke kamar dan memberitahu hal ini kepada Dita.
‘’Dit, dit! Ada tamu, tuh.’’
‘’Siapa?’’
‘’Gak tahu. Katanya nyariin Bapak kamu.’’
Dita akhirnya keluar dari kamar dengan tujuan menemui tamu yang dimaksud oleh Mitha.
‘’Eh, bude. Sendirian aja?’’ Tanya Dita
‘’Mana Bapakmu?’’ Tanya balik wanita tua itu
‘’Bapak biasanya lagi ke balai desa bareng Ibu, bude. Tapi sebentar lagi datang, kok. Tunggu sebentar ya, bude.’’
Dita pamit ijin ke belakang untuk mengambilkan minum dan cemilan untuk wanita yang disebut ‘’Bude’’ tersebut.
Wanita itu hanya terdiam sembari merogoh-rogoh tasnya yang sedari tadi berada di bagian pahanya. Mitha yang memperhatikan wanita tua itu sempat merasa ketakutan dengan ekspresi wajah dan gelagat seperti wanita yang menyeramkan.
Perlahan, wanita tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan rokok dan korek dari dalam tasnya. Ia kemudian membakar secara terang-terangan rokok tersebut di hadapan Mitha.
‘’Apa kau lihat-lihat?’’ Tanya wanita itu
‘’Eh, enggak, bu. Saya cuman kaget aja.’’ Jawab Mitha dengan polosnya
‘’Kaget kenapa?’’
‘’Emangnya, perempuan boleh merokok, ya?’’
Wanita itu hanya tertawa kegirangan di saat mendengar kalimat polos yang baru saja dilontarkan oleh Mitha kepada dirinya.
‘’Siapa namamu, nak?’’ Tanya Wanita itu
‘’Namaku Mitha, bu.’’
‘’Mitha?’’
Wanita itu meletakkan rokoknya di atas asbak yang sudah di sediakan di meja. Perlahan, tatapan wajahnya berubah sangat drastis. Ia tersenyum lebar dan
‘’Bu? Ibu kenapa?’’
‘’Gapapa. Namamu cantik, sayang.’’
Tidak lama kemudian, dita kembali datang sembari membawakan minuman dan beberapa cemilan.
Bersamaan dengan itu juga, pak hendro dan juga bude gusti datang sembari membawa plastik hitam yang berukuran sedang.
‘’Loh? Mbak ada di sini?’’ Tanya Pak Hendro
‘’Hari ini kamu cair ya, ndro?’’ Ucap wanita itu
‘’Yah, ini yang kemarin.’’ Jawab Pak Hendro dengan santainya
Mitha dan Dita hanya terdiam. Mereka berdua tidak mengerti pembahasan dari topic khusus yang dibicarakan para orang tua.
‘’Oh, ya. Kenalin. Dia Mitha. Anak dari Alm. Darmo dan Ibu Asih.’’ Ucap Pak Hendro
‘’Aku sudah tahu itu.’’
‘’Baguslah kalau sudah tahu.’’
Bude Gusti yang sedang membawa Plastik hitam berukuran sedang, langsung meminta izin untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu.
‘’Ngomong-ngomong, ada perlu apa Mbak Nana datang ke sini?’’ Tanya Pak Hendro
‘’Kau pasti tahu maksud dan tujuanku datang ke tempat ini. Apa karena ada sesuatu yang membuatmu pura-pura tidak tahu?’’ Tanya balik Bude Nana kepada Pak Hendro
Pak Hendro segera menatap Dita dan Mitha. Mungkin, tatapan dari Pak Hendro seperti memberi tanda bahwa aka nada percakapan serius di antara keduanya,
‘’Oh ya, bude. Aku sama Mitha mau masuk ke kamar dulu, ya.’’ Ucap Dita
Mbak Nana hanya tersenyum. Terlebih lagi kepada Mitha, ia seperti sangat menyayangi keberadaan Mitha yang berada di rumah Pak Hendro.
Di dalam kamar, mitha langsung menarik tangan Dita. Ia sempat ingin menanyakan sesuatu terkait wanita tersebut.
