Ryan Dwana Profile picture
Jul 27 12 tweets 4 min read
#selfdevelopment #marketing

Salah satu pencapaian gue dalam karir adalah membuat campaign buat launchingnya Traveloka di tahun 2014-2015an.

Waktu itu, gue dan tim come up dengan tagline “Traveloka Dulu, Traveling Kemudian”

Mau tau cerita di balik itu?

A Thread
Disclaimer : sharing ini gak menggambarkan strategy besar secara keseluruhannya juga. Prosesnya jauh lebih panjang dan lebih complex dari cuma tweet ini.

Jadi, jangan ditelen mentah2 or dipraktekin langsung ya.

Cuma buat sharing biar temen2 terinspirasi.
Di masa itu, booking pesawat atau hotel melalui Online Travel Agent (OTA) belum menjadi sebuah norma seperti sekarang.

Masih cari cari lewat telpon atau booking ke travel agent langganan. Cara yang traditional dan conventional, kan?

Siapa disini yang masih begitu?
Konsumen juga masih belum terbiasa dengan booking2 secara online. Ya awal2 banget sih, sebelum tech company dan aplikasi menjamur seperti sekarang.

Masih banyak yang nanya kaya :
“Ntar ditipu gak?”
“Ntar tiketny beneran bisa di redeem gak?”

Dan pertanyaan2 sejenis lainnya.
Di masa itu juga, belum ada tuh trend healing, staycation, open trip seperti jaman sekarang.

Travel biasanya jalan2 besar seperti waktu liburan sekolah, lebaran, natal dan sebagainya.

Traveling menjadi sebuah privileges, dengan budget yang cukup besar tentunya.
Kita mikir : apa sih challenge besar yang harus kita bantu Traveloka selesaikan melalui advertising?

Download. Trial. Trust.
Itu adalah challenge yg harus kita jawab sebagai brand baru.

Tapi kita ada hal yang lebih besar lagi yang harus kita solve. Apa itu? jeng jeng jeng..
Challenge nya apa? Merubah habit orang traveling.

Dulu, kalau mau travel, mereka cenderung untuk mikirin budget dan akomodasinya duluan dibandingkan destinasinya.

Maka dari itu, kita berusaha untuk membuat orang lebih excited dalam traveling melalui Traveloka.
Dari situlah Tagline “Traveloka Dulu, Traveling Kemudian” muncul.

Membuat orang excited dengan traveling,
Pilih destinasinya dulu baru cek tiket sampai akomodasi.
Semua bisa dilakukan dengan Traveloka.

Kita buatin bumpernya, campaign launching plan dan lain sebagainya.
Ini menjadi salah satu campaign iconic yang menjadi kebanggaan gue dan ahensi gue waktu itu.

Kita gak pernah nyangka bahwa Traveloka bisa berkembang besar seperti sekarang.

Dan tagline yang kita come up dipake sampai ke manca negara..
Gue personally belajar banyak banget dari proses ini. Prosesnya seru, dan menambah pengetahuan gue sebagai marketer.

Belajar buat melihat pasar dan industry, jangan cuma fokus pada USP produk saja.

Liat perubahan culture di masyarakat, dan manfaatkan momentum itu.
Nah, mau tau prosesnya yang perlu diperhatikan ketika kita bikin campaign?

Buat kamu yang ingin belajar lebih dalam, bisa ikutan kelas Bootcamp Digital Marketing @myskill_id

Gue rutin ngajar di sana, dan jadi advisornya juga.
See you in the class!

Untuk baca thread tentang #selfdevelopment atau #leadership atau #marketing bisa follow gue @ryandwana

klik link dibawah untuk membaca topik lainnnya!

Jangan lupa klik and share jika merasa ini membantu kalian.

Thank you for reading and sharing!

twitter.com/i/events/14884…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Ryan Dwana

Ryan Dwana Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @RyanDwana

May 6
#selfdevelopment

Sore tadi, lagi merenung sedikit tentang "bersyukur" dan "berambisi" gara2 obrolan sebentar sama nyokap.

Nyokap gue bikin gue berpikir :
Bener gak sih kita harus bersyukur terus setiap waktu?

Kontemplasi sore sebelum long holiday selesai.

A thread.
Btw, tulisan ini adalah pandangan pribadi gue ya, berdasarkan apa yang gue pikirkan dan rasakan.

It can be wrong, dan pemahaman gue pasti akan berubah seiring bertambahnya umur dan pengalaman.

Jadi, baca ini dengan pikiran terbuka dan take it with grain of salt ya :)
Kadang, gue merasa bersyukur itu suka disamain dengan "menerima keadaan"

Ketika menerima keadaan, kita jadi lupa bahwa keadaan kita sekarang itu sifatnya temporary dan bisa dirubah.

