Diosetta Profile picture
Sep 10, 2022 789 tweets >60 min read Read on X
JSD - Danan & Cahyo
Part 1 - Omah Kandang Mayit

.. Seharusnya desa itu sudah ditinggal oleh penduduknya, tapi mengapa tiba-tiba ada sebuah bangunan baru di sana?

Anehnya, rumah itu tidak dihuni oleh manusia. Setiap kamar diisi dengan satu jasad perempuan..

#bacahorror Image
Part 1 - Omah Kandang Mayit (Rumah Kandang Jenazah)

Tetesan darah terlihat membasahi jalan desa.
Belum ada yang menyadari bahwa itu adalah darah manusia sampai salah satu warga bersaksi.
Seorang ibu melihat seorang wanita berjalan terhuyung sembari tertawa cekikikan menuju hutan perbatasan desa.
“Minah mas.. Minah mlaku sambil ngguyu, nanging mlakune koyo wong loro,"
(Minah.. Minah jalan sambil tertawa, tapi jalanya seperti orang kesakitan)

Ucap Mbok Mar yang mengaku melihatnya dari jendela paw rumahnya.
Mendengar kesaksian itu beberapa warga memasuki hutan dan mengikuti jejak darah yang terlihat.

Tidak sulit menemukan Minah, jejak darah dan suaranya yang berisik membuat warga dengan cepat menemukanya.
Sayangnya, yang warga temukan bukan Minah yang biasa mereka kenal.
Bukan seorang Minah yang biasa dengan ramah menyapa warga yang berpapasan denganya, melainkan yang mereka temukan adalah sosok seorang perempuan yang tertawa seperti orang gila.

Minah tengah menikmati seekor ayam hitam yang sepertinya sengaja diikat di tempat itu oleh seseorang.
Tanpa belas kasihan, ayam yang sebelumnya masih berusaha melarikan diri itu ia bunuh. Lehernya telah terputus oleh perbuatan Minah sementara darahnya tengah mengalir ke mulut Minah.

“Ojo Minah, uwis.. ayo mulih,”
(Jangan Minah, sudah.. ayo pulang)
larang seorang warga menghentikan perbuatan Minah yang membuat seluruh warga desa yang datang menahan mualnya.

Ada sekitar tiga orang warga yang mencoba membawa Minah kembali, namun Minah terus memberontak sambil terus tertawa seperti orang gila.
Sementara itu berlarilah seorang pria dengan wajah cemas yang dipanggil oleh warga lainya. Dia Mas Musi, suami Minah yang sepertinya baru saja kembali dari tempat kerjanya.

“Minah, kowe kenopo to Nah? Uwis, ayo mulih,” (Minah, kamu kenapa Nah? Sudah, ayo pulang )
Ucapnya sembari tak kuasa menahan air matanya.
Sayangnya Minah tidak menghiraukan ucapan suaminya itu.

ia masih terus berusaha menikmati darah dari ayam hitam yang sepertinya memang khusus disiapkan oleh seseorang untuknya.
Seolah tak ada jalan lain, merekapun memaksa sekuat tenaga mengikat Minah dan membawanya pulang ke rumah Mas Musi.

Sayangnya kejadian menjijikkan di hutan itu membuat mereka lupa tentang asal darah yang menetes dari tubuh Minah.
“Minah wis diincer sosok besar, aku wis ra iso opo-opo”
(Minah sudah diincar oleh sosok besar, saya sudah tidak bisa apa-apa )
Mbah Tumejan terlihat berkeringat setelah keluar dari ruangan dimana Minah diikat.
Selama ini mbah Tumejan merupakan sosok yang paling dipercaya dalam menangani kejadian seperti ini.

“Terus mbah, piye nasipe Minah.. aku ora tego ndelok Minah koyo ngene,”
(Terus mbah, bagaimana nasibnya Minah.. aku tidak tega melihat Minah seperti ini )
Mas Musi masih berusaha memohon pada Mbah Tumejan.
Mbah Tumejan hanya menggeleng, ia berkata jujur pada Mas Musi bahwa ia memang tidak bisa membantu mengenai permasalah ini. Tapi ia akan berusaha mencari cara ataupun seseorang yang mungkin bisa membantu Minah.
Warga desapun hanya bisa pasrah, merekapun meninggalkan Mas Musi bersama Minah yang dipasung dengan mengenaskan di sebuah ruangan di rumah kayu milik Mas Musi di pinggir desa.

"Mas Musi,” seorang warga tiba-tiba mengurunkan niatnya untuk pergi dan kembali sebentar.
"I—iyo mas?”
"Dulu desa ini juga punya orang sakti, yang konon bisa mengalahkan sosok seperti buto,” ucap warga desa itu.

"Ma—maksud masnya?”

"Seandainya dia masih ada, dia pasti bisa menolong Minah..”
"Kalau memang orang itu sudah tidak ada, lantas maksud masnya memberi tahu hal ini apa?” tanya Mas Musi bingung.

Warga desa itu menoleh sebentar memastikan bahwa sudah tidak ada warga lain di dekatnya.
"Orang itu punya seorang anak yang juga diwarisi ilmunya, mungkin dia bisa menolong Minah. Tidak seperti Mbah Tumejan yang pengecut itu,” bisiknya.

Seketika wajah Mas Musi berubah, raut wajahnya seperti menerima harapan baru akan kesembuhan Minah.
"Tolong kasih tahu saya Mas, siapa orang itu...”
Warga itu tersenyum kecil, ia menoleh ke arah salah satu sudut desa.
"Semua warga lama mengenalnya, rumahnya ada di pinggir sawah sedikit terpisah dari desa. Anak dari seorang sinden yang bernama Nyai Kirana..
Ia mewarisi nama keluarga dari ayahnya,

Dananjaya Sambara..”

***
(Sudut pandang Danan..)

Suara pintu digedor berkali-kali sejak tadi pagi.
Akupun merasa sangat terganggu dengan hal itu, tapi orang itu masih tidak ingin pergi.

“Nyai, tolong nyai... Minah benar-benar butuh pertolongan,” ucap orang itu.
Ibu terlihat cemas, namun ibu berusaha tidak menghiraukan ucapan orang itu. tapi tetap saja suara pintu diketok masih terus terdengar.

“Wis to Mas Musi, Danan dudu Bisma.. bocah kuwi durung iso koyo bapake,"
(Sudah to mas musi, Danan bukan Bisma, anak itu belum bisa seperti ayahnya.)ucap Ibu.

“Tapi Nyai, kabeh uwong wis nyerah.. mung Danan harapan kulo sing iso nyelametke Minah,”
(Tapi Nyai, semuanya sudah menyerah, hanya Danan harapan saya yang bisa menyelamatkan Minah.)
balas salah satu warga desa yang bernama Mas Musi itu.

Aku memang sudah mendengar sebelumnya. Tentang Mbak Minah istri Mas Musi yang baru beberapa bulan pindah ke desa.
Mbak Minah sudah beberapa hari dipasung di salah satu ruangan di rumah mereka karena tingkah lakunya yang aneh dan membahayakan nyawanya.
Dari yang kudengar, Mbak Minah tertawa seperti orang kesetanan tanpa henti. Bahkan ia tidak mau makan dan minum selain memakan ayam hidup. Mas Musi dan warga menjadi dilema akan kondisi Mbak Minah.
"Anak saya belum siap mas, sebaiknya kita tunggu Bimo kembali dari perjalananya,” jelas ibu.

"Bagaimana kalau Minah mati duluan sebelum Mas Bimo kembali Nyai...” ucap Mas Musi.
Kali ini terdengar suara isakan tangis dari depan pintu rumah. Aku tidak sanggup lagi mendengarnya dan segera menghampiri ibu.

"Bu, apa kita coba saja?” ucapku ragu.
"Ojo Nan, kowe isih cilik.. iki masalah nyowo, ora mung nyawa Mbak Minah, tapi yo nyowo kowe," (Jangan Nan, kamu masih kecil.. ini masalah nyawa. Tidak hanya nyawa Mbah Minah, tapi nyawa kamu juga )ucap ibu sembari memegang bahuku.
Akupun menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan ibu. Perlahan dengan ragu aku membuka pintu rumah dan keluar untuk duduk di sebelah Mas Musi. la tengah meratap menahan tangisnya berharap ibu dan aku akan berubah pikiran.
"Mas, aku iki dudu sopo-sopo. Ilmuku adoh seko bapak. Opo wae sing terjadi mengko, kuwi atas kuasa Gusti yo..”
(Mas, aku ini bukan siapa-siapa. Ilmuku jauh dari bapak, apa saja yang terjadi nanti, itu semua atas kuasa Tuhan.)
ucapku berusaha menyampaikan
perasaanku pada Mas Musi.

"Mas wis pasrah Le, saya hanya berharap Tuhan menitipkan kesembuhan Minah lewat tanganmu,” ucap Mas Musi.
Ibu melihatku dari sela pintu rumah, ia terlihat menghela nafas dengan wajah yang cemas.
Tapi saat sudah mengerti keputusanku ia membawakan kopi hitam untuk Mas Musi sebelum akhirnya Mas Musi berpamitan.

"Sepulang sekolah besok saya akan mampir mas, biar saya mempersiapkan diri dulu,” ucapku.

Mas Musipun mengangguk dan berterima kasih sebelum berpamitan pergi.
"Kamu yakin le?” tanya ibu.

"Ndak bu, makanya biar Danan mempersiapkan diri dulu,” balasku pada ibu.

Sudah beberapa tahun setelah kepergian bapak, dan selama itu pula aku hampir tidak pernah berurusan dengan sosok-sosok tak kasat mata.
Ibu bersikeras menjagaku agar bisa fokus pada pendidikanku agar bisa lulus dan memenuhi salah satu cita-citaku berkuliah di Jogja.

Ada beberapa tulisan-tulisan yang ditinggalkan oleh bapak. Sudah beberapa kali aku membaca setiap tulisan yang ditinggalkanya.
Tapi alih-alih menulis tentang ajaran ilmu kanuragan, bapak malah memilih untuk menulis wejangan-wejangan untukku.

Itu bukan hal yang buruk, dengan tulisan peninggalan bapak aku jadi lebih bisa menengangkan diri dari rasa kehilangan.
Tapi, apa benar bapak tidak menuliskan sama sekali tentang ilmunya? atau minimal pengalaman spiritualnya?
Sebuah rumah kayu yang cukup besar terlihat di hadapanku. Bukan bangunan baru, Mas Musi membelinya dari warga yang memang sudah tidak tinggal di desa ini.
walau begitu, rumah ini termasuk nyaman untuk ditinggali.
Aku dan beberapa warga masuk ke dalam rumah sementara ada beberapa warga yang berjaga di luar. Ada satu buah kamar utama yang sepertinya cukup besar sepertinya itu adalah kamar untuk Mas Musi dan Mbak Minah.
Tapi.. bukan disitulah Mbak Minah berada saat ini.

“Khekhekhe... Mas, pitikku ngendi? Aku luwe.. khekehekhe"
( Mas, ayamku mana? Aku sudah lapar... khekhekhe)
Terdengar suara seorang wanita yang terus tertawa dari sebuah ruangan yang berbeda,
sayangnya suaranya terdengar sangat lemah. Mas Musi menjelaskan bahwa Mbak Minah hanya mau memakan ayam hidup dan menolak semua makanan yang disuguhkan untuknya.

Pintu kayu di ruangan itupun kubuka..
Ada seorang perempuan yang seharusnya sudah beberapa kali kulihat di desa, tapi wujudnya saat ini hampir tidak dapat kukenali.
Kedua tangan wanita itu terikat dengan rantai pada tiang pondasi rumah.
Tubuh dan wajahnya terlihat kurus dengan beberapa luka di tanganya yang sepertinya ia dapatkan saat berusaha melepaskan diri.

Posisi tubuh Mbak Minah tidak jauh dari kasur yang disediakan oleh Mas Musi,
tapi sepertinya Mbak Minah tidak pernah meniduri kasur yang terkadang menjadi pelampiasan kegilaanya. Ada beberapa bercak darah di sana, entah sudah pernah melakukan hal senekat apa Mbak Minah di sana.

“Ngopo? Ngopo mbok gowo bocah iki?”( Kenapa? Kenapa kamu bawa anak ini?)
Saat menatapku seketika wajah Mbak Minah berubah serius. Matanya menatap tajam ke arahku seolah mengetahui niatku.
Mengetahui respon itu, akupun segera membaca doa untuk melindungi diriku sekaligus memohon keikhlasan dari Yang Maha Pencipta bila aku memang ditakdirkan membantu Mbak Minah.

Entah apa yang memicunya, saat itu juga Mbak Minah mengamuk.
Saat itulah aku samar-samar melihat sosok makhluk yang merasuki Mbak Minah. Ada makhluk hitam berambut panjang dengan wajah yang sudah tidak berbentuk terlihat merasuki dirinya.

Entah mengapa, saat ini kegilaan Mbak Minah semakin menjadi-jadi.
Ia yang tidak berhasil melepaskan diri dari rantai itu akhirnya menggigit lenganya dan mengoyak daging di tubuhnya. Darahpun kembali membasahi tubuh dan baju Mbak Minah yang terus menggila.
Sontak Mas Musi menahan amukanya itu dengan segala cara sementara aku mempersiapkan sebuah doa sambil menggapai kepala Mbak Minah.

Kalimat-kalimat penenang kulafalkan untuk menenangkan sosok roh di dalam tubuh Mbak Minah.
Ada segelas air yang juga sudah kusiapkan untuknya setelah ia mulai tenang.

Mbak Minah terlihat mulai tenang, tapi ada yang aneh dengan wajahnya. Ia mengangkat wajahnya dan menyeringai ke arahku..

“Ngomong opo?” (Ngomong apa?)
Aneh? Doa-doaku sama sekali tidak berpengaruh untuk Mbak Minah. Sebaliknya ia malah balik menantangku.

Keringatpun mulai menetes di pelipisku, rasa ragu mulai datang, namun aku ingat wejangan bapak.
Bukan doa dan ayat-ayat suci yang tidak ampuh untuk menangani masalah, melainkan kesiapan hati kita saat melafalkanya.

Sekali lagi aku menatap sosok di dalam tubuh Mbak Minah dengan segala kesiapanku. Mata Mbak Minah terlihat berubah kembali menjadi amarah.
Tak cukup sampai di situ, seolah berusaha untuk menjatuhkan mentalku ia memanggil sosok-sosok hitam yang saat ini berdiri dan merayap di sudut-sudut ruangan.

Aku menelan ludahku berusaha tetap tegar.
Kata Bapak, selama kita tidak lari dari jalan Yang Maha Pencipta kita tidak perlu takut dengan sosok-sosok seperti makhluk-makhluk itu.

Kali ini doa yang sama kubacakan dengan hati yang lebih siap. Sosok di tubuh Mbak Minahpun mulai merasa tidak nyaman dan meronta-ronta.
Aku meneruskanya dengan lafalan ayat-ayat suci untuk memaksanya keluar dari tubuh Mbak Minah.
Berhasil...

Mbak Minah terkulai lemah di lantai sementara aku melihat sosok wanita kurus hitam berambut panjang terpisah dari tubuh Mbak Minah dan terkapar di lantai.
"Jangan sombong bocah! Aku akan kembali lagi ke tubuh wanita itu!”

Mendengar ancaman itu akupun tersulut oleh emosi. Sebuah amalan api yang pernah diajarkan bapak kulafalkan ke arah makhluk itu dan meMbakarnya.

"A—api apa itu Nak Danan?” tanya Mas Musi bingung.
Mas Musi sudah pasti tidak bisa melihat pertarunganku dengan sosok ini.
"Makhluk yang merasuki Mbak Minah mas, dia masih mengancam untuk merasuki Mbak Minah lagi..” balasku.
Sekali lagi aku membacakan doa yang mampu meMbakar sosok itu hingga suara teriakan kesakitan menggema ke seluruh ruangan.

Seluruh orang yang ada di ruangan itu bergidik ngeri mendengar suara tanpa sumber yang terlihat itu.
Tak berapa lama, akhirnya suara itupun menghilang bersama sosok makhluk yang tadi merasuki Mbak Minah. Tak lama setelahnya, makhluk yang menyaksikan dari sudut-sudut ruangan itupun mulai meninggalkan tempat ini.
Merasa keadaan sudah mulai aman, akupun menutup doaku dan menarik nafas lega.

"Nak Danan..” Mas Musi memanggilku dengan nada suara bergetar, akupun segera menoleh ke arahnya.

"Minah.. Minah kenapa mas?” tanyanya padaku.
Mendengar pertanyaan itu akupun menoleh ke arah Mbak Minah.

Keringatku menetes...

Mbak Minah tidak seperti yang kulihat tadi saat setan itu meninggalkan dirinya.
Mbak Minah tidak lagi terkulai lemas. Saat ini ia terbujur kaku dengan mata yang terus melotot dengan rahang yang terus menganga.

Akupun bergegas memeriksanya. Tidak ada lagi roh yang merasukinya, namun mengapa keadaanya bisa seperti ini.

Seketika akupun panik..
Aku membacakan doa yang kupelajari untuk membersihkan penyakit ke segelas air dan mencoba meminumkanya pada Mbak Minah, namun itu sia-sia.

Tak putus asa, akupun membacakan doa dan beberapa mantra yang seharusnya dapat memulihkan jiwa seseorang tapi itu juga sia-sia.
"Mas.. kenapa bisa begini mas?” tanya Mas Musi.
Aku mengelap keringatku, beberapa warga mulai berbisik-bisik sembari menatap kearah kami.

"Dia membunuh Minah!” terdengar teriakan dari salah satu warga.
Aku menoleh ke arah kumpulan warga itu, namun aku tidak menemukan siapa yang mengatakanya.

"Tidak, Mbak Minah.. Mbak Minah masih hidup” jelasku sembari terus berusaha melakukan sesuatu terhadap Mbak Minah.

Sayangnya teriakan warga tadi membuat Mas Musi Panik.
"Danan? Apa yang sudah kamu lakukan?” Tanya Mas Musi dengan air mata yang menetes.

"Anak kecil sok berurusan sama setan, begini jadinya,” terdengar lagi kata-kata dari beberapa warga yang menyaksikan kejadian ini.
Jantungku berdegup kencang, apa benar ada yang salah dengan perbuatanku.

Satu-persatu tuduhan terdengar dari warga, ada yang mengatakanya secara langsung dan ada yang berbisik-bisik.

Di tengah kebingunganku tiba-tiba muncul seorang bapak dari tengah kerumunan itu.
Dia adalah Pak Jumito , sang kepala desa.
la menarik tubuhku dari dalam ruangan itu dan membawaku keluar.

"Jangan bergunjing, bawa Minah ke rumah sakit sekarang,” perintah Pak Jumito sembari menarikku keluar.
Warga yang berada diluar terheran melihat Pak Jumito yang membawaku dengan wajah yang serius.

“Pak, sa—saya..”

“Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan, saya juga belum bisa menilai apa yang terjadi.. sekarang pulang!” perintah Pak Jumito.

“Ta—tapi pak..”
“Pulang! Renungkan sendiri apa yang sudah kamu lakukan!”

Aku tidak mampu membantah perintah Pak Jumito. Saat itu juga aku meninggalkan rumah itu sembari menahan air mata. T atapan warga yang bingung menghantarkanku sebagai seorang yang gagal dan menimbulkan masalah baru.
“Nan... Danan, ayo keluar dulu”
Terdengar suara ibu mengetuk pintu kamarku. Namun aku tetap terdiam.

“Maafin Danan bu, seharusnya Danan nurut sama ibu.. Danan belum siap,” ucapku sembari meringkuk di salah satu sudut kamar.
Terdengar suara ibu menghela nafas merespon jawabanku.

“Sudah Nan, ingat selalu ucapan Bapak. Selama niatmu baik dan melakukan sebaik yang kamu bisa, Keputusanya tetap di tangan Tuhan. Jangan menghukum dirimu seperti ini,” ucap Ibu.
Aku memikirkan dengan keras perkataan ibu. Namun aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa bersalahku. Entah beberapa kali ibu mencoba memintaku keluar, namun aku tetap tidak mengindahkanya.
“Yowis le, tenangkan dirimu dulu. Selalu ingat, jangan sampai satu kesalahanmu menghalangi tujuan- tujuan baikmu..”

Ibupun meninggalkanku dan membiarkanku menyendiri. Menit demi menit, jam berganti jam kuhabiskan untuk merenungkan perbuatanku dan mencerna ucapan ibu.
Tapi aku sadar, aku tidak bisa terus seperti ini. Setidaknya selama Mbak Minah masih bernafas, aku harus terus mencoba untuk menolongnya.

Aku membuka pintu dengan cepat dan menghampiri ke arah barang-barang peninggalan bapak.

“Nan, kamu nyari apa?” Tanya ibu.
“Barang-barang peninggalan bapak, semua ada di sini atau masih ada yang lain bu?” tanyaku.

"Setahu ibu ada di sana, ibu bantu cari kalau memang ada yang tercecer,” balas ibu tanpa bertanya lebih jauh.
Ada beberapa peninggalan bapak yang kucari.
Mengenai catatan-catatan atau kitab yang mungkin bisa menunjukkan kasus serupa dengan Minah.

Cukup banyak waktu yang kuhabiskan di sudut ruangan dengan membuka lembar demi lembar. Ibu sesekali menoleh ke arahku memastikan keadaanku.
Sudah beberapa kali ia mengganti gelas kosong yang sebelumnya berisi teh panas yang ia buatkan untukku.

Ketemu...
Ada sebuah catatan dari bapak yang menceritakan tentang seseorang yang kesurupan.
Ada beberapa kasus dimana makhluk yang merasuki orang itu hanya kamuflase untuk menyembunyikan bahwa sukma orang itu sudah diambil.

Catatan itu membawaku pada sebuah tirakat untuk mendapatkan petunjuk akan hal ini.

Siapa yang meletakkan Ayam hitam di hutan?
Siapa yang mengambil sukma Mbak Minah?
Dan Siapa sosok besar yang dimaksud Mbah Tumejan?

Semua pertanyaan itu memantapkanku bahwa aku harus menghadapi sosok itu untuk menyelamatkan Mbak Minah.
Pagi itu aku terbangun setelah tanpa sengaja tertidur di ruangan barang-barang bapak. Ada sosok yang harus kucari, semua ini harus kutuntaskan untuk mengakhiri rasa bersalahku.

"Bu, Danan pergi..” teriakku sembari berjalan dengan cepat keluar rumah.

"Kemana le?” balas ibu.
Namun aku tidak menjawabnya, aku sengaja tidak menjawabnya dibanding harus berbohong pada ibu.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba aku berpapasan dengan Pak Jumito dan Mas Musi yang sepertinya menuju ke rumah.

"Danan, mau kemana?” Tanya Pak Jumito.
"Memperbaiki kesalahan saya..” Balasku tanpa memandang matanya sama sekali.

"Jangan nekat, biar kita coba cari jalan keluar untuk permasalahan Minah,” balasnya mencoba menahanku.
“Iya Nan, maafkan saya kemarin terbawa emosi. Salah saya yang terpengaruh oleh seorang warga yang memintaku agar memaksamu,” tambah Mas Musi.

Ada warga yang meminta Mas Musi untuk memintaku menolong Mbak Minah?

Aku menoleh sebentar ke arah Mas musi.
Muncul berbagai pertanyaan di kepalaku saat ini. Tapi.. saat ini akupun mengalihkan pandanganku dan memilih berlari meninggalkan Pak Jumito.

“Danan!”

Aku mengacuhkan teriakan Pak Jumito dan terus berlari mencari apapun petunjuk yang bisa kudapat.
“Pak Tumejan!” teriakku memanggil seseorang yang lebih dulu memeriksa Mbak Minah.

“Danan? Ada apa tiba-tiba?” tanyanya heran sembari menyambutku.

“Sosok besar yang menyerang Mbak Minah.. itu Siapa?” aku berbalik bertanya sembari terengah-engah.
Pak Tumejan menarik nafas, ia berusaha mengerti permasalahanku.

“Jangan salahkan dirimu Danan, semua sudah jalanya..”

"Tidak pak.. siapa sosok itu?” tanyaku memaksa.
Mbah Tumejan menatap mataku, sepertinya ia membaca keadaan saat ini.
seandainya ia tidak mau memberi tahuku, mungkin aku akan mencari tahu cara yang lebih berbahaya untuk mendapatkan nama sosok itu.

"Akan saya katakan.. tapi jangan berbuat nekat,” balas Mbah Tumejan.
Aku mengangguk dengan spontan hanya untuk mendapatkan petunjuk mengenai sosok itu.

"Ada bangunan baru di bekas desa tengah hutan yang sudah di tinggal warganya, sebuah rumah kayu besar. Orang itu akan datang ke sana pada malam- malam tertentu.” Ucap Mbah Tumejan.
"Siapa orang itu pak?” tanyaku.

"Kamu akan tahu saat melihat wajahnya, dia sosok besar yang berpengaruh. Jadi jangan nekat,” balas Mbah Tumejan.

Merasa tidak ada lagi petunjuk yang bisa kudapat akupun berterima kasih dan pamit menuju tempat yang ditunjukkan oleh Mbah Tumejan.
Aku tahu mengenai sebuah desa yang telah lama ditinggal warganya. Tidak ada sumber air di sana, dan ada kejadian-kejadian aneh yang terjadi sebelum warga

memutuskan untuk pergi. Yang membuatku cukup heran, ada yang membangun rumah di sana? Untuk apa?
Aku berlari menerobos hutan, satu demi satu semak dan dedaunan kusibak menuju arah desa itu. Cukup jauh, bahkan aku harus menyebrangi beberapa sungai untuk mencapainya.

Tak lama saat lewat tengah hari, tiba-tiba aku terhenti oleh seseorang yang menghadangku di tengah hutan itu.
“Wis Nan, ojo nekat.."

Aku mengenal pria itu, dia Cahyo atau biasa dipanggil Panjul seorang anak laki-laki seumuranku yang telah dianggap anak sendiri oleh Paklek Bimo.

“Minggir Jul, bukan urusanmu..” balasku sembari terus melewatinya namun tanganya menghadangku.
“Haha.. kamu mau ngapain ke sana? Ini bukan mainan anak-anak”

“Minggir!” perintahku.

“Kalau gak mau?” ucap Cahyo menantang.

“Kamu mau jadi seperti bapakmu kan? Orang Goblok yang nekat?”

Mendengar itu emosiku tersulut.
"Siapa yang kamu bilang Goblok?” Tanyaku memastikan dengan mata mengancam.

"Kurang jelas? Bapakmu!”
Saat itu juga pukulanku mendarat di pipi Cahyo.

"Tidak ada yang boleh menghina Bapak!” teriakku yang segera dibalas dengan pukulan serupa yang mendarat di pipiku.
"Terus kalau bukan Goblok apa? Tolol?” Kata- kata Cahyo kembali membuatku marah.

Aku kembali mengayunkan lenganku untuk memukulnya, tapi kali ini ia menangkisnya dan membalas dengan sebuah tendangan yang membuatku terpukul mundur.
Tak terima dengan seranganya, akupun membalas seranganya lagi dan berhasil mendaratkan beberapa pukulan. Namun ternyata tak sedikit juga luka lebam yang sudah terjiplak di wajahku.
Aku semakin kesal, amarah menguasai tubuhku, kali ini aku tidak peduli dengan siapa yang kulawan.
Kukerahkan semua ilmu beladiriku untuk melawan Cahyo.

Tapi...
Beberapa detik kemudian aku sudah terkapar di tanah tak berdaya dengan pukulanya yang membuatku kembali terjatuh.

"Si—sial!” ucapku mencoba berdiri tapi Cahyo kembali memukulku hingga terkapar lagi.
Akupun menyerah terbaring di tanah sembari kembali mencoba mengatur nafasku. Cahyopun terduduk kelelahan setelah hampir beberapa jam kami bertarung.

"Udah Puas?” tanya Cahyo.

"Sudah.. cukup, nafasku habis,” balasku dengan terengah engah.
Percuma saja, untuk masalah baku hantam ilmu bela diri Cahyo masih lebih baik dariku. lapun mencoba memaksa berdiri dan menghampiriku lagi.
"Bapakmu tuh goblok, bisa-bisanya sendirian menantang maut. Bedanya sama kamu dia punya Paklek yang selalu siap ngebantuin di pertarunganya..” ucap Cahyo.

Mendengar ucapan Cahyo itu aku tidak lagi termakan oleh emosi. Ada benarnya juga ucapan Cahyo barusan.
"Kamu sama saja gobloknya, makanya aku dateng ke sini. Mana bisa aku biarin kamu berbuat bodoh sendirian,” ucap Cahyo sembari menjulurkan tanganya.

Aku tersenyum kecil mendengarnya. di hati kecilku aku merasa senang ada seorang lagi yang khawatir denganku.
Akupun meraih tanganya dan berusaha untuk kembali berdiri.

"Sial, dasar bocah ketek.. mbok ya ngomong aja gak usah pake berantem,” ucapku.

"Lha piye to? Kan kowe sing mukul aku disik?" (Lha gimana sih? Kan kamu yang mukul duluan) balas Cahyo dengan muka kesal.
"Lha tapi kan kamu yang mancing?” balasku.

"Haha.. udah-udah, toh kalau kamu masih kebakar emosi apa kamu mau dengerin omonganku?” ucap Cahyo.
Benar juga, mungkin jika aku tidak kelelahan dan tidak melampiaskan kekesalanku, mungkin aku tidak akan bisa berpikir jernih seperti sekarang.

"lya juga, matur nuwun yo..” ucapku sembari membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di bajuku hasil pertarungan tadi.
"Nggak usah dipikirin, yang penting kalau kamu masih niat ke desa itu kita harus benar-benar bersiap- siap,” ucap Cahyo.
"Iya Jul, kamu sendiri gimana? Setahuku kamu tidak sepertiku, mata batinmu dibuka dengan bantuan paklek.. kamu yakin mau menghadapi sosok-sosok di sana?”tanyaku.

Cahyo menoleh ke arahku sembari melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kamu lupa? Siapa barusan tadi masih terkapar di tanah?” ucapnya sombong.

Akupun menggaruk kepalaku sembari menahan malu atas kekalahanku tadi. Cahyo memang kuat, tapi yang terpenting adalah keberadaanya bisa mengingatkanku apabila mencoba bertindak bodoh lagi.

