Payung Hitam Profile picture
May 28, 2021 137 tweets 15 min read Read on X
Warung Sembako Pojok Wetan

Bukan mengenai pesugihan, tapi kelamnya penyesalan dalam kematian.

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror Image
Halo temen2, nama aku Roro, salam hangat untuk para followers payung hitam, soalnya aku followersnya juga✌🏼mau berbagi kisah pengalaman aku waktu dulu sekitar tahun 2003 waktu aku masih kelas 6 SD.
*nama akun ga admin tag karena permintaan dari narasumber ya
Waktu itu umurku sekitar 11 tahun, dirawat sama ibuku seorang diri, aku punya kakak perempuan, sudah menikah yang akhirnya dibawa oleh suaminya ikut bekerja kontrak di luar kota. Jadi, aku dirumah hanya berdua dengan ibuku. Ibuku kadang bkerja di toko tp gak setiap hari kerjanya.
Bapakku juga merantau ke kota besar, tapi masih di provinsi kami. Aku tinggal di salah satu desa di selatan Jawa Tengah dekat dengan pantai, disana rata2 rumahnya berjauhan dan jalan desa belum diaspal,
jadi denah dari desaku ada jalan ditengahnya yg kira2 masuk 1 truk angkut garam, dan setiap rumah pagarnya bukan beton tapi pagar tanaman.
Rata2 rumahnya juga berjarak sekitar 40 meter dari pagar, dan sekitar 70 meteran bahkan lebih ke rumah tetangga. Jadi disana tetanggaku sedikit, tapi kita saling mengenal dan anggap seperti keluarga sendiri.
Di ujung barat desa ini ada pertigaan yang mana mengarah ke jalan kecil untuk keluar desaku ke jalan besar dan ada jembatan untuk lewatin sungai kecil mengarah ke desa lainnya, untuk nyebrang pun jembatannya kecil, hanya muat 1 motor, kalau pas pasan ya harus bergantian.
Yang mana bentuk jalan pertigaan itu, kalau ada orang awam yang liat, pasti dianggap jalan buntu, padahal nggak.
Disana, dirumah yang paling ujung dekat pertigaan, buka sebuah warung sembako yang gak terlalu besar, super lengkap yang dijual, Padahal warungnya gak besar dan sederhana aja,
bangunannya dari beton setengah kayu, yang atapnya Cuma terbuat dari asbes, dan letak warung ini mepet jalan, jd rumah yg punya warungnya ya menjorok ke belakang.
Tetanggaku yang buka warung tersebut namanya buk Jah dengan anak sematawayangnya yang jadi kembang desa disini, namanya mbak Tri.
Mereka hidup berdua karena suaminya sudah meninggal waktu mbak Tri ini masih kecil. Karena Cuma mereka yang buka warung di desa kami, jadi seluruh warga kenal dengan buk Jah dan mbak Tri ini,
tapi mereka bukan keluarga yang terbuka, mungkin memang wataknya, aku ga paham, intinya mereka jarang berbaur.
Kisah ini bermula pada saat suatu hari saat itu aku baru pulang kegiatan tarawih di sekolahku, aku pulang jam 9 malam sendirian, sekolahku gak terlalu jauh dari rumah, jadi aku Kadang naik sepeda atau jalan kaki.
karena suasananya habis hujan dan dingin, aku pikir pasti enak minum susu kental manis hangat dirumah, jadi aku mampir dulu ke warung buk Jah.
Oh iya, aku harus lewatin rumah sendiri kalau mau ke warung itu, karena kan warungnya ada di pojok desa. Didesaku pun warung itu disebut “warung sembako pojok wetan”.
Warung buk Jah memang buka 24 jam kadang, dan untungnya saat itu warung buk Jah masih buka. Aku celingak celinguk, tengok kanan kiri gak ada orang, aku udah ucap salam keras2 pun ga ada yg keluar, jadi aku tunggu aja karena aku bener2 kepingin susu kental manis.
Lagi nunggu, tiba2 aku dengar suara kucing dari belakang warung, ya namanya anak2 jadi senang sama binatang, aku dekati suara itu sambil menerawang dibalik gelap di belakang warung, “mana kucingnya”, karena aku merasa ga nemu, aku balik ke depan warung buat duduk lagi.
Tapi suara kucing itu masih kedengeran dekat dari warung.
Aku balik lagi ke depan warung, Waktu sampai didepan warung aku lihat ada sosok perempuan telanjang dengan rambut berantakan, serta tangan dan kakinya menyerupai burung, dia bertengger diatas kursi warung yang aku duduki tadi.
aku terbelalak menyaksikan itu, makhluk itu juga sambil mengeluarkan suara seperti kucing sambil memaju2kan wajahnya kearahku seolah meledek. Aku yang kaku dan keringatku bercucucuran dibalik kerudungku, entah makhluk apa itu,
