Kita akan melanjutkan cerita yang sempat dibaca mas wekas.
"Mari kita berdarma wisata di kawasan pencabut nyawa" ucap mas wekas menakut-nakuti
***
Saya memberanikan diri, meski terasa gentar dalam hati. sore itu saya membulatkan ke rumahnya, menngikuti arahan alamat yang pernah dia diberikan wening, walaupun saya belum pernah ke sana.
Persetan dengan rasa takut! saya akan tetap kesana karena wening dalam bahaya. Dengan bantuan motor lama, aku menyusuri setiap jengkal daerah patahan. Gapura yang nampak lusuh adalah awal mula aku masuk ke daerah yang katanya terkutuk itu.
Saya sedikit menggigit jari, daerah ini sangatlah sepi. Bahkan satu Batang hidung pun tak kulihat sedikitpun.
Kenapa dengan daerah ini, seperti kawasan mati saja, pikirku.
Masih, aku masih mencari dimana alamat rumah wening berada. Sampai, disebuah persimpangan...
Tak sengaja saya bertemu dengan seorang ibu sedang berjalan sendirian, saya mencoba bertanya.
"Buk, tahu alamat ini?" tanyaku sambil menyodorkan sebuah sobekan kertas kecil
"Ohh, alamat ini. Deket nak, mau saya antarkan?" ucap tawaran ibu ini.
Sempat ingin menolak, karena sedikit bergidik ketika mendengar suara ibu ini. Suara ibu ini seperti suara orang sakit, terkadang sesekali ada nafas tersengal yang ia keluarkan membuatku sedikit ketakutan.
Tapi, aku tak punya pilihan. Keselamatan wening kini sedang dipertaruhkan.
Tanpa basa-basi lagi, ibu itu aku pinta untuk membonceng di jok belakang. Dan, dengan arahan ibu itu kulakukan motorku seperti apa yang ibu ini katakan.
Lagi-lagi aku dibuat ngeri, daerah patahan aku bisa membenarkan, bahwa daerah ini saya mencekam dan menakutkan. Ditandai dengan beberapa beberapa rumah yang sudah ditinggalkan dan beberapa pohon yang mati dan menghitam
"Itu nak rumahnya" ucap si ibu sambil menunjuk bangunan rumah yang cukup megah tapi terlihat sedikit tua.
"Benar bu, ini rumahnya?"
Tanyaku sedikit kurang percaya.
Dengan nafas tersengal lagi ibu itu menjawab;
"Iya nak, ini rumahnya nak wening. Coba lihat noner rumahnya"
Aku melihat kertas sobekan dan nomer rumah itu. Dan, benar. Ibu ini sama sekali tidak berbohong.
"Saya turun sini aja nak, rumah saya cuma dekat persimpangan itu"
Ucap si ibu
"Hehe, iya bu. Maaf merepotkan"
Ucapku sedikit malu karena meragukan si ibu ini.
Tapi, sebelum si ibu pergi. Ia sempat berkata lirih tapi masih bisa sedikit kudengar.
"Hati-hati nak dengan rumah ini, karena yang diundang, belum tentu bisa kembali"
Ucap si ibu dan berlalu pergi...
Kutuntun motorku menuju gerbang besar rumah itu, rumah sedikit klasik dengan beberapa tanaman menjalar dan juga beberapa lumut yang seolah sudah nyaman hiduo dibangunan itu.
Saya mencari letak bell rumah, karena tak mungkin rumah sebesar ini tanpa bell rumah. Tapi, lama saya cari tak ketemu.
Sampai saya pegang gerbang besar itu, ehh kok nggak dikunci. Pikirku kebingungan. Dengan berhati-hati aku masuk menyelinap ke dalam rumah itu.
Ki lirik kanan dan kiri pun tak ada seorangpun yang berjaga. Aneh, rumah sebesar ini juga tak ada penjaganya.
Saya berjalan perlahan menuju pintu besar di depan rumah.
Tokk!!! Tokk!!!
