nana ariadi Profile picture
May 25, 2023 99 tweets 13 min read Read on X
- PENJAGA MERCUSUAR -

"kejahatan datang dari segala medan, di daratan hingga dari lautan"

Izin tag:
@IDN_Horor @bacahorror @bacahorror_id @menghorror @P_C_HORROR @ceritaht @C_P_Mistis #bacahorror #threadhoror Image
Selepas salat Magrib Amir menuju ruang pantau, Babeh pasti di sana.

"Beh, saya boleh tanya suatu hal yang mungkin bakal bikin Babeh kesinggung?" buka Amir.

"Tanya aja Mas" singkat Babeh.

"Waktu di kampung, saya ngobrol sama Ibu penjaga warung"

"Terus?"
"Hmm..., katanya sebelum saya. Ada 7 penjaga yang mati di sini. Benar?"

"Benar, sekaligus salah"

"Maksudnya?"

"Rifan, penjaga sebelum kamu ga sengaja jatuh dari atas waktu lagi ngelamun malem-malem. Babeh waktu itu baru sampe dari kampung".
"Terus Aldi, dia juga sama. Waktu lagi nyari ikan, ombak di laut lagi tinggi. Babeh, ga sempet selametin karena Babeh juga kena ombak. 5 orang lain, dia ga mati, tapi kabur. Tiga orang nyuri barang berharga kami, yang satu nyoba perkosa Mamah. 1 lagi, dia pergi gitu aja"
Penjelasan Babeh yang logis membuat Amir merasa tidak enak.

"Kamu pasti penasaran kenapa Babeh ga ceritain kamu?" kata Babeh.

"Hehe, i-iya Beh" jawab Amir.

"Babeh takut, kamu gak lama di sini kalo tau cerita itu. Tapi ya Babeh salah, mau gimanapun harusnya Babeh cerita"
Babeh melanjutkan pembicarannya, "Jujur Babeh trauma, kesel sekaligus sedih kalo ngebahas itu. Maaf ya Mas"

"Gapapa Beh, oiya boleh saya tanya satu hal lagi?" ucap Amir.

"Silakan"

"Ibu itu bilang, mesti hati-hati sama Babeh?

"Oh itu udah biasa, kamu orang ke delapan"
"Yang tujuh lainnya, sebelum saya?"

"Betul. Babeh sih bisa bilang, itu penyakit hati. Mereka iri sama Babeh"

"Saya nyimak Beh"

"Cuma Babeh yang dikasih kerjaan ini sama dinas kelautan. Warga lain, ga dikasih. Mungkin karena dulu Ayah dari Babeh udah jaga dari jaman Belanda"
"Terus?"

"Karena mereka tau penghasilan Babeh lebih di atas mereka. Juga karena sebetulnya dari warga lain udah Babeh ajakin, gak ada yang mau. Mereka mikir gajinya kecil"

"Oalah, iya Beh udah biasa sih itu, di mercusuar lain sebelumnya juga kasusnya sama"
"Tapi itu terserah kamu Mas, mau percaya siapa. Wajar juga orang kampung bilang kamu mesti hati-hati sama Babeh. Tempat ini sama seremnya kayak muka Babeh"

Keduanya teryawa, Amir kini lega. Informasinya telah dikonfirmasi langsung, inilah gunanya komunikasi.
Klarifikasi Babeh nyatanya belum usai, "Sebenernya ada hal lain yang bikin mereka benci Babeh. Tapi, Babeh takut jadi nyebar aib orang"

"Saya bisa jaga apapun termasuk rahasia Beh" sahut Amir.

"Nelayan di sini pake bom ikan Mas, lalu beberapa dari mereka juga sering transaksi"
"Transaksi?"

"Barang haram"

Babeh melanjutkan bahwa setiap 1 bulan sekali ada kapal kecil yang sandar. Narkoba itu diselundupkan di tumpukan ikan. Sangat rapi, dan tentu ada konsumennya di kampung ini.
"Babeh jadi orang pertama yang lawan kejahatan itu. Ayah Babeh aja dulu rela mati ngelawan Belanda, masa perkara begini Babeh diem aja"

"Beh, saya salut sama Babeh. Babeh bisa seberani dan sekuat itu" ujar Amir dengan rasa kagum.
"Biasa aja, lagipula ini tugas kita juga. Masa iya cuma plek jaga suar doang. Alat udah canggih Mas, bisa otomatis ngarahin kapal. Mercusuar ini masih butuh penjaga ya alesan lainnya karena perkara begini"

"Yap, saya sepakat sama Babeh!"
"Oiya Mas, yang kemarin kepotong. Babeh mau tanya, kamu udah punya anak?"

