, 223 tweets, 27 min read
My Authors
Read all threads
-Sepanjang Jalan Tongkrongan-

Pada siang hari, pemandangannya memang menakjubkan. Tapi semuanya terlihat jelas saat malam mulai menyelimuti.

@bacahorror #bacahorror
Tongkrongan PD merupakan sebuah warung sembako pada umumnya yang dijadikan oleh anak-anak desa sebagai tongkrongan. Selain tempatnya yang nyaman, juga karena berada di pojokkan desa. Jadi kalo berisik, tidak ada yang memarahi.
Aji merupakan salah satu anggota tongkrongan itu. Sebenarnya temannya Aji lumayan banyak, sebagian dari teman-temannya berasal dari desa lain, itu yang membuat ia lebih sering berpindah-pindah tempat tongkrongan. Tidak hanya terpaku pada satu tempat tongkrongan.
Tongkrongan PD (Pojok Desa) ini berbeda dusun dengan rumah Aji, sehingga diantara rumah dan tongkrongan itu terbentang sebuah sawah yang sangat luas.

Petanya. Btw yang diarsir itu persawahan ya.
Sebenarnya, jalan dari pertigaan pemakaman sampai tongkrongan itu ada lebih dari dua belokkan ya, hanya saja gue buat lebih ringkas. Gue hanya buat satu belokkan, karena ditempat itu terkenal angker dan disitu banyak pohon nangka yang rimbun.
Pernah beberapa kali gue diajakin sama Aji buat main ke tongkrongan PD. Di belokan itu juga gue pernah ngerekam video pas nyari mba Dini. Gue sempet up ke twitter kok, tapi gatau udah gue hapus apa belom, huhu.
Rumah Aji berada di dusun A. Sedangkan tongkrongan PD berada di dusun B. Jalan menuju tongkrongan itu ada 3 jalan.

Pertama adalah jalan yang biasa Aji lewati. Jalanan itu berupa jalanan desa yang kecil dan sudah beraspal.
Dari batas dusun A, ada yang namanya turunan. Dimana posisi dusun A berada diatas, sedangkan persawahan berada dibawahnya, sehingga jalanan itu posisinya menurun. Bisa dibilang persawahan itu merupakan sebuah lembah kecil.
Jika rumah kalian berada di daerah persawahan, pasti kalian paham jalanan yang seperti ini.

Kita ambil contoh disebuah daerah yang gue ambil di google maps.
Ini bukan tempat yang sebenarnya ya. Cuma menurut gue, tempat ini cocok untuk menggambarkan lokasinya. Dan ditengah sawah itu ada jalan setapak bekas rel kereta yang membentang dari sisi kanan, melewati jalan dan menuju sisi kiri.
Setelah Aji melewati persawahan, jalan yang dilaluinya akan menanjak untuk memasuki dusun B. Namun sebelum melewati daerah dusun B, kita akan melewati sebuah kali kecil dimana jika ada 2 mobil yang melintas, salah satunya harus mengalah terlebih dahulu.
Setelah itu kita akan menemukan pertigaan. Sebelah kirinya terdapat pemakaman desa. Dari pertigaan itu kita belok ke kiri. Di awalan gang itu akan terlihat sepi, rumah pendudukpun jarang disana.

Bahkan di pertigaan itu tidak ada penerangan jalan sama sekali.
Lampu penerangan yang berada di gang itu entah kenapa selalu pecah. Sudah diganti yang baru, satu minggu kemudian pasti lampu itu akan pecah. Karena seringnya kejadian itu, warga desa tidak memberi lampu penerangan lagi hingga kini.
Sepanjang gang itu kita hanya menemukan beberapa rumah warga, mungkin hanya puluhan rumah. Termasuk tongkrongan PD. Masih banyak pohon besar nan rindang di sepanjang gang tersebut.

Belum lagi, kebun-kebun warga yang luas tapi menyeramkan saat malam tiba.
Dan setelah berada diujung dusun, terdapat sebuah warung yang biasa anak muda tongkrongi.

Jarak yang ditempuh Aji lumayan cepat jika lewat jalan ini. Hanya sekitar 1-2 menit jika naik motor. Sedangkan jika berjalan kaki itu sekitar 5-10 menit saja.
Jalan kedua menuju tongkrongan adalah melewati jalan setapak bekas rel jaman Belanda. Hanya saja jalan yang dilaluinya itu masih tanah dan berada di tengah-tengah persawahan dan juga tak ada penerangan sama sekali dijalan itu.
Jarak tempuh di jalan kedua ini pun sama singkatnya dengan jalan pertama. Hanya saja motor akan kesusahan saat melewati jembatan kayu kecil sebelum batas dusun B.

Jalan kedua ini lebih sering Aji lewati ketika berjalan kaki.
Aslinya ada jalur satu lagi, dimana dari dusun A itu ada jalanan desa menuju dusun C. Jalanannya ramai, banyak rumah penduduk, tapi muternya kejauhan. Naik motor aja bisa 10 menitan baru sampai.

-Bersambung-
Tadi diatas hanya sebuah prolog untuk menceritakan keadaan jalanan menuju tongkrongan.

-The story will begin-
Seorang pemuda yang berusia hampir berkepala dua itu duduk di kursi sebuah warung dekat rumahnya. Diantara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok yang menyala.
Laki-laki itu mengisap rokok pabrikan khas kota Kediri. Kini kepulan asap yang berasal dari bibirnya menyeruak ke udara.

*Trit… Trit..”

Sebuah panggilan masuk tampak dilayar ponselnya, dengan cepat pemuda itu mengusap layar ke atas, tanda mengangkat telepon.
“Halo.”

“Yo, ke tongkrongan pojok desa (Persingkat: PD) gak?” Tanya seseorang di ujung telpon.

Pemuda itu terlihat menimang-nimang, menjauhkan benda yang ada digenggaman tangan dan melihat jam yang berada dalam ponselnya. Masih jam 9 malam, pikirnya.
“Oke deh, gue kesana.” Ucapnya yakin.

“Oke, gue tunggu Ji.”

Cowok bernama lengkap Saptaji, atau yang akrab dipanggil Aji itu kemudian menutup panggilan.
Aji mengendarai motornya menuju tongkrongan PD melalui jalan 1. Jalanan turunan dari dusun A masih terdapat penerangan, walaupun tidak seterang lampu jalanan di kota.

Persawahan juga gelap gulita, hanya lampu dari motornya saja yang menjadi penerangan.
Saat ingin memasuki dusun B, Aji menghentikan motornya, karena dari arah berlawanan ada sebuah mobil yang ingin melintas. Aji menepikan motornya disudut jembatan kecil itu.

Sembari menunggu mobil itu melintas, Aji mengedarkan pandangan ke persawahan.
“Srek.”

Sebuah bunyi seperti daun bergesek dari arah sebelah kiri membuatnya menolehkan kepala. Terdapat pohon randu dan jambu mete yang sangan besar yang dikelilingi oleh pohon-pohon pisang di tepi kali.
Sepasang bola matanya melihat sesuatu yang merenggut kesadarannya. Objek itu seperti kain putih yang tergantung di pohon Randu. Sesuatu berwarna putih itu terlihat jelas diantara pekatnya malam tanpa penerangan.
Pikiran jernihnya kini mulai terkontaminasi oleh hal-hal yang berbau horor. Wajahnya semakin mendekati objek tersebut. Bahkan bola matanya tidak ada waktu untuk berkedip sedetikpun. Apakah itu sesosok pocong yang selama ini menakut-nakuti warga?
Diantara kebimbangan apa yang dilihatnya mengenai objek tersebut, perlahan ia sadar dari kebingungannya. Aji menoleh ke belakang, ternyata mobil yang tadi melewatinya sudah pergi menjauh, bahkan telah sampai di turunan dusun A.
Tanpa melihat lagi ke arah pohon randu itu, dengan sigap ia menarik gas motor secara kasar kemudian menjalankan motor dengan kecepatan tinggi menuju tongkrongan.

