TUJU
(BAB 5: merekA)
@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht @ceritaserem @bacahorror_id @bacahorror
#bacahorror #ceritahorror
#threadhorror #horrortwt
Link Bab 4
Hari kedua....
Suara ketukan pintu rumah Pak Ujang di siang bolong membuat Ustad terbangun. Entah berapa lama lagi dia tertawan di sana, keputusannya untuk pergi sendiri dan tanpa persiapan adalah sebuah kesalahan.
"Ya Allah, selamatkanlah hamba, berilah petunjuk kepada Andi tentang keberadaan hamba," doanya dengan suara yang lemah.
Pak Ujang membukakan pintu, menyambut tamu yang tidak dia perkirakan sebelumnya.
"Ceroboh sekali kau! Kenapa siang-siang begini ke tempatku?" tanya Pak Ujang jengah dengan kehadiran tamu yang tak diundang itu.
Si tamu balik memasang wajah masam, dan dengan lantang berucap, "Jika tidak penting, aku tak akan ke sini! Aku mengerti konsekuensinya!"
Pak Ujang melihat jauh ke arah tamu itu berasal. "Tak ada yang melihatmu kemari bukan?"
"Tidak!"
"Kalau begitu cepatlah masuk!" perintah Pak Ujang.
Usai mempersilakan tamunya duduk, tanpa basa-basi dia pun bertanya, "Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?"
"Makhluk kirimanmu! Tak bisakah membuat dia tak menggangguku?"
Mata Pak Ujang melotot. "Hanya itu?"
Tamu tersebut tertawa. "'Hanya'?" tanyanya tak percaya jawaban dari Pak Ujang. "Kau kira rasanya enak saat dirasuki?"
Kali ini Pak Ujang yang tertawa terbahak-bahak. "Malah bagus seperti itu bukan? Seandainya kau tidak pernah diganggu sama sekali, nanti yang ada malah dia curiga!"
Lama si tamu terdiam, memikirkan omongan Pak Ujang yang ada benarnya juga.
"Apa hanya itu?" tanya Pak Ujang lagi.
"Aku sudah membayar mahal untuk pekerjaanmu ini, dan kuingatkan lagi, targetnya adalah wanita itu, bukan aku!" tegasnya.
Pak Ujang mengangguk. "Baik, akan kuingatkan lagi ke mereka agar tak mengganggumu."
Usai mendengar ucapan Pak Ujang, si tamu merasa lega dan segera meninggalkan rumah tersebut dengan hati-hati, tak ingin seorang pun melihatnya keluar dari rumah si dukun.
Tanpa mereka sadari, ada Pak Ustad yang mendengar percakapan mereka dari dalam.
"S-s-suara itu?" gumam si Ustad menyadari siapa tamu yang tak diundang itu.
***
"Bagaimana keadaan Ibu?" tanya Andi yang tengah berdiri dengan rasa khawatir di ambang pintu.
"Luka dilidahnya sudah diberi obat, beruntung Anda cepat menemukannya, jika tidak bakal lebih parah lagi," ucap wanita muda tersebut, perawat yang dikirim oleh puskesmas.
"Kenapa puskesmas menolak merawat Ibu di sana?" tanyanya lagi. "Apa mereka sudah lepas tangan dengan keadaan Ibu?"
Si perawat tidak tahu harus menjawab apa, karena alasan puskesmas menolaknya memang sama sekali tak masuk akal, ruangan penuh yang padahal masih banyak kosongnya.
"Sepertinya Anda sudah tahu alasan sebenarnya," ucapnya lembut sambil mengemasi peralatan medis yang dia gunakan, setelah memasang infus di tangan kiri Bu Sri.
"Karena hal mistis yang menimpa Ibu?"
Si perawat bangkit berdiri. "Begitulah."
Andi tertawa. "Bukankah kalian para orang terpelajar yang lebih mengutamakan berpikir rasional dibanding hal mistis?"
"Maaf, seharusnya memang begitu, tetapi mereka hidup di desa yang sudah sering terjadi hal-hal seperti ini, orang yang paling rasional pun akan berubah menjadi irasional dalam waktu singkat."
Andi menghela napas. "Kamu ada benarnya."
Si perawat menoleh ke arah Bu Sri. "Besok saya akan kembali lagi ke sini, tetapi setelah jam kerja. Saya akan rawat Bu Sri hingga lidahnya sembuh."
"T-t-tapi saya tidak punya uang banyak untuk membayarmu."
"Tidak masalah. Selama saya di sini, Bu Sri selalu baik dan memperlakukan saya seperti anaknya sendiri. Ini waktunya balas budi."
