Restu Wiraatmadja Profile picture
Mar 27 113 tweets 14 min read Twitter logo Read on Twitter
Ngunduh Jiwo (8)

"Isteriku jadi korban pesugihan perias pengantin."

@bacahorror_id #pesugihan #ceritaserem #ngunduhjiwo #malamjumat
Part-8 -sekutu di dalam sekutu-
Desa Tejo Kromo

Kematian adalah salah satu bentuk akhir dari kehidupan seseorang. Ucapan ini ditujukan untuk orang-orang biasa.
Berbeda dengan Ibu Sumi dan Pak Sumardi. Mereka lebih tahu terkait dengan apa yang dirasakan oleh jenazah setelah kematian itu merenggutnya.
Sebelum jenazah dimandikan, ibu sumi telah melihat banyak pertanda aneh yang memuat banyak pertanyaan di kepalanya.
‘’Apa peran Pak Wikto dalam keterkaitan ini?’’
‘’Jika Pak Wikto bergabung, apakah dia hanyalah sebgai umpan belaka? Atau memang sebaliknya?’’
Pertanyaan ini terus menerus berada di kepala Ibu Sumi. Dia bahkan belum memecahkan sepenuhnya teka-teki misterius dari Bunda Melati.
Ustadz Somantri kemudian menghadaplkan pandangannya ke arah Ibu Sumi dan Pak Sumardi. Tampaknya, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan kepada Ibu Sumi dan juga Pak Sumardi.
‘’Mohon maaf, pak, ibu. Apakah njenengan berdua ini adalah orang yang bertugas memandikan jenazah?’’ Tanya Ustadz Somantri
‘’Benar, ustadz. Kami berdua adalah orang yang sering memandikan jenazah. Sementara Ustadz sendiri, saya baru melihat ustadz. Ustadz asli desa ini atau bagaimana?’’ Tanya Pak Sumardi
‘’Sebenarnya saya bukan berasal dari sini. Saya berasal dari desa sebelah, desa wongso. Kehadiran saya di sini karena suruhan dari orang lain yang berada di Desa Wongso.’’ Ucap Ustadz tersebut dengan penuh senyuman
Ibu Sumi dan Pak Sumardi sempat kebingungan. Mengapa Ustadz ini tahu betul akan momen dari kematian seseorang. Lalu, siapa orang yang berasal dari Desa Wongso yang memberitahu akan hal ini? Apakah ada seseorang yang memang telah memberitahunya?
‘’Jadi, ustadz diberitahu oleh seseorang yang berasal dari Desa Wongso? Kok kebetulan sekali, ustadz? Apakah orang tersebut dukun?” Tanya Pak Sumardi
‘’Bukan. Dia orang biasa. Dia sudah dekat dengan saya karena anaknya beliau dulunya hampir pernah menikah dengan saya.’’ Ucap Ustadz Somantri
Sementara itu, jeka masih menangisi Ibunya. Dia sesekali meratapi kematian Ibunya karena ada beberapa ketentuan yang setidaknya tidak sesuai dengan takdir kematian dari Ibunya sendiri.
‘’Saya sudah tiga kali memimpin hal seperti ini. Untuk keluarga dari Mas Jeka sendiri, ini adalah kedua kalinya.’’ Jelas Ustadz Somantri
Deg! Ibu Sumi dan Pak Sumardi terkejut mendengar jawaban dari Ustadz Somantri. Berarti, saat kematian Almh. Kusumawati, ustadz somantri adalah orang yang bertugas sama. Namun, siapa orang sebelumnya?
Kini, ustadz somantri meminta kepada Jeka untuk berdiri tegap. Dia tidak ingin jika Jeka berlarut-larut dalam kesedihan.
‘’Sudah banyak orang yang meninggal dengan cara yang tidak wajar. Aku sendiri heran, siapa pelaku dari semua ini?’’ Tanya Ustadz Somantri
Mereka kemudian perlahan meninggalkan pemakaman. Akan tetapi, saat dimana Ibu Sumi melangkah pergi dari tempat, tiba-tiba, ia mendengar sesuatu dari arah belakang …
‘’Sumi … Titip anakku.’’
Ibu Sumi langsung berhenti sejenak. Ia tiba-tiba merasa ada banyak orang yang berada di belakangnya.
‘’Tolong … Jaga adikku.’’
Ibu Sumi meminta kepada Ustadz Somantri dan juga suaminya untuk berhenti sejenak. Ia sangat yakin, suara itu berasal dari suara Ibu Heni dan juga anaknya Kusumawati.
‘’Ada apa, bu?’’ Tanya Pak Sumardi
‘’Pak Ustadz? Ku berasal dari Desa Wongso, kan?’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Benar, bu. Ada apa memangnya?’’
Suasana menjadi hening sejenak. Jeka, ustadz somantri dan juga Pak Sumardi menatap Ibu Sumi secara bersamaan.
‘’Apakah kau tahu? Siapa pengantin selanjutnya yang akan dinikahi oleh Bagus?’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Mengenai itu …. ‘’
‘’Dimana rumahnya?’’
Ustadz Somantri tidak menginginkan pembahasan itu berada di tempat semacam pemakaman. Ia pun meminta kepada Ibu Sumi untuk membicarakan hal ini di tempat yang tepat.
‘’Mari bicarakan ini di tempatmu.’’ Ucap Ustadz Somantri
Mereka pun meninggalkan pemakaman. Walaupun suara-suara panggilan itu masih terdengar sedikit di telinga Ibu Sumi, akan tetapi, dia tahu apa yang nantinya akan terjadi di beberapa hari ke depan.
Bulan Pengantin yang akan datang beberapa hari lagi adalah sebuah penantian besar antara dirinya dan juga pihak dari Bunda Melati. Jika nantinya rencana dari Bunda Melati dapat digagalkan, bisa dipastikan ritualnya juga akan gagal.
Rumah Almh. Kusumawati

Pak Wikto mengenakan lagi pakaiannya. Ia kemudian mengambil air minum dan menyerahkannya kepada Bunda Melati.
‘’Sebentar lagi bulan pengantin. Bagus juga harus melakukan ritual yang sama. Aku harap, semuanya benar-benar dalam kendali yang aman.’’
Pak Wikto terduduk di samping Bunda Melati. Rasanya, dia harus menjalankan banyak pekerjaan berat yang di luar dari batas norma kehidupannya.
Tatapannya tertuju kepada sebuah cermin yang ada di hadapannya. Pelan-pelan, pak wikto menyadari kesalahannya. Entah mengapa, ia sangat merindukan mendiang isterinya.
Sebagai seorang laki-laki, tentunya kesalahan adalah sebuah mimpi buruk baginya. Keadaan memang membuatnya setegar singa jantan yang berjalan menyusuri hutan-hutan untuk mencari mangsa,
namun, hati kecilnya sangat merindukan tempat berpulang untuk mencurahkan apa yang menjadi keinginannya saat itu.
Persis seperti Pak Wikto. Hati kecilnya seperti merasakan penyesalan. Baru beberapa saat yang lalu, dirinya telah meniduri wanita lain dengan hasrat setan yang merasuki jiwanya hanya demi kekayaan sesaat.
Sebelum itu, dia seharusnya sudah tahu apa yang akan dilakukannya yaitu mengantarkan anaknya menuju ke tempat peristirahatan terakhir sang ibu yang baru saja meninggal dunia.
Lamunan dari Pak Wikto membuat Bunda Melati terheran-heran. Ia pun mendekatkan dirinya ke hadapan wajah Pak Wikto sembari memberikan ciuman manisnya.
‘’Apakah kamu sedang memikirkan isterimu yang baru saja dikubur?’’ Tanya Bunda Melati
Pak Wikto tidak bisa berbohong. Kali ini, tatapannya berubah seolah-olah menjadi lemah di hadapan Bunda Melati. Ia menahan dengan kuatnya agar air mata tidak terjatuh serta memberikan penggambaran terkait emosi terpendamnya akan apa yang dirasakannya saat itu juga.
