gil Profile picture
Mar 24 129 tweets 23 min read
LEMAH KUBURAN (Bab 6)

~ Pilkades Mekar Sari 1985

@bacahorror_id @menghorror @IDN_Horor #bacahoror #menghoror #idnhoror Image
“LEMAH KUBURAN” – Bab 6.

Pagi pun tiba, terlihat Kang Saleh dan Pak Mansur sudah berada di rumah Lurah Pawiro, mereka berdua tampak sedang menceritakan kepada Sang Lurah, tentang apa yang mereka alami semalam.
“Aselinipun Mbah Untung, ajeng mriki mboten to?”.

(Sebenarnya Mbah Untung akan kesini apa tidak?). Ucap Pak Mansur kepada Pak Lurah, setelah menceritakan apa yang terjadi semalam.
Bersamaan dengan itu, Mbok Tun yg memang setiap pagi berada di tempat Pak Lurah pun keluar untuk mengantarkan minuman kepada dua kadus itu. Kang Saleh yg melihat Mbok Tun pun seketika langsung bertanya kepadanya, perihal apakah Mbah Untung akan kesini untuk menangani masalah ini.
Menanggapi itu, Mbok Tun juga sebenarnya sedikit heran, mengapa Pakdenya itu tidak juga datang kesini, padahal jika dihitung dari kedatangan mereka ke tempat Mbah Untung tempo hari, ini sudah hampir tiga bulan berlalu.
Hingga Mbok Tun pun memutuskan akan pergi ke ‘Sapu Angin’ hari itu juga, untuk menemui Mbah Untung.

“Nopo kulo dinten niki tak budal ting Sapu Angin mawon njih?”.

(Apa saya pergi ke Sapu Angin saja ya hari ini?). Ucap Mbok Tun kepada mereka, yang tentu langsung diiyakan-
-oleh Pak Lurah, Kang Saleh dan Pak Mansur.

“Ho’o Mbok, opo meh budal saiki wae?”.

(Iya Mbok, apa kita pergi sekarang saja?). Tanggap Pak Mansur.

Namun pembicaraan itu pun mendadak teralihkan oleh Mas Angga, menantu Pak Lurah itu, yang keluar menghampiri dan mengatakan bahwa-
-istrinya (Mbak Sari), mendadak mengalami demam.

“Dek Sari kadose kok masuk angin Pak”.

(Dek Sari sepertinya kok masuk angin Pak). Kata Mas Angga seraya memberikan gestur kepada ayah mertuanya agar memeriksa istrinya yang masih berada di kamar.
“He!?”. Tanggap Pak Lurah yang saat itu langsung beranjak ke dalam untuk memeriksa anaknya.

Di dalam kamar, sudah tampak Bu Sundari yang tengah menggendong cucunya, ia berdiri di samping Mbak Sari yang tengah terbaring di atas ranjangnya.
“Koyone kok podo aku wingi kae Pak, mending digowo wae ning Sapu Angin”.

(Sepertinya kok sama seperti saya waktu itu Pak, mending kita bawa saja ke Sapu Angin). Ucap Bu Sundari kepada suaminya yang baru saja masuk.
“Iyo, pancen iki aku yo nembe rencana, dina iki meh budal mrono, tapi opo ora luwih apik nek ngundang Pak Bambang sek bune?”.

(Iya, memang kebetulan saya juga baru saja berencana, kalau hari ini akan kesana, tapi apakah tidak lebih baik kita mengundang Pak Bambang dulu?). Kata-
-Lurah Pawiro menyarankan untuk menangani ini secara medis terlebih dahulu sebelum mereka membawanya ke Sapu Angin.

Tapi baru beberapa detik Lurah Pawiro selesai berbicara, seketika mereka pun dibuat terkejut oleh Mbak Sari yg tiba2 tertawa lebar, lidahnya menjulur seraya-
-menarik & mencengkeram selimutnya.

“HA..HA..HA..HA..HA..HA..”. Tawanya tak biasa, begitu juga dengan wajahnya yang seperti berubah sedikit hitam membiru, membuat semua orang yang berada di kamar itu, kini tampak tercengang. Image
“Agstafirullah!! Dek!! Kenopo!!”. Ucap Mas Angga langsung mendekati istrinya itu yang seketika menghentikan tawa anehnya dan kini tampak menatap tajam ke arah sang suami.
“Eling nduk!!! Eling!!”. Kata Bu Sundari kini, seakan menyadari kejanggalan itu.

“Hehehe”. Mbak Sari pun terkekeh tak lama setelah itu, bersamaan dengan anaknya yg tengah dalam gendongan Bu Sundari kini mendadak menangis, keadaan itu membuat Mas Angga & semua orang segera-
-berpikir, bahwa pasti ada yg tidak beres.

Bu Sundari pun segera keluar membawa cucunya yang tengah menangis itu, ia terlihat menunggu di depan kamar, sembari memanggil-manggil Mbok Tun, dan dua Kadus yang berada di ruang tamu.
Sementara itu, di dalam kamar, Pak Lurah dan Mas Angga pun masih berkutat dengan ketidakwajaran itu.
“Sadar Sari!!!!! Sadar!!!”. Sentak Pak Lurah yang langsung dijawab oleh Mbak Sari dengan tawa seringai dan suara yang amat sangat jelas berbeda.
“Hahahaha... SARI?? MOSOK KOWE WES LALI TO MAS LURAH!! AKU KI SUMIRAH!! SEKO TEGAL SARI, AWAK DEWE KAN NDEK WINGI WES TAU KETEMU TO? Hehehehe”.

