My Authors
Read all threads
Kesalahan part II : Alas Kidul Kali.

Mereka memberi pelajaran agar kita tetap menjaga sikap, dimanapun kita berada.

@bacahorror #bacahorror
Malam bergulir, purnama telah membulat sempurna di langit gelap. Kicauan burung hantu berdendang dalam kesunyian.

Disaat semua orang terlelap dalam tidurnya, sekumpulan remaja tanggung masih setia bercengkrama di teras sebuah rumah.
Petikan gitar terdengar, para remaja menyanyikan sebuah lagu pop Indonesia akhir tahun 90-an.

“Prei an saiki, dewek arep dolan neng ndi?” (Liburan kali ini, kita mau main kemana?) Tanya salah satu pemuda setelah lagu berakhir.

“Pantai ae yok.” Sahut pemuda disebelahnya.
Si penanya menggeleng, “Ora ah, wingi-wingi dewe kan wes neng pantai.“ (Enggak deh. Belum lama ini kita kan udah ke pantai).

“Munggah gunung ae yok?” (Naik gunung aja yuk?) Saran dari salah satu orang yang sedari tadi memetik gitar.
“Musem preian koyok ngene ki gunung pasti ramene cok, koyok pantura pas arus mudik.” (Musim liburan kayak gini mah gunung ramai, cuy. Macam Pantura kalo pas arus mudik).

“Piwe nek ngecamp neng alas kidul kali wae?” (Gimana kalo ngecamp di alas kidul kali?) Seseorang yang-
berada di pojokkan menyuarakan pendapatnya.

“Lagian iku gunung wes seko mbien tah dewek arep manjat?” (Lagian udah dari dulu itu gunung mau kita daki?) Lanjutnya.

Serangkaian kalimat yang terucap dari bibir pemuda tersebut, sukses dihadiahi tatapan dari kawan-kawannya.
Bukan apa-apa, hanya saja ajakkannya yang tidak pernah terbayangkan oleh keempat orang lainnya.

“Kenapa?” Tanya pemuda itu kebingungan.

“Tenan cok, arep ngecamp neng kono po?” (Yakin nge camp disana?).

Pemuda itu mengangguk cepat.
Ia sangat yakin dengan ucapannya. Tak ada yang salah, toh kita hanya ingin refreshing, batinnya.

“Ayok, aku melu wae.” (Ayo, aku ngikut aja.) Ucap si pemain gitar.

“Yo, aku sih oke juga.” Kali ini pemuda berbaju biru yang sedari tadi diam, kini ikut menyutujuinya.
“Aku nge jak sing liyane yo, ben rame.” (Gue ajak yang lain ya, biar rame.) Sarannya kembali.

Semua orang yang berada di teras sepakat, jika liburan tahun ini, mereka akan ngecamp di salah satu pegunungan.

“Iyo ben rame sisan. Wes jarang dewek preian bareng ngene ki.”-
(Iya, biar rame juga. Udah jarang kita liburan bareng.)

“Oke, dadine arep mangkat kapan?” (Okelah, jadi mau berangkat kapan nih?).

“Dino jemuah wae, dewek mangkate esuk. Mengko ngasone neng gone dulurku.” (Hari jumat aja, kita berangkanya pagi. Nanti istirahatnya-
istirahatnya dirumah sodara gue) Ucap si pemuda yang duduk dipojokkan, kemudian disetujui oleh teman-teman yang lain.

Malam itu mereka sepakat untuk mengisi liburan dengan mendaki sebuah gunung.

Dari sana cerita itu dimulai.

*****
Hari masih pagi, namun sudah ada yang mengetuk pintu kamar. Dengan sempoyongan, Rofik membuka pintu dan ia dapati salah seorang temannya yang bernama Zaki.

“Asu, esih shubuh iki cuk!” (Anjir, masih subuh, cuk.) Umpat pemilik kamar sembari mengucek mata.
“Ndasmu, wes awan cuk.” (Palalo, udah siang nih).

Pemuda berpakaian piyama itu berbalik, membuka korden jendela kamar, mentari telah menjunjung tinggi. Matanya menyipit sebab terkena silau matahari.

“Barang-barange wes ditoto?” (Barang-barangnya udah dikemas?)
Rofik mengangguk malas, tangannya menunjuk tas gunung yang berada disebelah meja belajar.

