SINDEN PENGABDI SETAN
Part 3 - Penyesalan di ujung harap
Mbah Jurip yang seharusnya membantu warga desa malah memilih untuk menjadi pengikut sinden terkutuk itu.. kini ia mengincar Baskoro untuk membalaskan dendam Nyai Lindri.
Angin berhembus dengan kencang pada malam itu. Secepat mungkin aku kembali ke desa Gendis untuk memastikan kondisi di sana.
Suasana terlalu tenang di sana, sepertinya warga sudah mulai beristirahat.
Hanya satu tempat yang terlihat masih ada aktifitas saat itu, balai desa.
Mungkin warga dan keluarga jenazah masih berjaga di sana untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Beruntung , mas Jatmiko masih bisa kami temui di sana.
Kami segera mengistirahatkan Pak Pram ayah Gendis di balai desa agar segera mendapatkan perawatan dari mereka yang masih berada di sana.
“P—pak Pram?! Apa yang terjadi?” Tanya Jatmiko yang masih setengah menahan kantuknya.
“Nanti akan kami ceritakan, yang terpenting di mana Mbah Jurip?” Tanyaku.
Mas Jatmiko melihat ke arah sekitar, ia menatap ke sebuah tikar yang sudah kosong dengan bekas seseorang yang menidurinya.
“T—tadi Mbah Jurip di sini! “ Ucap Jatmiko denganwajah yang kebingungan.
“Kita cari nan! Dia pasti merencanakan sesuatu..” Ucap Cahyo.
Jatmiko terlihat bingung melihat kepanikan kami.
Kamipun menceritakan tentang kejadian semalam saat Mbah Jurip menjadi pengikut sinden pengabdi setan itu dan mencoba membunuh Ayah Gendis untuk membuktikan kesetiaanya.
“Maksudnya, sinden yang mengutuk desa ini bukan hanya Nyai Lindri?” Tanya Jatmiko.
“Benar, kejadian Nyai Lindri berhubungan dengan sejarah kelam desa ini. sekarang yang terpenting kita mencari Mbah Jurip dulu sebelum ia mencelakai warga desa.” Balasku.
Kami dan beberapa warga yang masih terjaga mengecek setiap rumah di desa,
namun keberadaan Mbah Jurip tidak ditemukan. Yang kami bisa saat ini hanyalah meminta warga untuk menutup pintu rapat-rapat dan memberi informasi bila melihat kemunculan Mbah Jurip.
Aku melihat waktu saat ini menunjukkan pukul tiga pagi.
Kamipun memilih untuk istirahat di balai desa sambil berjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Gendispun menemani ayahnya yang juga sedang di rawat di balai desa.
…
Pagi datang, warga sudah disibukkan dengan pemakaman jenazah korban kutukan sinden kemarin.
Aku mencari informasi apakah ada petunjuk mengenai keberadaan Mbah Jurip, namun tak ada satupun warga yang melihatnya.
“Apa mungkin yang diincar oleh Mbah Jurip tidak ada di desa ini?” Ucap Cahyo sambil berpikir.
Ada benarnya ucapan Cahyo, bisa jadi Mbah Jurip merencanakan hal lain.
“Mas Jatmiko, kira-kira apa ada orang lain yang diincar sinden itu selain warga desa?” Tanyaku pada mas Jatmiko.
Mas Jatmiko berpikir sebentar, ia sepertinya teringat akan sesuatu.
“Pak Baskoro… ia melarikan diri dari desa saat dukun-dukunya gagal menahan kutukan Nyai Lindri” Ucap Jatmiko.
“Mas Jatmiko tau pak Baskoro di mana?” Tanyaku.
Jatmiko menggeleng.
“Tidak tahu mas, lagipula biarin aja kalau orang seperti Baskoro mendapat ganjaranya” Ucap Jatmiko dengan wajah yang kesal.
“Nggak begitu mas, sejahat apapun Baskoro dia tetap manusia.. “ Ucap Cahyo.
“Dia penyebab ini semua mas! seandainya ia tidak memperlakukan Nyai Lindri dengan seperti itu Kutukan ini tidak akan bangkit” Wajah Jatmiko terlihat geram.
“Kalau Baskoro Mati lalu apa? Apa kutukan ini selesai? Lalu apa yang terjadi dengan roh Baskoro yang tidak tenang?
Bagaimana kalau anggota keluarganya menuntut balas dengan ilmu hitam?” Ucap Cahyo yang mulai kesal dengan jawaban Jatmiko.
Aku mengerti kekesalan Jatmiko dan menahan emosi Cahyo, walaupun sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh Cahyo.
“Mas Jatmiko, kalau sampai Pak Baskoro mati di tangan setan itu, artinya setan itu menang. Keadaan tidak akan menjadi lebih baik. Percayalah, hukuman dari Yang Maha Kuasa lebih bijak daripada apapun” Ucapku.
Jatmiko masih terlihat kesal, namun sepertinya ia menerima pendapatku.
“Kemungkinan dia ada di desa sebelah, desa tempat sanggar Ki Joyo Talun berada. Dia pasti meminta pertolongan dari dukun-dukun yang pernah bekerja sama dengan Ki Joyo Talun” Ucap Jatmiko yang akhirnya jujur.
Cahyopun segera berdiri mengemasi barang-barangnya.
“Mas, tolong gambarkan kami arah ke desa itu..” ucap Cahyo.
“Saya antar saja mas, saya ambil motor dulu…” Balas mas Jatmiko.
Kami menitipkan Pak Pram dan Gendis kepada warga desa yang ada di sana dan menghampiri desa tempat padepokan Ki Joyo Talun berada.
…
Desa Tarujaya..
Sebuah gapura yang cukup besar menyambut kami bertiga saat memasuki desa tujuan kami. sebuah desa yang cukup ramai bila dibandingkan desa Jatmiko tadi.
Sebuah bangunan joglo yang besar terlihat dengan jelas di tengah desa.
Bangunan itu terlihat itu begitu mencolok dengan ukurannya yang paling besar diantara bangunan lainya, sayangnya tempat itu terlihat begitu sepi.
“Apa itu padepokanya Ki Joyo Talun?” Tanyaku pada Jatmiko.
“Iya mas, dia dalang terpandang di tempat ini. entah, setelah kepergianya siapa yang akan meneruskan padepokanya itu.” Ucap Jatmiko.
Kamipun berjalan menuju tempat itu sambil sesekali menyapa warga desa yang belalu lalang.
Masih terlihat banyak bendera merah berkibar di beberapa sudut jalan menandakan baru saja ada yang meninggal di desa itu. Yang menyedihkan sepertinya korbannya cukup banyak.
“Total ada berapa orang yang meninggal mas Jatmiko?” tanya Cahyo.
“Ada dua belas orang yang meninggal dalam satu malam. Mereka para anggota pementasan Ki Joyo Talun” ucap Jatmiko.
“Apa ada yang selamat?” tanyaku.