(Hahahaha... SARI!?? MASA’ DIRIMU SUDAH LUPA SIH MAS LURAH, SAYA SUMIRAH!! DARI TEGAL SARI, KITA KAN KEMARIN DULU SUDAH PERNAH BERTEMU-
-TO? Hehehehe). Jawaban itulah yg keluar dari mulut Mbak Sari, dengan suara serak & parau seperti seorang nenek2.

Lurah Pawiro tercengang mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anaknya itu, seketika ia juga teringat tentang kejadian berbulan-bulan lalu di rumahnya, yang-
-mana itu menjadi awal mula kiriman lelembut ini berlaku. Tak sampai beberapa detik, rangkaian ingatannya pun langsung tertuju, bahwa ia pernah melihat sosok wanita yang mengenalkan dirinya sebagai ‘Sumirah’ dari ‘Tegal Sari’, salah satu nama pemakaman umum di desa ini.
“Pripun niki Pak!?”.

(Bagaimana ini Pak!?). Tanya Mas Angga kini kepada Ayah mertuanya yang sedang terpaku oleh kebingungannya.

Hingga tak lama kemudian Pak Mansur dan Kang Saleh yang sudah diberi tahu oleh Bu Sundari pun turut masuk ke dalam kamar.
“Amit sewu Pak Lurah, nek niki tetep kesurupan!!”.

(Mohon maaf Pak Lurah, kalau ini pasti kesurupan!!). Ucap Kang Saleh beberapa saat setelah itu.

“Ho’o ki, terus kepiye iki!?”.

(Iya saya tahu, terus bagaimana ini!?). Tanggap Pak Lurah seraya menggaruk kepalanya.
“Opo dundangke Mbah Suyuti wae?”. Sela Kang Saleh yang menyarankan untuk memanggil Mbah Suyuti, salah satu tetangganya yang biasa menangani penari kuda lumping yang kerasukan. (Cont) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Meski awalnya sedikit merasa tidak yakin, Pak Lurah pun segera mengiyakan tawaran Kang Saleh itu. Dan saat itu juga Kang Saleh pun langsung keluar dan pergi untuk memanggil Mbah Suyuti.
Kembali ke Mbak Sari, Anak Pak Lurah itu kini semakin terlihat aneh, ia yang masih berada di atas ranjangnya, kini tampak terduduk dan tersenyum-senyum sendiri, matanya melirik tajam kesana kemari sambil menggigiti jemari kukunya. Mereka yang masih di dalam kamar, yaitu-
-Pak Lurah, Suami Mbak Sari dan Pak Mansur pun tampak kebingungan melihat perangai itu.

Singkat cerita tak lama kemudian, Mbah Suyuti pun tiba, ia yang sebelumnya telah diberi penjelasan oleh Kang Saleh pun langsung segera masuk ke dalam kamar.

“Niku Mbah.. Tulung”.-
-(Itu Mbah.. Tolong). Kata Pak Lurah begitu Mbah Suyuti masuk.

Mbah Suyuti pun langsung mendekati anak bungsu Pak Lurah itu, sambil menggenggam lipatan kain ikat kepala, ia mengulurkan satu tangannya untuk mengajak Mbak Sari bersalaman.
“Piye?? Sampean ki seko ngendi asale?”.

(Bagaimana!? Dari mana asalmu?). Ucap Mbah Suyuti mengulurkan satu tangannya, membuat Mbak Sari yang diduga tengah kerasukan itu perlahan menurunkan gigitan jemarinya dan menyambut jabatan tangan dari Mbah Suyuti.
“Piye?? Kowe sopo!? Kok iso nganti tekan kene!?”.

(Bagaimana? Kamu itu siapa? Kok bisa berada disini?). Ucap Mbah Suyuti lagi bersamaan dengan jabat tangannya. Yang mana pertanyaan itu pun segera dijawab oleh raga Mbak Sari dengan parau tawanya.
“Hi..hi..hihihihi, jare pawang setan? Kok kowe rangerti karo aku!? Hihihihihi”.

(Hihihihihihi, katanya pawang setan? Tapi kok tidak tahu siapa saya? Hihihihi). Jawab Mbak Sari.
Pernyataan itu pun tak ditanggapi oleh Mbah Suyuti yang kini tampak mengambil sesuatu dari belakang-
-punggungnya. Sesuatu itu adalah sebuah ‘Pecut’ atau ‘Cemeti’, yang langsung beliau angkat keatas sambil berbicara ke arah Mbak Sari yang tengah kerasukan itu.

“Mulih yo? Mesakke ragane..”.

(Pulanglah.. Kasihan raga itu..). Ucap Mbah Suyuti sembari mengangkat cemetinya itu.
Melalui tubuh Mbak Sari, lelembut itu tak bergeming, bahkan malah menyambut ajakan Mbah Suyuti itu dgn ejekan pekik tawanya.

