Jf89 Profile picture
Nov 11, 2019 268 tweets 33 min read
MOBIL TERKUTUK

@bacahorror @ceritaht @Koranhorror #bacahorror #threadhorror Image
Utas yg satu ini berbeda dengan utas2 sebelumnya. Jadi mungkin membingungkan buat para pembaca. Berdasarkan kisah nyata disajikan dengan improvisasi sedikit liar
MOHON DIPERHATIKAN BAHWA UTAS INI TIDAK DIPERUNTUKAN UNTUK 17 TAHUN KEBAWAH. MENGANDUNG UNSUR-UNSUR EKSPLISIT.

MOHON KEBIJAKSANAANNYA

Bismillahirrahmanirrahim
PROLOG

Dalam nafsu yang menggebu, dalam kalut, dan takut. Semua menjadi pantas untuk dilakukan termasuk menjual jiwa kepada iblis. Namun, ketentuan mengikat dan tak lekang ruang dan waktu.
Membawa bala bagi mereka yang terseret takdir.
Takdir yang dibawa oleh sebuah mobil terkutuk.
Uraian kata diatas mendeskripsikan perasan bungung dan takut Jaka. Di malam itu, semua ketakutan terasa nyata dan bermuara pada satu pertanyaan:

Bila kamu tidak takut mati, maka apakah kamu akan menikmati prosesnya?
Mobil itu berhenti dan Jaka turun dari mobilnya untuk membuka gerbang, namun ia lebih penasaran pada sisa knalpot di bagasi. Di bukanya bagasi itu dan semua terasa ganjil...

------------------------------------------------------------------------
Siang yang panas disebuah kota besar. Seorang pemuda mengumpat sendiri dalam mobilnya. "BANGSAT!!!"
Ia kesal tidak kepalang tanggung, bukan pertama kalinya mobil itu bermasalah ditengah perjalanan. Kali ini sepertinya ia harus merelakan uang untuk reuni KKNnya dipakai untuk biaya perbaikan mobil
Beberapa orang membantunya mendorong mobil itu dari sebuah perempatan padat ke sebuah halte pinggir jalan. Jaka, pemuda itu, mulai berpikir kepada siapa ia harus meminta pertolongan.
Tidak lama, ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya dan menghisapnya dalam. Ia melihat layar telefon genggam menunggu jawaban dari seberang sana.
"Halo?"
"Halo, Na, sori ganggu, mobil urang ngadat deui yeuh. Bisa minta tulung pangirimkeun montir?"
(Halo, Na, sori ganggu, mobil gw ngadat lagi nih, bisa minta tolong kirimin montir?)
"Oke, siap, tungguan yah"
"Siap, Nuhun"
Ia menelepon Dana, temannya yg membuka usaha montir mobil bersama dengan orangtuanya. Ia cukup mengenalnya.
Melamun ia di halte itu. Pikirannya menerawang jauh kebelakang saat ia pertama kali berjumpa dengan mobil putih itu. Dipinggirnya berdiri dua siswa SMA menunggu angkot untuk pulang, "ah seandainya gw bisa seperti mereka" batin Jaka.
Manusia kadang lebih mudah sabar daripada syukur. Setidaknya mereka memang sensitif terhadap penderitaan namun menjadi buta dan tuli akan nikmat. Pikiran itu cukup membuat Jaka terhibur.
Datanglah orang yang ia tunggu, seorang montir paruh baya dengan peralatan lengkap. Orang tersebut segera bekerja, membuka kap mesin sambil bertanya masalahnya dimana. Mobil itu tidak dapat dihidupkan saat tidak sengaja mati tadi.
Mesin tidak bergetar, berarti mesin aman. Accu dalam kondisi baik, mungkin dinamo. Dinamo dites, masih baik. Montir dan Jaka kebingungan apa yg menjadi masalah mobil ini.
Setelah berdiskusi dan mencoba berbagai cara, tutup sekering dibuka, dan satu sekering hangus terbakar. Aneh, baru kemarin rasanya Jaka mengecek sekering mobil itu.
Setelah membayar jasa montir tersebut, Jaka termenung sejenak sebelum kembali beranjak. Biaya perbaikan tidak seberapa dibandingkan waktunya yang hilang. Satu batang lagi untuk menemani renungan.
Ia merenung ke masa saat pertama mengenal mobil itu...

"Mungkin kah... Mobil itu mobil terkutuk?"
______________________________________
Hari itu ia terbangun pagi-pagi mendengar teriakan ayahnya.

"KAA..JAKAAA!! Kahandap heula" (KAA.. JAKAAA!! kebawah dulu)
Setengah sadar ia menuruni tangga, berharap bahwa ia tidak terjatuh saat menuruninya. Mimpi buruknya membuat ia bergidik. Dilindas mobil berwarna putih.
Dibawah ayahnya sedang berbicang dengan seorang yang tampak asing. Ayahnya membuka ruang pembicaraan

"Sebentar ya Pa, tanyain dulu sama anak saya, kalau dia suka nanti saya beli".
Jaka mengenal pria itu sebagai Budi, konon masih tetangganya di ujung komplek. Ia hendak menawarkan sebuah mobil berkelir putih. Ya PUTIH. Jaka mengerutkan dahi..
"Mobilnya sebenarnya masih bagus, mesinnya bagus, tapi memang perlu "sedikit" perbaikan" papar Pak Budi. Penasaran, Jaka dengan mudah diajak untuk melihat mobil itu.

Mobil itu berada diluar, menunggu Jaka.
Mobil itu perlu BANYAK perbaikan. Dari luar, lapisan catnya sudah memudar dan terasa kasar saat di raba. Peredam kejut di keempat bannya pun perlu perbaikan. Dibukalah kap mesin dan terlihat mesin yg berdebu, terlihat tidak terawat sama sekali.
Didalam, jok mobil itu sudah tampak tipis dan ada beberapa lubang sementara stirnya tampak terbelah dan menampakkan besi didalamnya. Seluruh pedalnya terasa longgar, entah berapa ribu kali diinjak oleh pemilik sebelumnya.
Selain itu, beberapa fitur seperti kunci sentral dan lampu juga tidak berfungsi. Namun, kondisi mesinnya sangat bagus dan menurut Pak Budi, belum pernah turun mesin. Suara mesinnya terdengar mulus.
Sebenarnya Jaka berharap mendapatkan mobil yang lebih baik namun ia malas beradu pendapat dengan ayahnya yang tampak telah kepincut dengan mobil itu. Heran.
Baiklah, mungkin mobil itu bisa jadi bahan berbagai oprekannya. Jadi, ia pun perlahan mulai luluh. Tapi tunggu dulu, mengapa terasa sedikit mengganjal...?
Perlahan ia mendengar samar bisikan yang entah dari mana datangnya "ayo beli aku aja kang hihihi...".

"Ah mungkin hanya halusinasi" tepis Jaka.
Jaka menyutujui mobil itu untuk dibeli dan dimulailah proses tawar menawar ganjil itu. Harga dibuka dibawah harga pasar dan ditutup 10 juta lebih rendah dari harga pasar. Tanpa perlawanan.
Pak Budi tampak girang bukan kepalang. Wajahnya terlihat lega. Aneh.
GILA

Kata itu terlintas dibenak Jaka ketika mengatahui harga jual mobil itu. Ditambah biaya reparasi pun harga totalnya masih dibawah rata-rata. Mungkin sudah rejeki hehehe.
Tidak lama setelah itu, mobil itu dibawa ke sebuah bengkel reparasi kaki-kaki mobil, sebuah tempat bereputasi baik dan cukup terkenal di kota itu. Spesialis kaki-kaki.
Pak Catur, sebut saja demikian, pemilik bengkel kaki-kaki itu. Ia menyambut ramah ketika Jaka dan ayahnya datang di hari yang cerah itu. Setelah sedikit berbasa-basi mereka bertiga ditambah salah satu staf bengkel mulai mengecek kondisi mobil.
Kaki-kaki mobil itu perlu perbaikan besar-besaran untuk mengembalikan ke kondisi semula. Suspensinya sudah tidak standar, dimodifikasi dengan buruk dan peredam kejutnya sudah mati.

Hal yang membuat Jaka dan ayahnya khawatir terkait biaya.
Negosiasi harga dimulai, syukurlah harganya masih dibawah 5 juta. Semua bersepakat dan mobil dapat diambil setelah 7 hari karena bengkel itu sedang banyak pekerjaan.
TIIILILIT TIIIILILIT

Telefon genggam Pak Catur berbunyi, ia mohon pamit sebentar. Setelah sepuluh menit, ia kembali, wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong. Istrinya mengalami kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.
Ia pamit terburu-buru. Sebelum ia berangkat, Jaka dan ayahnya sempat mengucapkan simpati untuk menguatkan Pak Catur..

Pertandakah itu?
______________________________________
BRAAAKKK!!!

Suara keras itu membawa Jaka kembali ke halte, sebuah motor melaju kencang dan panik ketika melihat mobil putih terparkir disana. Ia membanting kendali ke kanan dan terhantam angkot yang melaju. Pengemudi motor terbang dan tidak bergerak...
Orang-orang disekitar berlarian menuju pengemudi tersebut, termasuk si sopir angkot yang juga terlihat panik. Terlihat darah mengalir dari balik helm fullface pengemudi tersebut.