“Ada, nanti kita akan bertemu mereka di padepokan” Balas Jatmiko.
Kami memasuki halaman rumah joglo yang besar dengan ukiran-ukiran kayu mewah menghiasi bangunanya. Cahyo terhenti tepat saat akan memasuki halaman seolah menyadari sesuatu.
“Ada sesuatu yang besar tersembunyi di rumah ini” Ucap Cahyo.
Aku juga menyadarinya, ada mantra yang mengelilingi bangunan ini. mungkin saja orang-orang pintar dari kelompok Ki Joyo Talun benar-benar bisa melindungi tempat ini.
tidak hanya itu, akupun melihat sisa-sisa serangan yang residunya masih terlihat dengan jelas di sekitar halaman.
“Kulo nuwun… Permisi,” aku mencoba sesopan mungkin memasuki tempat ini berharap ada yang keluar menemui kami.
“Permisi…” ucapku memanggil dengan cukup keras, namun sayangnya tidak ada jawaban sama sekali.
“Apa tidak ada orang di dalam? Mungkin sebaiknya kita tanyakan ke kepala desa..” Ucap Jatmiko.
“Nggak mas, di dalam banyak orang. Mereka sedang mengamati kita” Jawab Cahyo.
Sepertinya Jatmiko bingung dengan jawaban Cahyo, tapi akupun menyadari ada beberapa orang yang mengintip dari balik jendela.
Merasa perlu melakukan sesuatu, Jatmikopun maju menghampiriku dan ikut mengetuk pintu dengan keras.
“Pak Baskoro! Bapak di sini kan? Tolong keluar sebentar, ada yang harus kita bahas” Teriak Jatmiko.
Tetap saja tidak ada yang menjawab panggilan Jatmiko. Sebaliknya aku mulai merasa hal aneh saat itu.
Aku merasakan ada sesuatu yang mengelilingi kami namun kami tidak melihat ada makhluk lain di sekitar kami.
Aku dan Cahyo mulai waspada, sampai akhirnya tiba-tiba Jatmiko berteriak dengan menunjuk ke arah langit-langit tepat di atas kami.
“U—Ular mas!” Ucap Jatmiko yang mulai ketakutan.
Seekor ular besar melilit diatas langit-langit rumah dengan kepalanya yang seolah sudah bersiap menerjang ke arah kami.
Jelas kami tahu ular ini bukan ular biasa, seseorang yang mengirimkanya ke tempat ini seperti bertujuan untuk memantau atau menghalangi mereka yang di dalam untuk meninggalkan tempat ini.
Tak menunggu lama Cahyo membacakan sebuah mantra yang selalu membuatku sebal.
Ia mengibas-ngibaskan sarungnya sambil mengucapkan mantra itu.
“Mas.. mending kita jauh-jauh” Ucapku pada Jatimiko.
“Kenapa mas? “
“Udah percaya aja.. Itu ajian andalan Cahyo buat ngelawan makhluk seperti itu” ucapku sambil mencari sesuatu dari tasku.
Ajian itu tidak memiliki kekuatan perusak, namun lebih efisien untuk situasi saat ini.
“Mas… b—bau apa ini?” ucap Jatmiko yang wajahnya sudah berubah menahah bau dari ajianya Cahyo.
Aku tertawa sambil menutup hidungku.
“Itu ajian andalanya Cahyo, cocok buat ngusir hewan buas… baunya berubah-berubah, cocok banget kan sama yang bacain mantranya” Jelasku sambil meledek Cahyo.
“Heh ini namanya ajian pesona khayangan, Cuma yang suci dan berhati baik saja yang bisa tahan dengan ajian ini” balas Cahyo membela diri.
“pesona khayangan kepalamu, kalau khayangan baunya begini aku tak nungguin di depan aja wis…”
Tapi memang, ajian ini selalu ampuh untuk mengusir hewan buas terutama kiriman seseorang. Tanpa adanya konfrontasi, si pengirim hewan itu tidak mengambil tindakan yang membahayakan kami.
Tidak butuh lama sampai ular besar itu pergi melalui langit-langit bangunan joglo ini hingga menghilang dari pandangan kami.
“Tuh kan ampuh, kamu juga harus belajar Nan…” ucap Cahyo.
“nggak usah, kamu aja..” balasku.
Saat mengetahui ular itu tidak ada lagi di sekitar rumah ini tiba-tiba suara kunci pintu kayu terdengar, dan seseorang keluar menemui kami.
“Mas Jatmiko?” seorang pemuda muncul dengan membukakan pintu.
“Iya Mas Sena, kami mencari Pak Baskoro. Kemungkinan ada seseorang yang berniat mencelakai dia" Ucap Jatmiko.
“Mbah Jurip ya?” balas seseorang yang ternyata bernama Mas Sena itu.
Aku dan Cahyo saling berpandangan, ia sudah tahu tentang Mbah Jurip.
Kami berkesimpulan serangan semalam adalah perbuatan Mbah Jurip yang ke sini terlebih dahulu saat kami masih melawan sosok sinden setan itu.
Mas Sena menoleh ke pada kami dan mas Jatmiko segera menjelaskan maksud keberadaan kami ke tempat ini.
“Benar pak Baskoro ada di sini, mari masuk dulu…” Ucap Mas Sena.
Kami segera masuk ke dalam pendopo joglo besar itu, isi bangunanya tertata dengan rapi oleh berbagai instrumen gamelan dan peti-peti yang digunakan untu menyimpan wayang.
Dinding-dindingnya pun tak luput dari hiasan yang terbuat dari kulit hewan.
Aroma kemenyan tercium dari berbagai sudut tempat ini. kami memang sudah tau, sedang ada beberapa orang yang sedang melakukan ritual di rumah ini.
Mas Sena mengantarkan kami ke ruangan yang cukup besar di sana. Ada dua orang dengan pakaian menyerupai dukun dan seorang pria berpakaian rapi dengan wajah yang cemas. Aku menduga dia adalah pak Baskoro.
“Mau apa kalian kemari?!” Ucapnya tanpa ada sikap ramah sama sekali.
“Mohon maaf pak, kami ke sini untuk membantu pak Baskoro.. Mbah Jurip yang sudah menjadi pengikut sinden itu pasti mengincar pak Baskoro” Jelasku.
“Kalian tidak usah ikut campur! Kedua dukun ini bisa dengan mudah mengalahkan suruhan sinden itu”Ucap Baskoro.
Bukanya menjawab, Cahyo malah berkeliling ke kedua dukun itu dan mengintip tungku yang mereka gunakan untuk membakar kemenyan.
“Yang satu peganganya kucing hutan, yang satu lumayan peganganya gagak siluman… tapi jelas gak mungkin ngalahin Mbah Jurip, apa lagi sinden itu..
Uwis nan, kita tinggal aja. Kita nonton aja” Ucap Cahyo sambil meledek kedua dukun yang mencoba melindungi Baskoro.