aku langsung tak sadarkan diri yang akhirnya aku terbangun beberapa saat kemudian di rumah pak RT.
Ibuku belum pulang bekerja saat itu, padahal sudah pukul 11 malam. Biasanya ibuku sudah pulang kerja jam 6/7 sore. Aku sementara dirumah pak RT sambil menunggu ibuku pulang dan menjemputku. Ternyata ibu lembur, yg akhirnya dia menjemputku pulang pukul stengah 12 malam.
Setelah kejadian itu aku sakit selama seminggu, di hari ke 3 aku sakit, sebetulnya aku berangsur sembuh, tapi di malam ke 3 itu, malam yang menurutku paling menakutkan. saat itu aku lagi tidur lelap ditemani ibuku,
Tiba2 aku bangun dan denger ada suara soang milik tetangga yang berisik banget, aku amati ibu yang lagi tidur disebelahku sama sekali gak bergeming.
Aku pikir dalem hati “pules banget ibu tidur sampe suara soang begini gak kebangun”, akhirnya aku pergi ke dapur untuk ambil air, karena aku ga bisa tidur lagi dan haus.
Aku lihat juga jam ternyata udah menunjukan pukul stengah 2 malam. Dari jendela dapurku, kebetulan dapurku ada di belakang rumah, aku gak bisa lihat suasana di luar tempat soang itu, akhirnya aku keluar halaman belakang rumah,
maksudnya mau menenangkan si soang yang dari tadi berisik dan memastikan soang milik siapa itu.
Di halaman belakang aku lempar soang2 itu pakai ikan bekas lauk makan malam tadi, waktu sambil ngasih makan, aku sambil bilang “husshh husshh”, tapi, tiba2 ada yang ngikutin “hussh hush” juga, aku kaget, bingung juga siapa,
awalnya aku pikir pemilik soang itu, mungkin ga terima soangnya aku kasih makan. Tp suaranya dari arah tengah kebun yg gelap gulita.
Aku mematung takut sambil berharap pemilik soang itu keliatan, tapi ga ada orang yg nyamperin soang itu. Aku cepet2 masuk kerumah dan lari ke kamar dan tidur disebelah ibu. Malam itu aku kembali sakit dan sembuh 4 hari kemudian, yang kalo ditotal ya aku sakit selama 1 minggu.
Pokoknya semenjak aku sakit itu, kesaksian dari keluargaku bahkan warga di desaku sering anggap aku aneh, tingkahku seperti gak biasa. gelagat aku seperti wanita dewasa padahal aku masih jauh dari masa baligh atau puber.
Ini dari cerita ibuku, karena waktu itu aku sering lupa sama yang aku kerjakan alias gak sadar. Contohnya, aku pernah dikasih uang oleh pakde ku dari luar kota, memang pakde ku ini biasa ngirim uang jajan untuk keponakan2nya,
biasanya uang jajan ini dipegang ibuku dan stengahnya aku pegang, kadang aku tabung kadang aku buat jajan.
Waktu itu aku belanjakan semua uang dari pakdeku untuk beli beberapa riasan wanita, dan yang paling ibuku bingung, aku beli sepatu teplek (flat shoes) yang ukurannya 38, padahal ukuran kakiku 34/35.
Ibuku awalnya mengira sepatu itu untuk dia, dengan nada bercanda ibuku meinta sepatunya, tapi aku menyangkal dengan emosi, aku bilang itu sepatuku yang bakal aku pakai buat main pokoknya gak sudi lah sepatu itu disentuh ibu,
ibuku Cuma pasrah aja karena mau marah pun gimana karena sepatunya sudah kubeli.
Beberapa hari setelah membeli sepatu itu, aku juga susah disuruh berangkat sekolah, bahkan sering kali aku ngambek dan ngamuk. segala perkataanku, pola pikirku seperti orang dewasa, yang mana ibuku bingung aku belajar dan mencontoh siapa?
Karena aku Cuma berinteraksi dengan orang dewasa ya Cuma ibuku dan bapak, kalau kakak dan kakak ipar malah jarang.
Sampai satu ketika gak ada angin gak ada ujan, aku tidur 18 jam gak bangun, menurut kesasksian ibuku, waktu itu aku dianggap alasan aja gak mau sekolah, tapi aku betul2 tidur,
ibu tunggu sampai 16 jam aku tidur, barulah beliau panik, ibu langsung pmenelfon kakakku, kakak iparku, dan bapakku.
Aku langsung dibopong kerumah sakit yang akhirnya aku dinyatakan koma karena ada benturan keras di kepalaku. Padahal ibuku udah ngotot ke dokter yg menanganiku kalau ga ada kecelakaan sebelumnya.
Sebelum tidur pun aku sendiri merasa tidur biasa yang normalnya manusia tanpa merasa sakit apapun, tapi hari itu aku gak kunjung bangun, 1 hari, 2 hari, tidurku sampai di hari ke 5, aku tetap koma.