Tubuh Jaka terasa berat ketika ia paksakan untuk mendekat.
Ketika yang lain khawatir dengan kondisi pengemudi itu, perhatian Jaka justru tertuju pada celana abu-abu panjang yang dikenakan pengemudi tersebut.

Aneh, rasanya ia pernah mengalami peristiwa serupa.
Seketika Jaka terperanjat. Bukan karena perasaan de javu yang dialaminya, namun batinnya samar mengatakan semua sudah seharusnya. Tidak ada iba saat itu meskipun ia sadar ia seharusnya merasakan hal tersebut.

Semua mulai terasa seperti MIMPI.
Pengemudi motor tersebut kemudian dibawa ke rumah sakit menggunakan angkot yang menabraknya. Sementara orang-orang membantu menaikkan pengemudi malang tersebut ke atas angkot, badan Jaka malah terpaku kaku.
Ia pulang ke rumah setelah kejadian itu. Tidak berbicara sama sekali dan mengurung diri di kamar. Pikirannya menjadi kacau balau seolah ia kebingungan antara mana sekarang, masa lalu, dan mungkin masa depan.

Semua terasa berputar dan berulang.
Malam itu pacarnya meneleponnya, menanyakan mengapa ia tidak mengajaknya menikmati malam minggu. Jaka yang bingung dengan apa yang baru ia alami kemudian menceritakan semuanya kepada pacarnya tersebut.

"Lah, bukannya kamu juga nabrak pas awal pake beb?"
Semuanya terasa lebih membingungkan bagi Jaka, mengapa ia bisa lupa hal itu. Sisa pembicaraan Jaka dan pacarnya menjadi sangat hambar dan pembicaraan itu diakhiri dengan sebuah pertanyaan dari suara di seberang "kamu baik-baik aja kan?"
Jaka mengiyakan dan menutup telepon.

Pikirannya terbang ke masa beberapa tahun yang lalu saat ia awal mengemudikan mobil tersebut. Ia menabrak mobil yang terparkir pinggir jalan karena menghindari anak SMA yang mengebut menggunakan motor dari arah berlawanan.
Anak SMA itu lolos dari celaka dan tertawa terbahak sambil melebarkan jarak. Sementara Jaka harus menanggung perbaikan mobilnya dan juga mobil yg terparkir itu.

Kedua mobil itu sama-sama mobil baru, ia mobil bekas baru dan yang terparkir mobil baru keluar showroom.
Ia masih sempatkan sisa waktu malam itu untuk sebatang rokok, sebelum memutuskan untuk terlelap. Semoga malam ini, ia dapat bermimpi indah, sejenak terlepas dari mobil itu yang hampir membuatnya gila dengan tragedi.

"Mungkin belum seberapa....."
Malam itu Jaka bermimpi, sayangnya itu tetap mobil itu. Dalam mimpinya ia terseret mobil itu yang hendak menabrakan dirinya ke tembok beton. Sebelum benturan terjadi, Jaka melongok ke dalam mobil, dilihatnya sesosok nenek tua yang sangat kecil melayang ditengah mobil.
"Jenglot kah?"
BAAAM!!
aka terbangun dari mimpi buruk itu. Entah telah sekian kali ia bermimpi mati terbunuh oleh mobil itu. Ia semakin yakin, bahwa mobil itu terkutuk.

Namun, alih-alih berusaha menjauh, ia malah tertarik untuk menyelidiki lebih jauh sejarah kelam dari mobil itu.
Hari itu hari minggu, Jaka telah putuskan untuk menghabiskan waktunya seharian untuk mencari lebih jauh tentang mobil itu. Titik awalnya tentu saja si penjual mobil, Pak Budi.

Namun, dimanakah ia dapat mencarinya?
Pencarian Jaka menemukan Pak Budi tidak semudah yang ia kira. Nama itu asing terdengar bahkan oleh teman-teman masa kecilnya yang juga tinggal di ujung komplek seperti Pak Budi.

Pencarian hari itu nyaris berujung buntu.
Jalan buntu Jaka hari itu terobati ketika ia bertemu dengan teman masa kecilnya bernama Dodi. Meskipun sama seperti warga lainnya yang tidak tahu nama Budi, namun bernostalgia tentang kenakalan mereka dimasa lalu bisa mengobati kekesalan Jaka.
Sampai tepat ketika Jaka akan pamit dari rumah Dodi, ibu Dodi ikut dalam obrolan mereka.

"Pak Budi yang dulu di Blok xxxx mungkin ya.." beliau seperti teringat sesuatu.
"Ibu apal sama Pak Budi?" selidik Jaka.

"Apal atuh, ngontraknya gak lama da. Awalnya mah baik orangnya tapi jadi jarang gaul pas udah punya mobil" papar beliau panjang lebar.
"Punten Bu, maksudnya gimana?" Jaka mulai sangat penasaran.

Beliau tampak termenung panjang, seolah memikirkan sesuatu yang berat.
"Jaka apal rumah kosong yang itu?"

Tunjuk beliau ke salah satu rumah kosong tidak jauh dari rumah Dodi.

"Enggak bu, kenapa gitu?"

"Dulu Pak Budi ngontrak disitu, gak lama kok, gak sampai dua tahun" ujar Ibunya Dodi membuka cerita.
Rumah itu tampak tidak terurus dan telah ditinggalkan bertahun-tahun oleh pemiliknya. Catnya terkelupas disana sini, rumput liar tumbuh lebat, dan beberapa kacanya pecah seperti terkena lemparan batu.
"Semenjak punya mobil itu, Pak Budi jadi dibenci warga karena mobilnya diparkir dipinggir jalan dan menghalangi warga yang lain" ujar beliau sambil menerawang kebelakang.

"Tapi kalau kata ibu mah, Pak Budinya juga jadi kaya yang keganggu gitu jiwanya"
"Eh? Maksudnya Bu?"

"Pak Budi itu baru setahun nikah waktu baru pindah kesini, belum punya anak. Yah namanya juga pengantin baru kuduna mesra. Kadang suka kedenger suara eta, Jaka apalah, udah besar kan hihi" beliau tertawa kecil tertahan

Namun rautnya tetiba berubah
Ibunya Dodi kembali melihat rumah tersebut dan menghela nafas.

"Waktu itu padahal istrinya hamil, jadi Pak Budi beli mobil warna putih, buat nganter-nganter istrinya gitu. Eh ga taunya pas udah punya mobil jadi berubah, lebih suka murung, takut ga jelas, terus sering berantem"
"Kalau diliat teh Ka, pulang kerja mukanya kaya pucet banget, kayak yang capek sama ketakutan gitu, tah pas masuk rumah berantem lagi. Gitu aja terus"

beliau menghirup nafas sebentar seperti mengumpulkan tenaga untuk sesuatu yang lebih berat.
"Istrinya keguguran, gak lama Pak Budi juga dipecat dari kantornya, istrinya nyuruh dia jual mobil tapi tiap ngomongin itu pasti aja ribut. Waktu itu sebenernya bapaknya Dodi juga udah bilang buat dijual aja, tapi dia kayak ketakutan"..
"Takut apa Bu?"

"Katanya mah, harus dijual cuma sama yang cocok atau nanti kena sial, aneh pan? Makana katana ibu mah, asa jadi rada gelo Pak Budi teh"

pungkas beliau membuka ruang pertanyaan baru bagi Jaka.
Jaka segera pamit pulang dengan rasa penasaran semakin memburu. Setibanya di rumah ia langsung menanyakan ayahnya tentang kontak Pak Budi. Ayahnya keheranan, namun tetap memberikan juga nomor tersebut.

Sayang, nomor tersebut sudah tidak aktif...
Pikiran Jaka buntu, rasa penasaran itu perlahan membunuhnya sementara pencarian asal usul mobil itu tidak berbuah hasil.

Tiba-tiba terbersit dalam pikirannya untuk informasi mobil itu dengan melacak menggunakan STNK lama dan BPKB mobil itu.
Namun sebelum itu ia memutuskan mencoba ide satunya lagi. Mencoba menghubungi pamannya yang setiap minggu menyempatkan diri untuk mengecek harga pasar mobil bekas di sebuah bursa mobil bekas. Mencari surat-surat lama mobil itu bisa dilakukan kapan saja.
"Halo om,.. nuju dimana?" (Halo om, lagi dimana?).

"Eh ka, biasa, di parkiran Maroku kunaon kitu?" (Eh Ka, di parkiran Maroku, kenapa gitu?).

"Bade naroskeun mobil tilas, Jaka kaditunya ayeuna" (mau bertanya tentang mobil bekas, Jaka kesana sekarang ya).
Tanpa menunggu persetujuan dari pamannya, ia langsung bergegas. Menggunakan mobil putih itu. Ada rasa takut dan waswas yang amat sangat ketika ia akan menaiki mobil itu.

Ia menghabiskan sepuluh menit untuk berdoa sambil memanaskan mobil.
Rasa takut dan waswasnya sirna seketika ketika ia berada dibalik kemudi. Berganti dengan adrenalin yang terpacu ingin terus menekan pedal gas.
Perjalanan itu dilalui singkat dengan diiringi seribu umpatan seisi kebun binatang dari pengemudi lain.
Sesampainya ia dipelataran parkir toko grosir modern yang tergerus zaman itu, Jaka langsung menanyakan keberadaan pamannya. Berjalan diantara para penjual mobil bekas memang kadang menyebalkan, ditawari sana-sini, diajak mampir disana dan disini.