Jatmiko terlihat heran dengan tingkah Cahyo. Padahal sebelumnya ia tahu bahwa Cahyo yang bersikeras ingin membantu pak Baskoro.
“Kurang ajar, kalian meremehkan mereka?!” Teriak pak Baskoro tidak terima.
“Bapak yang tidak sadar, kedua dukun itu sudah setengah mati gara-gara serangan semalam. Kalau Cuma mengandalkan mereka, mending saya bantu warga nyiapin keranda jenazah lagi” Ucap Cahyo dengan santai.
“Bocah sombong, apa yang pegangan kamu sampai berani meremehkan mereka” Tantang Pak Baskoro.
Tangan Cahyo mengangkat satu jarinya ke arah atas.
“Gusti Allah..”
…
Kamipun pergi meninggalkan mereka yang terus sibuk melakukan ritualnya. Mas Sena terus menemani kami, sepertinya ia juga memiliki sesuatu untuk diceritakan.
Ternyata Mas Senalah yang seharusnya secara resmi mewarisi padepokan ini, namun karena pengalamanya masih kurang dan masih dalam masa berkabung segala sesuatunya masih dipegang oleh sisa anggota wayang Ki Joyo Talun.
“Terus mas-masnya gimana setelah ini?” Tanya Mas Sena.
“Kita ijin bermalam di sini Mas Sena, nanti malam pasti ada serangan lagi. Kita baru turun tangan ketika kedua dukun itu sudah tidak berdaya” Jawabku.
“T—tapi, kalau bisa jangan sampai kedua dukun itu mati mas..” Pinta Mas Sena.
Dia bercerita, kedua dukun itu sebenarnya adalah gambuh yang memang bertugas menjaga pemain yang kadang sering mendapat gangguan. Walau seperti itu, pengalamanya masih di atas orang pintar pada umumnya. Pak Baskoroloah yang memaksa mereka untuk menjadi pelindungnya.
“Mereka sudah seperti saudara saya sendiri, sama seperti anggota yang lain” Ucap Mas Sena.
“Tenang mas, kami mengerti.. akan kami jalankan amanah Mas Sena” Balas Cahyo.
Kami menunggu ruang yang berbeda dengan pak Baskoro.
Mas Sena juga menyambut kami dengan baik walaupun kami tidak saling kenal sebelumnya.
“Mas Sena nggak curiga sama mereka? Jarang-jarang ada orang asing yang disambut dengan baik seperti ini di padepokan ini” Tanya Jatmiko.
“Saya ingat sama motor vespa itu mas..” Ucapnya.
Aku dan Cahyo saling bertatapan, apa Mas Sena pernah bertemu dengan Cahyo sebelumnya?
“waktu saya kecil, saya pernah dianterin naik motor vespa itu waktu di desa Kandimaya” Ucapnya.
Desa Kandimaya adalah tempat pertama kali aku bertemu dengan Cahyo waktu kecil.
Dulu desa itu adalah desa penghasil dalang dan pemain wayang pada jamanya.
Aku ingat, dulu waktu kecil paklek pamer kepadaku saat menaiki vespa itu. namun lambat laun aku diberi tahu, bahwa vespa itu adalah milik kepala desa yang dipinjam paklek.
Sampai akhirnya vespa itu diberikan kepada paklek karena sudah sangat membantu desa itu.
“Mas Sena pernah ke desa kandimaya?” Tanyaku yang mulai tertarik dengan ceritanya.
“Iya mas, saya nggak mungkin lupa motor vespa punya kepala desa kandimaya dengan nomor antik begitu.
Dulu bapak belajar wayang sebentar di sana sebelum berkeliling dan membangun padepokanya sendiri di sini.” Jelasnya.
Aku segera mengacak-ngacak rambut Cahyo.
“Ada gunanya juga kamu ngerawat si mbah” Ledeku.
“Wis dibilangin.. benda milik orang hebat pasti punya pengalaman hebat” Jawabnya sambil mengunyah kacang yang disajikan Mas Sena.
Dari ucapanya aku tahu bahwa itu adalah ungkapan kekagumanya pada paklek.
Hari itu kami habiskan dengan saling bercerita tentang cerita wayang yang ia pelajari dari desa kandimaya hingga beberapa adaptasi wayang yang membawa ayahnya Ki Joyo Talun menjadi dalang yang dipandang.
Sayangnya ketenaranya membuatnya menjadi gelap mata, ia memperistri beberapa sinden hingga mengincar istri sahabatnya pak Baskoro.
Nafsu Ki Joyo Talun bertemu dengan keinginan Baskoro untuk memperistri salah seorang penari di sanggar Ki Joyo Talun sehingga mereka merencanakan siasat untuk memenuhi nafsunya.
Baskoro menuduh Nyai Lindri berselingkuh dengan Ki Joyo Talun dan mengusirnya dari rumah agar ia bisa memperistri penari itu dengan bantuan Ki Joyo Talun.
Mas Sena melihat kejadian saat ayahnya berusaha mengajak Nyai Lindri menjadi istrinya mulai dengan rayuan hingga cara kasar. Namun Nyai Lindri tetap pada pendirianya.
Mas Sena tidak tahu dengan jelas apa yang ayahnya perbuat hingga Nyai Lindri memutuskan untuk bunuh diri.
di satu sisi ia mengutuk perbuatan ayahnya, di satu sisi ia merasa harus menyelesaikan apa yang telah diperbuat oleh ayahnya.
“Aku jadi ingat kisah tentang Wibisana, dia memilih jalan yang berbeda dari saudaranya demi kebaikan” Ucapku mencoba menggambarkan apa yang Mas Sena perjuangkan saat ini.
“Terima kasih mas, saya tersanjung” Jawabnya.
“Ceritane piye nan? Kok aku ora ngerti?” (Ceritanya gimana nan? Kok aku nggak tahu) Tanya Cahyo.
Akupun tertawa dan mencoba menceritakan itu pada Cahyo dibantu oleh Mas Sena yang lebih mengingat cerita itu lebih detail dari pada aku.
…
Hari mulai malam, kami sudah merasakan kedua dukun yang menjaga pak Baskoro sudah bersiap dengan semua ilmunya. Kamipun berjaga-jaga menyambut kedatangan Mbah Jurip yang sudah menjadi pengikut sinden pengabdi setan itu.
Mas Sena sudah memperingatkan warga untuk tidak keluar rumah saat matahari terbenam sehingga desa terasa begitu sepi.
Di tengah keheningan, tiba-tiba terdengar dentuman besar dari arah atap rumah. sesuatu seperti beradu dengan pelindung yang dipasang oleh dukun itu.
“Mas, itu suara apa?” Tanya Jatmiko yang penasaran.
Dia mencoba untuk mencari tahu, tapi aku menahanya untuk berdiri.
“Mas Jatmiko dan Mas Sena, mulai saat ini jangan keluar dari rumah sebelum saya ijinkan” Ucapku.
“Memangnya itu apa mas” Tanya Jatmiko.
