RJL 5 - FAJAR ADITYA Profile picture
Horor Sosial Sejarah Youtube : 4,26 Juta Subs Tiktok : 2,4 Juta Followers -- IG Fajar Aditya : @donfajaraditya -- Link Youtube: 👇

Sep 16, 2021, 61 tweets

Gimana perasaan kalian jika kehilangan 2 orang sahabat sekaligus? Sudah sedih makin sedih, bahkan mungkin kalian akan menganggap takdir begitu kejam. Kenapa yang namanya kehilangan harus di jadwalkan?

Kehilangan memang bukanlah hal yang diharapkan semua orang
Namun jika itu adalah jalan yang sudah ditetapkan, siap gak siap kita harus mengiklaskan, seperti yang terjadi dalam cerita kali ini

Kisah ini datang dari seseorang yang melakukan pendakian di gunung slamet yang mana saat itu kondisi pegunungan jauh berbeda dengan yang sekarang, seperti apa kisahnya?
Cekiiddoot, jangan lupa Rt ya

5 januari 1985

kenalin namaku alex, aku memiliki dua orang sahabat dekat namanya Iqbal dan Gagah, waktu itu kami masih menjadi mahasiswa di IKIP Semarang. Kami sering ngumpul bareng, ngopi bareng, hang out bareng untuk sekedar mencari pelarian dari hiruk piruk duniawi

Suatu hari aku memiliki keinginan untuk mendaki di salah satu gunung fenomenal di jawa, yaitu gunung slamet, rasanya meskipun sudah sering kesana tetap saja aku merindukan pelukannya

Waktu itu aku mengajak mereka untuk refresing dan pada akhirnya kami memutuskan untuk mendaki ke gunung slamet, kami langsung menyiapkan apa saja keperluan yang dibutuhkan selama proses pendakian

Di hari yang sudah ditentukan, kami bersiap untuk berangkat, bekal sudah disiapkan, semua kperluan telah tertata rapi. Kami berangkat dengan berjalan kaki sampai di desa blambangan, kurang lebih jaraknya sekitar 5km, dgn bentuk jalan yang masih berupa makadam

Kami mengisi perjalanan dengan kehangantan canda tawa, karena sudah terbiasa melewati jalur ini jadi kami berjalan santai
Sore itu suasana grimis, hujan menemani lngkah kami, krn kondisinya sdh sprti ini maka jalan diperlambat hingga kami tiba di blambangan sore menjelang magrib

Bisa dibilang aku dan dua orang sahabatku ini termasuk pendaki liar, karena pada saat itu menjadi pendaki adalah hal yang dianggap ekstrem, saat itu perizinan juga lumayan sulit, salah satunya harus melalui kantor sospol, kantor yang dibentuk oleh bapak Suharto

Kantor ini mengurusi berbagai majam perizinan yang dianggap tidak biasa, dan menurutku periznan disini sangat ribet hingga akhirnya aku malas mengurusnyanKarena kesulitan perizinan itu akhirnya kami memilih menjadi pendaki liar

Waktu itu kami sempet bertemu beberapa pendaki dari UPL, unit pandu lingkungan yang juga sedang menuju ke Slamet. Kami berjalan terus menyusuri hutan, Sesampainya di pos blambangan kami istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga serta menunggu hujan reda,

Suasana sore itu cukup mencekam karena minimnya pencahayaan ditambah mendung yang tak kunjung hilang, kami beristirahat sembari ngobrol santai
Aku: Bal, lu naik kesini udah berapa kali?
Iqbal: 8 keknya, lu berapa emang lex?
Aku: gw 12 nih, sekarang otw lebih
Gagah: Lah gw baru 4x

Aku dan iqbal tertawa lepas mendengar sahutan dari Gagah, suasana yang tadinya dingin berubah semakin hangat karena kami yang sering bercanda

Setelah beberapa jam akhirnya kami memutuskan untuk lanjut, kebetulan hujan sudah mereda hanya tersisa gerimis kecil.

Kami berangkat lagi sehabis isyak, Pada masa itu pos pertama adalah pos samarantu, yang sekarang sudah jadi pos 4. Perjalanan kesana memakan waktu yang cukup panjang, kami menyusup ditengah rimbunnya hutan dan dinginnya malam.