“Ayo bali, sing alus!!”.
(Ayo pulang dengan baik!!). Kata Mbah Suyuti lagi yg kini mulai terlihat mengambil ancang2 untuk menghentakkan cemetinya itu.
Lagi-lagi Mbak Sari yang tengah kerasukan itu, menanggapinya dengan tawa, dan sambil berkata kepada mereka semua.

“Hihihihi..Enak wae!! aku ki wes di mahar kon mampir lan ngomah ning kene, aku yo koyone wes kebacut kerasan!! Hihihihihi”.
(Hihihi.. Enak saja!! Saya ini sudah dimahar untuk mampir dan menetap disini, dan sepertinya saya juga sudah terlanjur nyaman di tempat ini!! Hihihihi). Ucap lelembut di dalam tubuh Mbak Sari itu, yang tentu seketika memantik pertanyaan bagi mereka semua.
“Seeesopo sing ngongkon kowe!!?”.

(Seeeeessiapa yang menyuruhmu!!?). Sentak Lurah Pawiro dengan gagap dan canggung kepada sosok lelembut yang berada dalam tubuh anaknya itu.
Namun sepertinya Sumirah, sosok yg sedang merasuki tubuh Mbak Sari itu, telah dikendalikan, untuk tidak mengakui siapa yg telah memaharnya, itu terlihat dengan pertanyaan sama yg sudah mereka ulangi berkali-kali, & selalu dijawab oleh lelembut itu dgn kembali mengenalkan dirinya.
“Hihihihi.. Aku Sumirah, seka Tegal Sari!! Hihihihi”. Ucap sosok itu selalu, ketika mendapat pertanyaan tentang siapa orang yang berada di balik semua ini.

“Wiryo ho’o!?”.

(Wiryo ya!?). Sela Kang Saleh yang mulai jengkel dengan jawaban yg sedari tadi hanya berputar-putar saja.
Mbak Sari tampak sejenak terdiam atas pertanyaan Kang Saleh itu, hingga tak lama kemudian, Mbok Tun pun tiba-tiba masuk dan langsung berkata kepada lelembut itu.

“Aku ngerti omahmu!!!, ning kuburan Tegal Sari pojok wetan to!!? Ning wit Waru sing ngisore ono watu cepere-
-to!!?, ngene wae, nek kowe ora metu!? Bakalan tak rungkatno wit iku, ben anak dulurmu do nangis kabeh, goro-goro tumindakmu!!”.

(Saya tahu rumahmu, di makam Tegal Sari pojok utara kan? Di Pohon Waru yang bawahnya terdapat sebuah ‘batu ceper’, sekarang begini saja, kalau kamu-
-tidak keluar, akan ku robohkan pohon itu, biar anak dan saudaramu menangis, dan itu semua karena kelakuanmu!!). Kata Mbok Tun setelah masuk ke dalam kamar, membuat Mbah Suyuti, Lurah Pawiro, Kang Saleh, dan Pak Mansur menoleh dengan agak keheranan.
Atas perkataan Mbok Tun, Sosok lelembut di dalam tubuh Mbak Sari itu terdiam tak bergeming, namun wajahnya kini berubah sayu, seakan mulai memancarkan rasa takut, hingga tak lama setelah itu ia pun berteriak kencang, menggelinjang, dengan kepalanya yg mendongak ke atas. Image
Mereka yang melihat itu, seperti tak bisa berbuat apa-apa lagi, begitu juga dengan Mbok Tun, yang kini malah tampak kebingungan setelah apa yang dia katakan tadi kepada lelembut yang berada dibalik raga Mbak Sari itu.
Beruntungnya itu tak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian, Mbak Sari pun mendadak melemas, ia perlahan lunglai dan ambruk. Semua orang masih tampak terdiam setelah itu, mereka saling menatap satu sama lain, seakan sedang menata pikiran yang mungkin terasa rancu.
Hingga tak selang beberapa lama kemudian..

“Dek..adek..”. Terdengar suara dari Mbak Sari yang memanggil anaknya.

Membuat semua orang kini merasa lega, Bu Sundari yang segera masuk pun langsung mengucap syukur dengan keadaan itu.
“Allhamdulillah!!”. Ucap Bu Sundari yang kini masuk kembali.

Mbak Sari tampak bingung, melihat banyak orang yang berada dalam kamarnya. Sepertinya ia tak tahu apa yang baru saja terjadi kepadanya.

“Ono opo to iki?”.

(Ada apa to ini!?). Kata Mbak Sari setelah itu. Hingga suami-
-nya pun mendekat dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Tapi suasana yang sempat sejenak tenang itu, kini kembali riuh oleh tangisan Dito, ketika hendak di dekatkan kepada Mbak Sari. Dito yang masih balita itu, tampak ketakutan saat dengan ibunya sendiri, Membuat Bu-
-Sundari yang tengah menggendongnya pun, segera keluar untuk menenangkan cucunya itu.

“Tidak beres!! Tidak beres!!”. Batin Bu Sundari seraya menimang si kecil Dito yang tantrum itu di luar kamar.
Semua orang terlihat tak kuasa mencerna kejadian itu, begitu pula dengan Mbah Suyuti yang tampak heran, “Bisa-bisanya kiriman teluh, bekerja sepagi ini”. (Cont) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Tak lama setelah itu, Pak Lurah, Mbah Suyuti, Kang Saleh dan Pak Mansur pun keluar menuju ruang tamu, meninggalkan Mas Angga yang masih terlihat menenangkan istrinya.

