wallensky Profile picture
Feb 23 270 tweets 18 min read
* Part 8

---TEROR DI RUMAH MEWAH---

Lanjutan kisah perjalanan hidup seorang manusia dengan iblis yang bersemayam dalam dirinya.

@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht

#ceritahorror #threadhorror #horror Image
"HEH! KAMU SIAPA HAH??"

Mendadak dia berbicara dengan suara berat dan parau. Lalu menyeringai sambil mengoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara perlahan.
Aku paham situasi seperti ini. Dia jelas kesurupan, terlihat dari sikapnya yang aneh.

Sejenak kupejamkan mata, menajamkan mata batin, mohon petunjuk Sang Maha Kuasa..

Lalu saat ku buka mata..

ASTAGA !
Melalui mata batinku, kini aku berhadapan dengan sosok nenek bertubuh penuh koreng, dengan rambut acak-acakan, dan baju kumal compang-camping!
Posting bersambung di twitter mulai besok. Silahkan rt, like atau tinggalkan jejak biar nggak ketinggalan updatenya!
Yang mau langsung baca sampai tuntas, bisa klik link berikut ini
karyakarsa.com/Wallensky/tero…
Jam menunjukkan pukul 16.30 sore, setengah jam lagi waktunya pulang.
Aku sedang menuntaskan pekerjaanku saat Budi datang mendekat.

"Yud, dipanggil pak Yanto!" Teriaknya di tengah-tengah bisingnya mesin pabrik.
Hah? Pak Yanto? Ada apa?" Jawabku.

Budi cuma mengangkat kedua bahu tanda tak tau, lalu berbalik pergi meninggalkanku.
Segera kutinggalkan pekerjaanku dan langsung menuju ruang kerja pak Yanto sang manajer pabrik.
"Permisi pak." ucapku sopan sambil mengetuk pintu.
"Masuk." Terdengar suara pak Yanto menjawab dari dalam.
Aku lalu membuka pintu. Nampak di dalam, pak Yanto sedang duduk berhadap-hadapan dengan seorang gadis cantik keturunan tionghoa.
Ah Yudha, silahkan duduk." ucap pak Yanto mempersilahkanku duduk di samping gadis itu.
"Mbak Erlin, perkenalkan ini yang namanya Yudha." ujar pak Yanto kepada gadis itu.
"Erlin." ucap gadis itu menyodorkan jabatan tangan.

"Yudha." Aku menyambut uluran tangannya balas memperkenalkan diri.
"Jadi begini Yud, mbak Erlin ini anaknya pak Hermawan pemilik pabrik ini, dan dia butuh bantuanmu." Jelas pak Yanto.
"Bantuan apa ya pak?" Jawabku singkat.

"Biar mbak Erlin saja yang menjelaskan. Silahkan mbak." Balas pak Yanto.
"Jadi begini mas Yudha, sudah beberapa hari ini mami sakit." Jelas Erlin serius.

"Sakit? Lalu apa hubungannya dengan saya?" Balasku tak mengerti.
"Mami mengalami sakit yang tak wajar." Sambung Erlin.

"Tak wajar bagaimana?" Jawabku penasaran.
Erlin seperti ragu-ragu. Dia sempat melirik pak Yanto, lalu celingak-celinguk seolah ingin memastikan tak ada yang mendengar.
"Mami seperti orang kesurupan." Jawab Erlin setengah berbisik.
"Ya ampun! Serius mbak? Kok bisa?" Sahutku kaget.
"Itulah makanya saya minta tolong sama mas Yudha, soalnya saya dapat info dari pak Yanto, mas Yudha dulu pernah menyembuhkan karyawan yang kesurupan masal." Jawab Erlin lagi.
"Betul Yud. Kemarin saya ke rumah pak Hermawan, Saat melihat kondisi ibu Susan, memang sepertinya beliau kesurupan." Jelas Pak Yanto menambahkan.
"Oh begitu. Lalu kapan saya bisa ke sana?" Tanyaku lagi.

"Sekarang saja kalau bisa." Sahut Erlin.

"Baiklah kalau begitu." Jawabku.
Akhirnya saat itu juga Erlin langsung membawaku menuju rumahnya.
Dalam perjalanan, aku cuma diam di samping Erlin yang berada di balik stir mobilnya. Lalu kucoba basa-basi bertanya untuk mencairkan suasana.
"Maaf mbak, sudah berapa lama mami mbak Erlin seperti itu?"
"Aduh, jangan panggil mbak dong, saya berasa tua jadinya, panggil Erlin saja." Balasnya sambil tersenyum.
"Eh, maaf mbak.. Eh.. Erlin. Kalau begitu panggil saya Yudha saja, nggak usah pake mas." sahutku lagi.
"Sejak 3 hari yang lalu, awalnya mami demam, tapi saat mau dibawa ke rumah sakit, tiba-tiba mami bertingkah aneh, menjerit-jerit nggak karuan." Jelas Erlin.
"Sudah coba panggil paranormal?" Tanyaku lagi.
"Belum. Soalnya Papi nggak percaya yang begituan. Awalnya dia keberatan saat pak Yanto menyarankan supaya mengajak kamu ke rumah, tapi melihat kondisi mami yang makin parah, dia berubah pikiran." Balas Erlin.
Akhirnya kami tiba di depan gerbang sebuah rumah megah, lalu datang seorang wanita tua membukakan pintu pagar.
"Mbok Jirah, papi sudah pulang?" Tanya Erlin sesaat setelah kami turun dari mobil.
"Sudah non, ada di dalam kamar, ada mas Steven juga."Jawab wanita tua itu sambil melirik ke arahku.
"Steven? Ngapain dia ke sini? Ayo Yud, kita langsung masuk saja." Ajak Erlin.
Lalu aku diajak masuk ke dalam rumah megah itu. Rumah yang sangat besar, dengan pilar-pilar tinggi, berisikan perabotan mewah yang mahal dan modern.
Tapi baru sebentar saja aku menginjakkan kaki di rumah ini, langsung terasa hawa gaib yang amat kuat.
Aku diantar sampai ke depan pintu sebuah kamar besar.

"Ini kamarnya, ayo masuk." ucap Erlin.

Lalu Erlin membuka pintu. Langsung tercium bau tak mengenakkan menyengat hidung.
Di dalam kamar, kulihat seorang wanita terbaring dengan kedua tangan membentang terikat di atas ranjang.
Di sebelahnya, duduk seorang pria gemuk setengah baya keturunan tionghoa, menatap ke arah wanita itu dengan pandangan cemas.
Di samping pria itu, berdiri seorang pemuda sipit yang langsung memandang sinis ke arahku.
"Papi, ini Yudha sudah datang." ucap Erlin sambil mendekat ke arah pria gemuk itu yang ternyata adalah pak Hermawan sang bos pemilik pabrik.
Dia langsung berdiri lalu melangkah mendekat ke arahku. Sejenak dia memperhatikanku dari atas kepala sampai kaki.
"Hmm.. Jadi kamu Yudha yang katanya dukun itu?" tanya pak Hermawan dengan nada suara menyelidik.
"Maaf pak, saya bukan dukun, cuma kebetulan sedikit paham masalah gaib." jawabku meluruskan.
"Sedikit paham? Heh, kalau cuma mau coba-coba, mending kamu pulang saja, Tante Susan bukan kelinci percobaan!" ucap si pemuda sipit dengan nada ketus.
"Steven!" Hardik Erlin sambil mendelik. Dia nampaknya tak suka dengan sikap pemuda bernama Steven tadi.
Steven mendengus kesal lalu menepi sambil terus menatap sinis padaku.
"Itu Yud, mami sengaja kami ikat, karena dia sering ngamuk-ngamuk sambil ngoceh nggak karuan." jelas Erlin.
Aku selangkah mendekat, lalu menatap ke arah ibu Susan yang tidur terikat di ranjang. Dan aku mulai merasakan sesuatu.
Tiba-tiba dia terbangun langsung melotot! kemudian...
Hihihihihi.....

Dia tertawa cekikikan lalu meronta-ronta di atas ranjang. Erlin dan pak Hermawan mundur ketakutan. Steven sedikit sok berani, tapi perlahan-lahan akhirnya dia mundur juga.
Bu Susan bangkit lalu berlutut di atas kasur. Dia ingin maju ke arahku, tapi gerakannya tertahan karena terikat.
"HEH! KAMU SIAPA HAH??"

Mendadak dia berbicara dengan suara berat dan parau. Lalu menyeringai sambil mengoyang-goyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara perlahan.
Aku paham situasi seperti ini. Dia jelas kesurupan, terlihat dari sikapnya yang aneh.
Sejenak kupejamkan mata, menajamkan mata batin, mohon petunjuk Sang Maha Kuasa..

Lalu saat ku buka mata..

ASTAGA !
Melalui mata batinku, kini aku berhadapan dengan sosok nenek bertubuh penuh koreng, dengan rambut acak-acakan, dan baju kumal compang-camping!
"Pergi kamu dari sini, jangan ganggu keluarga ini!" Bentakku pada sosok nenek itu.
"Hahahahaha...."

Dia malah tertawa dengan suara serak dan berat, lalu meronta memaksa maju menyerang!
"Maaf, boleh saya minta air putih." ucapku kepada Erlin.
Segera Erlin memberikan apa yang kuminta. Lalu sebentar aku komat-kamit di bibir gelas, kemudian ku semburkan ke arah nenek itu..
"AAAAAAKKKH.."

Dia meraung keras ketika air putih menyentuh tubuhnya hingga membuat kulitnya melepuh, lalu kususul dengan memegang dahinya.
"AAAAAAA.."

