Pusara Waktu Profile picture
Mar 7, 2022 132 tweets 19 min read Read on X
ERIKA
(Keluarga Korban Santet)

Ns : Mas Wijaya

Aku mencium bau yang tidak asing, saat berada di halaman depan yang ditumbuhi beberapa pohon pisang kipas, sejenis pohon pisang hias dan sebuah pohon mangga yang cukup besar berdaun rimbun.
Sekilas disudut mataku, aku melihat sebuah sosok hitam legam sedang menatapku dengan sorot matanya yg berwarna merah menyala. Segera aku palingkan muka dan berjalan ke arah pintu gerbang untuk menguncinya, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang tidak asing, aku mengenal suara ini.
"Om pasti tadi lihat si item kan, di sana?" Tanya Erika yang tiba-tiba menyapa mengagetkanku, dengan menunjukkan jari telunjuk ke arah rerimbunan pohon itu.

"Ah, nggak Non ..." Jawabku singkat.
"Om Wi pasti bohong, yaa ..." Timpal Erika dengan nada menggoda.

"Nggak Non ..." Aku tetap kekeh dengan jawaban yang sama.

"Tuh kan, Mm Wi bohong lagi." Jawab Erika sambil menatap wajahku, diselingi senyuman kecil di bibirnya.
Aku hanya diam dan membatin, "Anak ini memang berbeda dengan Sinta, adiknya.”

"Pasti beda lah, Om Wi …" Tiba- tiba saja Erika menimpali gumaman hatiku, sambil berlalu, berjalan ke arah pendopo di samping pohon rimbun itu.
Darahku seakan terhenti, saat mendengar Erika menjawab gumaman hatiku.

"Ini anak seperti bisa membaca pikiranku …” Ujarku pelan.

"Jangan heran Om Wi, di sini memang sudah ditanam sama mbah kakung untuk menjaga rumah ini kok.” Ucap Erika setengah berteriak.
"Om Wi, sinilah temani Ika, kita cerita-cerita ... Sepi gak ada teman ngobrol nih aku." Lanjut suara Erika, sambil melambaikan tangannya padauk.

Aku pun segera melangkah menghampirinya dan duduk di kursi, di bawah pohon mangga yang rimbun itu.
Erika pun kemudian bercerita panjang lebar tentang sosok mbah kakungnya itu, (kakeknya) dan masih menurut penuturan Erika, bahwa mbah kakungnya itu adalah salah satu penganut paham kejawen dan termasuk ‘orang pintar’ ,
yang sering didatangi oleh orang-orang dengan berbagai macam keperluan dan kepentingan. Sesaat kemudian Erika menarik nafas dan kembali meneruskan ceritanya.
Pernah suatu ketika, bahwa anaknya, yaitu ibu Erika, ada yang ingin mencoba untuk menggeser kedudukannya di perusahaan, dan tepat sebelum kejadian itu terjadi, tiba-tiba saja orang yang berniat menggeser kedudukan ibunya itu dipindah tugaskan ke suatu kota, di kabupaten terpencil
Jelas Erika penuh rasa bangga dengan mbah kakungnya itu.

Aku hanya diam mendengarkan tanpa memotong pembicaraannya, sampai selesai.

"Wah, hebat ya mbah kakungnya Erika." Ucapku merespon ceritanya.
Erika tersenyum mendengar perkataanku dan kemudian melanjutkan ceritanya, bahwa di rumah mbah kakungnya itu, banyak sekali terdapat pusaka serta barang-barang hasil ‘tarikan’ mbah kakungnya yang berasal dari alam lain, kembali aku hanya mengganggukan kepala.
"Hei item ... Pergi sana!" Seru Erika secara tiba-tiba sambil melihat ke arah pohon mangga yang berada tepat di belakangku, secepatnya kutarik kursi yang sedang kududuki ini untuk menjauhi batang pohon manga itu.

"Hehehe ... Om Wi takut ya? " Ujar Erika, menggodaku.
Aku tersenyum dan kembali duduk di kursi tersebut, dan tidak berapa lama kemudian Erika pun berpamitan kepadaku dan melangkah pergi menuju pintu rumah, kemudian tak terlihat lagi.

Sepeninggal Erika, aku masih terduduk di kursi tadi, sambil menunggu bapak dan ibu Kasran pulang.
"Hmm ... Pantesan hawanya beda dan terasa panas di sekeliling rumah ini, ternyata memang sengaja ditanam ya." Gumamku di dalam hati, sambil mengitari sekeliling rumah.
Secara tidak sengaja ketika aku berkeliling, mataku melihat ke atas lantai dua. Aku segera mengusap-usap mataku, saat melihat seorang nenek-nenek yang tengah duduk di sebuah kursi yang berada di balkon lantai atas.
Sosok itu memakai kemben dengan hiasan tusuk konde di belakang rambutnya, serta tengah asik menembangkan langgam jawa.

Perhatianku tiba-tiba teralihkan oleh sebuah sorot lampu mobil dari luar gerbang, segera kulangkahkan kaki untuk membuka pintu gerbang dan menutupnya.
Setelah mobil masuk, ujung mataku kembali melirik ke lantai atas utuk sekedar memastikan, dan sosok nenek-nenek itu telah lenyap, hanya menyisakan wangi bunga kantil.

