Lakon Story Profile picture
Jun 8 212 tweets >60 min read Twitter logo Read on Twitter
...
Bismillahirrohmanirrohim

DESA SEKARWANGI
(Rumah Hantu Pojok Wetan)
....
April 1988
23.15 WIB.

....
"Dok.dok.dok.dok.dok.dok.dok.dok....pak..pak mudin....buka pak...pak...buka pak.." teriak Sapto keras dengan tangannya yang terus menggedor pintu rumah pak Mudin.
Mendengar suara gedoran pintu, pak Mudin yang sebelumnya tertidur pulas, waktu itu seketika terbangun dan berlari kearah pintu utama rumahnya dengan langkah kaki yang tergesa gesa.
"Iyo disek (iya sebentar)" Sahut pak Mudin keras dan tidak lama setelah itu,
pak Mudinpun membuka pintu rumahnya. " Oalah Sapto, ada apa " ucap Pak Mudin singkat.
" Anu pak, anu,,,mbah Karso meninggal dunia " jawab Sapto dengan nafasnya yang terengah engah.
"Innalillahi,,,ya wes kamu duluan, aku tak ganti baju dulu" ucap pak Mudin lalu menutup kembali pintu rumahnya dan beliaupun kembali masuk kedalam kamar tidurnya agar beliau bisa segera mengganti bajunya.
Tapi sayangnya, belum selesai pak Mudin mengganti bajunya, tiba-tiba Narmi, istri pak Mudin, waktu itu mengejutkannya.
"Mbah Karso meninggal pak ?" Tanya Narmi.
"Iya e buk, aku harus segera kesana membantu mengurus jenazahnya, sepertinya jenazahnya akan dimakamkan besuk pagi, kalau sekarang sudah terlalu malam" jawab pak Mudin dengan melihat kearah jam tangannya yang malam itu sudah menunjukan
hampir pukul 23.25 malam.
"Ati-ati ya pak, malam ini malam jumat legi, kalau ada orang meninggal malam ini, biasanya banyak yang ngincar. Bapak faham kan masalah ini" ucap Narmi lesu dengan menatap wajah pak Mudin.
"Iya, nanti jenazahnya akan ku jaga sampai besuk pagi biar aman, yasudah aku berangkat ya bu" sahut pak Mudin jelas dengan langkah kakinya yang mulai keluar dari rumahnya.
Sepanjang perjalanan kerumah mbah Karso, perasaan pak Mudin yang sebelumnya biasa-biasa saja ketika hendak menangani jenazah, waktu itu tiba-tiba berubah menjadi tidak nyaman karena asal kalian tau, sepanjang perjalanan, pak mudin seperti sedang diikuti oleh seseorang.
"Waduh ada yang ngikuti deh rasanya" fikir pak Mudin dengan terus melangkahkan kakinya dengan sesekali menolehkan kepalanya.
Hingga akhirnya, perasaan pak Mudinpun semakin kacau ketika belum sampai pak Mudin dirumah mbah Karso,
pak mudin tiba-tiba berpapasan dengan orang tua yang setelah dilihat dengan lebih teliti lagi, orang tua tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah mbah Karso itu sendiri.
Malam itu, mbah Karso benar-benar berjalan berpapasan dengan pak Mudin dengan tatapan matanya yang sayu ditambah senyuman dari bibirnya yang terlihat pilu.
Mengetahui hal itu, pak Mudinpun seketika menundukan kepalanya dengan seketika
mempercepat langkah kakinya karena beliaupun tau, jika mbah Karso sudah meninggal dunia.
"Astagfirullah, itu tadi mbah Karso" ucap pak Mudin dalam Hati dengan langkah kakinya yang terus berjalan tidak berhenti.
Dan dengan terus berdoa sepanjang jalan, akhirnya pak Mudinpun sampai dirumah mbah Karso yang dimana, malam itu keadaan rumah mbah Karso bisa dikatakan cukup sepi daripada umumnya.
Jika biasanya, ketika ada orang meninggal semua warga berkumpul,
malam itu dirumah mbah Karso hanya ada 8 orang warga saja yang terlihat duduk disamping jenazah mbah Karso yang sudah terbujur kaku.
"Loh kemana semua, kok cuma 8 orang yang datang" tanya pak Mudin jelas.
"Anu pak...anu...tadi semua warga sudah aku gedor pintunya, tapi gak ada yang mau bukain" ucap Sapto dengan nada bicara yang sedikit lebih pelan.
" Ya allah, kasian mbah Karso, sudah tidak punya siapa-siapa, sekarang para warga juga tidak mau mendekat" ucap pak Mudin pelan.
Tapi anehnya, belum selesai pak Mudin memandangi wajah jenazah mbah Karso, jenazah yang sebelumnya terbujur kaku,
malam itu tiba-tiba terlihat bergerak gerak dengan sendirinya.
Dan tidak hanya itu, seiring dengan bergeraknya jenazah mbah Karso, malam itu dirumah tersebut tiba-tiba tercium aroma bunga sedap malam yang seperti sedang melintas.
Mengetahui semua itu, pak Mudinpun mencoba bersikap tenang dengan meyakinkan kepada semua orang jika mbah Karso sudah meninggal meskipun mbah Karsopun tau, semua warga yang ada dirumah tersebut ketakutan dan mencoba berlari keluar dari rumah mbah Karso.
"Aaaaaaaaa..ya allah, ya allah ya allah, kenapa ini kok bergerak pak...mbah karso...ya allah mbah karso....." Teriak semua warga dengan mulai berhamburan satu persatu.
"Tetap tenang ya pak, bu, mbah Karso sudah meninggal, mungkin yang membuatnya bergerak adalah jin..
sudah ayo kita duduk saja, kita doakan mbah Karso sama sama" ajak pak Mudin sambil mulai memegangi jenazah mbah Karso dengan terus berdoa agar jenazahnya tenang dan dijauhkan dari gangguan makhluk tak kasat mata.
Hingga akhirnya, setelah beberapa lama berdoa, jenazah yang sebelumnya bergerak gerak, waktu itu perlahan mulai diam dan bisa dinyatakan sepenuhnya meninggal dunia.
Mengetahui semua itu, pak Mudinpun mengajak warga duduk dan mulai mendoakan jenazah mbah Karso.
Tapi anehnya, bukannya ikut duduk, para warga yang sebelumnya dirumah mbah Karso, malam itu satu persatu pergi karena mereka mengaku takut dengan apa yang baru saja mereka lihat.
"Pak, mohon maaf, saya pulang dulu ya, fikiran saya gak enak, ini malam jumat legi, katanya kalau ada orang meninggal pada malam jumat legi, besar kemungkinan dia jadi hantu sampai pagi...dan itu tadi aku juga lihat jenazah mbah Karso bergerak beberapa kali.
Sudah ya pak, mohon maaf saya pergi dulu, besuk pagi saja saya kembali ketika jenazah ini sudah siap diberangkatkan." Ucap salah satu Warga yang selanjutnya diikuti oleh warga lainnya.
...
Dan puncaknya, malam itu hanya tersisa 3 orang saja termasuk pak Mudin yang duduk dan mendoakan Mbah Karso.
Ketiga orang tersebut adalah pak Mudin, Sapto dan Ganjar.
Dan dengan tidak memperdulikan semua itu, akhirnya pak Mudinpun memulai memimpin doa dan melakukan acara tahlilan dan sebagainya seperti pada umumya.
Tapi anehnya, belum lama pak Mudin berdoa, tiba-tiba pak Mudin dan ke 2 orang lainnya mencium aroma tidak sedap yang bersumber dari tubuh mbah Karso.
Dan tidak hanya itu, kain kafan yang sebelumnya putih bersih, waktu itu tiba-tiba memerah darah dibagian pinggang samping,