***
Langit yang memerah menyambut kedatangan kami di sebuah desa yang lebih pantas disebut dengan sekumpulan puing. Hampir semua rumah-rumah kayu disini telah hancur menyisakan kayu-kayu yang berlumut.

Tapi...
Ada satu rumah di sana, sebuah rumah besar dan mewah yang berdiri tegap diantara puing-puing bangunan lainya. Ada beberapa bangunan di sampingnya yang juga menempel ke rumah ini.

"Itu istana nan? Gueede banget..” tanya Cahyo.
"Mbuh, pokoknya hati-hati. Aku sudah merasa nggak enak semenjak tiba di desa ini,” jawabku.

Aku memperhatikan Cahyo, sepertinya tanpa kukatakanpun ia sudah merasa jauh tidak nyaman. Beberapa kali ia menutup hidungnya dengan sarung yang selalu ia bawa.
"Bau bangkai nan, samar-samar.. aku nggak yakin, tapi ini bukan bau bangkai hewan,” ucap Cahyo.

Aku semakin waspada mendengar ucapan Cahyo, namun aku masih belum mengerti . Kamipun memutuskan untuk mendekat ke rumah itu dengan mengendap-ngendap.
Besar.. sangat besar. Rumah yang kami lihat dari jauh cukup mencolok ternyata memiliki halaman yang luas dan bangunan yang besarnya tidak biasa.

"ini bukan rumah biasa nan,” ucap Cahyo. "Lebih mirip sebuah puri seperti di keraton- keraton gitu ya?”
"iya nan, hati-hati.. kita intip dulu”
Kami memastikan kondisi rumah itu. Sepi, tidak terdengar suara orang dari luar. Tapi dari satu sisi rumah kami melihat sebuah mobil yang terparkir di dalam.

"Ada orang, perasaanku nggak enak,” ucap
Cahyo.
"Memang harus ada orang. Kalau tidak, akan sia-sia kita ke sini,” ucapku.

Kamipun menemukan celah untuk masuk melalui salah satu jendela menuju ke sebuah kamar. Ada bau dupa dan kemenyan yang menyengat di ruangan itu.
Dengan mudah kami menemukan asal bau itu di bawah ranjang rapuh, sebuah nampan yang berisi kembang sesaji,kemenyan, dan dupa yang baru saja habis.
Dari celah pintu kamar kami mengintip mencari tahu isi bangunan ini sekaligus mengecek keadaan.
tidak ada tanda-tanda manusia di luar ruangan ini dan kamipun memutuskan untuk keluar.

Sialnya setiap sudut ruangan ini terasa aneh. Ada berbagai benda-benda pajangan dari tulang hewan maupun benda antik yang terkesan tidak wajar.
Cahyo berjalan ke salah satu kamar mengikuti penciumanya. Ketika membuka pintu kamar, seketika wajahnya berubah drastis.

"Bajingan..” gumam Cahyo.

Akupun menyusulnya dan seketika melihat apa yang membuat Cahyo mengumpat seperti itu.
Sebuah kamar, persis dengan kamar tempat kami masuk tadi. Bau kemenyan dan sesajen yang sama namun ada sosok yang terbaring di kasur.

"Itu mayat?” tanyaku heran.

"Nggak mungkin kondisi begitu masih hidup kan Nan?” balas Cahyo.
Kami mendekat, ada sesosok jasad perempuan yang hampir membusuk. Seharusnya baunya sudah menyengat, namun jasad ini sepertinya dirawat dengan wewangian rempah-rempah dan kemenyan yang di bakar di bawah ranjang khusus itu.
Banyak dugaan yang kami pikirkan tapi kami tidak banyak berbicara dan terus menyusuri kamar lainya.

Dan benar.. yang kami takutkan terjadi, banyak jasad perempuan dengan kondisi serupa di beberapa kamar lainya.

"Menurutmu.. ini apa Jul? Tumbal?” tanyaku.
Cahyo menggeleng, "Nggak tahu Nan, baru kali ini aku melihat ada tumbal diperlakukan seperti ini.”

Di tengah rasa bingung kami, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka dari salah satu kamar.

Terdengar langkah kaki dari beberapa orang yang keluar dari sana.
“Wis tenang wae, kabeh wis tak atur. Sing juragan minta ora suwi meneh..” ucap orang itu.

Aku memperhatikan sosok orang yang berbicara itu dan wajahnya tidak asing. Dia.. dia adalah salah satu warga desa.
Salah satu orang yang ikut datang di rumah Mas Musi saat aku mencoba menolong Mbak Minah.

"Jul, orang itu..” aku mencoba berbisik, tapi Cahyo malah menahan mulutku sembari memberi kode untuk diam.
Tapi.. kejadian mengerikan terpampang di hadapan kami.
Kakek itu merespon ucapan pemuda itu dengan mencengkeram mukanya dan mengambil paksa bola mata pemuda itu dari tempatnya.

“Goblok! kowe wis ngerti masalahe nek geleme Raden boten keturutan,” 16 balas seorang kakek berbaju jawa yang keluar dari ruangan yang sama.
"Ampun Mbah! Ampun..” balas pemuda itu memohon. Sepertinya ia tidak menyangka dukun itu akan bereaksi seperti itu.

Namun dengan ajaib, bola mata itu dikembalikan ke tempatnya di rongga mata pemuda itu.
pemuda itupun memastikan ia bisa melihat kembali seperti biasa walau masih ada sisa darah di pipinya.

“Maturnuwun mbah! Kulo.. kulo boten niat nguciwani Raden..”17 Balas pemuda itu sembari terburu- buru meninggalkan rumah.
Kakek itu menutup kembali pintu itu tepat setelah pemuda itu pergi. la berjalan perlahan menuju ke ruangan tempat ia muncul.
Kami berusaha menyembunyikan keberadaan kami.
Namun seolah merasakan sesuatu tiba-tiba kakek itu berhenti dan menoleh ke arah kamar tempat kami bersembunyi.

Deru nafas kami semakin cepat seirama dengan detakan jantung kami. Apa yang harus kami lakukan bila kakek itu menghampiri kami? bertarung?
Tidak..
kakek itu bukan kakek-kakek biasa, ada sosok besar tak kasat mata yang melindunginya.

Mencabut bola mata dan mengembalikanya seolah tidak terjadi apa-apa, itu jelas bukan ilmu biasa.
Suara langkah kakek itu semakin mendekat.
Cahyo menahan mulutku dengan lebih erat. Namun tepat sebelum kakek itu sampai ke pintu kamar ini tiba-tiba terdengar suara dari salah satu kamar yang terletak di ujung.

“Brakk!!” “Prangg”

Suara benda terlempar seolah ada seeorang yang memberontak di sana.
Terdengar langkah kaki dukun itupun menjauh. Kami mengintip dan memastikanya.

Suara pintu didobrak dengan kasar. Terdengar suara pukulan beberapa kali, namun anehnya tidak ada suara teriakan dari ruangan itu.
"Soyo suwe sampeyan terus bertahan, soyo suwe sampeyan bakal nandhang sangsara,"

(Semakin lama kamu bertahan, semakin lama kamu menderita) Ucap kakek itu yang kembali meninggalkan ruangan itu dan berjalan ke tempat dari mana ia datang.
Setelah memastikan kakek itu pergi kamipun berjalan dengan berhati-hati menuju ruangan kamar yang disambangi kakek tadi.

Kami membuka perlahan pintu itu dan mengintip, dan memang ada seseorang di sana.
Seorang kakek terbaring lemah terikat di bawah dengan berbagai luka di sekujur tubuhnya. Dan satu lagi yang membuatku meringis.

Mulut kakek itu dijahit dengan tali hitam dengan sembarangan. Sisa darah masih tersisa di bibirnya.
"Kek.. kakek!” aku mencoba membangunkanya, namun sepertinya tenaganya masih terlalu lemah.

Aku mencoba mencari beberapa benda tajam dan menemukan beberapa pecahan kaca. Dengan sigap aku membuka ikatan di tangan dan kaki kakek itu.
"Nan, kamu serius mau menolong kakek ini? kalau ternyata dia juga orang jahat gimana?” Tanya Cahyo Ragu.

"Kakek ini manusia Cahyo.. walaupun dia orang jahat, belum tentu juga dia pantas diperlakukan seperti ini,” balasku sembari terus melepas ikatan kakek itu.
Aku melihat , kakek itu sempat menatap memperhatikan kami beberapa kali.

Cahyo dengan mudah menerima pendapatku, ia mencari ke beberapa ruangan dan berhasil menemukan sebuah gunting yang sudah berkarat.
"Harusnya ini bisa membantu Nan,” ucap Cahyo sembari menyerahkan gunting itu.

"Ngapunten yo kek, saya akan coba sehati-hati mungkin..” ucapku sembari perlahan menggunting jahitan di bibirnya.

"Sudah kek, ini saya bawa minum..” ucapku sembari membantunya meminum air yang kubawa.
la meringis kesakitan dengan luka di bibirnya, namun sepertinya rasa haus kakek itu lebih menyiksa dibanding lukanya.

"Kek sebenarnya apa yang terjadi di tempat ini?” tanya Cahyo penasaran.

Kakek itu menatap kami berdua, namun tidak berkata sepatah katapun.
"Ngapunten kek, nama saya Danan dan teman saya ini Cahyo. Kami ingin membantu warga desa kami yang sepertinya berhubungan dengan seseorang di tempat ini,” jelasku sembari sesopan mungkin memperkenalkan diri.

Sayangnya, kakek itu tetap tidak mau bicara.
Kami mencoba mengerti, mungkin rasa sakit di mulutnya membuatnya menahan untuk bicara.

"Ayo nan, kita bawa kakek ini ke tempat yang aman dulu,” perintah Cahyo.

Aku mengangguk dan bersiap membantu kakek itu berdiri.
Anehnya kakek itu malah menggenggam tangan kami seolah menolak untuk diselamatkan.

“pangestu kawula dhumateng panjenengan sedaya ingkang nindakaken karsa ingkang sae, mboten wonten ilmu hitam ingkang ngalang-alangi panjenengan kekalih"
(Restuku kuberikan untuk kalian yang berniat baik, tidak ada ilmu hitam yang akan menghalangi kalian berdua)

Sebuah kalimat dengan suara yang berat terdengar dari mulut kakek itu.
Seperti sebuah restu dari seorang sesepuh, namun entah mengapa aku merasakan kekuatan aneh dari kata-kata itu.

“Kek..” Cahyo menyadari keanehan dari kakek itu.
Akupun segera menyadari setelahnya.
Tepat setelah mengucapkan kalimat itu kakek tertunduk menjatuhkan kepalanya sembari terduduk.

“Nafasnya... nafasnya ilang,” ucapku panik.
Aku dan Cahyo menyentuh tubuhnya yang mendingin.
Beberapa kali aku membacakan mantra penyembuh yang pernah kupelajari dari bapak namun sepertinya tidak berhasil.

“Tenang Nan, tenang..” ucap Cahyo yang berusaha menenangkanku walau aku tahu juga panik.
Kami mencoba beberapa cara untuk mengembalikan nafasnya baik secara medis maupun dengan mantra yang kami tahu. Sayangnya itu tidak berhasil.

Kamipun berniat membawa tubuhnya pergi dan membawanya ke rumah sakit,
tapi tiba-tiba kami berdua merasakan sesuatu dari dalam tubuh kakek itu. entah apa itu, tapi itu seolah pertanda bahwa kakek itu belum mati.

"Gimana Nan?” tanya Cahyo memastikan keputusanku.
Aku menggeleng tidak mampu membuat keputusan, namun aku mengingat tentang kondisi Mbak Minah dan seseorang mengerikan yang menjadi dalang kejadian ini.
"Aku merasa dia bukan kakek biasa, semoga saja kita bisa menyelamatkan dia setelah mencari tahu dalang atas semua ini,” ucapku.
Cahyopun mengerti. Kami berpamitan kepada kakek itu sembari meletakkan air minumku di sebelahnya bila saja kakek itu tersadar.

Dengan berhati-hati kami mengintip isi ruangan yang dimasuki dukun tadi. Tapi, tidak ada seorangpun di ruangan itu.
Setelah memastikan ruangan itu kosong, kamipun memutuskan untuk masuk dan dengan segera kami langsung mengetahui kemana dukun itu pergi.

"Pintu ke ruangan bawah tanah? Aku pikir hal beginian Cuma ada di film-film aja nan,” ucap Cahyo.
"Lha iya, ngeri yo.. tapi kok aku penasaran,”
balasku.

Kami melanjutkan perjalanan kami dengan hati- hati. Tepat saat menuruni tangga kami terkagum dengan apa yang berada di bawah. Sepertinya bangunan di bawah tanah ini sudah ada sebelum rumah ini dibangun.
Ada beberapa ruangan menyerupai goa namun sudah direnovasi dengan dinding. Ada jalan yang menuju ke ruangan-ruangan lain pula. Sepertinya tempat di bawah tanah ini bahkan lebih besar dari luas rumahnya sendiri.
Tidak seperti di atas, di bawah terdengar beberapa suara orang-orang yang beraktifitas. Kami berjalan berhati-hati mencari sumber-sumber suara itu.

Ada seseorang yang berjalan melintas. Seorang ibu dengan kebaya jawa dengan rambut yang disanggul.
Ia berjalan terburu-buru ke suatu tempat dengan membawa peralatan.

“Cepet, Raden wis ngenteni...’ (Cepat , raden sudah menunggu) ucap seseorang yang ternyata merupakan dukun tadi.
“lyo, iki wis karik sitik.. “ (Iya, ini sudah tinggal sedikit) balas ibu itu.
Mereka berduapun berjalan menuju sebuah ruangan. Terdengar beberapak kali siraman air dari ruangan itu. Sang dukun menunggu dengan cemas di depanya. Aku sungguh penasaran dengan apa yang ada di sana.
Seolah tidak sanggup menahan sabar, Dukun itupun pergi meninggalkan tempat itu entah ke mana. Kesempatan itu kami gunakan untuk mencari tahu ada apa di ruangan itu.

Terlihat Ibu itu sedang merias seseorang perempuan.
Sepertinya suara air tadi adalah suara ibu itu memandikan perempuan itu. Wanita itu terlihat cantik, tapi.. ada yang aneh.

Tangan Cahyo terlihat mengepal seolah menahan emosi. Aku berniat menanyakan apa yang terjadi, namun terdengar langkah dukun itu yang mendekat kembali.
“Uwis?" (sudah?) tanya dukun itu.

Ibu itu mengangguk. Mereka berduapun saling membantu membawa perempuan itu dengan menidurkanya di tandu bambu dan membawa ke sebuah ruangan.

"Tu..tunggu, perempuan itu..” aku berbisik memastikan ke Cahyo.

"lya nan.. itu mayat,” Jawab Cahyo.
Aku tidak habis pikir, untuk apa ada jasad perempuan didandani secantik itu dan dibawa ke sebuah ruangan. Semoga saja yang kubayangkan salah.

"Kapan perempuan di desa itu siap?” ucap seseorang yang berada di ruangan ujung.
Suaranya terdengar berwibawa, sang dukun dan ibu yang membawa mayat itu terlihat patuh padanya.

"Sebentar lagi Raden, tidak akan lama..” ucapnya.

"Aku tahu kalian tidak akan mengecewakanku,” balas seseorang yang dipanggil raden itu.
Tapi, terdengar nada ancaman dari kalimat yang diucapkanya.

Setelah cukup lama berada di ruangan, dukun dan ibu itu keluar sembari menghela nafas. Mereka saling bertatap sebentar dan segera berpisah seolah sudah memiliki kesibukanya masing-masing.
Dengan berhati-hati kami mendekat ke ruangan itu. Pintunya tertutup rapat, tidak ada sedikitpun celah untuk kami mengintip.

Tak putus asa, kamipun memanjat bebatuan yang membentuk ruangan itu dan mencoba menggapai lubang udara untuk memperhatikan apa yang ada di dalam ruangan.
Aku.. aku dan Cahyo tertegun menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Sekuat tenaga aku menahan mual dengan pemandangan di sana.

Gila.. orang itu sudah gila. Saat melihat ke dalam sosok jasad yang sudah didandani dengan cantik tadi sudah berantakan tanpa busana.
Dan sosok yang dipanggil ‘Raden’ tadi dengan buasnya menyetubuhi jasad itu.

Nafasku berderu cepat, aku tidak mampu lagi melihat pemandangan menjijikkan itu.
sayangya tepat saat kami menoleh tiba-tiba terlihat sesosok pocong yang tergantung terbalik di langit-langit memergoki kebaradaan kami.

Braak!!!

Seketika kami terjatuh. Suara Raden dari dalam ruanganpun terhenti. la menyadari keberadaan kami.
“Mbah!!” teriak Raden dari dalam ruangan.

Terdengar seseorang bergegas berlari , namun kami segera bersembunyi di salah satu ruangan terdekat.

“Kalian tahu kan apa yang harus diperbuat pada mereka?” perintah Raden dari dalam ruangan.

"I—iya raden,” balas dukun itu.
lapun mengambil keris dari ikatan belakang pinggangnya. Ada beberapa mantra yang ia baca di hadapan kerisnya. Pocong yang tadi memergoki kami seolah bergetar.

Sayangnya tak hanya satu..
Perlahan satu-persatu muncul makhluk serupa dari berbagai sudut di ruangan ini.
"Lari! Lari sebelum kita terkepung!” teriak Cahyo menarik tanganku.

Kami berlari ke arah tangga tempat kami masuk, namun ibu yang memandikan mayat tadi sudah berada di sana dengan membawa sebilah pisau. Kamipun berlari mencari arah lain.
"Ada tangga di sana!” ucapku yang melihat sebuah jalan yang menuju ke sebuah lubang ke atas.

Kami berlari ke sana sembari membaca doa hingga akhirnya kami tiba di luar. Sayangnya semua tidak seperti yang kami harapkan. Kami muncul di sebuah pemakaman.
Lubang tadi berada di salah satu makam yang dihiasi dengan sebuah nisan.

"Kuburan? Ada kuburan di tengah hutan ini?” tanya Cahyo.

"Nggak, ini kuburan baru. Bisa jadi ini adalah kuburan mayat yang sudah tidak berguna lagi,” balasku.
Aku menduga seperti itu dikarenakan tidak ada nama di seluruh nisan yang berada di pemakaman ini.

“Kowe wis ndelok opo sing ra seharuse kowe ndelok,” (Kalian sudah melihat apa yang tidak seharusnya kalian lihat) tiba-tiba terdengar suara dukun itu dari salah satu sudut hutan.
"Kalian lah yang gila! Apa yang kalian lakukan terhadap mayat-mayat itu dosa besar,” teriakku.

“Dudu urusanmu,” balas dukun itu.

Aku menoleh ke arah suara itu, namun tepat dihadapanku seketika muncul sosok jasad perempuan dengan wajah yang sudah hancur.
Tubuhnya sudah membusuk dengan belatung yang sudah menggerogoti tubuhnya.

Spontan aku melangkah mundur, namun di sisi belakangku tertahan mayat lain yang juga bernasip sama. Aku tidak ingin membayangkan bahwa ini adalah jasad korban nafsu biadab Raden itu.
"Jadi kau ingin menjadikan Mbak Minah seperti mereka?” Teriakku kesal.

Dukun itu hanya tersenyum tipis seolah meremehkan kami.

Saat itu juga aku membacakan sebuah doa dan ayat-ayat suci. Aku yakin hal ini bisa melepaskan ikatan jasad itu dengan dukun itu.
Benar saja, jasad itu kembali terkulai di tanah. Cahyopun berlari mendekat ke arah dukun itu.

seolah bersiap, dukun itu membacakan mantra dan melemparkan benda ke cawan kuningan yang ia bawa dengan kemenyan terbakar di dalamnya.
Saat itu tiba-tiba ada sesuatu yang menarik kaki Cahyo hingga terseret menjauh. Aku menangkap tangan Cahyo, dan dengan membacakan beberapa ajian Cahyo berhasil melepaskan dirinya dari makhluk yang menariknya.

“Khekehkehe... kalian berguru rupanya,” ucap dukun itu.
Dukun itu tertawa, apa dia yakin ilmunya lebih hebat daripada kami?

“Apa dukun yang menjadi gurumu mengajarkan kalian menghadapi mereka.kehkehkehe,” ledek dukun itu.
Seketika seluruh hutan di sekitar kami dipenuhi sosok mayat perempuan yang berdiri diatas makamnya masing-masing. Mereka menatap kami dengan wajah yang telah membusuk seolah menaruh dendam kepada kami.
"Nan, kapan terakhir kali kamu berurusan sama beginian?” Tanya Cahyo yang terlihat gentar.

"Waktu masih kecil, pas masih ada bapak..
kamu?”

"Sama.. terus ini kita gimana?
Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Belum pernah aku bertarung melawan ilmu hitam sekuat ini tanpa keberadaan bapak atau paklek.

"Ki—kita lari saja gimana?” ajakku.

Cahyo terlihat mempertimbangkan usulanku, tapi sepertinya itupun tidak akan mudah.
Sekuat tenaga kami berlari meninggalkan pekuburan itu. namun entah bagaimana tiba-tiba mayat itu selalu menghadang di hadapan kami.

“Kehkehkehkeh...” suara dukun itu terdengar menggema di hutan seolah meledek kami.

Mungkin memang aku yang bodoh.
Apa yang bisa dilakukan oleh dua bocah SMA seperti kami melawan kekuatan hitam kelompok mereka. Harusnya saat melihat mayat di kamar tadi kami langsung melarikan diri meminta bantuan.

Nafas kami sudah mulai habis mencoba melarikan diri.
Langkah kami semakin lambat dan sosok mayat-mayat itu kembali mengerubungi kami.

“Kehkehe.. mayat wanita itu jatah raden, tapi mayat kalian sudah pasti menjadi jatahku. Kekehkehkehke... ” ucap dukun itu.

Keringat dingin mengucur di tengkukku.
Jantungku berdegap kencang membayangkan apa yang terjadi pada kami saat melawan mereka.
Namun di tengah keputus asaan kami, tiba-tiba dari jauh terlihat sesosok kakek yang wajahnya tidak asing.

"Lawan mereka, kalian sudah mendapatkan restuku..” ucap kakek itu.
Aku menepuk pundak Cahyo dan menunjuk ke arah kakek itu.

"I—itu kakek aneh tadi?” tanya Cahyo.

Aku mengangguk..

"Ta—tapi kek, ilmu kami masih jauh dari dukun itu,” balasku.

Cahyo menengok heran ke arahku.

"Kakek itu ngomong?” Tanya Cahyo.
"lya , masa kamu nggak denger? Suaranya sekeras itu..” ucapku namun Cahyo hanya menggeleng.

"Aku berbicara dengan perantara pusaka di tubuhmu.. mulutku tidak boleh terbuka, ada sebuah berkah ataupun kutukan yang ada padaku,” ucapnya.

"Maksud Kakek apa?” tanyaku lagi.
"Kalian berkomunikasi?” tanya Cahyo.

Aku mengangguk sembari menahan pertanyaan Cahyo. Ada sesuatu yang ingin disampaikan kakek itu sebelum akhirnya ia menghilang.

Setelahnya aku tersenyum.
Entah harus percaya dengan ucapan kakek itu atau tidak, namun sepertinya kami tidak punya pilihan lain.

“Idu geni sabdo dadi ...pernah dengan kata-kata itu?” tanyaku pada Cahyo.

"Pernah, terus hubunganya apa?”

Kini aku tahu mengapa mulut kakek itu dijahit oleh dukun itu.
"Kakek itu memiliki kutukan mengerikan, dimana setiap kata yang ia ucapkan pasti menjadi kenyataan,” jelasku.

"Maksudmu?”

“Tadi bukanya kakek itu sudah memberi restu dan mengatakan tidak ada kekuatan hitam yang bisa menghalangi niat baik kita berdua?” balasku.
Cahyo mengerti dan mulai tersenyum.

“Hahaha... terus kamu percaya?” balas Cahyo yang mulai memasang kuda-kudanya.

“Nggak tahu, toh kita nggak punya pilihan.. anggap saja restu kakek itu sebagai penyemangat kita.”
Sebenarnya bukan hanya ucapan kakek itu saja yang membuatku semangat. Tapi perubahan wajah dukun itu yang membuatku semakin percaya diri.

la terlihat tegang saat mengetahui keberadaan kakek itu dan mendengar apa yang disampaikan pada kami.

***
(Bersambung Part 2)
Terima kasih sudah mengikuti part ini hingga selesai, mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau bagian yang menyinggung ya..

seperti biasa buat teman2 yang ingin baca kelanjutanya duluan atau sekedar support bisa mampir ke @karyakarsa_id ya..

karyakarsa.com/diosetta69/par…
JSD - Danan & Cahyo
Part 2 - Omah Kandang Mayit (2)

Siapa sosok Raden yg memerintahkan dukun dan salah seorang warga desa untuk mengumpulkan Jenazah di rumah ini.
Terlebih Danan & Cahyo yang masih anak SMA harus berhadapan dengan sosok mengerikan pengabdi Raden itu.

#bacahorror Image
Langit yang semakin gelap membuat hutan ini semakin menunjukkan kengerianya. Ditambah lagi sosok mayat-mayat perempuan yang tiba-tiba muncul dalam kendali dukun itu kini mengincar kami dari segala sisi hutan.
“Roh pemilik mayat-mayat ini pasti sudah mati, dukun itu pasti mengisinya dengan makhluk-makhluk pengikutnya,” Jelasku pada Cahyo.

“Bener, bisa jadi isinya makhluk sejenis pocong yang di bawah tadi,” balas Cahyo.
Seandainya kami menyingkirkan rasa jijik dan kengerian dari sosok mayat-mayat ini, seharusnya kami tidak perlu takut dengan mereka.

“Minggir dulu Nan, mayat-mayat itu biar urusanku,” ucap Cahyo semberi memintaku menyingkir.
Aku menoleh dan bersiap memberikan jalan untuknya. Namun seketika aku terkaget dengan wujud Cahyo saat ini.

“Lah, kita nggak lagi main ninja-ninjaan Jul!” Ucapku sembari tertawa melihat wujud Cahyo yang tengah mengenakan sarungnya hingga ke wajahnya.
“Ojo ngono, iki penting lho..(Jangan begitu, Ini penting lho), ini tekhnik untuk menghindari belatung-belatung yang keluar dari tubuh busuk mayat itu” Balas Cahyo.

“Ealah… Seorang Cahyo takut sama belatung,” ledekku sembari mulai menjauh.
Iapun hanya memelototiku seolah memintaku untuk berhenti meledeknya.

Tapi.. selain dari sarungnya, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Aku merasakan beberapa bagian tubuhnya diselimuti sesuatu yang kuat.
“Wanasura…” ucap Cahyo berbisik.
Tiba-tiba Cahyo menghentakkan kakinya ke tanah dan menerjang begitu cepat. Dengan beberapa gerakan Cahyo berhasil menendang mayat-mayat yang menghalangi kami hingga terkapar ke tanah.
Aku tidak melewatkan kesempatan itu, ada satu mantra yang sering digunakan Bapak setiap bertarung yang diturunkan kepadaku. Sebuah mantra penyambung ayat suci yang mengalun bagaikan puisi.. Gambuh Rumekso.
Raga yang telah membusuk itu menikmati angin yang terpanggil dengan mantraku, namun sosok yang merasuki jasad itu tersiksa dengan setiap ayat suci yang kubacakan.
Wajah dukun itupun terlihat kesal. Dengan serangan balik kami, ia terancam tidak dapat menggunakan jasad-jasad ini lagi sebagai senjatanya. Ayat-ayat suci yang kulantunkan bertujuan untuk menyempurnakan kematian jasad-jasad ini.
“Bocah-bocah brengsek, kalian terlalu berbahaya bila dibiarkan pergi,” balas dukun itu.

Sekali lagi sesuatu dilemparkan ke cawan kuninganya dan menimbulkan percikan api dan bau kemenyan yang semakin menyengat.
Kini seketika tubuh kami berdua merasa gatal. Gatal yang teramat sangat sampai kami ingin menggaruknya dengan sekuat tenaga hingga terluka.

“Nan, opo iki Nan?” (Nan, Apa ini Nan?) Tanya Cahyo Panik.

“Tenang Jul, tenang dulu..” Balasku sembari berusaha membaca situasi.
Dukun itu tersenyum mengetahui seranganya berhasil menahan kami. Iapun menarik keris dari pinggangnya seolah bersiap untuk menikam kami.

Beruntung Paklek pernah mengajarkan beberapa mantra untuk memulihkan teluh seperti ini. aku mengambil segenggam tanah dan membacakan doa.
Dengan sedikit olesan tanah itu gatal disekujur tubuhku dan Cahyopun berhasil mereda.

“Cih…” mengetahui siasatnya gagal, dukun itupun membatalkan seranganya.

Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, kamipun segera berlari menerjang dukun itu.
Tapi sepertinya dukun itu tidak bodoh, ia membaca situasi dan memilih untuk mundur menghilang dibalik kegelapan hutan.
“Dia kabur?” tanyaku pada Cahyo.
Cahyo memanjat salah satu pohon yang cukup besar,
tapi gelapnya hutan tanpa penerangan saat itu membuatnya tidak mampu menemukan sosok dukun itu.
“Nggak ada nan, nggak ketemu.. “ balas Cahyo.
“Ya udah turun Jul, kita urusin dulu jasad-jasad ini,” ucapku.
Cahyopun turun dan melihat jasad-jasad perempuan yang bergelimpangan di sekitar kuburan.
“Mau kamu apain nan? Nggak mungkin nguburin satu-satu kan?” tanya Cahyo.
“Lha, terus gimana? Ngebiarin jasad mereka di sini?”
“Kita kuburin, tapi nanti... minta bantuan warga desa juga..”
Kali ini aku setuju dengan ucapan Cahyo. Akupun segera beranjak dan pergi menuju lubang kuburan tempat kami masuk tadi.
“Heh.. heh… mau kemana lagi nan? Kamu gak bermaksud balik ke rumah itu lagi kan?” teriak Cahyo.
“Kita harus balik lagi Jul.. “ balasku.
“Edan kowe! (Gila Kamu!) Nggak mungkin kita bisa melawan mereka. Belum lagi yang dipanggil Raden itu pasti juga punya pegangan,” Tolak Cahyo.
Aku terdiam sejenak, memang berbahaya bila kembali ke tempat itu. Tapi tujuanku sama sekali belum tercapai.
“Tenang Jul, aku cuma ingin mencari sesuatu. Daripada beresiko, lebih baik kamu bantu memanggil warga desa kesini,” ucapku.
“Ninggalin kamu gitu? Nggak nggak… udah cepetan mau ngapain? Tak temenin” balas Cahyo.
Kamipun memutuskan kembali masuk ke dalam, namun Cahyo memberi usul untuk masuk mengendap melalui desa tadi lagi. Pasalnya lokasi kami keluar kami tadi pasti sudah diwaspadai oleh mereka yang di dalam.
Cukup lama kami menemukan jalan kembali ke arah desa mati tadi.
Kami mengintip dan menemukan mobil yang kami lihat tadi masih berada di tempatnya. Ini menandakan Raden masih berada di tempat ini.
Kali ini kami lebih berhati-hati memasuki setiap ruangan. Ada sesuatu yang kucari, seharusnya ada di salah satu kamar di bangunan ini.
“Kamu nyari apa to nan?” tanya Cahyo bingung.
“Kamu inget kamar mana saja yang tidak ada jenazahnya?” Aku bertanya balik.
“Iya nan, dari baunya juga ketahuan mana kamar yang ada mayatnya,” balas Cahyo.
“Kita periksa kamar yang masih kosong,” ucapku sembari meminta Cahyo menunjukkan kamar yang masih kosong.
Aku memasuki kamar sementara Cahyo berjaga di pintu. Di bawah kasur ada sebuah nampan yang diisi sesajen tumpukan bunga dan kemenyan yang di bakar.
Aku membongkarnya dan menemukan apa yang kucari.
“Opo kuwi?” (Apa itu?)Tanya Cahyo bingung.