“Mengko dewek cah limo opo ono meneh sing arep melu?” (Nanti kita berlima doang, apa ada lagi yang mau ikut?) Tanya sang tamu. Ia pulang cepat pada malam itu, sehingga-
tidak tahu siapa saja yang ikut camping.

“Ra ruh aku tah. Tapi koyone si Apun nge jak si Edo. Soale kan de’e sing duwe tenda loro toh, ben lewih murah ketimbang nyewa. Nah nek Jaffar paling nge jak dulure sing biasa dolan rene, sing omahe neng kabupaten sebelah-
si Anjas iku loh. Ben rame sisan.”

(Gatau dah, tapi kayaknya si Apun ngajak Edo. Soalnya doi kan punya tenda dua, biar murah daripada nyewa. Jaffar paling ngajak saudaranya yang sering main sama kita-kita itu, yang rumahnya di kabupaten sebelah, si Anjas. Biar rame sekalian).
Lawan bicara Rofik mengangguk. Mungkin ia setuju, lebih banyak teman yang ikut, pasti lebih menyenangkan.

*Tok tok*

Pintu kamar Rofik kembali terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang merupakan tetangga rumahnya. Ia datang dengan satu orang laki-laki lain yang berbadan besar-
dengan tas keril di punggungnya. Rofik juga mengenali pemuda tersebut.

“Mamaku neng ndi tah? Iso-isone koe melbu omahku seenak udel ngono.” (Emak gue kemana dah? Kok kalian pada seenak udel masuk rumah gue?) Omelnya bingung.
“Makmu agi ghibah kambi mak ku neng umahku.” (Emak lo lagi ghibah noh sama umi di rumah gue.) Jawab Tama cuek. Ia menaruh tas punggungnya di lantai dan berbaring di kasur busa.

“Bocahan yo sek podo mlaku ngeneh.” (Bocah lagi pada otw kesini.) Lanjutnya.
“Koe melu sisan tah, Ram?” (Lo ikut juga, Ram?) Tanya Rofik pada pria yang berdiri di sebelah Tama.

Pemuda berbobot lebih dari satu kwintal itu mengangguk, “Nek si Tama wes mekso, aku mesti piwe?” (Kalo si Tama udah maksa, gue mesti gimana?) Jawabnya.
Semua pemuda di ruangan itu tertawa. Memang sudah menjadi rahasia umum jika Tama suka memaksa Rama untuk ikut dalam setiap perjalanannya. Mereka memang macam sendal jepit, dimana ada Tama, disana juga pasti ada Rama.

***
Matahari semakin meninggi dan tujuh orang telah berkumpul di halaman rumah Rofik. Mereka diantaranya adalah Rofik, Zaki, Rama, Tama, Jafar, Edo dan Apun.

Mobil keluaran awal abad millenial terparkir gagah. Mereka sangat siap liburan kali ini.
Rofik dan kawan-kawan berencana untuk berlibur dua hari satu malam di alas. Dengan persiapan yang matang dan logistik yang mencukupi, berangkatlah para remaja menuju tujuan.

Suasana perdesaan dan asrinya alam menyambut kedatangan mereka. Hawa sejuk sudah mulai terasa-
padahal baru sampai di kaki bukit.

Semakin jauh, pemukiman penduduk kian jarang, hanya perkebunan teh yang diselingi oleh ladang-ladang, serta alas hutan di kanan dan kiri jalan.

Rofik yang duduk dibangku tengah samar-samar mendengar percakapan dari belakang.
Sudut bola matanya melirik, Tama dan Rama sedang membahas sesuatu.

Sebab penasaran yang besar, Rofik menoleh. Karena merasa terusik, sepasang sepupu tersebut membisu.

“Napa!?” Tanya Rama.

“Koe pada ngomongke opo?” (Kalian ngomongin apa?) Potong Rofik dengan sebuah pertanyaan.
Keduanya menggeleng cepat, “Gak popo kok.”

Ada raut menahan pada wajah mereka yang Rofik sendiri tidak paham. Seperti baru saja melihat sesuatu.

Karena tidak menemukan jawaban, Rofik kembali pada posisinya. Ia tidak tenang, pikirannya melayang-
sebab percakapan dua orang sepupu tersebut.