“Nek kados wau, terus terang mboten bidange kulo Pak Lurah”.

(Kalau seperti tadi, terus terang, itu bukan-
-bidang saya Pak Lurah). Kata Mbah Suyuti beberapa saat setelah mereka keluar dan duduk diruang tamu.

Menanggapi pernyataan Mbok Tun tadi di dalam kamar, Mbah Suyuti pun berujar, “Jika memang lelembut bernama Sumirah itu berasal dari ‘Pohon Waru Watu Ceper’ di Makam Tegal Sari,-
-maka semua tidak baik-baik saja”. Menurut Mbah Suyuti makam Pohon Waru itu, adalah daerah terlarang untuk disapa, ia mengingat nasehat almarhum ayahnya dahulu, Ayah yang sekaligus adalah gurunya dalam seni ‘kesurupan’ di atraksi kuda lumping yang ia geluti itu, dahulu kerap-
-berkata kepada Mbah Suyuti, agar jangan sekali-kali ia mendekati Makam itu kalau tidak ingin celaka.

“Emange, Sumirah iku sopo!?”.

(Memangnya Siapa Sumirah itu!?). Sela Pak Lurah bertanya di tengah penjelasan itu, yg segera Mbah Suyuti jawab sesuai dengan apa yg ia ketahui-
-lewat ayahnya.

Menurut sejarah yang ia dapat dari ayahnya, Sumirah dulunya adalah ‘Gundik’ atau istri tidak sah dari seorang demang desa ini di masa penjajahan belanda yang mengakhiri hidupnya setelah dua anaknya dibunuh oleh Demang itu sendiri.
“Terus opo sing marai deknen mbok sebut bahaya Mbah!?”.

(Terus, apa yang membuat dia berbahaya Mbah?). Tanya Kang Saleh kini.

“Patine de’e, nyangking dendam, ugo mesti wes dikuasai iblis”.

(Kematiannya yang membawa dendam, membuatnya sudah dikuasai oleh iblis). Terang Mbah-
-Suyuti yg mengungkapkan bahwa orang yg mati karena dendam & kekecewaan yg mendalam pasti akan dikuasai oleh iblis.

Bukannya Mbah Suyuti ingin menakut-nakuti, namun itulah sejujurnya yg ia tahu, & yg ia inginkan saat ini hanyalah,agar Pak Lurah segera mencari jalan keluar untuk-
-menyelesaikannya.

Tapi bagaimana Mbok Tun bisa mengetahui secermat itu perihal hantu Sumirah?. Mungkin itulah salah satu pertanyaan yang berada dalam pikiran mereka saat itu.
Namun Mbok Tun yang ditanyai perihal itu pun nyatanya malah kebingungan. Walau banyak saksi yang-
-mengetahuinya, Mbok Tun merasa bahwa tadi saat berada dikamar, ia sama sekali tak mengakatan apa-apa.

Pak Lurah, Mbah Suyuti, Kang Saleh dan Pak Mansur, terlihat mengkerutkan alisnya mendengar jawaban Mbok Tun yang tentu sempat memicu sedikit perdebatan itu. Sampai akhirnya,-
-pembicaraan di ruang tamu itu pun dihentikan oleh Lurah Pawiro dengan ajakan agar mereka segera berangkat ke Sapu Angin untuk menemui Mbah Untung.

Dan di pagi yang sebenarnya begitu cerah itu, mereka pun berangkat ke Sapu Angin, termasuk juga dengan Mbah Suyuti, Mbak Sari-
-beserta anak dan suaminya yang untuk kali ini mereka turut serta berangkat menuju ke rumah Mbah Untung.

Singkat cerita sampailah mereka di rumah Mbah Untung, yang mana seperti beberapa waktu lalu, mereka disambut oleh lambaian tangan Mbah Untung yang berdiri di depan rumahnya,-
-seakan sudah tahu bahwa rombongan Lurah Pawiro itu akan datang. Bedanya kali ini, Mbah Untung tampak buru-buru menyuruh mereka semua untuk segera masuk.

“Monggo... Pinarak!!! Pinarak”.

(Mangga.. Silahkan masuk.. Masuk!!). Kata Mbah Untung sambil menoleh ke kanan dan ke kiri-
-dengan pandangan tak biasa.

Singkat cerita setelah mereka masuk dan duduk, Mbah Untung pun langsung mengawali pembicaraan dengan sebuah permintaan maaf, yang tentu membuat mereka semua, terutama Pak Lurah, sedikit kebingungan.
“Ngeten, dingapunten sanget, kula dereng saget tuwi mrika”.

(Begini.. Mohon maaf sekali, saya belum sempat menengok kesana). Kata Mbah Untung ke arah Lurah Pawiro dengan gestur yang terlihat gelisah.
“Mboten nopo-nopo Mbah, menawi panjenengan dereng sela, tapi niki, kulo bade namba’aken anak kulo, soale wau niku, teko-teko kados kesurupan”.

