Kooptasi yang dilakukan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap kalangan akademikus dan universitas tidak boleh didiamkan. #Editorial#KoranTempo
Tak hanya membahayakan kebebasan akademis, upaya menjadikan kampus sebagai tukang stempel kebijakan juga akan membawa kita ke era jahiliah. #Editorial#KoranTempo
Praktik kooptasi itu terlihat dari mobilisasi sejumlah kampus dalam revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. #Editorial#KoranTempobit.ly/3uBKGzu
Pemerintah dan DPR melibatkan para dosen untuk memuluskan revisi aturan yang akan melegalkan mekanisme pembahasan Undang-Undang Cipta Kerja yang telah dinyatakan inkonstitusional oleh Mahkamah Konstitusi (MK). #Editorial#KoranTempo
Pemerintah dan DPR memang mengundang 26 akademikus, tapi masukannya diabaikan. Meski begitu, eksekutif dan legislatif mengklaim syarat partisipasi publik telah terpenuhi. #Editorial#KoranTempobit.ly/3HKrqnq
Partisipasi publik abal-abal yang digalang pemerintah dan DPR terlihat dari nihilnya ahli hukum tata negara dan administrasi negara dalam roadshow penyusunan naskah akademik revisi UU Nomor 12 Tahun 2011. #Editorial#KoranTempo
Kampus dan para dosen sudah selayaknya menolak revisi UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Mereka perlu menyadari bahwa revisi tersebut merupakan bagian dari skenario mengegolkan lagi UU Cipta Kerja yang diprotes banyak kalangan. #Editorial#KoranTempo
Sudah saatnya kampus bersuara, menolak menjadi tukang stempel kebijakan. Sebaliknya pula, pemerintah dan DPR harus menghentikan upaya mendapatkan legitimasi palsu dari universitas.
Dari waktu ke waktu, tindakan polisi kian kerap terlihat semena-mena. Tidak lagi menjadi pengayom dan penjaga keamanan masyarakat seperti diamanatkan undang-undang, korps baju coklat ini kian condong sebagai alat pengaman penguasa dan pengusaha. #Editorial#KoranTempo
Ini tampak dalam konflik di Desa Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Atas nama investasi dan proyek infrastruktur, pada Selasa, 8 Februari lalu, polisi menyerbu Wadas dengan senjata lengkap. #Editorial#KoranTempo
Seperti hendak menghadapi musuh berat, mereka lebih dulu memutus saluran telekomunikasi di desa tersebut. Puluhan warga ditangkap bersama pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta yang mendampingi warga. #Editorial#KoranTempo
Tindakan represif polisi membuat warga Wadas trauma. Sejumlah penduduk memilih berdiam diri dan mengunci pintu rumah setelah penangkapan besar-besaran sehari sebelumnya. Aparat masih merazia telepon seluler hingga mendatangi rumah warga. #KoranTempobit.ly/3gxbGrQ
Polisi menangkap 67 orang warga Wadas dengan tuduhan menyebarkan hoaks dan konten kebencian terhadap pemerintah. Penangkapan, penjagaan, dan patroli polisi membuat warga takut dan trauma. Warga berkukuh menolak tambang batu andesit. #KoranTempobit.ly/33e19yI
Sejumlah organisasi dan pegiat memprotes tindakan polisi terhadap warga Wadas, dengan membanjiri pelbagai kanal di media sosial. Menkopolhukam Mahfud Md. mengklaim menerima informasi bahwa warga Wadas dalam keadaan tenang dan damai. #KoranTempobit.ly/3uBrdyT
Alih-alih mengubah UU Cipta Kerja setelah dinyatakan inkonstitusional bersyarat oleh MK, DPR malah merevisi UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Berdalih menggelar konsultasi publik, mereka bergerilya ke sejumlah kampus. #KoranTempobit.ly/3ryUMzl
DPR menggelar konsultasi akademis di empat kota besar soal revisi UU PPP atau Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dianggap mencari legitimasi untuk menyelamatkan Undang-Undang Cipta Kerja. #KoranTempobit.ly/3HKrqnq
Sebagian besar usul revisi UU Pembentukan Peraturan Perundang-undangan bertujuan mengakomodasi keberadaan UU Cipta Kerja. UU yang dibuat lewat omnibus juga dianggap lebih tinggi. #KoranTempobit.ly/3uBKGzu
Politikus Senayan seperti tidak pernah kehilangan akal dalam mengakali kekacauan proses terbitnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. #Editorial#KoranTempo
Alih-alih mematuhi putusan Mahkamah Konstitusi yang menyoal serampangannya proses lahirnya omnibus law itu, Dewan Perwakilan Rakyat malah menyiapkan revisi undang-undang yang bisa menjadi pembenar proses keliru mereka dan pemerintah. #Editorial#KoranTempo
Jalan pintas ini sudah ditandai dengan dimulainya revisi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan pada Rabu pekan lalu. #Editorial#KoranTempobit.ly/3rzHx1g
Pengusaha yang menyalurkan minyak sawit mentah ke pabrik biodiesel memperoleh subsidi bila harga dalam negeri lebih rendah daripada harga CPO internasional. Berkat insentif ini, dana sawit dari pungutan ekspor kembali ke kantong perusahaan. #KoranTempobit.ly/34AyYu5
Program pencampuran 30 persen minyak kelapa sawit dengan solar (B30) berkembang pesat. Ditopang insentif dari pemerintah, volume produksi terus ditambah. Siapa saja perusahaan sawit raksasa yang menikmati insentif biodiesel? #KoranTempobit.ly/3HBBfnu
Kelangkaan minyak goreng dan harga yang belum seragam masih berlanjut di berbagai daerah. Minimnya pasokan ditengarai dipicu oleh penimbunan barang di tingkat produsen dan distributor. #KoranTempobit.ly/3ovXy6q
Berbagai temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai dugaan pencucian uang akan sia-sia bila penegak hukum tidak serius mengusut kejahatan tersebut. #Editorial#KoranTempo
Melempemnya pemberantasan korupsi akhir-akhir ini membuat para pejabat semakin leluasa menyembunyikan aset-aset mereka. #Editorial#KoranTempo
Modus pejabat menyamarkan uang hasil kejahatan korupsi diungkapkan Kepala PPATK Ivan Yustiavandana dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR belum lama ini. #Editorial#KoranTempo