Rofik menghela nafas, “Nek Rama karo Tama wes koyo ngono, mesti ono masalah.” (Kalo mereka udah kayak gitu, pasti ada masalah.) Lirihnya dalam hati.

*****
Mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah gang kecil. Jangankan beraspal hotmik, berbatu saja pun tidak terealisasi.

Setelah beberapa lama menyusuri jalanan tanah, akhirnya tujuh orang pemuda tiba di rumah Anjas. Hanya ada beberapa rumah warga disana. Selebihnya-
masih banyak pohon dan beberapa ladang di tepi jalan.

Rofik and the geng menitipkan mobil di rumah orang tua Anjas. Setelah menunaikan solat jumat dan mengecek segala perbekalan, sekumpulan pemuda itupun berdoa bersama dan dimulailah sebuah-
perjalanan yang mungkin tidak mereka lupakan seumur hidup.

Sebelum berangkat, Anjas memberikan sesuatu kepada Tama, “Iki ono HT loro, kowe siji neng mburi, siji meh kanggo sing neng ngarep.” (Ini ada HT dua, satu buat yang di belakang dan satu lagi buat yang ada di depan).
*Gue gak tahu yang dipakai handy talky atau walkie talkie*

Anjas memberikan satu HT kepada Tama, karena Tama merupakan sweeper pada perjalanan kali ini.

“Iki saluranne piro?” (Ini saluran berapa?) Tanya Tama mengotak-atik benda yang kini berada di tangannya.
“Gawe saluran telu ae yo.” (Bikin saluran tiga aja) Jawab Anjas dengan cepat.

Sama halnya dengan perbukitan pada umumnya, ladang-ladang penduduk dapat dijumpai di awal-awal perjalanan. Beberapa warga juga terlihat sedang bernaung di bawah bangunan yang dibuat semi permanen.
*Bruk*

“Asem.”

Zaki tersandung hingga badannya terjatuh ke tanah. Rofik dan Tama kemudian membantunya untuk duduk.

“Sing alon wae tah, Jak.” (Pelan-pelan aja, Jak).
Zaki mengangguk pelan, sorot matanya tertuju pada sesuatu yang membuatnya tersandung. Tapi Nihil. Ia tidak menemukan apa-apa disana, hanya jalanan tanah yang sedikit becek.

Ia tidak habis pikir. Tidak ada semak belukar atau batu-batu yang membuatnya-
tersandung. Tanah saja hanya membentuk bekas alas sepatunya, tidak ada tanda bahwa ia tergelincir yang disebabkan oleh licinnya jalan tersebut.

“Aneh.” Batin Zaki geleng-geleng kepala.

*****
Belum ada pemikiran negatif ataupun kejanggalan-kejanggalan yang Rofik rasakan selama perjalanan. Hingga akhirnya, kabut mulai turun yang membuat jarak pandang semakin terbatas. Padahal ia merasa bahwa waktu itu masih cukup sore, masih waktu ashar.
Rofik yang berjalan di urutan tiga dari belakang, tiba-tiba merasa janggal. Ia memalingkan tubuhnya dan terkejut bahwa jarak diantara dirinya dengan Rama dan Tama terpaut cukup jauh. Mereka berdua memandang arah lain.

“Woy.” Rofik sedikit berteriak.
Sepasang pemuda yang dipanggilnya itu menengok, kemudian mendongakkan kepala, “Opo meneh, Fik?” (Apa lagi, Fik).

“Podo ndeloki opo tah?” (Pada ngeliatin apa dah?) Tanya Rofik.

Rofik mengedarkan pandangan menuju objek yang-
sebelumnya menjadi perhatian kedua pemuda yang entah sejak kapan kini sudah di hadapannya.

Tapi hasilnya percuma. Ia tidak menemukan hal apapun yang janggal.

“Ndak popo. Mau ndelok ono manuk apik. Sesok-sesok nek arep dolan ngeneh meneh, rosone arep tak dimek.”-
(Gapapa, Fik. Biasa ada burung bagus, besok-besok kalo mau main kesini mau aku tangkap burungnya). Jawab keduanya.

Meski tidak sepenuhnya percaya, Rofik mengangguk.