Dua sosok berbeda menampakan wujudnya di hadapanku,
seakan ingin memberitahu bahwa mereka ada di rumah itu.

"Aku di sini cuma kerja, tolong jangan menggangu, karena aku juga tidak mengganggu kalian …" Gumamku dalam hati, sambil mekangkahkan kaki menuju kamar, berjalan memasuki jalan samping rumah megah itu.
Tidak terasa sudah lima bulan aku bekerja untuk keluarga Kasran, sebagai supir di kota Jogjakarta ini. Memang sedari awal aku sudah menyadari, ada yang berbeda dengan aura di rumah ini, tapi aku tidak menyadari akan sepekat dan sekelam ini
Aku pun mulai menemukan hal-hal aneh pada diri Erika, anak dari pasangan ibu dan bapak Kasran. Setiap malam jumat, aku sering mencium bau kemenyan dari arah kamar Erika dan menemukan sesaji di belakang rumah, tapi aku tidak terlalu menghiraukannya dan memang bukan urusanku juga.
Pada suatu hari, keluarga Kasran mengadakan acara perayaan hari ulang tahun Erika, yang mereka adakan di rumah megah ini. Memang keluarga Kasran ini adalah keluarga yang bisa terbilang kaya raya.

Mbak Jum sedang sibuk di dapur menyiapkan segala kebutuhan untuk hari spesial ini.
Aku pun iseng pergi ke dapur, untuk sekedar menyeduh kopi. Pada saat itu aku melihat lima ekor ayam ingkung, ayam utuh yang dimasak dengan keadaan kedua kakinya terikat, sedang disusun di sebuah nampan yang cukup besar besar.

"Ini ayam buat apa Mbak?" Tanyaku penasaran.
"Gak tahu dek, ini permintaan non Erika …" Jawab mbak Jum sambil meletakkan ayam-ayam ingkung itu di atas nampan.

Setelah mendengar jawaban dari mbak Jum, aku segera melangkah ke luar dapur untuk menikmati secangkir kopi hitam, yang baru saja aku seduh.
Acara perayaan ulang tahun Erika berjalan dengan lancar, dan sebelum tengah malam semua teman-teman Erika sudah pulang semua. Setelah membantu membereskan sisa acara ulang tahun itu, aku kemudian segera menuju kamar untuk istirahat tidur.
Kurang lebih pukul dua dini hari aku terbangun, untuk menuju kamar mandi yang memang terpisah dari kamarku. Ketika aku berjalan menuju kamar mandi yang berada di belakang kamarku, aku melihat sebuah sosok yang sedang berjongkok membelakangiku, dan aku tahu kalau itu adalah Erika
Erika sedang berjongkok dengan kedua tangannya yang tengah memegang ayam ingkung dan dengan lahapnya memakan ayam-ayam itu. Aku pun langsung berdehem, "Ehmm …"

Tubuh Erika langsung berbalik ke arahku, sontak aku pun mundur beberapa langkah,
saat melihat wajah Erika yang kini sedang memandangku dengan sorot mata yang tajam, disertai seringaian kedua taring giginya, "Grrrr …" Dalam posisi tubuh yang tidak berubah, kemudian Erika berlari menabrakku. Aku yang terjatuh tak sempat lagi melihat kemana Erika pergi.
Ini ilmu leluhur tanah jawa, macan luwih. Ilmu ini adalah salah satu ilmu yang konon banyak dimiliki oleh prajurit kerajaan di tanah jawa jaman dahulu, atau bisa juga dimiliki oleh orang yang menganut ilmu hitam, pikirku.

Setelah kejadian malam itu, Erika tetap seperti biasanya,
tidak ada perubahan sikapnya padaku. Aku memahami bahwa pada waktu itu, Erika sedang berada dalam kendali sosok lain, yaitu macan hitam luwih, sehingga Erika tidak sadar apa yang dilakukannya dan aku pun tidak pernah membahas kejadian ini dengan siapapun.
"Wi … W … Wi ... Kesini." Pangil pak Kasran kepadaku.

"Iya, Pak …" Jawabku menghampiri Pak Kasran.

"Besok antar Bapak ke Magelang ya, mau ke rumahnya mbah kakung." Pinta pak Kasran

“Iya, Pak …“ Jawabku dibarengi dengan sebuah anggukan.
Singkat cerita, setelah kami melewati jalan yang berkelok kelok, sampai lah aku dan keluarga pak Kasran di rumah mbah kakung. Setelah bersalaman, mbah kakung memeluk Erika dan tak lama kemudian memanggilku, dan aku pun segera mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya.
Tiba-tiba saja mbah Man, begitu para tetangga memanggilnya, menatap tajam mataku, dan tak lama kemudian mbah Man berkata, "Batinmu terbuka ... Tentu kamu tahu apa yang kutanam di rumah itu, dan kamu juga tahu apa yang terjadi sama Erika sebagai penerus seluruh ilmu-ilmuku ...”
Mendengar perkataan dari mbah Man, aku hanya bisa terdiam, tanpa berbicara sepatah kata pun.