“Anjir, apa itu tadi?” Batinnya.
Tak lama, Aji sampai di tongkrongan PD. Sialnya, nafas Aji terdengar memburu, hal ini terlihat dari salah satu temannya yang mempertanyakannya.

“Lo kenapa, Ji?”
Aji hanya diam, menuangkan segelas air putih dari teko yang berada di meja tongkrongan. Air rebusan itu mengalir deras ke tenggorokannya. Jakunnya naik turun.

“Lang.” Ucap Aji perlahan kepada Gilang.

“Temenin bentar yuk.”
Gilang berdiri, mengikuti Aji dari belakang menuju motornya. Ia tahu bahwa teman masa kecilnya ini baru saja menemui hal-hal yang tidak wajar.

“Ada apa, Ji?” Tanya Gilang sesaat setelah motor yang dikendarai oleh Aji melesat pergi.
“Lo tau kan, kalo di tanjakkan banyak orang yang ngelihat pocong?”

“Iya.”

“Gue kayaknya baru aja liat deh, Lang.” Aji menelan ludah. “Gue ngajak lo buat memastikan apa yang gue lihat.” Lanjutnya.
“Ah gila lo. Dari dulu kalo berhubungan yang begini, ngajaknya pasti gue.” Kesal Gilang pada tetangganya itu.

Aji menepikan motor di tempat sebelumnya. Penglihatannya kembali memfokuskan pada arah dimana ia melihat objek kain putih itu.
“Tuh kan udah gak ada.” Seru Gilang sembari menunjuk arah dimana ia melihat pocong tersebut.

"Kalo tadi cuma kain, pasti itu putih-putih masih ada di pohon randu. Tapi sekarang udah gak ada, Fix itu tuh pocong." Lanjutnya.
Merasa tidak ada jawaban, Aji membalikkan badan. Kini ia melihat Gilang dalam posisi membulatkan mulut, wajahnya menghadap kearah lain, pepohonan pisang ditepian kali.

Jantung Aji tiba-tiba berdetak cepat, ia mencoba membaca apa yang dilihat oleh Gilang.
Dengan perlahan, Aji mengikuti arah pandang Gilang, ia cukup terkejut. Sosok pocong yang sebelumnya menunjukan eksistensinya di dekat pohon randu, kini ia melihat pocong tersebut berada diantara pohon pisang.
Aji menelan ludah. Tubuhnya kaku seketika. Bulu kuduknya merinding parah.

“Cabut, Ji!”

Suara dari Gilang menyadarkan Aji. Dengan terburu-buru dan masih dalam mode panik, ia mengendarai motornya menuju dusun A.
Sebuah pos ronda yang belum ada penunggunya terlihat di depan. Aji menghentikan motornya disana. Nafas sepasang sahabat itu terengah-engah.

“Sekarang tuh jam berapa, Lang?”
Gilang meraba-raba celana jeansnya. Menyadari ada yang terlupa dari miliknya, ia mengumpat kesal.

“Anjirlah!”

“Woi kenapa lagi lo?” Tanya Aji sambil turun dari motornya. Kini mereka duduk di pos tersebut.
“Hape gue ketinggalan di tongkrongan, lagi di cas.”

“Wagelaseh.”

Mereka terdiam untuk beberapa saat, keduanya sibuk dalam kalut pikirannya masing-masing.
Bahkan ketika ada beberapa warga desa dusun A yang menyapa, mereka jawab hanya dengan mengangguk, tanpa keluar satu patah katapun.

Lama mereka hening, Aji berdiri, “Ayok, ke tongkrongan, Lang!” Ajaknya.
Gilang menaikan wajah, “Yakin lo?”

Aji mengangguk yakin, “Lewat jalan 3, yang rada ramean.” Ucapnya sambil nyengir.

"Okelah, hayuk Ji. Keburu malem."
Mereka pergi kembali ke tongkrongan PD melalui jalan 3, dimana jalan itu memutar dan butuh estimasi waktu yang lebih lama. Tidak apa jauh, yang penting gak lewatin tanjakan, pikir mereka.
Kurang lebih sepuluh menit, mereka sampai di tongkrongan. Wajah mereka tidak sekalut sebelumnya, bisa dibilang sudah lebih baik.

“Kalian lama banget.” Celoteh salah satu teman mereka.

“Sorry tadi ada urusan.” Ucap Aji menyembunyikan alasan.
Baru saja mereka berdoa duduk di kursi panjang, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak.

“Tolonggg… Tolong…”

Semua pemuda yang berada di tongkrongan saling memandang satu sama lain, mencermati apa yang baru saja mereka dengar.
Anak muda yang berada di tongkrongan PD segera mencari sumber suara. Mereka berlari ke arah seorang wanita yang sedang berlari dari belakang rumah warga dengan hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuhnya.
“Ada apa, mba?” Tanya salah satu pemuda itu.

Wanita itu mukanya pucat, nafasnya tidak teratur.

“Duduk dulu mba.” Ucap Aji membaca keadaan.

Perempuan itu segera duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.

“Lang, ambilin air putih.” Perintah Aji kepada Gilang.
Gilang menuruti perintah temannya itu, ia dengan segera menuju meja tongkrongan untuk mengambil segelas air.

Sementara itu para penghuni rumah segera keluar dari dalam, mengira-ngira apa yang sedang terjadi.
“Kenapa, de?” Tanya seorang bapak-bapak yang berusia lebih dari setengah abad. Sementara seorang ibu-ibu dengan usia yang setara dengan bapak itu memeluk wanita tersebut, serta mengelus-elus rambutnya.
“Aku baru aja liat kunti pak, di sumur belakang.” Jawab wanita itu dengan wajah pucat, khas seperti orang-orang yang baru saja lihat setan.

“Gimana ceritanya, mba?” Tanya salah satu anak tongkrongan.
“Aku baru pulang kerja. Habis itu mandi. Aku kan sering juga mandi jam segitu, makanya gak mikir aneh-aneh. Tiba-tiba pas lagi keluar kamar mandi, aku liat ada kuntilanak di deket sumur. Aku langsung teriak, sambil lari kesini.”

“Yaudah de, istigfar.” Ucap ibunya.
Menyadari Gilang tak kunjung datang, Aji segera mencari teman karibnya itu. Dengan cepat, mata elangnya menemukan Gilang yang tengah berdiri di dekat tongkrongan, namun pandangannya menuju ke arah sumur.

Jika sudah melihat Gilang seperti itu, perasaan Aji pasti was-was.
Aji menjauhkan diri dari teras, belum sampai ia berjalan sampai dihadapan Gilang, matanya melirik ke arah sumur.

Sesosok kuntilanak dengan wajah yang menyeramkan dengan rambut panjangnya itu berada di pinggir sumur. Mengapa ini terjadi lagi, batinnya.
Belum sadar dengan kenyataan yang sedang dihadapinya, tiba-tiba ada yang memegang pergelangan tangannya. Pergelangan kaki Aji mendadak lemas.

“Jancok.” Umpatnya ketika mengetahui siapa gerangan yang mencengkram erat tangannya.
Namun orang yang menjadi sumber umpatannya itu tidak memperdulikannya. Bahkan sorot mata teman satu dusunnya itu masih menuju ke arah sumur.

Aji kembali menolehkan pandangan ke tempat semula. Kuntilanak itu masih berada ditempat semula.
“Lo juga lihat kan, Ji?” Tanya Gilang tanpa mengalihkan objek yang sedari tadi membuatnya merinding.