‘’Dit? Mbak Nana itu siapa?’’
‘’Oh iya. Kamu belum tahu Bude Nana.’’
‘’Emang siapa?’’
‘’Dia anak pertama dari Keluarga Guntoro, mbah kita. Beliau sendiri bisa disebut sebagai orang tertua dari Keluarga Guntoro. Sebenarnya, bapakku juga belum kasih tahu sih secara pasti terkait Mbah Guntoro.
Tapi yang warga sini ceritakan, keluarga dari Mbah Guntoro itu semuanya kaya raya.’’ Jelas Dita
Mitha baru tahu, jika nama kakeknya itu adalah Mbah Guntoro. Selama ini, dia belum pernah diceritakan oleh Ustadz Hambali terkait kakeknya sendiri.
‘’Emangnya, selama kamu tinggal di sana, kamu belum dikasih tahu tentang simbah?’’ Tanya Dita
‘’Aku gak dikasih tahu apa-apa, dit.’’
‘’Waduh, rugi banget. Untungnya kamu main ke sini. Coba kalo ngga, kamu bisa seumur hidup gak tahu siapa keluarga kamu.’’
Mitha hanya mengangguk paham. Dia sebenarnya ingin tahu tentang motif di balik Ustadz Hambali menyembunyikan tentang keluarganya sendiri. Baik kepada saudara-saudaranya yang ada di Desa Ampiri ataupun memang yang berkaitan dengan sebuah keluarga yang bernama Keluarga Guntoro.
Sementara itu, di luaran kamar, pak hendro masih berbincang-bincang dengan Mbak Nana yang tampaknya sedang membahas sesuatu yang sangat serius.
‘’Awakmu wes kelewat batas, ndro. Anto kuwi sedulurmu dewek!’’
(Kamu sudah kelewatan batas, ndro. Anto itu saudaramu sendiri!) Ucap Mbak Nana
‘’Aku weruh kuwi, mbak. Tapi, dia telah sudah melakukan hal yang fatal. Dia secara terang-terangan melakukan hal itu kepada seluruh warga Desa Ampiri.’’
‘’Itu bukan urusanmu! Dirimu sudah mendapatkan tiga orang sekaligus. Jika itu terus dilakukan, maka, dirimu yang akan hancur duluan.’’
Pak Hendro hanya terdiam. Tangannya perlahan menggenggam kencang. Ingin rasanya ia menyumpal mulut wanita tua bangka itu dengan satu bonggeman. Namun, dia tahu. Wanita tua yang berada di hadapannya sangat berbeda dari pada saudaranya yang lain.
‘’Aku sudahi pertemuan kali ini. Ingat, jangan gegabah. Aku akan terus memantaumu.’’
Mbak Nana pun langsung bangkit dari duduknya. Namun, sebelum mbak nana pergi, pak hendro mengucapkan kalimat yang membuat Mbak Nana semakin panas dibuatnya,
‘’Siapakah yang akan gegabah duluan, mbak. Aku atau dirimu kelak?’’
Mbak Nana tersenyum mendengar penuturan tersebut. Dirinya merasa mendapatkan sebuah peringatan keras dari adiknya tersebut,
‘’Kau menantangku, bocah?’’
‘’Kita lihat, siapa yang akan jatuh terlebih dahulu.’’
Mbak Nana mendekati Pak Hendro. Ia kemudian mengepus rokoknya dan menyemburkan asap rokok tersebut tepat di hadapan Pak Hendro,
‘’Dirimu yang sekarang dengan kekayaanmu ini, belum ada apa-apanya di banding denganku. Aku bisa mendapatkan puluhan tumbal dalam waktu satu hari saja. Apakah dirimu mampu melakukan hal yang sama?’’
Pak Hendro hanya tersenyum. Ia kemudian memanggil anaknya dan juga Mihta,
‘’Dita, mitha. Kemari, nak.’’ Ucap Pak Hendro
Mbak Nana langsung mundur beberapa langkah. Ia sedikit khawatir jika ucapannya yang baru saja diucapkan terdengar oleh Dita dan juga Mitha,
‘’Ada apa, pak?’’ Tanya Dita
‘’Bude Nana mau pulang. Kalian salim dulu.’’