Sosok nenek itu menjerit lalu hilang meninggalkan tubuh bu Susan yang langsung terkulai lemas.
MAMI !

Serentak pak Hermawan dan Erlin berteriak kaget. Namun belum berani mendekat.
Aku usap wajah, kaki dan tangan bu Susan dengan sisa air putih dalam gelas. Tak lama kemudian dia pun sadar.
"Papi... Erlin..." Bu Susan memanggil lemah.
"Ya ampun mami! Syukur mami sudah sadar!" Teriak Erlin kegirangan langsung memeluk bu Susan.
"ALHAMDULILLAAH..."

ucapku bersyukur melihat bu Susan kini baik-baik saja.
Lalu Erlin segera melepaskan tali yang mengikat kedua tangan bu Susan kemudian membantunya berbaring.
"Mami, mami nggak apa-apa?" Tanya pak Hermawan memastikan.

"Badanku sakit semua pi.." Keluh ibu Susan.
Pak Hermawan tersenyum lega mendengar istrinya berbicara dengan suara normal.
"Yudha, apa selanjutnya mami akan baik-baik saja?" Tanya Erlin sambil memijat-mijat tangan bu Susan.
"Insya Allah, mungkin dalam beberapa hari bu Susan akan merasakan nyeri di sekujur tubuh, tapi beliau akan berangsur pulih." Aku coba menjelaskan.
Lalu pak Hermawan mengajakku keluar kamar menuju ruang tamu, diikuti Steven yang mengekor di belakang kami.
"Yudha, terima kasih ya, maaf kalau tadi saya kurang ramah." ucap pak Hermawan sambil menyodorkan jabatan tangan.
"Ah, nggak apa-apa pak, yang penting sekarang bu Susan sudah pulih." Balasku sambil melirik ke arah Steven yang berdiri di samping pak Hermawan dengan tangan bersedekap angkuh.
Kemudian datang mbok Jirah membawakan air minum.

"Maaf, saya sampai lupa menyuguhkan minum tadi. Silahkan." ucap pak Hermawan yang kini berubah ramah.
"Terima kasih pak." Jawabku sambil meraih gelas berisi teh manis di atas meja.
Tapi belum sempat aku minum, mendadak, aku merasakan kehadiran sesuatu, bukan hanya satu, tapi banyak!
AAAKKHH ! TOLOONG !

Terdengar jeritan Erlin dari dalam kamar!

----------bersambung----------
Yang mau langsung baca sampai tuntas, bisa klik link berikut ini
karyakarsa.com/Wallensky/tero…
Kami langsung berlari menuju kamar, dan langsung terkejut melihat Erlin sedang dicekik oleh bu Susan!
YA AMPUN MAMI !

Teriak pak Hermawan kaget langsung mencoba menolong Erlin.
BRAAAKKK !

Pak Hermawan terlempar terkena kibasan tangan kanan bu Susan, sedangkan tangan kirinya masih mencekik leher Erlin.
Steven tak berani mendekat, dia cuma berdiri mematung sambil menatap ngeri.
Aku tak tinggal diam, Erlin dalam bahaya, karena dengan mata batinku, yang kulihat bukan bu Susan, tapi sosok mahluk bertubuh hitam legam dengan kuku yang panjang!
Langsung ku rapalkan ilmu pemusnah dan 
Segera ku hantamkan ke arah tubuhnya hingga cekikannya terlepas.
"Mundur Lin, bahaya!" Aku berteriak memperingatkan.
Erlin pun langsung beringsut mundur ke arah pak Hermawan yang meringis kesakitan.
"Heh mahluk jelek, pergi dari sini!" Teriakku lantang.
Tapi dia malah merangsek maju coba mencekik leherku. Dengan gerakan berkelit aku cengkram lengannya hingga mahluk itu meraung kesakitan!
GRRRRHHHH !!

Dia menggeram lalu kemudian musnah menghilang meninggalkan tubuh bu Susan yang langsung ambruk.
Tapi aku merasakan kehadiran mahluk lain. Dan benar saja, nampak sosok jin perempuan hinggap di atas langit-langit kamar sambil menjulurkan lidahnya yang panjang ke arahku!
"Ya ampun, dari mana semua mahluk ini berasal?" Batinku heran.
Tapi saat ku dekati jin perempuan itu, tiba-tiba dia menghilang begitu saja.
"Hmm..ada yang tak beres." Batinku membaca situasi.
"Pak, bantu saya angkat bu Susan." pintaku pada pak Hermawan.

Lalu kami angkat dan letakkan tubuh bu Susan yang tak sadarkan diri ke atas ranjang.
"Ini ada apa Yud? Tadi kamu bilang sudah aman?" Tanya pak Hermawan khawatir.
"Maaf pak, tapi ini ada yang tak beres, nanti coba saya cari tau." Balasku coba menenangkannya.
Akhirnya bu Susan ku pagari dengan ilmu pelindung raga, supaya tak lagi mendapat gangguan.
Untuk beberapa lama, aku masih berjaga di kamar, takut para demit itu kembali lagi.
Setelah yakin semuanya aman, aku dan pak Hermawan kembali keluar kamar meninggalkan bu Susan yang masih belum sadar.
"Sebenarnya ada apa Yud?" Tanya pak Hermawan penasaran.
"Jadi begini pak, ibu Susan mendapat gangguan dari beberapa mahluk. Dan nampaknya mereka sengaja dikirim kesini untuk mengganggu keluarga bapak." jawabku menjelaskan.
"Astaga! Kamu yakin? Kiriman siapa?" Balas pak Hermawan bingung.
"Saya belum tau ini ulah siapa, tapi untuk saat ini bu Susan sudah aman. Saya jamin." ucapku lagi.
Akhirnya untuk mencegah agar mahluk-mahluk itu tak kembali lagi, sekeliling rumah pak Hermawan kupasangi pagar gaib sebagai pelindung.
Dan ketika hari semakin malam, aku pun pamit pulang. Sambil berpesan agar segera menghubungiku bila terjadi sesuatu.
"Erliin, kemari sebentar." Panggil pak Hermawan.
"Kenapa pi?" Sahut Erlin keluar dari kamar maminya diikuti Steven di belakangnya.
"Tolong antarkan Yudha pulang ya." Pinta pak Hermawan.
"Eh, nggak perlu repot-repot pak, saya bisa pulang sendiri." Jawabku spontan menolak.
"Nggak apa-apa kok, ayo!" Sahut Erlin tersenyum lalu mengajakku keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
Steven nampak tidak suka. Dia berdiri di teras sambil terus pasang wajah cemberut menatap mobil yang bergerak meninggalkan rumah.
"Terima kasih ya Yud sudah menolong mami." ucap Erlin memecah keheningan dalam mobil.
"Sama-sama. Mudah-mudahan bu Susan segera pulih. Kamu sendiri nggak apa-apa? Tadi kan sempat di cekik?" Jawabku dengan senyum.
"Aku nggak apa-apa kok. Cuma kaget aja. Tapi kalau nanti ada apa-apa, kamu siap bantu kan?" Tanya Erlin lagi.
"Tentu saja, tapi sepertinya pacar kamu tadi kurang suka saya datang ke rumah." sambungku lagi.
"Pacar? Siapa? Steven? Ya ampun, dia bukan pacarku! Steven itu anaknya om Hendrik, teman bisnis papi, dia temanku sejak kecil, teman kuliah juga." jawab Erlin panjang lebar.
"Tapi sepertinya dia suka sama kamu. Serasi kok." Aku coba melempar canda.
"Nggak lah, kita cuma teman kok. Lagi pula aku nggak terlalu suka sama sikap Steven yang angkuh, mentang-mentang bapaknya kaya, dia suka meremehkan orang." sahut Erlin lagi.
"Ngomong-ngomong sudah berapa lama kamu kerja di pabrik?" tanya Erlin coba mengganti topik.
"Hampir 3 tahun." sahutku pelan.

"Trus kamu kuliah dimana?" Tanya Erlin lagi.

"Kuliah? Hahaha.. saya cuma anak kampung Lin, kuliah di hutan!" Sahutku tertawa geli.
Erlin ikut tertawa renyah mendengar banyolanku.
Akhirnya kami sampai persis di depan kontrakan.

"Kamu di sini tinggal sama siapa?" tanya Erlin melirik ke arah kontrakan.
"Sendiri. Tempat sempit begitu, cuma cukup buat satu orang saja." jawabku sembari membuka sabuk pengaman.
"Terima kasih sudah mengantarkan saya ya, kamu hati-hati di jalan." ucapku setelah turun dari mobil.
Erlin mengangguk tersenyum lalu segera pergi memacu mobilnya.

********
Tepat tengah malam, aku langsung bertirakat untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah pak Hermawan.
Dalam semediku, aku melihat seseorang sedang meletakkan beberapa bungkusan kecil dari kain putih di sejumlah tempat tersembunyi di rumah pak Hermawan.
Aku kaget begitu mengetahui siapa orang itu. Tapi baru saja aku ingin menelusuri lebih jauh, tiba-tiba hp ku berdering membuyarkan konsentrasi..
"Yudha, cepat kemari! Erlin kesurupan!" ucap pak Hermawan dengan nada panik di sebrang sana.
Aku pun mengiyakan lalu bergegas kembali menuju rumah pak Hermawan.
Sesampainya di sana, aku langsung di sambut pak Hermawan yang terlihat sangat ketakutan.
"Ada apa pak?" Tanyaku kepada lelaki itu.
"Tadi setelah pulang mengantar kamu, tiba-tiba saja Erlin bertingkah aneh, dia ngoceh tak jelas, lalu ngamuk-ngamuk coba menyerang saya!" Jelas pak Hermawan.
"Ya ampun! Sekarang dia ada di mana?" Tanyaku cepat.
"Dia saya kunci di kamarnya." Sahut pak Hermawan lalu mengajakku ke kamar Erlin yang ada di lantai dua.
Ketika pintu kamar dibuka, betapa terkejutnya kami saat melihat pemandangan yang ada di dalam kamar..
Seluruh kamar nampak berantakan, dan Erlin sedang hinggap di atas lemari, sambil merunduk menyeringai dengan tatapan mata yang tajam!
"Bapak lebih baik tunggu di luar." Pintaku pada pak Hemawan.
Setelah pak Hermawan keluar, pintu segera kututup rapat.

