gil Profile picture
Jun 3 132 tweets 21 min read
[HORROR STORY]

-- JEDING --

@bacahorror @IDN_Horor #bacahorror #idnhorror Image
Tanpa banyak spoiler Sila tinggalkan Like dan RTnya terlebih dahulu di utas ini sebanyak-banyaknya.. :))
Suara air yang seakan mengguyur tubuh beriring dengan suara nyanyian lagu Yang menyala dari pemutar piringan hitam, Terdengar oleh telinga Marlina, ia yang tengah membaca buku sejenak terhenti, mencermati suara dari kamar mandi di jam 9 malam itu.
"Tumben si Bibi mandi di kamar mandi itu". Batin Marlina seraya mengintip dari celah di pintu kamarnya, ia Mengira kalau itu adalah si Bibi, pembantu rumahnya, kerena biasanya Si Bibi selalu menggunakan kamar mandi belakang.
"Bi.... Bibi...". Ucap Marlina dengan sedikit berteriak ke arah kamar mandi itu. Sekali lagi ia masih yakin kalau itu adalah Bibi, karena memang dirumah hanya ada ia dan Bibi, karena Ayah dan Ibunya sedang pergi ke luar kota.
"Bi..... Bibi...". Teriak Marlina lagi sambil mematikan pemutar piringan hitamnya dan berjalan keluar mendekati kamar mandi itu.

"Bibi di dalam ya?". Ucap Marlina sekali lagi, namun tak ada jawaban, meski suara orang yang seperti tengah mandi itu masih terdengar.
Tak mau ambil pusing, Marlina pun kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan lagi kegiatannya. Hingga selang beberapa detik kemudian, pintu kamarnya pun di ketuk.

"Tok..tok..tok, Mbak, ini ronde nya". Suara Bibi terdengar di balik pintu.

Bergegas Marlina membukanya dan--
--disini ia baru ingat kalau Bibi baru saja keluar ke warung ronde depan.

"Lhoh.. Bibi dari tadi?". Tanya Marlina keheranan.

" Barusan aja kok mbak, Baru aja dateng soalnya warung rondenya lagi rame.. Jadinya antre". Jawab Bibi Seraya memberikan mangkuk beserta bungkusan--
--plastik berisi wedang ronde tersebut dan pergi ke belakang.

Sejenak otak Marlina memproses itu semua dan ia pun langsung menyusul Bibi ke ruang belakang.

"Bibi tadi mandi di kamar mandi depan ya?". Tanya Marlina.

" Ndak, mbak, malem-malem gini kok mandi, lagian mana--
--pernah saya mandi di kamar mandi ibu". Jawab sang Bibi seraya melepaskan ikatan kacang panjang untuk masak esok hari.

Marlina hanya terdiam mendengar jawaban si Bibi dan berjalan kembali menuju kamarnya, sambil berfikir apa tadi ia salah dengar?.
Tampaknya Marlina tak mau berfikir lebih jauh dan menganggap kejadian tadi hanyalah ilusinya belaka.

Dan Sekira pukul 10 malam, setelah ia lelah membaca buku, Marlina pun tidur dan singkat cerita keesokan harinya.
"Ibu sama Bapak pulang kapan Mbak?". Tanya Bibi kepada Marlina yang sama-sama tengah sarapan di atas meja makan.

" Ndak tahu pasti sih Bi, kemungkinan besok kalau ndak ya lusa, soalnya kan Mbah Kakung lagi sakit, dianya ndak mau makan tuh kalau ndak ada ibu..". Jawab Marlina.
"Eh Semalam aku kayak dengar suara orang mandi Bi, di kamar mandi depan!!". Kata Marlina yang seketika mengubah topik pembicaraan.

" Hah, semalam? Jam berapa itu mbak?". Jawab Bibi.

"Ya jam 9an itu, waktu Bibi ke warung depan beli wedang ronde". Ucap Marlina.
"Oh yang Mbak Lina tanyakan semalam ya?, apa iya mbak? Mungkin Mbak Lina salah dengar kali". Ucap Bibi.

" Ehmmm, tapi jelas banget kok suaranya, ehmmm tapi ndak tau juga sih, bisa jadi aku salah dengar aja ya Bi". Ungkap Marlina.
Singkat cerita setelah selesai sarapan, Marlina pun mandi dan kembali masuk ke kamarnya. Memang beginilah kegiatannya setelah lulus SMA, sekitar 2 bulan yang lalu. Ia masih bingung antara kuliah untuk mengejar cita-citanya menjadi Guru, atau langsung bekerja ikut--
--di Bisnis kayu milik ayahnya.

Pagi itu, seperti biasanya Marlina akan membunuh waktu dengan cara membaca, entah koran, novel atau pun majalah. Kejadian semalam pun juga sudah tak ia pikirkan. Marlina menganggapnya hanya salah dengar saja. Hingga ada bau wangi yang tercium.
Masuk dan berkutat di ruangan kamarnya. Bau seperti parfum yang Marlina rasa cukup familiar namun ia tak berhasil mengingat Bau milik siapa itu.

Marlina yang tadinya merebah, kini mulai bangkit dan mencari dari mana sumber bau itu berasal.
Ia mengendus di setiap sudut kamarnya. Bau itu terus bergeser!!!! Dan perlahan menuntun Marlina untuk keluar dari kamarnya. benar saja! di luar ruangan, bau itu semakin kuat dan bersamaan dengan itu.

"Byurrrr....Byurrrr..Byur..."

