Bakr Smith Profile picture
Feb 4 85 tweets 10 min read
Ben Sohib adalah penulis, tinggal di Jakarta. Sosoknya dikenal publik karena dwilogi novel The Da Peci Code dan Rosid & Delia. Kedua novel tersebut adalah satire tentang kehidupan multi-etnis dan agama di Jakarta. Film terbarunya: Bid'ah Cinta (2017).
Habib Kribo di Mata Habaib Non-212

Kenyataan bahwa dirinya adalah seorang habib membuat kubu 212 tidak bisa memukul Habib Kribo dengan senjata nasab, atau garis keturunan

✍Ben Sohib
04 Februari 2022  

Publik Indonesia dikejutkan dengan kemunculan seorang habib bernama ...
Zen Assegaff yang memperkenalkan dirinya sebagai Habib Kribo. Sekitar dua bulan lalu, dengan rambut keriting Afro dan gaya pakaian yang kasual, sang habib mulai tampil di kanal Youtube-nya

Habib Kribo dengan sangat keras dan lugas ‘menyerang’ Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith.
Gaya bicaranya yang lantang, apa adanya, dan dengan diksi yang cenderung kasar, segera berhasil menarik perhatian banyak orang.
Namanya pun sempat menjadi trending topic di dunia maya sejurus setelah ia terlibat debat dengan Eggy Sujana dan Haikal Hassan di sebuah stasiun televisi.
Tanpa tedeng aling-aling Habib Kribo menyerang Haikal Hasan sebagai seorang etnis keturunan Yaman non-habib yang berupaya memanfaatkan habaib untuk kepentingan politiknya. Habib Kribo menuduh Haikal Hassan pada dasarnya seorang pembenci habaib.
Haikal Hassan yang tak menyangka akan mendapat serangan seperti itu dari seorang habib, tampak terdesak dan tak mampu memberikan perlawanan yang berarti.
Terseraknya jejak digital cuitan Haikal Hassan yang mengatakan bahwa habaib bukanlah keturunan Nabi Muhammad SAW, melainkan keturunan Abi Thalib (ayahanda Sayidina Ali) yang masih kafir ketika wafatnya, tampaknya membuat Haikal Hassan tak berkutik menghadapi serangan Habib Kribo.
Alhasil, sejak saat itu Habib Kribo menjadi buah bibir publik Indonesia, baik yang mendukung maupun yang menentangnya. Ia tiba-tiba melejeit menjadi figur yang ikonik dan fenomenal.
Berdasarkan pengamatan atas percakapan-percakapan antar habaib yang saya ikuti, meski tentu saja tak mungkin bisa membuat pengklasifikasian secara rigid mengingat saling silang irisan antar variabel yang satu dengan yang lain,
tulisan ini akan mencoba melacak sebab-sebab kemunculan Habib Kribo, dan memetakan pendukung serta penentangnya dari kalangan habaib.
Suara Hati Habaib Non-212

Sejak Rizieq Shihab dan juga Bahar bin Smith mencuat dan malang melintang di panggung politik nasional melalui FPI dan gerakan 212 dengan segala kontroversinya,
banyak habaib (dan juga etnis keturunan Yaman yang bukan dari golongan habib) merasa secara sosial berada dalam tekanan beban psikologi.
Meskipun Indonesia bukan negara kesukuan melainkan negara hukum di mana setiap orang bertanggungjawab atas dirinya sendiri,
namun lantaran etnis habaib dan keturunan Yaman—sebagaimana etnis keturunan Tionghoa dan India—dianggap berbeda (The Other/Sang Liyan) dari etnis-etnis “pribumi”, maka setiap perilaku buruk dari individu-individu dari ketiga suku itu akan selalu dilihat dan dikaitkan ...
...dengan etnisitas mereka. Hal yang sama berlaku pada Sang Liyan dalam keagamaan seperti misalnya Syiah dan Ahmadiyah.

Habaib non-212 baik yang tasawuf maupun yang sekuler, tidak menyukai tutur kata dan gerakan politik Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith,
namun di sisi lain mereka tak mampu berbuat apa-apa. Suara penolakan mereka tenggelam oleh lantangnya suara Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith.
Posisi sebagai Sang Liyan membuat etnisitas keturunan Yaman selalu diikutkan saat publik melihat sosok-sosok Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith (juga Yusuf Martak, Haikal Hassan, dan Anies Baswedan).
Akibat cara pandang relasi mayoritas – minoritas Sang Liyan seperti itu, maka seluruh habib dan etnis keturunan Arab Yaman menjadi sasaran cemoohan dan hinaan rasial dari para penentang individu-individu tersebut.
Padahal, tokoh habaib dan etnis keturunan Yaman yang terlibat dan mendukung gerakan politik 212 itu tak lebih dari sepuluh orang (Rizieq Shihab, Bahar bin Smith, Hanif al-Athos, Ahmad al-Habsyi, Novel Bamukmin, Yusuf Martak, Haikal Hassan, Anies Baswedan).
Public figure Habaib dan etnis keturunan Yaman di luar 212 jumlahnya jauh lebih banyak, baik yang sebagai ulama maupun yang bukan. Sebut saja Prof. Quraish Shihab, Luthfy bin Yahya, Jindan bin Novel, Alwi Shihab, Husein Jakfar al-Hadar, Ismail Fajri al-Atas, Haidar Bagir, ...
...Ahmad Albar, Fachri Albar, Muchsin al-Atas, Najwa Shihab, Tsamara Amany al-Atas, Wanda Hamidah, Muannas Aidid, Sakdiyah Ma’ruf, Nadiem Makarim dll.
Namun orang tidak mengaitkan etnisitas saat melihat atribusi dan kontribusi sosok-sosok itu dengan cara yang sama seperti saat mereka melihat Rizieq Shihab dkk.

Beberapa habaib tasawuf mengkritik ceramah² Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith yang dianggap kasar dan provokatif.
Namun lantaran mereka patuh pada ajaran Tarekat Alawiyah yaitu menjunjung tinggi etika dan menghindari konfrontasi, mereka tak pernah menyebut langsung nama yang dikritik.
Mereka juga tak berpolitik praktis dan tak pernah mencaci-maki. Akibatnya, mereka kalah dalam menarik perhatian media massa dan publik.
Penentangan habaib non-212 kepada Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith, baik berupa cuitan dan unggahan video di media sosial seperti yang dilakukan oleh Abdillah Toha, dukungan kepada Jenderal Dudung Abdurahman yang diperlihatkan secara terang-terang oleh Husein Baagil, ...
dan pelaporan Bahar bin Smith ke polisi oleh Husein Shihab, juga tidak cukup kuat mengubah stereotyping 
atas habaib dan etnis keturunan Arab Yaman dalam benak publik.
Lagi-lagi itu lantaran dalam relasi mayoritas – minoritas, publik melihat perilaku (yang dianggap buruk atau kontroversial) Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith dkk dalam perspektif etnisitasnya,
namun tidak menggunakan perspektif yang sama saat melihat perbuatan (yang dianggap baik atau wajar) Abdillah Toha, Husein Baagil, dan Husein Shihab dkk.
Faktor-faktor itu membuat banyak habaib non-212—baik yang religius maupun yang sekuler—geram karena harus menanggung getah olok-olok akibat perbuatan buruk sejumlah orang. Dan mereka merasa tak banyak yang bisa mereka lakukan untuk mengatasi masalah itu.
Dari rahim kegeraman dan ketakberdayaan habaib non-212 itulah Habib Kribo lahir. Ia menggebrak dan mendobrak.  Ia muncul pada momen yang tepat: Bahar bin Smith sedang berada di puncak kontroversinya yaitu aksi cium kaki dan ceramah soal penyembah pohon.
Habib Kribo dengan keberanian yang mencengangkan, mencaci Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith dengan kata-kata kasar yang selama ini sering digunakan oleh kedua habib itu. Dan ia juga langsung menyerang jantung persoalan: kapitalisasi kehabiban untuk tujuan politik.
Dan ini yang sangat disyukuri oleh sebagian habaib non-212 yang telah lama menjadi korban “ketiban getah” kapitalisasi kehabiban.
Habib kribo mencela konsep tentang kemuliaan kehabiban (yang selama ini oleh habaib 212 disamakan dengan kemuliaan keluarga inti Nabi Muhammad atau yang dikenal dengn Ahlul Bait).
Terlepas dari kekasaran kata-katanya, banyak habaib non-212 yang meyambut gembira tampilnya Habib Kribo dalam ruang perbincangan publik di Indonesia. Mereka menutup mata soal pilihan diksi dan gaya Habib Kribo yang keras dan vulgar itu,
karena ia memang tak memposisikan dirinya sebagai ulama atau pun ustad yang memang musti menjaga kesantunan lisannya. Mereka juga tak terlalu mempersoalkan keliberalan pandangan keagamaan Habib Kribo.
Di mata sbagian habaib non-212, Habib Kribo yang tampil apa adanya, otentik, dan tak berpretensi sbagai seorg intelektual itu, adalh penyambung lidah mereka yg selama ini kelu lantaran suaranya tak terdengar, dan juga tak cukup berani utk menggunakan diksi kasar dan gaya vulgar.
Bagi mereka, setiap serangan kasar Habib Kribo kepada Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith, dirasakan seperti kepanjangan kepalan tangan yang selama ini tak kunjung sampai “menjotos” kedua habib politik itu.
Selama ini, dengan kepopuleran dan kekontroversialannya, Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith leluasa “meninju” wajah habaib non-212 berkali-kali, sementara Habaib non-212 tak memiliki kesempatan untuk membalasnya lantaran tak memiliki panggung.
Dan sekarang tiba-tiba ada orang yang melompat ke dalam ring, mengamuk, dan mengubah skor. Dialah Habib Kribo. Tentu saja banyak habaib non-212 bersorak senang dan merasakan kelegaan.
Habib Kribo tampil seorang diri, dengan segala risiko, mengambil peran sebagai striker tunggal yang menembus jauh ke garis belakang, mengobrak-abrik benteng pertahahanan lawan.
Kenyataan bahwa dirinya seorang habib membuat kubu 212 tidak bisa memukul Habib Kribo dengan senjata nasab, atau garis keturunan.
Selama ini senjata itu kerap dipakai untuk meningkatkan daya tawar politik Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith saat dalam posisi diserang; bahwa kedua orang itu merupakan cucu Nabi dan barang siapa memusuhi Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith  berarti otomatis memusuhi Nabi.
Dan karena skarang yg memusuhi Rizieq Shihab dan Bahar bin Smith adalh seorg cucu Nabi juga, senjata itu menjadi tumpul. Maka digunakanlah senjata yang lain, yaitu isu sektarian: Habib Kribo adalh penganut Syiah. Dan krn menganut “aliran sesat”, ia sudah bukan lagi seorang habib.
Terlepas benar atau tidak Habib Kribo itu pemeluk Syiah, menghapus nasab merupakan sesuatu yang mustahil mengingat DNA bukanlah rajah yang bisa dihapus dengan setrika panas atau teknologi sinar laser. Nasab adalah sesuatu yang mengalir di dalam darah.
Dengan demikian, kubu habaib 212 menjadi kebingungan menghadapi serangan Habib Kribo ini. Dilawan salah, didiamkan salah. Gempuran Habib Kribo ini dianggap bisa merusak konstruksi kemuliaan nasab habaib yang selama ini dirawat sebagai modal politik oleh sejumlah habib.
Apalagi kian hari Habib Kribo kian populer dan mendapatkan banyak pendukung, baik dari habaib dan etnis keturunan Arab Yaman non-212 maupun dari etnis-etnis lainnya di Indonesia yang memiliki kepentingan yang sama yaitu NKRI yang toleran,
plural dan setara (meskipun ada juga yang mendukung Habib Kribo karena motif kebencian terhadap Islam dan atau Arab semata). Habib Kribo seperti mewakili kemarahan banyak orang yang selama ini terpendam dan tak tersalurkan.
Isu yang Melebar dan Bergeser

Banyak habaib dan etnis keturunan Yaman non-212 merasa senang berada dalam barisan itu, sampai tiba-tiba Habib Kribo seperti membelakangi idealismenya sendiri.
Ia mengeluarkan pernyataan yang bagi habaib non-212 (juga bagi siapa pun yang paham tentang konsep kebangsan Indonesia) sangat rasis dengan mengatakan bahwa habaib dan etnis keturunan Yaman merupakan pendatang dan penumpang di negara ini.
Habaib non-212 dan etnis keturunan Yaman yang nasionalis terkejut dengan ujaran diskriminatif semacam itu. Apa yang dikatakan oleh Habib Kribo dianggap sudah di luar konteks.
Itu bukan lagi penentangan terhadap kapitalisasi kehabiban, melainkan pelecehan terhadap salah satu suku yang membentuk bangsa Indonesia.
Dan pernyataan Habib Kribo itu dianggap ironis. Bagaimana tidak, Habib Kribo yang digadang-gadang sebagai figur pluralis, sosok yang dikenal gigh membela hak-hak kaum minoritas etnis (etnis apa pun tentunya) dan agama.
Yang kerap bicara soal agama cinta dan kemanusiaan. Namun justru seperti mengajak banyak orang untuk bersikap diskriminatif terhadap bangsa Indonesia dari etnis habaib dan keturunan Yaman.
Habaib non-212 dan etnis keturunan Yaman yang nasionalis tidak pernah merasa dirinya sebagai penumpang.
Mereka menganggap Indonesia sebagai negara dan tanah airnya, tanpa embel-embel pendatang apalagi penumpang, sebagaimana juga etnis-etnis yang lain; Jawa, Sunda, Tionghoa, Papua, Batak dll ...
...yang telah terikat dalam kontrak sosial pembentukan negara bangsa bernama Indonesia pada 1945 oleh seluruh elemen suku dan agama yang ada di Nusantara.
Habaib non-212 yang nasionalis justru heran jika ada seorang habib—kribo maupun tidak—yang menganggap Indonesia hanya sebagai negara tumpangannya. Alhasil, habaib non-212 dan etnis keturunan Yaman nasionalis melihat kontradiksi pada diri Habib Kribo.
Ia yang oleh sebagian habaib non-212 disambut sebagai “Tokoh Pluralis”, “Sang Pendobrak”, dan dielu-elukan sebagai “Super Habib”, justru akhirnya berbalik menyerang para penyambutnya sendiri dengan menghina mereka sbagai kaum pendatang dan penumpang dari negeri tandus dan miskin.
Jika Habib Kribo menolak kapitalisasi kehabiban dan menginginkan keseteraan bagi semua golongan manusia di Indonesia, mengapa ia membeda-bedakan warga negara berdasarkan kelas “asli” dan “pendatang dari negeri miskin”?
Begitulah, kekecewaan habaib non-212 dan etnis keturunan Yaman nasionalis semakin dalam: bukannya fokus pada perlawanan terhadap radikalisme, intoleransi, kapitalisasi kehabiban dan perilaku buruk Bahar bin Smith,
Habib Kribo justru makin bersemangat memukul dan menendang ke banyak sasaran, antaran lain dengan menista Arab.  Akibatnya, persoalan menjadi berkembang tak tentu arah.
Arab yang bermakna ratusan juta orang penutur bahasa Arab yang mendiami 22 negara di Asia Barat dan Afrika Utara, dari yang berkulit putih Kaukasusian di Suriah sampai yang berkulit hitam Afrika di Sudan. Dari yang menganut Sunni, Syiah, Sufi, Druze, Kristen, hingga yang Sekuler,
Liberal, Komunis, Agnostic, dan Atheis. Peradaban kuno pra Islam Nabatean, kelahiran Islam, zaman penaklukan, sejarah kejayaan dan keruntuhan peradaban Arab, diringkus oleh pemahaman Habib Kribo hanya dalam satu entitas: Arab Saudi.
Melalui pernyataannya: Arab tidak berbudaya, tidak punya intelektual, hanya ada Ka’bah, jelas yang ia maksudkan adalah Kerajaan Arab Saudi yang baru berdiri tak lebih dari satu abad lalu.
Semua itu menunjukkan bahwa Arab dalam benak Habib Kribo adalah Arab Saudi; sebuah negara kerajaaan absolut yang menganut Islam ultra konservatif di mana sampai beberapa tahun yang lalu perempuan masih tak diizinkan mengemudikan mobil.
Lalu hinaan Habib Kribo terhadap Arab direspons oleh kubu 212 dengan mengetengahkan kehebatan dan jasa-jasa Arab, baik Arab secara umum maupun etnis keturunan Yaman di Indonesia (termasuk yang dengan cara sangat kasar mencaci kenusantaraan).
Ada juga yang dengan menyebarkan berita bohong bahwa Imam Bonjol merupakan kakek Rizieq Shihab.

Kemudian respons ini dibalas oleh Habib Kribo dan pendukungnya dengan menghina Arab secara lebih rendah lagi dan begitu seterusnya.
Sekali lagi habaib non-212 yang nasionalis merasa terjepit di tengah-tengah situasai sulit dan dilematis. Saling serang ujaran kebencian bernuansa SARA antar kubu Habib Kribo dan kubu Bahar bin Smith sungguh absurd dan tidak baik.
Dengan berbekal kalimat “Saya orang Arab juga, saya habib juga”, Habib Kribo seperti merasa mengantongi tiket yang sah untuk mengumbar kebencian rasial dan kemudian diikuti oleh sebagian pendukungnya.
Bahkan, dalam upaya untuk membenarkan pendapatnya soal keburukan Arab, Habib Kribo tak segan-segan mengutip ayat al-Quran dan mengartikannya secara tekstual; satu kebiasaan kelompok fundemantalis yang justru kerap ia kritik.
Lalu terbangun kesan bahwa Habib Kribo sekarang sedang dimusuhi oleh seluruh puaknya sendiri. padahal kenyataannya, Habib Kribo hanya dimusuhi oleh habaib dan keturunan Yaman 212 (bukan oleh seluruh habaib dan keturunan Yaman).
Dan fakta bahwa yang memusuhi Habib Kribo juga berasal dari etnis Betawi, Sunda, Jawa, Padang, Batak, Madura dll (tergabung dalam kubu 212), menunjukkan bahwa ini bukan persoalan pertentangan etnis melainkan ideologi politik.
Fakta itu diperkuat dgn keberadaan habaib non-212 “garis keras” yg mendukung Habib Kribo scara membabi buta, membenarkan smua perkataan Habib Kribo. Akibatnya, kritik atas satu atau dua pandangan Habib Kribo akan dimaknai sbagai penentangan terhadap semua manuver Habib Kribo.
Habaib non-212 nasionalis mendukung sepenuhnya upaya Habib Kribo melawan radikalisme, intoleransi, dan kapitalisasi kehabiban. Namun mereka sangat menentang jika ikhtiar itu kemudian dibalut dalam kebencian rasial.
Mereka menyayangkan perlawanan terhadap ideologi radikalisme dibelokkan menjadi permusuhan kepada etnis tertentu. Sebab, bukankah yang radikal terdiri dari berbagai macam etnis, sebagaimana juga yang moderat?
Mengusung permusuhan SARA dinilai justru hanya melestarikan kesalahpahaman dan generalisasi yang pada akhirnya hanya akan mengarah pada situasi Baharisme vs Baharisme.
Sementara itu, di balik yang terlihat dan yang terdengar, tangan-tangan struktural yang memeram agenda kekuasaan, secara senyap sengaja memelihara dan mengunci masyarakat dalam suasana turbulensi primordial, yang kelak akan mereka gunakan pada saat yang tepat.
Pilkada DKI 2017 dan Pipres 2019 telah menunjukkan bagaimana isu SARA dimanfaatkan sebagai bahan bakar bagi mesin perolehan suara para politisi.
Begitulah, di mata habaib non-212 dan etnis keturunan Yaman nasionalis, peningkatan sentimen SARA sperti itu sungguh tdk sehat bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Rasisme—oleh dan terhdp siapa pun—tdk dibenarkan baik dari sisi ajaran agama, nilai² kebangsaan, dan kemanusiaan.
Apa pun ujung dari perseteruan bernuansa SARA antara Kubu Habib Kribo dan kubu Bahar bin Smith (juga perseteruan politik dan ekonomi yang dikamlufase dengan isu SARA yang lainnya), semoga eskalasi sentimen rasial akan segera berakhir, ...
...dan bangsa Indonesia kembali ke jati dirinya sebagai bangsa besar yang plural dan toleran; tidak membeda-bedakan warga negara berdasarkan agama, suku dan asal usul keturunan.
Tidak boleh ada yang kelasnya lebih tinggi atau kurang tinggi, lebih asli atau kurang asli, mayoritas atau minoritas. Semuanya setara.
Dan masyarakat Indonesia, termasuk Habib Kribo tentunya, bisa kembali menegaskan arah perjuangannya melawan radikalisme, intoleransi, dan rasisme, untuk Indonesia yang lebih adil, damai, sejahtera, dan maju. [AK]

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Bakr Smith

Bakr Smith Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @BakarSmith

Feb 2
Istighfar di bulan Rajab, oleh AlHabib Umar bin Hafidz, marilah sama² kita membacanya...

