Ibu saya dari pangkatnya sebetulnya mantan pejabat. Tapi ga punya duit berlebih. Haha.. Duitnya ya dari gaji saja. Lalu ditawari perpanjangan pensiun ga mau. Sampai selesai masa bakti naik bus saja.
Setelah sekian lama, dulu akhirnya ibu saya ada panggilan jd petugas haji. Sampai di kantor instansi, kaget
Bu, ibu bisa berangkat tahun ini kalau bayar sekian-sekian
Ibu saya lempeng. Saya ga mau kalau pake bayar bayar. Kalo bukan jatah saya, gapapa saya ga berangkat.
Ga berselang tahun yang lama, ibu saya dapat panggilan petugas haji
Tanpa bayar biaya tambahan, tanpa nyogok, tanpa nyikut jatah orang
Lempeng
Soal vaksin, saya juga begitu, saya ga mau mengada-ada
Yang penting vaksin itu: 1) Sudah diketahui keamanan dan khasiatnya 2) Tersedia
Jadi gunakan rasionalisasi yang pertengahan, jangan ekstrim-ekstrim, ilmu & penelitiannya sudah ada
Vaksin bagus yg tak tersedia? Buang waktu menantikannya. Seiring waktu, akan ada yg lebih baik & lebih baik.
Tapi dalam situasi wabah, kematian datang dengan cepat, jadi penting untuk mendapat proteksi yg cepat.
Kalau belum dapat Moderna atai Pfizer, ya sudah
Kalau kita belum dikasih lalu yg dikasih justru senior-senior yg tak masuk redzone, ya pasrah
Begitu ada jatah, ya dipakai
Simpel saja
Orang yang mengada-ngada untuk mengambil yang bukan haknya, justru yang saya khawatirkan
Bisa saja dia jadi diselimuti rasa percaya diri berlebihan, yang bisa berbahaya untuk diri dan keluarganya
Kembali ke ibu saya. Dia bingung, teman-temannya di institusi yg sama dulu kok pd bisa kaya-kaya sekali ya. Kan sama-sama tau gajinya berapa.
Di kemudian hari temannya ada yg dipenjara karena ternyata korupsi.
Hmm... Ibu saya juga sejak masuk sampai pensiun ga diizinkan sekolah lagi.
Sedih ya. Entah generasinya ada yg ngegenk lalu pd ngomporin para pejabat apa gimana.
Tapi saban ditanya, ga pernah keluar 1 nama pun sampe sekarang siapa yg jahatin dia.
Ga nambah gelar, peningkatan wawasan/keterampilan dari pelatihan aja
Ibu saya paling sering dikirim ke daerah Aceh sampai Papua untuk melatih pengawasan di balai pengawasan daerah, dijalani aja, hitung² honor tambahan ya
Ternyata sampai pensiun ga banyak SDM yg bisa melatih ini
Untuk nambah pemasukan, dari Tanjung Duren atau dari Jakpus, ibu saya jg jaga apotek ke daerah Lenteng Agung.
Jauh ya. Pulang ke Tanjung Duren.
Untung aman ya. Cantik lho beliau mudanya.
Pas kecil bapak saya ini banyak ga di rumahnya
Cari duit 2 bulan, di rumah 1 bulan, cari duit 3 bln, d rumah 1,5 bln, cari duit 6 bulan, di rumah 1,5 bln
Macam itu lah. Lah ibu saya ini kaya semi single mother ya. Haha...
Pernah marah kalau ga pulang rumah mau ta jual ! 😂
Pesan ibu saya di dunia kerja, jangan jahat sama orang, kalau dijahatin orang ya nasib, yang penting baik baik aja sama orang
Ternyata susah ya.. hahahaaa
Semua makanan ibu saya suka, tapi berat badannya ga pernah berubah sejak gadis, ga pernah gemuk seumur hidupnya
Tapi ada makanan favoritnya, yang sebisa mungkin ketemu 1x seminggu, yaitu tempe
Kenapa tempe favorit?
Waktu kecil kalau PKI ngamuk, ibu saya sekeluarga disembunyikan ayahnya di sebuah bunker bawah tanah, di sana yg bisa dimakan cuma air & singkong
Jadi makanan yg perlu pemrosesan seperti tempe adalah mewah
Simpel ya? Kalo kita ngalamin mungkin sama. Haha
Waktu kecil, saya kena wabah difteria ganas. Sebangsal isolasi mati semua.
Yang hidup cuma saya. Stres ga tuh ibu saya. Saya umur 3 tahun ga bisa ketemu keluarga. Baru bisa keluar isolasi sesudah 1,5 bulan.
Abis kena difteris, kena pula TBC. Alamak.
Dulu saya pernah nanya, "Mama kok tiba-tiba beruban?"
Mama ubanan karena kamu
Kami semua ngakak. Tapi mungkin benar ya. Seorang perempuan tampak cantik karena keluarga, tapi juga menjadi renta karena berjuang untuk keluarga pula.
Ibu saya tuh dulu:
-PNS sebuah institusi
-Jaga apotik
-Jualan singkong si Pasar Kopro
-Jualan buku pendidikan anak
Edhyan yaa
Alhamdulillah yang penting halal de, jadi daging yang barokah
Itulah sekilas ibu saya
Sudah mau 70 usianya, Alhamdulillah selalu sehat
Sudah vaksin 2x *eeiittss teteeuupp bahas #COVID19 hahaa...
Berkah selalu untuk para perempuan Indonesia
Legend
• • •
Missing some Tweet in this thread? You can try to
force a refresh
Semalam dikontak teman. Seorang direktur dokter RS di Papua. Nanya tentang seseorang yg pernah temui saya beberapa waktu lalu. Dia gimana sih?
Saya jawab. Lu tau gw kan? Begitu lihat matanya, gw ga percaya. Bisa saja sekubu. Tapi untuk urusan penting jangan percaya sama dia.
Saya jelaskan lagi.
Orang yang sekubu, jangan salah, banyak yang jahat dan perilakunya buruk. Sekubu cuma soal mendukung tokoh politik yang tersedia. Tapi manusia tetap manusia.
Dan benar. Dia cerita.
Teman saya itu difitnah korupsi dan sebagainya. Yang sampai sekarang tak terbukti.
Level ekonomi teman saya itu saja masih sesuai dg income yg didapat secara wajar.