Setelah dipersilahkan masuk, aku pun diajak olehpak Kasran untuk memasuki rumah Mbah Man. Nuansa mistisnya benar-benar terasa.
Di sana terpajang lukisan-lukisan aneh, yang menempel di dinding. Keris-keris pun berjajar dengan rapih di dalam rak kayu. Di depan rumah mbah Han pun terdapat dua patung arca buta yang sedang memegang gada.
Aku pun pamit untuk menunggu di luar, sedangkan Erika, bapak dan ibu Kasran terlihat sedang berbincang-bincang dengan mbah Man. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas dari raut wajah mereka, terlihat ini adalah pembicaraan yang penting.
Setelah urusan keluarga pak Kasran selesai, tanpa berlama-lama pak Kasran pun memutuskan untuk pulang, dan kami pun kembali pulang ke Jogjakarta.

Setelah kami pulang kembali ke rumah, Erika kemudian berpamitan untuk pergi bersama temannya,
tapi tak berselang lama setelah kepergian Erika di Malam itu, Erika kembali diantarkan pulang oleh temannya dalam kondisi mengejutkan. Erika berteriak-teriak kesakitan sambil memegangi dadanya. Setelah dibawa masuk ke dalam rumah oleh kedua orang tuanya,
kondisi Erika semakin menjadi-jadi. Erika bertingkah semakin liar tak terkendali. Aku berpikir, bahwa apa yang dialami oleh Erika ini, tidak akan jauh dari perbuatan orang yang memang berniat jahat padanya.
Erika bertingkah semakin liar dan tidak terkendali ketika berada di ruang tengah, dia seakan menjelma menjadi sosok seorang jawara dan melakukan berbagai gerakan silat, beserta jurus-jurusnya.
"Wi ... Wi ... Ayo cepat, kamu dipanggil bapak." Suara mbak Jum dengan langkah tergopoh gopoh menghampiri kamar.

Aku yang baru saja selesai melaksanakan sholat dan masih dalam keadaan berkain sarung, segera melangkahkan kaki ke ruang tengah,
aku mengikuti langkah kaki mbak Jum yang berjalan di depanku. Sesampainya di ruang tengah, kini terlihat pak Kasran tengah duduk bersila bersama istrinya di hadapan Erika, mereka melakukan hal sama, kedua tangannya bergerak ke kiri dan kanan,
dan disusul dengan menghentakan kedua telapak tangannya ke arah depan. Tiba-tiba saja tiga tubuh yang berhadapan, sama-sama bergetar dan disusul terpentalnya tubuh pak Kasran dan istrinya.
"Sudah Mah, jangan dilanjutkan ... Ilmu kita belum sampai situ ..." Ucap pak Kasran sambil menoleh ke arah istrinya, dan terlihat ibu Wandra mengiyakan.

Sambil menyeka keringat yang masih bercucuran dan dengan nafas yang tersenggal-sengal,
kulihat Erika malah tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang.

Dengan terlihat kelelahan pak kasran kemudian melangkah menuju kamar dan terdengar suaranya kini sedang menelepon seseorang, dan tak lama kemudian keluar kembali dari kamar, lalu duduk dihadapan Erika, anaknya.
"Kowe iki dudu lawanku le …"
“(Kamu itu bukan lawanku le …)” Sebuah suara yang terdengar berat keluar dari mulut Erika, sambil jari telunjuknya mengarah ke wajah pak Kasran.

"Eling, Ka ... Eling ... Iki Mamah …"
“(Sadar, Ka … Sadar … Ini Mamah …)” Suara ibu Wandra panik.
Erika kembali tertawa, kemudian memalingkan wajahnya ke arah ibunya, seraya berkata,"Heh bocah Ayu ... Kamu sudah merasa hebat ya!"

Aku yang mendengar semua itu hanya bisa terdiam dan cepat-cepat melangkahkan kaki ke arah pintu gerbang,
ketika terdengar suara klakson mobil yang ingin memasuki rumah, dan dengan segera kubuka pintu gerbang, kini Nampak sebuah mobil jenis sedan memasuki halaman, dan tak lama kemudian turun seorang laki-laki paruh baya dengan memakai blangkon khas jawa,
dia terlihat terlihat tergesa-gesa memasuki rumah.

"Sopo kowe!"
“(Siap kamu!)” Bentak laki-laki paruh baya itu saat berdiri dihadapan Erika.
"Kamu mau apa? Dan jangan ikut campur!" Jawab suara dalam tubuh Erika dengan membentak balik.

Lelaki paruh baya itu tidak menjawab, tapi dia langsung bergerak menyapukan telapak tangannya ke wajah Erika, dan dalam seketika tunuh Erika pun lunglai untuk beberapa saat.
Pak Kasran pun segara beranjak dan menyalami lelaki paruh baya itu dan disusul juga oleh bu Wandra, menyalaminya.

"Terima kasih, Mbah …" Ujar pak Kasran sambil mempersilahkannya duduk.