Ia terus berjalan.
Ia bertemu dengan pamannya dan juga teman-temanya yang merupakan pedagang mobil bekas. Diutarakannya lah maksud dan tujuannya datang ke tempat itu.

Mencari informasi asal-usul sebuah mobilnya yang ia anggap terkutuk.
Barangkali, ada diantara mereka yang pernah melihat mobil tersebut disini

Mereka yang ada disitu tampak bingung, mobil itu tampak tidak dikenali ditempat itu. Satu persatu penjual mobil bekas datang hingga hampir seluruhnya datang, tak ada yang mampu menjawab.
Sampai...

Seorang kakek tua, pedagang mobil bekas senior yang biasa dipanggil Abah datang. Beliau bertanya mengapa Jaka kelewat penasaran dengan asal usul mobil itu.

Diceritakanlah segalanya, untaian tragedi, kesialan dan mimpi tidak menyenangkan yang ia alami.
"Angger keneh ternyata" (ternyata tetap saja)

Komentar Abah singkat..
"Maksud Abah?"

Beliau tidak menjawab namun balik bertanya
"Mobil ieu meunang timana jang?" (Mobil ini dapat dari mana nak?)

"Kenging ti Pak Budi Bah, anu di Wijaya Krama" (dapat darak Budi Bah, yang di Wijaya Krama)
Abah tampak mengerenyitkan dahi, seolah tampak berpikir keras untuk mengingat cukup lama.

Jawaban dari beliau sungguh mengagetkan
"teu apal Abah mah" (gak hapal abah mah).

Tapi kemudian ia melanjutkan,
"Cik urang tingali heula mobilna" (coba kita lihat dulu mobilnya).
Mereka berjalan berdua saja karena Abah tidak ingin yang lain ikut, bahkan pamannya Jaka sekalipun. Abah tampak bergidik dan menatap mobil itu seksama ketika mobil putih itu mulai terlihat.

"Heueuh bener nu ieu" (Iya, benar yang ini).

Seolah beliau kenal betul dengan mobil itu
Abah kemudian menyuruh Jaka membuka seluruh pintu mobil tersebut.

Beliau tampak sangat serius melihat kedalam seraya mulai komat-kamit laksana dukun merapal mantra sebelum tampak berbicara dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat Jaka.
Obrolan ganjil itu berlangsung serius, sambil sesekali terdengar umpatan.

Abah tiba-tiba menggeram dan kemudian menyemburkan ludah kedalam mobil, seperti marah terhadap sesuatu. Entahlah, bagi Jaka itu hanya mobil tanpa penumpang.
"ANJING, ORANG TUA EDAN!!!"
Pekik batin Jaka

Jaka melihat dengan mata melotot dan mulut menganga. Pemandangan ini sungguh sinting dan di luar nalar.
Ia menatap Jaka dengan serius, alisnya hampir menyatu,

"Hampura jang, hehe". Sembari mengelap jok yang terkena "air sakti" itu dengan tisu lecek yang beliau keluarkan dari saku.
Ia tidak berani bertanya kepada Abah, semua terlalu berat bagi otaknya yang mendadak berjalan merayap. Abah hanya memandangnya sambil nyengir dan mengeluarkan rokok kretek tanpa filter. Ia menawarkan Jaka rokok

"Udud?"
Jaka hanya menolak rokok itu namun kemudian mengeluarkan rokoknya juga. Mereka dengan cepat mulai mengisi dada mereka dengan asap. Satu nerasa khawatir dan satunya lagi merasa penasaran bercampur geli.

Jaka berharap Abah mau bercerita karena ia terlalu takut untuk bertanya.
Seperti paham, Abah mulai membuka mulut dan mengepulkan asap. "Hayang nyaho tadi naon?" (Mau tahu tadi apa?).

Jaka mengangguk
"JURIG"
Meski terkejut namun interaksi ganjil bersama Abah membuat Jaka merasa geli. Orang tua ini benar-benar nyentrik dan sinting. Sikapnya dan jawaban-jawaban tidak terduganya benar-benar membuat Jaka ingin tertawa.
Namun apa yang akan dikatakan orang tua itu akan mengutuk Jaka ikut menjadi sinting tanpa bisa tersenyum lagi..
"Loba rumor tentang mobil ieu, teuing bener teuing hanteu, nu jelas aya jurigan. Jurigna hiji, ngan sok ngajak baturanana. Anjing!"

(Banyak rumor tentang mobil ini, tidak tahu benar, tidak tahu tidak. Yang jelas ada hantunya. Hantunya satu, tapi suka yang lain. Anjing!)
Mulut Jaka mulai bergerak tanda ia coba bicara, tapi...

"Ke heula jang, can beres Abah nyarita, hehe" (sebentar nak, belum beres Abah ceritanya, hehe) sekali lagi beliau terkekeh ganjil.
Jaka menebak bahwa ia akan mendengar cerita tentang si jurig atau si hantu itu, namun Abah malah bercerita panjang lebar tentang rentetan peristiwa yang tidak hanya terasa absurd, namun juga terasa BERPUTAR bagi Jaka, kematian dan kesialan berualang diluar nalar.
Mobil ini telah bertualang ke berbagai kota di Pulau Jawa dengan tangan yang berbeda-beda. Setiap tangan menikmati hadiah berupa kepahitan dari sang mobil. Setiap tragedi membuat mobil ini terlihat begitu menakutkan seperti mengandung kutukan.
namun begitu memikat untuk membuat mereka terikat, terikat dengan mobil ini lengkap dengan kutukannya..
Konon mobil ini dulu keluar dengan polosnya dari sebuah dealer mobil resmi disebuah kota di tengah Jawa. Dibeli oleh seorang paruh baya yang berpengaruh yang dipengaruhi perjanjian dengan iblis.

Ia membelinya bukan untuk dirinya atau keluarganya, namun untuk selingkuhannya.
Si gila wanita bertemu dengan si gila harta dan terjadilah hubungan itu terlaknat.
Muda, cantik, pintar, namun binal dan haus harta. Tentunya mudah bagi si hidung belang untuk terpikat oleh si cantik liar ini. Saking pintar dan binalnya ia bahkan bisa mengorek rahasia si hidung belang di ranjang dan menjadikannya sebagai pengikat tambahan untuk si hidung belang
Mobil ini kemudian memulai petualangannya sebagai hadiah tutup mulut bagi si selingkuhan tersebut. Namun rasa haus akan harta serupa rasa haus akan air laut, membawa rasa haus lainnya dan semakin gila. Saking gilanya sampai-sampai si dedemit mitra si hidung belang pun menyerah.
Alih-alih menjauh, si lelaki hidung belang justru terus mendekat karena takut akan dua hal, selingkuhannya membocorkan rahasia yang mengancam karir dan keluarganya; dan takut bila ia juga pergi mencari pria lain..
Hubungan terlarang yang awalnya penuh gairah itu perlahan bikin gerah si hidung bekang. Sementara si binal mencari pemuas lain si hidung belang pun berpikir sama, namun ada yang harus ia selsaikan dulu...
Hanya satu cara mengakhirinya, "mengabadikan" perempuan tersebut.
Ritual laknat itu pun dilakukan, si binal menemui kematian tercekik ditangan lelaki hidung belang dengan kondisi junub selamanya. Namun ia meninggalkan dua warisan, penunggu jimat pengasihannnya dan sebuah supata atau kutukan kepada mobil itu.
Bodohnya, si hidung belang menggunakan mobil itu untuk pulang ditemani roh penasaran perempuan itu dan si nenek isi jimat.
Ditengah jalan, ban mobil itu bermasalah, dua ban mobil itu bocor!! Sudah tentu ban cadangan hanya ada satu. Terpaksa ia mencari bantuan.
Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan mobil, sebuah truk berirama koplo melabraknya membuat kepala dan badan pria itu layaknya kambing untuk tengkleng. Meninggalkan kakinya yang masih utuh..
Badan atas nya hancur, apalagi kepalanya. Darah, tulang, otak dan beberapa organ dalamnya tercecer berserakan di jalanan seperti sekuali tengkleng berkuah darah tumpah begitu saja di jalanan.

"Sudah to le, relakan saja badanmu jadi makanan teman-temanku hehe"
Mobil putih polos melalui tugas pertamanya dengan berakhir tragis dan melahirkan tragedi demi tragedi. Setidaknya ruwatan mobil itu sudah begitu suci dengan darah pemiliknya dan tumbal dua nyawa.

Sepertinya tidak ada mobil lain yang mampu menerima kehormatan lebih baik darinya.
Mobil itu kemudian kembali ke keluarga mendiang pria hidung belang itu, memberikan teror suara dan penampakkan bagi mereka. Kadang kala mobil itu menyala sendiri ditengah malam membuat geger seisi rumah.
Namun entah sangat sayang atau tolol setengah mati, keluarga itu tetap merawat mobil itu sampai mereka tidak bisa merawatnya lagi. Bagi mereka penampakkan itu pengobat duka kehilangan kepala keluarga. Sebentar, mengapa tidak bisa merawat lagi?
Mungkin pria itu pada akhirnya terlalu rindu pada keluarganya dan ingin mereka ikut dengannya. Tidak perlu repot, semua maklum bila pesugihan tentu minta tumbal, karena si pria itu sudah tidak bisa memberikan itu, maka keluarga itu diambil satu persatu.
Si istri yang sudah setengah waras sejak kepergian suaminya menjadi cukup sinting untuk gantung diri setelah anak bungsunya tiba-tiba meninggal tersambar petir ketika bermain bola. Sementara anak kedua tewas tertabarak mobil itu, ketika membantu sopirnya memarkirkan mobil itu.
Lain lagi dengan anak pertama yang sudah beranjak dewasa, ia sedikit sulit untuk diambil karena memang ia tidak menangis untuk ayahnya. Meskipun toh akhirnya mati juga..
Mungkin hanya dia yang mati diluar nalar terliar seorang manusia.

Suatu malam malam ia merasa amat kepanasan setelah menegak minuman golongan C. Tidak lama ia mulai merasa kepanasan sehebat-hebatnya sampai merasa darahnya mendidih. Saking panasnya jantungnya sampai meledak.
Meskipun sudah menggelepar menjelang ajal, panas itu masih terasa dan seluru tubuhnya mulai terbakar hebat sampai jadi abu, menyisakan sepasang kaki, persis seperti ayahnya dulu.
Selanjutnya mobil itu berpindah tangan setelah lama terbengkalai. Kali ini ketangan seorang pemuda urakan yang senang balapan liar dan berpesta pora hingga tersungkur tanpa busana..

Namun....
Sebelum Abah sempat menceritakan tentang kisah selanjutnya, beliau tiba-tiba bergidik dan melihat kesamping.

"$&$)@(-$&#-#+(#(&+$(@(2+$-#-#-"

Untaian umpatan indah berisi sebutan binatang dan orang bodoh keluar indah dan lancar dari mulut Abah.
Jaka sudah tidak mampu lagi menanggapi, cerita itu dan kelakuan Abah membuatnya terlalu terpesona diiringi seribu tanya. Beriringan dengan itu, datanglah pamannya dan beberapa temannya yang khawatir ketika Jaka diajak Abah untuk mengobrol berdua.
"Kunaon ari Abah? Tiba-tiba ambek-ambekkan kitu?" (Kenapa Abah ini? Kok tiba-tiba marah gak jelas gini?)
Seorang pedagang mobil bekas berusaha menangkan Abah.
"JURIG ANJING, JURIG !!! TEU NEULEU EMANG IEU!!!" (HANTU ANJING, HANTU !!! GAK LIAT EMANG INI!!!)

"Atos we bah, antepkeun wae, sina nyingkah we jurigna" (Sudah saja bah, biarkan saja, biar pergi saja hantunya)
Melihat itu, pamannya Jaka membawanya menjauh dan berbisik
"Si Abah jadi rada sinting gara-gara bisa ningali jurig. Tiap mobil nu ceuk si abah ayaan pasti diciduhan"
(Si Abah jadi sedikit sinting gara-gara bisa lihat hantu, setiap mobil yang katanya ada hantunya pasti diludahi).
Pamannya berpesan kepada Jaka untuk tidak terlalu menanggapi Abah. Tapi Jaka sudah terlalu terguncang untuk menjawab. Hanya anggukkan yang bisa ia lakukan.
Jaka masih di pelataran parkir itu, melihat dari kejauhan Abah yang kini lebih tenang. Beliau berjalan mendekat dengan cepat kepadanya. Ia tidak tahu harus lari karena takut atau mendekat karena penasaran dengan lanjutan cerita Abah.
"Dieu! urang lanjutkeun"
(Kesini! Kita lanjutkan)

Kali ini pamannya ingin ikut mendengar juga sambil berjaga bila Abah tiba-tiba kumat kembali.
"Bah, ngiring ngadangukeun nya." (Bah, ikut mendengar ya)
"Sok bae"
Selanjutnya mereka bertiga seolah sepakat untuk melakukan ritual yang sama, membakar rokok mereka masing-masing. Abah yang sudah laksana juru pantun memulai ceritanya...
"Mobil eta, terus teu lila di pake ku si baragajul dan kaburu modar si eta. Nya ti dinya pipindahan tuluy, tapi ceunah tiap pindah pasti mawa cilaka. Nya nabrak-nabrak mah wajar"
(Mobil itu, tidak lama di pakai pemuda itu karena dia keburu mati. Dari situ terus berpindah, tapi katanya selalu membawa celaka. Ya kalau cuma nabrak-nabarak saja sih wajar).
Cerita abah terdengar lebih singkat dari para sebelumnya sementara baik Jaka maupun pamannya sebenarnya berharap untuk mendapatkan informasi lebih lengkap.

"Lengkapna kumaha Bah?"
"Nya kitu weh"
Tidak puas dengan penjelasan Abah, Jaka mulai memancing lebih jauh.
"Leres kitu bah? Abah sigana apal pisan"
(Benar gitu bah? Abah sepertinya hapal sekali).

"Eta ge ceunah" (itu juga katanya)
Jawab Abah sambil terkekeh seolah puas mendongeng kepada Jaka sampai ia pucat pasi..
Namun, entah karena Jaka terlalu terbawa dengan cerita itu atau karena hal lain yang tidak ia mengerti, ia merasa bahwa perkataan Abah adalah kenyataan atau setidaknya mendekati kejadian yang terjadi di masa lalu..

Ia benar-benar lupa untuk tersenyum..
Ada rasa ragu menghinggapi Jaka ketika hendak pulang dari pelataran parkir itu. Ragu dan takut untuk menaiki mobil yang meminta banyak tumbal. Memang, tadi sebelumnya Abah mengatakan bahwa ia aman mengendarai mobil itu, sudah dibersihkan katanya.

Namun entah itu benar atau tidak
Sementara ia masih merokok sambil mengumpulkan nyali dan juga berdoa dengan gemetar, sebuah notifikasi pesan masuk. Itu dari adiknya, memintanya menjemput di sebuah tempat di pusat kota. Lumayan lah, perjalanan pulang tidak perlu ia lalui seorang diri.
Ia segera mengiyakan permintaan adiknya dan segera bergegas menaiki mobil putih itu. Mungkin benar kata Abah, mobil itu telah bersih, setidaknya rasa takutnya sudah bisa ia kendalikan. Dan ia segera meluncur melalui jalanan kota yang menjelang gelap.
Tidak terjadi hal buruk yang ia takutkan selama perjalanan. Bahkan perlahan perhatiannya teralihkan oleh keramaian di luar sana. Sampailah ia disebuah perempatan, tempat yang sama ketika mobilnya bermasalah kemarin. Sesuatu yang ia tidak perhitungkan terjadi..
Seorang waria mendekati mobil tersebut untuk ikut bernyanyi, kecrek.. kecrek..

Namun ia segera menjauh setelah sekilas melongo kedalam. Aneh. Biasanya waria-waria perempatan ini akan terus bernyanyi sampai lampu hijau. Sejujurnya ia senang, tidak perlu berlama-lama dengan itu.
Sekali lagi gw ingatkan bahwa utas "Mobil Terkutuk" berisi konten yang tidak cocok untuk semua umur. Terkhusus untuk malam ini, update malam ini kategorinya mungkin "R" atau bahkan "NC 17". kebijaksanaan pembaca sangat diharapkan
Sampailah ia ditempat tujuan, sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota itu. Banyak yang datang namun hanya yang berduit yang akan membeli. Sekelebat pikiran tempat ini berpenghuni melintas entah dari mana diikuti wangi melati, namun ia nafikan demi tetap waras ditempat ini.
Menunggu Lastri, adiknya lebih lama dari yang terpikir olehnya. Layaknya anak SMA kebanyakan, acara menonton di bioskop sudah sepaket dengan makan dan foto-foto.

Gusar menunggu, Jaka melangkah keluar, mengeluarkan bungkus rokok yang tersisa tujuh batang.
Sambil adiknya menyelesaikan ritual wajib ABG zaman itu, ia mencoba melepas kutukan si Abah, untuk dapat tersenyum kembali.

Sebagai lelaki, pikirannya tidak bisa jauh dari ulekan dan cobek, dari lingga dan yoni. Maka mulai lah ia melamun ditemani rokok ditangan..
Beberapa kaki jenjang melintas, menghentikan lamunannya, kadang yang terlintas lebih nikmat daripada yang terpikir. Sialnya, itu tidak lama, ada pesan masuk, adiknya sudah beres berfoto ria dan ia ingin pulang.

Gusar, namun tidak berdaya, ia katakan bahwa ia menunggu di lobi.
Ia belum sempat tersenyum sama sekali...
Dalam perjalanan pulang saat jalanan sudah gelap, adiknya terus mengoceh tentang banyak hal, terutama tentang film horor yang baru ia tonton. Jaka hanya sekilas menanggapi, ia tidak suka film hantu, tidak logis dan rasional.

Meskipun itu hanya topeng bagi dirinya yang penakut.
"Ngapain sih nonton film yang ga masuk akal gitu Tri" rasa takut itu mulai mengusik Jaka
"Eh biarin A, rame tahu" sanggah adiknya.

Seakan belum puas mengerjai kakaknya yang mulai pucat, ia melanjutkan dengan sesuatu yang lebih mengganggu..
"Tau gak A, foto yang waktu aku ke Jogja itu katanya ada yang ikut loh" Lastri semakin menyebalkan.

Jaka berusaha untuk tidak mendengar, ia tidak ingin adiknya terbahak melihat ia terkencing-kencing ketakutan..
Matanya fokus kedepan namun telinganya seolah membesar penasaran.

"Katanya ada nenek di kaca hotel, temen aku tadi ngeliatin fotonya.. Hiiii"
Kata-kata itu cukup membuat Jaka menelan ludah dan bergidik ngeri.
Menurut mitos yang dibuang jauh dari kepala Jaka, membicarakan mereka yang tidak kasat mata adalah ritual pemanggilan mereka.