Dita dan Mitha pun langsung meraih tangan Mbak Nana. Dita yang mengawali untuk menyalami tangan Mbak Nana merasa tidak ada yang aneh dengan tangan Bude Nana.
Hanya saja, ia mencium rokok dari tangan Mbak Nana.
Setelah Dita menyalami tangan Bude Nana, kini giliran Mitha yang menyalami tangan Bude Nana. Akan tetapi, pak hendro langsung berdiri tepat di belakang Mitha.
‘’Mitha, pakde ijin menutup matamu, ya.’’
Pak Hendro menutup mata Mitha dengan kedua tangannya. Raut wajah Mbak Nana langsung berubah tatkala tangan Mitha menyentuh tangannya,
‘’Apa yang ingin kau lakukan, hendro?’’ Tanya Mbak Nana kepada Pak Hendro
Pak Hendro hanya tersenyum. Tak lama kemudian, mbak nana merasa ada sesuatu yang memang sedang direncanakan oleh Pak Hendro kepadanya,
‘’Mitha, apa yang kamu rasakan?’’ Tanya Pak Hendro kepada Mitha
‘’Tangan Mbak Nana kok berbulu?’’
Deg! Mbak Nana langsung menarik tangannya dan melepaskan tangan Mitha dengan cepat.
‘’Loh? Kok dilepas?’’ Tanya Mitha
Pak Hendro tersenyum mendengar penuturan dari Mitha. Perlahan, pak hendro melepaskan kedua tangannya dan meminta Mitha untuk menatap wajah Mbak Nana,
‘’Sekarang, coba lihat wajah Budemu yang cantik itu, mitha.’’ Jelas Pak Hendro
Mitha pun langsung membuka kedua matanya dan melihat wajah Mbak Nana dengan perlahan.
‘’Apa yang kamu lihat?’’
Mitha yang melihat wajah Mbak Nana langsung berteriak histeris,
‘’Mo-monyeeeeeeeeeeet!!’’
Mbak Nana langsung pergi meningggalkan Pak Hendro dan yang lainnya dengan wajah penuh amarah. Kali ini, dia benar-benar dipermalukan oleh adiknya sendiri.
Semenjak terbongkarnya sisi tersembunyi dari Mbak Nana, mitha hanya berdiam diri di dalam kamar bersama dengan Dita. Ia sendiri merasa tidak nyaman dengan hal-hal aneh yang terus terjadi di Desa Ampiri.
Sembari menenangkan diri, mitha selalu membuka Al-qur’an kecilnya. Ia terus menerus membacakan Al-qur’an hingga menemukan salah satu ayat suci yang membuat air matanya berderai deras turun dari kedua matanya,
‘’Fa qālụ 'alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj'alnā fitnatal lil-qaumiẓ-ẓālimīn.’’
(Lalu mereka berkata: "Kepada Allahlah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami; janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang'zalim.)
Dita hanya memperhatikan Mitha dari kasurnya. Ia sendiri sempat merasa kasihan dengan keadaan sepupunya itu. Paling tidak, terkait apa yang baru saja terjadi, dita bisa menenangkan Mitha dengan berbagai cara.
Namun ternyata, kunci ketenangan yang dibangun dalam diri Mitha sendiri hanyalah dengan cara membaca Al-qur’an dan meresapinya dalam hati.
Setiap ayat suci Al-qur’an yang dibacakan oleh Mitha, hati dita menjadi bergetar. Tubuhnya juga merinding seketika tatkala bunyi lantunan ayat suci Al-qur’an itu digemakan di kamarnya.
Selesai membaca Al-qur’an, dita mendekati Mitha yang masih mendekap Al-qur’an di dadanya. Mitha tidak henti-hentinya berdo’a untuk perlindungan dirinya dan juga orang-orang terdekat.
‘’Bismillahilladzi laa yandhurru ma'asmihi syai'un fil ardi wa laa fissamaa'i wa huassami'ul 'alim.’’