"Allah masih baik Beh, saya ga dikasih anak dari mantan istri saya"

"Berarti kalo lagi libur, kamu tinggal sama orang tua?"

"Ya Beh"

"Ada sodara atau temen?"
"Di dunia ini, selain orang tua saya. Saya cuma punya 1 Guru dan 6 temen"

"Guru?"

"Ya, saya dan 6 teman saya adalah murid dari Guru"

"Maksudmu? Guru Dosen?"

"Bukan, beliau Guru spiritual kami"
Amir dengan riang menjelaskan, "Semasa kecil, kami bertujuh adalah orang-orang terbuang yang berbuat kerusakan di setiap sudut jalanan. Kemudian satu persatu, Guru itu merangkul dan mengumpulkan kami. Hingga sekarang kami terpisah lagi"
"Lanjutin Mas"

"Ada Robi & Zidni, mereka yang paling pinter karena bisa kuliah. Ada alm. Supri, mantan penjaga loket bioskop yang mati syahid di tempat kerjanya. Ada Mamat si tukang jait, Ada Kodir penjaga pintu air, terakhir Iman si tukang Ronda"
"Lanjutin Mas"

"Ada Robi & Zidni, mereka yang paling pinter karena bisa kuliah. Ada alm. Supri, mantan penjaga loket bioskop yang mati syahid di tempat kerjanya. Ada Mamat, tukang jait. Kodir, penjaga pintu air sama Iwan si tukang ronda.
"Wah macem-macem ya. Oiya, kalo guru kamu tinggal di mana?"

"Dia tinggal di Utara Beh, di suatu lembah. Saya gak bisa jelasin detailnya"

"Gapapa, jadi Guru kamu punya kemampuan lebih?"

"Ya, saya bisa nyebutnya sih beliau diberkahi kacamata batin"

"Kalian masih komunikasi?"
"Masih, Robi sama Zidni yang sebetulnya paling deket sama tempat kita. Ya sekitar 2 jam lah. Cuma saya belum mampir"

"Ya kamu harus samperin"

"Tadinya, cuma saya takut mereka udah keburu ke rantauan lagi. Terakhir kontekan waktu mereka lagi mudik sebelum lebaran 2 minggu lalu"
BRAKK, BRAKK, BRAKK. Perbincangan keduanya dikejutkan oleh sesuatu yang mendobrak pintu bawah, sebegitu kerasnya hingga dari ketinggian 50 meterpun mereka mendengar.

Amir dan Babeh segera mengecek ke sisi luar menara pantau, mereka melihat hal sama di bawah; keluarga Babeh.
"Beh, itu si Mamah, Romi sama Ria. Ayo kita jemput" ujar Amir yang melihat keluarga Babeh di pintu bawah sedang menggedor dan melambaikan tangan ke arah mereka.

"Jangan turun Mas!"

"Loh gimana?"

"Masalahnya, keluarga saya daritadi udah tidur di kamar!"

- BERSAMBUNG -
Belum sempat Babeh menjawab, keduanya geger saat melihat dengan jelas keluarga Babeh memanjat dinding mercusuar bak manusia laba-laba.

Dua penjaga itu hanya terdiam sambil melotot menyaksikan fenomena paling fenomenal di menara suar selama beberapa saat.
Hingga akhirnya, petaka itu muncul.

"Halo Om!" sapa Romi sembari tersenyum dan menempel di balik kaca menara pantau.

Badan Amir langsung jatuh ke belakang, mulutnya menganga, keringatnya mulai terjun deras.
"Bapaak, bukain pintu bawahnya Pak! Aa sama si Ade, si Mamah pengen masuk" kembali Romi memanggil.

Mulut Babeh terlihat berkomat-kamit dan selepasnya, ia menatap anak kandungnya sendiri dengan tangan yang dihentakan ke kaca.
Romi kemudian terpental ke bawah dan hilang dari pandangan.

Babeh langsung membangunkan Amir dan berkata, "Mas, sadar! lawan rasa takut kamu!"