Suara orang beraktifitas fi dalam kamar--
--mandi itu terdengar lagi. Seketika Marlina langsung menoleh ke arah kamar mandi itu, dan berjalan perlahan ke arahnya sampai ia sadar kalau semakin ia dekat dengan kamar mandi itu, bau wangi ini semakin kuat.
Hingga sampailah ia di depan kamar mandi itu, bersamaan dengan suara dan bau yang masih ada.

Dan dalam waktu yang sama, Marlina juga sempat melihat Bibi yang tengah berlalu-lalang di dapur melakukan sesuatu.
"Jadi siapa ini yang ada di kamar mandi??". Batin Marlina yang kini berdiri di depan pintunya.

Langit masih terang, bahkan bisa dikatakan itu masih Pagi. Dengan keadaan itu Ia pun tentu masih punya banyak keberanian.
Dan dengan tanpa aba-aba. Marlina pun langsung membuka pintu kamar mandi itu.

"Hayoooooo!!!!!!!!". Kata Marlina sambil membuka pintu untuk memeriksa siapa yang ada di dalamnya.
Namun, tak ada siapapun di kamar mandi itu, begitu juga dengan suara air dan bau wangi yang tiba-tiba saja lenyap.

Seketika Marlina tentu Bergidik ngeri, ia yang kini takut pun langsung membalikkan badannya dan hendak berjalan cepat menuju kamarnya.
Namun, baru sekira mungkin 2 kali ia melangkah, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang yang memanggilnya dan dengan jelas suara itu berkata :

" Marlenaaaaaaa...".

Suaranya lirih namun mendengung sangat jelas. Marlina yang langkahnya sempat terhenti kini berteriak dan--
--berlari menuju kamarnya. Suara perempuan misterius yang terdengar di jam 9 pagi itu tentu merusak nalar Marlina!!

Bibi yang tadi mendengar teriakan Marlina, langsung datang menghampiri.

"Ada apa mbak!! Ada apa!!". Tanya Bibi dengan nada terburu.
"Ada orang di kamar mandi depan Bi!!, ada orang!!!, setan mungkin". Ucap Marlina terbata ketakutan.

Mendengar itu Bibi pun langsung memeriksa kamar mandi itu, di ikuti oleh Marlina di belakangkanya.

Bibi masuk dan memeriksa di setiap sisi dan langit-langitnya--
--dengan Marlina yang tampak menunggu di luar kamar mandi.

"Mana? Ndak ada siapa-siapa kok Mbak?". Kata si Bibi.

" Tapi....."

---Bersambung---
"Tapi tadi ada suara Bi!!!". Kata Marlina.

" Sudah mbak, ndak papa, Bibi ke dapur dulu, masih ada kerjaan". Ucap Bibi sambil beranjak keluar dari kamar mandi dan mengajak Marlina kembali ke kamarnya.

Bibi pun kembali ke dapur dan Marlina sekarang ada di dalam kamarnya--
--menggaruk-nggaruk kepalanya, mencoba mencerna kejadian itu.

"Setan macam apa, keluar pagi-pagi gini!!". Ucap Marlina dalam batinnya yang terus berharap semua ini hanyalah ilusi belaka.
Singkat cerita Hari itu pun berjalan dengan sewajarnya. Marlina mencoba untuk tidak memikirkannya hingga malam pun tiba.

Terjadi lagi percakapan kosong di atas meja makan antara Marlina dan si Bibi.

"Yang tadi itu, emang Mbak Lina beneran yakin ada suara di kamar mandi?".--
--tanya Bibi kepada Marlina yang sedang menyuap nasi kedalam mulutnya itu.

"Udahlah Bi... Ndak usah di bahas, akunya jadi takut". Jawab Marlina yang tampaknya masih enggan membahas kejadian itu.
"Oh ya Mbak.. Maafkan saya". Jawab Si Bibi.

Sejenak mereka terdiam melanjutkan kegiatan makannya itu. Namun tak selang beberapa lama, justru Marlina lah yang mulai membuka Topik itu kembali.
"Bi, Bibi ngerasa ndak sih, ada yang aneh dari rumah ini, belakangan ini?". Ucap Marlina.

" Aneh, gimana Mbak?". Jawab Bibi.

"Ya aneh aja, ndak tau juga, tapi aneh gitu lah". Sahut Marlina.

" Bibi pernah ngalamin hal yang aneh ndak? Di rumah ini?". Kata Marlina lagi.
"Katanya ndak usah di bahas??". Jawab Bibi dengan nada bercanda.

Namun belum sempat Marlina menanggapinya, tiba-tiba ada sesuatu yang tercium oleh mereka.

Ya!! bau parfum yang tadi pagi menuntun Marlina menuju kamar mandi itu.
"Hsssppppp.. Nyium bau wangi ndak Bi?". Tanya Rina sambil hidungnya mengendus.

Bibi terdiam sejenak, lalu mengiyakannya.

" Iya Mbak, ini bau minyak wangi". Jawab Bibi dengan ekspresi yang sama dengan Marlina.
"Sek..sek..sek.. Sepertinya saya kenal dengan bau ini mbak". Kata Bibi sedikit membisik.

" Iya, aku juga kayak ndak asing!! Tapi bau siapa ya Bi?". Tanya Marlina yang kini mulai menelungkup agak merasa takut.

Terlihat Bibi tampak sejenak berfikir, mengingat-ingat--
--Bau parfum itu. Dan tak selang beberapa lama kemudian Bibi yang tampaknya mulai ingat pun berkata.