👇
Lembaran pertama
Lembaran kedua
Lembaga ketiga
Read 6 tweets
Jan 18
SISI LAIN DARI
HABIB KRIBO

Banyak orang hanya menilai orang dari outlook dan kesantunan yang dikemas demi pencitraan.
Di balik gaya bicara kasar dan penampilan garangnya ketika bicara tentang intoleransi depan kamera, ada desir kelembutan hati dan belur derita besar yang mengiringi setiap detak jantungnya.
Beberapa tahun lalu saya pernah menulis sebuah artikel singkat tentang teman saya ini, tapi karena saat itu dia belum setenar sekarang tak banyak yang membacanya.
Read 22 tweets
Jan 17
*STIGMA SYIAH*

Setelah kampanye gencar penyesatan Syiah para agen bayaran Saudi mengira masyarakat umum sudah terpengaruh dan membenci Syiah tanpa perlu berdialog.

Langkah berikutnya adalah menguatkan kebencian yang tertanam dengan membagi manusia dalam dua kelompok,
yaitu Syiah dan yang mengkafirkan Syiah dengan harapan tak ada yang berani mengambil risiko membela kemusliman Syiah.
Langkah selanjutnya adalah mengunci gerak setiap tokoh yang mendukung toleransi dan memblokade opininya dengan menganggapnya Syiah.
Read 8 tweets
Jan 15
BERSIKAP ADIL TERHADAP HABIB KRIBO

Boom! HK menggebrak media sosial. Kemasan visualnya biasa-biasa saja. Narasinya pun kadang hanya kalimat-kalimat yang diulang-ulang.
Tapi gaya ceplas ceplos dan pernyataan vulgar tanpa sensor itu justru menjadi magnit melejitkan nama dan channelnya, terutama bagi warganet yang sepemikiran. Begitulah rezim algoritma.
Karena mengandalkan spontanitas dan otensitas, tentu terlihat tidak santun tidak rapi. Sebagian yang menentang para habib penggerak umat intoleran dan sepemikiran dengannya menyesalkan blunder yang kerap terlontar dari mulutnya.
Read 13 tweets
Jan 12
*ANTARA GONDRONG DAN KRIBO*
✍Ustad @muhsinlabib
Belakangan ini berita seputar habib gondrong makin deras dan ulahnya selalu bertengger di headline seluruh situs berita dan menguasai peringkat atas trending topic bahkan masuk di wikipedia bersama tokoh-tokoh besar di Indonesia.
Ia mungkin sekarang mengungguli ketenaran habib yang dibelanya itu.

Video-video ceramahnya yang hampir semuanya berisikan teriak seruannya dan sahutan massa mengundang banyak penonton dan disebar dengan caption dukungan oleh yang menyukainya dan dibincangkan dengan caption...
..kecaman oleh yang menentangnya.

Kontroversi di era sosmed selalu berhasil membelah opini publik menjadi dua antara kubu pro dan kubu kontra. Karena memajang gelar habib, dia pun punya  pemuja yang memandangnya suci atau punya hak istimewa di atas standar norma umum
Read 25 tweets
Jan 12
✍10 April 2016
Berbicara tentang habib, Haidar Bagir, CEO Mizan Group, dalam akun twitternya yang kemudian ramai beredar dalam bentuk meme, menyatakan: “Habib bukan maqam kemuliaan, tapi maqam tanggung jawab terhadap terciptanya Islam yang rahmatan lil ‘alamin.”
Tapi, dari mana sesungguhnya habib berasal? Habib merupakan kata dalam bahasa Arab Hubb, ahabba–yuhibbu–hubban. Menurut Kamus Arab-Inggris-Indonesia terbitan Al-Maarif, Bandung (1983), kata itu berarti cinta atau mencintai. Dari kata ini pula mahabbah berasal, yaitu cinta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (2005) mengartikan habib sebagai yang dicintai atau kekasih. Bisa juga panggilan kepada orang Arab yang artinya tuan atau panggilan kepada orang yang bergelar sayyid.
Read 17 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

:(