Jadi, kalau kita mungkin lagi banyak cobaan dan susah, sebenernya itu bisa berubah.
Read 16 tweets
Apr 26
#selfdevelopment #leadership

Banyak dari kita (termasuk gue) yang kadang suka bertanya :

"Gimana ya caranya biar kita bisa berdampak di kantor/komunitas/lingkungan/dll?"

Kali ini, gue mau share apa POV gue tentang apa artinya "Impactful"

A Thread Image
Disclaimer :
Ini adalah berdasarkan pengalaman gue pribadi, dan bukan satu satunya cara yang benar ya. Jadi masih ada pendapat lain tentang topik ini.

Jadi, jangan ditelan atau dipraktekan mentah2 ya.
Perlu kebijaksanaan juga ya :)
Menurut gue, kadang kita terjebak dalam pemikiran bahwa apa yang kita lakukan itu harus sesuai dengan passion atau purpose kita agar apa yang kita lakukan itu BERDAMPAK dan BERARTI.

Gak salah, tapi kadang orang suka kelupaan step awalnya, yaitu BERGUNA.
Read 27 tweets
Apr 21
#selfdevelopment

Gue pernah bertanya "Kenapa ya gue belum di promosiin di kerjaan?"

Ternyata, karena gue punya mentalitas dan cara pandang yang salah melihat promosi. Dan disitu gue belajar tentang Mentalitas "Be-Do-Have"

A Thread Image
Dalam pekerjaan atau hidup, kadang kita punya mental "entitled", bahwa kita "berhak" untuk punya title atau jabatan.

Setelah punya jabatan itu, baru kita mau kerja extra mile karena kita dibayar lebih.

We think we need to "HAVE" sebelum kita mau melakukan sesuatu.
Setelah kita punya jabatan/posisi/kedudukan nya (HAVE) , baru kita mau menjalankan fungsinya (DO)

Jadi Bos, baru mau lembur.
Jadi Atasan, baru mau pasang badan.
Jadi Leader, baru mau berkorban.

Itu mindset yang gue punya di awal2 karir gue.
Read 13 tweets
Apr 17
#selfdevelopment

3 prinsip penting yang perlu diingat untuk meningkatkan kepercayaan diri kita dalam pekerjaan, hidup, karir, bisnis dan hal lainnya.

A thread. Image
Berproses menjadi lebih baik adalah proses yang harus terjadi seumur hidup.

Dan untuk berproses, diperlukan kepercayaan diri agar kita selalu mau mencoba dan berusaha meskipun gagal.

Masalahnya, gagal itu sakit, memalukan, bikin kita minder dan merasa kalah.
Belum lagi kita suka membanding bandingkan diri dengan apa yang orang lain lakukan.

Padahal, kita gak tau, mungkin mereka udah start duluan dibandingkan kita.

Terus, gimana dong biar kita bisa membangun kepercayaan diri kita?
Read 21 tweets
Apr 5
#selfdevelopment

My number one tips biar productive dan gak nunda2 kerjaan sepanjang hari :

Kerjain satu kerjaan yang paling gak enak banget di pagi hari sebelum memulai kerjaan lainnya.

or, apa yang Brian Tracy bilang "Eat The Frog"

Picture Source : Peopleconnexion.com Image
Terutama masa2 WFH, dimana semua meeting kadang2 bentuknya kaya "sisir", susah banget buat kita bisa punya waktu "me time" untuk kerjain kerjaan kita.

Makanya, gue selalu punya prinsip untuk kerjain apa yang paling gak enak duluan di pagi hari.
Dan, apa yang "gak enak" untuk kita, itu definisinya beda2 ya. Jadi jangan disamain untuk tiap orang.

Buat gue : Bales email, ngeliatin storyboard, administrative stuffs, dan hal kecil lainnya yang bikin gue geregetan.

That's my frog. Buat kalian, mungkin bukan itu.
Read 7 tweets
Apr 4
#selfdevelopment #Leadership

3 pelajaran besar tentang membangun karir yang gue harap gue tau ketika gue membangun karir di umur 20an.

A thread.
Dalam karir dan hidup, gue sangat bersyukur gue dikasih karir yang bagus sama Tuhan.

Gue bersyukur banyak hal baik ataupun buruk yang membentuk pribadi gue.

Dan gue lagi berpikir dan merenung, apa yang kira2 dibutuhkan untuk membangun karir yang baik dan berdampak?
#1 Impact

Dulu gue berpikir bahwa untuk bisa berhasil, kita HANYA butuh title, posisi dan kepintaran.

Makanya di awal2 karir, gue sangat ambisius dalam bekerja dan berkarir, yang bikin gue jadi cepet sakit, kecapean, dsb nya.

Dan ternyata, it's not something that last.
Read 16 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(