Prolog :
Ada yang janggal di kampung ini. Penduduknya hanya beberapa orang saja. Itupun rata-rata berusia sudah tua. Wajah mereka sangat muram dengan pakaian yang lusuh.
Tubuh mereka kurus dan pucat, seperti orang yang terkena penyakit.
Tatapan mereka kosong tanpa pengharapan, seolah-olah ajal siap menjemput mereka kapan saja.
Istriku mencengkram erat pergelangan tanganku. Kami bergegas menuju tempat yang kami tuju.
Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu, rupanya banyak yang kosong tanpa penghuni. Seperti sengaja ditinggalkan dalam keadaan terburu-buru. Banyak yang sudah lapuk tertutup tanaman merambat.
Sebagian lagi sudah rata dengan tanah, tertutup rerumputan dan belukar.
Hanya ada anjing liar dengan tubuh kurus kering penuh lalat yang menghuni rumah-rumah tersebut.
Dan yang lebih aneh lagi, tidak terlihat satupun anak kecil di kampung ini.
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Jelai Ekot berdiri di hadapan tumpukan mayat orang-orang Sirau yang menggunung—beralas daun-daun kering, ranting-ranting patah serta susunan kayu bakar.
Ia setengah putus asa dan setengah gila. Bau busuk yang menusuk hidung tak ia hiraukan. Tatapannya kosong memandang ribuan lalat yang beterbangan. Di antara tumpukan jasad korban keganasan perang itu, terbujur kaku mayat ayah, ibu serta saudara-saudaranya.
Putir Sameh selesai melantunkan doa-doa, Jelai Ekot maju ke depan. Ia tarik kedua mandaunya dari pinggang—sepasang mandau kembar, lebih pendek dari ukuran biasa—lalu ia adu seperti menggesek batu asah. Baja mantikai itu mendecit seperti tikus lantas terperciklah api.
Menurut keterangan tetangga kos korban, Novi (20) sempat mendapat ancaman setelah melaporkan ulah mesum bapak kos. Sesudah itu, mahasiswi cantik itu ditemukan tewas dalam keadaan mengerikan.
Keterangan ibunya di seberang telpon membuat Andi semakin bertanya-tanya. Ia teramat yakin bahwa kekasih adiknya itu telah berbohong sebab tak mungkin bisa mengumpulkan uang begitu banyak dalam waktu singkat.
Dua letusan pistol di belakang kepala, membuat tengkorak sang driver ekspedisi berlubang tembus ke dahi. Lelaki yang mencari nafkah demi anak istri itu tewas bersimbah darah di tangan oknum Polisi kemaruk berpangkat Brigpol.
-Utas-
Rabu siang 27 November 2024, Haryono (37) mengemudikan mobil Daihatsu Sigra melintasi jalan trans Kalimantan Palangkaraya- Kasongan dengan kecepatan sedang.
AC mobil telah disetel full, tapi Haryono tetap saja bercucur berkeringat. Tangannya yang memegang setir gemetar hebat sementara jantungnya berdetak tidak karuan.
Jambri rupanya tak bisa berharap banyak pada aparat kepolisian yang lamban. Dengan segenap tekad, ia bergerak melakukan penyelidikan hingga akhirnya berhasil meringkus pembunuh anak dan cucunya.
-Utas-
Kamis (10/10/24) sekira pukul 09.00 WIB, Jambri dilanda gelisah. Sedari pagi, anak perempuannya yang bernama Vina belum juga datang. Pesan whatsapp yang ia kirim hanya centang satu.
Padahal, anak pertamanya itu sudah berjanji akan datang pagi-pagi sekali untuk membantu ibunya membuat kue. Selain itu, Jambri dan istrinya juga sudah tak sabar hendak bertemu cucu mereka.
Mansur (57) alias Terosman alias Kete membunuh majikannya Dasrullah (45) dengan sadis. Sesudah itu kelamin korban dipotong, diiris-iris, direbus, dikasih garam dan bawang lalu dijadikan lauk makan nasi.
-Utas-
Mansur adalah lelaki yang dikutuk kemiskinan. Keadaan yang demikian membuatnya jadi bengis, sadis dan penuh amarah menyala.
Jauh sebelum jadi pembunuh,-lalu menyantap kemaluan korbannya,- Mansur hanyalah buruh upah tani. Hasilnya pas-pasan.
Sehari makan nasi, dua hari makan angin. Begitulah setiap hari.
Jika ada panggilan, ia membantu menanam atau menuai padi. Jika tidak ada, Mansur menjadi pencuri kelas teri. Apapun ia curi demi mengganjal perut anak dan istri.
Kamis 26 September 2019 adalah hari yang kelam bagi KM (17). Jam menunjukan pukul 07.30 pagi, KM menggali lubang sedalam 30 sentimeter menggunakan cangkul dan linggis di pekarangan pondoknya yang reot.
Di belakang, sang ayah Robendi (43), mengawasi dengan mata merah menyala.
“Barake! Mun jida, ikau ji pateikuh! (Cepat! atau kamu yang kubunuh!)” ancam Robendi dengan suara menggelegar.
Dengan tangan gemetar, remaja pria itu memasukan jasad adik sekaligus keponakannya ke dalam lubang galian.
Sesekali ia meringis, babak belur di sekujur badan akibat gebukan ayah kandung belum sepenuhnya pulih.