Cahyo mengintip dari celah gorden dan bersiap mengambil sarungnya.
“Banaspati.. Mbah Jurip benar bukan dukun sembarangan” Jawab Cahyo.
Kamipun memutuskan untuk keluar ruangan dan pintu depan terlihat sudah terbuka lebar dengan kedua dukun yang berdiri di sana.
“Pak Baskoro, jangan sekalipun keluar dari bangunan ini” Ucap Salah seorang dukun itu.
Sayangnya ia sendiri sudah terlihat terluka menahan serangan banaspati yang menyerang rumah ini. sesuai rencana awal, kami menunggu hingga pertarungan mereka selesai dulu baru turun tangan.
Aku memperhatikan dari sisi jendela, Mbah Jurip kini penampilanya sangat berbeda. Tubuhnya lebih gagah seolah mendapat kekuatan yang baru.
“Baskoro, lebih baik kamu keluar… dua dukun ini tidak akan mampu mengalahkanku” Ucapnya sambil tertawa sombong.
Ucapan Mbah Jurip benar, itu dapat dipastikan dari kedua dukun yang tidak berani membalas ucapan Mbah Jurip.
Kedua dukun itu membaca mantra dengan masing-masing keris di genggamanya.
Dari keris itu terlihat bayangan sosok makhuk berwujud kucing besar berwarna hitam dan makhluk bersayap menerjang ke ara Mbah Jurip.
Mbah Jurip terlihat waspada, ia juga mengeluarkan kerisnya berusaha membaca dari mana makhluk kiriman kedua dukun itu akan datang,
dan tepat saat akan menyerangnya. Sebah libasan ekor ular besar mementalkan kedua makhluk itu.
Tak cukup sampai di situ, sosok ular itu tiba-tiba muncul di dekat makhluk andalan kedua dukun itu dan memakanya.
Saat itu juga darah bermuncratan dari mulut kedua dukun yang melindungi Baskoro.
Kami bersiap keluar menghampiri kedua dukun itu dan menariknya masuk ke dalam.
“Sudah Mbah Jurip! Mengikuti Sinden itu cuma akan membuatmu sengsara! Kembalilah, kami akan melindungimu” Ucapku.
“Khekehkehe…. Dasar bocah! Kalian tidak mengerti apa-apa!” ucapnya sambil tertawa.
“Kami sudah tahu, kamu terpaksa jadi pengikut sinden itu agar tidak dibunuh kan? Sudah mbah.. hentikan sebelum terlambat,” ucapku.
Mbah Jurip malah tersenyum semakin lebar.
“Tidak ada penyesalan dalam keputusanku, Sinden itu memberikan semua yang aku inginkan… termasuk dia..”
Setelah ucapan Mbah Jurip , tiba-tiba muncul seorang wanita berpakaian sinden dengan dandanan yang menawan menghampiri Mbah Jurip.
Parasnya terlihat begitu cantik bak bidadari, hampir tidak ada cacat sedikitpun dari kecantikanya. Kulitnya putih menawan semakin indah dipandang dengan kebaya hijaunya yang tembus pandang.
Ia berjalan dengan anggun dan menggandeng Mbah Jurip seolah patuh melayani Mbah Jurip..
“D—dik Lindri, itu kamu?”
Dari dalam rumah Pak Baskoro terkesima menatap sosok perempuan yang ia kira adalah seseorang yang ia campakkan hingga mengorbankan nyawanya.
Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan.
“Benar… itu , itu Nyai Lindri..” Ucap Jatmiko heran. Sepertinya ia juga terkesima dengan kecantikan wanita di hadapanya itu.
“Khkehkehekeh…” Mbah Jurip tertawa dan memeluk Nyai Lindri dari belakang.
“Dengan menjadi pengikutnya, wanita cantik ini sekarang menjadi milikku. Ia sepenuhnya menuruti perintahku..”
Mbah Jurip dengan bangga memamerkan Nyai Lindri yang sangat patuh kepadanya.
Di hadapan Baskoro yang terkesima dengan penampilan istrinya itu, Mbah Jurip merangkulkan kedua tanganya di pinggang indah Nyai Lindri dan mengecup bibirnya. Aku melihat wajah Pak Baskoro mulai terbakar api cemburu.
Tak hanya itu, Mbah Jurip melepas kasutnya dan memberi isyarat ke Nyai Lindri.
Tanpa ada bantahan Nyai Lindri yang cantik bak bidadari itu segera berlutut dan mencium kaki Mbah Jurip.
“khe..khe..khe… dengan perempuan secantik dan sepatuh ini, kalian pasti tahu apa yang akan kami lakukan untuk menghabiskan malam mini” Ucapnya dengan bangga.
“Hentikan! Kembalikan Istriku!” teriak Baskoro yang berlari keluar, tak tahan dengan api cemburu setelah melihat kecantikan Nyai Lindri.
“Khe…khe..khe… Istri? Guooblokkk! Kamu lupa atas apa yang kamu lakukan padanya?!” UCap Mbah Jurip.
Seketika aku mulai mengerti apa rencana Mbah Jurip.
“Pak Baskoro! Jangan terpengaruh! Kembali ke dalam!” Ucapku, namun sama sekali tidak dihiraukan olehnya.
Aku membacakan doa untuk menampakan wujud asli dari makhluk yang menyerupai Nyai Lindri itu. Anehnya, itu tidak berhasil. Sebaliknya Nyai Lindri malah menoleh ke arahku dengan senyumanya yang manis.
“Gagal Nan?” Tanya Cahyo.
“I-iya, apa mungkin dia beneran Nyai Lindri..” Ucapku yang masih belum mengerti.
“Nggak mungkin Nan…” Jawab Cahyo, tapi sepertinya ia juga terdengar ragu.
Pak Baskoro yang telah diliputi rasa penyesalanya terus memandangai Nyai Lindri.
“Dek, ini mas Baskoro.. maafin mas ya, kita pulang” Ucap Baskoro memohon.
“Jangan pak, dia bukan Nyai…” aku mencoba menghentikan pak Baskoro, namun dia mendorongku mundur menjauh darinya.
“Mas, berikan apa saja dik.. tapi mas mohon kembali sama mas” sepertinya Pak Baskoro sudah terbawa hawa nafsu atas kecantikan Nyai Lindri.
“Khe..khe..khe… berani-beraninya kau, sudah lindri.. kita pergi aku ingin mendengar suara merdumu di atas ranjang yang bertabur bunga malam ini”
Ucap Mbah Jurip yang kutahu tujuanya adalah membakar emosi Baskoro.
Seketika kekesalan Baskoro tidak tertahankan, ia berlari menerjang Mbah Jurip. Aku mencoba menahanya namun tiba-tiba ular peliharaan Mbah Jurip menghalangiku dan Cahyo.
Saat semakin dekat dengan Mbah Jurip tiba-tiba Nyai Lindri berbalik dan menatap wajah Baskoro.