Erlin masih menatapku di atas lemari sana, aku pun segera mempersiapkan diri menghadapinya.
Karena dari pandangan mata batinku, tubuh Erlin kini sedang dirasuki oleh sosok jin perempuan dengan lidah panjang menjulur meneteskan air liur yang tak henti!
Tiba-tiba saja Erlin melompat turun ke lantai, lalu perlahan merayap mendekat sambil menjulur-julurkan lidahnya...

----------bersambung-------
Dukung karya wallensky di sini, kamu bisa baca duluan semua cerita baru di sini lho!
karyakarsa.com/Wallensky
Aku tak mau membuang waktu, segera saja kuladeni dengan ilmu pemusnah yang sudah kupersiapkan sejak tadi.
Sekali hantam, Jin perempuan itu meraung keras. Dan di hantam yang kedua, Jin itu kesakitan lalu pergi meninggalkan tubuh Erlin yang langsung ambruk ke lantai.
Dengan cepat ku tangkap tubuh Erlin, tapi mendadak pintu kamar terbuka..
"Heh! Ngapain kamu? cari-cari kesempatan ya!" muncul Steven di depan pintu langsung masuk dan mendorongku yang sedang memeluk Erlin yang terkulai lemas.
Diperlakukan seperti itu, emosiku langsung naik. Dua buah titik hitam di bawah pusarku mendadak terasa panas.
"Astaghfirullah... sabar... sabar..."

Ucapku coba meredam emosi begitu merasakan hawa panas menjalar ke sekujur tubuh dan mulai tumbuh sisik emas di lenganku.
Steven langsung mengangkat Erlin ke tempat tidur. Aku sedikit lega karena dia tak melihat perubahan yang sempat terjadi pada diriku.
"Erlin! Ya ampun!" muncul pak Hermawan langsung mendekati Erlin yang tak sadarkan diri.
"Itu om! tadi saya lihat dia peluk-peluk Erlin!" Teriak Steven sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Tampol? jangan..
Tampol? jangan..

Batinku menimbang-nimbang sambil menatap kesal ke arah Steven.
"Papi?" Terdengar suara Erlin memanggil pelan. Rupanya dia sudah siuman.
"Kamu nggak apa-apa Lin?" Tanya Steven coba cari muka.
Erlin tak menjawab, dia langsung heran melihat aku ada di situ.

"Yudha? Kok kamu bisa ada di sini?"
"Tadi papi yang telpon minta dia kemari. Kamu tadi kesurupan, untung Yudha cepat datang." Jelas pak Hermawan.

Lalu tiba-tiba..
DHUUAAAARR !!

Terdengar suara ledakan dari luar rumah. Kami semua langsung kaget.
"Tunggu di sini, jangan ada yang keluar." Pintaku kepada pak Hermawan.
Aku bergegas keluar kamar, tapi Steven mengikutiku dari belakang.
"Kamu mau ngapain?" Tanyaku kesal.
"Aku mau mengawasi kamu!" Jawabnya dengan nada sinis.
Aku tak menghiraukannya, lalu segera turun ke bawah untuk memeriksa.
BRAAKK ! BRAAKK !

Terdengar suara pintu digedor keras. Aku langsung menuju ke sana. Ketika sampai di depan pintu, aku mendengar suara-suara gaduh berasal dari halaman depan.
Aku tak mau gegabah. Coba ku intip dari jendela dan langsung terkejut..

Astaga !
Kulihat di luar sana, banyak sekali mahluk halus dengan berbagai macam bentuk dan rupa, berjejal memenuhi area halaman depan rumah!
"Kenapa? Kamu lihat apa?" Tanya Steven makin membuatku kesal.
"Steven, tolong bawa ibu Susan ke kamar Erlin agar seluruh keluarga pak Hermawan berkumpul jadi satu, jangan sampi terpisah, bahaya." Pintaku dengan nada sesopan mungkin.
Wajahnya nampak tak suka kuperintah seperti itu, tapi akhirnya dia pergi menjemput bu Susan dan langsung membawanya ke kamar Erlin.
BRAAKK..BRAAKK.. BRAAKK..