kaki dan pundak mbah Karso yang menandakan jika jenazah mbah Karso sedang terluka.
"Loh, kok ada bercak darah pak, bagaimana ini..." Teriak Sapto.
"Ya allah, ayo cepat kita ganti dengan kain kafan yang baru" sahut pak Mudin.
"Kain kafannya habis pak, tadi mau beli keluar desa sudah tutup semua, stock desa habis, lagian ini sudah dinihari pak, gak ada lagi kain kafan bersih. Bagaimana ini" jawab Ganjar jelas.
Dan tidak kehabisan akal, akhirnya pak Mudinpun seketika membalut jenazah mbah Karso dengan sprei yang ditemukan dirumah mbah Karso agar tubuhnya bisa sedikit lebih bersih dari noda darah yang waktu itu keluar sudah semakin banyak saja.
Dan disitulah, ketika pak Mudin masih sibuk mengganti kain kafan dengan sprei, tiba-tiba pandangan pak Mudin mengarah kearah salah satu sudut ruangan rumah mbah Karso, yang ternyata disitu ada sesosok pocong yang terlihat cukup tinggi hampir menyentuh plafon rumah.
Dan tidak hanya pocong, disudut lain, Sapto dan Ganjar juga melihat sosok genderuwo hingga sosok orang tua yang terlihat sedang memperhatikan jenazah mbah Karso.
Mengetahui semua itu, Sapto dan Ganjarpun seketika berlari menyelamatkan diri dengan jenazah mbah Karso yang ditinggalkan begitu saja.
Tapi naasnya, ketika berlari, Sapto yang notabennya adalah pembantu mbah Karso, waktu itu terjatuh dilantai hingga kepalanya membentur lantai
yang anehnya, saat itu Saptopun seketika meninggal dunia.
(Menurut versi lain, kematian Sapto bisa dibilang kurang Wajar, ada yang bilang kematian Sapto ada campur tangan makhluk halus dan ada juga yang bilang jika kematian Sapto dijadikan tumbal oleh mbah Karso itu sendiri.)
Mengetahui semua itu, pak Mudinpun masih menguatkan diri sambil berteriak teriak mengusir sosok setan tersebut yang waktu itu hanya diam tidak bergerak.
"Pergi kamu..pergi......" Teriak pak Mudin keras.
Tapi sayangnya, bukannya pergi, sosok pocong dan Genderuwo tersebut
terlihat mengarahkan pandangannya kearah pak Mudin yang waktu itu tinggal seorang diri.
Dan disitulah, pundak pak Mudin tiba-tiba terasa berat seperti sedang ditunggangi oleh seseorang.
Dan tidak hanya itu, pandangan pak Mudin perlahan mulai kabur dengan nafasnya yang terasa sesak seperti sedang ada yang menekan.
Karena pak Mudin merasa sudah tidak aman jika terus berusaha mengusir semuanya sendirian,
akhirnya pak Mudinpun bergegas keluar berlari untuk menyelamatkan diri.
Hingga akhirnya, kedua jenazah tersebut benar-benar ditinggalkan begitu saja dirumah mbah Karso dengan pak Mudin yang bergegas berlari kembali kerumahnya.
Dan lagi-lagi, ketika pak Mudin berlari pulang, pak Mudin kembali berpapasan dengan sosok mbah Karso yang terlihat berjalan kembali.
Mengetahui semua itu, pak Mudinpun semakin mempercepat larinya agar dia cepat sampai dirumahnya.
Sesampainya dirumah, pak Mudinpun seketika menceritakan apa yang baru saja dia alami kepada istrinya.
"Waduh buk, berat. Sepertinya jenazah mbah Karso dikuasai makhluk halus. Dan Sapto juga meninggal dunia baru saja" ucap Pak Mudin kepada istrinya dengan nafasnya yang
masih ternengah engah karena kelelahan.
"Apa...ya allah, terus bapak kenapa kembali pulang, terus warga pada kemana, yang ngurus jenazahnya siapa" ucap Istri pak Mudin kebingungan.
"Para Warga sini gak ada yang mau kerumah mbah Karso,
sepertinya para Warga gak suka dengan mbah Karso. Kan ibu juga tau, mbah Karso itu siapa. Dia kan dukun Santet dan pesugihan. Sudahlah besuk pagi saja aku tak balik kesana dan minta bantuan kepala desa. Kalau aku urus semua sekarang.
Sepertinya akan berbahaya" Ucap pak mudin jelas dengan dia yang mulai duduk dikursi dan melepas kopyahnya.
"Yasudah, sebentar ibu mau ambil garam dulu, aku mau tabur disekeliling rumah kita agar rumah kita aman,
aku takut ada hal yang gak baik ngikut ke bapak" ucap istri pak Mudin.
"Iya bu, seumur hidup, baru kali ini aku melihat dan mengalami semua itu" ucap pak Mudin lesu dengan dia yang mulai menyandarkan kepalanya dan memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya.
Dan puncaknya, malam itu istri pak mudinpun terlihat menaburkan garam mengitari rumahnya hingga akhirnya, malam itupun berlalu begitu saja.
Keesokan harinya, tepat pukul 06.00 pagi, tanpa lama-lama lagi,
pak Mudin seketika menuju balai desa untuk meminta bantuan kepada pemerintah desa agar mereka mau membantu merawat jenazah sapto dan mbah Karso.
Setelah pak Mudin menceritakan semuanya, atas himbauan kepala desa,
akhirnya para wargapun bersedia untuk ikut membantu prosesi pemakaman jenazah Sapto dan mbah Karso tersebut.
Dan sekitar pukul 08.00.pagi, pak Mudin dan para Warga akhirnya beramai ramai menuju rumah mbah Karso agar jenazah mbah Karso bisa segera diselesaikan.
Tapi anehnya, ketika mereka sampai dirumah mbah Karso, mereka melihat pemandangan yang cukup mengherankan.
Bagaimana tidak, pagi itu para warga dan pak mudin melihat dengan mata kepalanya sendiri jika ke 2 jenazah tersebut sudah saling bergeletakan dengan tidak ada satupun
yang mengenakan pakaian.
Jenazah Sapto terlihat telanjang dengan pakaiannya yang hilang entah kemana, ditambah jenazah mbah Karso yang juga telanjang dengan bagian tubuh yang membusuk layaknya orang mengidap penyakit kencing manis.
( Menurut beberapa sumber, ketika pagi hari, jenazah sapto dan mbah Karso sudah tergeletak diruangan terpisah. Ada juga yang bilang jika jenazah mbah Karso seperti berjalan dan sengaja berpindah tempat. Ada yang bilang kondisi rumah mbah Karso pagi itu sudah
berantakan dengan jejak langkah kaki yang memang terlihat berjalan dan sebagainya.
Semua cerita tersebut, seolah melengkapi kisah dimalam kematian mbah Karso dan Sapto.
Tapi yang jelas, menurut keterangan pak Mudin, Jenazah mbah Karso memang ditemukan berpindah tempat sangat jauh, yaitu dilantai 2 rumah tersebut. Padahal nyatanya, sebelumnya jenazah mbah Karso berada diruang tamu lantai 1 rumah tersebut.
Begitu juga dengan jenazah Sapto, jenazah sapto ditemukan berada dikebun belakang rumah mbah Karso.).
Mengetahui semua itu, para wargapun mulai membantu mengurus jenazah mbah Karso dan Sapto yang akhirnya, sekitar tengah Hari,
kedua jenazah tersebut berhasil dimakamkan sebagaimana mestinya.
....

