Tumbal Janin

Seorang gadis yang rela menikah dengan sahabat sang ayah, demi baktinya untuk membayar hutang ayahnya, hingga ia harus rela kehilangan janin yang belum sempat dilahirkannya untuk dijadikan tumbal.

A thread

@bacahorror #bacahorror
Malam ini dengan jengkel tapi pasrah aku menuruti keinginan ayah untuk menikah dengan lelaki tua itu, dia sudah beristri dan mempunyai seorang anak lelaki yang sebaya denganku.
Yah ... Aku akan menjadi madu untuk istri pertamanya.
Aku Ani, bulan agustus ini umurku memasuki usia 19 tahun, kulitku kuning langsat, rambut sedikit ikal dan badanku lumayan berisi dengan tinggi yang lumayan semampai, hidungku tak begitu mancung dan ada tahi lalat di sisi kanan nya, kata Ibuku tahi lalat di hidung adalah
tanda keberuntungan.

Namun saat ini aku merasa menjadi wanita paling hina di dunia, bagaimana tidak?
Setengah jam lagi aku akan resmi menjadi nyonya Tomo, lelaki 45 tahun kawan ayahku.

PELAKOR ...
Yah, mungkin itu sebutan yang cocok untukku,
Aku sudah menyiapkan
lahir batinku untuk ini.
Tak peduli apa kata orang, bagiku aku sudah menjadi anak yang baik karna sudah patuh kepada orang tuaku.

====

Nama ayahku Danang, beliau adalah pemabuk berat dan tukang judi, tak ayal hutang kami menumpuk, bahkan rumah yang kami tempati
akan segera disita oleh Bank, oleh karna itu Tomo menawarkan bantuan kepada ayahku, tetapi dengan jalan aku harus menikah dengannya.

Awalnya aku menolak keras, aku pun kabur dengan kekasihku, Ridwan. Ke desa seberang ke rumah kos budenya Ridwan,
Ibu juga membelaku, beliau menutup-nutupi keberadaanku dari Ayah, padahal dia sendiri yang merencanakannya.

Tapi tak butuh waktu lama, hanya empat hari saja aku sudah ditemukan Ayah dan anak buah Tomo, aku berusaha lari dan Ridwan pun menghadang Ayah,
dengan tergesa-gesa aku lari secepat aku bisa. Namun, saat aku menoleh kebelakang, kulihat wajah Ridwan sudah bersimbah darah dipukuli tiga orang lelaki.

Aku mengurungkan niatku dan kembali menghampiri Ridwan yang sudah terkapar di tanah, aku membalik tubuhnya yang tersungkur,
Sambil menangis aku mengusap wajahnya dari tanah yang menempel, tanganku memerah terkena darah.

"Ya Allah Mas, aku gak tego nek sampean koyok ngene" ( Ya Allah Mas, aku gak tega kalo kamu kayak gini)

"Nek awakmu pengen Ridwan selamet, kudune koen nurut karo aku!"
( Kalo kamu pingin Ridwan selamat, harusnya kamu nurut sama saya!)
Kata ayah membentakku,

Ridwan menggeleng,
"Aku gak lilo nek awakmu rabi karo wong iku An," ( Aku gak rela kalo kamu nikah sama orang itu An)

Melihat keadaan Ridwan aku pun pasrah dibawa pulang oleh Ayah,
dengan syarat jangan pernah lagi ganggu Ridwan.
Aku meminta anak buah Tomo agar membawa Ridwan ke rumah sakit hingga benar-benar sembuh.

Tatapan Ridwan kala itu membuat hatiku pedih, aku akan meninggalkan lelaki yang kucintai selama dua tahun ini.

====
"Tak dungakno sing apik-apik, Nduk. Meski aku gak ikhlas mugi-mugi uripmu luweh enak karo Tomo" ( Tak doain yang baik-baik, Nak. Meski aku nggak ikhlas moga aja hidupmu lebih enak sama Tomo)
Kata Ibuku sembari membenarkan jilbab putih panjang yang kukenakan,
Aku sudah dirias sedemikian cantik, menggenakan kebaya putih pemberian Tomo, hanya menunggu mempelai pria datang untuk segera melangsungkan akad nikah.

Aku hanya diam menatap kaca rias di depanku, ingin rasanya berontak tapi apa daya, aku juga tak mau orang tuaku susah
terbelit hutang-hutang itu.

.....

"Saya terima nikahnya Ani darwanti binti Danang prasetyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ...."

"SAH??"

"SAH ...."

Semua mengadahkan tangan untuk mengamini do'a dari bapak penghulu,
aku pun melakukannya, meski dalam hati aku menolak untuk mengamininya.

Kulirik wajah lelaki disampingku, ada sedikit kerutan di sebelah matanya, benar saja karna umurnya hampir setengah abad, ingin rasanya kucabik wajahnya, kucongkel paksa bola matanya agar keluar
dan tak lagi melirik gadis-gadis lain untuk dijadikan istri mudanya.

Aku sudah mendengar rumor sebelumnya, bahwa Tomo sudah dua kali menikah, istri yang pertama kabur karena tak kuat hati melihat suaminya menikah lagi. Ini berarti aku adalah istri ketiga baginya.
Lelaki bangsat, pikirku.

Saat melirik Tomo, tak kusangka pandangan mataku juga terarah ke ujung kanan, kulihat istrinya disana menatapku dengan wajah geram.
Kusunggingkan senyuman sinis kearahnya seakan mengejek, kulihat bibirnya mengatup menyiratkan kekesalan darinya.
Setelah menandatangani buku nikah dan sedikit acara ramah tamah semua berakhir.
Acara pernikahan ini memang dibuat sederhana, hanya mengambil inti dari acara sakral yakni akad nikah.

====
Aku diajak memasuki mobil abu-abu di depan rumah, ibu menggeret koper dari dalam, berisikan semua perlengkapanku yang akan dipindah ke rumah Tomo.

Kulihat Ayah tertawa lepas merangkul sahabatnya yang kini menjadi menantunya itu,
Sebal ... memuakkan sekali!
Mbak Fani, istri Tomo. Mengambil alih koper dari tangan Ibuku dan memasukkannya dalam mobil, kulihat cowok yang bersender di mobil memainkan ponselnya, Dika namanya.
Yah ... dia adalah anak Tomo dan Fani, seharusnya aku lebih cocok menikah dengannya,
dibanding dengan tua bangka itu.

Mbak Fani berkali-kali memanggilnya agar membantu memasukkan keperluanku, tapi dia cuek tak membalas omelan ibunya.
Malah semakin asyik tersenyum sendiri memandang gawainya.
Setelah berpamitan pada orang tuaku kami berangkat menuju rumah Tomo.

Mobil memasuki pintu gerbang besar yang telah dibuka oleh seorang satpam di depan.
Kuedarkan pandanganku ke sekitar, benar-benar megah, bahkan taman di depan terlihat lebih besar dari ukuran rumahku.
Mobil di parkir disamping rumah, kulihat disana berjejer pula beberapa mobil mewah dan motor-motor gede seperti punya para artis.
Begitu kaya kah Tomo?
Yang kutahu dia hanya punya bisnis bahan-bahan bangunan, entah ... mungkin ada yang lain aku pun tak tahu.
Tomo membukakan pintu untukku, tangannya tengah menawarkan aku untuk ditarik keluar mobil, tak kugubris.
Kusingkirkan tangannya dan berjalan keluar dari mobil sambil mengangkat belakang gaun kebayaku yang panjang,
Di depan rumah sudah menanti dua wanita dengan daster lusuh sembari membungkukkan badan,
Tomo memperkenalkannya padaku,

"Ani iki mbok Ijah, nek butuh opo-opo tinggal nyeluk de'e" ( Ani ini mbok Ijah, kalo butuh apa-apa tinggal panggil dia)
katanya sembari menunjuk salah seorang diantara mereka yang terlihat agak berumur dilihat dari rambut putihnya,

"Iki Wirna bagian masak, nek pengen mangan opo ae ngomong karo de'e."
( Ini Wirna bagian masak, kalo pengen apa aja bilang sama dia)
Kulirik wanita yang ditunjuk Tomo, dia terlihat masih muda, mungkin sekitar 25 tahunan mempunyai paras yang lumayan ayu, hanya saja tertutupi oleh daster kumalnya.

Mbak Fani melengos melihatku, sembari masuk dengan menghentak-hentakkan kakinya, aku mengerti perasaannya,
mana ada di dunia ini wanita yang mau berbagi suami.
Apalagi cari istri yang lebih muda dan cantik, sungguh berat ia bisa menerimaku.

Tomo merangkulkan tangannya di belakang bahuku dan mencoba menyeretku untuk masuk, aku menoleh dan menepisnya, ia tersenyum,
kuberikan pandangan muak kepadanya, ia berlalu dengan tetap tersenyum nakal.
Jijik aku melihatnya, bagaimana bisa aku harus hidup setiap hari dengannya. Ibu ... aku mau pulang, pikirku.
Dari belakang Dika mendekat kearahku,
"Welcome to the hell,"
(selamat datang di neraka)
katanya sembari berlalu masuk ke dalam rumah sambil memasukkan kedua tangan dalam celana formalnya.

.....
Di dalam kamar aku menanggalkan semua pakaian memuakkan ini dan menggantinya dengan baby doll kesayanganku, kuhapus dengan paksa make up yang telah dipoleskan selama dua jam dari sore tadi,
di depan cermin kulihat Tomo masuk kamar kemudian menutup dan menguncinya.
Kutarik nafas panjang, kusiapkan lahir bathinku malam ini.
Tomo memandangku lewat cermin, tersenyum menyeringai.
Tak kubalas senyumannya sambil terus mengusap make up diwajah.
Ia mendekatiku, mengelus pundakku dari belakang sambil menghadap ke cermin,
Tanganku bergetar tapi tetap berusaha tenang, ia melerai rambutku dan menciumnya, dadaku bergetar hebat antara jijik dan takut.
Meski aku pernah berpacaran dengan Ridwan tak pernah kurasakan ini sebelumnya, maksimal dia hanya memegang tangan dan memandangku.

