HAHAhaditha Profile picture
Jan 1, 2023 415 tweets >60 min read Read on X
SETAN LEWAT
sebuah cerita horor binal eksploratif yang sinting.

Part 1 of 25
DIA BUKAN LAGI GADIS GILA YANG SUKA MELOLONG TENGAH MALAM

“Celakalah mereka nantinya. Kutukannya sudah dimulai.”

@IDN_Horor @bacahorror_id
#bacahorror #IDNH Image
Sebelum kemunculan seorang perempuan jelita pengalih mata, desa itu kerap kedatangan tamu gaib seperti sepasang ular hitam putih, macan kumbang, lutung putih, juga tak ketinggalan: kebo bule. Mereka semua datang di rentang jam sebelas malam sampai dua dini hari.
Tak ada yang tahu pasti mengapa makhluk-makhluk itu mondar mandir di desa mereka. Meski tak ada gangguan yang berarti, tapi tetap saja membuat bulu kuduk peronda berdiri tegak ketika menyaksikan kehadiran mereka.
Mata makhluk-makhluk gaib itu putih menyala. Membuat siapa pun yang kedapatan melihat penampakan mereka bakal menggigil dan kena mimpi buruk berhari-hari.
Tujuh hari menjelang kedatangan si perempuan jelita, para makhluk gaib sudah tak lagi datang. Tak ada yang curiga mengenai pertanda gaib itu kecuali Mbok Sinawang. Si dukun beranak yang tak lagi dipercaya untuk menjalankan persalinan. Dia peka terhadap pertanda.
Dan dia yang pertama curiga siapa sejatinya si perempuan cantik yang datang di siang bolong dan langsung menuju rumah Pak Kades. Orang-orang menduga kalau perempuan itu istri muda Pak Kades. Mereka keliru. Mbok Sinawang terbahak mengetahui tebakannya tepat.
Perempuan itu adalah putri tertua Pak Kades yang sempat menghilang bertahun-tahun. Perempuan itu dulunya dikenal sebagai gadis tak waras dan paling bermasalah di desa.
Karti Benguk adalah sebutannya dulu. Sebab tiap malam dia akan berteriak tidak jelas. Memanggil nama seorang laki-laki dengan inisial sama. Pak Kades, sang ayah, berusaha menyembunyikan keganjilan anaknya. Mustahil juga sebenarnya, karena semua warga saling mengenal.
Rumor-rumor yang beredar begitu cepat berpetualang di setiap lubang telinga. Tak terkendali. Banyak yang meniup isu kalau Karti Benguk ditinggal pas lagi sayang-sayangnya dan habis diperawani oleh seorang lelaki.
Ada juga yang bilang kalau Karti Benguk tak sengaja melintas tanpa permisi di kuburan demi berpacaran dengan si lelaki, tak tahu kalau di situ ada setan yang lagi leyeh-leyeh membahas kepicikan.
Rumor-rumor makin tak terkendali sampai tak satu pun cerita jadi terdengar masuk akal. Tidak ada yang tahu pasti apa sebab Karti Benguk menjadi gila. Dulu dia masih muda, seumuran anak SMP. Dia menghilang ketika seharusnya masuk SMA. Seharusnya.
Karena ketidakberesannya itu, Karti Benguk semacam dikerangkeng di rumah. Putus sekolah. Sesekali berhasil kabur lalu melolong di tengah kebun kosong.
Dan kini dia datang. Dalam wujud perempuan dewasa jelita bertubuh semlohai bak model majalah pengundang birahi. Awalnya warga mengira sedang ada artis ibukota datang berkunjung. Lantas kok artis lama bermalam di rumah Pak Kades dan tak ada kabar kegiatannya.
Omongan pun mulai santer terdengar. Banyak yang mengamini kalau dia adalah istri baru Pak Kades. Itu bukan sembarangan menuduh. Pak Kades sendiri yang pernah mengungkapkan keinginan untuk kawin lagi. Istrinya saat ini sedang sakit-sakitan.
Pak Kades butuh pelampiasan baru. Semuanya menjadi jelas ketika surat-surat undangan beredar. Anehnya yang diundang hanya kaum laki-laki saja. Membuat kaum perempuan bertanya-tanya gelisah.
Mbok Sinawang yang sempat melihat undangan itu diantar oleh Sunarti, adik si Karti Benguk, mencoba mencegah siapa pun untuk datang memenuhi undangan itu. Tapi rasa penasaran mengalahkan wanti-wanti Mbok Sinawang.
Semua laki-laki datang. Mbok Sinawang cuma bisa berkata kepada dirinya sendiri, “Celakalah mereka nantinya. Kutukannya sudah dimulai.”

******
Pak Kades boleh saja menyembunyikan masalah kejiwaan Karti Benguk waktu itu. Dari tuyul-tuyul hasil malpraktik persalinan, Mbok Sinawang berhasil mengorek apa-apa saja yang menjadi penyebab gilanya Karti Bentuk.
Apa yang diomongkan warga, tak ada yang salah. Semua versi itu benar kejadian terhadap Karti Benguk. Dari itu semua, Mbok Sinawang mendapatkan petunjuk tentang apa yang sedang Karti Benguk rencanakan saat ini. Menggigil Mbok Sinawang menyadari itu.
Dia pun menyesal, kenapa dulu tidak peduli dengan Karti Benguk. Kenapa membiarkan gadis malang itu jadi bulan-bulanan anak muda sekampung. Gagal menghalangi para lelaki memenuhi undangan Karti Benguk, Mbok Sinawang bersimpuh di depan cawan kembangnya, menangis.
Tuyul-tuyul yang diperolehnya dari proses pengguguran jabang bayi hasil percintaan anak muda tak bertanggung jawab di semak-semak, mengerumuninya dan memberinya suntikan semangat hidup. Tidak begitu mempan.
Setan sudah datang dan kali ini mengerikan.

******
Laki-laki yang datang, sudah tersihir semenjak melewati pagar rumah Pak Kades. Tenda sudah didirikan dan meja prasmanan siap dengan sajian santapan. Sayangnya santapan itu dibiarkan menganggur. Puluhan lelaki yang datang lebih menunggu si perempuan jelita naik panggung.
Panggung kecil seperti pelaminan. Pak Kades sekeluarga duduk di kursi deretan depan. Diam tak berkutik. Puluhan lelaki yang tersihir itu tidak memedulikan istri Pak Kades yang secara ajaib sudah sembuh total.
Istri Pak Kadeslah yang menggiring perempuan jelita itu naik ke panggung pelaminan. Semua mata membelalak tak mau berkedip demi merekam kejelitaannya. Perempuan jelita itu pakai kebaya. Melangkah kecil-kecil secara anggun.
Istri Pak Kades menemaninya hati-hati. Lalu turun setelah si perempuan jelita mempersilakannya.
“Selamat malam semuanya. Kalian pasti bertanya-tanya siapakah aku. Kenapa ada perempuan secantik ini datang ke desa kalian yang menyedihkan. Tidak perlu bingung lagi dan tidak perlu bergosip lagi, aku adalah yang kalian kenal sebagai Karti Benguk.
Gadis gila yang suka melolong tengah malam. Ketahuilah, gadis gila itu sudah sirna. Perjalanan bertahun-tahun yang kulalui, telah membuatku menjelma jadi secantik ini.
Kecantikan yang senantiasa menyihir kalian. Kecantikan yang akan membuat kalian putus asa. Ketahuilah, mulai sekarang, panggil aku dengan nama Tini.”
Apa yang diucapkan Tini, sama sekali tidak didengar dengan baik oleh para lelaki dalam pengaruh sihir itu. Yang mereka dengar hanyalah kalimat terakhir, mereka harus memanggil perempuan jelita itu dengan nama Tini.
“Selamat datang ke desa kami yang menyedihkan, Tini.” Kata mereka serempak.
“Terima kasih.” Tini turun dari panggung pelaminan dan disambut ibunya. Sang ibu membawakan teko isi sirup dan Tini membawa gelas untuk menampung setuang sirup untuk diminumkan ke setiap lelaki yang datang. Termasuk ayahnya sendiri, Pak Kades.
“Terima kasih, Tini. Terima kasih atas suguhan surgawinya.” Kata mereka dengan penuh syukur. Setelah itu Tini dan ibunya masuk ke rumah. Meninggalkan para tamu undangan dalam keadaan linglung dan kelaparan. Padahal di situ sudah sedia prasmanan menggugah selera. Aneh dasar.
Di luar acara itu. Para perempuan yang was-was menanti para lelaki pulang kembali, mendengarkan dengan jelas apa yang diucapkan Tini melalui pengeras suara. Anehnya, mereka tak bisa menyusul ke rumah itu. Seolah kaki mereka dirantai di dalam rumah. Esok paginya mereka sudah lupa.
Tapi teror yang menyertai, tetap tinggal, menanti dalam tidur panjang kesadaran yang telat. Telat sadar kalau para lelaki mereka punya dosa-dosa berat.
Dan pembalasan atas dosa-dosa itu akan terjadi ketika pikiran buruk bertemu dengan setan yang tak sengaja lewat.
akhir part 1. Nantikan part 2, besok malam.

Terima kasih, selamat menikmati.
SETAN LEWAT
sebuah cerita horor binal vulgar eksploratif yang sinting.

Part 2 of 25
DIA TIDAK PERNAH GILA YANG GILA ADALAH WARGA DESA

“Kakakmu tak pernah gila. Yang gila adalah warga desa ini! Termasuk ayahmu.”

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror #IDNH
part 1nya, tinggal scroll ke atas ya. Utasnya semua digabung.