Aku segera keluar dari ruang tengah dan berjalan menuju pendopo di halaman,
dan tak lama kemudian, lelaki paruh baya itu keluar dari pintu, kemudian berpamitan untuk pulang.

Kurang lebih sekitar 2 atau 3 jam kemudian, sepeninggal lekaki itu, Erika kembali dirasuki dan kembali menjadi liar seperti semula, bahkan kini bertingkah lebih menjadi-jadi.
Aku, mbak Jum, pak Kasran dan istrinya, kemudian berusaha untuk menenangkan Erika.

Aku mencoba untuk menenangkan Erika, mulutku pun berkomat-kamit, dan baru saja mulai aku membaca doa, bu Wandra langsung membentakku.
"Apa-apaan kamu ini Wi! Aku sama bapak aja sampai terpental, apalagi kamu, yang masih orang baru disini yang tidak tahu siapa kami!"

"Deg …" Jantungku seakan terhenti mendengar ucapan dari bu Wandra. Aku pun segera menghentikan semuanya, dan hanya terdiam mendengar ucapannya.
Dan kulihat pak Kasran mengedipkan matanya ke arahku, dan Aku paham, hanya diam dan menundukan kepala.

Beberapa lama kemudian orang paruh baya itu datang kembali, dan disambut oleh pak Kasran yang memang menunggunya di kursi depan rumah,
sementara Erika telah dikurung di dalam kamar, karena takut amukannya membahayakan keselamatan semuanya.

Aku dipanggil oleh mbak Jum dan kembali memasuki rumah megah itu, secara tak sengaja aku mendengar pak Kasran memanggil nama orang paruh baya itu dengan sebutan “mbah Dirgo”.
Aku kini menyaksikan kondisi kamar Erika yang berantakan, dan terlihat berbagai benda-benda mistik yang tertata rapih diatas lemari, dan di kamar ini juga sudah berkumpul semuanya.
Mbah Dirgo kembali membentak, "Kamu bandel ya, dan berani datang lagi sekarang !!" Sambil kembali menyapu wajah Erika, tapi kali ini Erika memalingkan wajahnya dan mundur menghindari, dan dengan cepat memasang kuda-kuda.
"Oh, kamu mau main-main ya sama saya!" Bentak mbah Dirgo sambil tidak kalah cepat memasang kuda-kudanya.

Tak lama kemudian dua tenaga dalam saling beradu, dan kini terdengar suara seperti letupan, berbarengan dengan terjejernya kaki mbah Dirgo,
terdoroong mundur beberapa langkah ke belakang. Kali ini Erika berkacak pinggang, disertai keluarnya sebuah suara yang mirip dengan suara seorang nenek-nenek.

Aku hanya diam menyaksikan semua yang terjadi,
meski aku tahu kalau sosok yang memasuki tubuh Erika pada saat ini, tenaga dalamnya jauh berada di atas mbah Dirgo.

Kali ini mbah Dirgo mencabut keris yang berada, dibalik punggungnya yang sudah dipersiapkan sesaat sebelum memasuki kamar Erika,
dan sesaat kemudian mulutnya berkomat-kamit, disusul dengan gerakan tangannya yang menyabetkan keris ke arah kiri dan kanan, seakan terlihat tengah bertarung dengan seseorang yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Sementara Erika hanya berdiam diri dan sesekali tertawa, hingga pada akhirnya terdengar sebuah teriakan dari mulut Erika, "Aaaachhhh!!!" dan susul oleh tubuhnya yang ambruk di atas kasur, tak sadarkan diri. Dan selama dua hari dua malam, keadaan Erika masih seperti itu,
Erika akan sadar dan kemudian kambuh kembali, hingga akhirnya aku pun disuruh oleh pak Kasran untuk menjemput mbah kakungnya Erika di Magelang.

Sesampainya di Magelang, kulihat mbah Man seakan sudah tahu bahwa akan ada yang datang untuk menjemputnya,
semua terlihat dari penampilan mbah Man yang sudah rapih dengan pakaian khas seorang spritual, pakaian serba hitam dan blangkon khas jawa, dan juga beberapa tas yang sudah berada di teras depan.
Aku pun segera turun dan menyalami serta mencium tangannya, disusul dengan membukakan pintu mobil serta memasukan tas--tas milik mbah Man. Terlihat mbah Man berjalan sambil membawa sebuah tongkat yang sangat unik dari akar pohon dan tercium wangi sekali.
Setelah duduk di kursi belakang, mbah Man kemudian berbicara, "Pasukanku dibuat kalang kabut, sudah saatnya aku turun tangan …"

Aku menganggukan kepala dan lewat kaca spion di atas stir mobil, aku melihat seuntai kalung berbandulkan sebuah batu berwarna hijau
dan sangat jelas terlihat bermotif wajah seorang perempuan bermahkota dengan pakaian hijaunya, sama persis dengan sebuah lukisan yang kulihat terpajang di ruang tengah rumah pak Kasran.
"Ndak usah memperhatikan kalungku Wi, lihat saja ke jalan …" Ujar mbah Man mengingatkanku, dam aku pun segera mengalihkan pandanganku ke arah depan.