Aji mengangguk, “Iya.”

Mereka berdua masih terpaku pada objek yang jarang mereka lihat selama di tongkrongan.
“Yaudah ayo, kita ke teras.” Ajak Aji memecah keheningan.

Gilang mengangguk, mengikuti langkah Aji yang telah berjalan menuju teman-temannya. Mereka yang lain masih berada di teras rumah Wanita yang sebelumnya berteriak minta tolong.
Setelah menenangkan wanita tersebut, para anak muda kembali ke tongkrongan. Malam itu tidak seramai malam biasanya. Karena hampir setiap malam bisa dipastikan lebih dari sepuluh anak muda akan nongkrong disana. Bahkan ada saja yang menginap.
Sekumpulan pemuda itu sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang bermain gitar, bermain game di ponselnya, ada yang tiduran di amben, bahkan ada yang memisahkan diri, sedikit menjauhi anak-anak yang lain, karena sedang menelpon kekasihnya.
“Eh.. Eh.. Diem bentar deh.” Ucap salah satu anak yang sedang tiduran di amben.

Semua anak tiba-tiba terdiam. Tidak ada satupun yang berucap, hanya terdengar suara katak yang samar-samar terdengar dari sawah.
“Dutttt… Prett.. Preettt..”

“Si anjing kentut.” Umpat seseorang yang tengah berada di sebelahnya. Dan diikuti oleh semua penghuni tongkrongan.

Namun yang sedang diumpat malah tertawa terbahak-bahak. Ia sukses menjahili anak-anak tongkrongan.
Tidak begitu dengan Gilang, ia malah sibuk dengan indera penciumannya. Ia terlihat mengendus bau yang berbeda.

“Bentar woi, ada bau aneh nih.” Ucap Gilang.

“Paling bau kentutnya si Bayu.” Celoteh anak yang sedang menelpon pacarnya tersebut.
“Bukan, baunya wangi.” Jelas Gilang kembali.

Merasa ada yang aneh, Aji mulai mengendus bau yang dirasakan oleh Gilang.

“Eh iya, wangi men.”

“Kemenyan ini, cuy.” Ujar anak yang tengah memegang gitar.
Semua anak tongkrongan kembali terdiam. Masing-masing dari mereka mulai merasakan hal yang sama. Mencium bau kemenyan.

“Aneh.” Batin Aji.

Selama ia main di tongkrongan PD, jarang sekali ia mencium bau kemenyan. Bisa dibilang tidak pernah.
“Malam ini aneh, Ji.” Bisik Gilang kepada Aji. “Pulang aja yuk.” Ajaknya kembali.

Aji mengangguk setuju. Malam itu terasa sangat aneh. Dari mulai ia melihat pocong ditanjakkan, hingga kuntilanak di sumur. Belum lagi bau kemenyan yang bisa dicium oleh semua anak tongkrongan.
Jam baru saja memasuki pukul 12 malam, lebih baik mereka cepat pulang. Karena yang berasal dari dusun A hanya mereka berdua.

“Gue balik dulu ya.” Izin Aji kepada anak-anak yang lain.

“Iya, hati-hati di jalan.”
“Gue juga balik ya.” Ujar Gilang sembari menyalakan mesin motor miliknya.

“Loh tumben? Biasanya tidur sini.” Tanya salah satu anak tongkrongan.

“Iya lo, Lang. Biasanya nginep.” Tambah anak yang lain.
Gilang tak acuh dengan omongan teman-teman yang lain. Namun sebelum motor yang dikendarai olehnya benar-benar melaju, Gilang menjawab pertanyaan teman-temannya.

“Malam ini aneh, cuk!”

*Bersambung*
Gilang tengah bermalas-malasan di ruang keluarga. Matanya sudah jengah menonton prank di youtube yang penuh setinggan. Sesekali matanya melirik ke arah jam yang berada dipojok kanan atas ponselnya.

“Lama banget si Aji.” Gumamnya.
Ya, Gilang sedang menunggu sahabatnya. Mereka janjian ingin pergi ke tongkrongan PD bersama-sama. (Cie janjian, sosweet bet).

Belum lama Gilang menggerutu, seseorang yang tengah dinantikan itu memanggil namanya dari luar rumah.

“Lang. Gilang.”
Gilang berjalan keluar, ia lebih terkejut saat melihat Aji tidak membawa kendaraan.

“Motor lo mana?” Tanya Gilang dengan memperagakan orang menarik gas motor.

Aji hanya nyengir, “Gak ada bensin, Lang.”
Gilang berdecak, ingin rasanya mengumpat kepada temannya itu jika ia tidak ingat bahwa Aji merupakan sahabat terbaiknya. Belum lagi motornya yang berada di bengkel. Turun mesin.

“Jalan aja sih, masih sore ini.”
Gilang melihat jam di ponselnya, baru jam 8 malam. Masih sore memang, tapi mengingat kejadian kemarin, ia jadi ngeri-ngeri sedap rasanya.

“Lah nanti pulangnya?” Tanya Gilang masih ragu.

“Nginep disana aja.”
Gilang mengangkat sebelah alisnya, ia masih belom yakin dengan perkataan Aji yang mengatakan akan menginap di tongkrongan. Karena Aji jarang tidur disana. Aji orang pemberani, dimana ia berani pulang sendirian dari tongkrongan meski sudah jam 2 pagi.
“Beneran gak? Nanti lo pulang lagi.”

Aji tertawa, “Iya, toh kalo gue pulang, ya kita pulang bareng.”

Gilang mengangguk-angguk, “Yaudah yok.”
Setelah menutup pintu, mereka berdua berjalan menuju tongkrongan dengan berjalan kaki. Jalanan dusunnya sepi, para penduduk sudah masuk ke dalam rumah masing-masing semenjak ba’da isya.

“Asu, gelap banget.” Umpat Gilang.
Jalanan di tengah persawahan sangat gelap. Penerangan mereka hanya dari senter ponsel. Tidak cukup terang, jarak pandang mereka hanya beradius beberapa meter saja.

“Lewat jalan sawah aja, Lang.” Ajak Aji yang memimpin jalan.
Mereka berbelok melalui jalanan setapak bekas kereta. Jalanannya masih basah dan sedikit becek, bekas hujan di sore hari.

Ditengah perjalanan, Aji menghentikan langkah. Telinganya merasa mendengar sesuatu.
“Hee Lang, diem dulu!”

Mereka terdiam, tanpa berucap apa-apa. Alunan musik perpaduan dari suara katak dan jangkrik menghasilkan suasana syahdu malam hari.
“Ada apa, cuk? Suara katak doang elah.” Celoteh Gilang karena merasa kesal. Ia hanya tidak ingin terjadi hal-hal horor seperti malam sebelumnya.

“Bukan. Dengerin baik-baik.” Perintah Aji dengan menunjuk telinga agar Gilang mendengarkan baik-baik suara yang ia maksud.
“Tut… Tut…”

Sepasang remaja itu saling berpandangan, keduanya mengerutkan dahi. Terjadi keambiguan suara diantara mereka.

“Tut.. Tut…”

Ditengah persawahan dengan minimnya penerangan, terlihat sebuah keraguan dalam mata Aji.
“Telinga gue yang rada-rada, atau…” Gilang menghentikan ucapannya saat Aji menganggukan kepala.

“Gue juga dengernya gitu.” Potong Aji.

Gilang berdecak, menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Ah nggak mungkin!” Sangkal Gilang.

“Jalan kereta aja jauh dari sini, Ji. Stasiun aja setengah jam perjalanan.” Gilang sedikit berteriak. Ia terdengar seperti orang yang frustasi.