Bangun dari koma, aku kaget dihadapanku ada ibu, suster, dan 1 orang yang aku gak kenal memakai pakaian muslim warna putih dengan perawakan tua. Disana bapak tua itu langsung bilang “kan saya udah bilang, ibu tenang aja, Roro bakal bangun”
ternyata laki2 tua itu adalah seorang kiyai, atau apa aku ga paham juga, dari penampilannya si seperti itu ya. Dan beliau bukan dari desa kami, pantut saja aku gak pernah lihat beliau.
Ibuku langsung memeluku sambil menangis. Aku makin bigung dan kenapa aku dirumah sakit. Disitulah aku mulai menceritakan bagaimana yang aku alami selama koma.
[selama koma]
Waktu itu aku bangun dan ngerasa tidur sebentar sekitar 8 jam, (padahal posisinya disitu aku Cuma terbangun di alam bawah sadar). Aku bangun di keadaan yang berbeda, tubuh ngerasa berat dan aku terbangun entah dimana.
Waktu aku jalan keluar, aku mulai aktivitasku merendam pakaian selesai itu aku sarapan pagi.
Selesai sarapan, aku keluar rumah dan aku sadar disitu ada bangunan kecil lain didepan rumah, yang itu ga asing, yaitu warung sembako pojok wetan. Aku jalan menuju warung dan aku lihat disitu buk jah sedang membenahi beberapa dagangannya.
Buk jah menegurku ramah kemudian aku duduk sambil beberapa kali kebingungan kenapa aku disini, tapi beberapa kali aku mengerjakan sesuatu yang aku sebenernya gak kepengen kerjakan. Tapi aku gak bisa kontrol diriku harus bergerak gimana atau melakukan apa.
Menjelang malam (masih di kondisi alam koma ku), aku tetap beraktifitas dirumah buk jah tanpa segan. Juga tanpa ada rasa ingin pulang.
Jadi gini, kalian pernah kan mimpi tapi kalian bingung lg ngapain, tapi kalian ttep gabisa ngontrol kalian mau ngapain di mimpi itu. Ya gitu deh kira2 rasanya.
Aku beraktifitas layaknya pemilik rumah, mencuci baju, beres2 rumah, melayani pembeli yg ke warung, tapi anehnya aku gak ketemu mbak Tri di rumah itu. Dalam hati aku bertanya juga, kamana mbak Tri?.
Hari2 berjalan, entah di hari keberapa aku mulai jenuh dan aku bingung kenapa kehgatanku selalu sama. Persis yang aku lakukan kemarin di jam yang persis pula.
Misal aku menyalakan kran air pukul 10.23 ya aku buka kran air di jam itu juga di hari esoknya. Bahkan yang lebih buat aku merinding, di sore hari aku lihat buk Jah yang menebang 1 batang pohon bambu, besoknya bambu itu seolah tumbuh semula lagi, lalu ditebang buk jah.
Dengan potongan yang sama, di jam yg sama, dan pakaian buk Jah yg sama.
Aku ngerasa ada yang gak beres tapi aku ga bisa mengendalikan diriku. Akhirnya aku berusaha sekuat pikiranku untuk keluar dari kegiatan sehari2ku.
Rasanya mau mematahkan apa yang aku kerjakan kemarin aku ganti ke kegiatan yang baru, aku mengontrol diri sendiri juga untuk bisa keluar dari kegiatan yang kemarin.
Aku memberanikan diri keluar dari rumah buk Jah, dan aku lihat lingkungan yang ga seperti biasanya. Padahal di hari2 sebelumnya menurutku banyak orang yang bolak balik ke warung. Tapi kemana perginya mereka semua?.
Suasana desa sunyi seperti tak berpenghuni, tapi aku juga mendengar berbagai suara aneh seperti hewan2 yg meraung dan suara orang2 menangis di sekelilingku. Karena aku gak nyaman dan ketakutan, aku akhirnya balik lagi kerumah buk Jah.
Saat itulah ada laki2 muda yang menyambutku di ruang tamu.
Tanpa aku kenal dan sangat asing perawakannya. Dia duduk di ruang tamu dan langsung aja makan semua jajanan pasar yg ada di meja. Berasa udah kenal lama. Tiba2 laki2 itu memberiku sebuah bingkisan entah apa itu. Aku lihat juga buk jah yang sangat berterimakasih ke laki2 itu,
kemudian laki2 itu cipika cipiki dengan buk jah sebelum keluar rumah dan pergi.
Ada perasaan bahagia (bahagia yg belum pernah aku rasakan) ketika laki2 itu ada dihadapnku dan juga bingung, siapa laki2 itu. Keesokan harinya dengan kegiatan yang sama seperti hari sebelumnya, tapi laki2 itu gak datang lagi,
Tengah hari, Tiba2 aja tubuhku merasakan lemas yang teramat sangat. Mataku berkunang2 kemudian aku semakin jelas mendengar banyak suara tangisan dan lantunan doa. Aku gak paham darimana datangnya suara itu. Akhirnya aku jatuh pingsan.
Dan disaat itu juga aku terbangun ke dunia yang nyata, bukan alam koma ku.
***