mari kita lanjutkan kevulgaran ini.
Bahkan sesungguhnya, mata perempuan pun akan membelalak takjub ketika melihat Tini. Pada saat pertama kedatangannya yang langsung menuju rumah Pak Kades, adalah Sunarti, adik bungsunya yang membukakan pagar.
Sunarti yang masih SMP itu sempat mematung melihat Tini membuka kacamata hitamnya sembari menyibakkan rambut, adegannya cukup berulang-ulang terputar di kepala Sunarti.
Tini bak supermodel yang baru tersorot kamera di sebuah film, sosoknya membelakangi matahari. Matahari yang ikut tersihir kecantikannya, memancarkan sinar tak terlalu panas. Sunarti menganga bengong.
“Sunarti.” Panggil Tini. Seketika Sunarti terlempar sadar, bahan batu yang menjadikannya patung sesaat lalu, hancur. Dia melangkah pelan menyambut orang yang memanggil namanya secara lirih. “Aku kakakmu.”
Sunarti bahkan hampir lupa segala ingatannya tentang dunia, tentang jati dirinya, keluarganya, dan makhluk apa dia. Dia pun sampai lupa aksara dan bahasa. Sunarti terpaku membisu. Masih menganga.
Tini menjentikkan jari dan segala ingatan yang sirna sekejap itu kembali merasuki adiknya. Masih cukup linglung, “kakak?” yang Sunarti ingat adalah kakak keduanya yang bernama Sulastri. Saat itu sedang di dapur, membuatkan ayahnya kopi.
Sulastri tidak secantik perempuan yang sedang berdiri di depan pagar. Jauh sekali. Perempuan yang datang itu sama sekali tidak mencerminkan kecantikan yang dimiliki putri-putri Pak Kades. Putri-putri Pak Kades, biasa saja.
“Ya, kakakmu. Sukartini. Panggil aku Tini saja sekarang.”
Sunarti sebenarnya sudah mulai berjalan semenjak tadi, langkahnya terlampau pelan, menyaingi lambatnya bekicot bahkan. Pagar belum juga dibuka. Meski begitu, Tini tetap sabar.
Dia menikmati efek dari kehadirannya. Sunarti mencoba menjaring kembali ingatannya tentang kakak pertamanya. Hampir nihil. Ayahnya tidak pernah cerita. Ayah tidak pernah cerita Sunarti punya kakak artis.
Atau bukan artis? Sunarti mencoba mengingat dengan berkali-kali menyebut nama Sukartini. Belum juga dapat.
“Habis gelap terbitlah terang.” Tini memicu ingatan Sunarti.
Mendengar kalimat itu ingatan Sukartini kini pindah ke momen-momen Ibunya masih sehat dan suka bercerita.
Kala itu adalah 21 April, entah berapa tahun lalu, ibunya masih segar, dan pada hari itu tengah memakai kebaya, tapi bawahannya celana jins. Ayahnya sempat memrotes dan meminta dengan keras agar ibunya ganti pakai balutan kain. Ibunya menolak lebih keras.
Ayahnya tak terima dan menampar ibunya. Ibunya tak menangis, justru mengajak Sunarti dan Sulastri masuk ke kamar dan menceritakan kakak tertua mereka yang bernama hampir sama dengan hari besar itu. Sukartini.
Sulastri sudah kenal dengan Sukartini, bahkan menyebut nama julukan yang diberikan orang-orang kepada Sukartini, yaitu Karti Benguk. Ibunya tak suka Sulastri menyebut Sukartini edan.
Akibatnya Sulastri ditendang sampai berguling jatuh ke lantai. “Kakakmu tak pernah gila. Yang gila adalah warga desa ini! Termasuk ayahmu.”
Sulastri kabur dari kamar dan mengadu pada ayahnya. Sunarti kebingungan mencermati situasi itu. Waktu itu dia masih kecil. Dia sayang ibu. Ingatannya tentang kakak pertamanya samar-samar.
Ketika dia sudah bisa menyadari isi dunia, Sukartini sudah hilang. Sunarti hanya bisa menangis dan meraung-raung ketika ibunya dipukul pakai sapu oleh ayahnya. Hinaan ibunya sudah sampai ke telinga ayah, berkat Sulastri.
Ayahnya memukul sambil menyumpah, “Istri gila, ngasih anak pertama juga gila! Jangan sampai anak yang lain juga ikut gila!”
Dan itulah penyebab jatuh sakitnya sang ibu.
Sunarti kembali ke alam nyata. Mengamati Tini yang berdiri di depan pagar. “Kak Sukartini,” Sunarti menyebut nama itu sambil meneteskan air mata.
Sesungguhnya dalam hati dia mengutuk perempuan yang datang itu sebagai penyebab ibunya dihajar begitu sadisnya oleh ayah. Tapi tak ada yang bisa menghentikan Sunarti dari mengikuti permintaan Tini untuk menyambutnya dan mengajaknya masuk ke rumah.
“Terima kasih, Sunarti.” Tini membuka tas dan mengeluarkan cetakan undangan. “Tolong simpan ini. Tujuh hari dari sekarang, tolong diedarkan ke semua laki-laki di desa ini.” Sunarti menerima dan mengangguk. Dia simpan undangan itu. Dia baru akan ingat tugasnya tujuh hari kemudian.
Lebih parah dari Sunarti, Pak Kades melongo sampai keluar air liurnya. Penisnya melesak pengin keluar dari resleting celana ketika melihat Tini melangkah masuk.
Kalau Sunarti tadi melihat Tini berpenampilan anggun bak artis, Pak Kades melihat Tini masuk ke rumah dengan bikini saja. Pak Kades melupakan kopi yang baru dibuatkan Sulastri. Kini Sulastri sudah masuk kamar untuk menemani ibunya.
Tini masuk tanpa mengucapkan salam kepada Pak Kades yang duduk di kursi goyang. Dia langsung saja berdiri di hadapan Pak Kades. Kalau di mata Sunarti Tini sedang melepas jaket blazer, di mata Pak Kades, Tini sedang melucuti bikininya.
Sehingga apa yang terpampang di mata lelaki itu adalah Tini yang sedang telanjang bulat. Apa yang tersaji itu membuat Pak Kades lupa diri. Lupa anak istri. Penis yang mendesak di resleting akhirnya dibebaskan.
Pak Kades ingin menyerbu Tini. Tapi dia tak bisa bangkit dari kursi goyang. Akhirnya tangannya saja yang bertindak. Air liurnya menderas. Membuat bajunya basah, dan dalam waktu tiga menit kemudian, celananya ikutan basah bercampur air mani.
Sunarti melihat itu dengan jijik. Dia bahkan tak mampu untuk menutupi mukanya. Perilaku ayahnya membuatnya pengin muntah. Tini menjentikkan jari, membuat Sunarti melangkah maju ke depan Pak Kades. Bahkan di mata Pak Kades, Sunarti pun sedang tidak pakai baju.
Dia membuka tangan pengin memeluk Sunarti yang kini sudah beranjak remaja. Pak Kades memelorotkan celana, memamerkan penis setengah tegang. Yang diberikan Sunarti adalah muntahan sarapan. Lengkap kini mengotori pangkuan Pak Kades.
Tini menjentikkan jari lagi. Pak Kades mulai mengocok lagi penisnya. Sementara Sunarti mengikuti Tini masuk ke kamar ibunya.
Sulastri disuruh pergi. Dia keluar kamar dan melihat ayahnya sedang merancap. Dia ikut menyumbang muntahan di pangkuan Pak Kades. Lalu berdiri saja di depannya. Bahkan di mata Pak Kades, Sulastri pun sedang tak mengenakan busana. Teruslah dia mengocok penisnya sampai lecet.
Di dalam kamar, Sunarti menyaksikan keajaiban. Dia menangis tersedu-sedu. Untuk pertama kalinya semenjak ibunya jatuh sakit, ibunya dapat memandang dengan benar. Ibunya menatap Tini dengan berkaca-kaca. Tangan ibunya bisa bergerak lagi.
Mengusap pipi halus Tini. Air mata jatuh dari mata ibunya. Dan untuk pertama kalinya Sunarti mendengar lagi suara ibu.
“Tini, kau sudah pulang.” Diucapkan secara lirih dan sangat perlahan.
“Aku sudah pulang, bu.” Tini mengecup kening ibunya. Lalu mengajak Sunarti untuk pelukan bersama. Sakit menahun ibunya kini sudah terangkat. Tini membantu ibunya untuk duduk. Tini dan Sunarti sungkem lama di pangkuan ibu.
Begitulah....
part 3 besok malam.

Terima kasih.
SETAN LEWAT

Part 3 of 25
BERSAMA IBU DIA LENYAP DALAM KABUT JALAN SETAPAK

“Lewatlah kalian ketika ada pikiran-pikiran buruk melintas. Jadikan semua itu nyata dan kabari aku hasilnya.”

@IDN_Horor
@bacahorror_id
#bacahorror #IDNH
Di rumah Pak Kades, hanya bertiga, Tini, Ibu dan Sunarti yang tak terpengaruh oleh sihir misterius. Sementara Pak Kades masih memainkan batang dan bolanya dan Sulastri masih berdiri di hadapannya. Kini menangis darah. Dia masih sadar, hanya saja tak mampu bergerak.
Dia bisa mendengar canda tawa Ibu, Tini dan Sunarti di dalam kamar. Air mata darah Sulastri membasahi bajunya. Di mata Pak Kades, air mata darah itu adalah sirup dan madu yang menetes entah dari mana, membaluri tubuh molek Sulastri.
Gerak kursi goyangnya makin menggila seiring batang dan bolanya sudah mulai berbusa dan berdarah.
“Tujuh hari dari sekarang, kita pergi ya Bu.” Ungkap Tini.
“Iya Tini. Bawa ibu pergi jauh dari sini.”
“Kakak dan ibu mau ke mana? Sunarti mau ikut.”
Tini tersenyum dan mengusap kepala adik bungsunya. “Tidak dalam tujuh hari ke depan ya. Nanti Sunarti tentu akan bergabung bersama ibu. Tapi tidak secepat itu. Kakak perlu Sunarti jadi mata kakak di sini. Oke?”
“Janji ya Kak.”
Tini menyerahkan kelingkingnya untuk dikait kelingking Sunarti.
Tujuh hari kemudian. Sunarti bergerak otomatis mengedarkan undangan-undangan. Dan pada hari itu, sihir misterius yang mengena Sulastri dan Pak Kades patah.
Mereka berhenti berdiri menangis darah dan juga rancap darah. Tiga hari yang lalu, Tini sudah menyewa terop dan memesan prasmanan. Ibunya memanggil perias ternama untuk merias mereka bertiga.
Di hari itu, yang benar-benar waras hanyalah ibu dan Tini. Sunarti separuh saja. Dia masih kena pengaruh sihir cantiknya Tini.
Sulastri dan Pak Kades bagai mayat hidup. Mereka hening saja. Mata mereka merah. Oleh Tini mereka ditiup. Dan mereka pun kembali segar. Namun tetap, mereka hening saja. Mereka bergerak seperti mayat hidup. Acara belum dimulai, mereka sudah duduk di kursi depan.
Mereka hening saja. Tamu datang, mereka hening saja. Seperti mayat sungguhan yang sengaja didudukkan di sana. Tamu-tamu yang datang, tak memedulikan mereka. Mereka mengendus-endus aroma wangi Tini dari dalam rumah.
Di dalam kamar, Tini mengeluarkan lampu ajaib dari tasnya. Dia usap-usap dan tuang ke teko. Cairan kemerahan keluar memenuhi. Cairan itu yang kemudian dia tegukkan ke masing-masing kerongkongan lelaki yang datang.
Cairan itu benar masuk ke dalam kerongkongan dan bahkan sampai ke lambung dan organ-organ lain, tapi cairan itu kemudian kembali lagi ke teko. Setelah acara selesai, teko itu Tini bawa kembali ke kamar. Ibu dan Sunarti tidak diijinkan masuk.
Tini minta waktu sebentar. Di kamar, tengah malam, Tini menuangkan lagi cairan merah itu dari teko ke lampu. Cairan itu berubah jadi lilin cair. Dia usap-usap lagi lampu itu. Bersamaan dengan adanya lolongan anjing di luar, Tini menuangkan lilin cair itu ke udara melayang.
Setiap tuangan, lilin cair itu mewujud jadi miniatur manusia dengan daging kemerah-merahan. Mereka melayang-layang. Setiap tiga wujud tercipta, Tini menepis mereka dan ketiganya terbang keluar, menembus dinding dan menghilang di kegelapan.
“Lewatlah kalian ketika ada pikiran-pikiran buruk melintas. Jadikan semua itu nyata dan kabari aku hasilnya.”
Tini menuang banyak sekali lilin cair demi menjadikannya mainan-mainan lilin yang menjelma setan-setan siap lewat di hiruk pikuk pikiran manusia yang tak menentu. Sial saja kalau pikiran busuk terbersit dan si setan lewat.
Niscaya pikiran busuk itu akan mewujud dan mendorong manusianya melakukan pikiran itu. Tanpa motivasi. Hanya melakukan saja. Tak peduli konsekuensi. Tini menuang lilin cair ke udara sebanyak tamu lelaki yang datang tadi.
Kepada Pak Kades, ayahnya sendiri, Tini menuangkan lilin cair itu langsung ke dalam mulutnya. Itu dilakukannya ketika penghuni rumah yang lain sudah terlelap. Lelap yang dia ciptakan, untuk seluruh desa. Permulaan kutukan.
Lilin cair itu meresap masuk ke dalam relung jiwa Pak Kades. Menciptakan pikiran-pikiran besar. Pak Kades tak mau berhenti di satu ambisi kecil. Ambisi-ambisinya akan terwujud.
Tini tersenyum sambil menyeka lilin cair dari sudut bibir Pak Kades. Itu adalah lilin cair terakhir. Cukup banyak daripada yang dia tuangkan ke udara tadi.
Tanpa seluruh warga desa sadari, pagi buta setelah acara undangan itu, Tini dan Ibu sudah menghilang. Sunarti sempat mengantarkan mereka sampai pagar, lalu dia ikuti sampai batas desa. Tini dan Ibu lenyap dalam kabut jalan setapak.
Sunarti pulang dan lupa apa yang dia saksikan tadi. Semua warga desa juga hilang ingatan. Mereka tak ingat Tini pernah datang. Tapi bayang-bayang Tini tetap akan menghantui mimpi-mimpi liar para lelaki dan mimpi-mimpi buruk para perempuan.
Di acara itu, Tini menyewa tukang foto gaib. Sebuah foto yang memuat semua tamu dan Tini di tengah. Foto itu dimiliki setiap tamu lelaki yang datang. Diselipkan ke dompet, dipajang di dinding rumah, dijadikan baleho, dijadikan poster.
Tapi mereka lupa siapa perempuan di tengah itu. Tapi mereka merasa begitu kenal. Tapi mereka lupa sama sekali. Mereka lupa perempuan itu bernama Tini. Mereka lupa belaka kalau itu adalah Karti Benguk. Perempuan dalam foto itu, menjadi hantu bagi mereka. Hantu cantik dambaan hati.
Hanya satu orang yang ingat betul. Dialah Mbok Sinawang. Sihir Tini tidak berpengaruh padanya. Atau memang sengaja dibuat seperti itu? Tidak ada yang menahu. Tini sudah hilang lagi sebelum semua itu terjelaskan. Padahal Mbok Sinawang sudah merencanakan hari untuk menemui Tini.
Berusaha menyingkap hantu misteri apa yang mengawalnya. Tamu-tamu gaib di malam sebelum kedatangan Tini, pasti meninggalkan petunjuk. Tapi petunjuk itu telanjur terlupakan dan tak sempat terpecahkan. Mbok Sinawang hanya bisa menebak-nebak. Setan apa yang bakalan datang.
Sedikit saja dia mendapatkan pencerahan. Itu ketika dia mendengar suara Tini di pengeras suara pada saat acara. Suara itu mungkin terdengar merdu bagi telinga laki-laki dan perempuan. Tapi suara itu lain terdengar oleh telinga Mbok Sinawang.
Suara itu terdengar seperti jemaat setan tengah kumpul untuk merencanakan perbudakan nista. Mbok Sinawang keluar rumah di fajar buta. Merasakan kabut pagi berhawakan ganjil. Dia tahu, Tini pasti sudah pergi. Tapi setan-setannya sudah menyebar dan tinggal di sekitaran desa.
Mbok Sinawang melemparkan kuaci yang habis dikunyahnya ke sembarang arah. Dari sembarang arah itu, tuyul-tuyul hasil persalinan malpraktiknya muncul dan berkumpul di depannya. Mbok Sinawang minta kepada mereka untuk melintasi ruang dan waktu untuk mencari petunjuk masa lalu Tini.
Ke mana dia hilang selama itu. Ke gunung mana dia mendalami ilmu hitam. Ke guru sesat mana dia meminta perlindungan. Apa tujuannya datang lagi kemari. Apa yang Tini rencanakan melalui ilmu-ilmu itu. Kenapa datang lalu menghilang lagi?
akhir part 3
untuk part 4nya di-up beberapa hari kemudian.
maturnuwun. setan mau lewat dulu.
Mari kita lanjut...

SETAN LEWAT

Part 4 of 25
CARA MENJELAJAH WAKTU MENGGUNAKAN BOLA MATA TUYUL

Mbok Sinawang pergi ke semak-semak untuk bersepakat dengan genderuwo. “Tolong lebih banyak lagi meniupi nafsu muda mudi.”

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror #IDNH
Susah juga ketika kaulah satu-satunya yang penasaran. Kalau tidak terungkap, bisa mati penasaran. Kau tahu bagaimana orang mati penasaran? Setannya juga penasaran. Pengin tahu. Setan suka ikut campur.
Kalau setan suka ikut campur dan mengusik hidupmu, bersegeralah tobat, mungkin saja setan yang penasaran itu akan ikut tobat. Kalau saja setan bisa tobat. Atau itu mungkin? Tidak tahulah.
Tak ada jalan lain bagi Mbok Sinawang. Dia harus melintasi ruang dan waktu. Melalui tuyul-tuyul peliharaannya. Tuyul-tuyul hasil hubungan gelap di semak remang-remang.
Tuyul-tuyul yang dibuang oleh orangtuanya. Tuyul-tuyul malang. Di tangan Mbok Sinawang, mereka ada gunanya. Karena itu Mbok Sinawang memelihara mereka.
Mata tuyul-tuyul itu hitam legam. Bisa copot pasang. Mbok Sinawang ketika bosan, meminta salah satu tuyul untuk melepas bola matanya guna Mbok Sinawang jilati. Bola mata tuyul itu tidak lembek. Melainkan keras seperti gundu jumbo. Yang bila dihantamkan ke jidat bisa bikin benjol.
Bola mata tuyul itu hitam dan selalu dingin. Mbok Sinawang suka menggulirkan bola mata itu ke seluruh wajahnya. Sejuk menenangkan. Dan kalau lagi benar-benar bosan sebab tak ada pasien datang, bola mata gundu itu dia gulirkan ke seluruh tubuh. Sejuk menenangkan.
Sejuk menyenangkan. Tuyul yang dipinjam matanya, rongganya kosong melompong. Menganga. Tapi tetap bisa berlarian sekeliling rumah, sekeliling desa. Walau tanpa mata, mereka masih tetap dapat merekam kejadian-kejadian. Untuk nanti disimpan dalam bola mata gundu.
Dan ketika rongga mata mereka kosong melompong. Misal tiga tuyul dalam waktu bersamaan rongga matanya kosong akibat bola mata gundu dipinjam Mbok Sinawang, mereka akan berlarian ke sekeliling desa. Sekeliling waktu. Sekeliling masa-masa desa itu semenjak ada.
Tuyul-tuyul hitam itu melintasi waktu. Merekam kejadian-kejadian. Mereka sesungguhnya tak peduli. Mereka berlarian saja. Bermain-main. Bersenang-senang bersama kawan-kawan tuyul lain. Bersenang-senang mengejar kepiting hitam yang juga gaib.
Jenis kepiting yang hanya dapat mereka temui kalau mereka sedang melintasi ruang dan waktu. Kepiting-kepiting itu yang menjadi jangkar waktu mereka. Ketika kepiting gaib muncul, mereka tahu mereka sedang melintasi ruang dan waktu.
Ketika di penghujung jalan mereka bertemu kepiting warna putih, mereka sudah kembali ke masa sekarang. Perjalanan waktu yang dialami tuyul-tuyul itu berlalu amat singkat di masa sekarang. Mereka seperti tidak pernah beranjak. Tidak pernah berlarian.
Tahu-tahu kembali dan sudah merekam banyak kejadian masa lampau. Mbok Sinawang segera memasang kembali bola-bola mata gundu ke soket masing-masing. Segera saja bola-bola mata gundu itu berdesing cepat. Bahkan memercikkan bunga api layaknya gerinda membelah batu api.
Tapi perlu usaha ekstra untuk mengekstrak kejadian-kejadian apa saja yang sudah dipanen oleh tuyul-tuyul itu di masa lampau. Dan tak kesemuanya pasti dan jelas. Mbok Sinawang harus menjelajahinya dahulu. Dan itu membutuhkan waktu lama sekali.
Sekali satu bola mata gundu dia ambil lagi, setelah berdesing kencang menyerap kejadian, dia cemplungkan ke baskom, lalu menyorotkan rekaman kejadian di langit-langit kamar, Mbok Sinawang tak boleh berkedip. Rekaman itu berlangsung sangat cepat. Kelebatan-kelebatan.
Mbok Sinawang harus merekamnya lagi ke dalam otaknya pribadi. Untuk nanti diputar lagi di dalam benak sepelan mungkin, di momen-momen yang dirasanya sesuai dengan apa yang dia cari. Sungguh merepotkan bukan?
Sudah begitu, tuyul-tuyul yang kelelahan minta menyusu. Menyusu jempol kaki Mbok Sinawang. Lihatlah betapa menggelikannya itu. Sungguh geli. Jempolmu dihisap oleh tuyul bermulut lucu.
Mereka bergiliran mengisap jempol dan kuku selagi Mbok Sinawang mengamati kejadian-kejadian yang tengah dikilaskan depan mata.
Dia memusatkan pikiran, sembari menahan geli, menyatukan fokus pada sosok Karti Benguk, semasa dia belum gila. Tapi susahnya bukan main. Kilasan kejadian-kejadian masa lalu begitu susah untuk dirangkai menjadi runut.
Sepertinya dia perlu lebih banyak tuyul. Tapi sayangnya, sudah lama tak ada lagi pasangan gelap yang melakukan senggama di semak-semak. Semak-semak yang dihuni oleh genderuwo. Nafsu yang memuncak pada kelamin-kelamin tak bertanggung jawab, disemburkan oleh napas bau genderuwo.
Melesak ke dalam selangkangan dan saling hajar saling sodok. Napas genderuwo menyatu dengan air puncak birahi, menjadikannya benih-benih tuyul. Kalau jabang bayi itu dibiarkan sampai hidup, maka bayi itu akan jadi jelmaan setan. Anak genderuwo kalau kau boleh bilang.
Dan kalau jabang bayi itu tidak mau dipertahankan oleh pengandungnya, jabang bayi itu digugurkan dan ditanam ke tanah, besok paginya, dari gundukan tanah muncullah tuyul hitam bermata gundu. Mbok Sinawang harus membiarkan tuyul-tuyul itu mengerjai pengandung dan pemuncrat benih.
Menjadikan mereka sial seumur hidup. Mematikan rejeki. Menjauhkan jodoh. Menyesatkan mereka sampai tak ingat Tuhan. Kalau mereka sudah tenggelam dalam perzinaan, selamanya mereka akan tenggelam. Semakin parah dan semakin parah.
Begitu tuyul-tuyul sudah puas, mereka akan kembali ke Mbok Sinawang. Bermain-main dan melintasi ruang dan waktu.
Mbok Sinawang telah menghabiskan waktu tujuh hari tujuh malam mencermati rekaman masa lalu bola mata gundu. Petunjuk-petunjuknya masih semu. Dia butuh lebih banyak tuyul lagi. Dalam satu waktu agar mereka semua bermain-main dan melintasi waktu.
Saat ini dia baru punya tujuh belas tuyul bermata gundu. Dia butuh lima puluh supaya rekaman masa lampau itu bisa lebih gampang untuk dirangkai. Seperti keping puzzle.
Sekarang, tujuh belas tuyul itu baru dapat memberikan keping-keping retak cermin. Susah dirangkainya. Meski bersatu, tetap retak dan bayang-bayangnya makin membuat bingung.
Maka tak ada jalan lain, Mbok Sinawang pergi ke semak-semak untuk bersepakat dengan genderuwo. “Tolong lebih banyak lagi meniupi nafsu muda mudi.”
Genderuwo menyanggupi.

******
Di malam yang dingin, seorang lelaki duduk di pos ronda. Dia habis marahan dengan istri karena ketahuan main mata dengan perawan di pasar. Istrinya itu sudah berminggu-minggu mendiamkannya di rumah. Bahkan mau minta jatah pun ditolak mentah-mentah.
Si lelaki, panggil dia Karjo, nafsunya sudah memuncak di ubun-ubun. Selama itu, akhirnya dia menyerah dan membiarkan tangannya melakukan pemuasan batin. Sampai lecet. Di pos ronda, dia memikirkan perawan itu. Kemolekannya. Nafsu terbit di kepala kemaluannya.
Berdenyut-denyut menyebalkan. Menuntut untuk segera ditunaikan. Karjo berangan-angan, seandainya saja dia punya ilmu tak terlihat, dan melesat cepat, dia ingin mendatangi perawan itu dan menidurinya.
Di malam yang dingin, angin berembus ganjil. Si lelaki bernama Karjo yang duduk sendirian di pos ronda, meremas-remas kemaluannya yang gatal. Saat pikiran liar itu terbit, angin berembus ganjil melintasi telinganya. Dia menggigil. Giginya bergemeletuk.
Angin kemudian membawa bau sangit. Samar-samar dia mendengar suara tawa berat. Lalu ada sentilan di kemaluannya. Membuatnya berdiri tegak. Seketika Karjo berdiri. Melepas baju atasnya. Dan menyaksikan kulitnya berubah jadi hijau.
Begitu juga dengan kolornya. Dia bisa tak terlihat dan bergerak cepat.
lanjut ke part 5, besok malam minggu. sip.
suwun.
Malam minggu baca horor binal.. cakep!

SETAN LEWAT

Part 5 of 25
SABAR DALAM MENANGKAP KOLOR IJO

“Kami tidak ingin jabang-jabang bayi penerus generasi lahir dari tangan seorang musyrik.”