"Maaf ya mbak, ini kok seperti minyak wanginya Bulik Narti". Ucap Bibi membisik sedikit menundukan badannya.
Dan disinipun Marlina baru sadar, ingatannya mulai kembali mendengar kata Bibi barusan.

Marlina kini benar-benar ingat bau minyak wangi itu, adalah milik Bulik Narti, adik ayahnya yang baru meninggal sekitar 2 bulan yang lalu.
Dan disini Marlina juga mulai menyadari bahwa suara yang memanggilnya saat dikamar mandi pagi tadi adalah suara dari Bulik Narti.

Rasa takut mulai terbangung di antara Bibi dan Marlina di atas meja makan itu.

Mereka kini tampak saling pandang tanpa kata, seakan tak tau harus--
--berbuat apa, sementara bau wangi parfum itu kini semakin menyengat mengitari ruang makan.

Dan bersamaan dengan itu, tiba-tiba lampu mulai terang redup, menambah suasa mencekam di malam yang sebenarnya belum terlalu larut itu.
"Ayo kita ke ruang depan aja mbak". Ucap Bibi yang bangkit dari tempat duduknya.

Merekapun bergegas menuju ruang depan dan duduk disana untuk mengurangi rasa takut mereka itu.
Entah berapa lama mereka duduk saling diam di ruang tamu, yang jelas bau wangi itu kini seakan mengikutinya di ruang tamu. Membuat Marlina yang merasa tak nyaman, kini mengajak Bibi untuk keluar dari rumah ini.

"Kita ke warung ronde aja yuk Bi". Kata Marlina sambik berdiri.
Bibi pun mengiyakannya, dan bergegaslah mereka keluar dari rumah itu. Dengan sedikit terburu-buru. Tapi ketika Bibi hendak menutup pintu depan dan meninggalkan rumah, tiba-tiba..

"Byuuuurrrr...byurrrr....byurrrr". Muncul suara aktifitas dari kamar mandi itu. Samar-samar--
--terdengar dari teras depan rumah, Bibi dan Marlina yang mendengar itu sempat terhenti sejenak.

"Nahhh...beneran to Bi". Kata Marlina.

Buru-buru Bibi langsung mengunci pintu dan merekapun segera beranjak menuju warung ronde di pinggir jalan.
"Apa bener itu Bulik Narti ya bi?". Tanya Marlina di perjalanan mereka yang tampak gelisah dan agak tergesa-gesa.

" Ndak tau ya mbak, sudah ndak usah di pikir, menurut agama, orang meninggal itu ndak mungkin kembali jadi hantu". Kata Bibi menenangkan Marlina.
"Ehhh..ehhh.. Tapi Bi, dulu kan Bulik lantaran sakitnya kan gegara jatuh kepleset di kamar mandi itu!!!". Ungkap Marlina mencoba menghubung-hubungkan hal itu.

Hingga beberapa saat kemudian, sampailah mereka di warung ronde ujung jalan.
Sengaja mereka memilih bangku lesehan paling pojok, untuk menghindari keramaian di warung itu. Sekaligus untuk menenangkan nalarnya setelah kejadian tadi.

Tentu tetap terjadi obrolan diantara Bibi dan Marlina yang mana topiknya masih seputaran kejadian dirumah tadi.
Dengan pembicaraan yang mengalir hingga mau tak mau obrolan tentang Bulik Narti pun terbahas di perbincangan itu.

Bulik Narti adalah adik kandung dari Ayah Marlina, beliau adalah anak kesayangan dari orang tuanya (kakek nenek Marlina). Bukan karena pilih kasih, tapi memang--
--karena keadaan beliau yang mempunyai keterbelakangan mental. Mungkin karena itu juga Bulik Narti tak pernah Menikah apa lagi mempunyai keturunan.

Ayah Marlina adalah satu dari beberapa banyak orang yang sangat menyayangi bulik Narti, maka dari itu sejak Mbah Putri--
--Meninggal, Ayah Marlina memboyong Bulik Narti kerumah dengan maksut untuk merawatnya.

& sekira sudah 2-3 tahun berjalan, satu insiden pun terjadi, Bulik Narti terpleset di kamar mandi, & sejak itu beliau menjadi lumpuh. Setahun berjalan, Keadaan Bulik Narti semakin parah--
--hingga akhirnya beliau meninggal di rumah sakit, tepatnya 2 bulan yang lalu.

Jam pun terus berlalu, tak terasa Bibi & Marlina sudah ngobrol cukup lama di warung ronde itu.

"Ayo pulang Mbak". Ajak si Bibi kepada Marlina.

"Yakin kita mau Pulang Bi?". Jawab Marlina ragu.
" Ya pulang dong mbak, masa' tidur disini,". Jawab Si Bibi.

Singkat cerita Setelah sedikit perdebatan kecil, merekapun pulang, walau sebenarnya masih ada rasa takut & gelisah di raut wajah mereka.

& setelah sampai di depan rumah, Tiba-tiba Bibi....

-BERSAMBUNG-
*Tiba-tiba Bibi.. Menghentikan langkahnya. Dan Menyenggol Marlina yang tak begitu memperhatikan, untuk melihat apa yang Bibi lihat.

"Itu siapa di depan rumah Mbak?". Ucap Bibi pelan seraya matanya menerawang ke arah teras depan rumah yang tak begitu terang itu.
Marlina yang kini juga menyadari itu pun langsung memegang erat lengan si Bibi.