Untuk sampai kesana kami harus melewati terowongan semak belukar yang terbentuk dari beberapa tanaman yg cukup Panjang.
Waktu kami sampai disana, gerimis sudah berhenti, bulan purnama bersinar dengan terangnya,

Iqbal: wah udah sampe sini aja gerimisnya ilang, kenapa ga dari tadi aja sih
Aku: huss diem gausah berisik
Setelah beberapa menit istirahat kami langsung menerobos terowongan itu, kami tidak tau ada apa saja di dalam terowongan ini karena kondisinya yang sangat gelap.

Posisi kami waktu itu aku berada di paling depan, gagah no 2 dan iqbal paling blkng, Setelah agak lama berada di terowongan itu aku melihat ada dua bangunan lantai 2 yang atapnya terbuat dari seng,
Aku: iqbal, gagah ayo cepet
Iqbal: iya bentar si gagah masih lemes
Aku: ayo cepet

Aku menunggu mereka berdua yang tak kunjung keluar, tapi aku paham karena kondisi gagah kembali menurun, hanya bisa mendengar keluh kesahnya dari luar terowongan
Gagah: Aduh ini kapan sampainya bal?
Iabal: bentar lagi sampe, lu tenang aja

Aku sebenarnya merasa tak tega, tapi karena sudah terlanjur sampai diluar aku akhirnya menunggu mereka disini sembari menatap bangunan berlantai dua itu. Aku penasaran dengan bangunan baru yang ada, kupikir ini adalah pos samarantu namun anehnya tidak ada pintu yang aku temui,

aku berjlan semakin dekat kearah bangunan itu, sekitar Jarak 5m aku ingin memastikan ini bangunan apa, jadi aku nyalakan senter dan betapa terkejutnya aku waktu bangunan itu tiba-tiba menghilang
Aku terpaku, terkejut tak percaya dengan apa yang kulihat barusan

Keterkejutanku hilang saat mendengar suara iqbal yang ternyata udah sampai disampingku
Iqbal: lah mana posnya?
aku: sumpah ya tadi ini ada disini
Gagah: halu kali lu
Aku: enggak, serius tadi ada

Hal yang tak ku percaya kenapa bisa bangunan itu hilang saat aku menyalakan senter, wah memang ada yang tidak beres ini, aku mencoba meyakinkan mereka berdua namun nihil. Aku dan mereka terus berdebat, aku masih yakin dengan penglihatanku namun mereka berdua tetap tak percaya

Karena aku tak mau terus berdebat aku menghela napas, kami sama-sama lelah blum lagi kondisi gagah yang kurang enak badan, akhirnya kami istirahat sebentar di pos samarantu ini. Saat itu tidak ada hal aneh yang kami temui disini selain masalah bangunan dua lantai tadi

Kami beristirahat cukup lama, belum apa-apa lelah sudah menyerang tubuh kami meskipun kondisi gagah berangsur membaik tapi dirinya juga tidak bisa dipaksa jalan, akhirnya kmi duduk santai menikmati suasana dini hari di tengah gelapnya hutan

Jam 2 dini hari barulah kami melanjutkan perjalanan, kami juga berpapasan dengan anak upl yang juga mendaki, kami ngobrol sebentar sama mereka
Iqbal: bang, pos 1 msih jauh ya?
Anak UPL: udah deket kok

Ternyata kurang dari 100m kami sampai di pos samarantu, kami berjalan agak ngebut karena kami niatnya ingin mengejar sunrise di puncak, namun sayangnya saat sunrise kami masih sampai di pos vegetasi

Sebelum lanjut, kami solat subuh di pos vegetasi ini, setelahnya kami melanjutkan perjalanan, untuk menandai jalan ke puncak itu dari batu-batu di cat putih supaya tidak kesasar

Menurut informasi, seminggu sebelum kami mendaki ada pendaki yang meninggal di puncak karena hipotermia, dan ternyata memang benar ada yang meninggal di puncak itu, kami sendiri memutuskan untuk mendoakannya