“Gue tahu.” Kata Aji datar.

“Terus kenapa suara kereta apinya begitu deket?”
Pertanyaan dari Gilang sangat menohok masuk ke dalam pikiran Aji. Ya, karena biasanya deru suara kereta api tidak bakal sampai ke desanya. Lalu mengapa suaranya sebegitu dekat? Bahkan terasa hingga membuat bulu kuduk merinding?
“Tut… Tut…”

Mereka berdua masih diam.

"Tut... Tut..."

Suara kereta uap itu semakin dekat. Deru mesin lokomotif jaman dulu itu terngiang dari belakang mereka.
Keduanya memalingkan badan, dari kejauhan terlihat lampu sorot yang tidak begitu terang. Namun cukup membuat mata mereka silau dibuatnya.

“Itu apa, Ji?”

Gilang menunjuk pada sebuah objek yang ada dihadapan mereka.
Aji menggendikkan bahu. Mencoba memikirkan hal-hal yang jernih. Tapi tidak berhasil. Sebuah kontradiksi tiba-tiba muncul dalam otaknya.

“Apakah itu sorot lampu kereta?” Gumamnya.

“Tapi ini bukanlah jalan kereta.” Gumam sisi satunya lagi.
Aji lama tediam. Matanya masih menatap datar sorot lampu tersebut. Kepalanya pusing, memikirkan sebuah cerita yang pernah dituturkan oleh eyang buyutnya. Apakah itu jawaban dari kisah kelam yang pernah terjadi di tempat ini?

*Bersambung*
Tiba-tiba Aji teringat perihal masa lalunya.

*Flashback*

Seorang kakek-kakek yang sudah berusia senja duduk disamping seorang anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Pakaian surjan yang dipakainya sedikit terkena lumpur, bekas mencangkul disawah.
“Kowe ngapa cah bagus?” (Kamu kenapa anak bagus?) Tanya laki-laki tua tersebut.

“Kulo mboten dijak dolan kalih koncone, Yut.” (Aku gak diajak main sama temen.) Kata anak itu menangis tersedu-sedu.
“Wes ojo nangis. Kan Aji iso dolanan kalih Uyut.” (Udah jangan nangis. Kan Aji bisa main sama mbah buyut.) Ujar Mbah buyut mendudukan diri disebelah cicitnya.

“Dolanan nopo, Yut?” (Mainan apa, Yut?)
Mbah buyut berfikir, mungkin ia juga bingung mau mengajak mainan apa dengan cicitnya. “Uyut nduwe cerita.” (Uyut punya cerita.)

“Cerita nopo, Yut?”

Pria tua itu mengusap pelan rambut hitam si bocah.
"Mbien, jaman londo. Neng kene iku ono dalan kereta. Persis neng kene.” (Dulu jaman Belanda. Disini itu ada jalan kereta. Persis disini.) Ujar Mbah buyut menunjuk tanah yang sedang mereka duduki tersebut.
“Sadurunge Indonesia merdeka, tempat iki rame. Mbien iki dudu sawah, Ji. Tapi kebon tebu, amba banget tekan kecamatan. Misale Uyut maem awan-awan yo neng pinggiran rel. Walaupun mangane iku mung telo. Tapi ngangeni.”
(Sebelum Indonesia merdeka, tempat ini rame banget. Dulu ini bukan sawah, Ji. Melainkan kebun tebu yang sangat luas sampai kecamatan. Misalnya makan siang ya di pinggiran rel. Walaupun hanya makan singkong, tapi bikin kangen).
“Mbien iki rel sepur. Neng kulon gili iku ono rel sepur sing manggone ngangkut tebu.” (Dulu ini rel kereta api. Nah disebelah barat jalan itu baru ada rel kereta pengangkut tebu). Jelas Mbah Buyut kembali.
Belum sempat Aji mengingat semua cerita yang pernah dituturkan oleh Mbah Buyutnya, sebuah tepukan di bahu menyadarkan dirinya dari cipratan masa lalu tentang tempat ini.

*Flasback off*
“Itu lampu sorot kereta, Ji?” Tanya Gilang.

Lampu sorot itu semakin mendekati posisi mereka berdua, bunyi khas dari kereta api uap itu semakin memekikan telinga. Wajah Gilang sudah pucat, ia sudah mati gaya dengan kenyataan yang tengah dihadapinya.
Dalam sadarnya, Aji menyakini bahwa itu adalah sebuah kereta api tak kasat mata yang melintas dibekas jalurnya. Pikirannya ikut berkunang-kunang. Ditengah-tengah kekalutan batinnya, Aji harus disadarkan oleh kenyataan yang harus dihadapi.
Dengan cepat, Aji mendorong tubuh sahabatnya itu hingga tercebur dalam sawah. Tanpa basa basi, ia juga menceburkan diri dalam sawah yang sudah mulai menguning padinya. Bau lumpur bercampur amis mulai memasuki rongga hidung hingga tenggorokannya.
Dalam keadaan yang belum sadar seutuhnya dari kejadian barusan, Aji membalikkan badan dan berharap ia kembali melihat apa yang baru saja hampir merenggut detakan jantungnya. Tapi kenyataannya membuat ia menghela nafas keputusasaan.

“Lho?”
Aji menengok ke kanan dan ke kiri. Semuanya gelap. Apa yang baru saja dilihatnya sudah hilang. Tidak ada lagi bunyi kereta uap. Tidak ada lagi sorot lampu bulat khas lokomotif jaman dahulu. Semuanya sudah sirna, tepat saat mereka menceburkan diri ke sawah.
Aji memalingkan wajah menuju sahabatnya. Gilang terlihat lebih panik dalam menghadapi kejadian barusan. Dadanya naik turun. Nafasnya begitu cepat, kentara bahwa ia sangat syok. Belum lagi wajahnya yang memucat dibalik samarnya rembulan yang purnama.
“Hah purnama?” Batinnya melongos.

Wajahnya menengadah ke langit. Dilihatnya bulan sedang bulat sempurna. Menambah kesan horror di malam itu. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding, ini yang paling parah selama hidupnya, runtuk batinnya.
Ia sama sekali tidak mengira akan mengalami kejanggalan ini.

“Hoi, ayok bangkit dari situ!”

Aji menoleh, seorang pria yang belum kelihatan tua berdiri dihadapannya. Laki-laki itu kemudian menjulurkan tangan, mencoba meraih pergelangan tangan Aji.
Sesaat setelah digapainya, orang itu menarik tangan Aji hingga ia bangkit dari sawah. Tanpa jeda, pria itu lalu membantu Gilang untuk keluar tempat yang sama.

Sampai saatnya mereka bertiga duduk di Jalan setapak tersebut.
“Lho, mas Dimas?” Tunjuk Aji kepada orang yang bernama Dimas.

Lelaki itu mengangguk, “Minum dulu nih.” Ujarnya menyodorkan sebuah botol air mineral 600ml. Aji meminumnya, bergantian dengan Gilang.
“Kalian ngelihat sepur itu?” Tanya Dimas.

Dua orang pemuda dihadapan Dimas itu mengangguk. “Mas juga lihat?” Tanya Aji.

Dimas tersenyum. Ia sendiri baru pertama kali ini melihat kejadian seperti itu.
Bukan sebuah kebetulan jika malam hari Dimas berada ditengah persawahan, pekerjaannya sebagai penjaga aliran air desa membuatnya setiap malam mengecek satu persatu pintu air yang menuju persawahan warga.
Sebelumnya, ia sedang duduk bersantai ditepian irigasi peninggalan Belanda sembari mengecek aliran air. Dari kejauhan, ia melihat dua orang sedang berjalan dengan memegangi ponsel sebagai penerangannya.
Sebenarnya bukan orang yang sedang berjalanlah sebagai titik atensinya pada saat itu, melainkan sebuah sorot lampu yang berasal dari belakang orang tersebut. Bentuk sorot lampunya menunjukan jika itu bukan sebuah lampu motor. Apalagi senter, pikirnya.
Dimas berdiri, perhatiannya terhadap objek itu semakin besar. Ia penasaran dengan sesuatu yang tidak pernah dilihatnya selama menjalani pekerjaan itu. Tanpa memikirkan hal lain, mata snipernya memfokuskan pada satu titik yang bersumber cahaya.
Dari sinar rembulan yang menyinari langit malam, ia melihat sebuah kereta api uap, dengan beberapa gerbong di belakangnya. Matanya terpikat dengan hal yang pertama kali ia lihat selama hidupnya.
Dimas memang pernah mendengar sebuah cerita dari warga, jika di desanya sempat terlintas sebuah jalur kereta api. Namun ia tidak sempat melihatnya, karena sejak ia dilahirkan, ia belum pernah melihat wujud dari cerita orang-orang dahulu.
“Astaga.” Sadarnya.

Dimas berlari menuju orang yang berada jauh di depannya, ia berteriak sembari berlari menuju orang tersebut. Namun orang yang diteriakinya tersebut menoleh ke sisi sebaliknya. Dengan berhati-hati, ia terus berlari diatas jalan tanah yang masih basah.
Dimas melihat, satu dari kedua orang tersebut mendorong temannya, membuat yang lainnya tercebur dalam sawah. Kemudian anak yang mendorong temannya itu juga ikut memasukan dirinya ke dalam sawah.
Sekarang, sebuah sorot lampu semakin mendekati posisinya. Kakinya lemas, bahkan ia sendiri tidak bisa menggerakkannya. Sebelum benda itu benar-benar menabraknnya, ia memejamkan mata dengan tangan menutupi indera penglihatan.
Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Dimas dengan masih menutup mata, perlahan menggerakkan tangannya. Pertama kali yang dirabanya adalah kakinya. Setelah dirasakannya, ternyata masih utuh.
Lalu ia membuka mata, dan suasananya menjadi sangat gelap khas persawahan desannya yang tidak memiliki penerangan. Ia membalikkan badan, dan kereta yang dilihatnya sudah tidak ada. Semuanya benar-benar seperti semula.
Pertanyannya adalah, apa yang baru saja terjadi? Begitu kata batinnya.

Dimas kemudian menghampiri kedua orang tadi, yang ternyata adalah warga dusun A, Gilang dan Aji.

“Mas lihat semuanya.” Tutur Dimas kepada mereka.
Seperti membaca keadaan, Dimas mengajak mereka berduanya untuk ke rumahnya. Sekaligus bermalam jika mereka mau. Pilihan ini diambilnya mengingat Gilang yang terlihat sangat takut. Terlihat dari sisi psikologisnya.
Sepanjang perjalanan ke rumah Dimas, mereka tidak berbincang mengenai hal yang menimpa mereka. Memasuki batas dusun B, sebuah tanjakan yang beberapa hari lalu Aji dan Gilang melihat pocong diantara pohon-pohon pinggir kali.
Sesampainya di pertigaan, Aji melihat sebuah pohon dengan beberapa tali yang mengikat dengan satu pohon lainnya. Ia ingat bahwa dulu di dusun B sering diadakan upacara adat, yang bertujuan untuk bersyukur atas hasil bumi.
Pada hari dimana upacara tersebut berlangsung, setiap warga akan menaruh beberapa hasil bumi disebuah nampan besar. Kemudian mereka akan meletakan nampan tersebut di sepanjang jalan desa hingga berhari-hari.
Ada juga hasil bumi yang lain yang akan digantungkan disebuah tali, yang diikat pada dua pohon.

Selama didiamkan beberapa hari, pasti hasil bumi yang berada di nampan atau yang di gantung itu akan habis dengan sendirinya.
Banyak hipotesa tentang penyebab habisnya hasil bumi yang didiamkan itu. Jika menurut Aji, hasil bumi itu habis karena di makan oleh hewan-hewan yang berada disana dan juga diambil oleh orang-orang yang kebetulan lewat.
“Assalamualaikum, Ayah.” Salam Dimas sembari mengetuk pintu rumahnya. Aji dan Gilang mengikuti Dimas dibelakangnya.

Tak lama, seorang pria tua membuka pintu.
“Lho, kakek. Ayah sama Ibu kemana kek?” Tanya Dimas bingung melihat seseorang yang menyambut dirumah bukanlah orang tuanya, melainkan kakeknya.

“Ayah dan ibumu pergi tadi selepas magrib ke rumah paman.”
Kakek memalingkan wajah, melihat Aji dan Gilang bergantian. Dahinya mengkerut, mungkin sedang mengkira-kira siapa pemuda yang berpakaian penuh lumpur tersebut.

“Lho, kamu cicitnya mas Harjo?” Tunjuk pria bersarung itu kepada Aji.

*Bersambung*
Aji terdiam beberapa saat lalu tersenyum, “Iya Kek. Saya cicitnya mbah Harjo.”

Kemudian ia mendekati kakek dan menjulurkan tangan, mencium orang tua itu diikuti oleh Gilang.
Kakek mengajak kedua anak muda itu untuk duduk di sebuah dipan yang berada di teras. Sementara Dimas masuk ke dalam rumah karena diperintah oleh kakek untuk menggambil beberapa pakaian bersih dan minuman untuk kedua tamunya.
Kakek kembali menatap kedua pemuda itu, wajahnya keheranan karena melihat sepasang sahabat karib yang penuh lumpur. Rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.

“Kalian habis ngapain, malam-malam macul sawah?”
Keduanya nyengir, “Abis jatuh ke sawah, Kek.” Ucap salah satunya.

Si kakek menaikan sebelah alis, terlihat kerutan di wajahnya yang menua. “Loh kok bisa?”

“Jadi gini… Em….” Aji tertahan.
Si Aji menceritakan kejadian yang baru saja menimpa mereka. Sebuah peristiwa ghaib yang entah mengapa dialami oleh mereka bertiga. Tak lupa, Aji juga menceritakan dari sudut pandang Dimas. Gilang hanya terdiam, sambil sesekali memakan hidangan yang tersaji.
Sedangkan sang kakek hanya manggut-manggut, mendengarkan setiap tutur kata dari Aji.

“Gitu ceritanya, kek.” Kata Aji mengakhiri ceritanya.

Ekpresi kakek terlihat datar, seperti sudah mengetahui peristiwa tersebut.
Lama dinanti, Dimas keluar dengan membawa beberapa celana dan seember air bersih. Aji dan Gilang secara bergantian membersihkan tubuhnya dan menyalin pakaian yang diberikan oleh Dimas.
Setelah selesai, keduanya kembali duduk dihadapan kakek. Kopi dan beberapa cemilan telah terhidang disana.

Ada rasa canggung untuk sesaat, “Nak, ada yang kurang dari kisah yang kamu sampaikan.” Tutur kakek.
Dimas yang tengah menyeruput kopi hitamnya, menoleh heran kepada kakek, “Kisah apa, Kek?”

“Kisah yang baru saja kalian alami.”

“Aji juga sudah menceritakan apa yang kamu lihat.” Katanya dengan polos.
Kakek mengusap-usap dagunya. Dahinya ikut mengernyit, semakin kentara kerutan pada orang tua ini. Mungkin kakek berfikir seperti ada yang janggal dengan kisah yang menimpa mereka bertiga.

“Ada yang kalian lewati.” Terka Kakek sesudahnya.
Aji dan Dimas berpandangan, bertanya-tanya apa yang sudah mereka lewati. Namun tidak juga menemukan titik masalah tersebut.

“Ayo coba diingat kembali.” Kata Kakek berusaha mengoreksi mereka.
Samar-samar suara kakek semakin terngiang oleh Aji yang sedang berfikir ria dengan otaknya. Dimas tak kalah kalut, ia juga sedikit frustasi dengan perihal apa yang telah terlewatkannya. Tapi sekali lagi, mereka sama sekali tidak menemukan benang merahnya.
Mereka berempat terdiam lama, suasana malam itu semakin mencekam. Entah darimana Aji merasakan hawa yang lumayan seram pada malam itu.

Gilang mengangkat wajah, “Kek.”

Kakek tersenyum, “Saya sudah tahu.”
Aji dan Dimas menoleh, memandang kakek dan Gilang secara bergantian. Ada apa ini, pikir mereka berdua.

Gilang melihat wajah teman karibnya, dilanjutkan dengan memandang Dimas. Gilang dihadiahi oleh seribu pertanyaan oleh mereka berdua.
Gilang menghela nafas, “Sebenarnya, tadi gue melihat hal lain daripada yang kalian ceritakan.” Gilang menghentikan ucapannya. “Gue terlalu takut untuk cerita, soalnya apa yang gue lihat itu berbeda dengan apa yang kalian lihat.” Lanjut sahabatnya Aji itu.
“Tadi, waktu kita sudah masuk jalan setapak itu dan mendengar suara kereta uap, gue udah merasakan hal yang diluar nalar. Jalan yang kita lewati bukanlah jalan biasanya. Aneh rasanya ketika lo melihat disekitar lo itu bukanlah sawah seperti yang setiap hari kita lihat.”
Aji mengernyit. Ia kaget dengan ucapan Gilang yang mengatakan hal itu.

Begitupun dengan Dimas, ia semakin memposisikan duduknya senyaman mungkin untuk mendengarkan kisah tertinggal yang dituturkan oleh Gilang.
“Gue melihat tebu, sekeliling kita semuanya tebu. Kita berjalan ditengah-tengah kebun tebu. Gue tahu, tempat itu dulunya ladang tebu. Tapi sekarang udah jarang, Ji. Walaupun masih ada ladang tebu, pasti tidak seluas sekarang. Lagian sekarang semuanya sawah.”
“Apalagi waktu kita balikkan badan dan melihat sebuah kereta persis dijalan kita berdiri. Pas gue lihat, semuanya tergambar jelas, Ji. Gue lihat kita berdiri di atas sebuah rel kereta api, bukan jalan setapak seperti sebelumnya.”
“Gue melihat ada dua orang, gue taksir salah satu dari mereka itu seorang priyayi karena dari cara pakaian mereka. Mereka sedang berjalan di atas rel persis di depan kita. Salah satunya yang mengenakan surjan terkejut ketika melihat kita yang berdiri tak jauh darinya.”
“Kereta itu semakin dekat. Bunyi khas lokomotif uap itu semakin jelas. Tiba-tiba orang yang tadi melihat kita itu memalingkan badannya. Ia terkejut saat melihat ada kereta yang melintas. Dengan sigap ia mendorong temannya hingga tercebur, persis yang lo lakukan ke gue, Ji.”
“Secara samar, pria yang baru saja mendorong temannya itu tidak selamat, ia tertabrak kereta, bersamaan dengan itu lo dorong gue hingga tercebur dipersawahan. Gue menutup mata disaat detik-detik kereta itu akan menabrak lo.”
“Dan diwaktu gue membuka mata untuk melihat kembali rangkaian kejadian itu, tidak ada kereta itu beserta orang dan pepohonan tebu. Semuanya kembali lagi.” Ujar Gilang dengan sedikit emosional menceritakan apa yang ia alami
Kakek menepuk bahu Gilang, “Kakek paham, itu terjadi beberapa tahun sebelum kemerdekaan.”

Kini giliran Kakek yang menghela nafas, matanya menerawang sebuah kisah yang mungkin masih diingatnya.
Lalu kakek bercerita, “Dulu waktu kakek masih kecil, mungkin masih belasan tahun. Pada saat pagi buta, kakek diajak pergi bersama ayahnya kakek. Kami pergi dari rumah menuju kebun tebu, untuk mengambil beberapa pohon tebu untuk di konsumsi.”
“Bukan tanpa alasan kami pagi-pagi kesana, karena pada saat itulah kami bisa mengambil beberapa hasil bumi untuk kami ambil sebagai makanan tanpa diketahui oleh pemilik kebun yang notabennya adalah penjajah.”
“Sampai saatnya, terdengar suara kereta dari kejauhan. Kakek menyelinap diantara pohon tebu untuk melihat kereta itu. Setelah sampai dipinggiran rel kereta, kakek melihat dua orang yang kakek tahu adalah mas Harjo dan abdi dalem keluarganya, Pak Sarjono.
“Kakek tidak tahu apa yang mereka lakukan pada pagi buta di jalur kereta. Tapi kakek tahu, mereka orang baik, karena sering membantu tentara Indonesia. Mereka berjalan beriringan sembari membahas sesuatu yang tidak kakek pahami. Namun ada yang aneh.”
“Kakek melihat pak Sarjono memandang ke arah lain. Beliau terlihat terkejut pada arah yang ia pandang. Alhasil, kakek mengikuti arah pandangnya dan ikut tekejut, karena kakek sama sekali tidak melihat apapun disana. Hanya pepohonan tebu yang tinggi.”
“Kakek kembali melihat dua orang pria tersebut, sebuah kereta sudah berjarak sangat dekat dengan mereka. Tiba-tiba pak Sarjono membalikkan badannya dan panik saat melihat kereta yang tengah melaju dibelakangnya.”
“Pak Sarjono mendorong tubuh mas Harjo hingga terjatuh diantara pohon Tebu. Namun sebelum Pak Sarjono benar-benar melarikan diri, ia tidak selamat. Pak Sarjono tertabrak kereta di pagi hari sebelum matahari memunculkan rupanya.”
Kakek memberhentikan ceritanya, sorot matanya kosong.

Kemudian pria yang lahir sebelum masa kemerdekaan itu memijit pelipisnya. Usianya sudah tak lagi muda, namun mampu mengingat kejadian yang sudah lebih dari 60 tahun yang lalu.
Kakek menepuk-nepuk bahu Gilang. “Pak Sarjono adalah buyutmu. Dia adalah orang yang selalu menjaga keluarga mas Harjo. Mungkin beliau ingin menunjukan sebab kematiannya yang tak banyak orang tahu. Beliau adalah seorang abdi dalem yang setia.”
“Semenjak saat itu, keluarga mas Harjo menganggap keluargamu adalah saudaranya. Mulai dari rumah kalian yang bersebelahan, kakekmu disekolahkan yang sama dengan kakeknya Aji. Bahkan keturunannya hingga kini berteman baik, contohnya kalian.”
“Teruslah kalian berdua berhubungan baik sebagaimananya leluhur kalian yang saling menjaga satu sama lain. Jika ada pertengkaran, maka saling mengalahlah diantara kalian. Sesungguhnya pertemanan keluarga kalian telah terjalin lama.”
Sesaat setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba seorang warga berlari cepat, kemudian berhenti di depan kami. Nafasnya tidak teratur, wajahnya menunjukkan kepanikan yang luar biasa.

Kakek bangkit, kemudian berjalan ke hadapan pria tersebut, “Tenang. Ada apa, Di?”
“Anu…”

"Anu.. Emm.." Pria itu tertahan.

“Anu apa?” Tanya Kakek berusaha menenangkan.
Warga itu memandang lekat ketiga anak muda yang berada dibelakang kakek, ada keraguan didalam wajahnya.
“Tak apa.” Ujar Kakek seakan mengerti.

Kemudian laki-laki itu membisikan sesuatu di telinga kakek sehingga Aji, Gilang dan Dimas tidak tahu apa yang dibicarakannya.

Setelah itu, ia pergi dengan langkah yang cepat.
“Sepertinya malam ini akan panjang. Karena sekarang adalah waktunya.” Tegas Kakek sembari masuk kedalam rumah dengan meninggalkan wajah cengo pada anak-anak muda tanggung yang tak kunjung mengerti.

*Bersambung*
Nanti malam atau besok pasti kutamatkan.
Maaf baru bisa update, karena beberapa hari kemarin, aku ada urusan ke Solo. Dan aku gak bawa laptop.
Kakek kembali setelah beberapa lama masuk ke dalam rumah. Ketiga anak muda itu bertanya-tanya, mau kemana ia tengah malam begini. Apalagi suasana malam itu lumayan dingin karena sore hari desanya turun hujan.
“Kemana, Kek?” Tanya Dimas.

Kakeknya berhenti, menoleh kepada mereka bertiga sekilas, “Kalian boleh ikut. Tapi apapun yang kalian tahu, simpanlah saja untuk kalian.” Jawab kakek berjalan pergi.
Seakan tak mau ketinggalan, dengan sigap anak-anak muda itu segera menyusul kakek. Suasana malam itu hening, mereka bertiga masih mengikuti langkah kakek, yang dimana mereka bertigapun tidak tahu arah pastinya.
Sampai ketika, mereka berada disebuah rumah salah satu warga. Aji dan Gilang tak mengenali siapa gerangan pemilik rumah.

Ada apa ini? Mengapa tengah malam, ada kumpulan yang dilakukan oleh beberapa warga, runtuk Aji.
Di dalam sebuah rumah yang jauh dari pemukiman, ada beberapa orang warga yang terlihat gusar. Tidak terlalu banyak, hanya ada sepuluh orang.

Ada rasa ragu dalam diri Aji untuk tetap mengikuti kakek, namun penasarannya lebih besar.
Salah satu diantara warga itu melihat kehadiran kakek, kemudian menyambutnya. Kakek masuk ke dalam rumah tersebut, namun Aji dan kawan-kawan lebih memilih untuk menunggu di luar, karena merasa tidak enak enak. Hanya mereka yang masih muda.
Mereka bertiga duduk-duduk di teras rumah, tanpa berbicara. Aji memasang telinga untuk mendengar percakapan di dalam rumah. Tak lama, salah seorang dari mereka keluar rumah. Aji dan Gilang sedikit terkejut.

“Lho, om Sam?”
Pria yang bernama lengkap Samsudin itu hanya nyengir, sampai terhat gigi serinya yang patah, bekas tabrakan beberapa tahun silam.

Sam duduk diantara mereka. Membuka bungkusan plastik yang isinya tembakau.
“Mungkin sudah saatnya kalian bertiga tahu tentang hal yang terjadi di desa ini.” Celotehnya sembari melinting tembakau yang kini berada di tangannya.

“Menurut kalian, dimana saja ada hal ganjil yang sering kalian temui di dusun B?” Tanyanya kembali.
“Sepanjang jalan tongkrongan.” Jawab Aji dan Gilang hampir secara bersamaan.

Sementara itu Dimas mengangguk setuju yang diikuti oleh Sam yang mengiyakan jawaban dari Aji dan Gilang.
“Kalian sudah tahu ternyata.” Sam terkekeh pelan lalu membakar rokok hasil home-made tangannya.

Ketiga anak muda itu tersenyum pahit, “Udah jadi rahasia umum itu mah, Om.” Ungkap Aji.
“Sepanjang jalan dari dusun A hingga tongkrongan itu memang sangat dekat, naik motor aja cuma semenit atau dua menit. Tapi rasanya kayak berjam-jam kalau lewat sana.”

“Dimana yang paling parah?” Tanya Sam.
“Pertengahan sawah, tanjakkan dusun B, belokan kebun nangka dan tongkrongan itu sendiri.” Aji kembali menjawab.

“Kamu sudah khatam lokasinya ternyata.” Ucap Sam sambil terkekeh kembali.
Om Sam mulai bercerita, “Menurut orang tua jaman dahulu, di tanjakkan adalah tempatnya orang di hukum mati jika ada yang melanggar perintah Belanda. Warga akan menguburkan jasadnya di pemakaman yang bersebelahan dengan tanjakkan.”
“Sedangkan jalan dari pertigaan makam hingga tongkrongan memang sudah horror dari jaman dulu. Para warga tidak berani lewat sana, karena terkadang mereka mendengar teriakan orang minta tolong, penampakan laki-laki berwajah kompeni.”
“Bahkan terkadang mereka mendengar deru kereta uap dari tengah sawah seperti yang kalian alami. Namun mereka tidak pernah melihat wujudnya. Kalian beruntung, melihat wujud dari kereta uap itu.”
Di dekat tongkrongan dulu ada sebuah bangunan Belanda yang dijadikan gudang penyimpanan. Terkadang, mereka menyiksa para pekerjanya disana. Tapi sekarang udah rata dengan tanah dan tidak ada bekasnya lagi.”
Pada saat Sam bercerita, kakek keluar bersama beberapa orang lain. Mereka seperti ingin pergi ke sebuah tempat karena dari tingkah mereka yang terburu-buru. Tak lupa mereka mengajak Aji dan teman-temannya.
Aji berjalan mengikuti mereka, dalam gelap malam Aji dan orang-orang itu sampai ditanjakkan. Suasana malam pada saat itu penuh dengan suara katak dan jangkrik, namun tiba-tiba hilang sesaat mereka telah sampai ditempat tujuan. Heningpun menyelimuti.
Aji, Gilang dan Dimas selalu berdekatan, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mulut kakek terlihat meramalkan sesuatu. Tidak ada yang terjadi, hingga beberapa saat kemudian salah satu dari orang tua berdehem.
“Hem.”

Pria yang berpakain warna biru yang sedang berdiri diantara kakek dan warga itu mengerang. Semua mata tertuju kepada orang itu. Aji dan Gilang hanya terpana pada keadaan yang tengah terjadi diantara mereka. Bahkan Dimaspun diam dengan mulut yang melongo.
Kakek dengan dibantu oleh beberapa warga memegangi pria tersebut. Pria yang kesurupan itu semakin mengerang, para lelaki semakin erat mencengkramnya.

"Anjir, ada apa lagi nih" Batin Aji.
“Ieu teh saha?”

“Aing maung.”

Bukan-bukan, bukan gitu hehe.
“Ini siapa?” Tanya kakek memegang dahi pria itu.

“Kenapa kalian tidak menaruh sesaji kepadaku lagi?” Ucap pria yang kesurupan dengan nada yang marah. Matanya melotot pada kakek yang berada dihadapannya.
Kakek terlihat sangat tenang, seperti sudah terbiasa dengan hal-hal yang seperti itu. “Mengapa harus kuberi?”

“Dasar manusia lemah, sombong.” Nadanya semakin marah, namun kakek terlihat tidak gentar. Bahkan ia masih tidak memperdulikan ucapannya.
"Jangan ganggu warga desaku lagi."

"Itu salah kalian, orang tua." Pria kesurupan itu semakin murka, warga yang memeganginya sampai tidak kuat. Keringatnya mengucur.

"Apa salah kami?"
Lelembut yang merasuki warga itu berdecak, "Ck, tidak usah lupa. kalian lupa perjanjian itu?"

Kakek berkomat-kamit, melafalkan dzikir yang tidak pernah putus. Tangannya bergerak seirama dengan tasbih ditangan kanannya.
"Perjanjian apa? Kami tidak pernah melakukan itu." Tegas Kakek. Kopeahnya berantakan, menyebabkan helaian rambutnya terlihat.

Ditengah perbincangan antara kakek dan lelembut itu, Aji menyeret Gilang untuk mendekati Sam.

“Sebenarnya ada apa, Om?” Tanya Aji berbisik.
Sam menoleh, memandang sosok keturunan dari orang yang dihormati oleh keluarganya. Sedikit bimbang, akhirnya ia membuka suaranya.

“Kau tahu jika disepanjang jalan ini setiap tahun diadakan upacara hasil bumi?” Tanya Sam pelan.
Aji dan Gilang mengangguk. Mereka tahu, dulu sepanjang tahun ada upacara adat yang intinya terimakasih pada Alam untuk hasil panen masyarakat.

“Sebenarnya ada kisah dibalik itu.” Ujar Sam.

Lewat gestur tubuh, Aji seakan bertanya ada apa gerangan.
Mengerti dengan kode yang diberikan oleh Aji, Sam segera menarik kedua tangan anak berusia tanggung tersebut. Berjalan menjauhi sekumpulan warga.

Aji dan Gilang semakin penasaran, rasa keingintahuannya memuncak. Ada apa dibalik tradisi itu?
“Jadi, dulu ada pria tua namanya mbah Jarwo. Kamu kenal? Beliau sangat prihatin kepada warga yang selalu saja diganggu oleh mereka ketika berada disekitar jalanan ini. Akhirnya ia berusaha untuk menetralisirkan keadaan disini.”

Aji tahu mbah yang dimaksud oleh Sam.
“Namun para lelembut meminta sesajen setiap tahunnya. Maka dari itu mbah Jarwo menyarankan untuk upacara hasil bumi sebagai tanda terimakasih kepada alam karena hasil panen yang melimpah, padahal dibalik itu ada sesuatu yang lain.”
“Mbah Jarwo menggunakan tradisi itu sebagai sesajen untuk para lelembut, dengan syarat mereka tidak mengganggu warga yang melintas di jalan tersebut. Mereka tidak meminta tumbal, mereka hanya ingin makanan. Maka dari itu mbah Jarwo setuju.”
"Mbah Jarwo sebenarnya tidak salah, dia juga niatnya baik untuk warga, agar tidak selalu diganggu oleh lelembut-lelembut itu. Lagipula semenjak itu, memang para warga jarang terganggu. Semua terbilang aman, bahkan ada warga yang mendirikan rumah disana."
“Namun beberapa tahun yang lalu mbah Jarwo meninggal. Para warga juga sudah meninggalkan tradisi tersebut. Jadi beberapa tahun belakangan mereka tidak diberi sesajen dan membuat mereka marah, lalu kembali memunculkan eksistensinya.”
“Apalagi saat ini adalah tanggalnya, tanggal dimana kita biasa membuat tradisi itu. Makanya beberapa malam sebelumnya, hampir semua warga pasti dilihatkan eksistensinya mereka, tidak hanya kalian saja kok yang diganggu oleh mereka.”
“Hal ini membuat kakek dan beberapa warga yang tahu tentang sesajen tersebut untuk turun tangan. Sebenarnya bisa saja kita membuat tradisi itu kembali, namun ada beberapa hal yang membuat kami tidak melakukannya lagi.” Terang om Sam panjang lebar.
“Kenapa memangnya, Om?” Tanya Gilang penasaran.

Sedangkan Aji semakin mengerti dengan keadaan jalanan itu. Sedikit demi sedikit, kisah kelam yang terjadi di desanya terbongkar.

“Nanti kalian tanya saja kepada kakek.”
Aji kembali menengok kepada kakek, sepertinya keadaannya saat itu telah terkendali olehnya.

Mereka bertiga kembali menghampiri kakek yang tengah memberi minum kepada warga yang menjadi mediator. Sepertinya warga itu telah sadar.
Suara shalawat mulai terdengar di masjid desa, tanda bahwa waktu kini mulai waktu shubuh. Kakek berjalan mendekati Aji, Gilang dan Dimas, lalu mengajaknya untuk sholat.

“Kek.” Ucap Aji pelan disela perjalanan.
“Ya?” Jawab Kakek tanpa menengok, matanya lurus.

“Kenapa kakek tidak melanjutkan tradisi mbah Tikno?”

Kakek berhenti. Menengok remaja labil yang sepertinya sudah tahu tentang apa yang terjadi di desa ini. Sekilas, bibirnya membentuk sebuah sudut lengkungan.
“Percayalah nak, suatu saat nanti disaat kamu sudah berkeluarga, desa ini akan menjadi ramai. Tidak sepi seperti pada saat ini. Tempat itu tidak akan seangker dahulu, akan banyak rumah disekitar sepanjang jalan tongkrongan.”
“Walau tidak menutup kemungkinan jika warga akan tetap melihat atau merasakan hal mistis, tapi tidak akan semencengkam saat ini. Biarlah tradisi dan keangkeran tempat ini akan terlupakan seiring berjalanannya waktu.”
Kakek berhenti mengucap untuk beberapa saat. Wajahnya terlihat optimis dengan ucapannya.

“Tapi, para warga tidak akan pernah lupa, bahwasanya tempat ini pernah menjadi titik sejarah di desanya.”

*END*
Saat ini, desa yang terdiri dari beberapa dusun itu sudah ramai. Sepanjang jalan tongkrongan saja sudah banyak dibangun rumah-rumah penduduk. Namun kesan horornya masih ada kok. Masih ada warga yang mengaku melihat ini dan itu disana.
Tongkrongannya pun masih ada. Kini orang yang jualannya udah tua, udah punya cucu hehe. Namun beliau masih kelihatan bugar dan senang jika masih banyak orang yang nongkrong di warungnya. Katanya keinget jaman remajanya dulu.
Tapi sampai saat ini anak remaja yang nongkrong disana itu masih pada takut kalo pulang sendiri, walaupun udah rame dengan rumah warga, tapi kesan horornya masih ada. Belum lagi beberapa kejadian janggal di sekitar tongkrongan.
Oh iya, dari pertigaan pemakaman sampai belokkan pohon nangka itu sampai sekarang gak ada lampunya. Jadi masih gelap. Ya karena kalo dipasang lampu, seminggu kemudian lampunya pecah. Pak RT dan warga sudah males untuk memperbaikinnya.
Tanjakkannya juga masih gak ada penerangannya, pohon jambu mete masih ada. Bahkan kini gede banget pohonnya, nambah kesan horor suasana jika malam-malam melintas di jalan itu.
Maaf jika endingnya gak sesuai harapan, karena mood menulis gue yang masih berantakan.

Dan thread selanjutnya, tunggu aja 🤭🤭
Salam, Ilham/Nan.
Oh iya, maaf gak bisa nyeritain semuanya. Karena banyaknya kejadian disana, buat aku bingung mau ngangkat yang mana huhu.

Tapi aku pilih ceritain yg kereta sama kejadian di tanjakkan. Dan juga terbongkarnya kisah kelam dibalik keangkeran jalan itu.
Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh.

Enjoying this thread?

Keep Current with Call Me, Nan.

Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

Twitter may remove this content at anytime, convert it as a PDF, save and print for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video

1) Follow Thread Reader App on Twitter so you can easily mention us!

2) Go to a Twitter thread (series of Tweets by the same owner) and mention us with a keyword "unroll" @threadreaderapp unroll

You can practice here first or read more on our help page!

Follow Us on Twitter!

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just three indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3.00/month or $30.00/year) and get exclusive features!

Become Premium

Too expensive? Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal Become our Patreon

Thank you for your support!