Entah itu benar atau tidak, namun ada bau amis dan busuk yang mulai menusuk. Jaka tidak mengacuhkan itu sampai bau itu tercium semakin kuat...
"Kamu nyium itu ga Tri?" Ia mencoba bertanya kepada adiknya, berharap adiknya pun mencium aroma itu pula.

"Enggak A, kenapa gitu? Tumben bisa nakut-nakutin" balas Lastri menyebalkan.
Keringat dingin mulai muncul sebesar biji jeruk di dahi Jaka dan menarik perhatian adiknya "A, kenapa? Aa ketakutan ya hihihi"

Saat hendak membalas dengan gusar itulah ia melihat kebelakang, ada sesosok yang jauh dari diharapkan..
Tubuhnya kecil dan mungil, tidak lebih besar dari bayi merah. Namun ia sangat terlalu tua untuk dibilang bayi, ia sudah sangat berkeriput dan peot, bagai tukang berbalut kulit, kulitnya hitam legam, berambut putih acak-acakan, ia berdiri ditengah kursi belakang tersenyum lebar..
Mata Jaka terpaku melihatnya dari kaca tengah dan ia balik melirik dengan mata merah menyalanya.. Tajam.

Memedi itu terlalu gila untuk pikirannya yang sudah setengah sinting sejak bertemu Abah tadi.

Dan.. "AWAAAASS A!!!"
CKIIIIIIIIIIT

Suara rem diinjak sekuat tenaga menjerit keras, masih untung tidak sampai menabrak truk didepan, ada beberapa sentimeter sebagai pemisah.
"AA KENAPA SIH ??!! NYETIRNYA FOKUS DONG!!!"

Teriakan Lastri terdengar kerasndan jelas, cukup untuk mengembalikan seperempat kewarasan Jaka.

"Iya Tri, maaf ya maaf"
Mereka melanjutkan perjalanan dalam sunyi, kata entah mengapa begitu sulit terucap. Namun, nenek dibelakang masih setia disana, sesekali menjulurkan lidahnya yang serupa ular. Jaka merinding hebat menahan takut sementara Lastri jelas tidak menyadari apa yang ikut bersama mereka.
Semakin diabaikan semakin hebat ia menggoda

"Cuuu, liat kebelakang cuu..." Suara lirih itu terdengar begitu mengganggu. Jaka membaca doa sambil bergetar, berharap ia segera pergi, atau bila ini hanya mimpi, maka cepatlah ia terbangun..
"Cuu, lihat kebelakang cuu. ."

Tidak cukup sampai disitu, kali ini samar terlihat dua sosok lain, sesosok perempuan cantik namun pucat dan seseorang yang menggunakan ponco hitam, jelaslah mereka bukan manusia.
Takut yang amat sangat membuat wajah Jaka bersimbah keringat seperti ia telah berlari sejauh belasan kilometer. Lastri berkali-kali memanggil kakaknya namun sama sekali terdengar oleh Jaka yang mulai menangis.
Cerita Abah mungkin hanya bualan dimasa lalu, tapi sangat NYATA sekarang!!!
Pandangan Jaka mulai buram oleh air mata dan perih oleh keringat, namun telinganya masih cukup jelas mendengar, bukan suara adiknya, namun suara lainnya. Suara desahan yang semakin lama semakin keras, suara lingga bertemu yoni.

Mereka melakukan itu dibelakang!!!
Semakin lama suara dua insan gaib itu semakin keras terdengar diiringi bau amis yang semakin menyengat, memberi sedikit ruang untuk udara segar. Sementara itu, sang nenek ikut tertawa cekikikan dengan mata merah menyala dan lidah terjulur menikmati ritual panas di kursi belakang.
Jaka tidak peduli itu, akalnya habis terkuras rasa takut dan kebutuhan untuk memperhatikan jalan yang terasa semakin buram. Ia mulai bingung apakah harus lebih takut mati kecelakaan atau hidup terpasung teror seperti ini.

Kewarasannya mencapai titik nadir.
Perjalanan sebentar lagi berakhir dan ada harap agar teror pun segera berakhir.

Betapa bersyukurnya Jaka manakala sampai di rumah, tinggal memarkirkan mobil laknat itu. Adiknya membuka pagar dan segera masuk ke rumah, ia tidak sabar untuk segera bergunjing tentang kakaknya.
Namun, didalam mobil, suara itu masih terdengar jelas dan panas membara, tidak kalah dengan gambar bergerak di laptop Jaka. Sintingnya, rasa takut Jaka menjadi banal sementara nafsunya mulai binal. Ganjil seganjil-ganjilnya, namun perlahan ia malah menikmati suara itu

Sampai..
Gelora puncak itu tiba dan lenguhan berubah menjadi teriakan.

BYAAAR!!!

Namun bukan air kehidupan yang terpancar, melainkan cairan kematian merah kehitaman. Tubuh pria berponco itu hancur menjadi seperti potongan daging tengkleng lengkap dengan jeroan dan kepalanya.
Dengan susah payah, mobil itu terparkir dengan sempurna, menyisakan sedikit jarak antara si putih dan mobil ayahnya.

Jaka melompat keluar, terhuyung menahan gejolak diperutnya. Dicarinya selokan depan rumah dan muntahlah ia sejadi-jadinya, sepuas-puasnya.
Ia bergidik ngeri ketika melewati mobil putih itu. Sekilas ia melihat kursi belakang mobil itu, tidak ada siapa-siapa disana. Semua kosong..

Mobilnya yang terkutuk atau pikirannya yang sudah tidak waras.. entahlah
Terhuyung ia masuk rumah yang juga mulai terasa ganjil, seolah ia hidup dalam ilusi.

Kakinya menjejak lantai namun ia merasa melayang. Tidak dihiraukannya seluruh tanya keluarganya dan melangkah ke kamarnya di atas, hanya tiga patah kata yang terucap "tidak enak badan"
Malam itu ia segera membersihkan diri, tidak terasa kotorannya ikut keluar menembus kolor saking takutnya. Selepas itu ia memaksakan sholat yang entah kapan terakhir ia lakukan.

Itu pun terpaksa diulang tiga kali aking takutnya...

Hanya satu pintanya, semuanya cepat selesai
Dengan segepok doa ia bersiap tidur, setengah berharap itu akan membuatnya terbangun dari mimpi yang teramat gila ini. Ia mencoba melawan takut dan setengah bersumpah

"Bila kejadian dimobil akan menjadi mimpiku, aku akan menikmatinya dengan amat sangat"
Memang benar ia bermimpi lagi malam itu, namun bukan tentang apa yang ia persiapkan.

Entah lebih baik atau lebih buruk, atau mungkin keduanya..
Ia berada dalam sebuah arena yang asing dan bising oleh deru mesin mobil. Saking bisingnya sampai telinganya terpekak.

Seketika ia berada dibalik kemudi mobilnya, membelok dengan cekatan menghindari terjangan mobil lain yang kemudian mencium tembok.
Di ujung jalan sekelompok orang bersorak sorai menyambut dirinya. Sungguh Jaka tidak mengerti dimana ia, atau lebih tepatnya siapa ia saat ini. Namun ia mengikuti saja, ini terasa sangat jauh lebih baik, ya ribuan kali lebih baik dari hidupnya..
Ia disambut layaknya pahlawan oleh sekelompok anak muda berpakaian tahun 1990an. Samar Jaka tahu ini mimpi, namun persetan dengan itu, hidupnya terasa lebih buruk dari neraka. Ia pun ikut bersorak akrab meskipun tidak tahu siapa mereka.
"Wah hebat lo, si Juned ampe nyium tembok?"
"Gue, gitu hahaha"

Entah mengapa ia merasa senang sekali saat itu, semua terasa nyata dan jelas jauh lebih baik dari sebelumnya. Akhirnya sampai di surga.
Seorang gadis berparas cantik dan bertumbuh molek datang mendekat, ia menggunakan celana jeans pedek dan atasan you can see di malam yang dingin. Ganjil namun menggairahkan. Ia tetiba mencium bibir Jaka yang terbuka karena terpana.

"Woi sabar, neng, kita minum dulu!!"
Teriak beberapa orang yang tampaknya sahabat-sahabatnya di kehidupan yang lain ini. Mereka pun berpesta pora dengan liar malam itu. Entah berapa botol minuman aneka golongan yang mereka tegak sambil tertawa liar.
Sekilas terbersit dalam pikiran Jaka bahwa ini serupa dengan cerita Abah yang tidak beliau lanjutkan.

Namun ini terlalu menyenangkan untuk dilewatkan, dan ia terlarut dalam nafsunya yang memburu begitu dahsyat.
Perlahan mereka mulai terkapar, beberapa seperti tewas dan tertidur diatas aspal, beberapa berjalan sempoyongan lalu terjatuh, sementara beberapa lainnya tampak mengoceh tidak jelas serupa mereka yang mengigau karena demam.
Jaka sendiri sudah pening, dunia terasa mulai berputar semakin indah saja, ia berharap tidak akan pernah terbangun. Gadis itu masih disitu melihat Jaka dan tersenyum manja, ia memang tidak banyak minum.

"Ayo kita pulang say.." bisiknya lembut.
Jaka terlalu mabuk untuk menolak.
"Biar aku aja yang nyetir, kamu istirahat aja ya.."