Tampak seorang wanita berbaju putih tengah berdiri mematung di antara anak tangga teras depan rumah. Image
"Sinten njih?".
(Siapa ya?). Ucap Bibi sambil berjalan mendekat bergandengan dengan Marlina.

Tak ada jawaban dari orang itu. Bibi pun mengulangi kata-katanya lagi.

" Sinten nggih??". Kata Bibi lagi dengan nada yang lebih keras.
Tapi tetap aja tidak ada jawaban, dengan penuh keraguan, mereka pun tetap berjalan semakin mendekat sambil memandang ke arah orang itu. Hingga akhirnya suasana berubah ketika perlahan sosok itu membayang, dan menghilang sedikit-demi sedikit.
Langkah mereka tentu terhenti mengetahui itu, tapi mau tak mau mereka tetap harus masuk kedalam rumah. Akhirnya dengan langkah cepat Bibi yang menggandeng tangan Marlina pun langsung menuju pintu dan membuka kunci.

Buru-buru mereka masuk ke dalam rumah--
--dan langsung meringkuk di ruang tengah, mereka masih saling diam, otaknya masing-masing masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

"Itu apa tadi Bi!!!!!". Ucap Marlina yang sudah tak tahan.
"Bibi juga ndak tahu mbak...". Kata Bibi yang tampak mulai ketakutan.

" Bibi tidur di kamarku aja ya!!". Ucap Marlina.

"Iya Mbak, tapi saya ambil selimut dulu di kamar belakang". Jawab Si Bibi.

" Aku ikut!!". Merekapun mulai berjalan mengendap kebelakang, menuju kamar Bibi.
Sesudah mengambil selimut, mereka kembali berjalan, kali ini menuju kamar Marlina. Dengan perasaan yang masih sama kacaunya. Tapi tiba-tiba di tengah perjalanan, tepatnya di depan kamar mandi, tiba-tiba suara orang mandi itu terdengar lagi.

"Byurrr...byurrr...byur.."
Marlina dan Bibi pun langsung berlari mendengar itu. Masuk ke kamar Marlina dan segera menguncinya.

Mereka duduk berkubang dengan selimut di atas tempat tidur dengan suara dari kamar mandi itu yang masih terdengar.
Hingga tak lama suara itu pun perlahan hilang.. Namun berganti dengan suara panggilan dalam jeda beberapa detik kemudian.

"Mak Dah.....Mak Dah...". Nama Bibi di panggil.

Tak ada ekspresi lain!! Bibi dan Marlina kini saling menatap ketakutan.

" Mak Dah... Mak..Dah!!" Suara itu-
--terdengar lagi.

"Marlennnaaa.... Marlennnaaaa". Kini giliran Marlina yang di panggil.

"Ini kok mirip suaranya Bulik Narti sih". Batin Marlina, yang tentu ragu karena Bulik Narti sudah meninggal.

" MARLENAAAAA!!!!!". suara itu memanggil Marlina kembali dengan nada yang lebih-
-keras. Merekapun hanya bisa menangis dan Berdoa sebisanya. Hingga suara itu terhenti sekitar pukul 02.30 dini hari.

Beberapa menit setelah suara itu lenyap, merekapun mencoba untuk tidur. Meski nyatanya Bibi dan Marlina tetap tak bisa memejamkan matanya hingga adzan subuh--
--berkumandang.

Mau tak mau Bibi pun Bangkit dari ranjang, begitu juga Marlina yang tak mau di tinggal sendiri.

Merekapun memutuskan untuk membuat kopi dan duduk di ruang tamu, menahan kepalanya yang pening karena semalam mereka benar-benar tak tidur.
"Harusnya hari ini Bapak dan Ibu pulang Bi". Ucap Marlina

" Semoga mbak, tapi apakah kita harus ngomong kejadian itu ke Bapak dan ibuk". Jawab Bibi

"Harus ngomong lah Bi!!, nanti aku yang ngomong". Ucap Marlina.

" Terus, tentang Bulik Narti?". Tanya Bibi.
"Lha, itu, tetep harus ngomong, aku yakin ada yang ndak beres dengan itu". Ungkap Marlina.

Mentaripun mulai terbit, sinarnya menembus tirai ruang tamu yang tengah Bibi dan Marlina duduki.
Membuat mata mereka perlahan mulai merasa mengantuk, hingga tak terasa Bibi dan Marlina pun sama-sama tertidur di ruangan itu.

Tak tau apa yang terjadi, mungkin karena kelelahan, mereka terlelap hingga sore hari menjelang magrib.
Bibi yang pertama kali terbangun pun, tampak kebingungan. Mengira dirinya tertidur beberapa menit saja.

"Mbak Bangun, mbak..". Ucap Bibi membangunkan Marlina.

Beberapa saat kemudian adzan magrib pun berkumandang.

" Ini subuh ya Bi". Kata Marlina.

Tapi setelah melihat--
--ke arah jam,tentu mereka terheran-heran ketika jarum jam menunjukkan pukul 6 sore.

"Selama itu kita tertidur ya!!". Kata Marlina yang masih agak kebingungan.

Bibi tampak bergegas ke ruang belakang, entah mungkin ada pekerjaan yang harus Bibi selesaikan.
Sementara Marlina belum beranjak dari ruang tamu, tampaknya otaknya masih mencerna semua ini. Dan hujan yang tiba-tiba saja turun dengan sangat deras pun menyadarkam Marlina untuk segera beranjak dari ruangan itu.
"Ada apa sih ini!!!!!! ". Kata Marlina sambil berjalan dan masuk ke kamarnya. Ia terduduk sejenak hingga akhirnya mengambil handuk dan memutuskan untuk mandi.

Setelah mandi kembali ia kini berada di ruang tengah bersama.

"Kok Bapak sama ibuk belum pulang juga ya mbak?".--
--tanya Bibi.

"Ndak tau juga ya Bi, harusnya sih hari ini mereka sudah pulang". Jawab Marlina sambil berjalan ke kamarnya dan menyalakan musik dari piringan hitam, dan setelah itu ia kembali lagi duduk bersama Bibi.
"Mbok ndak usah nyetel musik pake itu to mbak, suaranya kayak gimana gitu, serem!! Mending nyeetel radio aja ya tak ambilin di kamar saya". Ucap Bibi

" Daripada sepi Bi, lagian tivinya kan juga belum dibenerin". Jawab Marlina yang langsung berbalik menuju kamarnya untuk--
--mematikan pemutar musik itu.

Suasana pun sejenak hening, hanya rintik hujanlah yang terdengar menimpa genting rumah itu. Sementara Bibi tampaknya tak jadi pergi ke kamarnya untuk mengambil radio. Entah kenapa, mungkin karena ia takut.

"Kita harus cari tahu Bi!!". Ucap--
--Marlina membuka pembicaraan.

"Cari tahu apa?". Jawab Bibi yang tampaknya sudah tahu dengan apa yg tengah Marlina Bicarakan.

" Kita harus cari tahu, kenapa Bulik Narti tiba-tiba pulang!!". Tegas Marlina

"Tapi bagaimana kita tahu Mbak, bukankah akan lebih baik kita--
--tanyakan ini saja sama Bapak dan Ibu". Jawab Bibi yang mulai serius.

Namun tiba-tiba..

"Meh golek ngerti opo?"
(Mau cari tahu apa?). Ucap seseorang dari kegelapan..

--Bersambung--
Marlina dan Bibi seketika tersentak mematung, mereka saling pandang namun sama-sama tak berani menoleh ke arah sumber suara itu.

"Jelas ini suara Bulik Narti". Batin Marlina yang hafal dengan logat gagapnya suara Buliknya itu.
"Mak Dah.... Marlena!!! Kok malah gak jawab". Ucap Suara dari kegelapan itu.

Tampak tangan Bibi yang gemetar kini mencoba untuk menggenggam tangan Marlina. Matanya berisyarat untuk pergi dari tempat ini. Tapi apa daya tubuh mereka sekarang terasa kaku dan sulit untuk digerakkan.
Apalagi bau parfum itu kini kembali tercium, mengitari ruangan itu, sampai akhirnya mereka yakin suara itu sudah tak lagi terdengar, dengan sekuat tenaga, Bibi dan Marlina pun bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke ruang tamu.
Tapi ternyata ini belum selesai, karena terdengar dari ruang tamu suara dari kamar mandi itu lagi.

"Byurrr..... Byurrr.. Byurr..."

Dan kali ini bukan hanya suara air yang mengguyur.. Tapi juga suara nyanyian di setiap jedannya.

"🎶Terang.. Bulan.. Terang bulan dikali...--
--buaya timbul.. Katanyalah mati🎶🎶.. Jangan percaya mulutnya lelaki.. Berani sumpah, dia takut MATI🎶🎶..".

Bibi dan Marlina hanya bisa terpaku ketakutan mendengar suara dari kamar mandi itu. Sungguh rasa takut yang tak bisa tergambarkan.
Kalau ada pilihan, mungkin mereka lebih memilih pingsan saja waktu itu.

Bibi dan Marlina kini mulai menutupi kedua telingannya, dengan air mata yang tentu saja menetes.

"Itu jelas Bulik Narti!!! Itu kebiasaan Bulik Narti!!!". Batin Marlina ketakutan.
Hingga Suara itu pun hilang bersamaan dengan datangnya Bapak dan ibu.

"Ada apa kalian ini kok mukanya aneh begitu!!". Ucap Ayah Marlina ketika masuk dan melihat Bibi dan anaknya tengah ketakutan di ruang tamu.

" Ada apa Mbak... Nduk.. ". Kata sang ibu Juga.
Marlina dan Bibi tak bisa menjawab, dan Sang Ibu pun datang memeluk Marlina. "Ono opo to nduk". Kata Ibu.

Tak ada kata yang bisa diucap oleh Marlina kecuali.

" Bulik Buk.. bulik Narti!!!". Kata Marlina sambil menangis dan menunjuk ke arah dalam rumah.
"Huss.. Bulik Narti kenopo? Bulik Narti kan wis meninggal". Jawab ibu sambil mengelus kepala Marlina.

Namun ada yang aneh ketika tiba-tiba Ibu menatap ke arah Bapak yang kini tampak menghela nafas setelah mendengar nama " Bulik Narti" Di sebut oleh anaknya itu.
"Sudah..sudah.. Ayo kita Masuk... "
"Bibi, panaskan air, aku mau mandi". Ucap sang Ayah mengajak mereka semua untuk beranjak dari ruang tamu.

Singkat cerita malam itu pun berlalu tanpa gangguan.
Esoknya berjalan seperti biasa, pagi-pagi mereka bangun dan sarapan bersama. Ayah, ibu dan Marlina tampak berada dalam satu meja, sementara si Bibi masih berada di dapur mengerjakan pekerjaannya.
Marlina tampak masih penasaran dengan apa yang belakangan ini ia lalui di rumah ini, tentang suara dari kamar mandi dan suara yang mirip Bulik Narti serta sosok wanita berbaju putih yang sempat ia dan Bibi lihat kemarin malam.
Sang Ayah juga sepertinya tau dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Marlina, karena semua itu terlihat dari raut wajahnya. Dan di atas meja makan itu pun sang ayah mulai berbicara.
"Nduk, yang kamu liha itu bukan Bulik Narti". Ucap Ayah Marlina mengawali pembicaraan itu.