(Tidak apa-apa Mbah, kalau memang panjenengan belum sempat, tapi ini saya kesini mau agar Simbah, melihat anak saya, karena tadi tiba-
-tiba seperti kerasukan). Kata Lurah Pawiro seraya mengenalkan Mbak Sari yang masih terlihat kebingungan.

“O.. Nggih..nggih.. Kulo pun ngertos nek niku”.

(Oh ya..ya.. Saya sudah tahu kalau soal itu). Tanggap Mbah Untung menganggukkan kepalanya dan langsung berdiri, beranjak-
-dan mengambil kendi dari dalam rumahnya.

Mbah Untung yang kembali keluar pun langsung meletakkan kendi itu di atas meja, dan dengan lirih, ia pun berkata.
“Ngenten Mas, sakderengipun kulo ajeng matur, jebulane niku, dukun sing ngayai lawanipun panjenengan niku nggih tiyang mriki”.

(Begini Mas, sebelumnya saya mau bicara dulu, Ternyata dukun yang berada di belakang lawan panjenengan itu, juga orang sini). Kata Mbah Untung menatap-
-Pak Lurah yang spontan langsung disela oleh Mbok Tun baru saja berdiri dan hendak berjalan ke dalam untuk membuatkan minum.

“Tenane Pakde!? Emang sopo!?”.

(Apa benar itu Pakde!? Memangnya siapa?). Ucap Mbok Tun yang mendadak menghentikan langkahnya setelah mendengar itu.
“Pak Cokro kae lho Tun, omahe ning RT kidul, aku wulan-wulan wingi, ra sengojo ngobrol karo deknen, sing teko-teko crito lagi dadi dekengan calon lurah Mekar Sari, kui sing marai aku dadi ora iso rono, mergane nek deknen gasi ngerti aku dadi lawane, mesti dadi ribut”.
(Pak Cokro itu lho Tun, rumahnya di RT selatan, berbulan-bulan lalu, tidak sengaja saya mengobrol dengannya, yang entah bagaimana, tiba-tiba saja ia bercerita kalau sedang menjadi bekingan calon lurah Mekar Sari, itulah yang membuat saya sampai sekarang belum bisa kesana,-
-karena jika dia tahu saya berada di pihak yang menjadi lawannya, pasti akan terjadi keributan). Kata Mbah Untung yang langsung ditanggapi Pak Lurah dengan wajahnya yang kawatir.
“Terus pripun niki Mbah? Nopo mboten saget diusahaken? Soale niki kulo kalian rencang-rencang pun mulai diganggu malih”.

(Terus bagaimana ini Mbah? Apa tidak bisa diusahakan? Soalnya ini saya dan kawan-kawan sudah mulai mendapat gangguan lagi). Kata Pak Lurah memohon.
“Mbok diselakke to Pakde, meneng-meneng rono kan iso”.

(Tolong disempatkan lah Pakde, diam-diam ke sana kan bisa juga). Tambah Mbok Tun turut memohon.
Mbah Untung terlihat gamang menggelengkan kepalanya, di sisi lain ia sangat ingin membantu Lurah Pawiro secara penuh, tapi di sisi lainnya, ia juga sangat tidak suka dengan keributan. Mbah Untung juga berkata, bahwa selama ini ternyata ia tidak sepenuhnya diam begitu saja,-
-ia tetap membantu pihak Sang Lurah meski dari jauh, ia membuktikan itu dengan bercerita secara gamblang tentang apa yang telah mereka alami belakangan ini.
Contohnya tentang kejadian semalam, yaitu perihal Lelembut Sumirah yang muncul dari kolong tempat tidur Mbak Sari, Hantu wanita yang dilihat oleh Pak Mansur dan sosok Wewe yang membuat kaca jendela Kang Saleh pecah. Semua orang cukup terpenganga mendengar itu, entah bagaimana-
-Mbah Untung mengetahuinya, tapi yang jelas ia menceritakan kejadian demi kejadian dengan sangat rinci sebelum mereka semua memberitahukan itu.
“Ngeten mawon, sementara, panjenengan nggih, ingkang kulo pasrahi”.

(Begini saja, untuk sementara, semua akan saya pasrahkan kepada panjenengan ya). Ucap Mbah Untung yang tiba-tiba mengarah kepada Mbah Suyuti, orang yang baru pertama kali bertemu dengannya.
“Eh Maksute!?”. Tanggap Mbah Suyuti dengan wajah bingung.

Sepertinya Mbah Untung tahu, diantara semua orang yang saat itu berada di rumahnya, Mbah Suyuti lah yang menurutnya mempunyai aura paling kuat.
“Tenang mawon kang, mboten angel kok kangem panjenengan, mangkih kula betani barang”.

(Tenang saja kang, tidak begitu sulit kok buat panjenengan, nanti saya bekali dengan sesuatu). Kata Mbah Untung yang segera di sanggupi oleh Mbah Suyuti karena bujukan dari Pak Lurah & mereka-
-semua.

“Ho’o Mbah, kanca-kanca tulung direwangi”.

(Iya Mbah, teman-teman tolong dibantu). Sambut Kang Saleh untuk memantapkan Mbah Suyuti.