Saat itu juga Baskoro mematung menatap keindahan wajah seseorang yang pernah menjadi istrinya itu.
“D—dik, aku mohon dik.. kembali jadi istriku lagi..” Baskoro memohon.
“Agar apa? Agar kamu bisa menikmati tubuhku yang indah ini lagi?” Ucap Nyai Lindri sambil menurunkan tanganya dari dada hingga kepinggnya.
Baskoro hanya menelan ludah melihat pemandangan memukau itu.
“Agar kamu bisa merasakan lembutnya kulit ini ?” Nyai Lindri mengusapkan tanganya ke pipi Baskoro dan mendekatkan wajahnya sedekat mungkin dengan Baskoro. “Dan agar kamu bisa menikmati merahnya bibir ini lagi”
Terlihat Baskoro sudah tidak mampu menahan nafsunya dan mencoba memeluk Nyai Lindri, namun Nyai Lindri mengelak dengan cepat tanpa sempat tersentuh oleh Baskoro.
“Kalau kamu jadi setan, mungkin aku baru mau mempertimbangkan permintaanmu” ucap Nyai Lindri.
“Lindri.. sudah jangan lama-lama, kita lanjutkan permainan kita tadi siang” Ledek Mbah Jurip.
Dengan beberapa serangan, Cahyo bisa mengalahkan dengan mudah ingon berwujud ular yang menghalangi kami dan kami segera menghampiri Baskoro.
Sebelum kami sampai ke sana, sekali lagi Nyai Lindri mendekat ke wajah Baskoro, “Besok akan aku ceritakan apa saja yang sudah Mbah Jurip lakukan kepadaku”
Wajah Baskoro merah padam, namun Mbah Jurip segera menarik paksa Nyai Lindri dan membacakan sebuah mantra.
Seketika banaspati yang sedaritadi melayang-layang di atas rumah mendekat, dan jatuh di hadapan kami menimbulkan sebuah ledakan.
Beruntung kami berhasil menjaga jarak sehingga tidak ada luka yang berarti. Namun sosok Nyai Lindri dan Mbah Jurip menghilang dari hadapan kami.
Kami mengawasi sekitar rumah setelah kejadian itu, tetapi tidak ada tanda-tanda Mbah Jurip akan kembali sehingga kami memutuskan untuk masuk ke dalam untuk merawat luka-luka kedua dukun yang melindungi Baskoro.
“K—kalian bisa kan? Kalian bisa kan membantuku mendapatkan Nyai Lindri lagi?” Ucap Baskoro memohon pada kami.
“Tidak bisa pak, kami sendiri tidak yakin Nyai Lindri itu manusia atau setan” Jawabku.
“Tidak masalah, saya berikan apapun. Jangan sampai Nyai Lindri dinodai dukun brengsek itu” Ucap Baskoro yang seperti kehilangan akal sehatnya.
Aku dan Cahyo memutuskan untuk membiarkanya dulu hingga tenang sambil mencoba mengobati dua orang dukun yang terluka.
“Dek Lindri… jangan dek.. dek lindri…” berkali kali Baskoro mengucap nama istrinya itu.
Ia terus terlihat gelisah bahkan hingga saat kami memutuskan untuk beristirahat.
Kamipun mencoba menenangkanya dan berjanji akan mencari jalan keluar untuk memastikan siapa sosok wanita yang menyerupai Nyai Lindri itu.
Aku tidak ingat berapa lama kami tertidur sampai akhirnya kami terbangun dengan suara seseorang yang menggedor kamar kami.
Langit masih gelap, namun aku tahu sebentar lagi subuh akan datang.
Seseorang anggota pemain gamelan yang bertugas membersikah pendopo pagi itu berteriak memanggil siapa saja yang bisa ia temukan.
“Mas… Pak Baskoro Mas…” ucapnya.
kami yang terbangun dengan kegaduhan itu segera berlari ke kamar pak Baskoro. Sesuatu yang tidak kami sangka terlihat di hadapan kami.
Pak Baskoro terlihat tergantung di langit-langit dengan seutas tambang yang melilit di lehernya. Sebuah kertas tertinggal di dekatnya.
“Dik Lindri, membayangkanpun aku tidak sanggup bila mengetahui tubuhmu yang indah dinikmati dukun sialan itu. Sesuai ucapanmu, kalau aku jadi setan, kamu akan kembali padaku kan?”
Cahyo yang membaca sehelai surat itu merasa kesal dan melemparnya. Kami kalah di pertarungan ini.
“Goblok.. ini orang pikiranya cuma perempuan? Mau sekuat apapun kita kalau yang kita jagain orang yang otaknya di selangkangan begini tetep juga nggak bakal bisa selamat”
Cahyo terlihat emosi dan memukul dinding kayu kamar itu.
“Sudah Cahyo, dia sudah nggak ada… kita doakan dulu” ucapku mencoba menenangkanya.
Mas Sena dan anggota lainya membantu menurunkan jasad pak Baskoro dan merencanakan pemakaman yang layak untuknya.
Belum sempat matahari terbit, tiba-tiba jendela kayu di ruangan itu terbanting dengan keras. Terdengar suara alunan suara sinden yang menyanyi di bawah gelapnya langit itu.
Itu pemandangan yang mengerikan.
Sinden berwajah mengerikan yang kami lihat di pendopo dekat desa Gendis memimpin beberapa roh wanita dengan dandanan seperti sinden namun sebagian sudah berkeriput dan tak jarang wajahnya sudah menghitam seperti jasad yang sedang berjalan.
Salah satu diantara mereka adalah Nyai Lindri yang datang ke tempat ini semalam. Ia berdiri di sebelah sinden yang memimpin itu.
Mereka berdiri di sana dengan tersenyum seolah merayakan kematian Baskoro.
“Nduk, satu dendamu pada laki-laki biadab itu sudah terbalaskan. Kini kita tuntaskan dendam kita pada warga desamu” Ucap salah seorang sinden yang memimpin itu.
Nyai Lindri sedikit menekukan kakinya menunduk memberi hormat pada sinden itu.
Setelahnya mereka memalingkan badan dan pergi dari penglihatan kami.
“M-Mas Danan, bagaimana ini? Kami bisa mati” Ucap Jatmiko ketakutan.
“Tenang mas, kita cari cara untuk menghentikan sinden itu” Ucapku mencoba menenangkan Jatmiko.
“Tapi kita belum tau cara menangkal tembang sinden yang hampir membunuh kita kemarin” Tambah Cahyo yang juga terlihat khawatir.
Mendengar perbincangan kami Mas Sena mendekat.
“Mas Danan, Mas Cahyo.. ada yang mau saya ceritakan” Ucap Mas Sena.
Kami mengalihkan perhatian pada Mas Sena. Ia mengatakan mungkin ada sesuatu yang bisa membantu kami mengalahkan sinden itu.
“Keluarga kami memiliki pusaka yang mungkin bisa menahan tembang iblis sinden pengabdi setan itu” ucap Mas Sena.