" Tapiiii... Suaranya mirip sekali dengan Bulik pak!! Apalagi semalam juga terdengar nyanyian dari kamar mandi, dengan lagu yang dulu suka dinyanyikan sama Bulik Narti!!"--
--Jawab Marlina sampai hampir tersedak oleh makanannya.

"Bulik Narti sudah tenang di sana nduk.. Itu Jin yang menyerupai saja!!". Kata si ibu menyela pembicaraan itu.

" Oke, kalau itu memang jin, tapi kenapa tiba-tiba setelah 2 bulan, dia baru datang mengganggu?"--
--tanya Marlina kepada orangtuanya itu. Dan disini sang Ayah pun mulai menjelaskan :

"Sebenarnya bukan karena salah dan ndak salah ya.. Ini semua karena Mbah Kakung, namanya orang jawa jaman dulu ya.. Mbah Kakung itu suka ngoleksi barang-barang antik". Kata Sang Ayah.
"Trus Apa Hubunganya pak?". Tanya Marlina yang mulai serius memperhatikan.

" Jadi, Mbah Kakung itu punya salah satu keris, dan kata Mbah Kakung, jin penunggu keris itu sangat sayang dengan Bulik Narti, keris itu di dapat oleh Mbah Kakung waktu dulu Bulik masih kecil--
--nah.. Saking sayangnya.. Ini kata Mbah Kakung lho.. Jin wanita penunggu keris itu suka menjelma menjadi Bulik Narti, itu Bapak percaya, karena dulu bapak waktu muda juga pernah melihat ada 2 bulik Narti di rumah Mbah Kakung, yang satu ada di kamar, yang satu ada--
--di dapur. Bahkan kemarin malam pun waktu kita di rumah Mbah Kakung, Bapak juga melihat Bulik Narti, duduk 'anteng' diruang tamu, ini lho ibukmu sampe nangis, nyangka itu adalah Bulik Narti beneran". Ucap sang ayah seraya menunjuk sang Ibu.
"Lantas, kenapa tiba-tiba saja Jin itu ngganggu kesini pak?". Tanya Marlina yang masih belum menemukan jawaban dari apa yang sedari tadi ia tanyakan. Dan Ayah pun kembali melanjutkan ceritanya..
"Sekk..sekk.. Jadi Mbah Kakung itu kan sudah tua, dan beliau merasa harus mewariskan barang antik itu kepada anak-anaknya, nah!!! Kebetulan keris itu di wariskan ke bapak, katanya karena Bapak adalah anak yang paling " Gemati" (Menyayangi) bulik Narti, Bapak jelas ndak mau to--
--tapi Mbah Kakung malah bilang.

"Lawong Rantam Sari sing karep kok, gelem ra gelem tetep melu kowe".

(Lawong, itu maunya Rantam Sari kok, mau tidak mau tetap ikut kamu). Ucap Mbah Kakung kepada Ayah Marlina sambil menyebut nama Jin Penunggu keris itu.
"Jadi karena ini 'weling orang tua', mau ndak mau Bapak harus menuruti itu nduk, keris sudah Bapak bawa, tapi masih Bapak tinggal di Mobil!!'. Ucap sang Ayah Menyudahi pembicaraan itu.

Marlina tampak terdiam setelah mendengar pembicaraan dari Ayahnya itu. Nalarnya mendadak--
--kacau!! "Apa-apaan ini!!". Kata hatinya memberontak. Tapi Marlina adalah tipe anak yang sangat patuh dengan orang tuanya. Dan mau tak mau, meski Dengan penuh keraguan ia mencoba menerima keputusan keluarganya itu. Berharap setelah keris itu di berada dirumahnya--
--sosok yang menyerupai Bulik Narti itu tak lagi mengganggunya..

----Bersambung----
Setelah selesai sarapan mereka pun melanjutkan aktifitasnya masing-masing.

Ayah berangkat bekerja dan Ibu pergi keluar karena suatu acara.
Marlina tentu langsung menceritakan itu semua kepada Bibi yang tampak kaget setelah mendengar penjelasan dari Marlina.

"Jadi sekarang jin bersama rumahnya, dibawa kesini ta mbak!!". Ucap Bibi dengan serius.
Meski mereka tentu masih merasa bergidik ngeri mengingat kejadian itu, namun setidaknya Marlina dan Bibi sudah mendapatkan jawaban atas semua ini.
Singkat cerita malam nya, sekira pukul 1 dini hari, ketika semua orang dirumah sudah terlelap. Kejadian itu terjadi lagi yang kali ini tentu dialami oleh semua penghuni rumah.
"Byurrr....byur...byurrr...Byurrr.. 🎶Terang bulan....terang bulan dikali...buaya timbul...katanyalah mati🎶".

Suara air yang mengguyur tubuh itu kembali muncul di kamar mandi, bersamaan dengan suara nyanyian lagu " Terang bulan". Yang mirip sekali dengan Suara dari Bulik Narti.
Sang Ayah yang pertama terbangun mendengar itu, langsung membangunkan istrinya.

"Bukkk...Buk..". Kata Ayah dengan matanya yang mengisyaratkan tentang bunyi itu.

