Sang Penulis Profile picture
Seorang penulis horor dan puisi

Feb 1, 2023, 35 tweets

TUJU
(BAB 11: sAng pembisik)

Izin tag, ya! 😁

Alhamdulillah akhirnya bisa melanjutkan kembali cerita ini.

@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht @ceritaserem @bacahorror_id @bacahorror_id @threadhororr

#bacahorror #ceritahorror
#threadhorror #horrortwt

Jangan lupa untuk retweet, love, dan komentarnya, karena itu sangat berarti.

Terima kasih. 😁🙏

Pak Ujang tertawa melihat keterkejutan Andi, terlebih melihat wajah kasihannya melihat sang ibu yang sedang dirasuki makhluk utusannya.

"KAU APAKAN IBUKU? TOLONG HENTIKAN!" teriak Andi pada Pak Ujang, memecah sunyi di tempat itu, lantas kembali berjongkok, mengguncang-guncang bahu ibunya, mencoba menyadarkannya.

"Percuma, ibumu tak akan sadar begitu saja selama aku tak memerintahkan makhluk yang ada di dalam tubuhnya tuk keluar," jelas Pak Ujang penuh kesombongan.

Air mata tak henti-hentinya keluar dari mata Andi. Tatapan ibunya yang biasanya lembut, kini terasa mengerikan dan mencekam. Raut wajah yang biasanya ramah, terlihat bengis sekarang.

"Hentikan sekarang ... saya mohon hentikan," pinta Andi dengan nada memelas.

"Ha-ha-ha ... akhirnya kau melembut juga di hadapanku! Sudah putus asa?"

"Ambil saja nyawaku jika bisa, jangan Ibu! Kumohon ...."

Pak Ujang terdiam, menatap serius ke arah Andi. Lalu mengatakan pada Andi bahwa dia tak bisa melakukan itu, sebab bibinya Andi, adik ibunya, menginginkan Bu Sri sebagai korbannya.

Mendengar keinginan bibinya itu, amarah Andi kembali tersulut.

"Perempuan jahanam itu! Dia tega melakukannya hanya karena Ibu membuat anaknya yang seperti binatang dipenjara?"

Pak Ujang mengangguk. "Ya! Itu yang dia jadikan alasan, tetapi ada hal lain yang menjadi pemicunya."

Andi mengernyit. "Hal lain?"

"Dendam lama! Dendam seorang adik atas kakaknya yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari orangtuanya. Dendam seorang adik yang selalu dinomorduakan.

Bahkan parahnya, nenek dan kakekmu memberikan rumah mereka sebagai warisan untuk ibumu sebelum mereka meninggal, tak memberikan sedikit pun peninggalan untuk bibimu itu!"

Andi terhenyak mendengar ucapan Pak Ujang, ternyata bukan hanya karena alasan anak Bik Nur, tak sesederhana itu, tetapi tetap saja Andi merasa hal itu bukan salah ibunya.

"Saya tak tahu akan hal itu, Nenek dan Kakek sudah meninggal sebelum saya lahir. Andaipun benar, bukan berarti Bik Nur bisa melakukan semua ini karena hal itu!"

Pak Ujang tertawa terbahak-bahak. "Aku setuju denganmu! Tetapi aku hanya menjalankan tugas dari mereka yang memakai jasaku. Terlebih aku menyimpan rasa pada bibimu yang hina itu!"

Andi terdiam, tak mengira pria di hadapannya akan berkata seperti itu.

Jauh dari rumah Pak Ujang, Dian yang sebelumnya dibawa oleh sosok kuntilanak, kini mendapati dirinya berada di sebuah pohon besar di tengah hutan.

Dian memegang kepalanya yang terasa berat dan pusing. Bulu kuduknya berdiri saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Tak pernah dia bayangkan akan melihat makhluk mengerikan tersebut, terlebih dirinya dibawa terbang melintasi langit malam yang kelam.

"Kenapa? Kenapa aku?" gumam Dian dengan suara lirih.

Diselimuti rasa takut luar biasa, Dian mengeluarkan ponsel di saku celananya, menyalakan lampu senter tuk melihat ke sekelilingnya, tetapi tak terlihat apa pun selain dirinya di sana, membuat air mata membasahi wajahnya yang pucat pasi.

Dian mencoba menghubungi nomor Andi, tetapi tak ada sinyal di tempat dia berada, dia pun memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.

"Kenapa aku?" gumamnya lagi dengan suara parau.