Ia menarikku berdiri dan merebahkanku di kasur, kemudian memulai ritual malam pertama sebagaimana mestinya.
Hatiku menangis, sungguh tak rela aku menyerahkan diriku pada tua bangka ini.
Namun, aku tetap pasrah membiarkan semuanya terjadi.

====

Pagi hari kudapati diriku terbangun dengan rasa nyeri disekitar selangkanganku,
Aku mengutuk diriku sendiri,
jengkel sejengkel-jengkelnya lalu memukuli kasur yang kurebahi. Kutarik nafas dan menghembuskannya mencoba membuat diriku tenang.
Setelahnya aku bergegas mandi kemudian keluar kamar mencari dimana letak dapur.
Aku memandang penuh kagum melihat rumah bak istana ini, kulirikkan mataku kesana kemari sambil menyurusi rumah yang entah, menyesatkanku.

"Mbak Ani wes tangi toh, monggo sarapan riyen," ( Mbak Ani udah bangun toh, mari sarapan dulu)
Sapa mbok Ijah menemukanku,
Aku diajak menuju ruang makan, sambil berjalan aku tetap seperti orang linglung yang tersesat melihat kanan kiri.

"Engken nek pun sarapan kulo ajak muteri omah mbak, ben ora bingung,"
( Nanti kalo udah sarapan aku ajak mengelilingi rumah mbak, biar gak bingung )
tambahnya sembari mempersilahkanku duduk di depan meja yang sudah tersedia banyak sekali makanan lezat diatasnya.

Aku mengangguk dan segera duduk, lalu mengambil piring dan mencomot gurami panggang favoritku, dirumah aku jarang sekali makan ini,
mungkin dalam setahun hanya beberapa kali saja.

Dika keluar dari kamarnya yang terhubung langsung ke ruang makan, ia duduk di sebrang depan meja makan, tanpa melihatku sama sekali.
Aku seperti tak ada di depannya, sangat cuek dan tak peduli.
Aku melirik wajahnya yang tampan saat dia makan, hidung mancung alis tebal, rambut sedikit ikal tergerai atasnya. Sangat mirip dengan bapaknya dalam versi muda, aku tak percaya harus punya anak tiri yang umurnya sebaya denganku.

....
Mbok Ijah mengajakku menyusuri seluruh rumah, menunjukkan beberapa ruangan dan kamar, aku benar-benar takjub dengan keindahan bangunan ini.
Pilar-pilar raksasa tersusun apik dengan ukiran naga yang meliuk, lampu-lampu hias dan besar menghiasi plafon rumah seperti istana
yang pernah kulihat di film barbie favoritku.
Tak hentinya aku menunjukkan ketakjuban.
Hingga di depan suatu pintu mbok Ijah menyuruhku untuk berhenti.

Pintunya dari kayu jati berwarna merah marun dengan sedikit ukiran seperti binatang yang aneh, aku termangu diam.
"Ruangan iki khusus gae Pak Tomo mbak, sopo ae ga oleh melbu, masio Bu Fani yo ga oleh ngintip mbak," ( Ruangan ini khusus buat Pak Tomo mbak, siapa aja gak boleh masuk, bahkan bu Fani ya gak boleh ngintip mbak)
Jelas mbok Ijah membuatku penasaran.
"Emange onok opo nang njero mbok?" ( Emangnya ada apa di dalam mbok?)

Mbok Ijah hanya menggeleng dan tersenyum, aku mengerutkan kening mencoba ingin tahu, kulirik lagi pintu di depanku, tiba-tiba saja pintu itu terasa suwung, aku mulai bergidik ngeri.
Mbok Ijah segera menarikku kembali untuk melanjutkan tour-nya.

Sampai akhirnya di belakang rumah aku menemukan Mbak Fani sedang duduk di kursi santai sembari memegang buku dan serius membaca, rambutnya dibiarkan tergerai tertiup angin pagi, dagunya lancip,
bibir agak tebal bawahnya, terlihat sexy bagi sebagian orang. Meski umurnya sudah terlihat matang ia cukup menawan.
Aku menghampirinya,
tanpa melihatku dan terus menatap bukunya mbak Fani bertanya,

"Piye malam pertamae? Sukses?" ( Gimana malam pertamanya? Sukses? )
Aku menajamkan pandanganku padanya,
Sinting, pikirku. Enteng sekali dia menanyakan tentang itu tanpa ada rasa cemburu ataupun kesal.

"Yowes ngunu iku mbak, sampean lak yo pasti wes tau rasane." ( Ya begitulah mbak, kamu kan ya pasti udah tau rasanya )
Aku duduk di kursi sebelahnya, sambil memperhatikan keadaan sekitar, banyak sekali macam-macam bunga mawar disana, sepertinya mbak Fani menyukai mawar. Harumnya semerbak menjadi aromatherapy untukku, kuhirup dalam-dalam kemudian tersenyum.
"Pokok awakmu gelem manut karo Mas Tomo uripmu pasti enak," ( pokok kamu mau nurut sama Mas Tomo hidupmu pasti enak)
Ujar mbak Fani kemudian,

"Aku nek gak demi wong tuoku gak bakalan gelem mbak dadi madu ne sampean, sepurane loh," ( Aku kalo gak demi orang tuaku
gak bakalan mau mbak jadi madunya kamu, maaf loh )
jawabku enteng,

"Suatu saat awakmu bakal ngerasakno dadi aku, koyok mbak Tini bien," ( Suatu saat kamu bakal merasakan jadi aku, seperti mbak Tini dulu)
tambahnya,

"Maksude? Mbak Tini iku sopo?"
( Maksudnya? Mbak Tini itu siapa?)
tanyaku selidik,

"Bojo pertamae Mas Tomo," ( istri pertamanya Mas Tomo)
jawabnya lugas,

Kemudian ia berdiri dan meninggalkanku sendiri, tanpa penjelasan yg lebih pasti.
Aku mencoba mencerna ucapan Mbak Fani,
apa mungkin suatu saat Mas Tomo bakal menikah lagi?
Siapa yang peduli? Toh aku tidak menginginkannya, hadirku disini hanyalah sebagai pengganti bayaran utang ayah.

====

Malam ini malam jum'at kliwon, aku berada di kamar dan merasakan kerongkonganku telah kering,
kuberanjak dari kasur dan segera ke dapur untuk mengambil minum, di sana kutemukan Mbok Ijah dan Mbak Warni.

Saat kubuka kulkas aku melirik Mbak Warni sedang menata sesuatu diatas nampan, ia tahu aku memperhatikannya, tingkahnya menjadi sedikit canggung. Aku mendekatinya,
kulihat diatas nampan telah ditata beberapa kembang yang dimasukkan dalam mangkok berisi air, jajanan pasar, dan kemenyan, juga tiga batang lilin.
Aku termangu, mulutku membuka.

"Gae opo iki Mbak War?" ( Buat apa ini Mbak War? ) tanyaku penasaran,
Mbok ijah yang sedang mencuci tangan langsung menyahut,
"Jaluk'ane Pak Tomo iku Mbak." ( Permintaannya Pak Tomo itu Mbak)

"Kog aneh-aneh ngene seh?" ( Kog aneh-aneh gini sih? )
ujarku kembali.

Mbak Warni segera mengangkat nampan itu kemudian berlalu meninggalkan dapur,
aku mengikutinya dari belakang sambil menjaga jarak.
Kulihat dia berhenti di depan pintu ruangan terlarang itu kemudian mengetuknya, ia tak menunggu pintu terbuka, lalu menaruh nampan itu di bawah depan pintu kemudian berlalu.
Selang beberapa detik engsel pintunya bergerak, kudapati Mas Tomo membuka pintu dengan bertelanjang dada, menunjukkan perut buncitnya, ia hanya memakai celana pendek hitam saja. Dengan segera mengambil nampan itu dan kembali masuk dan menguncinya.
"Gak usah penasaran."
ucap seseorang di belakang mengagetkanku, aku menoleh menemukan Mbak Fani disana,

"Ojok atek takon Mas Tomo nang kunu lapo, anggep ae ga onok opo-opo." ( Jangan pake tanya Mas Tomo disitu ngapain, anggap aja ga ada apa-apa )
Aku mengangguk, meski penasaran aku berusaha tak menghiraukannya dan segera masuk kamar kembali.

.....

Di tengah malam aku terbangun dikagetkan suara pintu berderit terbuka, Mas Tomo masuk dan segera merebahkan diri di sebelahku, ia menatapku sambil menyibakkan selimut
yang menutupiku.
Kemudian memandang tubuhku dengan tatapan penuh nafsu, aku hanya diam meliriknya kemudian dengan segera ia melakukan adegan menjijikkan di malam jum'at ini.

Aku merasa jijik dengan diriku sendiri yang hanya dijadikan budak nafsunya.
Pelacur lebih tepatnya, hampir tiap malam ia menggagahiku, tak pernah bertanya apa aku mau atau tidak, tak pernah pula kurasakan cinta dalam dirinya hanya nafsu dan birahi, tepat sekali kata itu, yah ... pelacur!

====
Sudah 3 bulan aku berada di rumah ini, tak pernah aku melihat Mas Tomo tidur di kamar Mbak Fani, aku merasa malu karna telah merebut suami yang dicintainya, aku pun tak pernah bertanya pada Mas Tomo kenapa dia melakukan ini, kehidupan rumah tangga kami hanya seperti rumah bordil,
hanya bertemu untuk melampiaskan nafsu semata, tanpa ada ikatan cinta yang menyatu.

Hampir tiap bulan Mas Tomo dan Mbak Fani bertanya apa aku sudah hamil? Aku penasaran kenapa Mbak Fani begitu antusias dan tak menampakkan kekesalannya padaku,
Malah ia bersemangat ingin agar
aku segera mengandung, berbagai cara dilakukannya, mulai dari memberikanku kurma muda, jamu-jamuan untuk kesuburan dan beberapa pil yang membuatku eneg.

Kenapa dia tak ingin hamil sendiri? Anaknya juga cuma Dika, apa ia tak ingin menambah keturunan karna takut keseksiannya
akan pudar? Aku tak berani bertanya.

Hingga suatu hari siklus bulananku terhenti, hampir seminggu aku merahasiakannya dari semua orang, aku punya firasat yang buruk terhadap ini.
Sebenarnya aku tak pernah menginginkan adanya bayi dalam pernikahan paksa ini,
tapi semua sudah terjadi, mana mungkin aku menolaknya.

Minggu kedua Mas Tomo baru menyadarinya karna sewajarnya suami istri pasti tau saat istri tetap suci dan beribadah.
Ia sumringah saat aku mengiyakan bahwa aku tak mendapati mens-ku.
Hari itu juga Mbak Fani mengajakku ke rumah sakit untuk USG memastikan.
Saat melangkahkan kaki turun dari mobil, mataku berbinar melihat lelaki di depan rumah sakit berseragam satpam melihat kearahku dengan tatapan matanya yang penuh rindu.
Dia Ridwan, lelaki yang kucintai dan harus kutinggalkan demi baktiku pada Ayah.

Ingin rasanya aku memeluknya dan membenamkan wajahku pada dadanya yang bidang, untuk menumpahkan segala kerinduanku.
Aku berusaha tegar melewatinya di depan pintu, ia menatapku lekat-lekat sejak aku turun dari mobil sampai masuk rumah sakit.
Namun, aku pura-pura tak memperhatikannya.

Saat USG dokter menjelaskan bahwa kandunganku sudah berumur 3 minggu, aku melihatnya di layar,
meski tak kuinginkan seketika aku luluh saat menatap benihku sendiri.

====

Hampir setiap malam jum'at kliwon Mbok Ijah dan Mbak Warni selalu menaruh nampan di depan pintu itu, ingin sekali aku melihat ada apa di dalamnya,
Kenapa kami dilarang kesana?
Akan tetapi melihat pintunya saja nyaliku sudah menciut, takut akan sesuatu yang entah apa.

Aku bertanya pada Mbok Ijah kenapa Mas Tomo hanya mempunyai satu anak sedangkan sebelumnya ia mempunyai istri lain. Ia bercerita bahwa dulu Mbak Tini sudah pernah mengandung
sebanyak tiga kali dan semuanya hilang, begitu pula dengan Mbak Fani, katanya juga empat kali mengandung tapi yang berhasil lahir cuman Dika saja.

"Ilang yoopo seh Mbok, keguguran ngunu ta?" ( Hilang gimana sih Mbok? Keguguran gitu ta? )
tanyaku heran.
Mbak Warni menjawab,
"Yowes ilang ngunu ae Mbak." ( Ya udah hilang gitu aja Mbak. )

Aku memandang mbok Ijah dan mbak Warni bergantian, tak mengerti maksud mereka, seketika kuelus pelan perutku, takut mengalami hal yang sama seperti mereka.

....
Kulangkahkan kakiku untuk kembali ke kamar, saat melewati ruangan terlarang itu aku melihat pintunya sedikit terbuka, kucoba mendekatinya ingin tahu apa yang ada di dalamnya.
Aku belum berani mengintip, dengan perlahan aku mengarahkan kupingku ke pintu untuk memastikan apa ada orang di dalamnya.
Bau kemenyan menyeruak memenuhi hidungku. Samar-samar aku mendengar suara, kutajamkan pendengaranku,
seperti terdengar suara erangan dan desahan disana,
Apa aku tidak salah dengar? Yang aku tahu Mbak Fani tidak diperbolehkan masuk kesini, jadi siapa yang bersama Mas Tomo disana?
Erangan itu semakin mengeras terdengar, bersamanya kudengar suara seperti monyet.
masak di dalam rumah ada monyet?

Aku semakin mendekatkan telinga sehingga pintunya yang tersentuh bahuku terbuka sedikit lebar lagi, pintunya berderit membuat aku kaget, seketika itu pula kepala Mas Tomo menyembul dari dalam.
"Lapo koen iki?" ( Ngapain kamu ini?)
tanyanya dengan nada meninggi.

Aku beringsut mundur dan menundukkan kepala, sekilas kulirik mas Tomo seperti kulihat waktu pertama disini, hanya mengenakan celana kolor pendek hitam saja.
"A–Aku ... Gak sengojo Mas," ( A.. Aku tidak sengaja Mas) jawabku terbata-bata.

"Ojok atek pisan-pisan maneh koen pengen eroh nang kene onok opo, duduk urusanmu!!" ( Jangan sekali-kali lagi kamu pingin tau disini ada apa, bukan urusanmu!! )
Aku gemetaran karna selama dirumah ini belum pernah sama sekali Mas Tomo membentakku seperti saat ini, segera aku berlari menuju kamar dan menumpahkannya di bantalku. Aku ingin pulang ....

====
Kehamilanku sudah hampir memasuki usia tujuh bulan, tiap check ke dokter aku selalu bersemangat karna di sana aku akan bertemu dengan Ridwan, meski hanya sepersekian detik saja, aku sudah berani membalas senyumannya, dia pun terlihat bahagia melihat aku setiap bulan nya.
Semenjak bulan ke empat, aku sudah ikhlas menerima karunia dalam rahimku ini, aku bahagia karna Tuhan telah menitipkannya padaku, aku ingin seperti Ken Dedes yang melahirkan putra-putra dan kelak menjadi raja-raja di tanah jawa. Menjadi perempuan sejati,
Meski tak dicintai suami, setidaknya akan ada yang membuatku bahagia.
Tak sabar rasanya menanti bagaimana rupa buah hatiku kelak.

====

Seharian ini Mas Tomo berada dalam kamar pribadinya itu, biasanya dia akan kesana waktu malam hari, tapi kali ini tidak.
Bahkan sejak pagi Mbok Ijah dan Mbak Warni seperti super sibuk, masak banyak dan mempersiapkan banyak jajan seperti sedang akan hajatan.
Aku sebenarnya begitu penasaran tapi teringat saat Mas Tomo membentakku kala itu membuatku mengurungkannya.
"Iki gae bancaanmu soale wes 7 wulan," ( Ini buat hajatanmu soalnya udah 7 bulan)
kata Mbak Fani saat melihatku melamun di dapur.

"Bancaan yoopo Mbak, kog gak onok sing diundang? Wong tuo ku bahkan ga ero opo-opo," ( Hajatan gimana Mbak, kog gak ada yang diundang?
Orang tuaku bahkan gak ngerti apa-apa, )
jawabku ketus.

"Aku kan wes tau ngomong, nek awakmu pengen urip enak kudu manut karo Mas Tomo!" ( Aku kan dah pernah bilang, kalo kamu pingin hidup enak harus nurut sama Mas Tomo )
ujarnya dalam nada tinggi.
Aku hanya diam membuang muka dari hadapannya, aku jelas tau bahwa ada yang tak beres di rumah ini, tapi kenapa semua orang sangat patuh pada Mas Tomo? Hanya karna uang mereka rela jadi budak, bahkan istrinya sendiri.

....
Malam ini semua makanan sudah disajikan diatas tampah besar, semua dijejer rapi oleh Mbok Ijah dan Mbak Warni di depan pintu kamar pribadi Mas Tomo.

Entah, hasrat penasaranku sudah menghilang, aku bahkan tak ingin tau apa yang mereka lakukan saat ini.
Tiba-tibs kepalaku terasa berat, kurebahkan diriku dibantal dan dengan segera terlelap.

Aku bermimpi berada disuatu tempat yang luas, dengan dikelilingi banyak sekali pepohonan, aku mengedarkan pandangan, mencari tahu dimana aku berada, tak ada siapapun yang bisa kutanyai,
tetiba aku mendengar suara gemeresak daun disamping, aku menoleh mencari sumber suara. Kuberanikan diri untuk mendekatinya, saat kusibakkan dedaunan yang menjulur panjang itu aku terperanjat kaget menemukan makhluk dengan tangan yang panjang,
matanya cuma satu dengan lidah menjulur sampai ke dada. Rambutnya sedikit lebih ke botak, payudaranya menggelantung hingga ke perut, dia mengulurkan tangannya yang panjang itu lalu memegang perutku,
"Ahhhh ... ojookkk ...." (Ahhhh ... jangannn .... )
Aku mencoba melepaskan tangannya dari perutku, tetapi tak bisa, bahkan genggamannya semakin erat ke pinggulku, tangan panjangnya melingkar berbelit-belit ke tubuhku hingga aku tak bisa bergerak lagi,
Aku menangis sejadi-jadinya sambil terus berteriak.
"Tolong ... tolong ...!!"
Sepertinya semua sia-sia, karena tak ada seorang pun ada disini.

Perlahan wajahnya mendekat ke perutku, kemudian dengan cepat menjilatnya dengan lidah panjang dan kasarnya.
Aku merasakan panas dan sakit yang amat sangat,
perutku seperti dikoyak-koyak tanpa belas. Rasa sakit itu semakin menjalar memenuhi tubuhku, nyeri hampir diseluruh persendianku.

Aku tak kuat lagi berdiri tubuhku lemas, tapi makhluk itu tetap menjilat perutku sambil menegakkan badanku agar lebih leluasa.
Aku merasakan perutku kini telah kempes, dengan tenaga yang hampir habis aku meliriknya kebawah, ia menengadah. Mulutnya penuh dengan darah kental kehitaman kemudian menyeringai, bibirnya tertarik melebar hingga ke telinga, nafasku tersengal-sengal karna ketakutan yg luar biasa,
kemudian gelap ....

....

Aku tersentak kaget dan bangun dengan keringat dingin memenuhi seluruh tubuhku, kemudian teringat mimpi seram itu lalu dengan cepat meraba perutku,
oh ... tidak!! perutku menjadi rata, apa yang terjadi??

"Mas ... Mas Tomo ... Mass!!!"
Seketika Mas Tomo masuk ke kamar dengan tergesa-gesa, kemudian duduk disampingku.

"Lapo?" ( Kenapa? ) tanyanya,

Sambil menangis kutarik tangannya ke perutku,

"Anakmu ilang!" ( Anakmu hilang! )
Aku terisak memandangnya, tapi dia malah tersenyum bahagia, aku terdiam sejenak.
"Sampean kog malah seneng seh?" ( Kamu kog malah senang sih? )
tanyaku heran.