***
(bersambung Part 4- Langgar Watubumi)
Cuplikan Part 4
Tidak mudah untuk mendapatkan pusaka yang diceritakan oleh sena.
Hanya selembar kain batik dan informasi yang Sena ingat dari ayahnya lah yang menuntun kami menuju tempat dimana pusaka itu berada.
Perjalanan pencarian pusaka ini menemukan Cahyo dengan teman lamanya dan sosok yang berhubungan dengan leluhur Danan.
Part 4 - Langgar Watubumi
Update malam jumat 2 Juni 2022
Untuk yang mau baca duluan bisa mampir ke @karyakarsa_id ya^^
Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar.
Diam... Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam....
Suara pedagang memecah riuh sore di Desa Kandimaya. Ia menurunkan pikulan dagangannya di pinggir lapangan—tepat di hadapan kelir wayang yang sudah berdiri, menunggu malam turun sepenuhnya.
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Bayangan tokoh wayang samar-samar menari di atas layar.
Naya dan Nyai Kirana membuka pertunjukan dengan tembang pembuka. Suara mereka mengalun pelan, mengikat perhatian warga yang terus berdatangan. Tak lama, dalang Ki Arsa mengambil alih, memulai kisah yang sudah dinanti.
Kemeriahan semacam ini sudah menjadi napas Desa Kandimaya. Jadwal pementasan mereka bahkan dikenal hingga desa-desa lain. Malam seperti ini, penonton membludak... datang dari jauh, duduk berdesakan, larut dalam cerita.
Naya menatap satu per satu wajah yang hadir. Ada rasa hangat yang mengembang di dadanya. Semua kerja kerasnya seolah terbayar malam itu.
Namun yang paling membuatnya bahagia… ia kini berdiri di satu panggung dengan Nyai Kirana, panutannya. Sekaligus ibu dari seseorang yang begitu ia sayangi.
Tapi di tengah pementasan, tiba-tiba Naya menyadari sesuatu yang tidak biasa.
Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar. Diam. Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam.
Wujudnya tak jelas.
Namun anehnya, rasa yang muncul bukanlah takut, melainkan kebingungan.
“Gik… gik… gik…”
Suara tawa berat, ganjil, menyusup di sela jeda pementasan.
Naya menarik napas lega. Ia mengenali suara itu. Hanya satu makhluk yang memiliki tawa seaneh itu.
“Buto Kendil… dia ikut menonton juga,” bisik Nyai Kirana pelan.
Naya mengangguk. Ia mengangkat tangannya sedikit, sebuah salam kecil ke arah sosok raksasa penjaga Bukit Batu itu.
Namun malam itu… ada yang berbeda.
Buto Kendil tidak sekadar datang untuk menonton. Dari kejauhan, meski samar, sosoknya tampak gelisah. Seolah ada sesuatu yang mengusiknya.
…
Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau kematian. Ombak menghantam pantai tanpa henti, seolah ikut mengamuk bersama malam yang mencekam itu.
Di tepi desa, warga berlarian meninggalkan rumah mereka. Tak ada yang berani menoleh ke belakang. Mereka hanya tahu satu hal, jika berhenti, mereka akan mati.
Satu-satunya tempat yang bisa mereka tuju hanyalah hutan di pinggir pantai.
“Sial… dari mana Trah Brotoguno mendapatkan kekuatan semengerikan itu?!” teriak seseorang dengan napas terengah.
“Kita sudah membunuh anak pertama mereka saat menyantet warga kita… mereka pasti tidak akan melepaskan kita!” balas yang lain, suaranya gemetar.
Ketakutan merayap di antara mereka.
Dalam satu malam, sepuluh nyawa telah melayang.
Bukan sekadar mati—mereka meregang nyawa dengan cara yang tak masuk akal. Mata mereka pecah, pembuluh darah di tubuh mereka meletus satu per satu, sementara jeritan kesakitan menggema sebelum akhirnya lenyap dalam sunyi.
Beberapa warga yang sempat menoleh ke arah desa melihat pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.
Di gapura desa, seorang pemuda berdiri santai. Blangkon menutupi kepalanya, sementara tangannya mengusap bilah keris dengan tenang—seolah apa yang terjadi di sekelilingnya bukanlah apa-apa.
Warga mengenali pemuda itu, adik dari anggota Trah Brotoguno yang mati di desa itu dalam pertarungan santet. Namun mereka tak menyangka, ia membalas dendam dengan cara sebrutal itu.
“I—itu? Buto?!” Warga desa gemetar, mereka tahu, kematian orang-orang itu adalah kutukan dari makhluk keramat itu.
“Aku bukan pendendam…” ucap pemuda itu. “Tapi dengan sedikit bantuan dari darah kalian, makhlukku akan jauh lebih kuat dari Sangkaratuh..”
Pemuda itu berkata, dan menancapkan kerisnya di tanah.
Ia pun pergi, dan menghilang dalam gelap. Saat itu sang buto bergerak, dan satu-persatu warga mati dengan mengerikan.
Menyadari hal itu, warga yang tersisa semakin dalam memasuki hutan, berharap kegelapan bisa menyembunyikan mereka dari maut.
Dari kejauhan, mereka masih bisa melihat sosok raksasa itu berjalan di antara rumah-rumah, memburu siapa pun yang tersisa.
“Sampai kapan kita di sini, Pak…?” tanya seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat.
“Dia akan pergi saat pagi datang,” jawab suaminya, meski suaranya sendiri dipenuhi keraguan. “Kalau kita bisa bertahan sampai subuh… kita cari pertolongan.”
Namun harapan itu terlalu rapuh. Karena makhluk itu tidak berniat menyisakan satu pun dari mereka.
Langit tertutup awan hitam. Bulan lenyap tanpa jejak. Pepohonan bergoyang tak wajar, seolah ikut hidup dalam teror yang sama.
Dan ketika salah satu dari mereka menoleh ke atas, napasnya tercekat.
Sosok raksasa itu sudah berdiri di antara pepohonan.
Saang pemuda dari Trah Brotoguno itu menari-nari sambil memainkan kerisnya. Sementara itu suara teriakkan ketakutan, jeritan kesakitan, dan raungan kematian terdengar dari hutan.
Seolah menjadi musik latar, pemuda itu tertawa dan menari tanpa merasa terusik dengan kematian seluruh warga desa di hutan itu.
Ia melihat kerisnya bergetar, menandakan setiap nyawa yang ditumbalkan menjadi kekuatan bagi dirinya.
“Dengarkan aku Raden Argoyo.. Aku Elang Brotoguno! Akulah yang akan menghabisimu dan sangkaratuh!” ucapnya geram.
“Aku dan Buto Bhayak yang akan menduduki singgasana Rojomayit dan menguasai seluruh jagat dedemit!”
“Grrrraarroooorrr!!” Boto Bhayak seolah merasakan amarah Elang Brotoguno, tuannya. Ia menghabisi warga desa yang telah membunuh kakak dari elang dan pengikutnya.