@IDN_Horor
@bacahorror_id
#bacahorror #IDNH
Selagi menunggu genderuwo melakukan tugasnya, Mbok Sinawang mencari duit. Dia butuh duit, untuk bekal masa depan. Kalau saja masa depan masih tersedia baginya. Kalau tidak, ya mungkin akan disumbangkan saja. Buat musala, atau panti asuhan.
Walau sebenarnya dia tidak peduli-peduli amat, paling tidak dia bisa berbuat baik sekali seumur hidup. Dia menyadari, apa yang dilakukannya bisa dibilang sesat. Berkali-kali dia dilabrak oleh Pak Kiai bersama santrinya.
Mereka menuntut Mbok Sinawang berhenti melakukan kegiatan musyrik. Mbok Sinawang ogah meladeni bacot mereka. Jadi dia mengangguk saja dan berpura-pura tobat. Dia selanjutnya melakukan hal-hal yang lebih tak terlihat.
Salah satu penyebab dihentikannya praktik persalinan yang dilakoninya dulu sewaktu muda adalah tuntutan dari Pak Kiai sok suci itu. Katanya, “Kami tidak ingin jabang-jabang bayi penerus generasi lahir dari tangan seorang musyrik.”
Mbok Sinawang kemudian hanya melakukan kegiatan pengguguran. Kalau membantu melahirkan saja tidak boleh, baiklah, bantu yang mau membunuh saja. Toh kemudian bayi-bayi yang berusaha dia bantu bunuh, malah jadi tuyul. Dan tuyul-tuyul itu berguna baginya.
Tuyul-tuyul itu bisa menghasilkan duit. Caranya adalah dengan melakukan praktik pengambing-hitaman.
Tanpa terendus Pak Kiai, Mbok Sinawang menawarkan jasa kepada caleg-caleg gagal, pengacara penjilat, dan orang-orang putus asa yang pengin menjatuhkan lawan. Mbok Sinawang menawarkan kepada mereka apa yang bisa dikumpulkannya terhadap lawan-lawan itu.
Hal-hal yang tak sepatutnya diungkap. Hal-hal rahasia. Hal-hal memalukan. Setiap orang punya momen memalukan dan disembunyikan rapat-rapat. Toh kalaupun tak ada, Mbok Sinawang bisa mengatur kejadian memalukan itu. Mbok Sinawang punya si genderuwo yang bisa meniupi birahi.
Mbok Sinawang tentu tidak melakukan transaksi itu di desa. Bisa terendus Pak Kiai dan dia bisa diusir. Tidak, Mbok Sinawang kadung cinta tinggal di desa. Bukan karena warganya, tapi karena apa yang ada di desa itu sendiri. Rahasia gaib yang belum sepenuhnya berhasil dia ungkap.
Mbok Sinawang pergi ke kota dan menghubungi orang yang tepat. Para ajudan yang disuruh mencari orang pintar adalah sasarannya. Mbok Sinawang cuma perlu foto dari lawan.
Untuk kemudian dia berikan ke tuyul-tuyul hitam yang sudah agak dewasa, yang pertama dia dapat dari pengguguran. Mereka sudah lebih jago dan lebih terarah dalam mengendus masa lalu.
Tapi anehnya, setiap mereka diminta untuk menelusuri Karti Benguk, mereka enggan. Mereka selalu menunjuk ke gerbang desa. Mbok Sinawang jadi ingat penampakan-penampakan makhluk gaib sebelum kedatangan Tini.
Ada sekitar empat bulan Mbok Sinawang mencari duit. Ya untuk foya-foya sedikit. Beli ini itu. Sisanya kemudian disimpan. Dia tidak pelit. Dia belikan masakan kepiting untuk tuyul dewasa. Mereka doyan. Bahkan dimakan beserta cangkangnya.
Ajaibnya, cangkang itu keluar menjadi perak atau emas dari dubur tuyul. Perak dan emas itu bisa dijual juga oleh Mbok Sinawang. Dasar memang tuyul-tuyul bermanfaat.
Apa yang dijanjikan genderuwo sudah mulai berdatangan. Ada kiranya lima pasangan gelap yang bersetubuh di semak remang-remang, datang sembunyi-sembunyi untuk minta digugurkan. Tak mau diendus oleh Pak Kiai, Mbok Sinawang diam-diam membangun ruang bawah tanah yang kedap suara.
Di sana, tuyul-tuyul hitam terlahir. Dari lima pasangan itu, Mbok Sinawang mendapatkan dua puluh lima tuyul baru. Sebagai bayarannya, Mbok Sinawang mengatur agar salah dua dari perempuan celaka yang minta digugurkan kandungannya untuk dijadikan istri genderuwo.
Istri tiga hari tiga malam. Dibawa ke dunia genderuwo. Setelah tiga hari tiga malam itu, Mbok Sinawang tidak begitu peduli genderuwo mau mengembalikan mereka atau tidak. Dia yakin sih pasti tidak. Mbok Sinawang tidak peduli.
Tapi butuh waktu juga untuk dua puluh lima tuyul baru itu untuk menuruti kemauan Mbok Sinawang. Dia harus membiarkan tuyul-tuyul itu membalas dendam kepada pemilik batang dan bola yang membuat mereka tak jadi lahir sebagai jabang bayi manusia.
Mbok Sinawang meminta tuyul-tuyul dewasa untuk mendampingi mereka.
Tapi ternyata butuh waktu yang lama pula untuk melatih tuyul-tuyul baru itu untuk menjelajah waktu. Itu karena apa yang dilakukan pasangan-pasangan gelap bukan murni dari hasrat birahi mereka sendiri. Tak ada jalan lain, Mbok Sinawang harus bersabar.
Sembari bersabar menunggu, dia mengamati apa yang terjadi di desa. Banyak hal terjadi setelah Tini dan ibunya lenyap begitu saja ditelan kabut fajar.
Hal-hal yang terjadi itu membuat Mbok Sinawang makin penasaran. Setan apa yang sedang menggerayangi desa. Bagaimana bisa tahu-tahu muncul sosok kolor ijo yang doyan memerkosa gadis sedang berjalan sendiri di malam hari.
Mbok Sinawang memberi saran kepada warga agar memasang penangkal kolor ijo di setiap rumah. Yaitu bambu kuning. Tapi tetap saja kolor ijo misterius itu masih bisa menggauli perawan.
“Sepertinya ini bukan kolor ijo yang pernah marak dulu.” Kata Mbok Sinawang, kepada dirinya sendiri. Sebab apa yang disarankannya kepada warga desa, dilarang mentah-mentah oleh Pak Kiai. Melalui megafon musala, Pak Kiai melarang warga desa untuk memercayai Mbok Sinawang.
Tapi beberapa warga masih ada yang mendengarkan, mereka tetap memasang bambu kuning. Warga yang melakukan itu, diboikot oleh Pak Kiai untuk masuk musala. Mereka tidak peduli.
Perawan-perawan malang yang jadi korban pemerkosaan kolor ijo itu tiba-tiba perutnya bunting. Selama lima bulan, perut itu semakin besar. Dan pada malam purnama bulan keenam, mereka melahirkan kentut yang sangat busuk. Perut mereka kempis dan mereka kembali perawan lagi.
Sialnya, hanya untuk bisa digauli lagi oleh si kolor ijo. Perawan-perawan malang itu trauma sepanjang hidup. Puluhan psikolog terbaik pun tidak akan bisa memulihkan mereka.
“Siapa sih kolor ijo ini. Bosan aku dengan bau kentut busuk perawan-perawan itu.” Mbok Sinawang geram. Semalaman dia bersemedi di rumpun bambu satu-satunya yang ada di desa. Mbok Sinawang kedapatan ide.
Masa selama berbulan-bulan ini mereka masih belum bisa menguak dan menangkap si kolor ijo. Di desa, tinggal satu perawan yang belum diperkosa kolor ijo. Yaitu Sulastri, anak Pak Kades. Dia pasti jadi korban terakhir. Mbok Sinawang menyewa jasa genderuwo lagi.
Balasannya tentu dia menjanjikan Sulastri agar bisa dikawini oleh si genderuwo. Dia tidak peduli. Diam-diam, Mbok Sinawang membisiki para peronda agar berjaga-jaga di sekitar rumah Pak Kades.

******
Karjo setiap malam berburu perawan. Dengan kesaktiannya menjadi tak terlihat dan bergerak cepat, dia bisa menyelinap masuk rumah-rumah yang ada perawannya.
Tentu korban pertamanya adalah si gadis perawan yang ditemuinya di pasar. Rumahnya sih di desa sebelah. Tapi tetap dia jabanin. Karjo menyelinap masuk ke kamar si perawan dan melucuti pakaiannya.
Betapa asyiknya, Karjo bisa menikmati tubuh si perawan tanpa si perawan menyadari. Karjo memerkosa mereka secara gaib. Tapi nikmatnya terasa secara fisik. Fisiknya sendiri.
Dia lakukan itu selama hampir satu tahun. Tak ada malam tanpa memerkosa perawan. Setiap malam dia selalu berhasil meniduri mereka. Kecuali malam terakhir itu. Sasarannya adalah perawan anak Pak Kades. Sebetulnya tidak cantik-cantik amat. Tapi tak apalah untuk variasi.
Baru menyelinap masuk ke kamar Sulastri, ada tangan gelap yang mencengkeramnya. Sial, Karjo dicengkeram genderuwo. Selanjutnya tahu-tahu ada bunyi kentongan dipukul keras-keras. Karjo ketahuan, ilmunya hilang begitu saja karena sergapan genderuwo.
Malam itu Karjo habis dihajar warga desa. Bahkan kematiannya tidak diperlakukan selayaknya warga desa lain. Dia dikubur asal-asalan. Bahkan istrinya tidak menangisinya. Pak Kiai tidak bisa berbuat banyak. Dia paling tidak suka pelaku kesesatan.
Mampus kau Karjo!

Part 6 Setan Lewat beberapa hari lagi. Mohon ditunggu.
markinjut

PART 6 - SETAN LEWAT

Cerita-cerita Tentang Kegilaan Dan Pemuda Yang Pengin Jadi Batu

“Bisa jadi Karno Bangir adalah si genderuwo di semak-semak lapangan itu. Kalau sudah terikat kawin dengan dia, bisa gila seumur hidup.”

@IDN_Horor
@bacahorror_id
#bacahorror #IDNH
Perempuan-perempuan dari pasangan gelap yang bercinta di semak-semak, telah dikembalikan oleh genderuwo. Kawin kontraknya sudah selesai. Genderuwo punya istri baru. Yaitu Sulastri. Anak kedua Pak Kades.
Perempuan-perempuan sial itu pulang ke rumah dan mendekam gila. Mata mereka kosong. Percintaan tak manusiawi yang dilakukan genderuwo membuat kemanusiaan mereka tercerabut. Terlalu ganas. Terlalu nahas.
Rupanya genderuwo lebih senang dengan Sulastri. Walau anak kedua Pak Kades itu tak cantik-cantik amat, juga tak semok semok amat. Genderuwo malah sayang padanya. Bahkan, genderuwo tak mau segera menyetubuhi Sulastri.
Raksasa gaib berbulu itu lebih memilih menimang-nimang Sulastri, mengecupnya, membelainya, memanjakannya. Sulastri sendiri, takut setengah mampus. Tapi lama kelamaan, luluh juga.
Pemandangan menjijikkan tentang ayahnya yang suka merancap membayangkan janda-janda muda membuatnya ogah pulang ke rumah. Biar saja Sunarti si bungsu yang mengurusi ayah.
Menghilangnya Sulastri, tak seheboh menghilangnya Karti Benguk dulu. Mbok Sinawang memberitahu warga, “Sulastri diambil genderuwo. Itu lebih baik daripada dia diperkosa kolor ijo Karjo celaka itu.”
Orang-orang sudah melupakan Karjo si Kolor Ijo. Sudah tamat dia. Kerusakan yang disebabkannya bahkan tak sebanding dengan kematiannya. Karjo harusnya disiksa seumur hidup tanpa diijinkan mati. Keenakan dia dihajar massal lalu mampus begitu saja.
Kegilaan yang melanda ratusan korban perkosaan kolor ijo, lebih parah dari mantan pengantin genderuwo. Selentingan ucapan melintas di udara, banyak yang menyebut peristiwa itu sebagai wabah Karti Benguk. Di warung-warung kopi, warga mengingat kegilaan yang melanda Sukartini.
Mereka ingat, Sukartini selalu meneriakkan sebuah nama. Karno Bangir. Berima dengan nama itu, akhirnya warga menjuluki Sukartini dengan Karti Benguk. Sukartini masih muda belia. Usia-usia anak SMP. Tapi sudah gila karena lelaki.
Itulah cerita yang banyak dipercayai warga. Karti Benguk gila karena cinta. Cinta kepada laki-laki bernama Karno Bangir yang tidak ketahuan wujud dan keberadaannya.
“Bisa jadi Karno Bangir yang dimaksud adalah dari bangsa jin.”
“Bisa jadi Karno Bangir yang dimaksud adalah hantu halimun. Gak kelihatan.”
“Bisa jadi Karno Bangir cuma ada di imajinasinya. Karti Benguk sudah sakit jiwa dari lahir.”
“Bisa jadi Karno Bangir yang dimaksud adalah si genderuwo di semak-semak pinggir lapangan itu. Kalau sudah terikat kawin dengan dia, bisa gila seumur hidup.”
“Mungkin itu yang memang terjadi.”
Siapa berkata apa, siapa bercerita apa, sampai memburam kebenarannya. Cerita-cerita tentang awal mula kegilaan Karti Benguk, menjalar liar.
“Bisa jadi, Karti Benguk lagi santai sore hari lalu dikencingi tuyul. Masuk dari lubang hidung dan menjangkiti otaknya.”
“Bisa jadi itu bukan perkara cinta. Tapi perkara ujian sekolah yang susah bukan main.”
“Bisa jadi, Karti Benguk menghantamkan kepalanya ke batu nisan keramat kuburan sebelah kebun itu.”
Yang dimaksud adalah kuburan leluhurnya Mbok Sinawang. Leluhur-leluhur yang dianggap menganut agama setan. Yang dulu matinya dibakar hidup-hidup oleh warga yang kerasukan amarah.
Sesungguhnya pencetus kalau leluhur Mbok Sinawang harus dibakar itu terinspirasi oleh nasib para penyihir di jaman lampau, di luar nusantara. Saudara-saudara Mbok Sinawang yang masih utuh dahulu, menguburkan para leluhur di kebun.
Upacaranya membuat warga takut. Mereka menguburkan para leluhur mereka dengan membasuhi tanah dengan darah. Langsung dari sumber. Langsung dari nadi yang dikoyak paksa. Akhirnya, mereka ikut bergabung ke liang lahat.
Meninggalkan Mbok Sinawang sebatang kara hidup di desa yang penuh orang gila. Gila sekali cara bersikap dan memutuskan. Buta kebenaran. Buta kebenaran versi lain.
Dan batu nisan yang dianggap paling keramat itu adalah dari leluhur yang dianggap paling berbahaya. Gila dan berbahaya. Gila dan perkasa. Tapi toh mati juga.
Bocelan pada batu nisan itu memperkuat teori kegilaan Karti Benguk. Bahwa bocelan itu akibat Karti Benguk membenturkan kepalanya sendiri di situ.
Warga yang kadang lewat kebun itu, mengaku suka mendengar bisikan-bisikan gaib untuk melakukan yang tidak-tidak. Bisikan itu menyerupai undangan untuk bergabung dengan pesta bawah tanah. Pesta di kuburan.
Belum sampai bisikan itu dituruti oleh warga yang mendengar, mereka sudah kalang kabut takut dan menggigit jari biar tidak semaput.
Mereka yang mengaku pernah mengalami kejadian itu suka bilang, “Bisikan itu mengajak kita pada maut.” Caranya dengan membenturkan kepala ke setiap batu nisan yang dirancang melancip di puncak. Alat tepat untuk menamatkan riwayat.
Harusnya dengan bocelan-bocelan pada batu nisan paling keramat itu, Karti Benguk sudah mati. Mbok Sinawang geram mendengar cerita-cerita ngawur itu.
Dia tidak pernah melihat Karti Benguk beredar di kebunnya. Mbok Sinawang yakin akan hal itu. Dia punya celepuk yang senantiasa mengawasi kebun dari dahan tinggi pohon kapuk.
Tentang nama yang suka dilolongkan Karti Benguk tengah malam, jadi bahan olok-olokan. Misalnya, ketika ada pemuda yang melakukan hal nyeleneh seputar percintaan, mereka akan meledek pemuda itu dengan sebutan Karno Bangir.
Laki-laki misterius yang diduga kuat membuat Karti Benguk gila. Di suatu siang yang terik, dulu sekali, Karti Benguk muda keliling dan menunjuk setiap laki-laki yang ditemuinya, dan memanggil mereka dengan nama Karno Bangir.
Setiap laki-laki itu tak terima dipanggil begitu, maka mereka melempari Karti Benguk dengan kotoran ayam. Karti Benguk dijemput oleh ibunya yang cemas bukan kepalang. Diajak ke rumah dan dibersihkan seluruh tubuhnya. Sang ibu mengutuk para lelaki itu. “Jadi batu kalian!”
“Memangnya kami Malin Kundang?”
Di rumah, sang ibu bukannya disambut dengan kecemasan yang sama dari sang ayah, malah kena damprat dan keduanya berakhir dengan tangan dirantai. Sang ibu di kamar. Karti Benguk di kandang sapi. Karti Benguk disumpal mulutnya pakai rumput makanan sapi.
Itu hukuman akibat Karti Benguk tidak mau tertib, tidak mau hening. Sepanjang waktu menyebut nama Karno Bangir. Entah siapa pun orang celaka itu.
Melompat jauh ke masa kini. Salah satu pemuda yang dulu mengata-ngatai Karti Benguk, duduk di cangkrukan, siang-siang. Dia lagi malas sekali melakukan apa pun.
Dia habis mangkir dari permintaan ibu untuk membuang sampah. Dia berpikir, enak kali ya kalau jadi patung saja. Tak ada yang menyuruh-nyuruh.
Siang yang panas itu kemudian menghadirkan angin gerah. Ada yang tak kasat mata lewat depan hidung si pemuda. Si pemuda kemudian pergi ke toko bangunan membeli semen dan pasir.
Di pekarangan rumahnya dia menggali tanah, berbentuk manusia, seukurannya. Lalu dia mencampur semen dan pasir dengan batu dan air. Dia penuhi lubang itu dan dia tidur di sana. Menjadi batu. Menjadi pemalas paling hakiki.
Hanya lubang hidung pemuda yang masih nampak. Dia menjadi pemalas. Tapi tidak mati. Tetap hidup. Menjadi batu. Kerabat keluarganya yang telah menemukan, tak bisa menghancurkan semen yang kadung keras. Abadilah dia sebagai pemalas.
akhir part 6. lanjut part 7 nanti beberapa hari lagi.