Seperti yang sudah aku jelaskan, aku bingung disekitarku banyak orang. Setelah aku bangun, aku langsung dibawa pulang oleh keluargaku. Dirumah aku seperti didoakan oleh bapak tua yg tadi ada di rumah sakit sambil sesekali dipeluk ibu, bapak, kakak, dan kakak iparku.
Aku merasa ikut sedih karena seua anggota keluargaku menangis, aku paham dan gak paham apa yang telah terjadi, yang aku paham, ada yang salah dengan diriku karena segalanya terasa aneh di tubuh ini.
Setelah beres semua akhirnya kiyai itu pergi pamit dengan menitipkan kantung berisi biji2an dan rempah yang selalu harus aku bawa kemanapun, dan juga memberi secarik kertas bertuliskan nomor telepon untuk menghubungi kiyai itu kalau kedepannya ada masalah lagi.
Disini belum berakhir keanehan yang aku alami, aku merasa sering diamati entah dengan siapa tapi bisa aku pastikan aku sedang sendirian, dan yang membuktikannya itu selalu ada genangan air yang berbau amis ikan dan dikerumuni lalat.
Awalnya aku melihat di sekolah, selesai pelajaran olahraga aku berteduh di bawah pohon randu besar favorit murid2 karena memang adem banget. Disitu tercium bau amis ikan yang entah dimana asalnya dan baunya kadang datang kadang pergi.
Aku lihat di sekeliling ga ada sampah ikan atau genangan air sampah sama sekali. Yg akhirnya aku pindah ke kelas untuk sekalian bersiap ke pelajaran berikutnya. Tapi ternyata bau itu tetap mengikuti.
Aku cari dimana sumbernya, ternyata skrg aku lihat ada genangan air di atas kursi kosong di sebrang kursiku, aku duduk di tengah jadi kursi itu ada mepet dengan tembok. Aku tutupi kertas sobekan maksudnya supaya siapapun yg nantinya duduk disitu ga akan kebasahan.
Lagian baunya pun amis, dengan beberapa lalat menghinhgapi.aku lihat ke atas tepat di ternit atap sekolah pun ga ada bocoran sama sekali, tapi airnya semakin menetes dan banyak, ah aku akhirnya masa bodo aja.
Pulang dari sekolah aku terkejut lagi mencium bau amis itu, apa jangan2 badanku yg bau? Tp nggak juga. Setelah aku liat2, ternyata ada beberapa spot genangan air dirumahku, aku letakkan beberapa ember di spot yang ada genangan airnya itu.
Ternyata ibuku memperhatikan aku, dia bilang disini gak hujan bahkan rumah gak bocor sama sekali, gak ada air disini, dan beliau pun mengambil kembali ember2 itu. Aku juga heran kenapa aku liat disana becek tp ibuku bilang gak ada air.
Tp aku nurut aja karena mungkin aku ngerasa Cuma kelelahan aja.
Suatu ketika, suatu malam ibuku mengajakku makan pecel lele dan disitu selama perjalanan diatas sepeda ontel ibu aku mulai melihat beberapa hal gak wajar,
mulai dari ada beberapa cahaya kuning di belakang punggung orang yg ada di jalan, dan aku lihat beberapa orang juga dengan pakaian kuno hilir mudik.
Yang paling mengejutkan, di belakang warung pecel lele itu aku lihat ada sosok yg pernah aku lihat, perempuan telanjang dengan kaki dan tangan yang menyerupai burung. Melihat kearahku tanpa bergeming.
Aku ketakutan dan melihat di arah yang lain, Aku lihat ada seorang bapak2 disebrang jalan menatapku dengan mimik memaki dan seolah mengutuk, aku berpegangan erat ke lengan ibuku yang sedang makan dan aku menangis.