Niat penumbalan, dan dendam akan kematian kakaknya membuatnya tak memikirkan belas kasihan pada mereka.
Saat matahari akhirnya menyembul dari ufuk timur, suasana berubah menjadi sunyi senyap.
Deburan ombak terdengar tenang, mencuci sisa-sisa jejak darah di pesisir pantai. Namun, tidak ada lagi suara manusia. Desa itu telah menjadi desa mati, dan hutan di perbatasan pantai itu kini hanya berisi keheningan yang abadi.
Suara desing peluru memecah keheningan desa. Tajam dan tanpa ampun.
Dalam sekejap suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Warga yang masih berada di luar rumah segera berlari masuk, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Beberapa hanya berani mengintip dari celah jendela, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun yang mereka lihat hanyalah kekacauan.
Teriakan yang bercampur dengan suara tembakan.
Bayangan tubuh yang terjatuh.
Dan darah yang menyiprat hingga mengenai kaca jendela rumah mereka.
Tak seorang pun benar-benar berani keluar. Mereka hanya bisa bersembunyi, berdoa dalam diam agar kengerian di luar tidak merambat masuk ke rumah mereka.
Beberapa saat kemudian suara tembakan itu berhenti dan digantikan oleh derap sepatu yang berat dan teratur. Lalu suara mesin kendaraan yang menjauh perlahan dari desa.
Keheningan kembali turun. Namun keheningan itu terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya.
Setelah cukup lama menunggu, beberapa warga akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Satu per satu mereka keluar dari rumah, berjalan perlahan menuju jalan desa.
Dan saat itulah mereka melihatnya.
Beberapa orang langsung menutup mulut mereka menahan teriakan.
Di sepanjang pagar desa, kepala-kepala manusia tertancap seperti peringatan yang kejam. Tubuh mereka tergeletak tak beraturan di jalan tanah yang kini berubah merah oleh darah.
“Biadab…!” teriak seorang warga dengan suara gemetar.
“Mereka benar-benar biadab!”
Semua orang tahu siapa yang dimaksud.
Orang-orang kulit putih itu.
Para penjajah yang datang bukan hanya untuk berkuasa, tetapi juga untuk menebar ketakutan.
“Mereka… siapa sebenarnya?” tanya seorang warga lain dengan suara lirih, hampir tak berani melihat lebih dekat.
Kepala desa bersama beberapa orang pria memberanikan diri memeriksa jasad-jasad itu. Mereka berjongkok di dekat tubuh yang berserakan, mencoba mengenali wajah-wajah yang kini hampir tak lagi utuh.
Salah satu dari mereka menemukan sesuatu.
Sebuah gelang.
Di pergelangan tangan korban.
Bukan hanya satu. Beberapa jasad lain juga mengenakan gelang yang sama dengan simbol aneh yang tak dikenal warga desa.
Seorang pria tua menatap gelang itu lama, lalu wajahnya memucat.
“Itu kelompok yang sering merampok gudang milik penjajah,” lanjutnya. “Mereka mengambil harta dari orang kulit putih itu… lalu membagikannya ke desa-desa yang kekurangan.”
Beberapa warga langsung saling berpandangan.
“Mereka pernah membantu desa kita,” kata seseorang. “Waktu gagal panen tahun lalu…”
Rasa ngeri perlahan berubah menjadi duka.
Orang-orang yang kini tergeletak sebagai mayat itu… pernah menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Namun balasan dari penjajah jauh lebih kejam.
“Orang kulit putih itu memang tidak punya hati…” gumam seseorang dengan suara pahit.
Sementara warga masih terpaku pada pemandangan mengerikan itu, dua pemuda berdiri agak jauh dari kerumunan.
Mereka tidak mendekat.
Hanya memperhatikan dari kejauhan.
Krama menyipitkan matanya, memandangi barisan kepala yang ditancapkan di pagar.
“Ini tidak sesederhana peringatan,” katanya pelan.
Di sampingnya, Dasa mengangguk.
“Tumbal,” jawabnya singkat.
Krama menoleh.
“Tumbal?”
“Pembantaian seperti ini terlalu rapi untuk sekadar ancaman,” kata Dasa. “Ada sesuatu yang mereka inginkan.”
Krama tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih pada jejak di tanah—bekas roda kendaraan yang masih jelas di jalan desa.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mulai berjalan mengikuti jejak itu keluar dari desa.
Dasa menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut berjalan di belakangnya. Krama mengencangkan kain di pinggangnya.
DOSA TAK TERBAYAR
Awan-awan hitam berkumpul tepat di atas pohon raksasa itu, besarnya melampaui apa yang bisa bayangkan manusia. Petir menyambar berulang kali, tetapi tak setetes pun hujan jatuh ke tanah di sekitarnya, seolah langit sendiri menolak menyentuh tempat itu.
“Dirga! Lepaskan kerismu!” teriak Abah, memaksa dirinya mendekat.
Namun ledakan kekuatan hitam yang memancar dari Keris Dasasukma menghantamnya. Abah terpental mundur, dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasatmata.
“Aku…” suara Dirga terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri. “Aku harus mendapatkan kekuatan ini!”
Tanah bergetar lebih keras.
Retakan menjalar dari batang pohon, menyebar ke tanah seperti urat-urat luka yang terbuka. Akar-akar kering bergeliat pelan, seakan hidup kembali.
Abah tak mau menyerah. Ia melangkah maju lagi, memaksakan diri menembus tekanan itu. Bibirnya tak henti melafalkan doa, satu-satunya senjata yang ia miliki.
Namun tepat saat kekacauan mencapai puncaknya, cahaya putih muncul di hadapannya.
Sosok itu samar, menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya bersinar lembut. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Abah berhenti.
“Tenang… segel itu mengenalinya.”
Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan.
Entah mengapa, Abah mempercayainya. Meski hatinya masih bergejolak melihat Dirga berdiri di pusat badai kekuatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.
Beberapa saat kemudian, kekuatan hitam itu mulai meredup.
Awan-awan hitam tercerai. Petir berhenti. Getaran tanah perlahan mereda.
“Sudah selesai,” ucap sosok cahaya itu pelan, lalu lenyap, seolah tak pernah ada.
Abah segera berlari menghampiri Dirga.
Anaknya berdiri gemetar, tangannya masih menggenggam Keris Dasasukma. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang baru.
“Aku mendapatkannya…” bisiknya.
“Apa maksudmu? Apa yang kau dapatkan? Jangan gegabah, Nak…” suara Abah dipenuhi kecemasan.
Dirga menelan napas.
“Kaki…”
Abah terdiam, tak mengerti.
“Itulah wujud asli kekuatan ini,” lanjut Dirga lirih.
“Bagian tubuh dari makhluk terkutuk… yang selama ini disegel di bawah pohon ini.”
Ia memandang keris di tangannya.