‘’Ti—tidak. Aku tidak memikirkan hal ini.’’
‘’Ketahuilah, wikto. Laki-laki saat berbohong, matanya akan menerka-nerka ke arah yang berlawanan. Pandangannya akan berubah menjadi lebih takut jika apa yang dipikirkannya terbaca dengan jelas terhadap seorang wanita.’’
Benar. Bunda Melati merasakan hasrat itu karena dia seorang wanita. Tentu saja apa yang dirasakan oleh Pak Wikto sangat terbaca dan bisa dirasakan oleh Bunda Melati sendiri.
‘’Jadi? Apakah kamu ingin melanjutkan persyaratan kita selanjutnya?’’
Dengan tatapan yang penuh berkaca-kaca, pak wikto akhirnya mengungkapkan kenginannya. Walau terpaksa, ia tetap memberikan jawaban yang sesuai dengan dugaan Bunda Melati
‘’Mari lanjutkan ritualnya.’’
Bunda Melati langsung membereskan semua barang-barangnya. Ia tahu jika penguburan yang dilakukan oleh para warga sudah selesai. Karena itulah, bunda melati tidak ingin berlama-lama berada di sekitaran rumah Pak Wikto karena maksud dan tujuannya sudah tersampaikan.
Begitu pula dengan Bagus dan yang lainnya. Mereka masih menunggu di luar sembari melihat keadaan luar.
‘’Bunda sudah selesai?’’ Tanya Bagus
‘’Sudah anakku. Bagaimana dengan penguburannya sudah selesai?’’ Tanya Bunda Melati kepada Bagus dan yang lainnya
Dari kejauhan, mereka melihat rombongan para warga yang sudah berduyun-duyun kembali menuju ke rumah Pak Wikto.
‘’Mereka sudah terlihat dari kejauhan.’’
‘’Baiklah. Kita harus pergi dari tempat ini.’’
Sebelum pergi, bunda melati menatap langit-langit rumah milik Pak Wikto. Begitu juga dengan saat dirinya memandangi Pak Wikto dengan tatapan yang penuh gairah.
‘’Sebentar lagi, wadah dari demit manten akan terisi dengan orang yang berbeda. Aku harap, rumah kalian semua direnovasi setelahnya.’’
Bi Imah dan Cici hanya tersenyum mendengar kalimat itu. Begitu juga dengan Pak Wikto. Mereka tahu, jika Bunda Melati sudah mengatakan hal yang demikian, itu artinya pembagian hasil akan dilakukan.
Mesin mobil segera dihidupkan oleh Bagus. Cici menuju ke bagian depan berdekatan dengan Bagus. Sedangkan Bunda Melati dan juga Bi Imah, mereka berada di tempat duduk bagian belakang.
Mereka pun perlahan meninggalkan Pak Wikto yang masih berdiri di hadapan rumahnya dengan isi kepala yang penuh kebingungan.
Sebelum Ustadz Somantri dan juga Ibu Sumi membahas terkait lebih dalam akan kematian dari Ibu Heni, mereka terlebih dahulu mengantarkan Jeka ke rumah.
Di saat Ibu Sumi ingin pulang, jeka langsung memeluk tubuh Ibu Sumi. Seperti halnya ikatan sebuah keluarga, jeka tidak ingin jika Ibu Sumi meninggalkannya. Lalu, jeka membisiki sesuatu tepat di telinga Ibu Sumi.
‘’Bu. Jangan sampai mati, ya.’’
Kalimat itu tentunya membuat Ibu Sumi terketuk hatinya. Ia tidak membayangkan jika resiko untuk memecahkan masalah ini seperti berada di ambang kematian. Kedua tangan Ibu Sumi benar-benar bergetar.
Ia bahkan tidak mampu untuk mendekap balik tubuh Jeka karena kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Jeka seperti kalimat yang sangat indah didengar namun sangat menyayat hati dan terus terngiang-ngiang di dalam kepala.
Selepas memeluk tubuh Ibu Sumi, jeka pun menundukkan badannya. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya. Hari itu, ibu sumi melihat seorang anak yang kehilangan arah.
Ia bahkan tidak mengenal dengan jelas terkait bagaimana jadinya jika seorang anak hidup seorang diri dan hanya menuduh takdir sebagai penyebab kematian dari ibunya.
‘’Bu? Ibu gapapa?’’ Tanya Pak Sumardi
‘’Apakah kematianku sudah dekat, pak?’’ Ucap Ibu Sumi
‘’Ibu ngomong apa? Pamali ngomong seperti itu.’’ Jawab Pak Sumardi dengan nada tingginya
‘’Orang-orang terdekat kita sudah dikuburkan. Kita tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apakah takdir yang membuat kita meninggal seperti ini? Atau karena kehendak manusia yang memang ingin mempercepat kematian manusia lainnya hanya karena ambisinya tersendiri?’’
Kalimat itu membuat seorang Ustadz Somantri pun terdiam. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun untuk menangkis semua asumsi yang baru saja dikatakan oleh Ibu Sumi. Kematian dari Ibu Heni membuat luka banyak orang termasuk Ibu Sumi sendiri.
Jeka seolah-olah meminta kepadanya untuk bisa mengungkapkan siapa pelakunya walaupun sudah jelas di depan mata jika Bunda Melati adalah pelaku dari pengaturan ngunduh jiwo ini berlangsung.
‘’Jadi? Apakah kita bisa melanjutkan obrolan kita?’’ Tanya Ustadz Somantri
‘’iya, ustadz. Sebelum bulan pengantin tiba, aku ingin semuanya terselesaikan.’’
Ibu Sumi pun akhirnya mengantarkan Ustadz Somantri menuju ke rumahnya. Mereka ingin membahas lebih dalam terkait dengan menyelesaikan ngunduh jiwo beserta menumpaskan orang-orang yang berkaitan dengannya.
Sementara itu …
Di desa Wongso, dini masih berdiri di depan rumahnya. Ia menunggu kedatangan calon suaminya yang hari ini ingin menjemputnya untuk menuju ke tempat Bi Imah. Sudah beberapa hari rasanya Dini tidak dirias lagi oleh Bi Imah.
Rasanya, dini masih ingin memiliki riasan cantik yang lebih mempesona agar Bagus (Calon suaminya) selamanya terpikat dengannya.
Tidak berselang lama, sebuah mobil Toyota datang tepat di hadapan rumahnya. Dini langsung menampilkan wajah senangnya. Akan tetapi, dia tidak menyangka jika di dalam mobil tersebut terdapat wanita lain yang duduknya tepat bersebelahan dengan Bagus.
‘’Cici?’’ Ucap Dini
Cici kemudian keluar dan mempersilahkan kepada Dini untuk memasuki bagian depan mobilnya. Dengan wajah yang emosi, dini pun langsung meminta kepada Bagus untuk menjelaskan mengapa Cici bisa duduk bersebelahan dengannya.
‘’Mas? Kok Cici duduk di depan?’’
‘’Tadi kami habis ngelayat. Posisinya, bunda di belakang dan Cici di depan. Jadi mau gak mau, untuk mempercepat waktu, kita langsung menuju ke rumah kamu tanpa memindahkan Cici terlebih dahulu.’’
Dini masih menampakkan wajah kesalnya. Cemburunya lebih dulu membakar hatinya tanpa mengetahui lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi.
‘’Begitulah wanita, mas bagus. Dia tidak mau jika tempat duduknya didahului oleh wanita yang lainnya. Kalian berdua memang benar-benar pasangan yang serasi.’’ Ucap Bi Imah
Dini hanya terdiam. Dia sangat kesal terhadap Bi Imah dan juga Cici yang kali ini berada dalam satu mobil yang sama. Padahal, dini ingin bermesraan lebih dalam dengan Bagus. Namun apa daya, kedua orang ini benar-benar mengganggu momen percintaannya.
‘’Ya gapapa toh, bi. Lagian juga sebentar lagi Dini akan resmi menjadi isteriku.’’ Goda Bagus
Tiba-tiba, dini menjadi salah tingkah. Ia tersenyum lebar seakan-akan kekecewaannya telah terbayarkan dengan rayuan maut dari mulut Bagus.
Namun, kegembiraan Dini tidak berlangsung lama. Cici yang rupanya memiliki perasaan yang sama langsung menambahkannya.
‘’Memangnya, dini bisa hidup selamanya dengan Bagus?’’ Tanya Cici
Dini langsung menoleh ke arah belakang. Tatapan tajamnya langsung mengarah ke Cici.
Tampaknya, apa yang ia rasakan benar-benar terjadi. Dini benar-benar meyakini jika Cici juga memiliki perasaan yang sama seperti dengannya.
‘’Bukankah kau seorang wanita? Apa salahnya menutup mulutmu dengan rapat? Bagaimana jadinya jika kamu yang merasakan di posisiku saat ini?’’ Tanya Dini
‘’Sudah sayang. Cici cuman bercanda.’’ Ucap Bagus dengan menenangkan Dini
‘’Maksud Mbak Dini bagaimana perasaanku jika berada di posisimu? Sudah sangat jelas. Aku tidak akan memperbolehkan siapapun untuk menduduki singgasanaku. Apalagi jika ada wanita lain yang sengaja menduduki tempat dudukku. Siapapun itu, aku akan menumpaskannya.’’ Jelas Cici
Bi imah langsung menyumpal mulut Cici dengan tangannya. Ia kemudian meminta maaf kepada Dini dengan kalimat buruk yang baru saja dikatakan oleh Cici barusan.
‘’Maaf Dini. Anakku itu bercanda. Wajar saja. yang baru saja meninggal adalah orang tua si wanita yang merebut calon suaminya. Jadi, dia sangat terbawa emosi.’’
Tiba-tiba, dini langsung menghadapkan wajahnya ke arah depan. Sedangkan Bagus, dia seperti terkejut dengan kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Bi Imah.
‘’Tunggu dulu … ‘’ Ucap Dini
‘’Kenapa lagi sayang?’’ Tanya Bagus
Dini langsung menghadapkan wajahnya ke arah belakang. Sembari tersenyum, ia pun kemudian kembali menanyakan sesuatu seusai Bi Imah mengatakan kalimat yang membingungkan itu,
‘’Bukankah Cici belum ada riwayat menikah atau apapun? Jika memang yang dikatakan oleh Bi Imah benar, berarti calon dari Cici adalah pria yang sangat istimewa bukan?’’ Tanya Dini
Pertanyaan menjebak itu membuat Cici terdiam. Sembari menatap Bagus yang sama kebingungannya, cici pun langsung melemparkan pandangannya ke arah jendela mobil.
‘’Kok diem aja, ci?’’ Tanya Dini
Tidak berselang lama, bagus langsung mematikan mesin mobilnya. Ia seperti sudah sangat emosi dengan sifat kekanak-kanakan dari Dini dan juga Cici.
‘’Jika kalian berdua masih ribut, silahkan turun.’’ Ucap Bagus dengan tegas
Seketika, suasana menjadi hening. Dini langsung menampilkan wajah sedihnya. Dia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Namun, dalam hatinya yang paling dalam, dini sangat terkejut dengan sifat Bagus yang tiba-tiba menjadi marah seperti itu.
Dan akhirnya, bagus pun kembali menyalakan mesin mobilnya. Tidak berselang lama, mobil pun meninggalkan rumah Dini dan menuju ke rumah Bi Imah untuk dilakukannya riasan pengantin untuk Dini dalam mempersiapkan pernikahannya dengan Bagus.
Setibanya di lokasi, dini langsung masuk ke rumah bersamaan dengan Bi Imah. Sedangkan Cici, dia masih menunggu Bagus untuk masuk juga ke dalam rumah.
‘’Mas? Gak mau masuk?’’ Tanya Cici
‘’Aku di luar aja. Aku lagi pengen sendiri.’’ Ucap Bagus
Cici pun mendekati Bagus. Dia kemudian memeluk tubuh Bagus. Seolah-olah menjadi reuni baginya, cici pun meminta maaf kepada Bagus karena emosinya tidak bisa dikontrol dengan benar.
‘’Maafkan aku, mas. Aku tidak ingin jika kamu jatuh ke orang lain selain aku.’’
‘’Lepaskan, ci. Bagaimana nanti kalau Dini tahu?’’
‘’Tidak mungkin, mas. Dini berada di dalam ruang riasan pengantin bersama dengan Ibuku.’’
‘’Lepaskan. Lepaskan sekarang!’’
Di dalam kamar, dini sudah menatap wajah cermin dengan begitu kesal. Dia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya sebelum memasuki kamar tersebut. Tiba-tiba, air matanya menetes dan jatuh tepat di pipinya yang halus.
‘’Benar kata Ibu. Pria itu bukan sebaik-baiknya pria yang akan aku nikahi nanti.’’ Ucapnya sembari mengantongi dua sisir rias yang menurutnya sangat berfungsi.
Desa Tejo Kromo,
Rumah Ibu Sumi.

Ibu Sumi memperhatikan gerak-gerik Ustadz Somantri.
Ia kemudian terduduk di sebuah kursi yang mampu menghadap keduanya secara langsung. Salah satu tangannya masuk ke dalam kantong baju. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin ia beritahu terkait apa yang selama ini menjadi sesuatu yang ditakutinya.
’'Bunga ini … ‘’ Ucap Ustadz Somantri
‘’Bunga ini adalah sesuatu yang sangat kubenci semenjak wanita yang kucintai meninggal dunia dengan cara yang mengenaskan.
Aku tidak bisa melupakan wajahnya yang membiru tatkala kematiannya menjadi neraka dunia untuk kehidupannya saat itu. ‘’
Ibu Sumi dan Pak Sumardi pun mendengarkan awal mula terbunuhnya wanita yang dicintai oleh Ustadz Somantri tersebut.
‘’Dia adalah anak yang baik. Anak yang penuh dengan kesetiaan. Cintanya melebihi apapun.
Akan tetapi, semenjak kedatangan seorang pria brengsek itu, entah mengapa, aku dicampakkan begitu saja olehnya.’’ Jelas Ustadz Somantri
‘’Maksudnya? Wanita itu meminta kepadamu untuk menjauhinya?’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Benar. Ia memintaku untuk menjauhinya. Padahal, ibunya tidak menginginkan pernikahan itu terjadi semenjak dirinya mendapatkan terror yang mengerikan.’’ Jelas Ustadz Somantri
‘’Maksudnya? Wanita itu meminta kepadamu untuk menjauhinya?’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Benar. Ia memintaku untuk menjauhinya. Padahal, ibunya tidak menginginkan pernikahan itu terjadi semenjak dirinya mendapatkan terror yang mengerikan.’’ Jelas Ustadz Somantri
‘’Dua dari keempat orang tersebut memiliki ikatan darah. Sedangkan sisanya, bukanlah pasangan suami isteri. Melainkan, sebuah pasangan yang hanya dijadikan sebagai wadah ritual. Aku mendapatkan cerita ini langsung dari si ibu wanita ini.’’ Jelas Mbah Sur
‘’Tunggu. Siapa wanita yang kau maksud itu.’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Maksudnya wanita yang kucintai itu?’’
‘’Benar.’’
‘’Rahayu namanya.’’
‘’Sudah kuduga!’’
‘’Kau mengenalnya?’’