barangkali ada yang mau baca langsung satu buku bisa mampir ke sini:
karyakarsa.com/hahahaditha/se…

matur sembah nuwun.
PART 7 - SETAN LEWAT

PEMUDA YANG BERJANJI MAU ONANI DI DEPAN PRESIDEN

“Akan tiba suatu masa ketika seorang perempuan cantik muncul dan semua orang menggila. Dia hilang. Semua juga hilang.”

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror #IDNH
bagi yang mau paket komplitnya bisa ke sini:
karyakarsa.com/hahahaditha/se…
Mari....
O....
NANIIII?
Hanya kelakuan gila Karti Benguk yang membekas di ingatan warga. Kehidupan normal sebelum itu seolah tak pernah ada. Mereka tak ingat Karti Benguk pernah hidup normal sebagai anak-anak dan remaja. Kalau tentang masa itu, Mbok Sinawang masih cukup ingat.
Dia dan ibu Karti Benguk cukup dekat. Dari semua orang di desa, ibu Karti Benguklah yang masih sering meminta bantuan pengobatan. Semasa gadisnya, ibu Karti Benguk menjadi teman Mbok Sinawang.
Setiap sore, Inayah, nama ibu Karti Benguk, lewat kebun Mbok Sinawang dan menyapa serta memberikan sekantung bakwan. Karena kebaikan Inayah itulah, Mbok Sinawang cukup penasaran dan peduli dengan Karti Benguk.
Tapi sayangnya, apa yang hendak dia lakukan demi menyelamatkan gadis gila itu dari keisengan muda-mudi, selalu mendapat dampratan dari Pak Kades dan juga Pak Kiai.
“Jangan sentuh dia, bisa tambah gila nanti.” Itu kata Pak Kades, secara bisik penuh ancaman kepada Mbok Sinawang.
Sebenarnya kasihan juga, Karti Benguk setiap menjelang maghrib dikerangkeng dalam kandang sapi. Tangannya dibelenggu. Dan di malam-malam tertentu, entah bagaimana Karti Benguk bisa bebas. Mungkin dibebaskan oleh Karno Bangir yang misterius itu. Entahlah.
Di malam-malam tertentu itu Karti Benguk melolong bagaikan serigala. Lalu nama Karno Bangir diserukannya sepanjang sepertiga malam terakhir. Mengganggu orang-orang sedang salat tahajud. Mengganggu Pak Kiai.
Inayah. Mbok Sinawang pikir dia salah mendapat suami. Pak Kades abadi itu sudah bukan rahasia adalah orang ambisius dan kental patriarkinya. Dia merasa berkuasa dan merasa berhak atas apa pun di desa. Semena-mena terhadap Inayah dan anak-anak perempuannya.
Kalau ada warga yang terlewat mengundangnya dalam acara kecil apa pun, bahkan acara ulang tahun dengan makanan nasi kuning sebakul seorang anak kecil, dia akan mempersulit hidup keluarga itu.
Sudah begitu, baru dua tahun dia menjabat sebagai Kades, dia berambisi untuk mencalonkan diri jadi Camat, Bupati, bahkan mau jadi Presiden. Tapi berpuluh tahun ambisi itu tak pernah terlaksana. Tak ada partai yang mau mengusungnya.
Tak ada orang berduit yang mau menjadi penyokongnya. Walhasil Pak Kades mencari jalan lain untuk mengumpulkan dana. .
Tidak ada yang tahu tentang itu kecuali Mbok Sinawang, karena di suatu pagi buta, tanpa sepengetahuan siapa pun, Pak Kades mendatangi rumah Mbok Sinawang dan minta petunjuk untuk melakukan pesugihan.
Mbok Sinawang menyarankan yang paling disukai Pak Kades. Yaitu pesugihan gunung kemukus. Dan Pak Kades dengan gembira menunaikannya. Dia pergi ke sana sendirian. Pulang-pulang dia dapat proyek bernilai miliaran.
Lalu dia ketagihan pergi ke gunung kemukus. Bahkan jadi kegiatan rutinnya setiap bulan. Kepada keluarganya, dia pamit ada pertemuan kades seluruh Indonesia
Sempat Mbok Sinawang berpikir, apakah kegilaan Karti Benguk adalah akibat ayahnya yang suka berpesugihan. Tapi belum tentu juga. Tapi rasanya itu yang paling kuat sementara ini. Apakah mungkin Karti Benguk dijadikan tumbalnya? Itu bisa jadi.
Dan ketika Inayah jatuh sakit setelah lenyapnya Karti Benguk tanpa kabar. Mbok Sinawang berpikiran lain, jangan-jangan Inayah-lah yang jadi tumbalnya. Ada sesal dalam diri Mbok Sinawang. Kenapa dulu dia menyarankan Pak Kades sial itu berpesugihan.
Warga desa aneh. Waktu Karti Benguk gila dan masih beredar di desa, mereka banyak merundung dan mengolok-olok. Giliran Karti Benguknya hilang, mereka menanyakan tanpa henti.
Pak Kades sampai bosan diberondong pertanyaan menyebalkan itu. “Sukartini sedang berobat ke luar kota. Titik.”
Mbok Sinawang tidak diijinkan menjenguk Inayah. Dia selalu dihardik oleh Pak Kades. Bahkan Pak Kades menyewa sekuriti untuk melarang siapa pun untuk masuk rumah tanpa seijinnya. Bahkan tukang sayur yang mau menawarkan ikan asin ke Sunarti pun dibungkam mulutnya.
Dan hanya melalui Sunarti Mbok Sinawang mendapatkan kabar. “Ibumu kenapa?”
“Sakit.” Jawab Sunarti singkat. Dia tampak terburu-buru.
“Sakit apa?”
“Stroke.” Lalu Sunarti kabur. Dia takut. Kebun Mbok Sinawang banyak kuburannya.
Melompat jauh ke masa kini, mengetahui Tini datang dan membuat ibunya sembuh seperti sediakala, membawa sebuah pencerahan bagi Mbok Sinawang. “Inayah bukan sakit stroke. Dia sakit merindu. Rindu anak kandung.”
Waktu Inayah sembuh secara ajaib itu, Mbok Sinawang terlambat datang untuk menjenguk sapa. Rumah Inayah langsung ramai oleh tamu lelaki yang tersihir. Mbok Sinawang malas datang ke kumpulan ramai orang.
Dia malas jadi bulan-bulanan dikatai sesat. Tapi, dia juga yang mewanti-wanti para lelaki itu agar jangan datang ke undangan Tini.
“Tini yang datang itu bukanlah Sukartini sebelum Karti Benguk.” Kata Mbok Sinawang kepada batu nisan leluhurnya.
Di pelajaran supranaturalnya bersama eyang guru Kong Jaal, Mbok Sinawang pernah mendengar, “Akan tiba suatu masa ketika seorang perempuan cantik muncul dan semua orang menggila. Dia hilang. Semua juga hilang. Termasuk ingatan.
Dan setan-setan yang selama ini bersembunyi dalam lampu ajaib Aladdin, akan tumpah ruah. Menunggu pikiran busuk terbentuk. Mereka pandai mengendus. Mereka akan mewujudkan pikiran-pikiran busuk itu.”
Dan Mbok Sinawang tahu betul akal-akal bulus para lelaki di desa ini. Sebagian besar tak jauh dari otak kacang di kepala antara selangkangan. Dan itu sudah terjadi. Kolor Ijo Karjo. Pemuda yang sudah punya bini dan anak satu tahun itu doyan main mata. Padahal tak punya duit.
Bininya kerja banting tulang jualan sambal kacang di pasar, dia yang tugasnya cuma mengantar, pun ogah membantu melariskan dagangan. Lebih memilih nongkrong di warung kopi pasar sambil menyiuli gadis-gadis berpantat bohai.
Karjo-lah yang waktu itu diperingatkan oleh Mbok Sinawang. Tapi tak digubris sama sekali. Otaknya sudah kadung konslet oleh tulisan bergendam pada undangan Tini.
Bahayanya menjadi nyata. Karjo yang menjelma kolor ijo dan memerkosa banyak perawan antar desa. Untunglah, genderuwo dan warga desa sudah meringkusnya.
Tapi, kutukan Tini tetap berlanjut. Melalui petunjuk-petunjuk yang berserakan, Mbok Sinawang mengambil kesimpulan. “Benar, ini upayanya membalas dendam.”
Masa lalu mulai sedikit terangkai oleh upaya keras tuyul dewasa untuk membimbing tuyul-tuyul baru menjelajah masa lampau. Karjo adalah salah satu yang melakukan pelecehan seksual kepada Karti Benguk. Lokasinya di sawah.
Karti Benguk yang keliaran siang hari, disergap dan dibawa paksa oleh gerombolannya Karjo. Untungnya, belum sempat burung menjijikkan Karjo memasuki ruang di antara kaki Karti Benguk, pemuda itu sudah dipukuli secara membabi buta oleh Inayah.
Karjo dan gerombolannya, yang semua memakai topeng hitam, kabur berdarah-darah.
Salah satu gerombolan otak mesuk Karjo, adalah keponakannya sendiri, yaitu Mat Coli. Pemuda yang gemar mengumpulkan buku tts bergambar model bikini. Di masa kini, pemuda itu luntang lantung dengan mata sayu akibat kebanyakan nonton video porno.
Sambil kencing di parit, dia mengusap-usap bijinya dan mulut bau tuwaknya mengucap kepada langit, “aku akan onani di tempat terbuka. Di depan setiap rumah. Di depan presiden!”
Setan pun lewat sambil menyengir.
“Ralat, di depan pesinden!”
Setan yang lewat tidak menggubris perkataan ralatnya.
bagaimana, apakah keinginan Mat Coli bakal terwujud???
nantikan di part berikutnya. Suwun.
PART 8 - SETAN LEWAT

KAKAK YANG MEMILIH MERDEKA DENGAN MENIKAHI GENDERUWO

“Beritahu apa yang bisa kulakukan untukmu?”
“Jadilah istriku.” Kata si genderuwo.