Ia mengambil kendali, sementara Jaka di kursi penumpang. Mobil itu berjalan lambat meninggalkan tempat itu, beberapa orang memberikan lambaian tangan setengah sadar. Begitu juga dengan balasan Jaka dengan setengah pingsan.
Malam itu terasa panas, meskipun sebelumnya terasa dingin. Setengah sadar Jaka menggeliat dan samar terlihat ia berada di sebuah jalan bebas hambatan dan terasa ada yang berusaha melepaskan hambatan di bagian bawah tubuhnya.

Gadis itu memegangi miliknya dikecepatan tinggi!!
Sama sinting dan goblognya, Jaka melakukan hal yang sama pada si gadis tanpa nama. Mereka terus melakukan itu, terlarut dalam gelora memanggil maut.

Sampai mobil menepi mendadak di bahu jalan yang sepi...
Mereka berpagut erat dalam birahi, menyiapkan alu dan lesung untuk menumbuk benih kehidupan yang mungkin tidak mereka harapkan. Mereka kepanasan dan mulai saling membuka penutup.

Mereka bersiap dan...

BRUAAAGGGHH!!!
Sebuah truk kontainer menghantam bagian kiri mobil itu hingga ringsek kedalam. Jaka pingsan seketika..

Semua menjadi begitu gelap. Mungkin mimpi indah itu berakhir tragis.. Tak mengapa setidaknya tidak ada teror.

Perlahan Jaka membuka mata, namun semua belum berakhir..
Ia masih dalam mobil itu, demikian juga dengan gadis itu. Ia telah siap menindih tubuh Jaka untuk sebuah waktu bersama yang seharusnya indah, namun kini berubah menjadi teror yang teramat edan bagi Jaka...
Ia mendekat tidak dengan tubuh molek nan mulusnya, namun dengan tubuh yang setengah hancur. Ia hendak mencium Jaka dengan mulut hancur dan terus mengeluarkan darah. Perut Jaka dan perutnya seharusnya bersentuhan ketika mereka berpelukan, namun kink terhalang usus yang teburai...
"AAAARRRRGHHH"

Sekeras tenaga Jaka berteriak berusaha terbangun atau setidaknya terlepas dari gadis itu. Namun gadis itu menyumpal bibir Jaka dengan mulutnya yang hancur dan amis darah...

"Ayo say, kita lanjutkan sampai mati" bisiknya lirih...
Jaka berteriak kian kencang, melawan kian keras, begitu pula bagian
bawah tubuhnya. Semua diluar batas kewarasan, bukan, bahkan diluar fantasi terliarnya..

Tubuhnya tidak lagi menuruti kehendaknya, gadis itu begitu mengerikan pikirnya, namun tubuhnya berpendapat sebaliknya.
Gadis itu menatapnya lekat dengan mata yang hampir melompat, Jaka menutup mata erat. Air matanya mengalir, serupa kewarasannya yang meleleh keluar.

Lalu, cairan kehidupan itu memancar sempurna dengan seganjil-ganjilnya. Perlahan Jaka merasa lemas, semua mendadak senyap..
Pagi itu ia terbangun dan membuka mata perlahan, takut gadis itu masih rebahan diatas badannya. Ia telah sirna, Jaka kembali kekamarnya di hari senin pagi yang cerah. Celananya basah dan begitu pula kedua matanya..
Kali ini ia terbangun tanpa teror didekatnya, namun rasa bersalah atas kenikmatan abnormal tadi malam terasa sangat mengganggu.

Sebegitu bejatkah ia sehingga mampu bercinta dengan seorang gadis serupa mayat?
Ia berjalan guyah lemah selangkah dua langkah, menatap lekat pantulan cermin merangkap pintu lemari.
Mengapa semua terasa semakin berbeda, semakin jauh dari yang pernah terasa.

Atau malah ia yang semakin menjauh..
Dahulu sekali ia berpikir alangkah sintingnya orang yang bunuh diri demi apapun. Kini, saat akal budinya terkikis habis, ia justru memikirkan itu dengan seksama. Namun ragu mulai membayangi, bukankah terlalu pagi untuk berakhir?
Namanya dipanggil adiknya yang pamit sekolah, membuyarkan lamunannya tentang mati. Sekilas mengingatkan bahwa juga harus bergegas. Ah persetan dengan itu, ia terlalu lelah dengan badannya yang hina.

Mana ada bangku kuliah menerima seorang yang nalarnya sudah buyar sepertinya.
Ia berjalan gontai menuruni tangga, mengambil segelas air tanpa suara. Ibunya memecah sunyi dipagi hari.

"Teu kuliah Ka?"
(Tidak kuliah Ka?)
"Alim ah, hoream"
(Gak mau ah, malas)

Tidak pelak untaian nasihat yang mengancam terdengar keras memekakkan..
Entah bodoh atau tolol, mungkin keduanya, Jaka bergegas bersiap. Untuk orang sepenakut dan sepengecut Jaka, hal tersebut lumrah saja. Namun bukankah ia telah mati atai berniat begitu tadi.

Tidak jadi soal sebetulnya bila ia tidak pergi, mana ada orang gila takut diancam emak?!
Anomali serupa mimpi yang berputar, sekeriting rambut gimbal nan kusut, itulah Jaka. Segera ia menuruni tangga bersiap berangkat, tapi, tunggu dulu. Apakah ia harus menaiki mobil laknat itu lagi?
Maneh mah ngerakeun, lalaki borangan kitu, maenya eleh ku si Lastri!?"
(Kamu ini memalukan, laki-laki masa penakut begitu, masa kalah sama Lastri!?)

Sekali lagi rasa takut Jaka masih jumawa atas kesintingannya dan ia pun mengalah.
Di perjalanan semua terasa hambar. Namun tidak dengan amuk pikiran Jaka dengan seribu bimbang dan ragu.

"Bagaimana bila aku mati hari ini?"
"Bagaimana caranya?"
"nyatakah ini?"

Ribuan pertanyaan absurd terlintas di benak Jaka layaknya melintas jalanan padat senin pagi.
Sekelebat pikiran itu datang kembali menghantui, hangat menyapa dirinya yang terasa memudar.

"Ini seperti bukan aku!"
Hari itu kampus terlihat begitu ramai, sampai trotoar depan kampus pun menjadi senyaman kafe. Lain dengan di dalam kelas, hanya sekitar 15 kepala yang tampak. Beruntung, dosen didepan bukan seorang yang galak, beliau jarang menyalak membangunkan mata mahasiswa yang semakin berat.
Kelas itu dihabiskan Jaka dengan melamun, seperti lazimnya mereka yang tidak waras. Samar ia merasa, mungkin ini terakhir kalinya ia duduk disini, sebelum mati atau ditendang karena sinting.

Mungkin ini kali terakhirnya ia merasakan kampus keramaian kampus ini.
Tidak seorang pun menyapa Jaka hari itu, semua merasa asing padanya, seperti ia merasa asing dengan dirinya. Di kantin, seorang kawan melambaikan tangan, sapaan pertama untuknya hari ini.

Tidak lama, kawan lainnya datang, mengepulkan aroma tembakau ke udara kantin yang pengap.
"Lo kenapa bro? Murung amat hari ini!"
"Iya, poek maneh lur, keur aya masalah?"
(Iya, lo keliatan gelap banget bro, lagi ada masalah?)

Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menghibur, setidaknya ada yang masih melihat keberadaannya.
Ia memutuskan untuk mengelak dengan seribu dalih, itu lebih baik daripada terdiam seribu bahasa yang tentu mengundang ribuan tanya lainnya.

Ia bercerita kejadian sabtu lalu tanpa merinci kejadian horor setelahnya. Cukup untuk menghentikan tanya dan mengundang simpati.
"Udahlah bro, namanya juga mobil tua, maklum banyak masalahnya" hibur mereka.

"Daripada lo sedih terus, ntar kita maen yu, tempat biasa, stay dulu aja di kosan gw" lanjut dia yang bernama Dodo itu.

Jaka tahu kemana arah obrolan, merasa ragu sebelum mengiyakan dengan lugunya.
Pukul satu siang sampai setengah empat bukan waktu yang tepat untuk belajar. Beberapa mahasiswa terantuk kantuk, tertunduk, dan tertidur. Kalau bukan karena absen, mereka akan terkapar bebas di kasur mereka masing-masing.
Namun, tepat pukul tiga kurang lima mereka terpaksa terbangun dari tidur dan lamunan mereka, ruangan di lantai tiga itu berguncang hebat, seketika menghentikan perkuliahan hari itu. Mereka bubar lebih cepat.

Istigar dan Alhamdulillah bergema seantero kampus
Jaka, Dodo, Ruli, Boni, dan Lilo langsung menyerbu kostan Dodo yang berhalaman luas. Mereka berkumpul di kamar Dodo sekedar untuk rebahan, menonton, dan bermain games.

Jaka memutuskan untuk terlelap. Kali ini hitam pekat, tanpa mimpi.
Hari sudah menjelang gelap ketika Jaka bangun, beberapa temannya masih asik tertidur, sementara lainnya asik dengan laptop Dodo, memilih file untuk dikopi. Bukan file kuliah yang rumit, hanya video dengan dua tiga dialog kaya makna.

Jaka tentu sudah tidak tertarik dengan itu.
Hari sudah gelap sempurna mereka bersiap pergi mengganjal perut seadanya untuk mencari minuman penutup semewahnya. Jaka tidak bernafsu untuk bersantap, rasa takut itu hadir kembali seiring hari yang semakin pekat.