"Wes tenang ae, mene isuk diterno Mbak Fani nang rumah sakit, ben di check," ( Udah tenang aja, besok pagi diantar mbak Fani ke rumah sakit, biar di check, )
jawabnya enteng,
Aku terdiam melongo menatapnya, tangisanku terhenti. Kulirikkan pandanganku di depan pintu, di sana kutemukan Mbak Fani dan Dika berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada, Mereka tersenyum.

Aku bingung, kenapa semua orang terlihat bahagia?
"Wes turuo maneh," ( Sudah tidurlah lagi )
ucap Mas Tomo sembari meninggalkanku keluar kamar diikuti Mbak Fani dan Dika.

Aku termangu dalam diamku, sambil terisak aku mengelus perut rataku, 'Kamu kemana Nak?' ucapku dalam hati.
Tanpa kuketahui Mas Tomo di dalam kamar pribadinya itu telah bermandikan uang dan segala perhiasan, ia tertawa girang sambil menghambur-hamburkan uangnya, tanpa peduli aku yang sangat terpukul.

====
Paginya kami berangkat ke rumah sakit, saat turun dari mobil kulihat Ridwan menatapku dengan pandangan penuh heran, berkali-kali dia melirik perutku seperti ingin tahu, aku hanya meliriknya tanpa ekspresi.
Saat di USG dokter pun keheranan, bagaimana mungkin sebulan yang lalu hasil check up-nya baik dan bayinya sehat, tiba-tiba hari ini tak terlihat sedikit pun ada tanda bayi di rahimku, bahkan dinding rahimnya bersih.
Tak seperti orang keguguran yang harus melakukan kuret untuk membersihkan darah yang tersisa.

Dokter menanyakan apakah aku merasakan sakit atau apa sebelumnya?
Saat hendak menceritakan mimpiku Mbak Fani menyela pembicaraan kami dengan berkata,
"Iya, Dok. Kemarin Ani bilang perutnya sakit luar biasa, dia seharian keluar masuk kamar mandi,"
Katanya sambil mecubit pahaku.

Aku menelan ludah kemudian mengiyakannya.
Dokter itu hanya mengangguk,
kemudian menuliskan sebuah resep untukku, Setelahnya kami keluar.

Aku duduk di kursi panjang depan loket, menunggu Mbak Fani menebus obat. Tiba-tiba kulihat Ridwan menatapku dari kaca luar, wajahnya teduh menenangkanku. Ia berjalan menghampiriku, tak henti aku menatapnya.
Wajahnya yang manis dengan dagu yang 'sigar jambe' mengingatkanku pada cintanya dulu, kemudian ia duduk disampingku.

"Awakmu wes mbabarno ta, An?" ( Kamu sudah melahirkan ta, An? )
tanyanya sambil melirik perutku,
Aku menggeleng, kemudian menjawab,
"Anakku ilang Mas, aku gak ngerti." ( Anakku hilang Mas, aku gak ngerti. )

"Ilang piye?" ( Ilang gimana? )

Aku terus menggeleng sambil menggigit bibirku,
"Tapi awakmu sehat kan?" ( Tapi kamu sehat kan? ) tanyanya sekali lagi.
Aku mengangguk, mataku hampir basah melihat dia disampingku, ingin rasanya kuungkapkan segala keresahanku padanya.

Saat itu juga, Mbak Fani berdiri dihadapan kami, lalu menarik tanganku, aku segera berdiri dan mengikutinya keluar.
"Awakmu kenal ta karo satpam iku?"
( Kamu kenal ta sama satpam itu?)

"Bekas pacarku Mbak,"
jawabku lugas tanpa berpikir,

Mbak Fani kaget menoleh menatapku, tapi tetap berjalan beriringan denganku.

====

Hari-hari kulalui dengan ratapan kesedihan karena kehilangan buah hati yang kuidam-idamkan.
Tiap dua hari sekali ibu menjengukku untuk memastikan keadaanku.

"Wes tah An, ojok sedih-sedih terus, mene Insya Allah awakmu bakal oleh gantine" ( Udah ta An, jangan sedih-sedih terus, besok Insya Allah kamu bakal dapat gantinya )
Kata ibu sambil membelai lembut rambutku.
Aku tersenyum dan mengangguk,
"Enggeh, Buk. Insya Allah Ani wes ikhlas, pendungine nggeh." ( Iya, Buk. Insya Allah Ani sudah ikhlas, mohon do'anya ya. )

"Ayah piye kabare, Buk?" ( Ayah gimana kabarnya, Buk? )
"Ayahmu yo pancet koyok ngunu iku, gak isok leren. Ben bengi moleh mendem, wegah aku. Tomo yo ngunu sisan bapakmu dikucuri duwek ae tambah ga karu-karuan."
( Ayahmu ya tetap kayak gitu, gak bisa berhenti. Tiap malam pulang mabuk, wegah aku. Tomo ya gitu juga bapakmu dikucuri
uang aja makin gak karu-karuan, )
kata ibuk sebal,

"Sabar, Buk. dungakno ae ben
Ayah ndang oleh hidayah." (sabar, Buk. Do'ain aja biar Ayah cepat dapat hidayah. )
Ibuk tersenyum dan mengangguk,
Kemudian berpamitan pulang.
Malam ini aku duduk di sebelah jendela kamar, menatap indahnya rembulan, hatiku sakit mengingat janinku, bahkan aku belum sempat membayangkan bagaimana rasanya memegang tangan mungilnya.
Saat pandanganku menatap lurus pohon mangga di depan, aku melihat siluet bayangan seseorang.
Kutajamkan pandanganku, ia bersembunyi di balik pohon, tangannya terlihat kecil memeluk batang pohon tapi apa yang melingkar itu? Kuku atau apa?
lalu tiba-tiba matanya mengintip mengawasiku, merah dan menyala, tak bisa kulihat wajahnya hanya ada bayangan hitam saja.

'siapa yang ada di situ malam-malam begini?'
tanyaku dalam hati.
Kemudian perlahan dia menunjukkan wajahnya, sambil terus menatapku dg senyuman menyeringai,
Jantungku berdegup kencang, tatkala kami saling berpandang.

Hingga saat sorot lampu mengenainya, kulihat sesosok monyet dengan gigi taring yang panjang, perutnya buncit, kuku tangannya panjang hingga melingkar. Tak masuk akal, mana ada binatang seperti itu?
Rambut tubuhnya tak rata, seperti habis dicukur asal-asalan.
Keringatku mengucur dari dahi, tubuhku kaku.
Ia berjalan dengan menyeret tangannya yang panjang. Tetiba aku teringat mimpiku malam itu, saat menatap tangan panjangnya.
Nafasku mulai memburu,
berkali-kali aku menelan ludah, aku mulai sedikit mundur dari jendela kemudian dengan cepat menutup kasar gorden kamarku.

Kusandarkan tubuhku ke dinding sebelah jendela sambil mengatur nafas, dadaku terasa sesak.
bahkan aku bisa mendengar degup jantungku sendiri, perlahan kucoba mengintip kembali keadaan di luar, dengan hati-hati kulirikkan mataku sambil memegang pucuk gorden.
Sepertinya sudah tak ada apa-apa, aku menghela nafas lega.
"Ngintip opo?" ( Ngintip apa? )
"HAHH!!"
Aku kaget memegang dada, tanpa kusadari Mbak Fani sudah berada di depanku.

"Anu mbak, aku kog koyok kitok bedes tapi aneh, medeni ngunu," ( Anu mbak, aku kog kayak lihat monyet tapi aneh, mengerikan gitu)
kataku sambil bergidik ngeri,
"Pancen nolek'i awakmu soale wes apal ambumu," ( Emang mencari kamu soalnya udah hafal baumu, )
jawabnya enteng seperti sudah tau saja,

"Maksude?" tanyaku kebingungan,
"Iku munu bojoe Mas Tomo, sing onok nang njero kamar iku, tiap Mas Tomo ape due bayi pasti dikekno bedes iku gae tumbal nek umure wes mancik pitung wulan, gantenane yo pasti kekayaan lan kejayaan iki kabeh." ( Itu adalah istrinya Mas Tomo, yang ada di dalam kamar itu,
tiap Mas Tomo mau punya bayi pasti diserahkan monyet itu buat tumbal kalo umurnya udah sampe tujuh bulan, gantinya ya pasti kekayaan dan kejayaan ini semua)

"Hah? Opo?" ( Hah? Apa? )

"Makhluk sing mbok petuk'i nang ngimpi iku yo rupo aslie bedes iku,
de'e pasti apal ambu mu dadi pasti ketagihan maneh."
( Makhluk yang kamu temui di mimpi itu ya wujud aslinya monyet itu, dia pasti hafal bau mu jadi pasti ketagihan lagi. )

Aku menutup mulutku tak percaya,
"Dadi Mas Tomo nang njero kamar iku gae ngelayani bedes iku?"
( Jadi Mas Tomo di dalam kamar itu buat melayani monyet itu? )

Mbak Fani mengangguk, kemudian aku merasa jijik memegang kemaluanku dari luar,
Perutku langsung mual tapi kutahan, kemudian teringat Dika.
"Loh tapi Dika?" ( Loh tapi Dika? )

Mbak Fani menjelaskan bahwa saat itu Mbak Tini istri pertamanya yang akan hamil anak ketiga ingin punya bayi, ia rela menyuruh suaminya menikah lagi agar anaknya bisa hidup dan menumbalkan anak Mbak Fani saja, semua sudah sesuai rencana.
Karena akhirnya mereka berdua hamil berbarengan, hingga memasuki kandungan ke tujuh bulan, Mas Tomo berkhianat padanya, anak Mbak Fani dibiarkan hidup dan anaknya dijadikan tumbal, karena telah jatuh cinta pada Mbk Fani.
Mbak Tini marah luar biasa hingga akhirnya ia pergi meninggalkan rumah ini.