Karena merasa gak enak dengan pengunjung lain, akhirnya aku dibawa pulang oleh ibu.
Sampai dirumah, aku ditenangkan oleh ibu, ibu menturuhku tidur duluan sedangkan beliau bakal nyusul, tapi sampai di kamar aku dibuat bingung karena kasurku basah, bau amis dan banyak lalat. Aku teriak memanggil ibuku, kata ibu kasurnya gak basah sama sekali,
bahkan beliau dengan santainya tiduran untuk membuktikan kasurnya gak basah.
Aku semakin takut dan karena melihat mimik ibuku yang panik, aku menangis dan gak mau melepaskan pelukan dari ibu. Akhirnya ibu memanggil pak kiyai kemarin serta ayahku yang diminta pulang malam itu juga.
Malam itu juga aku diruqiah, ditengah prosesi itu, pak kiyai tiba2 berbicara pada tembok dibelakangku,
kata pak kiyai“nduk, sebenernya apa yg mau kamu sampaikan?”
Baru mau aku jawab, tiba2 pak kiyai itu bilang lagi,
“Besok kami kerumahmu, sekarang pulang ya, adik ini mau istirahat” Lanjut pak kiyai.
Aku dan ibu terbelalak penasaran melihat pak kiyai mengatakan itu. Tiba2 pak kiyai itu meniup bagian belakang kepalaku dan mengusapnya,
“Besok pagi kita ke rumah yang di pojok desa ini, ibu kenal kan sama tuan rumahnya?” Kata kiyai itu.
“Kenal pak, besok saya antar, memang kenapa ya?” Kata ibuku yang penasaran.
Tapi pak kiyai itu gak menjawab dan pamit pulang pergi meninggalkan kita, ibuku Cuma diam dan mempersilahkan pak kiyai itu pulang. Esok harinya, kami datang ke warung buk Jah. Disana terlihat buk Jah sendirian membaca beberapa nota di warung.
“Ngapunten bu, assalamualaikum, kita boleh bertamu sebentar?” Izin pak kiyai itu.
Buk Jah mepersilahkan kami duduk dan mengobrol di ruang tamu. Aku kaget dan merinding, aku gak pernah masuk ke rumah buk Jah sebelumnya.
Tapi hari ini aku melihat keseluruhan isi rumah yang persis sama dengan yang aku singgahi saat koma.
“Ibu, punya anak gadis?” Tanya pak kiyai pada buk Jah ditengah basa basinya
“Punya pak..” kata buk Jah yang ekspresinya seolah tau sesuatu.
“Ibu sudah ikhlaskan kepergiannya?” Tanya pak kiyai lagi.
Buk Jah memandang kami melotot dengan mata yang berkaca2, aku sempat bingung, lalu bapakku bertanya pada pak kiyai itu,
“Mbak Tri maksudnya? Kan baik2 aja pak” kata bapak.
Disitu dalam suasana yang canggung, kenapa se frontal itu pertanyaan pak kiyai dan bapak. Ibu Cuma diam sampai buk Jah bicara sambil nada bicaranya terdengar bergetar.
“Tri udah 2 tahun lalu meninggal, sakit, dia gak bilang sakit apa. Saya gak punya biaya untuk ngadain pengajian dan ngubur di TPU pak” jelas buk Jah yang perkataannya sulit dipercaya.
“Mbak Tri ini yakin gak ada yang dia sembunyikan? Atau ibu belum ikhlas?” Tanya pak kiyai pada buk Jah.
“Saya sudah ikhlas, saya pun sudah lupa dengan Tri, karena saya sibuk urus warung dan kebun pak” jelas buk Jah
“Ibu tau Tri hamil?” Tanya pak kiyai itu yang membuat bapakku kurang enak berada disitu, pertanyaan semakin lama semakin intim dan rasanya menyakitkan.
“Kok bapak bilang begitu?” Tanya buk Jah.
Disitu dijelaskanlah dengan pak Kiyai bahwa waktu beliau menyusulku ke alam koma ku, ia sudah melihat sosok perempuan muda dengan raut wajah penuh penyesalan, berdosa, dan ketakutan.
Pak kiyai gak bisa mendekati perempuan tersebut karena perempuan itu terlalu menganggap dirinya kotor.