Dan tak lama kemudian obrolan itu pun, tersela oleh Mbah Untung yang meminta izin untuk meminumkan air kendinya kepada Mbak Sari.
Beberapa teguk air dari kendi itu pun sudah masuk kedalam kerongkongan Mbak Sari, yang tak lama setelah itu Bu Sundari segera memberi tahu anaknya, agar bersiap dengan efek yang akan terjadi.
Tak butuh waktu lama, Mbak Sari pun kini terbatuk, dan mulai merasakan mual di perutnya. Dan seperti yang sudah pernah terjadi kepada mereka sebelumnya, Mbak Sari pun memuntahkan sesuatu yang ternyata mirip dengan Bu Sundari tempo lalu, yaitu gumpalan2 tanah bercampur lendir.
Suasana sejenak terlihat hening, dan kembali dibuka oleh Mbah Untung yang bertanya, berapa hari lagi pilkades itu akan dilaksanakan.

“Enam dinten malih Mbah..”.

(Enam hari lagi Mbah..). Jawab mereka.
“Duh!!”. Mbah Untung yang menghela nafasnya mendengar itu, dan langsung mengajak Mbah Suyuti, untuk ikut masuk ke dalam kamarnya.

“Nggo njenengan tumun kulo mlebet”.

(Ayo, njenengan ikut saya kedalam). Kata Mbah Untung mengajak Mbah Suyuti.
Dan setelah itu mereka berdua pun masuk, sementara yang lain terlihat menunggu diruang tamu, entah apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Yang jelas Mbah Untung dan Mbah Suyuti kembali keluar sekira tiga puluh menit kemudian.
Mbah Untung keluar bersama Mbah Suyuti yang kini tampak membawa kantong kain berwarna hitam yang ukurannya cukup besar.

“Pokoke, ampun sumelang, kulo tetep tuwi wonten Mekar Sari, paling telat malem coblosan”.

(Pokoknya jangan kawatir, saya akan tetap ke Mekar Sari, paling-
-lambat, di malam sebelum hari pencoblosan). Kata Mbah Untung beberapa saat setelah ia keluar bersama Mbah Suyuti.

Singkat cerita tak lama setelah itu, Mereka semua pun pamit pulang, dengan rasa cukup lega namun masih menyisakan setitik kegamangan dan keraguan. Apa lagi dengan-
-satu fakta baru yang mereka kini bawa pulang, yaitu tentang Pak Cokro, dukun di belakang Juragan Wiryo yang ternyata sama-sama dari Sapu Angin.
Dalam perjalanan pulang, semua tanya kini tertuju kepada Mbah Suyuti, sebagai orang yang ditunjuk sementara untuk menangani masalah ini. Mereka terlihat penasaran dengan apa yang telah dipesankan dan diberikan Mbah Untung kepadanya tadi.
Namun Mbah Suyuti tak bisa banyak menjelaskan, saat itu yang ia katakan hanyalah, pinta Mbah Untung yang menginginkan agar dirinya, mulai membantu memagari semua rumah orang-orang ‘utama’ yang kemungkinan menjadi incaran.
“Pokoke aku sesuk kon pasa disik sedina, banjur lagi iso mulai mageri omah2 sampean kabeh”.

(Pokoknya saya besuk disuruh puasa dulu sehari, baru setelah itu bisa memulai memagari rumah2 sampean semua). Kata Mbah Suyuti kepada Kang Saleh & Pak Mansur saat dalam perjalanan pulang.
Singkat cerita, tengah hari mereka pun tiba kembali di Mekar Sari, terlihat Mbah Gotro, Kadus Barjo dan kadus-kadus lainnya sudah menunggu di depan rumah Pak Lurah, entah kabar dari siapa, sepertinya mereka yang tidak ikut ke Sapu Angin itu, tahu tentang kejadian tadi pagi,-
-perihal Mbak Sari yang kerasukan.

Pak Lurah pun segera menyuruh semua orang untuk masuk terlebih dahulu, mengajak duduk Menantunya, Mbah Gotro serta para kadus-kadus. dan setelah itu ia pun mulai menjelaskan apa yang terjadi, termasuk tentang dukun sewaan Juragan Wiryo yang-
-ternyata juga berasal dari Sapu Angin. Setelah cukup berbicara, Lurah Pawiro pun mengakhiri obrolan itu dengan meminta mereka semua untuk tetap seperti biasanya saja.

“Pokoke, mengko bengi tetep koyo biasane yo, uwong-uwong, podo dijak mrene”.

(Pokoknya, nanti malam, tetap-
-seperti biasanya ya, ajaklah orang-orang untuk kesini). Kata Pak Lurah dengan wajah lelahnya seraya meminta ijin kepada semua orang untuk mandi dan membersihkan badan.
Detik demi detik terus berlalu, Mereka pun larut dalam perbincangan, yang sengaja lebih mereka isi dengan omong kosong dan candaan, itu agar semua sedikit teralihkan dan tidak melulu membahas tentang pilkades ini saja, lagi pula, hari pemilihan tinggal sebentar lagi, peta suara-
-juga sudah terbentuk. Dan survey-survey yang mereka lakukan secara mandiri juga menunjukkan bahwa kubu mereka masih unggul.