"Mari duwe anak Dika iku aku yo meteng maneh ping telu, telu-telu ne digawe tumbal."
( Habis punya anak Dika itu aku ya hamil lagi tiga kali, tiga-tiganya dibuat tumbal. )
"Dadi sampean ngonkon Mas Tomo rabi ambek aku ben isok numbalno anakku?"
( Jadi kamu nyuruh Mas Tomo nikah sama aku biar bisa numbalkan anakku? )

Ia menggeleng kemudian mengangguk, aku tak mengerti maksudnya,
"Aslie aku yo emoh berbagi suami, tapi umurku wes 37, aku wes tutuk perimenopause wes gak subur dadi dokter wes nyatakno nek aku gak bakalan isok meteng maneh."
( Aslinya aku ya ogah berbagi suami, tapi umurku udah 37, aku uda sampai perimenopause udah gak subur jadi dokter uda
nyatakan kalo aku gak bakal bisa hamil lagi )

"Ya Allah mbak terus sampe kapan awak dewe orep koyok ngene?"
( Ya Allah mbak ters sampe kapan kita hidup seperti ini? )

Mbak Fani menggeleng sekali lagi,
"Aku yo gak ngerti An, aslie aku wes pegel tapi aku yo gak pengen urip gak duwe, ket rabi ambek Mas Tomo uripku enak sembarang kalir keturutan"
( Aku juga gak tau An, aslinya aku udah capek tapi aku ya gak pengen hidup miskin, sejak nikah sama Mas Tomo hidupku enak semuanya
keturutan)

Aku menghempaskan diriku berjongkok di lantai, sambil memegang kepala air mataku menetes.
Mbak Fani mengikutiku berjongkok kemudian memelukku,

"Wes dilakoni ae An, kene wes kadung njebur gak isok mentas."
( Udah dijalani aja An, kita uda terlanjur nyebur gak bisa naik )

Kami saling berpelukan meratapi nasib yang entah sampai kapan akan berakhir.

====

6 bulan sejak kehilangan anak pertamaku akhirnya aku bisa hamil kembali, kali ini aku tak sebahagia dulu karna sudah tau
akhir dari riwayat bayiku nantinya.
Bahkan aku sempat berpikir untuk menggugurkannya saja.

Seperti biasa Mas Tomo bahagia mendengarnya, tapi tidak denganku, hatiku yang pernah terluka awalnya takkan pernah pudar dan membekas sampai kapan pun,
Aku memutar otak, kemudian berencana untuk membuat Mas Tomo jatuh cinta denganku agar tak rela menumbalkan anaknya nanti.

Aku membuat diriku yang selama ini cuek membalikkan semua fakta yang ada, kutumpahkan seluruh perhatianku pada Mas Tomo.
apapun kulakukan untuk membuatnya tergoda dan hanya melirik kepadaku.

Mbak Fani mulai curiga dan tak suka, ia sering memergokiku bercanda dan bermanja-manja pada Mas Tomo,
Aku tak peduli, yang kumau hanya satu, menyelamatkan bayiku.
Hingga saat usia kandunganku enam bulan aku memohon padanya, ia terlihat mulai bimbang mengingat beberapa bulan ini ia perlahan mencintaiku.

" Emange gak onok coro lain ta Mas?" ( Emangnya gak ada cara lain ta Mas? )
Ia menggeleng sambil menyesap kopi, kami berada di belakang rumah menikmati indahnya purnama.
Kulihat di atas sana Mbak Fani memperhatikan kami dari jendela kamarnya, wajahnya penuh dengan kecemburuan.
saat aku meliriknya dengan segera ia memalingkan muka dengan geram.

Sayup-sayup kudengar gesekan dedaunan di samping Mas Tomo. Tiba-tiba bau apek dan amis menyeruak di sekitarku, aku mengernyitkan dahi dan mempertajam pandanganku,
sesaat dadaku sesak melihat kembali penampakan malam itu, ya ... monyet itu sudah berdiri di ujung sana menatap Mas Tomo dengan pandangan mengerikan, aku tercekat diam tak berkedip, Mas Tomo melihatku bingung,

"Lapo koen iki?" ( Ngapain kamu ini?)
Aku tetap diam tak menggeser pandanganku, ia mengikuti arah mataku, kemudian berjingkat melihat penampakan itu. Ia seperti mengucapkan sesuatu, tetapi aku tak bisa membacanya. Mas Tomo terlihat begitu tegang, bibirnya gemetaran sambil mengangguk.
Setelah melihat Mas Tomo mengangguk ia pergi begitu saja,

"Ngomong opo iku maeng Mas?" ( Bicara apa itu tadi Mas )
tanyaku seketika,

"Koyok'e de'e wes ngerti nek aku mulai ragu ape numbalno bayi mu," ( Sepertinya dia udah tau kalo aku mulai ragu mau numbalkan bayi mu )
"Trus yoopo Mas? Pean gak pingin due anak teko aku ta?" ( Terus gimana Mas? Kamu gk pingin punya anak dariku ta? )

Ia menyesap kopinya sekali lagi, kulihat lehernya bergerak lambat saat meneguk kopi hitam itu, seperti menahan sesuatu.
"Delok ae mene, aku dewe bingung," ( Lihat saja besok, aku sendiri bingung )
katanya sembari menaruh cangkir ke meja di depannya.

Ia melihatku sesaat, kemudian membelai rambut panjangku, aku melirik rambutnya yang sudah mulai memutih di sisi telinganya.
usianya memang sudah tak muda, tetapi masih terlihat gagah dan wibawa. Namun, sulit bagiku untuk jatuh cinta padanya,
bayangan Ridwan terus saja terlintas saat aku menatapnya.

====

Esoknya saat aku membantu Mbak Warni di dapur kudengar suara Mas Tomo berteriak-teriak
di ruang tamu, terdengar pula suara Mbak Fani mengoceh tak jelas dengan nada tinggi. Kemudian terdengar sesuatu yang pecah,

PRANNGG ....

Mbak Warni menatapku seakan bertanya, kujawab dengan mengendikkan bahuku.
Segera kucuci tanganku hendak ke depan mencari tahu, lalu Mbok Ijah tergopoh-gopoh masuk ke dapur membawa pecahan kaca kemudian membuangnya di sampah.

"Onok opo Mbok?" ( Ada apa Mbok? )
tanyaku padanya,
"Gak ngerti Mbak An, sak krungu ku koyok'e onok masalah nang toko,"
( Gak tahu Mbak An, setahu pendegaranku kayaknya ada masalah di toko, )
jawabnya sembari bergegas membawa sapu dan pergi.

Segera kuikuti Mbok Ijah ke ruang tamu, kulihat meja besar dari kaca sudah terpecah belah berantakan, disampingnya kulihat tongkat golf tergeletak,
mungkin ini yang dipakai menghancurkan meja.
Kutemukan Mas Tomo di kursi sofa sedang terduduk sambil memegang kepalanya, Mbak Fani berdiri di depannya sembari menyilangkan dada, saat melihatku dengan segera ia menyambar rambutku dan menjambaknya,
"Yo iki akibat kelakuanmu, kurang enak opo awakmu nang kene? HAH!!" ( Ya ini akibat perbuatanmu, kurang enak apa kamu disini? HAH!! )

Aku meringis menahan sakit, dan mencoba menarik tangan Mbak Fani agar melepas rambutku. Mas Tomo hanya diam memandang kami tanpa membelaku,
"Aku salah opo Mbak?" ( Aku salah apa Mbak? ) tanyaku sambil terus menahan kesakitanku, Mbak Fani semakin mengencangkan tarikannya.

"Awwhh ... ampun Mbak, luoro iki." ( Awwhh ... ampun Mbak, suakit ini )
"Gara-gara koen nggawe Mas Tomo ragu numbalno bayine, saiki penggaweane Mas Tomo kaco, bedes iku ga dulinan, bakal ngentekno resik dunyane kene nek gak nurut karo de'e!!" ( Gara-gara kamu buat Mas Tomo ragu numbalkan bayinya, sekarang pekerjaannya Mas Tomo kacau,
monyet itu gak main-main,bakal menghabiskan bersih harta kita kalo gak nurut sama dia!!)
jawabnya berapi-api.

Mas Tomo berdiri kemudian menarik tangan Mbak Fani, ia melepaskannya. Aku lega memegang kepalaku sambil terus meringis, rasanya udah mau jebol semua rambut dari akarnya.
"Gak usah nyalahno de'e, haruse awakmu mikir sopo sing nggarai de'e melbu nang umah iki? Awakmu kan sing njaluk? Saiki yo ojok nyalahno awakku nek sampek katut ketarik madu iki!!"
( Gak usah menyalahkan dia, harusnya kamu mikir siapa yang membuat dia masuk ke rumah ini?
Kamu kan yang minta? Sekarang ya jangan salahkan aku kalo sampai tertarik madu ini!! )
jawabnya lugas.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Mbak Fani terdiam mendengar ucapan suaminya. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca.
Mbak Fani menjatuhkan dirinya ke lantai lemas, ia terdiam menatap lantai dengan pandangan kosong, kulihat air matanya mulai merembes.
Mas Tomo tak memperdulikannya dan segera pergi meninggalkan kami.
Mbok Ijah segera mendekati kami, meraih Mbak Fani untuk berdiri kemudian mendudukkannya di sofa, aku tetap berdiri tak merubah posisiku.

"Sepurane Mbak, aku cuman pengen nyelametno bayiku, gak onok maksud liyo,"
( Maafin Mbak, aku cuma pingin nyelametin bayiku, gak ada
maksud lain )
Kataku sambil menunduk dihadapannya,

"Aku ngerti, tapi aslie sing salah iku yo Mas Tomo. Nek gak gara-gara de'e nggawe pesugihan gawe bedes iku gak ngara dowo ngene, awak dewe iki cuman korban."
( Aku ngerti, tapi aslinya yang salah itu ya Mas Tomo,
kalo gak gara-gara dia pake pesugihan buat monyet itu gak bakal panjang gini, kita ini cuma korban. )

Mbok Ijah segera pergi mengambil minum untuk Mbak Fani, meninggalkan kita berdua.