Perempuan itu tidak lain adalah mbak Tri. Karena selama aku selesai koma, pak kiyai ini kan memberiku sekantung biji2an dan rempah, nah disitu beliau juga masih memantau aku dan daerah sekitar,
yang ternyata setelah diamati, sebab akibat aku mengalami itu semua, adalah arwah mbak Tri.
Awal mula kenapa aku bisa seperti ini karena ada bakat yang ternyata diturunkan oleh buyutku kalau aku bisa melihat dunia gaib. Dan hal itu dimulai sejak aku lihat makhluk berkaki burung di depan warung buk Jah.
Dan sejak itulah sebetulnya banyak sekali makhluk2 semacamnya mencoba hinggap di tubuhku, alasannya karena aku masih murni polos dan belum berdosa.
Tapi dari sekian banyak makhluk itu, yang berhasil menunggangi ragaku adalah mbak Tri, entah kenapa, makhluk diskitar alam mbak Tri semacam iri karena Cuma mbak Tri yang bisa merasuki aku, dan karena itu juga, setelah aku koma,
aku sering mendengar dan melihat hal2 yak sulit dijelaskan dengan ilmiah.
Buk Jah menangis mendengar kejadian ini karena beliau kembali mengingat anak semata wayangnya. Tapi bapak justru bertanya, “lah wong baru seminggu lalu mbak Tri ada di warung loh pak” kata bapak ke pak kiyai.
“Nanti besok kita tahlilan aja bu, kita juga ke kuburan mbak Tri, kita tancapkan lagi batu nisannya supaya mbak Tri menerima kematiannya” ucap pak kiyai itu pada buk Jah.
Buk Jah setuju dan bilang ke seluruh warga untuk membantu menyiapkan acara tahlilan besok.
Bapakku yang mebantu pak kiyai itu mengumumkan ke seluruh desa, warga nampak terkejut dan gak percaya bahwa mbak Tri sudah meninggal 2 tahun lalu. Karena selama ini mbah Tri masih kelihatan sehat di sekitaran warungnya,
tapi memang mbak Tri nampak pendiam, jika ada seorang yg menegur, mbak Tri Cuma mengangguk tersenyum.
Waktu di warung pun, mbak Tri Cuma diam saja seolah sibuk membenahi dagangan, tanpa pernah ada interaksi dengan warga. Esok harinya waktu acara tahlilan digelar, buk Jah kembali dihujani pertanyaan oleh warga dan pak kiyai, supaya mengaku apa yang sebetulnya terjadi.
Dan pak kiyai juga berniat untuk mengatasi kematian mbak Tri yang masih misterius ini, karena bapakku memohon juga pada pak kiyai itu supaya aku bisa hidup tenang.
“Tri sakit pak, saya yang merawat, sebelum meninggal dia mengurung diri selalu, lemas, badannya tiba2 kurus banget, tapi Tri gak ngaku hamil pak, ya saya percaya aja pak” jelas buk Jah. “Ada pacar kah mbak Tri?” Tanya pak kiyai.
“Ada pak, tapi gak pernah kesini lagi, ya sudah lama sekali gak kesini” kata buk Jah. Pak kiyai Cuma mengangguk dan meminta izin masuk ke kamar bekas mbak Tri. Disana pak kiyai itu minta ditinggal sendirian di ruangan, akhirnya buk Jah mengizinkan.
Keluar dari kamar itu, pak kiyai tersebut berembug bersama buk Jah, bapak, dan ibuku, aku belum paham apa yang mereka bicarakan. Bahkan cerita ini beberapa juga kesaksian dari ibu bapakku.
Intinya dari diskusi saat itu, pak kiyai bilang mbak Tri telah mengandung jabanc bayi 2 stengah bulan, tapi mbak Tri diam saja karena takut menanggung malu keluarganya.
Dan yang bikin semakin membuat mbak Tri depresi, adalah pacarnya yang berpesan padanya kalau nanti mbak Tri hamil, mbak Tri diminta untuk meninggalkan pacarnya saja, dan jangan datang lagi.