Saya ketuk pintu dengan hati-hati, tapi saya heran. Tak ada sama sekali jawaban
Berkali-kali saya ketuk pintu masih tak aja jawaban. Bahkan, saya mencoba mengetuk pintu dengan sedikit gedoran
Dorrrr!!! Doooorr!!!
Ketukan keras aku lakukan, masih tak ada jawaban.
"Apa nggak ada orang ya?" tanyaku dalam benakku.
Aku sedikit putus harapan karena tak ada jawaban di rumah itu, aku berniat ingin pulang. Tapi...
Saya coba ketuk lagi, astaga sedikit terkejut...
Ceklek!!!
Pintu tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, ditandai dengan suara khas pintu terbuka.
"Cari apa mas?"
Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam rumah dan bertanya padaku. Wajahnya mirip sekali dengam wening. Aku bisa menebak ini kakak kembarnya.
"Aa.. Anu mas, saya cari wening"
Jawabku sedikit terbata-bata.
Pria ini sedikit mengamatiku, seakan dari ujung jari hingga ujung kepala mencoba ia baca.
"Wening, ada di dalam. Kenalkan nama saya wenang, kakak wening"
Ucapnya padaku. Dan, benar tebakanku.
Dipersilahkannya aku masuk, dan ketika masuk aku dibuat menganga dengan banyaknya hal yang aku lihat. Banyak barang antik dan klasik berjajar rapi disetiap sudut rumah itu. Mengisi dan memberi kesah indah serta mewah rumah ini.
Aku yang masih kagum dengan rumah ini, tapi seolah wenang mengacuhkanku begitu saja. Ku beranikan bertanya;
"Kita mau kemana mas?"
Tanyaku, tapi wenang hanya diam membisu.
Sampai ketika kami sampai di depan pintu sebuah ruangan ia baru berbicara.
"Tunggu sebentar di dalam mas, saya akan segera panggilan wening"
Ucap wenang dengan tatapan serius dan seolah menyimpan niat sesuatu. Ahh.. Aku hanya menerka, semoga pikiranku ini salah
Aku dipersilakan masuk, tapi ketika masuk...
Ceklek!!!
Pintu tiba-tiba tertutup dan aku dikunci didalamnya.
Sial! Aku sepertinya dijebak!
Gerutuku sedikit kesal dan marah
Ahhh... Tapi sebentar. Bau amis apa ini?
Dan ketika aku berjalan dan memastikan sesuatu. Aku dikejutkan dengan banyak tumpukan baju yang semuanya sudah berlumuran darah. Ada beberapa diantaranya darah yang masih terlihat baru.
Sial! Ruangan apa ini!? Ya, Tuhan aku sedikit ketakutan. Bahkan tanganku gemetar dan sendi-sendiku rasanya mau lepas dari tempatnya karena merinding melihat hal ini.
Ehh... Sebentar...
"Nang, Ning, Ning, Nang, Ning, eu..."
Terdengar suara seseorang bernyanyi, aku penasaran mencoba memastikannya. Dan, benar saja. Aku melihat seorang manusia yang sedang dipasung di sudut ruangan. Ia menyanyikan lagu itu dengan nada yang seolah seperti orang frustasi, gila!!!
Tapi ini bukan kegilaan utamanya, karena aku baru sadar ketika melangkah lebih jauh. Banyak sekali "ingon" atau demit peliharaan yang berada dalam ruangan ini.
Apakah ini penjara demit ingonan/peliharaan?
Semakin aku berjalan masuk ke dalam, ketakutanku kian menjadi. Tapi, aku gigit bibir bawahku sampai berdarah. Agar apa? Agar ketakutanku sedikit mereda. Karena semakin masuk rupa demit-demit di dalam penjara ini semakin tidak bisa jelaskan dengan akal maupun pikiran
Semua benar-benar tidak nalar!
Jika ini neraka tidak mungkin, karena aku masih sadar aku masih di dunia. Tapi, jika ini masih di dunia. Siapa yang menciptakan neraka seperti ini?
Aku tetap melangkahkan kaki, meski aku harus sesekali menghalau mataku agar tak melihat wujud mengerikan itu. Sampai...
Aku melihat sedikit cahaya yang ada di ujung lorong seberang....