"Aku bakal metu teko omah iki Mbak, aku gak pingin ngerusak hubungane sampean karo Mas Tomo,"
( Aku bakal keluar dari rumah ini Mbak, aku gak pingin ngerusak hubunganmu sama Mas Tomo )

"Ojok! Aku jek butuh awakmu!" ( Jangan! Aku masih butuh kamu! )
timpalnya,
"Aku wes emoh urip koyok ngene, dadi budak nafsu, trus anakku dibuwak, panganan sing bendino dipangan teko duwek haram, bakalan tak ramut anakku dewe, tak dolek penggawean dewe, masio titik penting halal."
( Aku udah gak mau hidup kayak gini, jadi budak nafsu, trus anakku dibuang, makanan yang tiap hari dimakan dari uang haram, bakalan aku asuh anakku sendiri, tak cari kerjaan sendiri, meski dikit yg penting halal. )

jawabku sekenanya, Ia berdiri kemudian dg segera menggamparku,
kurasakan darah mengalir di ujung bibirku.

"Trus gak mbok pikirno nasibku ta? Nasibe Mas Tomo? Nek bayi iku mbok gowo ngaleh bedes iku bakalan ngamuk!"
( Trus gak kamu pikirkan nasibku ta? Nasibnya Mas Tomo? Kalo bayi iku kamu bawa pergi monyet itu bakalan marah! )
"Konkon rabi maneh lo Mbak, gampang kan!"
( Suruh nikah lagi lo Mbak, gampang kan! )
jawabku sembari beranjak pergi dengan memegang ujung bibirku yang mulai terasa perih.

Kubereskan beberapa barang yang kubutuhkan saja, kemudian dengan segera keluar dari kamar,
saat membuka pintu kudapati Mas Tomo keheranan melihatku menjinjing tas besar,

"Ape nandi?" ( Mau kemana? )

"Aku pengen mole Mas, wes gak betah aku nang kene." ( Aku pingin pulang Mas, udah gak betah aku disini )

Aku segera menyingkirkan tubuhnya yang tengah menghadangku,
lalu aku berjalan, ia mengikutiku,
"An, ojok aneh-aneh awakmu iki." ( An, jangan aneh-aneh kamu ini. )

"Sepurane sing akeh Mas, nyuwun pamit" ( Maaf banget Mas, minta pamit )
Kutarik dan kucium paksa tangannya dan segera berlalu.
Kulihat di ruang tamu Mbak Fani masih di sana melirikku sinis, tak kupedulikan.
Aku sudah muak dengan semuanya, meski tak dapat dipungkiri aku disini diberlakukan dengan sangat baik. Segala pakaian mewah dan semua aksesoris perhiasan dipenuhi oleh Mas Tomo.
Hape keluaran terbaru selalu aku dapatkan, sepatu, tas bernilai puluhan juta. Akan tetapi, semuanya tak menjamin kebahagiaanku, aku sudah bertekad ingin menemukan kebahagiaanku sendiri.

====
Ibu terkaget melihat aku saat membuka pintu rumah, tetapi ia faham sekali denganku, aku tak akan bercerita bila tidak ingin.
Ia segera mengambil tas besar yang kujinjing kemudian memapahku masuk, perutku terasa kram, aku segera duduk dan menelonjorkan kaki.
Menarik nafas perlahan dan mencari ketenangan.

Segera ibu ke dapur dan kembali dengan secangkir teh lemon kesukaanku, kuminum perlahan sambil sedikit meniupnya agar tidak kepanasan.

"Nek pegel istirahato sek ae nang kamar, tenangno pikirmu sek, nek wes siap
baru cerito karo ibuk."
( Kalo capek istirahat dulu aja di kamar, tenangkan pikiranmu dulu, kalo udah siap baru cerita sama ibuk )

Aku mengangguk dan tersenyum, ia mengelus perutku perlahan, aku merasakan kedamaian yang sesungguhnya, sungguh hanya ibu tempatku berkeluh kesah.
"Assalamu'alaikum ...."
Salam Ayah dari luar, aku terperangah melihatnya memakai peci, baju koko dan sarung, tak pernah kulihatnya seperti ini sejak aku SMP, saat aku kecil sebenarnya beliau adalah orang yang taat beribadah tapi setelah aku masuk SMP.
Entah terbujuk setan mana ia menjadi pemabuk dan pemain judi.
Dan hari ini baru kulihat lagi sosok Ayah yang kurindukan.

"Wa'alaikum salam ... Ayah teko endi?" ( Wa'alaikum salam ... Ayah dari mana? )
"Nang Musholla onok acara khataman," ( Di musholla ada acara khataman )
Aku tersenyum haru bahagia.

Perlahan ia mendekatiku dan melihat lekat-lekat wajahku, lalu memegang sebelah kiri rahangku yang membiru akibat tamparan Mbk Fani tadi,
"Kenek opo iki? Tomo ta sing nglakoni iki?"
( Kena apa ini? Tomo ta yang melakukan ini? )
Aku menggeleng,
Ibu dan Ayah saling memandang dengan heran, kemudian aku menghembuskan nafas,
Lalu secara detail kuceritakan semua yang terjadi dirumah itu, mereka memandangku penuh ngeri, seolah tak percaya.

.....
Malam ini aku tidur dengan perasaan gelisah, entah apa yang terjadi, tubuhku berasa panas dan begitu gerah. Apa mungkin aku sudah terbiasa tidur di rumah Mas Tomo yang ber-AC? Sedangkan dirumahku hanya ada kipas kecil diatas meja,
kucoba duduk dan mengibas-ibaskan bagian dada dasterku dan menguncir tinggi rambutku. Namun, masih gerah, aku sedikit mengomel dan memperbesar volume kecepatan kipas ke nomor satu tetap saja panas.
Mungkin karena terdengar suaraku yang menggerutu jadi ibu masuk ke kamar.
"Lapo seh Nduk? Gak isok turu?" ( Ngapain sih Nak? Gak bisa tidur?)

"Ongkep poll Buk," ( Gerah banget Buk)
jawabku sembari terus mengibaskan daster,

"Wong nek meteng tuo yo pancen ngunu to Nduk, opo ta awakmu kepikiran karo Tomo?"
( Orang kalo hamil besar ya emang gitu kan Nak
apa ta kamu kepikiran sama Tomo? )

Secepatnya aku menggeleng, aku memasang muka kesal,
"Ibuk kog ngunu seh?" ( Ibuk kog gitu sih? )

Ibu malah tersenyum, lalu berdiri dan segera membuka sedikit jendela kamarku,
"Awakmu kan yo wes sue urip gumbul Tomo, meski awale cuman pernikahan paksa, tapi buktine awakmu isok meteng wes ping pindo pisan, jelas kan mulai onok roso meski titik."
( Kamu kan ya udah lama hidup bareng Tomo, meski awale cuman pernikahan paksa, tapi buktine kamu bisa hamil udah kedua kalinya lagi, jelas kan mulai ada rasa meski sedikit )

Aku menggeleng,
"Aku gak isok ngelalekno Ridwan, Buk. Aku meteng kan emang tujuane Mas Tomo gae tumbal."
( Aku belum bisa melupakan Ridwan, Buk. Aku hamil kan emang tujuannya Mas Tomo buat tumbal )

Ibu duduk disampingku dan menghembuskan nafas berat,
"Wes cubo mu Nduk, yoopo maneh" ( Udah cobaan mu Nak, gimana lagi )

Tiba-tiba perutku terasa panas dan kaku, aku berusaha menahannya tapi tetap terasa.

"Aduh Buk, puanas iki wetengku ... aduh ...."
( Aduh Buk, puanas ini perutku ... aduh .... )

Seketika Ibu panik,
ia mengusap-usap perutku,
"Buk ... sumpah tamba panas iki." ( Buk ... sumpah makin panas ini.)

Aku terus berteriak sambil menahan sakit,
kemudian secepatnya ia berlari ke dapur mengambil air es dan kain, segera ia menyibak dasterku dan mengoleskannya perlahan.
Tiba-tiba kulihat di luar jendela monyet itu melihatku dengan tatapan dendam, aku terperanjat kaget, tangannya yang panjang ingin segera menarikku tapi seperti ada yang menahannya, bahkan jari-jari itu tak dapat menembus jendela yang terbuka.
"Ah! Iku ... iku Buk, bedes iku nang kunu!" (Ah! Itu ... itu Buk, monyet itu disitu! )
Aku menunjuk jendela sambil terus meracau sakit.

Ibu menoleh, sambil celingukan ia mengedarkan pandangan,
"Endi seh Nduk? Ibuk gak kitok opo-opo!" ( Mana sih Nak? Ibuk gak liat apa-apa! )
Gigi taringnya yang panjang seolah siap menerkamku, ia berusaha masuk dan memaksa tubuhnya, tetapi tak bisa.
Dengan segera ibu mengusap perutku lebih pelan dan pasti, sambil membaca beberapa ayat dan bacaan yang entah apa. Kulihat monyet itu semakin merasa kesulitan
dan kesakitan, tubuhnya melemah, ia semakin menunduk ketika Ibu lebih mengeraskan bacaannya.

Selang beberapa menit rasa panas di perutku sudah mulai menghilang, kulihat monyet itu pun sudah tidak ada. Segera kupeluk erat tubuh ibuku, menangis di pundaknya,
aku besyukur berada di rumah ini, karna bayi yang seharusnya hari ini hilang, masih tetap ada dalam perutku. Namun, satu yang mengganjal, bagaimana nasib Mas Tomo?

......
Di malam yang sama sebelum kejadian di kamarku, Mas Tomo memulai ritual dan telah mempersiapkan segala makanan dan kebutuhan pesugihannya. Ia merasa bimbang, karena aku tak ada dirumah, dan sejak awal sudah mulai ragu mau menumbalkan anaknya.
Akan tetapi, ia tetap melaksanakan kewajibannya demi semua kekayaan dan kejayaan.

Ia duduk bersila di depan tampah besar dengan berbagai bunga dan jajanan pasar, lilin, dan kemenyan telah ia nyalakan. Asap putih mengepul memenuhi ruangan,
Setelah mengucapkan beberapa mantra pemanggil, monyet itu datang dengan wujud yang cantik.
Tidak seperti malam saat aku dan Mas Tomo bertemu dengannya di belakang rumah, jelas Mas Tomo terkaget karna setiap hari yang dilihatnya justru pemandangan seperti ini.
Kulitnya putih mulus, wajah lancip hidung bangir dan bibir tipis merah sempurna, rambutnya hitam mengkilat panjang dan begitu harum, tubuhnya hanya berbalut kain panjang hitam tipis saja. Tomo tersenyum nakal, inilah yang dirindukannya tiap malam.
Tomo selalu siap melayani dan memuaskannya,

"Sembah sujud kulo Ndoro Putri ...."
( Sembah sujud saya Ndoro Putri .... )
katanya sembari sujud dihadapan istri ghaibnya itu.
"Aku gak nemu ambune bayimu nang omah iki, koen kudu ne ngerti nek aku gak isok njupuk bayi iku lek gak onok nang njero daerah kuosoku!!"
( Aku tidak menemukan bau bayimu di rumah ini, kamu harusnya mengerti kalo aku gak bisa ambil bayi itu kalo tidak ada di dalam daerah
kekuasaanku )

"Ampun Ndoro, Ani wes ngerti lek bayine ape ditumbalno dadi de'e mole nang umahe wong tuo ne."
( Ampun Ndoro, Ani sudah tau kalo bayinya mau ditumbalkan jadi dia pulang ke rumah orang tuanya. )

"Koen ape mbijuk'i aku Hahh?!" ( Kamu mau membohongi aku Hahh?! )
Saat Mas Tomo mengintip dari balik sujudnya, ia gemetar bukan main, karena untuk pertama kalinya ia melihat monyet itu dalam bentuk aslinya. Wajahnya yang ayu tiba-tiba berubah menjadi mengerikan, bau yang wangi tiba-tiba berubah amis dan apek khas binatang buas,
ia terduduk lemas hampir tak kuat menopang tubuhnya sendiri, nafasnya tersengal-sengal tak beraturan.

Tangan lembut Ndoro putri berubah menjadi panjang, keriput dan begitu kasar, kuku-kukunya bergemeletak saat diayunkan menuju leher Tomo, ia tercekat tak bisa bernafas.
Bahkan untuk mengeluarkan suara saja ia tak bisa. Makhluk bermata satu itu membuat Tomo kehilangan kesadaran, perlahan pandangannya kabur, samar, dan hilang ....

......
Ia terbangun, melihat keadaan kamar yang sudah dipenuhi uang dan segala perhiasan, Tomo tersenyum bahagia, jelas dalam pikirannya Ndoro putri sudah berhasil mengambil janin Ani.

Tetiba suara gedoran pintu membuyarkan lamunannya, ia berdiri melangkah untuk membuka pintu.
ditemukannya Mbok Ijah disana dengan kekhawatiran yang luar biasa,

"Anu, Pak ... iku ... mas Dika!!" ( Anu Pak ... itu... Mas Dika!! )
katanya terbata-bata,

Segera Mbok Ijah melangkah cepat menuju kamar Dika, ditunjukkannya Fani yang menangis histeris di dalam kamar
sambil memeluk tubuh Dika yang kaku, matanya melotot dan mulutnya terbuka.

Tomo melangkah mendekati keduanya, ia memegang tangan Dika, memastikan nadi di pergelangannya. Tak bergerak sedikit pun, deg ... jantung Tomo serasa berhenti berdetak, ia tak percaya anaknya telah tiada.
Sambil terus terisak Fani memukul-mukul tubuh Tomo tanpa ampun.

"Gara-gara awakmu Mas ngene iki, puas koen mateni anakmu dewe?"
( Gara-gara kamu Mas semua ini, puas kamu membunuh anakmu sendiri? )
Tomo menerima segala pukulan dari Fani tanpa menolak dan membalas, ia membiarkan istrinya menumpahkan segala kekesalannya, ia menangis melihat anaknya yang sudah berusia 21 tahun telah kehilangan nyawa akibat perbuatannya.
Menyesal sudah pasti, kini baginya harta yang ia dapat tak sebanding dengan kehilangan nyawa anak semata wayangnya.

Ia memang beberapa kali punya anak, tetapi sebelum hendak dilahirkan semua anaknya telah hilang, hingga tak pernah sekali pun ia menyesalinya karena memang
tak pernah bertemu dengan mereka.

Tapi kini lain ceritanya, anak yang selama puluhan tahun menemaninya telah direnggut paksa, tanpa belas kasih. Sungguh tak pernah ia merasakan yang sesakit ini, mungkin ini yang dirasakan Tini, Fani, bahkan Ani saat kehilangan janin
yang menemani mereka selama tujuh bulan.
Air mata Tomo tumpah ruah dalam pelukannya di tubuh Dika, ia menangis sejadi-jadinya. Fani yang sudah lelah memukul kemudian ikut menghambur saling berpeluk pada tubuh kaku Dika.

.....
Cerita sebelumnya saat Tomo pingsan akibat dicekik Ndoro putri. Sang monyet segera pergi mencari bau janin Ani, ia menemukan Ani dirumah orang tuanya, ketika mencoba mengambilnya, tangannya tak dapat menjangkau. Karena memang rumah itu bukan daerah kekuasaannya.
Ada makhluk lain di dalamnya yang menahan keinginannya.
Ditambah lagi bacaan-bacaan yang dibaca ibunya Ani membuat sang monyet tak bisa bergerak,
Segera ia kembali ke rumah.

Dirumah ia melihat Dika yang saat itu sedang berada di kamar bersama dua orang temannya,
Sesaat ia terdiam, seakan lupa bahwa Tomo masih mempunyai anak yang lain, ia mulai mendekat dan mengendus menikmati bau Dika.

Mereka sedang asyik bermain game, kedua temannya saling menghujat sambil memegang stik game, sedangkan Dika berada di sebelahnya memainkan gadget.
Segera Sang monyet menghampirinya, menatap lekat-lekat dan berada di depan Dika.
Dika tersentak kaget tapi dengan segera sang monyet mencekik lehernya. Ia tak bisa bersuara, lalu tangan panjang monyet melingkari tubuhnya hingga ia tak dapat bergerak.
ia mencoba memberi isyarat teman-temannya, namun tak bisa, kedua temannya tak menyadari apa yang telah terjadi pada kawannya itu.

Sang monyet membuat mulutnya terbuka, dengan segera lidah panjang dan kasar Sang monyet masuk ke dalam mulutnya, menelusup masuk hingga ke dalam
perutnya, mengoyak habis semua isi perut dan organ dalamnya. Dika hanya bisa melotot menahan sakit yang luar biasa,
sesaat salah seorang kawannya menoleh melihat Dika yang hanya bisa melirikkan matanya ke kiri dan kanan.
"Koen iki lapo seh Dik?" ( Kamu ini kenapa sih Dik? )
tanya salah satunya, lalu teman yang satunya lagi menggoyangkan tubuh Dika, tetapi Dika tak bergerak sedikit pun. Mulutnya tetap terbuka, kepalanya sedikit naik seperti menahan sesuatu,
matanya terus bergerak seperti ingin menunjukkan sesuatu, namun sia-sia, kedua temannya seperti tak bisa melihat penampakan makhluk mengerikan di depan Dika itu.

Mereka pun ketakutan dan dengan segera berlari keluar kamar mencari bantuan,
Saat Fani mengetahuinya dengan segera ia masuk ke kamar Dika, ia melihat Sang monyet meloncat keluar lewat jendela.
Fani berteriak histeris, kemudian mendekati Dika.

Namun, semua sudah terlambat, tubuh Dika sudah pucat dan kaku, matanya melotot dan mulutnya terbuka.
Seperti habis kehilangan banyak darah, ia memeluknya dengan penuh penyesalan, berteriak memanggil-manggil nama Dika, tangisannya sungguh menyayat hati.

Kedua teman Dika, Mbok Ijah dan Mbak Warni hanya bisa memandang mereka berdua, ikut hanyut dan menangis dalam kesedihan
yang luar biasa.

====

Keesokan harinya Aku yang sedang di dapur bersama Ibu, dikejutkan oleh kedatangan Mbok Ijah yang menangis tersedu-sedu.
Kami mengajaknya masuk dan mendudukkannya,

"Onok opo toh Mbok?" ( Ada apa sih Mbok? )
Mbok Ijah tetap tenggelam dalam tangisnya,
sambil terisak ia menceritakan semua yang terjadi dirumah malam itu.

Mbok Ijah sangat terpukul karna sejak kecil dialah yang merawat Dika, ia sudah menganggap Dika seperti anaknya sendiri.
Tiba-tiba harus kehilangan dia dengan cara yang sungguh tak wajar,
"Wes ero kan Mbok sampean rasane kailangan anak?" ( Udah tau kan Mbok kamu rasanya kehilangan anak? )
Mbok Ijah mengangguk mengiyakan, ia memelukku dengan penuh kesedihan, larut dalam tangis yang mengiris.
"Trus saiki Yoopo maneh? Opo kate diterusno maneh kelakoane Mas Tomo ngunu iku?" ( Trus sekarang gimana lagi? Apa mau diteruskan lagi kelakuannya Mas Tomo itu? )

"Koyok'e Pak Tomo yo shock Mbak, wonge guetun." ( Kayaknya Pak Tomo juga shock Mbak, orangnya begitu menyesal )
"Wes, mugi ae ndang sadar" ( Udah, moga aja segera sadar )
Timpal Ibu menutup perbincangan kami.

====

Sebulan setelah kematian Dika, Tomo baru datang menemuiku.
Saat di depan rumah kulihat Ayah dan Tomo terlibat adu mulut, saling mencaci dan menuding,
tetangga dan beberapa orang lewat terhenti melihat pertengkaran itu, akhirnya keduanya pun berhenti saat Ibu datang menengahi mereka.

"Wes cukup awakmu nganggu anakku, bakal tak ramute dewe calon putuku, gak usah mrene-mrene maneh!!"
( Udah cukup kamu ganggu anakku,
bakal kurawat sendiri calon cucuku, nggak usah kesini-kesini lagi!! )
bentak Ayah pada Tomo berapi-api.

"Justru aku mrene iki kate pamit karo anak bojoku!!" ( Justru aku kesini ini mau pamit sama anak istri ku )
jawab Tomo tak kalah emosi.
Aku yang berada di dalam kamar sudah tak tahan lagi, segera aku menemui Mas Tomo di ruang tamu,

"Pamit ate nandi?" ( pamit mau kemana? )

Mas Tomo menolehkan pandangannya padaku seketika, ia langsung meraih tanganku dan menggenggamnya erat,
"Aku titip anakku yo, tolong diramut sing apik, bakal tak lereni kabeh engkok bengi."
( Aku titip anakku ya, tolong dirawat yang baik, bakal tak akhiri semuanya nanti malam. )
Aku mengernyitkan dahi, kemudian menarik tanganku.