Setelah menempuh perjalanan, sampailah kami di rumah kediaman pak Kasran,
dan aku segera turun dari mobil untuk membukakan pintu buat mbah Man, serta membawa semua barang-barangmya masuk ke dalam rumah.

"Ngopo Ndo ..." Suara mbah Man saat melihat Erika yang berlaku seperti di luar kesadarannya
Erika yang mendengar suara itu, kemudian melihat ke arah mbah Man dan mengangkat kepalanya seraya berbertolak pinggang.

"Mau apa kamu kesini, hah!" bentuk sosok yang berada dalam tubuh Erika.
Mbah Man hanya tersenyum seraya berkata, "Berani ya kamu sama aku" Jawab mbah Man dengan tenang, sambil hendak mengusap wajah Erika.

Melihat itu, Erika kemudian mundur beberapa Langkah sambil mencoba untuk menutupi wajahnya dan berteriak, "Pergi ! Pergi ! Pergi kamu dari sini!!"
"Kamu yang harus pergi dan keluar dari tubuh cucuku ini!" Jawab mbah Man, sambil terus berjalan mendekati cucunya itu.

Erika terus mundur dan tersudut di pojok lemari, dan dengan cepat tangan mbah Man, meraih wajah Erika,
kemudian ia mengusapnya, dan tubuh Erika kembali lunglai.

"Le … Ndo … Sini ... Romo mau kasih tahu sesuatu …" Ujar mbah Man memanggil anak dan menantunya di kursi tamu teras depan.
Bapak dan ibu Kasran pun datang menghampiri mbah Man. Mbah Man pun bercerita kalau cucunya itu, telah di guna-gunai oleh seseorang.

"Kalau boleh tahu, siapa yang melakukan semua ini, Romo" Tanya pak Kasran.
Mbah Man menarik nafasnya dalam-dalam dan segera menjawab, "Ini bukan datang dari satu orang, tapi beberapa orang ... Ada yang datang dari orang yang sakit hati karena di tolak cintanya sama Erika, dan ada juga yang sengaja di kirim karena kalah bersaing dengan Erika,
lalu ada kiriman lain juga yang nyasar ..."

"Maksud dari kiriman yang nyasar itu apa, Romo?" Kali ini bu giliran ibu Wandra yang bertanya.

"Orang yang kupindahkan saat ingin menggantikan posisi pekerjaanmu Ndo, dia sepertinya tidak terima dan membalas,
hanya saja Erika yang kena, bukan kamu …" Jelas mbah Man.

"Jadi gimana solusinya Romo?" Tanya kembali ibu Wandra.

"Biarkan saja itu menjadi urusan Romomu, Harjo simo dilogo … " Jawab mbah Man, sambil menyebut nama lengkapnya.
"Erika gak akan apa-apa kan, Romo?" Lanjut ibu Wandra dengan wajah yang terlihat khawatir.

"Ndo ... Ndo ... Kamu itu meragukan Romomu ya? Apa kamu gak tahu siapa Romomu ini …" Jawab mbah Man sombong, sambil menepuk dadanya.
"Iya Romo, saya paham" Jawabnya sambil menundukan kepala.

"Satu hal yang kalian harus tahu, ilmu yang dikirimkan termasuk dalam ilmu santet ‘pring sedapur’, yg bertujuan untuk menumpas kalian sekeluarga sampai binasa! Bahkan orang-orang yg berada di rumah ini bisa kena imbasnya,
meskipun mereka bukanlah target dari ilmu santet ini ... Termasuk pembantu dan supirmu itu, siapa itu namanya, mbah lupa … "Jelas mbah Man sambil meraih secangkir teh yang tersaji di atas meja.
"Ooo itu, namanya Wijaya, Romo, tapi Ayu biasa manggilnya Wi …" Jawab ibu Wandra, yang ternyata nama panjangnya adalah Ayu Wandra.

Siang itu aku mengantar mbak Jum dan bu Wandra ke pasar terbesar di kota Jogja,
untuk sekedar berbelanja kebutuhan dan beberapa hal yang memang dipesan oleh mbah kakung, hingga sampai kembali pulang ke rumah.

Setelah selesai sholat magrib, aku terbiasa membaca surah yasin, dan belum selesai aku membacanya, tiba-tiba aku mendengar sesuatu yang berdentum ,
suara itu terdengar di tanah kosong bagian belakang rumah, mbak Jum pun kemudian menghampiriku di kamar.

"Dek Wi ... Kalau mau kopi bikin sendiri ya. Mbak gak enak badan … Tiba-tiba tubuh mbak kerasa meriang,
sama punggung ini tiba-tiba gak tahu kenapa kerasa gatal banget …" Ujar mbak Jum sambil menggosok-gosokan punggungnya pada tembok kamar.
"Aduh ... Dek Wi, ini kok rasanya semakin gatal ya, dan sekarang tubuh mbak kerasa panas banget" Sambung mbak Jum

“Coba mbak dikasih balsam, mungkin kena ulat bulu itu …" Jawabku singka

"Iya deh, nanti mbak coba ..." Ucap mbak Jum sambil melangkah dan masuk ke dalam kamarnya.
Oh ya, ‘Pring sedapur’ dalam bahasa jawa diibaratkan sebagai bagian dari pohon bamboo, dan biasanya dalam pohon bambu ini terdapat duri-duri halus kecil yang berwarna hitam, yang melekat pada bagian daun paling bawah.
Duri-duri halus ini yang kadang kala dijadikan media untuk mengirimkan penyakit. Sifat duri yang halus tapi mematikan dan sangat sulit dicabut bila sudah menusuk daging, atau terkena jari tangan kita
dan tak jarang malah patah menyisakan ujung yang lancip dalam tempat yang tertusuk.