“(Aku berlindung) dengan Nama Allah yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu di bumi dna di langit yang bisa membahayakan. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Dita menepuk pundak Mitha seraya berkata,
‘’Mit, kamu gapapa, kan?’’
Mitha hanya terdiam. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun tatkala Mitha merasa dirinya di ambang penuh dengan ketakutan.
‘’Mit, kamu istirahat aja, ya. Udah malam. Kamu dari tadi baca Al-qur’an terus. Ya emang bagus, sih. Cuman kalo sampe buat badan kamu sakit, itu malah gak bagus, mit.’’ Ucap Dita
Tidak berselang lama, mitha menggerakkan bahunya. Ia kemudian membalikkan badannya dan menatap wajah Dita,
‘’Aku gapapa, dit. Aku memang suka baca Al-qur’an. Saat aku sedih, aku hanya bisa bercerita kepada Tuhan. Aku tidak memiliki kedua orang tua sepertimu. Karena itu, aku hanya bisa mencurahkan rasa takut dan kegelisahanku kepada Tuhan.’’
Hati Dita langsung tersentuh mendengar kalimat tersebut. Ia tidak menyangka, sepupunya ini benar-benar sangat cinta kepada agamanya sendiri. Berbeda dengan dirinya yang terkadang masih belum bisa patuh terhadap ajaran agamanya sendiri.
Mitha akhirnya bangkit dari duduknya. Ia meletakkan Al-qur’an ke tempat semula, lalu membereskan sajadah dan juga merapihkan mukenah yang dikenakannya.
Gerak gerik Mitha seperti orang yang berada dalam kondisi penuh dengan kebimbangan. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi dengan berbagai macam hal yang baru ia ketahui.
Bermacam-macam keanehan selama dirinya berada di tempat tersebut selalu bermunculan secara satu persatu.
‘’Dit, boleh aku nanya sesuatu?’’
‘’Boleh, mit. Kamu mau nanya apa?’’
Mitha pun menghampiri Dita. Kali ini, mitha benar-benar serius dan ingin mengetahui secara mendalam terkait keluarganya di masa lalu,
‘’Apakah keluarga kita, keluarga yang mengabdi kepada pesugihan?'' Tanya Mitha
Dita hanya terdiam. Ia sendiri belum mengetahui terkait seluk beluk dari keluarganya terlebih lagi hal-hal yang baru ia ketahui.
‘’Aku tidak tahu menahu soal itu. Tapi, aku pernah mendapatkan hal yang kurang mengenakkan ketika aku sekolah dulu.’’ Jelas Dita kepada Mitha
‘’Apa itu?’’
‘’Intimidasi.’’
‘’Kenapa?’’
‘’Orang-orang bilang, keluargaku melakukan pesugihan. Namun, bukan hanya itu saja. Ada beberapa warga juga yang mengatakan, jika keluarga dari Mbah, dulunya melakukan pesugihan dan korbannya adalah keluarga sendiri.’’
Mitha masih menyimak penjelasan dari Dita terkait dari pesugihan yang dilakukan oleh keluarga Mbahnya itu. Mungkin, itu adalah alasan utama dari Ustadz Hambali agar tidak menyuruh Mitha untuk mendatangi Desa Ampiri.
‘’Sebenarnya, kejadian ini bukan hal yang umum, mit. Tapi, entah mengapa, semenjak kamu mendatangi desa ini, teror-teror dari pesugihan ini bermunculan kembali.’’ Jelas Mitha
‘’Tapi, kemaren, sebelum Pakde Anto meninggal dunia, aku sempat melihat wajahnya juga berubah seperti bukan wajah Pakde Anto.’’
‘’Maksud kamu?’’ Tanya Dita
‘’Wajah Pakde Anto mirip seperti tuyul. Lalu, aku baru saja melihat hal yang sama seperti apa yang aku lihat dari wajah Bude Nana yang berubah menjadi monyet. Apakah perubahan itu mengartikan sebagai pesugihan yang sedang ia lakukan?’’ Tanya Mitha
Dita hanya menggelengkan kepala. Ia sendiri juga tidak pernah tahu dan menanyakan hal itu kepada kedua orang tuanya. Namun, dia merasa, apa yang memang terjadi baru-baru ini memang sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Mitha,
‘’Oh ya, mit. Keluarga Mbah Guntoro itu ada berapa? Kamu tahu, gak?’’