Kami menikmati suasana puncak dengan semangat, berfoto ria sembari terus mengukir tawa, kami banyak bercanda satu sama lain
Aku: huu Puncak Slamet maann
Iqbal: Slamett, aku bersamamu

Gagah sendiri tak henti-hentinya mengabadikan momen ini karena dia baru 4x kesini, sementara aku dan iqbal sibuk menikmati suasana indah puncak slamet, hutan terlihat asri dari atas sini

Waktu itu kami hanya bertiga di puncak slamet, karena sudah puas di puncak kami memutuskan untuk turun
Aku: ayo turun keburu kabut
Saat kami turun, benar saja kabut tebal menyelimuti pandangan kami, bahkan aku sampai menyalakan senter namun tetep saja pandangan kami tidak tembus

Ditengah gelapnya kabut dan kurangnya jarak pandang, aku terus mengingatkan mereka untuk meningkatkan kehati-hatiannya, karena tidak ada yang bisa menjamin keselamatan kami saat itu
Alex: lu berdua kudu ati-ati, apalagi elu bal, jangan smpe salah langkah
Gagah: gw aman

Namun belum ada lima menit aku bicara, terdengar teriakan dari iqbal yang membuat jantungku terpacu lebih kuat. Saat itu iqbal tiba-tiba terpeleset karena medan yang sangat licin, untuk menahan agar dirinya tidak jatuh iqbal menahannya dengan tangan

Hal yang tak kusangka adalah tangannya iqbal seperti terkena carter namun tidak berdarah
Aku: Bal, gimana keadaanmu?
Iqbal: gw aman, lanjut aja
Aku: Yakin Kuat lanjut? Ada yg cedera ga?
Iqbal: udah lanjut aja Lex

Kami menggigil ditengah gelapnya kabut karena jujur ini adalah kabut yang paling tebal yang ku temui selama pendakian. Jujur aku sendiri bingung seandainya berhenti siapa yang akan menolong kami di waktu itu, namun ketika lanjut resiko yang kami hadapi jauh lebih besar

Akhirnya Kami nekat lanjut berjalan hingga sampai di batas vegetasi namun bukan blambangan, mengetahui ini kami tentu terkejut, “terus ini dimana?” aku merasa jika kami terlalu ke kanan sementara iqbal merasa terlalu kekiri

Aku: kayaknya kita terlalu ke kanan dah
Iqbal: lah bukannya malah terlalu ke kiri ya
Aku: dibilangin ngeyel, udah sekarang kalian bedua mencar aja, bal lu kiri dan gagah lu ke kanan buat mastiin di area mana kami saat ini

saat itu Iqbal menyusuri bagian kiri dia terlihat kebingungan di tempat itu, 'woe Disini ga ada jalur', katanya membuat semngatku menghilang, belum lagi kabar yang sama juga terdengat dari Gagah

Kami terduduk lesu, tak tau harus melakukan apa hingga kami memutuskan untuk menerobos jalur, saat itu tak terbayang di benakku kalau hutan gunung slamet sangat rimbun, sementara peralatan kami sangat kurang tidak ada pisau, tidak ada api, dan tidak ada tali

Waktu pertama jalan aku terperosok jatuh ke lubang yang sangat dalam,
Aku: Aduhh tolooonng, iqbal, gagah tolong
Aku seperti mau pingsan, diengah rasa sakitku tiba-tiba Iqbal ikut melompat kearahku

saking kerasnya dia lompat kaca matanya sampai mengenai kepalaku hingga pecah bahkan pecahannya ada yang masuk ke dalam matanya dia
Aku: kenapa sih lu ikut terjun segala?
Iqbal: udah diem, gw gamau lu sakit sendirian
Alex: Bal, mata lu?
Iqbal: Gak apa-apa

Aku tersentak mendengar jawabannya yang begitu enteng, ini anak membuatku tak bisa menahan air mata.
Jujur jawaban iqbal membuatku tersentuh, aku tak menyangka dia sesetia ini sama temennya, setelahnya kita berdua minta tolong gagah yang masih diatas untuk mencari tali

Beberapa waktu kemudia Akhirnya kami bisa keluar dengan bantuan gagah yang mencari akar akaran untuk menarik kami, dan barulah kami memulai kembali menyusuri jalur asing ini