Aku menunjukkan pada Cahyo sebuah benda yang di bungkus kain kafan seukuran dua jari. Di dalamnya berisi gumpalan rambut, dan kertas bertuliskan mantra jawa yang ditetesi darah.
Aku menduga ini adalah rambut dan darah dari calon korban mereka.

“Jika dugaanku benar, benda ini yang mereka gunakan untuk menyandera sukma Mbak Minah dan korban lainya,” jelasku pada Cahyo.

“Berarti kita sudah bisa pergi?” Cahyo memastikan.
“Belum, kita nggak tahu punya Mbak Minah yang mana. Kita bongkar semua sesajen di kamar yang kosong dulu,” ucapku.
Secepat mungkin kami menyelesaikan mengelilingi bangunan ini dan mengumpulkan tujuh buah benda serupa.
Kami membawanya keluar dan besembunyi di salah satu rumah yang sudah hancur.
Cahyo berjaga di luar sementara aku melafalkan ayat-ayat suci dan memutihkan benda itu sebelum akhirnya membakarnya.
“Uwis nan?” (Sudah Nan?) Tanya Cahyo gelisah.
Sepertinya ia mulai melihat pergerakan dari arah rumah itu.
“Sudah, kita pergi.. hati-hati,” balasku.
Kamipun pergi meninggalkan hutan dengan hati-hati menuju desa. Tanpa sadar sudah semalaman kami berada di sana, kamipun tiba di desa tepat saat matahari mulai terbit.
Kami segera berlari ke arah rumah bermaksud meminta ibu untuk meminta pertolongan Paklek. Namun ternyata sudah ada beberapa orang di sana.
Pak Jumito, Mas Musi, dan Mbak Minah yang sudah tersadar.
Aku menarik nafas lega melihatnya, namun tubuhnya yang kurus dan luka di tubuhnya masih jauh dari kata pulih.
“Itu Nyai.. Danan kembali,” teriak Pak Jumito.
Akupun bergegas menghampiri mereka, sepertinya Mbak Minah juga sempat menceritakan sesuatu kepada mereka.
“Bu, coba cari cara untuk menghubungi Paklek. Ini bukan masalah biasa,” ucap Cahyo pada ibu.
Mas Musi segera menghampiriku dengan wajah yang khawatir.

“Danan, ngapunten.. saya salah sangka dengan niat baik mas Danan,” ucap Mas Musi.
“Sudah mas, tidak usah dipikirkan.. bagaimana keadaan Mbak Minah?” Tanyaku.

Mas Musi bercerita bahwa tepat saat subuh tadi tiba-tiba Mbak Minah tersadar. Samar-samar ia menceritakan tentang apa yang ia ingat. Ada sosok yang memang menjebaknya dan berusaha mendapatkan jasadnya.
“Benar mas, ada sosok yang dipanggil dengan sebutan Raden yang mengincar jasad perempuan untuk disetubuhi.. saya tidak mengerti itu sebuah ritual atau apa?” tambahku.

Mendengar ceritaku Pak Jumito dan Mas Musipun bergidik ngeri.
“Ada juga seorang dukun dan salah satu warga desa sini yang membantu orang itu untuk mendapatkan jasad ya ia incar,” Cahyo memperingatkan.

“Warga desa sini?” Tanya Pak Jumito.

“Iya, saya sempat melihatnya juga saat saya mengobati Mbak Minah kemarin,” ucapku.
Mas Musi dan Pak Jumito terlihat mencoba mengingat-ngingat sosok warga yang mungkin saja mencurigakan.

“Pak, sepertinya saya curiga dengan seseorang. Tapi lebih baik kita selidiki lebih dulu,” ucap Mas Musi.
Pak Jumito mengangguk setuju. Sepertinya ia memang tidak ingin menuduh salah satu warganya dengan asal-asalan.
Aku menceritakan bahwa warga itu masih mengincar Mbak Minah. Bahkan warga itu diancam oleh dukun itu dengan cara yang mengerikan.
Hal ini seolah memastikan orang itu masih akan mengejar Mbak Minah.
“Minta tolong Mbah Tumejan dan orang-orang yang mengerti. Mbak Minah sementara harus dijaga dengan ketat, setidaknya sampai paklek datang dan membantu menyelesaikan masalah ini,” jelasku.
Pak Jumitopun mengerti maksudku. Merekapun segera berpamitan untuk segera menghubungi orang-orang yang mungkin bisa melindungi Mbak Minah ataupun warga lain yang diincar.
“Mas Danan, jangan nekat seperti ini lagi ya.
Selanjutnya biar kami orang-orang dewasa yang melakukan peran kami..” Ucap Pak Jumito sembari berpamitan.
Ibupun mengajak kami masuk ke rumah dan memeriksa luka-luka kami.
“Jul, ke sini.. tak periksa lukamu,” ucap Ibu.
“Ndak usah bude, Aku rapopo..” (Nggak busah bude, Aku nggak papa) Balas Cahyo sambil celingak-celinguk melihat ke dalam rumah.
“Heh, nyariin apa to kamu Jul?” tanyaku yang bingung memastikan tingkahnya.
“Hehe.. Bude durung masak to? Kangen aku karo sego bandenge Bude,” (Hehe.. bude belum masak ya? Kangen aku sama nasi bandengnya Bude) ucap Cahyo sambil terus mengintip ke arah dapur.
“Ealah Jul… sana ke dapur, nggak Cuma bandeng. Sayur asemnya juga sudah mateng. Sana makan yang banyak,” Balas ibu.
Seketika wajah Cahyo berubah sumringah. Ibupun hanya menggeleng melihat tingkah Cahyo. Tak lama setelahnya akupun segera menyusul Cahyo ke dapur.
“Wahwah.. Laper apa doyan Jul?” Tanyaku.
“Dua-duanya, masakan ibumu pancen top!” Balas Cahyo.

“Kayaknya kamu ngomong gitu juga ke masakanya Bulek,” balasku lagi.

Cahyo tersenyum mendengar pertanyaanku. Ia menyelesaikan makanan yang dikunyahnya dan meneguk sedikit air.
“Nggak bisa dibandingin Nan, masakan Bulek sama Bude sama-sama enak,” ucap Cahyo.

Aku kembali mengeleng melihat Cahyo yang kembali menambah lauk ikan bandengnya.
“Buat aku masakan mereka bener-bener istimewa dibanding masakan siapapun. Cuma masakan Bulek sama Bude yang bisa ngingetin aku sama masakan Almarhum ibuku dulu,” Tambah Cahyo lagi.
Cahyo menceritakan hal itu dengan wajah yang santai sembari melahap lauk di piringnya.
Namun aku mendengar ucapanya begitu dalam. Aku tidak menyangka masakahn rumah yang selama ini kuanggap biasa saja ternyata sangat istimewa untuk Cahyo.

“Yowis, habisin jul.. tak bantu!” ucapku sembari menambah lauk.

“Nggak usah di suruh Nan,” balas Cahyo.
Jarang sekali aku bisa menikmati masakan ibu senikmat ini. Ibupun tersenyum melihat tingkah kami sembari mengantarkan dua gelas teh untuk melengkapi menu makan kami.

***
Setelah kelelahan dengan kejadian semalam aku dan Cahyo tertidur hingga jarum jam menunjukkan pukul dua siang. Kami memutuskan untuk berjalan-jalan keliling desa sembari mencari tahu sosok warga desa yang terlihat di rumah itu.
“Eh Nak Danan, mau kemana?” tanya seorang ibu yang berpapasan denganku.

“Mau jalan-jalan saja bu sembari menjenguk Mbak Minah,” balasku santai.

“Oh iya, maafin ibu ya.. dulu ibu ikut nyalahin kamu. Ibu ikut terbawa emosi saat itu,”
“Sudah bu tidak usah dipikirkan, salah saya juga tidak antisipasi, ya sudah bu saya lanjut dulu,” pamitku.

“Iya nak Danan, kalau sempat mampir-mampir ke rumah ya,” balas ibu itu.

Akupun meninggalkan ibu itu dan melanjutkan jalan-jalan kami.
Tak berapa lama kami berjalan, kami menemukan Pak Jumito sedang mengobrol bersama Mas Musi dan beberapa warga di warung Koperasi desa.

Sepertinya Mbak Minah juga menginap di dekat situ dijaga oleh ibu-ibu desa.
“Pak Jumito, Mas Musi.. gimana apa sudah dapat petunjuk,” tanyaku sambil dengan sopan bergabung dengan mereka.

“Eh, Danan… iya tadi ada beberapa perbincangan. Tapi sebisa mungkin biar kami saja yang mengurus. Kami tidak bisa membahayakan kalian lagi,” jawab Pak Jumito.
“Matur nuwun Pak, tapi kalau sekedar ingin tahu boleh donk?” balasku lagi.

Pak Jumito menoleh ke arah Mas Musi seolah memastikan sesuatu. Iapun akhirnya memutuskan untuk menceritakan kepada kami.
“Sebenarnya, bukan tanpa alasan dulu saya meminta tolong ke Nak Danan..” Mas Musi memulai bercerita.

“Maksudnya mas?”

“Mas Bahri, sewaktu warga lain meninggalkan rumah saya. Dia yang memberi saran untuk meminta tolong Nak Danan,” jelas Mas Musi.
“Lantas, masalahnya dimana mas?” tanya Cahyo menimpali perbincangan tadi lagi.

“tadi warga ada yang ingat, dia juga yang pertama menuduh Danan saat Minah tidak sadarkan diri,” tambah Mas Musi lagi.

Aku dan Cahyo saling bertatapan.
Bukanya mau curiga, tapi bisa jadi seseorang yang bernama Mas Bahri ini memang sengaja ingin menyingkirkanku.

“Ciri-ciri orangnya seperti apa mas?” Tanya Cahyo.
Mas Musi menyebutkan ciri-ciri seorang warga desa dengan kumis tipis dan rambut belah tengah dengan umur yang sedikit lebih tua dari Mas Musi. Sekilas ciri-ciri itu memang mirip dengan seeorang yang diperintahkan oleh dukun itu.
“Pak Jumito sudah menemui Mas Bahri? Sebaiknya kita jangan menuduh dulu,” ucapku.

“Kami sudah menghampiri rumahnya, namun tidak ada tanda-tanda ada seseorang di sana,” Jawab Pak Jumito.
Tidak ada pilihan lain, sepertinya kami memang harus waspada dengan seseorang yang diceritakan oleh Mas Musi ini. Ternyata Pak Jumitopun sudah menyebarkan berita ke warga untuk menghubunginya bila bertemu Mas Bahri.
Semoga saja, usaha Pak Jumito dan warga desa tidak sia-sia. Seandainya Mas Bahri benar orang itu, dan ia bisa dihentikan mungkin teror untuk Mbak Minah bisa menghilang. Dan untuk urusan Raden dan dukun itu, biar Paklek yang memikirkanya.
“Jul, kayaknya masalahnya udah beres. Kamu kalau mau balik nggak papa lho,” ucapku pada Cahyo.

“Santai dulu aja Nan, nunggu paklek sampe ke sini aja.. udah lama to kita nggak main bareng, nanti aku berangkat sekolah dari rumahmu saja” balasnya.
“Lha bukanya sekolahmu jauh dari sini?” tanyaku.
“Tenang, aman Nan… sekali-kali kan nggak papa,” balasnya.

“Iya sih, bagus kalau begitu.. kebetulan, udah lama aku ga ada temen latihan, masak mau kalah terus dari kamu,” ucapku pada Cahyo.
Cahyo yang mendengar ucapku segera menepuk punggungku dengan keras.

“Halah, kalah apaan.. kalau adu pukul emang aku yang menang, tapi kalau adu ilmu jelas sebaliknya. Tapi boleh sih, habis ini kita ke kebun belakang aja,” balas Cahyo.
Kamipun kembali ke rumah dan pamit lagi kepada ibu untuk berlatih di kebun belakang. Awalnya aku kira ini akan seperti latih tanding biasa, namun entah mengapa sepertinya kami terbawa suasana.
Sepertinya tidak hanya aku saja, saat ini kami merasa begitu lemah setelah kejadian kemarin. Masing-masing dari kami ingin menempa diri untuk lebih kuat baik secara lahir dan batin untuk bisa menghadapi orang-orang semengrikan Raden dan Dukun itu.
Beberapa hari kami kami menghabiskan waktu untuk berlatih. Setiap sepulang sekolah Cahyo sudah lebih dulu sampai ke rumah dengan mengenakan sepeda ontel miliknya.
“Jul, waktu kemarin melawan mayat-mayat itu tiba-tiba aku ngeliat ada kekuatan yang menyelimuti tubuhmu, itu apa? Apa ada hubunganya dengan nama Wanasura yang kamu sebutkan itu?” tanyaku penasaran.
Mendengar pertanyaanku, Cahyopun mendekat ke arahku.
Ia memintaku menjulurkan tangan dan menempelkan kelima jarinya padaku.
“Coba rasain nan..” ucap Cahyo.
Aku menuruti ucapanya, sepertinya ia memintaku menerawang masuk ke dalam tubuhnya.
Dan benar, aku merasakan keberadaan sesosok makhluk. Sepertinya aku mengenal makhluk itu, tapi sepertinya tidak juga.
“I—itu? siapa? Kliwon?” tanyaku.
Cahyo menggeleng dan melepaskan tanganya dariku.
“Aku pernah cerita tentang dia saat kembali dari alas wetan, namanya Wanasura. Dia kembaranya Kliwon,” Jelas Cahyo.
“Tu—tunggu, kamu menyimpan khodam?” tanyaku kaget.
Cahyo menggeleng.
“Kliwon masih memiliki tubuh, namun ia terjebak di suatu tempat di alas wetan. Namun tubuh fisik wanasura sudah mati, dia butuh tempat naungan untuk bisa tetap ada,” jelas Cahyo.

“Jadi kamu menjaga makhluk itu demi Kliwon?” tanyaku.
Cahyo mengangguk mengiyakan.
Sepertinya aku semakin mengerti, bisa jadi keberadaan sosok bernama Wanasura juga akan berperan besar dalam pertarungan Cahyo.

“Menurutmu gimana?” Tanya Cahyo tiba-tiba.

“Maksudmu ?”

“Apa salah bila aku membiarkan Wanasura menempati tubuhku,” tanya Cahyo.
“Menurutmu apa salah bila aku membiarkan sebuah pusaka bersemayam di tubuhku?” aku bertanya balik pada Cahyo.

“kok nanya balik?” Protes Cahyo.
“Ya intinya pertanyaan kita sama, keberadaan pusakaku dan Wanasura sudah ditakdirkan bersama kita.
Benar atau salah, akan kita ketahui nanti. Dan bila kita tahu ini hal yang salah, aku maupun kamu harus bisa merelakanya,” jawabku.
Cahyo menatap mataku, sepertinya ia setuju namun sepertinya terbayang di matanya bahwa ia pasti akan berat bila harus berpisah dari sosok yang sekarang menjadi sahabatnya itu.
“Ya sudah nggak usah terlalu dipikirin, kalau memang kita melakukan kesalahan masih ada Paklek yang akan negur kita kan?” tambahku berusaha melepaskan suasana serius ini.

“Nah iya, bener juga tuh.. kalau emang salah minimal udah dapet sandal jepit kita,” balas Cahyo.
Kamipun menyelesaikan latihan kami hari ini dan kembali ke rumah. Ibu sudah menyediakan air hangat untuk kami mandi dan menu makan malam untuk kami.

“Paklek belum ada kabar Bude?” Tanya Cahyo sembari mencomot tempe goreng panas yang sudah tersaji di meja.
“Belum Jul, semoga Paklek nggak kenapa-kenapa ya,” ucap Ibu khawatir.

“Tenang Bude, Nggak ada masalah apa-apa. Paling paklek lagi mampir nyetok makanan burung. Udah tenang aja bude,” Jawab Cahyo sengaja agar ibu tidak khawatir.
Malam itu aku dan Cahyo bersiap untuk tidur cepat. Dinginya malam itu seolah meninabobokan kami untuk tidur dengan nyenyak.

Di tengah tidur kami sayup-sayup aku mendengar suara gemericik air dari hujan yang sepertinya sudah menemani tidur kami cukup lama.
Sesekali terdengar suara petir yang menyambar di kejauhan.

Awalnya aku mencoba tidak menghiraukan, sampai suatu ketika kilatan cahaya memperlihatkan bayangan Cahyo yang terlihat tidak tenang.
“Jul, ono opo jul? ora iso turu?” (Jul, ada apa? Nggak bisa tidur?) Tanyaku yang bingung melihat keanehan padanya.

Wajahnya terlihat serius seolah cemas terhadap sesuatu. Walau begitu aku tahu dia juga merasa ragu.
“Nan, perasaanku nggak enak Nan,” ucap Cahyo.
Mendengar jawaban Cahyo akupun bangkit dari tidurku dan meminta penjelasanya.

Belum sempat meminta penjelasanya, tiba-tiba ada sesuatu yang bereaksi dari dalam tubuhku.
Keris Rogosukmo…
Belum pernah aku merasakan hal seperti ini sebelumnya. Sepertinya Keris Rogosukmo juga merespon sesuatu. Bisa jadi hal inilah yang juga dirasakan Cahyo.

“Aku mau mengecek keluar Nan!,” ucap Cahyo.

“Aku ikut, perasaanku juga nggak enak.” ucapku.
“Tapi.. Sebaiknya sebelum pergi kita persiapkan diri dulu. Setidaknya kita mohon restu perlindungan dari Yang Maha Pencipta”

Entah, apa yang membuatku begitu cemas kali ini. Setelah kejadian kemarin, aku merasa hal apapun bisa terjadi pada kami setelah ini.
Tapi kami tahu, Tuhan akan selalu ada untuk melindungi umatnya yang bertaqwa.
Secepat mungkin kami berlari menuju desa. insting kami menuntun kami untuk pergi ke tempat dimana Mbak Minah berada.

Pemandangan yang mengerikan menyambut kami yang sampai di tempat itu.
Di tengah guyuran hujan deras terlihat Pak Jumito terduduk di tanah memegangi dadanya, sementara Mas Musi terbaring di tanah.

Mbah Tumejan menggenggam sebilah keris untuk melindungi mereka dengan nafas yang sudah terengah-engah.
Bagaimana tidak…
Wujud pocong yang sebelumnya kami lihat di ruang bawah tanah rumah Raden itu kini mengepung desa dengan mata terpusat kepada Mbah Tumejan.

“Mbah!!” Teriakku menghampiri mereka.

“Danan, jangan kesini! ini bukan tanggung jawabmu.. “ Perintah Pak Jumito
Jelas kami tidak mengindahkan perintah Pak Jumito. Saat itu juga aku dan Cahyo berlari ke arah mereka.

“Nan, urus pocong-pocong itu bisa kan?” tanya Cahyo.

Aku mengangguk sementara Cahyo memisahkan diri denganku.
Aku tahu maksudnya, ia berusaha mencari sosok yang mengirimkan makhluk-makhluk ini ke desa.
Ada beberapa doa yang kubaca untuk memagari Mas Musi dan Pak Jumito dari serangan makhluk-makhluk ini.
beberapa dari mereka mencoba merasuki Mas Musi, sepertinya sedari tadi Mbah Tumejan mencoba menahanya.

Melihat aku mampu melindungi mereka, Mbah Tumejan membacakan beberapa mantra pada kerisnya dan menghujamkanya ke setiap pocong yang mendekat.
Akupun tidak tinggal diam, aku mengigat satu-persatu ilmu yang diajarkan bapak padaku. Amalan api tidak akan berhasil melawan makhluk sebanyak ini, kalaupun aku ingin mencoba menenangkan sosok-sosok ini, sepertinya dukun itu juga menyimpan jimat yang mengikat mereka.
Yang kubisa saat ini hanyalah melindungi Pak Jumito dan seluruh warga yang masih berdiam di rumah dengan aji-ajian yang kubisa hingga Cahyo bisa menemukan dimana dukun itu.

Beruntung, tidak butuh waktu lama hingga terdengar suara pertarungan di balik salah satu rumah.
Aku memberi isyarat pada Mbah Tumejan untuk menahan sosok pocong-pocong itu dan berlari ke arah Cahyo.

Saat itu Cahyo terlihat mengamuk dengan bayangan seeokor kera yang merasuki dirinya.
Itukah Wanasura?
Aku mengira Cahyo kehilangan kesadaran, namun tepat saat menyadari keberadaanku Cahyo mengambil kesempatan untuk mengambil mangkuk sesajen yang dibawa dukun itu. ia melemparkan benda itu bersamaan dengan sebuah kalung yang berhasil ia rebut.

“Danan urusin ini!” perintah Cahyo.
“Bocah brengsek! Kamu pasti mati! Setelah ini kalian pasti mati!” Ancam dukun itu yang sepertinya juga dilindungi suatu sosok hitam.
Aku menangkap benda yang dilempar Cahyo dan sebagian benda itu berserakan di tanah.
Ada beberapa tulang belulang di dalam mangkok itu dan beberapa ikatan tali pocong di kalungnya.
Aku mengerti dengan segera..

Saat itu juga aku mengumpulkan benda itu jadi satu dan membacakan doa-doa untuk memutihkanya.
Cukup lama hingga ayat-ayat suci berhasil melepas ikatan benda itu dengan pocong-pocong yang dikendalikan dukun itu.

Sayangnya saat aku hampir selesai, terlihat seseorang yang berlari ke arahku dengan membawa sebuah batu besar.
“Bocah brengsek! Aku tahu, pasti kamulah yang akan menjadi masalah untuk urusan kami!” ucap pemuda itu.

“Bahri! Jangan!” Teriak Mbah Tumejan yang sudah kewalahan menangani pocong itu.

Jadi benar, pemuda adak buah Raden itu adalah Mas Bahri yang merupakan salah satu warga desa.
Aku kebingungan memilih antara meneruskan doaku, atau menghindari serangan Mas Bahri.

Tanpa adanya waktu yang panjang, saat itu aku memilih untuk menyelesaikan doaku. Hanya sepersekian detik waktu dari aku menyelesaikan doa hingga batu itu hampir memecahkan kepalaku.
Namun anehnya aku bisa menghindar dengan tepat waktu.

“Ora ono sing iso ngalangi niat baik kowe..” (Tidak ada yang bisa menghalangi niat baikmu)
Samar-samar teringat di pikiranku tentang suara seorang kakek yang kami tolong di rumah itu.
Aku sedikit tidak percaya, apa benar hanya dengan ucapanya apapun bisa jadi kenyataan?

Ah.. saat ini aku tidak perlu memikirkan itu. saat itu juga, pocong-pocong yang mengepung desa menghilang. Tapi aku tahu masalah ini belum selesai.
Mbah Tumejan membantuku menahan Bahri sementara Dukun itu masih kewalahan dengan serangan Cahyo.

“Aarrrggghhh… bukan aku yang harusnya bertanggung jawab terhadap bocah-bocah sial ini,” ucap dukun itu.

Dengan sigap ia menghindari serangan Cahyo dan berlari menghampiri Bahri.
“Heh Bocah! Ini semua salahmu! Kau yang harus bertanggung jawab!” Ucap Dukun itu.

“Ta—tapi bagaimana mbah? Saya tidak bisa melawan mereka sendirian,” balas bahri.

“Tidak perlu! Aku hanya butuh pengorbananmu!”
Di tengah derasnya hujan, aku tidak pernah menyangka dengan apa yang kulihat. Dukun itu menarik mundur Bahri dan menarik kepalanya sekuat tenaga.
“Mbah! Mbah Dirwo… sakit mbah!” Teriak Bahri.
Namun sebaliknya, Dukun yang dipanggil dengan nama Mbah Dirwo itu malah tertawa terkekeh menikmati apa yang dilakukanya itu.
“Raden , Tak silih siji bolomu!” (Raden aku pinjam satu anak buahmu) ucap Dukun itu sembari membaca mantra yang dihiasi dengan darah yang bermuncratan dari leher bahri yang memisahkan kepala dan tubuhnya.
Suara teriakan bahri hanya terdengar sebentar hingga tenggorokanya terobek hanya dengan dua tangan dukun yang dirasuki khodamnya itu. sayangya kematian Bahri membangkitkan sosok yang mengerikan.
Sosok yang sepertinya merupakan anak buah ghaib yang dimiliki oleh Raden.
Makhluk besar yang tingginya bahkan melebihi rumah ini. matanya memerah seolah dengan mudah dapat mengincar kami.

Genderuwo? Bukan… makhluk ini lebih kejam dari itu.

“Gi—gila! Aku tidak percaya makhluk ini bisa ada di tempat ini..” ucap Mbah Tumejan panik.
“Itu makhluk apa mbah?” tanyaku.

“Aku pernah gagal berhadapan dengan makhluk seperti itu di luar pulau ini, padahal itupun tidak sebesar dan sebuas ini. Makhluk ini bisa membunuh siapa saja yang mencoba mencuri harta tuanya atau merusak ladang tuanya.”
Penjelasan Mbah Tumejan benar-benar menjatuhkan mental kami.

“Tapi.. Untuk menggunakanya sebagai makhluk pembunuh. Ada tumbal nyawa yang harus dikorbankan. Orang sana menyebut makhluk itu dengan nama.. Begu Ganjang…” jelas Mbah Tumejan.
Penjelasan Mbah Tumejan membuatku bergidik ngeri. Terlebih entah perasaanku saja atau makhluk itu terlihat semakin besar.

“Wanasuraa!!” Cahyo berteriak sekeras mungkin memanggil sosok yang berada di dalam tubuhnya itu.
Samar-samar terlihat lenganya dipenuhi rambut kera dan berubah semakin besar. Sekuat tenaga ia memukul sosok makhluk besar itu hingga goyah.

Pukulan Cahyo berpengaruh terhadapnya, seketika aku sedikit percaya diri untuk mencoba menghadapinya.
Kali ini aku mencoba membacakan Ajian Gambuh Rumekso dengan melantunkan ayat-ayat suci yang membuat makhluk itu tidak nyaman. Anginpun berhembus menyayat sedikit demi sedikit tubuh hitam itu.
Makhluk yang disebut Begu Ganjang itu merespon serangan kami dengan menghantam kami dengan tanganya yang besar, namun Cahyo bisa menahanya walau dengan sekuat tenaga.

Aku terus menyerang dengan berbagai cara sembari mencari cara untuk mengalahkan makhluk ini.
“Kita harus gimana Nan? Makhluk ini nggak sembarangan!” tanya Cahyo bingung.

“Makhluk yang dipanggil dengan tumbal pasti punya pengikat. Biar kucari tahu dulu..” ucapku.
Pertarungan sengit terjadi di antara kami.
Mbah Tumejan terus mencoba menyerang dukun itu sementara aku dan Cahyo bertarung dengan tidak seimbang melawan makhluk besar itu.

“Kalau begini terus, kita pasti babak belur nan..” ucap Cahyo setelah sempat menerima serangan dari makhluk itu lagi.
Aku tidak membalas Cahyo dan terus membacakan ajianku untuk menyerang makhluk ini sembari mencari celah.

Beruntung, salah satu angin dari gambuh rumekso menyayat bagian dada makhluk itu dan menunjukkan benda berwarna merah darah di dalam tubuhnya.
“Jantung.. makhluk itu punya jantung, sepertinya itu yang menjadi pengikat makhluk ini dengan bayaran nyawa bahri,” ucapku sembari terengah engah.
Cahyo yang mengerti maksudku segera mengincar titik itu, sayangnya itu tidak mudah.
Dukun bernama Mbah Dirwo itu membacakan sebuah mantra dan menusukkan sebuah jimat yang terbuat dari bambu pada makhluk besar ini.

“kehekheke… jangan lama-lama! Habisi mereka!” perintah Mbah Dirwo.
Dengan tusukkan benda itu dan perintah Mbah Dirwo tiba-tiba Begu Ganjang itu menjadi semakin buas dan mengamuk. Ia menghujami Cahyo dengan berbagai pukulan hingga dari mulutnya bermuncratan darah.
Beruntung Cahyo bisa melindungi dirinya dengan kekuatan Wanasura. senandainya itu aku, aku pasti sudah mati.
Jantungku berdegup kencang. Rasa amarah, emosi, takut, dan kesal menjadi satu.
Aku sudah tahu kelemahan makhluk ini, namun ilmu apa yang harus kugunakan untuk menghabisinya.

“Da—Danan…” ucap Cahyo berusaha mengatakan sesuatu.

“Gunakan ilmu itu..”
Aku menoleh sebentar kepada Cahyo dan memalingkan kembali ke arah Begu Ganjang yang mulai mengarah ke arahku.

“Ilmu yang pernah digunakan ayahmu waktu di bukit batu. Ilmu pukulan jarak jauh, entah apa namanya,” ucap Cahyo.

“Ilmu bapak?”
Aku mencoba mengingat semua ilmu yang pernah bapak gunakan dan aku mengerti ilmu apa yang dimaksud Cahyo. Tapi.. aku baru melihatnya satu kali.