‘’Mmm … sebentar, aku punya album foto dan nama-nama Keluarga Mbah. Aku sengaja simpen di kamar ini.’’
Dita pun segera mengambil Album foto yang berisi tentang Keluarga Mbah Guntoro dari dalam lemarinya. Ia sengaja menyimpan album foto beserta nama-nama anggota keluarganya di bagian bawah tumpukan baju agar tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.
‘’Ini albumnya. Aku simpen ini udah 2 tahun lamanya. Entah kenapa aku simpen album ini. Tapi, memang aku sendiri tidak mengetahui Almarhum Mbah Guntoro.’’
Mereka berdua pun menatap satu persatu album foto yang berisi anggota keluarga dari Keluarga Guntoro.
Adapun nama-nama dari Keluarga Guntoro antara lain:
1.Guntoro Harimurti
2.Dyah Estiawati
3.Nana Apsarini
4.Anto Basuki
5.Darmo Baktiadi
6.Hendro Mahadi
7.Indra Subekti
8.Hambali Mahadi
Dari nama-nama yang ada di dalam album tersebut, dita sendiri baru mengenali beberapa saudara-saudar dari Bapaknya,
‘’Dari semua saudara-saudara Bapakku, aku hanya mengenali Bude Nana dan Pakde Anto. sejujurnya, aku juga baru tahu, kalau nama Bapakmu itu adalah Darmo Baktiadi.’’
Mitha hanya mengangguk paham. Ia sendiri baru tahu jika ada salah seorang dari Keluarga Guntoro yang belum diketahui selama dirinya berada di Desa Ampiri,
‘’Kamu gak tahu siapa itu indra Subekti?’’
‘’Aku kurang tahu. Tapi kata Bapak, kalo Pak lek Indra itu rumahnya deket kuburan. Dia hanya hidup sendirian di sana semenjak anak dan isterinya terkena penyakit aneh dan meninggal dunia dengan cara yang aneh juga.’’
‘’Penyakit aneh?’’
‘’Iya bener. Aku sendiri belum pernah tahu orangnya seperti apa. Bapak bilang, pak lek Indra itu sangat tertutup dan tidak pernah bersosialisasi dengan warga sini.’’
Dita pun langsung menutup album itu. Ia takut, jika terlalu berlama-lama membuka album tersebut, orang tuanya akan tahu akan apa yang selama ini disembunyikannya.
‘’Kalo kamu mau lihat, besok kita bisa baca ini di tempat lain. Pokoknya, jangan sampai di sini. Aku takut, orang tuaku tahu.’’
Mitha hanya mengangguk paham. Dirinya tahu apa arti dari rahasia yang memang ingin disembunyikan oleh Dita sendiri. Memang tanpa disengaja juga Mitha bertemu dengan Dita yang benar-benar terbuka terkait rahasia dari Keluarganya sendiri.
Sementara itu, di luaran rumah, bunyi kentongan dari bambu terdengar dengan jelas dari berbagai arah. Suara itu sebagai penanda adanya marabahaya yang terjadi di Desa Ampiri,
‘’TUNG!!! TUNG!! TUNG!!!’’
Mitha dan Dita yang kebetulan berada di kamar langsung segera keluar. Mereka berdua terkejut tatkala kedua orang tuanya sudah berada di dekat jendela sembari memperhatikan para warga yang berlarian ke sana kemari sembari meneriakkan,
‘’Ono kethek! Ono kethek jadi-jadian!’’
(Ada monyet! Ada monyet jadi-jadian!)