"Jaremu gak onok coro gae mareni? Piye?"
( Katamu gak ada cara buat mengakhiri? Gimana? )

Ia tersenyum,
"Onok coro terakhir, delok'en ae engkok bengi." ( Ada cara terakhir, lihat aja nanti malam. )
Setelahnya ia meminta maaf pada Ayah dan Ibu, ia terlihat benar-benar menyesali dan sangat terpukul karna kehilangan Dika. Ia berpamitan sembari berlinangan air mata. Berulang kali ia berkata untuk titip dan menjaga anakku kelak.

Aku jadi merasa tertegun dan kasihan,
entah seakan-akan ia akan pergi jauh dan tak akan kembali.

====

Tengah malam, Tomo sudah melakukan ritual pemanggilan seperti saat malam pesugihan waktu itu. Lama ia menanti tapi Sang monyet–Ndoro putri–belum juga datang.

.....
Dirumah aku merasa gelisah, entah tiba-tiba kepikiran Mas Tomo. Padahal aku tak pernah sekali pun mencintainya, aku seperti merasa takut akan sesuatu, memikirkan cara apa yang akan ditempuh Mas Tomo untuk mengakhiri pesugihannya.
Kuambil ponselku dan mencoba menghubunginya, tetapi hanya nada dengung yang aku dapatkan, berkali-kali kuulang tetap sama.
Akhirnya kucoba mengetik chat untuk Mbak Fani,

[ Mbak, Mas Tomo nandi? ]
( Mbak, Mas Tomo dimana? )
Lama ia tak membalas, mungkin sudah tidur karna memang waktu menunjukkan pukul 00.15 malam.

Kulirik ponselku berkali-kali tetap tak ada jawaban, hingga aku merasakan kantuk.

Drrttt ... drrtt ....
Ponsel bergetar mengagetkanku,
[ Mas Tomo gak onok nang kamare, lapo awakmu bengi-bengi nolek'i? ]
( Mas Tomo nggak ada di kamarnya, ngapain kamu malam-malam nyariin? )

Segera kubalas,
[ Mbak tulung tolek'ono Mas Tomo, aku due firasat gak enak, soale maeng mari pamitan karo aku ]
( Mbak tolong cari Mas Tomo, aku punya firasat nggak enak, soalnya tadi habis pamitan sama aku )

Setelah aku mengetik itu Mbak Fani tak membalas lagi. Aku yakin dia sama khawatirnya denganku, dan segera mencari keberadaan Mas Tomo.

......
Di dalam kamar pribadinya, Tomo terus merapalkan mantranya lebih keras lagi, hingga sekitar satu jam ia menunggu sang monyet baru datang dengan wujud ayu dengan segala keanggunannya.

"Lapo koen nyeluk aku? Bukane jek sewulan wingi aku wes oleh Dika?"
( Kenapa kamu panggil aku? Bukannya masih sebulan yang lalu aku udah dapat Dika? )

Sambil mengatupkan kedua telapak tangannya diatas kepala, Tomo berkata,

"Ndoro putri, Aku wes siap mungkasi kabeh, cukup sampik kene."
( Ndoro putri, Aku sudah siap mengakhiri semuanya.
Cukup sampai disini )

Sang monyet pun tertawa,
"Wes temen sampik tekan kene thok?"
( Udah yakin sampai disini saja? )

Tomo mengangguk yakin, ia sudah siap atas segala konsekuensinya, perjanjian yang pernah diawali harus pula diakhiri.
Kesepakatan dari awal adalah Tomo akan hidup mewah dengan segala kekayaan dan hidup kekal, asal dalam lima tahunan ada tumbal bayi dari benih Tomo.

Kini Tomo sudah lelah hidup seperti itu, keinginannya sudah diambang batas.
Tak peduli lagi akan segala kemewahan dan pangkat tinggi, ia tak ingin lagi menyakiti wanita untuk diambil paksa janinnya.
Kematian dirinya adalah tutup dari perjanjian itu, dia harus rela menyerahkan roh ya untuk menjadi pengikut setia dan abadi dari Sang monyet.
"Mrinio ...." ( Mendekatlah .... )
Ucap sang monyet, segera Tomo berjalan dengan menggunakan lututnya mendekat ke hadapan Ndoro putri.

Saat sudah tepat berada di depannya, Ndoro putri memegang kepala Tomo,
kemudian merubah wujudnya menjadi makhluk mengerikan itu.

Tomo sudah tak lagi merasakan ketakutan, ia hanya diam menatap istri ghaibnya menampakkan wujud aslinya.
Tangan yang memegang kepalanya seketika memanjang, demikian pula dengan tubuhnya membesar dan tinggi menjulang
hingga hampir menyentuh plafon.

Tomo menengadahkan wajahnya, melihat dengan jelas penampakan sosok yang selama ini digaulinya. Sungguh menyeramkan dengan mata satu yang besar, mulut yang lebar, dan taring yang runcing memanjang. Seakan siap untuk menerkam dirinya.
Berkali-kali ia menelan ludah, namun berusaha tetap tenang apapun yang terjadi.

"Hee ... Tomo, mulai detik iki aku terakhir ndelok rupomu, sakwise iki ruhmu kudu dadi pengikutku sing abadi, demi janin sing mbok tumbalno, tak jupuk ruhmu soko jasade sing wes dadi hakku ...!!"
( Hee ... Tomo, mulai detik ini aku terakhir melihat wajahmu, setelah ini rohmu harus jadi pengikutku yang abadi, demi janin yang kau tumbalkan, kuambil rohmu dari jasadnya yang sudah menjadi hakku ...!! )
ucap sang monyet jelas dan lugas.
Seketika kepalanya seolah ditarik secara paksa, ia berteriak kencang karena seperti Merasakan sakit yang teramat sangat, perlahan tubuhnya seperti mulai mati rasa, dari ujung kaki kemudian merambat keatas secara perlahan dan pasti, panas dan sungguh perih seperti kulit
yang terkelupas dari dagingnya, ia terus berteriak dan meronta sekuat tenaga, tetapi tangan sang monyet semakin mencengkeram erat kepalanya, ia seakan merasa kini tulang belulangnya telah remuk, tubuhnya melemah. Jiwanya hanya tinggal separuh lagi, sakit teramat sakit ....
Darahnya seperti diperas lalu dipompa keatas, seakan panas menjalari seluruh tubuh. Ia melihat tubuhnya kini mengkerut dan menyusut, sungguh diluar nalar. Bahkan teriakannya tak bisa lagi mengungkapkan rasa sakitnya yang teramat menyayat.
Hingga saat detik terakhir, ia melihat Fani membuka paksa pintu kamarnya. Fani berlari kearahnya sembari berteriak memanggil-manggil namanya, namun semua sudah
berakhir. Tubuh Tomo ambruk dengan keadaan yang menggenaskan.
Wajahnya pucat membiru dengan mata melotot seperti kondisi Dika waktu itu. Tubuhnya menyusut dan mengering seperti sudah berumur ratusan tahun, seakan seluruh isinya disedot dengan paksa.

Fani mengangkat kepala Tomo dan menaruh di pangkuannya, ia menangis tersedu-sedu.
dipeluknya tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa itu. Sungguh mengerikan, tubuh yang gagah dan padat berubah menjadi sedemikian rupa, ia berteriak sekuat tenaga hingga membangunkan semua orang yang ada dirumahnya.
Mbok Ijah, Mbak Warni, pak satpam, pak supir dan tukang kebunnya menghambur masuk mencari tahu apa yang terjadi. Semua berjingkat kaget melihat keadaan majikannya yang semengerikan itu, tak ada darah sedikit pun, tetapi benar-benar memilukan dan menyayat hati

====
Keesokan harinya, aku sudah berada dirumah Mas Tomo untuk ikut mempersiapkan segala kebutuhan pemakamannya. Kulihat Mbak Fani masih shock, banyak sekali orang yang memberikan ucapan belasungkawa padanya.
Namun, ia hanya diam saja menatap ke depan dengan tatapan kosong.

Ia hanya membiarkan orang menyalaminya tanpa mengucap sepatah kata pun. Benar saja apa yang dialami Mbak Fani sungguh memilukan, hanya dalam waktu sebulan ia harus kehilangan dua orang yang dicintainya.
Entah setelahnya ia akan hidup seperti apa dan untuk apa, takkan ada lagi semangat baginya.

......

*di rumah sakit*

Dua bulan setelah kepergian Mas Tomo akhirnya aku bisa melahirkan anaknya dengan selamat, bayi itu perempuan, cantik dan sehat, tak henti-hentinya aku mengucap
syukur bahagia.

Aku begitu terharu atas apa yang dilakukan Mas Tomo untukku dan anakku. Ia rela memberikan dirinya agar anakku bisa hidup, meski aku tak tahu bagaimana nanti anakku bisa tumbuh tanpa sosok seorang ayah.
Ibu dan Ayah terlihat bahagia menimang-nimang cucunya di gendongan Ibu. Aku tersenyum melihat Ayah yang telah benar-benar berubah, aku terharu air mataku pun tak berhenti memaksa keluar.
Saat keadaan mengharukan itu tiba-tiba Ridwan masuk ke ruanganku dan tersenyum melihat putriku. Ia memintanya dari Ibuku, kemudian menggendongnya dengan amat hati-hati, kemudian berkata,

"Aku siap jadi Ayahmu."
Kalimat itu sungguh membuat air mataku semakin tumpah ruah, Ayah dan Ibu pun tersenyum bahagia menatapku kemudian saling berpeluk.

Disaat itu tanpa sengaja aku melihat sekelebat bayangan di jendela,
kujelaskan pandanganku beberapa detik.
Astaga ... Sang monyet! dia hanya menyunggingkan senyum kemudian hilang tanpa bayang.

TAMAT

CMIIW

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with lely rosyidah

lely rosyidah Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!