TUJU
(BAB 9: pesaN)
Izin tag, ya! 😁
(Cerita ini masih draft awal, setelah tamat nanti akan direvisi)
@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht @ceritaserem @bacahorror_id @bacahorror_id @threadhoror
#bacahorror #ceritahorror
#threadhorror #horrortwt
Link Bab 8
"Andi ... Andi ... Andi ...."
Suara yang memanggil namanya mampu membangunkan tidur Andi dalam sekejap, dia bangkit dan berlari ke arah pintu depan, mendatangi sumber suara.
"Ustad?"
Dugaannya benar, suara yang memanggilnya adalah suara orang yang dia cari hingga membahayakan nyawanya.
Segera dia turun ke halaman, mendatangi Pak Ustad dan menyalaminya, tetapi ada hal aneh, tangan Pak Ustad dingin sekali.
"Ustad baik-baik saja? Ke mana saja selama ini?"
"Tolong Bapak, Andi ... di sini dingin," ucap Pak Ustad membuat Andi bingung.
"Ustad kedinginan? Pantas saja tangannya ... ayo kita masuk!" ajak Andi.
Pak Ustad menggeleng.
"Ustad kedinginan, kan? Ayo masuk dulu, saya buatkan kopi panas," tawar Andi.
Pak Ustad masih bergeming, walau terlihat jelas dia menggigil. Andi yang melihatnya masih tak memahami.
"Kenapa, Pak? Ayo kita masuk dulu, Bapak bisa sakit nanti!"
Lagi-lagi Pak Ustad mengabaikannya, membuat Andi putus asa.
"Baiklah, tunggu di sini! Saya akan ambilkan selimut untuk Bapak dulu," ucap Andi kemudian.
Belum sempat melangkah, Pak Ustad memegang tangan Andi, menahannya untuk pergi.
"Pak Ustad?"
Keheranan Andi semakin menjadi, ada yang tak beres pikirnya, tetapi dia tak tahu apa.
"Tolong Bapak, di sini dingin, gelap, dan ... dalam," ucap Pak Ustad.
Andi tambah bingung, karena apa yang disebutkan Pak Ustad, tidak sesuai dengan keadaan yang terlihat sekarang.
"A-a-apa maksudnya ... Pak Ustad?"
Pak Ustad jatuh berlutut di hadapan Andi, dan memuntahkan air dalam jumlah yang banyak.
Andi terbelalak melihatnya, keterkejutan membuatnya bingung harus berbuat apa, dan akhirnya hanya melihat hingga Pak Ustad jatuh tak sadarkan diri di tanah.
Setelah terdiam sekian detik, Andi berlutut, mengangkat tubuh Pak Ustad yang mau dibawanya ke dalam rumah, hingga ....
"Pak Andi ... Pak Andi ...," panggil suara lain.
Keningnya mengerut. "Dian? Di mana kamu?" Andi mencari ke sekeliling dan tak menemukan.
"Bangun Pak."
"Bangun?"
Ucapan Dian akhirnya membuat Andi tersadar, bahwa dia sekarang berada di alam mimpi.
Pak Ustad yang tengah dia angkat, perlahan menghilang bagai debu, bersamaan pemandangan yang mulai menghitam di sekitarnya.
Andi terkesiap, napasnya memburu. "Ternyata benar-benar mimpi," gumam Andi begitu membuka mata, dan mendapatkan di sampingnya sudah berdiri Dian.
Hari ketiga ....
"Jadi tujuan Anda ke rumah Pak Ujang malam tadi untuk mencari Pak Ustad Arifin juga?"
Andi mengangguk.
"Tapi Pak Ustad tidak ada?" tanya Dian lagi.
"Begitulah," jawabnya sendu.
Dian mendapati sebuah kesimpulan berdasarkan mimpi yang Andi ceritakan tadi, dan dari keadaan yang terjadi saat ini.
"Apa mungkin mimpi Anda tersebut adalah ... sebuah pesan?"
Andi menoleh ke arah Dian. "Menurutmu begitu?"
"Saya tidak yakin, hanya melogikakan rentetan kejadiannya saja."
"Pesan? Pesan untuk apa?"
Dian berpikir sejenak. "Dingin, gelap, dalam, itu yang Pak Ustad katakan di dalam mimpi Anda, kan?"
Andi membelalak, dia menyadari sesuatu sekarang. "Apa mungkin itu tempat Pak Ustad disekap?"
"Seandainya benar, di mana tempat yang sesuai dengan deskripsi tersebut?"
Baru saja muncul harapan, Andi sudah dipukul mundur oleh kenyataan yang Dian paparkan.
"Kamu benar, pesannya masih buram! Apa ada yang terlewat olehku?"
"Sepertinya masalah ini tidak bisa Anda tangani sendiri, karena sudah menyangkut nyawa orang lain, dan Ustad Arifin sudah hilang selama sehari bukan?"
Andi mengerti arah pembicaraan Dian.