Amir masih panik, sehingga ia tak merespon.
"Mas, Babeh terpaksa ninggalin kamu di sini. Babeh harus ke bawah buat cek keluarga. Pokoknya, jangan sampe kamu dikuasai mereka !" Ujar Babeh yang langsung menuruni tangga besi.
"Tapi Beh, saya harus gimana?!" teriak Amir.

"Panggil Tuhanmu!" ujar Babeh.

Amir diam lalu ia segera membalik badan ke arah kaca untuk memastikan apa yang ia lihat. Tetapi, kejutan sesungguhnya baru dimulai.
Romi, Ria dan Mamah kembali muncul dari balik kaca lengkap dengan senyuman yang dituju ke arah Amir.

Amir yang kaget kembali memundurkan langkahnya. Ia ingin turun menyusul Babeh, tapi hatinya menolak untuk meninggalkan ruangan ini.
"Mas Amir, sini, Mamah mau ngomong" ujar istri Babeh itu.

"Kalian tidak nyata!" bentak Amir.
"Kamu Amir Syariati, nama istrimu Laila. Kamu berasal dari Barat. 2 hari lagi kamu akan berulang tahun yang ke 29. Bener ga tebakan Mamah?" ujar sosok itu yang masih tersenyum.
"Om Amir pasti belum solat isya ya" tambah Ria.

Amir makin kaget, bagaimana mungkin mereka bisa tahu informasi pribadinya sedetail itu. Telinganya mulai mendengung, pandangannya perlahan menjadi kabur.
Sementara itu sosok Romi terlihat memukul-mukul kaca dengan keras sehingga terdengar suara retakannya.
Sejurus kemudian Amir duduk sila dan memejamkan mata, lalu dalam hati berkata, "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berserah diri Kepada-Mu atas segala nasib dan takdir yang kelak akan menimpaku ....
.... Mudahkan aku dalam menjalankan pekerjaanku, sebagai penjaga mercusuar ini, termasuk dalam menghadapi segala niat buruk dari ciptaan-Mu. Tunjukan Kekuasaan-Mu, Allahu Akbar!"
Amir membuka mata dan mengarahkan telunjuknya ke arah tiga makhluk jadi-jadian itu.

"Kalian bertiga punya dua pilihan, pergi dari hadapanku atau kubakar kalian!" ujar Amir dengan tenang.
"Hahaha dasar manusia, gertakanmu tak punya pengaruh. Bacakan saja ayat-ayat pengusir itu, biar aku yang mengoreksi!" ucap Mamah yang suaranya mulai berubah berat menjadi suara lelaki.
"Robbi a’uudzubika min hamazaatisy-syayaathiin wa a’udzubika robbi ayyahdhuruun" ucap Amir dengan lembut.
Benarlah ancaman Amir, ketiga sosok itu seketika benar-benar terbakar dan meringis kesakitan sebelum akhirnya terjatuh dan hilang dari pandangan Amir.

- BERSAMBUNG -
sudah cukup hiatusnya. Bagian 2 akan kembali minggu besok! terima kasih telah menunggu 💫
-- BAGIAN 2 --

Suasana berubah hening, Amir hendak turun mengejar Babeh yang belum kembali. Ia bertaruh besar, andai kata keadaan di bawah lebih buruk.

Taruhannya batal, Babeh kini ada di hadapannya. Amir penasaran betul dengan apa yang terjadi di bawah.
"Gimana Beh?!"

"Keluarga saya aman Mas, mereka semua lagi tidur. Kamu gimana?"

"Serius Beh?"

"Iya, kamu mau liat mereka?"
"Ya Beh, sekalian saya mau ke kemar mandi. Hantu yang tadi juga tiba-tiba ilang sendiri Beh, padahal saya cuma merem aja."

"Alhamdulillah kalo gitu, maaf ya tadi Babeh malah ninggalin kamu. Babeh panik banget Mas takut mereka kenapa-napa"
"Gapapa Beh, yang penting kita semua aman sekarang"

Amir segera turun, hingga sampai ke ruangan keluarga Babeh yang pintunya masih terbuka. Kini ucapan Babeh terkonfirmasi, keluarganya tertidur pulas.
Ia melanjutkan niatnya menuju kamar mandi untuk berwudhu, agenda wajib yang ternyata tak dilakukannya. Padahal Gurunya berpesan untuk selalu menjaga kesucian saat sedang bekerja.
Selepasnya, tak ada kejadian janggal apapun hingga tibalah hari keempat Amir bertugas, yang juga jadi hari ulang tahunnya.
Tapi bukannya menjadi spesial, hari ini terasa reguler bagi dirinya. Sudah bertahun lamanya Amir tak pernah dirayakan.