Singkat cerita, sejak saat itu, Rumah mbah Karso bisa dikatakan seketika sepi dengan tidak ada satupun yang berani menempati.
Sudah beberapa kali pihak desa mencoba menghubungi saudara mbah Karso, tapi semuanya seolah tidak mau peduli dengan rumah mbah Karso yang waktu itu sudah semakin terlihat seram menjadi jadi.
Kesaksian para warga yang mengaku sering kali melihat aktifitas dirumah mbah Karso,
juga seolah melengkapi dan membuat rumah mbah Karso benar-benar menjadi salah satu rumah yang paling dijauhi oleh warga sekitar.
Para tetangga terdekat mbah Karso pun, waktu itu berbondong bondong pindah menjauh karena mereka mengaku selalu mendengar suara suara aneh yang berasal dari arah rumah mbah Karso.
Dan singkat cerita, akhirnya waktupun berlalu begitu saja....
...
Beberapa tahun kemudian.
...
Januari. 22.00 WIB.
...

"Rumah besar itu rumah siapa sih mas, kok jam segini lampu rumahnya masih menyala semua. " Tanya Gunawan yang waktu itu mendapat jatah Ronda keliling kampung
bersama Mas Guntur.
"Hust, sudah biarkan saja, itu rumah mbah Karso, dari dulu memang seperti itu, dari luar kelihatanya berpenghuni, padahal nyatanya, dirumah itu gak ada satupun penghuninya" jawab mas Guntur dengan menyeret tangan Gunawan agar dia tidak terus memperhatikan
rumah mbah Karso.
Tapi sayangnya, belum cukup jauh Gunawan dan mas Guntur melangkah pergi, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya suara teriakan yang terdengar jelas dari arah rumah mbah Karso.
"Tolong....tolong....tolongg...."
Mendengar hal itu, tentu saja Gunawan dan Mas Guntur seketika terdiam dengan telinganya yang terus mendengarkan suara teriakan tersebut.
"Ada suara orang minta tolong mas...aduh bagaimana ini..ayo kita lihat mas.." ajak Gunawan tegas.
"Sudah jangan hiraukan, ayo pergi saja" jawab Mas Guntur.
Karena Gunawan tidak mau membantah ucapan mas Guntur, akhirnya Gunawan pun mengikuti ucapan mas Guntur untuk tidak menghiraukan suara teriakan tersebut dan memilih untuk pergi.
...
Keesokan harinya ..
...
Pagi itu seperti biasanya, setelah sarapan dan sebagainya, Gunawan telah bersiap untuk berangkat kerja meski matanya masih mengantuk karena semalam dia ronda sampai larut malam.
"Hati-hati lo mas, matamu masih merah banget tu, kalau masih ngantuk,
jangan masuk kerja dulu deh, kamu istirahat saja" ucap Lilik ( Istri Gunawan ).
"Gakpapa dek, oh iya dek, aku mau cerita inih, kemarin malam pas aku ronda, aku denger suara teriakan dari rumah salah satu Warga loh,
tapi anehnya, sama mas Guntur bukanya dicek aku malah disuruh pergi" ucap Gunawan memulai obrolan.
"Teriakan bagaimana mas ?." Tanya mbak Lilik.
"Ya teriakan minta tolong dek, jelas banget loh, arahnya dari rumah besar yang ada diujung jalan.
Kalau kata mas Guntur sih rumah itu Kosong, padahal nyatanya, tadi malam aku lihat lampu di rumah itu jelas-jelas menyala semua " terang Gunawan jelas.
"Hmmm...kok aneh ya mas.. ah sudahlah, kita kan pendatang baru di desa ini, mending kita diam saja lah kalau ada yang aneh,
toh kita gak tau apa-apa loh dengan desa ini" jawab mbak Lilik dengan mulai memasukan satu persatu bekal Gunawan kedalam Tas nya.
Dan singkat cerita, setelah semua persiapan Gunawan telah selesai, akhirnya, Gunawan memacu kendaraannya ketempat kerjanya yaitu sebuah sekolah dasar yang terletak didesa tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Sesampainya disekolah, tentu saja Gunawan mulai mengajar seperti biasanya sembari mencoba beradaptasi dengan lingkungannya yang baru karena Gunawanpun tau, disekolah itu Gunawan bisa dibilang sebagai tenaga pendidik yang masih baru karena penempatan pemerintah
yang mengharuskannya mengajar didesa tersebut.
Dan disitulah, disela-sela Gunawan masih mengajar, Gunawan mendengar suara obrolan dari dua penjaga sekolah yang terdengar mencurigakan.
"Iya, ada korban lagi katanya..dalam 2 bulan ini, sudah 3 orang yang meninggal"
ucap penjaga sekolah yang terdengar sedang mengobrol tepat didepan kelas Gunawan mengajar.
Mendengar hal itu, Gunawanpun mendekatkan dirinya kearah penjaga sekolah tersebut agar dia bisa mendengarkan lebih jelas sembari berpura pura terus melakukan aktifitasnya.
"Kalau rumah itu tidak segera dibersihkan pasti selanjutnya ada korban lagi" sahut penjaga sekolah lainnya."Ya intinya kita harus hati-hati, sebisa mungkin jangan sampai lewat situ kalau sudah malam hari, mudah-mudahan pak Lurah segera mengatasi semua ini" imbuh Penjaga sekolah.
Mendengar percakapan itu, rasa penasaran Gunawan sepertinya sudah sampai pada puncaknya, dia tidak sanggup lagi jika harus menahannya.
Dan tanpa lama-lama lagi, waktu itu Gunawan segera keluar dari kelas dan menghampiri kedua penjaga sekolah yang waktu itu
memang masih duduk didepan area kelas tersebut.
"Permisi pak, boleh gabung heheh" ucap Gunawan sopan.
"Oh iya pak, iya pak, bapak namanya pak Gunawan ya, Guru Baru dari Kota. Perkenalkan saya Rajiman pak, dan ini Wiryo kami penjaga sekolah sekaligus tukang kebunnya"
sahut penjaga sekolah tersebut yang terlihat menyambut. "Iya pak hehehe salam kenal ya pak, iya pak saya Guru baru, masih 3 bulan nan ngajar disekolah ini, saya kebetulan dapat penempatan ngajar disekolah ini" jawab Gunawan basa basi dengan dia yang mulai ikut duduk
bersama kedua penjaga sekolah tersebut.
"Hmmm, terus sekarang tinggalnya dimana ini pak." Tanya pak Wiryo.
"Saya dapat Kontrakan di desa Sekarwangi pak, desa sebelah tidak jauh dari desa ini, pengennya sih sebelumnya cari kontrakan didesa ini saja biar dekat kalau ngajar,
tapi gak dapat e pak, saya dapatnya di Sekarwangi, yasudahlah gakpapa daripada gak dapat kontrakan kan malah repot. Tapi enak kok, warga Sekarwangi ramah-ramah, belum lama saya tinggal disana, saya sudah aktif ikut kegiatan desa pak, seperti ronda malam dan sebagainya,
ya mudah-mudahan saya betah disana pak hehehehe"terang Gunawan menjelaskan.
"Betul pak, ya harus betah dong, kan bapak disekolah ini sepertinya lama, jadi harus beradaptasi, tapi tenang saja, warga yang tinggal disekitar sini semuanya ramah kok pak hehehe" Sahut Rajiman.
Dan singkat cerita, setelah lama berbasa basi kesana kemari, akhirnya Gunawanpun menyinggung obrolan yang sempat dia dengar sebelumnya.
"Eh pak, mohon maaf nih ya, tadi aku dengar obrolan bapak tentang korban-korban itu apa ya pak.."tanya Gunawan serius.
Mendengar pertanyaan Gunawan, kedua penjaga sekolah tersebut seketika diam, wajahnya memerah dengan tatapan matanya yang menatap satu sama lain seolah mereka kaget jika obrolan mereka sebelumnya ternyata terdengar oleh Gunawan.
Dan karena kedua penjaga sekolah tersebut merasa jika sudah terlanjur terdengar, akhirnya merekapun bersedia menceritakan walau hanya sedikit.
"Yang kami ceritakan tadi itu tentang rumah mbah Karso pak" ucap Wiryo pelan.
"Hah, rumah mbah Karso yang ada di desa Sekarwangi ?." Sahut Gunawan Kaget.
"Hussttt...jangan keras-keras pak, kalau ada yang tau kita sedang membicarakan rumah itu, nanti ditegur, Pamali" imbuh Rajiman mengingatkan.
"Benar pak, rumah mbah Karso yang kita maksud memang terletak di Sekarwangi, Bahkan sepertinya, setiap hari jika bapak pulang pergi kesekolah ini pasti juga melewatinya"terang Rajiman.
"Ada apa pak dengan rumah mbah Karso, kan rumah itu rumah kosong kan" jawab Gunawan.
"Jadi begini, Mbah Karso bisa dikatakan sebagai sejarah kelam desa Sekarwangi pak. Sebenarnya, dulu semasa hidupnya, mbah Karso dianggap sebagai dukun hebat desa Sekarwangi dan desa sekitarnya, termasuk desa ini.