“Nggak Jul, aku belum menguasai ilmu itu,” ucapku yang kembali menggunakan ajian Gambuh rumekso untuk menyerang makhluk itu.
Sayangnya, dengan wujudnya yang sekarang seranganku tidak lagi berpengaruh. Sebaliknya serangan serupa yang digunakan untuk menyerang Cahyo kini mengarah ke arahku.

Tapi belum sempat seranganya sampai kepadakau, Mbah Tumejan menhadangnya dengan kerisnya hingga terbelah.
sialnya tak hanya itu, Begu Ganjang itu menyapu tubuh Mbah Tumejan sekuat tenaga hingga tubuhnya terpental ke pohon besar.
“Mbah!!!” teriakku panik.

Mbah Tumejan juga memuntahkan darah, dan dengan serangan sebesar itu Mbah Tumejan gagal mempertahankan kesadaranya.
Tubuhku terbakar amarah, namun hembusan angin gambuh rumekso masih berhembus menenangkanku. Samar-samar teringat sebuah mantra yang sering diajarkan bapak kepadaku. Sebuah kata-kata yang juga tertulis dari catatan wejangan-wejangan bapak.
Tanganku mengepal dengan keras, mulutku tak henti-hentinya membacakan doa itu hingga perlahan kekuatan berkumpul di kepalan tanganku.
“I—iya Nan! Ilmu itu!” Ucap Cahyo semangat.
Makhluk itu terus menerjang ke arahku. Tapi kali ini aku tidak takut sama sekali.
Anehnya, entah mengapa tubuh makhluk itu tidak sebesar sebelumnya seolah mengikuti rasa takutku yang mulai hilang.

“Bapak, ijinkan saya menggunakan ilmu ini..” ucapku.
Tepat saat Begu Ganjang itu menyerangku, aku menghindarinya setipis mungkin dan melemparkan sebuah pukulan jarak jauh dari kepalan tanganku tepat ke jantungnya.

Ajian Lebur Saketi…
Sebuah ilmu andalan prajurit jaman kerajaan dulu, kini kugunakan untuk menghadapi sosok yang mengancam Nyawa warga desaku.
Benar saja, jantung makhluk itu terlepas. Bentuknya menyerupai kepala manusia.
Dan saat itu juga makhluk itu kehilangan kekuatan dari empunya dan perlahan menghilang dalam gelap.
Saat itu seketika aku terbaring kelelahan bersama dengan Cahyo dibawah guyuran hujan.
“Jangan tidur dulu, dimana dukun itu…” ucap Cahyo.
Aku mencoba melihat ke sekitar, namun tidak ada satupun petunjuk di mana dukun itu berada.
“Kabur, dia kabur..” ucapku.

Akupun mengatur nafas sembari terkapar di tanah lapang itu.
Nafas kami terengah-engah, baru sebentar berusaha mengatur nafas tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat.

Sekuat tenaga kami mencoba untuk bangkit. Dukun itu pasti sadar bahwa kami sudah kehabisan tenaga.
“Bocah-bocah gemblung… bisa-bisanya ngelawan makhluk begitu,” ucap orang itu.

Seketika Aku dan Cahyo tertawa mendengar suara yang sangat familiar itu.

“Pakleek!” teriak Cahyo sekuat tenaga.
“Telat!! Demite wis minggat!”
(terlambat! Setanya sudah pergi) Aku tertawa mendengar teriakan Cahyo. Paklek tidak menjawab dan malah mengirimkan api kecil yang tetap menyala walau di bawah hujan. Api itu melayang ke arahku, Cahyo , dan Mbah Tumejan.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba luka kami menutup. Walau tidak pulih sepenuhnya namun nyawa Mbah Tumejan sepertinya tidak lagi dalam bahaya.

“Paklek dari mana saja?” Tanyaku.
Paklek masih tidak menjawab, ia malah melemparkan sebuah benda seperti jantung besar berbentuk kepala manusia. Persis seperti milik Begu Ganjang yang kami lawan.

“Paklek ngelawan makhluk begitu juga?” Tanya Cahyo penasaran.
“Iyo, Orang-orang biadab.. dia menumbalkan seorang ibu yang mengabdi padanya hanya demi memerintah makhluk itu,” ucap Paklek.

Mendengar ucapan itu aku teringat sosok dukun perempuan yang memandikan janazah sebelum diserahkan pada Raden. Apa ibu itu yang dimaksud?
“Dukun itu.. dukun itu kabur Paklek” tanyaku.
“Dukun itu tidak sempat kabur, sewaktu paklek coba menangkapnya tiba-tiba ada bola api yang menerjang ke arahnya dan membakar dukun itu hingga hangus.
Sepertinya itu kiriman tuan dukun itu yang tidak ingin identitasnya terbongkar,” jelas paklek lagi.
Mendengar hal itu aku bergidik ngeri penasaran dengan siapa sosok yang dipanggil Raden itu sebenarnya. Sepertinya kami masih harus berhadapan dengan sosok itu suatu saat.

***
Sudah seminggu sejak pertarungan kami melawan dukun ini. Mbak Minah sudah pulih sepenuhnya. Gangguan-gangguan sudah tidak terjadi lagi di desa.

Aku, paklek, dan beberapa warga desapun sempat mengecek desa mati di tengah hutan itu dan rumah besar itu tiba-tiba sudah hancur.
Kami mencari ke dalam dan tidak menemukan sesuatu yang berarti.

Tapi… ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sebuah lembaran kertas dari sekumpulan kertas tua yang berserakan. Sebuah kertas yang bertuliskan aksara Jawa dengan latas sebuah simbol.
Entah mengapa aku merasa terhubung dengan simbol yang tergambar di kertas itu…

***
(Bersambung Part 3 – Pabrik Gula) Image
Terima kasih sudah mengikuti part ini hingga selesai, mohon maaf apabila ada kesalahan kata atau bagian cerita yang menyinggung.

Habis ini kita ke Pabrik Gula!

Buat temen-temen yang mau baca duluan atau sekedar support bisa mampir ke @karyakarsa_id ya !
karyakarsa.com/diosetta69/jsd…
JSD Danan & Cahyo
Part 3 - Penunggu Malam Pabrik Gula

Kemunculan sosok tak kasat mata di pabrik gula awalnya hanya menjadi isu biasa, sampai diketahui bahwa kemunculan mereka adalah disebabkan oleh ritual sosok yang misterius..

#bacahorror @IDN_Horor @Ceritahorortwi1 Image
Part 3 - Penunggu Malam Pabrik Gula

Suara misterius terdengar dari arah bangunan belakang pabrik. Belum pernah ada yang berani untuk memastikan asal dari suara itu hingga saat ini.
“Pokoknya kali ini kita harus dapetin sumber suara itu, masa kalian mau ditakut-takutinin sama hal nggak jelas,” ucap Marhan pada teman-teman di belakangnya.
“Ka—kamu yang bener Han? Katanya yang ada di sana itu hantu dari tumbal waktu pabrik ini dibangun,” balas Mul teman sedivisi Marhan yang dipaksa untuk mengikuti mereka malam ini.
“Heh, Justru orang kaya kamu ini yang bikin karyawan lainya percaya kalau pabrik ini berhantu,” Marhan menepuk kepala Mul sembari mendorongnya maju.
“Sana jangan jadi pengecut..”
Mul tidak punya pilihan lain, mau tidak mau ia harus menuruti perintah Marhan.
Sementara dua temanya yang laih , Sukir dan Pasmin hanya ikut menertawakanya.

Ia membuka perlahan pintu besi dari bengunan utama dan perlahan berjalan menuju sebuah bangunan yang jaraknya hanya beberapa meter dari bangunan utama.

“Gelap Han,”

“udah, jalan aja”
Hanya berbekal dua buah senter, merekapun menerobos gelapnya malam dan mendekat ke bangunan yang merupakan gudang reparasi mesin-mesin pabrik itu.

Belum sempat mereka mendekat, tiba-tiba terlihat cahaya redup menyala dari salah satu jendela bangunan itu.
“Mul, tahan dulu mul.. itu kok terang, kayak ada yang nyalain lilin dari dalam,” ucap Sukir.

Mul pun berhenti, ia menoleh ke arah Marhan. Sayangnya Marhan masih terus memberi kode agar Mul melanjutkan jalanya.
Saat itu seketika udara menjadi semakin dingin, senter Mul dan Marhan tiba-tiba menjadi redup dengan sendirinya.

“A—aku kok merinding yo? Piye iki?” (Aku kok merinding ya? Gimana nih?) ucap Pasmin.
“Podo, min… “ (Sama min) balas Mul sambil tersenyum memelas, namun tetap saja mereka harus terus menjalankan rencana mereka.

Sekali lagi suara pintu besi terdengar, tapi suara itu berasal dari bangunan belakang.
Baru saja mereka berhasil membuka pintu itu, tiba-tiba di hadapan mereka terlihat sesosok makhluk yang terduduk di mesin penggilingan yang sudah rusak.

Sesosok makhluk perempuan berambut panjang, berkain putih lusuh sedang memainkan kakinya sembari menatap mereka.
“khikhikhi… aku oleh konco meneh,” (khikhikhi.. kau dapet temen lagi) ucap makhluk itu dengan suara mengerikan.

Sontak mereka berempat pun terperanjat, senter Mul terjatuh dan mereka berdesakan untuk mencoba keluar.
"Ku—kuntilanak Han! Itu kuntilanak!” Teriak Mul.
Namun siapa sangka saat Mul meminta pertolongan Marhan, tiba-tiba Marhan sudah berada jauh kembali ke seberang bangunan melarikan diri.

“Setan… malah kabur si Marhan,” Ucap Sukir.
Melihat kejadian itu kuntilanak itupun semakin tertawa keras yang membuat ketiga orang itu semakin ketakutan.

“A—aku mau pingsan aja mul,” ucap Sukir.

“Jangan kir, aku duluan aja…” balas Mul.
Pasmin yang melihat tingkah bodoh mereka segera memaksa menarik tubuh mereka untuk keluar dari bangunan.

Tapi.. tepat sebelum mereka pergi, tiba-tiba terdengar suara air yang mengguyur ke arah hantu itu.

“Nah! Kan bener! Bisa di siram…”
Menyusul siraman itu, tiba-tiba muncul beberapa orang dari dalam kegelapan yang mendorong jatuh sosok berwujud kuntilanak itu hingga tejerembab.

“Aduh… ojo kasar-kasar to” (Aduh, jangan kasar-kasar donk) Ucap Kuntilanak itu.
Mendengar perubahan suara kuntilanak itu tiba-tiba Mul, Sukir , dan Pasmin Terhenti.

“Eh.. kok suaranya jadi cowo?” Tanya Mul.
Ia mengarahkan cahaya lampu senternya ke arah kuntilanak itu dan melihat beberapa karyawan pabrik yang baru saja muncul menyiramkan air dan mendorong kuntilanak itu.

“Lah Madun? Gusri? Kok bisa di sini?” Tanya Sukir.
“Sengaja, udah udah direncanain nih sama Marhan. Akhirnya kita bisa membongkar siapa nih yang pura-pura jadi Kuntilanak buat nakutin karyawan,” Ucap Madun.

“Iya, habislah kamu!” Gusri mengompori Madun.
Mereka berduapun menarik rambut kuntilanak itu yang seketika langsung copot dari kepalanya.

“Cahyo?” Tanya Mul yang mengenali wajah itu.

“Hehehe… ngapunten mas-mas yang ganteng, kulo mung becanda. Ojo diseneni yo!”
(Hehehe.. maaf mas-mas yang ganteng, saya Cuma bercanda. Jangan dimarahin ya!) ucap Karyawan yang bernama Cahyo itu.

“Wah! Kurang ajar kamu! Berani-beraninya!” Teriak Gusri yang segera menarik kerah baju Cahyo dan mencoba memukulnya.
Beruntung baju kuntilanak yang ia gunakan cukup longgar sehingga dengan lincah ia bisa meloloskan diri dengan melepaskan baju itu dan lari menjauh.

“Ngapunten! Saya pamit dulu!” teriak Cahyo yang segera berlari secepat mungkin menuju pintu keluar.
Gusri dan Madun yang sudah kesal dengan tingkah Cahyo segera mengejar mereka diikuti teman mereka yang lain. Sayangnya dalam sekejap Cahyo sudah menghilang dari pandangan mereka masuk ke dalam kegelapan kebun pisang di dekat Pabrik.
“Cepet banget larinya tu bocah, udah kaya monyet aja.” Ucap Gusri.

“Tenang mas, besok kita samperin aja tuh. Kita bikin perhitungan,”Balas Mul.
Merasa puas dengan hasil pencarian mereka, merekapun memutuskan untuk selesai dan pulang meninggalkan Pabrik Gula tempat kerja mereka.
Sebuah pabrik gula yang baru beberapa tahun direstorasi setelah puluhan tahun terbengkalai.

Beberapa malam setelahnya terlihat dua orang berjalan perlahan mendekati bangunan belakang itu dengan hanya berbekal sebuah senter.
“Mas Marhan, yakin mau di bangunan belakang? Katanya disana Angker,” ucap seorang perempuan yang menggandeng erat Marhan dengan sedikit ketakutan.
“Tenang Dik Citra, setan yang muncul di bangunan itu sudah mas urusin. Itu ulahnya si Cahyo aja yang cari gara-gara,” balas Marhan dengan percaya diri.

Mendengar ucapan Marhanpun Citra menjadi lebih tenang dan mempercepat langkahnya menuju bangunan itu.
Mereka mencari tempat yang nyaman diantara mesin-mesin penggilingan yang rusak.

Bermodalkan sebuah Jaket yang digelar, mereka menikmati malam itu di dalam kegelapan gedung dengan penerangan sebuah senter.
“Dik, kamu bener-bener cantik. Mas sampe nggak tahan ngeliat kamu,” Rayu Marhan.

“Mas Marhan gombal, bilang aja kalau udah kebelet..” balas Citra menyerahkan diri.

Tak mampu menahan nafsu, bibir merekapun saling bertautan.
Tidak ada satupun yang mau mengalah memenuhi nafsunya masing-masing.

Satu persatu baju Citrapun mulai ditanggalkan. Bentuk tubuh Citra yang masih ranum membuat Marhan semakin kagum dan ingin segera menikmatinya.

“khikhihi…”
Seketika Citra melepaskan bibirnya dari Marhan saat mendengar suara yang aneh.

“Mas, i—itu suara apa?” Tanya Citra.

“Nggak ada, nggak ada suara apa-apa?” Balas Marhan yang ingin segera meraih kembali tubuh Citra, namun Citra kembali menolaknya.

“Khikhihhi….”
Seketika suara itu kembali terdengar. Bersamaan dengan angin dingin yang meniup tengkuk mereka

“Brengsek! Belum kapok juga tu bocah..” ucap Marhan yang seketika terlihat kesal.

“Ke—kenapa mas? Ada orang lain di sini?” Tanya Citra yang mulai panik.
“Heh! Bocah brengsek! Keluar kamu!” Teriak Marhan.

Sayangya tidak ada suara apapun yang menyahut Marhan. Sebaliknya, terdengar suara langkah kaki kecil melewati mereka.

“Cahyo! Keluar kamu!” teriak Marhan.
Mendengar teriakan Marhan tiba-tiba terdengar suara tawa seolah meledeknya.

“Khikkhikhi….”

Tak hanya itu, kali ini terdengar suara anak kecil tertawa dan raungan beberapa hewan.
Seketika Marhan tersadar, bahwa ini bukan ulah Cahyo.
“Ci—Citra! Kita pergi dari sini,” ucap Marhan.

Sayangnya terlambat. tepat saat Marhan menoleh ke arah Citra, tiba-tiba terlihat sosok makhluk wanita tua dengan kulit wajah yang berkeriput dengan rambutnya yang panjang mencengkram tubuh Citra dari belakang.
“Se—setan!” Teriak Marhan yang ketakutan.

Citra yang menyadari ada sosok mengerikan mencengkeram tubuhnya hanya bisa menangis dan mencoba meraih Marhan.

“Mas… tolong mas…” ucapnya sambil terisak.
Sayangnya nyali Marhan tidak sebesar itu. Ia hanya terduduk lemas di bawah menyaksikan Makhluk itu menarik tubuh Citra masuk ke dalam celah-celah mesin.

“Citra! Citra!!” Teriak Marhan mencoba mengejarnya sambil merangkak ketakutan.
Namun sayangnya Citra sudah hilang di gelapnya bangunan bersama sosok mengerikan itu.

Marhan yang merasa panik segera mengambil senternya. Ia berdiri sekuat tenaga menguatkan kakinya Untuk mencoba mencari Citra.
Sialnya tepat saat senternya memenuhi ruangan, Marhan tidak lagi melihat hal yang sama. Cahaya senternya menunjukkan sosok bayangan makhluk besar bertaring, anak kecil yang berlarian, dan perempuan yang melayang…
Sekuat tenaga Marhan berlari meninggalkan bangunan itu dan membiarkan Citra di sana bersama makhluk-makhluk mengerikan itu.

***
(Sudut pandang Cahyo..)

Aku menghela nafas tepat saat ingin memasuki tempat kerjaku saat ini. Sebuah Pabrik gula yang tidak jauh dari desa tempatku tinggal.
Pabrik Gula ini sempat terbengkalai, namun Paklek dan beberapa kenalannya berhasil merestorasi beberapa bagian pabrik gula ini untuk difungsikan kembali.
Menurut mereka selain mampu menyerap tenaga kerja dan membangkitkan ekonomi di sekitar, beroperasinya pabrik gula ini juga bisa mengurangi kesan Angker dari tempat ini.

Suara bel masuk shift sudah berbunyi. Aku sengaja masih menunggu di luar menunggu keadaan semakin sepi.
Memang aku sengaja datang terlambat. Aku malas menjawab pertanyaan-pertanyaan karyawan lain tentang lebam-lebam di wajahku hasil perlakuan Gusri, Marhan dan kawan-kawanya.

“Lah, Mas Cahyo.. udah telat lho?” Ucap Pak Kosidi satpam pabrik ini.
“Iyo pak, sengaja.. males diwawancara sama orang-orang di dalam lagi,” jawabku ketus.

“Hahaha… sudah, jangan diambil hati. Saya juga sudah laporin ke HRD kok, paling bentar lagi mereka dapet surat peringatan,” ucap Pak Kosidi mencoba menghiburku.
“Iyo, Matur nuwun pak.. Tapi surat peringatan kan nggak bisa nyembuhin babak belurku,” Balasku sembari terus berjalan meninggalkan Pak Kosidi.
Pak Kosidipun hanya tertawa dan menggeleng mendengar jawabanku.
Sial, tepat saat aku masuk ke dalam terlihat keramaian beberapa karyawan yang berkumpul. Aku yang melihat hal itu segera menghentikan niatku dan berbalik, namun aku terhenti saat Karmin salah satu temanku yang bertugas di lokomotif berpapasan denganku.
“Itu rame-rame apaan Cahyo?” Tanya Karmin.
“Mbuh, nggak tahu aku..” balasku yang segera ingin melewatinya.

“Kayaknya serius tuh, samperin yuk..” ucap Karmin sembari menarik pundakku ke arah orang-orang itu. Akupun mau tidak mau terpaksa ikut dengan Karmin.
“Beneran Bu, saya nggak bohong! Citra diculik kuntilanak di bangunan itu semalem”

Terdengar suara Marhan yang berusaha meyakinkan Ibu kepala administrasi , Bu Rohani, atasan langsung dari Citra untuk percaya dengan omonganya.
“Kamu jangan ngada-ngada! Lagian ngapain Citra bisa ada di bangunan itu tengah malam?” ucap ibu itu.

Mendengar perbincangan itu seketika emosiku memuncak. Akupun menerobos kerumunan itu dan segera meraih kerah Marhan dan mengangkatnya ke tembok.
“Jawab yang jujur! Apa yang kalian lakuin di bangunan belakang?” teriakku kesal.

“Bocah brengsek! Lepasin!” Marhan mencoba melawan, namun aku sama sekali tidak berniat melepasnya.

“Cahyo! Sudah jangan kasar!” perintah Bu Rohani.
“Lepasin Cahyo, jangan sampai kamu kita bikin babak belur lagi!” kali ini Gustri, Madun, dan Pasmi ikut maju mencoba mengancamku.

Saat itu aku segera melepas cengkramanku pada Marhan dan menatap dengan marah ke arah mereka.
“Terserah kalian mau mukulin aku sampai babak belur, aku nggak bakal bales!” Ucapku sembari mengancam mereka.

“Tapi seandainya ada satu saja nyawa melayang di tempat ini karena perbuatan kalian, aku nggak bakal tinggal diam!”
Seketika aku meluapkan emosiku dengan memukul sebuah meja kayu di dekatku dan membuatnya patah. Marhan dan teman-temanya terlihat gentar dengan tenagaku, namun aku tidak peduli.
“Bu Rohani, Tolong hubungi Paklek.. semoga Citra masih bisa ditolong,” ucapku pada Bu Rohani dan segera pergi berlari menuju bangunan belakang.
Beberapa orang mencoba mengikutiku, Pak Kosidi yang baru mengetahui tentang kejadian inipun segera menyusul menghampiriku yang sedang mencoba memahami situasi ini.

“Mas Cahyo, beneran Mbak Citra diculik setan? Bukanya katanya setanya Mas Cahyo sendiri?” tanya Pak Kosidi.
“Nggak begitu pak, saya sengaja menakuti orang-orang yang mencoba ke bangunan ini karena saya dan paklek masih mencurigai tepat ini,” jelasku.

“Maksud Mas Cahyo?”

“Beberapa bulan yang lalu Paklek menemukan sisa-sisa sesajen berserakan di beberapa sudut bangunan.
Setelah itu kadang-kadang kayawan yang bertugas di sini kembali melihat hal-hal aneh. Makanya paklek minta supaya bangunan ini ditutup dulu untuk sementara,” Jelasku.

“Berarti mas Cahyo sengaja nyamar jadi setan biar nggak ada yang masuk ke sini?” Tanya Pak Kosidi memperjelas.
Aku mengangguk mengiyakan, seharusnya aku lebih ngotot untuk melawan Marhan dan teman-temanya sebelum ini terjadi. Tapi aku tidak ingin sampai salah dalam menggunakan ilmuku.
Perlahan aku memasuki bangunan itu dan meminta Pak Kosidi menahan karyawan lain untuk masuk.
Kondisi bangunan di pagi ini cukup terang,
aku hampir bisa melihat setiap sudut tempat ini dengan jelas walau hanya dengan penerangan sinar matahari yang masuk dari beberapa jendela besar di atas.

Setelah memastikan tidak ada karyawan lain yang masuk Pak Kosidipun ikut denganku untuk mencari tubuh Citra.
Ruangan demi ruangan aku telusuri, celah-celah mesin rusak yang terkumpul di tempat inipun tidak lolos dari pencarianku namun kami sama sekali tidak dapat petunjuk.
Merasa pencarianku mulai buntu, akupun berdiri tepat di tengah-tengah bangunan dan mencoba mempertajam mata batinku. Mungkin saja aku bisa dapat petunjuk dengan penglihatan yang berbeda.
Benar saja, tak lama setelah aku membuka mata kembali tiba tiba dari sudut jembatan besi yang menghubungkan lantai dua tengah duduk sesosok kuntilanak. Sepertinya ia menunggu aku untuk menyadari keberadaanya.

Makhluk itu menunjuk ke salah satu lubang di mesin penggilingan.
“Pak Kosidi, coba tolong cek di lubang mesin yang terakhir masuk,” ucapku.
Pak Kosidi cukup bingung melihat gerak-gerikku namun ia tetap melaksanakan apa yang kuminta. Ia butuh sedikit memanjat mesin itu untuk mengecek lubangnya.
Awalnya ia tidak menemukan apa-apa, namun perlahan setelahnya wajahnya terlihat kaget.
Ia menarik sebuah benda seperti kain berwarna putih.

“Ada mas! Ada tubuh orang di sini!” Teriak Pak Kosidi.

Akupun segera berlari menyusulnya.
Sesuai ucapan Pak Kosidi, tubuh Citra ada di tempat itu. Anehnya tubuh Citra sudah terbalut kain kafan dalam bentuk pocong.

“Citra! Bangun Citra!” Teriakku mencoba membangunkanya namun itu sia-sia.

Aku masih merasakan sedikit nafas dan detak jantungnya.
Namun apapun yang kami lakukan padanya sama sekali tidak membuatnya sadar.

Sekali lagi aku menoleh ke arah sosok kuntilanak yang memberiku petunjuk. Ia tidak berkata apa-apa dengan wajah pucatnya. Namun sepertinya aku bisa memastikan bahwa ini bukan perbuatan makhluk itu.
Ia seperti memberi isyarat bahwa dirinya dan makhluk lain yang berada di tempat ini merasa gelisah dengan keberadaan sesuatu yang mendatangi tempat ini.

“Kita bawa ke Klinik dulu Pak Kosidi,” perintahku.

“Baik Mas,”
Belum sempat mengangkat tubuh Citra tiba-tiba Pak Kosidi terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal penglihatanya di lubang mesin itu lagi.

“Mas, ada kain kafan lagi di dalam mesin itu,” ucap Pak Kosidi.

Aku tidak percaya dan menghampirinya lagi.
Dan benar, ada satu tubuh manusia lagi yang disembunyikan di sana.. seorang nenek-nenek.
Kami berduapun membawa kedua tubuh itu keluar. Karyawan lain menjadi panik melihat dua tubuh manusia yang tidak sadar dalam wujud pocong.

“Cahyo, Citra meninggal?” tanya Bu Rohani.
“Tidak bu, saya akan coba cari cara untuk menolongnya. Tolong jangan biarkan ada satupun karyawan masuk ke bangunan itu lagi," ucapku.

"Terus yang satu lagi itu siapa?"

"Saya juga belum tahu bu, tapi tolong dibantu juga ya bu.. kasihan," Pintaku pada Bu Rohani.
Ia mengerti dan segera meminta karyawan lagi untuk membantu membawa kedua tubuh itu ke klinik. Bu rohani juga bercerita bahwa paklek akan segera kembali dari tugasnya dan menyusul ke tempat ini.
Setelah Citra dan nenek itu mendapatkan pakaian yang layak dan dirawat di klinik aku mencoba memeriksanya kembali.

Menurut dokter yang bertugas mereka dalam kondisi pingsan. Berbagai cara sudah dilakukan untuk menyadarkan mereka namun gagal.
“Saya bingung mas, kalau begini takutnya mereka bisa koma,” ucap dokter itu.

“Ya sudah, yang penting dokter lakukan yang terbaik yang diperlukan saja. Mereka jadi begini karena hal yang tidak wajar, biar nanti saya coba cari juga akar permasalahanya,” Jelasku.
Dokter itu mengiyakan. Ia memastikan akan memantau kondisi vital kedua orang itu selama masih dalam penangananya.

Aku meninggalkan klinik pabrik dan melihat Marhan dan teman-temanya yang penasaran dengan kondisi Citra.
Akupun hanya menatap mata mereka dan menghela nafas mengingat kelakuan mereka.
“Cahyo,” teriak Marhan memanggilku yang tengah meninggalkan mereka.
“Ci—Citra bagaimana?”
Marhan terdengar merasa bersalah dengan keadaan Citra saat ini. sayangnya aku masih kesal dengan perbuatannya.
“Itu tanggung jawabmu..” ucapku sembari meninggalkan mereka dan menyelesaikan pekerjaanku yang belum sempat kusentuh sama sekali hari ini.
Tepat saat matahari tenggelam aku kembali kembali ke Pabrik untuk mengecek bangunan belakang. Sayangnya paklek masih belum bisa dihubungi hingga sekarang.

Mau tidak mau aku harus mencari petunjuk mengenai permasalahan di bangunan ini seorang diri terlebih dahulu.
“Mas Cahyo, yakin mau ke tempat itu sendirian?” Tanya Pak Kosidi yang khawatir dengan tindakanku.

“Iya pak, nggak usah khawatir. Saya juga sering ke sana sendiri kok,” balasku.
“Nggak gitu mas, tapi semenjak kejadian tadi ada yang cerita.. katanya bekas karyawan bangunan belakang sering melihat sosok mirip kuntilanak berwajah nenek tua. Katanya sosok itu yang memicu kecelakaan kerja.” Jelas Pak Kosidi.
Mendengar ucapan Pak Kosidi aku mengingat sosok kuntilanak yang memberiku pentunjukku tadi. Namun ciri-cirinya sangat berbeda dengan yang diucapkan Pak Kosidi. Lagipula aku sudah sering melihat kuntilanak tadi siang sejak pertama kali aku datang ke pabrik gula ini.
“Justru itu yang ingin saya cari tahu pak, tolong pastikan saja tidak ada yang nekat masuk ke dalam,” ucapku.

Kali ini Pak Kosidi tidak setuju, ia bersikeras ingin ikut mendampingiku ke dalam bangunan belakang. Aku mengerti kekhawatiranya dan membiarkanya mengikutiku.
Kami berjalan melewati bangunan utama. Perlahan aku mengingat prosesi saat aku dan paklek membersihkan bangunan ini dari sosok-sosok yang tak kasat mata. Aku ingat dengan jelas bahwa semua sosok yang mengganggu sudah diusir dari tempat ini.
namun bagaimana bisa ada sosok yang mencelakai lagi?

Saat keluar lewat pintu belakang, tiba-tiba raut wajah Pak Kosidi berubah. Wajahnya pucat dengan bibir yang bergetar.

Tidak.. sudah lama aku tidak melihat hal seperti ini di pabrik.
Saat kami hendak masuk ke dalam bangunan belakang wanita berwajah pucat terlihat melayang menatap kami dengan wajah penuh amarah.

Tapi tidak hanya makhluk itu, ada beberapa sosok hantu anak kecil yang menatap lewat jendela.
Belum lagi sosok makhluk setinggi dua meter menghalangi pintu masuk dengan tatapan mengancam kami.

“Mas, i—itu setan mas? Setan?” teriak Pak Kosidi.
“Tenang dulu mas, seharusnya mereka bukan sosok yang mengganggu,” jelasku.
Aku mencoba mendekat ke sosok itu, namun mereka memasang muka tidak senang seolah memintaku untuk pergi.

Akupun mencoba memperingatkan dengan membacakan doa untuk mengusir mereka dari tempat ini.
Beberapa dari mereka terlihat kesakitan, namun tidak satupun dari mereka yang berniat meninggalkan tempat.