"Terima kasih," ucap Andi merasa malu karena sudah berkata hal tak sopan kepada orang yang ikhlas membantu ibunya.
Si perawat tersenyum.
"Ini nomor telepon saya, jika butuh bantuan mendesak hubungi saja." Dia memberikan nomor telepon yang dia catat di secarik kertas. "Saya pamit dulu," ucapnya lantas berlalu meninggalkan Andi.
"Terima kasih ... Dian," gumamnya membaca nama pemilik nomor di kertas.
Andi mendekat ke samping ibunya. "Andi harus bagaimana, Bu?"
***
Saat langit yang cerah berubah menjadi gelap, saat itu juga hati Andi menjadi tak menentu, gelisah akan sisa hari untuk menyelamatkan ibunya yang semakin menipis.
Memang kematian tidak bisa dihindari, tetapi jika masih bisa diusahakan, Andi akan berusaha sekeras mungkin, tak ingin menyesal seperti saat ayahnya tiada dulu, hanya karena kekurangan uang untuk berobat, mereka pasrah dan menyerah akan ayahnya.
"Assalamualaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...," jawab Andi.
Siapa yang datang menjelang Magrib begini? Pikirnya.
"Bu Arifin?" Andi terkejut ternyata yang datang istri Ustad Arifin. "Ada apa, Bu? Silakan masuk."
"Tidak usah, Nak Andi. Enggak enak sudah mau Magrib, Ibu cuma mau bertanya apakah Nak Andi melihat suami Ibu?" tanyanya.
"Pak Ustad? Sejak kapan beliau tak ada?" tanya Andi mulai curiga.
"S-sejak kemarin. Nak Andi tahu Bapak ke mana?"
"Sepertinya saya tahu. Ibu lebih baik pulang saja dulu, biar saya nanti yang antar Pak Ustad pulang," jawab Andi yakin.
"Baik, terima kasih, Nak Andi. Maaf merepotkan."
Saya yang sudah merepotkan suami ibu, jawab Andi dalam hati.
Hari sudah gelap gulita, malam kembali duduk di singgasananya, membuat Andi sedikit gentar untuk menyambangi rumah Pak Ujang sendirian.
"Maaf Andi, Bibi ada kesibukan sampai baru sempat datang sekarang," ucap Bi Nur yang baru datang setelah malam menjelang.
"Tak apa, Bi. Malah Andi yang harusnya minta maaf karena sudah merepotkan, tapi Bibi datang di waktu yang tepat!"
"Begitu?"
Andi mengangguk. "Andi mau pergi sebentar, tolong jagakan Ibu, ya, Bi," pintanya.
"Pergi? Ke mana?"
"Ke rumah Pak Ujang."
Mata Bi Nur melotot saat Andi menyebut nama dukun tersebut. "Mau ngapain? Bahaya kamu malam-malam ke sana sendirian!"
"Andi mau cari Pak Ustad, tadi istrinya ke sini mencari, sejak semalam Pak Ustad belum pulang."
Kening Bi Nur mengerut. "Kenapa mencarinya ke sana?"
Terlihat raut sesal di wajah Andi. "Kemarin Pak Ustad pamit mau ke rumah Pak Ujang atas usul Andi."
"U-usulmu?"
"Andi curiga Pak Ujang yang mengirim tuju ke Ibu," jawabnya. "Tolong jaga Ibu, Bi." Andi melangkah ke luar rumah.
"Tunggu!"
Andi berhenti dan menoleh ke arah bibinya.
"Jangan pergi sendiri! Ajaklah warga, bahaya jika kamu pergi seorang diri," ucap Bi Nur.
"Tapi ...."
"Biar Bibi yang mengumpulkan warga, kamu tunggu dulu di sini! Oke?"
Andi melihat kesungguhan dari tatapan bibinya itu, dan tak kuasa mengecewakan dengan menolaknya.
"Baiklah, Andi tunggu di sini, Bi."
Bi Nur tersenyum. "Bibi tak akan lama!"
Bergegas dia naik dan menyalakan motor matiknya kembali, lantas berlalu meninggalkan rumah Andi.
"Pak Ustad Arifin ada di rumah itu? Kenapa dia tak memberitahuku" gerutu Bi Nur. "Sialan Pak Ujang!"
Ya, dialah tamu tak diundang Pak Ujang, dan suara yang dikenali oleh Ustad Arifin. Orang yang meminta si dukun untuk mengirim tuju ke Bu Sri, ibunya Andi, kakaknya sendiri!
-Bersambung-
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