Ia merasa merinding, meski tidak ada hantu terlihat disana..
Tujuan utama mereka sudah terlihat, saatnya buka meja dan hilangkan duka dan gundah. Bila beruntung, mereka bisa mendapat hadiah yang bergairah. Tentu, Jaka tidak lagi berminat dengan itu, rasanya mati setelah kemarin malam.

Samar suara ganjil terdengar menjelang sampai.
Sebelum masuk, sekelebar rasa takut itu datang dengan amat sangat. Semilir angin malam terasa amat dingin menusuk, membuat seluruh bulu ditubuhnya berdiri. Apakah akhir telah dekat?

Jaka bergumam, "bila aku mati hari ini, maka aku bisa menyumbang tali pocongku".
Mereka minum sangat banyak, dan sangat banyak pula yang diceritakan. Kisah asmara, keluarga, kuliah, masa depan, dan lainnya sebagaimana kayaknya mahasiswa tingkat tengah yang mulai kehilangan arah.

Jaka lebih banyak diam menikmati minuman yang entah mengapa terasa hambar.
Waktu menjelang tengah malam, teman-teman Jaka masih sibuk Melantur dengan ngawur. Mereka mulai mabuk. Berbeda dengan Jaka, meskipun ia banyak minum, ia tidak merasakan pening sama sekali.

Semua mulai terasa sangat berbeda dan Jaka kian takut.
Padahal ia ingin mabuk dan lari dari kegilaannya, membuka ruang ketidakwarasan lainnya. Namun jelas, itu tidak tercapai malam ini.

Sebaliknya, rasa takut menyeruak kian kuat, kian nyata tanpa menunggu alasan
Berlarilah ia ke toilet, ia tidak hendak membuang apapun kecuali dirinya ke lobang bau itu. Ia berdiri mematung didepan cermin, persis seperti tadi pagi, semakin berbeda dari yang seharusnya..

Dibasuhnya wajahnya tiga kali, berharap ia dapat mengenal wajahnya kembali...
Namun bayangan di cermin enggan berbohong, ia semakin kalap dan mencoba memecahkan cermin sebelum...

Cekrek...

Pintu toilet itu terbuka, seorang pemuda dengan pakaian yang persis sama hendak masuk kedalam.
Jaka melihatnya seksama dalam kaget dan kalut. Pakaian pemuda itu persis sama, namun wajahnya tentu berbeda. Anehnya, Jaka merasa itu adalah wajahnya...

Ia merasa semua semakin terlalu gila bahkan untuk sebuah mimpi.
Ia segera berlari keluar, menabrak pemuda itu yang terbengong keheranan. Ia segera menuju mejanya dan mengambil barang-barangnya di meja. Tekadnya sudah bulat, ia harus pergi, ia tidak bisa mati disini.

Sementara pemuda itu keluar dari toilet, temannya memanggil "Ge".
Teman-teman Jaka menahan, berharap ia tinggal lebih lama, sampai beberapa saat lagi, mereka belum mendapatkan mangsa satupun. Ah persetan dengan itu semua pikir Jaka.

Baru beberapa langkah pergi ia ditabrak oleh seorang gadis berparas cantik, ia tersenyum manja...
Ah peduli iblis dengan itu, ia hanya membalas sekilas dan tergesa keluar. Diluar hujan turun dengan begitu derasnya, namun kali ini ia benar-benar tidak peduli. Diterabasnya hujan itu dan sampailah di dekat mobilnya..

Namun, seseorang menepuk punggungnya mengagetkan...
Jaka terpekik, namun merasakan secuil kelegaan ketika melihat orang tersebut. Ia adalah satpam tempat itu datang dengan ponco hijau, ia berteriak karena derasnya hujan..

"AA, KNALPOTNYA PUTUS!!"
"Ah sial, itulah sebab suara ganjil itu rupanya" gumam Jaka.
Dimasukkannya knalpot itu kedalam bagasi sembari bergumam "biar nanti pemilik selanjutnya yang menyambungkan kembali knalpot itu".

Entah karena obsesinya atau mendapat pencerahan, Jaka merasa yakin bahwa semua akan berakhir sebelum fajar pertama menyingsing.
Jaka mematikan telefonnya sebelum berangkat, terlalu banyak panggilan tidak terjawab dari orang-orang yang menganggapnya kini semakin terasing. Di terabasnya hujan deras itu dengan tatapan kosong sekosong jalanan malam itu.

Ia sudah sinting dan setengah bernyawa..
Menyetir menembus lebatnya hujan bukan perkara mudah seharusnya, namun kali ini Jaka bisa melakukan itu tanpa kata sulit. Namun, hal itu tidak membuat Jaka menjadi bangga, ia merasa semakin aneh dengan dirinya juga dunianya..

Ini serupa mimpi...
Jaka menganggap perjalanan ini serupa ode untuk kematiannya, maka sungguh tidak semudah itu membangkitkan maut.

Dibelakang nenek laknat itu memanggil perlahan, namun bahkan demit pun terkejut dengan jawaban Jaka

"Maaf nek, Anda hanya secuil takutku, dan air mataku telah habis"
Penasaran, si nenek itu memanggil dua peliharaannya dengan bentuk terliarnya. Namun Jaka tidak bergeming. Nenek itu pindah ke depan dan menakuti Jaka dengan lidah ular yang menjulur panjang. Jaka menghela nafas dan berkata

"Mangga duduk nek, tapi jangan ganggu dulu, sabar"
Gusar, nenek itu merubah rupa menjadi gadis bertubuh hancur dalam mimpi Jaka kemarin. Mungkin ini berhasil, bukankah badan yang hancur jauh lebih menggairahkan dari pada tubuh yang molek bagi Jaka?

Dan ia mulai menggodai Jaka sekali lagi..
Kali ini insting purba amoral Jaka bangkit sedikit. Dua lelembut dibelakang pun melakukan ritual itu agar lebih semarak. Nenek itu, atau tepatnya kini gadis itu melakukan itu dengan ususnya yang terburai. Hal itu memang edan namun toh cukup memuaskan, hingga..

BRAAKKK
Mobil itu menghantam pohon yang terpasung di trotoar. Namun Jaka melanjutkan perjalanan sembari menyingkirkan usus busuk itu dari tubuhnya tanpa merasa takut, ataupun jijik dan risih.

Mimpi ini semakin melebihi gila, EDAN!!
Tujuan Jaka malam itu adalah rumah, bukan untuk pulang, namun untuk mengembalikan mobil terkutuk itu kepada sang pemberi. Urusan kemudian bukanlah urusan dirinyanya yang akan mati.. Entah bagaimana caranya..
Saat itulah sisa kewarasannya berbicara, bukan hal yang bijak menurut awam, namun cukup rasional dan terkejar nalar...

Kematian seperti apa yang tidak menyakitkan?
Ia tidak punya pistol di rumah, hanya ada pisau di dapur. Namun, harakiri tampaknya terlalu menyakitkan..
Seiring dengan itu munculah pertanyaan yang menghapus jejak kewarasan dalam dirinya

Bila kamu tidak takut mati, maka apakah kamu akan menikmati prosesnya?
Pertanyaan itu membuat Jaka benar-benar bergidik, menghadirkan takut melebihi apapun yang pernah ia alami. Bagaimana bila hanya ada sakit tanpa kematian?

Serupa neraka bagi si pendosa, tersiksa sakit, namun tidak diampuni dengan kematian...
Sungguh saat itu, terlintas dalam benak ya untuk menabrakkan mobil itu hingga meledak agar tubuhnya bisa hancur seketika. Sayang, gagasan itu datang sangat terlambat ia sudah berada didepan rumahnya..
Mobil itu berhenti dan Jaka turun dari mobilnya untuk membuka gerbang, namun ia lebih penasaran pada sisa knalpot di bagasi. Di bukanya bagasi itu dan semua terasa ganjil...
Benaknya menerawang jauh melintas ruang dan waktu dalam dimensi berlapis, menyusuri setiap kemungkinan yang mungkin dan seharusnya terjadi.

Seribu tanya menyeruak kembali, dan benak Jaka tiba-tiba sangat hirau kembali akan hal itu..
Bagaimana bila ia memang bukan Jaka? dan bagaimana bila semua ini memang mimpi sesungguhnya? Apakah benar ia memiliki adik bernama Lastri? ...

dan sisa sembilan ratus sembilan tujuh tanya lainnya muncul meramaikan kepala Jaka yang telah kosong...
Seketika semua terbalik..

Kematian Jaka bisa saja pembuka dari berbagai tragedi setelahnya, menyebabkan kehancuran keluarga pembeli selanjutnya, tempat kematian bagi si pemuda bengal, dan menghancurkan keluarga pasangan muda setekanhnya sebelum kembali lagi ketitik awal...
Saat itulah mobil yang sebelumnya terparkir dengan kondisi terkuci rem tangan mulai bergerak mundur, menabrak tubuh Jaka dan menyeretnya hingga hampir seratus meter sebelum

BRUAGGHH!!!

Kraaakkm!!!
Kretakkkk!!!
Mobil itu kini telah berhenti sempurna setelah sebelumnya menyeret tubuh Jaka dan menghantamkannya ke tebok rumah kosong dekat rumahnya. Rusuknya hancur, serpihannya menusuk organ-organ dalam pemuda itu sedalam-dalamnya..