“Gimana mas Cahyo? Kita balik aja?” Tanya Pak Kosidi.
Tidak menyerah, akupun melafalkan ayat-ayat suci yang diajarkan paklek untuk menenangkan mereka. Tapi tetap saja makhluk itu tidak beranjak, anehnya mereka sama sekali tidak berniat untuk menyerang kami.
Akupun mendekat ke arah kuntilanak itu, ia berusaha mengusirku namun aku tetap melangkah maju.

“Kamu bisa mati…”

Terdengar suara bisikan dari kuntilanak itu.
Saat itu juga aku sadar, makhluk-makhluk penunggu bangunan belakang ini berusaha menghindarkanku dari sesuatu yang berbahaya di dalam.


“Aku harus masuk, ada nyawa dua manusia yang dipertaruhkan saat ini,” ucapku pada mereka.
Para penunggu bangunan itu masih tidak ingin membiarkanku, sepertinya sosok yang berada di dalam bangunan itu benar-benar berbahaya.

Aku hampir tergoyahkan dengan peringatan dari mereka. Tapi belum sempat aku berbalik arah, samar-samar terdengar suara dari dalam bangunan.
“Ibu!! Sudah ibu! Hentikan!!” terdengar suara seorang laki-laki dari dalam.

“Sakitt! Sudah Ibu!!”
Seketika aku mengurunkan niatku untuk berbalik dan berlari menerobos ke dalam bangunan.

Gila… aku benar-benar tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini.
Bangunan yang selama ini kujaga untuk tidak dimasuki oleh siapapun kini berubah dengan banyaknya genangan darah di beberapa bagian.

Melihatnya sekilas aku segera saja mengetahui siapa yang melakukan ini semua..

Sosok makhluk yang melayang-layang di tengah bangunan.
Wujudnya menyerupai kuntilanak pada umumnya, namun ia berwujud nenek dengan rambut putih yang terurai acak-acakan.
“Hentikan! Apa yang kamu lakukan!”

Teriakku saat menyadari sosok itu tengah mengangkat seorang anak laki-laki berumur belasan tahun yang wajahnya sudah penuh dengan darah.

“sa—sakit,” anak laki-laki itu terus melenguh entah apa yang tengah terjadi padanya.
Melihat kedatanganku setan nenek itu tertawa terkekeh hingga suaranya menggema di seluruh ruangan. Bersamaan dengan itu terdengar suara makhluk yang mendengung seolah mengucap satu kata secara bersamaan.
“Pak Kosidi, Lari! Makhluk itu tidak sendiri!” Perintahku pada Pak Kosidi.
“Mas? Terus mas Cahyo gimana?” tanya Pak Kosidi bingung.

“Nggak usah banyak tanya! Lari!” Perintahku.
Beruntung kali ini Pak Kosidi mau mendengar perintahku.
Aku menoleh ke arahnya sepertinya sebagian sosok penunggu yang menghalangiku tadi mengawasi Pak Kosidi agar bisa pergi dengan selamat.
Tepat setelah kepergian Pak Kosidi tiba-tiba bangunan ini sudah dipenuhi manusia berwajah pucat.
Bau bangkai muncul dari setiap wujud yang nampak di tempat ini.
“To—tolong” anak laki-laki itu kembali memohon.
Berbeda dengan makhluk-makhluk penunggu pabrik gula yang lain, makhluk ini tidak cukup hanya kutenangkan dengan doa-doa dan ayat suci.
Sepertinya mereka terikat dengan sosok yang mengerikan.

Tak mau memperpanjang lagi, akupun membacakan ajian yang diajarkan oleh paklek. sebuah ajian yang mampu membuat kekuatan fisikku bisa bersentuhan dengan sosok-sosok tak kasat mata ini.
Tidak mungkin aku bertarung dengan sosok sebanyak ini, tujuan utamaku adalah menyelamatkan anak laki-laki yang ditawan setan nenek itu.

Sekuat tenaga aku melompati rongsokan mesin mesin di tempat ini dan melemparkan sebuah pukulan pada sosok nenek itu.
Nenek itupun terhempas ke belakang dan menjatuhkan anak laki-laki itu. Tapi yang membuatku heran, nenek itu tetap tertawa terkekeh- dengan kejadian itu.

Firasatku benar, tak lama setelah nenek itu terpental tiba-tiba aku mencium bau busuk.
Aku mencari asal bau itu yang ternyata berasal dari lenganku yang sempat bersentuhan dengan nenek itu.

“Kehkehkehke…. Bocah goblok, melawanku saja paklekmu tidak mampu. Sekarang ada bocah goblok yang menghantarkan nyawanya,” setan nenek itu mulai berbicara banyak meledekku.
Ucapanya bukan gertakan, jariku benar-benar menghitam tak bisa digerakkan. Seketika aku merasa ragu untuk menghadapi nenek itu dan memutuskan untuk mencari cara menyelamatkan anak laki-laki itu terlebih dahulu.

“Ayo, kita pergi dari sini,” ucapku segera menghampiri anak itu.
Sialnya, belum sempat mendekat tiba-tiba wajah nenek itu muncul dari dalam tanah tepat di samping tubuh anak laki-laki itu.

“Kkhekehkeh… ini anakku, jangan ikut campur” ucapnya mencoba mengambil lagi tubuh anak itu.
Sempat aku berniat untuk mundur, namun aku tetap memaksa berlari ke arah anak itu dan mengangkat tubuhnya.

“Bocah nyusahin lebih baik mati saja,” ucap nenek itu.

Aneh, suara itu terdengar begitu dekat.
Aku merasa perasaan yang tidak enak tepat saat mendengarnya. dan benar saja, anak laki-laki yang kutolong menatapku dengan melotot sambil menyeringai. Raut wajahnya persis menyerupai nenek itu.

Entah apa yang terjadi, saat itu juga kakiku kehilangan kekuatan untuk berpijak.
Rasa panas menjalar di seluruh kakiku yang ternyata mulai menghitam persis seperti yang terjadi pada tanganku.

Tak mampu menahan berat tubuhku, akupun terjatuh dan terbaring dengan setiap anggota tubuhku yang hampir tidak bisa digerakkan.
Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhku ketika sadar aku sudah benar-benar tidak berdaya.

Terlihat sosok roh manusia berwajah pucat di sekitar bangunan ini mendekat ke arahku. Entah apa yang akan mereka lakukan, yang aku tahu semua itu bisa saja menghilangkan nyawaku.
Mereka semakin mendekat, sementara itu nafasku semakin sesak. Ada sosok roh manusia berwujud kakek pincang mendekat ke arahku dan bersiap merasuki tubuhku.

Aku menolaknya sekuat tenaga, namun tubuhku terlalu lemah. Bahkan untuk melafalkan doapun bibirku sudah kelu.
Tepat saat aku mulai bingung dengan keadaan ini, tiba-tiba sosok kakek itu terpental bersamaan dengan suara geraman yang menggema ke seluruh bangunan.

“Ggggrrroaarr…!!”
Tak hanya mementalkan kakek itu saja, tapi berbagai sosok yang mendekat kearahkupun menjauh menjaga jarak dengan diriku.

“Wanasura…”

Sepertinya sosok di dalam diriku kembali terbangun dengan sosok roh kakek yang mengusiknya.
“Kkhkehkehe… ora usah wedi, ketek kuwi raiso opo-opo nek menungsone mati” (tidak usah takut, monyet itu tidak bisa apa-apa kalau manusianya mati) Ucap nenek itu dari tubuh anak laki-laki yang kutolong tadi. Sepertinya ia cukup tau mengenai roh seperti Wanasura.
Mendengar ucapan nenek itu, setan-setan itu kembali mendekat ke arahku. Aku tidak mampu berpikir lagi. Kesadaranku sudah mulai pudar. Yang sekarang kurasakan adalah tubuhku terasa panas dengan hembusan angin yang terasa menenangkan tubuhku.


Tunggu..
Angin? Seharusnya tidak ada angin di tempat ini.
Angin itu berhembus semakin kencang bersamaan dengan terdengarnya langkah kaki seseorang yang sedang berlari.

Suara ayat-ayat suci mengalun bersamaan dengan hembusan angin yang memenuhi bangunan ini.
Seketika aku sedikit tersenyum mendengarnya.
Gambuh Rumekso, sebuah ajian yang diturunkan Pakdeku untuk anaknya yang juga sahabatku.

“Tak tungguin di rumah Bulek malah tiduran di sini,” ucap seseorang yang tak kusangka akan hadir di tempat ini.
Ia mengambil sebotol air dari tasnya dan membacakan doa. Dengan hati-hati ia meminumkanya kepadaku hingga perlahan aku mendapatkan kesadaranku kembali.
“Hati-hati Danan, setan itu bukan makhluk biasa. Waktu nyentuh tubuhnya tanganku jadi menghitam begini,” ucapku mencoba menjelaskan keadaan di tempat ini.
"Ohh.. itu, kamu salah.." ucap Danan.
Iapun berlari meninggalkanku dan menuju anak laki-laki yang dirasuki nenek itu dengan menggam sebilah keris.

“Satu lagi bocah brengsek!” Setan nenek itu mengumpat, kali ini sepertinya ia merasa terancam dengan kedatangan Danan.
Danan mencoba menghujamkan kerisnya pada Makhluk itu namun seketika nenek itu keluar dari tubuh anak laki-laki itu dan melayang menjauh darinya.
Danan tidak mengejar, ia malah mengarah ke salah satu becekan darah dan mengambil sebuah benda. Iapun kembali dan menunjukkan benda itu kepadaku.

“Nih, ini ilmu santet.. tubuh kamu menghitam di setiap boneka jerami ini tersentuh darah,” ucap Danan.
Santet? Sial.. aku benar-benar tidak menyangka hal ini.

Danan dengan sigapnya membacakan doa untuk memutihkan kembali benda perantara santet itu hingga terbakar. Bersamaan dengan itu akupun mendapatkan kembali tenagaku dan mencoba berdiri menghampiri Danan.
“Gimana Nan? Bisa kita hadapi?” tanyaku.

“Nggak tahu Jul, nenek itu bukan setan.. dia dukun yang melepaskan sukmanya. Jadi tau kan makhluk itu sesakti apa?” Jelas Danan.
Gila, melepaskan sukma dan bisa merasuki manusia lain dan mengutuk orang seperti itu? Jelas lawan kami bukan dukun biasa.

“Kamu hadapi Nenek itu biar aku yang menghadapi roh pengikutnya itu, gimana?” aku mencoba menawarkan rencana pada Danan.
Danan melihat sekeliling, sepertinya dia juga tidak yakin dengan apa yang akan kami lakukan.

“Nggak semudah itu, kamu nggak lihat asal genangan darah itu?” tanya Danan padaku.
Benar juga, aku tidak sempat kepikiran dengan apa yang menyebapkan darah ini menggenang di berbagai sudut bangunan.

Sial… tepat saat aku menoleh ke atas, aku mulai sadar dengan sumber darah yang menggenang itu.
Sosok mayat yang dipocong, tergantung terbalik di langit-langit yang tinggi. Jasad itu meneteskan sisa-sisa darahnya yang sudah mulai habis. Sayangnya aku tidak bisa mengenali siapa orang yang ditumbalkan itu.
Mengetahui kami berdua menyadari keberadaan jasad yang tergantung itu, seketika wajah nenek itu berubah kesal. Sepertinya ada ritual yang belum ia selesaikan.
Seolah tidak ingin mengambil resiko, nenek itu menggumam membacakan mantra yang membuatku dan Danan seketika merasa merinding. Bersama dengan dikumandangkanya mantra itu seluruh roh manusia di tempat ini berteriak kesakitan seperti kesetanan dan saling menyerang satu sama lain.
Kami berduapun tak luput dari serangan-serangan makhluk yang menggila di tempat ini. sekuat tenaga aku mencoba menghindari semua serangan itu.

Entah mengapa bangunan belakang pabrik gula ini seketika seperti menjadi medan pertempuran.
Tanpa sengaja di tengah kericuhan itu aku melihat beberapa roh yang kukenali. Ada roh Citra dan nenek yang tubuhnya tadi siang kutemukan di tempat ini.

“Danan, perempuan dan nenek itu.. kamu bisa nolong mereka?” Ucapku.

“Maksud kamu?”
“yang perempuan karyawan pabrik ini, tadi siang aku selamatkan tubuhnya tapi ia tidak bisa sadar,” jelasku.

“Ooh.. kalau tubuhnya masih hidup harusnya roh itu masih terikat dengan tubuhnya,” ucap Danan.
Saat itu Danan dengan cepat menerobos kerumunan roh-roh yang menggila itu menuju roh Citra. Aku berusaha sekuat tenaga untuk membukakan jalan untuknya.

Ada doa panjang yang dibacakan oleh Danan kepada kedua roh yang kutunjuk.
Roh itu terduduk kesakitan namun tak lama sosok roh itupun menghilang perlahan dari hadapan kami.
“Gimana nan?” Tanyaku.

“Berdoa saja, seharusnya sekarang roh itu bisa kembali ke raganya sendiri..” jawab Danan.

“Terus yang lainya gimana?”
“Aku nggak tahu kondisi mereka, ada yang jasadnya sudah mati dan ada yang bersekutu dengan dukun itu. Dua kasus itu aku tidak bisa berbuat apa-apa tanpa mengalahkan sosok yang mengikat mereka,” Jelas Danan.
Benar ucapan Danan, pantas saja doa-doaku tadi juga tidak bisa menenangkan mereka. untuk masalah kutukan dan hal ghaib seperti ini memang Danan lah jagonya.

Di tengah perbincangan kami seketika aku merasakan perasaan yang mengerikan dari setiap sudut bangunan.
Kami tahu, perasaan itu berasal genangan darah tumbal yang digantung itu.

“Ada yang bangkit…” ucap Danan.

“Jadi… nenek itu melakukan ritual pemanggilan?”

Danan sama sekali tidak menjawab pertanyaanku, tiba-tiba tubuhnya terduduk dengan mata yang terpejam.
“Nan? Kamu kenapa?” Aku mencoba memastikan kondisi Danan namun sama sekali tidak ada respon darinya.

Braaakkk!!!

Tanpa kusadari tiba-tiba ada satu sosok tumbal yang terjatuh ke tanah.
“Bocah sialan, kamu bisa ilmu ini juga?” Hantu nenek itu terlihat kesal dan mendatangi sosok yang melepaskan tumbal itu.

“Danan?”
Aku nyaris tidak percaya, tubuh Danan ada di dekatku tapi jauh dari pandangan mataku Danan tengah bertarung dengan setan nenek itu dengan menggenggam keris di tanganya.

“Ilmu Rogosukmo?”
Aku tak mau kalah, sementara Danan bertarung melawan nenek itu akupun memanggil kekuatan wanasura untuk memperkuat lompatanku.

“Wanasura!!!”

Dengan sigap aku melompat dari mesin ke mesin menuju langit-langit tempat salah satu tumbal digantung mengenaskan.
Akupun melakukan hal yang sama dengan Danan menjatuhkan dia dari tempatnya.

Setelah itu aku bersiap melepaskan tiga tumbal lainya, semoga saja hal ini bisa membatalkan dukun nenek itu membangkitkan setan-setan yang ia panggil.

“Cahyo kita keluar!”
Belum sempat menuju tumbal berikutnya, tiba-tiba Danan sudah kembali ke tubuhnya dengan wajah pucat. Ia seperti khawatir dengan sesuatu.

“Ta—tapi Nan?”

“Tiga tumbal lainya sudah diterima, kita tidak sanggup melawan iblis-iblis itu!”
Benar ucapan Danan, aku merasakan hawa bahaya yang besar. Aku tidak lagi membantah, dengan segera aku menghampiri Danan dan membantunya untuk keluar.

Saat itu aku kembali melihat sosok anak laki-laki yang tadi dirasuki oleh ibunya itu.
Firasatku mengatakan aku harus membawa tubuh anak itu.

“Segera keluar! Kita tutup semua pintu bangunan ini!” Teriak Danan.

Sekuat tenaga kami menerobos kericuhan di ruangan itu.
Darah yang menggenang sekarang terlihat bergetar seolah akan muncul sosok mengerikan dari genangan itu.

Tepat saat kami keluar, aku meletakan tubuh anak laki-laki itu di tanah dan membantu Danan menutup seluruh pintu bangunan belakang.
Danan mengambil beberapa benda dari tasnya, ada kertas-kertas bertuliskan mantra dan ayat suci dan beberapa pasak bambu. Ia memasangnya ke beberapa sudut bangunan yang aku tahu itu adalah cara untuk memasang pagar ghaib.
Aku membantunya dengan melafalkan doa yang sama untuk memperkuat pagar yang mengelilingi bangunan itu.

“Apa ini cukup Nan?” Tanyaku.

“Nggak tahu, besok hari minggu kan? Seharsnya tidak ada karyawan yang datang kan?” tanya Danan.

“Iya Nan”
“Semoga saja besok paklek sudah datang, sekarang kita kembali dulu.. tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain mencoba mengobati korban-korban yang kamu ceritakan tadi,” ucap Danan.

Entah mengapa kali ini aku melihat Danan menjadi begitu bisa diandalkan.
Ia benar-benar bisa mengontrol emosinya dan memperhitungkan langkah apa yang paling aman.

“Ia Nan, semoga paklek cepat kembali,” ucapku.

Malam itu aku menggotong Anak laki-laki yang kehilangan kesadaran itu ke klinik tempat Citra dan nenek itu di rawat.
Danan memeriksa mereka juga dan sepertinya ia memastikan bahwa rohnya sudah menemukan jalan untuk kembali ke tubuhnya.

“Suster, tolong dipantau terus mereka ya.. seharusnya sebelum pagi mereka sudah sadar.
Pastikan kebutuhan nutrisi mereka sudah siap agar bisa cepat pulih,” ucap Danan.
Para perawat yang mendengar ucapan Danan sebenarnya bingung mengapa Danan terlihat sok tahu dengan kondisi pasien, tapi dengan kondisi Citra yang aneh merekapun memilih untuk mempercayai ucapan kami.
“Kok kamu bisa tiba-tiba dateng ke pabrik Nan?” Tanyaku heran sembari berjalan menuju rumah Paklek.

“Aku udah dateng dari tadi siang, harusnya senin kan aku sudah kerja di sini.. eh malah ketemu masalah ginian. Kayaknya hidupku nggak jauh-jauh dari urusan demit,”
ucap Danan sambil tertawa.

“Hahaha… nggak papa Nan, kalau kamu nggak dateng tadi nggak tahu gimana nasibku,” balasku.
Dananpun menepuk punggungku seolah menganggap hal tadi bukan hal yang besar.
Saat memasuki desa kami melihat ada sebuah gerobak angkringan dengan lampu yang masih menyala.

Kamipun memutuskan untuk berhenti dulu di sana dan menikmati secangkir kopi dan nasi kucing yang menghangatkan perut kami.
Perbincangan yang panjang terjadi di tempat itu.
Banyak cerita dari Danan mengenai kuliahnya dan ceritaku soal keisengan Paklek.
Entah berapa lama kami ngobrol di tempat itu. Mungkin seandainya angkringan itu tidak tutup, kami akan terus berada di sana hingga matahari terbit kembali.
Setidaknya perbincangan ini mampu sedikit menenangkan perasaan kami sebelum besok menghadapi permasalahan yang membuat kami begitu khawatir.

***
(Bersambung Part 4 )
Buat temen-temen yang mau baca duluan atau sekedar support bisa mampir di @karyakarsa_id ya :

karyakarsa.com/diosetta69/jsd…

Terima kasih sudah mengikuti part ini hingga akhir. Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung 🙏☺️
JSD - Danan & Cahyo
Part 4 - Penunggu Malam Pabrik Gula(2)

Tumbal pabrik gula? Bukan.. ada sesuatu yang lebih mengerikan di tanah ini sebelum pabrik ini berdiri..

#bacahorror #malamjumat @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror_id Image
Part 4 - Penunggu Malam Pabrik Gula

Pagi ini kasur yang kutiduri terasa sangat posesif dibanding hari lainya. la sama sekali tidak mengikhlaskanku terbangun walaupun cahaya mentari sudah berkali-kali menamparku.
Tapi itu tidak bertahan lama, pertahananku goyah ketika aroma masakan Bulek mulai melayang melewati indra penciumanku.

Brakk!!

Seketika aku meninggalkan kasur, mengenakan sarungku dan membuka pintu dengan terburu-buru.
"Bulek! Sayur Lodeh ya!” Teriakku menebak asal aroma masakan itu.

"Wis telat! Usiw tak entekno!” (Sudah telat , tak habisin) ucap Danan meledek sembari melahap suapan terakhirnya.

"Ra mungkin, ambune isih ning kompor.. "(Nggak mungkin, baunya masih di kompor kok)
"lyo.. tapi ikan asinya tak habisin! Tuh lihat aja di meja!” Ucap Danan sembari membuka tudung saji yang ada di meja.

Aku melongo melihat ke arah meja, benar saja hanya tersisa sedikit sambal di mangkuk kecil dengan piring ikan asin yang sudah kosong.
“Uaaseeem... tenanan mbok entekno?” (Asem, beneran kamu habisin?) teriakku kesal.

Danan hanya tertawa meledek sembari bersiap membawa piringnya untuk dicud, aku tidak membiarkan semudah itu dan membuka mulutnya.
“Keluarin... jatah ikan asinku keluarin!” Teriakku sembari menahan dagu Danan.

“Buleeek tolong, ada monyet ngamuk!” Teriak Danan yang semakin senang meledekku.

Bule yang melihat kami hanya menggeleng sembari mengeluarkan sepiring makanan dari lemari penyimpanan.
“ Jul.. Panjul, gampangmen diapusi.. iki Iho isih akeh, Bulek simpen ben ra dipangan kucing,”(Jul panjul, gampang banget dibohongin.. ini lho masih banyak, Bulek simpen biar nggak dimakan kucing) Ucap Bulek yang masih tertawa.
Melihat hal itu aku segera melepaskan Danan dan memastikan jumlah ikan asin yang disimpan Bulek.
“Untung porsinya masih aman, kali ini selamat kamu Nan!” Ucapku sembari mengancam Danan.
Melihat raut wajahku Danan malah semakin tertawa puas setelah mengerjaiku.
"Sayurnya di kompor yo Jul, ambil sendiri,” ucap
Bulek.

"Udah tau bulek, lha kebangunya aja gara-gara sayur lodeh,” ledek Danan lagi.

"Wis menengo, jangan merusak citarasa masakan Bulek,” Balasku bersiap menyantap masakan istimewa di hadapanku.
Danan membantu Bulek mencuci piring dan perlengkapan masak sembari berbincang perbincangan yang tidak sempat terjadi kemarin.

"Paklek sering keluar begini ya Bule?” Tanya
Danan.

"Ya nggak sering, tapi sekalinya keluar bisa lama..” Jawab Bulek.
"Berarti Bulek sering sendirian donk? Sepi donk
pasti?”

"Sepi dari mana? Liat sendiri kan tadi? Gimana rumah bisa sepi kalau ada si bocah ketek ini..” Balas Bulek sembari mengacak-ngacak rambutku.
"Duh bulek, gantengku ilang deh...” gurauku.
Akupun bergegas menyelesaikan makan pagiku dan bersiap mandi membersihkan diri. Beruntung ada
Danan di rumah, ia cukup rajin. Bak mandi sudah penuh dengan air yang ia timba dengan pompa sumur. Jadi tugasku hanya menghabiskanya saja.
Baru saja selesai mandi, tepat saat memasuki rumah dari pintu dapur tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetok pintu rumah dengan terburu-buru.

“Paklek!! Paklek!!” Teriak orang itu.
Aku kenal dengan suaranya, itu suara Pak Kosidi. Ada apa ia sampai menghampiri ke rumah kami?
Jelas saja perasaanku menjadi tidak enak.

“Pak Kosidi, kenapa pak? Kok buru-buru?” Ucap Bulek mempersilahkan Pak Kosidi masuk.

Aku dan Dananpun menghampirinya penasaran dengan apa yang terjadi.

“Paklek apa sudah kembali Bulek?” Tanya Pak
Kosidi.
“Paling sebentar lagi sampai, kenapa to pak?”

“Itu Bulek, Mas Cahyo, karyawan pabrik.. Karyawan pabrik tiba-tiba pada kesurupan," Cerita Pak Kosidi panik.

“Hah??! Gimana bisa? Bukanya hari ini semua libur?” Tanyaku bingung.
Pak Kosidi mengatur nafasnya dan mencoba menjelaskan.
“Nggak mas Cahyo, ternyata ada jadwal lembur hari ini. pekerjaan bagian pengemasan kemarin belum selesai, jadi sisa pekerjaanya diselesaikan hari ini,” ucap Pak Kosidi.

Mendengar ucapan itu Aku dan Danan segera mengambil perlengkapan dan keluar meninggalkan rumah.
“Panjul! Danan! Jangan nekat! tunggu Paklek dulu! Teriak Bulek.

“Nggak bisa bulek, terlambat sedikit banyak nyawa bisa melayang.. minta tolong paklek nyus...”

Belum sempat menyelesaikan pembicaraan tiba- tiba terdengar suara sepeda motor vespa yang terparkir di depan rumah.
“Itu! Paklek dateng!” teriak Bulek.

Aku mengambil sepeda ontelku sementara Danan memberi salam ke Paklek sebentar.

“Paklek! Susul ke pabrik ya! Darurat!” Teriakku yang segera membonceng Danan.
“Heh.. ono opo iki? Tekan-tekan kok wis diusir?” (Heh.. ada apa ini? dateng-dateng kok udah diusir) Tanya Paklek bingung.

“Itu di dalem ada Pak Kosidi, biar dijelasin sama Pak Kosidi saja.. “ Teriakku.

Belum sempat berjalan tiba-tiba Danan menepuk bahuku dan menahanku.
"Sek Jul.. bukanya lebih cepat naik motor?” Ucap
Danan.

Aku melirik Danan sembari sedikit tersenyum.
"lyo yo? Gasss pindah!” Perintahku.

Aku dan Danan segera berpindah ke vespa yang baru saja di parkirkan Paklek dan meminta kuncinya.
"Paklek Si Mbah tak pake dulu! Darurat!” Teriakku sembari menstarter vespa paklek dan meninggalkan rumah.

"Dasar bocah gemblung!” teriak paklek.
Secepat mungkin aku membawa Vespa menuju pabrik gula melewati jalur hutan yang sudah sedikit dibangun.
"Kenapa bisa kelolosan? Berarti pagar yang kita buat kemarin berhasil ditembus?” Tanya Danan.

"Mbuh Nan, nggak tahu.. kalau sampai ada banyak orang di sana, berarti kondisi benar-benar gawat!” Balasku.
Tak butuh waktu lama hingga kami tiba di kawasan Pabrik. Aku memarkir motor tepat di depan pintu bangunan utama. Kalau sesuai ucapan Pak Kosidi,
bagian pengemasan harusnya ada di sayap kanan bangunan utama.
Tapi sebelum kami mencari ke sana, terlihat sosok salah seorang karyawan perempuan sedang duduk di salah satu mesin besar yang masih menyala.
“Khikhikhi... “

Perempuan itu menyeringai menatap kami yang baru saja masuk.
Rupanya tak hanya itu, beberapa karyawan yang tidak kuhafal namanya juga bertingkah aneh. Beberapa dari mereka berlaku seperti anak kecil, sebagian dari mereka merayap di lantai seperti hewan melata.

"Gila.. mereka sampai seperti ini?” Danan terlihat
panik.
Tak menunggu lama, Danan bersiap menghampiri salah satu dari mereka. Aku yang menyadari suatu hal segera menarik dan menahan Danan untuk pergi.

"Apa maksud ini semua?” Tanyaku pada sosok- sosok yang merasuki karyawan itu.
“Khikhikhi... ono sing ngamuk(ada yang marah)
Ucap seorang karyawan yang sepertinya dirasuki oleh sosok kuntilanak yang kukenal itu.

“Kowe Sri to? (Kamu Sri kan?) Jangan bercanda?! Ini sudah keterlaluan!” Teriakku.
“Khikhkhi... ono sing ngamuk! Uwong sing ning bangunan buri ngamuk.. kabeh uwong iki arep dipateni,” (Ada yang marah, orang di bangunan belakang marah.. semua orang ini mau dibunuh) ucap sosok itu lagi.
Aku mulai mengerti, sepertinya sosok yang berada di bangunan belakang benar-benar bisa terlepas dan mengincar orang-orang ini.

“Terns apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian...” belum sempat melanjutkan omonganku tiba- tiba Danan menahanku.
“Jul.. perhatiin, makhluk-makhluk itu tidak menyakiti mereka sama sekali” ucap Danan.
Aku menuruti ucapan Danan dan memperhatikan setiap karyawan yang dirasuki makhluk-makhluk itu.

“Bisa jadi mereka justru melindungi mereka dari sesuatu,” Ucap Danan.
“Khikhikhi... mase sing ngganteng kuwi rodo pinter,” (Masnya yang ganteng itu agak pintar) ucap sosok kuntilanak yang merasuki karyawati itu.

Aku menarik nafas menenangkan diri. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa membaca situasi saat ini.
"Jadi kalian mencoba menolong semua orang- orang ini?” Tanyaku.

Tak lama dari pertanyaanku terlihat seseorang melompat dari lantai dua dan mendarat di belakangku.

“Rrrr...Orra kabeh.."(Tidak semua)
Sontak Aku dan Danan menoleh ke belakang.
Terlihat seorang karyawan yang bertingkah seperti seekor binatang berkaki empat.

“Ono sing digowo ning bangunan mburi.." (Ada yang dibawa ke bangunan belakang)
Aku mencoba menanyakan maksudnya tapi ada lagi karyawan yang melata di lantai menghampiri kami.
"Ssss... Jumlah kami tidak cukup, kami hanya mampu merasuki mereka agar pengikut makhluk itu tidak merebut tubuh ini juga ssss.... " ucapnya.
Danan terlihat berpikir keras, sepertinya ia mencurigai sesuatu.
"Jul, berarti mereka berusaha melindungi orang- orang ini?” tanya Danan.
"Sepertinya ia nan,”
"Kalau mereka belum melepaskan mereka berarti masih ada sosok yang mengancam orang-orang ini di sekitar kita?” Tanya Danan.
Ada benarnya kecurigaan Danan, Sri dan makhluk yang lain masih merasuki karyawan-karyawan di sini.
Pasti ada alasan mengapa mereka belum melepaskan mereka.

“Gggrrrr... Temenan Sri, koncone wong iki luwih pinter,” (Benar Sri, temanya orang ini lebih pintar) terdengar sosok yang menyerupai binatang buas itu mencoba meledekku.
“Sudah-sudah, terserah mau ngeledek apa.. yang penting, sekarang kasi tau alasan kalian belum melepaskan mereka,” ucapku.

Kami menunggu beberapa saat, namun sama sekali tidak ada jawaban dari mereka.

“Jangan main-main kalian!” Aku mulai kesal.
Merasa waktu kami tidak panjang, akupun ingin mencoba menangkap salah satu dari mereka dan menanyakan langsung. Namun aneh, semakin aku melangkah maju ke dalam ruangan tiba-tiba tubuhku semakin berat.

“Panjul! Kamu ngapain??” Teriak Danan.
Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan, tiba-tiba sesuatu menguasai tubuhku da mencoba membanting kepalaku ke salah satu mesin.

"Nan! Bandanku.. bergerak sendiri..!” Teriakku yang semakin gila meronta dan mennghantam benda keras yang ada di sekitarku.
Danan mencoba menghampiriku, namun baru maju beberapa langkah tiba-tiba ia terjatuh tengkurap dan memuntahkan darah dari mulutnya. Tiba-tiba dari hidung dan telinganya mulai meneteskan darah.

"Danan!!!”
Danan berusaha membaca mantra pelindung dan menahan sesuatu yang menyerangnya, namun ia tetap terlihat begitu lemah.

"Serangan ini.. semua serangan ini berasal dari bangunan belakang!” Teriak Danan.
Bangunan belakang? Tidak mungkin.. kami masih jauh dari sana, bahkan kami belum melihat sosok apa yang berada di sana. Bagaimana ia bisa menyerang kami di sini?

Tanpa sadar aku merasakan cairan hangat menetes di pipiku.
Itu adalah darah dari pelipis yang baru saja terbentur di salah satu mesin.
Kesadaranku mulai hilang, tapi aku mendengar suara tawa sri mendekat. la seperti mencoba menahanku untuk menyakiti diri dengan lebih parah.

"Wanasura!!”
Aku mencoba memanggil wanasura berharap ia bisa mengambil alih tubuhku untuk menahan sesuatu yang mengendalikan tubuhku ini, namun sepertinya gagal. Wanasura tidak bisa merasakan panggilanku.
Ada sebuah tuas tajam diantara mesin di dekatku, samar-samar aku merasakan tubuh ini berlari kesana sekuat tenaga.

"Cahyo! Jangan kesana!” Teriak Danan memperingatkanku.

Aku berusaha menahan tubuhku namun sia-sia. Pengaruh ini terlalu kuat.
“Khehkekhe... ini akibatnya kalau ikut campur!” terdengar gema suara sosok setan nenek tua yang kami lawan kemaren.

Brengsek! Berarti ini semua ulahnya...
Sialnya tuas tajam itu sudah ada tak jauh dari hadapanku.
Sebentar lagi benda itu akan menembus tubuhku dan mengakhiri hidupku.

"Panjul! Lompat!”

Terdengar suara paklek dari pintu masuk. Aku tersadar ada rasa hangat yang menyelimuti tubuhku. Saat itu aku segera mendapatkan kesadaranku dan melompat melewati tuas itu.
Aku selamat dengan luka goresan di sepanjang tanganku yang diakibatkan oleh tuas itu. Namun hebatnya, luka itu perlahan menutup dengan ilmu yang dirapalkan oleh paklek.

“Mundur!” Perintah Paklek.

Aku dan Danan segera menurut.
Paklek yang sudah lebih lama mengenal Sri dan yang lainyapun mulai berkomunikasi.

“Sudah Sri, Tinggalkan mereka semua.. biar ilmu saya yang melindungi mereka,” ucap Paklek.

Sri tertawa menyeringai dan turun ke bawah.. ia tertawa sekeras mungkin.
Sontak terlihat berbagai bayangan bersliweran di seluruh bangunan ini.

Aku dan Danan sedikit bisa bernafas lega. Sepertinya Paklek segera bisa menguasai situasi ini.
Paklek mulai membacakan mantra dan merapalkan sesuatu ke seluruh karyawan yang dirasuki oleh para makhluk halus penunggu pabrik ini.

“Pak Kosidi, bawa semua karyawan ini keluar.. pastikan tidak ada satupun yang kembali ke bangunan ini lagi” perintah paklek.
“Baik Paklek,” balasnya singkat.

Aku dan Danan membantu Pak Kosidi memapah seluruh karyawan yang kebingungan dengan kondisinya.

"I—ini ada apa dengan kami?” Tanya mereka.
“Sudah nanti biar saya yang jelaskan, untuk sekarang jangan ganggu mereka,” ucap Pak Kosidi.
Butuh waktu cukup lama mengevakuasi mereka, belum lagi beberapa kali ada sesuatu yang mencoba merebut kesadaran mereka. Beruntung Paklek Sigap dan bisa menahanya.

“Pak Kosidi, terima kasih... saya titip mereka ya,” ucapku.
“Mas..” tiba-tiba Pak Kosidi menahan kami.

“Ada apa pak?”

“Harusnya ada lima orang lagi, mereka belum kembali” Ucap Pak Kosidi yang sepertinya sudah menanyakan ke karyawan yang sudah sadar.
Aku dan Danan mengerti dan segera memberi informasi itu pada paklek.
“Mereka semua sudah keluar?” Tanya Paklek.
Kami mengangguk, saat itu juga wajah paklek terlihat serius. la seperti sudah merasakan betapa berbahayanya masalah saat ini.

“Hati-hati jaga langkah kalian, bila kalian tidak siap sebaiknya kalian pulang,” ucap Paklek dengan tegas.
Kami sangat mengerti peringatan paklek. Kami sudah melihat wujud makhluk itu kemarin, dan kami juga tahu ada sosok yang lebih mengerikan selain sosok setan nenek itu yang bangkit di gedung belakang.

***
Bangunan di belakang tertutup dengan rapat. Kami mengecek pagar ghaib yang kami pasang, namun ternyata semua masih terpasang dan tidak tertembus.

"Gila, bahkan tanpa keluar dari bangunanpun mereka bisa mencelakai orang-orang itu,” Ucap Danan.
Paklek masih terdiam mencoba membaca situasi, sepertinya ia tidak mau sembarang mengambil keputusan.

"Itu, Itu di Jendela Paklek..” Teriak Danan yang menyadari sebuah pergerakan.

Sontak kami melihat ke arah jendela yang ditunjuk oleh Danan.
Sesuatu terlihat menggantung di sana.

"I—itu manusia?” Tanyaku.

"Iya Jul.. sama seperti kemarin, orang-orang itu digantung terbalik. Bedanya kali ini mereka tidak di pocong,” Jelas Danan.
Melihat hal itu tidak ada alasan bagi kami untuk menahan diri. Sebelum masuk kami membacakan ajian pelindung diri setidaknya untuk melindungi diri dari rapalan makhluk di dalam.

Suara pintu besi terbuka terdengar ke seluruh penjuru ruangan.
Kami sudah sangat bersiap menghadapi makhluk-makhluk mengerikan yang akan kami hadapi.
Tapi saat kami masuk, semua diluar perkiraan..
Ruangan ini kosong tanpa ada satu sosokpun yang menampakkan diri.

"Nggak ada siapa-siapa Nan?” Tanyaku pada
Danan.
Kami bertiga mencari ke segara penjuru. Asal sosok yang menyerang kami di gedung utama tadi sama sekali tidak terlihat.

"Karyawan.. karyawan yang di gantung tadi Nan?” Tanyaku lagi.
Kami bertiga menatap ke segala penjuru sembari mengingat arah mana yang ditunjukkan oleh jendela tadi. Tapi aneh, beda dengan saat dilihat dari luar tidak ada sosok siapapun di tempat ini.

"Kok aneh Paklek? Kenapa kosong begini?” Tanya Danan.
Paklek memeriksa genangan darah yang mulai mengering di beberapa sudut ruangan.

"Benar, kisah kelam tanah pabrik ini memang benar ada..” guman Paklek.

"Kisah kelam? Ma—maksud paklek?”

Paklek tidak menjawab, sebaliknya ia malah duduk bersila dan memejamkan matanya.
"Tolong jaga tubuh paklek dulu..” ucapnya.

Aku mengerti apa yang dimaksud paklek. Sepertinya ia ingin melihat tempat ini dari sisi alam lain.

Cukup lama kami menunggu, Danan masih berusaha mencari petunjuk dari jejak-jejak pertarungan kami yang tertinggal kemarin.
Aku berusaha mengingat apa saja yang terjadi kemarin. Masalahnya sebelum masalah ini aku belum pernah mendapat petunjuk tentang orang yang melakukan ritual di tempat ini selain sisa sesajennya.
"Semuanya, mereka semua masih di sini... tapi mereka bersembunyi di sisi lain,” ucap paklek yang telah tersadar.

"Sisi lain? Maksudnya apa paklek?” Tanyaku.

Paklek bercerita mengenai apa yang ia saksikan di pencarianya.
Dari yang ia ketahui, Paklek melihat ada beberapa sosok yang menyegel dirinya di sisi lain alam ghaib di tempat ini.

"Ada dua yang kalian gagalkan, dan tiga yang tersisa tidak ingin gagal sehingga mereka menyegel wilayah mereka agar tidak diganggu,” Jelas Paklek.
"Terus.. karyawan yang lain gimana paklek?” Tanya Danan.

Paklek hanya menarik nafas dan menggeleng.
"Mereka ada di sana, kita doakan saja mereka masih hidup setelah ini,” jawabnya.
Aku dan Danan merasa tidak puas, kami ingin mencari tahu lebih jauh tentang apa yang bisa kami perbuat.

"Kita kembali dulu, kita persiapkan semuanya.. segel itu akan terbuka tepat saat matahari terbenam. Jangan sampai kita tidak siap saat waktu itu tiba,” perintah paklek.
Tidak ada pilihan lain, kamipun akhirnya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Paklek meminta kuci gerbang pada Pak Kosidi dan melarang siapapun untuk datang malam ini.
Sebenarnya awalnya Pak Kosidi tidak yakin, tapi sepertinya menurutnya selain paklek tidak ada lagi yang bisa ia percayai menangani masalah ini.

Siang itu kami berkumpul di pendopo belakang rumah sesuai permintaan paklek.
Kami memanjatkan doa kepada Yang Maha Pencipta untuk memohon perlindungan atas apa yang akan kami hadapi malam ini.

Paklek mengeluarkan keris pusakanya dan mendoakanya. Danan juga mulai mencoba mempersiapkan batinya dan menghafal beberapa mantra yang pernah diajarkan ayahnya.
"Paklek sebenarnya sudah menyelidiki tentang tanah asal pabrik ini,” paklek membuka pembicaraan.

"la paklek, soal tumbal-tumbal yang digunakan para pendiri pabrik itu kan?” Balasku.
Paklek menggeleng.
"Nggak cuma itu, jauh sebelum itu ada hal yang mengerikan di tempat ini,” Jelasnya.

Sepertinya paklek ingin menceritakan tentang apa yang belum kami mengerti.

"Daerah tempat kita tinggal saat ini dulunya merupakan daerah kerajaan yang besar.
Jejaknya terlihat dari keberadaan candi yang dibangun di beberapa tempat. Mulai dari yang besar hingga yang kecil bahkan sudah hancur rata dengan tanah,” Jelas Paklek.
Paklek bercerita lebih jauh lagi. Pada jaman itu layaknya sebuah pemerintahan selalu ada yang tidak setuju dan merasa dengki dengan pemegang kekuasaan. Sedikit demi sedikit orang-orang seperti itu berkumpul dan membentuk sebuah perkumpulan.
Ia mengutuk kerajaan yang berkuasa saat itu. namun karena mereka tahu kesaktian para pemimpin mereka, merekapun membangun tempat pemujaan dan menyembah sosok yang menurut mereka bisa mengimbangi Tuhan.
Ada lima buah candi yang dibangun, masing- masing candi menyimpan sebuah pusaka. Bukan pusaka itu yang berbahaya, tapi sosok yang menjaga pusaka itulah yang disembah dan memberi kekuatan pada kelompok itu.
Raja yang berkuasa saat itu membentuk sebuah pasukan untuk menyelidiki dan menyingkirkan orang- orang itu. Namun ternyata mereka kalah dengan mudah oleh kekuatan pemberian kelima sesembahan itu.
Menurut yang beredar kelima sesembahan itu berwujud raksasa, hewan buas, dan tiga sosok pembawa sihir.

Di dalam kebingunganya, tiba-tiba salah satu trah dari rakyat biasa memohon menghadap raja dan mengaku bisa menangani mereka. Awalnya raja tidak percaya.
Tapi saat anggota trah itu mengatakan ia tidak mengharap apa-apa dari sang raja selain titah, Rajapun mengijinkanya untuk menghadapi kelompok itu.
Benar saja, hanya dengan lima orang dari trah itu mereka berhasil mengalahkan prajurit-prajurit sipil yang dibentuk oleh kelompok pemberontak itu.

Merekapun menghancurkan candi sesembahan itu, menghancurkan pusaka, dan memendam seluruh peninggalan mereka hingga tidak bersisa.
Raja yang masih berterima kasihpun mengangkat derajat trah itu dan memberikan titiah pada mereka untuk terus menjaga wilayah itu. Sudah beratus-ratus tahun semenjak kejadian tersebut, dan tidak ada tanda-tanda soal kelima makhluk itu.
"Pusaka itu sudah hancur, tapi yang paklek takutkan apabila sosok setan itu bisa dibangkitkan,” Jelas Paklek.

Mendengar cerita paklek kamipun bergidik ngeri. Bagaimana tidak? Menghadapi orang kesurupan saja kami masih kadang ragu.
Setan jaman kerajaan? Itu benar-benar diluar perkiraan kami.

"Paklek, apa kita bisa menghadapi mereka?” Tanya Danan ragu.

Paklek kembali menghela nafas, belum pernah aku melihat paklek seragu ini.

"Kamu masih ingat mantra leluhur yang diajarkan Mas Bisma Nan?” Tanya Paklek.
"I—ingat paklek,” Jawab Danan singkat.

"Saat terdesak mungkin kamu bisa membacakan itu seperti yang dilakukan Ayahmu dulu, tapi pastikan itu

hanya kau bacakan hanya saat nyawamu sedang diujung tanduk,” Ucap Paklek.
“Memang kenapa paklek? Kalau memang ampuh kenapa tidak digunakan dari awal,” Tanyaku penasaran.

“Kita tidak tahu apa yang akan muncul, bisa saja sosok yang muncul akan menghabisi kita semua,” Jelas Paklek.
Aku menelan ludah mendengar penjelasan paklek. Tidak kusangka, mantra yang dimiliki Danan ternyata semengerikan itu.

“Terus aku? Aku gimana paklek? Apa yang harus kupersiapkan?” Tanyaku.

Paklek menatapku dari atas hingga ke bawah.
“Nggak ada, nggak ada lagi yang bisa paklek ajarin Jul,” ucap paklek.

“Maksud paklek? Masa beneran nggak ada?”
“Ilmumu berbeda dengan kami, kamu dapet ilmu itu dari perjalananmu. Sosok yang melindungimu itu ada berkat sifat baik dan tulusmu. Bila dibanding dengan T rah kami, justru kekuatanmulah yang paling istimewa,” Jelas paklek.

Aku sedikit ge-er mendenga ucapan paklek.
“Yang bener paklek?” tanyaku berharap paklek mengulang pujianya akan kekuatanku lagi.

"Jangan sombong Jul, coba bayangin seandainya tanpa ada Wanasura di sisimu apa yang terjadi?” Ucap Paklek mengingatkanku.
"Hehe.. kalau itu sih Panjul sudah tahu jawabanya. Kalau tanpa Wanasura aku nggak bisa ngapa-ngapain. berarti aku memang nggak pantas menggunakan kekuatan Wanasura,” Jawabku sembari menoleh tersenyum ke arah Danan.
Paklekpun tersenyum mendengar jawabanku. Semoga saja aku benar benar bisa mengamalkan apa yang aku ucapkan barusan.

***
Langit mulai menghitam bersama cahaya matahari yang mulai terbenam. Hujan mulai turun sedikit- demi sedikit seolah ingin menemani pertarungan kami.

Benar dugaan paklek, kami merasakan kekuatan besar yang tiba-tiba muncul secara mengerikan dari arah dalam bangunan.
"Ada tiga makhluk mengerikan, dan dukun nenek yang memanggilnya itu,” Jelas Danan.
Tubuhku panas dingin mengetahui keberadaan sosok yang ada di dalam bangunan itu.

“Ggrrrroaarrr!”
Tiba-tiba terdengar suara raungan dari dalam raungan yang menggetarkan tanah tempat kami berpijak.
Tak hanya itu, seketika pagar ghaib yang aku buat bersama Dananpun terpecah bersama raungan itu.

"Te—tenang Wanasura, Kita hadapi mereka bersama,” ucapku mencoba menenangkan Wanasura yang ternyata juga merasa gelisah.
Samar-samar kami mendengar suara tembang dari dalam bangunan. Suara itu menggema hingga keluar dengan suara yang sumbang dan mengerikan.
Seketika tubuh kami terasa kaku, namun Danan dengan cepat membacakan mantra untuk melindungi kami dari pengaruh lagu sumbang yang mengandung sihir itu.
Kilatan menyambar ke sekeliling bangunan ini. Cahayanya menunjukan bayangan-bayangan dari karyawan yang hilang sedang memanjat di jendela kaca yang tingginya lebih dari lima meter itu.

"Mereka pasti dikendalikan sama setan itu,” ucap
Danan.
"Iya, persis seperti yang terjadi padaku tadi pagi,” Tambahku.

Kini kami mulai sedikit mengetahui semerikan apa makhluk yang ada di dalam bangunan itu. Aku maju terlebih dulu kembali membuka pintu besi bangunan ini.

Kali ini suasana tempat ini sangat berbeda.
Gudang pabrik?
Bukan... tempat ini lebih pantas disebut sebagai kampung demit.

Sosok dukun nenek tua itu masih melayang layang di tengah ruangan seolah mengatur semua hal ini.
Bukan hanya itu, yang membuat kami sedikit gentar adalah tiga sosok mengerikan di sudut bangunan ini.
Roh-roh berwujud manusia yang sebelumnya saling bertarung di tempat ini menyembah mereka seolah sudah mengikat perjanjian denganya.

Danan tak hentinya menatap sosok wanita berbaju kebaya hitam panjang dengan rambut yang disanggul.
Rahang wanita itu memanjang hingga ke lehernya. Dan yang membuat kami semakin ngeri, mata ,hidung, dan telinga makhluk itu bolong dan tidak ada. Ia merayap di langit-langit ruangan itu sembari menoleh ke arah Danan.
Paklek menatap ke arah kakek tua yang hanya mengenakan sehelai kain di tubuhnya. Tubuhnya dipenuhi lubang-lubang yang dikelilingi borok. Ia menari- nari dengan aneh tanpa berhenti. Anehnya tarianya diikuti oleh semua roh manusia yang menyembahnya.
Dan terakhir adalah makhluk setinggi tiga meter dengan wajah jeleknya yang sebesar setengah dari badanya. Buto? Hewan buas? Bukan.. makhluk ini terlihat lebih mengerikan dari itu.
“Khekehekhe... tujuan kalian menyelamatkan mereka kan?” ucap nenek itu sembari menunjuk ke arah lima karyawan yang kesetanan merayap di langit-langit bangunan.

“Kalau begitu, ambil saja mereka!”

Sesuai perintah nenek itu sosok setan kakek bolong itu melepaskan mantranya.
Seketika kelima karyawan itu jatuh dari langit-langit bangunan tanpa ada pengaman apapun.

"To—toloong” mereka yang tersadar dengan situasi ini jatuh dengan ketakutan.

"Dukun brengsek!! Wanasura!!” Aku memanggil kekuatan wanasura dan segera menangkap yang terdekat dariku.
"Ti—tidak sempat paklek!” Teriak Danan.
Danan dan Paklek mencoba berlari menangkap mereka, namun sama sekali tidak sempat. Jatuh dengan kondisi seperti itu sudah pasti kepala mereka akan pecah tercerai berai.
Akupun memeluk erat salah seorang karyawati yang kutolong tanpa berani melihat jasad keempat karyawan lainya.

“Khikhikhkhi...”

Tidak ada suara orang terjatuh..
Sebaliknya, suara tawa Sri dan suara pijakan beberapa orang terdengar di telingaku.
"Sri!” Teriakku.
Aku tersenyum saat melihat Karyawan yang terjatuh tadi melompat dari mesin ke mesin seperti seekor kera, satunya menari-nari memanjat sambil tertawa cekikikan, dan yang lainya berlari seperti hewan liar.
Paklek tertawa melihat tingkah orang-orang itu.
"Kalian?! Kalian datang?” Tanyaku.

Karyawati perempuan yang kuselamatkan tiba- tiba terbangun dengant tatapan aneh.
"Grrrr... Mereka kami bawa pergi ke tempat yang aman, sebagai gantinya tolong pulihkan rumah kami,” ucap karyawati itu dengan suara berat.
Kali ini aku mulai bingung membedakan sosok apa saja yang merasuki mereka.

"Setan-setan tidak tahu malu!” Teriak nenek itu dengan kesal.
Setelahkelimakaryawanitupergdengan
selamat, oh bukan. Setelah kelima karyawan itupergi dengan kesurupan. Kamipun kembali bersiap menghadapi sosok yang ada di hadapan kami.
Berbagai bayangan melintas sekelebat demi sekelebat hingga beberapa dari mereka menampakan diri di dekat kami bertiga.

"Sri.. ?” Tanyaku.

“Khihi.. ora mung aku," (Nggak cuma aku)
Ada sosok genderuwo besar menutupi pintu masuk, setan-setan berwujud anak kecil, siluman setengah ular, pocong, hingga makhluk yang wujudnya tidak jelas berkumpul di belakang kami.

“Jul.. siapa mereka? Jangan bilang mereka anak buahmu?” Tanya Danan keheranan.
Sebaliknya paklek hanya tertawa melihat kemunculan mereka.
“Dasar demit... memangnya apa yang mau kalian lakukan di sini?” Tanya paklek yang aku tahu bahwa ia juga terharu dengan kedatangan mereka.
“hihi... ini kan rumah kami, sudah sepantasnya kami melindungi rumah kami sendiri,” ucap Sri.

Aku menyaksikan nenek itu begitu geram, walaupun kekuatan mereka tidak seberapa tapi niat mereka cukup membuat kami semangat.
“Ealah Sri, Mbok yo seko mau nek niat ngebantu" (Ealah Sri, kenapa nggak dari tadi kalau memang niat ngebantu) Godaku.

Sontak sebuah ember kecil terlempar ke kepalaku.
“Aduhh... dasar setan gundul!” Teriakku yang mengetahui bahwa lemparan itu berasal dari hantu bocah yang mencoba membela Sri dari ledekanku.
Kini kekuatan Wanasura sudah meluap-luap di dalam tubuhku.
Keris Danan juga sudah tergenggam di tanganya sepertinya ia juga sudah memilih targetnya.
Tangan paklek terlihat seolah terbakar api seolah bersiap melemparkan sebuah serangan.
Semoga saja Tuhan berkehendak agar kami bisa memenangi pertempuran ini. Pertempuran antara setan yang pernah menjadi berhala di jaman dulu, melawan kami dan penunggu pabrik gula yang mencoba mempertahankan rumahnya.
****
(Bersambung Part 5 - Penghuni malam Pabrik gula (end))
Part 5 kita akan menutup seri pabrik gula ya, buat yang mau baca duluan atau sekedar support bisa mampir ke @karyakarsa_id :

karyakarsa.com/diosetta69/jsd…

Part 6nya juga udah ada, dan mulai masuk ke setelah setra Gandamayit
mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung. Mohon hanya dianggap sebagai hiburan.

Terima kasih..
JSD - Danan & Cahyo
Part 5 - Penunggu Malam Pabrik Gula (3)

Sosok roh anak kecil muncul di pabrik gula, sepertinya tubuhnya telah menyatu dengan bangunan pabrik gula ini.

Anehnya, kemunculanya memancing air mata paklek..

#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
Part 5 - Penunggu Pabrik Gula (3)

Kisah mengenai keberadaan sebuah kelompok yang memberontak pada kerajaan semakin terdengar luas. Terlebih dengan hilangnya beberapa anak di desa secara misterius yang dingarai sebagai korban tumbal sesembahan kelompok tersebut.
“Trah Biryasono harus membantu kerajaan meredam kelompok pemberontak itu,” ucap salah seseorang yang memimpi di keluarga tersebut, Darjo Biryasono.

“Tapi kita bukan siapa-siapa, bahkan prajurit kerajaanpun tidak mampu mengalahkan ingon yang mereka panggil!”
“Bukan, itu bukan ingon.. mereka tidak patuh terhadap manusia, sebaliknya kelompok itu malah menyembah setan-setan itu,” Jelas Darjo.

Penjelasan itu sudah menunjukkan betapa gawatnya situasi kerajaan sebentar lagi.
“Mas, memangnya apa yang bisa kita perbuat?” tanya salah seorang yang paling muda diantara mereka.
“Setan-setan itu bukan makhluk biasa, mereka datang dari tempat yang sangat terkutuk.
Sebuah alam yang tidak terbatas ruang dan waktu, sebuah alam yang memiliki kesadaranya sendiri, sebuah alam yang merupakan asal-usul dari seluruh dedemit yang ada di jagat ini.” Jelas Darjo.
Darjo tahu, ucapanya akan membuat seluruh anggota keluarganya semakin ragu akan keputusanya.

“Ada mantra yang diturunkan pada Trah Biryasono, mantra yang dibawa dari tempat itu yang mampu mengembalikan setan-setan itu ke alam tersebut,” Tambah Darjo.
Ada seseorang yang lebih tua dari Darjo. Seorang pria yang pernah menjadi prajurit kerajaan, Puguh. mendengar hal itu ia berdiri seolah mencoba menentang.
“Rencana goblok! Mantra itu tidak hanya mengembalikan setan-setan itu. tapi juga membawa pembaca mantranya! Lagipula itu adalah urusan kerajaan, kita Trah Biryasono bukanlah siapa-siapa di kerajaan ini” ucap Puguh.
Beberapa anggota keluarga setuju dengan Sarwito, tapi Darjo tidak menyerah.

“Kalau begitu saya titipkan Trah Biryasono padamu Mas Puguh, saya punya hutang dengan kerajaan ini. Saya akan menggunakan mantra itu dan setidaknya membawa pergi salah satu dari makhluk itu.”
Darjo menutup pertemuan itu, dan segera pergi dari tempatnya.

“Ojo edan kowe Jo!” (Jangan gila kamu Jo) teriak Puguh, namun sepertinya Darjo tidak peduli.

Tepat setelah meninggalkan rumah pertemuan, tak berapa lama menyusul beberapa orang yang menghadang Darjo.
“Aku ikut Lek Darjo! Sepeninggal ibu, saya tinggal sendiri, dengan ini saya bisa berguna untuk Prabu,” ucap Karsini salah satu keponakan Darjo.
“Akhirnya darah saya bisa berguna, pastikan saya bisa menggunakan mantra itu dengan benar ya mas. Semoga saja kebutaan saya tidak menghalangin sampeyan,” Kali ini salah satu adik Darjo, Sarmin dengan semangat mendampinginya.
Kesiapan Karsini dan Sarmin juga membangkitkan saudara kembar Wiyantra dan Waryitno untuk berkorban.

Sebenarnya Darjo merasa tidak tega, tapi ia tahu bila ingin seluruh keluarga dan keturunanya hidup dengan tenang, Harus ada pengorbanan yang dilakukan.
Walau tidak setuju, Trah Biryasono tetap menemani Darjo melakukan perang bunuh diri itu. setidaknya mereka tidak ingin membiarkan pemimpin mereka mati dengan sia-sia.

Seluruh prajurit kerajaan berhasil memancing kelima makhluk mengerikan itu keluar.
Medan pertempuran itu benar-benar seperti neraka dimana bisa saja salah seorang prajurit mati tanpa tersentuh, atau bahkan tubuh manusia yang segera berubah menjadi tulang belulang oleh terkaman salah satu setan itu.
Darjo memastikan Karsini mengikat setan berwujud sinden dengan darahnya. Sarmin sudah membiarkan darahnya mengikat sosok kakek tua.

Wiyantra dan Waryitno juga sudah berada ditempatnya membacakan mantra yang diturunkan oleh leluhur mereka.
Tepat saat ingin mengikat raksasa besar yang sudah melumat ratusan prajurit, tiba-tiba Darjo terpental oleh sebuah serangan.

Puguh.. ia menyingkirkan Darjo dari tubuh setan itu dan mengambil peranya.

“Mas Puguh! Apa maksudnya ini!” Teriak Darjo yang kebingungan.
“Setelah ini, semua menjadi tanggung jawabmu! Pastikan Trah Biryasono tetap hidup, dan cari cara untuk memulangkan kami ke alam ini..
Walaupun itu hanya jasad kami..” ucap Puguh.
Belum sempat menjawab ucapan Puguh tiba-tiba kelima sosok makhluk itu seperti tertelan tanah tempat dimana darah kelima Trah Biryasono menetes. Makhluk itu memberontak, tapi mantra itu pekat. Tidak ada satupun dari makhluk itu yang lolos.
Tanpa adanya bantuan dari kelima setan itu, seluruh pemberontakpun kalah dengan mudah oleh prajurit kerajaan. Patih dan prajurit yang melihat kejadian tadi segera melaporkan kepada Prabu.
Wilayah pemberontak diserahkan kepada Trah Biryasono. Bukan tanpa alasan.
Setidaknya Darjo dan keluarganya mungkin bisa mendapat petunjuk untuk mengembalikan ketiga keluarganya yang terbawa ke alam itu.
Sayangnya beratus-ratus tahun sudah berlalu dan tidak ada satupun dari Trah Biryasono yang bisa menemukan cara untuk mengembalikan Puguh, Karsini, ,Sarmin, dan yang lainya bahkan hingga keturunanya mulai habis.

***
(Pabrik gula..)

Suara sumbang setan yang tengah menyayi menggema ke seluruh bangunan ini. suara itu berasal dari sosok setan perempuan berkebaya hitam tanpa wajah dan telinga. Hanya mulutnya yang panjang hingga ke leher yang terus mengutuk dengan tembangnya.
Danan terlihat mengejar sosok itu yang terus saja menjauhkan diri darinya. Ia tahu, suara sumbang makhluk itu lambat laun akan mempengaruhi kami bila kami lengah.