Sang Ibu yang juga mendengar jelas suara itu kini tampak terperanjat dan memegang lengan sang Ayah.
"Kerisnya dimana to pak!!!". Kata sang ibu membisik.

" Ya masih di mobil to buk!! Bapak lupa!!'. Jawab sang ayah seraya ingin beranjak keluar kamar.

"Mau kemana pak!!". Kata ibu sambil menahan lengan Ayah.

" Mau keluar!! Bapak penasaran apa maunya!!". Jawab ayah--
--sambil melepaskan lengannya yang di pegang oleh istrinya itu.

Ayah pun kini mengendap keluar, di ikuti oleh ibu yang berjalan memegang belakang tubuh Ayah.

Perlahan pintu pun dibuka. Dengan suara air mengguyur di kamar mandi dan nyanyian itu yang masih terdengar jelas.
Dan bersamaan dengan itu, ternyata Marlina dan Si Bibi juga terbangun oleh suara itu. Marlina tampak mengintip juga dari celah pintu kamarnya yang sedikit ia buka. Begitu juga si Bibi yang separuh badanya sudah berada di luar kamar.
Ayah dan ibu pun kini keluar dan berjalan mendekat ke arah kamar mandi itu. Marlina yang memang kamarnya berhadapan dengan kamar orang tuanya tentu melihat, dan kini ia pun juga ikut keluar dari kamarnya.

"Ssssssttt". Isyarat ibu ketika melihat Marlina dan menujuk--
--tangannya menyuruh Marlina untuk berada di belakangnya. Sementara itu Bibi yang juga melihat itu pun ikut mendekat.

"Byurrr....byur...byurrr...Byurrr.. 🎶Terang bulan....terang bulan dikali...buaya timbul...katanyalah mati🎶".

Ini sudah gila!!! Suara itu masih terdengar--
--jelas dari kamar mandi itu. Ayah, ibu, Marlina dan Bibi kini benar-benar menyadari dan hampir yakin kalau itu adalah suara dari Bulik Narti ketika mendengar nyanyian itu.

Sang Ayah yang pertama kali mendengar suara jin penunggu keris itu menirukan Bulik Narti--
--mulai terbawa suasana, ia seperti mendengar kembali suara adik kesayangannya yang sudah meninggal 2 bulan yang lalu.

Sambil menangis sang Ayah berkata dengan terbata.

"Dikkk.. Dikk Ati". Ucap Ayah bergetar.
Sang Ibu yang menyadari suaminya itu mulai terkecoh langsung menarik tubuh sang Ayah,

"Nyebut Pak... Nyebut Pak, Dik Narti ki wis raono".

(Nyebut Pak..Nyebut Pak.., Dik Narti itu sudah tidak ada). Kata ibu meski ia juga mengucapkannya sambil menangis.
Dan tiba-tiba, seketika pintu kamar mandi itu pun mendadak terbuka. "BRAKKKKK". seperti ada yang membantingnya, bersamaan dengan suara air dan nyanyian yang juga menghilang.

Mata semua orang tentu kini tertuju ke arah kamar mandi. Tak ada yang terlihat selain kegelapan--
--di dalam kamar mandi itu. Namun perlahan dengan samar.. Mulai muncul sosok putih yang keluar dari kegelapan.

Mereka semua terpaku melihat itu, kaki-kakinya terasa dikunci untuk tak bisa berlari. Begitu juga dengan matanya. Yang seakan memaksa mereka untuk menyaksikan--
--tontonan ganjil ini. Dan Sosok itu kini semakin terlihat jelas, berdiri di depan kamar mandi memperlihatkan wujudnya yang sesungguhnya.

Sosok wanita dengan rambut yang disanggul, mengenakan kebaya putih, namun dengan tinggi yang tak wajar. Kepalanya hampir--
--menyentuh langit-langit rumah.

Jelas ini bukan Bulik Narti!! Melainkan memang jin penunggu keris itu.

Sosok itu pun berjalan satu langkah kedepan, sedikit mendekati Ayah, Ibu, Marlina dan Bibi yang masih terpaku tak bisa bergerak.
Dan dengan suara yang masih menyerupai Bulik Narti, sosok itu pun berkata.

"Aku ora njaluk opo-opo, aku mung pingin cedak karo panggon 'Geblag'e Narti".

(Aku tidak meminta apapun, Aku hanya ingin dekat dengan tempat terakhir Narti hidup). Ucap sosok itu sambil menunjuk--
--jari telunjuknya ke arah depan rumah.

Dan sosok itu pun berjalan mundur kembali masuk ke kamar mandi setelah mengucapkan itu, bersamaan dengan mereka kini yang mulai bisa menggerakkan tubuhnya.
Ibu, Marlina dan Bibi langsung roboh dan berlari merangkak tanpa arah sambil berteriak ketakutan.

Sementara sang Ayah masih berdiri di tempat yang sama dan tampak menata nafasnya. Tapi Sepertinya Ayah tau apa yang harus ia lakukan.
Dengan langkah yang tampak ragu, ayah pun mulai berjalan ke arah depan rumah, meraih kunci mobil yang tergantung di atas kaca cermin di ruang tengah. Ayah pun berjalan menuju mobil yang ia parkir di halaman.

Dengan hati yang mungkin bergejolak, Ayah membuka pintu--
--Mobilnya dan mengambil keris itu, yang terbungkus oleh kain kafan putih.