Dita segera mendekati Ibunya. Ia menanyakan kepada Ibunya terkait apa yang terjadi di luaran,
‘’Bu? Kenapa warga desa malam-malam gini bunyiin kentongan?’’ Tanya Dita
‘’Ada siluman monyet di desa ini.’’ Jelas Ibu Dita
‘’Siluman monyet?’’ Tanya Mitha
Pak Hendro segera meminta kepada Dita dan Mitha untuk masuk ke dalam kamar demi keamanannya. Kali ini, bukan hanya satu atau dua warga saja yang mendapatkan teror serupa,
namun, belasan rumah warga mendapatkan teror yang mengerikan dengan bertenggernya siluman monyet di atas rumah warga.
‘’Pak … ‘’ Ucap Bu Gusti
‘’Bapak tahu. Pagi tadi, dia barusan bilang.’’
Malam itu adalah malam yang penuh dengan ketakutan. Para warga yang rumahnya kedapatan siluman monyet berjaga-jaga semalaman untuk menghindari hal-hal aneh yang akan terjadi di malam itu.
Keesokan harinya, para warga mulai berdatangan ke balai desa. Mereka yang rumahnya kedapatan teror siluman monyet segera melaporkan keresahannya masing-masing.
Banyak warga yang mengaku kehilangan harta bendanya seperti emas, uang atau pun perhiasan lainnya. Mereka semua benar-benar merasa dirugikan dengan munculnya siluman monyet yang berada di desa pada malam itu.
Beberapa orang juga mengadukan hal ini kepada Pak Hendro. Mereka yakin, pak hendro yang memang termasuk bagian penting dari desa bisa menyelesaikan masalah ini.
Namun, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tahu siapa pelakunya, namun, jika dirinya sendiri memberitahunya secara cepat, kemungkinan besar, semua rahasia tersembunyi akan terbongkar dengan sendirinya.
Untuk menghentikan masalah tersebut, pak hendro akhirnya mengunjungi sebuah salah seorang warga. Ia kemudian memberikan kepada orang tersebut untuk menghentikan perbuatan yang merugikan,
‘’Mbak. Kamu gak kasihan sama para warga?’’ Tanya Pak Hendro
Sembari menghisap rokok kreteknya, wanita tua itu dengan congkaknya langsung mengarahkan kritikan yang sangat pedas,
‘’Seharusnya, kamu yang berkaca kepada dirimu sendiri, hendro. Bukankah awal dari semua petaka ini dimulai dari kematian si Jawir (Tukang Becak) akibat suruhanmu sendiri yang melakukannya?” Jelas Mbak Nana
‘’Tapi, memang itu yang harus dilakukan.’’
‘’Sudahlah, hendro. Bukankah kita memiliki bagian kita masing-masing. Kau sudah mendapatkan tiga. Dan sudah aku katakan padamu kemarin hari, aku bisa meraup belasan orang hanya dalam satu malam.’’
Pak Hendro terdiam. Kali ini, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Melihat kakaknya yang begitu congkak dan gegabah, dirinya hanya bisa menatap wajah kakaknya itu dengan penuh kekesalan,
‘’Apalagi dengan kedatangan anak si Darmo. Mungkin, itu akan menjadi tumbal terakhirku.’’ Jelas Mbak Nana
Pak Hendro segera mencekik kakaknya itu hingga membuat nafasnya sedikit tertekan dan tidak bisa menormalkannya,
‘’Lehermu kecil, mbak. Aku bisa mematahkannya kapan saja. Bukankah kita sudah memiliki bagian kita masing-masing?” Tanya Pak Hendro
Pak Hendro segera melepaskan cekikan itu. Ia kemudian meninggalkan kakaknya yang masih memegangi lehernya karena cengkraman kuat yang benar-benar membuat tenggorokannya merasa sedikit kesakitan dibuatnya.
Malam harinya, saat dimana Mitha selesai membaca Al-qur’an, lagi-lagi Dita mendekati Mitha dan menanyakan beberapa hal tentang Al-qur’an,
‘’Mit, aku mau tanya boleh, gak?’’
‘’Tanya apa, dit?’’
‘’Kenapa, ya? Kalo aku denger kamu baca Al-qur’an, hatiku kaya bergetar. Terus, seluruh tubuhku merinding gitu. Itu tandanya apa, ya?’’
‘’Ooh itu. Itu tandanya, kamu masih punya iman. Jadi, beruntung banget kalo kamu masih merasakan hal tersebut.’’