“Khikhkhi… Ojo kesusu le” (Jangan terburu-buru nak) Ledek makhluk itu.
Berkali kali Danan mencoba menyerang sosoknya, tapi ia selalu berubah menjadi asap hitam dan muncul di sisi lain Danan.

“Aku iki ora seneng yen ono sing sworone luwih apik seko aku, koyo sworone ibumu”
(Aku ini tidak suka kalau ada yang suaranya lebih bagus dari aku, seperti suara ibumu)
Mendengar ucapan setan itu, seketika wajah Danan berubah semakin serius.

“Jangan berani-beraninya kamu menyentuh ibu!” Ancam Danan.
“Khikhihihie… Jenenge Kirana to? Aku Nyai Wasihan bakal mastekke sworone ora kerungu meneh ning alam iki” (Namanya Kirana kan? Aku Nyai Wasihan akan memastikan suaranya tidak akan terdengar lagi di alam ini)
Danan tidak lagi menahan kesabaranya. Ia menghunuskan kerisnya ke makhluk yang mengaku bernama Nyai Wasihan itu berkali-kali. Namun tetap saja tidak ada satupun seranganya yang mengenainya.
“Danan, Jangan terpancing.. pasti ada cara untuk menyerangnya,” peringat Paklek yang mengetahui maksud sebenarnya dari setan itu.

Baru saja berpaling mengkhawatirkan Danan, tiba-tiba darah menetes dari hidung Paklek. Namun ia tak henti-hentinya membacakan doa dari mulutnya.
Puluhan roh manusia berada dalam kendali kakek tua yang berada di hadapan Paklek, mereka menari-nari mengikuti tembang Nyai Wasihan sembari menyerang Paklek.

Sesosok makhluk besar berkepala raksasa mencoba melompat menerjang pintu besi seolah berniat untuk keluar.
Aku tahu dengan sangat bila makhluk itu berhasil lolos banyak nyawa yang akan dalam bahaya.
Sekuat tenaga aku melompat dan menyerangnya dengan kekuatan Wanasura hingga kami berdua terpental.
Aku terjatuh dengan keras oleh seranganya, hingga terdengar suara retakan dari salah satu tulangku.

“Brengsek! Dukun itu benar-benar memanggil setan-setan yang ngerepotin,” Keluhku sembari memaksakan diri untuk berdiri.
Nenek dukun itu tersenyum percaya diri mengetahui kami hampir tidak berdaya menangani makhluk-makhluk itu.

“Khekehkeh… Ada desa yang tidak jauh dari tempat ini. Mungkin mereka cocok menjadi santapan kami,” ucapnya.
Nenek itu memberi isyarat kepada ketiga makhluk itu untuk meninggalkan bangunan. Tanpa adanya pagar ghaib, dinding bangunan ini dapat dengan mudah ditembus oleh mereka.
“Paklek! Mereka ingin menyerang desa!” Teriakku memperingatkan Paklek, namun ia hanya terdiam terpaku seolah tidak mengerti harus berbuat apa.

“Paklek!” Dananpun juga berharap petunjuk dari Paklek untuk menghalangi rencana dukun itu.
“Bulek dan warga lain dalam bahaya!” Aku bersiap mendatangi Paklek mencoba menyadarkanya.
Tapi… sosok putih menghadangku. Sri yang berwajah pucat seolah menghalangiku mengganggu Paklek.
“Sri! Kenapa?”
Bukanya menjawab, Sri malah memasang muka sedih.
Tak lama setelahnya terdengar suara benturan keras diantara dinding-dinding bangunan pabrik ini. Seluruh sosok yang mencoba meninggalkan bangunan tertahan dengan sesuatu yang tak kasat mata.

“Dia tidak mengijinkan kalian keluar..” ucap Paklek sembari menggumam.
“Brengsek! Apa yang kalian lakukan!!!” Dukun itu benar-benar tidak dapat berbuat apapun walau dengan berbagai cara.

“Paklek?! Apa ini?” Tanyaku yang merasa sedikit lega.
“Bukan Jul.. bukan Paklek,” balas Danan sembari menunjukkan bayangan yang perlahan muncul di hadapan Paklek.

“Kowe isih ning kene to le?” (Kamu masih di sini ya nak?)
Seorang anak kecil pucat muncul di hadapan Paklek.
“I—itu siapa?” Tanyaku.
Danan menggeleng, sepertinya ia merasa ada ikatan khusus diantara anak itu dan Paklek.

***
( beberapa puluh tahun yang lalu )

“Danu Pak! Tolong Danu belum pulang sampai sekarang,” terlihat seorang ibu yang cemas dengan keadaan anaknya itu.
Beberapa warga meminta ibu itu untuk tenang, sebagian dari mereka membantu ibu itu mencari ke seluruh desa, sayangnya tidak ada tanda-tanda ditemukanya anak bernama Danu itu.
Ibu itu tidak menyerah, ia terus berkeliling dari desa ke desa hingga menyisir hutan dengan membawa satu-satunya foto anaknya yang ia punya.
“Le.. kowe ning ngendi to le? Mbok khawatir,” (Le kamu dimana to le? Ibu khawatir) ucapnya yang baru saja mengijinkan kakinya untuk beristirahat sejenak sembari memandangi foto anaknya itu.
Berhari-hari Ia dan warga mencari keberadaan Danu, namun sama sekali tidak ada petunjuk. Hanya ada satu tempat yang belum mereka cari. Sebuah pabrik gula yang terletak di sebrang kebun tebu di sisi utara desanya.
“Mbok, kalau memang Danu hilang di pabrik gula kami juga pasti tidak bisa menolong bu..” ucap pak kades.

“Setidaknya warga desa ada yang jadi karyawan di sana kan? Mungkin saja ada yang melihat Danu,” Ibu itu memohon.
“Sudah saya tanyakan dan mereka tidak melihat anak kecil di sana. Kalau ada anak kecil nyasar mereka pasti memberi tahu. Kecuali…”

“Kecuali apa pak?”

“Halah sudah… kalaupun terjadi kita bisa apa, yang penting sekarang kita terus cari informasi,”
“Dijadikan tumbal maksud bapak? Itu kan yang mau dikatakan Pak Kades?” Ibu itu masih memaksa.

“Walau banyak desas-desus, tapi kita tidak bisa menuduh.. Tenang ya Mbok, saya dan warga desa akan mencoba membantu sebisa kami,”
Ibu itu menitikkan air mata, ia sama sekali tidak terima seandainya desas-desus itu benar.

Ada seorang pria yang sempat tinggal di desa itu selama beberapa minggu. Bimo namanya. Dia juga membantu mencari keberadaan Danu, namun sama sepeti lainya. Tidak ada hasil.
Tanpa sengaja, ia mendengar perbincangan antara kepala desa dan Ibu tadi. Rasa kasihan akan kesedihan ibu itu membuatnya penasaran dan ingin menyusup ke pabrik mencari tahu tentang hal itu.
Sebelumnya, desas desus tentang pabrik ini juga sudah banyak disebarkan oleh warga. Mulai tentang keberadaan tumbal manusia saat membangun, hingga tumbal anak-anak yang konon membuat hasil gula menjadi lebih manis.
Apalagi, baru-baru ini ada kabar bahwa pabrik sedang merenovasi bangunan di sisi belakang.
Bimo mencoba menyelinap malam hari ke dalam pabrik itu melalui sisi hutan yang dibatasi dengan kebun pisang.
Ia mengitari beberapa kali pabrik itu sembari mencari kemungkinan tentang keberadaan Danu.


Terlihat di matanya ada bangunan belakang yang sudah dirobohkan sebagian dan akan dibangun kembali.
Tak jauh dari tempat itu samar-samar terdengar suara anak kecil yang menangis. Seketika Bimo segera berlari mengejar ke arah suara itu hingga terlihat sosok anak yang tengah bersembunyi di tembok pinggir bangunan itu.
“Danu, kamu Danu kan? Ayo pulang.. ibumu sudah nyariin,” ucap Bimo berusaha mendekat ke anak itu.
Suara isak tangis semakin terdengar saat Bimo semakin mendekat.
“Me—mereka mau masukin aku ke mesin itu” ucapnya sembari menangis dan menunjuk ke mesin pengaduk semen.
Bimo mendengar hal itu begitu kesal, seandainya bisa ia ingin sekali menendang mesin itu dan menghancurkan bangunan ini. Sayangnya ia hanya pemuda biasa yang bahkan belum menetap di desa.
“Nggak, nggak bakal mas biarin.. sudah ayo pulang, mas jagain” ucap Bimo.
“Mereka mau nuangin aku ke tanah yang di gali itu dengan pasir dan semen dari mesin itu,” lanjut anak itu lagi.
Saat itu seketika Bimo merasa merinding. Ia mulai curiga dengan keberadaan anak kecil yang menangis sendirian di malam hari.
Anak ini tahu dengan jelas niat buruk yang akan dilakukan padanya.
Bimo menoleh ke arah anak itu dan mencoba menyentuhnya. Bersamaan dengan itu airmata Bimopun menetes.
“Kok iso-isone le…” (Kok bisa-bisanya Le) ucap Bimo semakin menangis.
Ia pergi ke tengah bangunan yang akan dibangun itu dan menatap sayu ke arah bekas cor-coran bangunan.

“Jangan kasi tau Mbok..” ucap anak itu.

“Tapi kamu nggak bisa tenang” Balas Bimo.

“Aku lebih nggak tenang kalau Mbok tau aku mati dengan cara ini,” balasnya lagi.
Bimo terlihat bimbang namun ia sama sekali tidak dapat memutuskan apa yang harus ia lakukan dengan pengetahuanya sekarang.
“Biar saja aku di sini, menjadi satu dengan bangunan ini. Setidaknya aku bisa memastikan orang-orang bodoh itu tidak melakukan perbuatan keji ini pada anak-anak lain di tempat ini”
Sosok roh anak kecil itupun perlahan menghilang ke tempat dimana jasadnya berada. Bimopun hanya bisa memanjatkan doa untuk anak itu.

Dalam hatinya ia berjanji, suatu saat aka kembali ke tempat ini untuk membebaskan roh Danu.
Tidak mungkin Bimo menceritakan tentang apa yang terjadi semalam pada warga desa, namun ia terus mencari tahu tentang ritual penumbalan di pabrik itu.
Menurut kepala desa, ritual itu seharusnya tidak ada. Pimpinan pabrik juga menentang keras hal seperti itu.
Tetapi ada orang-orang bodoh yang terjebak dengan permainan dukun.
Dukun itu menakut-nakuti dan mencelakai para pekerja dengan ilmunya. Dengan bodohnya dukun itu pula yang dipanggil untuk menangani masalah tersebut.
Karyawan yang bodoh mempercayai dukun itu untuk memberikan tumbal anak kecil agar tidak ada lagi kecelakaan kerja baik saat pembangunan dan produksi.
Bimo yang mendengar kisah itu begitu geram. Sesuai janjinya Bimo tidak menceritakan kondisi Danu pada ibunya.
Iapun hanya bisa menelan sendiri rasa emosi yang ia rasakan atas apa yang terjadi pada Danu.

***
“Kowe Danu to?” (Kamu Danu kan?)

Tanya Paklek pada sosok anak kecil yang ada di hadapanya itu.

Roh anak kecil itu mengangguk, aku dapat melihatnya dengan jelas bahwa sosok itu sudah berada di tempat ini selama puluhan tahun.
“Setan-setan itu tidak bisa keluar? Ini perbuatanmu?” tanya Paklek lagi.

Sekali lagi roh anak kecil itu mengangguk.

“Aku sudah menjadi satu dengan bangunan ini. Sampai semua urusan ini selesai, tidak ada yang akan keluar dari bangunan ini,” ucap roh anak kecil itu.
Paklek menarik nafas mendengar niat dari roh anak bernama Danu dulu.

“Terima kasih, setelah ini mungkin sudah waktunya untukmu. Ada sebuah tempat yang harus kamu datangi,” balas Paklek.

Anak kecil itu kembali menghilang ke sebuah tempat di bawah bangunan ini.
Di hadapanku Sri terlihat menangis. Sepertinya jiwa keibuanya juga tergerak dengan keberadaan sosok Danu.

Hebat… setan-setan itu benar-benar tidak bisa meninggalkan bangunan ini. Sepertinya itu juga berlaku untuk kami dan para penunggu bangunan ini lainya.
“Khekehkeh… Goblok! Iki artine aku musti mateni kowe kabeh to?” (Khekhkehe… Goblok! Ini artinya aku harus membunuh kalian dulu kan?) ucap sosok nenek dukun yang melayang layang mendekat ke arah kami.
Dengan percaya diri nenek itu memerintahkan ketiga setan itu untuk menghabisi kami. Terlihat amukan di wajah ketiga makhluk itu yang sudah siap melumat kami habis-habisan.
Aku , Paklek , dan Danan bersiap dengan apapun yang akan terjadi pada kami.
Ketiga makhluk itu menerjang dengan sangat cepat seolah tanpa berfikir.

Tapi aneh.. arah serangan ketiga makhluk itu bukan ke arah kami.

Sosok raksasa itu malah menggigit sukma dukun nenek tua itu dan mencabik-cabiknya.
“A—apa ini!!! Setan-setan brengsek!!” Teriak nenek itu yang segera sadar dan ingin kembali ke tubuhnya yang entah berada di mana.

Namun naas, sukmanya tidak dapat meninggalkan bangunan ini dengan kekuatan Danu yang menyelimutinya.
“Pergi!! Jangan mendekat! Aku yang memanggil kalian!!” Teriaknya.

Nyai Wasihan mendekat ke arah dukun itu dan menempelkan wajahnya.
“Khikhikhi… ora ono sing iso mrentah awake dewe, kowe musti mati sak durung nyeluk demit liyane sing lewih sakti” (Tidak ada yang bisa memerintah kami, kamu harus mati sebelum sempat memanggil setan lain yang lebih sakti) Ucap Nyai Wasihan.
Saat itu juga Nenek itu merasa kesakitan. Seperti ada darah keluar dari hidung dan telinganya menggambarkan apa yang terjadi pada tubuh aslinya.
“Ra—raden! Tolong saya Raden!!” nenek itu berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan pada seseorang yang ia sebut dengan nama.. Raden.
Seketika aku bertatapan dengan Danan.
Teriakan sebutan itu mengingatkan kami akan kejadian saat kami sekolah tentang keberadaan sosok orang dibalik Omah Kandang Mayit.

“Jul.. Raden? Apa ada hubunganya dengan tempat itu?” tanya Danan.

“Ora ngerti Nan.. pikir keri,” (Nggak ngerti nan, pikirin nanti)
Teriakan nenek dukun itu menggema keseluruh bangunan besama dengan rohnya yang terbelah jadi dua. Sepertinya itu juga yang terjadi dengan tubuh aslinya.
Aku menelan ludah melihat kejadian itu. hal itu memastikan makhluk yang kami lawan benar-benar tidak memiliki hati dan tidak segan-segan menghabisi kami.

“Jangan lengah! Mereka akan menyerang kita lagi!” Teriak Paklek.

Kali ini serangan itu benar-benar mengarah ke arah kami.
“Dadung gumotro, entekno..” (Dadung Gumotro, Habisi!) perintah Nyai Wasihan pada raksasa berkepala besar itu.

Makhluk itu sekuat tenaga menyerang kami, aku menahanya namun terus terpental. Danan yang tahu aku tak bisa menahanya menyusulkan sebuah serangan ke tubuh makhluk itu.
Keris Danan menancap di tubuh raksasa itu, tapi itu tidak berdampak banyak padanya.

Paklek telah mempersiapkan mantranya, seketika ada api yang membakar seluruh sosok makhluk yang menyerang kami.
Roh-roh pengikut ketiga makhluk itu terbakar dan menghilang satu persatu, namun serangan Paklek hampir tidak berdampak pada ketiga setan itu.
Setan yang dipanggil dengan nama Dadung Gumotro itu benar-benar mengerikan.
Tak satupun serangan dari kami bertiga bisa melukainya.

Tapi Danan tidak menyerah..

Ia membacakan sebuah ajian pada kepalan tanganya dan melemparkan sebuah pukulan jarak jauh untuk mementalkan makhluk itu.
“Hebat nan! Sekali lagi!” Perintahku pada Danan.
Tepat saat pukulan keduanya mengenai raksasa itu aku menghantamkan pukulan bertubi-tubi dengan kekuatan wanasura yang merasukiku hingga makhluk itu terbaring tak berdaya.
Seolah merasa panik, Hantu berwujud kakek tua itu membacakan sebuah mantra untuk mengendalikan tubuhku. Tapi aku tak ingin ilmu yang sama sampai mencelakaiku hingga dua kali.

“Wanasura!!”

Aku berteriak sekuat tenaga memanggil sosok roh kera raksasa yang mendiami tubuhku.
Sebuah raungan keras menggema ke seluruh bangunan dan mematahkan mantra setan itu. Seketika juga aku melompat menuju kakek itu dan menyerangnya dengan sebuah pukulan. Danan menyusulku sembari menebaskan kerisnya.

Tepat sebelum serangan kami mengenainya kakek itu tersenyum.
Sama seperti Nyai Wasihan serangan kami tidak bisa menyentuh sosok setan kakek itu.

“Nan.. nggak kena nan!” ucapku.

Gila semua pukulanku hanya menembus tubuh kakek itu tanpa membuatnya terluka. Begitu juga dengan keris milik Danan,tak ada satupun serangan kami yang melukainya.
“Khekhekeh… sekarang kalian sudah paham kan?” Kakek itu tertawa puas melihat ekspresi kami.

Nyai Wasihan mendekati kakek itu sementara Dadung Gumotro kembali berdiri dengan luka-luka yang telah menghilang dari tubuhnya.

“Panjul! Danan! Mundur!!” Perintah Paklek.
Kami menurutinya dan meminta penjelasan dari Paklek.

“Percuma saja… mau sesakti apapun kalian, kami tidak bisa mati! tidak ada satupun ilmu yang bisa melukai kami..” jelas Nyai Wasihan.
Seketika aku dan Danan Gentar, rupanya sedari tadi Paklek belum menyerang setan kakek tua itu karena mengetahui hal ini.

Paklek membacakan sebuah mantra dan menghangatkan tubuh kami dengan ajian tersakti yang ia miliki..
Geni Baraloka.Perlahan kutukan Nyai Wasihan dan setan kakek itu menghilang dari tubuh kami.

“Kita cari cara untuk mengalahkan mereka. Jangan menyerah,” perintah Paklek.
Sayangnya belum sempat melancarkan serangan, tiba-tiba tubuh Paklek terangkat tinggi dan jatuh menuju lantai. Aku melompat mencoba menangkapnya namun sebuah pukulan mendarat di tubuhku yang membuatku terpental.
Aku mencoba berdiri namun suara melengking Nyai Wasihan seolah bersiap memecahkan gendang telinga kami.
Sekali lagi darah mengalir dari telinga kami. Danan tak mau menyerah, ia membacakan ajian gambuh rumekso dan menciptakan angin yang menyayat-nyayat Nyai Wasihan.
Walaupun serangan itu tidak melukainya, angin itu bisa membawa pergi suara sumbang setan itu.

Saat kami mencoba menyerang kembali, tiba-tiba tubuh kami mulai bergerak dengan sendirinya. Tubuhku, Danan, dan Paklek tak mampu menahan pengaruh kutukan setan kakek tua itu.
tubuh kami melayang setinggi-tingginya.

“Danan! Paklek!” Teriakku mengkhawatirkan mereka.

Mungkin aku bisa bertahan dengan kekuatan wanasura, tapi bagaimana dengan mereka.
Paklek mencoba menyelimuti kami dengan geni baraloka berharap luka kami bisa pulih saat terjatuh, tapi itu kalau kami tidak langsung mati saat menyentuh tanah.

Danan…
Di tengah pengaruh setan kakek itu ia menggenggam keris di dadanya sembari membacakan sebuah mantra yang sepertinya belum pernah kudengar.

“Danan! Jangan!” Paklek mencoba menahan mantra yang dibacakan oleh Danan.

Jagad lelembut boten duwe wujud
Kulo Nimbali
Aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Danan. Saat itu tubuh kami terjatuh ke tanah tanpa ada penahan sedikitpun.
Kekuatan Wanasura membuatku mampu bertahan walau dengan luka yang fatal.
Tapi.. aku melihat dengan jelas tubuh Paklek dan Danan dengan darah yang berserakan.

“Da—Danan! Paklek!“ aku mencoba menghampiri mereka, tapi ternyata kakiku tak mampu digerakkan.

Rasa sakit yang menjalar ini seolah memastikan salah satu kakiku patah.
Terdengar suara berbisik dari mulut Danan yang tubuhnya hampir tidak bergerak dengan genangan darah di sekitarnya.

Tekan asa tekan sedanten

Tepat setelahnya Danan kehilangan kesadaranya.
Aku menoleh ke arah Paklek, ia menggenggam sebuah keris di tanganya, namun sama seperti Danan ia segera kehilangan kesadaranya.
Suara hujan terdengar semakin deras mengelilingi bangunan ini.
seolah mengetahui aku yang masih tersadar, sebuah injakan mendarat ditubuhku dan mengaburkan kesadaranku.

Tapi tepat sebelum aku bernasib sama dengan Danan. Aku mendengar suara tertawa sosok kakek tua yang memenuhi ruangan ini.
Suara langkah kaki mendekati kami dari sosok yang melompat dari satu tempat ke tempat lain sambil tertawa seperti orang gila.

Setan…
Satu lagi setan datang dengan wujud kakek tua dan rambut yang berantakan. Berbeda dengan sosok kakek yang dipanggil dukun tadi. Setan ini benar-benar terlihat lebih liar.
Tak lama setelahnya mataku berkabut dan penglihatanku menghilang secara perlahan.
“Cuh.. Bocah-bocah asu! Nduwe nyowo disiak-siake ngono wae! Goblok!” (Bocah-bocah Sial! Punya nyawa disia-siakan begitu saja! Goblok!)
Entah siapa yang mengucapkan kata-kata itu, suara itu terdengar tepat sebelum semua menjadi gelap.

***
“Bangunn… ! Sadar Mas Cahyo… Khikhikhi..”

Terdengar suara Sri yang terus memanggilku.
Hangat.. perlahan rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Sedikit demi sedikit rasa sakitku kembali pulih.
Akupun membuka mata dan menyaksikan tubuhku, Danan, dan Paklek telah dikelilingi api putih.

“Ini api dari keris sukmageni Paklek kan?” Tanya Danan yang sepertinya juga baru saja tersadar.
“Syukurlah, rupanya masih sempat..” ucap Paklek dengan tubuh yang masih perlahan mencoba memulihkan luka.

Aku melihat keadaan sekitar, Sri melayang-layang ke beberapa sisi bangunan. Pemandangan yang terlihat benar-benar tidak kusangka.

“Paklek! Danan! Lihat itu!” Ucapku.
Aku menunjuk ke arah Nyai Wasihan yang kepalanya telah terpisah dari badanya. Setan kakek yang tubuhnya terbaring dengan darah hitam mengalir di bawahnya dan Dadung gumotro yang tubunya telah terpisah-pisah dibantai sosok yang jauh lebih mengerikan.
“Ba—bagaimana bisa? Ini perbuatan siapa?” Tanya Danan.

Aku menggeleng, Paklek juga menunjukkan raut wajah bingung.

“Kh..kh.. Setan Brengsek! Kubalas perbuatanmu”
Terdengar suara yang berasal dari kepala Nyai Wasihan. Ia masih berusaha memulihkan dirinya dan menyambungkan kepalanya.
“Paklek! Dia masih hidup!” Ucapku.
Kami segera berdiri dan Paklek mencoba membakar tubuh Nyai Wasihan, tapi sama seperti tadi. Serangan kami tidak berguna.
“Sial!! Kalau mereka pulih akan sama saja!” Teriakku.

“Khikhikhi… tunggu bocah! Setelah ini kuhabisi kalian” Ancam Nyai Wasihan.
Kami hampir putus asa mencari cara menghabisi ketiga makhluk ini, namun tak berapa lama terdengar suara seseorang yang memaksa masuk ke dalam bangunan ini.

“Mbah!! Jangan mbah! Bahaya!”

Aku tahu suara itu, itu suara pak kosidi. Tapi ia ke sini bersama orang lain.
“Pak Kosidi! Apa maksudnya ini!” teriakku.

Mereka mencoba masuk, tapi Paklek menahanya karen kekuatan Danu pasti akan menghadang mereka untuk keluar.

Tapi seorang nenek yang bersama Pak Kosidi tetap memaksa dan masuk ke dalam tempat ini.
“Mbah itu… bukanya mbah yang kita temukan bersama tubuh Citra?” Tanya Danan.
Aku memperhatikan sosok nenek itu dan benar kata Danan, dia adalah sosok tubuh yang kuselamatkan dari dalam mesin.
“Tolong Le… Cuma saya…” Ucap nenek itu.
“Cuma saya yang bisa memulangkan setan-setan itu”
Kami bertiga saling bertatapan mempertanyakan maksud nenek itu.

“Maksud Mbah gimana?” tanya Paklek.
“Saya keturunan terakhir Trah Biryasono, kelima saudara saya yang lain sudah mati dan jasadnya digunakan untuk memanggil setan-setan itu,” jelasnya.
Seketika aku dan Danan teringat akan kelima pocong yang digantung terbalik dan meneteskan darah di tanah.
“Jangan-jangan yang dimaksud adalah kelima pocong yang digantung di langit-langit bangunan ini?” Tanyaku.
Nenek itu mengiyakan, ia menjelaskan bahwa leluhurnya menurunkan mantra yang mampu mengembalikan setan-setan itu ke tempat asalnya.
“Tapi… tapi nenek juga akan mati kan bila menggunakan mantra itu?” tanya Danan khawatir.
“Umur saya sudah di penghujung, setidaknya biarkan saya berguna sedikit lagi” Jawab nenek itu memaksa.
Jelas kami bertiga tidak bersedia melakukan hal itu, namun menurut Paklek ada satu kemungkinan dimana nenek itu tidak akan terbawa ke alam di mana setan itu berasal.
“Tepat setelah mantra itu aktif, api dari keris sukmageni akan mempertahankan sukma mbah di sini.. tapi bukanya itu artinya mbah hanya bisa mengembalikan satu diantara mereka bertiga?” ucap Paklek.
Aku setuju dengan pertanyaan Paklek. masih ada dua lagi yang akan kembali pulih dan haru kami hadapi.
“Darah kedua jasad saudaraku yang gagal dalam ritual kemarin.. semoga saja darah itu masih bisa membawa kedua setan lainya,” Balas Nenek itu.
Seketika aku segera melompat ke arah tempat aku dan Danan menggagalkan ritual itu. dan memang masih ada sisa genangan darah yang mulai mengering di sana.
“Mbah.. apa benar-benar bisa” Tanyaku memastikan.
“Sudah bantu saja saya…” ucapnya.
Nenek itu memerintahkan ketiga setan itu diletakkan di atas genangan darah tadi. Satu lagi ia meneteskan darahnya di tubuh Nyai Wasihan.
“Brengsekk!!! Kowe meneh!! Tak Pateni kowe!” (Brengsek!! Kamu lagi!! Aku bunuh kamu!) Nyai Wasihan terlihat emosi saat melihat sosok nenek itu.
Sepertinya aku mengerti mengapa nenek dukun itu tidak membunuh nenek ini.
dia bisa menjadi senjata untuk mengembalikan setan-setan ini bila mereka memberontak.
Nenek itu bersiap membacakan mantra, namun sebelumnya Danan menghentikan nenek itu.
“Mbah.. sebelumnya, kami boleh kan mengetahui nama mbah?” Tanya Danan.
Nanek itu menoleh sebentar ke arah Danan dan kembali melakukan ritualnya.
“Raras.. Nyai Raras..”
Ucapnya sembari membacakan mantra dalam bahasa jawa kuno.
Perlahan samar-samar aku melihat seolah darah itu membentuk aksara dan mengikat ketiga setan itu.
“Nenek sial! Kuhabisi kau di alam sana!” ancam Nyai Wasihan.
Tepat setelah ucapan itu api putih membakar tubuh Nyai Raras dan menahan tubuhnya agar tidak ikut terbawa ke alam itu. Namun mantra yang ia gunakan benar-benar menghabiskan tenaganya yang sudah renta.
Sedikit-demi sedikit darah dari Trah Biryasono menggerogoti tubuh setan itu dan membawa sedikit-sedikit tubuh mereka ke tempat asalnya sampai benar-benar menghilang.

“Paklek.. apa sudah selesai?” Tanyaku tidak percaya.
Paklek mengangguk, sepertinya ia juga tidak menyangka akan akhir seperti ini. Danan terlihat cemas sepertinya ia memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan.

Kami beruntung…
Tak satupun dari kami yang bisa mengalahkan setan itu, namun ada sosok yang tidak kami ketahui melumpukan setan-setan itu dan kedatangan Nyai Raras yang mengembalikan mereka ke tempat asalanya.
Seandainya tidak ada mereka…
Aku yakin kami sudah tak benyawa, dan entah apa yang terjadi dengan warga desa dan karyawan pabrik lainya.
Kamipun berusaha memulihkan diri dulu sebelum meninggalkan pabrik.
Tepat saat matahari terbit dan cahayanya masuk lewat kaca-kaca bangunan, Sri dan yang lainpun menghampiri kami sebentar sebelum pergi kembali ke sudut-sudut tempat dimana biasanya mereka berada.
“Kita harus lebih kuat Nan..” Ucapku sembari menahan lelahku.
“Harus.. aku ngerasa ada hal besar dibalik semua bencana ini” Balas Danan.
Paklekpun berdiri setelah cukup beristirahat. ia hanya menghampiri kami dan mengelus kepala kami sembari berjalan mencari udara segar di luar bangunan.

***
Sebuah rumah kayu tua terlihat tidak terawat di salah satu desa yang tidak jauh dari pabrik. Seorang nenek tua terlihat tengah menyalakan lampu minyak dan menggantungnya di depan rumahnya.
Langkahnya terlihat sudah sangat renta. Beberapa kali ia mencari pegangan untuk menahan tubuhnya saat berjalan.

Kami mendekati rumah itu dan mencoba menyapa nenek itu. iapun menajamkan matanya dan berusaha mengenali kami dengan penglihatanya yang sudah lemah.
“Panjenengan niki sinten nggih?” (Mas-masnya ini siapa ya?) Tanya nenek itu yang tidak berhasil mengenali kami.

Aku menoleh ke arah Paklek yang sepertinya berusaha menahan air matanya.
“Mboten mbah, kami dari desa sebelah.. kebetulan habis panen. Ini mau nganter sayur, singkong, sama pisang,” ucap Danan sembari meletakkan bawaan kami di hadapan nenek itu.

“Owalah, matur nuwun yo le.. monggo saya buatin kopi dulu,” ucap nenek itu.
Tepat ketika nenek itu masuk ke dalam, terdengar suara tangisan seorang anak kecil yang kugendong di bahuku.
“Mas.. Mbok kasihan, dia hidup sendirian di hari tuanya,” ucap Danu yang seolah merasa menyesal dengan keputusanya.
Ia semakin menangis ketika melihat nenek itu tertatih-tatih membawa beberapa gelas kopi untuk kami. Danan segera membantunya membawa gelas itu dan mengambil kursi untuk nenek itu duduk.
Belum sempat duduk lama, tiba-tiba terlihat sekelompok anak kecil yang baru pulang dari masjid berlarian menghampiri kami.
“Nenek!!” anak-anak itu menyapa nenek dengan semangat.
Melihat kedatangan anak-anak itu nenek tersenyum dan kembali berdiri menyambut mereka.
“Ealah le, jangan lari-lari.. nanti jatuh” ucap Nenek itu.
“Iya Nek, nenek sehat kan?” ucap mereka sembari salim dengan nenek itu.
Anak-anak itu seolah sudah sangat terbiasa bermain di rumah nenek. Mereka membawa mainanya sendiri-sendiri dan bermain di lahan di depan rumah.
Nenek sesekali tertawa melihat tingkah laku anak-anak itu yang tengah bermain. Iapun bercerita, selama ini ia sudah menganggap anak-anak di desa ini sebagai anaknya sendiri , begitu juga sebaliknya anak-anak di desa ini sudah menganggap dirinya sebagai neneknya.
“Wis to le, ndang midun… mesakne mase kuwi,” (Sudah nak, turun.. kasian masnya)
Tiba-tiba nenek itu berbicara sembari menoleh ke arahku.
“Mbok… Mbok iso ndelok aku?” (Ibu, ibu bisa melihat aku?) Roh Danu kaget mendengar ucapan ibunya itu, tapi ibunya tidak menjawab.
“Mbah bisa melihat Danu?” Tanyaku memperjelas.
“Ndak mungkin aku ndak tahu kalau anakku satu-satunya ada di sini to?” jawab nenek.
Saat itu Danu turun dan memeluk ibunya walau ia tahu dirinya tidak bisa menyentuh ibunya itu.
“Kowe sing tenang yo le… Mbok wis ikhlas” (Kamu yang tenang ya le.. ibu sudah ikhlas) ucap Nenek.
Sepertinya walaupun tidak bisa melihat dan mendengar Danu, ia dapat merasakan dengan jelas keberadaan anaknya itu.
“Banyak yang nemenin Mbok, Mbok nggak kesepian lagi.. ada si Tukul, Landing, Risma yang sering main ke sini nemenin Mbok.” Ucapnya sembari menitikkan air mata.
Tidak ada lagi kata-kata yang terucap dari Danu malam itu. ia hanya duduk dipangkuan ibunya yang sudah menua sembari menyaksikan anak-anak yang bermain di halaman rumah Mbah.
Kami berpamitan membiarkan mereka menghabiskan sisa waktunya berdua. Danu terlihat senang, sepertinya sebentar lagi ia akan pergi dengan tenang.
Namun masih ada satu hal yang harus kami lakukan agar Danu bisa benar-benar pergi. Setidaknya kami harus menguburkan jasadnya dengan layak.
Kamipun kembali menuju bangunan belakang, namun kali ini ditemani Pak Kosidi dan beberapa kawanya.
Cukup lama, namun kami akhirnya berhasil menemukan Jasad Danu dan menguburkanya dengan layak.

“Kabar anak laki-laki yang kemarin gimana pak kosidi? “ tanya Danan yang penasaran dengan sosok anak dari dukun itu.

“Ohh.. dia sudah dijemput sama saudaranya.
Tenang , sudah saya pastikan kok” jawab pak kosidi.

“Ya sudah kalau begitu, semoga saja saudaranya iklhas menjaga anak itu,” ucap Danan yang khawatir dengan anak itu, terlebih ia tahu bagaimana orang tuanya memperlakukanya.
“Tenang mas, sepertinya saudara-saudara yang menjemputnya itu juga orang berpunya. Sepertinya ada keturunan ningrat juga.. soalnya salah satu bapak yang menjemput dipanggil ‘Raden’” jelas Pak Kosidi.
Seketika aku menoleh mendengar ucapan itu. Aku tahu Raden adalah panggilan untuk seseorang yang diberi gelar kehormatan dan banyak yang sering di panggil dengan ucapan itu. Setidaknya aku berharap bahwa orang yang menjemputnya bukanlah sosok Raden yang pernah kami temui.
“Jul.. coba ke sini.” Danan memanggilku menuju sebuah tempat bekas tempat setan-setan itu di kembalikan ke alamnya.

“Ono opo Nan?” (Ada apa Nan?) Tanyaku.

Danan menunjukkan sisa-sisa ritual yang dilakukan nenek dari Trah Biryasono itu.
ada sebuah lambang yang sepertinya tidak asing. Sebuah lambang yang pernah kami lihat di lembaran kertas tua yang kami temukan di Omah kandang mayit.

“Ini sama dengan yang itu nan?”

Danan mengangguk.
“Apa nenek itu ada hubunganya dengan Raden? Sepertinya kita harus mencari tahu arti lambang ini,” Ujar Danan.
Kami tidak bisa mengambil kesimpulan hanya dengan petunjuk seperti ini. Tapi sepertinya dari dalam hati kami tahu bahwa kami akan berurusan dengan sesuatu yang berhubungan dengan lambang ini.

***
Bersambung Part 6 - Dongeng Dari Alam Lain
Part 6 kita akan kembali ke masa dimana Danan dan yang lain terjebak di Jagad Segoro Demit.
Semua dimulai dari sebuah gulungan serat lontar yang didapatkan Pak Waja..

Buat yang mau baca duluan atau sekedar support bisa mampir ke karyakarsa ya :
karyakarsa.com/diosetta69/jsd…
Terima kasih sudah mengikuti part ini hingga akhir, semoga cerita ini bisa menghibur.

Mohon maaf apabila ada salah kata atau bagian cerita yang menyinggung. jangan lupa bantu RT & komen ya

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Diosetta

Diosetta Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @diosetta

Apr 24
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 8 - Tahta Terkutuk

"Bukan hanya kekuatan dan pusaka yang diwariskan… tapi kutukan pun yang memilih siapa yang layak menanggungnya..."

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
Part Sebelumnya :

Singgasana Rojomayit:
Part 1 - Sang Penagih Janji
x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh
x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Part 5 - Dosa Sambara
x.com/diosetta/statu…
Part 6 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Part 7 - Tanah Para Pendosa
x.com/diosetta/statu…
Kalau teman-teman terhibur dengan cerita-cerita Diosetta, dan berkenan mensupport. Bisa memlalui beberapa platform ini ya ..

Saweria :
saweria.co/saweria
Karyakarsa :
karyakarsa.com/diosetta69
Lynk id :
Lynk.id/diosetta

terima kasih
Read 15 tweets
Apr 16
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 7 - Tanah Para Pendosa

Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar.
Diam... Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam....

#bacahorror @bacahorror @ceritaht Image
Singgasana Rojomayit:
Part 1 - Sang Penagih Janji
x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh
x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Part 5 - Dosa Sambara
x.com/diosetta/statu…
Part 6 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Penonton Dari Alam Lain

Suara pedagang memecah riuh sore di Desa Kandimaya. Ia menurunkan pikulan dagangannya di pinggir lapangan—tepat di hadapan kelir wayang yang sudah berdiri, menunggu malam turun sepenuhnya.

Lampu-lampu mulai dinyalakan. Bayangan tokoh wayang samar-samar menari di atas layar.

Naya dan Nyai Kirana membuka pertunjukan dengan tembang pembuka. Suara mereka mengalun pelan, mengikat perhatian warga yang terus berdatangan. Tak lama, dalang Ki Arsa mengambil alih, memulai kisah yang sudah dinanti.

Kemeriahan semacam ini sudah menjadi napas Desa Kandimaya. Jadwal pementasan mereka bahkan dikenal hingga desa-desa lain. Malam seperti ini, penonton membludak... datang dari jauh, duduk berdesakan, larut dalam cerita.

Naya menatap satu per satu wajah yang hadir. Ada rasa hangat yang mengembang di dadanya. Semua kerja kerasnya seolah terbayar malam itu.

Namun yang paling membuatnya bahagia… ia kini berdiri di satu panggung dengan Nyai Kirana, panutannya. Sekaligus ibu dari seseorang yang begitu ia sayangi.

Tapi di tengah pementasan, tiba-tiba Naya menyadari sesuatu yang tidak biasa.

Di kejauhan, jauh di belakang kerumunan warga, Naya melihat bayangan hitam yang sangat besar. Diam. Menjulang. Nyaris menyatu dengan gelapnya malam.
Wujudnya tak jelas.

Namun anehnya, rasa yang muncul bukanlah takut, melainkan kebingungan.

“Gik… gik… gik…”

Suara tawa berat, ganjil, menyusup di sela jeda pementasan.

Naya menarik napas lega. Ia mengenali suara itu. Hanya satu makhluk yang memiliki tawa seaneh itu.

“Buto Kendil… dia ikut menonton juga,” bisik Nyai Kirana pelan.

Naya mengangguk. Ia mengangkat tangannya sedikit, sebuah salam kecil ke arah sosok raksasa penjaga Bukit Batu itu.

Namun malam itu… ada yang berbeda.

Buto Kendil tidak sekadar datang untuk menonton. Dari kejauhan, meski samar, sosoknya tampak gelisah. Seolah ada sesuatu yang mengusiknya.
Read 15 tweets
Apr 9
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 6 - Garis Darah Terkutuk

Satu persatu kekuatan Patiwongso mulai menemukan tuannya, banjir getih tak bisa dihindarkan...

#bacahorror @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror Image
Part Sebelumnya

Singgasana Rojomayit:

Part 1 - Sang Penagih Janji
x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh
x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
Part 5 - Dosa Sambara
x.com/diosetta/statu…
GARIS DARAH TERKUTUK

Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang bercampur dengan bau kematian. Ombak menghantam pantai tanpa henti, seolah ikut mengamuk bersama malam yang mencekam itu.

Di tepi desa, warga berlarian meninggalkan rumah mereka. Tak ada yang berani menoleh ke belakang. Mereka hanya tahu satu hal, jika berhenti, mereka akan mati.

Satu-satunya tempat yang bisa mereka tuju hanyalah hutan di pinggir pantai.

“Sial… dari mana Trah Brotoguno mendapatkan kekuatan semengerikan itu?!” teriak seseorang dengan napas terengah.

“Kita sudah membunuh anak pertama mereka saat menyantet warga kita… mereka pasti tidak akan melepaskan kita!” balas yang lain, suaranya gemetar.
Ketakutan merayap di antara mereka.

Dalam satu malam, sepuluh nyawa telah melayang.

Bukan sekadar mati—mereka meregang nyawa dengan cara yang tak masuk akal. Mata mereka pecah, pembuluh darah di tubuh mereka meletus satu per satu, sementara jeritan kesakitan menggema sebelum akhirnya lenyap dalam sunyi.

Beberapa warga yang sempat menoleh ke arah desa melihat pemandangan yang membuat lutut mereka lemas.

Di gapura desa, seorang pemuda berdiri santai. Blangkon menutupi kepalanya, sementara tangannya mengusap bilah keris dengan tenang—seolah apa yang terjadi di sekelilingnya bukanlah apa-apa.

Warga mengenali pemuda itu, adik dari anggota Trah Brotoguno yang mati di desa itu dalam pertarungan santet. Namun mereka tak menyangka, ia membalas dendam dengan cara sebrutal itu.

“I—itu? Buto?!” Warga desa gemetar, mereka tahu, kematian orang-orang itu adalah kutukan dari makhluk keramat itu.

“Aku bukan pendendam…” ucap pemuda itu. “Tapi dengan sedikit bantuan dari darah kalian, makhlukku akan jauh lebih kuat dari Sangkaratuh..”

Pemuda itu berkata, dan menancapkan kerisnya di tanah.

Ia pun pergi, dan menghilang dalam gelap. Saat itu sang buto bergerak, dan satu-persatu warga mati dengan mengerikan.

Menyadari hal itu, warga yang tersisa semakin dalam memasuki hutan, berharap kegelapan bisa menyembunyikan mereka dari maut.

Dari kejauhan, mereka masih bisa melihat sosok raksasa itu berjalan di antara rumah-rumah, memburu siapa pun yang tersisa.

“Sampai kapan kita di sini, Pak…?” tanya seorang ibu sambil memeluk anaknya erat-erat.

“Dia akan pergi saat pagi datang,” jawab suaminya, meski suaranya sendiri dipenuhi keraguan. “Kalau kita bisa bertahan sampai subuh… kita cari pertolongan.”
Namun harapan itu terlalu rapuh. Karena makhluk itu tidak berniat menyisakan satu pun dari mereka.

Langit tertutup awan hitam. Bulan lenyap tanpa jejak. Pepohonan bergoyang tak wajar, seolah ikut hidup dalam teror yang sama.

Dan ketika salah satu dari mereka menoleh ke atas, napasnya tercekat.

Sosok raksasa itu sudah berdiri di antara pepohonan.
Saang pemuda dari Trah Brotoguno itu menari-nari sambil memainkan kerisnya. Sementara itu suara teriakkan ketakutan, jeritan kesakitan, dan raungan kematian terdengar dari hutan.

Seolah menjadi musik latar, pemuda itu tertawa dan menari tanpa merasa terusik dengan kematian seluruh warga desa di hutan itu.

“Hahaha! Mati.. Mati!” Teriaknya sambil melompat kegirangan.

Ia melihat kerisnya bergetar, menandakan setiap nyawa yang ditumbalkan menjadi kekuatan bagi dirinya.

“Dengarkan aku Raden Argoyo.. Aku Elang Brotoguno! Akulah yang akan menghabisimu dan sangkaratuh!” ucapnya geram.

“Aku dan Buto Bhayak yang akan menduduki singgasana Rojomayit dan menguasai seluruh jagat dedemit!”

“Grrrraarroooorrr!!” Boto Bhayak seolah merasakan amarah Elang Brotoguno, tuannya. Ia menghabisi warga desa yang telah membunuh kakak dari elang dan pengikutnya.

Niat penumbalan, dan dendam akan kematian kakaknya membuatnya tak memikirkan belas kasihan pada mereka.

Saat matahari akhirnya menyembul dari ufuk timur, suasana berubah menjadi sunyi senyap.

Deburan ombak terdengar tenang, mencuci sisa-sisa jejak darah di pesisir pantai. Namun, tidak ada lagi suara manusia. Desa itu telah menjadi desa mati, dan hutan di perbatasan pantai itu kini hanya berisi keheningan yang abadi.

***
Read 12 tweets
Apr 2
Singgasana Rojomayit
Part 5 - Dosa Sambara

"Darah yang diturunkan tak menentukan jiwa yang ditumbuhkan. Hasrat dan dendam menodai kesucian darah yang disucikan.."

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritahtImage
Part Sebelumnya :

Singgasana Rojomayit:
Part 1 - Sang Penagih Janji x.com/diosetta/statu…
Part 2 - Abdi Dedemit
x.com/diosetta/statu…
Part 3 - Pemakan Roh x.com/diosetta/statu…
Part 4 - Garis Darah Terkutuk
x.com/diosetta/statu…
KETURUNAN SAMBARA

Suara desing peluru memecah keheningan desa. Tajam dan tanpa ampun.

Dalam sekejap suasana yang semula tenang berubah menjadi kepanikan. Warga yang masih berada di luar rumah segera berlari masuk, menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Beberapa hanya berani mengintip dari celah jendela, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Namun yang mereka lihat hanyalah kekacauan.
Teriakan yang bercampur dengan suara tembakan.
Bayangan tubuh yang terjatuh.

Dan darah yang menyiprat hingga mengenai kaca jendela rumah mereka.

Tak seorang pun benar-benar berani keluar. Mereka hanya bisa bersembunyi, berdoa dalam diam agar kengerian di luar tidak merambat masuk ke rumah mereka.

Beberapa saat kemudian suara tembakan itu berhenti dan digantikan oleh derap sepatu yang berat dan teratur. Lalu suara mesin kendaraan yang menjauh perlahan dari desa.

Keheningan kembali turun. Namun keheningan itu terasa lebih menakutkan daripada sebelumnya.

Setelah cukup lama menunggu, beberapa warga akhirnya memberanikan diri membuka pintu. Satu per satu mereka keluar dari rumah, berjalan perlahan menuju jalan desa.

Dan saat itulah mereka melihatnya.
Beberapa orang langsung menutup mulut mereka menahan teriakan.

Di sepanjang pagar desa, kepala-kepala manusia tertancap seperti peringatan yang kejam. Tubuh mereka tergeletak tak beraturan di jalan tanah yang kini berubah merah oleh darah.

“Biadab…!” teriak seorang warga dengan suara gemetar.

“Mereka benar-benar biadab!”
Semua orang tahu siapa yang dimaksud.

Orang-orang kulit putih itu.
Para penjajah yang datang bukan hanya untuk berkuasa, tetapi juga untuk menebar ketakutan.

“Mereka… siapa sebenarnya?” tanya seorang warga lain dengan suara lirih, hampir tak berani melihat lebih dekat.

Kepala desa bersama beberapa orang pria memberanikan diri memeriksa jasad-jasad itu. Mereka berjongkok di dekat tubuh yang berserakan, mencoba mengenali wajah-wajah yang kini hampir tak lagi utuh.
Salah satu dari mereka menemukan sesuatu.

Sebuah gelang.
Di pergelangan tangan korban.
Bukan hanya satu. Beberapa jasad lain juga mengenakan gelang yang sama dengan simbol aneh yang tak dikenal warga desa.

Seorang pria tua menatap gelang itu lama, lalu wajahnya memucat.

“Mereka…” suaranya nyaris berbisik. “…perompak bayangan.”

Warga lain menoleh.

“Itu kelompok yang sering merampok gudang milik penjajah,” lanjutnya. “Mereka mengambil harta dari orang kulit putih itu… lalu membagikannya ke desa-desa yang kekurangan.”

Beberapa warga langsung saling berpandangan.
“Mereka pernah membantu desa kita,” kata seseorang. “Waktu gagal panen tahun lalu…”
Rasa ngeri perlahan berubah menjadi duka.

Orang-orang yang kini tergeletak sebagai mayat itu… pernah menyelamatkan mereka dari kelaparan.
Namun balasan dari penjajah jauh lebih kejam.

“Orang kulit putih itu memang tidak punya hati…” gumam seseorang dengan suara pahit.
Sementara warga masih terpaku pada pemandangan mengerikan itu, dua pemuda berdiri agak jauh dari kerumunan.

Mereka tidak mendekat.
Hanya memperhatikan dari kejauhan.
Krama menyipitkan matanya, memandangi barisan kepala yang ditancapkan di pagar.

“Ini tidak sesederhana peringatan,” katanya pelan.
Di sampingnya, Dasa mengangguk.

“Tumbal,” jawabnya singkat.
Krama menoleh.

“Tumbal?”

“Pembantaian seperti ini terlalu rapi untuk sekadar ancaman,” kata Dasa. “Ada sesuatu yang mereka inginkan.”

Krama tidak menjawab.

Tatapannya justru beralih pada jejak di tanah—bekas roda kendaraan yang masih jelas di jalan desa.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan mulai berjalan mengikuti jejak itu keluar dari desa.

Dasa menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut berjalan di belakangnya. Krama mengencangkan kain di pinggangnya.
Read 14 tweets
Mar 26
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 4 - Tahta Kosong

Kekuatan terkutuk yang terkubur selama ratusan tahun itu merasuk ke dalam keris Dasasukma, dan Abah menyadari perubahan pada diri Dirga..

#bacahorror @bacahorror @IDN_Horor @ceritaht Image
Part sebelumnya :

Part 1 - x.com/diosetta/statu…
Part 2 - x.com/diosetta/statu…
Part 3 -
x.com/diosetta/statu…
DOSA TAK TERBAYAR
Awan-awan hitam berkumpul tepat di atas pohon raksasa itu, besarnya melampaui apa yang bisa bayangkan manusia. Petir menyambar berulang kali, tetapi tak setetes pun hujan jatuh ke tanah di sekitarnya, seolah langit sendiri menolak menyentuh tempat itu.

“Dirga! Lepaskan kerismu!” teriak Abah, memaksa dirinya mendekat.

Namun ledakan kekuatan hitam yang memancar dari Keris Dasasukma menghantamnya. Abah terpental mundur, dadanya terasa sesak oleh tekanan yang tak kasatmata.

“Aku…” suara Dirga terdengar asing, seolah bukan miliknya sendiri. “Aku harus mendapatkan kekuatan ini!”

Tanah bergetar lebih keras.

Retakan menjalar dari batang pohon, menyebar ke tanah seperti urat-urat luka yang terbuka. Akar-akar kering bergeliat pelan, seakan hidup kembali.

Abah tak mau menyerah. Ia melangkah maju lagi, memaksakan diri menembus tekanan itu. Bibirnya tak henti melafalkan doa, satu-satunya senjata yang ia miliki.

Namun tepat saat kekacauan mencapai puncaknya, cahaya putih muncul di hadapannya.

Sosok itu samar, menyerupai manusia, namun seluruh tubuhnya bersinar lembut. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Abah berhenti.

“Tenang… segel itu mengenalinya.”
Suaranya tenang, dalam, dan menenangkan.

Entah mengapa, Abah mempercayainya. Meski hatinya masih bergejolak melihat Dirga berdiri di pusat badai kekuatan yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.

Beberapa saat kemudian, kekuatan hitam itu mulai meredup.

Awan-awan hitam tercerai. Petir berhenti. Getaran tanah perlahan mereda.

“Sudah selesai,” ucap sosok cahaya itu pelan, lalu lenyap, seolah tak pernah ada.

Abah segera berlari menghampiri Dirga.

Anaknya berdiri gemetar, tangannya masih menggenggam Keris Dasasukma. Wajahnya pucat, tetapi matanya menyala oleh sesuatu yang baru.

“Aku mendapatkannya…” bisiknya.

“Apa maksudmu? Apa yang kau dapatkan? Jangan gegabah, Nak…” suara Abah dipenuhi kecemasan.
Dirga menelan napas.

“Kaki…”

Abah terdiam, tak mengerti.

“Itulah wujud asli kekuatan ini,” lanjut Dirga lirih.

“Bagian tubuh dari makhluk terkutuk… yang selama ini disegel di bawah pohon ini.”
Ia memandang keris di tangannya.

“Segel itu mengenaliku. Ia mengenali Keris Dasasukma. Ia tahu tempat ini sudah tidak aman… ada sesuatu yang mencarinya.”

Dirga mengangkat keris itu perlahan.
“Jadi segel itu berpindah. Ia menjadikan keris ini… kurungan barunya.”

Angin malam berembus dingin melewati mereka.
“Abah… kita harus pergi. Sekarang. Tempat ini sudah tidak aman.”

Abah mengangguk.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga mengangkat jasad pria misterius itu ke pundaknya. Mereka meninggalkan pohon Caruluk, meninggalkan tempat yang kini terasa seperti jantung dari kegelapan itu sendiri.

Namun belum jauh mereka berjalan, Dirga berhenti.
Di kejauhan, bayangan-bayangan samar tampak melayang menuju pohon itu. Bentuknya tak utuh.

Seperti kabut yang hidup. Roh-roh pengintai, tertarik pada sesuatu yang kini sudah tak lagi berada di sana.
Dirga mempercepat langkahnya.

Mereka harus pergi sebelum sesuatu menyadari ke mana segel itu berpindah.
Read 15 tweets
Mar 19
SINGGASANA ROJOMAYIT
Part 3 - Pemakan Roh

Satu-persatu kekuatan terkutuk itu memilih tuannya. Mereka yang duduk di tahta-tahta dunia, masih menuntut tahta dari alam gaib...

#bacahorror @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror Image
PEMBUNUH JIWA

Tegar dan Wiru tahu, sejak tatapan pertama mereka bertemu dengan perempuan itu, bahwa ia bukan sekadar penunggu sunyi atau arwah penasaran yang tersesat.

Ada sesuatu yang jauh lebih tuabersemayam di balik sorot matanya, sesuatu yang membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat, lebih lembap, seolah hutan itu sendiri menahan napas.

Ular-ular yang mengerubungi bangunan misterius itu tidak bergerak liar. Mereka patuh. Terkendali. Setiap desisnya seperti aba-aba tak terdengar yang hanya dimengerti oleh satu sosok perempuan berambut panjang yang berdiri tanpa goyah di hadapan mereka.

“Tegar,” bisik Wiru, suaranya tak lagi setegas biasanya.

“Aku akan menahan ular-ular ini. Kau pergi cari pertolongan.”

Kalimat itu terdengar gagah, tetapi jemari Wiru gemetar di gagang kerisnya. Ia tahu betul, ia tak sedang menghadapi sekadar makhluk jadi-jadian.

“Jangan gegabah,” Tegar membalas, matanya tak lepas dari perempuan itu. “Kita tak tahu apa maksudnya.”

Rasa cemas merambat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah perlahan, tapi pasti. Tekanan tak kasatmata menekan dada mereka. Lutut terasa berat. Bahkan untuk menarik napas pun butuh upaya.

Perempuan itu melangkah setapak. Tanah tak berderak. Ular-ular di sekelilingnya justru merunduk, seolah memberi jalan bagi ratunya.

“Sekali lagi kutanya,” suaranya lirih, tetapi menggema di kepala mereka. “Siapa yang mengirim kalian?”

Tegar menelan ludah. Ia tak bisa sembarang menyebut Ajik Wayan. Tak bisa menyebut Bli Waja. Nama adalah pintu, dan ia tak ingin membuka pintu yang salah di hadapan makhluk seperti ini.

“Pemakan roh,” jawabnya akhirnya, spontan namun terukur. “Makhluk itu membuat kekacauan di tempat kami. Petunjuk yang kami dapat mengarah ke sini. Kami mencari inangnya. Kami harus menghentikannya.”

Hening.

Lalu… Srakk!

Tekanan yang membelenggu tubuh mereka mendadak lenyap. Lutut Tegar hampir tertekuk karena perubahan mendadak itu. Wiru terengah, seperti baru saja dilepaskan dari cekikan tak terlihat.

Perempuan itu memalingkan wajahnya sedikit, seolah mendengarkan sesuatu dari dalam tanah.

“Dia memang di sini,” katanya pelan. “Tersegel di bawah tanah ini. Tapi…”

Kalimat itu tak pernah selesai.

Bayangan raksasa menjulang di belakang mereka. Tanah bergetar halus. Bau amis menyengat. Ketika Tegar dan Wiru menoleh, yang mereka lihat hanyalah rahang menganga, sisik hitam berkilau diterpa cahaya bulan, dan dua mata kuning yang memantulkan bayangan mereka dengan jelas.

“Kalian tidak boleh ada di sini.”

Slaaaabbbbb!

Gelap.

Tubuh mereka terhantam sesuatu yang basah dan hangat. Ruang menyempit. Dinding lunak berdenyut di sekeliling mereka. Bau anyir menusuk hidung. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Tegar tak bisa membedakan atas dan bawah.

“Kita… dimakan?” suara Wiru terdengar serak di kegelapan.

Tegar mencoba menggerakkan tangan, ia bisa. Ia masih bisa bernapas. Udara terasa tipis, tapi ada. Perlahan, mata mereka menyesuaikan diri. Dinding yang semula tampak pekat kini seperti membran tipis tembus cahaya.

Mereka bisa melihat siluet luar, pepohonan, tanah, dan sosok perempuan itu yang masih berdiri tak bergerak.

Ular besar itu bergerak cepat, melesat ke balik pohon beringin tua. Tubuh raksasanya melingkar, menyamarkan diri di antara akar dan bayangan.

Dari balik tubuh makhluk itu, Tegar dan Wiru menyaksikan perempuan penjaga itu tetap menanti.
Dan tak lama kemudian, dua sosok muncul dari kegelapan hutan.

Seorang pria dan wanita berjalan berdampingan. Busana mereka seperti keluar dari halaman sejarah, pakaian keraton dengan lipatan rapi, keris terselip di pinggang, pusaka menggantung di dada.

Langkah mereka mantap, tanpa ragu, seolah tempat itu bukan ancaman melainkan wilayah yang telah lama mereka kenal.

Namun yang membuat darah Tegar terasa membeku adalah sosok yang melayang di belakang mereka.

Roh perempuan berkebaya pengantin Jawa berwarna hitam. Wajahnya pucat, matanya kosong namun tajam. Sosok yang pernah dipanggil Wiru di kediaman Mbah Wage. Ingon.

Trah Wagiatma.

Tegar refleks menoleh ke arah Wiru—lalu membeku. Di sampingnya bukan lagi sosok sahabatnya, melainkan tubuh ular besar yang sama, meringkuk dan mengawasi. Kesadaran itu menghantamnya, mereka tak lagi berada di tubuh sendiri. Mereka tengah “dititipkan”.

“Jadi,” ucap pria itu tenang, “kau sudah menanti kedatangan kami?”

“Bukan aku,” jawab sang penjaga, matanya menyala redup. “Tapi ular-ularku.”

Desisan memenuhi udara.

Dari segala penjuru, ratusan ular berbisa meluncur keluar. Hitam. Hijau. Cokelat tanah. Mereka bergerak serempak, seperti ombak hidup yang menerjang pantai.

Dalam sekejap, tubuh pria dan wanita itu tertutup sepenuhnya. Tak terlihat lagi kain, wajah, atau pusaka. Hanya gumpalan sisik dan lilitan yang bergerak liar. Suara gigitan terdengar beruntun—cepat, rakus, mematikan.

Tegar memejamkan mata. Tak ada manusia yang bisa bertahan dari itu.
Read 15 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(