Tapi semakin saya mendekati pintu di seberang. Demit ingon disini semakin menggila
Lalu terdengar suara nyanyian...
"Nang, Ning, Ning, Nang, Ning, eu..."
Dan ketika suara nyanyian itu terdengar, aneh! demit-demit ingon disini bisa tenang dan tak menggila lagi. Aku baru sadar, setelah beberapa saat, ternyata nyanyian ini adalah cara untuk membuat demit ingon disini tidak menggila. Lalu...
Aku mencoba ikut bernyanyi seperti nyanyian yang kudengar.
"Nang, Ning, Ning, Nang, Ning, eu..."
Meski tidak terlalu lancar, tapi ini bekerja! Yang awalnya saya tidak menyanyi dan saya sempat diserang. Tapi, setelah bernyanyi saya dibiarkan lolos begitu saja. Aneh!!!
Dengan susah payah, akhirnya saya bisa keluar. Tapi, ketika saya keluar saya berada di ruangan yang sepertinya ini adalah ruang makan. Disana saya melihat seorang wanita, siapa wanita itu!? Kembali tanya muncul dalam benak kepala.
Hah sebentar!!!
Bu.. Buu.. Bukankah itu ibu yang menunjukkan arah rumah ini tadi?
Ini cerita yang menurut saya tidak terlalu seram bagi saya tapi mungkin akan terasa ngeri bagi orang awam. Meski terkadang kalau ingat suka merinding juga, hla wong saya juga manusia jadi ada rasa takut juga.
Disclaimer!
Percaya atau tidak itu saya kembalikan kepada para pembaca, semua yang tertulis di utas ini jika tak percaya anggap saja hanya hiburan semata.
Kalau masih ngeyel, minggato su!
Beberapa hari lalu, saya sempat ngobrol ngalor-ngidul dengan rekan kerja, namanya mas wekas, rekan kerjaan lama saya. Ya, kerjaan saya dulu dalam bidang jurnalisme. Tapi, mas wekas tidak sendiri. Ia bersama Gilang, kalau masih ingat cerita "kanthil" harusnya tahu.
Tanyaku pada hamam, tapi hamam tak menjawab, ia hanya tersenyum. Aku sedikit bingung, kenapa hamam tiba-tiba tersenyum..
Sampai…
Hamam tiba-tiba berucap lirih...
“foto ini adalah alasanku untuk tetap hidup di neraka dunia, sampai saat ini, hehehe”
Jawabnya singkat dengan tawa kecil namun terpaksa, ada pula sedikit tetesan air mata dari celah rongga mata itu ketika melihat foto yang terselip di dompetnya.
SOSOK KETIGA YANG MENGISI MASA KECILKU DI NERAKA DUNIA INI
(Akar mula sang pemuja pohon belimbing)
"Sebenarnya apa yang hamam inginkan bertemu dengan saya, apa mungkin hamam ada niatan mau menumbalkan saya ke penunggu pohon belimbing? Ahhh pusing, coba nanti kita bertanya pada pohon belimbing"
Nah, saya masih simpan rekaman audio tentang cerita ini. Kebetulan beliau adalah orang arab dan sedikit paham dengan fenomena ini. Dan, beliaulah yang memberitahu saya arti dari bahasa timur-tengah ini. Karena saya pikir ini doa2 tapi tenyata...
Ahh sudahlah...
Btw, saya nggak ada niatan ini rame. Cuma saya berharap bisa memetik sedikit akan baik dan buruknya. Kalau ada yang punya argumen ini gimmick untuk buku atau film, sini tak keplaki ndasmu jam2an cok!
Maaf kalau judulnya sedikit gokil, tapi memang ceritanya tak kalah gokil seramnya.
Yang ketawa dengan judulnya, mending skip aja, daripada ketikan saya tidak bermanfaat untuk kamu 🙏
Ini mungkin cerita teraneh yang pernah saya saksikan sendiri. Bahkan terkesan saya masih tidak percaya kalau kawan saya bisa menyekutukan Tuhan yang kita percaya sedari bayi ceprot.
Semoga tidak ada yang seperti kawan saya, naudzubillah