“Segel itu mengenaliku. Ia mengenali Keris Dasasukma. Ia tahu tempat ini sudah tidak aman… ada sesuatu yang mencarinya.”
Dirga mengangkat keris itu perlahan.
“Jadi segel itu berpindah. Ia menjadikan keris ini… kurungan barunya.”
Angin malam berembus dingin melewati mereka.
“Abah… kita harus pergi. Sekarang. Tempat ini sudah tidak aman.”
Abah mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga mengangkat jasad pria misterius itu ke pundaknya. Mereka meninggalkan pohon Caruluk, meninggalkan tempat yang kini terasa seperti jantung dari kegelapan itu sendiri.
Namun belum jauh mereka berjalan, Dirga berhenti.
Di kejauhan, bayangan-bayangan samar tampak melayang menuju pohon itu. Bentuknya tak utuh.
Seperti kabut yang hidup. Roh-roh pengintai, tertarik pada sesuatu yang kini sudah tak lagi berada di sana.
Dirga mempercepat langkahnya.
Mereka harus pergi sebelum sesuatu menyadari ke mana segel itu berpindah.
…
Tegar dan Wiru tahu, sejak tatapan pertama mereka bertemu dengan perempuan itu, bahwa ia bukan sekadar penunggu sunyi atau arwah penasaran yang tersesat.
Ada sesuatu yang jauh lebih tuabersemayam di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, lebih lembap, seolah hutan itu sendiri menahan napas.
Ular-ular yang mengerubungi bangunan misterius itu tidak bergerak liar. Mereka patuh. Terkendali. Setiap desisnya seperti aba-aba tak terdengar yang hanya dimengerti oleh satu sosok perempuan berambut panjang yang berdiri tanpa goyah di hadapan mereka.
“Tegar,” bisik Wiru, suaranya tak lagi setegas biasanya.
“Aku akan menahan ular-ular ini. Kau pergi cari pertolongan.”
Kalimat itu terdengar gagah, tetapi jemari Wiru gemetar di gagang kerisnya. Ia tahu betul, ia tak sedang menghadapi sekadar makhluk jadi-jadian.
“Jangan gegabah,” Tegar membalas, matanya tak lepas dari perempuan itu. “Kita tak tahu apa maksudnya.”
Rasa cemas merambat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah perlahan, tapi pasti. Tekanan tak kasatmata menekan dada mereka. Lutut terasa berat. Bahkan untuk menarik napas pun butuh upaya.
Perempuan itu melangkah setapak. Tanah tak berderak. Ular-ular di sekelilingnya justru merunduk, seolah memberi jalan bagi ratunya.
“Sekali lagi kutanya,” suaranya lirih, tetapi menggema di kepala mereka. “Siapa yang mengirim kalian?”
Tegar menelan ludah. Ia tak bisa sembarang menyebut Ajik Wayan. Tak bisa menyebut Bli Waja. Nama adalah pintu, dan ia tak ingin membuka pintu yang salah di hadapan makhluk seperti ini.
“Pemakan roh,” jawabnya akhirnya, spontan namun terukur. “Makhluk itu membuat kekacauan di tempat kami. Petunjuk yang kami dapat mengarah ke sini. Kami mencari inangnya. Kami harus menghentikannya.”
Hening.
Lalu… Srakk!
Tekanan yang membelenggu tubuh mereka mendadak lenyap. Lutut Tegar hampir tertekuk karena perubahan mendadak itu. Wiru terengah, seperti baru saja dilepaskan dari cekikan tak terlihat.
Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit, seolah mendengarkan sesuatu dari dalam tanah.
“Dia memang di sini,” katanya pelan. “Tersegel di bawah tanah ini. Tapi…”
Kalimat itu tak pernah selesai.
Bayangan raksasa menjulang di belakang mereka. Tanah bergetar halus. Bau amis menyengat. Ketika Tegar dan Wiru menoleh, yang mereka lihat hanyalah rahang menganga, sisik hitam berkilau diterpa cahaya bulan, dan dua mata kuning yang memantulkan bayangan mereka dengan jelas.
“Kalian tidak boleh ada di sini.”
Slaaaabbbbb!
Gelap.
Tubuh mereka terhantam sesuatu yang basah dan hangat. Ruang menyempit. Dinding lunak berdenyut di sekeliling mereka. Bau anyir menusuk hidung. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Tegar tak bisa membedakan atas dan bawah.
“Kita… dimakan?” suara Wiru terdengar serak di kegelapan.
Tegar mencoba menggerakkan tangan, ia bisa. Ia masih bisa bernapas. Udara terasa tipis, tapi ada. Perlahan, mata mereka menyesuaikan diri. Dinding yang semula tampak pekat kini seperti membran tipis tembus cahaya.
Mereka bisa melihat siluet luar, pepohonan, tanah, dan sosok perempuan itu yang masih berdiri tak bergerak.
Ular besar itu bergerak cepat, melesat ke balik pohon beringin tua. Tubuh raksasanya melingkar, menyamarkan diri di antara akar dan bayangan.
Dari balik tubuh makhluk itu, Tegar dan Wiru menyaksikan perempuan penjaga itu tetap menanti.
Dan tak lama kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan hutan.
Seorang pria dan wanita berjalan berdampingan. Busana mereka seperti keluar dari halaman sejarah, pakaian keraton dengan lipatan rapi, keris terselip di pinggang, pusaka menggantung di dada.
Langkah mereka mantap, tanpa ragu, seolah tempat itu bukan ancaman melainkan wilayah yang telah lama mereka kenal.
Namun yang membuat darah Tegar terasa membeku adalah sosok yang melayang di belakang mereka.
Roh perempuan berkebaya pengantin Jawa berwarna hitam. Wajahnya pucat, matanya kosong namun tajam. Sosok yang pernah dipanggil Wiru di kediaman Mbah Wage. Ingon.
Trah Wagiatma.
Tegar refleks menoleh ke arah Wiru—lalu membeku. Di sampingnya bukan lagi sosok sahabatnya, melainkan tubuh ular besar yang sama, meringkuk dan mengawasi. Kesadaran itu menghantamnya, mereka tak lagi berada di tubuh sendiri. Mereka tengah “dititipkan”.
“Jadi,” ucap pria itu tenang, “kau sudah menanti kedatangan kami?”
“Bukan aku,” jawab sang penjaga, matanya menyala redup. “Tapi ular-ularku.”
Desisan memenuhi udara.
Dari segala penjuru, ratusan ular berbisa meluncur keluar. Hitam. Hijau. Cokelat tanah. Mereka bergerak serempak, seperti ombak hidup yang menerjang pantai.
Dalam sekejap, tubuh pria dan wanita itu tertutup sepenuhnya. Tak terlihat lagi kain, wajah, atau pusaka. Hanya gumpalan sisik dan lilitan yang bergerak liar. Suara gigitan terdengar beruntun—cepat, rakus, mematikan.
Tegar memejamkan mata. Tak ada manusia yang bisa bertahan dari itu.