"Tolong saya, tolong keluarkan saya," balas suara itu agak lebih keras sekarang.

Dian melihat ke sekitar kembali, mencoba menemukan sumber suara yang dia dengar. Dia terdiam sesaat saat menyadari suara itu berasal dari dalam sumur yang tak jauh darinya.

"Tolong ...," mohon suara itu lagi, memecah lamunan Dian yang masih menimbang-nimbang untuk mendatangi asal suara, sebab dia masih tak yakin yang meminta tolong itu manusia.

"Tolong Bapak, Andi ...."

Mata Dian membulat ketika mendengar nama Andi disebut.

"Siapa itu sebenarnya?" tanya Dian dengan suara yang lebih keras sekarang.

"A-a-ada orang di atas sana?"

"Ya, tapi siapa Anda?"

'Saya Arifin! Ustad Arifin!" jawab suara itu lagi.

Mendengar hal tersebut Dian bangkit, mengeluarkan ponselnya kembali tuk menyalakan lampu senter, lalu dengan rasa takut yang masih tersisa, dia melangkah ke arah sumur.

Dian bernapas lega saat melihat siapa yang ada di dalam sumur. "Pak Ustad!" serunya.

Pria yang tubuhnya disorot oleh cahaya senter, tersenyum lega. "Ya, ini saya! Bisa tolong saya keluar dari sini?" tanya Pak Ustaz penuh harap.

Dian menyorot ke sekitar, mencari sesuatu yang bisa membantu Pak Ustaz keluar dari dalam sumur, tetapi dia tak menemukannya.

"Boleh tunggu sebentar Pak Ustad?"

Ustaz Arifin mengangguk. "Baiklah, saya tunggu."

Dian melangkah menjauh dari sumur, cahaya senter dari ponselnya diarahkan ke sembarang tempat, tujuannya menemukan tali, tali yang cukup kuat dan besar untuk dipanjat oleh pria dewasa.

"Di mana? Di mana aku bisa menemukannya?" gumam Dian.

Tak lama terdengar suara benda jatuh ke tanah di dekatnya, membuatnya terkejut.

Rasa takut dan penasaran menjadi satu di pikirannya kini, diperparah oleh bisikan di telinganya yang meminta Dian untuk melihat ke arah suara tersebut. Dian mencoba mengabaikannya, tetapi semakin diabaikan, suara bisikan itu berubah menjadi semakin nyaring di telinganya.

"Baik ... baik .... Siapa pun kamu, aku akan menuruti maumu!"

Dian akhirnya menyerah, dan mengikuti keinginan si pembisik. Dia melangkah menuju ke sebuah pohon di mana terdengar benda menghantam tanah tadi.

"Tali tambang?" ucapnya tak percaya saat melihat benda yang menjadi sumber suara itu.

Dengan perasaan lega, Dian memungut tali tambang itu, lalu meninggalkan tempat tersebut, kembali ke sumur di mana Ustaz Arifin berada.

Dari atas pohon, sosok kuntilanak bergaun hitam yang membisikkan Dian tersenyum lega, lantas menghilang. Ya, kuntilanak bergaun hitam yang membawa Dian sesungguhnya tak bermaksud jahat, dia membawa Dian agar tak terjebak di rumah sang dukun bersama Andi.

Bahkan tali tambang yang Dian bawa, adalah tali tambang yang dia ambil dari rumah Pak Ujang.

"Alhamdulillah. Terima kasih sudah membantu saya keluar," ucap Ustaz Arifin sesaat setelah dia berhasil keluar dari dalam sumur.

"Sama-sama."

"Tapi, bagaimana kamu bisa tahu saya ada di sini?" tanya Ustaz heran.

"S-s-saya juga tak mengerti, Pak Ustad. Ada makhluk yang membawa saya kemari saat saya berada di halaman rumah Pak Ujang."

"Kamu ke rumahnya? Sendiri?"

Dian menggeleng. "Saya bersama Andi, tetapi sepertinya saat ini Andi sudah berada di rumah Pak Ujang," jelas Dian.

"Astaghfirullah .... Kita harus segera kembali ke desa, meminta bantuan warga untuk menyelamatkan Andi. Karena apa yang menimpa saya, Pak Ujang pelakunya.

Dian mengangguk. "Saya paham, Pak Ustad. Mari kita meninggalkan tempat mengerikan ini."

Bersambung.

Doakan kelanjutan ceritanya bisa segera saya up. Bantu retweet, love dan komen. 😁

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling