Yura Hatake Profile picture
May 23 47 tweets 7 min read Twitter logo Read on Twitter
[ tali bangke - tali mayat ]

; kisah nyata, horor story, horror thread

@bacahorror #bacahorror @bacahorror_id @IDN_Horor @P_C_HORROR @Penikmathorror #malamjumat #ceritaseram Image
Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh, sebut saja namanya kakek Made. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1970-an di salah satu desa di Bali. Nama dan tempat tinggal narasumber dirahasiakan untuk kenyamanan narasumber.
......................
"Pekak, tiang jagi ngidih tulung" (Kakek, saya ingin minta tolong)

Seorang pria berusia sekitar 40 tahunan berdiri di depan rumah Kakek made.
"Nak kenken?"(kenapa?) Kakek made keluar dari rumah, memasang wajah tertekuk.

"Ngidang barengin tiang ke setra?" (bisa menemani saya ke kuburan?) ucap pria itu, membuat kakak made menaikan sebelah alisnya.
"Ker ngudiang Wayan?" (untuk apa Wayan?)

"Ngalih tali bangke" (nyari tali mayat) ucap Wayan, sontak membuat kakek made menahan nafasnya sesaat.
"Nak ngudiang ngalih tali bangke yan?" (untuk apa mencari tali mayat yan?)

Daripada menjawab pertanyaan kakek Made, Wayan malah menarik tangan kakek Made untuk menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian, kakek Made telah sampai di rumah Wayan yang terlampau sederhana, dindingnya terbuat dari kayu, bahkan rumah itu bangunannya sudah miring ke kiri, seperti hendak rubuh.

Wayan lantas menuntun kakek Made ke sebuah kamar di rumah itu.
Di atas kasur tipis, seorang pria tua dan sangat kurus tergeletak disana. Tubuhnya benar-benar seperti terdiri dari kulit dan tulang saja, ditambah kulitnya yang sudah keriput dan menghitam menambah kesan miris pada pria yang lebih tua dari kakek Made.
Kakek made mengenal orang ini karena mereka satu desa, sebut saja namanya kakek Winten. Kakek Winten sudah berumur lebih dari seratus tahun. Pria yang sangat tua itu sudah tidak bisa berdiri lagi.
"De...de....diolas je tulungin awake. Dot san mati awake ne" (De....de....mohon bantu aku. Ingin sekali aku mati) ucap kakek Winten dengan suara serak dan putus-putus.
Kakek Made menghela nafas pelan. Berdasarkan desas-desus warga, kakek Winten ini memiliki ilmu yang membuat kakek itu hidup abadi. Mungkin mirip dengan ilmu Rawa Rontek, tetapi ilmu kakek Winten ini tidak disebutkan apa namanya.
"Tulungin ngudiang ne bli?"( bantu apa bli?) jawab kakek Made.

"Nang je tulungin i Wayan ngalih tali bangke di setra, nyaman awake ne lenan sing ade bani luwas ngaliang tali bangke. Yen kene unduke, deweke jeg sing mati-mati. Awake be sing kuat ne. Diolas tulungin nah"-
-( Tolong bantu Wayan untuk mencari tali mayat di kuburan, keluarga saya yang lain tidak ada berani yang pergi kesana. Kalau begini keadaannya, aku tidak akan mati. Aku sudah tidak tahan. Aku mohon bantu ya) ujar kakek Winten dengan mata yang berkaca-kaca.
Melihat keadaan kakek Winten, kakek Made menjadi tidak tega.

"Nah, awake be ane ngaliang tali bangke. Orain gen nyaman deweke ngaenang banten" (Baiklah, aku yang akan mencarikan tali mayat. Suruh saja saudaramu untuk membuatkan sesajen) jawab kakek Made.
Wayan yang sejak tadi berdiri di samping kakek Made menghela nafas lega. Pasalnya, siapa berani yang akan melakukan itu? Sebab, untuk mencarinya tidaklah boleh sembarangan. Harus dilakukan pada tengah malam-
Bayangkan, jika kamu penakut, ke kuburan tengah malam adalah hal yang sangat mengerikan. Apalagi di kuburan sana kau akan menggali kuburan dan mengambil tali mayat yang terbuat dari bambu.

............................
Setelah persiapan sesajen sudah lengkap, malam itu juga, kakek Made dan dua orang saudara dari kakek Winten menemani kakek Made ke kuburan.
Tepat tengah malam.

Kuburan di desa sekitar tahun 1970-an masih berbentuk hutan lebat. Ada tiga pohon beringin yang sangat besar di tengah-tengah kuburan, kemudian ketika akan masuk kuburan, kita harus berjalan sekitar 100 meter untuk mencapai daerah kuburan inti.
Kakek Made, Wayan dan Kadek berdiri di depan pintu masuk kuburan yang gerbangnya terbuat dari anyaman bambu.

Di masing-masing tangan mereka ada obor (brokbok-dalam bahasa bali). Kakek Made membawa sesajen, dan Kadek membawa cangkul.
"Pekak, awake sing bani" (Kakek, aku tidak berani) ujar Wayan dengan tubuh yang bergetar.

"Nah, kasilang, demi pekak deweke" (Iya, paksakan saja, demi kakekmu) jawab kakek Made.
Langit gelap mengantar mereka, suara kedis celepuk (burung hantu) menjadi latar perjalan mereka ketika melangkahkan kakinya menuju ke kuburan inti.
Dua orang di belakang kakek Made sudah pucat pasi, sedangkan kakek Made terlihat tenang, sambil mata nya melirik ke kanan dan ke kiri dengan awas.

Syuuuuuuuuu
Tiba-tiba, angin besar berhembus, hampir memadamkan obor yang mereka bawa.

Di pertengahan jalan, tiba-tiba ada suara ramai, seperti di pasar. Namun tidak ada siapapun.
"Ngoyong malu" (Berhenti dulu) ujar kakek Made.

"Dek, Yan....Dingeh munyine to o? Ane rame?" (Dek, Yan....dengar suara itu kah? Yang rame itu) ujar kakek Made tanpa menoleh ke belakang.
"Dingeh kak" (Denger kek) ujar Wayan dan Kadek bersamaan.

Kakek Made melihat ke kanan dan kiri.

Di kanan dan kiri mereka hanya ada rumput dan semak belukar yang tebal.
Syuuuuuuu

Angin kencang kembali berhembus, namun kejadian aneh terjadi.
Angin kencang itu berhembus sampai membuat rumput dan semak belukar di sisi kanan tertidur. Sedangkan di sisi kiri rumput dan semak belukar masih berdiri seperti semula. Dan anehnya, hembusan angin itu tidak menerpa Kakek Made, Wayan dan Kadek.
"Ngoyong malu, ade ane liwat" (berhenti dulu, ada yang lewat) ujar kakek Made,

Terdengar suara hembusan nafas besar-besar. Namun bukan kakek Made, Wayan ataupun Kadek pelakunya.
Setelah angin aneh itu lewat, mereka baru berani untuk berjalan kembali.
"Diolas de runguange munyin anake dikepetengan. Selegang mejalan pang engal ked" (Tlg jangan menanggapi suara makhluk tak kasat mata, fokus berjalan supaya cepat sampai) ujar kakek Made, mengetahui kalau Wayan dan Kadek berbisik perihal suara - suara aneh yang mengikuti mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di salah satu pohon beringin yang menaungi kuburan itu.

Pohon beringin dengan daun yang sangat lebat, sampai tidak bisa mengintip langit dari bawah.
Akar-akar gantungnya menggelitik kepala mereka bertiga.

Hanya ada cahaya obor mereka disana. Suasana begitu mencekam. Suara burung hantu semakin keras. Dan yang membuat mereka terganggu adalah aroma busuk yang tercium.
Kakek Made lantas berdiri di samping salah satu kuburan.
"Mai mebanten alu Yan, Dek" (kesini haturkan sesajen dulu Yan, Dek) ujar kakek Made, mereka langsung duduk bersila di depan salah satu kuburan, menancapkan obor di tanah, menaruh sesajen di atas kuburan lalu berdoa-
minta ijin untuk mencari tali mayat, guna dijadikan sebagai: istilahnya 'obat' untuk kakek Winten.
Ketika mereka berdoa, mereka kembali mendengar suara bisikan-bisakan, tapi suaranya tidak terdengar jelas. Angin menerpa, gesekan-gesekan akar gantung beringin membuat mereka bergidik ngeri.
Setelah selesai berdoa-

"Ken tambah e dek" (mana cangkulnya Dek) kakek Made mengulurkan tangannya, Kadek langsung menyerahkan cangkul itu.
Wayan dan Kadek seharusnya membantu, namun tubuh mereka bergetar ketakutan. Alhasil, hanya kakek Made saja yang mencangkul hingga gulungan tikar yang terbuat dari pandan kering itu terlihat.
Aroma busuk langsung mengguar dari liang kubur. Kakek Made menahan nafasnya, lalu segera mencari tali yang mengikat gulungan tikar berisi mayat itu. Wayan dan Kadek menerangi dengan obor dari atas, kakek Made melihat tali bambu yang sudah membusuk , lalu langsung dipotek.
"Engalin kedetin pekak!" (cepat tarik kakek!) teriak kakek Made, Wayan dan Kadek langsung mengulurkan tangannya dan menarik kakek Made keluar dari liang kuburan.
Kakek Made memasukan tali mayat itu ke dalam sakunya, lalu Wayan membantu untuk menutup kembali kuburan itu.

Ketika pulang, mereka tidak mendapat hambatan atau gangguan lagi.
Sampai di rumah Wayan, salah satu keluarga wayan langsung mengambil air satu gayung dan melemparkan air itu ke atap rumah. Wayan, Kadek dan kakek Made langsung membasahi diri mereka dengan air yang menetes dari atap itu.
Menurut kepercayaan di desa itu, air dari atap itu bertujuan untuk mengusir makhluk halus yang sekiranya ikut saat kita datang dari kuburan.
Setelah itu, Kakek made dan Wayan langsung masuk ke kamar kakek winten. Saat itu juga, kakek Made menumbuk tali mayat itu, kemudian dimasukan ke dalam segelas air. Ketika air itu diminum oleh kakek Winten, beberapa saat kemudian kakek Winten sudah meninggal dunia.
Entah ilmu apa yang digunakan oleh kakek Winten, masih menjadi misteri sampai sekarang.
-end-

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Yura Hatake

Yura Hatake Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(