"Saya akan menemui Pak RT, dan akan membujuk istrinya Ustad Arifin untuk melapor ke polisi," ucap Andi. "Terima kasih sudah menyadarkan saya bahwa ini bukan lagi urusan pribadi."
Dian hanya membalas dengan seulas senyum.
Sementara Andi dan Dian memikirkan soal pesan yang muncul dalam mimpi, dan merencanakan tindakan selanjutnya, Pak Ujang tengah sibuk dengan Pak Ustad, sibuk menjaga dan memastikannya agar tetap hidup hingga waktu penumbalan tiba.
Tak sulit memang untuk Pak Ujang melakukannya, untuk alasan tak terduga seperti inilah dia membangun rumah di tempat yang sepi dan di kelilingi hutan.
"Hei, kau masih hidup, kan?" tanyanya ke Pak Ustad yang duduk jauh di bawah, meringkuk di tempat yang gelap, sempit dan berair. "Jawab aku, Arifin! Jika tidak, akan kubuat Bu Sri mati sekarang juga!" ancamnya.
Terdengar bunyi air ditepuk 3 kali di bawah, membuat Pak Ujang tersenyum
Pak Ujang tahu bahwa Pak Ustad tak akan peduli jika yang diancam adalah dirinya, tetapi jika yang diancam orang lain, apalagi orang yang ingin dia tolong, Pak Ustad pasti merespons.
"Dalam keadaan seperti itu pun kau masih memikirkan orang lain," ejeknya lantas melemparkan nasi bungkus yang dia bawa untuk dimakan Pak Ustad. "Makanlah! Aku tak ingin kau mati dulu, untuk minumannya, minum saja air di sekelilingmu!" serunya lantas tertawa.
Setelah memberikan makanan, Pak Ujang melangkah pergi meninggalkan Pak Ustad sendiri lagi.
"Ya, Allah, jika makanan yang dia berikan ini adalah rezeki darimu agar hamba tetap hidup, akan hamba makan, ya, Allah. Hamba akan berusaha sekuat mungkin bertahan, gerakkanlah hati Andi, ya, Allah ...," ucap Pak Ustad berdoa,
lalu membuka nasi bungkus yang diberikan Pak Ujang, dan memakan isinya.
Andi sudah berada di rumah Pak Ustad, bersama dengan Pak RT yang menemani, dia menjelaskan situasi sebenarnya kepada istri Pak Ustad sebelum Pak Ustad hilang.
"Jadi maksud, Nak Andi, Bapak kemungkinan disekap Pak Ujang?"
Andi mengangguk. "Seperti itulah, karena tak mungkin Ustad Arifin pergi meninggalkan Ibu sendirian di rumah, lagi pula seperti kata Ibu, tak ada masalah yang terjadi di rumah ini."
Bu Lastri menangis, tak mampu membayangkan kondisi suaminya sekarang jika apa yang dikatakan Andi benar.
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Bu Lastri bertanya.
"Kami menyarankan Ibu melaporkan hal ini kepada pihak berwajib, dalam hal ini Polisi!" sahut Pak Karyo, si ketua RT. "Biarkan mereka yang menggeledah rumah Pak Ujang maupun hutan di sekitarnya."
"Saya akan segera melapor," ucap Bu Lastri sambil menyeka air matanya.
Andi dan Pak Karyo tersenyum, karena Polisi punya hak tak terbantahkan untuk menggeledah lebih jauh, tidak seperti mereka yang tak punya kekuatan hukum, dan akan memperkeruh keadaan jika memaksa.
Mereka pamit dari rumah Pak Ustad, walaupun menyerahkan penggeledahan kepada Polisi, Pak Karyo mengusulkan untuk meminta bantuan warga lainnya untuk memata-matai gerak-gerik Pak Ujang yang mencurigakan, karena di desa terpencil seperti ini tak ada satu pun kamera CCTV,
mata dan telinga wargalah CCTV terbaik saat ini.
Setelah mendatangi rumah warga yang berada di tempat-tempat yang kemungkinan dilewati oleh Pak Ujang, dan menitipkan tugas untuk mengawasi sang dukun, Andi kembali ke rumah, tepat saat azan magrib.
Keningnya bertaut saat melihat pintu rumah terbuka.
"Ke mana Dian? Sudah pulang?" gumamnya.
Betapa terkejutnya Andi saat masuk rumah dan mendapati Dian terbaring di lantai tak sadarkan diri.
"Dian, Dian!" Andi menepuk-nepuk bahu Dian, mencoba membangunkannya.
Tak lama Dian tersadar, langsung duduk dan memeluk Andi. "Ibu! Bu Sri! Ibu Anda!"
"Kenapa dengan Ibu?" Andi menoleh ke arah kamar.
-Bersambung-
Mulai dari sini, bab selanjutnya akan up agak lama, karena stock bab saya sampai Bab 9 ini saja, artinya saya harus menulis sebelum upload.
Mohon dukungannya. 😁🙏
Link Bab 10
Share this Scrolly Tale with your friends.
A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.