Dengan Gemetar, Ayah membawa keris itu masuk ke dalam rumahnya dan meletakkan keris itu di dalam lemari yang berada di kamar belakang. Samping kamar Bibi, dimana kamar itu adalah kamar dari--
--mendiang Bulik Narti. Sang Ayah kembali ke ruang tengah menghampiri Ibu, Bibi dan Marlina yang masih tampak syok setelah kejadian ini.

Mereka pun kini duduk saling diam. dengan bau minyak wangi yang tiba-tiba tercium tajam memenuhi ruangan itu.
Bau minyak wangi itu mereka kenali sebagai bau Minyak wangi milik Bulik Narti.

Bau itu sempat bertahan beberapa saat hingga akhirnya muncul suara yang mengiringi hilangnya bau itu.

Dan dengan logat yang masih menyerupai Bulik Narti, suara mengatakan :

"Matursembahnuwun"...
Dan itulah terakhir kalinya entah, demit, jin, atau lelembut penunggu keris yang menyerupai Bulik Narti itu menunjukan keberadaannya.

Karena setelah itu, tak ada lagi kejadian serupa yang dialami oleh Marlina, Ayah, ibu, maupun Bibi.
Yang jelas hari-hari dimana teror itu berlangsung, akan menjadi hari yang takkan pernah mereka lupakan seumur hidupnya.
Tamat.

Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini hingga akhir. Sekian, semoga ada hal baik yang bisa kita petik dari kisah ini.

Terima kasih, Sampai jumpa, kapan-kapan :))
Dukung saya di @karyakarsa_id karyakarsa.com/AgilRSapoetra biar saya lebih semangat buat nulis cerita..
Cerita-ceritaku di @karyakarsa_id

Rumah Sarang (Bagian 1) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Rumah Sarang (Bagian 2 - Tamat) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Gembung 1968 karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Dahlia (Bagian 1) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

Popok Wewe (Tamat) karyakarsa.com/AgilRSapoetra/…

• • •

Missing some Tweet in this thread? You can try to force a refresh
 

Keep Current with gil

gil Profile picture

Stay in touch and get notified when new unrolls are available from this author!

Read all threads

This Thread may be Removed Anytime!

PDF

Twitter may remove this content at anytime! Save it as PDF for later use!

Try unrolling a thread yourself!

how to unroll video
  1. Follow @ThreadReaderApp to mention us!

  2. From a Twitter thread mention us with a keyword "unroll"
@threadreaderapp unroll

Practice here first or read more on our help page!

More from @AgilRSapoetra

Jun 7
Sebuah persekutuan terlarang yang dilakukan oleh Pak Minto Djayusman dengan "Mbah Gandul", sosok Wewe Gombel yang menjadi penunggu pohon sawo di halaman belakang rumahnya.
Perjanjian yang tentu tak tertulis dan terkesan sepihak membuat Jiwa anaknya terancam, hingga ia pun harus mensiasati bagaiamanapun caranya agar wewe gombel itu tak meminta kembali popoknya dan menuntaskan keinginannya!!
Read 5 tweets
May 30
-- POCONG 'Trembesi' --

[A THREAD]
@bacahorror @IDN_Horor #bacahorror #IDNhoror #threadhorror Image
Silahkan tinggalkan RT dan Like nya dulu ya...

#PocongTrembesi
Pada suatu malam di Jawa Tengah 1991,

Bagio terpaksa terbangun dari tidurnya, karena suara batuk kering yang memekak telinganya.

"Uhuk..uhukk..uhukkk!!".

Seraya mengusap wajahnya, mata Bagio mengrenyit, mengamati sekitar kamarnya, mencari-cari dari mana suara batuk--
Read 116 tweets
May 23
Sebuah cerita, tentang seorang cucu kesayangan yang di datangi oleh sosok mirip neneknya yang sudah meninggal #MbahPutri
Silahkan tinggalkan like dan RTnya dulu.. Kalo sudah rame, akan saya up pelan-pelan yaaa...
Read 113 tweets
Apr 20
--- DAHLIA ---

(Rumah kost - Part 1)

[HORROR STORY]

#bacahorror #threadhorror
Pengalaman seram di sebuah rumah kost..

Di tunggu tar malem yak!! Silahkan like dan RT dulu.. #Dahlia
Disclaimer : Semua nama tokoh dan tempat di dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menjaga identitas dan privasi dari semua pihak yang terlibat didalamnya. #Dahlia
Read 86 tweets
Jan 31
Disclaimer : Semua Nama tokoh dan tempat sengaja disamarkan untuk menjaga identitas dan privasi pihak yg terlibat didalamnya.

#KuntilanakSUM
Kisah ini terjadi kisaran tahun 1998-1999an, tentang seorang Pemuda sebut saja "Parmin" yg 'Diikuti' dan diduga kuat ia juga 'Disukai' oleh sosok lelembut berwujud Kuntilanak bernama "SUM".

#KuntilanakSUM
Read 145 tweets

Did Thread Reader help you today?

Support us! We are indie developers!


This site is made by just two indie developers on a laptop doing marketing, support and development! Read more about the story.

Become a Premium Member ($3/month or $30/year) and get exclusive features!

Become Premium

Don't want to be a Premium member but still want to support us?

Make a small donation by buying us coffee ($5) or help with server cost ($10)

Donate via Paypal

Or Donate anonymously using crypto!

Ethereum

0xfe58350B80634f60Fa6Dc149a72b4DFbc17D341E copy

Bitcoin

3ATGMxNzCUFzxpMCHL5sWSt4DVtS8UqXpi copy

Thank you for your support!

Follow Us on Twitter!

:(