Menurut kesaksian buk Jah, pacar dari mbak Tri tiba2 gak pernah datang lagi semenjak mbak Tri sakit. Bahkan mbak Tri juga lebih banyak diam saat ditanya keberadaan pacarnya itu.
Karena buk Jah gak mau terlalu banyak ikut campur urusan pribadi anaknya, akhirnya buk Jah gak pernah mengaitkan sakitnya mbak Tri dengan pacarnya.
“Laki2 itu tubuhnya agak gemuk, memakai seragam oranye dengan mebawa helm proyek putih, itu yang aku lihat waktu dia berkunjung ke rumah ini, waktu aku koma” ucapku pada buk Jah setelah acara tahlilan selesai.
Buk Jah Cuma terbelalak melihatku seolah apa yang aku katakan betul ciri2nya.
Jadi, buk Jah sebetulnya gak tau anaknya ternyata hamil, pacarnya menghilang begitu aja pas mbak Tri sakit2an, dan gak lama dari sakit itu, mbak Tri meninggal tanpa meberi tahu warga desa kalau mbak Tri meninggal.
Buk Jah Cuma menguburnya di pekarangan belakang rumah. Disebelah empang (kolam ternak) ikan, dan kandang soang.
*sampe disini inget kan narsum pernah digangguin suara soang dan selalu liat genangan air? Asli aku nulis ulangnya aja sampe ser seran ni bulu kuduk🥲. Lanjut
Dikuburnya pun Cuma dari bantuan beberapa pekerja dirumahnya seperti kuli panggul sembako dan yang suka ngasih makan ikan2 di empang.
Mereka semua juga bukan warga dari desa kami, aku pun masih heran kenapa buk Jah gak mengumumkan kemarian anaknya, apakah buk Jah ini sebetulnya tau anaknya meninggal? Atau memang buk Jah yang sengaja buat anaknya meninggal?
Sampe sekarang, pengakuan buk Jah seperti apa yang aku ceritakan saja. Selebihnya, mari berkonspirasi, tapi lebih baik jangan si, aku turut prihatin dengan mbak Tri.
*btw, soal kegiatan Roro selama koma itu, kenapa selalu melakukan kegiatan yang sama? Karena menurut penjelasan kiyainya kalau seseorang yang meninggal dan belum ikhlas atau belum menerima kenyataan bahwa dirinya sudah meninggal,
bakal melakukan kegiatan yang sama sebelum dirinya meninggal, biasanya kegiatan itu sering dilakukan seseorang yg meninggal itu. Kayak contoh mbak Tri yang sering merendam pakaian, jaga warung, dan menyambut pacarnya yang datang kerumahnya.
Turut berduka cita.
-TAMAT-
Soal kelanjutan gimana keadaan Roro dan keluarganya setelah kejadian itu, keluarganya akhirnya gak pernah mengalami gangguan aneh lagi, terutama pada diri Roro, TAPI
Dengan berat hati, kemampuan Roro bisa melihat apa yang bakal terjadi kedepan, gak bisa dihilangkan. Jadi Roro termasuk anak Indigo, tapi bukan melihat hantu, tapi bisa melihat masadepan, terutama melihat kematian
Contoh yang Roro sering lihat adalah cahaya kuning di belakang punggung seseorang yang akan menjumpai ajal pada waktu dekat. Itu aja yang bikin Roro gak nyaman si, selebihnya, Roro sudah dewasa dan sudah terbiasa.
Sekarang Roro hidup ya biasa2 saja dengan keluarganya, tapi tetap, kejadian itu gak akan pernah dilupakan dengan keluarganya.
Soal warung sembako itu juga udah dijual ke tangan orang lain, karena buk Jah sudah meninggal 4 tahun lalu karena sakit. Harta warisannya (rumah, empang, dan kebun) dipegang saudaranya entah siapa, yang akhirnya dijual ke orang asing. Begitu temen2