Tak lama setelah itu, Terlihat Mbak Sari yang keluar di tengah obrolan siang itu, wajahnya kini sudah tampak segar, tak seperti tadi pagi yang pucat pasi-
-, seraya menggendong Si Kecil Dito di punggungnya, ia terlihat membawa nampan yang penuh dengan kue dan makanan, disusul oleh Mas Angga suaminya yang juga tampak membantu menenteng teko minuman.
Dan selang beberapa saat kemudian, Pak Lurah pun keluar bersama Bu Sundari, yang dengan segera mempersilahkan orang-orang untuk menikmati hidangan itu.

“Monggo, di dahar!!”.

(Mangga silahkan dimikmati!!). Kata Bu Sundari dan Pak Lurah dengan wajah bugar sehabis mandi.
Singkat cerita, setelah cukup bertukar kata dan menikmati jamuan siang itu, satu per satu orang di rumah Pak Lurah Pawiro mulai berpamitan pulang dan sesuai yang telah di arahkan, mungkin mereka akan kembali nanti malam.
“Mengko bengi sampean ameh melu ning Pak Lurah ora Mbah?”.

(Nanti malam, sampean akan ikut ke rumah Pak Lurah tidak Mbah?). Tanya Kang Saleh kepada Mbah Suyuti dalam perjalanan pulang.
“Lha kowe piye?, meh budal ora?”.

(Lha kamu bagaimana? Berangkat tidak?). Jawab Mbah Suyuti yang balik bertanya.

“Mbuh ki Mbah.. Mau bengi kan bar ono kejadian ning omahku, nek anak bojoku wedi ditinggal metu, yo koyone aku raiso ning Pak Lurah”.
(Belum tahu ini Mbah.. Semalam kan baru saja ada kejadian dirumah, kalau anak istri saya nanti tidak mau ditinggal keluar, kemungkinan saya tidak bisa ke Pak Lurah). Jawab Kang Saleh.

“Yowes to, aku tak manut kowe wae, nek mengko bengi biso, yo teko marani aku, tapi nek raiso,-
-aku yo tak ora ning Pak Lurah, turgeneh aku yo kudu siap-siap barang jane, gawe nglakoni poso disik”.

(Ya sudah to, saya ikut kamu saja, semisal nanti malam kamu bisa, jemput saja saya, tapi kalau tidak bisa, saya juga tidak akan ke tempat Pak Lurah, lagi pula saya juga masih-
-harus menyiapkan diri untuk menjalani puasa besok). Jawab Mbah Suyuti menanggapi Kang Saleh.

Singkat cerita malam pun tiba, seperti biasanya, rumah sang petahana itu kini tampak mulai ramai oleh warga. Para Kadus tampak duduk di ruangan utama, yaitu Kadus Barjo, Pak Mansur-
-Kang Wicak dan Pak Tunggul, yang saat itu tengah duduk bersama Pak Lurah, Mbah Gotro, dan para tokoh lainnya.

Malam itu cukup ramai, bahkan bisa dikatakan lebih ramai dari biasanya, Tapi di antara semua orang yang datang, ada satu orang yang tak muncul di rumah Lurah Pawiro-
-malam itu, yaitu Kang Saleh, yang mana sesuai dengan apa yang dikatakannya kepada Mbah Suyuti siang tadi, ternyata malam ini Kang Saleh tidak bisa meninggalkan istri beserta anaknya di rumah. Di teras depan, semua warga terlihat mengobrol asyik, seraya menikmati kopi dan-
-makanan kecil yang sudah disediakan. Begitu pula dengan orang-orang di ruangan utama, yang juga tampak saling bertukar cerita yang tak kalah asyiknya.

Hingga singkatnya, tak terasa jam yang terus berjalan, sudah menunjukkan lewat tengah malam, sekira mungkin pukul 01.00 dini-
-hari, para warga pun mulai beranjak pulang, begitu juga dengan Para Kadus dan tokoh desa di ruangan utama, Yang satu per satu juga mulai berpamitan.

Rumah Sang Petahana yang tadi ramai pun perlahan kembali sepi, tapi tak masalah bagi Lurah Pawiro dan Bu Sundari, karena kali-
-ini ada anak, cucu dan menantunya yang menemani.

“Mugo-mugo wae ora ono aneh-aneh”.

(Semoga saja, malam ini tidak ada aneh-aneh lagi). Kata Pak Lurah membisik seraya menutup dan mengunci pintu rumahnya. Dan setelah itu, ia pun segera beranjak menuju kamar untuk beristirahat.
Mbak Sari dan Si kecil Dito, tampak sudah tertidur pulas di kamarnya, tapi tidak dengan Mas Angga yang terlihat masih terjaga. Sesekali Matanya menerawangi langit-langit, bersamaan dengan pikirannya yang ternyata sedari pagi berkutat pada kejadian yang sempat di alami istrinya.
Beberapa kali ia terlihat memeriksa kolong ranjangnya, sepertinya ia cukup gelisah dengan sosok yang tadi sempat merasuki istrinya itu. Malam itu ia terjaga bersama dengan rasa takutnya yang perlahan tersingkirkan dan berganti dengan kekawatirannya kepada istri dan anaknya.
Berkali-kali Mas Angga mencoba untuk tidak memikirkan itu, dan berusaha untuk memejamkan matanya, tapi entah mengapa, semakin lama, ia merasa semakin gelisah saja, yang mana itu membuatnya kembali lagi memeriksa kolong tempat tidurnya, lebih sering dan semakin sering.
Hingga ranjangnya yang berdecit oleh gerakan Mas Angga yang berulang-ulang itu, tanpa sengaja membangunkan si kecil Dito.