Reaksi dari santet pring sedapur ini cukup cepat, apalagi bagi orang-orang yang jauh dari Tuhan, saat terkena santet pring sedapur ini.
Dan semua terjadi pada diri mbak Jum. Sesaat setelah terdengar dentuman suara di belakang rumah, meski mbak Jum bukan targetnya, tapi tetap terkena imbas dari santet pring sedapur ini. Semakin kuat orang yang mengirimkannya,
maka semakin besar dan semakin cepat pula reaksi dan kekuatannya.Aku segera keluar dari kamar dan melangkah menuju dapur untuk menyeduh kopi, lalu terdengar suara bu Wandra yang sedang memanggil mbak Jum, untuk minta dibuatkan secangkir kopi pahit dan teh manis.
Aku mengatakan bahwa mbak Jum sedang tidak enak badan, "Biar saya saja Bu yang membuatkannya …" Aku menawarkan diri kepada bu Wandra, dan dia mengiyakan, serta memintaku untuk mengantarnya ke lantai atas, ke kamarnya mbah Man.
Dua cangkir dalam nampan. Aku membawanya melangkah menaiki satu persatu anak tangga sampai tiba di depan pintu kamar mbah Man, lalu mengetuknya dan terdengar suara dari dalam untuk menyuruhku memasuki kamar.
Di dalam kamar aku melihat sebuah tampah yang terbuat dari anyaman bambu yang berisi sesaji. Asap dari pembakaran arang mengepul di udara, disertai oleh asap yang berwarna hitam dan putih, yg juga mengepul setelah jemari tangan mbah Man menaburkan bubuk kemenyan di atas bara api.
"Taro disini Wi …" Ucap mbah Man sambil menunjuk sebuah tempat kosong di depan kelapa muda dalam tampah besar.

Di sebelah tampah sesaji, aku juga melihat sebuah tampah lainnya, yang diisi dengan beberapa ekor ayam ingkung,
dan setelah aku menaruh cangkir di tempat yang ditunjuk oleh mbah Man, aku segera keluar dan menutup pintu kamarnya, seraya melihat ke arah balkon. Tiba-tiba saja darahku seakan berhenti,
ketika kulihat sebuah sosok nenek-nenek yang memakai kamben dengan tusuk konde di rambutnya, tengah menatapku dari balik jendela. Bibir dan giginya terlihat merah oleh susur dan terlihat tangannya sedang memainkan susur dari mulutnya.
Sorot matanya sangat tajam, seakan ingin menguliti tubuhku.

"Aku tidak menggangumu, kenapa sorot matamu, seperti itu …" Ucapku dalam batin, mencoba untuk mengajaknya berkomunikasi.
"Aku tidak senang dengan kehadiranmu! Kau membuat suasana rumah ini terasa panas bagiku …" Jawab sosok nenek itu.

"Sebaiknya kamu segera tinggalkan rumah ini!" Seru sosok itu.
Aku yang paham kemudian segera berucap, "Aku disini hanya bekerja untuk hidupku. Apakah kamu bisa mencukupi kebutuhanku kalau aku pergi dari rumah ini?" Jawabku balik bertanya.
"Itu hidupmu ... Urusanmu …" Jawab kembali sosok itu.

"Selama tuan rumah tidak memberhentikanku, aku akan tetap bekerja disini …"

"Kehadiranmu menggangguku, bocah!" Seru sosok itu.

Aku tidak ingin memperpanjang komunikasi kami,
dan aku pun membalikkan badan dan langsung turun dari lantai atas untuk kembali menuju kamarku. Sesampainya aku di kamar, aku melihat pintu kamar mbak Jum terbuka, dan mbak Jum sendiri dalam kondisi baju bagian atasnya terbuka,
memperlihatkan punggungnya yang terlihat seperti orang yang terkena penyakit campak dalam keadaan bengkak-bengkak di belakang punggungnya. Segera aku berdehem, dan denga cepat tangan mbak Jum meraih kain jarik untuk menutup bagian atas tubuhnya.
"Dek Wi ... Kok aku bisa sampai begini ..." Tanya mbak Jum keheranan sambil memperlihatkan kaki dan tangannya yang juga terlihat membengkak.

"Mbak banyak beristigfar saja ya … " Jawabku singkat.
"Aku gak bisa istighfar Dek Wi ..." Ujar mbak Jum sambil mengambil dompetnya dan menyodorkan ktp miliknya.

Aku segera meraih dan membaca tulisan yang tertera di dalam KTP tersebut.

"Oh, pantasan ga bisa ngucapin istigfar ..."
Setelah tahu berbeda keyakinan, aku pun meminta mbak Jum untuk berdoa sesuai keyakinannya.

"Mbak bisa berdoa sesuai keyakinan mbak, toh Tuhan tetap sayang sama hambaNya dan pasti menolong hambaNya" Ucapku.
Mbak Jum pun menggangguk dan berdoa dengan keyakinannya, " … Semoga semua mahluk berbahagia …" Salah satu kalimat yang terdengar olehku ketika diucapkan oleh mbak Jum.
Aku segera pergi ke dapur untuk mengambil air putih dan kubacakan beberapa potong ayat dari keyakinanku, kemudian memberikannya kepada mbak Jum, dengan harapan, apa yang sedang dialaminya sekarang bisa mereda dan hilang.
Malam ini aku merasakan sebuah sebuah keadaan yang familiar, keadaan yang pernah aku alami dahulu. Keadaan dimana hawa di sekitarku terasa panas tidak karuan. Hawa panas seperti yang mirip ketika aku berhadapan dengan tiga buah bola api,
saat menyelematkan Aini, istriku lebih dari 20 tahun yang lalu. Pada saat itu aku memang bisa menyelamatkan Aini dari santet bunga bangkai sepasang, tapi pada akhirnya, Aini dipanggil Yang Maha Kuasa pada akhir tahun 1999.
Dia divonis menderita kanker rahim stadium akhir. (Kisah Guna-guna Sang Mantan)

Betul-betul sama, kondisi pada malam itu dan malam ini. Bau kemenyan yang santer menusuk hidungku, datang dari arah lantai dua. Sudut mataku melihat sepasang mata yg terlihat terang dari atap rumah.
Sebuah sosok hitam seakan tengah berjaga di atas genting rumah, dia menyerupai seekor macan kumbang hitam dengan ukuran yang luar biasa besarnya sedang mengaum di atas atap.
Macan kumbang peliharaannya mbah Man, kini sudah siap dan sedang bersiap siaga, disusul oleh sosok lain, yaitu sebuah sosok hitam tinggi besar, dan sosok nenek-nenek yang memakai tusuk konde tengah menjuntai kaki sambil memainkan susurnya.
"Apakah mereka tengah menanti serangan atau akan menyerang? Ahh ... Itu urusan mereka, aku mending tidur saja …" Gumamku dalam hati.

Aku pun melangkahkan kaki untuk memasuki kamar, tapi tidak lama kemudian aku seakan mendengar sebuah dentuman yang keras
dan merasa bahwa ada dua kekuatan yang kini sedang beradu, kurasakan kini kamarku bergetar karena benturan dua kekuatan itu, aku pun langsung menjaga diriku dengan membaca ayat Qursi dan surah Alkafirun, hingga akhirnya aku terlelap tidur.
Keesokan harinya setelah mengantar bapak dan ibu ke kantor, aku langsung disuruh untuk segera kembali ke rumah, agar bisa menemani mbah Man, dan setelah berada di rumah, kulihat mbah Man sedang duduk di pendopo, di bawah pohon mangga yang rindang,
dan kulihat mbah Man melambaikan tangannya ke arahku. Aku pun segera menghampirinya.

"Bagaimana Mbah keadaan Erika?" Tanyaku membuka obrolan.

"Berat Wi ..." Jawab mbah Man singkat sambil menarik napasnya panjang.
"Berat gimana Mbah maksudnya?” Tanyaku kembali penasaran.

"Dukun-dukun itu gak sembarangan Wi. Aku terlalu menggap enteng mereka, dan ternyata aku gak sanggup buat untuk menyembuhkan cucuku. Sebetulnya dari semua santet yang ada di tubuh Erika,
yang paling berat adalah santet yang datang dari arah gunung lawu ..." Jelas mbah Man, sambil menyebutkan sebuah daerah di kaki gunung lawu yang tidak bisa aku sebutkan detailnya.
"Sebenarnya santet ini ingin membuat ibunya Erika menjadi gila, tapi yang kena malah Erika, karena pada saat itu Erika mencoba untuk menghalanginya …" Lanjut kembali mbah Man.
Oh, pantas saja beberapa saat sebelum kejadian yang menjadikan Erika seperti sekarang ini, aku sering melihat Erika melakukan ritual-ritual, dan beberapa sesaji juga sering aku temukan di belakang rumah.
"Walaupun Erika sudah belajar hal-hal seperti ini sedari kecil, karena memang aku mengajarkannya langsung, tapi tetap saja Erika belum matang dalam hal seperti ini, tentu saja menjadi sasaran yang empuk bagi lawannya,
meski aku telah menyuruh macan luwing untuk menjaganya, tetap saja kewalahan …" Jelas mbah Man.

Aku pun mulai sedikit paham dengan apa yang terjadi kepada Erika. Sebetulnya bukan hanya kondisi yang disebutkan mbah Man saja yang menjadikan Erika seperti ini,
tetapi juga kondisi keluarga pak Kasran secara keseluruhan.