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Payung Hitam

Payung Hitam Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @PayungH11101101

Mar 14, 2022
Kost Tua Banyuwangi

Berdampingan dengan lelembut adalah hal yang melelahkan.

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror
Cerita dari followers dan pembaca setia payung hitam ini bener2 pengalaman yang kurang enak selama kuliah. Cerita kost-kosan angker sudah jadi makanan utama anak2 rantau sih.

Lanjut saja langsung ke ceritanya, dari sudut pandang narsum sendiri kita panggil saja Meme;
Aku lulus SMK tahun 2018 dengan impian pada umumnya lulusan SMK/SMA, aku berusaha sebisa mungkin daftar ke beberapa PTN di luar kota. Tapi akhirnya mungkin belum rezeki ku, gak ada satupun PTN yang terima.
Read 47 tweets
Feb 15, 2022
Pawon Peteng

Barang yang dicurigai kepemilikan dari eyang gantung siwur.

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror Image
thread ini berdasarkan pengalaman pribadi aku yang udah aku tulis singkat di thread pendek sebelumnya , kalo bisa sih baca dulu yang itu, karena gak panjang2 banget kok. oiya nama seluruh anggota keluarga aku samarin ya temen2.
aku bakal ceritain detailnya disini karena udah ngumpulin info dari beberapa narasumber termasuk bapakku sendiri. judul disini aku kasih nama “pawon peteng” nanti diakhir aku jelasin ada apa dengan pawon atau “dapur”
Read 98 tweets
Oct 1, 2021
Burong Tujoh
puluhan jin yang menangis terperangkap di tubuh seorang nenek.

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror #threadhorror #santet Image
Jadi ini cerita aku dapat dari penonton @RizkaWadiono yang sudah dikirimkan file wordnya ke kami. Dan yang paling penting Kami sudah diizinkan dari pihak pengirim ceritanya ini diceritakan ulang dalam bentuk thread di payung hitam.
Oiya, untuk thread cerita pengalaman pribadi admin, aku skip dulu ya, menyusul, karena ada beberapa ralat juga, jd mohon bersabar 🌚
Read 114 tweets
Sep 11, 2021
Tujuan Akhir
“Siapa itu di gerbong belakang?”

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror #Threadhorror #keretaapi #penampakan Image
apa kabar semuanya nih? udah lama gak upload cerita, maafin :(

mulai jam 12 malem ya, biar kalian ada bacaan pas malem mingguannya dirumah aja hehe, yg lg keluar tetep stay safe!

tungguinn! like sama RT dulu kuy.
Langsung aja ya, ini cerita dari sepupuku sendiri , jadi kejadian ini baru banget lebaran tahun lalu sekitar bulan maret-april. Disini foto dan vidio terlampir untuk membayangkan suasananya.
Read 94 tweets
Jul 16, 2021
Pesugihan Kawin [18+]
Apapun dengan atas dasar nafsu dunia, tidak ada ujung yang bahagia.
[A Thread]
@bacahorror #bacahorror #Threadhorror #pesugihan
Temen2 cerita yang kali ini agak berbeda, aku dapat cerita ini dari narasumber Channel Youtube Rizka Wadiono bernama mas Danu yang ngirimin ceritanya ke email bang Rizka.
Aku sama bang @rizkawadiono akhirnya sepakat buat kerjasama bawakan cerita dari masing2 narasumber kami, pastinya dengan kesepakatan narasumber.
Read 116 tweets
Jul 11, 2021
“Ce Wien”
Kami sengaja melupakanmu, semakin dilupakan, kau semakin dekat…

[A Thread]
@bacahorror #bacahorror #threadhorror Image
“Cece”, atau sering familiar di telinga kita “cici”, adalah panggilan untuk kakak perempuan masyarakat Tionghoa di Indonesia. Kali ini menceritakan cerita keluarga dari narasumber kami bernama Goh.
Cerita ini admin pikir cukup familiar dan mirip2 sama cerita “KELUARGA ANGKATKU TERSAYANG” karena nyeritain seorang kakak. Kalian bisa baca dulu threadnya kalo mau, atau setelah selesai baca thread ini.
Read 139 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(