Bahkan saat masih memiliki istri, Amir selalu berulang tahun di menara Suar. Seolah waktu enggan memberi restu.
Terakhir kali perayaan itu terjadi saat ia masih dididik oleh Sang Guru bersama kawan seperguruannya, lebih kurang delapan tahun silam.

Maka, menjelang matahari terbenam ia naik menuju puncak suar. Amir memang tak pernah memberi tahu perihal hari mulianya kepada siapapun.
Ia tak menjumpa Babeh di atas, hanya sendiri sambil memandang lembayung yang sebentar lagi berpamitan. Ia terdiam, sambil memegang handphonenya. Berharap ada panggilan masuk dari kawan ataupun Gurunya.
Ia tak berani menghubungi lebih dulu, bahkan sudah 2 tahun Amir memutus komunikasi dengan mereka. Oleh karena kemarahannya pada Guru dan kawan-kawannya yang tak merestui pernikahannya dulu.
Guru dan kawan-kawannya sempat mewanti, untuk tidak meminang gadis yang pada akhirnya mengkhianati.

Karena Gurunya sudah tau sebelumnya, bahwa mantan istrinya itu bukan jenis perempuan baik-baik.
Tapi Amir lupa diri, ia malah memaki habis mereka. Amir merasa kebahagiaannya hendak dirusak oleh orang terdekatnya sendiri.

Sungguh jika saja dulu ia mau mendengarkan, tak akan begini nasibnya.
Adapun panggilan dari kedua orang tuanya juga tak kunjung berdering. Terlintas di benaknya ia akan hubungi mereka duluan malam nanti.
Kemudian Amir putuskan membuka buku. Kali ini ia membaca karangan William Shakespeare berjudul "Hamlet", salah satu karya terbaik yang ditulis di antara tahun 1599-1601.
Amir tak pernah bosan membacanya meski ini adalah yang ke 11 kalinya.

Sebetulnya ia masih punya karangan Shakespeare lain di tasnya, yakni "Macbeth" dan "The Taming of the Shrew".
Namun Amir lebih senang membaca Hamlet yang penuh dengan petuah-petuah yang dirasa sesuai dengan pemikirannya.

Seperti pada bagian salah satu karakter di cerita itu, Polonius yang sedang menasehati Laertes saat hendak bertolak menuju Perancis.
Kurang lebih begini, "jangan pernah mengatakan apa yang kau pikirkan, jangan bertindak tanpa berpikir. Jadilah orang ramah, tapi jangan berlebihan. Jangan hamburkan uangmu. Terimalah kritik dari orang dan gunakan untuk mawas diri."
Demikian salah satu kutipan pada halaman 32 dari buku itu, salah satu halaman yang kadang ia resapi begitu dalam maksudnya.
Entah mengapa, ia kadang merasa apa yang dikatakan pada buku fiksi itu sesuai dengan nasehat Sang Guru. Ia juga menjadikan Hamlet sebagai bacaan favorit, sebab kisah balas dendam jadi inti dari buku itu.
Ia mendapati pelajaran bahwa membalaskan dendam adalah kesia-sian yang sama sekali tidak berguna, yang belakangan dipraktekan pada kasus perselingkuhan mantan istrinya.
Baginya, balas dendam adalah kejahatan yang mesti dilawan. Mengikutinya hanya akan memberi makan hawa nafsu, dan meninggalkannya adalah awal dari kebijaksanaan.
Fokusnya menjadi hilang saat Babeh datang, ia segera menutup buku dan melanjutkannya dengan perbincangan dengan rekan suarnya itu.

"Udah mandi Mas?" buka Babeh.

"Belum Beh, niatnya nanti magrib biar sekalian solat" jawabnya.
"Mending sekarang gih, kamu kan kalo mandi lama Mas" titah Babeh.

Amir cuma nyengir lalu menuruti perkataan Babeh untuk segera mandi. Sesampainya di depan kamar keluarga Babeh kali ini ia berjumpa pemandangan berbeda.
"Mau mandi ya Mas?" tanya Mamah dengan senyum ramah.

Amir sempat tertegun, untuk pertama kalinya si Mamah mengajaknya bicara.

Kemudian Amir yang tak kalah ramah menjawab, "Hehe iya nih Mah udah mau magrib soalnya"
"Tolong sekalian suruh si Romi buat cepetan mandinya ya Mas, anak satu itu kebiasaan kalo mandi suka lama. Kadang suka sambil maen air"

"Oalah iya Mah, gapapa namanya juga anak kecil. Yaudah Mah, saya turun dulu ya" tandas Amir yang bergegas ke bawah.
Beberapa meter menuju kamar mandi di bawah ia berpapasan dengan Romi dan anak itu menyapa, "Eh ada Om, hehe Om Amir pasti belum mandi ya?"

"Hehe iya nih Romi, Om kesiangan"

"Kesorean kali Om" kata Romi yang mencoba mengajak bercanda.
"Ohiya, kamu ada benernya. Maklum Om kan kerjanya malem"

"Om nanti malem Romi boleh ikut ke atas ga Om? Romi mau liat pemandangan malem"
"Oh boleh banget Romi, tapi nanti kamu bilang dulu ya sama si Mamah"

Romi yang sedang mengelap handuk ke rambutnya hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian segera kembali ke atas.
Amir kini sudah sampai di depan pintu kamar mandi, kemudian saat hendak membuka, pintu keburu dibuka dari dalam muncul seseorang di hadapannya.

"Eh ada Om, hehe Om Amir pasti belum mandi ya?" sapa Romi.
DEG! Amir kaget bukan kepalang. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Bagaimana bisa ada Romi di dalam?!

"Hehe i..iya nih Romi, Om..Om kesiangan" ujar Amir yang kini mulai berkeringat.
"Kesorean kali Om"

"Oh..i..iya, kamu ada benernya. Maklum Om kan kerjanya malem"

"Om nanti malem Romi boleh ikut ke atas ga Om? Romi mau liat pemandangan malem"
"Oh.. b..bo..boleh banget Romi, t..tt..tapi nanti kamu bilang dulu ya sama si Mamah"

Romi yang sedang mengelap handuk ke rambutnya hanya mengangguk sambil tersenyum kemudian segera kembali ke atas.
Amir hanya terdiam lalu buru-buru masuk dan mengunci dari dalam. Ia langsung membasuhi mukanya, sambil menahan kakinya yang masih bergetar.

Kepalanya terasa pening, tapi itu hanya berlangsung sesaat. Amir enggan terbawa suasana. Ia memilih lanjut mandi.
Sementara itu Romi yang sedang berlari kecil menaiki tangga, seketika menghentikan langkahnya kala melihat pemandangan di depannya.

"Eh ada Romi. Udah mandinya? Dicariin sama si Mamah tuh" ujar Amir dengan senyum ramah.
Romi hanya diam, bagi bocah 10 tahun macam dia, Romi sangat bingung sekaligus ketakutan. Bagaimana bisa ia kembali berpapasan dengan Amir lagi.

"Hehe, i..i..iya Om Amir" jawab Romi sambil mengendalikan rasa takutnya.
Lalu Romi buru-buru berlari meninggalkan Amir yang masih berdiri tersenyum memperhatikannya.

Sesampainya di kamar Romi segera menceritakan kejadian itu kepada Ibunya. Tentu si Ibu tak percaya, ia memilih untuk keluar menemui suaminya.
Meninggalkan Romi yang masih ketakutan bersama adiknya, pikirnya hanya mengantarkan makanan untuk suami dan Amir tak butuh waktu lama.

Mamah berjalan ke atas sambil menjinjing rantang, tapi baru naik beberapa anak tangga ia kaget bukan main. Ya, di hadapannya kini ada Amir.
Hampir saja bawaan di tangannya jatuh, tapi Mamah masih sanggup menahan diri untuk tidak berteriak ketakutan.

"Eh Mamah, mau ke atas ya?" ujar Amir dengan senyuman dan handuk di lehernya.
"Hah..iy..iya Mas mau anter makan" kata Mamah sambil tertunduk.

"Sini saya bantu bawain Mah"

"Eng..engga..engga usah Mas, Mamah bisa. Permisi" kata Mamah yang tak sedikitpun menoleh ke arah Amir dan buru-buru naik ke atas.
Nafasnya tergopoh-gopoh saat sudah sampai. Mamah sangat ketakutan, yang dilihatnya sudah pasti bukan Amir sungguhan.

Ia ingat betul, beberapa menit sebelumnya dirinya memang menyapa Amir, melihat pemuda itu turun ke bawah menyampaikan pesan untuk anaknya yang masih di bawah.
Lalu ia menutup pintu dan mempersiapkan makanan ke dalam rantang. Lalu beberapa menit lagi, anaknya datang ke kamar sambil ketakutan.

Jelas sudah, yang dikatakan oleh anaknya dia alami sendiri. Mereka melihat ada Amir yang lain. Tapi Mamah tak menceritakannya kepada sang suami.
Ia lalu berlari kembali ke kamar untuk memastikan kondisi anaknya. Untungnya kedua anaknya masih ada di dalam. Ia segera mengunci pintu.
Sementara itu Amir masih khidmat di kamar mandi.

Benar saja penilaian Babeh, Amir memang selalu lama jika berada di kamar mandi. Setengah jam lebih Amir berada di situ. Rupanya setiap kali membersihkan tubuhnya, ia juga turut membersihkan kamar mandi.
Amir tak pernah memberi tahu kepada penghuni Suar bahwa dirinya selalu membersihkan kamar mandi, termasuk menggosok  setiap titik noda di dinding dan lantainya.

Memang Amir sangat jatuh cinta pada kebersihan. Bisa dibayangkan betapa higienisnya kamar mandi itu.
Amir selesai mandi saat azan selesai berkumandang, saat hendak membuka pintu, lagi-lagi pintunya seolah terkunci dari luar. Ia paksa namun upayanya nihil.

DAR! DAR! DAR! Kembali suara seseorang dari luar menggedor pintu itu. Amir yakin suara itu dapat terdengar sampai ke atas.
"Siapa?!" teriak Amir dari dalam.

"Pergi selagi kamu bisa. Ini tempat setan!" balas suara dari seseorang dari balik pintu itu dengan gertak.
Amir sadar betul suara itu tak ia kenali, suaranya ini lebih menggema dan berat. Satu hal yang ia tahu, sesosok di balik pintu ini adalah laki-laki.

"Buka sekarang!"
"Pergi selagi kamu bisa. Ini tempat setan!" kembali sosok itu mengulangi perkataannya.

"Buka pintunya sekarang. Saya mau pergi solat, jangan ganggu pertemuan saya dengan Tuhan!"
Terdengar dari dalam, suara itu menghilang namun kini muncul suara langkah kaki yang seolah berlari dengan cukup keras menuju ke atas. Pintu itu langsung Amir buka dan ia turut berlari mengejar.
Langkah Amir terhenti, kini ia jumpai pemandangan sial lain. Ya, Amir melihat dirinya sendiri!

Amir lain itu berdiri di hadapannya, tersenyum dengan handuk di lehernya. Lalu ucapan yang keluar dari mulut orang itulah yang membuatnya ketakutan.
"Eh ada Romi. Udah mandinya? Dicariin sama si Mamah tuh" ujar sosok penirunya itu dengan senyum ramah.

Mulut Amir kembali menganga, tapi belum sempat ia bicara, sosok di hadapannya itu berjalan menembus dirinya. Ya, menembus!
Amir merasakan betul sesosok itu berjalan menembus dirinya begitu saja lalu berjalan ke bawah.

Amir tersungkur, ia tak pernah mengalami fenomena gila ini seumur hidupnya. Otaknya masih mengolah, ia sadar betul dirinya adalah manusia yang seutuhnya.
Amir mencoba menenangkan diri, untuk tidak panik. Hingga sampai pada kesimpulan, bahwa sesosok yang berjalan menembus dirinya tadi adalah hantu!

Tapi ia juga berpikir, jika sesosok itu menyapanya dengan sebutan Romi. Apa mungkin sosok itu adalah Amir yang asli?
Entah apa yang ada di pikirannya, hingga mencapai kesimpulan bahwa ia harus kembali ke bawah, ke kamar mandi, untuk membuktikan siapa sosok itu.

Ia berlari kembali ke bawah, tepat di depan pintu kamar mandi ia mencoba membuka pintu. Naas, pintunya dikunci dari dalam.
Dari luar pintu, ia mendengar ada seseorang yang sedang mandi. Entah itu dirinya yang asli ataupun bukan, ia gedor pintu itu dengan keras.

Sosok dari dalam kamar mandi itu berteriak, "Siapa?!"

Amir terhentak, tidak salah lagi, teriakan dari dalam itu adalah suaranya sendiri!
Kemudian Amir yang sadar bahwa ada Amir lain di dalam mencoba memperingatkan.

"Pergi selagi kamu bisa. Ini tempat setan!" teriak Amir.

"Buka sekarang!" kata sosok dari dalam kamar mandi itu.

"Pergi selagi kamu bisa. Ini tempat setan!" ujar Amir kembali berteriak.
"Buka pintunya sekarang. Saya mau pergi solat, jangan ganggu pertemuan saya dengan Tuhan!" kata sosok di dalam kamar mandi itu.

Pada momen inilah, Amir yakin, dirinya yang asli ada di dalam. Ia terdiam, pandangannya buram sebelum akhirnya ia terjatuh.

- BERSAMBUNG -
📢 📢 📢
Ke depannya, kisah Amir ini memiliki keterkaitan dengan cerita di bawah ini. Agar tidak membingungkan, monggo dibaca dulu:

📢 📢 📢
Senada dengan kisah Amir di "Penjaga Mercusuar" dan kisah "Persinggahan Mudik", kedua cerita itu juga punya keterkaitan dengan kisah di bawah ini. Sambil menunggu bersambungnya Amir, monggo dibaca dulu:

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with nana ariadi

nana ariadi Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @nanaariadi

Sep 23, 2023
- PENJAGA MERCUSUAR (BAGIAN 3) -

Tempat ini rupanya pemukiman setan, dari kalangan Jin dan Manusia.

⚠️ Bagian ini memuat unsur kekerasan ⚠️

Izin tag:
@IDN_Horor @bacahorror @bacahorror_id @menghorror @P_C_HORROR @ceritaht @C_P_Mistis #bacahorror #threadhoror Image
"Maksudnya?" cecar Ibu.

"Orang-orangnya pada gak sabaran, curigaan, ngomongnya pada ketinggian, padahal sebagian dari mereka itu tadinya orang-orang yang dateng dari kampung"

"Itumah ga di Ibukota juga ada kali Mas"
"Iya, tapi seberapa banyak sih Bu yang rusak kayak gitu? Lebih banyak yang benernya kan?"

Amir kemudian kembali berujar, "Lagian, kalo semua pemuda macem saya ke Ibukota, siapa yang mau majuin desa Bu? yang mau hidup sama orang-orang kayak kita, ngebantu ngebangun desa sendiri"
Read 100 tweets
May 4, 2023
- PETUGAS LOKET BIOSKOP -

"Sungguh, apa yang kau tonton adalah cerminan dirimu"

Sekumpulan kejadian aneh di Bioskop.

Izin tag:
@IDN_Horor @bacahorror @bacahorror_id @menghorror @P_C_HORROR @ceritaht @C_P_Mistis #bacahorror #threadhoror Image
"Setiap perkataan yang menjatuhkan, tak lagi ku dengar dengan jelas. Juga tutur kata yang mencela, tak lagi ku cerna dalam jiwa ...." terdengar Supri ikut menyanyikan lagu yang diputar dalam Walkmannya.
Potongan lirik dari lagu milik grup band PADI itu langsung disukai Supri sejak pertama kali muncul tahun 2007.

Ia memang tak pernah jauh dari pemutar musiknya, bahkan saat bersiap-siap mencari nafkah dari potongan tiket di Bioskop "Memoar".
Read 134 tweets
Apr 27, 2023
- PERSINGGAHAN MUDIK -

Sebuah Cerpen Horror.

Izin tag:
@IDN_Horor @bacahorror @bacahorror_id @menghorror @P_C_HORROR @ceritaht #bacahorror Image
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, alkisah dua pemuda rantauan Ibukota yang tak pernah sekalipun absen untuk mudik setiap tahunnya.
Maklum, selain karena satu kampung, Robi dan Zidni adalah teman satu kost di pinggiran Jakarta.
Read 55 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(