Awuh Profile picture
*Based on true story* Setiap orang memiliki rahasianya masing-masing, begitu juga denganku

Aug 20, 2020, 25 tweets

Dari kecil hingga kini aku beranjak SMA, aku merasakan tubuhku yang sering kali terasa lemah,kepala bagian tengkuk terasa berat. Kadang aku tidak bisa mengendalikan kelebihan ku hingga aku jatuh pingsan. Sering kali aku izin sekolah karena tubuhku yang kelelahan.
Dalam keseharian

bersekolah aku sulit berkosentrasi, sulit fokus akan sesuatu. Terkadang bicaraku ngelantur, dan aku mungkin saja sering bicara yang aneh, aku tidak tahu apakah teman-teman ataupun keluargaku menyadarinya. Yang jelas pastinya beberapa hari ini ibuku mulai menyadari keanehan dalam

diriku.Mungkin awalnya saat aku kecil dia mengira aku sedang berimajinasi karena sesekali terlihat sedang mengobrol sendiri.Tapi kali ini aku beranjak semakin dewasa, tidak sewajarnya seperti itu,ibu pun mendekati ku dan bertanya,
"kamu ngomong sama sapa?Dari tadi ibu perhatikan

kamu seperti sedang mengobrol bercanda gitu dengan seseorang, tapi kok tidak ada siapa-siapa cuma ada kamu di sini?" ibu menatapku dengan wajah cemas dan melanjutkan bertanya,
"kata tetangga kamu juga sering terlihat bicara sendirian di bawah pohon ketapang itu."
Aku yang sedang

duduk di teras rumah mencoba tersenyum menatap wajah ibu dan berkata,"aku tidak apa-apa bu, aku hanya sedang menyanyi sendiri saja."
Aku tahu ibu tidak puas dengan jawabanku,masih terukir raut cemas di wajahnya,dan di matanya masih tersirat ribuan tanya. Dengan sigap aku merubah

topik pembicaraan,aku mulai mengajak mengobrol hal-hal yang menyenangkan sambil sesekali kepalaku bersandar di bahu ibu, dan sesekali aku memeluknya dengan tawa.Aku berharap ibu tidak terlalu cemas dan tidak perlu memikirkannya.Entah mengapa aku belum bisa berkata yang sebenarnya

terjadi. Bibir ini terasa enggan untuk bicara jujur.
--
Sore ini aku bersiap mengendarai sepeda motorku. Aku berencana akan pergi ke rumah teman untuk menyelesaikan beberapa tugas sekolah yang telah di berikan. Walaupun baru beberapa hari saja aku bersekolah, tugas sudah semakin

menumpuk. Ku laju kendaraan ku sedikit cepat, melewati lapangan basket dan tenis perumahan, tidak lama akan melewati taman perumahan,aku melihat di sisi jalan seorang anak laki-laki sedang duduk menangis tersedu. Seketika ku hentikan laju kendaraan. Aku merasa iba dan penasaran,

Ku mulai turun dari sepeda motor dan berjalan kaki mendekati dia. Belum sempat aku menyapanya, dia mengangkat kepala dan menoleh kearah ku. Aku sedikit terkejut, ku tatap mata nya yg hitam pekat dan ku rasakan hawa dingin dari dirinya. Aku pun langsung menyadari bahwa dia bukan

anak manusia. Aku menghela nafas panjang, seharusnya aku sudah terbiasa dengan hal ini bukan?
Aku pun bertanya padanya,"kenapa kamu menangis?"
Anak kecil bermata hitam pekat itu kemudian berdiri dan berkata,
" Aku baru saja diusir oleh majikan ku, karena diri ku telah di gantikan

dengan yang lebih tinggi tingkatnya, aku tidak berguna lagi sekarang."
Aku mulai jongkok menatap matanya dan bertanya," hai, apa yang biasa kamu lakukan dengan majikan mu? Apa aku boleh tau?"
Dia menjawab polos,
" Aku membantu majikan ku untuk mengumpulkan uang dari setiap rumah

manusia yang kemudian ku serahkan kepadanya."
Jujur aku sempat terkejut mendengarnya, ternyata hal semacam ini memang ada di dunia nyata.
Aku mencoba untuk menenangkan dia dengan berkata," malah bagus kan sekarang kamu bebas, tidak lagi terikat oleh siapapun, bahkan kamu sudah

tidak perlu capek mengambil sesuatu yang seharusnya tidak kamu ambil, itu bukan perbuatan yang baik. Allah tidak menyukai hal itukan?"
Dia kembali terisak menangis,
"Tetapi aku makhluk yang tidak dapat hidup sendiri, memang beginilah aku harus hidup menumpang dengan manusia, aku

harus memiliki majikan."
Dia kembali menangis menjerit layaknya anak kecil pada umumnya. Aku bingung tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan aku katakan. Aku bersikap untuk cuek, berdiri membalikkan badan seolah berpura tidak mendengarnya,kemudian aku melangkah menjauh perlahan

Tiba-tiba aku merasakan kasihan yang teramat dalam. Aku kembali menoleh ke arah anak bermata hitam itu. Bukan sifat ku apabila tidak memperdulikan dia walaupun dia bukan manusia. Terasa tangan memegang pundak ku sebelah kanan, tercium aroma wangi yang khas. Ku menoleh wanita ungu

yang tersenyum manis padaku.
Anak bermata hitam pekat kemudian berkata sambil menangis," Izinkan aku mengikuti kamu kemanapun kamu pergi, jangan biarkan aku sendiri."
Aku terdiam sejenak.Tak jauh di belakang si anak terlihat wanita merah berdiri mematung memandang ku penuh harap.

Kemudian wanita ungu berbisik lirih di telingaku,
"Jadilah dirimu sendiri, keputusan sepenuhnya ada di kamu."
Aku membalikkan badanku kembali menuju kendaraan. Aku memakai helm ku kembali. Aku duduk di sepeda motor kemudian berkata,
"Kamu boleh mengikuti ku,tapi jangan mengganggu

jangan pernah meminta apapun dariku,aku pun begitu padamu.Kita memiliki dunia dan urusan masing-masing.Ini hanya sementara cepatlah kamu menemukan yang lebih baik dariku dan pergi menjauh dariku."
Aku menoleh kembali ke anak bermata hitam pekat, ku lihat tangisan berubah menjadi

tawa senang di wajahnya. Aku lega dan ku lihat wanita ungu dan wanita merah tersenyum manis seolah berkata,
"Terima kasih".
Aku pun membalas senyum mereka. Kini ada 3 makhluk yang mengikuti ku. Aku sangat berharap tidak ada lagi yang akan mengikuti.
---

Ku ucapkan salam setiap

kali memasuki ruang kelas. Ibu ku selalu mengajarkan ku untuk mengucapkan salam setiap memasuki ruangan kapanpun dan di manapun. Dan hal itu sudah menjadi kebiasaan dalam keseharian ku. Seorang kakek tua berjenggot putih berbadan tegap selalu menjawab salam ku dengan tersenyum.

Kakek itu selalu berdiri di depan pintu masuk kelas, memakai baju adat Jawa berwarna hitam polos. Kakek sangat ramah, kadang dia sekedar menyapaku ,"semangat nduk" atau "jangan menyerah nduk,kamu bisa" atau sekedar bertanya "hari yang sangat melelahkan ya?"
Aku merasa ada ikatan

antara aku dan kakek ini. Kadang aku juga melihat kakek ini menjalankan ibadah sholat di masjid sekolah. Saat itu suasana sangat sepi, aku baru selesai menjalankan sholat, bersiap kembali ke kelas, duduk di teras masjid sambil memakai sepatu, tak lama tercium aroma wangi kenanga

dan aroma dupa. Telah duduk di samping ku, dia kakek berjenggot putih sambil memegang tongkat. Dia menyapaku," Aku sangat menyukai kepribadianmu nduk, aku tahu kamu bukan manusia sembarangan."
Aku menatapnya tersenyum kecil. Dia berkata lagi,"dengar nduk,terdapat tanda di tulang

rusukmu sebelah kiri. Dan hal itu hanya bisa dilihat oleh makhluk seperti kami, dan manusia yang hampir sama denganmu. Tanda itu mengundang makhluk untuk berniat buruk memakai ragamu. Aku tidak ingin hal buruk menimpamu, izinkan aku mengikuti mu, dan menjaga mu."

-selesai-

Share this Scrolly Tale with your friends.

A Scrolly Tale is a new way to read Twitter threads with a more visually immersive experience.
Discover more beautiful Scrolly Tales like this.

Keep scrolling