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror #IDNH
Sulastri menghilang karena diajak menikah genderuwo. Menghilangnya Sulastri, tidak ada yang peduli. Menghilangnya Sulastri, tidak ada yang merasakan, tidak ada yang peka. Dia tidak penting. Lagipula, Sulastri dulu jarang keluar rumah. Dia malu. Dia malu punya ayah hidung belang.
Dia malu punya kakak gila. Dia malu punya ibu sakit-sakitan. Yang bikin dia tidak malu adalah Sunarti. Tapi Sunarti lebih memihak Karti Benguk dan ibunya. Sulastri tidak bisa protes.
Kalau sedikit saja protes, misal uang jajan kurang waktu sekolah dulu, dia langsung kena pecut. Setiap kena pecut, dia pakai lengan terusan, supaya teman-temannya tidak melihat bekas luka yang tak akan hilang sepanjang masa.
Di rumah, ayahnya yang menjabat sebagai Kades, selalu memperlakukannya seperti pembantu. Harus nurut ini itu. Harus melakukan ini itu. Dan tak boleh menolak. Setiap pagi harus bikin kopi, roti bakar dan telur dadar. Takarannya harus pas.
Kalau saja kopinya terlalu manis barang kelebihan beberapa butir kecil gula, Pak Kades akan menyiram kopi itu ke Sulastri. Ya Tuhan, neraka dunia itu ada.
Neraka-neraka yang diisi oleh lelaki-lelaki haus kuasa dan merasa pantas memperlakukan anak istri seperti itu. Merasa berhak. Bak raja. Raja lalim.
Sulastri memendam keinginan untuk merdeka. Semenjak lulus SMA dia tidak bisa ke mana-mana. Dia bahkan tidak berani pacaran. Bahkan mau memandang laki-laki yang disukanya saja tidak berani. Dia malu. Terlampau malu.
Bagaimana nanti pandangan si lelaki terhadap keluarganya yang kacau balau. Ayah haus kuasa, ibu sakit, dan kakak yang gila. Sulastri tidak mengerti kenapa kakaknya mendadak gila. Sekolah mereka satu komplek. Sewaktu Sukartini SMP Sulastri di SD.
Semuanya heboh ketika Sukartini lari-larian di lorong sambil angkat rok dan menyenandungkan nama Karno Bangir. Langsung saja teman-teman Sulastri mengolok-olok. “Nah itu dia adik si orang gila.”
Berat sekali bagi Sulastri waktu itu. Dia pengin pindah sekolah saja. Ketika sudah tidak tahan dengan olok-olok itu, walau Sukartini sudah putus sekolah, dirawat di rumah, olok-olok yang masih terus melanda membuatnya protes keras kepada ayah. Sulastri minta pindah sekolah.
Jawabannya adalah pemukul kasur melayang ke punggung. Sulastri sampai tidak bisa berjalan tegak. Sakit sekali. Dia bolos sekolah dua minggu. Itu pun setiap hari ayahnya selalu menghardiknya.
“Alasan saja sakit. Bilang saja mau membuat malu ayah kau ya!” Ibunya tidak bisa membelanya karena terlalu sibuk menjaga Sukartini.
Kesedihan dan kemurkaannya makin memuncak ketika akhirnya dia yang jadi budak utama ayah. Itu ketika ibunya jatuh sakit. Setahun setelah Sukartini menghilang tiba-tiba. Sulastri tidak tahu ke mana kakaknya pergi.
Apakah itu adalah tindakan ayahnya atau Sukartini memang kabur atas kemauan sendiri. Sulastri tidak berani bertanya. Takut pemukul kasur akan melayang lagi ke punggungnya. Ibunya jatuh sakit karena dipukul habis-habisan oleh ayah. Kepada orang-orang ayah bilang ibu kena stroke.
Sulastri jadi yang harus mengurusi ayah dan ibunya. Dia pun tahu pasti, luka ibunya itu sudah sembuh, tapi ibu berubah seperti mayat hidup. Setiap malam, Sulastri mendengar ibunya mengigau, menyebut nama Sukartini. Itu membuatnya sedih bukan main.
Dia mempertanyakan, apa artinya dirinya. Betapa tak dianggapnya. Ini neraka di dunia. Sempat dia pengin kabur saja. Terserah mau ke mana. Jadi gelandangan pun boleh. Bahkan jadi pertimbangan yang paling masuk akal.
Lebih baik jadi gelandangan daripada hidup dalam lingkaran neraka seperti ini. Tapi bagaimana dengan adiknya? Kasihan Sunarti kalau dia harus berakhir seperti dirinya.
Kalau kakak pertamanya gila, lalu kakak keduanya kabur karena tak tahan, sudah pasti pekerjaan-pekerjaan berat ini dilimpahkan kepadanya.
Sulastri harus kuat. Dia meyakinkan dirinya. Ada harapan di depan, setipis apa pun itu. Lagipula, kalau dia kabur, kemungkinan besar ayahnya akan menyuruh orang untuk mencari.
Dan dia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima. Mungkin dia akan dicekik sampai setengah mampus.
Maka ketika suatu hari dia menyadari bahwa ibunya menghilang, pekerjaannya terasa berkurang. Tapi tetap saja, deritanya masih tetap ada. Dia masih harus melayani ayahnya. Pemandangan menjijikkan itu masih membekas di kepala. Ayahnya memainkan batang dan bola di depan matanya.
Membuatnya muntah di tempat. Tapi tak bisa bergerak. Kejadian itu membuatnya paranoid parah, bagaimana kalau ayahnya akan memperkosanya?
Maka di suatu malam purnama ketika Kolor Ijo menyelinap masuk ke kamarnya, waktu itu Sulastri tidak bisa tidur oleh bayang-bayang penis ayahnya, dia mengira kalau si Kolor Ijo adalah ayahnya sendiri. Untunglah ada yang menolongnya. Sesosok raksasa berbulu.
Mencekik Kolor Ijo dan menyentil penisnya sampai melingkar spiral. Genderuwo itu mengikat si kolor ijo lalu membuangnya keluar rumah. Sekian lamanya, baru itu Sulastri merasa aman. Ancaman terbesar dalam hidupnya tereliminasi. Dia bersedia melakukan apa pun untuk si penyelamat.
“Terima kasih telah menyelamatkanku.” Sulastri berlutut di depan kaki genderuwo.
Genderuwo yang tak pernah diperlakukan begitu oleh umat manusia, jadi luluh.
“Beritahu apa yang bisa kulakukan untukmu?”
“Jadilah istriku.” Kata si genderuwo.
“Itu artinya kau akan membawaku pergi dari neraka ini?”
“Benar, jadilah ratu di kerajaanku.”
Menjadi ratu, adalah impian konyol waktu dia masih anak-anak. Tapi sekarang, mimpi itu bisa jadi nyata. Sulastri tidak peduli dengan tampang buruk si genderuwo. Baginya dia adalah pahlawan. “Bawalah aku.”
Di kerajaan genderuwo, Sulastri disayang-sayang, dimanjakan, dipenuhi segala keinginannya. Rasanya Sulastri ogah kembali ke dunia manusia. Dia sudah nyaman di sini.
Sulastri tidak pernah tahu, ada pemuda yang naksir padanya di desa. Yaitu Mat Coli. Ralat, hanya ada satu yang peduli dengan menghilangnya Sulastri. Dialah Mat Coli.
Sudah lama dia mendamba Sulastri. Tapi dia selalu diusir oleh sekuriti rumah Pak Kades. Maka ketika dia mabok karena stres memikirkan ke mana menghilangnya Sulastri, dia hanya akan membayangkan Sulastri ketika melakukan onani.
Petir menyambar dan membuatnya benar-benar melakukan apa yang dijanjikannya. Mat Coli mulai onani di pasar. Mat Coli mulai onani di terminal. Mat Coli mulai onani di tempat wisata. Mat Coli mulai onani di depan rumah warga.
Dia sering disiram, baik itu air got, kuah soto basi, kopi, kencing, bahkan air panas. Semua itu tak menghentikannya. Di depan rumah Pak Kades dia onani sambil menyebut nama Sulastri kencang-kencang.
Oleh sekuriti Pak Kades dan beberapa warga, Mat Coli digiring ke lapangan dan diikat di tiang. Tangannya diikat kencang. Tapi itu juga tak menghentikan caranya beronani. Tanpa tangan, dia bisa menggunakan kaki. Lalu pelirnya ditutup pakai kantong plastik.
Diikat karet berlapis-lapis sampai pelirnya membusuk dan tidak bisa berfungsi lagi. Mat Coli dibawa ke rumah rehabilitasi. Tanpa penis yang berfungsi. Tapi cintanya kepada Sulastri tak pernah berhenti.
waduhhh... gimana sih Mat Coli ckckck. Dasar kelakuan!

nantikan part 9 bbrp hari lagi.

suwuuun!
yang mau mampir ke paket komplitnya bisa ke sini:
karyakarsa.com/hahahaditha/se…
Mari lanjut ke...

PART 9 - SETAN LEWAT

ORANG BAIK YANG MALAS DAN SETAN YANG SOPAN

“Kau orang baik tapi pemalas. Sangat malas. Dan itu bibit celaka. Orang baik yang malas malah hanya membuat kerusakan semakin dahsyat.” Kata Mbok Sinawang.