Namun ia belum mati...
Rasa sakit itu datang menyiksa, serupa neraka yang datang terlalu cepat. Nyeri bercampur sesak, perih, dan mual datang begitu hebatnya. Is mengejang namun, rasa itu enggan pergi, merangkul kian erat memutus setiap urat dalam tubuhnya...
Kepalanya mulai terasa sakit dan berputar makin cepat, tubuhnya laksana ditusuk ribuan jarum menemani nyeri dan sesak yang terlewat edan. Tubuh sekaratnya berharap udara masuk, namun nafasnya tercekat, paru-paru nya yang bocor tidak mau mengembang...
Lobang-lobang ditubuhnya mulai mengeluarkan darah, ia terbatuk memuntahkan darah yang juga ikut keluar lewat hidung..

Ia terlalu lemah untuk berteriak dan tentu tidak ada yang mendengar ditengah hujan lebat.
Ditengah sakit yang teramat hebat, nenek itu datang kembali, kali ini tertawa riang menjulurkan lidahnya kesana kemari.
Namun pandangan Jaka terlalu kabur untuk melihatnya..

Sungguh ia tidak peduli lagi dengan itu semua
Ia hanya meminta kematian...
Mobil itu beratnya lebih dari seribu kilogram, kian lama sudah tentu makin menekan setiap patahan rusuk Jaka mengoyak tubuhnya dari dalam. Saat setiap urat tubuhnya kian terputus, ode kematian terdengar kian nyaring.

Namun mengapa ia datang sebegitu terlambat...
Ia memohon tiga kali kepada Tuhannya untuk dianugrahkan kematian, namun baru didoanya yang ketiga semua menjadi gelap

Bila siksa menunggu kematian yang hebat ini kehendakMu, maka aku pasrah menunggu hingga Kau mencabutnya untukku...
Harapan terakhir untuk pembebasan dari derita dan dunia...
Hari itu ia terbangun pagi-pagi mendengar teriakan ayahnya.

"KAA..JAKAAA!! Kahandap heula" (KAA.. JAKAAA!! kebawah dulu)
Setengah sadar ia menuruni tangga, berharap bahwa ia tidak terjatuh saat menuruninya. Mimpi buruknya membuat ia bergidik. Dilindas mobil berwarna putih.

Tunggu dulu, bukankah ia seharusnya sudah mati dinihari tadi???
Ia melongok ke bawah lewat celah tangga dan dilihatnya pemandangan yang sama seperti awal bertemu dengan mobil itu..

Namun, ia paksakan dengan untuk turun dan menyapa pria yang telah ia kenal itu dan berujar..
"Maaf Pa, saya tidak tertarik dengan mobil Bapa, sebaiknya dirukyah dulu saja oleh seorang bernama Abah"

"Maaf A, ini ada titipan...."

Ia diberi sebuah kepala domba berukuran kecil dan sepucuk surat...
"Kamu tidak pernah punya adik bernama Lastri,
Tidak pernah punya paman pedagang mobil bekas, tidak pernah bertemu Abah, dan kamu bukan sama sekali bukan Jaka"

"Semua tidak pernah terjadi demikian"

Sekali lagi semua berputar dan menjadi gelap.....
___________________________
EPILOG

Langit masih setengah terang ketika ia terbangun. Bermandi peluh dan nafas memburu. Ia tersenyum mengenang apa yang terjadi di masa lalu.

Mobil itu memang selalu merepotkan, semuanya diluar nalar terliar, mengundang bala untuk mendekat, memikat untuk terikat..
Refleksi kejadian dimasa lalu masih terasa mencekam, meski ia telah berhasil lari menjauh dari bala yang seharusnya terjadi..

Namun...

Sepotong kisah itu masih tersisa dalam benak terdalam, menyeruak kapan saja seperti tadi malam, dan memanggil dirinya yang lain...
Ia berjalan mantap ke balkon da menengok jalanan yang masih sepi. Ditatapnya tempat mobil itu hampir menyeretnya kepada kematian bertahun-tahun lalu.

Terpisah sekian sentimeter dari kematian jelas suatu hal yang patut disukuri meski meniggalkan bekas yang tak kunjung hilang.
Dihisapnya dalam rokok yang baru menyala itu menikmati syukur yang begitu dalam.

Terhenyak sekejap dan dilihatlah sebuah pesan dilayar telepon genggam

"Ge sayang, jangan lupa ya nanti siang bantuin angkut barang Mbah.."

PAMUNGKAS
CATATAN AKHIR

Terima kasih kepada semua yang telah membaca utas percobaan ini dari awal sampai. Seperti yang dijelaskan diawal, utas ini memang sedari awal untuk disajikan dengan absurd karena gw memang mencoba hal yang demikian..
Adapun untuk ending, memang sedari awal telah diplot demikian. Utas ini memadukan pengalaman mobil jahanam itu, mimpi bertumpuk, dan gangguan psikologis akibat trauma di masa lalu..
Adapun mengapa gw lebih seneng fokus sama teror psikologis buat tokoh utama karena memang itu buat gua pribadi lebih menyeramkan dari pada demit maupun mobil itu..

Dan tanpa perlu bisa melihat yang gaib pun semua bisa saja terkena hal itu..
Kalau ada yang penasaran tentang mobil itu, secara garis besar memang apa yang diceritakan adalah apa yang terjadi minus mimpi dan dongeng yang menggambarkan alam bawah sadar..
Bahkan lebih banyak lagi daripada yang diceritakan hehe.

1. Istri yang punya bengkel kecelakaan,

2. Langganan yang halus termasuk si nenek,

3. Nabrak yang punya sebelum masuk garasi, padahal kondisi rem baik, beneran terpisah cm sama mati

4. Oli power steering tiba2 bocor
5. Setingan karburator tiba-tiba ngaco
(Distarter langsung 5000-6000 rpm)

6. Dan lain sebagainya...
Sampai beberapa tahun lalu mobil itu masih sering terlihat, tapi sudah tidak terlihat sekarang.

Semoga tidak mendatangkan celaka saja buat punya selanjutnya.

Akhir kata gw minta maaf untuk segala kekurangan dan hal-hal yang tidak berkenan dari utas ini.
Terima kasih banyak atas segala perhatian dan dukungannya. Untuk setiap komentar, likes, follow, dan retweetnya.. itu sangat berarti sekali

Hatur nuhun

Gw pamit,
Wassalammualaikum... 🙏🙏🙏

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Jf89

Jf89 Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @jakejf89

Nov 25, 2019
SETELAH PESTA

Kali ini gw akan bercerita tentang sebuah Pentas Seni (Pensi) yang membawa petaka setelahnya. Cerita ini berangkat dari kejadian nyata lebih dari 10 tahun yang lalu. Nama dan tempat disamarkan.

@bacahorror @ceritaht
#bacahorror #threadhorror Image
Karena kejadiannya sudah lama, jadi gw perlu waktu untuk mengingat kembali kejadian itu, mencari info tambahan ke narasumber lain tentang detail kejadian ini dan juga latar umum tempat dan waktu.
Gw minta maaf kalau utas ini diupdate perlahan, minggu ini kebetulan gw sedang banyak pekerjaan..

Seperti biasa jangan lupa baca doa sebelum membaca. Mereka mungkin ikut hadir juga..
Read 436 tweets
Nov 3, 2019
Bismillahirrahmanirrahim

Seluruh tokoh dan tempat disamarkan. Gw mohon banget untuk yg "ngeh" untuk tidak membocorkan demi kebaikan bersama. Hatur Nuhun.

TIDAK ADA KAITAN dg yg akan keluar ya.

Dan jangan lupa berdoa karena mereka hadir dalam cerita.

Kamu jangan nakal ya..
PROLOGUE
Perjumpaan Ge dengan keluarga Jansen saat meninggalnya Mbah telah membuka tabir Setiap melewati jalanan di kotanya. Para penghuni bangunan tua menampakkan diri kepadanya. Entah itu suara, sosok, maulun bau yg muncul tidak seharusnya.
Read 217 tweets
Oct 27, 2019
WARISAN KELAM MASA LALU

Bismillahirrahmnirrahim

Semoga kalian diberikan ketenangan.
Terima kasih atas pelajaran yg kalian berikan

@bacahorror, @ceritaht, #bacahorror, #ceritaht
***PROLOGUE***

Masa awal kemerdekaan Indonesia tidak disambut suka cita oleh seluruh penduduk Nusantara. Warga sipil dari Belanda justru mengalami terror yang luar biasa sebagai balasan atas apa yg dilakukan nenek moyang mereka.
Penjarahan, perampasan, penculikan, pemerkosaan dan pembunuhan merupakan hal yg lumrah terjadi masa itu oleh mereka, para pejuang radikal. Entah berapa puluh ribu korban baik dari orang Belanda maupun mereka yang dianggap anti republik
Read 150 tweets
Oct 24, 2019
Mereka yang Hadir dalam Cerita
@bacahorror #bacahorror #threadhorror @ceritaht

Mohon maaf sebelumnya bila berantakan, maklum, ini utas pertama saya. Mohon maaf juga utas ini juga tidak berisi cerita horor seperti kebanyakan. Hanya paparan personal tentang apa yang terjadi saat cerita2 horor dibacakan.
Sepertinya penulis yang perlu minta izin pemilik cerita, baik yang tampak atau tidak sepertinya sudah jadi kewajiban sebelum cerita dimulai.

Saya yakin banyak dari kita sudah paham betul tentang hal itu.
Read 15 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(