Suara gedoran pintu makin keras, para mahluk itu berusaha menembus pagar gaib yang tadi aku pasang.
Aku segera mempersiapkan diri, tapi belum apa-apa, Steven sudah kembali muncul di belakangku.
"Mau apa lagi sih? kamu jaga keluarga pak Hermawan saja!" ucapku makin kesal.
"Ngapain kamu ngatur-ngatur?" jawabnya ketus.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala, lalu timbul niat usilku untuk memberinya pelajaran.
"Kamu mau saya transfer ilmu nggak? Biar kamu bisa ikut bantu mengusir mahluk halus. Wuiih.. nanti Erlin pasti kagum sama kamu!" aku coba menawarkan.
"Wah, emang bisa?" Tanya Steven sepertinya tertarik.

"Oh, bisa! bisa banget!" jawabku sambil menahan geli.

"Ya sudah, boleh lah." ucapnya antusias.
Kemudian aku minta dia memejamkan mata, lalu ku usap kedua matanya sambil komat-kamit. Wajahnya nampak serius.
"Nah, sekarang buka matamu, aku sudah transfer ilmu yang paling top!" ucapku sambil senyum-senyum sendiri.
Steven membuka matanya, lalu tersenyum sumringah..

"Iya, rasanya beda!" ucapnya sambil petentengan merasa seolah dia kini seorang dukun sakti.
"Sekarang, coba kamu lihat keluar sana." Pintaku pada Steven.
Dia langsung mengintip dari jendela, lalu spontan terpekik!

"Astaga! Itu apa?" Teriaknya lalu cepat mundur ke belakang dengan wajah ketakutan.
Aku setengah mati menahan tawa. Tanpa disadarinya, aku telah membuka indra ke-enamnya. Kini dia dapat melihat apa yang aku lihat, dan itu langsung membuat wajahnya pucat seputih kapas!
Steven makin ketakutan saat melihatku akan membuka pintu.

"Jangan dibuka! Gila kamu! Kamu apakan saya tadi?" ucapnya panik.
"Sudah, kamu diam saja di situ." Jawabku lalu membuka pintu dan berdiri di depannya.
Steven langsung panik melompat ketakutan sembunyi di balik sofa.
Saat pintu terbuka, sekumpulan mahluk langsung menyerbu, tapi segera ku halau dengan ilmu pukulan pemusnah.
Seluruh mahluk itu langsung terpental, tapi yang lainnya segera merangsek!
Sebentar saja, aku sudah sibuk meladeni keroyokan mahluk-mahluk itu.
Tanganku menghantam kesana-kemari, tapi aku makin kewalahan menghadang serbuan mereka yang menyerang secara bersamaan.
Aku mulai terdesak mundur. Semua mahluk itu makin beringas.

Aku khawatir kalau sampai mereka masuk, jiwa keluarga pak Hermawan bisa terancam.
Cuma ada satu jalan agar aku bisa menyelesaikan semua ini dengan cepat.

Tapi situasi tak memungkinkan karena kulihat Steven mengintip dari balik sofa.
"Aduh, bagaimana ini? Bisa gawat kalau dia melihatku berubah wujud.." batinku menimbang-nimbang.
Tapi apa boleh buat. Keselamatan keluarga pak Hermawan jauh lebih penting. Masalah Steven akan tau siapa diriku sebenarnya, itu urusan belakangan.
Ku pejamkan mata, perlahan ada hawa panas menjalar ke seluruh tubuh. Kemudian...

RRROAAAARR !!!

aku berteriak keras, tubuhku perlahan berubah, seluruh kulitku muncul sisik-sisik ular berwarna keemasan...
"Hah? Setaaan!" Teriak Steven langsung lari terbirit-birit menuju kamar Erlin setelah melihatku berubah wujud menjadi siluman ular!

----------bersambung----------
Aku tak memperdulikannya. Kini tujuanku hanya satu, melibas semua mahluk gaib yang ada di hadapanku.
Langsung ku terjang kepungan mahluk-mahluk itu dengan membabi-buta. Suara ledakan silih berganti seiring hancurnya para mahluk ketika satu-persatu terkena pukulanku.
Sebentar saja, jumlah mereka berkurang drastis. Beberapa mahluk berwujud ular langsung menghilang ketika mereka tau dengan siapa kini mereka berhadapan.
Akhirnya dalam waktu singkat, seluruh mahluk itu musnah, menyisakan diriku yang berdiri gagah di tengah arena dengan mata menyala dan lidah yang mendesis..
Setelah melihat tak ada lagi yang tersisa, aku segera merubah wujud kembali menjadi manusia.