@IDN_Horor

@bacahorror_id
#bacahorror
Pemuda yang menjadi batu waktu itu menghilang dari tempatnya di kebun keramat leluhur Mbok Sinawang. Kalau kau bingung bentuk pemuda batu itu seperti apa, bayangkan saja Han Solo yang jadi batu. Bukan pemuda itu yang memindahkan.
Dia tidak bisa bergerak. Toh dia juga malas bukan main. Anak-anak iseng yang memindahkannya. Anak-anak kelewat iseng. Anak-anak yang tak menggubris betapa keramatnya kebun Mbok Sinawang.
Anak-anak itu selesai piket membangunkan sahur dan lagi ngaso minum bir pletok. Suatu suara sampai di telinga salah satu anak. Itu suara datangnya dari si pemuda batu.
Pemuda batu bosan, tapi dia masih malas untuk berbuat apa-apa. Paling banter ya membisiki anak-anak itu supaya melakukan apa yang dia pengini.
Sudah telanjur jadi batu, dia mau membuat teror. Dia membisiki anak-anak itu agar memindahkannya dari kebun keramat Mbok Sinawang ke pemakaman umum.
Sebelum azan subuh berkumandang, pemuda batu sudah berpindah. Tapi anak-anak sialan itu membubuhi coretan di tubuh batunya, yaitu Malin Kundang.
Pak Kiai yang kebetulan lagi nyekar makam neneknya menemukan pemuda batu itu. Si pemuda batu berpura-pura tidak berbicara. Itu sebenarnya tidak perlu repot-repot dia lakukan karena warga memang tidak tahu kalau dia masih hidup di dalam batu itu.
Pak Kiai langsung mendatangi Mbok Sinawang. Mempertanyakan kenapa pemuda batu itu bisa pindah. Padahal sudah dipasrahkan untuk diletakkan di kebun keramat.
“Ya mana kutahu, Pak Kiai.” Sanggah Mbok Sinawang. “Aku bahkan tak ingat batu itu ada di kebunku.”
“Yakin kau?” Pak Kiai curiga kalau Mbok Sinawang mau membuat teror menggelisahkan. Apalagi peristiwa penangkapan Kolor Ijo waktu itu, Mbok Sinawang terang-terangan bilang ke pemuda yang menangkap dan menghajar Karjo, kalau pahlawan sesungguhnya adalah genderuwo.
“Yakinlah.” Mbok Sinawang mencium tuduhan lain. Pak Kiai, yang katanya menolak segala hal yang berkaitan dengan makhluk gaib, pernah menuduh Mbok Sinawang bersekongkol dengan arwah-arwah leluhur.
“Ya sudah. Akan kusuruh orang untuk mengembalikannya ke kebunmu.”
“Terserah.”
Pemuda batu itu dikembalikan lagi ke kebun keramat Mbok Sinawang.
Mbok Sinawang jadi pengin tahu. Apa benar pemuda batu itu diletakkan di tempatnya lalu berpindah sendiri. Maka ketika pemuda batu itu sudah kembali, Mbok Sinawang berniat untuk menginterogasinya.
Dia mengetuk kepala batu si pemuda, “Aku tahu kau masih hidup di dalam. Tidak usah berpura-pura.”
“Iya.” Jawab si pemuda malas-malasan.
Mbok Sinawang curiga ini ada hubungannya dengan setan-setan yang dilepaskan Tini. “Apa yang kau ketahui tentang Karti Benguk?”
Si pemuda tak segera menjawab. Dia malas.
“Jawab atau kubakar kau.”
“Bakar saja.” Tanggap si pemuda.
Mbok Sinawang tahu perbuatannya nanti akan sia-sia dengan membakar pemuda batu. Batu tidak terasa kalau dibakar. “Akan kubakar rumah keluargamu.” Ancamannya diralat.
“Jangan. Jangan.” Walau malas, pemuda itu masih peduli dengan keluarganya walau suka disuruh-suruh. Waktu masih normal, pemuda itu sering disuruh ibunya beli minyak tanah, tapi pemuda itu suka mengundur-undur dan akhirnya malah lupa.
Akhirnya, si pemuda bercerita tentang apa yang diketahuinya tentang Karti Benguk.
Si pemuda bernama Yathuk. Dia pemalas. Hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah bermalas-malasan. Suatu waktu dia diajak gabung oleh gerombolannya Karjo dan Mat Coli. Mereka bersiasat untuk memerkosa Karti Benguk yang gila.
Kata Karjo, memerkosa orang gila sedikit resikonya. Sebab kalau si orang gila bersaksi, tidak akan ada yang percaya. Yathuk sebenarnya ogah ikutan. Dia menolak, dia jawab sedang malas berbuat apa pun. Akhirnya dia ditinggal.
Dia sebenarnya mau melarang teman-temannya untuk melakukan itu. Tapi saking malasnya, kalimat itu tak jadi keluar. Dia lebih memilih tidur-tiduran di tempat tidur gantung di depan rumah. Dari pengakuannya, Yathuk sebenarnya menyesal kenapa tidak mencegah teman-temannya.
Tapi semua itu terlambat. Karjo benar melakukannya. Berikutnya yang dia tahu Bu Inayah, mengumumkan kelakuan bejat Karjo di acara ibu-ibu PKK. Tapi tidak ada yang bergerak untuk menghukum Karjo. Menyedihkan.
“Kau orang baik tapi pemalas. Sangat malas. Dan itu bibit celaka. Orang baik yang malas malah hanya membuat kerusakan semakin dahsyat.” Kata Mbok Sinawang setelah mendengarkan cerita lengkap Yathuk. “Jadi kau nyaman dengan kondisimu sekarang ini?”
“Ya. Ini mendukung kemalasanku. Aku tak perlu berbuat apa-apa.”
“Benar-benar celaka kau. Tapi terserahlah. Semoga kau akur dengan arwah leluhurku di sini.”
Yathuk sesungguhnya khawatir dengan hal itu. Tapi dia terlalu malas untuk memikirkannya lebih lanjut. Dia memikirkan hal lain. Dan hal lain itu lagi-lagi dia bisikkan ke anak-anak yang bertugas membangunkan sahur.
Dia pengin batunya warna-warni. Dibuat ada muralnya. Terserah mau apa. Anak-anak itu menggambari batunya dengan Malin Kundang yang membuka celananya di depan sang ibu. Gambar penisnya dibuat asal-asalan.
Siang hari, salah satu bocah datang dan membuat detail penisnya lebih bagus lagi. Si anak itu lagi puasa, tapi dia memikirkan azan magrib tak berhenti-berhenti.
Dia kepengin makan banyak nanti waktu buka tiba. Makan sebanyak apa pun. “Aku mau makan semua takjil yang ada di musala.” Katanya kepada batu Malin Kundang.
Kabut tipis di kebun keramat itu mewujud sesosok, lewat di samping bocah itu, ada suara yang terdengar. “Permisi, nak.”
Si anak tadi terkejut. “Siapa barusan?”
Yathuk yang kesal batunya digambari hal tak senonoh, iseng menjawab, biar si bocah keder. “Itu tadi setan lewat.”
Si bocah langsung lari kalang kabut.
Setan yang barusan lewat itu ikut tertawa bersama Yathuk. Si setan lewat mengungkapkan sesuatu kepada Yathuk. Bahwa dialah yang membuatnya jadi batu.
Dialah yang mewujudkan keinginan Yathuk agar jadi batu. Membuat Yathuk melakukan hal tak masuk akal, mengubur diri di adonan semen.
Yathuk tidak dendam kepada si setan. Justru berterima kasih.
“Harusnya kau menyesal.” Kata si setan lewat.
“Entahlah.”
“Apakah kau menginginkan kesempatan kedua?”
“Entahlah.” Yathuk terlalu malas untuk memikirkan langkah apa untuk dilakukan di kesempatan kedua.
Dari agak jauh, Mbok Sinawang menyimak percakapan itu. Ketika dia mau mendekat, si setan lewat sudah lenyap tak terdeteksi oleh tuyul-tuyulnya. Padahal Mbok Sinawang mau bertanya lebih banyak. Akhirnya dia menginterogasi Yathuk lagi.
“Habis bicara dengan siapa kau?”
“Dengan setan lewat.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Permisi, katanya.”
“Lho?”
“Iya, dia kan mau lewat, jadi bilang permisi dulu. Dia setan yang sopan.”
Mbok Sinawang kesal. Dia merubuhkan Yathuk. “Coba kau bangun tanpa minta tolong bocah-bocah pengganggu itu. Dasar pemalas.”
Mbok Sinawang meninggalkannya, di langkah sekian dia tertawa. Setan yang sopan, katanya. Aduh. Ironis. Orang baik yang malas. Aduh. Ironis.
Mbok Sinawang merangkai lagi apa yang dikumpulkan tuyul-tuyul di masa lampau. Mengonfirmasi apa yang diceritakan Yathuk. Ternyata benar. Itu membuatnya tambah mengerti tentang Karti Benguk.
Derita masa lalu. Dia mungkin gila. Tapi perlakuan tidak baik selalu bisa dikenali. Ancaman selalu bisa dikenali.
sudah dulu... nanti dilanjut ke part 10.
Suwun.
jangan lupa check yang komplitnya di sini: karyakarsa.com/hahahaditha/se…
mari lanjut tales of binal horor of SETAN LEWAT
PART 10 - SETAN LEWAT

JANGAN MAKAN BANYAK-BANYAK NANTI PERUTMU MELEDAK

“Jangan banyak-banyak, bisa meledak perut kamu.”
“Habisnya enak banget Bu.”

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror
Di suatu tempat antah berantah, Tini dan ibunya sedang menertawai apa yang terjadi di desa. Melalui mata Sunarti mereka menyaksikannya. Mata fisik dan mata batin. Ada sihir yang ditanam di dalam diri Sunarti oleh Tini.
Tini bisa mengakses ingatan dan penglihatan Sunarti, dan bisa menggerakkan wujud astralnya untuk melanglangbuana dan merekam kejadian.
Pada saatnya nanti, ketika hukuman terakhir terjadi, yang lebih masif, Sunarti akan diajak kemari. Bergabung dengan Tini dan ibunya. Itu sebuah janji.
Tini dan ibunya melihat semua itu melalui sebuah baskom yang diisi air. Mereka paling terhibur dengan si Kolor Ijo dan si manusia batu. Tini mengiyakan pertanyaan ibunya, “apakah mereka yang dulu mengusikmu?”
“Iya, Bu.”
“Tentang Mbok Sinawang, tidakkah kau pengin memberitahunya? Dia dulu suka menolong ibu.”
“Nanti saja. Takutnya dia malah mau menghentikan setan-setan itu.”
“Baiklah.”
Saat ini mereka tengah menyaksikan hukuman baru. Sebetulnya bocah itu tidak pernah mengusik Tini waktu masih jadi Karti Benguk. Melainkan ayahnya. Sayangnya, ayahnya sudah mati duluan.
Bocah itu yang mencorat-coret batu Yathuk. Bocah itu yang pengin buka puasa dengan sebanyaknya makanan. Sebut bocah itu dengan nama Madang. Sepulangnya dari mencorat-coret batu Yathuk, dia kelaparan bukan main.
Dia mengintip isi kulkas, meja makan, tapi masih pada kosong. Azan magrib memang tinggal tiga jam lagi. Tapi perutnya keroncongan bukan main.
Dia keroncongan dan juga ketakutan. Dari tadi dia terus-terusan mendengar suara, “Permisi, nak.” Suaranya lembut dan membikin semakin lapar. Dan ada aromanya. Aroma makanan favorit Madang. Sambal goreng kentang.
Sebentar lagi ibunya mulai masak. Dia gelisah bukan main. Dia mencengkeram perutnya yang bergejolak. Dia pengin segera buka. Tapi juga dia tidak pengin membatalkan puasa. “Permisi, nak.” Terdengar lagi. Dia menoleh ke segala arah, mencari siapa yang barusan lewat.
Dia sedang di kamar. Masa iya ada yang lewat di kamarnya. Mungkin di luar jendela. Madang membuka jendela dan menengok ke luar. “Permisi, nak.” Dia melihat sekilas muka seorang pramusaji membawakan nampan berisi makanan.
Ada risoles, telur gulung, lontong, oncom, arem-arem, pastel, risol, lemper, tempe goreng, bakwan, tahu isi baso, dan banyak lagi. Madang semakin kelaparan. Dia sudah basah mulutnya oleh air liur tergiur. Ditengok lagi ke luar, sosok pramusaji itu sudah hilang.
Aroma wangi takjil membayang-bayangi pikirannya. Saat itu juga Madang memutuskan pergi. Di jalanan pasti sudah banyak yang menjual takjil. Dia masih belum mau membatalkan puasa. Paling tidak, matanya sudah kenyang dulu melihat banyaknya jajanan menggiurkan.
Hitung-hitung ngabuburit juga. Madang mandi dulu, ganti pakaian koko, dan pergilah dia berburu takjil. Dia pun menawarkan diri kepada ibu, barangkali ada yang mau dibeli. Tapi ternyata tidak. Baiklah, Madang akan buka puasa di musala saja.
Dia akan ambil banyak, diam-diam. Selagi orang salat magrib dia akan menyomot banyak risol dan lemper.
Madang menghirup aroma takjil yang dijual di jalanan dengan begitu hikmat. Dia menelan air liur tergiurnya berkali-kali. Bibirnya sampai basah, karena berkali-kali lidahnya menjilati bibir kering.
Madang gatal pengin mencomot dagangan orang. Tapi dia melarang diri. Waktu magrib tinggal satu jam lagi. Dia amat tergiur menyaksikan orang membeli sekantung penuh takjil. Dia akan menyantap lebih banyak dari orang itu beli.
Rasanya Madang pengin membelah diri agar dia bisa menyatroni lebih dari satu musala. Oh, dia punya akal. Madang mencomot kantong plastik dari pedagang. Itu boleh.
Kantong itu bakal digunakannya untuk mengantongi takjil-takjil di setiap musala. Madang akan ikut dalam buka saja, ketika salat, dia akan pindah ke musala lain. Mantap.
Ternyata sudah azan magrib. Madang segera berlari ke musala terdekat. Tapi di jalan dia melihat ada bagi-bagi takjil gratis. Dia ambil satu bungkus. Lalu pura-pura balik, dan lewat lagi di depannya, dia ambil lagi sebungkus.
Dia jalan cepat ke musala sambil melahap takjil gratis itu. Dua kantong habis olehnya. Sampai di musala, dia langsung duduk dan mencomot gorengan. Madang berpura-pura makan, tapi tangannya memasukkan gorengan itu ke kantong plastik.
Sembari itu juga dia melahap setiap jenis takjil, paling sedikit, sejenis tiga. Dua lagi dia simpan dalam kantong. Orang-orang mulai ambil wudu dan beranjak ke dalam mengambil shaf, Madang mengantongi lebih banyak lagi takjil.
Lalu dia pergi ke musala selanjutnya. Lebih gampang, karena mereka sudah bersiap salat. Madang mengembat banyak takjil. Lalu dia melihat kotak amal dalam kondisi tak tergembok, dia embat juga beberapa lembar dari dalamnya untuk dia gunakan membeli takjil di jalan.
Sore itu Madang tidak salat. Dia berhenti dan menggelar sarungnya di sebelah kebun keramat Mbok Sinawang. Madang tidak sadar kalau tempatnya dekat dengan kebun keramat.
Di situ Madang melahap rakus semua takjil yang diperolehnya. Setiap lahapan membuatnya semakin rakus. Dia tidak merasa kenyang-kenyang. Mulutnya tidak berhenti makan. Dua mata madang, yang kiri dan kanan, satu hidung Madang, satu mulut Madang, tidak berhenti makan.
Perutnya sudah membuncit penuh takjil tapi juga tak jera. Masih kelaparan dan dia pulang untuk menyantap nasi beserta lauk pauk. Tadi sore ibunya bilang mau buat es cendol. Sedap. Madang dari tadi belum kedapatan takjil minuman segar.
Tadi adanya bubur sum sum, itu pun dia sudah ambil empat gelas, semuanya juga sudah habis di kebun tadi. Madang mengambil gelas besar, sebesar teko, untuk diisikan es cendol. Ibunya sampai heran. “Jangan banyak-banyak, bisa meledak perut kamu.”
“Habisnya enak banget Bu.”
Satu teko cukup besar es cendol bisa habis oleh Madang. Lalu dia ambil nasi, menyendoknya banyak-banyak ke dalam piring sampai membentuk tumpeng. Itu dilakukannya ketika ibu sedang salat isya.
Semua yang dimasak ibu sore itu dihabiskan oleh Madang. Benar-benar ludes. Padahal ibu belum berbuka. Baru sepotong tempe saja.
Ibu Madang kaget bukan main. Lemas dan nyaris pingsan. Selesai salat isya sekalian tarawih, dia pergi ke dapur dan mendapati Madang terkapar di lantai dengan perut meledak.

****
Di tempat antah berantah, ibu Tini muntah-muntah menyaksikan itu semua. “Kasihan anak itu.”
Lalu Tini menceritakan apa yang dulu dilakukan ayah Madang. Dulu, sebelum Tini gila dan jadi Karti Benguk. Setiap kali pulang dari musala, pada waktu ada acara selamatan, bungkusan makanan yang dibawa Tini selalu direbut oleh ayah Madang.
Itu dilakukannya terus. Pada waktu ramadan tiba juga. Apa yang diperoleh Tini suka diambil paksa. Ayah Madang adalah preman. Entah kenapa selalu Tini saja yang diincar. Mungkin ada masalah dengan Pak Kades.
Dan ketika Tini gila, ayah Madang selalu menyeret Tini dan mencekokinya dengan makanan basi. Karti Benguk muntah-muntah dan sempat ambruk berhari-hari. Ayah Madang, mati diracun preman rival di pasar.
begitulah....

akhir part 10. lanjut part 11 nanti.

Thread part 1 bisa digulir ke atas, semua thread partnya disambung. Terima kasih.

makannya yang cukup-cukup saja ya. Jangan mukbang kayak Madang.
Yuk mari merapat..

PART 11 - SETAN LEWAT

TIGA ISTRI ENAM PEMUDA ENAM PELURU

“Memang bangsat itu Karjo. Dari dulu pun, otaknya isi selangkangan. Aku yakin, otaknya pindah ke kepala pelirnya.”

@IDN_Horor

@bacahorror_id

#bacahorror
Kematian Madang cukup menggemparkan. Terutama di teman-teman sepermainan. Tak ada Madang, acara bangun-bangun sahur jadi sepi. Dia yang pukulannya paling keras dan paling asyik.
Sang ibu meratapi kepergiannya. Sang ibu berpesan kepada setiap yang melawat, “tolong kalau berbuka yang wajar-wajar saja. Sungguh, Allah tidak suka umatnya yang berlebihan. Berlebihan adalah sifat setan.”
Ibu Madang kini tak punya siapa-siapa lagi. Ayah Madang, sudah mati diracun. Sebetulnya, itu lebih baik. Ayah Madang tak ubahnya adalah parasit dalam hidupnya. Ibu Madang banting tulang mencari uang dengan berjualan di pasar.
Sementara ayah Madang malah jadi preman dan enak-enakan santai di rumah, lalu dari siang sampai menjelang pagi berkeliaran di pasar dan terminal. Dia berangkat menunggu istrinya pulang berjualan untuk dimintai uang.
Ibu Madang sebenarnya menaruh harap besar kepada Madang. Dia anak yang baik. Penurut. Puasanya tidak pernah batal. Salatnya tidak pernah bolong. Makanya sang ibu heran teramat heran di hari terakhir Madang itu. Kesurupan setan kalap apa dia hingga makan begitu berlebihan.
Semua yang dimasaknya sore itu habis dimakan Madang. Bahkan saat diketemukan dengan perut membuyar, masih ada nasi dan lauk di mulutnya yang monyong. Ibu Madang beristighfar tak henti-henti sambil menangis menjerit.
Tujuh hari kemudian. Di pemakaman umum desa, batu Yathuk pindah ke sana, entah dipindahkan oleh siapa. Yathuk sendiri tidak yakin. Dia malas berpikir. Yathuk diberdirikan di samping makam Madang.
Malam itu kebetulan bulan sedang purnama. Ada kabut yang beredar. Membentuk sosok-sosok seperti setan yang pernah lewat di kebun keramat. “Permisi.” Yathuk mendengar jelas setan sopan itu lewat.
“Lho, kalian?”
Setan-setan kabut itu menampakkan diri. Ada lima. Setan-setan itu tidak mengucapkan selain permisi tadi. Mereka jongkok dan memainkan tanah kuburan Madang. Mereka menusukkan jari-jari ke sana.
Mereka memakan kembang-kembang setaman yang ditabur di atas kuburan Madang. Air dalam botol mereka minum. Di sepertiga malam terakhir, Madang bangkit dari kematian. Merangkak naik membongkar kuburannya sendiri.
Perutnya yang robek dia lilit pakai kain kafan. Lalu dia berjalan menuju rumah tukang jahit. Dia bisa menembus tembok. Dia mencari benang dan jarum. Dia menjahit perutnya sendiri.
Seisi rumah itu histeris dan kabur keluar rumah ketika menemukan Madang tahu-tahu ikut nimbrung sahur. Semua makanan yang disiapkan oleh ibu pemilik rumah, dia lahap. Kuah soto merembes dari jahitan di perutnya.
Pak Kiai dan sejumlah pemuda mendatangi rumah penjahit itu. Mereka menemukan Madang dengan muka mayat hidup tengah santai menyantap di meja makan. Pak Kiai langsung membacakan ayat entah apa. Madang menengok lalu lenyap. Dia pindah ke rumah lain, ikutan sahur.
Pak Kiai dan pemuda berlari pindah ke rumah itu. Penghuni rumah pada teriak. Sesampainya di sana, Madang juga sudah lenyap, pindah ke rumah lainnya lagi. Di rumah ketiga itu, terdengar suara letusan peluru. Pemilik rumah adalah pemburu binatang di hutan.
Pak Kiai dan sejumlah pemuda lari lebih cepat ke rumah itu. Mereka menemukan mayat hidup Madang dengan kepala ambyar. Mereka memastikan dulu kalau Madang sudah tak bisa lenyap-lenyapan lagi. Sudah tidak bisa. Mereka kemudian menguburkannya kembali.
Pak Kiai berpesan kepada sejumlah pemuda dan para penghuni rumah yang disatroni agar tidak memberitahukan hal itu kepada ibu Madang.
Kejadian itu jadi perbincangan seru di antara pemuda. Bukan tentang bagaimana Madang bisa bangkit dari kematian dan ikutan sahur, melainkan tentang pistol keren punya si pemburu. Pemburu itu namanya Om Napan. Di rumahnya banyak hewan-hewan buas yang sudah diawetkan.
Ada harimau, macan tutul, macan kumbang, hiena, singa, dan gajah pun ada. Rumah Om Napan paling besar di desa. Dan selain itu, mereka membincangkan tentang tiga istri Om Napan yang kesemuanya masih muda belia.
Mereka mengutuk apa yang dilakukan Karjo si Kolor Ijo karena sudah menghabiskan stok perawan di desa. Sudah meniduri mereka semua, dibuat gila juga. Bajingan betul. Makanya mereka tidak menyesal menghabisi Karjo sampai mampus.
Sasaran paling keras dihajar adalah bagian selangkangannya. Saat dibungkus kain kafan asal-asalan waktu itu, bentukan pinggang sampai selangkangan Karjo tak karuan. Waktu dicemplungkan ke kuburan, posisi Karjo mengangkang.
Bukannya ditimbun dengan tanah, mayat Karjo ditimbun pakai batu bangunan. Baru di atasnya pakai tanah.
“Memang bangsat itu Karjo. Dari dulu pun, otaknya isi selangkangan. Aku yakin, otaknya pindah ke kepala pelirnya.”
“Itu betul.”
“Kalian ingat waktu dia mengajak kita untuk mengerjai Karti Benguk?”
“Iya, ingat. Kenapa bisa-bisanya dia mengajak kita memerkosa orang gila ya.”
“Bodohnya lagi, kenapa kita mau?”
“Kita dulu memang semuanya bodoh.”
Salah satu menghentikan pembahasan tentang Karti Benguk dan Karjo. Mereka kembali ke topik tiga istri muda Om Napan. Mereka cantik-cantik. Untung mereka tidak diperkosa Kolor Ijo. Para pemuda itu sudah melakukan sensus, sudah tidak ada lagi perawan di desa ini.
Ya kecuali anak-anak perempuan kecil. Mereka kudu menunggu sepuluh tahun lagi sampai mereka jadi kembang. Korban Karjo terlampau banyak. Di desa sebelah pun, sudah kehabisan perawan.
Mereka jadi iri dengan Om Napan yang bisa mendapatkan tiga istri muda sekaligus. Satu rumah pula. Seandainya mereka bisa mendapatkan tiga istri muda itu juga.
“Permisi.” Ada suara ganjil terdengar. Suasana malam pun berubah. Enam pemuda yang nongkrong di pos ronda saling mencari asal suara. Mereka sama-sama bergidik. Tidak ada di antara mereka yang mengucap permisi, bahkan tidak ada siapa pun yang lewat.
Setelah suara itu lewat. Mereka menyusun rencana untuk menyatroni rumah Om Napan ketika orang itu pergi berburu. Tak peduli masih bulan puasa. Rencana itu terlaksana dengan mulus. Mereka memantau kapan Om Napan pergi.
Di pertengahan bulan puasa. Keenam pemuda langsung menyelinap siang-siang. Lalu mereka menunggu sampai agak gelap untuk menggarap tiga istri muda. Mereka yakin tiga istri muda itu merawat diri dengan sangat baik. Om Napan sangat kaya.
Mereka sangat iri dengan Om Napan. Keenam pemuda telah keluar dari sarang persembunyian di gudang Om Napan. Mereka mengintip dari jendela. Kamar besar Om Napan. Bajingan betul. Om Napan tidurnya selalu bareng bersama tiga istri muda.
Dan malam ini tiga istri muda tidur tanpa Om Napan. Mereka bertiga saling berpelukan. Pakai baju tidur tipis, tanpa dalaman. Hal yang sangat sulit ditemukan di antara pelaku-pelaku poligami. Padahal Om Napan orangnya tidak religius. Dia hanya kaya.
Keenam pemuda itu sudah siap dengan obat bius. Mereka akan menggilir tiga istri muda itu. Mereka dengan hati-hati mengendap-endap masuk ke dalam rumah dan menyelinap masuk ke kamar utama. Sebelumnya mereka mematikan lampu dulu.
Posisi sudah ditentukan, tiga pemuda sudah siap dengan sapu tangan berbius. Untungnya tiga istri muda itu tidak terganggu dengan lampu yang mati. Mereka langsung membuat mereka terbius. Enam batang sudah tegang.
Malam itu, warga desa dibangunkan sahur dengan enam kali bunyi letusan peluru.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

lanjut part 12. nantikan.
suwuun.
kalau mau duluan baca sisanya sampai part 25, silakan ke:
karyakarsa.com/hahahaditha/se…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with HAHAhaditha

HAHAhaditha Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @hahahaditha

Aug 14, 2022
OBSESI SETAN BLANGKON
PART 1 of 6

“Darahmu, dagingmu, nyawamu… sepenuhnya milikku.”

@IDN_Horor @bacahorror
#ceritahoror #bacahorror #Kajiman
Brakk!
Pintu terempas mengayun, engselnya rusak.
Kepala manusia menggelinding masuk, diempaskan oleh sosok misterius berpakaian serba hitam dan memakai blangkon. Hujan lebat dan kilatan petir menyamarkan sosok itu.
Masayu, pemilik rumah yang diinvasi, panik dan menyuruh putrinya sembunyi di balik lemari buku.
“Aku datang untukmu!” seru orang itu. “Kau telah menipuku dan sekarang waktunya kau merasakan apa yang kurasakan!”
Read 32 tweets
Aug 8, 2022
SANTAP
~sebuah cerita mengerikan tentang makan memakan~
<<sebuah thread>>

"Sudah telat baginya untuk kembali menjadi manusia."

ijin tag:
@IDN_Horor @bacahorror
#bacahorror #ceritahoror
Sebut saja namanya Beruk. Ia sebatang kara. Tak punya orang tua. Banyak yang bilang ia dilahirkan sebongkah batu tempat perancap memuntahkan cairan klimaks renjana. Tentu saja itu tidak benar. Ia anak manusia. Siapa pun boleh bilang begitu.
Oleh orang budiman yang ekonominya kurang baik, ia diangkut dari gang kumuh lalu diantar ke panti asuhan. Di sana ia tumbuh menjadi anak yang aneh.
Read 98 tweets
May 22, 2022
Saya kembali di tahun 2022, dalam penyempurnaan karya SUMUR HITAM. Ini adalah upaya saya menuliskannya ulang. Lebih serius dikit. hehe.
Baca di Kumparan Plus.

kumparan.com/kumparan-plus/… Image
Bab 2 SUMUR HITAM sudah hadir: Sumur Wisata

Di bawah malam purnama, selarik api hijau muncul di bibir sumur, menjilat-jilat langit. Sang Kiai dan anaknya berlutut. "Ini adalah mukjizat Sang Hyang di langit."

kumparan.com/haditha-m/sumu… Image
Bab 3 SUMUR HITAM

Pertikaian Sawah Kering
Meski Waras sudah melarang, namun Darto nekat datang ke rumah Erna. Ia ingin membuktikan pada keluarga Erna niat baiknya.
link: kumparan.com/haditha-m/pert…

hahah keren ilustrasinya Image
Read 17 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(