Selama aku bekerja di rumah pak kasran, tidak pernah sekalipun aku melihat satu pun dari anggota keluarga ini beribadah, bahkan terlihat jauh dari Tuhan dan cenderung lebih meyakini tentang hal-hal yang berbau mistis.
Bahkan pernah pada suatu waktu, ketika aku selesai melaksanakan sholat subuh, kemudian aku membaca surah Yasin, tiba-tiba saja ibu Wandra mendatangiku dan memintaku untuk membacanya dalam hati saja,
karena katanya, dia merasakan panas di kupingnya, tidak jauh dengan pak Kasran dan Erika, kecuali Sinta.

Sinta ini adalah anak pak Kasran yang paling kecil, dia adiknya Erika, dan Sinta sendiri sering menanyaiku pertanyaan-pertanyaan seputar agama,
terlihat dari raut wajahnya rasa penasaran dan ketertarikan yang tinggi untuk mengetahuinya, dan aku pun mencoba menjawab dan mengarahkannya sebisaku.
Pada suatu hari sinta pernah bertanya kepadaku, "Om bisa menjelaskan di mana adanya nyawa? Dan di mana adanya Allah?"

Aku tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sinta, "Nyawa itu berada di setiap makhluk hidup, sebagaimana diterangkan dalam ajaran kita.
Allah itu Maha Besar, kalau Sinta naik gunung dan berada di atas ketinggian lihatlah Gedung-gedung terlihat begitu kecil, bahkan diri kita juga sangat kecil.
Gunung yang besar Allah ciptakan, maka sesungguhnya Allah itu Maha Besar" Jelasku menjawab sebisa mungkin, agar bisa dipahami oleh Sinta.
"Om Wi percaya gak dengan adanya santet, dan bagaimana cara menyembuhkan orang yang kena santet?" Sinta kembali bertanya dengan wajah yang terlihat antusias.

Bersambung part 2 ...

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with Pusara Waktu

Pusara Waktu Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @pusara_waktu

Aug 4, 2022
SEWU NDAS - TUMBAL SERIBU KEPALA
BAB.IV : Tumbal Pertama

@IDN_Horor

@bacahorror

#bacahorror #horor #KISAHNYATA Image
***
Satu jam lebih riuh suara kebahagiaan di dalam Barak menggema, sebelum malam memasuki kata larut. Lantaran kedatangan Dasio beserta keluarga kecilnya, menjadi satu obat tersendiri bagi Kisman, Nanang dan beberapa teman yang lainnya.
Read 398 tweets
Jul 19, 2022
SEWU NDAS - TUMBAL SERIBU KEPALA
BAB.III : Keluarga Yang Terusir

@IDN_Horor @bacahorror
#bacahorror #horor #KISAHNYATA
Yuk Lajut lagi~
...

Kegusaran begitu dirasa menusuk relung batin Dasio, setelah tahu siapa sosok Sanusi sebenarnya. Bayang-bayang kematian pun tetiba menghimpit pikiran, bersama dengan kengerian-kengeriannya.
Read 150 tweets
Jun 17, 2022
SEWU NDAS - TUMBAL SERIBU KEPALA

- HOROR THREAD -

Sebuah kisah kelam berdasarkan kejadian nyata. Terjadi di tahun 80an, bahkan sampai sekarang.

@menghorror @issssss___ @autojerit @Penikmathorror @ceritaht @IDN_Horor @bacahorror

#bacahoror #penikmathoror #horor #KISAHNYATA Image
DILARANG KERAS MEMBAGKAN KISAH INI DALAM BENTUK APAPUN DI LUAR TWITTER, TANPA SE-IZIN PENULIS!
Hola PWers~
Sambil menunggu rame, boleh minta retweet dan likenya dulu?

Terima kasih :)
Read 641 tweets
Jun 13, 2022
"DILARANG MENYEBARKAN KISAH INI DALAM BENTUK APAPUN, TANPA SEIZIN PENULIS!"
Yuk kita mulai berkisah lagi, PWers~
Read 83 tweets
Jun 9, 2022
Sebelum aku menceritakan kisah ini, aku ingin meminta maaf bukan maksudku untuk membongkar aib orang yang sudah meninggal,
tapi tujuanku menceritakan kembali kisah ini adalah supaya kalian yang membaca kisahku ini bisa mengambil pelajaran dari Almarhum, khususnya untuk kaum Laki-Laki.
Read 73 tweets
May 26, 2022
JAREK TANGKUP
(Tolakan Pengundang Bala)

- HOROR THREAD -

@issssss___
@autojerit
@Penikmathorror
@ceritaht
@IDN_Horor

#horor #kisahnyata #bacahoror Image
Hallo PWers~
Kita mulai berkisah lagi ya :D

Oh ya sebelumnya, kisah ini akan sedikit slow updatenya, bahkan malam ini pun, baru sebatas teaser dulu sampai agak senggang waktuna nanti :D

Yuk langsung mulai~
"Sampeyan wes roh, Yu. Kang Sakir muleh?" (Kamu sudah tau, Yu. Kang Sakir pulang?)

"Sopo seng ngabari?" (Siapa yang memberi tau?) Ucap Menik, seorang wanita berumur 43 tahunan, balik bertanya kepada Asti, tetangganya.
Read 81 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us!

:(