Akibat pecahnya kacamata iqbal, ini mempengaruhi perjalanan kami berikutnya karena aku dan iqbal bergantian untuk menjadi leader, waktu itu kami menyusuri jalan dan jujur aku kaget ketika melihat putung rokok padahal hutan ini belum pernah disentuh manusia

Aku: lah kok ada beginian,
Iqbal: sepertinya kita hanya memutari satu tempat yang sama sedari tadi lex,
Aku tak tau haru apa, karena memang yang dikatakan iqbal itu benar, aku, iqbal, dan gagah hanya bisa pasrah pada keadaan

Karena kondisi badan sudah capek, akhirnya kami membuat bivak dari tanaman dan langsung tidur disana, malam harinya aku keluar dari bivak untuk buang air kecil, diluar saya bisa melihat lampu-lampu kita

Saat itu aku berfikir untuk menyusuri sungai, namun inilah awal dari bencana yang kami hadapi. Keesokan paginya kami sepakat untuk menyusuri sungai, namun karena di gunung sungai tidak berair dan itu membuat keadaan disana sangat licin.

Aku: Ati-ati, jalannya sangat licin jangan sampe terpeleset. Aku masih menjadi pemandu jalan, namun aku kurang memperhatikan iqbal yang kesulitan melihat, saat itu aku hanya fokus mencari jalan yang sekiranya aman

Sementara itu iqbal tau-tau mau menyusulku, dia jalan dari belakang menuju ke sampingku tanpa memperhatikan jalan dan begitu melangkah dia kepleset
Iqbal: aaaaaaaa toolllooonggg…..

Aku terkejut mendengar teriakan iqbal, detak jantungku terpacu melihat dia jatuh ke sungai, bahkan aku beberapa saat tidak bisa bernapas seaakan detak jantungku berhenti

Aku melihat Iqbal jatuh ke sungai tubuhnya melekuk mengikuti alur sungai itu, dia seperti menari meleok-leok dan akhirnya tidak terlihat, hal itu membuat aku dan gagah sangat panik, gimana kondisi iqbal saat in?

Aku: iqbaalllllllll…iqbaallll
Gagah: Lex turun lex

Aku dan gagah turun mnyusuri pinggiran sungai, menelisik setiap sudut berharap menemukan iqbal, ternyata setelah menyusuri sungai kami menemukan iqbal dengan kondisi pingsan,
Aku: Bal, bangun bal,

aku membangunkan iqbal dengan rasa khawatir smentara gagah tak henti-hentinya mengecek denyut nadi iqbal
Gagah: Lex iqbal gimana, dia gimana?
Aku: Iqbal pasti kuat, pasti kuat
Aku dn gagah sama-sama menangis kami tidak tega melihat kondisinya yang seperti ini, kenapa harus iqbal?

Iqbal termasuk orang yang hebat dia menolong orang tanpa pikir panjang, dia rela mengorbankan diri untuk orang yang kesusahan, aku tak sanggup kehilangannya meski hanya membayangkan

Tak berselang lama tubuh iqbal bergerak, aku sangat bersyukur melihat hal ini, nyaris aku gila karena hampir kehilangan iqbal, tapi ternyata dia memang sosok yang kuat, sosok yang hebat, Iqbal dia tidak bergerak, Namun mulutnya berdesis,
Iqbal: Ssstt… aarrghh,

Terlihat kerutan di dahinya, wajahnya pucat, dia mengeram menahan sakit disekujur badannya, Saat itu iqbal merasa tubuhnya memang sangat sakit bahkan dia tidak bisa berdiri, melihat kondisi iqbal yang seperti ini kami sedih, bingung tidak tau lagi harus bagaimana

Kami terluka Melihat kondisi Iqbal yang seperti ini, hatiku teriris tiak tega melihatnya penuh kesakitan sementara di balik sakitnya Iqbal justru tertawa dengan tenang, menertawai kesedihan kami

Disitu kita tau satu hal, Iqbal sepertinya tidak akan bertahan lebih lama lagi….

Bersambung RT yang banyak ya

Selengkapnya saksikan di

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling