OM RASTH Profile picture
20 Jul, 270 tweets, 34 min read
PETAKA CINTA (cinta di tolak, nyawa pun melayang)
-Teror korban pembunuhan menuntut keadilan-

#bacahorror
#bacahoror
#kisahnyata

( Gambar hanya ilustrasi ) Image
"Paman, beli pentol sama tahu nya 5k." Kata seorang anak kecik berusia 9 tahunan pada Jemi, teman satu sekolahku dulu, yang sekarang berprofesi sebagai penjual pentol keliling
"Gimana jem?" Tanya ku setelah anak kecil tadi pergi

Jemi duduk sambil menghela nafas panjang, matanya menerawang jauh ke depan.

"Aku belum tau Man. Belum punya ongkos untuk pergi. Kau kan tau sendiri seperti apa keadaanku sekarang. Sehari belum tentu upahku dapat 20 ribu
Apalagi pentol yang ku bawa ini cuma 200 biji dan tidak tentu hari ini bisa habis terjual. (Di jaman tersebut pentol harganya 3 biji 1000. Kalau sekarang sudah rata2 sebiji 1000)"jawab Jemi
"Lalu kapan? Kalau kau terus menundanya, kapan kau akan keluar dari keadaan mu sekarang ini jem. Beranilah dalam mengambil langkah. Masa depanmu ada di tanganmu, kalau bukan kau siapa lagi yang akan merubah masa depanmu. Ayolah, kita mulai perjuangan ini sama2." Ujarku saat itu
Terus membujuk Jemi agar mau ikut bersamaku merantau

Jemi menunduk, helaan nafasnya terdengar.

"Beri aku waktu seminggu lagi Man. Aku janji akan segera mendapatkan uang untuk ongkos ku pergi." Ucap Jemi akhirnya, yang membuatku tersenyum
"Begini saja jem, aku kan punya tabungan yang lumayan. Kau bisa berhutang dulu padaku. Dan bayar nanti, jika kau sudah mendapatkan uang."

Jemi menatap kearah Iman, matanya sedikit berkaca2.
"Ah, tak usah menangis jem. Kita kan teman bahkan sudah seperti saudara, wajarlah kalau saling bantu. Toh nanti juga kau akan membayarnya."

Jemi menunduk sambil tersenyum, lalu mengangkat kepalanya sambil menatapku. Entah apa yang ia pikirkan saat itu.
Sekitar pukul 8 malam, aku membantu Jemi mengantar gerobak pentol ke rumah bosnya.
Aku juga menyuruhnya untuk berhenti saja dari pekerjaan nya itu. Agar besok atau lusa kami berdua bisa berangkat ke tempat tambang emas lokal yang kami tuju.
Sesampainya di rumah si bos, lelaki paruh baya yang bernama pak Beni tersebut, panci pentol yang di bawa Jemi lantas langsung di buka olehnya. Alis pak Beni mengerut ketika melihat masih banyak pentol2 yang bersisa.
"Tidak habis lagi jem?! Makanya kau kan ku suruh keliling. Cari tempat ramai. Bukan nya duduk diam di tempat sepi. Mana mungkin bisa laku pentol2 ini kalau kau hanya duduk merenung seperti anak gadis!!" Semprot pak Beni
"Tapi pak. Saya sudah berkeliling. Sudah ke sana kemari. dan saya istirahat pun cuma sebentar." Jawab Jemi

"Huh! Jangan banyak alasan! Besok kalau sampai pentol2 ini tidak habis. Kau akan ku pecat!!"

"Tidak usah repot2 memecat teman saya ini pak. Karena mulai malam ini
Detik ini dia berhenti bekerja di tempat bapak!! Silahkan bapak jual pentol2 ini sendirian agar bapak tau bagaimana rasanya!!" Ujar Iman tak terima jikalau teman nya di bentak2 seperti itu oleh orang yang tak bisa menghargai usahanya
"Baik! Saya juga tidak membutuhkan orang pemalas seperti kamu untuk menjual pentol2ku!!" Ujar pak beni seraya memberikan uang 3000 rupiah secara kasar pada Jemi
Jemi ingin mengambil uang tersebut namun segera di tarik oleh Iman.

"Sudah jem! Jangan di ambil!"

"Tapi itukan uangku man"

"Cih, dengarkan kata2ku! Pulang!" Ujar Iman menarik keras tangan Jemi
Ia tak ingin teman nya di perlakukan begitu oleh pak beni, ia tidak terima.

Sesampainya di rumah Jemi yang merupakan peninggalan nenek nya dulu. Ia tinggal di rumah itu bersama dengan sang ayah, yang menjadi penyemangat satu2nya yang saat ia miliki.
"Kamu pulang jem. Aku juga baru sampai rumah. jagung kita di ladang habis jem, di serang hama." Ujar sang ayah dengan raut wajah sedih
Jemi terduduk lesu, jagung yang seharusnya beberapa minggu lagi akan siap panen malah rusak oleh hama.

"Apa tidak bisa di tolong lagi mang?" Tanya Iman

"Tidak bisa man. Semuanya sudah hancur, rusak. Mungkin kalau sudah dapat bibitnya lagi, akan amang tanam ulang."
"Wah. Sayang sekali." Gumam Iman

--------
2 hari telah berlalu, hari keberangkatan kedua sahabat itu masih terhalang izin dari orang tua Jemi. Ayahnya sangat khawatir dan masih masih belum bisa mengizinkan si Jemi untuk pergi bersama Iman merantau.
"Jemi akan saya jaga kok mang. Saya tau sifat jemi. Makanya saya berani mengajak dia. Karena saya tau jemi itu orangnya seperti apa."

"Berat man, rasanya amang ini berat sekali mengizinkan si Jemi pergi. Kau kan tau dia ini tidak pernah berpisah lama dengan amang.
Amang takut jika nanti terjadi hal2 yang tidak di inginkan padanya."

"Amang tenang saja. Jemi kan sudah dewasa. Sudah tau mana yang baik dan buruk lagi pula dia ini orang nya pemaaf, dan penyabar. Jadi jemi tidak akan kenapa2 di perantauan."
Ayahnya Jemi menghela nafas panjang,

"Kau yakin akan merantau? Kau tau kan resiko di perantauan seperti apa. Cobalah pikirkan sekali lagi. Aku tidak mau terjadi apa2 terhadapmu."
"Aku yakin bah. Aku ingin merubah kehidupan kita agar menjadi lebih baik. Aku tidak ingin melihatmu terus2an berladang di hari2 tuamu. Aku ingin membahagiakan abah. Sangat ingin bah." Ucap Jemi
Tatapan lelaki paruh baya tersebut nampak sedih.

"Baiklah Jem, aku mengizinkan mu pergi, tapi dengan satu hal. Kau harus ingat semua nasihatku. Dan tetaplah 'mambawa ayam bini haja, ayam bini kada pangalahian'(seperti ayam betina, tidak suka berkelahi/membuat masalah)"
Jemi dan Iman tersenyum.

"Baik bah, aku berjanji." Ucap Jemi

"Jemi pasti akan jadi orang sukses mang. Dia pasti akan membahagiakan amang." Sela Iman
"Aamiin Ya Allah."

-------------
Iman tersenyum menatap kapal2 yang merapat di pelabuhan. Akhirnya sebuah perjuangan akan di mulai di titik ini.

Mereka berdua berjalan kearah kapal bersama dengan penumpang lain nya.
"Karcis ranjang pak." Ujar seorang anak buah kapal

"Iya. Di mana yang kosong ya?"

"Ini pak no 6. Berdua kan? 2000 ribu ya pak."

Iman mengangguk seraya mengeluarkan uang logam
Dari kantong nya dan membayarkan pada anak buah kapal tersebut.

Singkat cerita perjalanan panjang pun di mulai.
Jemi yang memang mudah akrab dengan orang, terlihat sedang mengobrol dengan seorang pasutri paruh baya. Iman yang melihat sahabat nya itu cuma bisa
Tersenyum, lalu kemudian ia melanjutkan rebahan santai nya.

Hari2 telah berlalu, singkatnya kapal yang dinaiki jemi dan Iman itu pun sudah bersiap2 untuk merapat di pelabuhan.

Saat akan keluar dari kapal, Jemi masih sempatnya membantu pasutri tua untuk membawakan
Barang2 mereka keluar.
Dan membantu seorang ibu2 yang kesusahan membawa anak2nya.

Iman melihat semuanya sambil geleng2 kepala.
"Gak capek kamu jem? Masih bisa bantu2 orang." Tegur Iman

"Gak lah. Ya karena itu kewajiban kita sebagai manusia." Jawab Jemi seraya menyapu keringat di dahinya
"Terserah deh. Yuk kita makan dulu. Baru lanjut lagi naik kapal itu tuh." Ajak Iman

Jemi mengambil tas nya yang terbuat dari anyaman rotan, lalu menenteng tas tersebut mengikuti Iman.
(Ada yang mau madu lebah asli hutan kalimantan kah? Madu hutan asli dengan segala macam khasiat, apalagi di tengah pandemi ini. Tubuh pastinya butuh sekali imun yang kuat. Atau akar2 buat mengobati sakit pinggang dan memperkuat kejantanan. Ada juga bajakah yang berkhasiat
Untuk menyembuhkan penyakit Kanker, Stroke, Asma dll.

Atau ada yang minat dengan minyak asli kalimantan nya bisa langsung hubungi WA om rasth : 0856 5403 7262 ) ImageImageImageImage
Mereka menaiki tangga pelabuhan, di atas sana nampak beberapa buah warung yang menjual beberapa macam makanan dan juga nasi.

"Nasi putihnya dua porsi sama telur dan sayur paku(pakis) ini ya." Ujar Iman memesan makanan
"Tambah ayam goreng nya dua potong ya bu." Ujar jemi

Iman ternganga mendengar tambahan pesanan milik Jemi,

"Sttt.. Aku punya uang kok. Tadi di kasih sama suami ibu2 yang di sana tadi. Nih." Potong jemi cepat sembari memperlihatkan uangnya pada Iman
Iman mengerjab2kan matanya dan mencoba tersenyum.

Selesai makan, mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan menaiki sebuah Kapal yang ukuran nya lebih kecil dari yang pertama mereka naiki.
Singkat ceritanya. Hari itu mereka sudah bersiap untuk naik ke gunung yang merupakan satu2nya jalan menuju tambang emas lokal yang berada sangat jauh dan butuh 3-4 hari/malam jalan kaki untuk tiba di sana.
"Kau tak bilang man, sejauh itu kita akan berjalan. Mana persediaan makanan cuma segini." Ujar Jemi

"Ah, kau ini jem. Kan ini hutan, dan di hutan tentu banyak segala jenis binatang. Nah untuk bertahan hidup, kita berdua bisa memakan apapun yang ada dan di sediakan oleh alam.
Gampang kan."

Jemi melongo mendengar perkataan Iman.

"Akh! Kau memang nekat man. Sialnya aku malah setuju untuk ikut"

"Hahaha.." Tawa Iman pecah lalu berjalan bersamaan dengan orang2 lain nya
Mereka terus berjalan. Sampai tak terasa sudah dua hari mereka berada di tengah jalanan setapak yang membentang di hutan tersebut.
Rombongan yang awalnya 12 orang, kini hanya bersisa 8 orang saja termasuk mereka berdua. Karena sebagian di antaranya masih beristirahat di belakang.
"Kita istirahat dulu ya jem. Perut ku rasanya sudah lapar, sudah saatnya kita makan." Ujar Iman

Jemi duduk di bawah pohon sambil memejamkan matanya, sementara Iman mengeluarkan peralatan nya yang akan ia gunakan untuk menjerat hewan seperti burung atau apapun yang
Bisa mereka makan.

"Jem! Jem.. Woy. Astaga. Bangunn!!" Panggil Iman pada Jemi yang ternyata malah tertidur

Jemi mengerjab2kan matanya, rasa lelah, ngantuk lapar membuatnya tertidur.
"Bantu aku memasang jebakan ini di sana jem. Ku lihat tadi di sana banyak burung karuang, punai, dan paragam."

"Kau bawa alat2 begini man?"

"Iyalah. Kan aku sudah tau kalau uang yang ku bawa tidak akan cukup. Makanya aku bawa alat seperti ini." Jawab Iman
Ckckckck..

Setelah memasang perangkap burung, keduanya mulai beristirahat.

Sore harinya mereka terbangun, karena rintik2 hujan mulai turun dari langit.
Mereka bergegas mencari dedaunan untuk menutupi kayu2 kering yang sudah mereka kumpulkan untuk membakar burung yang kemungkinan berhasil masuk perangkap.
Hujan mulai lebat, keduanya duduk di bawah pohon dengan baju yang sudah basah kuyup.
Mereka menggigil. Bahkan wajah Iman sudah mulai pucat. Karena tidak terbiasa dengan cuaca buruk di pegunungan.
Setelah hujan reda, mereka melepaskan semua pakaian basah yang terkena hujan dan menggantinya dengan pakaian kering yang beruntungnya berhasil terlindungi dari air hujan.
Beberapa ekor lintah terlihat menempel di bagian kaki Jemi dan Iman. Membuat kedua pemuda tersebut risih.

Menjelang malam mereka memeriksa perangkap burung yang tadi di pasang, dan ternyata ad beberapa ekor burung di setiap perangkap. Senyuman jemi dan Iman terlihat
"Syukurlah kita bisa makan malam ini man." Ucap Jemi

Setelah menyembelih dan membersihkan burung itu, Iman menghidupkan api dengan korek yang ada di tasnya.
Karena di sekitar mereka basah, api sedikit sulit untuk hidup.
Mereka berpikir kalau malam itu mereka bisa makan dengan kenyang, namun ternyata tidak. Karena beberapa saat kemudian, datanglah beberapa orang kearah mereka. Ternyata mereka adalah rombongan penambang yang baru datang.
Mereka juga mengaku sangat kelaparan dan karena Jemi ini orang nya baik dan tidak tegaan, jadilah dia mengajak orang2 tersebut untuk ikut bergabung dengan mereka.
Selesai makan mereka berbincang2 dan bercerita panjang lebar.
Dan rupanya salah satu di antara orang2 tersebut adalah bos lubang (bos tambang emas lokal yang memiliki beberapa lubang galian emas di tempat yang akan jemi dan iman tuju)
Karena kebaikan mereka, bos lubang itupun menawari keduanya pekerjaan dan tentu saja langsung di setujui kedua sahabat tersebut.
Dan keesokan harinya, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Malam hari kira2 sekitar pukul 2-3 malam, mereka sampai di rumah bos tersebut yang kemudian akan kita panggil pak Anang saja.
Mereka di suruh untuk beristirahat sampai esok pagi dan kemudian akan di antar ke tempat lubang.
Singkat cerita, pagi pun telah tiba. Suara ramai sekali dari arah luar membuat Jemi dan Iman ikut terbangun.

Ternyata mereka menemukan mayat seseorang yang tidak di ketahui siapa di dalam jurang, yang kemungkinan karena terperosok lalu jatuh dan terhantam pada pepohonan
Yang membuatnya langsung meninggal seketika.

Bukan hal yang mengejutkan lagi jika ada penemuan2 mayat di sana. Karena memang jalanan yang sangat curam di apit oleh jurang2 mengerikan. Belum lagi binatang2 liar seperti beruang ataupun macan dan ular
Yang siap menyerang ketika mulai merasa terusik.

Dan mayat2 itu biasanya tidak akan di bawa pulang ke kampung, melainkan di kuburkan di pemakaman umum yang ada di sekitar sana.
Jemi melirik Iman,

"Ini pertanda man, sepertinya kedatangan kita di sini tidak di setujui." Bisik Jemi

"Ahh. Bicaramu jem. Lagi pula dari mana kau tau kalau kedatangan kita tak di setujui."

"Itu man, ada orang meninggal yang tak wajar saat kita baru sampai disini."
"Ahh. Itu sih memang sudah takdirnya. Memang sudah ajal mau gimana lagi."

Jemi menghela nafas panjang.
Setelah orang2 yang membawa mayat tersebut pergi, Jemi dan Iman juga ingin mengikuti dari belakang. Tetapi segera di hentikan oleh pak Anang.

"Orang baru tidak boleh ikut mengubur. Kalian tunggu saja di sini!" Ujar pak Anang dengan tatapan mata yang lekat menatap keduanya
Iman dan Jemi mengangguk sambil tersenyum paksa.

"Baik pak."

"Nah kan. Aneh." Gumam Jemi saat pak Anak sudah jauh berjalan

"Aneh apa nya? Menurutku biasa saja. Mungkin pak Anang gak mau kita kelelahan. Karena kan setelah ini kita akan di antar ke tempat
Galian lubang emas." Kata Iman santai

Sekitar jam 11 siang, barulah pak Anang pulang. Beliau nampak sangat kelelahan.

"Kalian akan di antar anakku, di sana juga ada pondok. Jadi kalian bisa tinggal di sana. Karena kalau bolak balik jaraknya cukup jauh." Ujar pak Anang
"Tidak masalah pak. Yang penting kami bisa kerja." Jawab Iman

Tidak beberapa lama setelah itu keluarlah seorang pemuda dengan rambut acak2an dan baju merah yang warna nya telah memudar.
"Kau antar mereka ke pondok ya. Beri tau juga lubang galian di wilayah kita. Sekalian antar bahan makanan untuk Jumadi dan yang lain nya." Kata pak Anang pada anaknya
Pemuda itu lantas tersenyum dan langsung mengangguk. Lalu ia kembali masuk kedalam rumah setelah beberapa menit kemudian ia keluar lagi dengan penampilan yang lebih rapi dan bagus.
Di kedua tangan nya ada tas jinjingan yang terbuat dari rotan. Melihat pemuda itu keberatan Jemi langsung membantunya.

------
"Nama kalian siapa?" Tanya pemuda yang merupakan anak dari bos mereka itu
"Aku Jemi, dan ini.."

"Ahmad Baiman." Ujar Iman sambil tersenyum

"Lucu namamu. Baiman." Kata si pemuda

"Tidak juga. itu pemberian nenekku dulu. Katanya nama yang dia berikan kepadaku adalah sebuah harapan. Yang sampai sekarang aku masih berusaha mewujudkan
nya. Agar kelakuanku tidak mengkhianati namaku."

"Nama ku malah lebih aneh, Ubi. Cuma Ubi, tidak ada sambungan nya. Entah kenapa ayahku menamai ku begitu. Mungkin aku adalah anak yang di dapat di kebun ubi. Atau ayahku malah berharap aku adalah juragan ubi di suatu hari."
Kata si pemuda lalu tertawa

Iman dan Jemi ikut tertawa, jujur mereka juga merasa lucu saat mendengar nama anak pak Anang tersebut.
Setelah hampir 4 km berjalan, akhirnya mereka pun sampai di wilayah pertambangan emas. Banyak sekali pondok2 orang di sana.

"Oy Jum." Sapa Ubi pada salah seorang laki2 berusia 30 tahunan berkulit putih dengan mata yang berwarna biru cerah mirip seperti bule
"Oy." Sapa nya

"Kenalkan mereka ini baru masuk kerja disini, ini Namanya Jemi, dan yang ini Baiman." Kata Ubi

"Panggil Iman saja." Sahut Iman tersenyum
"Waw." Gumam Jemi saat melihat dengan jarak dekat pada Laki2 mirip bule tersebut

"Aku bangau (Albino) tidak usah takut. Kelainan ku ini sama sekali tidak menular."

Iman langsung menepuk punggung Jemi, membuat pemuda itu tersipu.

"Maaf, aku tidak bermaksud begitu.
Ini baru pertama kalinya aku melihat orang istimewa seperti kau. Maaf kalau aku membuatmu tersinggung." Ucap Jemi terbata2

"Mmm.. Ku rasa aku harus secepatnya memberitahu kalian wilayah ayahku. Agar aku bisa langsung pulang." Ujar Ubi menyela, membuat suasana yang
Tadi canggung sedikit mulai mencair

Setelah ubi meletakkan bahan makanan yang ia bawa, Ubi langsung mengajak Jemi dan Iman untuk segera mengikutinya.
"Laki2 yang tadi itu namanya Jumadi. Dia sudah lama kerja di sini. Bisa di bilang senior. Tapi orang nya ya begitu, mudah tersinggung. Tapi aslinya baik kok. Dan satu lagi, dia juga memiliki gangguan penglihatan.
Jadi kalau dia menyuruh kalian, turuti saja."

"Buta kah?"

"Kalau buta sih tidak. Dia cuma ada gangguan penglihatan sedikit apalagi kalau di bawah terik matahari."
Iman membulatkan mulutnya membentuk huruf O sambil mengangguk.

Pembicaraan ketiganya terhenti ketika seorang gadis menghampiri mereka.
"Teman baru Bi??" Tanya gadis cantik tersebut dengan senyum yang sangat manis menghiasi mulut mungilnya

"Iya El." Jawab Ubi sedikit salah tingkah
Iman dan Jemi memperkenalkan nama mereka masing2 pada gadis itu.

"Ubi, yang tadi itu pacarmu ya?" Tanya Iman

"Calon." Bisik Ubi
-----------
Hari2 telah berlalu, Tak terasa sudah hampir 2 minggu mereka bekerja di sana.
Iman dan jemi juga sudah sangat akrab dengan orang2 di sekitarnya.
Pernah beberapa kali Jemi dan Iman di ajak berburu pilanduk(kancil) di hutan, dan setelah nya mereka akan berpesta makan2 hasil buruan.
Dan semenjak dan jemi juga Iman, Ubi sering sekali ikut tidur di pondok mereka. Mereka bertiga sudah seperti saudara.

Sampai di suatu hari, Jemi jatuh sakit. Kalau menurut Jumadi, Jemi terkena Wisa.
Wisa bagi mereka yang berada di sana, sangat di takuti. Karena tidak hanya sekedar membuat sakit tapi bahkan bisa berdampak kematian. Tubuh jemi sudah mulai menguning, bagian matanya pun mulai berwarna kuning.
Saat itu Ubi, Iman dkk sangat khawatir dengan keadaan Jemi. Tapi mereka tak tau apa yang harus di lakukan.

Malam itu, Jumadi baru pulang setelah berjam2 pergi. Ia membawa daun pisang yang kemudian akan di gunakan untuk alas tidur Jemi
Karena biasanya memang begitu, bila seseorang terkena wisa dan sudah 'masak'(parah) akan di baringkan di atas daun pisang.

"Coba cari pampijit(sejenis hewan berkaki pengisap darah, gak tau bahasa indonesia nya apa, tapi biasanya hewan itu bersembunyi di lipatan2
Kasur atau pun kelambu, kalau kena gigitnya badan jadi merah2 dan gatal.) kalau menurut mang imul, pampijit itu harus di telan agar wisa pada si jemi ini hilang."

"Uweeekk.. Hii. Apa gak ada obat lain??" Ujar Iman menyela ia jijik, benar2 jijik. Karena memang hewan
Itu selain penghisap darah, juga memiliki bau yang sangat tidak enak.

"Kalau mau sembuh ya di coba. Kalau gak mau berobat ya jangan sakit." Kata Jumadi
"Memangnya sakit itu pilihan Jemi?! Yang namanya sakit gak bisa di tentukan!" Balas Iman

"Aahh.. Sudah-sudah!! Kalian ini kenapa sih hah?!! Apapun itu lakukan saja! Yang penting Jemi bisa sembuh!" Ujar Ubi sembari berdiri
Iman menunduk, namun hatinya masih tidak setuju kalau sahabatnya harus di kasih makan Pampijit.

Ubi di bantu Eli mencari pampijit di lipatan2 kasur tipis yang sebelumnya di gunakan oleh Jemi untuk tidur.
Setelah beberapa saat, Eli dan Ubi mendapat cukup banyak binatang penghisap darah tersebut.

Ada sekitar 10 ekor lebih yang besar2.
Saat Ubi akan membawanya kepada Jumadi, tangan nya di cekat oleh Iman.
"Kau yakin Bi?? Tega ngasih beginian ke Jemi! Jemi itu teman kita!"

"Astaga Man! Apa salahnya di coba?? Lagi pula ini bukan naga, bukan binatang berbahaya."
Iman menghela nafas panjang, ia melepaskan tangan Ubi. Lalu duduk bersandar pada dinding pondok.

Dalam hatinya Iman terus bergumam, "Awas saja nanti kalau tidak ada hasil! Kalau sampai Jemi makin parah setelah di kasih binatang sialan itu!"
3 hari kemudian, keadaan Jemi benar2 semakin membaik. Warna tubuhnya juga sudah mulai normal. Namun ia masih tidak di bolehkan masuk ke pondok. Dan harus menunggu benar2 sembuh baru bisa masuk kedalam.
Iman dan Ubi juga Eli yang sering tidur di luar sambil menjaga Jemi.
Meski Eli tidak bekerja pada ayahnya Ubi, namun karena mereka sudah sangat akrab, makanya Eli sering sekali berada di sekitaran wilayah milik ayah Ubi.
Dan Ubi tentu saja senang, karena ia sudah cukup lama naksir pada gadis itu.

------
Setelah Jemi sudah benar2 sembuh dan bisa kembali bekerja seperti biasa, Iman mengatakan kalau dirinya akan pulang sebentar untuk memberikan uang pada orang tuanya.
"Kau mau ikut sekalian gak jem?"

"Uangku yang aku kumpulkan masih sedikit, sepertinya aku belum bisa pulang. Tapi kalau kau pulang, aku mau menitipkan kiriman untuk ayahku."

"Ahh. Malas aku kalau sendirian jem. Belum lagi di jalan nanti aku berjalan sendirian
Malam2 lagi. Kalau aku di culik hantu beranak kau mau tanggung jawab."

"Loh. Bukan nya mau pulang itu kemauan mu. Kenapa jadi menyalahkan aku. Dasar kutu."

"Pulang saja ya jem. Biar ramai2 jalan nya."
"Kau takut??"

"Tidak. Siapa bilang aku takut."

Jemi menggelengkan kepalanya, lalu memasang baju 'tilasan' untuk segera memulai pekerjaan. Ia berjalan keluar pondok dan meninggalkan Iman.
Di ikuti oleh Jumadi, yang baru saja selesai sarapan.

"jangan manja. Laki2 kok takut hantu." Ejek Jumadi

Iman menatap jumadi dengan mata melotot, ia kesal mendengar ejekan yang ditujukan padanya tersebut.
"Sayang dia tua coba kalau masih muda. Sudah ku hih!" Gerutu Iman sembari mengepalkan tangan

--
Iman keluar pondok untuk bekerja hari itu, namun saat baru sampai di depan galian, ia terdiam melihat Eli dan Jemi sedang mengobrol.
"Kerja Jem!" Ujar Iman sembari menarik tangan Sahabatnya tersebut

"Jem. Ini makanan nya gimana?" Kata Eli

"Tau nih Iman. Main tarik2 aja. Seenggaknya hargain lah Eli sudah membuatkan makanan untuk kita. Dari pada mubazir. Kau juga kan tau gimana sulitnya
Orang2 membawa bahan makanan ke sini."

Iman menghela nafas panjang. Lalu mengikuti Jemi yang kembali duduk untuk menyantap makanan yang di bawa oleh Eli.
"Jumm.. Sini makan dulu." Panggil Iman

"Gak ah, sudah kenyang. Sebentar lagi Ubi datang. Yok kerja dulu." Jawab Jumadi

Iman menghentak2an kakinya ke tanah beberapa kali, ia takut jika nanti akan terjadi kesalahpahaman antara kedua sahabatnya,
---
Sebisa mungkin Iman membuat jarak antara jemi dan eli yang terlihat sudah mulai menaruh hati pada jemi.

"Kau suka dengan si eli itu jem??" Tanya Iman

"Loh, bukan nya eli calon nya Ubi. Kalau masalah suka, ya memang aku suka. Tapi hanya sebatas teman, tidak lebih."
Iman menghela nafas lega.

"Syukurlah. Kalau begitu berarti tak ada yang perlu aku khawatirkan. Lagi pula kau harus ingat jem, biar penampilannya urakan, tapi si Ubi itu yang sudah mencarikan pampijit untuk obatmu. Jadi jangan mengkhianati pertemanan kita ini."
"Ckck.. Kau berpikir sampai sejauh itu man. Memangnya aku ini terlihat seperti pengkhianat kah sekarang."

------
Sebulan telah berlalu, Hari itu Iman sudah benar2 akan pulang bersama dengan Jumadi.
Tapi Jemi lagi2 tak mau ikut dan masih tetap ingin bekerja.
Padahal uang yang ia dapat sudah cukup banyak.

"Ya sudah, aku pulang dulu ya Jem. Kau jaga diri baik2. Dan ingat2 pesanku." Ujar Iman

Jemi cuma mengangguk sambil tersenyum.

"Oh iya man kalau kau naik, aku titip, tolong belikan permen ya." Kata Jemi yang langsung
Di tanggapi iman dengan anggukan

Iman dan Jumadi juga beberapa orang lain nya mulai berjalan meninggalkan tempat tersebut. Jemi menatap mereka semua dengan senyuman.
Dan setelah rombongan Iman tak terlihat lagi, Jemi pun masuk kedalam pondok untuk kembali tidur.

Namun baru beberapa saat ia memejamkan matanya, ada sebuah suara lembut memasuki gendang telinganya.
Saat Jemi membuka matanya, terlihat Eli sedang duduk di dekatnya.

"Ku kira kau tidur Jem." Ucapnya

"Ngapain kamu el??" Tanya Jemi seraya duduk

"Ini, aku, aku membawakan makanan untukmu. Karena aku tau kau pasti lagi malas memasak."
"Ah. Itu, seharusnya kau tak usah repot2 el. Aku bisa memasak sendiri." Ucap Jemi

Eli tersenyum, gadis itu memang cantik. Dan juga baik sekali. Andai saja Ubi tak lebih dulu menyukai gadis itu lebih dulu, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat bagi jemi
Untuk mengutarakan isi hatinya pada Eli.

"Jem. Kau tak ikut pul..."

"Eli.."

Ubi terdiam, matanya lekat menatap Jemi yang masih berbaring di atas kasur.

Tanpa berkata apa2 lagi, Ubi langsung keluar dari pondok
Jemi langsung beranjak dari duduknya dan langsung berlari mengejar Ubi. Ia tau kesalahpahaman telah terjadi diantara mereka.

"Ubiii.. Biiii.." Panggil Jemi

"Tidak ku sangka kau orangnya begitu jem! Ku kira kau sahabat, tapi ternyata, kau adalah musuh!!"
"Antara aku dan eli tak ada hubungan apa2 bi! Dia hanya mengantarkan makanan untukku."

"Tak ada hubungan?? Kalian berduaan di dalam pondok tertutup. Dan kau masih berada di atas kasur. Apa itu yang di sebut tak ada hubungan?!! Padahal kau tau, aku yang lebih dulu
Mengincar Eli!! Tapi kau.." Ujar Ubi lalu menyerang Jemi

Perkelahian tak bisa di hindari lagi, berkali2 Ubi memukul wajah Jemi, namun untungnya pukulan2 itu berhasil di hindari olehnya.
"Stoooppp!!! Stoop!!" Teriak Eli

Mendengar teriakan dari Eli, beberapa orang yang bekerja tak jauh dari tempat itupun langsung berlarian untuk melihat apa yang terjadi, dan beberapa di antaranya berusaha melerai.
Nafas kedua nya tersengal.

"Itu semua hanya salah paham, antara aku dan Eli tak ada hubungan apa2. Juga tak mungkin bagiku untuk berkhianat. Sementara ayahmu sudah berbaik hati memberikan pekerjaan untukku. Tapi terserah padamu Bi, kau mau percaya atau tidak."
"Sekalinya anjing ya tetap anjing!"

"Ubi Cukup!!
Ku kira kau itu orang yang baik! Ternyata kau tak ubahnya singa ganas yang bertopeng kan anak kucing!! Kau gila!! Biar bagaimana pun aku tak akan sudi menjadi kekasihmu!!!" Ujar Eli dengan emosi
"Kau menuduh tanpa bukti!! Apa kau tak sadar perkataan mu itu seolah2 menunjukan bahwa aku ini seorang pel*cur yang bisa di gilir oleh laki2!! Kau bajingan!!" Eli terisak
Ubi terdiam, nafasnya masih turun naik. Ia menyadari kesalahan nya.
Ia sangat menyesal, namun semuanya sudah terlambat, Eli sudah benar2 marah dan membencinya.
Ubi berjalan dengan langkah gontai.

----
Keesokan harinya, Ubi masih uring2an di tempat tidur. Ia enggan untuk keluar rumah. Malu.
Semalaman sudah ia berpikir, namun ia rasa malu untuk bertemu dan meminta maaf pada jemi, juga Eli.

Langkah demi langkah menuju pondok, jantung Ubi terasa tak karuan.
Singkatnya.

"Jemii. Jem." Panggil Ubi di depan pondok, ia tau jemi masih beristirahat hari itu

Namun setelah di tunggu beberapa saat lamanya, pintu tak juga terbuka.
Ubi mengira, kalau saat itu mungkin saja Jemi masuk kerja. Ia pun berjalan kearah lubang.

"Cari siapa Bos?" Tanya salah satu teman kerja Jemi

"Jemi kemana ya? Kok di pondok gak ada."

"Sudah sejak tadi malam dia tidak ada Bi."

"Loh. Apa kalian tidak tau kemana dia pergi?"
"Tidak tau bi."

Ubi menatap sekeliling, jantung nya semakin berdetak cepat. Apa jangan2 Jemi pulang?
Tidak, aku harus pastikan lebih dulu. Ubi membatin.
Lalu ia pun bergegas ke pondok, ia membuka paksa pintu pondok dan menemukan pakaian serta barang2 milik Jemi masih ada di dalam sana.
Ubi mengerutkan Alis sembari memijit dahinya.

"Kemana dia?" Gumam nya lalu berjalan keluar

Ubi terus mencari keberadaan Jemi hingga larut malam. ia juga bertanya, namun orang2 tak ada yang tau kemana Jemi pergi.
Malam itu, Ubi menunggu di luar pondok. Beberapa orang sudah mulai terlelap karena lelah seharian bekerja.

Beberapa kali Ubi mencuci mukanya agar kantuknya hilang, namun malam semakin dingin, membuat matanya semakin mengantuk.
Saat matanya mulai terpejam, antara bangun dan tidur ia dengar suara rintihan Jemi yang memanggilnya lamat2.
Tapi karena matanya yang sangat berat, Ubi merasa sangat susah untuk membuka matanya.
Keesokan harinya, saat Ubi masih tertidur, terdengar ramai sekali teman2 nya berdiri di depan lubang galian.

"Bi. Ubi.."

"Hah.." Ubi merespon panggilan teman2 nya masih dalam keadaan mata terpejam
"Ada darah di sekitar galian bi. Tadi malam kau tak berbuat apa2 kan??"

Mendengar hal itu, Ubi langsung terbangun. Ia mengucek2 matanya dan beranjak.

Memang benar adanya, di sekitar lubang galian yang tak jauh dari pondok, ada darah yang mulai mengering.
"Darah siapa ini??" Tanya Ubi menatap orang2 disana satu persatu

"Tidak tau,"

"Apa jangan2 ini darah nya hantu beranak??"

"Ah, tidak mungkin. Kalau pun iya. Pasti ada salah satu di antara kita yang kehilangan biji."

Mereka berpendapat sesuai dengan apa yang mereka
Pikirkan. Tapi Ubi tak setuju dengan pendapat2 itu. Ia ragu darah yang berceceran tersebut adalah ulah dari hantu beranak. Karena tadi malam keadaan benar2 tenang, tak ada tanda2 kemunculan mahluk itu. Tapi..
"Tadi malam aku mendengar suara Jemi. Tapi, ah tidak. Mana mungkin Jemi. Itu paling hanya halusinasi ku saja." Batin Ubi

Ia ragu, apakah yang ia dengar diantara bangun dan tidurnya tadi malam memang suara jemi atau hanya khayalan nya saja yang sudah terlalu memikirkan Jemi.
"Mungkin kalian benar. Bisa saja itu ulah hantu beranak. Untunglah kita tidak kenapa2. Tutupi saja darahnya dengan pasir." Ujar Ubi akhirnya
Hari itu, Ubi masih mencari Jemi. Namun kali ini ia memberanikan diri ke pondok Eli.

Ia lihat gadis itu dengan mata yang sembab telah bersiap2 akan turun/pulang.
"El. A, aku minta maaf masalah kemarin. Aku, aku benar2 khilaf. Dan sekarang aku menyesal." Ucap Ubi

Eli masih sibuk merapikan barang2nya, ia sama sekali tak menggubris keberadaan Ubi di sana.
"El, aku benar2 minta maaf."

"El, apa kau tau di mana jemi??"

Eli terdiam. Ia menatap Ubi dengan tatapan tajam yang sulit di artikan.
"Kau bertanya tentang Jemi padaku???" Ujar Eli balik bertanya

Ubi terdiam, ia tak tau harus berkata apa. Nampaknya Eli benar2 marah padanya.
"Pergii!!" Usir Eli pada Ubi

Mau tak mau, pemuda itupun terpaksa pergi.

----
5 hari sudah Jemi tak pernah muncul, Eli sudah pulang sedangkan Ubi, ia masih berada di area pertambangan emas milik ayahnya dan masih mencari keberadaan Jemi
Yang sampai detik itu belum juga kembali.

Seperti malam2 yang lalu, lagi2 saat Ubi tertidur, ia kembali mendengar suara rintihan Jemi. Namun ketika di cari asal suara itu, sama sekali tak ada siapapun.
Dan anehnya di setiap pagi, di depan galian lubang atau pun pintu pondok pasti ada bekas2 darah berceceran yang sampai saat itu belum di ketahui milik siapa.
Beberapa orang yang bekerja di pertambangan emas milik pak tarsim mengaku pintu pondok nya pernah di ketuk oleh seseorang pada saat tengah malam.
Saat salah satu di antara mereka mengintip melalui celah, terlihat seorang laki2 dengan wajah yang penuh darah dan dada yang masih tertancap kayu.
Kakinya mengambang dan terus merintih. Tentu saja tak ada yang berani membukakan pintu.
Cerita itu akhirnya sampai ke telinga Ubi. Ia penasaran, namun juga takut. Apa benar ada mahluk seperti itu di sekitar pertambangan. Walaupun jarak antara pertambangan emas milik ayahnya dan pak Tarsim cukup jauh, tapi Ubi khawatir kalau2 mahluk itu akan sampai
Ke tempat mereka.

Tepat di hari ke 15, Jumadi dan juga Iman akhirnya kembali. Saat Iman menanyakan tentang Jemi, Ubi masih ragu untuk mengatakan kebenaran nya.
"Jemi mana Bi??" Tanya Iman seraya membongkar oleh2 yang ia bawa dari kampung

"Ada apa Bi?" Tanya Jumadi yang mencium gelagat aneh dari Ubi
"A, aku. Aku tidak tau harus memulai dari mana. Tapi sungguh bukan aku yang mengusirnya." Ucap Ubi

"Apa sih??" Tanya Iman bingung

"Je jemi. Jemi sudah tidak pulang selama setengah bulan ini. Terakhir aku ketemu dia disini." Jawab Ubi terbata
"Hah?? Maksudnya gimana bi?? Ada masalah apa??" Tanya Iman beruntun

"Aku pikir dia berpacaran dengan Eli. Saat itu pikiran ku benar2 buntu, aku dan dia berkelahi. Tapi di pisahkan oleh orang2, dan setelah itu aku pulang. Lalu, lalu aku tidak melihatnya lagi."
"Bangsaattt!!! Aku benar2 tidak habis pikir. Kalian itu teman, kita berteman. Kenapa hanya gara2 perempuan kalian sampai berkelahi!! Asal kau bi, Jemi tidak pernah sekalipun menaruh hati pada Si Eli! Dia menghargaimu, dia menghormatimu sebagai bos. Tapi. Tapi
Aahhkkk!!! Sial kau!!"

Braaakkk.. Iman menyerang Ubi sampai dinding pondok ambruk.
Jumadi berusaha melerai, namun ia malah kena pukulan oleh Iman.

"DI MANA JEMI???!!!!" teriak Iman
Ubi diam saja, jelas sekali matanya terlihat berkaca2. Ia bahkan tak melawan sedikitpun.

Beberapa orang yang kebetulan istirahat, hanya menonton, tak ada yang melerai. Jumadi masih terduduk sambil memegang rahangnya.
Iman tak main2, semakin Ubi diam, semakin pula ia memukulinya.

Plaaaakkkk.. Sebuah tamparan mendarat di kepala Iman, otomatis kedua tangan nya yang mencekik leher Ubi terlepas. Ubi terbatuk beberapa kali wajahnya merah akibat cekikan.
"Sadar man!! Jangan kesetanan!! Kau hampir saja membunuh anak orang!!" Bentak Jumadi

"Kau tidak tau Jemi itu sahabat baik ku!! Aku juga berjanji untuk menjaga dia pada orang tuanya!! Dan sekarang aku bahkan tidak tau sama sekali keberadaan Jemi dimana!" Jawab Iman
Nada suaranya masih tinggi, menandakan emosi nya yang belum juga mereda

"Dan ini semua karena kau bangsaattt!!! Karna cemburu buta mu itu!!"

Plaaaakkk..

"Sadar!! Kau seperti orang kerasukan man! Coba tenangkan dulu dirimu! Biar Kita pikirkan bersama2
Kemana kita harus mencari Jemi!"

"Bicara memang gampang!! Kau membela nya karena dia anak bos!! Sedangkan kau tak memikirkan seperti apa keadaan Jemi di luar sana setengah bulan menghilang!!" Bentak Iman, emosinya benar2 tak bisa terkontrol
Lalu Iman pergi entah kemana. Lamat2 masih terdengar suaranya memanggil2 jemi.

Sementara itu, Ubi terisak.

Jumadi menatapnya dengan tatapan tajam.

"Sumpah jum. Aku tidak pernah mengusir atau berbuat jahat pada jemi. Setelah perkelahian itu aku langsung pulang.
Semalaman aku memikirkan nya. Setelah semalaman Aku bertengkar dengan diriku sendiri hingga akhirnya hari itu aku putuskan menemui jemi dan eli untuk meminta maaf. Tapi.." Ubi terbata2, ia menceritakan semuanya pada Jumadi
"Kau tau aku benar2 kecewa Bi. Kau masih kekanak2an. Lalu kenapa bisa Jemi sampai menghilang? Apa kau sudah cari dia?"

"Sudah Jum, ku sudah mencarinya. Selama setengah bulan ini aku disini menunggu Jemi. Dan masih berusaha mencarinya. Aku malah berpikir kalai dia
Pulang. Tapi barang2nya masih ada di pondok."

"Kau sudah bilang pada ayahmu??"

"Aku tidak berani Jum. Ayahku tidak tau sama sekali hal ini."

"Kau merahasiakan nya?!"
"Kalau sampai ayahmu tau lebih dulu dari mulut orang, habis kau bi!"

--
Iman masih terus berjalan, sampai di pinggir sebuah sungai.

"JEMIIIIII!!!" teriak Iman, ia mengindahkan semua larangan yang tak boleh memanggil nama seseorang di hutan, sungai maupun gunung
"Kenapa kau tak menungguku jem. Kita bisa pulang bersama2 kalau kau memang ada masalah di sini. Tak perlu kau pergi seorang diri begini." Gumam Iman
Dari seberang sungai terlihat seseorang berjalan kearah hutan, meski hanya melihat bagian punggungnya, Iman merasa kalau orang itu tak asing di matanya.
"Jemi." Iman berjalan cepat kearah sungai, ia berjalan menyeberangi sungai yang cukup deras dan berbatu licin tersebut

"Jem, kau kah itu jem." Ujar Iman, namun suaranya pasti tak terdengar sampai keatas karena derasnya air saat itu
Beberapa kali Iman tergelincir karena menginjak batu2 sungai yang licin dan berlumut, hingga kemudian ia tiba di seberang sungai.
Ia terus berjalan kearah yang tadi lewati oleh Jemi.
Namun baru beberapa langkah ia menjerit karena terinjak kayu runcing yang tertancap di tanah.

"Sial!" Umpatnya
Darah merembes dari luka di kakinya,

"Jemi." Gumamnya sembari duduk

"Pulanglah Jem, aku menunggumu."

Dari seberang sungai terlihat Jumadi dan beberapa orang juga menyeberang.
"Mau kemana kau Man??" Tanya Jumadi

"Tadi aku melihat orang disini dari seberang sana. Dari belakang, orang itu sangat mirip dengan Jemi."

"Kalau begitu ku rasa Jemi masih berada di sekitar sini. Kami akan mencarinya ke lubangnya Mang Tarsim. Kau tunggu kami di pondok saja."
"Kalau kalian mencari Jemi. Aku ikut."

"Tapi kakimu bagaimana man. Nanti bertambah parah. Lagi pula kau tak memakai sendal. Kemana Sendalmu?"
"Hanyut saat aku terpeleset. Tidak apa2, kau jangan khawatirkan aku. Aku cukup kuat untuk menahan sedikit rasa sakit di kakiku ini." Ujar Iman bersikeras untuk ikut mencari Jemi
Jumadi menghela nafas, ia tau Iman adalah orang yang keras kepala. Maka dari itu ia menyetujui jika Iman ikut dalam pencarian.
Dalam hatinya Iman berdoa kalau Jemi benar2 berada di daerah pertambangan emas milik pak Tarsim.
Kakinya yang terluka tak ia hiraukan, ia terus berjalan meskipun di setiap langkah ia meringis.

Mereka berjalan sampai malam, obor dan senter di nyalakan untuk menerangi jalan yang sudah di tutupi oleh rerumputan.
Beberapa kali Iman mendengar suara seseorang yang memanggil namanya, namun ketika ia menoleh ke kiri dan kanan tak ada siapapun.
"Jum. Kau dengar itu?" Tanya Iman

"Ssttt.. Perhatikan saja jalanmu. Jangan menegur apapun."

Iman diam, ia paham betul tentang situasi hutan yang memang masih banyak menyimpan misteri.
Dari atas gunung, mereka melihat pondok2 dengan obor yang menyala di luar nya. Itu pasti tambang emas milik Pak Tarsim, Iman membatin.
Mereka berjalan menuruni lereng.

Beberapa orang bersenjata bersiap siaga ketika melihat obor2 milik Jumadi dkk yang mendekat.

"Tenang2. Kami sesama penambang emas." Teriak Jumadi
Obor2 yang sebelumnya di junjung lebih tinggi dari kepala kini di turunkan, agar wajah mereka semua terlihat jelas oleh anak buahnya pak Tarsim.
Orang2 itu kembali memasukkan parang kedalam kumpangnya ketika melihat siapa yang datang. (dahulu di sana rawan sekali dengan perampok yang akan menjarah habis emas2 hasil tambang)
"Ada apa gerangan kalian datang malam2 kemari?" Tanya salah seorang yang bertubuh tinggi dengan kumis tebal bagai ulat bulu yang bertengger di atas bibirnya
"Maaf sebelumnya sudah membuat kalian merasa tidak nyaman. Kami kemari hanya ingin mencari seseorang. Teman kami yang bernama Jemi. Sudah setengah bulan menghilang." Kata Jumadi
Lelaki berkumis tebal itu menyipitkan matanya,

"Tidak ada seorang pun bernama Jemi di sini. Kami bahkan kehilangan beberapa rekan yang pulang setelah sebelumnya disini ramai menyebar desas desus hantu ketuk. Apa kalian tidak pernah mendengar cerita itu?"
Jumadi menggeleng,

"Tolong, kalau misalkan Jemi ada disini. Tolong beritahu aku. Aku yakin kalau Jemi ada di antara kalian."

"Kami disini benar2 tidak tau, mendengar namanya saja baru sekarang. Lagi pula untuk apa kami menyembunyikan temanmu disini."
Iman meringis,

"Baiklah kalau begitu. Tapi sekiranya nanti kalian mendengar kabar tentang orang yang bernama Jemi tolong segera kabari kami. Dia perantau sama seperti kita. Kami takut terjadi apa2 padanya." Ucap Jumadi
Laki2 berkumis itu mengangguk, lalu Jumadi berpamitan dengan mereka.

Iman tak bergeming dari tempatnya berdiri, ia enggan untuk pulang. Karena perasaan nya mengatakan kalau Jemi ada di sekitar tempat itu,
"Man, pulang." Ujar Jumadi

"Aku tidak akan pulang sebelum ku temukan Jemi." Jawabnya bersikeras

"Kita pulang sekarang, dan kita tunggu kabarnya. Lagi pula kau sudah dengar sendiri bukan, kalau jemi berada disini."
"Aku tetap tidak mau pulang. Kau tidak tau bagaimana cemasnya aku saat tau kalau jemi tidak berada di pondok. Kalau sampai jemi kenapa2, apa yang akan aku katakan pada orang tuanya?!!"
"Aku tau posisimu Man. Tapi sekarang lihatlah keadaanmu. Kau terluka dan sudah menggigil seperti ini. Kalau lukamu tidak lekas di obati, nanti akan membusuk. Tolong man, jangan keras kepala."
Iman menghela nafas panjang,

"Kalian pulang saja. Aku akan menunggu disini sampai besok. Aku sudah tidak sanggup untuk berjalan." Ucap Iman pelan
Mendengar perkataan Iman, Akhirnya Jumadi membiarkan Iman untuk tetap tinggal di sana.

Malam itu Iman tidur di bangku bambu yang ada di depan pondok milik si lelaki berkumis tadi.
Iman juga di berikan makanan dan obat herbal untuk lukanya.

Beberapa orang yang berjaga membuat api unggun di sekitar lubang, mereka nampaknya tidak terlalu mempercayai Iman. Mungkin saat itu mereka mengira Iman adalah mata2 perampok.
Saat Iman terlelap, ia bermimpi bertemu dengan Jemi. Dalam mimpinya Jemi terlihat kurus dan pucat. Ia hanya diam sambil menatap Iman.
Dan saat Iman akan menyentuh Jemi, tiba2 tubuh Jemi berubah menjadi gumpalan asap tipis dan segera menghilang.
Iman terbangun dari tidurnya.

"Ya Tuhan, Lindungilah Jemi di manapun dia berada. Tuntunlah dia agar bisa cepat bertemu dengan Hamba." Gumam Iman
Ia tak tau apa arti mimpinya tadi, mungkin hanya sekedar mimpi biasa atau bahkan mungkin adalah pertanda, Entahlah.

Keesokan harinya, suasana pertambangan emas ramai dengan orang2 yang lalu lalang mulai bekerja.
Iman menatap ke kejauhan, berharap ia menemukan Jemi di antara orang2 tersebut. Namun harapan tinggalah harapan. Hari itu Jumadi dan Ubi berjalan melewati jalan pintas ke tambang emas milik pak Tarsim.
Jalanan yang berbatu di tutupi oleh hamparan dedaunan kering. Akar pohon terlihat menyembul keluar dari tanah.

Dan tiba2 braaakkk... Akkhhh

Ubi yang berjalan di belakang berteriak, ia tersandung akar pohon dan hampir saja jatuh ke dalam jurang.
Untung Jumadi dengan cepat menarik tangan nya,
Ubi menarik nafas lega, namun sendal jepit satu2nya yang ia miliki saat itu jatuh ke dalam jurang.
"Sendalku sangkut disitu jum." Ujar Ubi menunjuk kebawah

"Ah, tidak apa2. Cuma sandal bekas."

"Kau bilang sandal bekas? Iya kalau aku bawa sandal lain tidak apa2. Ini aku cuma bawa satu. Bagaimana aku akan berjalan sampai ke lubang pak tarsim, kalau alas kakiku tidak ada."
"Manja. Iman saja sanggup berjalan tanpa sandal, bahkan tadi malam kakinya terluka cukup parah. Batu kerikil, tanah pasti sudah masuk kedalam lukanya."
"Itu dia. Bukan aku." Ujarnya sembari mengambil ranting yang terdapat 'cikang'(cabang) di ujungnya

Lalu tengkurap di bibir jurang dan berusaha meraih sandalnya dengan ranting bercabang tadi.
"JumJum.!" Panggil Ubi tiba2

"Apa?!"

"Coba lihat itu ada sobekan kain sangkut di kayu." Tunjuk Ubi

"Mana?" Tanya Jumadi

"Ituuu!!"

"Mana? Tidak ada apa2."

"Astaga dasar buta. Itu loh jum itu!!"
"Oh iya ya. Ah, mungkin punya orang2nya pak Tarsim."

"Masa sih? Tapi aku kok seperti pernah lihat itu kain ya jum." Ubi berusaha mengingat2 di mana ia pernah melihat kain tersebut
"Mirip bajunya..."

"JEMI!!" Ujar keduanya bersamaan

"Ya Tuhan, apa jangan2."

"Tidak, tidak. Semoga saja tidak." Potong Ubi
Meski awalnya takut, mereka berdua akhirnya mencari cara untuk turun ke bawah. Mereka berpegangan pada akar2 pohon yang menjuntai. Mereka benar2 harus extra hati2 dalam menuruni tebing jurang tersebut.
Hingga hampir 20 menit lebih (kira2) mereka berhasil sampai di dasar jurang. Beruntung keduanya hanya mengalami luka2 ringan akibat salah berpegangan pada tumbuhan berduri.
Bau busuk yang sudah samar2 tercium.
Keduanya saling menatap satu sama lain.
Mereka mengedarkan pandangan kesemua penjuru
Sampai akhirnya Jumadi menunjuk ke sebuah pohon yang berada sedikit di atas mereka. Terlihat ada mayat seseorang yang sangkut di pohon bercabang tersebut,
Dan saat angin berhembus, bau busuk masuk ke dalam rongga pernafasan keduanya. Membuat mereka seketika mual dan muntah. Apalagi saat Ubi melihat ke bawah, terlihat sebuah kepala yang susah hampir kehilangan kulit dan daging tapi masih ada sedikit rambut di sekitarnya.
Sambil menutup mulut dengan bajunya, Jumadi berusaha membalikkan kepala yang terputus itu tersebut dengan kayu. Dan saat kepala tersebut berhasil di balik, nampak dengan jelas wajah yang tak asing, meski kepala tersebut jauh dari kata utuh, membuat keduanya menjadi terdiam.
Bibir Ubi bergetar, tak menyangka dengan apa yang ia lihat.

"Apa itu Jemi??!" Tanya Ubi terbata, seolah tak mempercayai penglihatan nya
"Kita harus mengabari orang2. Ayo!" Ujar Jumadi

"Jangan! Aku tidak mau orang2 tau keadaan Jemi. Mereka pasti akan menyalahkan aku Jum! Ini bukan salahku. Aku tidak tau kenapa Jemi sampai jadi seperti ini!!" Ubi histeris
"Justru kau kan di salahkan kalau sampai menutupi semua ini Bi!! Mereka harus tau. Kita harus menguburkan jasad Jemi dengan layak!"

"Ini bukan salah ku." Isak Ubi

"Kau harus bersikap dewasa Bi! Kalau memang kau tidak bersalah maka tak perlu takut!"
Lalu Jumadi berjalan pergi, ia mulai berusaha memanjat naik dengan kembali berpegangan pada akar2 pohon. Beberapa kali kakinya hampir meleset dari injakan, karna pikiran nya saat itu benar2 berkecamuk.
Sesampainya di atas, Jumadi berjalan dengan langkah setengah berlari kearah pertambangan emas milik pak Tarsim.

Singkatnya, saat ia sampai di tempat Iman sedang mengobrol dengan lelaki berkumis tebal itu, Jumadi tak bisa lagi membendung air matanya.
"Kenapa?" Tanya Iman

Bahu Jumadi berguncang, bibirnya gemetar tak bisa berkata2. Rasanya berat sekali menyampaikan kabar buruk tersebut pada Iman yang masih sangat berharap kalau Jemi masih hidup dan sehat,
"KENAPA??!!"

Bagai orang linglung, Jumadi menunjuk kearah di mana ia baru saja muncul.

"Kau jangan membuat ku khawatir bangsaattt!! Katakan ada apa?!!" Bentak Iman
"Jemi."

Iman lantas beranjak dari duduknya, suara nafas nya bergemuruh.