Banyak warga yang sering berkunjung kerumah mbah Karso untuk berobat menyembuhkan penyakitnya seperti santet, guna-guna dan lain sebagainya" ucap Wiryo memulai ceritanya
"Namun sayangnya, ketika mbah Karso jatuh sakit, semua anaknya tidak mau mendekat dan menolongnya.
Rumor yang beredar, semua itu dilakukan anak-anaknya karena mereka sakit hati dengan mbah Karso, ada juga yang bilang karena rebutan harta warisan dan sebagainya. Ya meski kami tidak tau pastinya tapi kabar yang beredar memang seperti itu"imbuh Rajiman.
"Tapi, kalau memang anak mbah Karso berebut harta warisan, seharusnya rumah mbah Karso sekarang gak kosong seperti itu kan pak, pasti ada yang menempati" sahut Gunawan menanyakan.
"Nah, itulah masalahnya pak......"
"Kriiiiinggg.............."
Belum selesai mereka berbicara, tiba-tiba bell sekolah berbunyi keras menandakan jika waktu itu jam sudah menunjukan pukul 12.00 siang yang artinya, semua murid harus segera dipulangkan.
Mendengar hal itu, tentu saja obrolan gunawan dengan kedua penjaga sekolahpun terhenti.
Kedua penjaga sekolah pun bergegas pergi dengan sedikit memberikan pesan kepada Gunawan agar dia tetap berhati hati jika melewati area rumah mbah Karso dimalam ataupun siang hari.
"Sudah ya pak, kapan-kapan kita sambung lagi, yang penting jika lewat rumah mbah Karso hati-hati.
Jangan menoleh dan jangan hiraukan jika ada apapun..soalnya sudah banyak korban.." ucap Wiryo dengan langkah kakinya yang mulai menjauh pergi
Mengetahui semua itu, Gunawanpun hanya diam dengan kembali melakukan aktifitasnya dan mencoba melupakan semuanya.
...
16.30 WIB.
...
Pekerjaan yang sedang banyak banyaknya membuat Gunawan Waktu itu pulang telat tidak seperti biasanya, bahkan hingga pukul 17.00 lebih, Gunawan terlihat baru saja selesai dan mengunci pintu kantor sekolahnya.
Namun anehnya, ketika baru saja keluar dari area sekolahnya, pandangan Gunawan tiba-tiba teralihkan dengan adanya kakek tua yang terlihat sedang duduk menatapnya.
Kakek tua tersebut berada tidak jauh dari tempatnya dengan baju khas jawa yang dikenakannya.
Mengetahui hal itu, Gunawanpun melontarkan senyumannya dengan mencoba segera bergegas pulang kerumahnya karena diapun tau, selain waktu sudah menjelang malam,
Gunawan terus memikirkan istrinya yang sendirian dirumah menunggunya.
Dan singkat cerita, Gunawanpun segera menyalakan motornya dan pergi meninggalkan sekolahnya. ...
Tapi anehnya, belum lama Gunawan pergi meninggalkan area sekolahnya,
tiba-tiba Gunawan diberhentikan oleh nenek-nenek tua yang terlihat ingin menumpang kendaraannya.
"Nak, numpang boleh ?" Ucap nenek-nenek tersebut pelan.
Dan tanpa pikir panjang, Gunawan pun mempersilahkan Nenek-Nenek tersebut untuk naik keatas kendaraannya.
"Mau kemana nek" ucap Gunawan dengan mulai menjalankan kendaraannya.
"Kerumah Karso nak" sahut nenek nenek tersebut jelas.
Mendengar hal itu, Tubuh Gunawan seketika bergetar, jantungnya berdetak kencang dengan perasaan yang perlahan mulai campur aduk tidak karuan.
"Karso....mbah..mbah..mbah Karso ya maksud nenek. Rumah besar yang ada di desa Sekarwangi ?." sahut Gunawan memastikan dengan mulutnya yang mulai gelagapan karena kebingungan.
"Iya nak " jawab nenek-nenek tersebut singkat.
Dan dengan tidak lagi berani bertanya apapun, Gunawan terus memacu kendaraanya meski tangannya sudah bergetar dengan sendirinya.
Didalam fikiran Gunawan benar-benar kacau karena diapun tau, mbah Karso sepertinya sudah meninggal dunia.
Hingga akhirnya, dengan menguatkan hatinya dan menahan semua ketakutan yang ada, Gunawanpun terus memacu kendaraannya.
Dan puncaknya, apa yang ada didalam fikiran
Gunawan, ternyata memang benar adanya.
Nenek-nenek tersebut benar-benar meminta turun dan berhenti tepat dijalan yang berada didepan rumah mbah Karso.
Dan tidak hanya itu, setelah nenek-nenek tersebut telah turun dan berterimakasih kepada Gunawan, nenek-nenek tersebut terlihat berjalan kearah rumah mbah Karso dengan tidak sekalipun menoleh kembali kearah Gunawan.
Karena rasa penasaran yang cukup dalam, akhirnya Gunawanpun memutuskan untuk diam sejenak dengan matanya yang terus memperhatikan langkah nenek-nenek tersebut.
Dan disitulah, perasaan Gunawan yang sebelumnya sudah kacau,
waktu itu seolah semakin menjadi jadi ketika gunawan tau, dengan mata kepalanya sendiri gunawan melihat nenek nenek tersebut terlihat dibukakan pintu oleh seorang kakek kakek tua yang memakai baju khas jawa yang sepertinya,
gunawan sudah melihat sebelumnya ketika dia baru saja keluar dari area sekolahnya.
"Loh, itukan kakek-kakek tadi..."ucap Gunawan kaget.
Disitu, karena gunawan tidak mau berlama lama lagi, akhirnya gunawanpun segera melanjutkan perjalanannya dengan fikiran
yang sudah mulai kemana mana.
Sesampainya dirumah, Gunawan hanya diam dengan terus memikirkan kejadian yang baru saja menimpanya.
"Sepertinya mbah Karso masih hidup deh, tapi warga sengaja menutup nutupi. Tapi kalau memang ditutupi, ada masalah apa ya.
waduh sayangnya, aku gak pernah lihat keadaan rumah mbah karso waktu siang hari, mungkin, jika aku bisa lihat keadaan rumah mbah Karso disiang hari, aku akan tau apa yang sebenarnya terjadi. Masak sih rumah itu kosong,
gak percaya ah aku, mending besuk aku gak masuk sekolah saja lah, biar aku bisa memastikan bagaimana keadaan rumah mbah Karso di siang hari. Kalau memang rumahnya benar-benar kosong, berarti nenek-nenek yang bersamaku tadi memang setan.
Tapi kalau siang hari ada penghuninya, sepertinya ada yang ditutupi oleh warga desa. Ah sudahlah, mending besuk aku lihat sendiri saja, bila perlu aku besuk masuk kerumah mbah Karso" fikir Gunawan dengan mulai memejamkan matanya.
Keesokan harinya, sesuai rencananya, Gunawan sengaja berpamitan kepada istrinya untuk pergi mengajar, namun nyatanya, pagi itu dia sudah membulatkan tekatnya untuk mengunjungi rumah mbah Karso.
"Eh dek, kemarin, aku bertemu nenek-nenek yang minta antar kerumah mbah Karso loh, jangan-jangan rumah mbah Karso itu berpenghuni, tapi oleh warga semua kenyataannya sengaja ditutupi." Ucap Gunawan.
"Sudah jangan ikut campur, kita masih baru disini, kita masih tidak tau apa-apa dengan kampung ini" sahut Lilik jelas.
Dan singkat cerita, karena rasa penasaran Gunawan rasanya sudah semakin dalam saja, akhirnya, tanpa berpamitan dengan istrinya,
Gunawan berniat pergi dan melihat bagaimana keadaan rumah mbah Karso tersebut jika tidak dimalam hari.
Puncakya, tepat sekitar pukul 07.00 pagi, Gunawanpun benar-benar menuju rumah mbah Karso dan sampai lalu berhenti didepan rumah mbah Karso seorang diri.
Dia menatap rumah mbah Karso dari luar dengan sesekali melirik kesana dan kemari untuk memastikan tidak ada warga yang sedang memperhatikan Gunawan berdiri.
Setelah beberapa lama Gunawan memperhatikan, Gunawanpun berjalan pelan kearah pintu utama rumah mbah Karso yang saat itu
memang terlihat masih tertutup rapi.
Dan Disitulah, akhirnya gunawan bisa melihat bagaimana rumah mbah karso jika tidak dimalam hari.
Jika malam hari rumah tersebut terlihat menyala lampunya layaknya rumah berpenghuni pada umumnya, ketika disiang hari, rumah tersebut benar-benar terlihat terbengkalai.
Rumput liar yang sudah menjalar ditambah banyak bagian rumah yang terlihat sudah mulai rusak, menandakan jika
rumah mbah Karso benar-benar sudah tidak ditempati lagi.
"Hmm... Padahal rumah ini besar sekali, tapi sayang gak terawat seperti ini" fikir Gunawan dengan langkahnya yang mengarah kesetiap bangunan rumah yang memang terlihat cukup besar dan mewah tersebut.
Waktu itu, demi memastikan keberadaan orang, Gunawanpun berteriak memanggil manggil meskipun sebenarnya, gunawan sudah sangat yakin jika rumah itu memang kosong.