Aku tak mau ambil resiko ada orang lain yang melihat, bisa-bisa aku jadi tenar nanti.
Kini situasi berubah menjadi tenang. Aku segera menuju kamar Erlin untuk memastikan kalau mereka semua baik-baik saja.
Tapi begitu pintu kamar kubuka, Steven langsung histeris sambil menunjuk-nunjuk..
"Setan! Jangan mendekat! Pergi kamu!" teriaknya lalu sembunyi meringkuk di samping ranjang.
Semua yang ada di situ heran melihat tingkah Steven. Terutama pak Hermawan.

"Heh! Kamu kenapa?" Tanya pak Hermawan bingung.
"Itu.. Itu om, dia itu setan!" ucap Steven sambil menunjuk-nunjuk tanpa berani melihat.
Aku yang sudah kesal sejak tadi, langsung sekalian saja mendekatinya sambil menjulur-julurkan lidah dengan mata mendelik.
WAAAAAAA !!

Dia histeris lalu lari berhamburan keluar kamar. Tak lama kemudian terdengar deru suara mobilnya dipacu cepat meninggalkan rumah.
Pak Hermawan kebingungan dan langsung bertanya..

"Yudha, apa yang terjadi di luar? Tadi kami mendengar suara-suara ledakan. Bagaimana situasinya?" pria itu bertanya panik.
"Tak ada apa-apa pak. Sudah aman. Semua yang mengganggu sudah pergi." balasku coba menenangkannya.
Selanjutnya aku segera menyusuri setiap sudut rumah mencari bungkusan kain putih yang tersebar di beberapa titik.
Pak Hermawan kaget begitu melihat apa yang sudah aku temukan.

"Itu apa?" tanya pria itu ketakutan.
"Ini buhul yang sengaja ditanam sebagai media untuk mencelakakan keluarga bapak." Jawabku coba menjelaskan.
Dia kembali tercengang ketika melihat isi bungkusan itu..

Sejumput tanah kuburan, serta foto keluarganya yang terikat pada potongan tulang dilumuri darah yang telah mengering.
"Siapa yang telah menanam semua benda ini di rumahku?" Tanya pak Hermawan marah.
"Mbok Jirah." Jawabku singkat.
"Hah? Serius kamu? Kurang ajar!" sahut pak Hermawan langsung bergegas mencari wanita tua itu di kamarnya.
Tapi dia tak dapat menemukan wanita itu. Kamarnya telah kosong, rupanya dia telah pergi.
Wajah pak Hermawan langsung memerah menahan emosi.
Selanjutnya aku kembali menyusuri setiap sudut rumah untuk menetralisir hawa jahat dan memastikan tak ada yang tertinggal.
Kini aku bisa bernafas lega. Semuanya telah berakhir. Tadinya aku mau langsung pamit pulang, tapi ditahan oleh pak Hermawan.
Aku dipaksanya menginap karena dia takut mahluk-mahluk itu akan kembali lagi, dan aku pun memenuhi permintaannya.
Setelah memastikan kondisi Erlin dan bu Susan baik-baik saja, pak Hermawan nampak jauh lebih tenang.
Jam menunjukkan pukul 2.00 dinihari. Kini kami sedang berbincang di ruang tamu. Pak Hermawan terlihat lelah.
Aku masih tak percaya kalau mbok Jirah yang melakukannya." ucap pak Hermawan sambil menggeleng-geleng.
"Menurut saya, mbok Jirah itu cuma orang suruhan pak." sahutku coba memberikan pendapat.
"Suruhan siapa? Kamu bisa cari tau?" tanya pak Hermawan penasaran.
"Maaf pak, saya tak bisa." jawabku menolak halus.
Aku sebenarnya bisa saja mencari tau, tapi aku tak ingin semua ini menjadi dendam yang berkepanjangan, biarlah nanti sang pelaku menerima karma dari perbuatannya.

*******
Pagi harinya, Erlin terlihat sudah mendingan. Bahkan dia sempat membuatkanku sarapan.
Aku yang tak biasa sarapan di meja makan semewah itu, jadi sedikit canggung.
Makan menggunakan pisau dan garpu merupakan hal baru bagiku yang biasa makan dengan tangan sambil petangkringan.
Tapi ketika aku sedang kagok mengiris daging dengan pisau, tiba-tiba hp pak Hermawan berdering.
Dia nampak serius berbicara di telpon. Setelah selesai, wajahnya terlihat bingung.
Kenapa pi?" Tanya Erlin penasaran.
"Om Hendrik barusan tanya, apa yang terjadi dengan Steven? Sepulang dari sini, dia terus ketakutan sambil menjerit-jerit." jelas pak Hermawan.
Aku langsung kaget sampai tersedak!

Aku lupa menutup indra ke-enam Steven! Dia pasti stess melihat semua hal yang seharusnya tak dia lihat!
"Yudha, kamu tau kira-kira Steven kenapa?" Tanya pak Hermawan.
"Eh.. nggak tau pak, tapi nanti coba saya periksa." Jawabku sekenanya.
Selesai sarapan, aku pun pamit pulang. Pak Hermawan dan Erlin tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat melepas kepulanganku.

*******
Seminggu kemudian, pagi-pagi sekali, pintu kontrakanku diketuk orang.

"Yud, Yudha.." Terdengar suara wanita memanggil-manggil dari luar.
Aku segera membukakan pintu dan langsung terkejut melihat Erlin berdiri di sana.
Tapi lebih terkejut lagi dengan apa yang dia bawa...

Satu unit sepeda motor keluaran terbaru terparkir di halaman kontrakan.
"Itu motor buat kamu, hadiah dari papi." ucap Erlin dengan wajah sumringah.
"Ya ampun! nggak perlu sampai begitu Lin! saya ikhlas kok menolong kalian." jawabku coba menolak halus.
"Ah nggak apa-apa. Ini belum seberapa, papi berniat mengangkat kamu jadi supervisor di pabrik, dia sudah bicara dengan pak Yanto." sambung Erlin lagi.
"Wah! nggak usah! saya sudah senang kok dengan posisi saya sekarang." Jawabku spontan menolak keras.
Langsung terbayang respon teman-temanku di pabrik. Bisa habis aku jadi bahan ejekan dan candaan mereka nanti.
"Eh.. Tak baik kamu menolak, nanti papi marah lho! Ya sudah, ayo kita coba motornya!" ajak Erlin langsung menggandeng tanganku dan memintaku memboncengnya keliling-keliling naik motor baru.
Di perjalanan, dia tak canggung memeluk pinggangku dari belakang. Malah aku yang jadi risih.
"Wah, kalau begini, bisa dong nanti aku minta diantar-jemput ke kampus?" Tanya Erlin sambil senyum-senyum.
"Waduh! saya kan kerja Lin, ya nggak bisa dong." Jawabku gugup.
"Oh iya. Tapi sekali-kali boleh kan aku minta ditemani belanja?" tanyanya lagi memaksa.
"Yaa.. Lihat nanti saja." Sahutku coba meredam desakannya.
"Memangnya kamu nggak malu jalan sama saya? Saya kan orang kampung." tanyaku coba mengingatkannya.
"Nggak tuh! Aku nggak pernah pilih-pilih teman. Aku suka berteman dengan siapa saja, tak perduli latar belakang mereka, apalagi dengan orang sebaik kamu." jawabnya sambil memeluk lebih erat.
Aku makin grogi namun berusaha tetap fokus memperhatikan jalan.

*******
Malam harinya, selesai sholat isya, tiba-tiba saja hp ku kembali berdering.
"Yudha, tolong kemari! Ada gangguan lagi!" ucap Pak Hermawan dengan nada panik di sebrang sana.
Aku pun bergegas naik motor baru menuju rumah pak Hermawan.
Sesampainya di sana, pak Hermawan sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah cemas. Di sampingnya, nampak Erlin duduk dengan wajah ketakutan.
"Ada apa pak?" Tanyaku penasaran.
"Ini Yud, sejak tadi Erlin selalu diganggu oleh penampakan wanita berpakaian kerajaan serba kuning, dengan bau melati yang sangat menyengat!" jelas pak Hermawan.
WADUH !

Kalau yang itu saya nyerah pak!

(Buat yg nggak paham, bisa baca thread part 5 & part 7 👻)

-------------SELESAI----------
Terima kasih telah menyimak cerita ini, semoga kita semua dapat mengambil hikmahnya...

Maafkan bila ada kata2 yg kurang berkenan..

nantikan kisah2 selanjutnya, silahkan follow akun ini untuk bisa terus update cerita2 yg pastinya seru & menegangkan...

~Wassalam~
~Untuk share cerita di luar twitter, mohon ijin dulu via DM.
*Syarat dan ketentuan berlaku*

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with wallensky

wallensky Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @wallensky10

Apr 13
Sluuurpp... Sluuurpp...

Dari dalam bilik toilet, terdengar suara mulut mengecap seolah sedang menikmati sesuatu...
Perlahan-lahan Sarah membuka pintu, dan langsung menjerit histeris!

Dia melihat sosok kurus telanjang berkulit merah licin, dengan kepala berambut jarang, sedang berjongkok membelakangi sambil menjilati pembalut yang tadi dia buang!
Read 200 tweets
Feb 1
Coming up next..

2 HARI DI RUMAH IBU SUWARNI

@Penikmathorror @HorrorBaca @IDN_Horor @ceritaht Image
Nuraini mendapat pekerjaan untuk merawat seorang wanita tua. Namun di rumah itu, dia mengalami kejadian mengerikan yang tak akan bisa dia lupakan seumur hidup…
Segera Posting bersambung di twitter..

Yang mau langsung baca tanpa terpotong², bisa langsung cek di link berikut ini..
karyakarsa.com/Wallensky/2-ha…
Read 330 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(