‘’Aku juga sudah mengetahui cerita ini langsung dari si ibu wanita tersebut. Mbah Suryani kan namanya?’’ Tanya Ibu Sumi
‘’Benar! Mbah Sur. Dia adalah Ibu dari Rahayu.’’
Ibu Sumi tersenyum. Ia tidak menyangka jika dunianya sangat sempit. Bahkan untuk mencari sesuatu yang ia butuhkan, semuanya seperti telah tersedia di dekatnya.
‘’Bagaimana Ibu Sumi dan Pak Sumardi mengenal beliau?’’
‘’Aku dan suamiku ingin membongkar ngunduh jiwo yang terjadi di desa ini. Katanya, korban dari ngunduh jiwo ini juga berada di desa lain seperti Desa Wongso. Maka dari itu, aku ingin mengetahui lebih dalam karena kami berdua didatangi langsung oleh sosok Rahayu.’’
‘’Rahayu? Mendatangi kalian?’’
‘’Benar. Dia meminta tolong untuk dilepaskan. Kedatangannya bertepatan dengan kematian dari Kusumawati. Korban ke-8 dari Ngunduh Jiwo.’’
Ustadz Somantri terdiam sejenak. Ia kemudian ingin lebih tahu secara dalam terkait dengan informasi yang ditangkap oleh Ibu Sumi terkait dengan ngunduh jiwo.
‘’Namun, dari semua informasi yang aku kumpulkan, aku belum mengetahui bagaimana kinerja dari Ngunduh Jiwo itu berlangsung. Lalu, apa hubungan Pak Wikto dengan Bunda Melati?’’
Ustadz Somantri tertawa mendengar kalimat serius yang diucapkan oleh Ibu Sumi. Baru kali ini, ibu sumi melihat seorang ustadz yang agamis tertawa terbahak-bahak seperti sedang kesetanan.
Tampaknya, dia mengetahui banyak hal terkait apa yang baru kali ini ia dalami selama dirinya menjadi seseorang yang berada dekat dengan kehidupan yang sangat keras itu.
‘’Ibu ingin tahu apa peran dari Pak Wikto?’’ Tanya Ustadz Somantri
‘’Memangnya, apa peran dia?’’
‘’Dia adalah sebuah sampah yang ingin dibersihkan kembali namun sejatinya dia hanyalah sampah karena telah menumbalkan isterinya demi bualan kosong dari Bunda Melati.’’
‘’Jadi? Heni ditumbalkan?’’
‘’Dan pelaku dari Ngunduh jiwo ini adalah dua pasangan bukan suami isteri dan satu orang yang menutupi semuanya dengan seolah-olah menjadi perias pengantin di bulan pengantin nanti.’’
Part-9 akan update pada tanggal 3 April 2023. Teror Pengantin Sepanjang Hari akan dimulai dengan memakan banyak korban di part ini. Bagi yang mau baca duluan, bisa langsung klik link di bawah ini

karyakarsa.com/Restuwiraatmad…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Restu Wiraatmadja

Restu Wiraatmadja Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @RestuPa71830152

Mar 10
SI DANYANG LEMBAH JENGGES (8) Tamat
(Trah Timur Artonegoro)

"Tertangkapnya Raden Artonegoro."
#bacahorror #ceritaserem #jengges #ngiprikethek
Bagi yang baru baca cerita ini, alangkah baiknya baca ngipri kethek dlu

Read 142 tweets
Mar 1
SI DANYANG LEMBAH JENGGES (7)
(Trah Timur Artonegoro)

"Tertangkapnya Raden Artonegoro."
#bacahorror #ceritaserem #jengges #ngiprikethek
‘’PERANGKAP’’
Irham dan Rosikin tidak percaya jika dia berhadapan langsung dengan manusia aneh yang memiliki sifat layaknya iblis. Berbaju kesombongan dan bertopi keserakahan.
Dia adalah Raden Sengkuni. Salah satu dari keturunan timur yang sangat ditakuti oleh orang-orang bahkan beberapa pejabat pemerintahan pun tunduk kepadanya.
Read 120 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(