"Permisi...halo...ada orang apa enggak ya" teriak Gunawan.
Tapi sayangnya, hampir satu jam lamanya gunawan berteriak, gunawan tidak kunjung mendapatkan jawaban yang akhirnya, membuat gunawan semakin yakin jika rumah mbah Karso tersebut memang benar-benar kosong.
"Rumah ini sepertinya memang kosong deh, terus yang nyalain lampu setiap malam siapa ya, dan nenek-nenek kemarin kemana " fikir Gunawan.
Tapi sayangnya, belum selesai gunawan memikirkan semuanya, pandangan gunawan tiba-tiba teralihkan dengan adanya perempun muda yang terlihat
sedang berjalan dan mengintip dari jendela lantai dua.
Dan tidak hanya itu, waktu itu Gunawan juga mendengar suara langkah kaki orang sedang berlari lari yang jika didengar dengan lebih teliti lagi, sumber suara tersebut berasal dari dalam rumah mbah Karso tersebut.
Mengetahui semua itu, tubuh gunawan rasanya seperti terpaku, matanya terbelalak dengan telinganya yang seolah masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Ditambah, beberapa saat setelah itu, pintu utama rumah mbah Karso yang sebelumnya tertutup rapat,
waktu itu terlihat perlahan dibuka oleh seseorang yang ternyata, setelah pintu sudah terbuka lebar, ada seorang nenek-nenek tua yang berdiri dibaliknya dan menatap kearah Gunawan.
"Oalah kowe to le, ono opo, kene lo mlebuo. (Oalah, kamu ta nak, ada apa, sini lo,
silahkan masuk)" ucap nenek-nenek tersebut sambil tersenyum kearah Gunawan.
Mengetahui hal itu, Gunawan seperti terhipnotis, dia berjalan pelan mendekati rumah tersebut dengan tidak sekalipun menjawab ucapan nenek-nenek tersebut.
Dan sesampainya didalam rumah mbah Karso, perasaan Gunawan seketika terheran tidak karuan karena kenapa, waktu itu gunawan melihat keadaan rumah mbah Karso benar-benar tidak berbeda dengan rumah pada umumnya.
Bahkan, bisa dikatakan, semua anggapan warga tentang rumah mbah karso
yang katanya kosong dan tidak berpenghuni, semuanya salah, waktu itu rumah mbah karso bisa dikatakan cukup banyak penghuninya. Mulai dari beberapa anak kecil, ibu ibu paruh baya hingga laki laki dewasa semua terlihat bersliweran didalam rumah tersebut.
Bahkan, meski dari arah luar rumah, rumah tersebut nampak tidak terurus, didalam rumah, keadaan benar-benar berbanding terbalik, didalam rumah tersebut nampak sangat terawat dan bisa dibilang cukup bersih.
"Kok melamun, silahkan ini nak diminum kopinya " ucap nenek-nenek yang kembali mengagetkan gunawan dengan tangannya yang terlihat menyuguhkan secangkir kopi panas.
"Hmmm pantesan kalau tiap malam rumah ini lampunya nyala, orang banyak banget penghuninya heheh"
ucap Gunawan sopan.
"Iya, kalau sampai lampunya mati, nanti bahaya " ucap nenek nenek tersebut sambil sedikit tersenyum pelan.
Tapi anehnya, belum sampai gunawan menghabiskan kopinya, tiba-tiba nenek-nenek tersebut berpamitan pergi
"Minum dulu ya kopinya, nenek mau bersih-bersih dulu" ucap Nenek-nenek tersebut jelas.
Dan dengan hanya tersenyum, Gunawan mengangguk dengan matanya yang masih melihat kesetiap bagian sudut rumah yang bisa dibilang sangat besar tersebut
"Rumah ini benar-benar besar, hmmm, mbah Karso ini sepertinya orang kaya" ucap Gunawan dalam hatinya.
Tapi sayangnya, belum selesai Gunawan memperhatikan setiap sudut rumah, Gunawan tiba-tiba mencium aroma tidak sedap yang sepertinya berasal dari area belakang rumah
mbah Karso tersebut.
Merasakan hal itu, Gunawan mencoba bersikap biasa-biasa saja dengan tidak memperlihatkan jika dia sebenarnya sedang mencium aroma yang cukup tidak sedap.
Dan singkat cerita, setelah selesai meminum kopinya, Gunawanpun segera ingin berpamitan
pergi karena saat itu, dia merasa rasa penasaran akan rumah mbah Karso sudah terpenuhi.
Disitu, dia berdiri dan memanggil nenek tersebut dengan nada yang cukup keras.
"Nek,,,saya mau pamit" teriak Gunawan.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian, Nenek-nenek tersebutpun kembali
untuk menemui Gunawan yang waktu itu sudah berdiri.
"Saya pamit ya Nek, terimakasih banyak minumannya, " pamit Gunawan Sopan.
"Terimakasih sudah mampir" jawab nenek-nenek tersebut pelan.
Dan akhirnya, Gunawan pun perlahan membuka pintu rumah mbah Karso dan keluar
meninggalkan rumahnya.
Tapi anehnya, Baru saja Gunawan Keluar dari rumah mbah Karso.
Perasaan Gunawan yang sebelumnya tenang, waktu itu seketika tegang.
Tubuhnya bergetar dengan matanya yang melihat kearah kanan dan kiri seolah dia tidak percaya dengan apa yang ada didepan matanya.
Bagaimana tidak, ketika Gunawan keluar dari Rumah mbah Karso, keadaan tiba-tiba sudah larut malam.
Padahal nyatanya, Gunawanpun juga sangat ingat,
jika sebelumnya dia masuk rumah tersebut masih pagi hari dan didalam rumah hanya meminum kopi. Dan tidak hanya itu, Rumah mbah Karso yang sebelumnya berpenghuni, waktu itu juga tiba-tiba terlihat kosong terbengkali.
Mengetahui semua itu, rasa takut Gunawan rasanya sudah tidak bisa diceritakan lagi, dia lari terbirit birit dengan sesekali menoleh kembali kearah rumah mbah Karso yang waktu itu nyatanya memang sama sekali tidak berpenghuni.
Hingga akhirnya, ketika Gunawan baru saja keluar dan menyalakan Motornya, Gunawan tiba-tiba diberhentikan oleh pak Ganjar yang sepertinya, pak Ganjar mengetahui jika Gunawan telah masuk kedalam rumah mbah Karso.
"Kamu darimana" ucap pak Ganjar dengan raut wajah yang terlihat marah.
Dan tanpa menjawab perkataan pak Ganjar, Gunawanpun seketika pergi dengan tubuh yang masih saja gemetar karena ketakutan.
Sesampainya dirumah, Gunawanpun seketika masuk kedalam kamar tidurnya dengan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Lilik yang waktu itu terus bertanya, darimana sajakah Gunawan seharian.
Dan disaat itulah, bisa dikatakan malam terakhir Lilik melihat keadaan Gunawan baik-baik saja.
Benar sekali, keesokan harinya, bukannya beraktifitas seperti biasanya, Gunawan bisa dikatakan tiba-tiba diam seribu bahasa.
Dan tidak hanya itu, selain diam, dia sesekali melirik kearah Lilik dengan senyuman yang cukup menakutkan.
Mengatahui semua itu, Lilikpun berusaha menyadarkan Gunawan yang waktu itu sudah semakin aneh saja.
Dia menari, menangis, dan sesekali tertawa seperti orang yang kurang waras.
Ditambah, tidak jarang pula dia berlari ke belakang rumah untuk mengambil rumput yang saat itu seketika dia makan layaknya hewan.
Bahkan, yang membuat Lilik terheran heran adalah, ketika Gunawan menangis, tertawa dan bergumam, suara yang keluar dari mulut Gunawan bukanlah suara Gunawan, melainkan suara kakek-kakek tua.
Mengetahui semua itu, Lilikpun seketika meminta bantuan kepada tetangga kanan kirinya
dan tidak lupa, dia juga meminta bantuan kepada pihak pemerintahan desa.
Tapi sayangnya, semua usaha yang dilakukan untuk menyembuhkan Gunawan, bisa dikatakan sama sekali tidak ada hasilnya.
Mulai usaha medis dan non medis, waktu itu benar-benar sudah terlihat percuma dengan kondisi Gunawan yang kini sudah diikat diranjang tempat tidurnya.
Setiap malam, Lilik hanya menangis yang waktu itu, Seluruh anggota keluarga dan saudara Lilik dan Gunawan sudah berkumpul
dirumah Gunawan demi menjaga dan melihat bagaimana kondisi Gunawan.
...
Dan Singkat cerita, hari-haripun berlalu begitu saja.
Waktu itu, sudah 7 hari setelah Gunawan tiba-tiba berubah menjadi seperti itu.
Tubuh Gunawan saat itu sudah sangat kurus, matanya terus berputar melirik
dengan air liur yang terus saja keluar dari mulutnya.
Setiap harinya, Gunawan hanya makan bunga dan meminum air putih mentah yang begitu banyak Jumlahnya.
Sebenarnya, tidak sedikit warga yang sesekali mengunjungi Gunawan, tapi semua warga, hanya terkesan mengunjungi dengan