Seperti balita pada umumnya, Dito terbangun dan menangis, yang mana segera ditenangkan oleh Mas Angga, namun tak lama setelah itu, mendadak Dito minta di-
-buatkan susu, membuat Mas Angga pun terpaksa membangunkan Mbak Sari istrinya.

“Dek..Dek.. Nunut iki Dito dikancani sek, aku tak gawe susu ning buri”.

(Dek..Dek.. Tolong ini Dito di temani dulu, saya akan ke belakang untuk membuatkan susu). Kata Mas Angga kepada Mbak Sari yang-
-tak lama segera terbangun.

Mas Angga pun keluar, dan berjalan menuju dapur, membuat susu untuk anaknya dengan sedikit terburu, sesekali ia memegang tengkuknya yang bergidik, entah memang ada sesuatu atau hanya perasaannya saja, setelah selesai, ia pun segera bergegas berjalan-
-kembali menuju kamarnya.

Tapi sekira beberapa langkah ia keluar dari dapur, entah apa sebabnya, tiba-tiba mendadak tubuhnya melemas dan pandangannya perlahan berubah menjadi gelap seperti orang yang mau pingsan.
“Agstafirullah!!”. Ucapnya menyentak yang seketika membuatnya tersadar kembali.

“Kenapa ini!!”. Batin Mas Angga yang tanpa sengaja melihat ke arah tangannya, dan langsung menyadari botol susu yang tadi ia bawa kini sudah tidak ada dalam genggamannya.
Ia pun menoleh dan mencarinya ke sekitar, namun baru sekejap ia memutar pandang, ia segera tersentak dengan pemandangan yang kini terlihat di depan matanya.
Sesosok perempuan misterius, berdiri aneh di depannya. Berbaju hitam, dengan rambutnya yang panjang, Tawanya pekik mengikik sambil memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Image
Mas Angga yang terkejut, hanya bisa tertegun seraya memundurkan langkahnya, tapi sosok itu pun juga turut mengikuti dan mendekatinya.

“Lungo!! Lungo!! Ojo ganggu aku!!!”.

(Pergi!! Pergi!! Jangan ganggu saya!!). Ucap Mas Angga yg sekuat tenaga ingin meneriakkan itu namun entah-
-mengapa yang keluar dari mulutnya saat itu hanyalah suara yang pelan.

Sementara sosok perempuan itu masih dengan gelagat anehnya, dengan tertawa mengikik dan memiringkan tubuhnya, sosok itu pun tak henti melangkah mendekati Mas Angga yang akhirnya terhuyung jatuh. Image
Mas Angga pun hanya bisa merayap mundur, dengan pandangannya yang seakan tak bisa berpaling dari sosok perempuan itu. Sampai akhirnya ia benar-benar bisa berteriak ketika sosok itu mendekatkan wajahnya sambil berkata. (Cont)
“AKU SUMIRAH!!!”. Kata sosok itu dengan mulutnya yang lebar menganga seraya mendekatkan paras tuanya, benar-benar di depan wajah Mas Angga. Image
Mas Angga pun berteriak sekencang-kencangnya, bersamaan dengan pandangannya yang kian gelap, Mas Angga tak sadarkan diri.

Bersambung ke Bab.6
Lemah Kuburan Bab 6, selesai disini, terimakasih sudah mengikuti sampai bagian ini.. Sampai jumpa minggu depan di bagian selanjutnya 🙏
Buat teman-teman yang buru-buru pengen tahu lanjutannya, bisa langsung download di @karyakarsa_id ya, berikut linknya..

7. karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
8. karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with gil

gil Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @AgilRSapoetra

Feb 16
LEMAH KUBURAN (Bab 1)

Pilkades Mekar Sari 1985

@bacahorror_id @IDN_Horor @menghorror #bacahorror #IDNhorror #Menghorror Image
“LEMAH KUBURAN” Bab 1

Pada suatu masa, di sebuah Desa yang cukup luas bernama Desa Mekar Sari, yang mana desa ini terbagi menjadi lima wilayah dusun, yang terbilang cukup subur dan makmur di banding desa-desa yang lain saat itu.
Read 104 tweets
Jan 27
MARNIWONGSO 11# (Akhir)

~ Legenda Hantu Desa

@bacahorror_id @menghorror @IDN_Horor
Hi.. Tidak terasa kita sudah sampai di bagian terakhir ya :)), terimakasih sudah mengikuti sampai bagian ini..

Mungkin di Part ini akan sedikit lebih panjang dari sebelumnya, jadi mohon bersabar, dan beri saya waktu untuk menceritakannya sampai akhir, di tengah kesibukan sy ini.
Buat yang mungkin tidak sabar, bisa juga nih, mendukung saya dengan cara download bagian ini di Karyakarsa, berikut linknya >> karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…
Read 200 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(