“Oh pantes.” Gumam Rofik. Ia memang tahu jika Rama sangat menyukai burung. Bahkan-
berbagai macam jenis burung, dari yang bersetifikat hingga burung-burungan pun ia punya.

“Yuk lanjut meneh, Fik.” Ajak Tama dengan menarik bahunya.

Kabut semakin membatasi pandangan, bahkan sinar matahari saja tidak cukup mampu untuk menembusnya-
Memang, terkadang di perbukitan ini sering terjadi terjadi fenomena demikian. Namun sepertinya kabut kali ini lumayan tebal.

Mengingat jarak pandang yang lumayan tipis, membuat pohon dan hal-hal lainnya hanya sebatas samar-samar. Berkali-kali mereka-
sudah berhenti untuk menentukan langkah selanjutnya yang akan mereka ambil untuk kedepannya.

“Engkelku loro meneh ki.” (Engkelku sakit lagi nih.) Zaki terduduk diantara pohon besar. Ia memijat persendian di kaki kirinya.
Rofik yang berada tak jauh dari tempat Zaki, dengan cepat ia membantu rekannya dengan mengoleskan cream pereda rasa sakit.

Pemuda jangkung itu memang memiliki riwayat penyakit engkel yang di deritanya sejak beberapa tahun yang lalu-
saat desanya mengikuti turnamen sepak bola antar desa.

“Engkelku ora kambuh.” (Engkelku ga kambuh) Bisik Zaki.

Rofik menoleh cepat, dahinya mengkerut bingung, “Maksude?”

“Aku kesandung, cuk. Mau iku ono sing nyekel sikilku.”
(Aku kesandung. Tadi ada yang megang kakiku). Zaki mencoba memberi penjelasan.

Kerutan di dahi Rofik semakin jelas, sangat kentara ia tidak menanggap maksud dari Zaki.

“Maksudmu piwe tah?” (Maksudnya gimana?)
“Sing aku tibo pertama iku, aku ndak kesandung apa-apa, tenan. Tapi koyok ono sing nyekel sikilku sampe aku tibo ngunu.” (Yang pertama kali aku jatuh, aku tidak kesandung apa-apa, beneran dah. Tapi kayak ada yang megang kakiku gitu).
Tama yang mendengar Zaki berbisik kepada Rofik perihal terjatuhnya Zaki, dengan cepat ia mengambil keputusan.

“Wes-wes ngaso sek.” (Udah istirahat dulu.) Usul Tama bijak.

“Gak iso, Tam. Dewek mesti gawe tenda neng duwur sadurunge mbengi.”
(Gak bisa Tam. Kita mesti bangun tenda di atas sebelum malam). Ucap Apun yang disetujui oleh Jaffar.

“Piwe meneh, cuk? Sikile koncomu iki loro!” (Gimana lagi? Kakinya temenmu ini sakit!) Rofik menimpali.

“Aleman o cuk. Tibo koyok ngunu wae.” (Manja dah. Jatuh begitu doang).
Zaki yang melihat teman-temannya berbeda pendapat, ia segera menengahi.

“Wes-wes. Nek kowe arep mangkat sek yo rapopo. Aku mengko dewek nyusul.” (Udah-udah. Kalo kamu mau naik duluan gapapa. Nanti kami nyusul). Ucap Rama pada akhirnya.

“Ngene wae, bagi dua tim-
Aku, Tama, Rofik karo Zaki istirahat sek. Nah kowe, Jaffar, Anjas karo Edo disitan wae. Komunikasi seko HT wae, bar kabar wae.” (Gini aja, bagi dua tim. Aku, Rofik, Tama dan Zaki istirahat dulu. Nah selebihnya jalan duluan. Komunikasi lewat HT. Bar kabar). Lanjut Rama.
Semua anggota setuju.

“Ojo lali gawe tanda nek ono persimpangan neng ngarep yo.” (Jangan lupa bikin tanda kalo ada persimpangan di depan ya) Tunjuk Tama kepada Anjas.

“Iyo, duluan ya.”

***
Rofik termenung, satu gelas kopi yang sedari tadi dipegangnya, tidak diminum sama sekali. Pandangannya kosong, bibirnya tertarik memikirkan sesuatu.

Tama yang melihat perilaku Rofik, menghampiri tetangganya tersebut.
“Kenapa lagi?” Tanya Tama sembari duduk disebelahnya, merangkul pemuda yang berumuran sebaya dengannya,

“Ndak popo.”

“Pasti masalahe Apun yo?” Tama to the point, hanya soal itulah yang bisa ia tangkap. Rofik tidak merespon, ia hanya diam. Tidak keluar satu patah katapun.
“Wong iku mesti ketok watak asline nek wes manjat gunung. Saiki kan dewek wes paham sifate de’e.” (Orang bakal kelihatan sifat aslinya kalo udah naik gunung. Sekarang udah paham kan sifatnya dia).

Rofik menoleh-
dan mengangguk. Bersamaan dengan itu, ia terkejut dengan sosok tinggi, berbulu dan hitam yang samar-samar terlihat dari tebalnya kabut.

Manusia yang menyerupai kera hanya diam, memandang dari kejauhan, seakan-akan ia tidak dapat lebih dekat.
“Ii iku o opo tah cak?” (Itu apaan dah?) Tanya Rofik terbata-bata. Ia menunjuk pada salah satu sudut hutan, tepat diantara pepohonan besar.

Mata Tama membulat sempurna, ia menyadari bahwa sosok itulah yang mengikutinya sejak dari kaki gunung. Memang-
pada awalnya, ia dan Rama menyadari saat ada yang aneh pada awal perjalanan, namun ia masih menerka-nerka.

“Woi Ram, lanjut saiki yo.” (Ram, lanjut sekarang ya) Perintah Tama kepada sepupunya. Dengan segera, ia membereskan barang-barang dapur yang masih berserakan.
Mengetahui ada yang tidak beres, ada sebuah pertanyaan besar yang hinggap di kepalanya. Tanpa sengaja, sudut mata Rama menyipit pada satu objek.

“Asu. Demit e ngetutno?” (Asu, setannya ngikutin?)

Tanya Rama disela ia membantu Tama yang tengah membongkar tenda.
“Iyo.” Singkat Tama.

“Aku wes ngara seko mau neng ngingsor.” (Aku udah ngerasa sejak tadi dibawah).

Mereka berempat kemudian berjalan secara cepat. Zaki yang tidak mengetahui apa-apa, hanya diam menurut tanpa banyak bertanya. Ia sadar-
ada sesuatu yang tidak beres tapi tidak berani menanyakan wajah-wajah temannya yang kalut, terutama Rama dan Tama.

Lama berjalan, pergelangan kaki Zaki kembali merasa nyeri. Ia ingin meminta teman-temannya untuk rehat sejenak, tapi merasa sungkan.
“Woi, ngasok sek, selonjoran.” (Istirahat dulu, lurusin kaki). Ucap Rama sedikit teriak. Ia yang dari tadi memperhatikan Zaki, merasa bahwa temannya mengalami kesakitan pada kakinya. Terlihat dari cara jalannya yang sedikit berbeda.
“Nek loro meneh, ngomong wae Ja.” (Kalo sakit bilang aja, Ja) Rama mendudukan diri disebelah pemuda yang meringis dan mengurut kakinya. Ia membuka sepatu milik temannya, lalu mengecek pergelangan kaki.

“Bener perkiraanku.” Celoteh Rama pelan.
“Kenopo Ram?” Tanya Zaki, ia mendengar bisikkan Rama
.
“Bener, kowe dudu kesleo iki, ono sing nyekel sikilmu.” (Bener, kamu gak kesleo nih, ada yang megang kakimu) Rama memberi penjelasan.

“Maaf ya.” Lirih Zaki.
“Nggo opo tah?” (Buat apa dah?) Tanya Tama, kini ia ikut berjongkok. Tangannya mengurut pergelangan kaki Zaki.

Zaki mendongak, “Ngarepotke kowe pada.” (Ngerepotin kalian).

“Dewek iku kan konco, cuk. Seneng angel bareng-bareng.”
(Kita itu temen. Susah senang sama-sama) Kali ini Rofik. Ia menepuk-nepuk bahu Zaki untuk memberi semangat.

Semuanya tersenyum. Teringat jika sejak jaman sekolah dasar, hingga kini berkepala dua, mereka selalu sama dalam suka ataupun duka. Masalah antar-
individu adalah hal biasa, namu tak banyak yang bisa menjaga persahabatan hingga puluhan tahun lamanya.

“Tes. Halo.. Halo..” Suara dari seseorang di sebrang sana terdengar, Tama mengambil HT yang berada di saku tasnya.

“Yo, kenapa?” Tanya Tama.
“Kowe wes teko ngendi tah?” (Kalian udah sampai mana?) Tanya seseorang diujung HT.

“Wes lewati pertelon dalan, sing kowe gawe tanda rapia warna ireng.” (Udah lewati pertigaan jalan, yang kamu kasih tanda tali rapia warna hitam).
Walaupun diantara kelompok sahabat tersebut sering terjadi perbedaan pendapat, namun itu bersifat sementara. Selebihnya, mereka saling pengertian satu sama lain. Contohnya, seperti Apun dkk yang memberi tanda berupa petunjuk jalan.
“Wes cedak kui seko pos telu. Tak enteni neng kene yo.” (Udah deket tuh dari pos tiga, kita tunggu disini ya).

“Iyo. Delo meneh arep dalan ki.” (Iya, bentar lagi mau jalan nih). Ucap Tama kemudian menutup HT.
“Mangkat yo, wes dienteni neng pos telu.” (Berangkat yuk, udah ditunggu di pos tiga). Perintah Tama kepada tiga kawannya. Mereka beberes, kemudian melanjutkan perjalanan. Namun mereka tidak tahu, jika mulai saat itu, suasana lebih mencekam.

*****
Jalanan semakin curam, namun sekelompok pemuda tidak juga hilang semangat. Sesekali mereka bercerita tentang apa saja yang akan dilakukan jika mereka telah sampai di tujuan.

Hari semakin gelap, waktu magrib telah tiba. Kabut tak kunjung menipis, malah kini kian menebal.
Suhunya ditaksir dibawah sepuluh derajat celcius, ditambah dengan sepoi angin gunung yang membuat badan semakin menggigil.

Edo bergetar, merasa sudah dalam batasnya. Ia tidak kuat lagi dengan suasana sore itu.
Pun, nek ketemu pos, ngaso sek yo. Buka bivak kambi ngopi enak ki. Sekalian nunggu sing liyanne.” (Pun, kalo ketemu pos, istirahat dulu ya. Buka bivak sama ngopi enak nih. Sekalian nunggu yang lainnya.” Ungkap Edo kepada pemimpin jalan.
Apun mengangguk, “Iyo neng ngarep pos iku koyone.” (Iya didepan ada pos tuh kayaknya). Tunjuknya. Memang di depan, terlihat sebuah pos yang kosong.

“Eh aku yo kepikiran loh, apa gak popo kowe ngomong ngunu ming koncomu? Ra loro ati tah de’e?”
(Eh aku jadi kepikiran, apa gak papa kamu ngomong begitu ke temenmu? Gak sakit hati ya?) Tanya Anjas yang sedari tadi hanya diam.

Apun berhenti, “Gak popo a. Niatku kui apik, ben de’e iku kuat, walau situasine kui gak ngenakin.”
(Gak papa. Niatku juga baik, supaya dia kuat walau situasinya gak ngenakin). Lanjutnya jalan kembali.

Tak sampai semenit mereka sampai. Tidak ada bangunan, hanya tanah landai yang tidak begitu luas. Terdapat dua pohon besar diujung dekat jurang.
Anjas dan Edo mulai membuka ransel masing-masing, mencari sesuatu dan mengambil beberapa snack yang sebelumnya telah dibeli.

“Raono sing gowo kompor tah?” (Gak ada yang bawa kompor tah?) Tanya Jaffar.
“Raono, maukan aku tukeran tas kambi si Tama.” (Gak ada, tadikan aku tukeran tas sama Tama) Jawab Edo.

“Loh berarti dewek gak ono tendo karo kompor tah?” (Berarti kita gak ada tenda dan kompor dong?) Tanya Jaffar heran. Berarti semua kompor berada di rombongan sebelah.
Edo menggeleng. “Setidakne aku mau gowo iki.” (Setidaknya aku tadi bawa ini). Ia menyerahkan beberapa bungkus roti kemasan.

“Far, nyileh korek. Aku arep udud.” (Far, minjem korek aku mau ngerokok). Pinta Apun mendekati Jafar, tangannya sudah terulur.
Jaffar meraba-raba celana training panjangnya, tapi ia tidak menemukan barang tersebut. Ia kembali lagi, kini mengorek kantungnya, namun masih tidak menemukan benda yang diminta oleh Apun. Bahkan ia tak mampu mengingatnya.
“Raono, Pun. Koyoke korek e tibo mau pas neng dalan.” (Gak ada. Kayaknya tadi jatuh pas di jalan) Ungkap Jaffar.

Apun berdecak, “Ck, ono sing gowo korek meneh?” (Apa yang bawa korek lagi?) Kali ini Apun bertanya kepada yang lainnya.
Satu persatu menggeleng, “Palingan si Rofik sing gowo, mau aku nyileh korek meng de’e.” (Palingan si Rofik yang bawa, tadi aku pinjam korek ke dia) Edo menimpali.

“Cubo iku si Tama di hubungi, wes teko ngendi de’e.” Perintah Apun menunjuk Jaffar.
Jaffar mengangguk jengah. Dilihatnya sekeliling, hari mulai gelap. Ia mendudukan diri dibawah sebuah pohon, tasnya diletakkan disebelahnya. Batang pohon yang berdiameter cukup besar, menjadi tempat senderan punggungnya yang mulai pegal.
Mengambil HT yang berada di tas kecilnya, ia menghubungi Tama dkk untuk menanyakan posisi mereka. Setelah mengabari teman-temannya, ia semakin nyaman dengan suasana sore itu. Matanya lelah, staminanya telah berkurang hingga separuhnya.
Angin sepoi-sepoi berhembus, membuat Jaffar memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai menyergap pemuda yang setiap harinya bekerja sebagai mekanik di bengkel milik pamannya. Saat ia mulai hilang kesadaran, terdengar bunyi yang menganggu tidurnya.
*Srek*

Matanya enggan terbuka, ia berfikir bahwa suara itu berasal dari teman-temannya. Jaffar tidak peduli untuk beberapa waktu, namun ia menajamkan pendengaran.
*Srek*

Suara gesekan dedaunan kembali tertangkap, “Koncoku pada neng ngarepku, tapi kenapa swarane seko mburiku?” (Teman-temanku berada di depan, namun kenapa suaranya terdengar dari arah sebaliknya?) Jaffar membatin.
“Hmmmm.”

Jaffar terdiam sesaat.

"Hmmmm."

Matanya terbuka kilat, baru saja terdengar deheman dari seseorang. Suaranya amat berat, berbeda dengan suara milik teman-temannya.
Jaffar memalingkan badan, tepat dibelakang pemuda itu berdiri sosok yang sangat tinggi. Bulunya berwarna hitam lebat dan menutupi seluruh tubuhnya. Ia mendongak, sepasang bola mata dari sosok tersebut melotot tajam kepada dirinya,
Bibir Jaffar melongo, melihat sosok yang berada di hadapan. Tanpa rasa takut, ia balik untuk membeliakan mata. Lama bertatapan, tapi sosok tersebut tidak kunjung jera.

“Asu, kok ra mempan ki.” (Asu, kok gak mempan nih) Umpatnya.
Lama Jaffar berfikir sebabnya, masa iya dia kalah dengan sosok jelek itu, pikirnya.

Lama, sosok itu masih tidak bergeming, akhirnya ia menemukan satu jawaban bahwa teman ghaibnya tidak mampu menolongnya.
“Asu lali aku, dudu daerahku iki cuk.” (Anjir lupa gue, bukan daerah gue ini) Umpatnya kembali dalam hati. “Pantes wae seko mau tak plototi, setane malah mbalik melotot, jancuk.” (Pantes aja dari tadi aku plototin, itu setannya malah balik melotot).
Jaffar perlahan menunduk, ia tidak ingin permasalahannya lebih besar lagi. Nyatanya, ia sudah berperilaku tidak sopan kepada penunggu alas sini. Dan sialnya lagi, genderwo itu malah semakin melototkan matanya pada Jaffar.

**** (Bersambung) ****
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Keep Current with Ilhammmmmmm

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!