"Dia pulang? Di mana dia?" Tanya Iman

Tanpa menjawab sederet pertanyaan dari Iman, Jumadi langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Iman.
Iman dan beberapa orang yang berada di sekitaran pondok lantas mengikuti langkah Jumadi, yang membawa mereka ke tepi jurang yang curam.

"Je, jemi ada di sana." Ucap Jumadi

Iman menatap jumadi dengan tatapan tajam,

"Kau jangan mempercandakan temanku!! Aku bisa saja
Membunuhmu dengan tanganku kalau kau masih mempermainkan Temanku!" Ujar Iman dengan emosi yang meluap

"Makanya turun! Dia ada di bawah."

Mendengar perkataan Jumadi, hampir saja Iman memukulnya, namun langsung di tahan oleh orang2 yang tadi mengikuti.
Akhirnya Jumadi mulai berusaha untuk menuruni jurang itu lagi. Diikuti oleh Iman dan si lelaki berkumis tebal.

Saat Jumadi menunjukkan kepala yang tadi mereka temukan, Iman langsung terduduk di dekatnya. Ia syok, sampai2 tak ada sedikitpun air mata yang keluar.
Tubuhnya lemas seketika.

"Jemi, tidak, itu pasti bukan jemi. Itu bukan jemi." Gumam Iman

"Ya tuhan, tubuhnya masih tersangkut di sana!" Ujar si lelaki berkumis tebal
Iman tak bisa berbuat apa2 ia bingung, sedih, syok campur aduk jadi satu. Iman benar kehilangan pikiran jernihnya saat itu.

Ia duduk di dekat kepala Jemi dalam waktu yang sangat lama. Sampai2 ia tak tau jika orang2 sudah mulai memenuhi tepi jurang untuk melihat
Bagaimana orang2 akan membawa tubuh mayat Jemi yang sudah tak utuh lagi.

"Sudah Man, semuanya sudah terjadi. Ikhlaskan dia."

"Ikhlas?? Kau tak tau apa yang aku rasakan saat ini! Kau hanya bisa berkata. Ucapan itu gampang! Tapi kau tak tau bagaimana rasanya aku
Menjalaninya!"

Proses pengangkatan jenazah jemi dari dalam jurang memakan waktu yang sangat lama, apalagi mereka melakukan semua itu dengan peralatan yang seadanya.
Jenazah di masukkan kedalam kain yang di buat seperti kantong dan di tarik keatas oleh orang2. Beberapa kali tali tersangkut oleh akar2 pepohonan dan membuatnya hampir putus. Namun untungnya proses itu berhasil mereka lakukan.
Saat sampai di area pondok milik ayahnya Ubi, Iman berteriak2 histeris memanggil Ubi. Dan saat ia melihatnya. Iman menghajar pemuda tersebut sampai berdarah2.
"Kenapa kau lakukan ini pada Jemi hah?!!! Akan ku bunuh kau!! Ku bunuh kau!!!" Teriak Iman

Beberapa orang yang berada di sana tak tinggal diam, mereka berusaha melerai perkelahian, namun Iman terlalu kuat. Kekuatan nya hampir mirip seperti seekor banteng yang mengamuk.
Bahkan beberapa orang menyebut kalau saat itu Iman sudah di rasuk oleh mahluk halus.

"Cukup man!! Jemi akan sedih melihat sahabatnya seperti ini! Aku yakin bukan Ubi pelakunya. Bisa saja Jemi terpeleset saat sedang berjalan, atau mungkin
Dia terjatuh saat di serang oleh beruang."

"Beruang??!! Apapun itu siapapun itu aku tidak peduli!! Yang pasti aku akan membunuh mahluk yang sudah membuat Jemi mati!!"
"Sekarang kita perlakukan jasad Jemi selayaknya. Kita akan memakamkan nya malam ini juga."

Iman di papah Samsu ke dalam pondok, ia di tenangkan dan tidak di ijinkan melihat proses pemandian jenazah ataupun penguburan sahabatnya. Mereka takut kalau2 Iman akan kembali
Mengamuk.

---
Seminggu telah berlalu, Iman menolak berinteraksi dengan orang2. Ia kerapkali terlihat duduk di pinggir sungai sambil melamun.
Dan yang Iman rasakan saat itu adalah kehadiran Jemi di setiap mimpinya. Jemi selalu berkata lirih, namun Iman tak memahami maksud perkataan itu.
Sampai suatu hari, saat Iman sudah tak sanggup lagi, Ia menceritakan semuanya pada Jumadi.

"Mungkinkah arwah jemi ingin memberitahu kau pelakunya?"

"Aku tidak tau. Tapi jika benar. Aku rela menjadi pembunuh untuk membunuh orang yang telah melenyapkan nyawa temanku.!"
Jumadi menarik nafas panjang,

"Di atas sana ada seorang mantan pendeta yang katanya juga paham dengan hal2 mistis. Beberapa kali dia meramalkan kejadian dan memang benar adanya, hal itu terjadi tidak lama kemudian.
Tapi kemungkinan di agama kita tidak di perbolehkan mempercayai hal itu. Mm, tapi keputusan ada padamu. Aku siap untuk mengantar."

"Antar aku sekarang." Ujar Iman sembari beranjak
Jumadi mengangguk, lalu ia mengambil sebotol air dan membawanya. Ia berjalan lebih dulu.

Jalanan itu penuh dengan tanah kuning, yang pastinya sangat licin di kala hujan.
Beberapa kali Iman mengocok matanya yang kemasukan debu bekas tanah yang diinjak oleh Jumadi.

Semakin keatas, jalanan nya semakin menanjak. Sampai di suatu ketika, mereka berjalan dengan wajah yang hampir mencium 'tu ut' (dengkul).
Dan akhirnya setelah beberapa meter kemudian, mereka melihat sebuah rumah kecil dengan pemandangan hutan liar mengelilinginya.
Pintu rumah itu terbuka, dan nampaknya didalam sana ada orang yang mereka cari.

Saat Jumadi mengucapkan permisi, seorang laki2 berusia 50 tahunan lebih keluar dari dalam rumah.
"Bagaimana mungkin seorang laki2 tua seperti ini mampu turun naik melewati jalanan tadi." Batin Iman

"Kalian mencari aku?" Tanya si lelaki tua sembari menatap keduanya
Jumadi mengangguk.
lalu tanpa basa basi Jumadi lantas menceritakan maksud dan tujuan mereka ke sana. Lelaki tua mengangguk, ia paham.

"Dia sedang bersama kalian. Mungkin kalian tidak menyadarinya. Tapi aku dapat melihatnya dengan sangat jelas." Ucap si lelaki tua
"Benarkah?? Seperti apa dia dalam penglihatanmu?" Tanya Iman

"Tentu dia pemuda yang tampan semasa hidupnya. Tetapi sayang, wajah yang tampan tak menjamin nasib yang bagus. Seseorang telah menghilangkan nyawanya."
"Seseorang? Pasti Ubi kan?? Maksudku laki2 yang pernah bermasalah dengan nya."

Saat akan menjawab pertanyaan Iman, si lelaki tua itu seperti mengalami kesakitan di bagian dadanya.
Beberapa kali ia menghirup dan mengeluarkan udara dari rongga hidungnya.

"Maaf, sudah hampir 20 tahun aku mengasingkan diri disini. Dan sudah selama itu pula aku tidak pernah lagi berurusan dengan hal2 seperti ini. Dadaku akan terasa sakit setiap kali mereka berbicara.
Suara mereka menusuk sampai ke jantungku, suara penuh amarah dan dendam."

Iman menatap lelaki tua tersebut.

"Apa bisa kau katakan siapa pembunuhnya? Maksudku Jangan pakai nama awal ataupun ciri2 fisik. Karena aku tidak banyak mengetahui orang2 yang pernah dekat
Dengan temanku itu."

"Dia seorang perempuan. Perempuan yang pernah tersinggung dengan ucapan temanmu. Argghh.." Belum usai si lelaki tua berkata, ia meringis kesakitan sambil memegangi dadanya
"Perempuan. Tapi Siapa ?" Gumam Iman bertanya2

"Apa mungkin Eli?" Bisik Jumadi

"Eli? Gadis polos itu? Tapi apa alasan nya?"

Jumadi mengangkat kedua bahunya. Ia sendiri tak yakin. Tapi mendengar kata perempuan, Pikiran nya entah kenapa tiba2 teringat Eli.
"Yang kau sebut itu benar. Dan perlu kau tau 20 dari 50 persen orang2 di pertambangan itu adalah mereka yang sedang dalam pelarian/pengejaran pihak berwajib (buronan). Kepolosan wajah bisa menipu dunia, tapi tidak dengan hati. Maka dari itu jangan hanya menilai dari
Luar, tapi cobalah selami isi hatinya. Maka kau akan tau dia seperti apa." Ujar si lelaki tua yang masih memegangi dadanya
"Maksudmu Eli itu adalah buronan?? Lalu dimana aku bisa menemukan nya?" Tanya Iman

"Sayang sekali aku tidak tau di mana dia sekarang berada."
Gigi Iman bergemeretak,

"Baik, aku akan mencarinya walau sampai ke ujung dunia sekalipun. Nyawa harus di bayar dengan Nyawa!" Ujar Iman gusar
"Dendam hanya akan melahirkan dendam lain nya. Emosi mu sekarang sudah menyatu dengan dendamnya. Yang harus kau lakukan sekarang adalah Merelakan dia pergi. Dan biarlah karma Tuhan yang akan menghukum si pelaku." Ucap si lelaki tua
"Tidak. Aku tetap akan memburu si pembunuh itu."

Suasana di antara mereka mulai canggung, Lalu jumadi langsung berpamitan pada si lelaki tua. Dan menarik Iman untuk segera pulang.
---
3 hari kemudian. pagi2 sekali bahkan saat orang2 masih terlelap dalam buaian mimpi, Iman keluar dari pondok. Ia berjalan tanpa penerangan menuju jalan utaman untuk pulang.
Ia juga mencuri beberapa emas hasil tambang yang belum sempat di serahkan pada ayahnya Ubi,

Singkatnya, saat sampai di perkampungan besar. Iman menjual emas2 hasil curian nya.
Setelah mendapatkan uang, ia mampir kesebuah warung untuk makan.
Selesai makan, ia langsung menaiki taksi air menuju ke desa yang di sebutkan adalah desa yang pernah di sebutkan oleh Eli.
Namun singkatnya saat sampai di desa itu, tak ada seorang pun mengenali Eli.

Dan Iman yakin kalau desa itu bukanlah tempat tinggal Eli.
Dan kemudian dari sana ia pergi ke tempat yang cukup jauh dan info nama tempat itu juga ia dapatkan dari teman2 kerjanya Eli.

Tapi sayang, perjalanan yang memakan waktu 2 hari di kapal itu sam sekali tak membuahkan hasil.
Namun Iman tak mau berputus asa. Ia terus mencari dan mencari keberadaan Eli.

Pernah di suatu malam dalam pencarian nya, Iman bermimpi hal yang sama. Ia bertemu dengan jemi yang menatap lekat kepadanya. Seolah ada yang ingin dia sampaikan.
---
Tahun pun berlalu. Akan tetapi tak ada kabar dan tanda2 keberadaan Eli. Iman sudah lelah. Ia sangat ingin hidup sebagaimana layaknya. Bertemu sanak saudara. Terlebih lagi ia sudah sangat rindu pada orang tuanya.
Selama ini ia tak berani pulang membawa kabar kematian Jemi. Ia takut pada janji nya yang dulu ia ucapkan pada ayah Jemi untuk selalu menjaga Jemi, namun janji hanya tinggal janji. Nyatanya ia tak bisa menjaga jemi.
Tapi meskipun Iman tak pulang, ia kadang2 masih menitipkan sejumlah uang pada orang2 yang ia kenal untuk orang tuanya dan ayah Jemi.

Di tahun keempat, saat Iman ingin menitipkan uang. Orang itu berkata kalau ayahnya Jemi sudah meninggal 1 minggu yang lalu. Sedangkan
Orang tuanya Iman, jatuh sakit sudah hampir 2 bulan lamanya.

Iman tertegun, setetes air mata mengalir di pipinya.

"Aku akan pulang." Ucapnya berulang2 kali
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 4 tahun terakhir, Iman membasuh wajahnya dengan air wudhu. Diakhir sholatnya, ia mengirimkan doa untuk Jemi dan juga ayahnya.
Ia menangis, dalam doanya.
Hatinya sedikit tenang, meski masih ada rasa was2 mengikuti.

"Maafkan aku Jem, maafkan aku mang, aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjaga Jemi." Ucapnya saat kapal akan segera berangkat meninggalkan pelabuhan
------
Sampai saat ini Iman tidak pernah sekalipun bertemu kembali dengan perempuan bernama Eli tersebut.

Satu yang Iman ingat, Seorang teman pernah mengatakan kalau sebelum Jemi menghilang, ia pernah melihat Jemi dan Eli sedang bertengkar di pinggir sungai.
Beberapa kata yang mereka dengar adalah, Jemi mengatakan "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengkhianati temanku. Sebaiknya kau jauhi kami bila kau hanya ingin menghancurkan pertemanan kami."
Tapi entah benar atau tidaknya, tapi intinya Jemi menolak keberadaan Eli di antara mereka setelah Jemi dan Ubi terlibat perkelahian.

"Benarkah namanya Eli? Bagaimana kalau itu hanya nama samaran saja. Mengingat kata lelaki tua itu, ada kemungkinan jika nama2 yang mereka
Gunakan hanyalah penyamaran saja. Orang manakah dia? Mengapa sampai sekarang aku tak pernah bertemu kembali? Mungkinkah dia sudah mati. Entahlah. Semuanya terasa begitu misteri di dunia yang fana ini."
----SELESAI----

Donasi melalui pulsa : 0856 5403 7262

Donasi melalui saweria link : saweria.co/donate/Omrasth…
Berdonasi seikhlasnya saja, Untuk yang sudah menyawer/berdonasi Om ucapkan Terima Kasih yang Sebesar2nya. Semoga kalian selalu dalam Lindungan Tuhan.

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with OM RASTH

OM RASTH Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @rasth140217

7 Jul
MALAM SAKRAL (PELET KULAT RAUNG 'JAMUR PETI MATI' UNTUK CALON SUAMIKU)

#bacahorror
#bacahoror

(Gambar hanya Ilustrasi karena foto asli dari kulat nya tidak di perkenankan untuk di share) Image
"Aku hamil!" Ucap wanita itu dengan suara serak
Matanya sembab dan memerah

Lelaki berkemeja putih tersebut terdiam, ia tak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Wajahnya terlihat memerah menahan emosi kekecewaan.
"Kau kan tau aku baru saja mendapatkan pekerjaan. Aku tidak bisa menikahi mu sekarang." Ujar lelaki itu akhirnya

"Tapi ini anakmu Han. Anakmu." Ucapnya bergetar
Read 210 tweets
30 Jun
HAMPIR MATI DI KEJAR RAUNG (PETI MATI)

DIAMBIL DARI KISAH NYATA YANG PERNAH TERJADI DI SUATU DAERAH YANG BERADA DI KALIMANTAN.
#bacahorror
#bacahoror
(Gambar hanya Ilustrasi)
Raung, adalah sebutan untuk peti mati bagi suku dayak yang beragama kaharingan. Cerita kali ini berkisah tentang pengalaman seseorang yang pernah hampir mati di kejar oleh peti mati (Raung) tersebut.
Raung nya pun bukan sembarang Raung, tapi Raung yang sudah di 'peteh'(amanat) oleh seseorang entah itu orang iseng ataupun pihak keluarga si mati yang tak ingin harta benda 'pahata'(bekal) keluarganya di curi oleh maling.
Read 120 tweets
15 Jun
TUMBAL JANIN

#bacahorror
#bacahoror
#omrasth

Thread ini diangkat dari kisah nyata.

(Gambar hanya ilustrasi) Image
Pesugihan, bukan hal yang baru lagi untuk kita dengar.
Setiap daerah dan sudut bumi dimana kita berpijak ini om rasa sudah pasti pernah mendengar istilah pesugihan.
Atau bahkan mungkin ada salah satu kerabat kita yang pernah melakukan pesugihan? Entahlah. Yang pasti pesugihan itu terdengar menyenangkan, namun ada kenyataan kelam dan dosa yang selalu menyertai pelaku pesugihan tersebut, salah satunya harus rela menyerahkan nyawa anak istri
Read 341 tweets
9 Jun
RAHASIA KELAM RUMAH SANG JURAGAN

#bacahorror
#bacahoror
#diambildarikisahnyata

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
1999, pulau kalimantan.

"Sebut saja namanya pak Karna, dulu usia beliau itu kira2 sekitar 40-50 tahunan, tapi yang namanya juga juragan. Orang kaya. Jadi kerjaan nya tidak seberat kita2 yang tiap hari kerja banting tulang di pahumaan (sawah). Dan meski pun sudah berumur
Tapi tetap kelihatan awet muda. Gak seperti saya ini. Usia 50 tahun kelihatan nya sudah seperti 70 tahun lebih." Ujar pak Rahmat memulai ceritanya di sebuah warung kopi yang terletak tidak begitu jauh dari area persawahan tersebut
Read 218 tweets
28 May
RITUAL KASUGIHAN (DI PERINTAH UNTUK MENYET*BUHI 41 GADIS PERAWAN UNTUK RITUAL PESUGIHAN)

#bacahoror
#bacahoror
#threadhorror

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Mendengar kata pesugihan, tentu nya kita sudah tak asing lagi bukan?
Ada berbagai macam jenis dan ritual yang harus di penuhi sebagai syarat agar bisa menjadi kaya raya dengan Instan.
Ada pesugihan putih yang di antara syarat2nya di haruskan membaca surah2 tertentu, puasa
Dan sholat tak lepas waktu.
Adapun pesugihan hitam adalah pesugihan yang meminta tumbal, tumbal sendiri ada yang berasal dari anak ataupun istrinya dan ada pula yang berupa musuh juga orang lain/orang yang tidak dikenal.
Biasanya tergantung jenis pesugihan dan dukun nya.
Read 325 tweets
21 May
DENDAM ORANG KETIGA
ዕቿክዕልጠ ዐዪልክኗ ጕቿፕጎኗል

#bacahorror
#bacahoror
#omrasththread

(Gambar Hanya Ilustrasi) Image
Cerita ini sudah mendapatkan izin dari pemilik sebenarnya (narasumber) untuk di tuliskan menjadi sebuah thread. Hanya saja, seperti hal nya yang sudah2 nama dan tempat dalam cerita harus di sensor demi keamanan dan kenyamanan si narasumber.
"Indung.." Panggil seseorang dari arah belakang

Seorang wanita berusia 23 tahun itu menengok ke arah suara orang yang memanggilnya tadi, ternyata ada seorang laki2 yang kira2 berusia 24/25 tahunan tengah menatapnya sambil tersenyum.
Read 393 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(