‘’Tapi, kan. Aku gak pernah baca Al-qur’an. Sholat aja jarang. Masa iya aku punya iman.’’
‘’Iman itu tidak bisa diukur dengan seberapa banyak kita membaca Al-qur’an dan seberapa rajin kita sholat. Iman itu tentang kepercayaan dalam hati dan meyakini tanda-tanda kebesaran Tuhan.’’ Jelas Mitha
‘’Kamu cocok jadi ustadzah, dit.’’
‘’Halah. Bisa aja kamu.’’
Tatkala mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba, lampu di kamar berkedip dengan sendirinya.
‘’Dit? Ada apa? Kok lampunya kedap-kedip sendiri?’’
‘’Gak tahu, nih. Perasaan, lampu di kamarku gak pernah kaya gini.’’
Bersamaan dengan itu, suara monyet dari atap rumah bermunculan.
‘’Dit! Itu suara apa!’’
‘’Aku gak tahu, mit. Jangan-jangan, siluman monyetnya dateng ke kamar kita.’’
‘’Astaghfirullah … kok bisa, dit?’’
Dan saat mereka berdua ingin keluar dari kamar, tiba-tiba, lampu langsung padam dengan sendirinya.
‘’Dep!’’
Tepat saat mereka berdua menghadap ke arah belakang, tiba-tiba, sosok hitam besar berjalan perlahan ke arah mereka.
‘’Dit! Itu apa?’’
‘’Aku gak tahu, mit!”
Sosok itu kemudian berlari seperti monyet ke arah Dita dan Mitha.
‘’Mit! Itu Siluman Monyet!’’
Mereka berdua pun mencari cara untuk melarikan diri. Namun, dengan sengajanya, mitha mendorong tubuh Dita agar tidak tertubruk oleh sosok tersebut.
‘’MITHAAAAAAA!”
Tubuh Mitha ditabrak dengan kencang oleh sosok tersebut hingga tubuhnya terbentur tembok. Mitha pingsan tak sadarkan diri. Dahinya mengalir darah karena benturan keras tersebut.
Bersamaan dengan itu, kedua tangan Mitha diseret secara perlahan. Dita hanya berteriak histeris sembari memanggil kedua orang tuanya.
‘’BAPAK! IBU! MITHA DISERET SILUMAN MONYET!’’
Siluman Monyet yang mendengar kalimat itu langsung menatap wajah Dita dengan penuh amarah.
Bersamaan dengan itu, dari luaran rumah para warga langsung membunyikan kentungan sembari membunyikan kincringan.
Hal ini membuat sosok tersebut meninggalkan Mitha dan berlari ke arah belakang rumah dengan cara menembus tembok kamar Dita.
Para warga segera mengejar sosok tersebut yang akhirnya mengarah kepada salah seorang rumah warga yang ternyata itu adalah rumah dari Mbak Nana.
Pak Hendro pun segera meminta kepada para warga untuk menggeledah rumah Mbak Nana.
Dan benar saja, mbak nana sedang berada di dalam ruangan khusus sembari mengenakan mantel hitam.
Raut wajahnya seperti penuh dengan kekesalan dan tampak kelelahan. Ia sendiri tidak terkejut saat para warga mendatanginya sembari membawa benda tajam. Namun, yang ingin ia lihat adalah wajah Pak Hendro, adiknya sendiri.
Tatapan Mbak Nana saat menatap wajah adiknya itu seperti tatapan yang penuh dengan kebencian.
‘’Kau ingin menyamakan seperti Bapak?’’ Tanya Mbak Nana kepada Pak Hendro
‘’Sudah kubilang. Jangan sentuh Mitha.’’
Pak Hendro hanya tersenyum. Para warga pun segera menangkap Mbak Nana dan membawanya ke rumah khusus yang berdekatan dengan perkebunan untuk nantinya diusir dari Desa Ampiri. Para warga menahan untuk satu hari saja agar Mbak Nana tidak bisa lagi melakukan perubahan wujud.
Pada malam itu juga, mbak nana seorang diri di dalam rumah tersebut. Kali ini, ia merasa kalah dengan adiknya sendiri.
Para warga juga tidak menyangka bahwa yang melakukan hal tersebut adalah saudara kandung dari Pak Hendro. Mereka semua sempat bertanya-tanya, mengapa seluruh anggota Pak Hendro memiliki hal-hal aneh dalam hidupnya.
Malam itu juga, saat para warga tidak berada di rumah khusus untuk mengasingkan Mbak Nana, pak hendro datang bersama dengan isterinya.
Ia kemudian membawakan sesuatu kepada Mbak Nana untuk diminum.
‘’Minumlah. Aku yakin, kau sangat haus.’’
‘’Cuih! Darah iblis mana lagi yang akan kau gadaikan, hendro?’’
‘’Aku hanya mengikuti cara lama orang tua kita. Bukankah Bapak melakukan hal ini untuk membunuh anaknya yang tidak ta’at?’’
‘’Darmo dan isterinya meninggal bukan hanya karena Bapak saja, hendro. Kita adalah para penghuni neraka yang masih diberi kesempatan untuk hidup.’’
‘’Padahal, mautmu sudah berada di ujung tenggorokan. Tapi, nyalimu untuk mengatakan penghuni neraka masih kuat juga ya, mbak.’’
Pak Hendro pun segera memaksa kepada Mbak Nana untuk meneguk cairan tersebut. Dengan meneguk cairan tersebut, itu artinya, hal yang sama sudah pasti akan terjadi seperti Pak Anto dan juga Ibu Anti.
Dan benar saja, keesokan harinya, hal yang mengejutkan terjadi kepada Mbak Nana. ia ditemukan sudah meninggal dunia dengan tubuh yang sangat mengenaskan. Wajahnya menjadi membiru dan di bagian lehernya terdapat gigitan ular.
Namun, beruntungnya, tidak ada yang tahu akan kejahatan halus yang dilakukan Pak Hendro. Ia mengatakan, jika kakaknya meninggal dunia karena ular besar yang berada di sekitaran rumah.
Bersamaan dengan itu, pak hendro segera kembali ke rumah. Ia kemudian menatap sebuah ruangan khusus yang tidak ada satu pun orang yang memasukinya kecuali dirinya dan juga isterinya.
’Pak … Bukankah, dulu bapak melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan di masa lalu? Lingkar tumbal akan terus berjalan kan, pak?’’

LANJUT PART-4
PESUGIHAN SILUMAN ULAR
(24 november 2022)
Bagi yang mau baca duluan, bisa langsung ke karyakarsa aja, ya. ini link-nya
karyakarsa.com/Restuwiraatmad…
Part terakhir juga sudah tamat. Part ini akan membongkar perihal kematian orang tua Mitha dan pesugihan yang dilakukan oleh masing-masing keluarga guntoro
karyakarsa.com/Restuwiraatmad…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Restu Wiraatmadja

Restu Wiraatmadja Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @RestuPa71830152

Nov 23
LINGKAR TUMBAL KELUARGA GUNTORO (4)

"Bagaimanakah jadinya, jika keluarga yang kita kenal adalah para pelaku dari macam-macam pesugihan yang sedang dijalankan? Lalu bagaimana jadinya jika kita adalah incaran dari keluarga kita sendiri?"

@bacahorror_id #malamjumat #ceritaserem ? Image
Malam ini, kita tipis-tipis dulu yak!
Read 5 tweets
Nov 3
LINGKAR TUMBAL KELUARGA GUNTORO

"Bagaimanakah jadinya, jika keluarga yang kita kenal adalah para pelaku dari macam-macam pesugihan yang sedang dijalankan? Lalu bagaimana jadinya jika kita adalah incaran dari keluarga kita sendiri?"

@bacahorror_id #malamjumat #ceritaserem Image
Mulai jam brp nih?
PESUGIHAN LAMPOR

Jawa Barat, 2011
(Malam sebelum pemberangkatan)
‘’‘Shadaqallahul-'adzim'’
(Maha benar Allah atas segala Firmannya)
Read 118 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(