tidak sekalipun memberikan opsi.
(Waktu itu, mas Gunawan sudah diantara hidup dan mati mas, apapun kata orang, waktu itu sudah kuturuti agar mas Gunawan bisa segera sembuh, tapi sayangnya, keadaan mas Gunawan semakin lama sudah semakin menghawatirkan saja) " ucap Narasumber.
Dan hingga akhirnya, Tuhanpun memberikan jalannya.
Malam itu, disela sela Lilik duduk menjaga Gunawan, tiba-tiba datang pak Ganjar yang terlihat penasaran dengan keadaan Gunawan.
"Saya dengar suamimu sakit, dia sakit apa .?" Tanya pak Ganjar.
"Gak tau aku pak, dia sudah seperti ini sejak semingguan yang lalu" ucap Lilik lesu.
Mengetahui hal itu, Ganjarpun berjalan pelan kearah kamar Gunawan dan memperhatikan bagaimana keadaan Gunawan yang waktu itu terus saja bergelinjang.
"Hmmm, benar sekali, sesuai dugaanku, Gunawan memang diikuti" ucap pak Ganjar pelan dengan dia yang seketika berjalan kembali dan duduk diruang tamu rumah Gunawan.
"Mendengar ucapan pak Ganjar yang cukup mencurigakan, Akhirnya Lilikpun bergegas mengikuti pak Ganjar dan bertanya
apa maksud dari perkataan pak Ganjar sebelumnya.
"Apa pak, ? Barusan bapak bilang apa ?...apa bapak mengerti, suamiku ini kenapa" tanya Lilik tanpa basa basi.
" Mbah Karso " jawab pak Ganjar jelas.
"Hah, mbah Karso ? Maksudnya apa sih pak" imbuh Lilik dengan perasaan yang semakin penasaran.
"Sebelumya, aku sempat melihat suamimu ini masuk kedalam rumah mbah Karso" ucap pak Ganjar memulai Obrolan.
Mendengar hal itu, Lilik seketika diam, dia duduk dengan perasaan yang sudah
campur aduk tidak karuan karena diapun tau, mbah karso adalah pemilik rumah kosong yang sangat dijauhi oleh warga.
"Dia tidak akan bisa sembuh, yang bisa sembuhkan hanya mbok Temi. Beliau yang faham bagaimana kesaktian dan penangkal ilmu mbah Karso. " Ucap pak Ganjar.
"Mbok Temi ? Siapa itu mbok temi pak" tanya Lilik.
"Mbok temi dulu pembantu mbah Karso, tapi entah apa masalahnya, tiba-tiba mbok temi mengundurkan diri tepat 40 hari sebelum mbah Karso meninggal dunia." Terang pak Ganjar.
"Loh, kalau begitu, ayo antar aku menemui mbok Temi pak, aku mohon" ucap Lilik merintih kepada pak Ganjar.
"Masalahnya, mbok Temi sekarang dimana ?.. aku juga gak tau, informasi terakhir yang kudapat, sejak kematian mbah Karso, katanya mbok Temi sudah tidak pernah lagi pulang
kerumahnya."Ucap Pak Ganjar jelas.
Mendengar hal itu, Lilik kembali lemas, tatapan matanya kosong dengan perasaan yang sudah tidak lagi bisa diceritakan.
Tapi disitulah, ketika Lilik masih termenung, dia tiba-tiba mengingat ucapan suaminya jika sebelumnya dia bertemu dengan
nenek-nenek tua yang meminta diantar kerumah mbah Karso.
"Lah...aku tau dimana mbok Temi sekarang? " Ucap Lilik.
"Hah, maksudnya bagaimana ? " Ucap pak Ganjar Kaget.
" aku tau pak, mbok Temi sekarang ada dirumah mbah Karso" terang Lilik jelas.
Mendengar hal itu, Pak Ganjar seketika terkejut dan seolah tidak percaya dengan apa yang barusan Lilik katakan.
"Kamu kata siapa kalau mbok Temi ada di rumah mbah Karso, jika mbok Temi ada dirumah mbah Karso, ya sama saja, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Karena perlu kamu tau, jika kita masuk kedalam rumah mbah Karso, sudah sama dengan kita bunuh diri. "
Terang pak Ganjar mengingatkan Lilik.
"Aku sudah tidak ada pilihan lain pak, aku akan melakukan apapun agar suamiku sembuh" ucap Lilik keras dengan dia yang mulai mengeluarkan air matanya.
Dan tanpa menjawab perkataan Lilik, Pak Ganjarpun seketika berjalan keluar dengan tidak lagi menghiraukan ucapan Lilik.
Dan tidak butuh waktu lama, beberapa lama setelah pak Ganjar pergi, Lilikpun berpamitan pergi kepada saudara sekaligus menitipkan Gunawan agar dia dijaga
oleh saudaranya.
"Mbak, aku mau cari obat buat mas Gunawan ya, aku minta tolong jagain suamiku sebentar. " Pamit Lilik kepada saudaranya yang ada dirumahnya sambil sedikit tersenyum agar saudaranya tidak ada rasa curiga dan agar saudaranya tidak ada yang ikut dengannya.
Hingga Akhirnya, sekitar pukul 20.30 malam, Lilikpun menuju rumah mbah Karso dengan secuil harapan bahwa dia akan berjumpa dengan mbok Temi.
Langkah demi langkah waktu itu dia tapaki dengan tidak sedikitpun ada rasa keraguan di hati.
Yang ada didalam fikiran lilik, hanya itu jalan satu-satunya agar Gunawan bisa sembuh seperti sedia kala.
Dan puncaknya, setelah berjalan beberapa lama, akhirnya Lilik sampai di depan rumah mbah Karso.
Sesampainya Lilik didepan rumah mbah Karso, perasaan Lilik sebenarnya sedikit tergoncang karena saat itu, dia melihat keadaan rumah mbah Karso benar-benar gelap tidak seperti biasanya.
Jika biasanya menurut warga rumah mbah Karso menyala lampunya ketika malam tiba,
waktu itu rumah mbah Karso benar-benar gelap gulita.
Dan dengan kembali menguatkan fikirannya, akhirnya Lilikpun berjalan pelan mendekati Gerbang rumahnya yang waktu itu berjarak tinggal hanya beberapa langkah saja.
Hingga akhirnya, sesampainya Lilik didepan Gerbangnya,
diapun mulai berteriak memanggil nama mbok Temi barangkali mbok Temi bisa mendengar teriakannya.
"Mbok.....mbok..Temi" teriak Lilik berulang ulang.
Namun karena teriakan Lilik tidak ada yang menjawab, akhirnya, Lilikpun membuka Gerbang tersebut dan berjalan mendekati rumah
mbah Karso dengan matanya yang mulai melirik kesana kemari.
"Rumah ini bener-bener serem deh" fikir Lilik.
Disitu, akhirnya Lilik pun berhenti dan berdiri di area halaman rumah mbah Karso dengan terus berteriak memanggil mbok Temi berkali-kali.
"Mbok...mbok Temi...."
Hingga akhirnya, setelah cukup lama Lilik berdiri dan berteriak, tiba-tiba Pandangan Lilik teralihkan dengan salah satu ruangan yang ada dilantai dua yang waktu itu terlihat menyala lampunya.
Dan tidak hanya menyala, Lilik juga melihat adanya sekelebatan orang yang berjalan melintas begitu saja.
Mengetahui hal itu, Lilikpun kembali berteriak teriak dengan harapan agar orang tersebut mendengarnya, tapi sayangnya tidak ada satupun orang yang membalas teriakannya
dengan hanya lampu yang masih terlihat menyala dengan redupnya.
Disitu, karena Lilik menganggap jika memang ada orang dirumah mbah Karso, akhirnya lilik pun berjalan pelan kearah pintu utama rumah mbah Karso dan dia ingin menuju lantai dua
tempat dimana sumber cahaya tersebut berada.
Tapi sayangnya, Ketika Lilik sampai di pintu utama rumah mbah Karso, Lilik sangat kesulitan membuka pintunya karena saat itu, pintu utama rumah mbah Karso dalam keadaan terkunci rapat.
Dan tidak kehabisan akal, diapun berjalan memutari rumah mbah Karso tersebut dengan harapan ada jalan masuk lain yang bisa dia gunakan.
Hingga akhirnya, setelah berputar, Lilik melihat ada satu pintu belakang rumah yang terlihat sedikit terbuka.
Dan dengan mulai menyalakan senter yang dari rumah sudah dia bawa, Lilik pun perlahan mulai masuk kedalam rumah mbah Karso dengan kembali berteriak memanggil nama mbok Temi.
"Assalamualaikum, mbok,,,mbok Temi, simbok disini kan, aku mau minta tolong mbok....tolong"
teriak Lilik berulang ulang dengan dia yang berjalan pelan mencari tangga akses menuju lantai ke 2.
("Malam itu rasanya sudah seperti berjalan didalam rumah hantu mas, bau rumahnya pengap ditambah sesekali terdengar suara langkah kaki,
suara ketawa hingga suara orang batuk" ).Terang narasumber
Namun naasnya, belum lama lilik berjalan dan menemukan tangganya, Malam itu dengan mata kepalanya sendiri, Lilik melihat ada perempuan yang lewat didepannya dengan wajah yang rata.
Perempuan tersebut, selain memiliki rambut panjang, dia juga terlihat mengenakan baju kusam yang panjang hingga kelututnya.
Melihat hal itu, Lilik pun seketika menangis, dia jongkok dengan rasa takut yang semakin lama sudah semakin berat.
"Ya allah, apa itu tadi...."rintih Lilik dengan terus mengusap air matanya.
Karena dia kembali mengingat keadaan suaminya, akhirnya, diapun kembali berjalan meneruskan langkahnya ketika sosok perempuan tersebut sudah dia anggap tidak ada.
Tapi sayangnya, baru saja Lilik berdiri dan berjalan beberapa langkah saja, Tiba-tiba Lilik ditubruk oleh anak kecil yang terlihat sedang berlari lari didalam rumah.
Anak kecil tersebut, sama sekali tidak berbusana dengan kepalanya yang sangat besar melebihi ukuran kepala manusia pada umumya.
"Hihihihihihi" tawa anak kecil tersebut dan dia yang berlari begitu saja.
Disitu, dengan sesekali Lilik memejamkan mata dan menunduk, dia pun terus mencari tangga rumah tersebut.
Hingga akhirnya, setelah beberapa lama berputar-putar, akhirnya Lilik berhasil menemukan Tangga rumah mbah Karso tersebut.
Setelah melihat tangga keatas, tanpa lama-lama
lagi Lilikpun berjalan keatas dengan sesekali melirik kesana kemari dengan mengarahkan cahaya senternya.
Dan disitulah, ketika Lilik masih berjalan keatas, pandangan Lilik teralihkan dengan adanya sosok kakek tua yang terlihat duduk memperhatikannya.
Dan tidak hanya kakek tua,
di sudut lain, Lilik juga melihat ada beberapa laki laki paruh baya yang juga terlihat berdiri menatapnya.
Dengan menguatkan semuanya, Lilikpun terus berjalan keatas dengan mulutnya yang tidak berhenti berdoa sebisanya.
Dan Puncaknya, sesampainya Lilik dilantai dua, perasaan Lilik sedikit lega karena saat itu, Lilik melihat salah satu kamar yang ada dilantai dua tersebut terlihat menyala lampunya.
Tanpa lama-lama lagi, akhirnya Lilikpun bergegas kekamar tersebut dengan terus memanggil manggil
nama mbok Temi.
"Mbok...mbok Temi " teriak Lilik.
Tapi sayangnya, ketika lilik sampai dipintu kamarnya dan membukanya, perasaan Lilik seketika terkejut, matanya terpana dengan mulutnya yang menganga seolah dia tidak percaya dengan apa yang ada didepannya.
Bagaimana tidak, waktu itu tepat didepan matanya, dia melihat ada 3 pocong yang terlihat berbaring diatas ranjang kamar tersebut.
Dan tidak hanya itu, selain 3 pocong tersebut, Lilik juga melihat ada sosok kakek tua yang terlihat duduk dan bergoyang di Kursi Goyang
yang ada dikamar tersebut.
Disitu, karena rasa takut Lilik rasanya sudah sampai pada puncaknya, diapun seketika menjerit ketakutan dengan tubuhnya yang sudah bergetar tidak karuan.
"Aaaaaaaaaaaaa"
Tapi sayangnya, belum selesai Lilik menjerit, tiba-tiba tepat dibelakangg Lilik,
ada sosok besar berbulu yang terlihat sedang menjilati rambut Lilik, dan tidak hanya menjilat, Sosok tersebut juga mengeram tepat disamping telinga Lilik.
Merasakan semua itu, tubuh Lilik rasanya sudah sampai pada batasnya, nafasnya sesak dengan jantungnya yang sudah berdetak dengan sangat kencang.
Hingga akhirnya, Tuhanpun berkehendak Lain, beberapa saat setelah itu,
Lilik tiba-tiba mendengar suara keramaian orang yang terdengar mendekat.
Dan tidak hanya itu, Lilik Juga mendengar suara pak Ganjar yang terdengar memanggil-manggil namanya.
Dan puncaknya, karena pandangan Lilik yang sudah semakin Kabur,
akhirnya lilikpun jatuh pingsan dengan senter yang masih ada ditangannya.
Dan disitu, ternyata benar, pak Ganjarlah yang datang waktu itu bersama para warga dan beberapa pemerintah desa.
Dan tidak hanya itu, mbok Temipun juga terlihat bersama pak Ganjar dengan tangan mbok Temi
yang sudah membawa wadah air lengkap dengan beberapa bunga melatinya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, akhirnya Lilikpun dibawa keluar dari rumah mbah Karso yang saat itu, Waktu sudah menujukan pukul 11.00 Siang.
Setelah berhasil keluar,
Lilikpun dibawa kembali kerumahnya dan dirumahnya, Lilik dan Gunawanpun seketika ditangani oleh mbok Temi.
Singkat cerita, setelah melakukan proses penyembuhan yang cukup panjang, Lilik dan Gunawanpun akhirnya bisa sembuh seperti sedia kala.
Selain sembuh, dia juga membawa sebuah pengalaman yang sepertinya tidak akan pernah bisa dia lupakan selama hidupnya.
Kini, karena rumah mbah Karso yang sering memakan korban, Akhirnya, Rumah tersebut benar-benar dibongkar dan diratakan dengan tanah.
Bahkan saat proses pembongkaran, pemerintah desa Sekarwangi meminta bantuan kepada seluruh tokoh agama dan dukun yang ada dikecamatan tersebut, mereka berbondong bondong berusaha agar proses pembongkaran rumah tersebut berjalan lancar.
Meski beberapa kali alat berat yang digunakan membongkar rumah mbah Karso tersebut rusak dengan sendirinya, pada akhirnya atas kerja keras semua warga, rumah mbah Karso berhasil diratakan.
Dan tidak hanya diratakan, setelah rata, tanah tersebut di hibah kan ke pihak desa yang hingga cerita ini ditulis, Tanah tersebut ternyata masih dibiarkan kosong begitu saja..
......
"Pak Ganjar, kok bisa menemukan aku didalam rumah mbah Karso ? " Tanya Lilik yang saat itu sudah menganggap pak Ganjar sebagai saudaranya.
"Setelah malam itu aku bertemu denganmu, sesampainya dirumah, almarhum temanku, Sapto, datang kemimpiku. Dia memberi tanda jika akan ada korban dirumah mbah Karso. Karena fikiranku tidak enak, akhirnya keesokan harinya aku langsung menuju rumahmu untuk memastikan keberadaanmu.
Dan benar, saat itu kata saudaramu, kamu sudah keluar sejak kemarin malam dan belum balik hingga pagi harinya, Disitu, aku langsung meminta bantuan pemerintah desa dan semua warga untuk beramai ramai mendatangi rumah mbah Karso. Dan akhirnya, setelah aku lama membujuk semua
warga dan pemerintah desa, akhirnya semuanya mau membantuku mencarimu dirumah mbah Karso" ucap Pak Ganjar.
"Mbok Temi ?. Dimana bapak bertemu mbok Temi " imbuh Lilik.
"Aku bertemu mbok Temi pagi itu tiba-tiba sudah berada didepan area rumah mbah Karso, beliau duduk diam sambil
menatapi rumah mbah Karso dan saat itu, sebenarnya untuk pertama kalinya aku bertemu mbok Temi setelah sekian lama tidak bertemu" terang Pak Ganjar.
Mendengar semua itu, Lilik dan Gunawan pun akhirnya terdiam dengan masih tidak percaya dengan apa
yang sudah mereka alami sebelumnya.
....
Kini, cerita tentang ditemukannya Lilik dan kerasukannya Gunawan, seolah menjadi cerita Lokal yang ada di desa Sekarwangi.
Angkernya Rumah mbah Karso, memang bukan sebuah isapan jempol belaka dan semua itu dibenarkan oleh semua warga
yang ada didesa sekarwangi maupun sekitarnya.
Mungkin, cerita ini hanya secuil kisah tentang angkernya rumah mbah Karso.
Asal kalian tau, dulu, dalam kurun waktu sekitar 15 tahun lamanya rumah tersebut dibiarkan kosong, tidak sedikit warga yang mengaku dihantui,
masuk dunia lain, mendapat gangguan jiwa hingga meninggal dunia.
Tapi syukurnya, kini semuanya sudah berakhir dan biarlah cerita tersebut menjadi cerita warga yang bisa diceritakan hingga ke anak dan cucu-cucunya.
(Semua nama, tempat dan waktu dalam cerita ini disamarkan, mohon maaf bila ada kesamaan)
( Dilarang keras copas, story telling, re- Upload semua cerita lakon story di Youtube, website, blog, aplikasi podcast atau dimanapun tanpa ijin dari lakon story.
semua peraturan tentang re-Upload, sudah tersedia di fanpage lakon story atau hubungi Admin via WA jika hendak melakukan reupload 088806262516, silahkan dibaca rulesnya terlebih dahulu jika ingin re-Upload. Jika kami menemukan cerita lakon story di re-Upload tanpa ijin,
kami akan langsung menindak dengan sangat tegas).
Terimakasih teman-teman, semoga cerita ini menemani hari-hari kalian.
Sampai jumpa dicerita-cerita kami selanjutnya.
Selesai...

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Lakon Story

Lakon Story Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @Lakonstory

Jun 7
Dari sekian cerita yang kami dapatkan tentang alas roban akhir2 ini, cerita ini yang menurut kami paling epic
Bahkan tidak hanya 1 orang, secara kebetulan ada beberapa orang yang membagikan cerita yang sama kepada kami Image
Ya sesuai posternya, memang banyak yang mengaku telah masuk kesana tapi nyatanya, hanya sedikit yang bisa keluar dengan selamat.
Full story tamat, sudah tersedia dan bisa kalian baca di app @karyakarsa_id

Link baca 👇👇

karyakarsa.com/LakonStory/ful…
Read 5 tweets
Jun 1
PETRUS
(Penembak Misterius Orde Baru)

Thread

#ceritaserem Image
Jika kalian hidup di tahun 80an, mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan Petrus.

Benar sekali, Petrus atau yang dikenal dengan penembak misterius, waktu itu memang menjadi cerita tersendiri bagi masyarakat yang tinggal di indonesia.
Penembakan misterius atau disingkat dengan Petrus, adalah operasi rahasia pada masa Pemerintahan Soeharto pada tahun 80an yang tujuannya, adalah untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang saat itu cukup tinggi.
Read 17 tweets
May 31
1 april 1992.
21.00 WIB.
..
(Kring ...... ). Bell Pulang Kerja berbunyi menandakan, jika waktu itu jam dinding sudah menunjukan pukul 21.00 malam.
Tapi sayangnya, Bukannya diperbolehkan pulang, oleh pak Broto, semua Karyawan malam itu sengaja dikumpulkan.
...
"Sekarang, semua karyawan wajib tinggal di mess pabrik ini yang sudah saya sediakan di bagian belakang pabrik. Tidak ada lagi yang boleh pulang dan tidak ada lagi yang boleh keluar. Waktu pulang hanya saat lebaran dan libur saja. Selain itu semua karyawan wajib menginap.
Read 105 tweets
May 10
Praktek Malam Dokter Wayan

Full Story Tamat
A Thread

@bacahorror @BacahorrorCom @bacahorror_id
#bacahorror #ceritaserem #ceritaseram Image
Benar sekali, jika mengingat nama dokter wayan, mungkin tidak hanya aku, semua wargapun juga tau jika dokter wayan adalah dokter yang pernah menghebohkan seluruh warga desaku.

Kenapa semua itu bisa terjadi ?.
Sebelum kita menganalisa apa yang sebenarnya terjadi, lebih baik kalian membaca cerita ini terlebih dahulu.

Bahkan, menurut keterangan yang beredar, keluarga Saji ini bukanlah keluarga satu satunya yang mengalami hal seperti ini.
Read 100 tweets
Mar 31
Dalang Lelembut

Cerita paling tidak masuk akal yang pernah kami selesaikan.

A THREAD.

@bacahorror

( Berhentilah membaca cerita ini jika kalian merasakan sesuatu 🙏)

Bismillah..

"Jangan sekali kali menceritakan cerita tentang dalang Kusno, Pamali" Image
"Jika Dalang Kusno memainkan wayangnya, disitu pasti banyak makhluk halus yang ikut menonton pertunjukannya"

"Kata siapa dalang Kusno yang memainkan Wayang. Bukan, yang jadi dalang itu bukan dalang Kusno, tapi lelembut"
"Apa kamu pernah mendengar suara penonton berbicara ketika dalang kusno sedang memulai pertunjukan ?"

"Jangan sekali-kali kamu pulang terlebih dahulu ketika pertunjukan dalang Kusno masih berlangsung"

"Dalang Kusno orang baik, beliau adalah sesepuh desa talok"
Read 91 tweets
Mar 16
Bismillah
Jika mengenang kembali pengalaman waktu itu, tentu saja perasaanku akan seketika kembali bergetar ketakutan karena asal kalian tau.
Bisa selamat saja rasanya aku sudah sangat bersyukur.
Dan tidak sekedar selamat, dengan adanya cerita ini, aku akhirnya mendapatkan sebuah pengalaman yang sepertinya tidak akan pernah bisa aku lupakan.
Masih sangat teringat jelas dikepalaku, semua cerita itu terjadi ketika aku bekerja disalah satu rumah makan yang ada di surabaya.
Read 104 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(